Apakah kita tahu apa yang kita perbuat?

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23: 34

Tiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, dimana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang melakukan pelanggaran hukum? Apakah ia sadar akan adanya hukum? Apakah ia dengan sengaja melanggar hukum? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah sebagian dari apa yang diperdebatkan di depan hakim.

Ayat diatas adalah sebuah ayat yang sangat terkenal yang sering dibahas dan disampaikan dalam berbagai khotbah dan renungan. Memang apa yang dikatakan Yesus sewaktu Ia disalibkan adalah suatu doa yang luar biasa, yang menunjukkan kasihNya kepada manusia. Pada waktu itu prajurit-prajurit Romawi membuang undi atas jubah Yesus, sedangkan banyak  orang Yahudi melihat Yesus disalibkan dengan melontarkan berbagai ejekan, dan bahkan seorang penjahat yang disalibkan disamping Yesus ikut juga menghujat Dia. Menghadapi semua itu Yesus tetap bisa berdoa kepada Allah Bapa agar mereka diberi kesempatan untuk memperoleh pengampunan.

Yesus berdoa agar Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ini bukanlah sekedar memenuhi nubuat Yesaya (Yesaya 53: 12) yang mengatakan bahwa “Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberotak”. Yesus tentu tahu bahwa bagi mereka yang didoakan masih ada kesempatan untuk meminta ampun atas dosa-dosa mereka. Pengampunan Tuhan bisa diberikan jika manusia mau mengakui dosa-dosa mereka. Tetapi, jika mereka merasa tidak berdosa pengampunan tentunya tidak akan diberikan Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. 1 Yohanes 1: 9 – 10

Mungkin dalam hal ini ada orang-orang yang merasa bahwa mereka sudah hidup menurut perintah Tuhan dan merasa yakin bahwa hidup mereka adalah lebih baik dari hidup orang lain. Perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang ada dalam Lukas 18: 9 – 14 menceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa  disebelah seorang pemungut cukai dan merasa bahwa ia “tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”. Orang Farisi ini jelas tidak sadar akan dosa apa yang diperbuatnya: kesombongan. Karena tidak tahu akan dosa yang diperbuatnya, ia tidak bisa meminta ampun; dan karena ia tidak meminta ampun, ia tidak akan dibenarkan Tuhan. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Bagi pemungut cukai ini pengampunan Tuhan tersedia.

Tahukah kita akan dosa yang kita perbuat? Mungkin kita tahu bahwa sebagai manusia kita dilahirkan dalam dosa. Semua orang sudah berdosa karena dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. Walaupun demikian, sadarkah kita akan segala dosa yang kita perbuat setiap hari, setiap jam dan setiap saat? Sudah tentu jika kita menghitung dosa-dosa yang kita lakukan, pikirkan, atau katakan setiap hari, jumlahnya adalah terlalu banyak untuk bisa disebutkan. Untuk sebagian orang, karena kebiasaan, dosa yang banyak itu mudah dilupakan. Begitu juga, apa yang bisa diterima oleh masyarakat umum mudahlah diacuhkan. Karena banyak orang melakukan hal yang sama, kita mungkin merasa bahwa kita tidak berbuat salah.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa pengampunan Tuhan ada tersedia bagi semua orang yang sadar akan dosanya. Roh Kudus bekerja setiap saat untuk mengingatkan kita agar kita selalu mengamati apa yang baik dan yang buruk dalam hidup manusia di dunia.  Jika apa yang baik menurut firman Tuhan tidak kita lakukan dan apa yang buruk justru kita senangi, itulah kelemahan kita. Tetapi Roh Kudus jugalah yang memberi peringatan dengan tidak henti-hentinya agar kita tahu apa yang kita lakukan, agar kita peka akan apa yang baik dan apa yang buruk. Roh Kudus juga yang membimbing kita agar kita tidak jatuh kedalam kesombongan bahwa kita adalah orang-orang baik yang sudah terpilih. Biarlah dengan kerendahan hati kita mau meneliti hidup kita hari demi hari untuk bisa memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita dan memperoleh kekuatan dari Tuhan agar kita mampu untuk memperbaiki cara hidup kita.

