Manusia bergantung kepada Tuhan

“Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.” Pengkhotbah 3: 14

Sabtu terasa baru saja berlalu, sekarang sudah hari Sabtu lagi! Kemana hari-hari ini pergi berlalu? Orang bilang: waktu cepat berlalu menunjukkan kesibukan hidup, itu ada benarnya. Tetapi, sekalipun kita tidak terlalu sibuk, hidup manusia terasa berubah cepat dengan adanya pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Kebebasan manusia dalam menentukan arah dan tujuan studi, karir, dan bisnis misalnya, sekarang terpaksa disesuaikan dengan keadaan yang tidak menentu. Banyak murid saya yang berasal dari luar Australia, sekarang terpaksa belajar on-line karena tidak bisa terbang ke Australia. Mereka yang tidak menyukai cara belajar jarak jauh ini, ada yang memilih untuk menunda masuk ke universitas.

Sebenarnya, sebelum adanya pandemi sudah banyak perubahan yang harus kita terima saja, tanpa bisa berbuat sesuatu. Itulah yang membuat kita sering merasa prihatin, terutama jika perubahan nampaknya tidak membawa kebaikan. Perubahan itu bisa datang dari dalam diri kita sendiri sebagai faktor internal, ataupun dari orang lain atau faktor eksternal lainnya. Bertambahnya umur yang untuk sebagian orang adalah sesuatu faktor internal yang membawa kematangan, untuk orang lain mungkin mendatangkan berbagai masalah, terutama kesehatan. Masalah eksternal yang datang dari luar diri kita, seperti adanya virus corona, sudah tentu lebih sulit diduga akibatnya, tetapi selalu terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan.

Penulis ayat diatas adalah Raja Salomo yang terkenal karena kebijaksanaannya. Ia menulis bahwa segala sesuatu yang ditentukan dan dilakukan Tuhan tidaklah dapat diubah manusia. Segala sesuatu ada masanya, ada waktunya, dan kita tidak dapat menghindari kenyataan ini. Ada waktu untuk bergembira, ada waktu untuk berduka. Ada saat kita sehat, tetapi ada saat kita sakit. Apa yang terjadi mungkin sering dipandang sebagai kehendak Allah yang tidak dapat dihindari dan karena itu sebagian orang hanya bisa menerima semuanya dengan pasrah.

Sebagai orang percaya, memang kita yakin bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta. Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah dengan sepengetahuanNya. Tuhan adalah Tuhan yang mahatahu. Tuhan juga mahakuasa, yang sudah menetapkan hal-hal tertentu untuk terjadi pada saatnya. Walaupun demikian, manusia yang diciptakanNya di dunia, bukanlah seperti robot-robot yang hanya bisa melakukan sesuatu dengan perintah Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan, dan iblis pun tahu bahwa dengan adanya kebebasan manusia, ia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.

Ayat diatas menegaskan bahwa adanya perubahan dalam hidup kita di dunia ini haruslah bisa kita terima. Jika kita membaca seluruh pasal dalam kitab Pengkhotbah 3, kita akan menyadari bahwa sekalipun kita tidak mengerti arti perubahan dalam hidup kita dan apa yang terjadi di sekitar kita, kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Kitab Pengkhotbah 3 juga menjelaskan bahwa sebagai manusia, kita harus sadar akan keterbatasan kita. Kerapkali, kita menerima kebebasan dan kemampuan yang kita terima dari Tuhan sebagai mandat untuk memaksakan kehendak kita. Kita lupa bahwa manusia bisa, boleh dan bahkan harus berusaha, tetapi kehendak Tuhanlah yang akhirnya akan terjadi. Karena itulah, setiap umat percaya seharusnya mencari kehendak Tuhan dan tidak menyia-nyiakan hidup mereka untuk berusaha menemukan apa yang mereka kehendaki.

Bagi kita yang percaya akan kemurahan Tuhan, kitab Pengkhotbah 3 menulis bahwa hidup ini adalah sebuah kesempatan untuk menikmati apa yang kita sudah terima dari Tuhan. Kegalauan hati dan pikiran tidak akan menolong kita karena kita memang tidak sepenuhnya bisa mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita. Tetapi berbagai tokoh Alkitab seperti Jusuf, Abraham dan Musa, menyerahkan semua kekuatiran mereka dalam menjalani hidup di tanah yang asing. Mereka bisa menikmati hidup di dunia dengan menyerahkan hidup mereka kedalam bimbingan Tuhan.

“Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” Pengkhotbah 3: 13

Hari ini, mungkin kita merasa bahwa kita kehilangan kontrol atas hidup kita. Pengkhotbah 3 bertanya adakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi rasa putus asa yang mungkin timbul dalam hidup kita. Adakah sesuatu yang bisa kita andalkan? Salomo menulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menguasai jalannya semua peristiwa kehidupan, tetapi bagi mereka yang takut akan Tuhan, hidup ini adalah suatu kepastian: Tuhan akan membimbing kita dalam keadaan apa pun. Apa yang harus kita lakukan adalah tetap tekun dalam melaksanakan tugas-tugas kita dan bersabar menunggu pertolongan Tuhan yang akan datang pada saatnya.

