Imanuel, Allah menyertai kita

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti: Allah menyertai kita. Matius 1: 23

Bagi mereka yang merayakan hari Natal, hari-hari ini adalah saat penantian untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus yang terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Umumnya orang merayakan hari Natal pada tanggal 25 Desember, walaupun hari itu hanya dipilih manusia untuk memperingati hari yang sebenarnya tidak diketahui kapan tepatnya. Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena adanya perbedaan agama.

Di negara dimana Natal adalah hari libur nasional, tidak semua yang merayakannya adalah orang Kristen. Di negara barat seperti Australia, Canada dan Amerika, banyak orang yang merayakan Natal karena sekedar tradisi, sebuah kesempatan untuk berlibur dan bersukaria seperti perayaan tahun baru. Walaupun begitu, hari Natal bisa menjadi hari yang penuh kesedihan bagi mereka yang menderita, mengalami sakit, kekurangan, kelaparan, kesepian dan kedinginan. Apalagi, pada saat ini suasana pandemi tidak memungkinkan orang untuk merayakan hari Natal seperti biasanya. Di banyak negara, rakyat masih hidup dalam kekuatiran dan kesedihan karena banyaknya korban virus corona.

Sebenarnya, bagi umat Kristen pun perayaan Natal juga mempunyai arti yang berbeda-beda, sekalipun mungkin kurang disadari. Mungkin karena kebiasaan, banyak orang yang merasa dirinya Kristen memerlukan diri untuk ke gereja. Mereka yang biasanya jarang ke gereja, pergi menghadiri kebaktian Natal. Banyak orang Kristen yang merasa bahwa merayakan hari Natal adalah hak mereka dan satu bagian dari identitas mereka. Dengan demikian, sebagian orang Kristen merasa sedih bahwa hari Natal tahun ini hanya bisa dirayakan secara maya.

Sekalipun banyak orang yang merayakan hari Natal, peristiwa kelahiran Yesus hanya mempunyai arti pada mereka yang sudah terpanggil menjadi anggota keluarga Allah. Hanya mereka yang sudah benar-benar menjawab panggilan Yesus Kristus untuk bertobat dan menempuh hidup baru akan menjadi anak-anak Allah seperti Yesus dan karena itu bisa mengerti arti kelahiran Yesus di dunia.

Ada banyak orang yang percaya Yesus adalah seorang tokoh yang penting, orang yang baik hati dan guru yang pengajarannya sangat berguna. Tetapi orang semacam itu seringkali juga percaya bahwa ada orang-orang lain yang juga baik pengajarannya dan besar amalnya. Bagi mereka, kenyataan bahwa Allah telah menurunkan AnakNya yang tunggal sebagai manusia biasa, dan bahkan lahir sebagai bayi di palungan, tidaklah bisa dimengerti walau bagaimanapun indah kisahnya. Untuk mereka, Yesus, Anak Allah yang Mahasuci itu agaknya sebanding dengan tokoh-tokoh agama lainnya. Karena itu, kepercayaan kepada Yesus mungkin tidak ada bedanya dengan kepercayaan kepada pemimpin agama yang lain, walaupun mereka memilih untuk merayakan hari Natal daripada merayakan hari besar agama lain.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan yang turun ke dunia sebagai manusia hanya mempunyai arti sepenuhnya bagi orang yang percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat. Kelahiran Yesus menegaskan penyertaan Allah untuk seluruh umatNya. Tidak ada nama lain di bumi yang bisa dibandingkan dengan nama Yesus, Anak Allah, dan karena itu kita harus beriman hanya kepada Yesus. Hari Natal membuka kesempatan bagi kita untuk menganalisa hidup kita. Apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Anak Allah? Jika demikian, itu adalah cukup untuk meyakinkan kita bahwa Ia sudah membawa kebahagiaan sejati kepada umatNya. Nothing else matters. Hal -hal yang lain tidak perlu dibingungkan.