Keinginan yang bisa membawa kehancuran

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Ingatkah anda akan lagu Gang Kelinci? Lagu lama yang pernah dinyanyikan Lilis Suryani dan Titik Puspa ini menceritakan kehidupan di satu gang di Jakarta. Gang Kelinci yang berada di samping Pasar Baru, Jakarta, adalah daerah yang padat penduduknya dan sempit jalannya. Walaupun demikian, dalam nyanyian itu diutarakan adanya rasa bahagia karena penduduknya rukun dan damai.

Gang Kelinci itu nampak manis dari sudut nostalgia, tetapi mungkin bukanlah tempat tinggal yang disukai orang zaman sekarang. Dengan kemajuan ekonomi dan bertambahnya daya beli, mereka yang mampu tentunya ingin tinggal di daerah yang mewah di jalan yang bisa dilewati mobil besar. Bukan saja di Jakarta, di kota besar di seluruh dunia, termasuk Sydney dan Melbourne di Australia, orang ingin tinggal di gedongan.

Bagi kebanyakan manusia memang apa yang kurang baik atau kurang nyaman umumnya selalu ingin dihindari atau diperbaiki. Itu lumrah saja. Walaupun demikian, untuk mencapai tujuan hidup itu orang sering mencari jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Karena itu, banyak orang Kristen yang gaya hidupnya tidak berbeda dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Mereka yang hanya ingin mencari keuntungan, mungkin tidak takut kepada hukum negara, tidak mempunyai etika yang baik, dan tidak merasa bersalah jika orang lain dikorbankan. Tuhan bagi mereka bukanlah Tuhan yang harus dihormati, dan orang lain bukanlah sesama insan yang harus dikasihi.

Menjalani hidup sebagai orang Kristen memang tidak mudah. Kita tahu bahwa dunia mempunyai prinsip “siapa cepat dia dapat“. Tetapi jika orang yang ingin untuk mendapatkan keberhasilan kemudian mengambil jalan yang terlihat paling mudah, disitulah kehancuran hidup bisa muncul. Ada banyak orang yang ingin memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan, tetapi apa yang kemudian diperoleh adalah hidup yang jauh dari Tuhan. Hidup yang rukun dan damai a la Gang Kelinci diganti dengan hidup yang terisi kekejaman, ketidak-jujuran dan keserakahan.

Setiap manusia pada akhirnya bertanggung jawab atas hidup dan tingkah laku mereka kepada Tuhan. Melalui ayat diatas firman Tuhan pagi ini memperingatkan bahwa jika prinsip kehidupan kita adalah mencari kesuksesan materi, besar kemungkinan bahwa kita akan terjebak dalam dosa-dosa yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Mengikut Tuhan bukanlah hal yang mudah dilakukan karena itu berarti menentang arus dunia. Manusia ingin hidup nyaman dan karena itu sebagian orang Kristen mengejar kesuksesan yang dianggap sebagai bukti kasih Tuhan. Tetapi ini bukanlah apa yang diajarkan Alkitab. Sebab itu, sekalipun banyak orang melakukannya kita tidak boleh terpikat olehnya. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus bisa memilih apa yang terbaik untuk masa depan.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Apa pesan kita kepada mereka yang sakit?

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 1: 2

Jatuh sakit adalah hal yang umum. Semua orang pernah jatuh sakit, dan sebagian malahan pernah masuk ke rumah sakit. Sudah tentu semua orang tidak menyukai penyakit, dan karena itu jika ada orang yang sakit berat, tentu ada pertanyaan mengapa itu terjadi. Apakah adanya penyakit adalah suatu pernyataan kedaulatan Tuhan? Ataukah adanya penyakit merupakan bukti adanya dosa si penderita? Mungkinkah Tuhan memakai penyakit sebagai suatu sarana untuk mencapai kehendakNya? Apakah Tuhan menghendaki adanya penyakit, ataukah Ia tidak peduli? Bagaimana sikap Tuhan terhadap mereka yang jatuh sakit?

