Pendidikan dan pengalaman belum tentu berguna

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

img_9179Menyekolahkan anak di Australia adalah suatu kewajiban untuk setiap orang tua jika anak mereka sudah berumur 5-6 tahun, dan harus diteruskan sampai mereka berumur 15-17 tahun. Pada umumnya, seorang anak akan duduk di bangku sekolah dasar (Primary School) selama 6-7 tahun dan kemudian meneruskan studinya ke Sekolah Menengah  (High School) selama 5-6 tahun. Tidak semua anak akan menamatkan Sekolah Menengah, karena sebagian diantaranya mungkin memilih pendidikan kejuruan yang berbagai jenis. Selain itu, tidak semua yang tamat Sekolah Menengah berkeinginan untuk masuk universitas, karena mereka ingin cepat-cepat bekerja.

Satu hal yang diharapkan orang tua dengan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah adalah agar mereka bisa memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk menghadapi masa depan. Dengan bertambahnya umur, juga diharapkan bahwa mereka akan bertambah dewasa dan makin bijaksana dalam mengambil keputusan. Walaupun demikian, sekolah adalah tempat dimana mereka bergaul dengan sesama anak muda. Seringkali, jika mereka tidak dapat memperoleh kelompok seusia (peer group) yang baik, apa yang buruk justru terjadi. Memang, sudah bukan rahasia bahwa di high school, banyak anak muda yang mulai ber-eksperimen dengan narkoba dan seks. Mereka yang terlibat dalam perbuatan-perbuatan tercela itu mungkin dari luarnya terlihat sebagai anak muda yang maju dalam hal pendidikan, tetapi dalam kenyataannya semakin mundur dalam hal akhlak.

Bagi orang dewasa, apa yang terjadi pada sebagian kaum muda mungkin dihubungkan dengan usia dan proses kedewasaan. Mereka yang sudah bukan remaja lagi, mungkin merasa bahwa apa yang mereka perbuat pada masa yang lalu adalah lumrah sebagai orang belum mengalami kematangan hidup. Melalui pendidikan dan pengalaman, orang bisa mengalami transformasi menjadi orang dewasa. Begitulah anggapan umum.

Memang jikalau ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi cara hidup seseorang, hidup manusia adalah perjuangan yang terus berlangsung untuk memperbaiki segala sesuatu yang ada. Secara perlahan-lahan manusia mengalami perubahan sesuai dengan apa yang dipelajarinya dalam hidup. Dalam hal ini, banyak manusia yang percaya bahwa pengalaman hidup adalah guru yang terbaik. Walaupun demikian, ada banyak orang dewasa dan bahkan orang yang sudah cukup berumur, yang masih belum mengalami proses pendewasaan rohani. Mereka belum mempunyai kebijaksanaan dalam memilih apa yang baik dalam hidup, dan bahkan sebagian dengan sengaja memilih hidup yang kurang baik. Mengapa demikian?

Sebagai umat Kristen, jika kita hanya belajar dari pendidikan dan pengalaman saja, apa yang kita peroleh adalah apa yang baik untuk menyesuaikan diri dengan standar dunia, dan itu bukan ukuran Tuhan. Dengan demikian, banyak orang Kristen yang dari luar terlihat hidupnya berhasil, tetapi dari segi rohani hidup mereka adalah kosong.  Kedewasaan iman dan perubahan cara hidup yang diharapkan setelah perjumpaan dengan Yesus tidaklah terjadi. Tidaklah mengherankan jika kita bisa melihat adanya orang-orang yang mengaku Kristen, tetapi hidup mereka adalah serupa dengan hidup mereka yang belum mengenal Yesus. Mereka mungkin sudah mendapat pendidikan tinggi dan banyak pengalamannya, tetapi tingkat kerohanian mereka tetap setara dengan taraf pemula.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk mengubah hidup kita supaya kita tidak lagi mengikuti pandangan dunia. Kita harus mengalami transformasi menjadi orang Kristen yang dewasa dan bijaksana, yang dapat membedakan manakah kehendak Allah dan mana yang bukan: memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dalam hal ini, bagi umat Kristen perjuangan hidup untuk mencapai kedewasaan iman (maturity) ini tidaklah dapat dilakukan melalui usaha sendiri. Apapun pendidikan dan pengalaman kita,  sebagai orang berdosa kita tidak mungkin mengalami transformasi  jika kita tidak menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada bimbingan Roh Kudus. Hanya Roh Kudus yang bisa bekerja dalam hati dan pikiran kita untuk menjauhkan diri kita dari pengaruh dunia dan makin mendekatkan diri kita kepada Tuhan yang sempurna dengan rajin berdoa serta mempelajari dan melaksanakan firmanNya.

