“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Pernahkah anda membandingkan lalu-lintas di kota anda dengan keadaan di kota lain? Pada umumnya, makin besar kotanya, makin ruwet lalu lintasnya. Itu bukan di Indonesia saja, tetapi juga di negara-negara lain. Memang kota-kota yang banyak penduduknya tentu banyak kendaraannya, dan karena itu kemacetan jalan raya sulit dihindari. Di Indonesia, saat ini kemacetan mungkin sering terjadi karena banyaknya sepeda motor. Tetapi di kota besar Jakarta, seperti juga Bangkok ataupun Sydney, selalu mempunyai jam-jam tertentu (rush hours) dimana kemacetan lalu lintas terjadi karena banyaknya mobil yang ada di jalan. Dengan adanya kemacetan di jalan, keadaan menjadi kacau dan orang mudah melakukan hal-hal yang bodoh.
Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apapun terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang seringkali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan mempengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele, tetapi karena banyaknya orang yang melakukan hal yang serupa, kekacauan kemudian timbul.
Pada ayat diatas tertulis bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak menghendaki kekacauan. Ayat itu ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus seringkali terombang-ambing diantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.
Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.
Pagi ini, jika kita bangun dan membaca koran atau media apapun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi dimana-mana. Mungkin itu berita tentang kejahatan, kecelakaan, kebohongan, kemiskinan dan lain-lainnya. Sebagian orang memang senang mendengar atau membaca hal-hal semacam itu, bahkan mereka senang membagikannya ke orang lain. Selain itu, ada orang yang suka membuat kekacauan dengan melalukan tindakan-tindakan yang membuat orang lain kuatir, bingung ataupun marah. Keadaan dunia saat ini memang tidak jauh berbeda dengan hingar-bingar kota Korintus pada abad pertama.
Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.
“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” 1 Korintus 14: 40
Pada saat ini, sekitar 2400 juta orang yang menganut agama Kristen atau sekitar 33% dari penduduk dunia. Jika orang membaca kisah kematian dan kebangkitan Kristus, mungkin mereka heran bagaimana apa yang terjadi di Israel pada waktu itu kemudian bisa membuat banyak orang menjadi pengikut Kristus.
Teringat saya sewaktu berada di Jepang, dengan teman-teman seuniversitas saya sering berbincang-bincang tentang berbagai hal jika lagi senggang. Salah satu bahan pembicaraan adalah mengenai agama dan hidup sesudah mati (life after death). Walaupun kebanyakan teman saya bukan orang religius, seperti orang Jepang lainnya secara tradisi mereka mengaku beragama Shinto dan Budha. Agama Shinto karena itu bermanfaat untuk bisa hidup bahagia di dunia, agama Budha karena itu berguna untuk bisa hidup di surga sesudah mati. Dengan berbekal dua agama ini, mereka merasa siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan.
Jika anda adalah penggemar opera, pertunjukan musik dan balet, mungkin anda ingat bahwa panggung pertunjukan tradisional umumnya mempunyai tabir (curtain). Tetapi banyak gedung pertunjukan modern di dunia yang sekarang tidak lagi mempunyai tabir seperti itu.
Australia adalah negara peternak domba nomer dua sedunia. Banyak domba yang diekspor ke luar negeri melalui jalur laut, kemudian di proses oleh abatoar setempat guna dijadikan daging konsumsi manusia. Sekalipun tujuan akhir dari ekspor itu adalah pengadaan daging, pemerintah Australia cukup dibuat rikuh dengan adanya berita yang muncul akhir-akhir yang menunjukkan adanya malpraktek terhadap domba-domba Australia di beberapa negara yang mengimpor domba itu. Domba-domba yang seharusnya dipelihara dengan baik sebelum saat penyembelihan sering diperlakukan dengan tidak semestinya, dan cara penyembelihannya juga dianggap tidak manusiawi. Domba-domba yang malang itu seringkali terlihat seperti makhluk yang tidak berdaya dalam cengkeraman manusia yang kejam.
Kejadian terbakarnya katedral Notre Dame di Paris kemarin dulu adalah berita yang membuat banyak orang merasa masygul. Sebagian orang merasa sedih karena bangunan yang sudah berumur ratusan tahun itu merupakan bentuk arsitektur yang luar biasa. Mereka yang merasa ikut memiliki gedung gereja itu merasa sedih karena kerusakan berat yang sudah terjadi.
Pernahkah anda menonton pertandingan gulat? Pertandingan gulat (wrestling) yang ada di TV seringkali hanyalah untuk konsumsi mereka yang senang menonton pertunjukan atau entertainment. Pertandingan gulat yang asli menghadapkan dua orang yang benar-benar bertanding dan bukan hanya berpura-pura bertanding. Karena itu, dalam pertandingan gulat seperti itu cedera sering terjadi.
Tanggal 17 April yang akan datang bangsa Indonesia akan menghadapi pemilihan umum. Sebulan kemudian, tepatnya pada tanggal 18 Mei, Australia akan mengalami hal yang serupa. Pemilihan umum adalah pelaksanaan demokrasi yang paling nyata dalam sebuah negara, untuk mana manusia harus bersyukur karena adanya kemerdekaan setiap warga untuk menyatakan pendapatnya. Kemerdekaan atau freedom yang dipunyai sebuah bangsa, seringkali hanya bisa dicapai dengan pengorbanan besar. Karena itu, pemilihan umum adalah suatu pesta demokrasi yang harus kita nikmati bersama.