Rancangan manusia dan penyertaan Tuhan

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15

Insya Allah. Kita sering mendengar kata yang berasal dari bahasa Arab dan mengerti bahwa itu mempunyai arti “jika Tuhan menghendaki”. Dalam bahasa Ibrani, kata yang serupa adalah B’ezrat HaShem yang berarti “dengan pertolongan Tuhan”. Memang, orang yang percaya adanya Tuhan yang mahakuasa tentunya sadar bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan seizinNya. Lebih dari itu, untuk mencapai apa yang diingininya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk membuka jalan.

Dalam kenyataannya, manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “jika Tuhan menghendaki” daripada untuk melakukan apa yang semestinya. Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi “stempel” persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan.

Ayat di atas menyatakan bahwa kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mencari kehendak dan pertolongan Tuhan. Bukankah pepatah mengatakan bahwa kita harus menggantungkan cita-cita kita setinggi langit? Begitulah banyak guru dan orangtua yang mengajarkan hal yang senada, bahwa hidup ini ada di tangan setiap manusia pemiliknya. Menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan tidak akan mencapai apa yang diidamkannya.

Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita kepada kehendakNya. Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Dusta tidak bisa membawa kebenaran

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Efesus 4: 25

Baru-baru ini saya mendapat kiriman sebuah video tentang seorang yang dikabarkan sudah bangkit dari kematian setelah dua tahun dikubur. Video yang ditampilkan memperlihatkan seorang pria yang kurus kering dan pada kulitnya terlihat luka-luka. Dalam ulasan berbahasa Indonesia, dikatakan bahwa orang ini sudah melihat mereka yang disiksa di neraka. Video dan ulasannya agaknya ditampilkan sebagai usaha penginjilan. Sayang sekali semua itu hanyalah kabar bohong saja.

Berita yang nampaknya bisa dipercaya tetapi sebenarnya hoaks muncul hampir tiap hari di berbagai media. Sekalipun orang mungkin bisa menduga adanya kemungkinan kabar bohong, mereka tetap saja suka membacanya dan kemudian meneruskannya ke orang lain. Bagi sebagian orang Kristen, menyampaikan kabar yang berbau rohani, mukjizat atau membawa rasa takjub adalah sesuatu yang biasa, karena mereka mungkin ingin mengabarkan kebesaran Tuhan. Ini bukan saja terjadi melalui media elektronik saja, tetapi juga melalui khotbah di gereja. Bagi mereka, benar atau tidaknya bukan soal, yang penting nama Tuhan dipermuliakan. Tujuan baik dianggap boleh menghalalkan cara.

Bagaimana orang bisa memberitakan kebenaran Tuhan melalui kebohongan? Bukankah dengan menyebarkan kebohongan apa yang benar akan dikaburkan? Benarkah bahwa orang boleh memakai segala cara untuk melebarkan kerajaan Tuhan? Sudah tentu mereka yang mengunakan khayalan dan kebohongan adalah orang-orang yang menghujat Tuhan. Dengan kebohongan mereka, banyak orang akan mempertanyakan kebenaran firman Tuhan.

Kebohongan memang adalah cara iblis untuk menipu manusia, agar mereka menyangsikan kebenaran Tuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa di taman Eden adalah karena mereka mempercayai iblis. Sejak itu manusia harus hidup menghadapi segala kekejaman dan kebohongan di dunia. Semua manusia yang sudah terperosok dalam dosa, mudah jatuh kedalam hal membohongi dan dibohongi.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa sebagai orang Kristen kita harus menjauhi dusta dan sebaliknya menyampaikan apa yang benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota tubuh Kristus. Kita tidak boleh hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Mereka yang gemar menyebarkan dan mudah menerima kebohongan adalah orang-orang yang gelap pengertiannya, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah. Mereka hidup dalam kebodohan dan kejahatan, perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada tipu daya iblis. Karena iblis adalah pendusta, melalui dusta manusia menjadi anak-anaknya.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” Yohanes 8: 44

