Tuhan memberi kekuatan kepada yang lemah

Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” 2 Korintus 11: 30

Ayat di atas adalah ayat yang terkenal, tetapi tidak mudah dimengerti. Mengapa Paulus menulis “Aku akan bersukacita atas kelemahanku”? Apakah pernyataan Paulus kepada jemaat di Korintus itu serupa dengan beberapa bentuk “sukacita” dalam penderitaan di bawah ini?

  1. “Aku bersukacita karena aku menderita’: Penderitaan adalah sesuatu yang bisa aku banggakan.
  2. “Aku bersukacita karena penderitaan yang kupaksakan pada diriku sendiri”: Aku berusaha membuat diriku menderita sedemikian rupa agar bisa menaikkan tingkat kerohanianku.
  3. “Aku bersukacita walaupun aku menderita”: Aku mampu menghadapi badai kehidupan dengan wajah tegar.
  4. “Aku bersukacita karena penderitaanku tidak seburuk orang lain”: Sejelek-jeleknya nasibku, aku masih lebih beruntung jika dibandingkan dengan orang lain.

Jika dibandingkan dengan ucapan Paulus, empat bentuk sukacita di atas kelihatannya menunjukkan bahwa kita sanggup untuk berdiri di atas kaki sendiri. Dalam kenyataannya, keadaan dunia di saat ini bisa membuat orang yang paling kuat untuk merasa lemah dan putus asa. Betapa besar bedanya dengan sukacita yang Paulus miliki!

Sukacita yang Paulus miliki berkata “Aku bersukacita di dalam penderitaan.” Penderitaan, bagi Paulus, justru adalah konteks dimana sukacitanya muncul. Mengapa? Karena sukacita Paulus bukanlah sukacita yang melihat ke dalam diri, atau bahkan membandingkan diri dengan orang lain.

Sukacita Paulus adalah sukacita di dalam Kristus, karena Yesus sudah menderita dan menyelamatkannya. Kesadaran bahwa Kristus telah bangkit dari kematian dan memerintah seisi alam semesta dari surga, justru bisa membuat Paulus selalu ingat akan besarnya kasih anugerah Tuhan dalam hidupnya.

Hidup ini memang tidak mudah dan terkadang penuh tantangan, masalah atau bahaya. Banyak orang yang dalam keadaan semacam itu akan berusaha untuk bertahan dan berjuang seorang diri, karena mereka berharap untuk bisa kuat dan menang dengan tenaga sendiri. Itu jugalah yang diajarkan para motivator terkenal di berbagai seminar. Tetapi, sebagai makhluk sosial tidak ada orang yang bisa survive dalam hidup ini tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Sayang sekali, seringkali tidak ada orang yang mengerti penderitaan kita, mau atau mampu menolong kita.

Bagi kita yang beriman, Juru Penolong yang sejati adalah Yesus Kristus. Bukannya khayalan, Yesus Anak Allah itu benar-benar datang dari surga ke dunia, mati menebus dosa manusia, tapi bangkit lagi pada hari yang ketiga. Hari ini kita harus sadar bahwa Yesus adalah gembala kita yang sebenarnya. Yesus adalah Tuhan, Tuhan yang juga sudah menciptakan segala sesuatu, yang memelihara segala sesuatu dan yang dari mulanya mempunyai rencana untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Ialah kebanggaan kita yang sesungguhnya, karena Ia bisa dan mau menolong mereka yang meyadari kelemahan mereka.

Dalam keangkuhan dan kebodohan kita tidak menyadari kuasa dan kasih Tuhan, tetapi dalam kelemahan kita bisa merasakan kuasaNya seperti apa yang dialami Rasul Paulus.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12: 9

Takutlah akan Tuhan

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Mazmur 23: 1-3

Di Australia, hari sesudah hari Natal dinamakan Boxing Day. Boxing Day adalah istilah yang merujuk pada tradisi di Inggris, dan juga negara Eropa lain, ketika banyak kaum pekerja yang harus bekerja di hari Natal dan baru keesokan harinya (26 Desember) bisa merayakan Natal. Pada hari itu, para pekerja itu berkesempatan membuka hadiah yang mereka terima dari para bangsawan, tuan tanah, perusahaan, hingga pemilik modal. Hadiah itu biasanya berada dalam kotak (box), sehingga hari tersebut dikenal sebagai boxing day.

