Manusia tidak bisa menyelami jalan pikiran Tuhan

“Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah.” Mazmur 40:12

Sebulan yang lalu, tidak ada yang bisa membayangkan bahwa 3 di antara 6 negara bagian Australia harus mengalami lockdown lagi. Malang tak dapat ditolak, pada saat ini di Australia ada sekitar 1500 kasus aktif dan 10% di antaranya pada saat ini berada dalam perawatan rumah sakit. Bagi rakyat Australia, adanya lockdown ini terasa sebagai hukuman penjara dan sudah membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Bagi pemerintah Australia, keadaan yang berlarut-larut ini sudah pasti akan membuat ekonomi berantakan karena adanya banyak orang yang memerlukan uang tunjangan. Semua ini seperti sebuah malapetaka yang memengaruhi manusia secara jasmani maupun rohani.

Salah satu pertanyaan rumit yang sering muncul dalam keadaan seperti ini adalah mengapa ada pandemi, kejahatan dan penderitaan terjadi jika Tuhan itu ada. Mengapa musuh-musuh kita terus menerus menyerang kelemahan atau kesalahan kita? Mengapa ada orang yang harus masuk penjara atau dipecat dari pekerjaannya karena fitnah? Mengapa Tuhan membiarkan hal-hal seperti itu?

Banyak orang yang beranggapan bahwa adanya hal-hal yang keji itu membuktikan Tuhan itu tidak ada. Sekalipun kita percaya bahwa Tuhan itu ada, pergumulan hidup di atas bisa menimbulkan pertanyaan:

1. Apakah Tuhan itu mahakasih tapi tidak mahakuasa?

2. Apakah Tuhan itu mahakuasa tapi tidak mahakasih?

Kalau Tuhan itu memang mahakasih, sudah barang tentu Dia tidak akan membuat bencana sebagai pemberian untuk anak-anak-Nya. Tetapi dunia yang diciptakan-Nya dulu, bukanlah dunia yang kita tinggali sekarang. Dunia kini adalah seperti semak duri yang dihuni anak-anak Tuhan dan anak-anak setan.

Malapetaka bisa terjadi karena dosa dan kebodohan manusia dan pemerintah. Bencana alam sering terjadi sebagai bagian dinamika alam semesta. Tetapi bencana bukan sesuatu yang disenangi Tuhan. Itu adalah konsekuensi kejatuhan manusia dalam dosa. Sesudah kejatuhan, manusia hidup dalam dunia yang penuh masalah. Dalam dunia manusia bisa memilih apa pun yang mereka maui. Tambahan lagi, iblis ada dimana-mana dan berusaha menguasai manusia, terutama menyerang anak-anak Tuhan yang kurang waspada.

Walau hal-hal yang jahat bisa terjadi di dunia, Tuhan tetap mencintai anak-anak-Nya dan tidak membiarkan malapetaka datang atas mereka tanpa alasan. Tuhan jugalah yang mau memberi mereka ketabahan. Tuhan yang menciptakan taman Firdaus dulu, tidak pernah berubah sifatnya. Namun kadangkala Ia mengizinkan kita untuk mendapat pelajaran dari pengalaman kita, agar kita bisa lebih menurut kepada pimpinan-Nya dan tidak mengandalkan pikiran dan pilihan kita sendiri. Mungkin juga Tuhan memakai kejadian seperti itu untuk menggerakkan anak-anak-Nya untuk lebih bisa untuk mengasihi mereka yang lagi menderita.

Kita tahu mengapa ada malapetaka dan kejahatan di bumi, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti apa maksud Tuhan jika hal-hal yang jahat terjadi pada hidup anak-anak-Nya. Jalan pikiran-Nya tidak terjangkau manusia dan rencana-Nya tidak dibatasi oleh waktu. Hanya satu hal yang kita tahu, rencana Tuhan pasti terjadi pada waktunya dan Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabijaksana!

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Roma 11: 33

Di saat badai bergelora

“Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” 2 Korintus 1: 3 – 4

Pada saat pandemi sedang mengobrak-abrik negara kita, semua orang tentunya heran bahwa virus Covid-19 yang baru saja dijumpai pada awal tahun 2020, sekarang sudah mempunyai banyak varian yang lebih berbahaya. Dengan itu, jumlah korban pada gelombang kedua saat ini adalah jauh lebih besar dari apa yang tercatat pada gelombang pertama. Karena itu, hampir setiap orang tahu akan adanya teman atau sanak yang terpapar virus corona.

