Berita sukacita dalam dukacita

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Matius 1: 21

Hari ini tanggal 11 Desember dan dua minggu lagi orang Kristen akan merayakan hari Natal. Di Australia, bukan hanya orang Kristen yang menyambut datangnya hari Natal karena hari ini adalah bagian penting dari budaya barat. Hari Natal bagi masyarakat umum biasanya dirayakan sebagai hari keluarga, dimana banyak orang mengunjungi orang tua mereka untuk makan bersama. Liburan Natal yang bersamaan dengan liburan akhir tahun, juga membuat orang untuk memakai kesempatan yang ada untuk berlibur atau bertamasya bersama keluarga.

Saat ini, anak-anak mulai memikirkan datangnya Natal dengan memikirkan hadiah apa saja yang bakal didapat dari orang tua mereka. Sebaliknya, para orang tua juga mulai bingung dan bahkan pusing memikirkan hadiah apa yang bisa mereka berikan kepada anak-cucu. Semua itu membuat hari Natal terasa seperti suatu kesibukan bagi semua umur. Walaupun demikian, bagi banyak orang lain hari  Natal mungkin justru bisa mendatangkan rasa sedih.

Pandemi yang berlangsung di berbagai negara mulai bulan Februari atau Maret yang lalu, membuat banyak orang merasakan penderitaan yang luar biasa. Saat ini keadaan di banyak negara tidak memungkinkan masyarakat untuk merayakan Natal seperti tahun-tahun yang silam. Bukan hanya karena tidak bisa berkumpul dengan teman dan sanak karena adanya kekuatiran atas kemungkinan tertular Covid-19, tetapi juga karena keadaan ekonomi yang kurang baik. Karena itu, hari Natal yang meriah bagi banyak orang bisa menjadi hari dimana ada yang merasa sedih, merana atau kesepian.

Bagi mereka yang beragama Kristen, hari Natal adalah hari peringatan lahirnya Yesus. Ini seharusnya lebih utama dari segi sosial dan finansial. Walaupun demikian, jika orang Kristen tidak meluangkan waktu untuk memikirkan arti hari Natal untuk dirinya, hari itu tidak akan berbeda dari hari-hari besar yang lain, seperti hari Tahun Baru dan hari kemerdekaan bangsa. Sekalipun ada yang bisa dinikmati, hari libur seperti itu adalah hari yang dirayakan orang setiap tahun tanpa ada yang terasa istimewa secara pribadi. Setiap tahun orang mungkin merayakannya tanpa mengalami perubahan, kecuali umur yang bertambah satu tahun. Benarkah demikian?

Hari Natal adalah hari yang seharusnya mengingatkan kita akan tujuh hadiah yang sudah kita terima dari Tuhan melalui Yesus. Tujuh hadiah itu adalah: pengampunan, pembenaran, hidup baru, perdamaian, pengadopsian, pembebasan dan penyucian. Karena Yesus lahir ke dunia dan mati di kayu salib ganti kita, kita bisa memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita. Dosa yang seharusnya membawa kematian, tidak lagi menyebabkan datangnya murka Allah karena melalui Yesus kita dibenarkan. Melalui Yesus kita bisa mendapat hidup baru, karena hidup lama yang sudah mati mendapatkan nafas baru dari Allah.

Natal seharusnya juga mengingatkan kita  bahwa Allah yang membenci dosa kita seharusnya memberi kita hukuman yang setimpal. Kita seharusnya mengalami kematian sebagai balasan atas kedurhakaan kita. Tetapi Yesus datang untuk mendamaikan Allah dengan kita, umatNya. Dengan itu terbuka kemungkinan bagi kita untuk diadopsi sebagai anak-anakNya dan berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Kita sudah dibebaskan dari cengkeraman dosa dan pengaruhnya, oleh karena itu kita bisa mempunyai masa depan yang baik. Lebih dari itu, Tuhan yang mahakasih membimbing kita dengan Roh KudusNya untuk menyucikan hidup kita setiap hari, sehingga semakin lama kita menjadi semakin serupa dengan Yesus.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita akan tujuh hadiah Natal yang sudah diberikan kepada kita. Hadiah-hadiah ini sering tidak kita pikirkan karena pikiran kita yang sering terpusat pada hal-hal duniawi. Hadiah ini seringkali tidak disadari manusia karena mereka melupakan apa yang penting bagi masa depan mereka. Bagi banyak orang, rasa bahagia karena datangnya Yesus sang Juruselamat mudah terlupakan ketika mereka menghadapi kesedihan, kesulitan atau persoalan di dunia. Bagaimana dengan sikap anda dalam menghadapi Natal yang sebentar lagi akan datang? Bisakah anda bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan tujuh hadiah yang berharga untuk anda dan orang-orang yang anda kasihi? Semoga.

Sayangilah tubuh dan jiwamu

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Pandemi COVID-19 telah membawa banyak korban di dunia. Tidak saja di negara yang sedang berkembang, tetapi juga di negara maju. Di Australia, setelah berjuang mati-matian dengan berbagai tindakan lockdown, sekarang penambahan kasus bisa ditekan sedemikian rupa sehingga masyarakat bisa beraktivitas lagi sekalipun harus tetap berhati-hati, Walaupun demikian, dampak kesehatan dari pandemi ini sekarang diramalkan akan berkelanjutan sampai waktu yang cukup lama karena orang tidak saja bisa sakit secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Sakit kejiwaan inilah yang seringkali lebih sulit untuk disembuhkan.

