Apa yang baik datang dari Tuhan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremiah 29: 11

Hari depan yang penuh harapan, semua orang, tua dan muda menginginkannya. Bagi yang muda tentunya keberhasilan dalam mencapai cita-cita, karir dan rumah tangga adalah sesuatu yang didambakan. Bagi yang sudah berumur, mungkin hari-hari yang bisa dinikmati bersama anak-cucu dan bebas dari sakit adalah sesuatu yang diingini. Ayat di atas nampaknya menjanjikan bahwa harapan semua orang percaya untuk memperoleh hari depan yang damai sejahtera akan dipenuhi Tuhan. Tetapi ayat ini adalah ayat yang sering disalah-tafsirkan banyak orang.

Ayat di atas sebenarnya berkenaan dengan janji Tuhan untuk memelihara bani Israel setelah mereka mengakhiri masa 70 tahun pengasingan di Babel. Tuhan mempunyai rancangan-rancangan tertentu untuk bani Israel yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan hari depan yang penuh harapan kepada seluruh umat pilihan Tuhan. Walaupun demikian, ayat itu tidak menjanjikan bahwa kita secara perseorangan akan selalu dapat memperoleh hidup yang nyaman. Rencana Tuhan untuk sebuah bangsa, tidaklah sama dengan rencana Tuhan untuk setiap umat-Nya.

Dalam keadaan saat ini, hampir setiap orang mengeluh. Bukan saja orang merasa gundah mengenai kemungkinan terpapar Covid-19, tetapi juga karena adanya dampak pandemi yang menyangkut segala segi kehidupan manusia termasuk pekerjaan, sekolah, dan masa depan. Jika orang biasanya mempunyai rencana tertentu untuk masa depan, pada saat ini adanya rencana tidak dapat didukung dengan keyakinan bahwa itu akan bisa tercapai. Apakah ayat di atas bisa kita pakai sebagai ayat yang dapat memberikan kekuatan pada masa ini?

Sebuah lagu himne yang terkenal “Nyamanlah Jiwaku” yang diterjemahkan dari “It is well with my soul” mungkin bisa membuat kita mengerti apakah ayat di atas masih relevan untuk kita. Syair lagu itu adalah karangan Horatio Gates Spafford. Horatio lahir di North Troy, New York pada tanggal 20 Oktober 1828. Pada masa mudanya, Spafford adalah seorang pengacara yang sukses di Chicago. Pada tahun 1870 iman mereka diuji oleh tragedi. Anak laki-laki mereka, yang berumur empat tahun, Horatio Junior, meninggal dunia karena demam berdarah. Tidak hanya sampai di situ saja tragedi yang dialami.  Beberapa bulan sebelum kebakaran besar di Chicago tahun 1871, Horatio menginvestasikan modal yang cukup besar untuk usaha real estate di pinggiran danau Michigan, tapi semua investasinya tersapu habis oleh bencana tersebut.

Pada tanggal 22 November 1873 pukul 2 dini hari, kapal pesiar yang ditumpangi istri Horatio dan 4 orang anaknya ditabrak di atas laut yang tenang oleh sebuah kapal lain. Dalam waktu dua jam Ville du Havre, salah satu kapal terbesar yang pernah ada pada waktu itu, tenggelam ke dasar samudera Atlantik beserta 226 penumpangnya termasuk keluarga Spafford. Sembilan hari kemudian korban yang selamat dari kapal itu tiba di pulau Cardiff, Wales, Inggris dan di antara mereka terdapat Nyonya Spafford. Dia mengabarkan melalui telegram kepada suaminya dengan dua kata, ‘saved alone’ (hanya aku yang selamat).

Horatio tentunya merasa terpukul atas tragedi-tragedi yang secara beruntun menimpanya. Baginya tentu sulit untuk membayangkan bahwa Tuhan mempunyai rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuknya; untuk memberikan kepadanya hari depan yang penuh harapan dan bukannya hidup yang penuh tragedi. Tetapi Tuhan memberi Horatio kekuatan untuk bertahan dalam iman dan kemampuan untuk menulis syair himne yang sangat terkenal itu.