Pada saat Boxing day kemarin, seperti biasanya toko-toko besar mengadakan “sale” besar-besaran. Harga barang-barang mewah bisa mendapat discount sampai 50%. Karena itu, dari siaran TV saya bisa melihat banyaknya orang yang berdesak-desakan memasuki berbagai toko, seakan lupa bahwa saat ini setiap orang seharusnya tetap berhati-hati dan menjaga jarak untuk menghindari penyebaran virus corona. Begitulah, jika manusia sangat menginginkan sesuatu, mereka akan berusaha memperolehnya dan tidak takut akan segala konsekuensi yang ada. Bahkan, seperti Adam dan Hawa, umat manusia sering lupa akan Tuhan jika mereka menginginkan sesuatu.

Dengan memasuki tahun baru, umumnya orang berharap bahwa keberuntungan yang lebih besar akan bisa didapat. Tidak ada bedanya dengan tahun baru Imlek, memasuki tahun baru Masehi ini orang saling mengucapkan harapan untuk kesehatan, kesuksesan, rejeki dan lain-lain. Orang Kristen pun sering terperangkap dalam situasi yang serupa, sekalipun buat mereka sebenarnya lebih penting untuk memikirkan soal surgawi daripada hal-hal duniawi.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Yesus sudah mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus berharap agar Roh Kudus makin bekerja dalam hidup kita, sehingga hidup kita bisa makin dekat kepada Tuhan dan bisa berbahagia. Dengan kedekatan manusia kepada Tuhan, kekuatiran akan apapun bisa dikalahkan melalui iman yang makin dikuatkan. Lebih dari itu, karena Tuhan menyenangi orang yang punya rasa takut kepadaNya, Ia akan menambahkan berkatNya dalam berbagai hal yang lain.

TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Mazmur 147: 11

Memang, dalam Alkitab ada banyak contoh dimana orang-orang yang takut akan Tuhan, menjalani hidup mereka sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Orang-orang seperti Abraham, Jusuf, Musa dan Daud yang dalam segala kelemahan mereka, selalu kembali kepada keinsafan bahwa Tuhan yang mahakasih adalah seperti seorang gembala yang ingin membawa semua dombaNya ke padang rumput yang hijau. Orang-orang sedemikian diberkati Tuhan dalam hidup mereka, karena mereka mau menuruti panggilan Tuhan.

Ayat pembukaan diatas mengambarkan bagaimana Tuhan gembala kita membawa kita, domba-dombaNya, ke padang yang berumput hijau. Tetapi dalam kenyataannya, ada domba-domba yang berhenti pada suatu tempat dan tidak mau mengikuti Dia karena adanya sejengkal rumput hijau didepan mata. Mungkin juga ada domba-domba lain yang ingin menemukan padang rumput dengan usaha sendiri. Domba- domba yang sedemikian sudah mengabaikan rasa takut kepada si Gembala. Orang-orang semacam itu mungkin yakin bahwa kebahagiaan dapat ditemukan melalui kesuksesan, kekayaan, kemasyhuran yang dicapai dengan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak jujur atau melanggar hukum.

Hari ini, dalam memikirkan apakah harapan apa yang terbaik untuk orang-orang yang kita kasihi dan untuk kita sendiri pada tahun yang akan datang ini, biarlah kita tidak ragu untuk berharap agar semua orang bisa menumbuhkan rasa takut akan Tuhan kita yang mahakuasa, mahatahu, mahakasih dan mahabijaksana. Dengan itu tahun yang baru bisa diisi dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyertai kita.

Dalam badai nama Tuhan harus tetap dipermuliakan

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yohanes 9: 4

Saat ini perayaan Natal telah lewat, dan sekalipun hiasan Natal tetap dipasang sampai datangnya tahun baru, bagi banyak orang suasana perayaan tahun ini terasa sederhana, dan bahkan agak sepi, karena adanya pandemi. Semua orang merasakan perbedaan tahun ini dengan tahun-tahun yang lalu, dan merasa was-was menanti datangnya tahun yang baru.

Bagi banyak orang Kristen, hidup sesudah perayaan Natal biasanya tidaklah banyak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kecuali jika ada rencana baru, seperti pindah rumah, pindah sekolah atau ganti pekerjaan. Memang pada umumnya manusia menyukai hidup yang teratur, yang bisa diterka. Jika lebih dari itu, tingkat stres mungkin meningkat dan bisa mengurangi ketenteraman hidup mereka. Tetapi, saat ini siapakah yang menerka apa yang akan terjadi di tahun 2021? Siapakah yang bisa yakin bahwa tahun depan keadaan dunia akan menjadi normal kembali?