So many pressures in life
So many reasons to throw in the towel
When I feel like I’m losing this fight
Consolation from Heaven comes clearly to me
To remind me, to remind me

Nothing else matters than seeing You, Jesus
Seeking the Master, the one who reigns over my life
Nothing else matters than seeing You, Jesus
Just to sit at Your feet, hear Your voice clearly speak
Lifts me out of defeat, for in You I’m complete
Reminds me nothing else, nothing else matters

Israel Houghton

Adakah jalan yang lebih baik untuk diselamatkan?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Sebentar lagi hari Natal akan tiba. Hari Natal adalah hari libur terbesar di dunia sesudah tahun baru, tetapi hanya dirayakan oleh sekitar sepertiga penduduk dunia karena hari itu adalah hari besar umat Kristen. Memang di banyak negara di dunia, hari Natal tidak boleh atau dapat dirayakan secara resmi karena hampir semua penduduknya tidak beragama Kristen. Sebaliknya, banyak penduduk negara Barat yang merayakan hari Natal hanya sebagai tradisi dan bukannya karena mereka orang Kristen.

Ada berbagai sebab mengapa suatu negara bisa menjadi negara yang mayoritas penduduknya menganut kepercayaan Kristen menurut tradisi tertentu. Faktor politik, militer, sosial, ekonomi dan budaya seringkali menyebabkan penduduk setempat memilih ajaran Kristen dari aliran tertentu, biasanya setelah selang waktu yang cukup lama. Dengan memilih aliran tertentu, mereka menyembah atau berbakti kepada Tuhan dengan cara-cara atau tradisi tertentu. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa agama Kristen itu sendiri terbagi dalam banyak aliran, dan sebagian diantaranya tidak merayakan hari Natal karena dianggap hari raya pagan.

Ketaatan kepada ajaran tertentu menyebabkan manusia berusaha mempertahankan eksistensi kepercayaan mereka karena yakin bahwa pilihan mereka adalah yang paling cocok, paling baik atau paling benar diantara yang baik dan benar. Karena itu, tidak hanya sering terjadi pergesekan antar aliran, tetapi ada orang-orang Kristen yang berpindah aliran karena mereka berusaha memilih ajaran/tradisi yang terbaik menurut pikiran dan perasaan mereka. Tentu saja, dengan berkembangnya kebudayaan dan cara hidup manusia, selalu ada aliran baru yang muncul dengan menawarkan sesuatu yang lain dari apa yang dimiliki aliran-aliran yang ada. Mereka yang mengikut faham tertentu umumnya merasa bahwa mereka sudah memilih ajaran yang benar dan mungkin juga memilih Tuhan yang benar.

Dari ayat diatas, ternyata bahwa sebenarnya manusia tidak dapat memilih untuk mengikut Yesus. Yesuslah yang memilih siapa saja yang akan dijadikanNya sebagai orang beriman. Oleh sebab itu, kita yang sudah mengikut Yesus tidak boleh menyombongkan diri karena itu bukan hasil pemikiran atau perbuatan kita.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. “Efesus 2: 8-9

Kita tidak bisa menganggap pilihan Tuhan adalah setara dengan pilihan-pilihan manusia yang ada di dunia. Sudah tentu pilihan Tuhan adalah pilihan khusus yang benar dan menurut kehendakNya. Kita harus yakin bahwa siapapun yang dipilihNya akan mendapat kesempatan untuk menyambut panggilan Yesus.

“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Wahyu 3: 20

Pagi ini, jika kita merasakan bahwa kita mengenal siapa Yesus itu dan mengakui Dia sebagai Juruselamat kita, kita harus yakin bahwa itu adalah satu hal yang tidak mungkin salah karena Ialah yang sudah memungkinkannya. Biarlah kita selalu bersyukur untuk itu dan juga mau mendoakan mereka yang sudah dipanggilNya agar mereka tidak lagi mencari-cari jalan keselamatan dengan usaha sendiri. Semua usaha manusiawi itu pada akhirnya justru akan menjauhkan mereka dari iman yang benar.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Kehendak Tuhan pasti terjadi

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Orang yang percaya adanya Tuhan yang mahakuasa tentunya sadar bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi dengan seizinNya. Lebih dari itu, untuk mencapai apa yang diingininya, manusia membutuhkan pertolongan Tuhan untuk membuka jalan. Dalam kenyataannya, manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “jika Tuhan menghendaki” daripada untuk melakukan apa yang semestinya. Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan.

