Pengampunan bukannya murah atau mudah

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6: 14 – 15

Hari ini adalah hari raya Idul-Fitri dan bagi yang merayakannya hari ini tentunya disambut dengan rasa sukacita. Di Indonesia, perayaan hari raya ini adalah cukup unik karena orang biasanya mengucapkan selamat Idul Fitri sambil bermaaf-maafan. Bagi mereka yang di luar negeri, tradisi bermaaf-maafan sambil mengucapkan Happy Eid-al-Fitr ini tidaklah lazim. Walaupun demikian, kebiasaan saling bermaaf-maafan tentunya  baik jika benar-benar dilakukan dengan sepenuh hati dan dilaksanakan di segala waktu.

Bermaaf-maafan dalam pandangan orang Kristen sebenarnya adalah keharusan dan bukan hanya kebiasaan. Tetapi, karena keharusan yang belum tentu menjadi kebiasaan, banyak orang Kristen yang lupa atau melupakan bahwa mereka sebenarnya perlu untuk selalu bisa mengampuni. Dari segi praktisnya, seseorang yang mengalami perbuatan buruk orang lain mungkin tidak bisa melupakan kejadian itu dan tidak bisa mengampuni pelakunya. Memang, selama orang ingat akan apa yang sudah terjadi, tidaklah mudah baginya untuk mengampuni. Sebaliknya, ada orang yang mau mengampuni orang lain, tetapi tetap tidak bisa melupakan apa yang terjadi. Tentunya dalam hal ini mungkin ada pertanyaan apakah benar orang yang bersangkutan memang sudah bisa mengampuni.

Melupakan dan mengampuni adalah dua hal yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini, mungkin ada orang yang bertanya-tanya apakah Tuhan yang mahatahu bisa dengan sepenuhnya mengampuni dosa-dosa umatNya. Tuhan bukanlah Tuhan jika Ia bisa lupa. Bayangkan saja jika Tuhan lupa untuk memelihara umatNya! Ia tidak pernah lupa, tetapi memilih untuk melupakan dosa-dosa mereka yang sudah bertobat dan minta ampun kepadaNya.

“Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” Ibrani 8: 12

Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang dengan sengaja tidak mau mengingat dosa-dosa kita, jika kita mau menerima Yesus sebagai Juruselamat kita. Sekalipun besar dosa kita, darah Yesus mampu mencuci bersih dosa itu sehingga kita menjadi layak di hadapan Tuhan.

“….Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Yesaya 1: 18

Pengampunan dosa manusia dengan demikian sebenarnya bukan hal yang mudah atau murah. Tuhan yang mahaadil seharusnya menghukum setiap manusia dengan kebinasaan karena semua sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Tetapi karena kasih karuniaNya, mereka yang percaya sudah dibenarkan dengan cuma-cuma dengan penebusan dalam Yesus Kristus (Roma 3: 23 – 24).

Kita yang sudah menerima pengampunan Tuhan seharusnya sadar bahwa apa yang kita terima bukanlah barang murah. Pengurbanan Yesus juga bukan sesuatu yang mudah dilakukan, tetapi sudah terjadi karena ketaatan Yesus kepada kehendak BapaNya. Bagi kita yang sudah menerima pengampunan yang sangat mahal harganya dan sulit untuk dilakukan, tetapi yang hanya karena kemurahan Tuhan bisa memperolehnya dengan cuma-cuma, tentu panggilan untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita adalah suatu kewajiban. Jika kita tidak bisa atau tidak mau mengampuni, itu tidak lain adalah suatu yang berlawanan dengan kasih Tuhan kepada kita. Hanya dengan menerima kasih dan pengampunan Tuhan dengan iman, kita akan mampu untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Mereka yang tidak dapat mengasihi atau mengampuni orang lain tentunya belum bisa mengerti bahwa Tuhan sudah lebih dulu mengasihi dan mengampuni mereka.

Menghasilkan apa yang baik dengan mulut kita

“Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.” Yakobus 3: 12

Mulut manusia adalah bagian tubuh yang sangat berguna. Jika makhluk lain menggunakan mulut pada dasarnya hanya untuk makan, manusia menggunakan mulut untuk makan dan berbicara. Manusia memang adalah makhluk satu-satunya yang memiliki cara berkomunikasi sistematis yang berupa bahasa. Dengan demikian, mulut berfungsi untuk memperoleh input, tetapi juga untuk menghasilkan output. Mana yang lebih penting fungsinya untuk orang Kristen?  Yesus dalam Matius 15: 11 – 19 menjelaskan bahwa apa yang masuk ke dalam mulut tidak menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari mulut dan bersumber dari hati dapat membuahkan berbagai dosa.

