Harapan masa depan dan tugas masa kini

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Wahyu 21: 4

Australia baru saja mengadakan pemilihan umum minggu lalu. Dari hasil penghitungan suara selama kurang lebih 6 jam setelah pemilu selesai, sudah dapat dipastikan bahwa perdana menteri yang sekarang mendapat mandat untuk 3 tahun lagi. Rakyat secara demokrasi sudah memilih seorang pemimpin negara untuk mewujudkan apa yang dijanjikannya selama berkampanye.

Adalah sudah menjadi rahasia umum bahwa selama berkampanye, mereka yang ingin terjun ke dunia politik selalu berusaha keras untuk mengajak rakyat untuk memilih mereka. Untuk itu, mereka seakan berlomba-lomba untuk menjanjikan hal-hal yang besar dan hebat untuk rakyat. Dalam kenyataannya, tidak semua yang dijanjikan itu bisa dicapai dalam kurun waktu yang ada. Itu bisa karena adanya salah perhitungan, kekurangan dana, perubahan situasi dan sebab-sebab lain.

Secara umum, sebenarnya semua pemimpin negara ingin untuk memajukan negaranya dan mau mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Memang, adanya pemerintah tentunya ditujukan untuk membawa kemajuan dan kemakmuran bangsa sehingga semua orang bisa menikmati hidup yang baik dalam hal sosial, ekonomi, bisnis, pendidikan, teknologi dan lain-lain. Walaupun begitu, di negara manapun selalu tetap ada rakyat yang menderita. Air mata, dukacita, kekurangan, penyakit, kematian, perkabungan selalu ada, dan merupakan bagian hidup manusia di dunia.

Pagi ini, jika kita merasa bahwa hidup di dunia ini sangat berat, ayat dari kitab Wahyu diatas menjelaskan bahwa keadaan di surga adalah sangat berbeda dari keadaan di dunia. Di surga, Tuhan akan menghapus segala air mata dari mata setiap orang yang diselamatkan, dan kematian tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi dukacita, sebab segala sesuatu yang fana sudah lenyap diganti dengan sukacita yang kekal.

Hidup di surga adalah tujuan setiap orang percaya. Berbeda dengan janji manusia, apa yang sudah dijanjikan Tuhan kepada umatNya pasti akan dipenuhiNya karena Tuhan adalah Allah yang setia dengan janjiNya dan sanggup mewujudkan semua rencanaNya. Dalam hal ini, apakah segala apa yang kita alami di dunia ini sia-sia? Untuk apa kita berjuang dalam hidup di dunia ini?

Selama hidup di dunia, sebagai orang Kristen kita memang mengarahkan pandangan kita menuju apa yang indah, yang sudah dijanjikan Tuhan. Walaupun demikian, selagi kita masih hidup di dunia kita wajib untuk bekerja untuk membangun negara dan bangsa kita dengan memakai keadaan di surga sebagai contoh dan model bagi perjuangan kita. Biarlah melalui hidup kita makin banyak orang yang bisa merasakan penyertaan Tuhan atas perjuangan hidup mereka dan mau berharap kepada kebahagiaan yang sempurna di surga sebagai anak-anak Allah!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Hormatilah pemimpinmu

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Di Australia, olahraga adalah salah satu mata pelajaran yang dianggap penting di sekolah. Dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan, para murid tidak saja harus mengikuti pelajaran olahraga di lapangan, tetapi harus juga berpartisipasi dalam berbagai pertandingan olahraga tahunan yang disebut sports carnival, yang mungkin  berbentuk pertandingan renang (swimming carnival) atau pertandingan atletik (athletic carnival). Selain itu, murid-murid yang berbakat olahraga biasanya mempunyai kegiatan akhir pekan  di klub olahraga lokal, seperti klub sepakbola, rugby, bola keranjang dan sebagainya.

Akhir-akhir ini di tempat pertandingan olahraga lokal terjadi beberapa hal yang kurang menyenangkan. Media melaporkan adanya insiden dimana  orang tua murid bertengkar atau berkelahi dengan wasit pertandingan karena kurang puas dengan keputusan wasit yang menyangkut anak-anak mereka. Beberapa wasit malahan dimaki atau dipukul oleh orang tua murid gara-gara wasit yang dianggap berat sebelah. Yang sangat menyedihkan adalah bahwa orang tua seperti itu melakukan tindakan kekerasan di depan anak-anaknya, dan dengan demikian tentunya memberi contoh yang tidak baik kepada mereka.

