Menjadi teladan itu tidak mudah

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4: 12

Jika saya mengingat masa muda, mau tidak mau saya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak? Semasa muda saya ingin cepat-cepat menjadi dewasa, agar orang dewasa mau menghargai pendapat saya dan tidak menganggap saya kurang pengalaman. Sekarang, sesudah menjadi tua, saya ingin kembali menjadi muda, agar orang muda mau menerima pendapat saya dan tidak menganggap saya ketinggalan zaman!

Apa yang bisa kita lakukan agar orang mau menerima pendapat kita? Mereka yang pernah menjadi pemimpin, entah itu di pramuka, keluarga, gereja, kantor dan negara tahu bahwa orang mau menghargai kita jika kita bisa dipercaya, trustworthy. Mereka yang pandai berbicara dan bagus penampilannya mungkin bisa menarik perhatian orang untuk sementara, sampai saat dimana kualitas yang sebenarnya bisa terlihat dengan sepenuhnya. Apa yang palsu pada lambat laun akan ketahuan juga.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada Timotius, rekan juniornya. Paulus menulis untuk membesarkan hati Timotius, agar dia jangan sampai berkecil hati, sekalipun ia masih muda. Memang hal berkecil hati itu bisa membuat seseorang merasa tidak berdaya atau kurang mampu untuk memimpin orang lain. Tetapi siapa yang mau menjadi pemimpin, haruslah mempunyai “percaya diri”. Percaya diri yang bagaimana, itulah yang belum tentu dimengerti manusia yang tidak mengenal Kristus.

Orang seringkali berusaha memperoleh percaya diri dengan berbagai cara. Mungkin saja dengan menonton penampilan para motivator dan mengikuti ajaran mereka. Atau dengan memakai pakaian dan perhiasan mahal. Mungkin juga dengan memakai model rambut dan jenggot yang istimewa. Bahkan ada juga orang yang selalu bermanis-manis atau bertingkah garang di depan umum. Semua ini umumnya dilakukan untuk membuat impresi, dan untuk mencari kemuliaan bagi diri sendiri.

Bagaimana orang Kristen bisa memperoleh percaya diri dan menjadi teladan bagi orang lain? Dalam Alkitab kita bisa melihat bahwa mereka yang disertai Tuhan mempunyai keyakinan untuk bisa mengatasi keadaan dan dengan demikian mampu menjadi pemimpin teladan masyarakat di sekelilingnya. Abraham, Yusuf dan Musa adalah beberapa diantara mereka. Tetapi, mengapa Tuhan mau menyertai mereka? Tuhan menyertai mereka karena ketaatan mereka kepadaNya.

Pagi ini, jika kita ingin untuk menjadi teladan dan mempunyai percaya diri, firman Tuhan berkata bahwa kita harus menjaga perkataan dan tingkah laku kita. Selain itu kita bisa menunjukkan kasih, kesetiaan dan kesucian dalam hidup kita. Baik kita bekerja di lingkungan keluarga, sekolah, universitas, kantor, gereja dan negara, faktor usia bukanlah yang penting untuk menjadi teladan. Hidup kita yang sebenarnya, yaitu hidup sebagai umat Kristen, itulah yang akan disorot masyarakat. Lebih dari itu, jika kita hidup untuk Tuhan dan berjalan sesuai dengan firmanNya, Tuhan akan memberkati kita dengan berbagai berkat karunia sehingga kita makin mampu menjadi teladan bagi banyak orang untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Hal mengejar kepuasan hidup

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Matius 5: 6

Jam berapa anda biasanya makan malam? Ada orang yang selalu makan malam pada jam tertentu; lapar atau tidak lapar, itu harus dilakukan. Tetapi ada pula orang yang menunggu sampai perut terasa lapar. Memang jika perut belum lapar, kata orang, makanan yang enak bagaimanapun akan terasa kurang “sreg”. Sebaliknya, jika perut kita lapar dan mulut terasa haus, makanan dan minuman apapun terasa enak dan menyegarkan. Kemampuan untuk merasa lapar adalah berkat Tuhan agar kita bisa merasakan kasih karuniaNya dan bersyukur kepadaNya.

Rasa lapar di perut dan rasa haus di mulut adalah rasa lapar jasmani. Selama  di dunia, semua makhluk hidup harus mencukupi kebutuhan jasmaninya. Karena itu, mereka harus mempunyai gairah untuk makan dan minum agar energi baru untuk tubuh bisa diterima dan dipakai untuk pertumbuhan atau kesehatan badan. Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia bukannya hanya terdiri dari jasmani saja, tetapi juga rohani. Untuk bisa bertumbuh dalam hal rohani, perlu adanya firman Tuhan yang masuk untuk menyegarkan jiwa kita. Sayang sekali, sebagai makhluk yang paling pandai di alam semesta ini, tidak semua manusia menyadari kebutuhan rohaninya. Kebanyakan orang bisa melihat berbagai kebutuhan jasmani dan mau berjuang mati-matian untuk mencapai kepuasan, tetapi dalam hal rohani mereka agaknya kurang peduli.