 

Hal memilh karir

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Bagi orang seumur saya, hal memilih karir tidak lagi harus dipikirkan. Walaupun demikian, saya masih ingat bahwa sewaktu saya memasuki SMA, pemikiran tentang karir masa depan saya sudahlah ada. Secara praktis, pilihan karir bergantung kepada banyak hal, misalnya pekerjaan apa yang benar-benar disukai, universitas mana yang bisa  dimasuki, pekerjaan apa yang bisa menjamin masa depan, jabatan apa yang bisa dibanggakan, atau jurusan apa yang disetujui orang tua dan lain-lain. Tentunya, bagi sebagian orang, karir yang dipilih kalau bisa adalah yang bisa mencukupi dan bisa dinikmati. Walaupun demikian, banyak juga orang memilih karir yang membawa kekayaan sekalipun kurang bisa dinikmati.

Seiring dengan kemajuan sosial, memang ada kecenderungan bahwa kebahagiaan diukur dengan kesuksesan dan harta. Karena itu, karir-karir tertentu sekarang dikejar banyak orang, seperti karir dibidang kedokteran, banking, IT dan business. Apa yang menghasilkan banyak uang dipandang baik dan ini tidak ada salahnya jika cara dan tujuan yang dipakai adalah benar.

Memang sejak dulu orang selalu ingin memperoleh kenyamanan hidup, tetapi dengan kemajuan zaman orang lebih tertarik untuk mendapatkan kesuksesan  dengan cara yang semudah mungkin dan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Dengan demikian, orang mungkin memakai cara-cara yang tidak benar, termasuk dalam hal mendapatkan ijazah, dalam usaha untuk memperoleh pekerjaan tertentu, dan dalam mencari jalan untuk mendapatkan hasil yang sebanyak mungkin dalam karirnya.

Bagaimana pula dengan tujuan orang untuk mendapatkan kekayaan? Tentu tiap orang mempunyai jawaban yang bervariasi, dari jawaban yang kedengarannya sangat mementingkan diri sendiri, sampai kepada jawaban yang terdengar sangat baik dan bernada sosial. Memang dengan kekayaan orang bisa memperoleh jaminan masa depan untuk dirinya sendiri atau memperoleh kesempatan untuk lebih bisa menolong orang lain. Dalam kenyataannya, orang yang mengejar kekayaan lebih cenderung untuk menaruh dirinya sendiri diatas segalanya.

Ayat diatas mengingatkan bahwa akar segala kejahatan ialah cinta uang. Karena memburu uang, ada orang-orang Kristen telah menyimpang dari iman dan melakukan berbagai hal yang salah, yang membuat hidup mereka jauh dari Tuhan. Manusia yang seharusnya mengasihi Allah dan sesama, kemudian berubah menjadi manusia yang mengasihi harta, kesuksesan dan kenyamanan. Tujuan karir yang seharusnya bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan dan menolong sesama, dengan mudah diganti dengan usaha untuk mencari kepuasan diri sendiri.

Pagi ini, apakah anda masih memikirkan karir untuk masa depan? Ataukah anda mengharapkan karir yang baik untuk anak-anak atau kerabat anda? Alkitab tidak mengatakan bahwa uang adalah jahat tetapi jelas menunjukkan bahwa cinta akan uang (sebagai sikap hidup) akan membawa bencana. Ketamakan akan menghilangkan rasa cukup dan menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Karena itu, orang harus sadar bahwa mencari uang sebanyak mungkin dengan cara semudah mungkin adalah gaya hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.  Karir serta penghasilan adalah berkat dari Tuhan, tetapi dalam menerima berkat itu kita harus selalu mengaris-bawahi cara dan tujuan yang bisa memuliakan Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada sesama.