Memang apa yang keluar dari mulut seseorang bisa menunjukkan sifat atau kepribadian orang itu. Tidak hanya kebohongan, kesombongan, omong kotor, fitnah, gosip, sumpah palsu dan hujat yang bisa keluar dari mulut seseorang, tetapi juga apa yang nampaknya benar dan indah tetapi yang sebenarnya menyesatkan orang lain. Dalam kehidupan rohani, sering terlihat adanya guru-guru atau pemimpin agama yang bukannya mengajarkan kebenaran, tetapi justru menampilkan ajaran-ajaran yang bisa membuat orang lain tersesat. Kebanyakan hal ini terjadi agar bisa membawa keuntungan kepada si pembicara dan kelompoknya.

Rasul Yakobus dalam Yakobus 3: 1 – 12 mengungkapkan pentingnya menjaga mulut. Ini  ditulisnya untuk semua orang Kristen, tetapi diutamakan kepada orang-orang Kristen yang ingin menjadi guru, pemimpin, atau pembimbing orang Kristen lainnya. Dalam kenyataannya, setiap orang Kristen haruslah menjadi teladan bagi orang lain, dan dengan demikian wajib menjaga mulut mereka, agar apa yang diucapkan tidak berupa dosa. Memang sebagai manusia kita semua mempunyai cacat-cela, tetapi orang Kristen yang bisa menjadi pemimpin adalah orang yang bisa mengendalikan mulut, hati dan pikirannya sehingga apa yang dikatakan akan menguatkan dan membangun sesama.

Mungkin banyak orang Kristen yang mengeluarkan berbagai alasan jika dari mulut mereka muncul kata-kata yang tidak benar, kasar, kotor atau menyakitkan orang lain. Tidak sengaja, bukan bermaksud buruk, karena terpaksa, ataupun karena ilham, begitu orang sering berdalih untuk membenarkan perkataan mereka. Tetapi Yakobus tidak bisa menerima alasan-alasan seperti itu. Ia mengatakan bahwa pohon ara tidak akan menghasilkan buah zaitun dan  pokok anggur tidak dapat menghasilkan buah ara. Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Pagi ini, jika kita sudah memiliki hidup baru, kita tidak boleh tinggal dalam kebiasaan lama dan sembrono dalam menggunakan mulut kita. Kita tidak bisa memakai mulut kita untuk memuji Tuhan dan dengan mulut yang sama berbuat jahat kepada sesama kita. Apa yang keluar dari mulut kita jelas adalah pencerminan hati dan pikiran, dan karena itu kita harus mau berubah dari dalam untuk menjadi manusia baru yang membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Apa yang masuk ke dalam hati dan pikiran kita mungkin juga adalah hal-hal yang tidak benar dan jahat yang kita terima dari orang lain atau bersumber dari apa yang kita pernah lihat dan alami. Karena yang masuk adalah kotor, apa yang keluar juga kotor. Garbage in, garbage out. Oleh sebab itu, untuk mengendalikan mulut kita, kita harus benar-benar bertekad untuk mau mengendalikan seluruh tubuh kita. Kita  harus mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk dibimbing Tuhan dan mengabdikan hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaanNya.

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Efesus 4: 29

Memanfaatkan stres untuk kebaikan kita

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Setiap orang pernah mengalami stres yaitu ketegangan yang dialami karena adanya kesulitan, bahaya atau beban hidup. Stres adalah reaksi tubuh atas ancaman yang datang dari luar dan bisa mempengaruhi keadaan fisik maupun kejiwaan. Stres bukan monopoli manusia atau orang dewasa. Anak kecil pun sudah bisa mengalami stres terutama jika ia merasa bingung dan tidak nyaman dengan keadaan disekelilingnya. Selain manusia, binatang peliharaan seperti kucing dan anjing juga bisa mengalami stres karena tidak terbiasa dengan wajah orang-orang dan suasana yang berbeda dengan apa yang biasanya ada.

