Tuhan melindungi umat-Nya

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Matius 10: 28

Apa yang bisa kita baca dalam media setiap hari sering kali membuat kita merenung. Mengapa setiap hari ada saja orang berbuat jahat kepada sesamanya? Mengapa setiap hari selalu ada saja orang yang mengalami penderitaan dan bahkan kematian karena perbuatan jahat orang lain? Walaupun semua berita itu adalah berita yang masih sering menjadi topik yang menonjol di media, pada saat ini Covid-19 agaknya berada di peringkat nomer satu dalam hal pemberitaan. Mengapa ada orang-orang yang harus terpapar virus ini sekalipun sudah sangat berhati-hati? Mengapa ada banyak orang harus mati pada saat dan tempat yang tidak terduga?

Memang jika kita melihat semua yang terjadi, hati kita bisa menjadi kecil. Hidup manusia di mana saja tidak dapat menghindari adanya kecelakaan, malapetaka atau kekejian. Bagi sebagian orang, hal ini bisa membuat mereka selalu hidup dalam ketakutan. Kekuatiran dan ketakutan yang sangat besar sudah tentu bisa membuat orang seakan lumpuh, tidak dapat lagi menikmati hidupnya dan tidak lagi sanggup untuk menghadapi esok hari. Di manakah Tuhan ketika hal-hal jahat ini terjadi? Tidak dapatkah Tuhan berbuat sesuatu untuk menghentikan penderitaan umat-Nya di dunia ini?

Banyak orang yang berpikir bahwa sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, Ia seharusnya berbuat sesuatu jika ada hal-hal yang jahat yang akan mencelakai manusia. Lebih-lebih lagi, Tuhan seharusnya  bisa melindungi umat-Nya sehingga tidak ada hal-hal yang buruk yang bisa menimpa mereka. Tetapi, dalam kenyataannya semua orang, baik yang mengikut Kristus ataupun yang tidak mengenal-Nya, bisa mengalami malapetaka. Dengan demikian, tentunya itu menunjukkan bahwa hal-hal yang buruk tidak selalu merupakan hukuman Tuhan atau sesuatu yang dikehendaki-Nya.

Tuhan pada hakikatnya bukanlah oknum yang suka membawa bencana ke dunia. Tuhan menciptakan manusia tidak dengan tujuan untuk membuat mereka menderita. Sebaliknya, Ia menempatkan mereka di sebuah tempat yang indah yang dapat mereka nikmati. Adalah manusia sendiri yang kemudian memilih untuk memberontak  dari Tuhan, dan memilih cara hidupnya sendiri. Dengan demikian seluruh umat manusia sudah berdosa dan harus hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan dan kekejian.

Bagi kita yang sudah bertobat dari dosa-dosa lama kita,  hidup di dunia ini tidaklah secara otomatis berubah menjadi hidup yang indah. Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang penuh dengan semak-duri dan rumput duri yang membuat hidup manusia sengsara (Kejadian 3: 18). Sebagai orang Kristen kita malahan bisa mengalami hal-hal yang lebih buruk dari orang yang lain. Jika demikian, apa keuntungan menjadi umat Tuhan?

Memang dunia ini dihuni bersama oleh anak-anak iblis dan anak-anak Tuhan. Dengan demikian matahari bersinar untuk semua orang, dan kenikmatan duniawi bisa dinikmati oleh siapa saja. Karena itu jugalah apa yang buruk bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk orang percaya. Tetapi, sekalipun hal yang sama bisa terjadi pada siapa pun, apa yang diperoleh manusia setelah itu adalah berbeda. Bagi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, hal-hal yang jahat pada akhirnya  akan menuju kepada kehancuran jasmani maupun rohani. Lebih-lebih lagi, bagi mereka tidak ada Tuhan yang bisa menyelamatkan jiwa mereka. Mereka boleh luput dari kesulitan jasmani di dunia untuk sementara waktu, tetapi Tuhan yang berkuasa membinasakan baik tubuh maupun jiwa akan menuntut pertanggung-jawaban mereka pada saatnya.