Banyak orang yang mengalami penderitaan atau masalah hidup akan mempertanyakan mengapa hal itu harus terjadi pada mereka. Why me? Pertanyaan sedemikian adalah lumrah bagi setiap orang, dan mungkin menunjukkan bahwa mereka percaya bahwa segala sesuatu tidak berjalan secara acak, tetapi menurut suatu pola atau maksud tertentu. Pasti ada suatu sebab atau penyebabnya, dan karena itu mereka mempertanyakan hal itu. Bagi banyak orang, penyebab malapetaka atau masalah berat mungkin dihubungkan dengan nasib, kehendak Tuhan, hukuman Tuhan, atau kekejian manusia dan perbuatan iblis. Tetapi, sebagai umat Kristen kita tahu bahwa Tuhan adalah Bapa yang mengasihi dan tidak akan mencelakai anak-anak-Nya. Tetapi, pertanyaan yang sama tetap tidak terjawab: why me?

Memang dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan dengan itu segala kekejian manusia dan tipu daya iblis bisa mengancam kebahagiaan anak-anak Tuhan setiap saat. Tetapi bukankah Tuhan yang mahakuasa selalu melindungi umat-Nya? Mengapa Ia membiarkan kita mengalami segala masalah besar yang tidak kita duga? Mengapa aku? Why me?

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa ia dan teman-teman seimannya juga mengalami penderitaan yang sangat besar di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas mereka adalah begitu besar dan berat, sehingga mereka telah putus asa dan bahkan menguatirkan hidup mereka. Saking beratnya masalah yang dihadapi, seolah-olah mereka telah dijatuhi hukuman mati (2 Korintus 1: 8 – 9).

Paulus menjelaskan bahwa hal yang buruk itu terjadi, supaya mereka jangan menaruh kepercayaan pada diri mereka sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dengan adanya berbagai penderitaan, Paulus dan rekan-rekannya justru bisa menaruh pengharapan bahwa Tuhan akan menyelamatkan mereka seperti apa yang sudah terjadi pada saat-saat yang telah lalu.

Paulus dan rekan-rekannya percaya bahwa segala sesuatu ada dalam kuasa Tuhan. Segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Mereka adalah murid-murid Kristus yang mengalami penderitaan seperti Kristus. Jadi tidak perlu ada pertanyaan “why me”. Seperti Kristus, mereka sudah mendapat bagian dalam kesengsaraan, dan karena itu, seperti Kristus, mereka juga sudah menerima penghiburan berlimpah-limpah dari Allah Bapa.

Pagi ini, jika kita bangun dan sadar bahwa hidup ini tidak seindah yang kita harapkan, tetapi justru jauh lebih buruk dari apa yang kita duga, mungkin kita mempertanyakan kebijakan Tuhan yang mengizinkan semua itu terjadi. Bukan kita saja yang terkejut melihat bahwa apa yang terjadi adalah lebih parah dari apa yang diperkirakan, karena para pemimpin kita juga tidak pernah menduga bahwa keadaan bisa menjadi sangat buruk. Tetapi, seperti Paulus dan orang-orang percaya yang lain, biarlah kita yakin bahwa segala sesuatu ada dalam rancangan Tuhan.

Tuhanlah yang bisa menguatkan kita, dan bahkan memakai hidup kita untuk menguatkan orang lain, sehingga mereka beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kita derita. Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan!

Mengapa kita haus akan mukjizat?

“Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mukjizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya.” Yohanes 12: 37

Pandemi ini sudah berlangsung lebih dari satu setengah tahun, tetapi sampai sekarang orang tidak bisa menerka kapan dan bagaimana itu akan berakhir. Banyak orang yang berharap bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan-Nya dengan melakukan suatu tindakan yang ajaib, karena kelihatannya manusia sudah menemui jalan buntu.

