Perbuatlah apa yang baik untuk orang lain

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Hari ini saya menemukan sebuah amplop di kotak surat saya di kantor. Di amplop surat itu tertera nama universitas dimana saya bekerja dan dua stempel yang berbunyi “Private” dan “Confidential“. Hati saya sempat berdegup sejenak, karena stempel “”Pribadi” dan “Rahasia” pada sebuah amplop menunjukkan pentingnya isi surat itu. Mungkinkah itu surat teguran? Ataukah itu surat pemecatan?

Dengan segera saya membuka amplop surat itu. Didalam amplop ada sebuah kartu yang mirip kartu ucapan selamat. Kartu ucapan selamat ulang tahun? Tentu bukan, sebab hari ulang tahun saya masih belum tiba. Setelah saya buka kartu itu, ternyata isinya adalah ucapan selamat karena saya sudah lima tahun bekerja di universitas itu. Saya tersenyum senang; walaupun hanya kartu dan bukan barang berharga, ucapan selamat itu sungguh terasa sedap di mata. Orang lain menghargai jerih payah saya!

Untuk mengirimkan kartu ucapan selamat seperti yang saya terima, mungkin biayanya sekitar $5; itu tidak banyak. Tetapi mereka yang menerima seakan menerima barang berharga, mungkin seharga $500 atau $5000. Saya menaruh surat itu dalam laci saya, bersama dengan surat-surat penting lainnya. Tentu di tahun-tahun mendatang surat ini akan menjadi bahan nostalgia yang indah bagi saya dan keluarga saya. Surat ini berharga karena di dunia ini orang tidak mudah memberi pujian, penghargaan atau menunjukkan rasa terima kasih. Di berbagai media atau dalam hidup sehari-hari kita lebih sering mendengar cacian, kritik dan berbagai pernyataan rasa benci.

Jika orang dunia cenderung untuk membenci orang lain, iri atas keberhasilan orang lain atau mengabaikan perasaan sesamanya, Yesus dan murid-muridNya justru berbuat sebaliknya. Mereka menghibur orang yang menderita, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan kabar baik tentang keselamatan kepada semua orang yang mereka temui.

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen adalah patut bagi kita untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini tentu akan membuat hidup kita terlihat berbeda dengan hidup orang lain. Tetapi memang mereka yang sudah menerima karunia keselamatan akan berusaha membagikan kebahagiaan ini kepada siapa saja.

Yesus bukan ciptaan Allah

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 15 – 16

Siapakah Yesus itu? Ada orang yang berpendapat bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar. Ada pula yang percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dalam tubuh manusia. Tetapi, sebagian besar orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang turun ke dunia. Manakah yang benar?

Ayat diatas adalah ayat yang sering dipakai oleh golongan tertentu untuk menmbuktikan bahwa Allah menciptakan Yesus sebagai “yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan”. Yesus diciptakan sebagai manusia yang istimewa, begitu kata mereka. Walaupun demikian, kalimat selanjutnya menyatakan bahwa “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”. Ini seirama dengan Yohanes 1: 1- 7 yang menjelaskan bahwa Yesus bukan diciptakan, tetapi Ia adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu.

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1: 3

Saat Yesus “muncul” di dunia mungkin dirayakan oleh umat Kristen pada hari Natal. Tetapi ada dua hal yang perlu kita ingat. Yang pertama, tanggal 25 Desember bukanlah hari ulang tahun Yesus sebagai manusia. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan tepatnya hari itu. Yang kedua, Yesus yang adalah Allah, sudah ada sebelum apapun yang ada di alam semesta ini diciptakan olehNya. Tanpa Yesus, tidak akan ada makhluk dan benda apapun di alam semesta ini. Tanpa Yesus, tidaklah ada persekutuan orang percaya atau gereja. Lebih dari itu, tanpa Yesus tidak akan ada keselamatan untuk orang percaya.