Adalah sangat menarik bahwa Yesus memerintahkan pengikutNya untuk bekerja di ladangNya. Perintah ini bukanlah anjuran atau sekedar pilihan, tetapi adalah keharusan. Sebuah Amanat Agung untuk semua orang Kristen agar dilakukan dengan sebaik-baiknya. Hujan atau tidak, kita harus tetap mau menabur benih fiman Tuhan.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” Matius 28: 19

Walaupun demikian, keadaan yang tidak menentu sekarang ini jelas berpotensi mengganggu pekerjaan Tuhan. Gereja dan orang Kristen di seluruh dunia saat ini mengalami kesulitan untuk melaksanakan ibadah yang semestinya. Banyak gereja yang sampai saat ini tetap harus mengadakan kebaktian secara online, dan banyak jemaat yang belum berani untuk ke gereja. Dengan demikian, banyak gereja yang mengalami kesulitan dalam hal biaya. Sebagai akibatnya, banyak umat Kristen yang hidup dalam kekurangan atau penderitaan tidak dapat menerima bantuan atau perhatian yang cukup.

Apa yang bisa kita rencanakan dalam suasana prihatin saat ini? Bagaimana kita bisa mengabarkan Injil dan melayani sesama jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi tahun depan? Sebagai orang beriman, kita tentu sadar bahwa Tuhan tidak menghendaki umatnya menderita. Tuhan tidak pernah mencobai anak-anakNya. Walaupun demikian, Tuhan terkadang memperbolehkan sesuatu yang tidak nyaman untuk memberi peringatan agar kita tetap mau berjalan menurut firmanNya. Semua yang terjadi di dunia ini adalah sesuai dengan rencanaNya. Karena itu, sebagai orang percaya kita harus tetap bisa memancarkan terang Kristus di tengah kegelapan dunia.

Hari ini kita diingatkan bahwa tidak cukup bagi kita untuk merayakan Natal dan mensyukuri keadaan kita sendiri sebagai manusia yang sudah diselamatkan. Perintah Tuhan agar kita bisa mengasihi sesama kita menuntut dedikasi hidup untuk membawa kabar keselamatan kepada seisi dunia dalam situasi apa pun. Memang mungkin kita tidak dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam kegiatan gereja di saat ini, tetapi kita harus berusaha semaksimal mungkin, selama kita masih bisa dan selama kesempatan kita masih ada, untuk memasyhurkan nama Tuhan dalam apa yang bisa kita kerjakan hari demi hari, sekalipun itu tidak mudah dilakukan. Dengan demikian, makin banyak orang disekitar kita yang mendapat kesempatan untuk mengenal Tuhan yang sudah memperbarui hidup kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Natal menghilangkan ketakutan

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Markus 4: 41

Hari ini hari Natal, hari dimana kita memperingati kelahiran Yesus Kristus. Selamat hari Natal!

Kelahiran Tuhan Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Allah jauh bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan si Juruselamat itu. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak ada orang yang menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah, Mesias, yang sudah dinantikan umat Israel.

Hanya melalui petunjuk Allah, sejumlah manusia langsung tahu bahwa Mesias sudah datang. Yusuf dan Maria, para gembala, orang Majus, dan Simeon adalah sebagian orang yang tahu akan hal itu. Namun orang lain, termasuk murid-murid Yesus, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mengenali bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka tahu bahwa Yesus adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain, mempunyai kharisma dan pengetahuan yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahu atau yakin bahwa Ia adalah Anak Allah.

Kita yang merayakan hari Natal setiap tahun, sudah tentu tidak pernah bertemu dengan Yesus secara jasmani. Yesus sekarang di surga, sedang kita masih di dunia. Semua orang yang merayakan hari Natal dengan alasan apapun, hanya mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang lain atau membaca kisahnya dari buku atau sumber-sumber lain. Sebagian kecil manusia mungkin pernah memperoleh pengelihatan atau penglihatan tentang Yesus, tetapi semua itu tidaklah sempurna. Walaupun demikian, kita saling mengucapkan “Selamat Hari Natal” karena kita percaya bahwa kelahiran Yesus seharusnya membawa kebahagiaan bagi mereka yang percaya.