Ayat di atas menyatakan bahwa jika manusia merencanakan, Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Manusia boleh dan bisa merencanakan, tetapi harus sadar bahwa rencananya akan berhasil jika itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, jika manusia tidak mau membuat rencana, apa yang kemudian terjadi mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Memang, Tuhan selalu mempunyai cara untuk mengenapi rencanaNya, sekalipun kita tidak setuju dengan kehendakNya atau tidak menyukai hasil rancanganNya. Kita tidak dapat melawan kehendak Tuhan. Karena itulah, jika kita percaya kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu, kita akan selalu mencari kehendak Tuhan. Kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat kita melangkah, tetapi jika kita melangkah Tuhan akan memakai kita dan membimbing kita untuk mencapai apa yang direncanakanNya.

Kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mencari kehendak dan pertolongan Tuhan. Bukankah pepatah mengatakan bahwa kita harus menggantungkan cita-cita kita setinggi langit? Begitulah banyak guru dan orangtua yang mengajarkan hal yang senada, bahwa hidup ini ada di tangan setiap manusia pemiliknya. Menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan tidak akan mencapai apa yang diidamkannya. Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita kepada kehendakNya. Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15

Terbanglah setiap hari bersama Yesus

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40: 31

Akibat pandemi dapat dirasakan oleh mereka yang bekerja di sektor pariwisata. Banyak travel agent yang dulunya sangat berhasil, sekarang harus memberhentikan banyak pegawainya untuk tidak menjadi bangkrut. Seiring dengan lenyapnya turis, perusahaan penerbangan di banyak negara juga harus mengistirahatkan pesawat dan pilot mereka untuk sementara waktu sampai keadaan membaik lagi. Dengan demikian, sejak awal 2020 banyak pesawat terbang dari berbagai negara yang diparkir di tempat yang luas seperti di Alice Spring, di lokasi tanah merah yang berada di tengah benua Australia.

Keadaan pandemi yang mulai membaik di Australia, sekarang memungkinkan penerbangan dalam negeri untuk bisa dimulai lagi, tetapi penerbangan ke luar negeri mungkin baru bisa diadakan pada awal tahun depan. Walaupun demikian, persiapan penerbangan internasional sudah mulai direncanakan, baik untuk pesawat maupun pilotnya. Maklum, karena sudah tidak terbang untuk berbulan-bulan baik pesawat maupun pilot harus mendapatkan perhatian khusus. Pilot yang jarang terbang mungkin sudah tidak lagi terbiasa mengendalikan pesawat, terutama jika harus terbang dalam cuaca yang kurang baik.

Ayat di atas ditulis oleh nabi Yesaya untuk bani Israel. Tetapi, janji Tuhan untuk Israel di saat itu adalah juga janjiNya kepada umat Kristen di masa kini. Kata-kata penghiburan ini diberikan kepada Israel setelah peringatan berulang kali Yesaya tentang hukuman yang akan datang jika mereka tidak bertobat dari cara-cara jahat mereka. Walaupun demikian, Tuhan adalah Allah penghiburan dan anugerah. Dia tidak pernah mundur dari janjiNya dan juga tidak menjadi lelah. Dalam cinta kasihNya Dia akan memberikan kasih karunia kepada yang rendah hati dan memperbarui kekuatan mereka yang menungguNya dengan iman.