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” Pengkhotbah 3: 1

Mencuri bukan hanya berarti mengambil milik orang lain

“Jangan mencuri” Keluaran 20: 15

Tiap hari media selalu menampilkan beberapa kasus pencurian atau penyelewengan dana. Malahan, akhir-akhir ini makin banyak tersangka yang bisa digolongkan orang berpendidikan, dan bahkan termasuk orang-orang “kelas tinggi”. Herannya, banyak di antara mereka yang nampaknya tidak merasa malu atas perbuatan mereka. Memang di zaman ini, orang sering mencuri tanpa sadar bahwa mereka sudah berbuat salah.

Apa arti mencuri? Apakah mencuri selalu merupakan dosa? Inilah beberapa hal yang sering dipertanyakan, sekalipun orang tentunya menyadari bahwa definisi umum kata “mencuri” adalah mengambil barang orang lain tanpa izin atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mencuri bisa berupa mengambil mangga dari pohon tetangga, meminjam pakaian atau HP teman tanpa izin, mencontoh solusi ujian/riset orang lain, atau tidak membayar hutang atau pajak, sampai hal yang bisa menjadi pokok berita heboh di media, seperti melarikan pasangan orang lain atau menggelapkan uang orang lain atau uang negara, alias korupsi.

Jika kita melihat apa yang tertulis dalam ayat diatas, yang merupakan salah satu dari sepuluh hukum Tuhan, kita mungkin dengan mudah berkata bahwa mencuri dalam segala bentuknya adalah dosa. Baik mencuri barang yang kecil maupun besar adalah dosa. Tetapi, bagaimana jika kita mengambil barang seseorang karena kita merasa bahwa orang yang empunya tidak berkeberatan? Bagaimana pula jika kita mengambil barang orang lain yang sudah tidak dipakai? Atau jika orang mencuri karena terpaksa, karena keadaan yang berat yang dialaminya?

Bagi sebagian orang, mencuri adalah sesuatu yang mempunyai kepuasan tersendiri. Orang yang bisa menggunakan fasilitas atau sarana secara gratis sering merasa senang dan puas sekalipun mereka sanggup membayar. Orang mampu yang menemukan barang berharga yang tertinggal di tempat umum, mungkin masih bisa tergoda untuk mengambilnya. Bagi mereka, kalau orang lain berbuat hal yang sama, dan tidak ada hukum setempat yang melarangnya, itu bukan mencuri. 

Memang ada situasi yang berat, yang memaksa seseorang untuk mencuri. Misalnya, mereka yang kelaparan dan tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, mungkin terpaksa untuk mencuri. Ini pun dosa yang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini juga bisa menyebabkan orang di sekitarnya berbuat dosa juga karena membiarkan hal ini sampai terjadi. Perintah Yesus untuk mengasihi sesama kita, membuat kita ikut bertanggung jawab jika seseorang terpaksa mencuri, sedangkan kita mampu untuk memberi pertolongan.

Mencuri tidak selalu berupa kegiatan “mengambil”, tetapi juga bersangkutan dengan kegiatan “memberi”. Mereka yang tidak memberikan apa yang seharusnya diberikan/dibaktikan kepada seseorang, masyarakat, negara, dan dunia adalah mencuri hak orang lain.  Sebagai contoh, setiap orang Kristen diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Tidak membayar pajak atau sengaja mengurangi jumlah pajak yang seharusnya dibayar kepada pemerintah adalah mencuri hak pemerintah.

Mencuri juga bisa berupa penyalahgunaan apa yang diberikan Tuhan kepada kita untuk maksud-maksud tertentu. Tidak menggunakan waktu kita untuk melakukan hal yang baik adalah mencuri waktu yang diberikan Tuhan, sebab Tuhan memberi kita kehidupan bukan untuk dipakai secara sembarangan, tetapi untuk memuliakanNya. Segala berkat yang dilimpahkanNya bukannya untuk kemuliaan kita, tetapi untuk kebesaranNya. Karena itu, dalam keadaan apapun kita tidak boleh lupa untuk menyatakan rasa syukur kita kepadaNya. Jika tidak, kita sebenarnya mencuri kemuliaan Tuhan.

Pada zaman pandemi ini, mencuri juga bisa berupa pengabaian larangan untuk berkerumun atau ketidak-pedulian untuk memakai masker. Mengapa begitu? Jelas itu karena orang sedemikian menggunakan kesempatan untuk memuaskan diri sendiri tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain. Mereka yang tidak berhak untuk melakukan hal-hal terlarang itu, merasa bahwa semua itu adalah kemerdekaan yang mereka punyai.

Kita bisa melihat bahwa ayat diatas adalah singkat, tetapi sulit untuk dimengerti dan dilaksanakan. Ketika Adam dan Hawa memakan buah terlarang di taman Eden, agaknya mereka mengambil sesuatu tanpa seizin pemiliknya. Tuhan jelas melarang mereka untuk memakannya. Tetapi, dosa mereka adalah bukan semata-mata karena mencuri, dan bukan juga karena terbujuk ular, tetapi karena mereka pada dasarnya tidak mau tunduk kepada Tuhan. Kita yang adalah keturunan Adam dan Hawa, tetapi sudah menerima anugrah keselamatan dari Tuhan, seharusnya mau sepenuhnya tunduk kepadaNya!

