Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23: 34
Tiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, dimana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang melakukan pelanggaran hukum? Apakah ia sadar akan adanya hukum? Apakah ia dengan sengaja melanggar hukum? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah sebagian dari apa yang diperdebatkan di depan hakim.
Ayat diatas adalah sebuah ayat yang sangat terkenal yang sering dibahas dan disampaikan dalam berbagai khotbah dan renungan. Memang apa yang dikatakan Yesus sewaktu Ia disalibkan adalah suatu doa yang luar biasa, yang menunjukkan kasihNya kepada manusia. Pada waktu itu prajurit-prajurit Romawi membuang undi atas jubah Yesus, sedangkan banyak orang Yahudi melihat Yesus disalibkan dengan melontarkan berbagai ejekan, dan bahkan seorang penjahat yang disalibkan disamping Yesus ikut juga menghujat Dia. Menghadapi semua itu Yesus tetap bisa berdoa kepada Allah Bapa agar mereka diberi kesempatan untuk memperoleh pengampunan.
Yesus berdoa agar Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ini bukanlah sekedar memenuhi nubuat Yesaya (Yesaya 53: 12) yang mengatakan bahwa “Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberotak”. Yesus tentu tahu bahwa bagi mereka yang didoakan masih ada kesempatan untuk meminta ampun atas dosa-dosa mereka. Pengampunan Tuhan bisa diberikan jika manusia mau mengakui dosa-dosa mereka. Tetapi, jika mereka merasa tidak berdosa pengampunan tentunya tidak akan diberikan Tuhan.
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. 1 Yohanes 1: 9 – 10
Mungkin dalam hal ini ada orang-orang yang merasa bahwa mereka sudah hidup menurut perintah Tuhan dan merasa yakin bahwa hidup mereka adalah lebih baik dari hidup orang lain. Perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang ada dalam Lukas 18: 9 – 14 menceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa disebelah seorang pemungut cukai dan merasa bahwa ia “tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”. Orang Farisi ini jelas tidak sadar akan dosa apa yang diperbuatnya: kesombongan. Karena tidak tahu akan dosa yang diperbuatnya, ia tidak bisa meminta ampun; dan karena ia tidak meminta ampun, ia tidak akan dibenarkan Tuhan. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Bagi pemungut cukai ini pengampunan Tuhan tersedia.
Tahukah kita akan dosa yang kita perbuat? Mungkin kita tahu bahwa sebagai manusia kita dilahirkan dalam dosa. Semua orang sudah berdosa karena dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. Walaupun demikian, sadarkah kita akan segala dosa yang kita perbuat setiap hari, setiap jam dan setiap saat? Sudah tentu jika kita menghitung dosa-dosa yang kita lakukan, pikirkan, atau katakan setiap hari, jumlahnya adalah terlalu banyak untuk bisa disebutkan. Untuk sebagian orang, karena kebiasaan, dosa yang banyak itu mudah dilupakan. Begitu juga, apa yang bisa diterima oleh masyarakat umum mudahlah diacuhkan. Karena banyak orang melakukan hal yang sama, kita mungkin merasa bahwa kita tidak berbuat salah.
Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa pengampunan Tuhan ada tersedia bagi semua orang yang sadar akan dosanya. Roh Kudus bekerja setiap saat untuk mengingatkan kita agar kita selalu mengamati apa yang baik dan yang buruk dalam hidup manusia di dunia. Jika apa yang baik menurut firman Tuhan tidak kita lakukan dan apa yang buruk justru kita senangi, itulah kelemahan kita. Tetapi Roh Kudus jugalah yang memberi peringatan dengan tidak henti-hentinya agar kita tahu apa yang kita lakukan, agar kita peka akan apa yang baik dan apa yang buruk. Roh Kudus juga yang membimbing kita agar kita tidak jatuh kedalam kesombongan bahwa kita adalah orang-orang baik yang sudah terpilih. Biarlah dengan kerendahan hati kita mau meneliti hidup kita hari demi hari untuk bisa memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita dan memperoleh kekuatan dari Tuhan agar kita mampu untuk memperbaiki cara hidup kita.
Ingatkah anda akan lagu Gang Kelinci? Lagu lama yang pernah dinyanyikan Lilis Suryani dan Titik Puspa ini menceritakan kehidupan di satu gang di Jakarta. Gang Kelinci yang berada di samping Pasar Baru, Jakarta, adalah daerah yang padat penduduknya dan sempit jalannya. Walaupun demikian, dalam nyanyian itu diutarakan adanya rasa bahagia karena penduduknya rukun dan damai.
Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Pagi ini, saya mengambil keputusan untuk mandi dulu sebelum makan pagi di sebuah cafe. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.

Dalam hidup ini, semua orang tentunya mendambakan kebahagiaan. Mungkin bagi sebagian orang, kebahagiaan berarti kecukupan dalam segala sesuatu, kesehatan yang baik sampai hari tua, ataupun kehidupan anak cucu yang bisa dibanggakan. Segala sesuatu yang baik tentunya diidamkan setiap orang, dan tentunya tidak ada orang yang menginginkan kesulitan atau penderitaan dalam hidup ini. Walaupun demikian, dinamika hidup adalah sedemikian sehingga orang sulit untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitu kata sebuah peribahasa.
Hal membayar pajak adalah sesuatu yang agak sensitif. Dimanapun kita berada, hampir tidak ada orang yang dengan senang hati membayar pajak. Tetapi membayar pajak adalah sebuah keharusan bagi setiap penduduk negara, karena pemerintah hanya bisa menjalankan mandatnya dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak (tax revenue). Sekalipun penduduk negara secara keseluruhan bisa memperoleh penghasilan besar dari usaha mereka, negara tetap tidak dapat maju jika uang pemasukan dari pajak tidak cukup besar untuk membangun berbagai infrastruktur dan untuk menjalankan berbagai fungsi pemerintahan. Dalam keadaan demikian, sebagian penduduk mungkin hidup dalam kelebihan dan kenyamanan, tetapi mereka yang kurang mampu akan hidup menderita karena fasilitas sosial yang tidak berkembang.
Tuhan yang mahakuasa adalah mahakasih. Itulah Tuhan yang dikenal oleh umat Kristen. Memang kasih Tuhan itu terlihat dalam pemeliharaanNya setiap hari, tetapi yang paling bisa disadari adalah kasihNya yang memungkinkan manusia menerima keselamatan melalui darah Kristus.
Buah mangga adalah buah yang sangat populer, bukan saja di Indonesia tetapi juga di Australia. Banyak jenis mangga yang ada di Indonesia, tetapi barangkali mangga gadung dan manalagi adalah yang paling populer. Di Australia juga ada banyak jenis mangga, tetapi umumnya tidak seenak mangga Indonesia. Mangga di Australia termasuk barang lux, karena mahalnya. Karena itu jika orang mempunyai pohon mangga di rumah, itu adalah suatu berkat yang benar-benar bisa dinikmati.