 

 

 

Jangan diam saja

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5: 11

Minggu yang lalu, seorang polisi yang menembak mati seorang wanita di Amerika dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Wanita warga Australia itu sebenarnya tidak melakukan kejahatan apapun, tetapi ia menjadi korban karena melaporkan adanya kejahatan di rumah tetangganya. Ketika ia muncul menyambut polisi yang datang, ia ditembak polisi yang salah mengidentifikasi.

Membela kebenaran memang bisa mengandung resiko besar. Karena itu tidak semua orang mau ikut campur. “Pokoknya saya tidak ikut-ikut!”, begitulah jawaban mereka yang melihat kejahatan, ketimpangan dan kejanggalan dalam masyarakat. Memang banyak orang yang memilih untuk berdiam diri, sekalipun apa yang terjadi adalah hal yang tidak baik.

Mencampuri urusan orang lain jelas membawa resiko bahwa mereka akan membenci kita. Karena itu, banyak orang Kristen yang abstain dalam usaha menegakkan kebenaran. Sebagai alasan, mungkin orang Kristen bisa saja menyebutkan bahwa mereka tidak mau mengadili orang lain, atau mereka lebih mencintai perdamaian.

Walaupun demikian, dalam hidup banyak orang yang menyesali mengapa mereka tidak bertindak apa-apa ketika ada hal-hal yang jahat terjadi. Pengecut! Egois! Begitulah hati kecil mereka berkata. Mengapa engkau hanya berdiam diri saja? Bukankah dengan berdiam diri engkau berpihak kepada mereka yang jahat? Itulah suara hati banyak orang Kristen yang melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik, tetapi memilih untuk tidak bertindak atau justru lari menjauh. Roh Kudus menegur karena mereka gagal untuk menegakkan kebenaran Tuhan.

Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, adalah salah satu ayat yang mengandung nasihat praktis untuk hidup sebagai umat Tuhan. Sebagai orang Kristen kita bertanggung jawab tidak saja untuk apa yang kita lalukan, tetapi juga untuk reaksi kita atas apa yang diperbuat orang lain. Jika kita membiarkan adanya perbuatan-perbuatan kegelapan disekitar kita, itu sama saja dengan menyetujuinya. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita memperoleh mandat budaya (Kejadian 1: 28) untuk ikut mau untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.

“Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.” Efesus 5: 13

Perbuatlah apa yang baik untuk orang lain

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Hari ini saya menemukan sebuah amplop di kotak surat saya di kantor. Di amplop surat itu tertera nama universitas dimana saya bekerja dan dua stempel yang berbunyi “Private” dan “Confidential“. Hati saya sempat berdegup sejenak, karena stempel “”Pribadi” dan “Rahasia” pada sebuah amplop menunjukkan pentingnya isi surat itu. Mungkinkah itu surat teguran? Ataukah itu surat pemecatan?

Dengan segera saya membuka amplop surat itu. Didalam amplop ada sebuah kartu yang mirip kartu ucapan selamat. Kartu ucapan selamat ulang tahun? Tentu bukan, sebab hari ulang tahun saya masih belum tiba. Setelah saya buka kartu itu, ternyata isinya adalah ucapan selamat karena saya sudah lima tahun bekerja di universitas itu. Saya tersenyum senang; walaupun hanya kartu dan bukan barang berharga, ucapan selamat itu sungguh terasa sedap di mata. Orang lain menghargai jerih payah saya!

Untuk mengirimkan kartu ucapan selamat seperti yang saya terima, mungkin biayanya sekitar $5; itu tidak banyak. Tetapi mereka yang menerima seakan menerima barang berharga, mungkin seharga $500 atau $5000. Saya menaruh surat itu dalam laci saya, bersama dengan surat-surat penting lainnya. Tentu di tahun-tahun mendatang surat ini akan menjadi bahan nostalgia yang indah bagi saya dan keluarga saya. Surat ini berharga karena di dunia ini orang tidak mudah memberi pujian, penghargaan atau menunjukkan rasa terima kasih. Di berbagai media atau dalam hidup sehari-hari kita lebih sering mendengar cacian, kritik dan berbagai pernyataan rasa benci.

Jika orang dunia cenderung untuk membenci orang lain, iri atas keberhasilan orang lain atau mengabaikan perasaan sesamanya, Yesus dan murid-muridNya justru berbuat sebaliknya. Mereka menghibur orang yang menderita, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan kabar baik tentang keselamatan kepada semua orang yang mereka temui.