Yesus adalah Allah yang turun ke dunia sebagai manusia. Ia persis sama seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Juruselamat manusia, Ia sudah menjadi Imam Besar yang menghubungkan kita manusia yang berdosa dengan Allah yang mahasuci. Sebagai manusia, Ia bisa merasakan segala penderitaan dan kelemahan kita. Karena itu, sebagai Allah, Ia mengerti apa yang kita butuhkan dalam hidup ini dan mau serta sanggup menolong kita dalam segala persoalan kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Pagi ini, firman Tuhan menegaskan bahwa Yesus adalah Allah Sang Pencipta, dan segala sesuatu diciptakanNya untuk Dia, untuk kemuliaanNya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh menurunkan derajatNya. Yesus bukanlah sekedar orang baik atau manusia istimewa. Yesus juga bukan manusia ciptaan Allah yang dihuni oleh Allah selama Ia hidup di dunia. Sebaliknya, Yesus adalah Allah sendiri dan sudah ada dari awalnya. Ia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaanNya. Bukankah sudah sepatutnya setiap orang menyembah Dia, bergantung kepadaNya dan menjalani hidup ini untuk memuliakan Dia?

Bertumbuh dalam iman

“…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…” Efesus 4: 13 – 14

Kapan anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus? Masih ingatkah? Sebagian orang bisa menyebutkan saat tertentu dimana mereka, oleh pertolongan Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka dan bertekad untuk bertobat dari hidup lama mereka. Walaupun demikian, apa yang dikenal sebagai ciri-ciri hidup baru (born again) belum tentu dapat jelas terlihat sesudah itu. Mereka yang mengaku Kristen itu mungkin belum bisa bertumbuh kerohaniannya sehingga hidup baru mereka tidaklah jauh berbeda dari hidup sebelumnya.

Pada waktu seseorang memasuki hidup baru, ia dapat dibayangkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Dengan berlalunya waktu, sang bayi tentunya diharapkan untuk tumbuh secara spiritual, tumbuh dalam iman. Dalam kenyataannya, pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama. Ada orang-orang yang cepat bertumbuh secara rohani, tetapi ada juga yang lambat sehingga mereka hanya bisa mencerna makanan bayi. Mereka tidak bertumbuh dalam iman dan pengertian kekristenannya.

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Mengapa orang tetap bayi secara rohani walaupun sudah lama menjadi Kristen? Sebab yang utama adalah karena hubungannya dengan Tuhan yang kurang erat. Mereka tidak mengenal Tuhan secara pribadi walaupun sudah lama ke gereja. Karena itu, keinginan mereka untuk mengenal Tuhan tidaklah besar. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka karena mereka terlalu sibuk mengurus kepentingan lain.

Selain itu, ada juga orang-orang yang gampang merasa puas dengan janji keselamatan yang mereka peroleh. Mereka percaya bahwa jika mereka mengaku percaya kepada Yesus, itu sudahlah cukup. Mereka tidak mengerti bahwa iblispun percaya adanya Tuhan, tetapi ia tidak mau tunduk kepadaNya. Mereka yang hidup dengan mengunakan akal budinya cenderung tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Mereka hidup diluar firman Tuhan. Sebagai akibatnya, orang-orang sedemikian tidak bertumbuh dan berbuah.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus terus bertumbuh secara rohani. Selama hidup kita tidak boleh berhenti mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, yaitu tingkat kedewasaan penuh. Dengan spritual maturity seperti yang diharapkan Kristus, kita akan berubah dari kanak-anak, yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran, menjadi orang dewasa yang teguh dalam iman dan penuh kebijaksanaan.