Tiap hari, jika kita perhatikan, memang ada berita-berita tentang keajaiban yang terjadi di berbagai sudut dunia. Bagi mereka yang percaya adanya kekuasaan Ilahi, kejadian semacam itu adalah sesuatu yang membuat mereka kagum atas kebesaran Tuhan. Sedemikian besar keinginan sebagian diantara mereka untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan itu ada dan mahakuasa, mereka sampai-sampai mencari keajaiban dan mukjizat dalam segala bentuknya.

Di kalangan umat Kristen pun ada banyak orang yang selalu mencari pernyataan Tuhan dengan segala ragamnya. Ada orang-orang yang suka menafsirkan proses alami tertentu, seperti bentuk awan dan batu, sebagai penampilan Tuhan. Ada pula mereka yang menyukai orang-orang tertentu yang mengaku utusan Tuhan dan bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Lebih dari itu, banyak orang yang gemar mendengar pesan dari mimbar tentang pentingnya memohon agar Tuhan memberi mukjizat bagi umat-Nya.

Adalah hal yang menarik untuk disimak bahwa selama Yesus masih di dunia, Ia tidaklah selalu membuat mukjizat di tempat-tempat yang dikunjungi-Nya. Tuhan Yesus memusatkan tenaga-Nya untuk memberitakan kabar keselamatan dan mengajarkan firman-Nya. Mereka yang mengikut Dia bukanlah selalu mengharapkan adanya mukjizat, tetapi mereka ingin mendengar kabar baik dari Tuhan. Sebagai Anak Allah, kebesaran dan kasih Tuhan Yesus sebenarnya tidak perlu ditopang dengan mukjizat yang memang diperbuat-Nya pada saat-saat tertentu, tetapi sudah dinyatakan dengan kematian dan kebangkitan-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, rasul-rasul harus bekerja keras untuk meneruskan pekerjaan yang sudah dirintis Yesus. Karena Yesus sudah tidak bersama dengan mereka, tugas untuk mengabarkan injil itu tidaklah mungkin dilaksanakan jika Roh Kudus tidak menyertai mereka. Untuk menambah otoritas mereka, Tuhan juga memberikan kemampuan untuk melakukan berbagai hal yang ajaib agar mereka yang tidak pernah melihat Yesus dan belum pernah mendengar nama-Nya, bisa diyakinkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang mahakuasa. Keadaan pada zaman ini adalah berbeda, karena hampir semua orang di dunia sudah pernah mendengar nama Yesus.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa sekalipun Yesus melakukan banyak mukjizat, sebagian orang tetap tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Bagi mereka, apa yang mereka lihat tidaklah mendatangkan iman. Mungkin hanya sekedar show. Hati mereka tertutup untuk Tuhan. Bagaimana pula jika pandemi ini dilenyapkan Tuhan di bulan depan? Apakah semua orang akan percaya kepada-Nya? Tentu tidak. Kepercayaan manusia kepada Tuhan tidak bergantung pada adanya mukjizat.

Iman adalah percaya kepada hal-hal yang tidak terlihat, kepada Tuhan yang Roh dan kepada kuasa dan kasih-Nya. Karena itu, apa yang terlihat manusia belum tentu bisa membawa kepada iman. Yesus memberi kesempatan kepada Tomas untuk membuktikan dengan mata kepalanya bahwa Ia sudah bangkit. Tetapi Ia juga berkata bahwa adalah lebih baik jika orang bisa percaya dan berserah kepada Tuhan tanpa perlu, dengan mata, melihat keajaiban Ilahi.

Dari manakah iman jika tidak dari perjumpaan dengan kuasa Tuhan? Pertanyaan yang benar, tetapi belum tentu dijawab dengan dengan benar. Karena jawabnya belum tentu mukjizat yang kita lihat dengan mata. Iman datangnya dari Tuhan, yang sudah bekerja dalam hati seseorang. Sekalipun tidak ada mukjizat yang muncul, Roh Kudus terus bekerja untuk membawa manusia kepada iman yang benar. Karena itu, adalah lebih baik bagi kita untuk memohon agar Tuhan menumbuhkan iman kita setiap hari dalam pergumulan hidup saat ini, daripada memohon agar Tuhan menghilangkan pergumulan hidup kita. Kita harus bisa meyerahkan segala sesuatu kepada Dia. Kehendak Tuhanlah yang harus terjadi di bumi seperti di surga.