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen adalah patut bagi kita untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini tentu akan membuat hidup kita terlihat berbeda dengan hidup orang lain. Tetapi memang mereka yang sudah menerima karunia keselamatan akan berusaha membagikan kebahagiaan ini kepada siapa saja.

Yesus bukan ciptaan Allah

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 15 – 16

Siapakah Yesus itu? Ada orang yang berpendapat bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar. Ada pula yang percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dalam tubuh manusia. Tetapi, sebagian besar orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang turun ke dunia. Manakah yang benar?

Ayat diatas adalah ayat yang sering dipakai oleh golongan tertentu untuk menmbuktikan bahwa Allah menciptakan Yesus sebagai “yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan”. Yesus diciptakan sebagai manusia yang istimewa, begitu kata mereka. Walaupun demikian, kalimat selanjutnya menyatakan bahwa “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”. Ini seirama dengan Yohanes 1: 1- 7 yang menjelaskan bahwa Yesus bukan diciptakan, tetapi Ia adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu.

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1: 3

Saat Yesus “muncul” di dunia mungkin dirayakan oleh umat Kristen pada hari Natal. Tetapi ada dua hal yang perlu kita ingat. Yang pertama, tanggal 25 Desember bukanlah hari ulang tahun Yesus sebagai manusia. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan tepatnya hari itu. Yang kedua, Yesus yang adalah Allah, sudah ada sebelum apapun yang ada di alam semesta ini diciptakan olehNya. Tanpa Yesus, tidak akan ada makhluk dan benda apapun di alam semesta ini. Tanpa Yesus, tidaklah ada persekutuan orang percaya atau gereja. Lebih dari itu, tanpa Yesus tidak akan ada keselamatan untuk orang percaya.

Yesus adalah Allah yang turun ke dunia sebagai manusia. Ia persis sama seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Juruselamat manusia, Ia sudah menjadi Imam Besar yang menghubungkan kita manusia yang berdosa dengan Allah yang mahasuci. Sebagai manusia, Ia bisa merasakan segala penderitaan dan kelemahan kita. Karena itu, sebagai Allah, Ia mengerti apa yang kita butuhkan dalam hidup ini dan mau serta sanggup menolong kita dalam segala persoalan kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Pagi ini, firman Tuhan menegaskan bahwa Yesus adalah Allah Sang Pencipta, dan segala sesuatu diciptakanNya untuk Dia, untuk kemuliaanNya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh menurunkan derajatNya. Yesus bukanlah sekedar orang baik atau manusia istimewa. Yesus juga bukan manusia ciptaan Allah yang dihuni oleh Allah selama Ia hidup di dunia. Sebaliknya, Yesus adalah Allah sendiri dan sudah ada dari awalnya. Ia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaanNya. Bukankah sudah sepatutnya setiap orang menyembah Dia, bergantung kepadaNya dan menjalani hidup ini untuk memuliakan Dia?

Bertumbuh dalam iman

“…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…” Efesus 4: 13 – 14

Kapan anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus? Masih ingatkah? Sebagian orang bisa menyebutkan saat tertentu dimana mereka, oleh pertolongan Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka dan bertekad untuk bertobat dari hidup lama mereka. Walaupun demikian, apa yang dikenal sebagai ciri-ciri hidup baru (born again) belum tentu dapat jelas terlihat sesudah itu. Mereka yang mengaku Kristen itu mungkin belum bisa bertumbuh kerohaniannya sehingga hidup baru mereka tidaklah jauh berbeda dari hidup sebelumnya.

Pada waktu seseorang memasuki hidup baru, ia dapat dibayangkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Dengan berlalunya waktu, sang bayi tentunya diharapkan untuk tumbuh secara spiritual, tumbuh dalam iman. Dalam kenyataannya, pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama. Ada orang-orang yang cepat bertumbuh secara rohani, tetapi ada juga yang lambat sehingga mereka hanya bisa mencerna makanan bayi. Mereka tidak bertumbuh dalam iman dan pengertian kekristenannya.

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Mengapa orang tetap bayi secara rohani walaupun sudah lama menjadi Kristen? Sebab yang utama adalah karena hubungannya dengan Tuhan yang kurang erat. Mereka tidak mengenal Tuhan secara pribadi walaupun sudah lama ke gereja. Karena itu, keinginan mereka untuk mengenal Tuhan tidaklah besar. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka karena mereka terlalu sibuk mengurus kepentingan lain.

