Tetap teguh dalam iman

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” Mazmur 91: 7

Ayat diatas sering dipakai sebagian orang Kristen untuk menegaskan bahwa sekalipun orang disekeliling mereka mengalami kehancuran, mereka tetap jaya dan tidak terpengaruh, karena adanya pemeliharaan Tuhan. Bahkan, sering diceritakan bahwa ketika ada bencana alam dan semua gedung hancur berantakan, gedung gereja dengan ajaib tetap bisa berdiri. Bukankah itu tanda kebesaran Tuhan? Orang yang benar selalu dibebaskan dari bencana, orang yang mengalami malapetaka adalah orang yang jahat. Begitu mungkin anggapan mereka.

Adanya pandemi COVID-19 membuka mata banyak orang sehingga mereka bisa melihat bahwa virus corona ternyata tidak memandang bulu. Tua atau muda, kaya atau miskin, negara maju atau negara terbelakang, semua orang bisa terjangkit wabah ini. Bahkan banyak orang Kristen yang sakit berat atau tewas akibat serangan virus ini.

Dimanakah Tuhan sewaktu hal itu terjadi? Dimanakah janji Tuhan untuk melindungi semua umatNya? Mereka yang mengartikan ayat diatas secara literal akan kecewa. Pada waktu banyak orang yang berdoa mohon kelepasan dari bencana pandemi ini, Tuhan seolah mengabaikan mereka. Tetapi Tuhan jelas tidak pernah meninggalkan umatNya. Malahan, semua yang terjadi di dunia berjalan sesuai dengan rencanaNya. Oleh karena itu, apapun yang ada, hal yang baik maupun yang buruk, seharusnya memberi kesempatan bagi kita untuk belajar lebih jauh untuk mengerti kehendakNya.

Benarkah Tuhan akan melindungi kita sekalipun ada ribuan orang tewas disekitar kita? Penulis Mazmur tidak secara terperinci menjelaskan keadaannya pada waktu itu. Mungkin pada waktu itu ia merasakan perlindungan Tuhan ketika ada kehancuran disekelilingnya. Tetapi, sebagai orang Kristen kita tidak bisa selalu luput dari penderitaan dan bencana. Bahkan dalam sejarah orang Kristen, banyak yang tersiksa, dianiaya dan dibunuh karena iman mereka. Yesus berkata bahwa itu adalah bagian dari panggilan iman kita. Tuhanlah yang memungkinkan kita untuk tetap teguh dalam iman, sekalipun keadaan disekeliling kita sangat menyedihkan.

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Matius 5: 10

Dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertai umatNya, biarlah kita bisa menunjukkan kepada masyarakat di sekeliling kita bahwa Tuhan yang sudah memberi kita kekuatan dalam menghadapi kehancuran disekeliling kita, adalah Tuhan yang juga bisa menolong mereka. Melalui ketabahan dan keyakinan kita biarlah makin banyak orang yang mengenal Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Hal kerukunan beragama

“Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Kisah Para Rasul 17: 23

Di negara mana pun kita tinggal kerukunan beragama adalah penting. Tetapi, sebagai orang Kristen kita harus tahu bagaimana kita harus bersikap dalam bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama.

Pada waktu Paulus mengunjungi Atena, ia melihat begitu banyak patung dewa yang disembah oleh penduduk kota itu. Ia merasa terpanggil untuk memberitakan kabar keselamatan, yaitu Injil tentang Yesus dan kebangkitanNya. Walaupun demikian, ia tidak membuat penduduk kota itu marah dengan mencela dan menista agama mereka, atau membodohkan mereka. Paulus tidak juga berkata bahwa patung-patung yang ada harus dirobohkan.

Pada pihak yang lain, Paulus tidak bermaksud menyatakan bahwa semua dewa dan patung di Athena boleh disembah. Paulus tidak menampilkan Tuhan yang baru, tetapi berkata bahwa Tuhan yang mereka sembah tanpa mengenalNya adalah Tuhan yang diberitakannya. Apa yang ia katakan adalah jawaban praktis yang tepat.