Bagi orang dewasa, stres seringkali muncul bukan saja dengan adanya kesulitan hidup, tetapi juga dengan adanya kemungkinan bahwa kesulitan hidup akan datang. Cukup dengan merasa kuatir akan apa yang belum (tentu) terjadi, orang bisa mengalami stres dan kemudian mengalami gangguan pikiran maupun kesehatan. Orang bisa merasa bingung, kehilangan semangat, sering merasa sangat lelah atau kehilangan nafsu makan karena pikiran yang tertekan. Sudah  tentu, stres yang tidak terkontrol dan berlangsung lama bisa membawa akibat yang jelek pada manusia maupun makhluk hidup lainnya.

Dalam perjuangan hidup, orang Kristen tidaklah berbeda dengan orang lain. Menjadi Kristen bukanlah jaminan bahwa hidup akan menjadi lancar karena adanya berkat materi/jasmani dari Tuhan. Sekalipun ada orang yang mengajarkan bahwa Tuhan yang mahakasih akan memberkati setiap umatNya dengan berkelimpahan, dalam kenyataannya orang Kristen tidaklah imun dari persoalan keluarga, masalah ekonomi, penyakit, bahaya dan hal-hal yang jahat selama mereka hidup di dunia. Karena itu wajarlah jika kita sebagai orang beriman juga mengalami stres dari waktu ke waktu. Tetapi, berbeda dengan orang yang tidak mengenal Tuhan, orang Kristen tahu cara yang terbaik untuk menghadapi stres. Sebagai orang percaya, orang Kristen seharusnya juga tahu bagaimana menggunakan stres untuk kebaikan mereka.

Ayat diatas adalah salah satu ayat Alkitab yang sering dikutip orang untuk dipakai sebagai pedoman untuk menghadapi stres. Apa yang dapat kita lakukan adalah membatasi pengaruh tekanan hidup pada diri kita agar kita tidak hidup dalam kekuatiran. Kekuatiran bisa muncul dalam bentuk apapun dan tentang apapun. Itu juga bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Kekuatiran yang besar sudah tentu bisa melumpuhkan, tetapi kekuatiran yang kecil pun bisa berlipat-ganda dan menjadi besar jika dibiarkan. Karena itu, ayat diatas mengajarkan kita untuk tidak berdiam pasif dalam memikirkan segala kekuatiran kita. Sebaliknya, kita harus secara aktif mau melupakan kekuatiran kita dan menghadap Tuhan dengan membawa segala permohonan kita sambil mengucap syukur atas pemeliharaan dan berkatNya sampai saat ini.

Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang tahu segala apa yang kita butuhkan dan mau memberikan apa yang terbaik untuk kita. Tetapi, Tuhan jugalah yang ingin agar kita senantiasa mau bergantung kepadaNya. Tuhan bukanlah seperti orangtua yang memanjakan anak-anak mereka dengan memberikan apa saja yang mereka inginkan. Anak-anak yang manja biasanya adalah anak-anak yang hanya bisa menuntut perhatian orang tua, tetapi tidak mempunyai hubungan batin yang baik dengan mereka. Anak-anak yang manja tidak pernah merasa bersyukur dengan apa yang sudah ada. Tuhan yang mahabijaksana adalah Bapa yang tahu bagaimana mendidik anak-anakNya supaya mereka menjadi dewasa dalam iman. Sebagai Bapa yang baik, Ia tidak berjanji untuk memberikan apa saja yang kita inginkan, tetapi Ia berjanji untuk memberikan damai sejahtera kepada anak-anakNya dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 7

Untuk apa anda ke gereja?

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Filipi 3: 10 – 11

Sekalipun Australia adalah negara sekuler, pada hari Minggu ini terlihat banyak orang yang hadir di gereja. Kebaktian di Australia biasanya diadakan sekali atau dua kali pada pagi hari (kebaktian umum dan kebaktian keluarga) dan sekali pada sore hari (kebaktian kaum muda). Sebagian orang mungkin sudah terbiasa untuk ke gereja bersama orang tua dan saudara sejak kecil, tetapi sebagian lagi mungkin baru ke gereja setelah dewasa.

Sebenarnya apakah tujuan kita untuk ke gereja? Tiap orang tentunya bisa mempunyai jawaban yang berlainan. Memang pada umumnya orang Kristen ke gereja untuk bisa bersekutu dengan mereka yang seiman untuk memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya. Tetapi ada juga mereka yang sebenarnya ke gereja untuk memohon berkat dan pertolongan Tuhan yang seolah tidak dapat diperoleh di tempat lain. Selain itu, ada juga mereka yang ke gereja untuk mengikuti upacara tertentu atau mengaku dosa. Dengan demikian, pada akhirnya setiap orang pergi ke gereja dengan tujuan yang sesuai dengan pandangan hidup masing-masing.

Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang ke gereja untuk memohon sesuatu kepada Tuhan. Orang-orang yang mendambakan penghiburan dan motivasi hidup akan selalu mengharapkan hal itu dari gereja mereka. Begitu juga mereka yang menginginkan kesuksesan mungkin menyukai gereja tertentu. Mereka yang merasa sudah berbuat dosa pada hari-hari sebelumnya, datang ke gereja khusus untuk mengaku dosa dan memohon ampun. Apapun yang kita inginkan dalam hidup, seringkali membentuk motivasi tertentu bagi kita untuk ke gereja.

Ayat diatas berisi keinginan rasul Paulus dalam hidupnya yang dinyatakannya kepada jemaat di Filipi. Paulus menulis bahwa ia ingin makin mengenal Yesus dan kuasa kebangkitanNya dan mau bersekutu dalam penderitaanNya, supaya ia makin menjadi serupa dengan Yesus. Menjadi umat Tuhan yang baik memang tidak cukup dengan menerima keselamatan dari Yesus, tetapi seharusnya makin hari menjadi makin sempurna melalui pengenalan dan pelaksanaan firman Tuhan. Inilah proses pertumbuhan iman yang dikendaki Paulus.

Hari ini firman Tuhan mengajukan beberapa pertanyaan untuk kita. Apakah kita sudah hidup seperti Paulus, yang ingin makin menyerupai Yesus yang sudah mati dan disalibkan dan kemudian bangkit dan menang atas kematian? Apakah kita termasuk orang-orang beriman yang mau menyalibkan hidup lama yang egosentris dan penuh dosa dan kemudian menempuh hidup baru dalam Kristus? Apakah seperti Yesus kita bisa tabah dalam menghadapi segala tantangan dan selalu ingin untuk memuliakan Tuhan serta memancarkan sinar kasih kepada orang lain? Dengan memahami apa yang dikehendaki Paulus, kita akan memiliki tujuan hidup yang akan memberi motivasi yang benar bagi kita untuk ke gereja.

Hal menjadi marah

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Road rage adalah suatu hal yang sudah memakan banyak korban di Australia. Kemarahan pengemudi kendaraan di jalan raya itu memang bisa mengakibatkan kecelakaan lalu lintas atau perkelahian antar pengemudi yang terkadang membawa korban jiwa. Seringkali hal ini dimulai dengan seorang pengemudi yang merasa tersinggung atau marah karena pengemudi lain yang memotong jalannya atau menyerempet mobilnya, dan yang kemudian melampiaskan kemarahannya dengan memaki-maki atau melakukan pembalasan dan tindakan kekerasan lainnya.

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan tercela? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan seringkali membuat orang geram dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkan orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen pada hakikatnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada sesama manusia, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran.

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika manusia secara sengaja tidak menghormatiNya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau menipu Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah terus membenci semua orang yang jahat. Kepada mereka yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan juga tersedia untuk mereka.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat.

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2

Pakailah hidup ini dengan bijaksana

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Mazmur 90: 12

Dalam beberapa hari terakhir, berita dari gunung Everest di pegunungan Himalaya mendominasi halaman satu beberapa surat kabar di Australia. Gunung Everest adalah gunung yang tertinggi di dunia dengan ketinggian 8848 meter di atas muka laut. Sejak  Edmund Hillary mencapai puncaknya bersama Tenzing Norgay pada tahun 1953, ribuan pendaki gunung berusaha melakukan hal yang sama. Mencapai puncak gunung Everest sampai sekarang tetap dipandang sebagai keberhasilan atau achievement yang sangat hebat.

Karena udara di puncak gunung itu sangat rendah kadar oksigennya, umumnya para pendaki gunung perlu membawa tabung oksigen agar tidak pingsan atau tewas karena kekurangan oksigen. Tetapi, diantara mereka yang ingin mencapai puncak gunung Everest itu, ada orang-orang yang mengambil keputusan untuk tidak memakai tabung oksigen. Berbeda dengan pendakian di zaman dulu, orang sekarang mungkin menganggap pemakaian oksigen akan mengurangi rasa puas dan bangga yang diperoleh jika mereka berhasil mencapai puncak gunung Everest.