Laki-laki dan perempuan adalah sederajat

“Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Galatia 3: 27 – 28

Pagi ini saya membaca bahwa di daerah tertentu di dunia ini masih banyak anak-anak perempuan yang mengalami mutilasi genitalia atau female genital mutilation (FGM) yang sering juga disebut “sunat perempuan”. Pemotongan sebagian alat kelamin wanita ini sudah dilarang di banyak negara, dan di Australia pelakunya bisa dikenakan hukuman penjara sampai 14 tahun. Pasalnya, mutilasi alat kelamin itu bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan baik badani maupun kejiwaan kepada wanita yang mengalaminya. Sebaliknya, sebagian orang yang berusaha mempertahankan kebiasaan itu menyatakan bahwa mutilasi itu perlu untuk menjaga kemurnian badani dan rohani kaum wanita, terutama untuk bisa meredam nafsu seksuil mereka. Mereka yang sudah disunat tidak akan bisa sepenuhnya merasakan kenikmatan seks dan dengan demikian akan mempunyai pikiran yang jernih, begitu salah satu alasan yang banyak dikemukakan para pendukung FGM yang sebagian mengaku Kristen.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai adat-kebiasaan yang ada dalam masyarakat tertentu, bagi banyak kaum wanita dan dokter di dunia FGM adalah suatu tindakan pelecehan dan penyiksaan karena tidak saja kaum wanita dianggap sebagai benda milik kaum pria, mereka harus mengalami prosedur yang tidak ada manfaatnya secara medis dan malahan bisa menghilangkan/mengurangi fungsi tubuh mereka serta menyebabkan rasa sakit sepanjang hidup mereka. Memang akibat sunat pada kaum wanita sangat berlainan dengan akibat sunat pada kaum pria karena pada kaum wanita, ini merupakan pemotongan bagian tubuh yang penting dan bukannya sekedar kulit yang tidak berguna.

Secara fisik tubuh wanita tidaklah sama dengan tubuh pria, tetapi sebagai manusia mereka mempunyai kemerdekaan dan hak azasi yang sama dengan orang lain. Sayang sekali bahwa dalam sejarah, kaum wanita sering mengalami pelecehan dalam berbagai bentuk karena perbedaan fisik itu. Mereka sering dianggap sebagai obyek permainan kaum pria dan dibatasi dalam hal kemerdekaan dan hak azasi sehingga mereka sering dipaksa untuk menuruti apa yang dikehendaki orang lain. Kaum pria yang sebenarnya diharapkan untuk mengasihi dan melindungi kaum wanita, justru sering muncul sebagai penguasa dan pemilik lawan jenisnya.

Ayat di atas sangat sering dibaca oleh umat Kristen dan biasanya dikaitkan dengan keselamatan dari Kristus yang diberikan kepada semua orang percaya tanpa memandang status mereka. Dalam hubungan vertikal, kasih Yesus tercurah kepada siapa saja yang mau menerimanya. Walaupun demikian, ayat itu juga mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya, kita harus memperlakukan semua orang sebagai orang yang sederajat di hadapan Tuhan. Semua orang sudah berdosa dalam mata Tuhan, dan semua orang sudah diberi kesempatan yang sama untuk diselamatkan. Karena itu, dalam hubungan horisontal, kita harus memperlakukan setiap orang, laki-laki maupun wanita, sebagai manusia yang mungkin sangat berbeda dalam penampilan tetapi mempunyai kedudukan/derajat yang sama. Pria dan wanita diciptakan dengan bentuk dan fungsi yang berbeda, tetapi semuanya diciptakan sebagai gambar Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan.

Pagi ini, marilah kita memikirkan hal-hal yang membedakan pria dan wanita. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh terseret ke arah pandangan yang menganggap pria dan wanita adalah sama dalam segala hal. Perbedaan yang diciptakan Tuhan justru bisa untuk saling melengkapi. Walaupun demikian, kita tidak boleh  mempunyai pandangan bahwa manusia mempunyai hak dan kemerdekaan yang berbeda. Mereka yang sudah diselamatkan akan sadar bahwa mereka tanpa pandang bulu, sudah dikaruniai Tuhan hak untuk menjadi anak-anak Allah dan dimerdekakan dari kuasa dosa. Sebagai orang Kristen kita harus mau untuk berjuang untuk menyadarkan orang lain akan kebenaran dari Tuhan: bahwa semua manusia adalah sederajat dan harus saling menghargai.

Semua manusia adalah ciptaan Tuhan

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kejadian 1: 27

Pada waktu saya mendarat di Melbourne pada bulan Juni tahun 1983, sangatlah sedikit pengertian saya tentang sejarah dan demografi Australia. Sselang beberapa bulan setelah itu, saya mulai menyadari bahwa Australia mempunyai penduduk dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda. Belanda adalah bangsa asing yang pertama kali datang ke Australia, tetapi Inggris kemudian memutuskan untuk membuat Australia sebagai bagian negaranya pada tahun 1700an. Karena itu, sampai akhir tahun 1800an, sebagian besar orang yang dilahirkan di Australia adalah keturunan Inggris. Setelah perang dunia kedua, Australia membuka kesempatan bagi para pengungsi dari Eropa untuk menetap, tetapi banyak orang dari Asia juga ikut datang. Dari tahun 1945 sampai 1960, ada 1,6 juta pendatang baru yang menetap di Australia.