Seperti yang terjadi di Atena, manusia di zaman ini mungkin berdoa dengan maksud baik yang sama, tetapi kepada tuhan atau dewa yang berlainan. Mereka saling menghormati dan berharap bahwa setiap doa membawa kebaikan bersama. Biasanya dalam keadaan sulit di suatu negara, seperti adanya pandemi sekarang ini, para pemimpin-pemimpin agama mengajak umat mereka untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing dengan satu tema. Seolah mereka bersatu dalam doa-doa yang ditujukan kepada Tuhan yang sama.

Walaupun konsep tentang adanya satu Tuhan yang mahakuasa pada umumnya bisa dimengerti, ada juga orang-orang yang percaya kepada banyak dewa yang mengatur kehidupan manusia. Dengan demikian, dalam kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa mungkin ada pertanyaan apakah manusia yang berlainan iman memang berdoa kepada Tuhan yang sama.

Memang orang bisa percaya atas adanya Tuhan dan beribadah menurut cara mereka sendiri. Tetapi dengan demikian mereka menyembah apa yang ada dalam pikiran mereka atau apa yang mereka ciptakan sendiri. Sebaliknya, Tuhan yang sebenarnya dan yang seharusnya mereka sembah dengan sepenuh hati adalah suatu oknum yang tidak dapat mereka kenal. Tuhan tidak dapat dikenal manusia, jika Ia tidak memperkenalkan diriNya dalam bentuk yang bisa dimengerti manusia, tetapi yang mempunyai kuasa Ilahi: Yesus Kristus.

Adalah fakta bahwa Tuhan sudah turun ke dunia sebagai Yesus Kristus yang sudah mati untuk menebus dosa manusia. Dengan keilahianNya Ia kemudian bangkit dan naik ke surga. Orang di Atena tidak dapat mengerti bahwa Tuhan yang tidak kelihatan adalah justru Tuhan yang benar. Begitu juga di zaman ini, banyak orang beragama yang tidak mengenal Kristus sebagai Tuhan. Mungkin mereka hanya menganggap Dia sebagai tokoh yang istimewa yang seperti kita, juga diciptakan oleh Tuhan pencipta alam semesta.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen kita harus bisa mengerti dan menerima adanya keragaman agama di negara kita. Sebagai pengikut Kristus kita tidak boleh segan untuk menyatakan kasih kita kepada sesama kita. Walaupun demikian, kita tidak boleh ragu untuk menyatakan apa yang benar, bahwa Kristus adalah Tuhan yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia.

” Aku dan Bapa adalah satu” Yohanes 10: 30

Yesus adalah Tuhan

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 15 – 16

Siapakah Yesus itu? Ada orang yang berpendapat bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar. Ada pula yang percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dalam tubuh manusia. Tetapi, sebagian besar orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang turun ke dunia. Manakah yang benar?

Ayat diatas adalah ayat yang sering dipakai oleh golongan tertentu untuk menmbuktikan bahwa Allah menciptakan Yesus sebagai “yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan”. Yesus diciptakan sebagai manusia yang istimewa, begitu kata mereka. Walaupun demikian, kalimat selanjutnya menyatakan bahwa “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”. Ini seirama dengan Yohanes 1: 1- 7 yang menjelaskan bahwa Yesus bukan diciptakan, tetapi Ia adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu.

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1: 3

Saat Yesus “muncul” di dunia mungkin dirayakan oleh umat Kristen pada hari Natal. Tetapi ada dua hal yang perlu kita ingat. Yang pertama, tanggal 25 Desember bukanlah hari ulang tahun Yesus sebagai manusia. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan tepatnya hari itu. Yang kedua, Yesus yang adalah Allah, sudah ada sebelum apapun yang ada di alam semesta ini diciptakan olehNya. Tanpa Yesus, tidak akan ada makhluk dan benda apapun di alam semesta ini. Tanpa Yesus, tidaklah ada persekutuan orang percaya atau gereja. Lebih dari itu, tanpa Yesus tidak akan ada keselamatan untuk orang percaya.