Keadaan dunia pada saat ini memang bisa membuat semua orang merasa tertekan. Masalah bukan saja ditemui di bidang kesehatan, tetapi juga di bidang pendidikan, ekonomi dan politik, dan ini bisa ditemui hampir di setiap negara. Adalah kenyataan bahwa kesulitan hidup sudah membanjiri hidup manusia, ketakutan sudah menggerogoti hati manusia, dan mereka yang muda dan kuat pun bisa menjadi lemah dan lelah. Mereka tersandung dan jatuh karena mereka mengandalkan kekuatan batin dan sumber daya manusia mereka sendiri, yang bukan merupakan pelindung yang memadai dalam badai kehidupan.

Iman dalam Kristus dibutuhkan untuk bisa terbang setiap hari dengan sayap seperti burung rajawali. Bukan hanya kadang-kadang atau jarang. Itu berarti mempercayai Tuhan untuk mewujudkan semua yang telah Dia janjikan, bahkan ketika akal sehat dan logika kita tampaknya menyarankan sebaliknya atau tampak bertentangan dengan kebenaran yang dijanjikanNya. Mereka yang menantikan Tuhan adalah mereka yang memiliki kepastian dan keyakinan batin bahwa janji-janji yang telah Dia buat kepada umatNya, dan hal-hal yang mereka harapkan, adalah fakta dan kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh indra, emosi, alasan atau ketakutan.

Anugerah Tuhan cukup bagi kita untuk hidup setiap hari dan untuk menghadapi semua keadaan kehidupan. Itu cukup untuk setiap kesulitan yang mungkin kita hadapi atau tantangan apa pun yang dilemparkan kehidupan kepada kita. Kasih karuniaNya cukup bagi semua orang yang menaruh seluruh kepercayaan dan keyakinan mereka pada kekuatanNya yang luar biasa. Itu adalah kekuatan Tuhan Yesus yang mendukung mereka yang tidak mengandalkan kemampuan mereka sendiri. Dia akan memberikan kekuatan kepada mereka yang dapat mengakui kelemahan mereka sendiri, karena kasih karuniaNya cukup dalam semua situasi kehidupan.

Jika kita benar-benar mengidentifikasi dengan Kristus dan percaya pada kuasaNya dalam perjalanan kehidupan setiap hari, maka kekuatan Tuhan disempurnakan dalam kelemahan kita, maka angin Tuhan akan mengangkat kita di atas sayap rajawali dan membawa kita melewati tantangan dan tekanan hidup, dengan kuasa Roh KudusNya. Jika kita siap untuk mengakui kelemahan dan ketidakmampuan kita, saat itulah tenaga spiritual diperbarui oleh kekuatan Kristus yang tak terbatas memungkinkan kita untuk berlari sedemikian rupa untuk memenangkan hadiah, sesuai dengan panggilan Allah di dalam Kristus Yesus.

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13-14

Tuhan menyertai kita dalam keadaan apapun

“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!” Yakobus 5: 13

Tahun 2020 adalah tahun yang lain daripada tahun-tahun sebelumnya. Sejak awal tahun ini, kehidupan manusia secara drastis berubah dengan adanya pandemi Covid-19. Siapa yang dapat membayangkan bahwa Natal tahun ini tidak akan dapat dirayakan semeriah tahun lalu? Di beberapa negara, perayaan Natal malah tidak mungkin dijalankan karena gawatnya situasi setempat. Keadaan mungkin memaksa orang banyak untuk tidak berkumpul atau berbakti di gereja. Selain itu ada keluarga tidak dapat merayakan Natal karena adanya sanak yang menjadi korban virus corona.

Hari Natal adalah hari peringatan akan kelahiran Tuhan Yesus. Hari yang seharusnya dirayakan sebagai hari gembira karena datangnya Sang Juruselamat lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Bagi mereka yang bukan orang Kristen pun, hari Natal adalah hari yang biasanya disambut dengan rasa senang.  Tetapi, bagi masyarakat yang menghadapi suasana pandemi saat ini, Natal justru bisa mendatangkan kesedihan.