Adalah mudah bagi semua orang untuk menyadari bahwa Yesus adalah tokoh yang besar pada zamanNya, guru yang baik, orang yang mempunyai rasa sosial yang besar dan memiliki etika yang tinggi. Bukan hanya orang Kristen saja yang mengakui hal-hal itu, orang yang beragama lain pun percaya bahwa Yesus adalah orang baik. Tetapi, tidak semua orang tahu atau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, bahwa Ia dan Bapa adalah satu.

“Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10:30 6

Dengan demikian, adalah sesuatu yang menyedihkan kalau mereka yang sudah mendengar bahwa Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, tidak dapat mengerti bahwa Ia bukan manusia biasa, tetapi Tuhan yang mahakuasa.

Kitab Markus 4 menceritakan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus kemudian bangun, menghardik angin itu. Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Mereka menjadi sangat takut akan kuasa Tuhan yang dinyatakan di hadapan mereka.

Pagi ini kita diingatkan bahwa bagaimanapun besarnya persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa Yesus yang pernah lahir sebagai manusia bukanlah manusia biasa. Karena itu kita tidak perlu mengeluh mengapa Ia membiarkan kita bergumul dengan penderitaan dan persoalan kita pada saat pandemi ini. Yesus adalah Tuhan yang tahu keadaan kita, dan dengan kasihNya pasti mengulurkan tanganNya pada saat yang tepat.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”Markus 4: 40

Hari Natal mengingatkan pentingnya untuk lebih mengenal Tuhan

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Esok adalah hari Natal, hari libur nasional di banyak negara. Berbagai hiasan Natal mungkin sudah dua minggu tergantung di rumah mereka yang merayakan, barangkali sampai datangnya tahun baru. Bagi banyak orang, datangnya hari Natal dan tahun baru membawa kesan seolah waktu sudah berjalan dengan cepat. Lebih cepat dari tahun sebelumnya.

Berapa kali anda sudah pernah merayakan hari Natal? Adakah perbedaan antara perayaan-perayaan Natal yang pernah anda alami? Secara umum, tentu saja ada perbedaan perayaan Natal tahun ini jika dibandingkan dengan tahun kemarin karena adanya pandemi Covid-19. Mungkin sebagian orang merasa sedih bahwa Natal tahun ini tidak dapat dirayakan bersama dengan orang-orang yang kita kenal atau kasihi.

Sekalipun bagi kita pribadi tidak ada perbedaan yang mencolok antara Natal tahun ini dengan tahun sebelumnya, tentu ada beda perayaan Natal kali ini dengan perayaan sepuluh tahun yang lalu, jika kita bisa mengingatnya. Ataukah masih tidak bisa dibedakan? Bagaimana jika dibandingkan dengan dua puluh tahun yang lalu?

Ayat diatas menunjuk kepada perubahan yang seharusnya terjadi dalam kehidupan rohani umat Kristen dengan bertambahnya waktu. Natal seharusnya adalah waktu yang tepat untuk memikirkan adakah kemajuan rohani kita selama setahun yang telah lewat. Adakah kemajuan dalam iman dan pengabdian kita kepada Tuhan selama sepuluh tahun terakhir? Ataukah kita justru mengalami kemunduran?

Pandemi yang terjadi pada tahun ini sudah membuat banyak orang menjadi lemah secara jasmani maupun rohani. Adanya PSBB, keharusan memakai masker, menjaga jarak, bekerja dari rumah dan bahkan isolasi mandiri memang bisa membuat banyak orang Kristen yang merasa tertekan dan mundur dari iman mereka. Mereka tidak dapat mengerti mengapa Tuhan yang mahakasih bisa membiarkan umatNya mengalami penderitaan seperti ini. Sebaliknya, jika kita teguh dalam iman, kita tidak akan lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa tidak mungkin kehilangan kontrol atas seisi alam semesta. Apa yang sudah terjadi, sekalipun tidak kita mengerti, pastilah terjadi dengan seizinNya dan untuk menggenapi rencanaNya.