Pada saat ini kira-kira 67,4% penduduk Australia adalah keturunan Inggris, sedangkan penduduk aslinya hanya 3%. Mereka yang keturunan Irlandia ada 8,7%,  Italia sekitar 3,8%, Yunani sekitar 1,6%, dan Belanda 1,2%. Bagaimana dengan orang Indonesia? Menurut sensus 2011 ada sekitar 48.000 orang yang mengaku keturunan Indonesia di antara 22,3 juta penduduk Australia. Dari jumlah ini 59% mengaku beragama Kristen, 19,4% Islam, 10,3% Budha, dan 6.8% tidak beragama. Dengan melihat data statistik di atas bisa dibayangkan bahwa Australia sekarang adalah negara yang mempunyai beragam kebudayaan (multicultural) dan banyak kepercayaan (multifaith). Dengan banyaknya jenis manusia yang mempunyai latar belakang yang berbeda, susunan demografi Australia tentunya berubah secara dinamis tahun demi tahun.

Salah satu masalah dalam masyarakat Australia yang berbeda ragamnya adalah hal kerukunan. Tidak hanya kerukunan beragama yang diperlukan, tetapi juga kerukunan sosial dan politik. Walaupun demikian, kerukunan sosial atau kerukunan bermasyarakat itu sering dipengaruhi oleh oleh faktor-faktor agama, etnis dan politik. Mereka yang datang dari negara lain ke Australia, seringkali masih mempunyai ikatan dengan keadaan agama, etnis dan politik  di negara asalnya. Inilah yang kadang -kadang menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan. Memang orang sering lupa bahwa sesudah menjadi warga Australia, seharusnya mereka melupakan adanya perbedaan untuk bisa bersatu dan saling menghormati sebagai rakyat dari satu negara.

Dalam kenyataannya, perbedaan etnis seringkali membuat manusia bertengkar dengan sesama. Itu karena orang sering memandang orang lain yang berbeda penampilannya sebagai makhluk yang lebih rendah derajatnya atau lebih buruk kemampuannya. Sejarah membuktikan bahwa banyak kekejaman terjadi karena kebencian kelompok tertentu atas kelompok yang lain. Tetapi, bagi umat Kristen hal membeda-bedakan manusia itu tidak dapat dibenarkan. Menurut Alkitab, Tuhan pada mulanya menciptakan sepasang manusia. Sejak penciptaan Adam dan Hawa, manusia berkembang biak dan menjadi banyak dalam jumlah dan ragamnya.

Sebagian manusia yang tidak percaya kepada Tuhan memang mudah terpancing dalam keyakinan bahwa mereka adalah lebih baik dari orang lain. Tetapi, mereka yang percaya adanya Tuhan pun bisa terjebak dalam keyakinan bahwa Tuhan menciptakan kelompok-kelompok tertentu sebagai “manusia unggul” yang lebih baik, lebih murni dan lebih berharga dari orang lain. Ini mungkin bisa dilihat dalam kehidupan manusia dalam perjanjian lama yang seringkali membeda-bedakan perlakuan kepada sesama. Tetapi, kedatangan Yesus ke dunia mengubah semua itu. Ia mengajarkan kasih kepada sesama, kasih yang tidak memandang bulu, yang tidak memandang perbedaan ras, status sosial dan apapun. Lebih dari itu, Ia mengajarkan bagaimana  kita harus mengasihi musuh kita.

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. Ia datang bukan untuk orang Yahudi, orang Yunani ataupun bangsa-bangsa tertentu saja (Yohanes 3: 16).  Yesus juga mengajarkan bahwa Allah menerbitkan matahari dan mendatangkan hujan untuk semua ciptaanNya (Matius 5: 45). Tambahan pula, Yesus memerintahkan kita untuk mengabarkan injil ke semua bangsa dan menjadikan mereka muridNya (Matius 28: 19). Yesus juga memberi Roh Kudus kepada para pengikutNya sehingga mereka dapat memakai berbagai bahasa (Kisah Para Rasul 2: 4). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi manusia manapun untuk memandang orang lain lebih rendah atau lebih tidak berarti. Di hadapan Tuhan, semua manusia adalah sama: orang berdosa yang hanya bisa diselamatkan melalui darah Yesus (Roma 3: 23- 24).

Pagi ini, adakah rasa prihatin dalam hati anda melihat suasana di sekitar kita? Mengapa ada orang-orang yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena? Mengapa ada orang yang menganggap orang lain sebagai makhluk yang kurang berarti? Mengapa ada orang yang merasa lebih unggul, lebih baik dan lebih berharga dari orang lain? Sebagai umat Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menciptakan semua manusia menurut gambarNya. Semua perlakuan yang tidak baik kepada sesama manusia pada hakikatnya adalah penghinaan terhadap Sang Pencipta.

Jangan hanya menonton

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.” 2 Timotius 2: 3

Tahukah anda apa yang dimaksudkan dengan istilah Tough Mudder? Tough Mudder adalah lomba lari halang rintang sepanjang 16-20 km. Para peserta Tough Mudder dituntut bekerja sama dalam timnya untuk melewati rintangan yang dirancang untuk menguji fisik dan mental. Tough Mudder berbeda dari kompetisi lari lainnya karena tujuan utama lomba ini adalah meningkatkan rasa kerja sama antara para peserta. Dalam perlombaan ini terdapat 20 hingga 25 halangan seperti pagar, tanah berlumpur dan lainnya yang harus dilewati para peserta. Untuk bisa menyelesaikan  lomba, para peserta harus mengutamakan kesatuan tim sambil belajar mengatasi rasa takut. Turnamen Tough Mudder hadir untuk pertama kali di Indonesia pada tahun 2016 di Jimbaran, Bali,.