Penyakit sudah tentu adalah sesuatu yang buruk, suatu konsekuensi yang harus dihadapi seluruh umat manusia yang jatuh kedalam dosa. Penyakit dapat terjadi pada siapa saja, umat Kristen atau bukan. Penyakit tidak memandang bulu, kaya atau miskin, tua atau muda.

Pada pihak yang lain, Tuhan mungkin mendatangkan penyakit untuk memperingatkan atau menghukum orang yang dengan sengaja menentang apa yang dikehendakiNya atau menghajar mereka yang hidup menurut jalan dunia. Tuhan juga bisa memakai penyakit untuk mengajar umatNya untuk lebih taat dan lebih bersandar kepadaNya. Memang, adanya penyakit juga bisa digunakan untuk mendemonstrasikan kedaulatan Tuhan. Ini bisa kita baca dalam Perjanjian Lama, dan juga dalam Perjanjian Baru.

Pada tahun 1980an, ketika virus HIV mulai menyebar, banyak orang Kristen yang percaya bahwa virus itu didatangkan Tuhan sebagai hukuman untuk kelompok tertentu. Beberapa tahun kemudian, banyak orang terkena virus itu melalui transfusi darah, kontaminasi alat operasi dan lain-lain. Hal ini kemudian memicu riset untuk mencari obat-obat yang bisa mencegah atau menyembuhkan. Mereka yang percaya bisa melihat bahwa sekalipun ada malapetaka, Tuhan tetap memegang kontrol.

Di zaman modern ini kita tahu adanya berbagai jenis penyakit lain seperti kanker yang merajarela. Semua itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Jika Yesus masih hidup di dunia dan sempat mengunjungi rumah sakit anak-anak, Ia mungkin ikut menangis bersama anak-anak kecil yang menderita leukemia atau penyakit lainnya. Penyakit adalah sesuatu yang tidak disenangi Yesus dan karena itu selama di dunia, Ia menyembuhkan banyak orang sakit. Dengan itu Yesus juga menunjukkan bahwa Tuhan berdaulat atas penyakit dan bahkan kematian.

Pagi ini kita mungkin memikirkan teman atau saudara yang sedang sakit. Kita mungkin tidak tahu mengapa itu harus terjadi. Tetapi jatuh sakit adalah bagian kehidupan di dunia dan umat percaya pun tidak luput darinya. Apa yang kita tahu ialah Tuhan ingin agar seluruh umat manusia untuk hidup sehat secara jasmani dan rohani.

Yesus turun ke dunia untuk membawa keselamatan jiwa kepada mereka yang percaya kepadaNya. Tetapi Ia juga menyembuhkan banyak orang sakit tanpa pilih kasih. Dengan demikian Ia membuktikan bahwa Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, adalah Tuhan yang mahakasih yang ingin menyelamatkan siapa saja yang datang kepadaNya.

Sikap kita kepada yang sakit haruslah sama dengan sikap Yesus Kristus kepada mereka yang sakit pada waktu Ia masih di dunia. Ia tidak memakai penderitaan manusia untuk menggaris-bawahi aspek hukuman atau kedaulatan Tuhan. Sebaliknya, Ia mengabarkan kabar baik (good news) bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih dan mau membebaskan manusia dari kurungan dosa. Dialah yang memegang kontrol dan yang bisa memberi kekuatan dan kesembuhan jasmani dan rohani sesuai dengan kehendakNya. Semoga kita dapat membagikan kasih Kristus kepada mereka yang sedang sakit dengan ikut mendukung mereka baik dalam doa maupun bantuan.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 16

Apakah kita mempunyai kebebasan?