Pagi ini kita semua diingatkan bahwa seberapa kali kita merayakan hari Natal, sebanyak itulah kita harus tumbuh dalam iman dan pengetahuan tentang Tuhan kita. Adalah menyedihkan jika mereka yang sudah lama mengenal nama Yesus, belum mau mempersilahkan Roh Kudus untuk membimbing mereka agar bisa mengenal Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa dengan lebih baik, dan untuk makin mengerti apa yang sudah difirmankanNya. Adalah ironi jika kita yang sudah lama nenjadi orang Kristen masih belum juga dapat menjadi contoh iman yang kuat dalam menghadapi gelombang kehidupan. Biarlah Natal yang kita rayakan tahun ini bisa menjadi stimulus pertumbuhan rohani kita!

Sukacita ada untuk mereka yang membutuhkan

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2: 14

Pekan ini adalah pekan Natal. Banyak pekerja FIFO (fly-in, fly-out) di Australia yang sudah pulang ke kampung halaman mereka. Pekerja FIFO umumnya adalah pekerja tambang kontrakan yang tidak menetap dekat tempat kerjanya, tetapi terbang ke tempat itu dari berbagai kota untuk bekerja selama beberapa minggu di tambang sebelum terbang kembali pulang untuk berlibur beberapa hari. Bagi mereka yang sudah berkeluarga, kontrak pekerjaan untuk beberapa tahun tentunya dirasakan berat oleh pasangan dan anak-anak mereka. Tetapi, demi gaji yang cukup besar, banyak orang mau menjadi karyawan FIFO. Kesempatan untuk menikmati liburan Natal dan Tahun Baru tentunya disambut keluarga dengan gembira.

Walaupun hari Natal adalah hari peringatan kelahiran Yesus dan karena itu biasanya disambut dengan rasa sukacita, bagi sebagian orang hari itu seolah mengingatkan mereka akan kesendirian atau penderitaan yang mereka alami. Hari Natal dengan demikian bisa membuat banyak orang mengalami kesepian dan depresi, terutama mereka yang melihat orang lain bisa berbahagia, sedangkan mereka sendiri berada dalam penderitaan. Apa yang tidak mereka sadari adalah bahwa mereka yang kelihatannya bersuka-ria, belum tentu benar-benar berbahagia. Lepas hari Natal dan tahun baru, jika semua pesta dan makan-minum sudah berakhir, setiap orang harus menghadapi tantangan hidupnya lagi.

Alkitab menyatakan bahwa bagi Maria dan Yusuf, kelahiran Yesus bukanlah suatu hal yang bisa disambut dengan kegembiraan seperti layaknya ketika orangtua menyambut kelahiran bayi pertama. Perjalanan yang jauh dengan keledai dan tidak adanya tempat penginapan yang layak, adalah sebagian kesulitan yang mereka alami. Seperti apa yang terjadi pada zaman ini, jika dukungan sanak keluarga dan biaya tidak tersedia, orang harus berusaha untuk bisa bertahan dengan apa yang ada. Walaupun demikian, Maria dan Yusuf tahu bahwa kelahiran Yesus adalah membawa sukacita yang besar bagi umat manusia. Mereka, orang-orang sederhana itu, bersukacita karena Yesus adalah bayi yang istimewa, Anak Allah yang turun ke dunia.

Siapakah orang-orang lain yang diberikan kesempatan pertama oleh Tuhan untuk menerima kabar sukacita itu? Bukannya mereka yang kaya-raya dan raja-raja yang berkuasa, tetapi gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tuhan kita ternyata bukanlah Tuhan yang pro mereka yang ada di posisi enak, tetapi mengutamakan mereka yang lemah dan tertindas. Bagi mereka yang berkenan kepadaNya, Tuhan Yesus akan memberi damai sejahtera.

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Lukas 4: 18 – 19

Pagi ini, bagaimana perasaan anda dalam menyambut perayaan Natal minggu ini? Biasa saja? Atau penuh dengan pengharapan? Adakah persoalan berat yang sedang anda hadapi? Ataukah anda merasa hidup anda sudah sangat beruntung? Apapun keadaan anda dalam suasana pandemi COVID-19 ini, Yesus datang untuk memberikan damai sejahtera bagi mereka yang menyadari bahwa perlunya seorang Juruselamat untuk menebus dosa mereka. Mereka yang sadar bahwa kasih Tuhan begitu besar hingga mengurbankan AnakNya yang tunggal, dan karena itu mau hidup menurut firmanNya, adalah orang-orang yang paling berbahagia dalam menyambut hari Natal ini.