Tiap hari, setiap kali kita menghirup udara segar, kita harus menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah keajaiban. Tetapi, keajaiban yang terbesar yang dilakukan Tuhan untuk kita adalah datangnya Yesus ke dunia untuk menyelamatkan kita. Inilah karunia yang terbesar, bahwa sekalipun kita sebenarnya harus mati karena dosa- dosa kita, melalui darah Yesus kita bisa menerima hidup yang kekal. Mengapa pula kita masih mendambakan datangnya mukjizat lain yang tidak dapat dibandingkan dengan pengurbanan Kristus?

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11: 1

Makin lama makin kenal

“Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.” 1 Yohanes 5: 20

Maria ingin lebih mengenal Yesus

Apakah sepasang pria dan wanita menikah karena mereka dijodohkan Tuhan? Alkitab punya banyak contoh bahwa pasangan seseorang adalah pilihannya sendiri. Walaupun demikian, jika orang Kristen ingin menemukan seorang pendamping, ia akan mendengar suara Tuhan dalam hatinya. Semakin erat hubungan orang itu dengan Tuhan, semakin bijaksana ia dalam melangkahkan kakinya untuk menuju ke masa depan.

Seorang kenalan yang baru merayakan hari ulang tahun ke 50 pernikahannya menyatakan bahwa pernikahan sebagai pilihan dua insan, adalah suatu hal yang tidak mudah dijalani. Saya setuju. Memang dengan lamanya pernikahan, hubungan suami-istri bukannya tidak lagi mempunyai masalah. Bahkan sebaliknya, dengan berlalunya waktu suami atau istri akan makin dapat melihat sifat pasangannya dan menyadari perbedaan-perbedaan yang ada. Lamanya pernikahan memang membuat dua orang bisa menerima kenyataan bahwa perbedaan harus ada, tetapi mereka bisa saling menghormati, saling menerima dan saling percaya. Hubungan kasih antara suami-istri memang mengalami penyataan (revelation) sepanjang hari sampai saat terakhir.

Jika pencerahan terjadi dalam hubungan antara suami dan istri, bagaimana pula dengan hubungan antara manusia dan Tuhan? Ayat di atas menunjukkan bahwa kepada semua manusia Tuhan sudah memberi penyataan-Nya melalui Yesus Kristus, dan karena itu tidak ada seorang pun yang bisa menolak kenyataan bahwa Tuhan itu ada. Mereka yang mencoba menolak adanya Tuhan dengan memakai berbagai dalih, adalah orang-orang yang dengan sengaja mengabaikan Tuhan dan karena itu harus bertanggung-jawab sepenuhnya atas keputusan mereka. Walaupun demikian, penyataan Tuhan itu bukan hanya sekali saja, dan bukan melalui apa yang bisa dilihat mata manusia dan dipikirkan manusia secara umum.

Keadaan yang kurang baik di saat ini mungkin sudah membuat banyak orang bertanya-tanya mengapa ini bisa terjadi. Bahkan banyak orang Kristen yang gundah mengapa Tuhan membiarkan banyak umat-Nya, dan bahkan seisi dunia menderita. Mata manusia melihat semua yang ada adalah sia-sia, tetapi bagi Tuhan semua itu ada arti dan tujuannya.

Berbeda dengan hubungan Sang Pencipta dengan dunia, hubungan Tuhan dan umat-Nya adalah hubungan yang khusus, yang seperti hubungan antara suami dan istri, mengalami pencerahan hari demi hari, melewati gunung dan lembah. Tuhan menyatakan diri-Nya, sifat-Nya, kehendak-Nya dan rencana-Nya kepada mereka yang beriman kepada-Nya dalam setiap keadaan. Jika iman adalah satu sisi dari sebuah mata uang, pengertian akan Tuhan ada pada di sisi yang lain. Iman yang benar selalu bertumbuh bersama dengan pengertian dan pengetahuan tentang Tuhan. Iman tidak dapat bertumbuh dengan baik jika kita tidak menerima penyataan dari Tuhan dalam hidup kita.

Bagaimana kita dapat menerima pengertian tentang Tuhan agar dapat menumbuhkan iman kita? Ini hanya dapat terjadi dengan kemauan kita untuk mendengar suara-Nya dan melihat kebesaran-Nya. Jika kita merasa yakin bahwa kita sudah mengetahui segala sesuatu, kita tidak mudah belajar dari orang lain atau dari keadaan di sekeliling kita. Jika kita merasa bahwa kita sudah mengerti jalan pikiran Tuhan dengan sepenuhnya, proses pendewasaan iman kita akan berhenti.

