“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Matius 23: 37
Ayat diatas adalah ayat yang mungkin jarang kita baca, tetapi adalah ayat yang sering diperbincangkan oleh mereka yang ingin mendalami sifat Yesus. Pada umumnya, gambaran manusia tentang sifat Yesus yang banyak dilukiskan adalah seperti seorang gembala yang membimbing dombanya ke padang rumput. Yesus agaknya adalah seorang manusia yang lemah lembut, penuh kasih sayang kepada umatNya. Lebih dari itu, Yesus juga menunjukkan kasihNya kepada mereka yang dianggap orang buangan (outcast) oleh masyarakat, seperti pemungut cukai, pelacur dan penderita kusta. Memang agaknya Yesus datang ke dunia untuk semua orang, bukan saja untuk misi penyelamatanNya, tetapi juga untuk mengajarkan bagaimana umatNya harus bisa hidup dalam masyarakat dan berbuat baik bagi sesamanya untuk kemuliaan nama Tuhan.
Walaupun demikian, dalam Alkitab, sifat Yesus yang “kurang manis” bisa juga ditemui. Yesus berkali-kali bentrok dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi sehingga banyak orang menduga bahwa Yesus sangat membenci mereka itu. Yesus bahkan memakai kata-kata yang jika kita pakai dalam kehidupan zaman sekarang, mungkin bisa menyeret kita ke pengadilan. Dalam kenyataannya, kemarahan orang Farisi kepada Yesus memang mempunyai pengaruh atas tindakan mereka untuk membawa Yesus ke kayu salib.
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.” Matius 23: 25
“Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?” Matius 23: 33
Mengapa Yesus sering bersikap memusuhi orang Farisi? Apakah Yesus sebagai Tuhan mempunyai kebencian yang begitu mendalam kepada orang-orang tertentu sehingga Ia memastikan bahwa bagi mereka tidak ada harapan untuk masa depan? Tentu tidak. Alkitab menceritakan adanya seorang pemimpin orang Farisi yang bernama Nikodemus. yang menemui Yesus di suatu malam. Sikap Yesus kepada Nikodemus tidaklah garang, malahan seolah membimbing dia untuk mencari kebenaran. Nikodemus jugalah yang membantu Yusuf dari Arimatea untuk penguburan Yesus. Selain Nikodemus, kita juga tahu bahwa rasul Paulus dulunya juga orang Farisi yang tersangkut kasus penyiksaan pengikut Yesus.
Jelas bahwa Yesus tidak membenci orang Farisi secara perseorangan, tetapi Yesus membenci apa yang dilakukan golongan Farisi kepada masyarakat yang membuat orang sulit untuk memilih jalan yang benar, karena apa yang mereka ajarkan adalah kekeliruan dan kemunafikan yang menyesatkan. Selain itu, orang-orang Farisi itu tidak sadar bahwa mereka membantu iblis untuk mengacaukan misi pengajaran Yesus. Walaupun demikian, Yesus tidak menutup kemungkinan bagi orang Farisi karena Ia datang untuk menyelamatkan semua orang berdosa yang mau bertobat dan percaya kepadaNya. Yesus jugalah yang menyelamatkan Paulus dan bahkan memakainya sebagai rasulNya.
Apakah Yesus tidak mempunyai belas kasihan kepada mereka yang tidak mau bertobat? Yesus sebagai Tuhan yang mahakasih sebenarnya ingin agar mereka yang tidak percaya kepadaNya untuk berubah pikiran. Ia nenyesali mengapa mereka tidak mau menerima tawaran keselamatanNya dengan berkata: “…Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau”. HatiNya hancur melihat kebodohan mereka yang memusuhi orang-orang yang diutus Tuhan. Tetapi mereka dengan sengaja tidak mau menerima uluran tangan kasih Tuhan.
Pagi ini, firman Tuhan membuktikan bahwa Tuhan tidak membenci manusia manapun. Apa yang Tuhan benci adalah dosa mereka dan hidup mereka yang sesat. Dari awalnya, jika Tuhan membenci Adam dan Hawa, rencana penyelamatanNya tentu tidak diperlukan. Begitu juga jika Tuhan sekarang membenci kita atau orang lain, karunia keselamatan Yesus tidak perlu ditawarkan kepada umat manusia sebagai kabar baik. Marilah kita menyadari bahwa Tuhan itu mahakasih dan mahasabar, Yesus menantikan mereka yang mau menerimaNya sebagai Juruselamat untuk benar-benar bertobat dan beriman kepadaNya. Keselamatan masih ada pada setiap orang yang mau menerimaNya.
Kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1: 15
Tuhan adalah mahatahu, dan karena itu Ia tahu segala sesuatu. Waktu dan tempat bukanlah sesuatu yang dapat membatasi Tuhan, karena Ia ada dimanapun dan kapanpun. Karena itu, Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi di bumi maupun di surga. Bahkan Ia tahu segala sesuatu sebelum apapun terjadi, karena Dia ada sebelum apapun diciptakanNya. Dengan demikian, tidaklah dapat diragukan bahwa Ia tahu akan segala sesuatu yang ada dalam hidup kita, bahkan sebelum kita dilahirkan.
Bacaan: Kisah Para Rasul 15: 35 – 41
Dimanakah Tuhan itu? Kebanyakan orang percaya bahwa Ia di surga. Tetapi, dimanakah gerangan surga itu? Jika kita berdoa kepada Tuhan, apakah Ia mendengar? Bagaimana Ia bisa mendengarkan suara kita, dan bagaimana kita bisa mendengar suaraNya? Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan jika kita terpisah dari Dia?
Kekuatiran adalah musuh besar manusia yang bisa menghancurkan hidup orang yang terlihat tabah sekalipun. Setiap orang mempunyai rasa kuatir terhadap hal-hal tertentu; dan sekalipun seseorang mempunyai segala sesuatu, kekuatiran tetap ada. Mengapa begitu? Manusia sebenarnya sadar akan keterbatasannya, dan ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dikontrolnya. Orang yang mempunyai banyak harta mungkin kuatir kalau-kalau hartanya lenyap dicuri orang lain. Atau mungkin ia kuatir kalau-kalau ia mendapat penyakit tertentu. Begitu juga mereka yang tidak kaya mungkin kuatir tentang biaya besar yang dibutuhkan di hari tua, atau tentang kebutuhan anak cucu di masa depan. Kekuatiran tidak hanya melanda kaum tua; menurut survey, generasi sekarang justru lebih kuatir menghadapi masa depan, terutama mengenai hal lingkungan hidup (environment).
Memperoleh upah dan penghargaan (reward) adalah salah satu tujuan orang dalam bekerja. Mereka yang ingin bekerja, tentunya ingin mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan pendapatan yang cukup dan kepuasan. Begitu juga orang Kristen agaknya sudah terbiasa mendengar ungkapan “upahmu besar di surga”, yang mungkin bisa memberi semangat untuk bekerja makin giat bagi kemuliaan Tuhan.
Ayat ini adalah ayat yang tidak sepopuler Yohanes 3: 16, tetapi sering diperdebatkan diantara berbagai golongan Kristen maupun diantara orang yang bukan Kristen. Apakah Tuhan menghendaki semua orang selamat? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab. Kalau jawabnya “ya”, tentunya Ia tidak mau seorang pun ke neraka. Tuhan yang mahakasih tentunya akan berusaha agar semua orang untuk bisa menemukan jalan ke surga melalui kepercayaan apapun, begitu pendapat sebagian orang. Walaupun demikian, adanya neraka tentunya menegaskan kenyataan bahwa sebagian orang akan menuju kesana. Karena itu, sekalipun Tuhan ingin agar semua manusia bisa ke surga, tidak semua orang akan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan.
Mengambil keputusan adalah suatu tindakan yang seringkali tidak mudah dilakukan. Sekalipun hal yang kelihatannya sederhana, seperti memilih menu makan siang, kadang-kadang bisa membingungkan. Karena itu ada orang-orang yang lebih senang untuk menyerahkan keputusan, kecil ataupun besar, kepada orang lain daripada pusing. Lebih dari itu, ada orang yang memang sering tidak mau mengambil keputusan karena takut menghadapi resikonya.
Minggu ini saya menerima banyak email dari murid-murid saya yang memohon perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugas (assignment) mereka. Seharusnya tanggal 23 April adalah batas waktunya dan jika mereka terlambat menyerahkan tugas, mereka akan mendapat pemotongan angka (penalty) sebesar 5% dari angka mereka setiap harinya.
Kemarin malam saya menonton sebuah film dokumentasi di TV, mengenai kehidupan berbagai hewan di sebuah lembah di Afrika. Lembah yang kelihatannya cukup subur itu dihuni oleh berbagai jenis hewan, baik pemakan rumput/daun maupun pemakan daging. Berbagai hewan kecil dan besar hidup bersama di tempat itu sekalipun hidup mereka tidaklah seperti apa yang kita bayangkan di taman Firdaus. Adanya hewan-hewan tertentu yang hidup dengan memangsa hewan lain bisa membuat keadaan yang semula tenang menjadi kacau, dengan hewan-hewan seperti singa dan macan tutul yang memangsa rusa dan hewan kecil lainnya. Melihat seekor rusa yang tertangkap dan menjadi mangsa singa tentunya mengundang rasa sedih, tetapi semua itu adalah bagian kehidupan dunia ini.