Hari ini, jika hati kita gundah karena adanya hal-hal yang menakutkan, yang kita dengar atau saksikan, firman Tuhan berkata bahwa sebagai umat-Nya kita tidak perlu takut atau kuatir. Memang selama kita hidup di dunia hal-hal yang jahat bisa terjadi dan orang-orang yang kejam bisa mencelakai kita. Tetapi, karena kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, kita boleh menyerahkan jiwa dan raga kita kedalam tangan-Nya. Tanpa seizin Tuhan, apapun yang jahat tidak bisa terjadi kepada kita. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa rencana-Nya harus terjadi baik di bumi maupun di surga.  Sekalipun kita harus menderita di bumi, kita tahu bahwa Tuhanlah yang akan memberi kita hidup yang kekal di surga.

Menjadi tiruan Allah

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.” Efesus 5: 1

Bacaan: Efesus 5: 1-21

Dalam ayat di atas, Paulus menulis pesan kepada jemaat di Efesus agar mereka menjadi “penurut-penurut” Allah. Apa maksud Paulus? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata penurut mempunyai tiga arti yaitu: pengikut, orang yang suka menurut dan orang yang patuh. Namun, dalam Alkitab yang berbahasa Inggris kata ini ternyata muncul sebagai “peniru” atau “imitator.” Dengan demikian, bukan saja kita menjadi orang-orang yang patuh kepada perintah Tuhan, kita juga harus mau meniru Tuhan atau menjadi tiruan-Nya. Bagaimana manusia bisa meniru dan menjadi tiruan Allah yang mahasempurna?

Pada waktu Allah menciptakan manusia (Kejadian 1: 26-27), Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Sudah tentu setelah kejatuhan dalam dosa, manusia tidak lagi bisa menjadi gambar Allah yang sepatutnya. Alkitab mengatakan bahwa semua manusia itu adalah makhluk berdosa yang seharusnya menerima murka Allah, jika tidak karena kemurahan-Nya yang dinyatakan dengan pengurbanan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Jika ada seorang yang merupakan gambar Allah yang sempurna, itu adalah manusia Yesus yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia yang percaya kepada-Nya. Yesus adalah sempurna seperti Allah Bapa, karena Ia dan Bapa adalah satu adanya.

Dalam ayat diatas, Paulus berkata bahwa seluruh orang percaya haruslah meniru Tuhan. Bagaimana mungkin manusia yang berdosa ini bisa menjadi sempurna, tidak bercacat cela, suci seperti Yesus? Banyak orang yang berpendapat bahwa nasihat Paulus ini tidak mungkin bisa tercapai. Tetapi, dalam Matius 5: 48 Yesus juga menyuruh kita untuk menjadi sempurna,. Bagaimana pula kita bisa menjalankan perintah Yesus ini?

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Mengenai apa yang sempurna, haruslah dimengerti bahwa kesempurnaan yang dipandang Tuhan adalah hal yang mutlak, karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci. Sebaliknya, istilah sempurna (perfect) yang sering dipakai manusia adalah sesuatu yang relatif, karena tiap manusia mempunyai standar sendiri. Seringkali, umat Kristen berusaha mencapai taraf kesempurnaan rohani tertentu dengan melakukan hal-hal atau kebiasaan tertentu yang dianggap sebagai kesempurnaan dalam Kristus, tetapi apapun yang kita lakukan tidaklah akan menaikkan kesempurnaan kita dihadapan Allah. Penebusan dosa kita oleh darah Kristus adalah pengurbanan yang sudah sempurna sehingga Allah mau menerima kita sebagai anak-anakNya, sekalipun kita mempunyai banyak cacat cela.

Jika pengurbanan Kristus sudah cukup untuk membuka pintu surga bagi orang percaya, adakah yang harus kita lakukan selama hidup di dunia? Pertama-tama, kita harus selalu bersyukur atas kemurahan Tuhan. Hidup bersyukur adalah hidup dengan memuliakan Dia melalui segala apa yang kita lakukan. Yang kedua, kita harus membina hubungan kita dengan Tuhan, sehingga makin lama kita akan makin mengenal Dia yang mahabesar dan mahakasih. Dengan semakin mengenal Dia, kita akan semakin tahu apa yang dikehendakiNya atas hidup kita, sehingga makin hari kita makin menyerupai-Nya.

Dalam ayat diatas, Paulus mengajak kita untuk tiruan Allah dalam konteks kehidupan yang penuh kasih seperti Yesus yang sudah mengasihi kita dengan mengurbankan diri-Nya di kayu salib. Allah jugalah yang karena kasih-Nya kepada seisi dunia, telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Paulus mengajak kita adalah untuk kembali menjadi gambar dan rupa Allah yang sempurna dalam hal kemauan untuk mengasihi sesama kita dan dalam menjalani hidup yang sesuai dengan firman-Nya.