Popularitas puncak Everest akhir-akhir ini membuat lingkungan setempat menjadi tercemar dengan sampah-sampah yang berasal dari para pendaki gunung. Selain itu, karena banyaknya orang yang ingin mencapai puncak Everest, seringkali para pendaki gunung harus antri dalam menggunakan jalan setapak yang ada. Ini tentu saja mengundang bahaya, terutama jika badai salju tiba-tiba datang dan mereka harus turun dari puncak gunung secepatnya. Sudah banyak pendaki gunung yang tewas maupun cedera berat karena situasi yang tidak lagi terkontrol. Malahan, baru-baru ini  dilaporkan media bahwa para pendaki gunung harus melewati tempat dimana jenazah seorang pendaki gunung terlihat nyata dibawah jalan yang mereka lalui.

Hal mendaki gunung tentu saja tidak ada salahnya jika memang untuk tujuan yang baik dan dilaksanakan dengan cara yang baik. Tetapi, apapun dalam hidup ini jka dilakukan dengan cara yang gegabah dan membahayakan diri sendiri dan orang lain, tentunya mengundang tanda tanya. Mengapa manusia di zaman ini seolah berlomba-lomba untuk mencari kepuasan dengan segala cara? Mengapa mereka seakan tidak sadar bahwa masih banyak hal lain yang perlu dilakukan dalam hidup mereka yang relatif singkat? Tidak sadarkah bahwa setiap orang bertanggung jawab atas karunia kehidupan dari Tuhan dan tidak seharusnya menyia-nyiakan hidup mereka ataupun lingkungan kehidupan di sekitar mereka? Mungkinkah mereka yang senang mengambil resiko justru percaya bahwa karena hidup ada di tangan Tuhan, mereka boleh saja melakukan apa saja yang disenangi?

Pertanyaan-pertanyaan diatas tidaklah mudah dijawab karena orang mungkin mempunyai pendapat yang berbeda dalam situasi yang berlainan. Walaupun begitu, ayat diatas tidaklah mendukung sikap manusia yang tidak mau mempertimbangkan hari-hari yang telah lalu, hari-hari yang sekarang dan hari-hari di masa depan. Tuhan membimbing setiap umatNya sedemikian rupa, sehingga setiap orang tetap sepenuhnya harus bisa belajar dari masa lalu, bertanggung-jawab atas tugas-tugas di masa kini dan membuat rencana yang baik untuk masa depan. Hidup manusia bukan milik mereka sendiri tetapi adalah karunia Tuhan, dan karena itu setiap orang harus bisa memakainya untuk kemuliaan Tuhan. Bagi orang Kristen, hidup yang tidak membawa kebaikan untuk Tuhan dan sesama kita adalah hidup yang tidak bijaksana.

Pagi ini, biarlah kita berdoa agar Tuhan mengajar kita untuk memikul tanggung jawab yang ada dengan sebaik-baiknya. Tua maupun muda, setiap umat Tuhan haruslah sadar bahwa hanya dengan kebijaksanaan dari Tuhan kita bisa menghargai hidup kita seperti Dia menghargainya. Tuhan menghargai dan mengasihi setiap insan dan ingin agar makin banyak orang yang dengan bijaksana memakai hidup mereka untuk kemuliaanNya.

 

Jangan gelisah dan gentar

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14: 2

Memiliki sebuah rumah adalah idaman setiap warga Australia. Tua-muda semua berusaha untuk menabung untuk bisa membayar uang muka guna mendapat pinjaman bank. Pada saat ini, mereka yang ingin mendapat pinjaman bank harus memiliki uang sekitar 20% dari harga rumah yang akan dibeli. Namun tidak lama lagi jumlah ini akan diturunkan sampai 5% untuk memudahkan mereka yang mencari kredit jangka panjang ini.

Walaupun penurunan jumlah deposit adalah sesuatu yang disambut dengan gembira oleh generasi zaman ini, harga rumah yang sangat tinggi di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne (mediannya sekitar  7-8 M rupiah), membuat banyak orang tidak lagi berharap untuk bisa memiliki rumah sendiri. Bagi mereka, menyewa rumah mungkin adalah satu-satunya cara untuk bertempat tinggal, seperti mereka yang hidup di beberapa negara maju yang lain.