Orang sekarang menyadari bahwa hubungan antara kesehatan jasmani dan kesehatan rohani tidaklah semudah yang diutarakan dalam semboyan “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Tubuh tidak lebih penting dari jiwa dan tidak menjamin sehatnya jiwa. Dalam tubuh yang sehat mungkin saja ada jiwa yang sakit, dan sebaliknya dalam tubuh yang sakit mungkin saja ada jiwa yang sehat. Kita mungkin sering menjumpai olahragawan dan olahragawati yang prestasinya hebat tapi kesehatan jiwanya perlu dipertanyakan karena cara hidupnya yang berantakan. Sebaliknya, ada banyak orang yang sakit atau tidak sempurna fisiknya tetapi mampu mencapai prestasi kehidupan yang hebat, dengan menggunakan pikiran dan hati mereka secara bijaksana.

Rasul Paulus sendiri ternyata adalah orang yang kurang sehat jasmaninya. Ia menulis dalam 2 Korintus 12: 7 bahwa ia diberi suatu duri dalam tubuhnya, mungkin suatu penyakit kronis dan menyusahkan dia, yang hanya bisa kita duga tetapi tidak bisa kita pastikan jenisnya. Walaupun demikian, dalam penderitaannya Paulus bisa menulis banyak pengajaran dan nasihat kepada banyak umat kristen di berbagai tempat. Tuhan memberi Paulus jiwa yang sehat walaupun tubuhnya merasakan penderitaan sampai akhir hayat.

Sebagai orang kristen memang kita percaya bahwa tubuh manusia mempunyai dua bagian, tubuh jasmani dan tubuh rohani, yang dinamakan tubuh dan jiwa (sebagian orang kristen membagi rohani dalam dua jenis yaitu jiwa dan roh). Karena tubuh jasmani kita ini akhirnya akan lenyap pada saat yang ditentukan Tuhan, banyak orang berpikir bahwa tubuh adalah tidak penting dan kurang berharga jika dibandingkan dengan jiwa. Tetapi pandangan semacam itu tidak dapat dibenarkan karena dalam penciptaan, Tuhan secara khusus membentuk tubuh manusia – lelaki dan perempuan – dan memberi mereka jiwa.

Rasul Paulus dalam ayat diatas mengajarkan bahwa kita harus memakai tubuh kita sebagai persembahan yang kudus untuk Allah, yang berarti kita harus juga menghargai tubuh kita sama seperti jiwa kita. Jasmani dan rohani keduanya penting. Inilah yang sering dilupakan oleh umat kristen, bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita harus memelihara dan memakai tubuh yang ada, dengan apa yang mampu kita lakukan, sesuai dengan maksud penciptaanNya, untuk kemuliaan Tuhan. Sekalipun kita mungkin tidak lagi mempunyai tubuh yang sehat, apa yang masih kita punyai tetap harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.

​Sayang sekali banyak orang yang tubuh dan jiwanya sehat tetapi tidak mau memakainya untuk memuliakan Tuhan. Ada pula orang yang sengaja menyia-nyiakan atau menyalah-gunakan tubuhnya. Juga patut disayangkan kalau ada orang yang menunggu sampai saat dimana tubuh atau pikiran mulai kurang sehat untuk baru mau bekerja untuk Tuhan. 

Semua orang yang masih hidup di dunia punya kewajiban untuk memelihara tubuh dan jiwa mereka dan menggunakannya sesuai dengan maksud penciptaan. Siapa yang segan menggunakannya akan menemui masalah karena apa yang tidak digunakan dengan baik, akan diambil Tuhan. Orang yang menelantarkan tubuhnya akan kehilangan kesehatannya, yang menelantarkan pikirannya akan cepat linglung, orang yang malas menggunakan kakinya akhirnya tidak kuat berjalan, orang yang segan berdoa akan canggung untuk berdoa, dan orang yang tidak pernah menguji imannya lama kelamaan menjadi orang yang tidak percaya.

“….Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” Lukas 19: 26

Bahwa kemampuan tubuh dan jiwa kita akan berkurang dengan bertambahnya umur, itu bisa dimengerti. Itu ditentukan sejak jaman Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa. Mereka yang tidak mau menggunakan kesempatan yang masih ada, akan cepat kehilangan semuanya. Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, apa yang masih bisa digunakan untuk memuliakan Tuhan, baik tubuh maupun jiwa, harus digunakan; hingga tiba saatnya kita menghadap Sang Pencipta!

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 3: 2

Kita juga harus bisa mengasihi seisi dunia

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat diatas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:

  • Allah adalah mahakasih.
  • Allah mengasihi seluruh umat manusia.
  • Semua manusia sudah berdosa.
  • Allah mengurbankan Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.
  • Siapa saja yang percaya kepada Yesus akan selamat.

Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih? Pertanyaan ini sering muncul dan tidak mudah dijawab, terutama jika kita melihat ada orang, suku atau bangsa yang nampaknya lebih kaya, lebih jaya atau lebih berbahagia daripada yang lain. Apakah penderitaan, bencana dan malapetaka yang terjadi pada orang-orang tertentu adalah tanda kebencian Tuhan?

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa syarat (unconditional), tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepadaNya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Selain itu, Tuhan dengan kasihNya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencanaNya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membiarkan seluruh umat manusia untuk mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencanaNya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencanaNya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena kebaikan atau keburukan orang-orang itu.