Yesus adalah Allah yang turun ke dunia sebagai manusia. Ia persis sama seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Juruselamat manusia, Ia sudah menjadi Imam Besar yang menghubungkan kita manusia yang berdosa dengan Allah yang mahasuci. Sebagai manusia, Ia bisa merasakan segala penderitaan dan kelemahan kita. Karena itu, sebagai Allah, Ia mengerti apa yang kita butuhkan dalam hidup ini dan mau serta sanggup menolong kita dalam segala persoalan kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Pagi ini, firman Tuhan menegaskan bahwa Yesus adalah satu dengan Allah Sang Pencipta, dan segala sesuatu diciptakan Allah untuk Dia, untuk kemuliaanNya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh menurunkan derajatNya. Yesus bukanlah sekedar orang baik atau manusia istimewa. Yesus juga bukan manusia ciptaan Allah yang dihuni oleh Allah selama Ia hidup di dunia. Sebaliknya, Yesus adalah Allah sendiri dan sudah ada dari awalnya. Ia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaanNya. Bukankah sudah sepatutnya setiap orang menyembah Dia, bergantung kepadaNya dan menjalani hidup ini untuk memuliakan Dia?

“Aku dan Bapa adalah satu.” Yohanes 10: 30

Tetaplah setia kepada Kristus

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Dalam bepergian ketempat asing adalah kurang menyenangkan jika kita tidak dapat menemukan jalan untuk mencapai tujuan kita. Mungkin jalan yang kita pilih pada mulanya tidak memberi kesan bahwa jalan itu adalah jalan yang keliru, tetapi kemudian kita bisa sadar bahwa kita telah tersesat. Kesadaran itu mungkin timbul karena apa yang kita tuju tidak kunjung terlihat, atau karena suasana disekitar kita yang terasa asing, atau mungkin juga karena ada orang yang menyadarkan kita.

Kesadaran saja, bahwa kita harus berganti haluan, tidak bisa menjamin bahwa kita akan menemukan jurusan yang benar. Tanpa mengganti jurusan, kita mungkin tidak bisa mencapai tujuan kita. Juga, tanpa memakai suatu pedoman arah, tidaklah mudah untuk memastikan kemana kita harus pergi. Dan sekalipun kita mempunyai pedoman arah, pengertian kita mungkin keliru. Memang jika kita benar-benar berada di tempat yang asing, kita harus selalu berhati-hati dan mau mempelajari medan.

Seperti itu jugalah hidup kita sebagai orang Kristen yang menuju ke tempat yang asing untuk kita yaitu surga. Banyak orang Kristen yang masih percaya bahwa mereka menuju ke surga melalui jalan tertentu, tetapi orang lain juga bisa menuju ke tempat yang sama melalui jalan lain. Padahal, pedoman arah kita, Alkitab, menulis bahwa Yesus berkata:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Jika kita tahu bahwa ada satu jalan menuju kearah keselamatan, ada sebuah pertanyaan yang sering menggelitik kita: apakah kita bisa tersesat dalam perjalanan hidup ini? Ayat yang ditulis rasul Paulus dalam kitab 2 Korintus 11: 3 diatas menunjukkan bahwa kita bisa saja tersesat dalam iman kita. Memang di zaman ini, dimana “semangat persahabatan” antar umat Kristen lagi sering didengung-dengungkan, orang mungkin ragu untuk menegur orang lain. Tetapi, Paulus jelas tidak ragu untuk mengingatkan jika kita tidak mempunyai kesetiaan sejati kepada Kristus saja, kita mungkin sudah jatuh kedalam tipuan iblis. Ternyata, umat Kristen yang percaya kepada Yesus bisa saja tersesat jika kepercayaan kita kepadaNya tidak lagi murni. Memang banyak orang yang percaya bahwa Kristus sekarang ada di surga, tetapi tidak yakin bahwa Ia adalah Tuhan yang menuntun umatNya kepada keselamatan.

Hari ini kita diingatkan bahwa menjalani hidup kekristenan itu tidak mudah. Jika kita tidak selalu awas akan arah iman kita dan selalu memakai pedoman arah kita, Alkitab, dengan benar, kita akan bisa tersesat. Ada begitu banyak orang yang menunjukkan berbagai arah dan jurusan menuju kearah surga, dan ada begitu banyak orang yang percaya perlunya untuk mempunyai hal-hal ekstra diluar Yesus; semua itu bisa-bisa adalah tipu daya iblis yang berusaha memperdayakan kita.