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Menghadapi mereka yang berbeda keyakinan

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” 1 Petrus 3: 15 – 16

Pernahkah anda berjumpa dengan seseorang yang mempertanyakan iman anda? Mungkin perjumpaan itu diawali dengan basa-basi, tetapi kemudian muncul pertanyaan mengenai agama apa yang anda peluk; dan selanjutnya orang itu kemudian berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya anda ketahui atau mengerti tentang iman. Jika orang itu mengira bahwa anda kurang mempunyai pengertian tentang iman, ada kemungkinan ia kemudian mencoba untuk menjelaskan bahwa mendalami iman adalah perlu. Mungkin, jika orang itu pada dasarnya mempunyai agama yang sama, ia kemudian mencoba untuk memperkenalkan apa yang benar dan baik menurut apa yang dipercayainya. Tetapi, jika orang itu mempunyai kepercayaan lain, ada kemungkinan bahwa ia kemudian mencoba untuk memperkenalkan anda kepada agamanya.

Kejadian diatas barangkali  tidak terlalu sering terjadi di kota besar pada zaman ini, tetapi masih bisa dijumpai di daerah, dimana masyarakat setempat masih cukup terbuka dan bisa menerima tamu pengunjung yang beragama lain. Bagi mereka yang hidup di daerah yang sudah terjangkau teknologi, komunikasi antar manusia mengenai soal kepercayaan mungkin lebih sering terjadi melalui media sosial. Kita bisa mengikuti debat antar agama, antar aliran gereja dan antar individu mengenai soal semacam ini melalui Youtube, Whatsapp, Facebook dan sejenisnya. Terkadang diskusi semacam ini menjadi sangat hangat dan berkelanjutan dengan saling menyerang dan saling merendahkan yang lain. Bagaimana sebenarnya orang Kristen harus bersikap dalam hal ini?

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tidak mengenal Kristus, orang Kristen harus menyatakan kasihnya kepada sesama manusia. Mengasihi sesama manusia bukanlah berarti hanya mengasihi orang yang seiman dan segolongan saja, tetapi semua orang yang hidup di dunia. Mengasihi berarti menghargai orang lain dan mau menolong mereka yang dalam kesulitan. Sekalipun kita tidak menyetujui apa yang dilakukan atau dipercayai orang lain, kita tidak dengan sengaja mencari musuh dengan berusaha menghancurkan atau menghina mereka. Ayat diatas mengajarkan bahwa jika orang mempertanyakan hal iman kita, kita harus menjawabnya dengan lemah lembut dan hormat, tanpa maksud buruk, supaya mereka yang membenci kita menjadi malu karena hidup dan sikap kita yang tak bercela.

Action speaks louder than words. Apa yang kita perbuat adalah lebih efektif dari kata-kata, begitu kata peribahasa Inggris. Kita boleh berdebat dengan orang lain mengenai hal iman, tetapi pada akhirnya apa yang lebih mudah dimengerti adalah tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar sudah menerima penebusan Kristus, hidup kita pastilah diisi dengan kasih, sukacita  dan kelemahlembutan. Biarlah banyak orang yang mengambil keputusan untuk mau mengenal Kristus karena mereka melihat Dia hidup dalam diri kita.

Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya. 2 Timotius 2: 23 – 26

Jangan berhenti mempelajari firmanNya

“Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus” Efesus 4: 20 – 21

Di zaman ini kebanyakan orang memperoleh pendidikan yang lebih baik dari apa yang ada pada generasi sebelumnya. Kemajuan ilmu pengetahuan begitu pesat sehingga mereka yang tidak mau memperoleh Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (continuing professional development atau CPD) akan pelan-pelan tertinggal dalam hal pengetahuan dan aplikasinya, dan karena itu akan sulit untuk mempertahankan profesinya.

Jika hampir semua segi kehidupan memerlukan penyesuaian karena adanya perubahan dalam masyarakat, banyak gereja yang sering dikritik karena apa yang diajarkan hampir tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Mereka yang ke gereja itu mungkin lebih senang hidup dalam kebiasaan dan tradisi tetapi kurang mau berusaha mendalami arti dan aplikasi firman Tuhan dalam menghadapi hidup masa kini.