KENDATIPUN SUSAH TERUS MENEKAN
DAN IBLIS GERAM MENYERBU
TUHANKU MENILIK ANAK-NYA TETAP
S’LAMATLAH, S’LAMATLAH JIWAKU

YA TUHAN, SINGKAPKAN EMBUN YANG GELAP
DAPATKAN SEG’RA UMAT-MU
‘PABILA SERUNAI BERBUNYI GEGAP
‘KU SERU S’LAMATLAH JIWAKU

S’LAMATLAH JIWAKU
S’LAMATLAH, S’LAMATLAH JIWAKU

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan yang mengasihi bani Israel adalah Tuhan yang mengasihi kita pada saat ini. Tuhan mempunyai rencana baik untuk semua umat-Nya, dan sekalipun kita berada dalam keadaan susah atau dalam penderitaan apa pun, kita akan mendapat penghiburan di dalam persekutuan dengan Dia. Tuhanlah yang memberi kita kekuatan dan ketabahan dalam segala keadaan, hingga saat di mana kita bisa bersatu dengan Dia di surga.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Jalan Tuhan adalah baik untuk umat-Nya

Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab mereka: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Matius 20: 32 – 34

Pandemi ini sudah berjalan lebih dari satu setengah tahun, dan tidak ada seorang pun yang bisa menerka kapan berakhirnya. Walaupun demikian, masih banyak juga orang yang yakin bahwa semua ini adalah bagian dari kehidupan manusia yang akan berakhir dengan adanya vaksin atau obat yang efektif. Bagi mereka, pandemi yang berkepanjangan ini akan berakhir pada suatu saat, seperti apa yang pernah terjadi pada pandemi-pandemi yang silam. Selain itu, ada orang yang percaya bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, dan karena itu kita harus menerimanya. Tuhah sudah menentukan segala yang terjadi di bumi dan di surga, baik hal yang baik maupun yang terlihat kurang baik. Tuhan yang mahakuasa tentunya tidak dapat kita bantah. Siapakah yang bisa memengaruhi Tuhan dan memaksa-Nya untuk berubah pikiran?

Sekalipun demikian, jika penderitaan datang silih berganti dan tidak kunjung hilang, perasaan gundah kita mungkin akan muncul. Apakah yang harus aku lakukan? Sebagian orang yang melihat kesulitan yang kita alami mungkin akan berkomentar bahwa “semua itu terjadi karena kesalahan atau dosa manusia”. Mereka mungkin berkata bahwa kemarahan Tuhan atas cara hidup manusia sudah tak terbendung dan Ia menimpakan hukuman-Nya.

Dalam ayat di atas, diceritakan bahwa ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Ketika itu, dua orang buta yang duduk di pinggir jalan dan yang mendengar bahwa Yesus lewat, berseru memanggil Yesus memohon belas kasihan-Nya. Sebagai orang buta pada zaman itu hidup tentunya sangat berat. Mungkin, apa yang mereka bisa lakukan sehari-harinya adalah meminta-minta belas kasihan orang lain. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa penderitaan mereka adalah hukuman Tuhan.

Adalah satu hal yang mengherankan bahwa dalam ayat di atas Yesus memanggil mereka dan menanyakan apa yang dikendaki mereka. Sebagai Anak Allah, Yesus tentu tahu apa yang dibutuhkan mereka, tetapi Ia tetap bertanya: “Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Atas pertanyaan Yesus, mereka menjawab: “Tuhan, supaya mata kami dapat melihat.” Permohonan yang menarik karena mereka tidak meminta uang atau benda lain, tetapi memohon kesembuhan. Kesembuhan ajaib tentu tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa.

Pantaskah permohonan orang buta itu kepada Yesus, Anak Allah? Bukankah Tuhan tahu apa yang mereka butuhkan sebelum mereka memohonkannya? Tidakkah permohonan orang buta itu keterlaluan? Bahwa Tuhan yang sudah “membuat” mereka buta sekarang diminta untuk mencelikkan mata mereka? Kedua pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering dipikirkan oleh orang Kristen yang berada dalam penderitaan dan kesulitan hidup. Peperangan batin sering muncul antara keinginan untuk memohon dan keinginan untuk berserah.