Rasa hormat kepada yang orang yang berkuasa atau para pemimpin memang biasanya diharapkan dari setiap anggota masyarakat. Tetapi, biasanya penghormatan itu tidak selalu harus berdasarkan hukum. Anak-anak belajar menghormati orang lain dari pendidikan orang tua mereka. Di sekolah, mereka diharuskan menghormati guru-guru berdasarkan peraturan sekolah yang tidak selalu tertulis. Dalam masyarakat, mereka belajar menghormati para pemimpin setempat, polisi, atau tokoh pemerintah lainnya sesuai dengan etika dan kebiasaan. Walaupun demikian, ada kecenderungan akhir-akhir ini bahwa rakyat, terutama kaum muda, yang kurang puas dengan apa yang diperbuat para pemimpin, kemudian melakukan ha-hal yang tercela seperti melempari pejabat dengan telur mentah dan sebagainya.

Ayat diatas menyatakan bahwa Tuhan yang menghendaki adanya ketertiban menyuruh  seluruh umatNya untuk menghormati etika, peraturan, dan hukum dalam hal membayar pajak dan menghormati mereka yang berkuasa. Bukan saja umat Kristen harus menghormati para pemimpin gereja karena mereka adalah pemimpin kerohanian, umat Kristen juga harus menghormati orang lain diluar gereja karena semua pemimpin negara yang sah ditetapkan Tuhan untuk mengatur masyarakat.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Pagi ini kita mungkin bisa melihat adanya kecenderungan manusia dimana saja untuk mengabaikan Tuhan. Mereka mungkin menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada atau tidak berkuasa atas hidup mereka. Mereka mulai kehilangan rasa hormat kepada orang tua, guru, pendeta ataupun pemimpin yang lain. Kecenderungan untuk memberontak mulai muncul sejak saat mereka masih kecil dan bertambah besar ketika mereka menjadi orang dewasa.

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia. Kita harus bisa memberi contoh yang nyata bagaimana kita menghormati mereka yang berwenang (authority). Kita yang takut akan Tuhan mempunyai kewajiban untuk mengajarkan tata tertib dan sopan santun kepada anak-cucu kita. Kita juga dipanggil untuk menjalani hidup baru kita sesuai dengan firman Tuhan, dan menghargai adanya etika dan hukum yang sesuai dengan ajaran Alkitab.  Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita juga harus memegang prinsip-prinsip kebenaran yang ada dalam hati kita dalam menghadapi mereka yang suka melawan sopan santun, etika dan hukum. Biarlah Tuhan memberi kita bimbingan dan perlindunganNya dalam hidup bermasyarakat.

“Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” Roma 13: 5

Kasih mengalahkan segalanya

“Kebencian menimbulkan pertengkaran,  tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” Amsal 10: 12

Dalam lagu Imagine yang sangat terkenal pada tahun 1970an,  John Lennon mengumandangkan syair ini:

Patutkah kita marah kepada Tuhan?

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Siapakah yang berani marah kepada Tuhan semesta alam? Tentunya jika orang benar-benar percaya kepada Tuhan yang mahabesar dan mahakuasa, mereka tidak akan berani menentang atau marah kepadaNya. Walaupun begitu, ada beberapa hal yang mungkin bisa menarik perhatian kita jika ada orang yang marah kepada Tuhan.

Yang pertama, mereka yang marah kepada Tuhan tentunya percaya bahwa Tuhan itu ada. Yang kedua, seringkali orang marah kepada Tuhan karena mereka menganggap bahwa Tuhanlah yang menyebabkan atau membiarkan adanya masalah dalam hidup mereka. Yang ketiga, mereka yang marah mungkin merasa bahwa Tuhan mau saja untuk mendengarkan segala protes kemarahan mereka dengan kasih dan kesabaranNya. Yang keempat, mereka yang marah mungkin sudah tidak peduli lagi akan reaksi Tuhan atas kemarahan mereka. Keempat hal inilah yang mungkin ada dalam pikiran nabi Yunus.

