“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4: 12
Jika saya mengingat masa muda, mau tidak mau saya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Semasa muda saya ingin cepat-cepat menjadi dewasa, agar orang dewasa mau menghargai pendapat saya dan tidak menganggap saya kurang pengalaman. Sekarang, sesudah menjadi tua, saya ingin kembali menjadi muda, agar orang muda mau menerima pendapat saya dan tidak menganggap saya ketinggalan zaman!
Apa yang bisa kita lakukan agar orang mau menerima pendapat kita? Mereka yang pernah menjadi pemimpin, entah itu di pramuka, keluarga, gereja, kantor dan negara tahu bahwa orang mau menghargai kita jika kita bisa dipercaya, trustworthy. Mereka yang pandai berbicara dan bagus penampilannya mungkin bisa menarik perhatian orang untuk sementara, sampai saat dimana kualitas yang sebenarnya bisa terlihat dengan sepenuhnya. Apa yang palsu pada lambat laun akan ketahuan juga.
Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada Timotius, rekan juniornya. Paulus menulis untuk membesarkan hati Timotius, agar dia jangan sampai berkecil hati, sekalipun ia masih muda. Memang hal berkecil hati itu bisa membuat seseorang merasa tidak berdaya atau kurang mampu untuk memimpin orang lain. Tetapi siapa yang mau menjadi pemimpin, haruslah mempunyai “percaya diri”. Percaya diri yang bagaimana, itulah yang belum tentu dimengerti manusia yang tidak mengenal Kristus.
Orang seringkali berusaha memperoleh percaya diri dengan berbagai cara. Mungkin saja dengan menonton penampilan para motivator dan mengikuti ajaran mereka. Atau dengan memakai pakaian dan perhiasan mahal. Mungkin juga dengan memakai model rambut dan jenggot yang istimewa. Bahkan ada juga orang yang selalu bermanis-manis atau bertingkah garang di depan umum. Semua ini umumnya dilakukan untuk membuat impresi, dan untuk mencari kemuliaan bagi diri sendiri.
Bagaimana orang Kristen bisa memperoleh percaya diri dan menjadi teladan bagi orang lain? Dalam Alkitab kita bisa melihat bahwa mereka yang disertai Tuhan mempunyai keyakinan untuk bisa mengatasi keadaan dan dengan demikian mampu menjadi pemimpin teladan masyarakat di sekelilingnya. Abraham, Yusuf dan Musa adalah beberapa diantara mereka. Tetapi, mengapa Tuhan mau menyertai mereka? Tuhan menyertai mereka karena ketaatan mereka kepadaNya.
Pagi ini, jika kita ingin untuk menjadi teladan dan mempunyai percaya diri, firman Tuhan berkata bahwa kita harus menjaga perkataan dan tingkah laku kita. Selain itu kita bisa menunjukkan kasih, kesetiaan dan kesucian dalam hidup kita. Baik kita bekerja di lingkungan keluarga, sekolah, universitas, kantor, gereja dan negara, faktor usia bukanlah yang penting untuk menjadi teladan. Hidup kita yang sebenarnya, yaitu hidup sebagai umat Kristen, itulah yang akan disorot masyarakat. Lebih dari itu, jika kita hidup untuk Tuhan dan berjalan sesuai dengan firmanNya, Tuhan akan memberkati kita dengan berbagai berkat karunia sehingga kita makin mampu menjadi teladan bagi banyak orang untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16
Jam berapa anda biasanya makan malam? Ada orang yang selalu makan malam pada jam tertentu; lapar atau tidak lapar, itu harus dilakukan. Tetapi ada pula orang yang menunggu sampai perut terasa lapar. Memang jika perut belum lapar, kata orang, makanan yang enak bagaimanapun akan terasa kurang “sreg”. Sebaliknya, jika perut kita lapar dan mulut terasa haus, makanan dan minuman apapun terasa enak dan menyegarkan. Kemampuan untuk merasa lapar adalah berkat Tuhan agar kita bisa merasakan kasih karuniaNya dan bersyukur kepadaNya.

Keberhasilan adalah satu hal yang masih diidam-idamkan banyak orang. Walaupun dalam pandangan umum sebagian orang mungkin sudah cukup berhasil dalam hidupnya, banyak diantara mereka yang dianggap sukses masih belum juga puas dengan apa yang sudah dicapainya. Menggantungkan cita-cita setinggi langit mungkin adalah pedoman hidup mereka, dan karena itu seringkali rasa tidak puas timbul, secara sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini, keadaan yang lebih buruk bisa terjadi jika lingkungan yang ada selalu menekankan pentingnya kesuksesan lahiriah sebagai bukti kasih Tuhan.
Bagi mereka yang senang berolahraga atletik atau menontonnya, olahraga jalan cepat seringkali membawa kejutan. Atlit-atlit yang lagi “leading” atau berada didepan, belum tentu bisa memenangkan pertandingan. Jane Saville, seorang atlit pejalan kaki dari Sydney, pada saat mengikuti perlombaan di Olimpiade 2000 di Sydney, berada di posisi terdepan dan hampir mencapai garis finis ketika ia di-diskualifikasi. Kemenangan yang sudah di ambang pintu, tiba-tiba lenyap.
Di Australia ada organisasi yang dinamakan Royal Automobile Club yang ada di berbagai negara bagian. Organisasi ini kebanyakan sudah berumur lebih dari 100 tahun, dan mempunyai tujuan untuk menghimpun para pemilik dan pengemudi mobil dalam segala kegiatan dan kepentingan bermobil. Organisasi yang ada di Queensland misalnya (RACQ) , mempunyai jasa pelayanan di jalan (road assist) yang memberi bantuan kepada mereka yang mengalami kerusakan mobil di jalan, menyediakan asuransi kendaraan dan rumah, dan juga berbagai fasilitas kemudahan lainnya. Selain itu, RACQ menerbitkan majalah bulanan yang berisi ulasan mobil, cara mengemudi di medan tertentu, laporan perjalanan manca negara, dan juga membahas peraturan lalu lintas yang baru atau yang sering disalah-mengertikan.
Suatu perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di luar negeri adalah adanya kuliah melalui internet. Dengan majunya teknologi, seorang murid tidak perlu menghadiri kuliah di universitas, tetapi cukup dengan memutar video rekaman kuliah melalui internet. Semua bahan-bahan kuliah juga tersedia secara elektronik, sehingga murid itu tidak perlu pergi ke perpustakaan atau ke toko buku.
Bacaan: 1 Samuel 2: 11 – 36