Apakah anda sendirian?

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” 2 Korintus 13: 5

Dimanakah Tuhan itu? Kebanyakan orang percaya bahwa Ia di surga. Tetapi, dimanakah gerangan surga itu? Jika kita berdoa kepada Tuhan, apakah Ia mendengar? Bagaimana Ia bisa mendengarkan suara kita, dan bagaimana kita bisa mendengar suaraNya? Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan jika kita terpisah dari Dia?

Yesus pernah berkata bahwa jika ada dua atau tiga orang berdoa kepadaNya, Ia ada diantara mereka. Karena itu banyak orang percaya bahwa doa yang disampaikan oleh beberapa orang lebih didengar Tuhan, karena Tuhan akan datang ke tempat dimana mereka berdoa.

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Matius 18: 20

Tetapi pengertian seperti itu sebenarnya kurang benar karena adanya dua atau tiga orang berdoa bukanlah syarat hadirnya Tuhan. Yang dimaksudkan Yesus adalah dalam berdoa kita harus bisa lebih dulu menyelesaikan konflik kita dengan saudara-saudara seiman kita yang bisa menjadi penghalang hubungan baik kita dengan Tuhan (Matius 18: 15 – 16).

Yesus mendengarkan doa kita sekalipun kita berdoa seorang diri. Dalam segala persoalan, bahaya atau kebutuhan yang kita hadapi, Yesus selalu siap untuk mendengar doa kita. Seberapa besarnya masalah kita, kita harus mempunyai iman bahwa Yesus ada dalam diri kita, bersama-sama dengan kita dalam menghadapinya. Didalam kesepian kita, kita tidak perlu merasa sendirian karena Yesus melalui Roh Kudus  menghibur kita dan bahkan menyampaikan kepada Tuhan segala doa-doa yang tidak bisa kita ucapkan.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” Roma 8: 26

Pagi ini, mungkin hanya anda yang tahu tentang masalah yang anda hadapi. Atau mungkin hanya sedikit orang yang tahu apa yang anda derita. Anda mungkin merasa masygul bahwa pada saat ini anda sendirian dalam menghadapi tantangan hidup. Anda berdoa, tetapi tidak yakin apakah Tuhan mendengarkan doa anda. Teman jauh, Tuhan pun terasa jauh. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa Ia tinggal dalam diri umatNya. Kita tidak perlu kuatir kalau-kalau Ia tidak mengerti apa yang kita pikirkan dan rasakan. Sekalipun kita tidak dapat melihat Dia dengan mata, dengan iman kita dapat merasakan kehadiranNya dalam hidup kita. Berdoalah kepadaNya pada setiap saat, karena Ia yang mahakasih selalu siap mendengar apa yang kita ucapkan.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Tuhan lebih besar dari apa yang kita bayangkan

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Kekuatiran adalah musuh besar manusia yang bisa menghancurkan hidup orang yang terlihat tabah sekalipun. Setiap orang mempunyai rasa kuatir terhadap hal-hal tertentu; dan sekalipun seseorang mempunyai segala sesuatu, kekuatiran tetap ada. Mengapa begitu? Manusia sebenarnya sadar akan keterbatasannya, dan ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dikontrolnya. Orang yang mempunyai banyak harta mungkin kuatir kalau-kalau hartanya lenyap dicuri orang lain. Atau mungkin ia kuatir kalau-kalau ia mendapat penyakit tertentu. Begitu juga mereka yang tidak kaya mungkin kuatir tentang biaya besar yang dibutuhkan di hari tua, atau tentang kebutuhan anak cucu di masa depan. Kekuatiran tidak hanya melanda kaum tua; menurut survey, generasi sekarang justru lebih kuatir menghadapi masa depan, terutama mengenai hal lingkungan hidup (environment).

Kekuatiran sebenarnya tidak harus berupa hal yang jelek. Kekuatiran hanya menjadi hal yang merusak atau destruktif jika itu membuat kita lumpuh tidak berdaya. Jika kekuatiran bisa menginsafkan manusia atas kelemahannya sehingga ia mau berusaha untuk mencari penyelesaian atau pertolongan, kekuatiran justru mungkin bisa menjadi bagian pertahanan hidup yang baik. Dalam hal ini masalahnya adalah keterbatasan manusia yang membuat mereka tidak bisa melihat adanya jalan keluar, atau yang membuat mereka tidak mengerti bahwa ada jalan keluar yang tidak bisa dilihatnya. Itulah yang mendatangkan rasa takut. Bagaimana bisa begitu?