Barangkali kehidupan orang Kristen di dunia bisa dibayangkan sebagai kompetisi olahraga. Paulus pada zamannya menggunakan ilustrasi pelari dan petinju untuk menggambarkan bagaimana orang Kristen harus berjuang untuk mencapai kemenangan dalam Kristus. Mereka yang menjadi pelari atau petinju tidak akan sembarangan berlari atau memukul, tetapi dengan penuh semangat dan perhatian akan berusaha untuk mendisiplinkan hidupnya agar tidak dikalahkan oleh lawan-lawan mereka. Seperti itulah, sebagai orang Kristen kita juga harus bisa melatih hidup kita agar kita tetap bisa setia mengikut Tuhan sampai akhir hidup.

Satu hal yang tidak bisa digambarkan melalui ilustrasi pelari atau petinju adalah pentingnya teamwork atau kerja tim. Pada lomba tough mudder, tiap peserta umumnya muncul sebagai tim yang terdiri dari 2 atau 4 orang. Dengan demikian, sekalipun kemampuan perseorangan penting, seorang peserta lomba yang baik tidak hanya harus mau berjuang, tetapi harus juga mau bekerjasama dengan anggota timnya untuk mencapai garis finis. Persis seperti seorang prajurit yang maju berperang. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Senang dan susah dialami bersama.

Kehidupan orang Kristen sebenarnya seringkali lebih berat dan lebih menakutkan dari apa yang bisa dialami oleh seorang atlit. Mereka tidak hanya harus menghadapi kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tantangan dan bahaya, tetapi juga harus menghadapi lingkungan, masyarakat dan bahkan pemerintah yang mungkin jahat atau hostile terhadap mereka. Kerapkali, karena tantangan dan bahaya yang harus dihadapi adalah terlalu besar , orang Kristen mungkin mengambil keputusan untuk tidak bertindak apa-apa atau tidak mau mengambil keputusan. Jika  ini dibayangkan seperti lomba lari halang rintang, orang Kristen yang sedemikian membiarkan peserta lainnya untuk berangkat berjuang, tetapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Sebagai anggota tim Kristus, orang yang sedemikian memilih untuk tidak ikut-ikutan menderita.

Ayat di atas mengingatkan semua orang percaya bahwa mereka adalah anggota dari tim Kristus. Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa nama Tuhan akan dimuliakan melalui umatNya yang mau benar-benar berjuang seperti prajuritNya. Memang tiap orang memiliki beban hidup tersendiri, tetapi sebagai umat Kristen kita memiliki beban bersama. Karena itu kita harus bisa bersatu dalam kerja tim yang baik, harus sehati sepenanggungan.

Keadaan disekeliling kita mungkin bisa membuat hati kita menjadi kecil dan bayangan bahwa kita harus bisa menghadapi segala tantangan dan bahaya sebagai orang Kristen, mungkin membuat kita memutuskan untuk memilih jalan gampang. Tidak ikut-ikutan. Tidak ikut menderita. Biarlah orang lain yang melakukannya. Tetapi ini bukanlah apa yang dilakukan oleh Paulus ketika ia menulis ayat di atas. Ia menulis bahwa karena pemberitaan Injil ia menderita,  dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak dapat dihentikan oleh lawan-lawannya (2 Timotius 2: 9).

Pagi ini keadaan di sekeliling kita mungkin menunjukkan adanya ketidakadilan, ketimpangan sosial, hukum dan ekonomi. Semua itu adalah tantangan buat umat Kristen dan untuk itu Paulus mengundang agar kita sebagai anggota tim Kristus mau ikut berjuang untuk menegakkan kebenaran Kristus. Adakah kemauan kita untuk berjuang bersama-sama dengan umat Kristen lainnya? Ataukah kita tinggal membisu dan hanya menonton saudara-saudara seiman kita berjuang dan mengucurkan keringat dan bahkan darah untuk mencapai kemenangan dalam Kristus?

 

 

 

 

 

 

Diganjar untuk mendapat ganjaran

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Bagi saya yang sudah lebih dari 35 tahun hidup di luar negeri, bahasa Indonesia tidak lagi merupakan satu bahasa yang mudah dipakai. Banyaknya kata-kata dan ejaan baru sering membuat saya bingung untuk memakainya. Tambahan pula, dengan adanya berbagai kata gaul yang sekarang banyak dipakai anak muda, memaksa saya untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata. Salah satu kata yang sudah lama ada tetapi jarang saya pakai adalah kata ganjaran. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ganjaran bisa berarti hukuman tetapi bisa juga berarti hadiah. Bagaimana satu kata bisa mempunyai dua arti yang saling bertentangan? Tentunya kata ini harus diartikan menurut konteksnya.