Selain itu, ada juga orang-orang yang gampang merasa puas dengan janji keselamatan yang mereka peroleh. Mereka percaya bahwa jika mereka mengaku percaya kepada Yesus, itu sudahlah cukup. Mereka tidak mengerti bahwa iblispun percaya adanya Tuhan, tetapi ia tidak mau tunduk kepadaNya. Mereka yang hidup dengan mengunakan akal budinya cenderung tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Mereka hidup diluar firman Tuhan. Sebagai akibatnya, orang-orang sedemikian tidak bertumbuh dan berbuah.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus terus bertumbuh secara rohani. Selama hidup kita tidak boleh berhenti mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, yaitu tingkat kedewasaan penuh. Dengan spritual maturity seperti yang diharapkan Kristus, kita akan berubah dari kanak-anak, yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran, menjadi orang dewasa yang teguh dalam iman dan penuh kebijaksanaan.

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14

Menghadapi mereka yang berbeda keyakinan

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” 1 Petrus 3: 15 – 16

Pernahkah anda berjumpa dengan seseorang yang mempertanyakan iman anda? Mungkin perjumpaan itu diawali dengan basa-basi, tetapi kemudian muncul pertanyaan mengenai agama apa yang anda peluk; dan selanjutnya orang itu kemudian berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya anda ketahui atau mengerti tentang iman. Jika orang itu mengira bahwa anda kurang mempunyai pengertian tentang iman, ada kemungkinan ia kemudian mencoba untuk menjelaskan bahwa mendalami iman adalah perlu. Mungkin, jika orang itu pada dasarnya mempunyai agama yang sama, ia kemudian mencoba untuk memperkenalkan apa yang benar dan baik menurut apa yang dipercayainya. Tetapi, jika orang itu mempunyai kepercayaan lain, ada kemungkinan bahwa ia kemudian mencoba untuk memperkenalkan anda kepada agamanya.

Kejadian diatas barangkali  tidak terlalu sering terjadi di kota besar pada zaman ini, tetapi masih bisa dijumpai di daerah, dimana masyarakat setempat masih cukup terbuka dan bisa menerima tamu pengunjung yang beragama lain. Bagi mereka yang hidup di daerah yang sudah terjangkau teknologi, komunikasi antar manusia mengenai soal kepercayaan mungkin lebih sering terjadi melalui media sosial. Kita bisa mengikuti debat antar agama, antar aliran gereja dan antar individu mengenai soal semacam ini melalui Youtube, Whatsapp, Facebook dan sejenisnya. Terkadang diskusi semacam ini menjadi sangat hangat dan berkelanjutan dengan saling menyerang dan saling merendahkan yang lain. Bagaimana sebenarnya orang Kristen harus bersikap dalam hal ini?

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tidak mengenal Kristus, orang Kristen harus menyatakan kasihnya kepada sesama manusia. Mengasihi sesama manusia bukanlah berarti hanya mengasihi orang yang seiman dan segolongan saja, tetapi semua orang yang hidup di dunia. Mengasihi berarti menghargai orang lain dan mau menolong mereka yang dalam kesulitan. Sekalipun kita tidak menyetujui apa yang dilakukan atau dipercayai orang lain, kita tidak dengan sengaja mencari musuh dengan berusaha menghancurkan atau menghina mereka. Ayat diatas mengajarkan bahwa jika orang mempertanyakan hal iman kita, kita harus menjawabnya dengan lemah lembut dan hormat, tanpa maksud buruk, supaya mereka yang membenci kita menjadi malu karena hidup dan sikap kita yang tak bercela.

Action speaks louder than words. Apa yang kita perbuat adalah lebih efektif dari kata-kata, begitu kata peribahasa Inggris. Kita boleh berdebat dengan orang lain mengenai hal iman, tetapi pada akhirnya apa yang lebih mudah dimengerti adalah tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar sudah menerima penebusan Kristus, hidup kita pastilah diisi dengan kasih, sukacita  dan kelemahlembutan. Biarlah banyak orang yang mengambil keputusan untuk mau mengenal Kristus karena mereka melihat Dia hidup dalam diri kita.

Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya. 2 Timotius 2: 23 – 26

Jangan berhenti mempelajari firmanNya

“Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus” Efesus 4: 20 – 21

Di zaman ini kebanyakan orang memperoleh pendidikan yang lebih baik dari apa yang ada pada generasi sebelumnya. Kemajuan ilmu pengetahuan begitu pesat sehingga mereka yang tidak mau memperoleh Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (continuing professional development atau CPD) akan pelan-pelan tertinggal dalam hal pengetahuan dan aplikasinya, dan karena itu akan sulit untuk mempertahankan profesinya.

Jika hampir semua segi kehidupan memerlukan penyesuaian karena adanya perubahan dalam masyarakat, banyak gereja yang sering dikritik karena apa yang diajarkan hampir tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Mereka yang ke gereja itu mungkin lebih senang hidup dalam kebiasaan dan tradisi tetapi kurang mau berusaha mendalami arti dan aplikasi firman Tuhan dalam menghadapi hidup masa kini.

Memang banyak orang Kristen sering segan menggumuli firman Tuhan sekalipun mereka menghadapi berbagai tantangan hidup. Apa yang terlihat paling gampang dan menawan adalah apa yang mereka pilih. Oleh sebab itu, mereka mudah terjerumus dalam kekeliruan doktrin atau gampang disesatkan dengan berbagai ajaran karena perasaan mereka sudah tumpul.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika firman Tuhan tidak digumuli setiap hari, perlahan-lahan kita akan kehilangan kesadaran akan kegunaannya. Lebih dari itu kita tidak akan pernah tahu bahwa firman Tuhan itu adalah sangat dalam dan menunjukkan kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Tanpa kemauan untuk belajar, kita tidak akan bisa maju dalam pengenalan kita akan Dia.

Sudah tentu untuk mempelajari firman tidaklah mudah. Sekalipun kita rajin membaca berbagai buku tafsiran Alkitab atau mendengarkan khotbah, dengan kemampuan sendiri kita tidak dapat mengerti arti dan guna firman Tuhan. Untuk itu Yesus sudah meminta kepada Bapa untuk memberikan Roh Kudus sebagai Penolong kita.

Biarlah sebagai orang percaya kita mau memohon agar kita selalu dipenuhi Roh Kudus untuk bisa lebih giat mempelajari dan mengerti akan firmanNya, dan agar makin lama makin dapat menjalani hidup kita seperti apa yang dikehendakiNya.

Tuhan memang mahatahu

“Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.” Amsal 5: 21

Kemarin malam saya bermalam di sebuah apartemen di tengah kota Auckland di New Zealand. Dari kamar, saya bisa melihat pemandangan kota dan orang-orang yang berlalu-lalang jauh dibawah. Tetapi saya heran bahwa pada waktu tengah malam dan sampai pagi, suara-suara manusia terdengar nyaring dari kamar saya, seakan saya berada di lantai bawah. Saat itu adalah malam minggu dan mungkin orang-orang itu adalah mereka yang mabuk di akhir pekan. Mungkinkah Tuhan juga melihat dan mendengar suara orang-orang itu?

God is watching us. Tuhan melihat kita. Begitulah sebagian dari lirik lagu “From a distance” yang pernah dinyanyikan oleh Bette Midler pada tahun 1990. Benarkah bahwa Tuhan tahu apapun yang kita lakukan dan alami? Benarkah Ia mengawasi tindak tanduk setiap manusia? Kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan dan tidak tahu pasti apa yang dilakukannya setiap saat. Walaupun demikian ayat diatas menunjukkan bahwa Ia tahu segala apa yang dilakukan setiap orang. Tuhan memang mahatahu (omniscience).

Tuhan memang harus mahatahu untuk bisa menjadi Tuhan yang mahakuasa. Tetapi bagi sebagian orang, ini adalah sesuatu yang aneh, suatu paradox. Jika Tuhan mahatahu, mengapa Ia sering melakukan sesuatu yang tidak sesuai kebutuhan manusia? Jika Tuhan mahakuasa, mengapa Ia tidak melakukan apa yang perlu untuk mengatasi kejahatan atau keburukan yang jelas terlihat?