Orang Kristen yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakasih tidak akan bisa mengerti bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya untuk berjuang sedirian di dunia ini. Karena itu, dalam menghadapi kesulitan hidup yang besar, ia akan merasa seorang diri dan mudah putus asa karena ia tidak bisa melihat adanya Tuhan yang  mau menolong. Dalam hal ini, apa yang paling mudah untuk dilakukan untuk bisa bertahan hidup ialah menerima segala kesulitan hidup sebagai takdir. Sebaliknya, mereka yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakuasa, cenderung percaya bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan dalam bentuk seperti apa yang diinginkannya. Doa-doa permohonan kemudian disampaikan tanpa menyadari bahwa jalan Tuhan bisa berbeda dengan jalan manusia. Kekeliruan mudah terjadi ketika mereka tergesa-gesa memilih apa yang terlihat oleh mata, sekalipun itu mungkin bukan apa yang disenangi Tuhan.

Ayat diatas mengatakan bahwa Tuhan tahu jumlah rambut kita. Itu menunjukkan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang dekat dengan umatNya, yang peduli akan apapun yang terjadi dalam hidup mereka. Ia yang tahu jumlah rambut kita, juga tahu semua kebutuhan dan masalah kita dan tidak membiarkan kita mengalami kehancuran karenanya. Bagi Tuhan yang mahakasih, umatNya adalah jauh lebih berharga dari apapun juga. Karena itu jugalah, Tuhan sudah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Jika kita sadar akan besarnya kasihNya, tidaklah  perlu ada keraguan bahwa Tuhan selalu memelihara umatNya.

Pagi ini mungkin kita percaya bahwa Tuhan benar-benar mengasihi kita. Tetapi keraguan mungkin masih ada, apakah Tuhan akan memberikan apa yang kita minta. Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa memberi apa saja. Tetapi Tuhan yang mahabijaksana tidaklah selalu memberi apa yang sesuai dengan permohonan kita. Tuhan mempunyai rencana yang khusus bagi setiap umatNya. Ia yang tahu bahwa rambut setiap orang tidaklah sama jumlahnya, Ia jugalah yang memberikan apa yang baik bagi setiap umatNya sesuai dengan pertimbanganNya. Terkadang kita seolah kehilangan kesabaran dalam menunggu saat yang dipilihNya, tetapi selama dalam penantian kita harus tetap teguh dalam iman. Tuhan adalah mahatahu, mahakasih, mahakuasa dan mahabijaksana, karena itu kita tidak perlu takut dalam menghadapi masa depan.

 

 

Siapakah kita di hadapanNya?

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17: 10

Memperoleh upah dan penghargaan (reward) adalah salah satu tujuan orang dalam bekerja. Mereka yang ingin bekerja, tentunya ingin mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan pendapatan yang cukup dan kepuasan. Begitu juga orang Kristen agaknya sudah terbiasa mendengar ungkapan “upahmu besar di surga”, yang mungkin bisa memberi semangat untuk bekerja makin giat bagi kemuliaan Tuhan.

Tetapi, sekalipun Alkitab memberi harapan bahwa mereka yang bekerja dengan giat untuk Tuhan akan menerima ganjaran yang sesuai di surga, apakah sepatutnya kita menuntut upah dari Tuhan setelah menjalankan tugas-tugas kehidupan kita selaku orang Kristen?

Dalam Alkitab, kata “upah” bukan menunjuk kepada hak orang yang setia kepada Tuhan, tetapi kepada kemurahan Tuhan kepada orang yang berkenan kepadaNya. Dalam hal ini, ada orang Kristen yang ingin berbuat baik agar memperoleh apa yang lebih besar bagi diri mereka. Perbuatan baik yang berdasarkan pamrih seperti itu bukanlah merupakan pernyataan syukur kepada Tuhan atau pelaksanaan perintahNya.