Banyak orang yang berpikir bahwa jika Allah itu maha kasih, tentunya Ia akan menyelamatkan semua orang yang baik. Pandangan ini masuk akal, hanya saja tidak seorangpun di dunia ini yang cukup baik menurut ukuran Allah yang maha suci.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-dombaNya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tanganNya, diberiNya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberiNya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Sebagai anak Tuhan kita harus bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umatNya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima perlakuan istimewa karena kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka juga mau menjadi pengikut Tuhan seperti kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Pada mulanya Injil Keselamatan diberitakan diantara umat Yahudi, namun kemudian Injil juga disebarkan untuk mereka yang bukan Yahudi. Karena kemurahan Allah, di zaman ini sangatlah jarang orang yang belum pernah mendengar kabar keselamatan Kristus. Lebih dari itu, melalui berbagai keajaiban, Allah bekerja agar semua orang di dunia mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus. Itu semua terjadi karena sejak mulanya, Allah mengasihi seisi dunia ini.

Pagi ini, marilah kita ingat bahwa sebagaimana Allah sudah mengasihi semua orang, kita pun harus mengasihi sesama kita dengan tidak mempertimbangkan apakah orang itu cukup baik untuk ukuran kita. Dalam mengabarkan Injil kita pun harus mau mencapai orang-orang yang kita kenal sebagai orang yang sulit untuk diinjili. Mereka yang dengan sengaja menentang Kristus atau mereka yang dengan kenaifan menolak Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Itu karena Yesus mencintai semua orang dan itu termasuk kita dan orang-orang lain yang sampai saat ini belum bisa kita kasihi. Ia ingin agar makin banyak orang datang kepadaNya untuk memperoleh keselamatan!

Memakai hidup sebaik-baiknya

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”  1 Korintus 15: 10

Hari ini saya menerima sebuah email yang membuat saya kaget. Seorang dosen universitas saya kemarin meninggal dunia secara tiba-tiba. Hari Kamis minggu yang lalu kami masih sempat berbincang-bincang di koridor gedung kantor. Karena usianya belum mencapai 50 tahun, keluarganya pasti mengalami shock berat. Hal ini membuat saya teringat bahwa setiap manusia tentu pernah dihadapkan kepada beberapa pertanyaan ini:

  • Berapa lama aku mau hidup?
  • Berapa lama aku akan hidup?
  • Untuk apa aku hidup?
  • Apakah aku puas dengan hidupku?
  • Bagaimana akhir hidupku?
  • Apa yang terjadi seusai hidupku di dunia ini?

Bagi sekelompok manusia, sebagian pertanyaan ini mungkin sudah terjawab. Sebagian tetap merupakan tanda tanya, dan sebagian lain mungkin belum/tidak mau dipikirkan.

Punya umur panjang memang adalah impian manusia. Menarik sekali bahwa menurut buku rekor dunia Guinness, manusia modern yang tertua di dunia adalah Jeanne Louise Calment yang umurnya 122 tahun dan 164 hari yang meninggal tanggal 4 Augustus 1997 di Arles, Prancis. Sekalipun umur yang lebih dari satu abad itu dipandang manusia sebagai umur yang panjang, itu sebenarnya termasuk pendek jika dibandingkan dengan umur beberapa makhluk lain:

  • Kura kura Galapagos 175 tahun
  • Ikan paus kepala tombak atau Bowhead Whale 210 tahun
  • Kerang Ocean quahog 500 tahun
  • Ubur ubur Turtitopsis Nutricula, Tricladida dan ganggang Hydra diatas 15 ribu tahun.

Dengan fakta terbatasnya umur, manusia cenderung untuk sebisa mungkin mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Hidup ini singkat, dan karena itu manusia ingin mencari kepuasan dan kebahagiaan sebesar mungkin di bumi ini selagi masih bisa. Untuk itu, mungkin orang akan memilih salah satu cara hidup dibawah ini:

  • Hidup sederhana agar pikiran tenang
  • Menikmati hidup selagi masih bisa
  • Menyibukkan diri agar penderitaan terlupakan
  • Bekerja keras untuk mencari kepuasan dan kesuksesan
  • Membaktikan hidup sepenuhnya untuk orang lain, dll.

Walaupun demikian, makna kehidupan ini masih belum terjawab. Apakah manusia hanya hidup untuk mencari kebahagiaan di bumi ini? Apakah hidup itu untuk diri sendiri atau untuk orang lain? Adakah kebahagiaan sejati di bumi? Apa yang terjadi setelah hidup ini?

Dalam ayat diatas, Paulus menjelaskan bahwa ia telah menerima kasih karunia Allah dan karena itu ia tidak mau menyia-nyiakan hidupnya. Sebaliknya, ia telah bekerja lebih keras dari orang lain karena kasih karunia Allah yang menyertainya. Paulus bekeja keras sampai kematiannya sekitar umur 60 tahun sebagai seorang martir di Roma. Hidupnya singkat tetapi padat. Hidupnya digunakan secara efektif untuk hal-hal yang baik bagi dunia maupun surga.

Memang hidup itu harus diisi rasa syukur atas karunia Tuhan, terutama karunia terbesar yaitu keselamatan. Mereka yang bisa merasakan betapa besar pengurbanan Kristus akan bisa mengerti kasih Allah kepada manusia. Karena itu, mereka akan lebih bisa menghargai hidupnya, dan bisa memakai hidupnya untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Mereka akan mau dan bisa memelihara kesehatannya agar bisa melayani orang di sekitarnya, dan memuliakan Tuhan selama mungkin selagi hidup di dunia.