Sebagian orang Kristen memang percaya bahwa Tuhan menentukan apa saja yang terjadi di dunia. Jika kurang dari itu, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, begitu pendapat mereka. Apa saja yang terjadi di dunia harus terjadi sesuai dengan rencana-Nya dan karena itu tidak ada “kejutan” bagi Tuhan. Pada pihak yang lain ada orang Kristen yang percaya bahwa karena dunia ini sudah jatuh dalam dosa, banyak hal yang jahat dan kejam yang terjadi; tetapi itu bukan karena perbuatan Tuhan. Tuhan yang mahatahu tidak akan “terkejut” atau “heran” melihat adanya penderitaan dan kejahatan di antara manusia, karena Ia yang mahakuasa tetap bisa menggenapi rencana-Nya dalam keadaan apa pun. Selain itu, Tuhan belum tentu menghendaki adanya penderitaan tertentu pada manusia, tetapi Ia selalu menghendaki manusia sepenuhnya menyadari kuasa dan kasih-Nya dalam setiap keadaan.

Bagaimana dengan kedua orang buta itu? Yesus bisa melihat bahwa orang buta itu menderita, tetapi juga tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia bisa menolong mereka. Yesus tahu bahwa mereka percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Tuhan yang mahakuasa bisa berbuat apa saja yang diinginkan-Nya dan membiarkan apa saja untuk terjadi di dunia; tetapi Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mendengarkan permohonan manusia yang percaya. Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. Karena kuasa dan kasih Yesus, kedua orang buta itu menjadi celik secara jasmani dan rohani.

Saat ini, adakah hal-hal yang membebani kita sehingga kita merasa hilang harapan? Tuhan yang mahatahu tentu bisa melihat apa yang kita derita. Ia ingin agar kita memanggil-Nya, memohon pertolongan. Ia ingin agar kita menyadari bahwa Tuhan yang mahakuasa mempunyai rencana yang baik bagi setiap umat-Nya, dan itu bisa berarti bahwa apa yang kita alami sekarang, baik itu manis atau pahit,  adalah bagian dari rencana-Nya untuk hidup kita. Tetapi, kita juga harus sadar bahwa rencana Tuhan tidak dapat dihalangi oleh keterbatasan manusia dan dunia. Karena itu kita tetap bisa menyatakan keinginan kita dalam doa permohonan kita kepada-Nya. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang direncanakan Tuhan dalam hidupnya, tetapi setiap orang harus sadar bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan Ia bisa memakai berbagai cara untuk mewujudkan rencana-Nya.  Karena Ia mahakuasa dan mahakasih, kita bisa makin dekat kepada-Nya dan tidak ragu untuk berdoa!

Dalam kekacauan, Tuhan masih memelihara umat-Nya

Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Markus 5: 28

Saat ini, di berbagai tempat di dunia Covid-19 masih merajalela. Banyak rumah sakit yang kebanjiran pasien sampai-sampai mereka harus menolak pasien baru. Mereka yang terpapar Covid terpaksa melakukan isolasi mandiri dan mencoba mengobati diri sendiri sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan mereka. Dalam situasi yang sangat mendesak ini, banyak orang menjerit: what can I do? Apa yang bisa aku lakukan?

Jika kita berada dalam keadaan yang sedemikian dan tidak ada siapa pun yang bisa menolong kita, mungkin jeritan kita adalah sia-sia belaka. Sekalipun ada banyak orang di sekitar kita, kita mungkin merasa bahwa semua persoalan yang ada hanya bisa kita hadapi seorang diri, dan karena itu kita mungkin tidak bisa mengharapkan jawaban orang lain atas seruan kita. Sebagai manusia biasa, layaklah kita merasa tak berdaya.

Dalam Markus 5: 25-28 diceritakan adanya seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sampai-sampai semua uangnya habis, tetapi itu sama sekali tidak ada hasilnya. Malahan, keadaannya makin memburuk. Apa lagi yang harus diperbuatnya? Rasa putus asa mulai mengisi hidupnya: uang habis, tidak ada jalan keluar, dan tidak ada harapan.

Kelihatannya perempuan itu berada dalam kesulitan yang besar, baik secara jasmani maupun rohani. Tetapi Tuhan itu mahakasih, Ia selalu bersedia menolong orang-orang yang dikasihi-Nya. Dalam keadaan yang berat, Tuhan memberikan satu berkat yang selalu ada di dalam hati orang yang mengakui kuasa-Nya: Iman.