Lebih lanjut, orang Kristen yang menerima kebaikan orang lain sering berkata “semoga Tuhan membalas kebaikanmu berlipat ganda”. Memang, mereka yang merasa berhutang budi kepada seseorang, berharap agar Tuhan yang membalas budi si pemberi. Walaupun demikian, Tuhan bukanlah yang berhutang budi.

Banyak orang Kristen yang kemudian kecewa jika dalam hidup Tuhan terasa kurang memberkati mereka. Mengapa Tuhan seakan tidak menghargai jerih-payah mereka? Mereka lupa bahwa segala apa yang baik datang dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan.

“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Kisah Para Rasul 17: 24 – 25

Ayat yang ditulis Lukas diatas memberi gambaran hubungan kita dengan Tuhan yang mahabesar, yang dalam hal ini serupa dengan hubungan antara tuan dan hambanya. Hubungan sedemikian tidaklah umum pada zaman sekarang, sehingga kita mungkin sulit untuk membayangkannya. Si tuan yang menyuruh hambanya untuk melakukan suatu tugas adalah orang kaya yang memelihara dan mencukupi hidup hambanya. Karena itu jika tuan itu memberikan tugas untuk hambanya, ia tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena tugas itu memang seharusnya dijalankan si hamba.

Tuhan adalah mahakuasa dan mahakaya, dan karena itu Ia sebenarnya tidak membutuhkan pertolongan atau bantuan manusia dalam bentuk apapun. Jika Ia mau menerima apa yang kita persembahkan, baik itu berupa materi ataupun tenaga dan usaha, itu karena Ia ingin memberikan kesempatan bagi manusia untuk mempunyai hubungan yang erat denganNya. Tuhan menghargai mereka yang menghormati Dia sebagai Tuhan yang mahabesar. Tuhan menyenangi mereka yang memuliakanNya dan karena itu Ia mau memberkati mereka yang dengan rendah hati dan tulus menjalankan kewajiban mereka.

Pagi ini, mungkin kita berpikir bahwa Tuhan seharusnya memberi kita lebih banyak berkat karena kita sudah berusaha keras untuk hidup sesuai dengan perintahNya. Kita mungkin rajin ke gereja dan seringkali menolong orang lain. Kita mungkin kecewa jika Tuhan nampaknya lupa untuk menunjukkan rasa terima kasihNya kepada kita. Tetapi, semua perbuatan baik adalah sesuatu yang sudah sepantasnya kita lakukan sebagai hambaNya. Kita berbuat baik bukan untuk mencari pahala, tetapi untuk menyatakan rasa syukur kita kepada Tuhan yang sudah memilih kita. Dengan kerendahan hati kita harus menghampiri tahtaNya sambil bersyukur bahwa kita manusia yang penuh cacat cela ini masih bisa menerima keselamatan melalui penebusan Kristus. Untuk kita, adalah suatu kehormatan jika kita bisa berbuat sesuatu yang baik bagi Tuhan dan sesama kita.

Kesabaran Tuhan

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Ayat ini adalah ayat yang tidak sepopuler Yohanes 3: 16, tetapi sering diperdebatkan diantara berbagai golongan Kristen maupun diantara orang yang bukan Kristen. Apakah Tuhan menghendaki semua orang selamat? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab. Kalau jawabnya “ya”, tentunya Ia tidak mau seorang pun ke neraka. Tuhan yang mahakasih tentunya akan berusaha agar semua orang untuk bisa menemukan jalan ke surga melalui kepercayaan apapun, begitu pendapat sebagian orang. Walaupun demikian, adanya neraka tentunya menegaskan kenyataan bahwa sebagian orang akan menuju kesana. Karena itu, sekalipun Tuhan ingin agar semua manusia bisa ke surga, tidak semua orang akan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Mereka yang tidak mengenal nama Kristus, sudah tentu tidak dapat hidup menurut firmanNya. Mungkin hidup mereka terlihat cukup baik menurut ukuran manusia, tetapi sebenarnya mereka hidup dalam dosa karena bagi mereka Tuhan hanya ada dalam bayangan. Hari demi hari berlalu, dan bagi mereka tidak ada perubahan apapun yang terjadi. Kedatangan Kristus yang kedua kali tidak kunjung tiba dan dunia berjalan seperti biasa. Mereka mungkin merasa bahwa hidup di dunia ini bisa dinikmati seperti biasa. Mereka yang menganggap bahwa iman kepada Yesus itu hanyalah khayalan, kemudian mengejek iman Kristen dan hidup menurut hawa nafsunya.