Kita harus sadar bahwa seperti dalam melakukan perjalanan wisata kita harus selalu mau mempelajari medan dan memakai pedoman arah, dalam perjalanan hidup keimanan kita harus selalu mau mempelajari apakah yang kita percayai sudah dan tetap sesuai dengan firman Tuhan.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 15-16

Berdamai dalam kekudusan

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” Ibrani 12: 14

Photo by Julian Jagtenberg on Pexels.com

Membaca media internasional pada minggu yang baru lalu saya terpaksa menghela nafas. Bagaimana tidak? Dimana-mana ada berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya. Terlebih lagi, kekerasan dalam rumah tangga sekarang ini makin menjadi-jadi.

Mereka yang berusaha berlindung dibalik hukum, sekarang ini harus mempunyai modal uang yang cukup. Tanpa uang, perlindungan hukum mungkin tidak dapat diperoleh melalui pengadilan. Dengan demikian, mereka yang lemah dan miskin menjadi bulan-bulanan mereka yang lebih kuat dan lebih kaya. Dunia ini agaknya makin kacau saja.

Pada hakikatnya semua manusia tentunya mengerti bahwa kekacauan adalah sesuatu yang tidak dapat dinikmati. Kekerasan, perkelahian, permusuhan dan percekcokan memang sebaiknya dihindari.Walaupun demikian, bagi mereka yang mau berusaha untuk hidup damai selalu ada saja hal-hal yang tidak diharapkan, yang membuat kacau kehidupan.

Kejadian tragis dimana nyawa seseorang hilang karena persoalan yang sepele, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Orang juga bisa didenda atau masuk penjara karena tuntutan hukum yang dilakukan orang lain. Manusia memang bisa menemukan alasan apa saja untuk membenci orang lain, entah itu karena perbedaan suku, agama, ras, golongan, seks, adat-istiadat, kebiasaan atau karena hal-hal lainnya.

Bagaimana ajaran Alkitab tentang hidup damai dalam masyarakat yang serba berbeda ini? Ayat di atas mengajarkan bahwa umat Kristen harus berusaha untuk hidup damai dengan semua orang. Permusuhan, rasa dendam, marah dan kebencian adalah bertentangan dengan ajaran kasih. Setiap orang Kristen dituntut untuk bisa mengasihi dan menghormati sesamanya, dan istilah “sesama” dalam hal ini bukanlah hanya orang-orang yang seiman, tetapi sesama ciptaan Tuhan.

Sebagai orang Kristen kita juga harus bisa mengasihi mereka yang berbeda paham atau yang memusuhi kita. Sedapat mungkin kita harus berusaha untuk menghindari permusuhan dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Kita harus berusaha untuk memancarkan kasih Tuhan agar makin banyak orang yang mengenal Dia.

Pada pihak yang lain, ayat di atas mengatakan bahwa kita harus hidup dalam kekudusan. Tanpa kekudusan, kita tidak bisa berjumpa dengan Tuhan. Ini tentunya tidak berarti bahwa kita harus menjadi sama dengan Tuhan yang mahakudus. Tuhan menghendaki kita untuk kudus dalam darah Kristus.

Manusia tidak dapat dibenarkan tanpa darah Kristus yang menebus dosa mereka. Hanya karena penebusan Kristus, terbuka jalan bagi kita untuk bertumbuh terus dalam kekudusan. Dengan demikian, hidup berdamai dengan semua orang bukanlah berarti hidup dengan mengorbankan iman kepercayaan kita.

Jika kita berusaha mencapai perdamaian dengan cara duniawi, seringkali itu berarti bahwa kita harus membayarnya dengan kekudusan yang sudah kita terima dari Tuhan dan yang sudah tumbuh karena anugrahNya. Tetapi, jika kita berusaha mencari perdamaian dalam hidup melalui pendekatan kepada Kristus, sukacita yang penuh akan mengisi hati dan pikiran kita, sehingga kita tidak mudah terpancing kedalam kebencian.

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Galatia 1: 10

Hal menghindari kekacauan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Kota besar Jakarta, seperti juga Bangkok ataupun Sydney, selalu mempunyai jam-jam tertentu (rush hours) dimana kemacetan lalu lintas terjadi karena banyaknya mobil yang ada di jalan. Tetapi, kemacetan lalu lintas tidak hanya disebabkan oleh banyaknya kendaraan, tetapi bisa juga karena berbagai aktivitas manusia yang tidak biasa. Hal sedemikian tidak hanya membuat lalu lintas menjadi macet, tetapi juga menyebabkan kehidupan dan keamanan masyarakat menjadi terganggu.