Pencobaan bukan dari Tuhan

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” Yakobus 1: 13

Kota Sydney di Australia sekarang mengalami lockdown lagi karena adanya peningkatan kasus positif COVID-19. Hal ini tentunya bukan sesuatu yang diharapkan atau bisa diramalkan. Dengan demikian, penduduk kota itu harus menerima kenyataan bahwa semua orang harus mengenakan masker dan tinggal di rumah jika tidak sangat perlu untuk ke luar rumah. Banyak orang yang mengeluh mengapa hal ini harus terjadi berkali-kali. Tetapi kebanyakan hal seperti ini disebabkan oleh kelengahan yang diperbuat beberapa orang sehingga penularan terjadi dalam masyarakat.

Peribahasa “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” adalah peribahasa yang sangat terkenal. Peribahasa itu dimaksudkan untuk menunjuk kepada ketidakberdayaan manusia dalam menentukan apa yang terjadi dalam hidupnya. Dikatakan bahwa manusia mau tidak mau harus berserah kepada “nasib”. Pengertian yang bersifat fatalisme ini sering dijumpai dalam ajaran agama-agama di luar agama Kristen. Baik dan buruk dianggap tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Karena itu, sebagian orang percaya bahwa adanya pandemi dan korban pandemi adalah disebabkan oleh Tuhan. Betulkah?

Ayat dari Yakobus 1: 13 di atas jelas menunjukkan bahwa jika seorang mengalami cobaan, itu bukanlah karena “nasib” atau perbuatan Tuhan. Mereka yang menderita karena perbuatan jahat orang lain juga tidak dapat berkata bahwa Tuhan yang menyebabkan hal itu.

Tuhan memang menentukan jalan kehidupan manusia, tetapi tidak seperti yang digambarkan sebagai nasib mujur dan nasib malang. Tuhan mempunyai rencana-rencana yang harus terjadi di bumi seperti di surga, tetapi rencana itu bukannya membuat manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan bisa melaksanakan rencana-Nya tanpa harus membuat manusia sebagai robot. Tuhan yang mahatahu dapat menyelami pikiran manusia. Tuhan yang mahakuasa dapat mencapai tujuan-Nya dengan melewati apa saja yang diperbuat manusia.

Setiap manusia bebas untuk melakukan apa saja yang dimauinya, tetapi tidak semua yang dilakukannya berguna atau membawa kebaikan. Malahan dalam kebebasannya, manusia bisa berbuat jahat dan melanggar firman Tuhan. Tetapi, sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita harus melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan perintah Tuhan. Dengan hidup menurut firman-Nya kita boleh yakin bahwa Dia yang mahakasih akan memberkati kita dengan hal-hal yang baik.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bukan sekadar ikut-ikutan

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakubus 4: 17

Apakah kita berdosa kalau kita tidak tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah tidak baik? Pertanyaan ini bunyinya seperti pertanyaan untuk ahli agama. Terlalu teoritis? Tapi memang ada orang yang berbuat sesuatu tanpa mau memikirkan baik buruknya karena saking banyaknya orang yang melakukannya. Contoh yang jelas saat ini adalah penggunaan berbagai cara, jamu dan obat untuk menghindari atau menyembuhkan orang dari serangan virus corona. Sehubungan dengan itu, lagi marak soal hoax yang di share tanpa usaha untuk mencari kebenaran isinya. Begitulah terjadinya “dosa ikut-ikutan” alias perbuatan tanpa pertimbangan, karena orang lain juga berbuat begitu.

Mungkinkah orang berbuat dosa karena tidak sadar akan dosa yang dilakukannya? Tentu! Memang ada kemungkinan manusia berbuat dosa dengan tidak sengaja karena itu adalah kelemahan manusia di dunia ini. Tetapi, tidaklah mudah orang terus menerus berbuat dosa tanpa keraguan. Tiap manusia dilahirkan dengan kesadaran akan hal yang baik dan buruk, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi kesadaran etika dan hukum.

Dosa adalah kesalahan yang membuat Tuhan tidak senang. Sekalipun kita tidak sadar secara penuh akan hal apa yang membuat Tuhan tidak senang, atau tidak sadar bahwa kita melakukan pelanggaran, tindakan kita tetap merupakan dosa. 