Tuhan selalu menunjukkan bimbingan dan kuasa-Nya dalam hidup setiap umat-Nya, tetapi tidak semua orang mau menerima dan mendengarkan Dia. Tidak semua orang mengerti bahwa apa yang terlihat sebagai masalah terjadi dengan seizin-Nya. Mereka yang bergantung pada diri sendiri, yang cenderung mengabaikan Tuhan dalam hidupnya, sekarang merasa putus asa. Mereka yang merasa bahwa Tuhan selalu memberikan kenyamanan hidup bagi umat-Nya mungkin merasa kecewa. Memang, walaupun seseorang sudah mengenal Tuhan sejak lama, mungkin saja pengertian dan imannya tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya.

Semakin lama kita hidup sebagai umat-Nya, seharusnya kita makin dapat mengenal kasih, kuasa, kebijaksanaan, kesabaran dan kesucian Tuhan. Dengan demikian, seharusnya hidup kita bisa berubah, makin lama makin sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dengan pengenalan yang makin mendalam tentang Tuhan, kita tidak akan mudah untuk kaget, kuatir, takut ataupun kecewa jika ada masalah besar yang terjadi dalam hidup kita. Dengan pengertian akan kesucian-Nya, kita akan bisa makin kuat dalam menghindari godaan iblis. Dengan mengakui kebesaran-Nya, kita juga makin lama makin menyadari kelemahan dan kekurangan kita, sehingga makin lama kita makin beriman kepada-Nya.

Berapa lama anda sudah mengenal Tuhan? Apakah pengenalan itu masih bertumbuh sejak anda menerima Dia? Apakah anda merasakan bahwa iman anda makin kuat sejak saat perjumpaan anda dengan Tuhan untuk pertama kalinya? Dapatkah anda merasakan adanya penyataan yang datang dari Tuhan melalui Roh Kudus-Nya setiap hari? Ataukah anda merasa bahwa sebagai orang yang dipilih Tuhan, anda sudah mengenal Dia sepenuhnya dan tidak perlu lagi merenungkan arti apa yang terjadi di zaman ini?

Hari ini, keputusan ada di tangan kita untuk mau membina hubungan yang makin baik dengan Tuhan kita. Tuhan menghendaki setiap umat-Nya untuk mau membuka diri kepada-Nya dan juga mau menerima apa yang dinyatakan-Nya. Biarlah dengan makin dalamnya pengertian kita akan kebesaran Tuhan, iman kita akan tumbuh semakin kuat sehingga kita bisa menempuh tahun-tahun yang penuh tantangan ini dengan keyakinan bahwa kasih-Nya akan senantiasa menyertai kita.

Tuhan bisa merasakan kesedihan kita

“Berapa kali mereka memberontak terhadap Dia di padang gurun, dan menyusahkan hati-Nya di padang belantara!” Mazmur 78: 40

Siapakah orang yang tidak pernah bersedih? Orang bisa bersedih karena ditinggal kekasih, kehilangan pekerjaan, jatuh sakit ataupun pailit. Kesedihan manusia jelas bisa membuatnya lemah, putus asa ataupun depresi. Apalagi, jika ada masalah yang besar yang kelihatannya tidak mungkin bisa diatasi. Pandemi yang sekarang terjadi, membuat banyak orang mengalami kesedihan yang luar biasa. Sudah tentu, penderitaan mereka bukan hanya dalam hal fisik dan materi, tetapi yang lebih sukar ditangani adalah penderitaan moril atau rohani.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, keyakinan bahwa Tuhan dapat melihat apa yang terjadi pada diri manusia, mungkin membuat mereka bertanya-tanya, apakah Tuhan bisa merasa sedih seperti manusia. Jika Tuhan memang bisa merasa sedih, apakah Ia bisa berbelas kasihan kepada mereka yang mengalami kesusahan dan kemudian berbuat sesuatu untuk mereka?