Perempuan itu sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, dan ia percaya bahwa sekalipun orang lain tidak bisa menolong, Yesus pasti bisa. Maka di tengah-tengah orang banyak yang tidak bisa menolongnya, ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Seketika itu juga ia disembuhkan. Sekalipun dunia tak bisa diharapkan, Tuhan tetap ada sebagai penolong orang yang percaya. Kisah nyata yang indah, tetapi mengapa Yesus mau menolong perempuan itu?

Sebagai manusia, Yesus pun mengalami pergumulan yang serupa. Dalam injil Lukas 22: 41-45, tertulis bahwa Yesus bergumul dalam doa di taman Getsemani menjelang penyaliban-Nya. Ia merasa takut dan tidak ada seorang pun yang bisa menolong-Nya. Murid-murid yang dikasihi-Nya hanya bisa berduka dan tidur. Tetapi apa yang dilakukan Yesus membawa kekuatan yang baru. Ia berdoa:

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 43

Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Di dalam keadaan yang berat, Allah menyatakan kasih-Nya pada waktu yang tepat.

Pagi ini, jika kita merasa masygul karena berbagai persoalan, marilah kita yakin bahwa Yesus adalah Tuhan kita yang mahapengasih. Maha Pengasih adalah salah satu sifat hakiki Tuhan (1 Yohanes 4: 8). Kasih-Nya sungguh besar kepada semua orang, terutama kepada mereka yang beriman kepada-Nya. Lebih dari itu, sebagai manusia tidak berdosa yang sudah mengalami penderitaan di kayu salib, Ia sudah memberi teladan bahwa jika kita menyerahkan semua kesulitan kita kepada Tuhan, kita akan lebih dapat merasakan kasih-Nya dalam hidup kita.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3-5

Kesedihan adalah bagian kehidupan di dunia

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? Mazmur 13: 1 – 2

Pandemi yang terjadi saat ini di dunia, tentunya bukan suatu peristiwa yang mudah diterima dengan hati yang tabah. Dengan berjalannya waktu, suasana pandemi ini lambat laun membuat banyak orang merasa gundah. Apalagi jika kita sendiri atau orang-orang yang kita kenal terkena dampaknya. Setiap orang di dunia tentunya merasa sedih dengan keadaan dunia saat ini. Semua ini adalah kenyataan dan bukan sebuah film drama.

Sekalipun orang mungkin senang menonton film drama yang bernada sedih dan bisa membayangkan keadaan yang dilukiskan dalam film itu, tentunya tidak seorang pun yang mengingini agar kejadian semacam itu terjadi pada dirinya sendiri. Sekalipun kejadian serupa mungkin saja pernah dialami oleh penonton, itu bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati. Kesedihan adalah sesuatu yang tidak disukai manusia, tetapi bisa datang tanpa diundang. Sebagian kesedihan bisa disebabkan karena kesalahan diri sendiri, tetapi banyak juga yang datang karena perbuatan orang lain atau karena adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Kesedihan adalah bagian kehidupan sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Sekalipun kita berusaha keras untuk menghindari apa yang menyedihkan, hal yang buruk dapat terjadi dalam hidup kita. Banyak orang Kristen yang mengalami musibah yang bertanya-tanya mengapa Tuhan yang mahakasih membiarkan umat-Nya untuk merasakan kesedihan yang luar biasa. Mengapa Ia tidak memberikan pertolongan, penghiburan dan kekuatan? Daud merasakan hal ini ketika ia merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Ia bertanya-tanya untuk berapa lama Tuhan akan melupakan dia. Hatinya gundah dan sedih sepanjang hari karena Tuhan seakan-akan menyembunyikan wajah-Nya. Daud juga takut dan kuatir karena musuh-musuhnya merendahkan dia. Daud kuatir bahwa hidupnya lambat laun akan hancur karena kesedihan yang menumpuk.