Mereka yang sadar akan adanya faktor rohani dalam hidup ini, mungkin mencari kepuasan dari hal-hal yang bukan bersifat kebendaan. Mungkin mereka mencari kebahagiaan dalam pendekatan alam semesta, atau dalam merenungkan ajaran filsuf-filsuf dan guru-guru agama. Bahkan ada juga yang merasa berbahagia jika dapat mengasingkan diri ke tempat yang sepi dan membaca ayat-ayat dari buku suci mereka. Tetapi jika apa yang mereka cari bukanlah kebenaran yang sejati, rasa puas dalam kehidupan tidaklah akan tercapai. Hidup mereka dalam pandangan orang lain mungkin nampak bahagia, tetapi jika mereka tidak mengerti apa arti hidup ini, kekosongan selalu ada dalam hati mereka. Untuk apa hidup ini? Mengapa ada penderitaan dalam hidup? Apa arti keadilan Tuhan? Apa arti segala kepandaian, kesuksesan dan kemegahan yang aku punyai? Siapakah aku ini di antara segala apa yang ada di alam semesta? Kemanakah aku pergi setelah aku mati?

Pagi ini ayat diatas seharusnya menyadarkan kita bahwa jika Tuhan memberikan rasa lapar dan haus dalam hal jasmani kepada kita agar kita bisa menikmati segala berkat makanan dan minuman yang Ia berikan, begitu pula Ia memberikan rasa lapar dan haus untuk rohani kita, agar kita bisa merasakan perlunya bagi kita untuk mendapat kebenaran dari Tuhan yang akan memberi kepuasan dan kedamaian hati.

Banyak orang yang menolak tawaran untuk makan atau minum untuk pertumbuhan rohani mereka karena merasa waktunya belum tepat; dan banyak juga yang tidak mau karena belum merasa lapar atau haus. Ada juga mereka yang hanya mau makan dan minum jika apa yang disajikan sesuai dengan selera mereka. Sekalipun panggilan Tuhan sudah dibisikkan berkali-kali, sebagian tetap mengeraskan hati dan mencoba menutupi rasa lapar dan haus mereka akan kebenaran.

Tahukah anda apa arti hidup anda? Yakinkah anda bahwa anda sudah mencapai segalanya? Ataukah anda masih mendambakan adanya kedamaian, kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup? Tuhan sudah memberikan rasa lapar dan haus akan kebenaran kepada kita, dan karena itu kita harus menyambut karuniaNya dengan kemauan untuk menerima dan menikmati segala berkat rohani yang sudah dipersiapkanNya untuk kita.

Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Yohanes 6: 35

Mengapa Engkau mengabaikan seruanku?

“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” Mazmur 22: 1

Ayat diatas yang diambil dari Alkitab perjanjian lama bunyinya tidak asing untuk kita. Dalam perjanjian baru ada ayat yang serupa. Yesus Kristus ketika tergantung di kayu salib, juga mengucapkan seruan yang serupa menjelang ajalnya. Menurut Markus 15: 34, pada jam tiga hari itu, berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Mengapa Yesus, Anak Allah, menyerukan jeritan seperti itu? Bukankah Ia tahu bahwa penyalibanNya adalah bagian misi penyelamatan umat manusia? Tidakkah Ia sadar bahwa Allah Bapa dan diriNya adalah satu dan tidak terpisahkan? Mungkinkah Dia dalam penderitaanNya merasa bahwa semua itu terasa sangat berat?

Yesus dalam tugasNya untuk melaksanakan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia memang harus merendahkan diriNya seperti manusia. Dengan itu Ia menjadi manusia dalam segala sesuatunya, kecuali dalam hal dosa. Dengan pengurbananNya, Ia dengan sepenuhnya membayar hutang umat manusia.

Seruan Yesus di kayu salib adalah mewakili umat manusia yang menderita, seperti pemazmur yang juga mengalami hal yang serupa. Bahwa sebagai manusia, Yesus bisa merasakan bahwa terkadang tantangan hidup dan penderitaan manusia adalah begitu besar, sehingga Tuhan yang di surga terasa jauh dan diluar jangkauan. Yesus benar-benar menjadi manusia dalam penderitaanNya supaya Ia bisa menjadi perantara antara manusia yang berdosa dan Allah yang mahasuci.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Yesus adalah pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari hukuman dosa. Yesus jugalah yang memberi pengharapan bagi setiap orang yang percaya bahwa Tuhan kita tahu apa yang kita derita selama kita hidup di dunia. Jika kita bisa mengalami kesepian, rasa sakit, siksaan, fitnah, umpatan dan penderitaan lain dalam hidup kita, Yesus pun bisa merasakan agony, sama seperti kita.