Sebagai Tuhan yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya, sudah tentu Tuhan mempunyai sifat dan reaksi yang mirip dengan apa yang dipunyai manusia. Yesus, Anak Allah yang turun ke dunia, adalah Tuhan yang berwujud manusia; hanya saja Ia sempurna dan tidak berdosa. Dengan demikian, Tuhan dalam segala perasaan-Nya adalah mirip manusia, hanya saja Dia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahatahu. Dia tidak akan kaget jika ada sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia.

Kesedihan Tuhan adalah murni karena kasih-Nya. Dia tahu apa yang akan terjadi dan bisa mengutarakan perasaan-Nya ketika hal itu terjadi; tetapi, Ia sudah mempunyai rencana tentang apa yang akan diperbuat-Nya. Tuhan tidak perlu menyesali apa yang terjadi, dan kemudian merencanakan untuk berbuat sesuatu sesuai dengan situasi dan kondisi; karena apa pun yang terjadi sudah terhitung dalam rancangan-Nya.

Tuhan yang mahatahu, tahu apa yang akan dilakukan manusia, bisa melihat apa yang akan terjadi dalam hidup tiap manusia. Ia bisa membaca pikiran manusia, melihat apa yang diperbuat manusia dan tahu apa kesalahan manusia. Karena itu, Ia merasa sedih jika apa yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.

Kesedihan Tuhan adalah sesuatu yang suci dan bukan seperti kesedihan manusia yang sering kali terisi dosa. Kesedihan manusia sering menimbulkan berbagai hal yang negatif, seperti kekecewaan, perasaan putus asa, tidak peduli akan orang lain atau masa depan, dan kebencian. Sebaliknya, kesedihan Tuhan selalu disertai dengan rencana untuk meneruskan kasih pemeliharaan-Nya untuk manusia yang percaya kepada-Nya.

Kesedihan Tuhan yang pertama kali muncul ketika Adam dan Hawa melanggar perintah-Nya untuk tidak memakan buah pengetahuan hal yang baik dan buruk. Tidak tahukah Tuhan bahwa manusia sanggup dan akan melanggar perintah-Nya? Sudah tentu Ia tahu! Ia tahu bahwa manusia dalam kemerdekaannya untuk mengambil keputusan yang membuat mereka jatuh kedalam dosa. Tetapi, justru karena Ia tahu, rencana penyelamatan manusia sudah disiapkan-Nya.

Malam ini, jika kita merasa sedih karena berbagai hal, dan berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang bisa ikut merasakannya, kita harus ingat bahwa Tuhan juga ikut berduka bersama kita. Mungkin kita menyesali apa yang terjadi dalam hidup ini, merasa kecewa akan tindakan orang lain, atau mungkin merasa malu atas kesalahan kita sendiri. Tuhan tahu semua itu akan terjadi. Jika kita berduka, Ia pun bisa ikut merasakannya. Tetapi Ia yang mahatahu dan mahakuasa, Ia jugalah yang sudah mempunyai rencana untuk kita. Keputusan, kehendak dan rencana-Nya adalah sempurna, tidak bisa diubah atau perlu diubah. Semuanya akan terjadi pada waktunya. Apa yang harus kita lakukan dalam kesedihan kita adalah percaya bahwa Tuhan yang mengasihi kita, adalah seperti Yesus, Imam Besar kita, yang mengerti perasaan kita dan yang akan memberikan apa yang terbaik untuk kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4: 15 – 16

Apa yang baik datang dari Tuhan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremiah 29: 11

Hari depan yang penuh harapan, semua orang, tua dan muda menginginkannya. Bagi yang muda tentunya keberhasilan dalam mencapai cita-cita, karir dan rumah tangga adalah sesuatu yang didambakan. Bagi yang sudah berumur, mungkin hari-hari yang bisa dinikmati bersama anak-cucu dan bebas dari sakit adalah sesuatu yang diingini. Ayat di atas nampaknya menjanjikan bahwa harapan semua orang percaya untuk memperoleh hari depan yang damai sejahtera akan dipenuhi Tuhan. Tetapi ayat ini adalah ayat yang sering disalah-tafsirkan banyak orang.