Mereka yang beriman, seharusnya bisa membayangkan bahwa Tuhan yang ada di surga adalah Tuhan yang sebenarnya ingin untuk dekat dengan ciptaanNya. Keselamatan yang direncanakanNya sudah dilaksanakan sejak mulanya dengan mendatangkan AnakNya ke dunia. Yesus yang turun ke dunia adalah Tuhan sendiri yang berwujud manusia, dan dengan pengurbananNya sudah menjembatani hubungan antara Allah Bapa dan umatNya. Allah tidak lagi oknum yang jauh di sana, tetapi adalah Bapa dari orang percaya. Lebih dari itu, sesudah Yesus naik ke surga, Roh Kudus diberikanNya kepada semua pengikutNya guna memberikan penghiburan, bimbingan dan keberanian untuk menghadapi segala tantangan hidup di dunia. Dengan demikian, kehadiran Tuhan  seharusnya makin terasa dalam hati umatNya ketika hari Natal mendatangi.

Mengapa Tuhan yang seharusnya dekat masih terasa jauh di sana? Itulah pertanyaan yang mungkin diucapkan orang yang merasa bahwa situasi saat ini sangat berat. Walaupun demikian, bagi setiap orang percaya, ini adalah pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab. Karena Tuhan sudah menunjukkan kasihNya melalui kelahiran Yesus, adalah kenyataan bahwa Ia ingin menyertai setiap umatNya. Jika kehadiran Tuhan tidak kita rasakan dalam hidup kita, itu adalah karena kita sendiri yang mungkin belum sepenuhnya membuka hidup dan hati kita untuk Dia.

Ayat di atas menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita harus mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Ini haruslah dilakukan setiap saat, dan bukan hanya jarang-jarang saja. Jika kita menderita, baiklah kita berdoa kepada Tuhan; jika kita bergembira baiklah kita memuji Dia. Kebiasaan yang baik ini haruslah selalu dipertahankan sekalipun hidup kita terasa berat sepanjang tahun ini. Tuhan yang datang ke dunia sebagai manusia adalah Tuhan yang bisa merasakan suka-duka kita dan Tuhan yang mau dekat dengan kita. Yesus adalah sobat yang setia dalam keadaan apapun.

Mungkin pada saat-saat yang baru lalu kita sering mengalami kesusahan. Mungkin penderitaan yang kita alami membuat kita merasa bahwa Tuhan pun tidak dapat menolong kita. Dengan keadaan sedemikian, kita mungkin merasa bahwa doa kita tidak ada gunanya. Pada pihak yang lain, mungkin saja selama ini hidup kita cukup lancar dan kita merasa itu sudah sewajarnya. Kita sudah berusaha hidup baik, menjaga kesehatan dan bekerja keras, dan sudah sepatutnya kita merasa puas. Dengan itu mungkin kita mudah lupa untuk memuji Dia. Sekalipun Tuhan ada di dekat kita, Dia sudah menjadi Tuhan yang diabaikan.

Hari Natal sudah dekat, tetapi getaran hati kita untuk menyambut hari kelahiranNya mungkin tidak terasa. Hari Natal mungkin sudah menjadi hari yang tidak ada artinya secara spritual.  Tuhan yang sudah kita abaikan hari demi hari tidak akan terasa dekat sekalipun lagu-lagu Natal mulai menggema. Hubungan yang renggang sepanjang tahun tidak akan membuat kita sadar bahwa Ia sudah datang untuk kita, agar kita tidak merasa seorang diri dalam hidup di dunia. Hanya dengan mengubah hidup kita untuk dekat kepadaNya dalam setiap saat dan keadaan, dalam duka maupun suka, kita akan dapat mengerti kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang hidup kita.

Berita sukacita dalam dukacita

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Matius 1: 21

Hari ini tanggal 11 Desember dan dua minggu lagi orang Kristen akan merayakan hari Natal. Di Australia, bukan hanya orang Kristen yang menyambut datangnya hari Natal karena hari ini adalah bagian penting dari budaya barat. Hari Natal bagi masyarakat umum biasanya dirayakan sebagai hari keluarga, dimana banyak orang mengunjungi orang tua mereka untuk makan bersama. Liburan Natal yang bersamaan dengan liburan akhir tahun, juga membuat orang untuk memakai kesempatan yang ada untuk berlibur atau bertamasya bersama keluarga.