Menghadapi hari depan tanpa kebosanan

“Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.” Amsal 4: 25

Sudah pasti bahwa kebanyakan orang sudah merasa bosan dengan keadaan saat ini. Pandemi yang tidak kunjung reda membuat orang tidak bebas untuk bepergian, berekreasi, atau melakukan aktivitas di tempat yang ramai. Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang saat ini merasa tertekan karena hidup seperti burung dalam sangkar. Bagi banyak orang, termasuk saya, menunggu memang bukan pekerjaan yang menyenangkan. Kebosanan sering datang, dan waktu yang sejam saja mungkin terasa seperti seminggu. Apalagi, pandemi ini sudah berlangsung selama lebih dari setahun, dan sekarang bukannya mereda tetapi makin menjadi.

Mengapa timbul kebosanan? Kebosanan adalah keadaan emosi atau psikologis yang gundah karena tidak adanya sesuatu yang bisa dinikmati atau dikerjakan. Kebosanan bisa timbul pada setiap orang, baik yang sibuk atau pun yang menganggur. Bagi yang sibuk tetapi kurang bisa menikmati kegiatannya, kebosanan bisa datang. Sebaliknya, mereka yang tidak mempunyai kegiatan tertentu, sudah tentu mudah menjadi bosan.

Kebosanan dapat mendorong seseorang mencari sesuatu yang lebih berguna untuk dirinya ataupun orang lain, dan juga untuk menciptakan suasana baru. Kebosanan bisa membawa seseorang untuk lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi, kebosanan bisa juga membuat orang jatuh dalam dosa. Tidaklah mengherankan, pada saat ini di banyak negara orang mulai melanggar larangan pemerintah untuk menghindari kerumunan. Mereka ingin bebas karena sudah bosan hidup dalam keterbatasan. Tentu saja hal ini berakibat makin banyaknya orang yang terjangkit.

Satu contoh kebosanan yang membawa dosa adalah pengalaman Raja Daud. Ketika Daud bertambah tua, ia menjadi kurang aktif dalam memimpin bani Israel. Tak terasa, hidupnya menjadi membosankan dan karena itu ia membuat petualangan cinta dengan Batsyeba, istri seorang prajuritnya yang bernama Uria. Dengan usaha Daud, Uria gugur di medan perang. Setelah itu, Daud mengawini Batsyeba. Dosa besar raja Daud ini berawal dari kebosanannya.

Bagaimana dengan hal mengikut Kristus? Apakah kita juga bisa bosan menjadi umatNya? Sudah tentu! Jika hubungan kita dengan Tuhan tidak berkembang baik, komunikasi dengan Dia menjadi jarang dan hidup kekristenan kita menjadi membosankan. Dalam keadaan sedemikian, iblis justru dengan tidak bosan-bosannya berusaha menjerumuskan kita kedalam dosa. Selain itu, jika kita lengah, dalam menghadapi keadaan saat ini iblis mungkin membisikkan pesan bahwa hidup saat ini tidak lagi ada gunanya jika kita tidak dapat beraktivitas secara normal. Hidup hanya sekali dan itu harus bisa dinikmati.

Hari ini, jika kita merasa hidup ini mulai membosankan, dan mata serta pikiran kita mulai mencari-cari sesuatu yang bisa menghilangkan kebosanan kita, ayat diatas mengajarkan agar kita tetap memandang terus ke depan dan tatapan mata kita tetap ke muka. Dalam keadaan apapun, kita harus selalu memusatkan perhatian kita apa yang baik dan benar menurut perintah Tuhan. Tetaplah berharap kepada pertolonganNya!

“Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” Amsal 4: 26 – 27

Tinggal sertaku, Tuhan!

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Hari ini saya membaca media yang melaporkan bahwa pandemi COVID-19 ini agaknya akan berlangsung cukup lama. Sekalipun vaksin sudah ada, belum tentu itu akan membawa kekebalan terhadap virus yang terus bermutasi. Tambahan lagi, karena jumlah vaksin yang ada pada satu negara mungkin belum cukup atau tidak bisa disebarkan dengan merata, kemungkinan adalah kecil untuk bisa mencapai imunitas masyarakat secara cepat. Dengan demikian, akan ada banyak negara yang masih terus mengalami dampak pandemi ini untuk tahun-tahun mendatang. Bagi banyak manusia di dunia, masa depan adalah sesuatu yang tidak dapat diterka atau direncanakan.

Masa depan yang bagaimanakah yang anda inginkan? Bagi mereka yang masih tergolong muda, mungkin ada banyak yang diidamkan untuk masa depan. Tetapi, bagi mereka yang sudah berumur, masa depan yang mereka impikan dulu adalah masa kini. Mereka mungkin sudah menyerah dan mau menerima apa saja yang bakal terjadi. Walaupun begitu, banyak orang tetap melihat ke masa depan dengan usaha dan pengharapan bahwa pada suatu saat mereka masih akan dapat mengalami sesuatu yang baik dan indah.

Memang agaknya aneh bahwa ada orang yang selalu sibuk memikirkan dan menguatirkan masa depan, sedangkan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tetapi, kita tentu bisa mengerti kalau dalam keadaan darurat saat ini manusia dan negara yang mampu berlomba-lomba untuk membeli bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan untuk bisa ditimbun guna menghadapi hari depan yang tidak menentu. Dalam kehidupan sehari-hari orang memang sering kuatir akan apa yang terjadi karena kemungkinan datangnya kejadian-kejadian yang tidak terduga. Hidup adalah penuh dengan misteri, begitu kata orang.