Memang banyak orang Kristen sering segan menggumuli firman Tuhan sekalipun mereka menghadapi berbagai tantangan hidup. Apa yang terlihat paling gampang dan menawan adalah apa yang mereka pilih. Oleh sebab itu, mereka mudah terjerumus dalam kekeliruan doktrin atau gampang disesatkan dengan berbagai ajaran karena perasaan mereka sudah tumpul.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika firman Tuhan tidak digumuli setiap hari, perlahan-lahan kita akan kehilangan kesadaran akan kegunaannya. Lebih dari itu kita tidak akan pernah tahu bahwa firman Tuhan itu adalah sangat dalam dan menunjukkan kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Tanpa kemauan untuk belajar, kita tidak akan bisa maju dalam pengenalan kita akan Dia.

Sudah tentu untuk mempelajari firman tidaklah mudah. Sekalipun kita rajin membaca berbagai buku tafsiran Alkitab atau mendengarkan khotbah, dengan kemampuan sendiri kita tidak dapat mengerti arti dan guna firman Tuhan. Untuk itu Yesus sudah meminta kepada Bapa untuk memberikan Roh Kudus sebagai Penolong kita.

Biarlah sebagai orang percaya kita mau memohon agar kita selalu dipenuhi Roh Kudus untuk bisa lebih giat mempelajari dan mengerti akan firmanNya, dan agar makin lama makin dapat menjalani hidup kita seperti apa yang dikehendakiNya.

Tuhan memang mahatahu

“Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.” Amsal 5: 21

Kemarin malam saya bermalam di sebuah apartemen di tengah kota Auckland di New Zealand. Dari kamar, saya bisa melihat pemandangan kota dan orang-orang yang berlalu-lalang jauh dibawah. Tetapi saya heran bahwa pada waktu tengah malam dan sampai pagi, suara-suara manusia terdengar nyaring dari kamar saya, seakan saya berada di lantai bawah. Saat itu adalah malam minggu dan mungkin orang-orang itu adalah mereka yang mabuk di akhir pekan. Mungkinkah Tuhan juga melihat dan mendengar suara orang-orang itu?

God is watching us. Tuhan melihat kita. Begitulah sebagian dari lirik lagu “From a distance” yang pernah dinyanyikan oleh Bette Midler pada tahun 1990. Benarkah bahwa Tuhan tahu apapun yang kita lakukan dan alami? Benarkah Ia mengawasi tindak tanduk setiap manusia? Kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan dan tidak tahu pasti apa yang dilakukannya setiap saat. Walaupun demikian ayat diatas menunjukkan bahwa Ia tahu segala apa yang dilakukan setiap orang. Tuhan memang mahatahu (omniscience).

Tuhan memang harus mahatahu untuk bisa menjadi Tuhan yang mahakuasa. Tetapi bagi sebagian orang, ini adalah sesuatu yang aneh, suatu paradox. Jika Tuhan mahatahu, mengapa Ia sering melakukan sesuatu yang tidak sesuai kebutuhan manusia? Jika Tuhan mahakuasa, mengapa Ia tidak melakukan apa yang perlu untuk mengatasi kejahatan atau keburukan yang jelas terlihat?

Mereka yang tidak benar-benar percaya kepada Tuhan tidak menyadari bahwa Ia mahatahu dan mahakuasa. Karena itu, Ia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendakNya, pada saat yang dipilihNya. Ia tidak memakai cara berpikir manusia untuk bertindak, Ia tidak juga menentukan saat bertindak menurut perhitungan manusia, dan Ia tidak bergantung pada kekuatan manusia untuk bertindak.

Pagi ini, jika kita mengharapkan Tuhan untuk bertindak tetapi Tuhan terasa berdiam diri, apakah ada kekecewaan yang timbul? Apakah Ia mahakuasa? Sebaliknya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, apakah Ia mahatahu? Firman Tuhan mengatakan bahwa Ia mengawasi semua langkah kita.

Dari awalnya Tuhan memberikan kesempatan dan kemampuan bagi manusia untuk mengambil keputusan dalam hidup ini (Kajadian 1: 28). Tetapi, apapun yang kita lakukan, kemanapun kita pergi, Ia tahu dan mengawasi. Walaupun demikian, pengawasanNya bukanlah berarti bahwa Ia menentukan segala langkah kita; tetapi Ia memberkati semuanya jika kita berjalan menurut kehendakNya. Dengan menuruti kehendakNya, kita boleh percaya bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan membuktikan bahwa Ia senantiasa menilik hidup kita dengan kasihNya.

“Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” Ulangan 28: 6

Bagikanlah kasih Tuhan

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Bagi orang Kristen ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal. Dalam amanatNya, Yesus menyuruh murid-muridNya untuk mengabarkan Injil keselamatan kepada semua orang di dunia agar mereka juga menjadi pengikutNya.

Walaupun tujuan pelaksanaan adalah untuk kebaikan segala bangsa, Amanat Agung (the Great Commission) tidak diberikan Yesus untuk semua orang. Hanya mereka yang sudah menjadi murid Yesus dan menjalankan firmanNya dapat mengajar orang lain tentang Yesus dan firmanNya. Hanya orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus dapat mengajak orang lain untuk memilih jalan keselamatan yang sama. Mereka yang tidak mengenal Yesus dan menjalankan firmanNya tentu saja tidak dapat membawa orang lain kepada Yesus.

Dalam amanatNya, Yesus tidak memberi kesan bahwa tugas itu mudah dilakukan. Banyak orang yang akan menentang dan menganiaya mereka dan banyak juga tidak mau percaya. Tetapi, Yesus berkata bahwa mereka tidak perlu kuatir, kecewa atau takut karena Ia akan menyertai mereka untuk selamanya.

Bagi murid Yesus, hal menjadikan semua bangsa untuk menjadi muridNya adalah suatu perintah yang jelas penerapannya. Bagi pengikut Yesus tidak ada alasan untuk bisa menolaknya.

Amanat itu juga menunjukkan bahwa bukan orang tertentu saja yang perlu diselamatkan. Yesus ingin agar sebanyak mungkin orang yang ada di dunia untuk dijadikan muridNya (to make disciples of all nations). Dengan demikian, semua pengikut Yesus yang sudah menerima karunia keselamatanNya, wajib membagikan karunia itu kepada siapa saja tanpa pandang bulu.

Tugas murid Tuhan adalah tugas yang mulia karena penyelamatan umat manusia adalah rencana kasih Tuhan. Tuhan sudah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, agar siapa saja yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, setiap pengikut Yesus harus mau menjadi sarana Tuhan untuk menyampaikan kabar baik ini bagi semua orang.

Jika amanat itu dijalankan untuk kebaikan siapa saja yang mau menerima Yesus, bagaimana pula dengan mereka yang menolak Yesus? Dari mulanya, semua murid Yesus sudah diajarkan bahwa orang yang menolak mereka akan menanggung konsekuensinya. Karena itu, pengabaran Injil bukanlah dengan paksaan, tetapi dengan kesadaran bahwa semua itu harus dilakukan agar orang bisa memperoleh keselamatan (Matius 10: 14 – 15).

Pagi ini, marilah kita memikirkan betapa banyak orang yang belum menerima Kristus sebagai juruselamat mereka. Kasih Tuhan ada tersedia bagi mereka, tetapi karena berbagai sebab, mereka masih belum mau menerimanya. Adakah rasa belas kasihan kita kepada mereka itu? Tuhan yang sudah memberi karuniaNya yang terbesar kepada kita, menghendaki kita untuk menolong mereka!

Yesus yang sebenarnya

“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Matius 23: 37

Ayat diatas adalah ayat yang mungkin jarang kita baca, tetapi adalah ayat yang sering diperbincangkan oleh mereka yang ingin mendalami sifat Yesus. Pada umumnya, gambaran manusia tentang sifat Yesus yang banyak dilukiskan adalah seperti seorang gembala yang membimbing dombanya ke padang rumput. Yesus agaknya adalah seorang manusia yang lemah lembut, penuh kasih sayang kepada umatNya. Lebih dari itu, Yesus juga menunjukkan kasihNya kepada mereka yang dianggap orang buangan (outcast) oleh masyarakat, seperti pemungut cukai, pelacur dan penderita kusta. Memang agaknya Yesus datang ke dunia untuk semua orang, bukan saja untuk misi penyelamatanNya, tetapi juga untuk mengajarkan bagaimana umatNya harus bisa hidup dalam masyarakat dan berbuat baik bagi sesamanya untuk kemuliaan nama Tuhan.