Pada ayat di atas, Paulus menulis bahwa ganjaran tidak mendatangkan sukacita. Sudah tentu ganjaran disini bukanlah hadiah. Jika sebuah hadiah biasanya mendatangkan rasa senang, ganjaran yang berarti hukuman tentunya akan membawa rasa duka. Walaupun demikian, dalam Alkitab berbahasa Inggris kata “ganjaran” diatas ternyata muncul sebagai kata “discipline” atau “chastening” yang bisa dihubungkan dengan tindakan mengajar (pendisiplinan) agar seseorang bisa hidup benar dan menghentikan perbuatan yang tidak semestinya.

Salahkah pilihan kata “ganjaran” diatas? Saya rasa tidak. Memang, jika disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawab seseorang, pendisiplinan adalah usaha-usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar orang memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. Pendisiplinan bisa juga menjadi istilah pengganti untuk hukuman ataupun instrumen hukuman di mana hal ini bisa dilakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain. Jadi, kata ganjaran diatas adalah sesuatu yang diberikan Tuhan kepada umatNya agar mereka bisa memiliki kemampuan untuk menuruti firmanNya.

“Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ibrani 12: 7

Banyak orang  yang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan karena kesalahan mereka sendiri, tetapi banyak orang Kristen  yang mengalami hal yang serupa sekalipun  bukan karena mereka melakukan apa yang salah. Jika orang yang melakukan hal yang tidak baik pantas untuk mendapat hukuman, banyak orang Kristen yang berdukacita karena apa yang terjadi dalam hidup mereka seolah menunjukkan adanya kemarahan Tuhan.

Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Allah Bapa memberikan ganjaran kepada umatNya dengan maksud baik. Allah memperlakukan kita sebagai anakNya dan dengan demikian ingin agar kita berhasil dalam mengarungi tantangan kehidupan. Ganjaran datang dari Tuhan kepada umatNya, bukan sebagai hukuman tetapi pendidikan.  Seperti seorang murid yang mau menerima didikan gurunya dan mau melaksanakan tugas-tugas belajar agar ia bisa lulus dan mendapatkan sebuah ijazah, demikian pula umat Kristen yang diganjar atau dididik Allah akan menerima ganjaran atau hadiah yang berupa kedamaian hidup. Bagi mereka yang sudah menerima didikan Tuhan, hidup tidak lagi berupa perjuangan seorang diri, tetapi sebuah perjuangan yang dijalani bersama Tuhan.

Pagi ini, adakah perasaan dukacita dalam hati anda karena apa yang terjadi dalam hidup anda? Mungkinkah ada perasaan bahwa Tuhan sudah meninggalkan anda? Ataukah ada perasaan bersalah dalam hati yang membuat hidup terasa hampa? Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan mencintai semua anakNya. Tetapi ini tidak berarti bahwa hidup kita akan menjadi mudah dan selalu lancar. Tuhan bisa mengganjar umatNya untuk membuat mereka lebih dekat kepadaNya, untuk lebih bergantung kepada Dia. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus percaya bahwa Tuhan adalah setia dan kasihNya tidaklah berkesudahan. Apa yang kita rasakan sebagai ganjaran yang tidak menyenangkan saat ini pada akhirnya akan menghasilkan ganjaran yang membawa rasa sukacita. Pujilah Tuhan yang mahasih dan mahasetia!

Apa yang mereka pikirkan?

“Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.” Mazmur 49: 20

Bacaan: Mazmur 49

Toowoomba adalah  kota kecil di negara bagian Queensland, Australia, dimana saya tinggal. Toowoomba dikenal sebagai daerah pertanian dan peternakan yang cukup besar. Statistik dari tahun 2015/2016 menunjukkan bahwa Toowoomba menghasilkan $900 juta dari pertanian dan peternakan, dan sekitar 30% dari pendapatan itu dihasilkan dari peternakan hewan potong.

Di sekitar kediaman saya, dapat dijumpai beberapa padang rumput tempat pemeliharaan sapi, dan yang terdekat hanya berada dalam jarak beberapa ratus meter saja dari rumah. Karena itu, sewaktu saya berjalan-jalan seringkali saya menjumpai beberapa sapi yang sedang merumput dan ada juga yang berdiri diam sambil menonton saya berjalan. Mata mereka terlihat kosong. Apa yang ada dalam pikiran mereka? Terkadang saya berpikir alangkah membosankan jika manusia hidup seperti sapi itu. Seekor sapi memang tidak merasa jemu untuk hidup seperti itu. Selama rumput hijau ada, seekor sapi tentunya merasa puas sekalipun esok hari ia akan dikirim ke rumah pemotongan. Sapi tidak mempunyai pengertian akan apa arti hidup dan masa depan.