Ayat diatas menunjukkan bahwa apa yang terlihat nyaman dan tidak nyaman terjadi karena kehendak Tuhan. Tuhan yang mahakuasa memang bisa mengizinkan  terjadinya hal apapun, yang tidak bisa diduga manusia, supaya manusia mengakui bahwa mereka hanya dapat bergantung kepada Sang Pencipta. Walaupun demikian, banyak orang yang tetap merasa mampu untuk menentukan hari depan mereka melalui usaha dan kerja; mereka mungkin berpikir bahwa masa depan setiap orang ada ditangan sendiri. Memang banyak guru yang mengajarkan bahwa jika kita bersikap positif untuk menghadapi hidup dan mau bekerja keras, masa depan yang cemerlang menunggu kita. Tetapi itu belum tentu terjadi.

Memandang masa depan yang tidak dapat diduga, sering kali membuat kita ragu. Jika semuanya tidak ada yang pasti, bagaimana pula kita bisa mempunyai harapan untuk hal apapun. Mereka yang mengajarkan manusia untuk berpikir positif selalu menekankan hal percaya diri; sebaliknya mereka yang mengajarkan bahwa Tuhan adalah kunci kehidupan, menekankan hal percaya kepada Tuhan. Dalam hal ini, seakan lebih mudah bagi seseorang untuk mempercayai kemampuan manusia karena Tuhan dan kehendakNya adalah sulit untuk dimengerti. Kehendak Tuhan adalah suatu misteri.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55: 8 – 9

Walaupun demikian, mereka yang benar-benar mengenal Tuhan akan mempunyai pengertian tentang cara kerja Tuhan. Sepanjang sejarah, Tuhan selalu bekerja agar umatNya mau menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepadaNya. Ia tahu bahwa manusia tidak dapat hidup dengan bergantung pada diri mereka sendiri. Ia juga tahu bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan diri dari dosa dan akibatnya. Karena itu, melalui firmanNya dan berbagai kejadian yang ada di dunia, Tuhan tidak jemu-jemunya mengingatkan bahwa jika kita hanya percaya kepada diri sendiri selama hidup di dunia ini, kehancuranlah yang menunggu kita. Jika itu tidak terjadi sekarang, pastilah itu terjadi di masa depan.

Pagi ini, perlulah kita pikirkan apa yang kita harapkan dari masa depan. Apakah kita mengharapkan datangnya hari-hari gembira yang penuh suka cita? Tidak ada salahnya jika kita mengharapkannya dari Tuhan. Jika itu datang, kita boleh menikmatinya sambil bersyukur kepadaNya. Tetapi, jika hari-hari yang penuh tantangan dan kesulitan datang, kita pun harus sadar bahwa hari-hari itu juga datang dengan seizin Tuhan. Dalam hal ini, mereka yang tidak mengenal Tuhan akan mengeluh dan bahkan mungkin menghujat Tuhan; tetapi mereka yang mengenal kasih Tuhan yang sudah memberi keselamatan yang kekal di surga tidaklah menjadi kecewa, melainkan makin merasakan betapa besar kuasa dan kasih Tuhan. Bagi kita, hidup ini tidak lagi sebuah misteri. Tuhan senantiasa menyertai kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Merasakan kedamaian di tengah kekacauan

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Mendengar berita tentang India, mau tidak mau saya merasa sangat sedih. Dengan jumlah penduduk yang hampir 1,4 miliar, negara ini berada dalam urutan kedua sedunia sesudah China. Menurut berita, negara besar ini sekarang kehilangan kira-kira 117 penduduk setiap jam akibat COVID -19. Bagaimana ini bisa terjadi di negara yang paling banyak memproduksi obat-obatan generik sedunia dan yang sebelumnya mengirimkan jutaan vaksin corona ke negara-negara lain?

Berbagai negara sekarang mulai mengirimkan bantuan darurat ke India untuk perawatan pasien yang berupa mesin-mesin pembantu pernafasan dan obat-obatan. Dalam keadaan ini, banyak orang Kristen yang berdoa agar India, yang secara mayoritas beragama Hindu, agar dapat mengatasi bencana ini secepatnya. Selain itu, orang di negara lain juga berdoa agar Tuhan melindungi mereka dari ancaman penularan virus dari India.

Tetapi, apa gunanya kita berdoa? Banyak orang di zaman ini yang sudah tidak percaya bahwa doa itu ada manfaatnya. Mereka yang tidak percaya adanya Tuhan, sudah tentu tidak pernah berdoa. Tetapi, mereka yang masih yakin bahwa Tuhan itu ada, belum tentu mau berdoa atau bisa berdoa secara teratur. Doa itu membutuhkan waktu dan tenaga, dan ditengah kesibukan yang ada, orang mungkin lebih senang memakai waktunya untuk hal-hal lain yang dirasa lebih perlu.

Sebagian orang berpikir bahwa doa itu tidak berguna karena tidak akan membuat Tuhan mengubah rencanaNya. Ada juga yang beranggapan bahwa terlalu banyaknya doa menandakan kekurangan manusia dalam usaha dan tanggung jawab atas hidupnya. Orang yang lain berpendapat bahwa doa adalah ibarat candu yang hanya mendatangkan perasaan nyaman karena kebiasaan saja.