Adakah guna kesedihan sehingga Tuhan membiarkan umat-Nya untuk mengalaminya? Ada! Kesedihan bisa membimbing manusia untuk menyadari bahwa mereka tidak berkuasa atas apa pun juga yang terjadi di dunia. Penderitaan bisa juga menginsafkan manusia untuk tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu. Kesedihan bisa memperkuat iman kita agar kita mau bergantung kepada Tuhan. Kesesakan hidup juga bisa membuat kita untuk mau berjalan bersama Dia. Lebih dari itu, adanya kesedihan bisa memberi keyakinan kepada kita bahwa Yesus yang sudah mengalami penderitaan yang luar biasa, tidak akan membiarkan kita untuk mengalami penderitaan yang lebih besar dari kekuatan kita.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Iman yang tidak bergantung pada keadaan

Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Ayub 2: 10

Seorang ahli kejiwaan yang terkenal pernah berkata bahwa konsep kebahagiaan manusia modern sering kali keliru. Banyak orang, termasuk orang Kristen, berpendapat bahwa kebahagiaan akan datang jika mereka mendapatkan apa yang bisa dinikmati. Bukan hanya dalam hal jasmani tetapi juga dalam hal kebutuhan rohani, jika itu terpenuhi kebahagiaan akan datang. Oleh karena itu, banyak orang kehilangan kebahagiaannya jika apa yang dipunyainya kemudian membawa kesulitan atau masalah. Mereka yang mendambakan mobil mahal, akan merasa berbahagia untuk sementara; tetapi jika mobil itu kemudian rusak, kebahagiaan itu hilang. Begitu juga orang yang mengharapkan keluarga yang bahagia, akan mengalami kemurungan jika ada hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi. Seperti itu juga, mereka yang dulunya merasa berbahagia dengan kesehatan yang prima, bisa merasa sedih jika kemudian terkena penyakit tertentu. Bagaimana dengan kebahagiaan dalam hubungan kita dengan Tuhan?

Orang beriman yang percaya kepada Tuhan tentunya berharap bahwa dengan hubungan yang baik dengan-Nya, mereka akan merasa bahagia untuk selama-lamanya. Hidup yang diberkati Tuhan adalah hidup yang aman, tenang dan penuh rasa cukup. Benarkah begitu?

Membaca kitab Ayub 2, mau tidak mau kita membayangkan bagaimana hubungan Ayub dengan istrinya sebelum Ayub tertimpa berbagai musibah. Apakah istri Ayub hanya mencintainya dalam suka? Mengapa dengan datangnya duka, istri Ayub menyuruh Ayub untuk meninggalkan Tuhan dan mati (ayat 9)? Apakah Ayub merasa kecewa? Mungkin, untuk beberapa saat Ayub marah dan merasa kecewa karena istrinya tidak lagi mengasihinya.

Jika pernikahan adalah antara dua manusia yang berbeda jenis dan latar belakangnya tetapi saling mengasihi, umat Kristen atau gereja bisa dibayangkan sebagai calon mempelai Kristus (Wahyu 21: 2). Sebagai orang percaya, kita mempunyai tekad untuk mengikut Yesus dalam segala keadaan, sekalipun kita mungkin tidak pernah mengucapkan janji untuk tetap setia kepada Yesus waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Pada pihak yang lain, Yesus sendiri berkali-kali berjanji untuk menyertai umat-Nya untuk selamanya, dan bahkan memberikan Roh Kudus untuk menguatkan kita (Yohanes 14: 16).

Seperti banyak pernikahan manusia yang menjadi hancur karena adanya godaan, tantangan dan kesulitan hidup, banyak orang yang mundur dari imannya karena adanya berbagai persoalan hidup. Walaupun demikian, bagi kita, untuk tetap berpegang pada janji kesetiaan Tuhan dalam menghadapi kesulitan hidup, bukanlah hanya harapan. Bahwa Ayub yang hidupnya diterpa badai kehidupan yang begitu besar dan bahkan untuk sesaat seolah kehilangan dukungan istrinya, tetapi tetap setia dan beriman kepada Tuhan, adalah sebuah contoh bahwa mereka yang sudah pernah merasakan besarnya kasih Tuhan dalam hidup mereka, tidaklah mudah untuk merasa kecewa dan mengingkari imannya.