Dalam ayat diatas rasul Petrus memperingatkan orang-orang yang merasa Kristen tetapi tetap hidup dalam dosa, bahwa seperti mereka yang meragukan Kristus dan mengejek iman Kristen, mereka yang mengaku kenal kepada Yesus dan merasa sudah terpilih untuk diselamatkan tetapi masih hidup dalam dosa dan kejahatan akan menuju kebinasaan. Tetapi Tuhan yang mahakasih mempunyai kesabaran untuk menunggu agar sebanyak mungkin manusia mau berbalik arah dan bertobat dengan sepenuhnya. Karena itu, selagi kesempatan masih ada, semua orang yang sudah mengenal nama Kristus hendaklah berubah dari hidup lama dan memilih untuk hidup dalam iman dan dalam kesucian dan kesalehan selagi kesempatan masih ada.

Tuhan yang mahakasih menghendaki semua orang untuk mau menerima uluran tangan penyelamatanNya. Tetapi Tuhan yang mahaadil hanya menerima mereka yang benar-benar mau berusaha hidup sesuai dengan firmanNya, bukan hanya mereka yang gemar mempelajarinya. Tanda hidup baru adalah perubahan hidup yang bisa dilihat dari buah-buahnya (Matius 7: 20). Jika ini tidak terlihat, Yesus berkata:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Tuhan sudah memberikan kabar baikNya dan mengaruniakan Roh Kudus yang membimbing manusia untuk mengerti bahwa jalan keselamatan adalah sempit adanya. Keselamatan datang melalui anugerah Tuhan, yang harus diterima dan dinyatakan dalam hidup dalam kebenaran dan kasih. Walaupun demikian, sampai saat ini masih banyak orang yang mengenal nama Kristus tetapi mengabaikan perintahNya. Mereka justru memilih jalan lebar yang nyaman dan bergemerlapan, dan tetap hidup dalam dosa. Tuhan memang sabar kepada kita, tetapi kesabaranNya ada batasnya!

“Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.” 2 Petrus 3: 14

Bagaimana kita harus mengambil keputusan

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3: 5 – 6

Mengambil keputusan adalah suatu tindakan yang seringkali tidak mudah dilakukan. Sekalipun hal yang kelihatannya sederhana, seperti memilih menu makan siang, kadang-kadang bisa membingungkan. Karena itu ada orang-orang yang lebih senang untuk menyerahkan keputusan, kecil ataupun besar, kepada orang lain daripada pusing. Lebih dari itu, ada orang yang memang sering tidak mau mengambil keputusan karena takut menghadapi resikonya.

Bagi orang percaya, mengambil keputusan adalah bagian kehidupan. Bagaimana kita menjawab “ya” setelah mendengar panggilan Tuhan, adalah satu keputusan yang pertama yang kita buat sebelum menjadi pengikutNya. Tuhan melalui Roh Kudus memberi kita kesadaran akan satu-satunya jalan keselamatan, sehingga kita bisa mengambil keputusan untuk mengikut Yesus.

Dalam hidup kita, karena banyaknya keputusan yang harus kita buat, kadang-kadang kita menjadi masygul. Sebagian orang yang menghadapi persoalan berat memang bisa merasa bahwa apa yang ada tidaklah mudah dipilih. Karena itulah banyak orang yang “menyerahkan semuanya kepada Tuhan”. Mereka dengan kata lain sudah menyerah kepada tantangan yang ada.

Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang begitu berani mengambil keputusan. Sekalipun keputusan itu mungkin dinilai aneh atau bodoh oleh orang lain, orang yang sedemikian mungkin berdalih bahwa Tuhan sudah memerintahkan dia untuk melakukannya.