Mereka yang tidak benar-benar percaya kepada Tuhan tidak menyadari bahwa Ia mahatahu dan mahakuasa. Karena itu, Ia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendakNya, pada saat yang dipilihNya. Ia tidak memakai cara berpikir manusia untuk bertindak, Ia tidak juga menentukan saat bertindak menurut perhitungan manusia, dan Ia tidak bergantung pada kekuatan manusia untuk bertindak.

Pagi ini, jika kita mengharapkan Tuhan untuk bertindak tetapi Tuhan terasa berdiam diri, apakah ada kekecewaan yang timbul? Apakah Ia mahakuasa? Sebaliknya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, apakah Ia mahatahu? Firman Tuhan mengatakan bahwa Ia mengawasi semua langkah kita.

Dari awalnya Tuhan memberikan kesempatan dan kemampuan bagi manusia untuk mengambil keputusan dalam hidup ini (Kajadian 1: 28). Tetapi, apapun yang kita lakukan, kemanapun kita pergi, Ia tahu dan mengawasi. Walaupun demikian, pengawasanNya bukanlah berarti bahwa Ia menentukan segala langkah kita; tetapi Ia memberkati semuanya jika kita berjalan menurut kehendakNya. Dengan menuruti kehendakNya, kita boleh percaya bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan membuktikan bahwa Ia senantiasa menilik hidup kita dengan kasihNya.

“Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” Ulangan 28: 6

Bagikanlah kasih Tuhan

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Bagi orang Kristen ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal. Dalam amanatNya, Yesus menyuruh murid-muridNya untuk mengabarkan Injil keselamatan kepada semua orang di dunia agar mereka juga menjadi pengikutNya.

Walaupun tujuan pelaksanaan adalah untuk kebaikan segala bangsa, Amanat Agung (the Great Commission) tidak diberikan Yesus untuk semua orang. Hanya mereka yang sudah menjadi murid Yesus dan menjalankan firmanNya dapat mengajar orang lain tentang Yesus dan firmanNya. Hanya orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus dapat mengajak orang lain untuk memilih jalan keselamatan yang sama. Mereka yang tidak mengenal Yesus dan menjalankan firmanNya tentu saja tidak dapat membawa orang lain kepada Yesus.

Dalam amanatNya, Yesus tidak memberi kesan bahwa tugas itu mudah dilakukan. Banyak orang yang akan menentang dan menganiaya mereka dan banyak juga tidak mau percaya. Tetapi, Yesus berkata bahwa mereka tidak perlu kuatir, kecewa atau takut karena Ia akan menyertai mereka untuk selamanya.

Bagi murid Yesus, hal menjadikan semua bangsa untuk menjadi muridNya adalah suatu perintah yang jelas penerapannya. Bagi pengikut Yesus tidak ada alasan untuk bisa menolaknya.

Amanat itu juga menunjukkan bahwa bukan orang tertentu saja yang perlu diselamatkan. Yesus ingin agar sebanyak mungkin orang yang ada di dunia untuk dijadikan muridNya (to make disciples of all nations). Dengan demikian, semua pengikut Yesus yang sudah menerima karunia keselamatanNya, wajib membagikan karunia itu kepada siapa saja tanpa pandang bulu.

Tugas murid Tuhan adalah tugas yang mulia karena penyelamatan umat manusia adalah rencana kasih Tuhan. Tuhan sudah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, agar siapa saja yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, setiap pengikut Yesus harus mau menjadi sarana Tuhan untuk menyampaikan kabar baik ini bagi semua orang.

Jika amanat itu dijalankan untuk kebaikan siapa saja yang mau menerima Yesus, bagaimana pula dengan mereka yang menolak Yesus? Dari mulanya, semua murid Yesus sudah diajarkan bahwa orang yang menolak mereka akan menanggung konsekuensinya. Karena itu, pengabaran Injil bukanlah dengan paksaan, tetapi dengan kesadaran bahwa semua itu harus dilakukan agar orang bisa memperoleh keselamatan (Matius 10: 14 – 15).

Pagi ini, marilah kita memikirkan betapa banyak orang yang belum menerima Kristus sebagai juruselamat mereka. Kasih Tuhan ada tersedia bagi mereka, tetapi karena berbagai sebab, mereka masih belum mau menerimanya. Adakah rasa belas kasihan kita kepada mereka itu? Tuhan yang sudah memberi karuniaNya yang terbesar kepada kita, menghendaki kita untuk menolong mereka!