Apa yang dijeritkan oleh pemazmur dan Yesus juga menunjukkan adanya dua hal yang sangat penting bagi kita orang percaya. Yang pertama adalah bahwa Tuhan itu ada dan mau mendengar jeritan kita. Tidaklah ada gunanya jika kita memanggil nama seseorang untuk meminta tolong, jika orang yang dipanggil itu tidak ada, atau tidak mempunyai empati. Yang kedua, jeritan itu menunjukkan bahwa hubungan antara yang menjerit dan Tuhan adalah sangat dekat, seperti hubungan seorang anak dan bapanya.

Dengan jeritanNya, Yesus memberi contoh kepada kita yang sekarang sedang mengalami perjuangan berat. Kita yang sudah diselamatkan oleh darah Kristus adalah anak-anak Allah, yang berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Kita boleh dengan keyakinan menjerit kepadaNya untuk meminta tolong, dan juga dengan keyakinan bahwa pada saatnya, Bapa kita akan memberi kelepasan.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pagi ini, jika beban hidup terasa menghimpit kita dan tidak ada seorang pun yang mengerti atau bisa menolong kita, kita harus ingat bahwa Yesus pernah mengalami hal yang serupa. Seperti Yesus, kita boleh berseru kepada Bapa kita: Eloi, Eloi, lama sabakhtani?

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Yohanes 16: 33

Sudah lahir baru?

Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yohanes 3: 3

Pernahkah anda mendengarkan pembicaraan orang Kristen mengenai hal lahir baru atau dilahirkan kembali (born again)? Mungkin anda mempunyai seorang teman yang rajin ke gereja, tetapi menurut kata orang masih belum lahir baru, alias masih hidup dalam dosa. Memang ada orang yang memakai istilah “Kristen lahir baru” untuk mereka yang sudah terlihat menjalani hidup yang menurut firman Tuhan. Apapun pengertian lahir baru itu, ayat diatas menyatakan bahwa hanya orang yang benar-benar dilahirkan kembali, akan menerima penyelamatan.

Apakah lahir baru itu? Apakah dilahirkan kembali itu adalah keadaan dimana seseorang mau bekerja keras untuk mempertahankan keselamatannya? Apakah lahir baru adalah keadaan dimana orang Kristen sudah terlihat baik hidupnya? Apakah mereka yang sudah percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan harus berusaha mati-matian untuk hidup baik agar lahir baru? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, seperti pertanyaan Nikodemus kepada Yesus pada waktu itu (Yohanes 3: 1 – 8).

Pada waktu Yesus disalib, disebelah kiri dan kananNya ada dua orang penjahat yang juga disalibkan. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi penjahat yang lain menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?” (Lukas 23: 39 – 40). Penjahat yang menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan adalah orang yang beruntung karena ia percaya kepada Yesus. Ia pada saat itu juga telah dilahirkan kembali, hidup lamanya yang penuh dosa, sudah menjadi putih bersih melalui pengampunan Tuhan.

Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Lukas 23: 43

Jika penjahat yang mengaku percaya kepada Yesus itu dapat menerima keselamatan, itu adalah bukan karena usahanya sendiri. Dalam kenyataannya, waktunya sudah habis untuk bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah orang yang sudah bertobat. Tetapi, apa yang dilihat manusia bukanlah apa yang dilihat Tuhan. Apapun yang baik menurut manusia tidak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman Tuhan yang mahasuci. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan apakah kita “cukup baik” atau “good enough” bagi Dia, dan itu hanya bisa terjadi hanya melalui darah Kristus. Jika kita mengakui dosa kita dan benar-benar percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, kita akan memperoleh jaminan keselamatan. Itulah lahir baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Memang, banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa kita harus bekerja keras untuk lahir baru atau untuk mempertahankan keselamatan kita. Pengertian seperti itu adalah keliru, karena keselamatan sudah diberikan Tuhan secara cuma-cuma kepada orang yang percaya, bukan kepada orang yang dipandang baik dalam mata manusia. Lahir baru adalah karunia Tuhan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Pagi ini, tantangan untuk kita adalah untuk hidup baik sesuai dengan firman Tuhan, jika kita memang sudah dilahirkan kembali. Jika ada orang yang mempertanyakan mengapa kita berusaha untuk makin hari makin baik, kita tahu jawabnya. Perbuatan baik adalah sambutan kita kepada kasihNya, sebagai rasa syukur kita kepada Tuhan. Kita juga tahu bahwa orang yang dengan sengaja tetap memilih untuk hidup bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak benar-benar percaya bahwa pengurbanan Yesus di kayu salib adalah karunia Allah yang terbesar untuk manusia, yang harus selalu disyukuri. Orang yang sedemikian adalah orang yang belum menerima karunia hidup baru dari Tuhan. Tidak ada kemungkinan lain.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Apa lagi yang masih kurang?