Apa yang terjadi pada nabi Yunus? Yunus baru saja mengalami hal yang mengecewakan. Ia mengharapkan Tuhan menghukum orang Niniwe dengan menghancurkan mereka. Tetapi apa yang terjadi adalah kebalikannya: orang Niniwe bertobat dan Tuhan mengampuni mereka. Yunus menjadi sangat marah karena ia tidak mengerti bahwa Tuhan mengasihi segala bangsa (Yunus 4: 1).

Walaupun kemarahan Yunus tidak pada tempatnya, sungguh mengherankan bahwa Tuhan tidak marah kepada Yunus. Ia hanya menegur Yunus dengan sebuah pertanyaan (Yunus 4: 4): “Layakkah engkau marah?”. Tuhan memberikan kesempatan bagi Yunus untuk mengerti bahwa Tuhan yang mahakasih menghendaki semua bangsa untuk memperoleh kesempatan untuk mengenal Dia.

Dengan kemarahannya, Yunus pergi ke luar kota Niniwe dan menantikan apa yang kemudian akan diperbuat Tuhan. Mungkinkah Tuhan tetap akan memberi hukuman, sekalipun tidak sebesar semula, kepada orang Niniwe?  Yunus  yang ingin menyaksikan sebuah pertunjukan yang menarik, membuat sebuah pondok untuk bernaung dari sinar panas matahari. Tuhan yang mahakasih kemudian menumbuhkan sebuah pohon jarak untuk menambah keteduhan. Tetapi, Tuhan kemudian mendatangkan ulat yang membuat pohon jarak itu layu dan mendatangkan angin panas sehingga Yunus menjadi lesu. Yunus seperti seorang anak kecil, kemudian menjadi marah dan berkata bahwa ia ingin mati saja.

Pagi ini, keadaan yang dialami Yunus mungkin terjadi dalam hidup kita. Kita mungkin kecewa mengapa Tuhan membiarkan persoalan atau keadaan yang kita alami. Mungkin juga kita merasa Tuhan itu tidak adil atau kurang bijaksana. Kita mungkin merasakan adanya kemarahan dalam hati kita. Pagi ini juga Tuhan mungkin bertanya kepada kita, seperti Ia bertanya kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena adanya persoalan dalam hidupmu?”

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ialah yang berhak menentukan dan mengatur apapun yang terjadi di dunia. Dengan demikian, kemarahan kita kepada Tuhan adalah tidak pada tempatnya. Kita harus mau mengakui bahwa sekalipun kita tidak dapat menyelami pikiran Tuhan, Ia adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih kepada semua ciptaanNya. Karena itu biarlah kita boleh menyerahkan apapun yang terjadi dalam hidup kita kepada pemeliharaanNya.

Bagaimana bisa hidup damai?

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Roma 12: 18

Bacaan: Roma 12: 17 – 21

Hidup damai. Siapakah yang tidak ingin hidup dalam kedamaian? Tentunya kebanyakan orang merindukan adanya suasana damai. Walaupun demikian, kita bisa melihat dalam hidup sehari-hari bahwa kedamaian bisa sewaktu-waktu hilang ketika ada orang-orang yang melakukan hal-hal tertentu  yang menimbulkan kekacauan. Di zaman ini, kekacauan bisa terjadi dalam bidang relasi, komunikasi, pendidikan, hukum, politik, ekonomi dan lain-lainnya. Itu tidak saja bisa terjadi dalam rumah tangga, sekolah, dan kantor, tetapi bisa juga terjadi di satu negara ataupun di dunia. Semua kekacauan biasanya terjadi karena akibat ulah manusia, terutama pertikaian antar manusia.

Bagaimana orang Kristen harus bertindak jika kekacauan terjadi karena dengan adanya orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak baik? Prinsip mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri memang satu hukum Tuhan yang harus tetap kita pegang, tetapi bagaimana pula kita harus melaksanakannya? Ayat-ayat pada kitab Roma diatas menunjukkan bahwa kita harus sebisa mungkin hidup damai dengan semua orang. Apapun yang orang lakukan kepada kita, pada prinsipnya kita tidak boleh membalas (avenge) karena hanya Tuhan yang berhak untuk itu. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita harus mau bersabar dan berbuat baik kepada mereka yang membenci kita agar mereka malu atas apa yang mereka perbuat.