“Jikalau seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya sendiri.” Imamat 5: 17

Buat orang Kristen, dosa bukannya melakukan sesuatu yang tidak baik, tetapi tidak melakukan apa yang baik, seperti yang dikendaki Tuhan. Ini tidak mudah dijalani karena kita cenderung sekadar mengikuti kaidah/etika orang di sekitar kita dan hukum di negara kita.

Adakah dosa besar dan dosa kecil? Yesus berkata bahwa dosa yang kelihatannya kecil juga dosa. Sudah tentu Dia tahu bahwa tiap dosa mempunyai akibat yang berlainan untuk manusia, tetapi semua dosa mempunyai konsekuensi yang sama di hadapan Tuhan. Dosa yang sering dilakukan oleh banyak orang tidaklah membuat itu menjadi dosa kecil, yang bisa diterima Tuhan yang mahasuci. Kita harus sadar bahwa apa yang legal untuk manusia, belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan.

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 6: 23

Jika kita melihat masyarakat tertentu, kita bisa melihat apakah masyarakat itu umumnya hidup menurut perintah Tuhan atau tidak. Jika anggota masyarakat itu kebanyakan mengenal Tuhan, masyarakat itu akan mencerminkan sebagian kebenaran Tuhan dan memunyai nilai moral yang kuat. Sebaliknya, anggota-anggota masyarakat yang hidup dalam dosa akan menodai seluruh masyarakat.

“Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” Amsal 14: 34

Orang Kristen bisa jatuh dalam dosa ikut-ikutan, tapi kita tidak boleh mengabaikan dosa apa pun, dalam ukuran apa pun. Kita wajib terus memupuk kesadaran kita untuk bisa membedakan apa yang baik dan apa yang buruk. Kita harus melakukan apa yang baik karena tidak cukup untuk hanya berdiam diri.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Kita harus bersyukur karena walaupun kita lemah, Yesus sudah datang untuk menebus semua dosa kita. Kita bersyukur bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita. Kita juga bersyukur bahwa Tuhan mendengarkan doa kita. Itulah sebabnya kita tiap hari harus berdoa mohon pengampunan akan segala dosa kita dalam hidup bermasyarakat dan meminta bimbingan-Nya untuk masyarakat di sekitar kita.

Kebebasan bukan untuk membuat kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Banyak negara yang selama pandemi ini mengalami kekacauan yang disebabkan oleh rakyat yang tidak mau untuk menaati pedoman atau perintah yang berwajib untuk menjalankan protokol kesehatan. Bukan saja di negara berkembang, banyak negara maju yang mengalami dampak pandemi yang berkelanjutan karena rakyat yang tidak ingin untuk dibatasi dalam menjalankan aktivitas mereka. Selain itu, keadaan saat ini sering membuat manusia untuk berebut mencari barang kebutuhan hidup jika ada kemungkinan bahwa pembatasan kegiatan masyarakat akan diterapkan.

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apa pun terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang sering kali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan memengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele, seperti memakai produk tertentu, tetapi karena banyaknya orang yang ingin untuk melakukan hal yang serupa, kekacauan kemudian timbul.

Pada ayat diatas tertulis bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak menghendaki kekacauan. Ayat itu ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus sering kali terombang-ambing diantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.

Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang dengan kebijaksanaan harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan dan menguntungkan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.

Hari ini, jika kita membaca koran atau media apa pun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi di mana-mana. Sebagian orang memang senang mendengar atau membaca hal-hal semacam itu, bahkan mereka senang membagikannya ke orang lain. Selain itu, ada orang yang suka membuat kekacauan dengan melakukan tindakan-tindakan yang membuat orang lain kuatir, bingung ataupun marah. Keadaan dunia saat ini memang jauh lebih parah jika dibandingkan dengan hingar-bingar kota Korintus pada abad pertama.

Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang bijak, sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

Menggunakan kebebasan dengan benar

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Mazmur 1: 1 – 2

Dalam suasana saat ini banyak orang sudah merasa jemu dengan adanya pembatasan aktivitas kehidupan yang disebabkan oleh adanya pandemi. Bukan saja jemu untuk berdiam di rumah saja, mereka juga merasa terkungkung dan tidak bisa bekerja seperti biasa. Apabila keuangan rumah tangga menjadi berantakan karena berkurangnya penghasilan, mungkin orang memilih untuk tetap bekerja seperti biasa dan melupakan adanya bahaya bagi dirinya atau keluarganya. Dalam hal ini, bukan saja rakyat yang merasakan adanya keinginan untuk bebas dari kungkungan pandemi, banyak tokoh masyarakat juga ingin agar kegiatan ekonomi tidak terhambat oleh adanya pembatasan kesehatan. Semua orang agaknya ingin untuk hidup merdeka.