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Pagi ini, saya mengambil keputusan untuk mandi dulu sebelum makan pagi di sebuah cafe. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.

Walaupun sebagian orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa manusia hanya bisa menerima apa yang “sudah ditentukan” Tuhan.

Adalah hal yang menarik untuk diamati bahwa penginjil Billy Graham selama hidupnya selalu berusaha untuk mengabarkan injil agar siapa saja yang percaya kepada Yesus mau mengambil keputusan untuk mengikut Dia. Mengikut Yesus keputusanku, begitu bunyi lagu yang sering dinyanyikan sewaktu ada kebaktian kebangunan rohani Billy Graham. Tetapi sudah barang tentu, siapapun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa benar-benar percaya karena bimbingan Roh Kudus.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia seringkali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan seringkali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kehendak bebas kita akan bisa membawa kita kepada hal yang buruk. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24

Apakah segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan?

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Hitler dan pengikutnya yang menyebabkan ribuan orang Yahudi, baik tua atau muda, mati di kamar gas pada perang dunia kedua, tentu dipandang sebagai orang yang sangat jahat. Apakah Tuhan menghendaki Hitler untuk melakukan kekejaman itu?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendakNya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat Hitler melakukan kekejiannya. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seijin Tuhan.

Dengan seijin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengijinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengijinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengijinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendakiNya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi resiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa ada kemungkinanTuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.

Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan kedalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umatNya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencanaNya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “ijin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukanNya pada saat yang dikehendakiNya, tanpa dipengaruhi oleh apapun dan siapapun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Pagi ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapapun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umatNya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umatNya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendakNya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Hal kesembuhan di zaman sekarang

“Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang.” Lukas 9: 1 – 2

Adalah suatu kenyataan bahwa setiap orang di dunia ini tentunya pernah jatuh sakit. Memang, dunia sesudah kejatuhan manusia kedalam dosa adalah dunia yang penuh masalah dan penderitaan. Alkitab menceritakan berbagai masalah kesehatan yang mengganggu hidup manusia, terutama dalam kitab perjanjian baru, dimana berbagai penyakit sudah disembuhkan oleh Yesus dan murid-muridNya.

Sudah tentu bahwa ilmu pengetahuan manusia pada zaman dulu tidaklah seperti zaman ini. Ilmu kedokteran saat itu belumlah berkembang dan dengan demikian orang mungkin lebih bergantung pada doa dan keajaiban untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit yang tidak dapat diobati oleh para tabib yang ada.

Kedatangan Yesus ke dunia membawa dimensi baru dalam hal kesembuhan. Alkitab mencatat bahwa Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya (Markus 3: 10). Jika sebelum kedatanganNya, orang tidak mempunyai banyak harapan untuk mendapat kesembuhan, Yesus memberi kepastian bahwa sebagai Anak Allah Ia bisa mengalahkan segala penyakit dan bahkan kematian.

Kepada murid-Nya Yesus juga memberikan tenaga dan kuasa untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Memang, dalam paket keselamatan Yesus, Ia mengutus murid-muridNya untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Semua itu dimaksudkan agar orang pada zaman itu bisa mengenal Yesus Sang Juruselamat dan memuliakan Allah Bapa yang mengutusNya.

Bagaimana pula dengan keadaan di zaman sekarang? Hal kesembuhan yang ajaib masih kita dengar atau alami, tetapi agaknya tidak sesering dulu. Sebaliknya, kita melihat bahwa banyak orang sakit menjalani pengobatan dan mengalami kesembuhan melalui pengobatan modern. Semua itu tentunya merupakan berkat dari Tuhan, yang memungkinkan apa yang baik untuk bisa dipakai manusia. Yesus yang sudah menyelesaikan tugas penyelamatanNya, tidak lagi perlu untuk mengelilingi dunia dan melakukan penyembuhan ilahi seperti dulu.