Sedapat-dapatnya memang kita harus mempertahankan perdamaian dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kata “sedapat-dapatnya” bukan berarti “selalu”. Tetapi, selama apa yang terjadi masih bisa kita tanggung, kita harus bisa menghindari konfrontasi dan mau menunjukkan kebaikan kepada mereka yang menjahati kita. Jika banyak orang mengajarkan bahwa kita harus berbuat baik kepada sesama kita tetapi boleh membenci musuh kita, Yesus berkata bahwa itu tidak cukup untuk pengikutNya. Sebaliknya, kita harus bisa juga mengasihi musuh kita dan berdoa untuk mereka supaya mereka bisa kembali ke jalan yang benar.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 – 44

Mengasihi musuh kita adalah sesuatu yang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Tetapi Yesus sudah memberi contoh dengan mendoakan mereka yang menyalibkanNya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23: 34). Pada pihak yang lain Yesus pernah marah juga, misalnya kepada orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (Matius 21: 12 – 13) dan kepada orang Farisi yang mempersalahkan Dia ketika menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat (Markus 3: 5).

Yesus marah ketika kemuliaan Allah direndahkan oleh manusia, Ia juga marah ketika misi penyelamatanNya dihalangi oleh orang Farisi. Walaupun demikian, Yesus tidak berdosa dalam kemarahanNya, karena dalam kemarahanNya yang tidak berlarut-larut selalu ada motivasi untuk memuliakan BapaNya dan mengembalikan manusia ke jalan yang benar. Yesus selalu bertindak tegas dalam hal-hal yang penting, tetapi semua itu bukan karena ego, tetapi karena kasihNya.

Pagi ini, mungkin kita masih ingat bahwa orang-orang tertentu sering mengganggu hidup kita. Mungkin mereka ada diantara keluarga kita, dalam gereja ataupun dalam masyarakat di sekitar kita. Firman Tuhan berkata bahwa sedapat mungkin kita harus bersabar dan memilih jalan damai. Kita harus mengasihi semua orang dan itu termasuk orang-orang yang tidak kita senangi. Semua itu tidaklah mudah untuk dilaksanakan jika kita tidak dapat membedakan apa yang menyangkut kemuliaan Tuhan dan apa yang hanya mengenai kepentingan kita sendiri. Semoga Tuhan bekerja diantara umatNya untuk membawa kedamaian di dunia.

Tuhan segala bangsa

“Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” Roma 3: 29

Ada berapa bangsa di dunia ini? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Jika di dunia ini ada 195 negara (country), tiap negara mungkin terdiri dari beberapa bangsa (nation) dan suku (tribe). Memang kata “negara” belum tentu sama artinya dengan kata “bangsa”. Sebuah bangsa adalah sekelompok orang yang mempunyai latar belakang yang sama, tetapi belum tentu membentuk sebuah negara. Sebaliknya, beberapa bangsa bisa membentuk sebuah negara. Karena itu, jumlah bangsa di dunia ini tentunya lebih banyak dari jumlah negara.

Secara ideal, sebuah negara akan mempunyai kestabilan yang lebih besar jika terdiri dari satu bangsa. Sejarah membuktikan bahwa negara yang dibentuk oleh bangsa-bangsa yang berlainan lebih mudah untuk pecah karena perbedaan paham atau cara hidup. Memang banyak bangsa yang merasa berbeda dengan bangsa lain, sedemikian rupa sehingga ada perasaan bahwa bangsa lain adalah lebih rendah derajatnya. Inilah yang sering menimbulkan pertikaian antar bangsa.

Perasaan bahwa bangsa atau orang lain adalah berbeda derajatnya dan karena itu tidak sama kedudukannya sering muncul dalam pikiran manusia. Manusia dengan adanya dosa, sering tidak dapat mengasihi atau menghormati derajat orang lain. Malahan, sewaktu perbudakan masih ada di dunia, banyak orang Kristen yang memperlakukan budak sebagai barang saja, Dengan kemajuan pendidikan dan budaya, manusia kemudian menyadari bahwa semua orang adalah sama derajatnya. Racism atau racialism kemudian menjadi sesuatu yang dianggap buruk dalam hidup bermasyarakat.

Untuk orang Kristen, perasaan bahwa mereka adalah orang-orang terpilih juga bisa menimbulkan perasaan bahwa orang lain tidaklah sebaik mereka. Tetapi Yesus yang adalah orang Yahudi, datang ke dunia bukan untuk menyelamatkan orang Yahudi saja. Karena semua orang di dunia diciptakan Allah, Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan siapa saja yang mau percaya.