Saat ini, anak-anak mulai memikirkan datangnya Natal dengan memikirkan hadiah apa saja yang bakal didapat dari orang tua mereka. Sebaliknya, para orang tua juga mulai bingung dan bahkan pusing memikirkan hadiah apa yang bisa mereka berikan kepada anak-cucu. Semua itu membuat hari Natal terasa seperti suatu kesibukan bagi semua umur. Walaupun demikian, bagi banyak orang lain hari  Natal mungkin justru bisa mendatangkan rasa sedih.

Pandemi yang berlangsung di berbagai negara mulai bulan Februari atau Maret yang lalu, membuat banyak orang merasakan penderitaan yang luar biasa. Saat ini keadaan di banyak negara tidak memungkinkan masyarakat untuk merayakan Natal seperti tahun-tahun yang silam. Bukan hanya karena tidak bisa berkumpul dengan teman dan sanak karena adanya kekuatiran atas kemungkinan tertular Covid-19, tetapi juga karena keadaan ekonomi yang kurang baik. Karena itu, hari Natal yang meriah bagi banyak orang bisa menjadi hari dimana ada yang merasa sedih, merana atau kesepian.

Bagi mereka yang beragama Kristen, hari Natal adalah hari peringatan lahirnya Yesus. Ini seharusnya lebih utama dari segi sosial dan finansial. Walaupun demikian, jika orang Kristen tidak meluangkan waktu untuk memikirkan arti hari Natal untuk dirinya, hari itu tidak akan berbeda dari hari-hari besar yang lain, seperti hari Tahun Baru dan hari kemerdekaan bangsa. Sekalipun ada yang bisa dinikmati, hari libur seperti itu adalah hari yang dirayakan orang setiap tahun tanpa ada yang terasa istimewa secara pribadi. Setiap tahun orang mungkin merayakannya tanpa mengalami perubahan, kecuali umur yang bertambah satu tahun. Benarkah demikian?

Hari Natal adalah hari yang seharusnya mengingatkan kita akan tujuh hadiah yang sudah kita terima dari Tuhan melalui Yesus. Tujuh hadiah itu adalah: pengampunan, pembenaran, hidup baru, perdamaian, pengadopsian, pembebasan dan penyucian. Karena Yesus lahir ke dunia dan mati di kayu salib ganti kita, kita bisa memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita. Dosa yang seharusnya membawa kematian, tidak lagi menyebabkan datangnya murka Allah karena melalui Yesus kita dibenarkan. Melalui Yesus kita bisa mendapat hidup baru, karena hidup lama yang sudah mati mendapatkan nafas baru dari Allah.

Natal seharusnya juga mengingatkan kita  bahwa Allah yang membenci dosa kita seharusnya memberi kita hukuman yang setimpal. Kita seharusnya mengalami kematian sebagai balasan atas kedurhakaan kita. Tetapi Yesus datang untuk mendamaikan Allah dengan kita, umatNya. Dengan itu terbuka kemungkinan bagi kita untuk diadopsi sebagai anak-anakNya dan berhak memanggil Dia sebagai Bapa. Kita sudah dibebaskan dari cengkeraman dosa dan pengaruhnya, oleh karena itu kita bisa mempunyai masa depan yang baik. Lebih dari itu, Tuhan yang mahakasih membimbing kita dengan Roh KudusNya untuk menyucikan hidup kita setiap hari, sehingga semakin lama kita menjadi semakin serupa dengan Yesus.

Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita akan tujuh hadiah Natal yang sudah diberikan kepada kita. Hadiah-hadiah ini sering tidak kita pikirkan karena pikiran kita yang sering terpusat pada hal-hal duniawi. Hadiah ini seringkali tidak disadari manusia karena mereka melupakan apa yang penting bagi masa depan mereka. Bagi banyak orang, rasa bahagia karena datangnya Yesus sang Juruselamat mudah terlupakan ketika mereka menghadapi kesedihan, kesulitan atau persoalan di dunia. Bagaimana dengan sikap anda dalam menghadapi Natal yang sebentar lagi akan datang? Bisakah anda bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan tujuh hadiah yang berharga untuk anda dan orang-orang yang anda kasihi? Semoga.

Sayangilah tubuh dan jiwamu

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Pandemi COVID-19 telah membawa banyak korban di dunia. Tidak saja di negara yang sedang berkembang, tetapi juga di negara maju. Di Australia, setelah berjuang mati-matian dengan berbagai tindakan lockdown, sekarang penambahan kasus bisa ditekan sedemikian rupa sehingga masyarakat bisa beraktivitas lagi sekalipun harus tetap berhati-hati, Walaupun demikian, dampak kesehatan dari pandemi ini sekarang diramalkan akan berkelanjutan sampai waktu yang cukup lama karena orang tidak saja bisa sakit secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Sakit kejiwaan inilah yang seringkali lebih sulit untuk disembuhkan.

Orang sekarang menyadari bahwa hubungan antara kesehatan jasmani dan kesehatan rohani tidaklah semudah yang diutarakan dalam semboyan “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Tubuh tidak lebih penting dari jiwa dan tidak menjamin sehatnya jiwa. Dalam tubuh yang sehat mungkin saja ada jiwa yang sakit, dan sebaliknya dalam tubuh yang sakit mungkin saja ada jiwa yang sehat. Kita mungkin sering menjumpai olahragawan dan olahragawati yang prestasinya hebat tapi kesehatan jiwanya perlu dipertanyakan karena cara hidupnya yang berantakan. Sebaliknya, ada banyak orang yang sakit atau tidak sempurna fisiknya tetapi mampu mencapai prestasi kehidupan yang hebat, dengan menggunakan pikiran dan hati mereka secara bijaksana.

Rasul Paulus sendiri ternyata adalah orang yang kurang sehat jasmaninya. Ia menulis dalam 2 Korintus 12: 7 bahwa ia diberi suatu duri dalam tubuhnya, mungkin suatu penyakit kronis dan menyusahkan dia, yang hanya bisa kita duga tetapi tidak bisa kita pastikan jenisnya. Walaupun demikian, dalam penderitaannya Paulus bisa menulis banyak pengajaran dan nasihat kepada banyak umat kristen di berbagai tempat. Tuhan memberi Paulus jiwa yang sehat walaupun tubuhnya merasakan penderitaan sampai akhir hayat.

Sebagai orang kristen memang kita percaya bahwa tubuh manusia mempunyai dua bagian, tubuh jasmani dan tubuh rohani, yang dinamakan tubuh dan jiwa (sebagian orang kristen membagi rohani dalam dua jenis yaitu jiwa dan roh). Karena tubuh jasmani kita ini akhirnya akan lenyap pada saat yang ditentukan Tuhan, banyak orang berpikir bahwa tubuh adalah tidak penting dan kurang berharga jika dibandingkan dengan jiwa. Tetapi pandangan semacam itu tidak dapat dibenarkan karena dalam penciptaan, Tuhan secara khusus membentuk tubuh manusia – lelaki dan perempuan – dan memberi mereka jiwa.

Rasul Paulus dalam ayat diatas mengajarkan bahwa kita harus memakai tubuh kita sebagai persembahan yang kudus untuk Allah, yang berarti kita harus juga menghargai tubuh kita sama seperti jiwa kita. Jasmani dan rohani keduanya penting. Inilah yang sering dilupakan oleh umat kristen, bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita harus memelihara dan memakai tubuh yang ada, dengan apa yang mampu kita lakukan, sesuai dengan maksud penciptaanNya, untuk kemuliaan Tuhan. Sekalipun kita mungkin tidak lagi mempunyai tubuh yang sehat, apa yang masih kita punyai tetap harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.