“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” 2 Petrus 1: 5 – 7

Keberhasilan adalah satu hal yang masih diidam-idamkan banyak orang. Walaupun dalam pandangan umum sebagian orang mungkin sudah cukup berhasil dalam hidupnya, banyak diantara mereka yang dianggap sukses masih belum juga puas dengan apa yang sudah dicapainya. Menggantungkan cita-cita setinggi langit mungkin adalah pedoman hidup mereka, dan karena itu seringkali rasa tidak puas timbul, secara sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini, keadaan yang lebih buruk bisa terjadi jika lingkungan yang ada selalu menekankan pentingnya kesuksesan lahiriah sebagai bukti kasih Tuhan.

Perasaan bahwa Tuhan kurang adil atau pertanyaan mengapa orang lain sukses sedangkan aku tidak, seringkali muncul dalam hati dan pikiran manusia. Hal ini tentu saja bisa membuat hidup orang yang bersangkutan menjadi suram hidupnya atau miserable. Apa salahku? Mengapa Tuhan tidak adil? Perasaan gundah bisa makin menjadi jika pemimpin gereja sering menghubungkan kesuksesan manusia dengan ukuran iman mereka. Perasaan bersalah bisa timbul karena iman yang dirasakan kecil. Manusia menjadi lupa bahwa iman datang dari Tuhan, dan kesuksesan menurut ukuran dan standar manusia tidaklah sama dengan apa yang dikehendaki Tuhan.

Pagi ini, kita mencoba memahami apakah Tuhan menghendaki umatNya sukses, dan jika itu benar, kesuksesan yang bagaimanakah yang dikehedakiNya? Apakah Tuhan mengukur kesuksesan anak-anakNya dari kekayaan, kepandaian, kemasyhuran dan kekuatan mereka? Dalam hal ini jawaban pertanyaan diatas mudah didapat jika kita ingat bahwa misi Yesus ke dunia sudah berhasil atau sukses bukan karena sebagai anak Allah ia sudah menunjukkan kekayaan dan kebesaranNya kepada seisi dunia. Kesuksesan Yesus adalah keberhasilanNya untuk menggenapi kehendak Allah Bapa untuk menjadi manusia yang sederhana tetapi taat kepada panggilanNya untuk menebus dosa manusia.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Ayat diatas menunjukkan bahwa kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus haruslah mau menjadi seperti Dia. Menjadi orang-orang Kristen yang bukan mementingkan kesuksesan dalam mengumpulkan harta, membina karir dan mencapai kemuliaan duniawi, tetapi mencari kesuksesan dalam usaha menambahkan iman kita dengan kebajikan, pengetahuan akan kebenaran, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, dan kasih akan semua orang. Berbeda dengan orang-orang yang mementingkan harta duniawi, orang Kristen sejati selalu mementingkan harta surgawi yang tidak bisa lenyap, yang membuat mereka makin sukses dalam hal mengenal Juruselamat mereka, Yesus Kristus.

“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.” 2 Petrus 1: 8

Jangan mau digagalkan

“Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi.” Kolose 2: 18

Bagi mereka yang senang berolahraga atletik atau menontonnya, olahraga jalan cepat seringkali membawa kejutan. Atlit-atlit yang lagi “leading” atau berada didepan, belum tentu bisa memenangkan pertandingan. Jane Saville, seorang atlit pejalan kaki dari Sydney, pada saat mengikuti perlombaan di Olimpiade 2000 di Sydney, berada di posisi terdepan dan hampir mencapai garis finis ketika ia di-diskualifikasi. Kemenangan yang sudah di ambang pintu, tiba-tiba lenyap.

Orang Kristen sering diibaratkan sebagai atlit pelari oleh rasul Paulus. Ia pernah mengatakan bahwa kita harus memandang kedepan dan berlari menuju tujuan, yaitu mahkota kemenangan didalam Kristus. Ia juga mengatakan bahwa kita harus menuruti aturan-aturan pertandingan, yaitu firman Tuhan, untuk bisa mencapai kemenangan.

“Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.” 2 Timotius 2: 5

Jelas bahwa siapa yang ingin menang dalam perjuangan hidup ini haruslah tetap berjalan dalam kebenaran Tuhan. Dalam hal ini, Alkitab adalah buku pedoman, firman dari Tuhan yang memberi kaidah hidup baru umat Kristen.