Jika untuk memiliki rumah di dunia sudah begitu sulit, bagaimana pula untuk memiliki tempat tinggal di surga? Bagi mereka yang tidak percaya adanya Tuhan dan surga, hal sedemikian tentunya tidak perlu dipikirkan. Untuk apa memikirkan apa yang belum tentu ada, begitu banyak orang berpikir. Hidup di dunia hanya sekali saja, dan mereka tentunya ingin agar apa yang bisa dinikmati sekarang ini, bisa dicapai secepatnya.  Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang bekerja keras untuk mengumpulkan harta, guna menjamin kenyamanan hidup di dunia.

Bagi mereka yang mengenal Kristus, hidup yang ada sesudah hidup di dunia tentunya terkadang muncul dalam pikiran. Bagaimana rasanya hidup di surga? Benarkah bahwa segala sesuatu sangat indah dan nyaman ketika kita berada di surga? Memang, karena tekanan hidup yang besar di dunia ini, sebagian orang Kristen merasa gelisah karena apa yang diharapkan ada di surga tentunya belum bisa dilihat mata pada saat ini. Selain itu, dengan adanya pergumulan manusia selama di dunia melawan segala godaan, mungkin ada keraguan apakah Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu saja untuk bisa memasuki tempat kediaman di surga. Mungkinkah Tuhan membatasi jumlah orang yang akan ke surga? Mungkinkah surga hanya untuk mereka yang sering beramal?

Pada hari ini kita memperingati kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dalam ayat di atas, Yesus menyatakan perlunya Ia untuk kembali ke surga. Ia mengatakan bahwa ada banyak tempat di surga, dan Ia pergi untuk mempersiapkan tempat kediaman bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Siapapun yang percaya kepada Yesus adalah percaya kepada Allah yang mengutus Yesus dan yang memiliki surga. Tidak perlu diragukan bahwa karena Yesus mengatakan bahwa ada banyak tempat kediaman di surga, surga tidak akan menjadi penuh jika semua orang menjadi pengikut Kristus. Karena itu jugalah Kristus memerintahkan semua muridNya untuk mengabarkan injil ke seluruh penjuru dunia, supaya siapapun yang percaya kepadanya akan bisa bersama Dia di surga.

“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” Yohanes  14: 3

Hari ini, sebagai pengikut Kristus kita mendapat tantangan untuk bisa mempercayakan hidup kita, baik yang sekarang maupun yang akan datang, kepadaNya. Jika hidup kita saat ini terasa berat, Yesus yang sudah bangkit dan naik ke surga adalah Tuhan yang membimbing kita untuk bisa dengan iman, kuat menghadapi segala tantangan kehidupan sampai Tuhan menjemput kita dan membawa kita ketempat dimana Ia sekarang berada.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Hidup ini bukan fantasi

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Pagi ini saya membaca di surat kabar bahwa ada banyak anak muda yang sekarang mempunyai kecanduan baru. Bukan narkoba, tetapi video game. Mereka yang kecanduan video game banyak yang kemudian menjadi “manusia aneh” yang lupa segalanya. WHO (World Health Organization) yaitu Organisasi Kesehatan Dunia dari PBB secara resmi sudah mengkategorikan kecanduan ini sebagai kelainan jiwa yang mungkin membutuhkan perawatan psikologi intensif. Dunia ini nampaknya makin gila saja, dengan majunya teknologi manusia sekarang mempunyai berbagai sarana untuk merusak diri sendiri, merusak hidup orang lain, dan juga menghancurkan generasi mendatang.

Mereka yang sudah menjadi orangtua, seringkali merasa masygul melihat keadaan zaman ini. Untuk membesarkan anak ongkosnya tidak kecil. Belum lagi segala tenaga dan perhatian yang harus dicurahkan untuk bisa mendidik anak-anak mereka supaya menjadi orang yang baik dan berguna. Tetapi, seringkali pengaruh dunia adalah sangat besar dan mereka yang kurang beruntung kemudian bisa terseret arus. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa dan bahkan orangtua sendiri bisa jatuh kedalam perangkap iblis. Dalam hal ini, mereka yang tidak mengenal Kristus mudah untuk berjalan di jalan yang gelap, dimana kenikmatan dan kenyamanan duniawi membuat mereka seolah hidup dalam dunia fantasi.