Sebagian umat Kristen masih percaya bahwa keadaan sekarang masih tetap seperti dulu. Akibatnya, mereka yang sakit mungkin kurang mempercayai ilmu kedokteran, tetapi lebih mengharapkan adanya keajaiban. Selain itu, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa ilmu kedokteran adalah ilmu manusiawi, dan kesembuhan yang paling baik bukanlah melalui ilmu itu.

Salahkah jika kita masih mengharapkan pemeliharaan dan kesembuhan ilahi di zaman ini? Tentu tidak! Alkitab menulis bahwa Tuhan tidak berubah. KasihNya tetap sama, begitu juga kuasaNya. Jika Ia menghendaki keajaiban terjadi di zaman ini, itu pasti akan terjadi. Kuasa Tuhan ada dan bekerja dalam segala hal, baik itu dalam hal yang kita mengerti maupun dalam hal yang kita kurang mengerti.

Ilmu kedokteran di zaman ini sudah jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh Lukas, yang pada waktu itu bekerja sebagai tabib (Kolose 4: 14). Lukas yang pada waktu itu mengabarkan injil bersama Paulus, tentunya sadar bahwa dibalik semuanya Tuhanlah yang bekerja. Begitu juga kita yang hidup di zaman modern ini harus percaya bahwa Tuhan tetap memelihara kesehatan kita melalui segala apa yang baik. Ilmu kesehatan dan kedokteran adalah berkat Tuhan yang harus kita syukuri.

Pagi ini, adakah masalah kesehatan yang anda hadapi? Percayakah anda bahwa Tuhan tetap peduli akan penderitaan manusia di bumi? Tahukah anda bahwa Ia ingin supaya manusia bisa mengenalNya melalui apa yang baik yang sudah diberikanNya?

Tuhan sudah memberikan berkatNya melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia, dan karena itu kita tetap bisa melihat berbagai keajaiban yang dilakukanNya termasuk apa yang terjadi melalui ilmu kedokteran. Bersyukurlah bahwa Tuhan itu baik, dan jangan sia-siakan kasihNya!

Bertahan dalam Kristus

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Dalam hidup ini, semua orang tentunya mendambakan kebahagiaan. Mungkin bagi sebagian orang, kebahagiaan berarti kecukupan dalam segala sesuatu, kesehatan yang baik sampai hari tua, ataupun kehidupan anak cucu yang bisa dibanggakan. Segala sesuatu yang baik tentunya diidamkan setiap orang, dan tentunya tidak ada orang yang menginginkan kesulitan atau penderitaan dalam hidup ini. Walaupun demikian, dinamika hidup adalah sedemikian sehingga orang sulit untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitu kata sebuah peribahasa.

Memang, sekalipun banyak orang yang mengajarkan bahwa nasib kita ada ditangan kita sendiri, dalam kenyataannya, hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam tangan manusia. Semakin lama kita hidup di dunia, semakin kita bisa melihat bahwa seringkali manusia berusaha, tapi kelihatannya Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Memang, apapun yang terjadi di dunia ini tentunya terjadi dengan seijin Tuhan; dan jika manusia mencoba untuk melakukan apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, pada akhirnya apa yang didapat belum tentu seperti apa yang diharapkan.

Lalu bagaimana pula dengan adanya kesulitan dalam hidup? Sekalipun kita tidak menyukainya, seringkali berbagai masalah justru muncul pada saat yang tidak kita inginkan. Apakah itu kehendak Tuhan? Bagaimana dengan seseorang yang dengan sungguh-sungguh mencari pasangan hidupnya dan kemudian mengalami berbagai masalah dalam perkawinan? Atau seorang pengendara mobil yang berhenti karena melihat adanya bahaya, tetapi justru ditabrak orang lain dari belakang? Sekalipun manusia sudah berhati-hati dalam segala sesuatu, apa yang terjadi belum tentu baik adanya. Apakah hal-hal yang sedemikian juga dikehendaki Tuhan? Belum tentu!