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” 2 Timotius 3: 16 – 17

Walaupun kebenaran Alkitab itu seharusnya sama bagi setiap pengikut Kristus, dalam kenyataannya ada orang-orang yang mempunyai penafsiran mereka yang berbeda dengan apa yang diajarkan Alkitab. Mereka itu seringkali mengajak orang lain untuk melakukan praktik-praktik religius yang tidak atau kurang sesuai dengan firman Tuhan. Sebagian dari mereka menuntut umat Kristen untuk melakukan ritual-ritual tertentu agar bisa memastikan keselamatan mereka. Ajaran semacam ini sampai sekarang pun masih ada, yang sering menyatakan bahwa iman kepada Kristus saja tidak cukup untuk membawa kearah keselamatan.

Pagi ini, firman Tuhan sekali lagi mengingatkan bahwa manusia diselamatkan bukan karena usaha kita sendiri, tetapi karena kemurahan Tuhan saja (Efesus 2: 8 – 9). Jika kita ke gereja hari ini, itu adalah keinginan kita untuk bersyukur kepada Tuhan dan untuk mendengarkan firmanNya. Pergi ke gereja dan menjalankan ritual tertentu memang bisa memperdekat hubungan kita dengan Tuhan, tetapi kita harus berhati- hati untuk tidak menggantungkan keselamatan kita pada apa yang diajarkan manusia dan yang bersifat duniawi. Yesus sudah menebus dosa kita dan kita sudah menang didalam Dia; karena itu kita tidak boleh membiarkan orang lain untuk mencuri kemenangan kita dengan menambahkan syarat-syarat tambahan untuk meraih keselamatan.

“Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” 1 Korintus 7: 23

Harus tahu untuk mengerti

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Di Australia ada organisasi yang dinamakan Royal Automobile Club yang ada di berbagai negara bagian. Organisasi ini kebanyakan sudah berumur lebih dari 100 tahun, dan mempunyai tujuan untuk menghimpun para pemilik dan pengemudi mobil dalam segala kegiatan dan kepentingan bermobil. Organisasi yang ada di Queensland misalnya (RACQ) , mempunyai jasa pelayanan di jalan (road assist) yang memberi bantuan kepada mereka yang mengalami kerusakan mobil di jalan, menyediakan asuransi kendaraan dan rumah, dan juga berbagai fasilitas kemudahan lainnya. Selain itu, RACQ menerbitkan majalah bulanan yang berisi ulasan mobil, cara mengemudi di medan tertentu, laporan perjalanan manca negara, dan juga membahas peraturan lalu lintas yang baru atau yang sering disalah-mengertikan.

Untuk saya yang sudah memegang SIM Australia selama 35 tahun, ulasan peraturan lalu lintas di majalah RACQ sangatlah menarik. Seringkali, dari membaca ulasan itu saya diingatkan bahwa peraturan lalu lintas tertentu itu ada, dan juga kadang-kadang diinsafkan bahwa pengertian saya tentang peraturan tertentu itu ternyata keliru. Memang untuk mendapat SIM di Australia tidaklah mudah, banyak orang yang gagal untuk memperolehnya pada kesempatan pertama; tetapi adanya SIM tidak menjamin bahwa pemiliknya faham atau ingat akan peraturan lalu lintas tertentu, ataupun mampu untuk menaatinya.

Hafal akan hukum yang ada belum tentu menjamin seseorang untuk bisa menjalaninya. Tetapi siapa yang tidak mengenal atau lupa akan adanya hukum, tentunya akan sulit untuk menaatinya. Begitu juga orang Kristen yang tidak tahu atau lupa akan firman Tuhan di Alkitab, akan sulit untuk hidup dalam kebenaran. Alkitab adalah firman Tuhan, dan karena itu setiap orang Kristen harus sering membaca dan mempelajarinya agar bisa melaksanakannya dalam hidup sehari-hari. Pengertian yang sama juga dimiliki penganut agama-agama lain, yang menggalakkan semangat untuk menghafal ayat-ayat kitab suci mereka dengan mendorong sebagian umat mereka untuk menjadi teladan.

Adalah kenyataan bahwa sebagian besar orang Kristen tidaklah tertarik untuk menghafalkan ayat Alkitab. Ada yang tidak punya waktu untuk menggumuli firman Tuhan, karena itu lebih senang untuk sekali seminggu ke gereja untuk mendapat “firman instan”. Selain itu ada juga yang beranggapan bahwa adalah lebih baik untuk menjadi pelaku firman daripada menjadi orang yang hanya hafal firman. Bukankah orang yang paling hafal akan hukum Tuhan adalah orang Farisi? Bukankah Yesus membenci orang sedemikian, karena walaupun mereka tahu firman Tuhan, mereka tidak melaksanakannya?