Hari ini, jika hidup kita mengalami persoalan besar, biarlah kita ingat akan janji Yesus untuk menyertai kita. Sekalipun keadaan saat ini terasa berat, kita bisa berharap akan kasih-Nya. Dengan keyakinan akan kasih-Nya,sekalipun keadaan dan orang-orang di sekitar kita pada saat ini tidak bisa membantu kita, biarlah kesetiaan kita kepada Yesus tetap kuat sebab Ia adalah Tuhan yang setia. Di dalam Yesus gembala kita, ada rasa aman dan damai dalam keadaan apa pun.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Roma 8: 38 – 39

Bila kegelapan mendatangi

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Hari ini pikiran saya melayang ke Surabaya, tempat di mana saya dulu dilahirkan. Situasi pada saat ini dikabarkan cukup gawat dengan adanya beberapa rumah sakit yang tidak lagi bisa menerima pasien karena banyaknya tenaga medis yang terpapar Covid-19. Saya juga mendengar bahwa ibukota Jakarta sekarang ini berada dalam keadaan kritis. Pikiran saya menjadi gundah. Apalagi, keadaan di Australia pada saat ini juga mulai memburuk secara pelan-pelan, dan ini menambah kekuatiran saya. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Setiap orang Kristen tentunya berharap agar Tuhan yang di surga bisa menolongnya jika ia mengalami masalah. Tetapi, keadaan saat ini benar-benar menguji iman siapa pun. Kita percaya bahwa Tuhan selalu ada dalam hidup kita dan menyertai kita. Benarkah demikian? Memang mudah untuk menjawab “ya”, tetapi dalam hidup ini ada kalanya kita merasa bahwa Tuhan itu jauh, terutama jika kita mengalami persoalan hidup yang berat.

Dalam kenyataannya, hidup orang Kristen memang tidak selalu berisi hal-hal yang indah. Ada saat-saat di mana hidup ini terasa sangat berat dan kita tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan. Itu adalah lumrah, karena selama hidup di dunia kita belum dapat melihat kebesaran Tuhan sepenuhnya. Walaupun begitu, jika kita mengasihi Tuhan dan percaya kepada-Nya, sekalipun sekarang kita tidak melihat Dia, kita boleh bergembira karena kita telah mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita (1 Petrus 1: 8 – 9). Ini adalah tujuan utama iman kita, yang membuat kita menjawab panggilan keselamatan-Nya pada saat kita menjadi orang percaya.

Hari ini, apakah anda merasakan beratnya hidup ini? Ayat di atas mengajar kita untuk tetap bertekun dalam iman. Memang segala penderitaan dan pencobaan hidup sering kali terasa sangat berat dan benar-benar menguji iman kita; tetapi hidup tanpa perjuangan bukanlah tujuan iman kita. Ujian hidup kita itu justru akan menumbuhkan iman kita kepada Tuhan, jika kita tetap bergantung kepada bimbingan dan penghiburan Roh Kudus yang selalu ada dalam hidup kita.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Kepada siapa kita bisa berharap?

“Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang.” Lukas 9: 1 – 2

Pada saat pandemi ini, banyaklah orang yang sudah terpapar virus Covid-19, dan mungkin kita mengenal beberapa orang yang mengalami berbagai masalah kesehatan dan bahkan meninggal dunia karena hal itu. Sangat menyedihkan bahwa ada banyak orang yang dirawat di Rumah Sakit tetapi kemudian tidak tertolong. Memang Covid-19 ini belum ada obatnya. Tetapi, satu hal yang membesarkan hati ialah adanya vaksin bisa mengurangi kemungkinan tertular, dan juga bisa menghindari keparahan jika tertular. Kita juga tahu bahwa penyakit ini hanya mempunyai tingkat kematian sekitar 2-3% dari jumlah orang yang terpapar, dan tentang hal itu kita percaya bahwa segala seuatu terjadi dengan seizin Tuhan.

Adalah suatu kenyataan bahwa setiap orang di dunia ini tentunya pernah jatuh sakit. Memang, dunia sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah dunia yang penuh masalah dan penderitaan. Alkitab menceritakan berbagai masalah kesehatan yang mengganggu hidup manusia, terutama dalam kitab perjanjian baru, di mana berbagai penyakit sudah disembuhkan oleh Yesus dan murid-murid-Nya.