Hidup di dunia ini sebenarnya penuh tantangan dan setiap orang mempunyai tanggung-jawab pribadi untuk menggunakan hidupnya dengan sebaik-baiknya. Apalagi, untuk orang Kristen hidup adalah untuk memuliakan Tuhan yang mahakuasa, dan bukan untuk mencari kepuasan pribadi. Dengan demikian, hidup yang bukan fantasi adalah hidup yang seringkali mengandung resiko, ancaman, rintangan, kegagalan, dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan. Itu tidak mengherankan karena dunia ini adalah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3: 17 – 19).  Yang justru aneh ialah jika orang ingin melarikan diri dari kenyataan dan tidak mau lagi untuk berjuang dalam hidup. Tidak hanya diri sendiri yang dirugikan, tetapi juga keluarga, gereja, masyarakat dan negara.

Memang, dalam menghadapi segala kesulitan hidup ini kita mudah menjadi takut. Kita sering gelisah dan gentar karena masa depan yang tidak menentu. Keadaan sosial, ekonomi, lingkungan dan hukum yang kita alami dalam hidup ini juga sering membuat kita menjadi kecil hati. Apa lagi yang bisa kita lakukan? Murid-murid Yesus mungkin merasakan hal yang serupa ketika mereka ditinggalkan Yesus. Tetapi Yesus yang pernah menjadi manusia tahu bahwa jika manusia harus berjuang sendirian, mereka akan merasa lemah karena sumber kekuatan mereka bukanlah diri mereka sendiri. Manusia memang sering tidak tahu bahwa sumber kehidupan mereka adalah Tuhan, dan kesadaran akan adanya Tuhan yang mahakasih akan memberi mereka kekuatan dan kedamaian.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa Yesus sudah berjanji kepada murid-muridNya – dan itu termasuk kita – bahwa Ia akan memberikan damai sejahtera yang tidak serupa dengan apa yang ditawarkan dunia. Damai sejahtera yang ditawarkan oleh dunia adalah bersifat sementara, sedang apa yang diberikan Yesus adalah kekal. Apa yang nampak gampang, indah dan nikmat di dunia justru seringkali adalah fantasi yang membawa malapetaka, tetapi damai sejahtera dari Kristus adalah karuniaNya yang membuat kita sadar bahwa kepada Tuhan kita boleh menyerahkan hidup kita sepenuhnya. Tuhan yang tahu apa yang kita butuhkan, Ia jugalah yang akan memberi kita keberanian untuk menghadapi hidup ini dan menjadi umatNya yang berguna untuk kemuliaanNya.

Bergembira atau bersukacita?

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 12

Beberapa kata dipakai dalam Alkitab untuk menyatakan rasa senang. Kata-kata seperti girang, gembira, senang dan sukacita dapat ditemukan dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru. Diantara kata-kata itu, kata sukacita (joy) adalah yang paling sering dipakai, sebanyak 87 dalam kedua kitab.  Sekalipun semua kata-kata ini menyatakan keadaan emosi seseorang, kata sukacita berbeda artinya dengan kata gembira (happy) atau kata-kata yang lain.

Biasanya kata sukacita dihubungkan dengan keadaan damai dan bahagia yang muncul dari dalam hati, sedangkan kata-kata yang lain dihubungkan dengan reaksi manusia atas apa yang terlihat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Walaupun demikian, dalam Alkitab kata-kata diatas sering dipakai secara silih berganti untuk menunjukkan hal yang serupa.

Sudah tentu orang bisa saja merasa girang, gembira, senang atau bersukacita karena berhasil memperoleh sesuatu yang berharga seperti mobil baru, rumah ataupun ijazah, sekalipun rasa senang itu mungkin tidak berlangsung lama. Orang juga bisa merasakan adanya rasa senang yang dicapai dengan melakukan perbuatan tercela seperti mencuri, pesta-pora ataupun menggunakan narkoba, sekalipun rasa senang itu hanya untuk sementara, sebelum akibat buruknya terasa. Selain itu, orang juga bisa bersukaria karena adanya keberhasilan dalam mencapai suatu target, sekalipun itu akan disusul dengan munculnya berbagai keluhan karena tugas kewajiban yang semakin berat. Jika semua itu bukanlah sesuatu yang abadi, adakah rasa gembira atau sukacita yang langgeng dan tidak bisa hilang?