Dalam ayat diatas, Paulus menulis bahwa dalam usaha untuk mengabarkan injil, ia dan rekan-rekannya sering mengalami kesulitan besar; tertindas, dianiaya dan dihempaskan. Mereka berusaha melebarkan kerajaan Tuhan, dan sudah tentu Tuhan tidak menghendaki mereka mengalami berbagai masalah. Tetapi, apa yang terjadi adalah konsekuensi hidup di dunia yang penuh dosa. Lebih-lebih lagi, iblis pun berusaha untuk menghalangi umat Tuhan yang ingin berbuat baik.

Tuhan memang seringkali terasa diam dalam hidup ini. Ia tidak terlihat bertindak untuk mengatasi masalah kita. Mengapa Ia mengijinkan semua masalah untuk muncul dalam hidup kita dan kemudian seakan diam membisu? Bukankah Ia sanggup untuk menghilangkan atau menyelesaikan semua masalah? Itu memang sulit untuk dimengerti, tetapi sebagai umat percaya kita harus yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana. Jika Ia mau bertindak tentu saja Ia bisa. Tetapi jika Ia tidak bertindak seperti yang kita harapkan, itu pun adalah sesuai dengan kehendakNya. Apa yang dilakukan (kehendak aktif) atau tidak dilakukan olehNya (kehendak pasif) selalu mempunyai arti dan maksud, yang sesuai dengan kehendak agungNya sekalipun kita sering tidak mengerti mengapa itu harus terjadi.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, satu hal yang harus kita yakini: bahwa Tuhan memegang kendali. Terkadang Ia serasa tidak peduli, tetapi apa pun yang kita alami seharusnya membuat kita lebih bisa bergantung kepada Dia, agar kita bisa menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang mahakuasa. Kita juga bisa belajar untuk bersabar dan percaya kepada kasihNya selama kita menunggu pertolonganNya.  Kita memang manusia yang lemah, tetapi Tuhan selalu mau memberikan kekuatan yang melimpah kepada mereka yang beriman kepadaNya.

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” 2 Korintus 4: 7

Harga keadilan sosial

” Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 6 – 7

Hal membayar pajak adalah sesuatu yang agak sensitif. Dimanapun kita berada, hampir tidak ada orang yang dengan senang hati membayar pajak. Tetapi membayar pajak adalah sebuah keharusan bagi setiap penduduk negara, karena pemerintah hanya bisa menjalankan mandatnya dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak (tax revenue). Sekalipun penduduk negara secara keseluruhan bisa memperoleh penghasilan besar dari usaha mereka, negara tetap tidak dapat maju jika uang pemasukan dari pajak tidak cukup besar untuk membangun berbagai infrastruktur dan untuk menjalankan berbagai fungsi pemerintahan.  Dalam keadaan demikian, sebagian penduduk mungkin hidup dalam kelebihan dan kenyamanan, tetapi mereka yang kurang mampu akan hidup menderita karena fasilitas sosial yang tidak berkembang.

Alkitab mengisahkan saat dimana orang-orang Farisi berusaha mencobai Yesus dalam hal membayar pajak. Dalam kitab Matius 22: 15 – 22 diceritakan  bagaimana mereka bertanya kepada Yesus apakah mereka, orang Yahudi, diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar Romawi atau tidak. Yesus kemudian menjawab dengan tegas:

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Matius 22: 21

Jelaslah bahwa membayar pajak kepada pemerintah adalah suatu kewajiban, sekalipun orang mungkin tidak menyenangi pemerintah yang ada.

Ayat dari Roma 13: 6 – 7 diatas yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma lebih jauh menegaskan bahwa pemerintah yang ada adalah wakil Allah di dunia, dan karena itu orang Kristen harus mau membayar pajak kepada pemerintah yang sah, dan mempunyai rasa takut hormat kepada pemerintah yang berfungsi untuk menegakkan hukum dan melindungi masyarakat.