Sudah tentu bahwa ilmu pengetahuan manusia pada zaman dulu tidaklah seperti zaman ini. Ilmu kedokteran saat itu belumlah berkembang dan dengan demikian orang mungkin lebih bergantung pada doa dan keajaiban untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit yang tidak dapat diobati oleh para tabib yang ada.

Kedatangan Yesus ke dunia membawa dimensi baru dalam hal kesembuhan. Alkitab mencatat bahwa Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya (Markus 3: 10). Jika sebelum kedatangan-Nya, orang tidak mempunyai banyak harapan untuk mendapat kesembuhan, Yesus memberi kepastian bahwa sebagai Anak Allah Ia bisa mengalahkan segala penyakit dan bahkan kematian.

Kepada murid-Nya Yesus juga memberikan tenaga dan kuasa untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Memang, dalam paket keselamatan Yesus, Ia mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Semua itu dimaksudkan agar orang pada zaman itu bisa mengenal Yesus Sang Juruselamat dan memuliakan Allah Bapa yang mengutus-Nya.

Bagaimana pula dengan keadaan di zaman sekarang? Hal kesembuhan yang ajaib masih kita dengar atau alami, tetapi agaknya tidak sesering dulu. Kelihatannya jarang orang yang menganjurkan kita untuk hanya berdoa dan bergantung kepada Tuhan jika terpapar virus Covid-19. Sebaliknya, kita melihat bahwa banyak penderita virus ini yang menjalani perawatan di rumah sakit, tetapi banyak juga orang yang memakai berbagai obat pilihan sendiri untuk menghindari atau menyembuhkan penyakit ini. Obat dan perawatan medis tentunya merupakan berkat dari Tuhan, yang memungkinkan apa yang baik untuk bisa dipakai manusia. Yesus yang sudah menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya, tidak lagi perlu untuk mengelilingi dunia dan melakukan penyembuhan ilahi seperti dulu.

Sebagian umat Kristen masih percaya bahwa keadaan sekarang masih tetap seperti dulu. Akibatnya, mereka yang sakit mungkin kurang mempercayai ilmu kedokteran, tetapi lebih mengharapkan adanya keajaiban. Selain itu, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa ilmu kedokteran adalah ilmu manusiawi, dan kesembuhan yang paling baik bukanlah melalui ilmu itu, tetapi melalui pengalaman orang lain pada saat ini, dengan kata lain berdasarkan prinsip empiris.

Salahkah jika kita masih mengharapkan pemeliharaan dan kesembuhan ilahi di zaman ini? Tentu tidak! Alkitab menulis bahwa Tuhan tidak berubah. Kasih-Nya tetap sama, begitu juga kuasa-Nya. Jika Ia menghendaki keajaiban terjadi di zaman ini, itu pasti akan terjadi. Kuasa Tuhan ada dan bekerja dalam segala hal, baik itu dalam hal yang kita mengerti maupun dalam hal yang kita kurang mengerti.

Ilmu kedokteran di zaman ini sudah jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh Lukas, yang pada waktu itu bekerja sebagai tabib (Kolose 4: 14). Lukas yang pada waktu itu mengabarkan injil bersama Paulus, tentunya sadar bahwa dibalik semuanya Tuhanlah yang bekerja. Begitu juga kita yang hidup di zaman modern ini harus percaya bahwa Tuhan tetap memelihara kesehatan kita melalui segala apa yang baik. Ilmu kesehatan dan kedokteran adalah berkat Tuhan yang harus kita syukuri dan bukan sesuatu yang kita abaikan atau hindari.

Pagi ini, adakah masalah kesehatan yang anda hadapi? Percayakah anda bahwa Tuhan tetap peduli akan penderitaan manusia di bumi? Tahukah anda bahwa Ia ingin supaya manusia bisa mengenal-Nya melalui apa yang baik yang sudah diberikan-Nya? Tuhan sudah memberikan berkat-Nya melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia, dan karena itu kita tetap bisa melihat berbagai keajaiban yang dilakukan-Nya termasuk apa yang terjadi melalui ilmu kedokteran. Bersyukurlah bahwa Tuhan itu baik, dan jangan sia-siakan kasih-Nya!