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apapun terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang seringkali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan mempengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele, tetapi karena banyaknya orang yang melakukan hal yang serupa, kekacauan kemudian timbul.

Pada ayat diatas tertulis bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak menghendaki kekacauan. Ayat itu ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus seringkali terombang-ambing diantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya  untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.

Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.

Pagi ini, jika kita bangun dan membaca koran atau media apapun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi dimana-mana. Mungkin itu berita tentang pandemi, kejahatan, kecelakaan, kebohongan, kemiskinan dan lain-lainnya. Sebagian orang memang senang mendengar atau membaca hal-hal semacam itu, bahkan mereka senang membagikannya ke orang lain. Selain itu, ada orang yang suka membuat kekacauan dengan melakukan tindakan-tindakan yang membuat orang lain kuatir, bingung ataupun marah. Lebih dari itu, ada orang-orang yang senang menyebarkan berita-berita yang tidak benar. Keadaan dunia saat ini memang tidak jauh berbeda dengan hingar-bingar kota Korintus pada abad pertama.

Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” 1 Korintus 14: 40

Jangan lengah dalam menghadapi kekacauan

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Pada masa pandemi ini banyak orang yang hidup dalam berbagai tekanan, baik dalam hal kesehatan, sosial, dan ekonomi. Suasana tegang di beberapa negara memang sudah membawa kekuatiran akan apa yang akan terjadi di masa depan. Walaupun demikian, kita tahu bahwa bahaya dan kekuatiran itu selalu ada dimana saja. Itu adalah bagian hidup di dunia.

Sudah tentu pada saat ini kebanyakan orang tidak ingin untuk melakukan tindakan yang mempunyai risiko besar. Walaupun demikian, ada saja orang-orang yang justru berani melakukan hal-hal yang bisa membawa bahaya. Seperti itulah pada awalnya Adam dan Hawa jatuh dalam dosa karena berani “nyerempet-nyerempet” bahaya dengan mendengarkan bujukan si ular.

Dalam zaman ini, gaya hidup yang nyerempet bahaya juga sering dipunyai banyak orang Kristen. Mereka, karena yakin sudah terpilih untuk diselamatkan, seringkali mengabaikan kenyataan bahwa iblis selalu ingin menjatuhkan mereka, seperti ia ingin menjatuhkan Yesus yang lelah setelah berpuasa 40 hari di padang gurun.

Iblis seperti singa yang mengaum-aum, selalu mencari anak-anak Tuhan yang dapat ditelannya. Sayang bahwa ada umat percaya yang mengira bahwa iblis tidak dapat menyentuh mereka. Mereka mungkin menyangka bahwa iblis hanya menyerang mereka yang belum beriman kepada Yesus. Sebagian malah tidak percaya kalau iblis bisa menghancurkan tidak hanya kerohanian manusia, tetapi juga bisa memporak-porandakan jasmani manusia, seperti yang terjadi pada Ayub.

Sebagian orang membayangkan bahwa iblis yang mengaum-ngaum itu selalu muncul dalam berbagai bentuk khusus yang menakutkan dan mudah dikenali. Tetapi iblis adalah oknum yang pandai menyamar, yang bisa muncul sebagai sesuatu yang tidak terduga, sehingga manusia bisa terkecoh dan membuat keputusan yang salah. Iblis tidak hanya bisa membawa penderitaan dan malapetaka di dunia; dalam kesempitan yang dialami manusia, ia seringkali menawarkan kesempatan untuk memperoleh hadiah yang menggiurkan seperti harta, posisi, kekuatan, kebebasan dll. yang bisa menghancurkan manusia secara pelan-pelan.

Bagi anak-anak Tuhan, bahaya serangan iblis adalah lebih besar karena ia akan sangat senang jika bisa menjatuhkan orang-orang yang dikasihi Tuhan. Sekalipun ia tidak dapat mencuri keselamatan yang sudah diberikan Tuhan, iblis tetap ingin untuk mempermalukan Tuhan jika anak-anakNya jatuh.

Sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa pada saat ini, apa yang bisa dilakukan iblis adalah membuat berbagai keraguan, kebingungan, kekacauan, godaan dan persoalan dalam hidup orang percaya. Berbeda dengan orang yang belum diselamatkan, iblis tidak memiliki hidup orang percaya. Karena itu, jika kita jatuh dalam dosa, itu adalah tanggung jawab kita sendiri. Buat kita: ada pilihan, ada tanggung jawab.

Hidup menyerempet bahaya memang berisiko tinggi, dan karena itu kita harus sebisa mungkin menghindari semua hal yang buruk yang muncul dalam bentuk yang menarik. Kita harus rajin berdoa dan saling mendoakan agar kita bisa tetap tahan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dan kita wajib melawan iblis dengan iman yang teguh.

“Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” 1 Petrus 5: 9

Kurang apa?

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Efesus 1: 3

Bacaan: Efesus 1: 3 – 14

Siapakah yang tidak ingin hidup berbahagia? Semua orang, termasuk orang Kristen, mendambakan hidup yang penuh kebahagiaan. Tentu saja, arti kebahagiaan buat orang Kristen seharusnya berbeda dengan apa yang dimengerti oleh mereka yang tidak mengenal Kristus. Kebahagiaan bagi orang Kristen tentunya bukanlah kebahagiaan yang disebabkan oleh adanya kemakmuran atau kenyamanan duniawi, tetapi karena hubungan yang baik dengan Tuhan. Walaupun demikian, orang Kristen mungkin merasa bahwa hidup ini masih “kurang” jika mereka tidak mendapat berkat jasmani yang mereka inginkan, dan dalam hal rohani mereka mungkin tidak puas jika belum memperoleh berbagai karunia Roh (1 Korintus 12: 8 – 11).

Patutkah kita merasa kurang puas dengan hidup kita? Tentu saja jawaban tiap orang akan berbeda. Ada orang menjawab bahwa ia bersyukur atas hidupnya, tetapi masih merasa kurang puas sebelum Tuhan mengabulkan permononannya. Ada juga orang yang sudah bertahun-tahun menantikan jawaban Tuhan atas permohonannya, tetapi jawaban itu tidak muncul sampai sekarang. Mengapa Tuhan tidak menjawab permohonan kita? Mengapa Ia tidak memberi penjelasan apapun? Hal-hal inilah yang bisa membuat hidup kita terasa belum “komplit”.

Surat kiriman Paulus kepada jemaat di Efesus memberi nasihat bahwa seharusnya setiap orang percaya puas akan hidupnya. Mengapa demikian? Karena mereka adalah orang-orang yang sudah terpilih untuk menerima berkat-berkat dari Tuhan. Ayat 3 dari Efesus 1 memulai bagian utama pertama dari surat Paulus, yang berlanjut sampai ayat 14. Paulus membuka dengan kata “Terpujilah” untuk menetapkan penekanan yang jelas pada Tuhan yang patut dipuji.

Setelah memuji Bapa dan Putra, Paulus mencatat bahwa Tuhan telah “memberkati kita di dalam Kristus dengan setiap berkat rohani di tempat surgawi.” Pernyataan yang mencakup semuanya ini menunjukkan bahwa setiap berkat yang kita butuhkan telah diberikan di dalam Kristus. Kristus datang dari surga ke bumi dari Bapa untuk memberi kita setiap berkat yang kita perlukan. Paulus selanjutnya menekankan fakta bahwa setiap berkat spiritual telah diberikan: predestinasi, adopsi, kehendak Tuhan, rahmat, penebusan, dan kemuliaan Tuhan, semua tema yang berhubungan dengan anugerah keselamatan kita.

Orang Yahudi membedakan berkat Tuhan dalam dua jenis: berkat yang bersifat sementara dan berkat spiritual. Berkat spiritual adalah berkat yang abadi dan jauh lebih berharga dari berkat jasmani yang bersifat temporal. Kita sudah dipilih oleh Tuhan dari mulanya untuk menerima keselamatan, dan melalui Kristus sudah diadopsi menjadi anak-anak Allah, bisa melihat bahwa Allah mempunyai kehendak yang baik untuk orang pilihanNya. Melalui pengurbanan Kristus di kayu salib kita menerima rahmatNya yang sangat luar biasa sebab kita orang yang seharusnya binasa, sudah ditebus dengan harga penuh. Semua ini seharusnya bisa membuat kita menyadari kemuliaan Tuhan dan kebesaran kasihNya.