Bagi semua orang Kristen, hidup yang singkat harus digunakan untuk meningkatkan kedewasaan iman, untuk belajar dan mengajar firman Tuhan. Seperti Paulus, kebahagiaan kita didapat dari Tuhan karena kita bisa mendengarkan suaraNya, dan bisa menyampaikan itu kepada orang lain. Kebahagiaan datang ketika kita melihat bahwa kerajaan Tuhan dilebarkan, baik di bumi maupun di surga.

“Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.” 1 Korintus 15: 11

Dalam melebarkan kerajaan Tuhan. Paulus tidak segan untuk berdiskusi dengan orang lain, untuk mengingatkan mereka agar hidup sesuai dengan perintah Tuhan. Bagi Paulus, hidup bukan mencari persoalan tapi menghadapi persoalan. Hidup bukannya lari dari kenyataan, tetapi merasa cukup dan bahagia dalam setiap keadaan. Kebahagiaan bukan didapat dengan hidup pasif yang menghindari tantangan, tapi dengan keberanian dan perjuangan menegakkan kebenaran Tuhan.

Hari ini, biarlah kita bisa melihat dan mengerti makna kehidupan kita. Hidup manusia memang singkat, tetapi kita bisa menggunakannya untuk memuliakan Tuhan!

Pengharapan kita tidak akan mengecewakan

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Dalam suasana pandemi saat ini, seisi dunia merasakan adanya berbagai penderitaan. Lebih dari itu, keadaan ekonomi yang berantakan sudah menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Adakah sesuatu yang masih anda harapkan dalam hidup ini? Saya yakin pertanyaan ini akan dijawab dengan “ya” oleh kebanyakan orang. Sekalipun apa yang kita harapkan belum tentu bisa terjadi, harapan setidaknya adalah pernyataan isi hati. Selagi masih hidup, umumnya orang masih berharap akan sesuatu yang baik di masa depan, untuk diri sendiri atau untuk orang lain.

Jika ditanya lagi, sebagian orang yang mempunyai harapan dapat menyebutkan apa yang diharapkannya dengan tegas dan langsung karena memang ada sesuatu yang signifikan yang masih dinantikannya. Tetapi, sebagian lagi harus berpikir dulu untuk menemukan jawabnya. Mereka mungkin sudah merasa terbiasa dengan hidupnya, sehingga mereka butuh waktu untuk memikirkan apa yang penting dan yang belum terjadi atau tercapai.

Pertanyaan selanjutnya mungkin agak sulit untuk dijawab: Apa yang dapat kita harapkan kalau keadaan begitu buruk sehingga kita tidak bisa mengharapkan apa pun untuk diri sendiri, orang lain, keluarga atau negara? Dalam hal ini, mungkin orang sulit untuk mengutarakan harapannya karena merasa bahwa kemungkinan untuk terjadi adalah nol. Karena itu, dalam keadaan sedemikian orang kemudian memutuskan untuk acuh tak acuh atau pun “pasrah”.

Bagi orang Kristen, harapan akan apa yang baik seharusnya selalu dinyatakan. Jika mereka benar-benar mengenal Tuhan yang mahakuasa, mereka tahu bahwa Tuhan sanggup untuk melakukan apa saja. Lebih dari itu, umat Kristen percaya bahwa dari dulu Tuhan yang mahakasih selalu menghendaki apa yang baik, bukan yang jahat untuk umatNya. Karena itu, umat Kristen seharusnya selalu tetap mengharapkan apa yang baik untuk dirinya, orang lain, bangsa, negara dan dunia, sekalipun itu terlihat sulit untuk dicapai. Lebih dari itu, mereka harus sadar bahwa Tuhan tahu apa yang mereka perlukan.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Pada saat dunia dan banyak negara berada dalam keadaan kacau, kita harus bisa mengharapkan apa yang benar-benar baik bisa terjadi di masa depan. Jika kita melihat orang lain menderita, kita harus mau mendoakan sesuatu yang baik untuk mereka. Dan jika kita mau menyadari kelemahan kita, kita bisa mengharapkan sesuatu perubahan yang baik akan terjadi pada diri kita.

Masalahnya disini adalah apa yang “benar-benar baik”? Kita sendiri mungkin kurang tahu tentang itu, terutama jika kita melihat keadaan dunia pada saat ini. Kita mungkin mengharapkan agar para pemimpin di dunia bisa memberikan sedikit harapan untuk masa depan rakyatnya. Dan jika kita saat ini mengalami masalah yang sangat besar, kita harus percaya bahwa pada saatnya kita akan bisa mengatasi persoalan itu. Tetapi, apakah harapan bisa menjadi kenyataan? Kita mungkin ragu. Karena itu, pada saat inilah kita harus kembali kepada Tuhan, karena Dialah yang tahu apa yang terbaik untuk kita.