Memang benar bahwa orang yang tahu adanya perintah Tuhan tetapi tidak melaksanakannya adalah orang yang munafik. Jika ini kita bayangkan, barangkali orang semacam ini adalah seperti pengemudi mobil yang punya SIM dan sudah lama mengemudi, tetapi tetap sering dengan sengaja melanggar peraturan lalu lintas. Sebaliknya, mereka yang tidak mau mempelajari firman Tuhan tetapi ingin hidup sebagai orang Kristen adalah seperti orang yang ingin mengemudikan mobil sekalipun tidak mengerti peraturan lalu lintas. Mungkin saja mereka hafal akan beberapa ayat Alkitab, tetapi mereka tidak mengerti konteks dan aplikasinya. Bagaimana mungkin mereka bisa survive dalam perjalanan hidup tanpa mencelakai diri sendiri dan orang lain?

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa selama hidup, kita harus mau memakai firman Tuhan sebagai pembimbing langkah kehidupan kita. Membaca dan menghafal firman Tuhan adalah sebuah kesempatan yang berharga dan tanggung jawab setiap orang Kristen. Kita tidak dapat menjadi orang Kristen “semau gue“, yang tidak mempedulikan peraturan dan bimbingan Tuhan. Tuhan memang panjang sabar dan mahakasih, tetapi Ia menghargai mereka yang takut akan Dia.

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 8 – 13

Kapan kita boleh mencuri?

“Jangan mencuri” Keluaran 20: 15

Di Australia, terutama di perusahaan atau kantor yang besar, biasanya ada tersedia sebuah “common room“, yaitu ruang serba guna yang bisa digunakan semua pekerja untuk beristirahat atau makan siang. Tempat ini bukanlah sebuah cafeteria yang menjual makanan, tetapi sebuah ruang yang mempunyai fasilitas membuat kopi dan teh, microwave oven, dan lemari pendingin untuk menyimpan susu dan makanan.

Suatu hal yang aneh tapi nyata, yang selalu terjadi di common room, adalah hilangnya sendok teh. Setiap orang yang ingin membuat kopi atau teh harus membawa cangkir mereka sendiri, tetapi sendok-sendok teh biasanya disediakan untuk dipakai bersama. Sendok inilah yang selalu habis menghilang setelah kira-kira 2-3 bulan, mungkin dengan kecepatan 2-3 sendok seminggu. Ini adalah suatu fenomena yang sudah sering dibuat bahan lelucon dan bahkan topik riset. Analisa statistik tentang menghilangnya sendok teh ini sudah pernah diterbitkan dengan judul The case of disappearing teaspoons. Walaupun begitu, orang sudah tidak peduli akan fakta bahwa ini adalah kasus pencurian dan bukan sekedar geguyonan atau kebiasaan.

Apa arti mencuri?  Apakah mencuri selalu merupakan dosa?  Inilah beberapa hal yang sering dipertanyakan, sekalipun orang tentunya menyadari bahwa definisi umum kata “mencuri” adalah mengambil barang orang lain tanpa izin atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mencuri bisa berupa mengambil mangga dari pohon tetangga, meminjam pakaian atau HP teman tanpa ijin, mencontoh solusi ujian/riset orang lain, atau tidak membayar hutang, sampai hal yang bisa menjadi pokok berita heboh di media, seperti melarikan pasangan orang lain atau menggelapkan uang negara.

Jika kita melihat apa yang tertulis dalam ayat diatas, yang merupakan salah satu dari sepuluh hukum Tuhan, kita mungkin dengan mudah berkata bahwa mencuri dalam segala bentuknya adalah dosa. Baik mencuri barang yang kecil maupun besar adalah dosa. Tetapi, bagaimana jika kita mengambil barang seseorang karena kita merasa bahwa orang yang empunya tidak berkeberatan? Bagaimana pula jika kita mengambil barang orang lain yang sudah tidak dipakai? Atau jika seorang mencuri karena terpaksa, karena keadaan yang berat yang dialaminya?

Bagi sebagian orang, mencuri adalah sesuatu yang mempunyai kepuasan tersendiri. Orang yang bisa menggunakan fasilitas atau sarana tanpa membayar sering merasa senang dan puas. Mereka yang menemukan barang berharga yang tertinggal di tempat umum, bisa saja tergoda untuk mengambilnya. Bagi mereka, kalau orang lain berbuat hal yang sama, dan tidak ada hukum setempat yang melarangnya, itu bukan mencuri.  Tetapi, menggunakan atau mengambil sesuatu yang bukan hak atau milik kita adalah mencuri.

Memang ada situasi yang berat, yang memaksa sesesorang untuk mencuri. Misalnya, mereka yang kelaparan dan tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, mungkin terpaksa untuk mencuri. Ini pun dosa yang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini juga bisa menyebabkan orang di sekitarnya berbuat dosa juga karena membiarkan hal ini sampai terjadi. Perintah Yesus untuk mengasihi sesama kita, membuat kita ikut bertanggung jawab jika seseorang terpaksa mencuri, sedangkan kita mampu untuk memberi pertolongan.