Walaupun demikian, dalam Alkitab, sifat Yesus yang “kurang manis” bisa juga ditemui.  Yesus berkali-kali bentrok dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi sehingga banyak orang menduga bahwa Yesus sangat membenci mereka itu. Yesus bahkan memakai kata-kata yang jika kita pakai dalam kehidupan zaman sekarang, mungkin bisa menyeret kita ke pengadilan. Dalam kenyataannya, kemarahan orang Farisi kepada Yesus memang mempunyai pengaruh atas tindakan mereka untuk membawa Yesus ke kayu salib.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.” Matius 23: 25

“Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?” Matius 23: 33

Mengapa Yesus sering bersikap memusuhi orang Farisi? Apakah Yesus sebagai Tuhan mempunyai kebencian yang begitu mendalam kepada orang-orang tertentu sehingga Ia memastikan bahwa bagi mereka tidak ada harapan untuk masa depan? Tentu tidak. Alkitab menceritakan adanya seorang pemimpin orang Farisi yang bernama Nikodemus. yang menemui Yesus di suatu malam. Sikap Yesus kepada Nikodemus tidaklah garang, malahan seolah membimbing dia untuk mencari kebenaran. Nikodemus jugalah yang membantu Yusuf dari Arimatea untuk penguburan Yesus. Selain Nikodemus, kita juga tahu bahwa rasul Paulus dulunya juga orang Farisi yang tersangkut kasus penyiksaan pengikut Yesus.

Jelas bahwa Yesus tidak membenci orang Farisi secara perseorangan, tetapi Yesus membenci apa yang dilakukan golongan Farisi kepada masyarakat yang membuat orang sulit untuk memilih jalan yang benar, karena apa yang mereka ajarkan adalah kekeliruan dan kemunafikan yang menyesatkan. Selain itu, orang-orang Farisi itu tidak sadar bahwa mereka membantu iblis untuk mengacaukan misi pengajaran Yesus. Walaupun demikian, Yesus tidak menutup kemungkinan bagi orang Farisi karena Ia datang untuk menyelamatkan semua orang berdosa yang mau bertobat dan percaya kepadaNya. Yesus jugalah yang menyelamatkan Paulus dan bahkan memakainya sebagai rasulNya.

Apakah Yesus tidak mempunyai belas kasihan kepada mereka yang tidak mau bertobat? Yesus sebagai Tuhan yang mahakasih sebenarnya ingin agar mereka yang tidak percaya kepadaNya untuk berubah pikiran. Ia nenyesali mengapa mereka tidak mau menerima tawaran keselamatanNya dengan berkata: “…Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau”. HatiNya hancur melihat kebodohan mereka yang memusuhi orang-orang yang diutus Tuhan. Tetapi mereka dengan sengaja tidak mau menerima uluran tangan kasih Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan membuktikan bahwa Tuhan tidak membenci manusia manapun. Apa yang Tuhan benci adalah dosa mereka dan hidup mereka yang sesat. Dari awalnya, jika Tuhan membenci Adam dan Hawa, rencana penyelamatanNya tentu tidak diperlukan. Begitu juga jika Tuhan sekarang membenci kita atau orang lain, karunia keselamatan Yesus tidak perlu ditawarkan kepada umat manusia sebagai kabar baik. Marilah kita menyadari bahwa Tuhan itu mahakasih dan mahasabar,  Yesus menantikan mereka yang mau menerimaNya sebagai Juruselamat untuk benar-benar bertobat dan beriman kepadaNya. Keselamatan masih ada pada setiap orang yang mau menerimaNya.

Kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1: 15

Tuhan itu mahabaik

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Tuhan adalah mahatahu, dan karena itu Ia tahu segala sesuatu. Waktu dan tempat bukanlah sesuatu yang dapat membatasi Tuhan, karena Ia ada dimanapun dan kapanpun. Karena itu, Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi di bumi maupun di surga. Bahkan Ia tahu segala sesuatu sebelum apapun terjadi, karena Dia ada sebelum apapun diciptakanNya. Dengan demikian, tidaklah dapat diragukan bahwa Ia tahu akan segala sesuatu yang ada dalam hidup kita, bahkan sebelum kita dilahirkan.

Memang sifat/atribut Tuhan diatas menurut teologi Kristen adalah satu dari tiga sifat utama dari Tuhan, yaitu mahatahu, mahakuasa dan mahahadir (omniscient, omnipotent dan omnipresent). Tuhan adalah oknum yang luar biasa yang tidak ada tandingannya. Walaupun demikian, Tuhan bukanlah Tuhan yang membuat manusia ingin mendekatiNya jika Tuhan hanya memiliki tiga sifat itu. Ketiga sifat itu mungkin justru membuat manusia sebisa mungkin menjauhi Tuhan karena rasa takut yang timbul dalam menghadapi kemungkinan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang semena-mena.

Dalam kehidupan ini, manusia mungkin jarang memikirkan faktor Tuhan jika hidup berjalan lancar. Dalam menghadapi masalah, tantangan dan penderitaan, biasanya manusia yang merasa tidak dapat mengatasinya kemudian mulai memikirkan adanya faktor tertentu yang tidak dapat dimengertinya. Mengapa semua itu harus terjadi? Mengapa itu terjadi pada diriku? Mengapa itu terjadi dalam keluargaku? Mengapa Tuhan yang mahatahu, mahakuasa dan mahaada tidak berbuat sesuatu ketika malapetaka terjadi? Apakah Dia adalah Tuhan yang tidak peduli akan keadaan manusia?

Jika Tuhan hanya memiliki tiga sifat utama diatas, Tuhan belum tentu adalah Tuhan yang baik. Tuhan yang demikian bukanlah Tuhan yang benar-benar mau mengenal kita sebagai domba-dombanya. Sebaliknya, Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabaik (omnibenevolent), sehingga  karena kasih dan kebaikanNya semua orang yang berdosa diberiNya kesempatan untuk memperoleh karunia keselamatan. Tuhan mempunyai maksud baik kepada semua orang sehingga Ia mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus manusia yang berdosa. Karena itu, bagi sebagian orang Kristen, sifat omnibenevolent ini dipandang sebagai sifat Tuhan yang paling utama.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Pengurbanan Yesus di kayu salib adalah bukti bahwa Tuhan mempunyai iktikad baik kepada umat manusia. Lebih dari itu, selama hidup di dunia Yesus menyatakan sifat itu dengan lebih jelas: Ia melakukan berbagai kebaikan untuk mereka yang menderita dan akhirnya menebus dosa manusia di kayu salib.  

Apa yang harus kita sadari dalam hidup ini adalah perlunya bagi kita untuk mengenal Tuhan secara penuh, bahwa bukan saja Ia mahakuasa, Ia juga Tuhan mahakasih dan mahabaik. Sebagai gembala bagi umatNya, Ia bukan saja tahu keadaan kita, tetapi Ia mengenal kita dan segala segi kehidupan kita. Karena Ia mengenal semua dombaNya, Ia bisa dan mau menolong mereka yang mengalami penderitaan dan kesulitan hidup. Kepada Dia kita boleh berharap akan pertolongan, bimbingan dan perlindunganNya.

Pagi ini, adakah yang anda derita? Apakah ada masalah besar yang anda alami? Tuhan mengenal anda dan mampu memberikan apa yang baik pada waktunya. Pada pihak yang lain, kenalkah anda akan Dia? Sadarkah anda bahwa Ia adalah Tuhan yang bukan saja mahakuasa, mahatahu dan mahaada, tetapi juga mahakasih dan mahabaik yang memberikan matahari kepada semua orang? Bukankah Tuhan yang sedemikian besar akan mengasihi umatNya dalam keadaan apapun?