Dalam penderitaan, nama Yesus tetap dipuji

“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” Filipi 1: 29

Sebuah peribahasa yang berbunyi “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” mungkin cocok untuk keadaan saat ini. Baru saja kita memasuki tahun 2020, pandemi Covid-19 terjadi. Sejak saat itu suasana dunia menjadi kacau-balau. Sedih rasanya. Siapakah orang yang mau menderita? Tentunya tidak ada seorang pun yang mau. Memang, dalam merayakan Natal orang biasanya memilih untuk bergembira dan berpesta sekalipun kurang mengerti makna hari istimewa itu. Sekarang, semua ini tidak dapat dilakukan. Hari Natal tahun ini harus dirayakan dengan cara sederhana dan berhati-hati untuk menghindari penularan virus corona.

Hari Natal yang pertama sungguh berbeda dengan hari Natal yang diharapkan orang di zaman ini. Pada waktu Yesus dilahirkan, keadaan disekelilingnya sangat sederhana, untuk tidak dikatakan prihatin. Yesus dilahirkan di kandang hewan dan ditidurkan dalam sebuah palungan. Tidak di sebuah rumah sakit atau gedung mewah. Tetapi kelahiran yang terlihat hina di mata manusia itu memang direncanakan Allah, agar semuanya membawa kenangan yang tidak bisa terlupakan di segala zaman.

Kelahiran seorang Juruselamat yang merupakan kedatangan Tuhan untuk menebus dosa manusia, adalah sesuatu yang sulit dipercaya manusia. Berbeda dengan pesta-pesta Natal yang diadakan manusia di seluruh dunia, yang berita atau fotonya biasanya disebarkan dan dipantau dari seluruh dunia lewat berbagai media. Kelahiran Tuhan di dunia yang sederhana adalah tanda kebesaran kasih Tuhan kepada manusia di dunia. Sebaliknya, perayaan dan acara Natal yang dirindukan manusia seringkali adalah tanda kebesaran dan kepentingan manusia.

Kelahiran Yesus sebenarnya bisa terjadi dalam suasana yang nyaman dan bahkan mewah, sama dengan dan bahkan lebih mewah dari perayaan Natal apapun yang dilakukan manusia di zaman ini. Tetapi, kelahiran Yesus dalam suasana prihatin itu adalah permulaan dari pengurbanan dan penderitaan Anak Allah di dunia untuk menebus dosa manusia yang berdosa. Sekali pun hal ini adalah sulit untuk diterima oleh pikiran manusia, kepada orang-orang yang dipilihNya Tuhan sudah memberi pengertian akan hal itu.

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang sudah dikaruniai kepercayaan atau iman kepada Yesus, juga diberi karunia tambahan, yaitu untuk bisa menderita bagi Dia. Ini berarti bahwa seperti Yesus, kita yang sudah terpilih menjadi umatNya kemudian akan mampu menghadapi penderitaan dunia dalam menjalani hidup ini untuk membesarkan namaNya. Lebih dari itu, sebagai pengikut Kristus, kita tidak lagi tertarik untuk mencari kebahagiaan duniawi yang semu, tetapi kebahagiaan abadi didalam Dia.

Mengikut Kristus tidak berarti bahwa hidup kita di dunia ini akan dipenuhi kemewahan, kenyamanan, kesuksesan, kesehatan yang prima dan kemegahan. Sebaliknya, sebagai anak-anak Tuhan kita seringkali menghadapi berbagai tantangan, seperti kesedihan, kekurangan, kesepian, penyakit dan masalah. Sebagai pengikut Yesus kita juga bisa merasakan penderitaan orang-orang di sekitar kita.

Pagi ini, marilah kita meneliti hidup kita, terutama dalam menantikan datangnya hari Natal. Hanya karena kasih Tuhan, semua hal yang kurang nyaman sekarang ini justru akan bisa membawa kita lebih dekat kepadaNya. Kita bisa merasakan adanya karunia keselamatan karena iman kepada Yesus. Tetapi apakah kita juga merasakan adanya karunia untuk menderita bagi kemuliaanNya?

Imanuel, Allah menyertai kita

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1: 23

Bagi mereka yang merayakan hari Natal, hari-hari ini adalah saat penantian untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Umumnya orang merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember, walaupun hari itu hanya dipilih manusia untuk memperingati hari yang sebenarnya tidak diketahui kapan tepatnya. Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena adanya perbedaan agama.