Ayat diatas jelas menunjukkan bahwa bagi orang percaya, pendekatan yang benar adalah perlu agar hidup kita tenteram. Itu dimulai dengan anjuran agar kita tidak kuatir tentang apapun juga. Ini tidak mudah dilakukan, karena setiap orang cenderung kuatir atas apa yang tidak dapat dikontrolnya. Mereka yang menderita dan membutuhkan sesuatu, sering merasa Tuhan itu jauh dan tidak terjangkau sekalipun dengan doa yang sering diucapkan. Sebaliknya, mereka yang kelihatannya nyaman hidupnya belum tentu tidak pernah kuatir. Malahan, jika sesuatu yang tidak terduga datang, mereka sering merasakan berbagai ketakutan; apalagi jika mereka sebelumnya jarang berdoa dan tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Ayat diatas yang ditulis oleh Rasul Paulus bunyinya seakan mirip dengan “positive thinking” yang diajarkan oleh banyak guru dan motivator di zaman ini. Lupakan kekuatiranmu! Tetaplah positif! Tetapi ayat ini juga mengajarkan agar kita menyatakan segala keinginan kita kepada Tuhan dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Doa yang sedemikian seharusnya menggantikan segala kekuatiran kita. Ini seakan lebih mudah dikatakan daripada dijalankan, apalagi bagi mereka yang hidupnya dalam penderitaan. Tetapi, penulis ayat ini adalah orang yang mengalami berbagai penderitaan dan kekurangan; jadi, apa yang ditulisnya sudah tentu bukan hanya kata-kata kosong tak berarti.

Hari ini, jika kita mempunyai kekuatiran tentang apapun juga, biarlah kita pertama-tama berusaha menguranginya. Sebaliknya, kita harus bisa menyadari bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan selalu lebih besar dari masalah kita. KasihNya kepada kita juga sangat besar, dan Ia mempunyai rencana yang baik untuk kita semua. Dengan mengingat bahwa Tuhan itu mahakuasa dan mahakasih, kita akan mendapatkan rasa damai sejahtera sekalipun keadaan di sekeliling kita terlihat suram dan menakutkan.

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4: 7

Bencana selalu ada di dunia

Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Lukas 13: 4 – 5

Berita tentang makin parahnya kasus penularan COVID-19 di India belakangan ini membuat banyak orang kuatir. Jumlah penambahan kasus positif per hari di India saat ini sudah melampaui apa yang pernah terjadi di Amerika. Orang menduga hal itu terjadi karena kurangnya usaha lockdown dan juga karena munculnya varian virus yang baru. Bagi manusia, kemungkinan terjadinya berbagai bencana bisa diramalkan dengan mengukur dan menganalisa berbagai data, tetapi apa yang akan terjadi biasanya ada diluar jangkauan pengetahuan mereka.

Apa yang dirasakan banyak manusia jika bencana terjadi, biasanya berupa ketakutan atau kekuatiran bahwa Tuhan mungkin sudah membuat semua itu terjadi karena dosa yang diperbuat manusia. Mungkin itu ada benarnya jika membaca kisah bahtera Nuh dan banjir besar yang melanda dunia. Tetapi, Ayub yang baik di mata Tuhan juga tertimpa bencana yang luar biasa dengan seijin Tuhan.

Memang kecenderungan manusia dalam melihat adanya bencana adalah untuk mencoba menduga mengapa itu terjadi. Tetapi, seperti manusia sering tidak dapat menduga kapan bencana akan terjadi, mereka juga sering tidak tahu mengapa itu terjadi. Selain itu manusia juga sering mengira bahwa:

  1. Penderitaan manusia adalah seimbang dengan dosanya.
  2. Adanya bencana selalu menunjukkan kemarahan dan hukuman Tuhan.
  3. Bencana hanya terjadi pada orang yang jahat.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Mereka yang menemui Yesus, menyangka bahwa karena besarnya dosa orang-orang Galilea itu, mereka mengalami nasib yang tragis. Tetapi, Yesus menjawab bahwa pandangan itu tidaklah benar.

Sebagai umat Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita mahakasih, dan karena itu tidak mendatangkan bencana untuk umatNya. Manusia yang hidup dalam dunia sesudah kejatuhan Adam dan Hawa, memang harus menghadapi berbagai bencana karena dunia yang tidak lagi sempurna. Manusia, baik mereka yang jahat maupun yang baik, bisa menerima berkat Tuhan seperti sinar matahari. Karena itu, semua manusia juga bisa mengalami bencana yang terjadi sebagai bagian dari hukum alami.

Adanya bencana belum tentu sehubungan dengan hukuman atau peringatan Tuhan akan dosa korban bencana. Tetapi itu seharusnya mengingatkan bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dosa. Bahwa manusia tidak dapat bergantung kepada dunia atau sesama, tetapi kepada Dia yang memiliki alam semesta. Hidup manusia tidak boleh dihakimi berdasarkan apa yang terjadi pada mereka, sebab semua orang bisa mengalaminya. Semua orang sudah berdosa di hadapan Tuhan dan semua orang bisa membuat kekeliruan.

Mereka yang mengalami bencana di dunia, bukanlah selalu akan mengakhiri hidupnya secara sia-sia. Bagi yang percaya kepada Kristus, hidup ini adalah bukan apa yang terlihat mata, tetapi adalah sesuatu yang akan datang. Bencana juga bisa memberi pelajaran dan kesempatan bagi mereka yang diluputkan, agar mereka mau mengakui kebesaran Tuhan dan menerima keselamatan yang kekal melalui Yesus Kristus.