Mencuri tidak selalu berupa kegiatan “mengambil”, tetapi juga bersangkutan dengan kegiatan “memberi”. Mereka yang tidak memberikan apa yang seharusnya diberikan/dibaktikan kepada seseorang, masyarakat, negara, dan dunia adalah mencuri hak orang lain.  Sebagai contoh, setiap orang Kristen diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Tidak membayar pajak atau sengaja mengurangi jumlah pajak yang seharusnya dibayar kepada pemerintah adalah mencuri hak pemerintah.

“Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 6-7

Mencuri juga bisa berupa penyalahgunaan apa yang diberikan Tuhan kepada kita untuk maksud-maksud tertentu. Tidak menggunakan waktu kita untuk melakukan hal yang baik adalah mencuri waktu yang diberikan Tuhan, sebab Tuhan memberi kita kehidupan bukan untuk dipakai secara sembarangan, tetapi untuk memuliakanNya. Segala berkat yang dilimpahkanNya bukannya untuk kemuliaan kita, tetapi untuk kebesaranNya. Karena itu, dalam keadaan apapun kita tidak boleh lupa untuk menyatakan rasa syukur kita kepadaNya.

Pagi ini, kita bisa melihat bahwa ayat diatas adalah singkat dan mudah dimengerti, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Tetapi, bagi kita yang sudah menerima anugrah keselamatan dari Yesus Kristus, kesadaran tentunya ada bahwa sebagai umat Kristen kita tidak seharusnya mencari keuntungan dalam segala kesempatan. Kita harus sadar bahwa kebiasaan memberi adalah lebih baik daripada menerima. Kebiasaan memberi akan menumbuhkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama, dan akan mengurangi godaan untuk menerima atau mengambil sesuatu dari orang lain.

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35

Kesedihan membawa kepercayaan

“Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” Mazmur 13: 2

Suatu perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di luar negeri adalah adanya kuliah melalui internet. Dengan majunya teknologi, seorang murid tidak perlu menghadiri kuliah di universitas, tetapi cukup dengan memutar video rekaman kuliah melalui internet. Semua bahan-bahan kuliah juga tersedia secara elektronik, sehingga murid itu tidak perlu pergi ke perpustakaan atau ke toko buku.

Segala kemajuan teknologi memang bisa membawa kemudahan; walaupun demikian, tentu ada juga kemunduran atau akibat sampingan yang terjadi. Dalam hal pendidikan jarak jauh (distance education), kemunduran yang terjadi adalah dalam hubungan langsung antar murid dan antara murid dan dosen yang hilang, yang diganti dengan kontak melalui internet. Murid tidak bisa mengenal dosen, dan dosen tidak tahu akan sifat dan reaksi murid. Karena tidak adanya perjumpaan muka dengan muka, para murid seringkali lebih bebas untuk mengutarakan uneg-uneg mereka. Karena itu, tidak mengherankan jika ada kejadian dimana murid membuli atau menggosip dosen tertentu. Kejadian semacam ini tentu saja bisa menyebabkan kesedihan dan bahkan trauma psikologis bagi dosen yang bersangkutan.

Dalam hidup di dunia, memang tidak dapat dihindari adanya orang-orang yang kurang menyenangi kita, dan bahkan membenci kita. Apapun yang kita perbuat, tidak bisa membuat mereka senang. Lebih buruk lagi, ada orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan orang, yang mempunyai naluri untuk menghancurkan hidup atau karir orang lain. Dengan segala tindakan mereka, orang mungkin merasa bahwa ada musuh-musuh yang selalu menunggu saat yang baik untuk menyerang.

Pemazmur, dalam ayat diatas, juga mengalami hal yang serupa. Ia merasa hidupnya berat karena musuh-musuh yang menekan dia. Hidupnya penuh kekuatiran dan kesedihan, karena ia merasa tidak berdaya. Tuhan seolah sudah melupakan dan meninggalkan dia.

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” Mazmur 13: 1

Bagi orang percaya, tidak ada kesedihan yang lebih besar dari perasaan bahwa Tuhan sudah menelantarkan dia. Ini bukan hanya terjadi pada mereka yang lemah rohaninya, tetapi bisa dialami semua umat Kristen, baik muda atau tua, miskin atau kaya, di desa maupun di kota. Selama hidup di dunia, semua orang bisa mengalaminya.

Dalam Perjanjian Baru, Paulus yang pernah mengalami banyak hal yang serupa dengan apa yang dialami oleh pemazmur diatas, menuliskan keyakinannya sebagai satu nasihat kepada jemaat di Korintus.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Pagi ini, jika kita bangun tidur dengan mata yang masih terasa berat dan tubuh yang lelah, pikiran kita mungkin menganjurkan kita untuk menyerah. Tuhan seakan sudah meninggalkan kita. Hati kita mungkin menjerit seperti pemazmur: “Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.”