Jika sapi adalah hewan yang sederhana cara berpikirnya, menurut pemazmur sebagian manusia juga hidup seperti itu. Mereka yang merasa sudah mencapai apa yang bisa dinikmati atau dibanggakannya, cenderung untuk hidup dalam kesempitan pikirannya. Apakah yang mereka pikirkan dalam hidup? Bagi orang seperti itu, hidup adalah kesempatan untuk menikmati kenyamanan, kekayaan, kuasa, kejayaan, kebebasan dan semacamnya. Di antara orang Kristen pun, hanya sebagian kecil yang mempunyai dedikasi tinggi untuk mengamalkan perintah Tuhan; sebagian besar justru lebih menyukai apa yang terlihat lebih mudah dijalani dan dinikmati.

Mereka yang masih muda mungkin sibuk mengejar kesempatan yang ada, dan mereka yang tua mungkin lebih senang menikmati apa yang sudah dicapainya. Selama apa yang diinginkan bisa dicapai, hidup mereka adalah kebahagiaan yang bisa dinikmati. Manusia yang sedemikian tidak mempunyai pengertian bahwa semua itu adalah kebahagiaan yang sementara, barangkali seperti rumput hijau dalam pandangan seekor sapi. Seperti seekor hewan yang akan dibinasakan, mereka tidak sadar bahwa hidup dan kebahagiaan mereka adalah singkat saja.

Pemazmur menyatakan bahwa sebagai orang beriman kita tidak perlu merasa iri bahwa ada orang-orang yang nampaknya hidup dalam kegemilangan, sebab pada suatu saat mereka akan mati dan semua yang ada tidak akan bisa dibawa mereka (ayat 17). Sekalipun ada orang yang menganggap dirinya berbahagia, dan sekalipun orang lain menyanjungnya, orang itu tidak akan mengalami itu seterusnya (ayat 18-19). Lebih-lebih lagi, bagaimanapun besarnya kekayaan sesorang, ia tidak akan bisa memberikan tebusan kepada Allah sebagai ganti nyawanya (ayat 7).

Mereka yang mempunyai pengertian akan apa arti hidup ini dan yang taat kepada Allah tahu bahwa Allah akan membebaskan nyawanya dari cengkeraman dunia orang mati sebab Ia akan menarik mereka kearah keselamatan (ayat 15). Bahkan sesungguhnya, semua itu sudah terjadi pada setiap orang percaya karena Kristus sudah menang atas maut dengan kebangkitanNya. Dengan demikian, bagi mereka yang mempunyai pengertian yang benar, hidup adalah untuk kemuliaan Tuhan dan untuk mengikut firmanNya. Bagi mereka, pandangan mata mereka tidaklah hampa, tetapi akan selalu tertuju ke surga dimana tempat sudah disediakan bagi mereka. Hidup manusia yang tidak mempunyai pengertian boleh terasa kosong, tetapi mereka yang percaya kepada Kristus, hidup selalu diisi dengan ketaatan kepada Tuhan dan sukacita yang abadi dan kekal.

Hal hutang berhutang

“Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Amsal 22: 7

Kemarin malam saya menonton TV Netflix yang menampilkan kuliner rakyat (jajan pasar atau street food) dari berbagai negara. Berbeda dengan acara semacamnya, acara itu menggaris-bawahi peranan manusia yang membuat/menjual makanan dan bukan makanan yang dijual mereka. Salah satu penjual makanan yang ditampilkan adalah seorang ibu yang sudah berumur 100 tahun dari Indonesia, Mbah Lindu, yang menjual nasi gudeg selama 86 tahun dan dengan penghasilannya bisa menyokong beberapa anggota keluarganya.

Melihat bagaimana para penjual makanan yang bekerja keras mencari nafkah di pasar dan di pinggir jalan itu, saya tidak bisa tidak merasa kagum atas semangat mereka, terutama kaum ibu yang karena satu dan lain hal harus menjadi tonggak penopang ekonomi keluarga mereka.

Di antara mereka ada seorang ibu yang menjual makanan di sebuah pasar di Seoul, Korea. Ia terpaksa mencari nafkah karena suaminya yang bangkrut dan terlibat dalam hutang yang besar. Hutang itu menyebabkan seisi keluarga menderita karena ancaman penagih hutang yang datang setiap hari, dan akhirnya membuat sang suami mengalami depresi. Hutang yang bisa saja menghancurkan rumah tangga jika tidak karena kerja keras sang istri.

Alkitab tidak secara tegas melarang orang untuk berhutang ataupun menghutangi. Agaknya hal hutang menghutangi adalah bagian kehidupan manusia dari mulanya. Mereka yang berhutang dapat memakai uang yang dipinjam untuk mengembangkan suatu usaha bisnis, dan mereka yang menghutangi mendapat penghasilan dari bunga yang dibayar oleh orang yang berhutang. Walaupun demikian, keadaan bisa berbeda jika orang kemudian terlibat hutang besar yang tidak bisa terbayar.