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 18

Doa adalah penyerahan dalam iman

“Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Matius 8: 8

Ketika itu Tuhan Yesus sedang di Kapernaum. Agaknya luar biasa bahwa ada seorang perwira Romawi yang menemui Dia dan memohon Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang terbaring di rumah karena sakit lumpuh. Sudah dapat dipastikan, keadaan hambanya benar-benar serius. Yesus yang sedang sibuk, menjawab bahwa Ia akan datang ke rumah perwira itu untuk menyembuhkan hambanya. Kisah nyata ini akan berakhir disini jika si perwira mengiyakan Yesus. Yesus sudah berkali-kali menyembuhkan orang sakit dan Ia pasti dapat menyembuhkan si hamba. Tetapi, apa yang tertulis dalam Alkitab sungguh mengherankan. Bukannya meminta atau menerima Yesus untuk datang ke rumahnya, perwira itu justru berkata bahwa ia tidak layak menerima Yesus di rumahnya. Permintaan perwira itu dimulai dengan kerendahan hati dan pengakuan bahwa ia bukanlah orang yang pantas untuk menerima Yesus.

Walaupun demikian, perwira itu kemudian berkata kepada Yesus bahwa sebagai seorang perwira, yang mungkin berkuasa atas 80 prajurit, perintahnya akan diturut oleh anak buahnya. Demikian juga, ia percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus akan terjadi. Yesus bisa menyembuhkan hambanya yang sakit cukup dengan satu kata saja. Permintaan perwira itu jelas diiringi dengan pengakuan atas kebesaran dan kedaulatan Tuhan. Apa reaksi Yesus? Yesus berkata bahwa Ia tidak pernah menjumpai iman semacam itu diantara orang Israel. Iman yang sedemikian besar justru ada pada orang yang tidak disangka, yang bukan orang Israel. Dan karena iman itu, kesembuhan hamba perwira itu terjadi.

Apa yang bisa kita pelajari dari kejadian diatas? Ada orang-orang yang mengatakan bahwa iman adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan pengharapan, tetapi perwira itu menunjukkan bahwa iman adalah keberanian untuk menghadapi kenyataan dengan keyakinan. Iman adalah keyakinan bahwa Tuhan yang mahakuasa selalu mau mendengar keluhan mereka yang menderita. Dengan keyakinan itu timbul pengharapan bahwa Tuhan akan mengabulkan permohonan kita. Tetapi, jikapun Tuhan tidak mengabulkan permintaan kita, kita tetap yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Itu karena kita yakin bahwa Tuhan selain mahakuasa juga mahakasih dan mahabijaksana.

Sangat penting, dalam meminta segala sesuatu kepada Tuhan, kita menempatkan diri pada posisi yang benar. Kita adalah orang-orang yang sebenarnya tidak pantas untuk menerima perhatian Tuhan. Adalah kenyataan bahwa dalam hidup ini terlalu sering orang Kristen mengharapkan Tuhan akan menjawab segala doa mereka persis seperti yang apa yang mereka pinta. Sering kali mereka merasa bahwa sebagai manusia pilihan Tuhan, mereka adalah orang yang istimewa yang harus mendapatkan perlakuan khusus dari Tuhan. Berbeda dengan si perwira Romawi, mereka merasa pantas untuk menarik Tuhan dengan paksa untuk menyelesaikan masalah mereka, dan bukannya menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan sambil percaya dengan penuh keyakinan akan kebesaranNya. Jika si perwira mengakui bahwa ia adalah manusia yang tidak layak, seringkali umat Kristen merasa layak untuk mendikte Tuhan untuk melakukan sesuatu yang mereka ingini.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai ciptaan Tuhan kita wajib menyadari bahwa kita tidak dapat memaksa Tuhan untuk menuruti kemauan kita. Apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan bagaimanapun hubungan kita dengan Tuhan, Tuhan adalah mahabesar dan mahasuci dan karena itu harus kita muliakan. Dalam persoalan hidup yang bagaimanapun besarnya, kita tidak boleh menganggap bahwa Tuhan ada untuk memberikan apa yang kita ingini. Tuhan yang memberi kita iman bahwa Ia mahakuasa dan mahabijaksana, pasti memberi apa yang terbaik untuk kita pada saat yang tepat. Karena itu biarlah dalam menyampaikan permohonan dalam doa, kita selalu dengan rendah hati mengakui kedaulatanNya di bumi dan di surga.

Doa adalah sebuah komunikasi langsung antara umat percaya dengan Tuhannya. Doa yang berakhir dengan kata “amin” sebenarnya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mahatahu dan mahakuasa. Ia tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika doa kita berakhir dengan kata “amin”, itu seharusnya berarti “jadilah seperti kehendakMu” dan bukannya “biarlah yang kita doakan digenapi Tuhan”.

“Amin” juga dapat diartikan sebagai “dengan sesungguhnya”. Dalam doa kita dengan sejujurnya benar-benar mengakui Tuhan dengan segala atributNya. Dengan sesungguhnya kita juga mengakui kelemahan kita dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Doa dengan kata amin seharusnya juga merupakan penyerahan seluruh hidup kita kepada pimpinanNya.

Pagi ini jika kita berdoa dan mengakhiri doa kita dengan kata “amin”, hendaknya kita sadar bahwa kata ini bukanlah dimaksudkan untuk berbunyi “kabulkanlah doaku”; tetapi sebaliknya berarti “aku menyerahkan hidupku”. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kita!

“Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 9-10

Memang banyak yang bisa dikuatirkan

“Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Mazmur 4: 8

Adakah yang anda kuatirkan saat ini? Apakah anda sering kurang bisa tidur karena adanya hal-hal yang membawa kekuatiran? Dulu saya pernah mengalami masalah kurang bisa tidur lelap karena sering bangun di tengah malam, sebab otak saya bekerja memikirkan tugas-tugas esok hari. Saya tidak bisa tidur enak karena adanya kekuatiran bahwa saya akan melupakan hal-hal penting itu. Berdoa memohon tidur yang nyenyak sudah saya lakukan, tetapi saya kemudian sadar bahwa sayalah yang harus mengubah cara hidup saya dalam menghadapi tantangan.

Tuhan memang memberi kita kemampuan untuk merasa sakit, takut atau kuatir agar bisa menghindari berbagai macam ancaman atau bahaya, tetapi rasa kuatir atau takut yang berlebihan bisa membuat hidup kita sengsara. Baik ancaman dari luar maupun dari dalam tubuh kita sendiri bisa membuat kita sulit untuk tidur lelap atau hidup dengan tenteram. Tidak mengherankan, suasana pandemi yang tidak kunjung membaik saat ini sudah membuat banyak orang merasa resah.

Banyak orang yang mengalami kesulitan kronis untuk bisa tidur, yang sering disebut insomnia. Penyebabnya ada bermacam-macam, karena faktor medis, faktor lingkungan dan juga faktor kejiwaan memang bisa mempengaruhi kualitas tidur kita. Alkitab tidak membahas insomnia secara langsung, tetapi menghubungkan kegundahan hati (yang jelas bisa membuat orang sulit untuk tidur) dengan ketakutan, kekuatiran dan dosa. Tuhan memberikan manusia firmanNya untuk menghadapi hal-hal itu, dan tergantung kepada manusia apakah mereka mau menjalankannya.

Firman Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu takut kepada apapun yang tidak berkuasa membunuh jiwa.

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Matius 10: 28

Yesus juga sudah mengajarkan bahwa sekalipun kita melihat adanya kemungkinan untuk mengalami kesulitan di hari esok, kita tidak perlu kuatir bahwa Tuhan akan meninggalkan kita. Kesulitan hari ini kita hadapi bersama Dia, demikian juga kesulitan esok hari, itulah yang dinamakan berjalan dengan Yesus setiap hari.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Tidak dapat diragukan bahwa adanya dosa bisa membuat kita sulit tidur. Berbuat dosa adalah sesuatu yang dianjurkan iblis kepada manusia di taman Firdaus dan bahkan kepada Yesus di padang gurun. Baik kemarahan yang belum hilang, maupun adanya hal-hal yang jahat yang sudah atau akan dilakukan, atau rasa bersalah karena sudah melanggar firman Tuhan, bisa membuat orang sulit untuk tidur nyenyak atau hidup dengan tenteram.

“Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya.” Mazmur 36: 4

Pagi ini kita harus sadar bahwa apapun penyebab kekuatiran dan ketakutan, kita harus berusaha mencari penyebabnya. Dalam banyak hal, kita harus dengan bijaksana mau menilai apakah reaksi kita terhadap apa yang mengancam tidaklah berlebihan. Faktor medis mungkin bisa diatasi dengan pengobatan yang tepat dan bukannya dengan memakai obat terlarang atau cara mistis tertentu. Faktor lingkungan mungkin bisa diatasi dengan memperbaiki suasana lingkungan di mana kita tidur. Sedangkan untuk penyebab kejiwaan yang berhubungan dengan dosa, kita harus mau mengevaluasi dan memperbaiki hidup kita dengan bimbingan Tuhan. Selain itu, dalam keadaan apapun kita boleh berdoa seperti ayat pembukaan diatas: “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur. Biarlah Engkau ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman”.

Satu Bapa, satu Pemimpin

“Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Matius 23: 9 – 10

Mungkin banyak orang yang tidak sadar bahwa pemakai bahasa Arab dari semua agama zaman Abraham, termasuk Kristen dan Yahudi, menggunakan kata “Allah” yang berarti “Tuhan”. Orang-orang Arab Kristen sampai saat ini tidak memiliki kata lain untuk “Tuhan” selain dari kata “Allah”. Kata Allah dalam tradisi Kristen Asyria juga digunakan daalam liturgi berbahasa Arab. Demikian juga Gereja Syria dan Koptik Mesir yang sama-sama telah menyebar sejak abad 1, semenjak Yesus mengutus para muridNya ke berbagai daerah.

Orang Kristen Arab, menggunakan istilah “Allāh al-ab” untuk Allah Bapa, “Allāh al-ibn” untuk Allah Putra, dan “Allāh al-rūḥ al-quds” untuk Allah Roh Kudus di dalam banyak ritual gereja, seperti tradisi membuat tanda Salib untuk berdoa, memasuki ruang ibadah, dan juga pembaptisan. Mereka mengadopsi salam pembukaan bismillāh Muslim, dan juga menciptakan bismillāh mereka sendiri di awal abad ke-8. Jika bismillah Muslim berbunyi: “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bismillāh Trinitias berbunyi: “Dalam nama Allah Bapa dan Allah Putra dan Allah Roh Kudus, Satu Tuhan.” Jadi jelas ada perbedaan yang sangat besar.