Hari ini, jika kita melihat ke seliling kita, kita bisa melihat begitu banyak bangsa dan suku yang hidup di dunia. Kita harus sadar bahwa semua orang adalah milik Allah, dan karena itu berhak memperoleh perlakuan yang sama. Sebagai ciptaan Tuhan kita harus menghargai orang lain yang sekalipun berbeda dengan kita dalam satu atau banyak hal. Mereka adalah ciptaan Tuhan, dan Ia mengasihi mereka juga. Karena itu jugalah kita mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Tuhan membenci kesombongan

“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Yakobus 4: 10

Kemarin malam saya menonton TV sampai tengah malam, sesuatu yang jarang saya lakukan di usia ini. Biasanya saya pergi tidur sekitar jam 10 malam karena kelopak mata yang sudah terasa berat. Tetapi kemarin adalah hari yang istimewa karena semua warga Australia merayakan pesta demokrasi dalam bentuk pemilihan umum. Sesudah seharian pemilu berlangsung, penghitungan suara dimulai sekitar jam 6 sore. Dan hampir tengah malam, hasilnya diumumkan.

Kemenangan perdana menteri yang sekarang dalam pemilu ini memberi dia kekuasaan untuk memerintah selama 3 tahun lagi. Sebelum ia muncul di TV, lawan politiknya tampil untuk mengaku kalah dan bahkan meletakkan jabatannya sebagai pimpinan partai oposisi. Sebagaimana biasa, dalam pemilu rasa kecewa dan sedih bisa diterka dari wajah dan dari kata-kata orang yang tidak terpilih, tetapi rasa gembira dan bersyukur bisa dirasakan dalam pidato kemenangan orang yang terpilih. Walaupun demikian, orang yang menang biasanya mengucapkan kata-kata yang baik untuk menghibur lawan politiknya dan berusaha meredam rasa bangga yang ada.

Rasa bangga dan rasa syukur memang tidak ada salahnya jika muncul di saat yang tepat. Tetapi perbedaan antara rasa bangga dan rasa sombong tidaklah banyak. Seringkali mereka yang merasa beruntung menyatakan rasa gembiranya sedemikan rupa sehingga orang lain bisa merasakan adanya kesombongan. Jika umat Kristen merasa bersyukur karena keselamatan yang mereka peroleh, mereka juga bisa terjebak dalam hal menyombongkan diri sebagai orang-orang yang lebih baik dari orang lain.

Kesombongan manusia pada hakikatnya adalah dosa. Sebagian orang Kristen menganggap kesombongan (pride) sebagai salah satu dari tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins). Mengapa demikian? John Calvin, seorang tokoh besar reformasi, menulis dalam uraian kitab Mazmur:

“God cannot bear with seeing his glory appropriated by the creature in even the smallest degree, so intolerable to him is the sacrilegious arrogance of those who, by praising themselves, obscure his glory as far as they can.”

Tuhan tidak dapat menerima kemuliaanNya untuk diambil oleh ciptaanNya secuilpun. Ia tidak bisa mentolerir manusia yang dengan kesombongannya menghujat Tuhan dan membuat kabur kemuliaanNya.

Pagi hari ini, kita mungkin pergi ke gereja untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Kita harus merasa bersyukur karena Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa mau menerima kita manusia yang berdosa ini untuk menjadi anak-anakNya. Mengapa Ia demikian kasih sehingga menurunkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita? Kita tidaklah lebih baik dari orang yang lain! Tidak ada apapun yang bisa kita banggakan dalam hidup ini. Oleh karena itu biarlah kita mau hidup dengan rendah hati dan selalu menghargai sesama kita serta mau memuji Tuhan dengan kebesaran dan kasihNya. Tuhan mengasihi mereka yang sederhana dan lemah tetapi membenci mereka yang sombong.

“TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.” Mazmur 116: 6

Hidup yang diidamkan

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22 – 23

Bulan ini adalah bulan terakhir sebelum musim dingin datang di Australia. Musim dingin dimulai pada bulan Juni dan berlangsung sampai akhir Agustus. Daun-daun sudah mulai berguguran dan apa yang masih ada di pohon terlihat sangat indah berwarna-warni.