Selain itu, ada juga orang-orang yang dengan bangga menyatakan bahwa ia sudah mengambil keputusan yang penting berdasarkan kebijaksanaannya. Mereka yang begitu percaya akan kemampuan manusiawinya, tidak merasa bahwa Tuhan itu ada dan semua rencanaNya harus terjadi. Mereka tidak mengerti bahwa keputusan manusia yang tidak sejalan dengan rencana Tuhan pada akhirnya tidak akan membawa hasil seperti yang diharapkan.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa apa yang paling penting dalam mengambil keputusan adalah untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita. Kita tidak boleh bersandar kepada pengertian kita sendiri, tetapi harus mau mencari apa yang dikehendaki Tuhan. Kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu kita harus mau mengambil keputusan yang membawa kemuliaan kepada Dia dan bukan untuk mencari kemuliaan diri sendiri.

Mengambil keputusan memang tidak mudah. Ada hal-hal yang bisa dan harus diubah, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Kita dengan demikian harus bijaksana dan bisa membedakan antara perlunya berbuat sesuatu (do something) atau tinggal diam dan berserah kepadaNya (do nothing). Dengan mengambil keputusan untuk kemuliaanNya dan yang sesuai dengan kehendakNya, Tuhan akan meluruskan perjalanan masa depan kita.

Pilihan kita, risiko kita

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Minggu ini saya menerima banyak email dari murid-murid saya yang memohon perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugas (assignment) mereka. Seharusnya tanggal 23 April adalah batas waktunya dan jika mereka terlambat menyerahkan tugas, mereka akan mendapat pemotongan angka (penalty) sebesar 5% dari angka mereka setiap harinya.

Banyak alasan yang diajukan murid-murid itu. Ada yang mengaku sakit, ada yang mengemukakan sibuknya hidup mereka, ada juga yang mengalami kerusakan komputer secara tiba-tiba. Herannya, semua itu terjadi hanya satu atau dua hari sebelum tanggal pemasukan tugas (deadline). Saya sendiri berpikir bahwa karena permintaan perpanjangan itu seolah muncul pada saat terakhir, tentunya tidak semua alasan itu bisa diterima. Kebanyakan murid yang sering mengajukan permohonan perpanjangan waktu adalah mereka yang kurang pandai mengatur waktu. Mereka tidak mempunyai time management yang baik.

Ayat diatas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya mampir ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekedar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana disana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya.

Apa yang terjadi ternyata bukanlah seperti yang kita bayangkan. Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajar. Maria duduk didekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Ia tidak senang melihat Maria yang tidak mau membantunya. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari seringkali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Mungkin karena terlalu sibuk, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firmanNya atau untuk berdoa kepada Tuhan dengan teratur. Kita menunda kewajiban kita untuk berbakti kepada Tuhan, persis seperti seorang murid yang akhirnya terpaksa meminta perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugasnya.

Pagi ini kita harus sadar bahwa waktu adalah sebuah sarana yang terbatas. Umur kita bukan di tangan kita dan karena itu kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anakNya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang diluar kendali manusia, tetapi mengatur cara hidup adalah di tangan setiap individu. Tuhan memberikan kehendak bebas atau free will bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Pilihan kita, resiko kita.

Biarlah nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Kolose 3: 12

Kemarin malam saya menonton sebuah film dokumentasi di TV, mengenai kehidupan berbagai hewan di sebuah lembah di Afrika. Lembah yang kelihatannya cukup subur itu dihuni oleh berbagai jenis hewan, baik pemakan rumput/daun maupun pemakan daging. Berbagai hewan kecil dan besar hidup bersama di tempat itu sekalipun hidup mereka tidaklah seperti apa yang kita bayangkan di taman Firdaus. Adanya hewan-hewan tertentu yang hidup dengan memangsa hewan lain bisa membuat keadaan yang semula tenang menjadi kacau, dengan hewan-hewan seperti singa dan macan tutul yang memangsa rusa dan hewan kecil lainnya. Melihat seekor rusa yang tertangkap dan menjadi mangsa singa tentunya mengundang rasa sedih, tetapi semua itu adalah bagian kehidupan dunia ini.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah jika sekelompok rusa yang sedang makan rumput di padang diserang seekor singa, rusa-rusa itu berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke berbagai jurusan. Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menghindari atau bekerja sama guna mengelabui si singa. Lebih buruk lagi, jika seekor rusa sudah dimangsa oleh seekor singa, rusa-rusa yang lain melanjutkan acara makan mereka tanpa terganggu oleh adanya pemandangan yang menyedihkan di dekat mereka.  Sebagai hewan mereka tidak mempunyai rasa sedih, terharu atau terpukul dengan kematian salah satu dari anggota kelompok mereka. Kematian secara tragis seperti itu sudah biasa dilihat rusa-rusa itu dan menjadi bagian hidup mereka yang harus mereka terima.