Bagi umat Kristen, rasa sukacita yang pasti bisa dirasakan adalah karena kita yang berdosa dan seharusnya menemui kebinasaan, telah ditebus dengan darah Kristus dan menjadi anak-anak Allah. Ini bukan sekedar rasa gembira karena kita yang berhasil memperoleh sesuatu, tetapi rasa sukacita yang luar biasa karena kasih Tuhan yang luar biasa yang sudah dilimpahkan kepada kita. Bahwa dengan kemurahan Tuhan kita menerima keselamatan. Ini adalah hadiah yang sebenarnya tidak pantas kita terima tetapi kita peroleh secara cuma-cuma melalui karuniaNya semata-mata. Apa saja yang kita punyai dan alami di dunia tidak akan kekal, tetapi keselamatan yang kita terima adalah kekal dan tidak dapat dicuri oleh siapapun dan apapun.

Jika sukacita kita adalah karena kita menjadi anak-anak Allah, adalah suatu kenyataan bahwa selama hidup di dunia kita sering mengalami penderitaan dan masalah. Bagaimana kita bisa tetap bersukacita jika apa yang kita alami terasa begitu berat? Sebagai orang percaya kita yakin bahwa jika kita harus menderita, penderitaan kita hanyalah untuk sementara. Lebih dari itu, dalam kesusahan kita justru bisa merasakan adanya penyertaan Tuhan.

Kita juga bersukacita karena kasih Tuhan kepada kita selalu ada dalam situasi bagaimanapun, dari dulu, sampai sekarang dan untuk selamanya. Karena itu, kita tentunya dapat memahami ayat diatas yang mengatakan bahwa dalam semua keadaan, kita harus bisa bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 16 – 18

Tetaplah yakin akan kasih Tuhan

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Apakah ada yang anda kuatirkan dalam hidup ini? Pertanyaan ini bagi semua orang tentunya akan dijawab dengan kata “ya”. Sekalipun sebagian orang mungkin tidak terlalu kuatir akan kehidupan sendiri, mereka bisa saja kuatir akan apa yang terjadi pada diri orang lain atau akan apa yang terjadi di lingkungan, dalam negara, atau di dunia.

Hidup ini penuh dengan kejutan. Life is full of surprises. Orang yang terlihat sehat kemudian jatuh sakit parah, murid yang pandai justru tidak lulus ujian, mereka yang kaya-raya sejak lama kemudian jatuh bangkrut, mereka yang terlihat bahagia ternyata mengalami tekanan jiwa yang besar. Apakah yang bisa diharapkan manusia jika semua adalah tidak pasti adanya?

Dengan adanya berbagai persoalan hidup, mungkin tidak ada orang yang yakin bahwa hidup mereka akan berakhir dengan kebahagiaan atau “happy ending“. Mungkin hanya di layar perak saja kita bisa melihat adanya orang- orang yang sesudah mengalami perjuangan hidup, kemudian menemui kebahagiaan yang abadi. Sebaliknya, apa yang terjadi dalam kehidupan kelihatannya tidak dapat menjamin manusia manapun untuk bisa sepenuhnya optimis untuk masa depan.

Kemungkinan adanya penindasan, kesesakan hidup, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, kekejaman, terorisme ataupun peperangan memang bisa membuat orang sulit untuk mendapat ketenangan hidup. Lebih dari itu, bagi kita umat Kristen, selalu ada bahaya yang mengancam karena adanya orang-orang yang ingin menghancurkan iman kepercayaan kita.

Bagi yang percaya adanya Tuhan sekalipun, tidaklah ada harapan masa depan jika mereka hanya mengenal Tuhan sebagai Oknum yang mahakuasa. Tuhan mungkin sudah menetapkan hidup mereka untuk mengalami kehancuran. Bukankah manusia tidak dapat menolak kehendak Tuhan?

Untunglah bagi umat Kristen Tuhan bukanlah hanya Tuhan yang mahakuasa. Tuhan adalah Tuhan yang juga mahakasih. Karena kasihNya, Tuhan sudah mengaruniakan AnakNya yang tunggal Yesus Kristus untuk menebus dosa mereka yang percaya kepadaNya. Dalam hal ini, karena pengurbanan Yesus cukup hanya sekali bagi semua umatNya, Tuhan tidak membiarkan mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat untuk kehilangan kasihNya.

Pada hari Minggu ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan adalah lebih besar dari kesulitan hidup apapun. Karena itu, sekalipun hidup ini terkadang terasa sangat berat, kita yang sudah menjadi orang percaya tidak akan kehilangan keyakinan bahwa Tuhan senantiasa beserta kita!