Ayat pembukaan di atas adalah ayat yang sering diucapkan di gereja sebagai salam berkat di akhir kebaktian. Mungkin kita sudah terlalu sering mendengarnya. Tetapi pada suasana yang mencekam seluruh dunia pada saat ini, tidak ada yang lebih kita inginkan daripada apa yang diucapkan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang berlaku juga untuk kita. Dalam ayat itu Paulus berdoa semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kita dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kita, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kita berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Hari ini kita diingatkan bahwa hanya Allah yang bisa memberi kita harapan, yang dapat memenuhi kita dengan rasa sukacita dan damai sekalipun keadaan di sekeliling kita terasa menakutkan. Allah jugalah yang memberi kita iman kepercayaan sehingga kita tidak ragu atau goncang dalam pengharapan kita. Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita sudah menyatakan bahwa sebagai umatNya, tidak ada hal yang lebih besar dari pengharapan bahwa walaupun ombak menghempas hidup kita saat ini, kita akan mampu menghadapi semuanya dengan keberanian dan keyakinan. Kita berharap bahwa jika pada akhirnya semua ini berlalu, nama Tuhan akan lebih dimuliakan. Lebih dari itu, apa pun yang terjadi, kita tetap berharap bahwa pada saatnya kita akan dipersatukan denganNya dalam kemuliaan dan kedamaian di Surga karena Yesus sudah menebus diri kita dengan harga yang termahal.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5

Tuhan tahu apa yang kita derita

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Saat ini apa yang terjadi di bulan-bulan yang lalu masih terbayang. Pada waktu itu banyak warga Australia yang dilanda ketakutan, kecemasan, dan kepanikan virus corona. Menyusul bencana kebakaran hutan selama musim panas, masyarakat berjuang untuk mengatasi ketidakpastian seputar kemungkinan penyebaran dan dampak COVID-19. Selama pandemi langsung, banyak orang akan mengalami peningkatan rasa kecemasan dan kekhawatiran. Untunglah, secara umum kecemasan sekarang mulai menurun seiring waktu karena penyebaran virus nampaknya sudah dapat dikendalikan. Walaupun demikian, sebagian orang akan mengalami kecemasan untuk jangka panjang.

Memang konsekuensi umum dari wabah penyakit termasuk kecemasan dan panik, depresi, kemarahan, kebingungan dan ketidakpastian, serta tekanan finansial. Diperkirakan antara 25% sampai 33% dari masyarakat mengalami tingkat kecemasan dan kecemasan yang tinggi selama pandemi. Mereka yang sebelumnya sudah mempunyai gangguan kecemasan, kecemasan atas tingkat kesehatan, dan gangguan kesehatan mental lainnya (misalnya depresi, dan stres pasca-trauma) berisiko mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi selama wabah COVID-19. Tentu saja, orang-orang ini mungkin memerlukan lebih banyak dukungan atau akses perawatan kesehatan mental selama periode ini.

Mengenai sakit, tentu semua orang pernah mengalaminya. Itu adalah bagian hidup di dunia. Walaupun demikian, orang baru memikirkannya secara sungguh-sungguh ketika ia sudah jatuh sakit. Pertanyaan “mengapa aku” atau “why me” mungkin muncul disertai dengan rasa kuatir. Bagi mereka yang percaya kepada Tuhan, itu mungkin bisa menjadi permulaan dari permohonan dan doa yang khusyuk dan khusus untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Walaupun begitu, sering juga timbul keraguan apakah Tuhan akan menolong.

Rasul Paulus juga pernah mengalami kejadian serupa. Dalam 2 Korintus 12: 7 -8 ia menulis bahwa Tuhan memberinya suatu “duri di dalam daging”, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh dia, supaya dia jangan meninggikan diri. Tentang hal itu rasul Paulus sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu diusir, tetapi hal itu tidak terjadi. Paulus sadar bahwa dibalik sakitnya, Tuhan mempunyai rencana yang tersendiri. Tuhan memang bisa mengijinkan hal yang jelek terjadi atas diri kita agar kita tetap dekat kepadaNya.

Rasa sakit dan penyakit adalah bagian hidup di dunia yang penuh dosa. Tetapi, pada pihak yang lain, hal-hal sedemikian bisa membimbing kita agar kita tidak hidup “ugal-ugalan”. Supaya kita mau berusaha untuk menghindari bahaya dan penyakit, dan sadar bahwa sebagai manusia kita adalah lemah dan harus bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.

Setiap manusia bisa mengalami sakit, baik itu sakit jasmani ataupun sakit rohani. Pada abad-abad berselang, sakit jasmani mungkin dianggap lumrah sedangkan sakit rohani seperti depresi dan penyakit kejiwaan lainnya dianggap seperti “aib” yang harus disembunyikan. Tetapi, di zaman sekarang orang mulai mengerti bahwa baik sakit jasmani maupun rohani bisa terjadi pada siapapun juga. Mereka yang sehat jasmaninya bisa sakit jiwanya, dan mereka yang sakit jasmaninya bisa sehat secara rohani.

Dari ayat diatas, kita bisa membaca bahwa Yesus sebagai Tuhan yang pernah menjadi manusia bisa merasakan segala kelemahan-kelemahan kita, dan bahkan sama dengan kita, Ia pernah dicobai. Bahkan, dalam penderitaanNya sewaktu disalibkan di bukit Golgota, Ia sampai berseru memanggil Allah BapaNya. Jeritan Yesus itu terjadi karena Ia sangat menderita secara jasmani maupun rohani, sebab Ia mewakili manusia yang seharusnya mati karena dosa mereka.