Lain rusa lain manusia. Sebagai manusia kita mempunyai akal budi dan hati yang bisa merasakan apa yang diderita orang lain. Manusia diciptakan Tuhan seperti gambarNya, dengan demikian manusia bisa menggunakan akal budinya untuk mencari jawaban akan penderitaan yang dihadapi oleh sesama manusia dan juga makhluk hidup lainnya, dan mempunyai hati yang mempunyai rasa belas kasihan atas penderitaan-penderitaan itu. Manusia, berbeda dengan hewan, bisa menyadari bahwa penderitaan yang ada di dunia adalah hal yang menyedihkan dan sedapat mungkin dihindari atau dicegah. Manusia, sekalipun tahu bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup di dunia yang sudah jatuh kedalam dosa, pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan yang mahakasih. Karena itu, mereka yang beriman kepada Tuhan setiap hari berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan melindungi mereka dari berbagai pencobaan.

Bagaimanapun manusia berusaha untuk menghindari terjadinya malapetaka di dunia, kejatuhan manusia kedalam dosa tidak memungkinkan bahwa mereka bisa kembali hidup seperti di taman Firdaus. Kejadian seperti apa yang terjadi di berbagai tempat dimana banyak orang yang mengalami kematian dan cedera bukan karena kesalahan mereka, menunjukkan bahwa manusia tidak bisa hidup dalam ketenteraman dan kedamaian sekalipun mereka sudah berusaha. Semua itu adalah bagian hidup di dunia. Sebagian manusia memang menganggap bahwa manusia tidak dapat menghindari apa yang sudah dikehendaki Tuhan. Tetapi, apakah Tuhan yang mahakasih memang menghendaki semua yang kelihatan jahat dan keji  itu terjadi? Jika tidak, mengapa Ia membiarkan semua itu terjadi? Itulah yang menjadi tanda tanya, dan tidak mudah dijawab, terutama oleh orang-orang yang langsung terlibat.

Apa yang kita harus sadari ialah kenyataan bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih. Tuhan yang mahakuasa bukanlah Tuhan yang dengan sewenang-wenang dan tanpa sebab memuntahkan kemarahanNya kepada manusia yang tidak berdaya. Ia bukanlah Tuhan yang mempunyai rencana jahat untuk manusia ciptaanNya. Sebaliknya, Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih yang mencintai dan memelihara semua orang. Ia yang mahatahu, juga bisa melihat apa yang sudah lewat dan apa yang akan datang.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa memberi kemampuan agar manusia bisa menguasai dunia ini unuk kemuliaan namaNya. Sebagian manusia mungkin ingin menguasai dunia ini untuk diri mereka sendiri, tetapi Tuhan yang mahakuasa terus bekerja sama dengan umatNya yang setia untuk membawa kebaikan dan kebenaran ke dunia.

Berbagai kesusahan dan malapetaka bisa terjadi di dunia ini, tetapi Tuhan tidak mungkin kehilangan kontrol. Karena itu, melalui apa yang terjadi di dunia, Ia memberikan kemampuan bagi manusia untuk bisa belajar dari masa lalu dan memakai keberanian dan kekuatan yang berasal dari Tuhan untuk menghadapi masa depan dengan tanggung jawab sepenuhnya. Tuhan juga memberi kemampuan bagi umatNya untuk mempunyai rasa belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran dalam menghadapi semua peristiwa yang terjadi di dunia. Tuhan memberikan umatnya kebijaksanaan untuk tidak mempersalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup manusia.  Dengan itu kita bisa yakin bahwa sekalipun dunia ini penuh dengan kejahatan, banyak orang akan mau percaya kepada Dia yang bukan saja mahakuasa, tetapi juga mahakasih.