Membayar pajak juga merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan hukum Tuhan untuk mengasihi sesama kita. Didalam sebuah negara, keadilan sosial tidak mudah untuk dicapai jika pemerintah tidak mempunyai dana yang cukup yang berasal dari pajak. Dengan demikian, mereka yang mempunyai penghasilan yang cukup tetapi segan membayar pajak, pada hakikatnya tidak peduli dengan penderitaan dan kebutuhan orang lain. Sebagian orang mungkin segan membayar pajak karena kekuatiran bahwa uang pajak akan disalahgunakan. Tetapi pandangan semacam ini sudah tentu hanyalah alasan yang tidak didukung oleh prinsip kasih dan hormat yang diajarkan dalam Alkitab.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa setiap orang mempunyai kewajiban kepada negara dan masyarakat yang harus dijalankannya. Demikian pula setiap pemerintah sebenarnya adalah wakil Tuhan di dunia yang bertanggung-jawab untuk kesejahteraan rakyatnya dan untuk menegakkan hukum. Oleh sebab itu kita harus mau menunjang pelaksanaan hukum dan prinsip keadilan sosial baik secara langsung maupun melalui doa-doa kita. Biarlah sebagai orang Kristen kita bisa berfungsi sebagai lampu yang memancarkan sinar yang terang kepada masyarakat disekitar kita, sekalipun itu tidak mudah dilakukan.

Kehendak Tuhan selalu baik

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” 1 Timotius 2: 3 – 6

Tuhan yang mahakuasa adalah mahakasih. Itulah Tuhan yang dikenal oleh umat Kristen. Memang kasih Tuhan itu terlihat dalam pemeliharaanNya setiap hari, tetapi yang paling bisa disadari adalah kasihNya yang memungkinkan manusia menerima keselamatan melalui darah Kristus.

Siapakah manusia yang beruntung mendapatkan karunia Tuhan yang cuma-cuma itu? Pada zaman sebelum Yesus, orang Yahudi percaya bahwa merekalah satu-satunya bangsa yang diselamatkan. Tetapi, sesudah Yesus datang ke dunia, Alkitab menyatakan bahwa keselamatan tersedia untuk semua orang yang percaya (Yohanes 3: 16). Itu bukan untuk orang Yahudi saja, tetapi untuk segala bangsa dan seluruh umat manusia di dunia; dengan persyaratan bahwa mereka harus percaya kepada Yesus.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 17 – 18

Walaupun manusia sejak penciptaan makin berbudaya dan makin pandai, adalah kenyataan bahwa untuk percaya kepada Allah dan kepada AnakNya tidaklah mudah untuk dilakukan manusia. Tanpa pertolongan Tuhan, tidaklah mungkin manusia mengenal Allah. Manusia dengan usahanya sendiri tidak akan menemui keselamatan. Seluruh umat manusia pada hakikatnya adalah orang-orang yang terhilang, yang tidak dapat menemukan jalan yang benar. Tetapi untunglah, karena kasihNya Allah menghendaki mereka yang percaya kepada Yesus untuk diselamatkan sekalipun mereka pernah hilang.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 10

Mungkin banyak orang yang kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus dengan pernyataanNya bahwa Ia datang untuk mereka yang hilang. Semua manusia yang pernah hidup di dunia adalah orang berdosa yang sudah menyimpang dari jalan kebenaran. Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka.

Pagi ini, sebuah pertanyaan untuk kita semua, apakah kita menyadari bahwa kita pernah terhilang, menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan. Di hadapan Tuhan, tidak ada orang yang lebih baik dan lebih pantas untuk diselamatkan. Bagi Tuhan, semua orang sudah berdosa. Tidakkah kita heran mengapa Tuhan menghendaki supaya semua orang diselamatkan, dan itu termasuk diri kita dan seluruh anggota keluarga kita? Bukankah Ia adalah Allah yang mahakasih? Pujilah Dia selalu!