 

Jangan biarkan persoalan hidup menjauhkan kita dari Tuhan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bacaan: Kisah Para Rasul 15: 35 – 41

Alkisah, ketika itu rasul Paulus dan rasul Barnabas sedang berhenti di Antiokhia. Tetapi  kemudian  Paulus mengajak Barnabas untuk mengunjungi umat Kristen yang tinggal di kota-kota yang pernah dikunjungi guna melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus, tetapi Paulus dengan tegas menolak keinginan Barnabas. Persoalan yang agaknya sepele, tetapi kemudian menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah. Barnabas kemudian membawa Yohanes Markus berlayar ke Siprus, tetapi Paulus memilih Silas mengelilingi Siria dan Kilikia.

Anda tentunya pernah mendengar kisah diatas. Kisah yang membuat banyak orang Kristen merasa sedih karena ternyata mereka yang tergolong rasul pun bisa bertengkar dan akhirnya berpisah untuk tidak pernah berjumpa lagi. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen berpendapat bahwa setiap orang bisa mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain, sedemikian rupa sehingga lebih baik bagi mereka untuk berpisah. Pekerjaan Tuhan lebih penting untuk dilanjutkan daripada meneruskan perselisihan pribadi. Selain itu, Tuhan ternyata memakai keadaan yang nampaknya tidak sedap di mata itu menjadi sesuatu yang malah membuat namaNya dimasyhurkan di berbagai tempat.

Sebagai orang Kristen, mungkin kita sering mengalami persoalan yang serupa. Mungkin keadaan keluarga tidak atau kurang mendukung kita untuk lebih bisa melayani Tuhan. Mungkin adanya orang-orang di sekitar kita membuat kita menjadi ragu untuk lebih aktif di gereja. Mungkin juga orang tua, suami, istri atau anggota keluarga yang lain memiliki pendapat yang berbeda dalam hal berbakti kepada Tuhan. Barangkali kita sering bertengkar dengan mereka mengenai soal prioritas kehidupan. Keadaan yang sedemikian bisa membuat semangat kita kecil dan menimbulkan kemurungan dalam hubungan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

Ada beberapa yang bisa kita pelajari dari pertengkaran Paulus dan Barnabas. Yang pertama adalah pertengkaran itu bukanlah soal pengajaran. Baik Paulus maupun Barnabas adalah  orang-orang pernah bersama-sama mengabarkan injil. Mereka sepaham dalam hal iman yang benar. Kedua, sekalipun dua orang mempunyai iman yang sama, mereka tetap adalah dua individu yang berbeda. Roh Kudus tidak mengubah semua orang Kristen sehingga mereka mempunyai kepribadian, cara bekerja dan cara berpikir yang sama. Karena itu, ketidaksesuaian pendapat bisa terjadi dan perpecahan terkadang tidak dapat dihindarkan.  Oleh sebab itu juga sampai sekarang kita bisa melihat adanya perbedaan pendapat antara orang percaya, baik di rumah dan bahkan di gereja.

Perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan hal yang jelek. Apa yang jelek adalah perbedaan pendapat yang menyebabkan kemarahan yang berkelanjutan dan terganggunya pekerjaan Tuhan. Tuhan memberi umatNya kebijaksanaan untuk bisa menemukan cara penyelesaian yang terbaik. Melalui bimbingan Roh Kudus, umatNya bisa menghadapi semua persoalan yang ada tanpa kehilangan kasih kepada saudara seiman kita. Biarlah kita mau berdoa dengan giat agar Tuhan tetap membimbing kita yang mengalami persoalan dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita harus percaya bahwa seperti Tuhan sudah membimbing Paulus dan Barnabas, Ia juga akan membimbing kita, dan bahkan bekerja dalam segala keadaan untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan sesuai dengan rencanaNya.