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Markus 15: 34

Pagi ini, jika kita merasakan hidup ini terlalu berat untuk kita jalani karena beban jasmani ataupun rohani, biarlah kita ingat bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang kita rasakan dan mengerti bagaimana kita menderita karenanya. Yesus yang sudah menebus dosa kita adalah Tuhan yang mengasihi kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena Ia tahu bagaimana rasanya bagi kita jika Tuhan terasa jauh. Biarlah kita semua bisa dikuatkan olehNya dalam keadaan apapun, supaya kemuliaan Yesus bisa terlihat dalam hidup kita.

“Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 11

Merdeka dalam pengertian Kristen

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Kebebasan dari apa dan dalam hal apa? Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari sudut hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Malahan dalam kehidupan bermasyarakat, banyak orang yang sekarang menuntut adanya berbagai kebebasan:

  • Freedom of association: kebebasan untuk bermasyarakat
  • Freedom of belief: kebebasan mempunyai kepercayaan
  • Freedom of speech: kebebasan berbicara di depan umum
  • Freedom to express oneself: kebebasan mengemukakan pendapat pribadi
  • Freedom of the press: kebebasan menyampaikan berita
  • Freedom to choose one’s state in life: kebebasan untuk menentukan hidup sendiri
  • Freedom of religion: kebebasan beragama
  • Freedom from bondage and slavery: kebebasan dari pengungkungan dan perbudakan.

Kemerdekaan memang adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia. Manusia memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang merdeka untuk mengatur dunia (Kejadian 1: 28). Dalam kenyataannya, dosa sudah membuat manusia jatuh kedalam perhambaan dan karena itu secara sadar atau tidak, ada orang yang diperbudak orang lain dan bangsa yang dikuasai bangsa lain. Selain itu ada orang atau masyarakat yang diperbudak atau dikungkung oleh suatu ideologi atau kepercayaan sehingga mereka tidak lagi bebas untuk mengenal apa yang baik dan untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang mahakuasa. Inilah sebabnya Tuhan sudah membawa bangsa Israel untuk keluar dari tanah Mesir, agar pada akhirnya rencana penyelamatan umat manusia dapat terjadi dan nama Tuhan dipermuliakan.

Sekalipun kemerdekaan manusia adalah baik, itu bukan berarti bahwa mereka boleh berbuat semaunya. Dalam kemerdekaan manusia, manusia bergantung kepada Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Dalam kebebasannya, manusia harus taat kepada hukum dan perintah Tuhan yang sudah menciptakannya (Kejadian 2: 16-17). Tanpa ketaatan kepada sang Pencipta, manusia akan kehilangan hubungan dengan Dia, dan kehilangan sumber kehidupannya. Kemerdekaan manusia dengan demikian adalah tanda kehidupan dalam Tuhan, karena tanpa ketaatan kepada Tuhan manusia akan jatuh ke dalam belenggu dosa yang membawa kematian.

Banyak orang yang mendambakan kemerdekaan dalam hidupnya dan bersedia untuk membayar dengan harga tinggi untuk memperolehnya. Tetapi seringkali, apa yang dipandang sebagai kemerdekaan adalah kesempatan untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai kemerdekaan bagi seseorang ialah keadaan dimana tidak ada orang, hukum, peraturan atau etika yang menghalangi apa yang akan diperbuatnya. Sebagai akibatnya, kemerdekaan yang ada di satu tempat belum tentu sama dengan kemerdekaan yang  ada pada tempat yang lain. Apa yang bisa diterima di satu tempat, belum tentu dianggap baik di tempat lain. Sebaliknya, apa yang dipandang buruk di satu tempat mungkin bisa diterima di tempat lain.

Karena setiap bangsa, suku dan masyarakat mempunyai standar, adat, etika, dan hukum yang berbeda dengan yang lain, orang mungkin berpendapat bahwa mereka boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar peraturan yang berlaku. Banyak orang Kristen kemudian merasa “santai” untuk melakukan hal-hal yang dianggap “biasa” dalam masyarakat setempat. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kemerdekaan untuk berbuat sesuatu selalu bisa dibeli, baik dengan uang ataupun pengaruh. Jika mereka melakukan hal-hal itu, tidak ada orang yang bakal mengerutkan kening atau melarangnya. Dengan demikian, kemerdekaan bagi mereka ialah memanfaatkan kesempatan yang ada dalam lingkungan hidup mereka.

Tuhan yang Maha Esa sudah tentu memiliki kehendak yang sama untuk seluruh umatNya. Apa yang difirmankanNya tidak mungkin disesuaikan dengan keadaan setempat. Hukum Tuhan seharusnya berlaku untuk setiap manusia tanpa memandang jenis, ras, budaya atau pendidikan. FirmanNya tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak manusia yang ingin mempunyai kemerdekaan untuk memilih cara hidup dan kebiasaan yang sesuai dengan keadaan setempat. Hanya ada satu tempat dimana seluruh umat manusia bisa menemukan hukum yang sama, tempat itu adalah Alkitab.

Masyarakat dan negara mungkin memperbolehkan orang untuk melakukan suatu hal, tetapi jika firman Tuhan melarangnya, sebagai orang Kristen kita harus lebih taat kepada Tuhan. Masyarakat mungkin menutup mata atas apa yang tidak baik, tetapi karena kita sadar bahwa Tuhan melihat dosa apapun yang diperbuat manusia, kita tidak boleh ikut-ikutan melakukannya. Pada pihak yang lain, ada tempat-tempat tertentu di dunia dimana masyarakat dan negara melarang orang Kristen untuk melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan. Sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita sudah diberi kemerdekaan untuk memilih hidup yang sesuai firmanNya. Dengan demikian, kita harus sanggup untuk berjuang setiap hari untuk menegakkan perintahNya dalam hidup kita. Kemerdekaan yang diciptakan Tuhan adalah kesempatan untuk membina hubungan yang baik dengan Dia!