 

 

 

 

 

Kekacauan bukan dari Tuhan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Pernahkah anda membandingkan lalu-lintas di kota anda dengan keadaan di kota lain? Pada umumnya, makin besar kotanya, makin ruwet lalu lintasnya. Itu bukan di Indonesia saja, tetapi juga di negara-negara lain. Memang kota-kota yang banyak penduduknya tentu banyak kendaraannya, dan karena itu kemacetan jalan raya sulit dihindari. Di Indonesia, saat ini kemacetan mungkin sering terjadi karena banyaknya sepeda motor. Tetapi di kota besar Jakarta, seperti juga Bangkok ataupun Sydney, selalu mempunyai jam-jam tertentu (rush hours) dimana kemacetan lalu lintas terjadi karena banyaknya mobil yang ada di jalan. Dengan adanya kemacetan di jalan, keadaan menjadi kacau dan orang mudah melakukan hal-hal yang bodoh.

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apapun terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang seringkali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan mempengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele, tetapi karena banyaknya orang yang melakukan hal yang serupa, kekacauan kemudian timbul.

Pada ayat diatas tertulis bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak menghendaki kekacauan. Ayat itu ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus seringkali terombang-ambing diantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya  untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.

Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.

Pagi ini, jika kita bangun dan membaca koran atau media apapun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi dimana-mana. Mungkin itu berita tentang kejahatan, kecelakaan, kebohongan, kemiskinan dan lain-lainnya. Sebagian orang memang senang mendengar atau membaca hal-hal semacam itu, bahkan mereka senang membagikannya ke orang lain. Selain itu, ada orang yang suka membuat kekacauan dengan melalukan tindakan-tindakan yang membuat orang lain kuatir, bingung ataupun marah. Keadaan dunia saat ini memang tidak jauh berbeda dengan hingar-bingar kota Korintus pada abad pertama.

Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” 1 Korintus 14: 40

Bergembira sekalipun menderita

“Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” Kisah Para Rasul 5: 40 – 41

Pada saat ini, sekitar 2400 juta orang yang menganut agama Kristen atau sekitar 33% dari penduduk dunia. Jika orang membaca kisah kematian dan kebangkitan Kristus, mungkin mereka heran bagaimana apa yang terjadi di Israel pada waktu itu kemudian bisa membuat banyak orang menjadi pengikut Kristus.

Bagaimana kabar baik, bahwa melalui Yesus umat manusia bisa memperoleh keselamatan, bisa menyebar ke seluruh bangsa di dunia dalam waktu 2000 tahun? Bagaimana kepercayaan Kristen bisa berkembang dari apa yang dianut bangsa Yahudi saja, menjadi satu agama yang paling besar penganutnya di dunia? Hal ini bukan saja sesuatu yang menarik untuk dipelajari oleh ahli sejarah, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Ini bukanlah hal yang biasa, tetapi tentu terjadi hanya karena kehendakNya.

Kematian Kristus di kayu salib adalah kulminasi kejahatan manusia kepada Tuhan. Dengan menyalibkan Yesus, manusia membunuh Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Jika penderitaan murid-murid Yesus sudah berlangsung sebelum penyaliban Yesus, sejak kebangkitanNya penderitaan mereka makin bertambah karena banyak orang yang kuatir bahwa Yesus dan kemenanganNya atas maut akan mempengaruhi opini masyarakat. Penderitaan itu tidaklah mengherankan pengikutNya karena itu sudah pernah dinyatakan Yesus sebelum kematianNya.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Dalam kenyataannya, penderitaan umat Kristen itulah yang membuat banyak orang menjadi heran bagaimana mereka tetap setia kepada Yesus sekalipun harus menderita. Bahkan ayat pembukaan diatas menyatakan bahwa murid-murid Yesus bersukacita dengan adanya penganiayaan, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Yesus tentunya adalah Tuhan yang memberi kekuatan dan ketabahan kepada murid-muridNya!