Kemerdekaan atau kebebasan (freedom) adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Kebebasan dari apa dan dalam hal apa? Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalah-artikan atau disalah-gunakan. Bagaimana tidak?

  • Manusia menghendaki kebebasan untuk menghasut, menista dan membenci orang lain
  • Manusia ingin bebas untuk memilih apa yang akan disembahnya
  • Manusia ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya
  • Manusia ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum.

Bertalian dengan hal di atas, ayat-ayat dalam Mazmur 1 membagi manusia dalam dua grup: mereka yang memilih untuk tinggal dalam Tuhan (godly people) dan mereka yang mau bebas dari Tuhan (ungodly people).

Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan. Jika firman Tuhan melarang, orang yang sedemikian tidak akan mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas dan apa yang terlihat nyaman,

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sangat berharga. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk menentukan masa depannya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan dan peraturan pemerintah karena bagi mereka orang-orang itu tidaklah merdeka. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh yang tidak menghargai kehendak bebas (free will) yang seharusnya dipakai oleh setiap manusia untuk memilih apa saja yang dikehendakinya.

Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa free will bukan berarti bebas untuk berbuat dosa, free to sin dan melakukan apa yang dipandang baik oleh manusia, tetapi yang dipandang sebagai kebodohan oleh Tuhan. Mereka yang ingin merdeka dari jalan yang ditunjukkan Tuhan justru akan jatuh ke dalam bahaya dosa dan masuk ke dalam perangkap iblis yang membawa penderitaan dan kebinasaan. Kemerdekaan manakah yang kita pilih?

“Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” Mazmur 1: 6

Bersyukur selagi mengalami masalah

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Bersyukur kepada Tuhan selagi kita mengalami masalah bukanlah hal yang mudah dilakukan. Di saat pandemi ini, banyak orang Kristen yang merasa bahwa hidup ini sangat berat dan karena itu sulit sekali untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan setiap hari.

Sebelum datangnya pandemi, hal bersyukur kepada Tuhan untuk banyak orang Kristen sebenarnya tidaklah semudah yang dibayangkan. Mereka harus bisa bersyukur dalam segala hal, untuk segala yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka juga harus senantiasa bersyukur, mengucapkan terima kasih di segala waktu. Mereka harus bisa bersyukur dengan rasa cukup dan bukannya tidak puas akan hidupnya. Jika demikian, siapakah yang dapat bersyukur kepada Tuhan?

Bersyukur kepada Tuhan dengan cara yang benar tidak mungkin dilakukan manusia jika Tuhan sendiri tidak bekerja dalam hidupnya. Mereka yang tidak menyadari betapa besar pengurbanan Yesus untuk menebus dosa manusia dan mereka yang tidak sepenuhnya menyerahkan hidup mereka ke dalam bimbingan Roh Kudus tidak akan mengerti mengapa rasa syukur itu seharusnya selalu dinyatakan kepada Tuhan.

Segala yang baik datangnya dari Tuhan (Roma 11: 36). Karena itu, sudah sepantasnya jika Tuhan yang sudah memelihara manusia dan alam semesta itu senang jika manusia mempunyai rasa syukur dan mau berbakti kepada-Nya.

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Wahyu 4: 11

Mengucap syukur di hari baik mungkin tidak sulit dlakukan. Tetapi bagaimana kita bisa bersyukur di hari buruk? Mungkin saat ini kita merasa Tuhan ada jauh di sana, dan membiarkan kita sendirian untuk menghadapi berbagai persoalan dan bahaya. Mungkin kita merasa bahwa Tuhan sudah menghukum kita dan juga seluruh umat manusia. Inilah yang membuat kita sulit untuk bersyukur,

Walaupun keadaan saat ini sangat menekan, kita harus tetap sadar bahwa sebagai umat-Nya kita tidak boleh berputus asa. Tuhan yang sudah mengampuni kita adalah Tuhan yang tentunya sangat mengasihi kita. Keadaan saat ini memang mungkin terasa sebagai ganjaran, tetapi kita harus tetap bisa bersyukur kalau kita tetap bisa percaya bahwa Ia mengizinkan hal-hal tertentu terjadi dalam hidup kita untuk menguatkan iman kita kepada-Nya.

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11