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16

Lempar batu sembunyi tangan

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.” Keluaran 23: 1

Di zaman ini, berbagai berita muncul di sosial media seperti Whatsapp, Facebook dan Twitter setiap hari. Banyak diantara berita itu hanyalah kabar bohong atau setengah bohong, tetapi masyarakat umum tetap gemar membacanya. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ada orang-orang yang sengaja menggunakan sosial media sebagai landasan untuk mencapai tujuan mereka, baik tujuan yang benar maupun tujuan yang salah.

Dari sumber berita yang dapat dipercaya, ternyata banyak tokoh masyarakat dan negara yang menggunakan cara yang serupa untuk melakukan perang propaganda, psywar, guna menaklukkan saingan atau lawan politik mereka. Bahkan mereka mempunyai penulis-penulis dan artis-artis tertentu yang mendukung mereka dengan mengedarkan kabar-kabar “miring”, yang tidak jelas kebenarannya. Dalam melakukan hal-hal sedemikian, biasanya mereka kemudian menyembunyikan identitasnya dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Lempar batu sembunyi tangan.

Bagi banyak orang Kristen, ikut-ikutan membaca dan menyebarkan berita-berita semacam itu mungkin dianggap lumrah. Selama apa yang diungkapkan dalam tulisan itu sesuai dengan selera dan pandangan mereka, barangkali itu dianggap bisa diterima. Sekalipun mereka tahu bahwa ada kemungkinan apa yang disampaikan adalah tidak benar, mereka mungkin berpendapat bahwa kebenaran bisa ditegakkan dengan cara apapun. Mereka mungkin juga percaya bahwa maksud baik boleh menghalalkan cara. Apa kata firman Tuhan dalam hal ini?

Dari ayat pembukaan diatas kita bisa membaca bahwa dari awalnya bani Israel diperintahkan untuk tidak menyebarkan kabar bohong; atau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. Mungkin kita merasa bahwa kita tidak pernah melakukan hal-hal itu dengan sengaja. Tetapi dengan ikut-ikutan menyebarkan, kita sebenarnya membantu orang lain untuk melakukannya.

Masalahnya, di zaman ini kita sering tidak bisa dengan mudah membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Kita juga sering tidak tahu pendapat siapa yang benar dan ucapan siapa yang salah. Tambahan pula, pengetahuan manusia adalah sangat terbatas dan karena itu kita tidak dapat membaca pikiran dan hati orang lain. Hanya Tuhanlah yang tahu segala apa yang tersembunyi dari mata manusia.

“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17: 10

Pagi ini, sebagai umat Kristen kita dipanggil untuk menjadi terang dunia yang menyinarkan kemuliaan Tuhan dalam segala tindak tanduk kehidupan kita. Sebagai orang percaya, kita harus berbeda dengan orang yang tidak mengenal Kristus. Karena itu, sudah seharusnya kita tidak ikut-ikutan terpancing dalam mengeluarkan atau mengedarkan berita-berita yang tidak dapat dipastikan kebenarannya, atau hal-hal yang menimbulkan kebencian dan kekacauan dalam masyarakat.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Untungnya menjadi anggota marga Allah

Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. Galatia 3: 29

Apakah yang membedakan seseorang dari orang yang lain? Tentu saja ada banyak hal yang berbeda, seperti rupa, bentuk tubuh, cara berjalan, tinggi badan dan sebagainya. Memang setiap orang adalah ciptaan Tuhan yang unik. Walaupun demikian, ada sekelompok orang yang mempunyai satu hal yang sama yaitu nama keluarga.

Menurut Wikipedia, marga atau nama keluarga menunjukkan dari keluarga mana asal usul seseorang. Marga lazim dipakai di banyak kebudayaan di dunia. Marga dalam kebudayaan Barat dan kebudayaan yang terpengaruh oleh budaya Barat umumnya terletak di belakang, sehingga sering disebut dengan nama belakang. Kebalikannya, budaya Tionghoa dan Asia Timur lainnya menulis marga di depan nama panggilan karena marga adalah lebih penting daripada nama panggilan dalam hal membedakan asal-usul dan budaya seseorang.

Di Tiongkok misalnya, ada lebih dari 4000 marga, dan tiga yang paling besar adalah Wang, Li dan Zhang. Seperti itu juga, di Indonesia ada beberapa suku yang memandang penting marga dan karena itu nama keluarga diteruskan dari generasi ke generasi. Tidaklah mengherankan bahwa ada marga yang memandang rendah marga-marga yang lain karena status sosial, kekayaan, pengaruh dan kekuasaan yang dimilikinya. Bahkan, pada zaman dulu ada orang dari suatu marga yang tidak boleh menikah dengan orang dari marga tertentu karena dipandang kurang sepadan.

Ayat di atas merupakan perjanjian antara Allah dengan Abraham. Allah bermaksud untuk secara turun-temurun mengadakan perjanjian yang kekal, supaya Dia menjadi Allah Abraham dan keturunannya. Sebagai tanda adanya perjanjian ini, kaum pria dari marga Abraham harus mau untuk dikhitankan. Begitu pentingnya tanda sunat ini, mereka yang tidak mau dikhitan adalah orang yang tidak termasuk dalam perjanjian Allah, dan dengan demikian tidak akan menerima berkat dan penyertaan Allah. Sesudah Yesus turun ke dunia, mereka yang sudah percaya kepadaNya tidak perlu lagi memakai tanda sunat yang bersifat jasmani. Sebaliknya, orang beriman memakai sunat rohani, yaitu hidup yang menaati firman Allah (1 Korintus 7: 19).