Ayat di atas menulis bahwa dalam keadaan tertentu, hutang bisa menyebabkan masalah. Mereka yang kaya dan yang menghutangi kemudian bisa menguasai orang miskin yang berhutang, sehingga mereka menjadi “budak” dari yang menghutangi. Dalam hal ini ada orang-orang yang mempunyai maksud-maksud jelek dengan menghutangi orang lain, dan begitu juga ada orang yang berhutang tanpa mempunyai iktikad untuk membayarnya.

Sebagai orang Kristen kita tentu tahu bahwa iblis adalah oknum yang berusaha agar manusia berhutang kepadanya. Dengan segala tipu daya, ia juga berusaha untuk membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak baik dalam hal hutang menghutangi. Dalam hal ini, manusia yang jatuh dalam perangkap iblis bisa kehilangan rasa tanggung jawab kepada sesama manusia. Orang juga bisa mengabaikan hukum, akal sehat dan etika jika uang sudah menguasai pikiran mereka.

Pada pihak lain, Allah yang mengutus Yesus Kristus untuk datang ke dunia tidak bermaksud untuk membuat umat manusia berhutang kepadaNya. Ia memberikan keselamatan dengan cuma-cuma karena tahu bahwa manusia tidak dapat membayar atau membalas kasihNya. Sebagai manusia seharusnya kita bersyukur atas kasihNya dengan membaktikan diri kita yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa. Kita yang sudah dibebaskan dari dampak “hutang” kita kepada iblis sudah sewajarnya bersyukur kepadaNya setiap hari.

Pagi ini kita yang sudah menerima kasih Allah harus mau belajar dari firmanNya. Kita yang bisa menghutangi harus ingat bahwa Allah mempunyai maksud mulia dengan mengurbankan AnakNya, yaitu untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Dengan demikian, kita juga bisa menolong orang lain untuk bisa bebas dari belenggu kemiskinan. Dalam hal ini, kita ingat bahwa memberi adalah lebih berbahagia dari menerima. Bagi kita yang terpaksa berhutang, adalah bijaksana jika kita berusaha untuk mengurangi hutang yang ada dengan apa yang bisa dilakukan. Kita harus tetap bisa percaya bahwa Tuhan menilik setiap anakNya yang berseru minta tolong kepadaNya.

“Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.” Amsal 22: 8 – 9

Mengasihi tanpa pamrih

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.” 1 Yohanes 4: 8 – 9

Teringat saya akan ucapan teman yang menyatakan pendapatnya tentang bagaimana orang beragama berusaha meyakinkan orang lain bahwa apa yang diimaninya adalah satu-satunya yang benar. Menurut teman itu, orang beragama tidaklah jauh berbeda dengan seorang penjual produk, salesman, yang berusaha menjajakan barangnya dengan slogan “nomer satu”. Kecap nomer satu.

Memang ada benarnya bahwa setiap agama umumnya bersifat ekslusif, karena keselamatan hanya tersedia untuk pengikutnya. Walaupun demikian, beberapa kepercayaan mengajarkan bahwa ada banyak jalan ke surga, dan ada juga yang mengajarkan bahwa manusia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. Wajarlah banyak orang bertanya: manakah ajaran yang benar dan siapakah Allah yang sebenarnya?

Iman Kristen mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang mahabesar, mahakuasa dan mahasuci, yang tidak dapat dijangkau oleh manusia dengan usaha sendiri. Manusia dengan keterbatasan dan dosa mereka tidak dapat mengenali atau mendekati Tuhan, sekalipun sudah berusaha menunaikan amal ibadah mereka. Manusia tidak dapat membeli tiket ke surga. Ini adalah ajaran yang sangat berbeda dari banyak agama lain.

Hanya karena kasih Allah, manusia dapat mengenalNya. Ia yang mahasuci, yang tidak dapat didekati manusia, sudah menyatakan diriNya kepada umat manusia melalui Yesus Kristus. Yesus adalah pernyataan kasih Allah yang memungkinkan manusia untuk mengenal Dia sebagai Allah yang mahakasih. Melalui pengurbanan Yesus di kayu salib, mereka yang percaya dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosa mereka.

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” 1 Yohanes 4: 10

Iman Kristen adalah iman yang percaya bahwa Allah itu kasih. Karena itu, orang yang sudah mengenal Allah akan terpanggil untuk mengasihi sesamanya. Banyak orang yang nampaknya saleh dan dermawan, dan mereka mungkin terlihat sering berkurban untuk Tuhan dan sesama. Tetapi mereka mungkin berbuat baik untuk keuntungan diri sendiri, supaya pahala mereka diterima Tuhan dan mereka bisa masuk ke surga. Selain itu, banyak orang cenderung untuk mengasihi orang-orang tertentu saja. Orang-orang yang sedemikian tentu bukanlah orang yang benar-benar mengenal Tuhan.