Dari apa yang digambarkan dalam Alkitab dalam kitab Kejadian, semua yang ada di taman Eden sebelum manusia jatuh kedalam dosa terlihat nyaman dan indah dan itu membuat Tuhan menjadi senang (Kejadian 1: 31). Apa yang ada pada waktu itu adalah hubungan yang harmonis antara Tuhan sang Pencipta dan segala makhluk ciptaanNya. Dalam segala apa yang diciptakanNya, kebesaran Tuhan terlihat nyata dan dipermuliakan. Tetapi dengan terjadinya dosa segala keindahan itu menjadi rusak karena tipu daya iblis.

Sebagai Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang baik, Tuhan tentu mau agar segala ciptaanNya bisa membawa kemuliaan bagiNya. Kejatuhan manusia membuat itu tidak mungkin terjadi jika Ia tidak merencanakan sesuatu yang bisa mengalahkan iblis dan mengembalikan keadaan manusia kepada keadaan semula. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, iblis sudah dikalahkan dan manusia bisa memperoleh status sebagai anak Tuhan. Sejak itu, mereka yang percaya kepada Yesus bisa kembali mempunyai hubungan yang baik dengan Allah Bapa.

Hubungan yang baik antara Sang Pencipta dan ciptaanNya memungkinkan segala apa yang baik kembali muncul dalam diri ciptaanNya. Mereka yang sudah menjadi ciptaan baru didalam Tuhan dengan demikian akan berubah hari demi hari, makin lama makin menjadi seperti Dia. Dengan demikian, mereka yang hidup dalam Tuhan akan mengeluarkan apa yang baik: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita sudah benar-benar bertobat dari hidup lama kita dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita. Jika memang begitu, tentunya hidup kita sudah terlihat seperti pohon yang menghasilkan banyak buah yang baik. Masalahnya, sebagai manusia kita tetap merupakan makhluk yang lemah. Jika suasana hidup terasa menekan, apa yang cenderung muncul adalah kebencian, kesedihan, kekuatiran, kemarahan, egoisme, kejahatan dan segala apa yang buruk.

Memang keadaan bisa membuat sebuah pohon terlihat kurang subur dan sedikit buahnya. Tetapi, pohon yang baik tidak mungkin membuatkan apa yang tidak baik. Jika kita tetap bersandar kepada Tuhan, Ia yang adalah sumber kehidupan akan bekerja dalam hidup kita melalui Roh Kudus dan memberi kesuburan kepada kita dalam membuahkan segala hal yang baik.

“Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” Matius 7: 18

Yesus cinta semuanya

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6: 35

Tuhan itu mahakasih dan kasihNya kepada umatNya tidaklah dapat diukur. Itu adalah apa yang diyakini setiap orang percaya, yang sudah merasakan betapa besar kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Apakah Tuhan juga mengasihi mereka yang tidak percaya kepada Yesus? Pertanyaam ini mungkin mudah dijawab jika Yesus  datang ke dunia hanya untuk menyelamatkan orang tertentu. Adanya orang yang yang tidak percaya dan yang tidak akan menerima keselamatan mungkin bisa ditafsirkan sebagai kebencian Tuhan kepada mereka.

Jika Tuhan memang membenci orang-orang tertentu, umat Kristen mungkin dengan mudah bisa meniru Dia – mengasihi orang tertentu dan membenci yang lain. Lalu bagaimana dengan perintah Yesus agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Apakah sesama kita adalah orang yang seiman, orang yang segolongan dan orang yang baik kepada kita? Ayat diatas dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa orang Kristen bukan hanya harus mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi juga  musuh-musuh kita. Itu karena Tuhan baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tuhan yang mahakasih ternyata adalah Tuhan yang mengasihi semua orang tanpa perkecualian. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang bukan hanya mengasihi mereka yang mengasihiNya. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memelihara semua orang dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi pengikutNya.

Jika Tuhan adalah mahakasih, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tidak mudah bagi kita untuk meniru Dia. Bagaimanapun kita berusaha mengasihi sesama kita, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan bahwa ada orang-orang tertentu yang kelihatannya tidak pantas untuk menerima kasih kita. Jika kita dengan mudah mau mendoakan orang yang seiman atau yang mereka yang sudah berbuat baik kepada kita, perasaan segan ada dalam hati kita untuk mengharapkan apa yang baik bagi mereka yang kita anggap jahat. Dalam hidup sehari-hari, mungkin sulit bagi kita untuk melupakan  mereka yang pernah berlaku semena-mena dan menjahati kita, tetapi tidaklah sukar untuk melupakan mereka dalam doa kita. Bukankah mereka bukan anak Tuhan?