Sangat menarik bahwa sebutan Allāh al-ab adalah identik dengan sebutan Allah Bapa di Indonesia. Seorang ayah adalah figur yang selayaknya dicintai dan dihormati oleh anak-anaknya karena ayah yang baik adalah bapa yang melindungi dan memimpin anak-anaknya. Walaupun demikian Yesus dalam ayat diatas melarang murid-muridNya memanggil siapa pun sebagai bapa karena hanya Tuhan di surga yang pantas disebut Bapa. Mengapa demikian?

Bapa yang disebutkan dalam Matius 23: 9 adalah Abba dalam bahasa Ibrani. Dalam konteksnya, Abba adalah oknum yang mempunyai kuasa, otoritas dan kontrol atas hidup manusia. Abba jugalah yang bisa memberkati manusia yang menurut perintahNya dan menghukum mereka yang durjana. Oleh karena itu, panggilan Abba dalam arti yang sepenuhnya hanya patut diberikan kepada Tuhan.

Jika panggilan Abba yang dilandasi dengan penyerahan total adalah hanya untuk Allah, sudah tentu Ia menuntut ketaatan dari umatNya yang lebih besar dari ketaatan yang diberikan manusia kepada ayah mereka. Sayang sekali bahwa tidak semua orang menyadari kemahabesaran Tuhan. Sebab sekalipun banyak orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya (Roma 1: 21).

Bagaimana pula dengan ketaatan kepada para pemimpin masyarakat, seperti pemimpin, sekolah, perusahaan, gereja, partai dan negara? Matius 23: 10 menyatakan bahwa kita hanya mempunyai satu Pemimpin yang sejati, yaitu Yesus Kristus. Pemimpin kita adalah Oknum Ilahi yang sudah berkurban untuk menebus dosa kita dengan darahNya.

Dalam hal ini, Filipi 2: 6 – 11 menyatakan bahwa Yesus yang adalah Allah, telah mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan itu, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi. dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Jelaslah bahwa Yesus Kristus adalah Pemimpin sejati umat Kristen.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan siapa yang harus kita muliakan dalam hidup ini: Tuhan. Jika manusia cenderung untuk mengagumi, menghormati, menaati dan mengasihi orang-orang yang mereka pandang luar biasa, Tuhan yang maha esa, mahabesar, mahakuasa dan mahakasih adalah jauh lebih mulia dari semuanya. Kepada Allah saja kita patut memanggil Abba, dan kepada AnakNya yang tunggal kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya agar bisa dipimpin melalui Roh KudusNya.

YAHWEH: Bukan sekedar nama

Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” Keluaran 3: 14 – 15

Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH atau YHWH. Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan nama-Nya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14).

Sebenarnya, Tuhan dikenal dengan berbagai nama dalam kitab Kejadian. Dia disebut “El Elyon” (Tuhan Yang Maha Tinggi), “El Shaddai” (Tuhan Yang Maha Kuasa), “El Roi” (Tuhan yang melihatku), dan nama-nama lainnya. Walaupun demikian, Abraham, Nuh, Ishak, Yakub, dan Laban mengenal Tuhan sebagai YHWH, atau Yahweh.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa agar diingat oleh umat-Nya, Israel, pada saat itu. Selalu diingat, tidak boleh dilupakan. Tuhan memang sedang mempersiapkan umat-Nya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus (Kejadian 3:15). Dari Alkitab kita bisa membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan banyak segi dari tujuan dan rencana penebusan-Nya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, yang tidak pernah berubah. Karena itu, Tuhan adalah Tuhan. Yahweh yang tidak ada duanya.

Dalam kitab Keluaran agaknya nama YHWH sudah dilupakan. Itulah sebabnya tidak disebutkan nama ilahi dalam Keluaran 1 dan 2. Kita harus ingat bahwa umat Israel telah menjadi budak di Mesir selama 400 tahun. Musa telah berada di Midian dengan ayah mertuanya yang tidak mengenal Tuhan selama 40 tahun. Walaupun ada orang-orang yang takut akan Tuhan, dan juga orang-orang yang berseru dalam penderitaan mereka kepada Tuhan, tidak ada yang memanggil nama YHWH. Dengan melupakan Tuhan yang tidak pernah berubah dan Tuhan yang mahakuasa, dan yang rancangan penyelamatan-Nya pasti terjadi, dalam penderitaan umat Israel tidak bisa mengerti siapakah Tuhan mereka, YHWH, yang akan membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Untuk kita, implikasi dari nama yang luar biasa ini, AKU ADALAH AKU, adalah bahwa Allah yang tak terbatas, mutlak, dan menentukan nasib sendiri ini telah datang untuk kita di dalam Yesus Kristus. Dalam Yohanes 8: 56–58, Yesus menjawab kritik dari para pemimpin Yahudi. Dia berkata, “Abraham bapamu bersukacita bahwa ia telah melihatnya dan ia bersukacita. ” Orang-orang Yahudi kemudian berkata kepadanya, “UmurMu belum sampai lima puluh tahun, dan Engkau telah melihat Abraham?” Yesus kemudian berkata kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. AKU ADALAH AKU!

Haruskah kita sekarang memanggil Tuhan dengan nama Yahweh? Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabi-Nya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Bapa yang tidak berubah. Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepada-Nya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita tidak boleh lupa bahwa kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15