Seperti Tuhan mendengarkan jeritan pemazmur, Tuhan juga mau menguatkan kita. Ia belum tentu menghilangkan kesulitan dalam hidup kita, tetapi melalui kesulitan yang kita hadapi, Tuhan mengingatkan kita bahwa Ia yang sudah berbuat baik pada masa yang lalu, Ia jugalah yang menyertai kita dan akan menolong kita pada saat yang tepat. Pujilah Tuhan yang mahakasih!

“Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” Mazmur 13: 5 – 6

Mudahnya menjadi orang dursila

“Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN” 1 Samuel 2: 12

Bacaan: 1 Samuel 2: 11 – 36

Salah satu kata dalam Alkitab berbahasa Indonesia yang menarik perhatian saya adalah kata “dursila”. Dalam Alkitab berbahasa Inggris yang banyak versinya, kata dursila ini muncul sebagai kata “wicked“, “scoundrel“, “worthless“, “corrupt” dan sebagainya. Secara umum kata-kata itu menunjukkan karakter dan cara hidup manusia yang sangat buruk. Mungkin, jika ada Alkitab berbahasa Indonesia yang berversi lain, kata durhaka, durkasa dan durjana bisa juga dipakai sebagai kata alternatif.

Mengapa anak-anak lelaki nabi Eli, Hofni dan Pinehas, disebut sebagai orang dursila? Berbagai kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan sifat dan kelakuan mereka menunjukkan bahwa tidaklah cukup jika kita memakai kata “jahat” atau “amoral”. Mereka adalah orang-orang jahat, kejam, amoral, dan culas, yang tidak peduli akan hukum dan orang lain. Lebih dari pada itu, mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada Tuhan.

Pada waktu itu anak-anak Eli adalah orang-orang dewasa yang suka menjarah kurban persembahan untuk Allah. Bukannya mereka menunggu sampai upacara persembahan selesai dan kemudian mengambil bagian daging bakaran yang sesuai dengan hukum yang ada, mereka sebaliknya mengambil apa saja yang mereka mau, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Lebih dari itu mereka juga berzinah dengan perempuan-perempuan Israel yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.

Jika kesalahan anak-anak Eli adalah sangat besar menurut standar kepercayaan umat Israel pada waktu itu, semuanya adalah suatu dosa besar yang membuat Allah sangat murka. Segala kesalahan itu dapat disimpulkan sebagai tidak adanya rasa takut kepada Tuhan. Mereka yang seharusnya mengenal Tuhan yang mahasuci, justru mengabaikan adanya Tuhan dengan berbuat semaunya dan dengan tidak menghiraukan teguran Eli, ayah mereka.

Bagi kita, adalah mudah untuk berkata bahwa sudah sepantasnya bahwa Tuhan menghukum anak-anak Eli untuk kedursilaan mereka, dan juga menghukum Eli yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menegur mereka. Dalam hal ini, sungguh menarik perhatian bahwa Eli seakan pasrah kepada Tuhan dan tidak lagi peduli akan kemarahan Tuhan yang merasa terhina atas segala apa yang terjadi (1 Samuel 3: 18). Keacuhan kita akan adanya dosa di sekitar kita, adalah termasuk dosa juga.

Mungkin kita berpikir bahwa kita tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat anak-anak Eli. Kita barangkali yakin bahwa perbuatan seperti menjarah, merampok, mencuri, membuli dan berselingkuh tidak pernah kita lakukan dalam hidup ini. Tetapi, apa yang menjadi penyebab utama kemarahan Tuhan adalah sikap hidup manusia yang mengabaikanNya. Perbuatan-perbuatan jahat hanyalah manifestasi hati dan pikiran yang menaruh Tuhan di satu sudut hidup kita untuk bisa dilupakan. Out of sight, out of mind.

Mengabaikan Tuhan tidak selalu berupa tindakan dursila yang jelas terlihat. Eli yang tidak merasa terbeban untuk menghentikan kejahatan anak-anaknya, juga melakukan dosa besar dalam pandangan Tuhan yang mahasuci. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika hidup kita berjalan cukup “normal” untuk ukuran manusia dan kita merasa senang karenanya, itu belum tentu merupakan keadaan yang disukai Tuhan.

Orang yang dursila adalah manusia yang tidak lagi menempatkan Tuhan yang mahasuci di tempat yang tertinggi dalam hidupnya. Ia sering mengabaikan firmanNya, tidak lagi sadar akan kebesaran Tuhan, dan tidak lagi menghormatiNya dalam setiap segi kehidupannya. Sungguh tidak sukar bagi kita untuk menjadi manusia dursila!

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” 1 Samuel 2: 30