Apa yang kita pikirkan  tidaklah sama dengan apa yang Tuhan pikirkan. Jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu, kita akan heran membaca dalam Alkitab bahwa Yesus mengunjungi orang-orang yang dianggap parasit masyarakat dan bahkan makan bersama mereka.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Markus 2: 16

Pagi ini Tuhan mungkin mendengar keluhan kita bahwa Ia seolah kurang mau membedakan mereka yang sudah menjadi pengikutNya dengan mereka yang belum mengenalNya atau mereka yang membenciNya. Mengapa Tuhan seolah  tidak peduli akan kejahatan yang mereka lakukan? Mereka bukan umat Tuhan! Tidak layakkah kita mengasihi mereka yang mengasihi Tuhan dan membenci mereka yang bukan umatNya? Tidak bolehkah kita membenci mereka yang berbuat jahat kepada kita?

Yesus tahu apa yang kita rasakan dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Semua orang, termasuk kita, adalah orang berdosa patut menerima kebinasaan. Tetapi Tuhan sudah menebus dosa kita dengan darah Yesus. Ia yang mengasihi semua manusia, ingin agar banyak orang mau mengikut Dia ketika mereka melihat betapa besar kasih Tuhan yang memancar dari dalam hidup kita.

Hidup ini memang berat

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat. Mungkin kebanyakan orang mengiyakan pernyataan ini. Bagaimana tidak? Selama hidup selalu ada saja tantangan dan persoalan yang harus kita hadapi. Jika bukan hal pekerjaan, mungkin soal keuangan, keluarga, kesehatan atau hubungan antar manusia. Sekalipun ada orang-orang yang nampaknya selalu berjaya, pastilah ada masalah-masalah yang harus tetap dihadapi.

Orang berkata: “Ada hidup, ada masalah”,  tetapi sebaliknya juga benar: “Ada masalah, ada hidup”. Selama manusia masih hidup pasti ada masalah, tetapi adanya masalah bisa juga membuat orang menjadi lebih kuat dan tetap hidup. Walaupun demikian, bagaimana orang bisa tetap hidup jika masalah yang ada sangat besar?

Bagi orang yang lelah jasmaninya, istirahat atau tidur mungkin bisa memulihkan tenaganya. Tetapi, banyak orang yang lelah bukan karena jasmaninya, tetapi karena rohaninya. Dalam hal ini, kelelahan rohani tidak bisa dihilangkan dengan istirahat; sebaliknya, kelelahan rohani seringkali menyebabkan kita justru tidak bisa beristirahat dengan baik. Jika kelelahan jasmani mungkin bisa diatasi dengan obat-obatan; kelelahan rohani seringkali sulit untuk diobati dan malahan bisa menimbulkan masalah jasmani.

Jika kelelahan jasmani mudah terlihat, kelelahan rohani seringkali sulit dibaca orang lain. Lebih payah lagi, mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali tidak sadar kalau apa yang mereka alami adalah bersumber dari rohani. Mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali merasa hidup ini begitu berat, begitu hampa, tanpa harapan, dan tidak ada orang lain yang bisa mengerti atau bisa menolong. Mereka yang berada dalam keadaan ini mungkin berusaha menyembunyikan persoalannya dari pandangan orang lain dengan berpura-pura, seakan hidup mereka berjalan seperti biasa. Tetapi, pada saat tertentu hati mereka menangis dan pikiran mereka menjadi sangat keruh.

Ayat di atas adalah panggilan Yesus kepada semua orang yang merasa lelah rohaninya. Yesus mengerti bahwa jika manusia bisa mengatasi kelelahan jasmani,  mereka tidak mungkin menghilangkan kelelahan rohani dengan kekuatan diri sendiri. Kelelahan rohani hanya bisa dihilangkan oleh Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hidup, pikiran dan hati manusia.

Kelelahan rohani hanya bisa disembuhkan melalui iman kepada Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Jika manusia tidak dapat menolong kita, tidak mau menolong kita atau tidak tahu bagaimana harus menolong kita; Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menolong, mau menolong, dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Firman Tuhan diatas mengingatkan kita untuk percaya kepadanya dengan segenap hati kita, dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7