Selama hidup di dunia, kita masih sering merasakan adanya berbagai penderitaan. Itu adalah lumrah karena dunia ini sudah jatuh kedalam dosa. Adanya pandemi dan berbagai masalahnya mungkin bisa membuat kita merasa sedih dan mengeluh, tetapi semua itu adalah sementara. Apa yang harus kita sadari ialah bahwa apa yang ada di dunia datang dan pergi, dan itu mencakup hal yang kita senangi maupun apa yang kita benci. Dengan demikian, perhatian kita seharusnya tidak terpusat pada apa yang bersifat temporal, tetapi pada apa yang bersifat kekal, yaitu keselamatan yang sudah diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus. Jika kita menyadari betapa besar kasih Tuhan kepada kita, kita akan yakin bahwa tidak ada hal apa pun yang bisa membuat kita kurang bahagia. Biarlah Roh Kudus menolong dan menguatkan kita dalam menghadapi semua tantangan hidup kita, agar kita bisa selalu merasa puas menjadi anak-anak Tuhan.

“Di dalam Dia kamu juga karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya.” Efesus 1: 13 -14

Yang mana Tuhanmu?

Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” 1 Samuel 4: 3

Dalam kitab 1 Samuel 4 diceritakan bahwa bangsa Israel sedang berperang melawan bangsa Filistin. Pada perjumpaan pertama di medan perang , bangsa Israel kalah dengan korban 4 ribu prajurit. Karena itu, para pemimpin Israel menjadi bingung dan mengira bahwa Tuhan yang tidak mendukung mereka, sudah membuat mereka kalah dalam peperangan itu. Dalam pengertian mereka, Tuhan perlu dipaksa untuk berbuat sesuatu agar tentara Israel bisa menang pada kesempatan berikutnya.

Apa yang kemudian diperbuat pemimpin Israel adalah tindakan yang dipaksa keadaan. Kenekatan karena keputusasaan, mereka mengambil tabut perjanjian dari Silo dan mengaraknya ke medan perang dengan maksud agar Tuhan datang ke tengah-tengah mereka dan membawa kemenangan. Mereka membuat Tuhan seperti suatu yang bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka mengira bahwa Tuhan bisa diperintah untuk membawa kemenangan dalam perang. Bagaimana reaksi Tuhan atas perbuatan bangsa Israel itu? Dalam kitab 1 Samuel 4 kita bisa membaca bahwa Tuhan yang marah, membiarkan bangsa Israel kalah total dan kehilangan 30 ribu prajurit. Lebih parah lagi, tabut perjanjian jatuh ke tangan orang Filistin.

Apa yang dilakukan orang Israel pada waktu itu adalah kebodohan. Tetapi, kita mungkin pernah melakukan hal yang serupa dalam hidup ini. Mungkin sering kita berusaha untuk mendapatkan keberhasilan dengan segala cara, termasuk dengan usaha untuk memaksa dan menyandera Tuhan. Karena itu ada orang yang melakukan acara doa, penyembahan dan ibadah dengan cara-cara tertentu agar Tuhan memenuhi permohonan mereka. Ada pula yang menjalani ritual tertentu agar Tuhan memberi keselamatan kekal kepada mereka. Selain itu, banyak orang yang menafsirkan bahwa Tuhan yang benar adalah Tuhan orang Israel dan karena itu mereka harus hidup seperti orang Israel. Mereka tidak sadar bahwa orang Israel sendiri seringkali keliru.

Kegagalan orang Israel pada waktu itu adalah karena mereka sudah jauh dari Tuhan. Sampai-sampai mereka tidak ingat bahwa Tuhan yang mahakuasa tidak boleh diturunkan derajatnya sebagai sesuatu yang bisa dilihat dan dipikul. Apa yang mereka lakukan tidak berbeda dengan menyembah tabut perjanjian, dan bukannya Tuhan. Mereka lebih mementingkan ritual daripada pengenalan yang benar. Sebagai umat Kristen kita lebih beruntung dari orang Israel. Jika Yesus tidak turun ke dunia, kita tidak akan mengenal Tuhan dan menerima keselamatan. Melalui Yesus kita tahu bahwa hanya ada satu jalan untuk menjumpai Dia.