Orang yang mengenal Allah adalah mereka yang mengenal Yesus sebagai Juruselamatnya. Mereka tahu bahwa Allah mengasihi seisi dunia dengan mengurbankan AnakNya untuk ganti dosa mereka yang percaya. Karena itu, orang yang sudah diselamatkan bisa mengasihi Tuhan dan sesamanya tanpa pamrih karena Tuhan sudah lebih dulu mengasihi.

Merdeka dalam Tuhan

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Setiap tahun bangsa Indonesia mengadakan peringatan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus. Malam sebelumnya, yaitu pada tanggal 16 Agustus, ada tradisi di tengah-tengah masyarakat yang masih dilaksanakan hingga kini yang disebut malam tirakatan. Tirakatan dilaksanakan di setiap RT atau desa. Masyarakat tua-muda berkumpul sambil membawa makanan masing-masing. Tirakatan bukanlah acara yang formal tetapi acara sosial sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia. Tirakatan  biasanya ditandai dengan kehadiran tumpeng yang diberi bendera merah putih berukuran kecil diatasnya.

Kemerdekaan atau freedom adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia. Manusia memang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang merdeka untuk mengatur dunia (Kejadian 1: 28). Tetapi kemerdekaan manusia bukan berarti bahwa mereka boleh berbuat semaunya. Dalam kemerdekaan manusia, manusia bergantung kepada Tuhan sebagai sumber kehidupannya. Dalam kebebasannya, manusia harus taat kepada hukum dan perintah Tuhan yang sudah menciptakannya (Kejadian 2: 16-17). Tanpa ketaatan kepada sang Pencipta, manusia akan kehilangan hubungan dengan Dia, dan kehilangan sumber kehidupannya. Kemerdekaan manusia dengan demikian  adalah tanda kehidupan dalam Tuhan, karena tanpa ketaatan kepada Tuhan manusia jatuh ke dalam belenggu dosa yang membawa kematian.

Banyak orang yang mendambakan kemerdekaan dalam hidupnya dan bersedia untuk membayar dengan harga tinggi untuk memperolehnya. Tetapi seringkali, apa yang dipandang sebagai kemerdekaan adalah kesempatan untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai kemerdekaan bagi seseorang ialah keadaan dimana tidak ada orang, hukum, peraturan atau etika yang menghalangi apa yang akan diperbuatnya. Sebagai akibatnya, kemerdekaan yang ada di satu tempat belum tentu sama dengan kemerdekaan yang  ada pada tempat yang lain. Apa yang bisa diterima di satu tempat, belum tentu dianggap baik di tempat lain. Sebaliknya, apa yang dipandang buruk di satu tempat mungkin bisa diterima di tempat lain.

Karena setiap bangsa, suku dan masyarakat mempunyai standar, adat, etika, dan hukum yang berbeda dengan yang lain, orang mungkin berpendapat bahwa mereka boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar peraturan yang berlaku. Banyak orang Kristen kemudian merasa “santai” untuk melakukan hal-hal yang dianggap “biasa” dalam masyarakat setempat. Jika mereka melakukan hal-hal itu, tidak ada orang yang bakal mengerutkan kening atau melarangnya. Dengan demikian, kemerdekaan bagi mereka ialah memanfaatkan kesempatan yang ada dalam lingkungan hidup mereka. Karena itu, Tuhan seolah mempunyai hukum yang berbeda di tempat yang berlainan.

Tuhan yang Maha Esa sudah tentu memiliki kehendak yang sama untuk seluruh umatNya. Apa yang difirmankanNya tidak mungkin disesuaikan dengan keadaan setempat. Hukum Tuhan seharusnya berlaku untuk setiap manusia tanpa memandang jenis, ras, budaya atau pendidikan. FirmanNYa tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak manusia yang ingin mempunyai kemerdekaan untuk memilih cara hidup dan kebiasaan yang sesuai dengan keadaan setempat. Hanya ada satu tempat dimana seluruh umat manusia bisa menemukan hukum yang sama, tempat itu adalah Alkitab.

Masyarakat dan negara mungkin memperbolehkan orang untuk melakukan suatu hal, tetapi jika firman Tuhan melarangnya, sebagai orang Kristen kita harus lebih taat kepada Tuhan. Masyarakat mungkin menutup mata atas apa yang tidak baik, tetapi karena kita sadar bahwa Tuhan melihat dosa apapun yang diperbuat manusia, kita tidak boleh ikut-ikutan melakukannya. Pada pihak yang lain, ada tempat-tempat tertentu di dunia dimana masyarakat dan negara melarang orang Kristen untuk melakukan apa yang baik menurut firman Tuhan. Sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita sudah diberi kemerdekaan untuk memilih hidup yang sesuai firmanNya. Dengan demikian, kita harus sanggup untuk berjuang setiap hari untuk menegakkan perintahNya dalam hidup kita.

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” 1 Petrus 2: 16