Ayat di atas sebenarnya berkenaan dengan janji Tuhan untuk memelihara bani Israel setelah mereka mengakhiri masa 70 tahun pengasingan di Babel. Tuhan mempunyai rancangan-rancangan tertentu untuk bani Israel yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan hari depan yang penuh harapan kepada seluruh umat pilihan Tuhan. Walaupun demikian, ayat itu tidak menjanjikan bahwa kita secara perseorangan akan selalu dapat memperoleh hidup yang nyaman. Rencana Tuhan untuk sebuah bangsa, tidaklah sama dengan rencana Tuhan untuk setiap umat-Nya.

Dalam keadaan saat ini, hampir setiap orang mengeluh. Bukan saja orang merasa gundah mengenai kemungkinan terpapar Covid-19, tetapi juga karena adanya dampak pandemi yang menyangkut segala segi kehidupan manusia termasuk pekerjaan, sekolah, dan masa depan. Jika orang biasanya mempunyai rencana tertentu untuk masa depan, pada saat ini adanya rencana tidak dapat didukung dengan keyakinan bahwa itu akan bisa tercapai. Apakah ayat di atas bisa kita pakai sebagai ayat yang dapat memberikan kekuatan pada masa ini?

Sebuah lagu himne yang terkenal “Nyamanlah Jiwaku” yang diterjemahkan dari “It is well with my soul” mungkin bisa membuat kita mengerti apakah ayat di atas masih relevan untuk kita. Syair lagu itu adalah karangan Horatio Gates Spafford. Horatio lahir di North Troy, New York pada tanggal 20 Oktober 1828. Pada masa mudanya, Spafford adalah seorang pengacara yang sukses di Chicago. Pada tahun 1870 iman mereka diuji oleh tragedi. Anak laki-laki mereka, yang berumur empat tahun, Horatio Junior, meninggal dunia karena demam berdarah. Tidak hanya sampai di situ saja tragedi yang dialami.  Beberapa bulan sebelum kebakaran besar di Chicago tahun 1871, Horatio menginvestasikan modal yang cukup besar untuk usaha real estate di pinggiran danau Michigan, tapi semua investasinya tersapu habis oleh bencana tersebut.

Pada tanggal 22 November 1873 pukul 2 dini hari, kapal pesiar yang ditumpangi istri Horatio dan 4 orang anaknya ditabrak di atas laut yang tenang oleh sebuah kapal lain. Dalam waktu dua jam Ville du Havre, salah satu kapal terbesar yang pernah ada pada waktu itu, tenggelam ke dasar samudera Atlantik beserta 226 penumpangnya termasuk keluarga Spafford. Sembilan hari kemudian korban yang selamat dari kapal itu tiba di pulau Cardiff, Wales, Inggris dan di antara mereka terdapat Nyonya Spafford. Dia mengabarkan melalui telegram kepada suaminya dengan dua kata, ‘saved alone’ (hanya aku yang selamat).

Horatio tentunya merasa terpukul atas tragedi-tragedi yang secara beruntun menimpanya. Baginya tentu sulit untuk membayangkan bahwa Tuhan mempunyai rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuknya; untuk memberikan kepadanya hari depan yang penuh harapan dan bukannya hidup yang penuh tragedi. Tetapi Tuhan memberi Horatio kekuatan untuk bertahan dalam iman dan kemampuan untuk menulis syair himne yang sangat terkenal itu.

KENDATIPUN SUSAH TERUS MENEKAN
DAN IBLIS GERAM MENYERBU
TUHANKU MENILIK ANAK-NYA TETAP
S’LAMATLAH, S’LAMATLAH JIWAKU

YA TUHAN, SINGKAPKAN EMBUN YANG GELAP
DAPATKAN SEG’RA UMAT-MU
‘PABILA SERUNAI BERBUNYI GEGAP
‘KU SERU S’LAMATLAH JIWAKU

S’LAMATLAH JIWAKU
S’LAMATLAH, S’LAMATLAH JIWAKU

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan yang mengasihi bani Israel adalah Tuhan yang mengasihi kita pada saat ini. Tuhan mempunyai rencana baik untuk semua umat-Nya, dan sekalipun kita berada dalam keadaan susah atau dalam penderitaan apa pun, kita akan mendapat penghiburan di dalam persekutuan dengan Dia. Tuhanlah yang memberi kita kekuatan dan ketabahan dalam segala keadaan, hingga saat di mana kita bisa bersatu dengan Dia di surga.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13