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Jangan suam-suam kuku

“Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulutKu.” Wahyu 3: 16

Hari ini hari Minggu, hari dimana orang Kristen biasanya pergi ke gereja. Jalan raya di Gold Coast penuh dengan mobil, tetapi itu bukan karena banyaknya orang yang ke gereja. Esok hari, hari Senin, adalah hari libur; karena itu, sekalipun rasa was-was terhadap virus corona masih ada, sejak kemarin banyak orang yang datang dari berbagai tempat untuk berlibur.

Di Australia, hanya 15% penduduk yang ke gereja sedikitnya sekali sebulan, padahal 60% penduduknya mengaku beragama Kristen. Tidaklah mengherankan bahwa banyak gereja tradisionil sekarang ini hanya mempunyai jumlah jemaat yang kecil. Selain itu, jarang ada orang Kristen yang terang-terangan mengaku Kristen karena takut untuk dikatakan “fanatik”.

Orang Australia tidak berkeberatan jika disebut fanatik dalam hal menyukai suatu jenis olahraga. Mereka sangat antusias tentang hal apapun yang menyangkut olahraganya, seperti rugby atau Australian rules football. Tetapi, mereka tidak senang jika dianggap sebagai “religious fanatics”.

Kata fanatik sebetulnya bisa punya arti baik – memang kata Latin “fānāticus” berarti “diilhami Tuhan”. Sayang sekali bahwa kata fanatik sering digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang ekstrim, lebih dari yang lumrah. Sebagai contoh, Bonek, grup “bondo nekad” penggemar fanatik sepakbola di Indonesia, seringkali terlibat dalam perbuatan-perbuatan yang kurang baik dan bahkan melawan hukum. Walaupun demikian kata fanatik masih sering dipakai untuk menunjuk kepada seseorang yang benar-benar bersemangat, sangat berdedikasi dan setia kepada apa yang disukainya.

Lalu apakah ada orang Kristen yang fanatik? Ada! Tetapi mungkin tidak seorangpun diantara kita yang mau disebut Kristen fanatik. Kenapa gerangan? Mungkin dari pengalaman kita, orang fanatik yang sedemikian tidak mempunyai toleransi kepada orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar.

Dalam hal ini, Alkitab menjelaskan bahwa orang yang benar-benar cinta kepada Tuhan akan selalu memprioritaskan Tuhan diatas segala-galanya. Mereka akan berjalan dalam terang Tuhan dalam setiap keadaan. Dari hidup mereka jelas terlihat adanya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5: 22-23). Menjadi orang yang benar-benar Kristen sebenarnya adalah menjadi orang pengikut Kristus yang fanatik!

Apakah anda sudah menjadi orang Kristen fanatik? Belum? Tidakkah anda ingin menjadi anggota kelompok orang yang benar-benar beriman? Mungkinkah anda hanya ingin menjadi orang Kristen yang “biasa” yang “normal”? Bukan fanatik? Mungkin anda kuatir kalau-kalau anda menjadi pengikut agama yang fanatik, yang memusuhi orang yang tidak sepaham, yang siap menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain tunduk. Tapi pengikut agama Kristen yang seperti itu bukanlah pengikut Kristus yang fanatik atau yang diilhami Tuhan.

Jika kita ingat bahwa Yesus begitu fanatik dalam pengurbananNya di kayu salib, kita akan sadar bahwa jika Yesus kurang dari fanatik dalam menaati perintah Allah Bapa, kita akan tetap tinggal dalam kebinasaan. Ayat renungan kita dari Wahyu 3: 16 diatas menunjukkan bahwa pengurbanan Kristus menuntut pengabdian umat Kristen kepada Allah secara penuh, secara penuh, secara fanatik. Jika kita hanya menjadi orang Kristen yang suam-suam kuku, menjadi orang yang hanya menyebut dirinya Kristen tetapi tidak menaati firmanNya, yang masih hidup dalam kepalsuan, kejahatan, dan yang malas untuk berbakti kepada Tuhan bersama saudara seiman, maka kita tidak dapat memperoleh keyakinan yang diisi dengan fanatisme bahwa Kristus hidup dalam diri kita. Hari ini kita diingatkan untuk setia dalam iman kita dan menjadi pengikut fanatik Yesus Kristus!