Adakah untungnya menjadi umat Allah? Tentu saja! Jika pada zaman Abraham Allah menjanjikan bahwa keturunan Abraham akan menjadi warga dari bangsa yang besar (Kejadian 17: 6) dan tanah Kanaan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya (Kejadian 17: 8), kedatangan Yesus untuk menebus dosa manusia memungkinkan semua orang yang percaya untuk menjadi warga surgawi dan keselamatan akan menjadi milik mereka untuk selama-lamanya. Dengan demikian, seperti keturunan Abraham menjadi milik Allah, kita yang sudah menjadi milik Kristus adalah “semarga” dengan Abraham, yaitu orang-orang yang berhak menerima janji Allah.

Bagi kita, menjadi marga Abraham karena Kristus adalah satu karunia yang terbesar yang tidak dapat ditukar dengan hal-hal yang lain. Dari segi historis, kita bisa melihat bahwa kasih Tuhan sudah ada sejak mulanya dan terus mengalir untuk semua orang percaya. Dengan demikian, dalam hidup ini seharusnya tidak ada hal lain yang bisa menarik kita untuk keluar dari marga surgawi atau marga Abraham. Seperti janji Tuhan hanya diberikan kepada Abraham dan keturunannya, kita dipersatukan dalam darah Kristus sekalipun kita berbeda suku, negara, status sosial dan latar belakang (Roma 10: 12). Janji Tuhan untuk menyertai setiap umatNya adalah sama, dan Ia membimbing semuanya sebagai Bapa yang memimpin anak-anakNya, sampai mereka bisa berjumpa dengan Dia di surga.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” Galatia 4: 6 – 7

Gembala yang baik

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Di zaman modern ini kehidupan keluarga di negara manapun mengalami perubahan besar. Jika di Indonesia banyak orang tua kehilangan kesempatan untuk mengantar anak-anak ke sekolah atau ke rumah teman mereka karena adanya sopir, di luar negeri tiap anak yang sudah punya SIM akan membeli mobil dan jarang bertemu dengan orang tua. Hubungan orang tua dan anak sepertinya menjadi hubungan casual, tidak teratur dan hanya kalau ada perlunya saja.

Bagaimana dengan hubungan antara suami dan istri? Sekarang ini cenderung menjadi formal, untuk sekedar memberi laporan keuangan dan jadwal acara masing-masing. Hubungan personal jadi luntur, tidak ada lagi keintiman dan kemesraan. Masing-masing sibuk dengan kegiatan dan kegemarannya sendiri, dan jarang ada waktu yang bisa dinikmati bersama.

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat umum terjadi juga di antara umat Kristen. Hubungan umat Israel dengan Allah sebelum Yesus disalibkan adalah hubungan formal dan satu arah. Allah berfirman dengan perantaraan para nabi dan umat Israel tidak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Sekalipun hubungan yang ada bukanlah casual, secara umum tidak ada kemesraan antara Allah dan umatNya.

Allah tidak menyukai hubungan dengan umatNya yang serba formal seperti yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama, tetapi itu tidak bisa dihindari karena penebusan Yesus belum terjadi. Allah yang mengasihi manusia, menginginkan hubungan yang intim dengan umatNya. Karena itu Ia mengirimkan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Dengan penebusan Kristus, hubungan kita dengan Tuhan bisa menjadi hubungan pribadi yang intim sesuai dengan tujuan penciptaan manusia pada awalnya.

Adalah kenyataan yang menyedihkan bahwa sesudah pengurbanan Kristus, tidak semua orang yang mengaku sebagai domba-domba Kristus di zaman ini mengenal suaraNya. Mereka terlalu sibuk dengan acara dan kesibukan mereka sehingga sebagian kembali memakai hubungan formal dengan Tuhan: berdoa bersama dan ke gereja sekali seminggu. Mereka mendengarkan khotbah dan pengalaman pribadi pendeta. Tetapi hubungan yang personal dan intim dengan Tuhan tidak terjadi karena “tidak ada waktu”.

Lebih parah lagi, banyak orang Kristen yang dalam hidup bebasnya hanya mempunyai hubungan casual dengan Tuhan. Jarang-jarang, tidak teratur, dan hanya kalau perlu, atau kalau sempat. Apalagi, saat ini rasanya lebih asyik dan nikmat untuk “bersekutu” dengan teman-teman lama lewat sosmed dan sesekali mengirim gambar-gambar “rohani” dan semboyan-semboyan agama. Seolah kita tidak lagi memerlukan seorang Gembala yang nyata dan hidup.

Kita harus sadar bahwa Yesus, sebagai gembala yang baik, menjaga domba-dombaNya siang dan malam. Ia juga yang dengan setia selalu memanggil domba-dombaNya untuk mengikuti jalanNya. Pagi ini, kita dihadapkan pada dua pilihan. Hidup dengan usaha untuk membina hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, atau hidup untuk diri kita sendiri dan merasa puas mempunyai hubungan formal atau casual denganNya. Mana pilihan anda?

“Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” Yohanes 10: 4