Tuhan adalah setia dan adil

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 8 – 9

Buah mangga adalah buah yang sangat populer, bukan saja di Indonesia tetapi juga di Australia. Banyak jenis mangga yang ada di Indonesia, tetapi barangkali mangga gadung dan manalagi adalah yang paling populer. Di Australia juga ada banyak jenis mangga, tetapi umumnya tidak seenak mangga Indonesia. Mangga di Australia termasuk barang lux, karena mahalnya. Karena itu jika orang mempunyai pohon mangga di rumah, itu adalah suatu berkat yang benar-benar bisa dinikmati.

Walaupun memilihara pohon mangga tidaklah sukar karena pohon itu termasuk tahan cuaca dan dapat hidup tanpa bantuan manusia, musuh pohon yang besar itu adalah binatang yang kecil: lalat. Lalat buah memang bisa memasukkan telurnya kedalam buah mangga selagi masih muda, dan setelah buah itu dipetik orang bisa menjadi kecewa karena buah itu sudah mengandung banyak ulat didalamnya. Buah yang sedemikian, sekalipun tidak semua dagingnya berulat, umumnya harus masuk ke tempat sampah. Tidak bisa dijual, tidak bisa dimakan.

Seperti mangga yang sudah diisi telur lalat, begitu juga manusia yang sudah dicemarkan oleh dosa. Kita dengan demikian selalu berbuat dosa karena kita adalah orang yang berdosa dari awalnya. We sin because we are sinners. Dosa kita bisa muncul dalam segala segi kehidupan kita, baik itu dosa yang terlihat signifikan atau dosa yang dianggap kecil. Itu bukan berarti bahwa hidup kita mirip buah mangga yang sudah 100% busuk, tetapi seperti buah mangga yang sudah tercemar dengan kebusukan sehingga tidak lagi bisa dimakan. Begitulah semua manusia sudah cemar di hadapan Tuhan yang mahasuci.

Sebagian orang berkata bahwa sekalipun manusia yang sejahat apapun, tentu ada sebagian dari hidupnya yang terlihat baik. Itu benar. Sebaliknya, orang tentunya tahu bahwa  dalam hidup seseorang yang terlihat baik, ada saja hal-hal yang kurang baik. Sebagian manusia mencoba memperbaiki hidupnya dengan berbuat baik; tetapi karena dosa sudah meracuni hidup manusia, apapun yang mereka perbuat tidak dapat membawa kepada kesucian atau keselamatan. Dosa sudah meracuni hidup dan pikiran kita sehingga apapun yang kita lakukan selalu tercemar oleh dosa yang kita sadari atau tidak kita sadari. Dosa yang berada dalam hidup kta adalah seperti kebusukan yang sangat dalam (radical corruption) sehingga apapun yang kita perbuat tidak dapat memperbaiki hidup kita. Memang benar bahwa melalui pendidikan dan belajar pengalaman, mungkin orang bisa terlihat baik dari luar, tetapi akar dosa tetap ada dalam hidup kita.

Pagi ini kita harus sadar bahwa untuk mengubah hidup kita  dari sesuatu yang ditolak Tuhan guna menjadi sesuatu yang bisa diterima Tuhan tidaklah mudah. Dengan tenaga kita sendiri tidaklah mungkin kita bisa menghilangkan kebusukan dosa yang sudah tertanam dalam hidup kita.  Untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang penuh dosa dan meminta pengampunanNya. Hanya dengan pengampunanTuhan, hidup manusia yang sebenarnya sudah digolongkan sebagai sampah, bisa diselamatkan dari kebinasaan melalui penebusan darah Kristus. Lebih dari itu, kepada kita yang sudah menerima pengampunan, Tuhan memberikan bimbingan Roh Kudus untuk bisa memperbaiki hidup kita, dan untuk membimbing kita guna menghindari apa yang jahat, hari demi hari sampai kita berjumpa dengan Dia. 

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24