Di negara dimana Natal adalah hari libur nasional, tidak semua yang merayakannya adalah orang Kristen. Di negara barat seperti Australia, Canada dan Amerika, banyak orang yang merayakan Natal karena sekedar tradisi, sebuah kesempatan untuk berlibur dan bersukaria seperti perayaan tahun baru. Walaupun begitu, hari Natal bisa menjadi hari yang penuh kesedihan bagi mereka yang menderita, mengalami sakit, kekurangan, kelaparan, kesepian dan kedinginan. Apalagi, pada saat ini suasana pandemi tidak memungkinkan orang untuk merayakan hari Natal seperti biasanya. Di banyak negara, rakyat masih hidup dalam kekuatiran dan kesedihan karena banyaknya korban virus corona.

Sebenarnya, bagi umat Kristen pun perayaan Natal juga mempunyai arti yang berbeda-beda, sekalipun mungkin kurang disadari. Mungkin karena kebiasaan, banyak orang yang merasa dirinya Kristen memerlukan diri untuk ke gereja. Mereka yang biasanya jarang ke gereja, pergi menghadiri kebaktian Natal. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa merayakan hari Natal adalah hak mereka dan satu bagian dari identitas mereka. Dengan demikian, sebagian orang Kristen merasa sedih bahwa hari Natal tahun ini hanya bisa dirayakan secara maya.

Sekalipun banyak orang yang merayakan hari Natal, peristiwa kelahiran Yesus hanya mempunyai arti pada mereka yang sudah terpanggil menjadi anggota keluarga Allah. Hanya mereka yang sudah benar-benar menjawab panggilan Yesus Kristus untuk bertobat dan menempuh hidup baru akan menjadi anak-anak Allah seperti Yesus dan karena itu bisa mengerti arti kelahiran Yesus di dunia.

Ada banyak orang yang percaya Yesus adalah seorang tokoh yang penting, orang yang baik hati dan guru yang pengajarannya sangat berguna. Tetapi orang semacam itu seringkali juga percaya bahwa ada orang-orang lain yang juga baik pengajarannya dan besar amalnya. Bagi mereka, kenyataan bahwa Allah telah menurunkan AnakNya yang tunggal sebagai manusia biasa, dan bahkan lahir sebagai bayi di palungan, tidaklah bisa dimengerti walau bagaimanapun indah kisahnya. Untuk mereka, Yesus, Anak Allah yang Mahasuci itu agaknya sebanding dengan tokoh-tokoh agama lainnya. Karena itu, kepercayaan kepada Yesus mungkin tidak ada bedanya dengan kepercayaan kepada pemimpin agama yang lain, walaupun mereka memilih untuk merayakan hari Natal daripada merayakan hari besar agama lain.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan yang turun ke dunia sebagai manusia hanya mempunyai arti sepenuhnya bagi orang yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Kelahiran Yesus menegaskan penyertaan Allah untuk seluruh umatNya. Tidak ada nama lain di bumi yang bisa dibandingkan dengan nama Yesus, Anak Allah, dan karena itu kita harus beriman hanya kepada Yesus. Hari Natal membuka kesempatan bagi kita untuk menganalisa hidup kita. Apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Anak Allah? Jika demikian, itu adalah cukup untuk meyakinkan kita bahwa Ia sudah membawa kebahagiaan sejati kepada umatNya. Nothing else matters. Hal -hal yang lain tidak perlu dibingungkan.

So many pressures in life
So many reasons to throw in the towel
When I feel like I’m losing this fight
Consolation from Heaven comes clearly to me
To remind me, to remind me

Nothing else matters than seeing You, Jesus
Seeking the Master, the one who reigns over my life
Nothing else matters than seeing You, Jesus
Just to sit at Your feet, hear Your voice clearly speak
Lifts me out of defeat, for in You I’m complete
Reminds me nothing else, nothing else matters

Israel Houghton

Adakah jalan yang lebih baik untuk diselamatkan?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Sebentar lagi hari Natal akan tiba. Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena hampir semua penduduknya tidak beragama Kristen. Sebaliknya, banyak penduduk negara Barat yang merayakan hari Natal hanya sebagai tradisi dan bukannya karena mereka orang Kristen.