Pagi ini, bagaimanakah perasaan anda atas hidup ini? Adakah perasaan bahwa sebagai orang Kristen anda mengalami perlakuan yang tidak baik atau tidak adil oleh orang-orang di sekitar anda? Apakah orang lain menganggap anda sebagai orang yang “aneh” jika anda tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Apakah anda diberi julukan “fanatik” ketika anda ingin menjalankan ibadah anda dengan sebaik-baiknya? Semua itu memang terasa berat, tetapi banyak orang Kristen yang mengalami apa yang jauh lebih berat, seperti kematian dan berbagai siksaan di tangan orang-orang yang membenci Kristus. Kita yang percaya kepada Kristus harus percaya bahwa semua itu bisa membawa kemuliaan bagi Dia dan iman yang teguh bagi seluruh umatNya jika kita tetap setia kepadaNya.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3 – 4

Kebangkitan Kristus adalah jaminan masa depan

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15:14

Teringat saya sewaktu berada di Jepang, dengan teman-teman seuniversitas saya sering berbincang-bincang tentang berbagai hal jika lagi senggang. Salah satu bahan pembicaraan adalah mengenai agama dan hidup sesudah mati (life after death). Walaupun kebanyakan teman saya bukan orang religius, seperti orang Jepang lainnya secara tradisi mereka mengaku beragama Shinto dan Budha. Agama Shinto karena itu bermanfaat untuk bisa hidup bahagia di dunia, agama Budha karena itu berguna untuk bisa hidup di surga sesudah mati. Dengan berbekal dua agama ini, mereka merasa siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan.

Bagi kita yang mengikut Kristus, hidup di dunia ataupun di surga adalah berada dalam tangan Tuhan yang mahakuasa. Sebagai ciptaan Tuhan, kita bisa mengharapkan penyertaanNya selagi kita masih hidup di dunia, tetapi kita juga berharap kepada Tuhan yang sama untuk masa depan yang cerah di surga sesudah hidup di dunia ini selesai. Walaupun demikian, iman Kristen tidaklah mengajarkan bahwa hidup kita di dunia ini akan selalu berkelimpahan. Sebaliknya, kita tahu bahwa didalam Tuhan kita akan dikuatkan dalam segala tantangan dan penderitaan selama kita hidup di dunia.

Jika hidup di dunia ini adalah sebuah perjuangan, orang Kristen menyadari bahwa itu bukanlah yang utama. Karena segala sesuatu yang ada di bumi hanyalah sementara, Yesus mengajarkan agar kita mencari apa yang tidak bisa lenyap, yaitu kebahagiaan di surga. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa manusia mempunyai hidup dalam bentuk lain sesudah kematian jasmani. Adakah bentuk kehidupan yang sesuai dengan keadaan di surga?

Bagaimana orang bisa yakin bahwa ada hidup sesudah kematian? Dan bagaimana orang bisa yakin bahwa ia bisa hidup lagi dan bisa ke surga sesudah mati? Tidak ada seorangpun di dunia yang pernah hidup, mati, untuk kemudian bangkit dan naik ke surga. Kecuali Yesus Kristus. Yesus yang turun ke dunia sebagai manusia yang sepenuhnya, Ia jugalah yang kemudian mati disalib dan dikuburkan sebagaimana layaknya manusia. Walaupun begitu, Yesus yang mati kemudian bangkit pada hari yang ketiga, dan itu membuktikan bahwa ada kehidupan yang lain sesudah kematian.

Kebangkitan Yesus juga merupakan pemenuhan janjiNya bahwa seperti Ia bangkit, mereka yang percaya kepadaNya juga akan dibangkitkan dan hidup bersama dengan Dia di surga. Itu adalah janji Tuhan yang benar-benar akan terjadi, karena itu sudah ada terbukti dengan adanya saksi mata, yaitu murid-murid Yesus yang menjumpai kubur yang kosong dan kemudian bertemu dengan Dia yang mempunyai tubuh yang tidak lagi berupa tubuh jasmani.

Pagi hari ini kita merayakan hari kemenangan Yesus atas maut. Dengan kebangkitanNya, iman kita bukanlah hal yang sia-sia. Dosa kita sudah ditebus oleh kematianNya, dan karena kebangkitanNya kita mempunyai harapan masa depan untuk bisa bersama dengan Dia di surga sesudah tugas kita di dunia berakhir. Haleluya!

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5