Ada berbagai sebab mengapa suatu negara bisa menjadi negara yang mayoritas penduduknya menganut kepercayaan Kristen menurut tradisi tertentu. Faktor politik, militer, sosial, ekonomi dan budaya seringkali menyebabkan penduduk setempat memilih ajaran Kristen dari aliran tertentu, biasanya setelah selang waktu yang cukup lama. Dengan memilih aliran tertentu, mereka menyembah atau berbakti kepada Tuhan dengan cara-cara atau tradisi tertentu. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa agama Kristen itu sendiri terbagi dalam banyak aliran, dan sebagian diantaranya tidak merayakan hari Natal karena dianggap hari raya pagan.

Ketaatan kepada ajaran tertentu menyebabkan manusia berusaha mempertahankan eksistensi kepercayaan mereka karena yakin bahwa pilihan mereka adalah yang paling cocok, paling baik atau paling benar diantara yang baik dan benar. Karena itu, tidak hanya sering terjadi pergesekan antar aliran, tetapi ada orang-orang Kristen yang berpindah aliran karena mereka berusaha memilih ajaran/tradisi yang terbaik menurut pikiran dan perasaan mereka. Tentu saja, dengan berkembangnya kebudayaan dan cara hidup manusia, selalu ada aliran baru yang muncul dengan menawarkan sesuatu yang lain dari apa yang dimiliki aliran-aliran yang ada. Mereka yang mengikut faham tertentu umumnya merasa bahwa mereka sudah memilih ajaran yang benar dan mungkin juga memilih Tuhan yang benar.

Dari ayat diatas, ternyata bahwa sebenarnya manusia tidak dapat memilih untuk mengikut Yesus. Yesuslah yang memilih siapa saja yang akan dijadikanNya sebagai orang beriman. Oleh sebab itu, kita yang sudah mengikut Yesus tidak boleh menyombongkan diri karena itu bukan hasil pemikiran atau perbuatan kita.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. “Efesus 2: 8-9

Kita tidak bisa menganggap pilihan Tuhan adalah setara dengan pilihan-pilihan manusia yang ada di dunia. Sudah tentu pilihan Tuhan adalah pilihan khusus yang benar dan menurut kehendakNya. Kita harus yakin bahwa siapapun yang dipilihNya akan mendapat kesempatan untuk menyambut panggilan Yesus.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Pagi ini, jika kita merasakan bahwa kita mengenal siapa Yesus itu dan mengakui Dia sebagai Juruselamat kita, kita harus yakin bahwa itu adalah satu hal yang tidak mungkin salah karena Ialah yang sudah memungkinkannya. Biarlah kita selalu bersyukur untuk itu dan juga mau mendoakan mereka yang sudah dipanggilNya agar mereka tidak lagi mencari-cari jalan keselamatan dengan usaha sendiri. Semua usaha manusiawi itu pada akhirnya justru akan menjauhkan mereka dari iman yang benar.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Kehendak Tuhan pasti terjadi

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Orang yang percaya adanya Tuhan yang mahakuasa tentunya sadar bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan seizinNya. Lebih dari itu, untuk mencapai apa yang diingininya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk membuka jalan. Dalam kenyataannya, manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “jika Tuhan menghendaki” daripada untuk melakukan apa yang semestinya. Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan.

Ayat di atas menyatakan bahwa jika manusia merencanakan, Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Manusia boleh dan bisa merencanakan, tetapi harus sadar bahwa rencananya akan berhasil jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, jika manusia tidak mau membuat rencana, apa yang kemudian terjadi mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Memang, Tuhan selalu mempunyai cara untuk mengenapi rencanaNya, sekalipun kita tidak setuju dengan kehendakNya atau tidak menyukai hasil rancanganNya. Kita tidak dapat melawan kehendak Tuhan. Karena itulah, jika kita percaya kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu, kita akan selalu mencari kehendak Tuhan. Kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat kita melangkah, tetapi jika kita melangkah Tuhan akan memakai kita dan membimbing kita untuk mencapai apa yang direncanakanNya.

Kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mencari kehendak dan pertolongan Tuhan. Bukankah pepatah mengatakan bahwa kita harus menggantungkan cita-cita kita setinggi langit? Begitulah banyak guru dan orangtua yang mengajarkan hal yang senada, bahwa hidup ini ada di tangan setiap manusia pemiliknya. Menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan tidak akan mencapai apa yang diidamkannya. Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita kepada kehendakNya. Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15