​Sayang sekali banyak orang yang tubuh dan jiwanya sehat tetapi tidak mau memakainya untuk memuliakan Tuhan. Ada pula orang yang sengaja menyia-nyiakan atau menyalah-gunakan tubuhnya. Juga patut disayangkan kalau ada orang yang menunggu sampai saat dimana tubuh atau pikiran mulai kurang sehat untuk baru mau bekerja untuk Tuhan. 

Semua orang yang masih hidup di dunia punya kewajiban untuk memelihara tubuh dan jiwa mereka dan menggunakannya sesuai dengan maksud penciptaan. Siapa yang segan menggunakannya akan menemui masalah karena apa yang tidak digunakan dengan baik, akan diambil Tuhan. Orang yang menelantarkan tubuhnya akan kehilangan kesehatannya, yang menelantarkan pikirannya akan cepat linglung, orang yang malas menggunakan kakinya akhirnya tidak kuat berjalan, orang yang segan berdoa akan canggung untuk berdoa, dan orang yang tidak pernah menguji imannya lama kelamaan menjadi orang yang tidak percaya.

“….Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.” Lukas 19: 26

Bahwa kemampuan tubuh dan jiwa kita akan berkurang dengan bertambahnya umur, itu bisa dimengerti. Itu ditentukan sejak jaman Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa. Mereka yang tidak mau menggunakan kesempatan yang masih ada, akan cepat kehilangan semuanya. Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya, apa yang masih bisa digunakan untuk memuliakan Tuhan, baik tubuh maupun jiwa, harus digunakan; hingga tiba saatnya kita menghadap Sang Pencipta!

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 3: 2

Kita juga harus bisa mengasihi seisi dunia

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat diatas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:

  • Allah adalah mahakasih.
  • Allah mengasihi seluruh umat manusia.
  • Semua manusia sudah berdosa.
  • Allah mengurbankan Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.
  • Siapa saja yang percaya kepada Yesus akan selamat.

Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih? Pertanyaan ini sering muncul dan tidak mudah dijawab, terutama jika kita melihat ada orang, suku atau bangsa yang nampaknya lebih kaya, lebih jaya atau lebih berbahagia daripada yang lain. Apakah penderitaan, bencana dan malapetaka yang terjadi pada orang-orang tertentu adalah tanda kebencian Tuhan?

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa syarat (unconditional), tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepadaNya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Selain itu, Tuhan dengan kasihNya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencanaNya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membiarkan seluruh umat manusia untuk mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencanaNya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencanaNya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena kebaikan atau keburukan orang-orang itu.

Banyak orang yang berpikir bahwa jika Allah itu maha kasih, tentunya Ia akan menyelamatkan semua orang yang baik. Pandangan ini masuk akal, hanya saja tidak seorangpun di dunia ini yang cukup baik menurut ukuran Allah yang maha suci.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-dombaNya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tanganNya, diberiNya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberiNya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Sebagai anak Tuhan kita harus bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umatNya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima perlakuan istimewa karena kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka juga mau menjadi pengikut Tuhan seperti kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Pada mulanya Injil Keselamatan diberitakan diantara umat Yahudi, namun kemudian Injil juga disebarkan untuk mereka yang bukan Yahudi. Karena kemurahan Allah, di zaman ini sangatlah jarang orang yang belum pernah mendengar kabar keselamatan Kristus. Lebih dari itu, melalui berbagai keajaiban, Allah bekerja agar semua orang di dunia mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus. Itu semua terjadi karena sejak mulanya, Allah mengasihi seisi dunia ini.

Pagi ini, marilah kita ingat bahwa sebagaimana Allah sudah mengasihi semua orang, kita pun harus mengasihi sesama kita dengan tidak mempertimbangkan apakah orang itu cukup baik untuk ukuran kita. Dalam mengabarkan Injil kita pun harus mau mencapai orang-orang yang kita kenal sebagai orang yang sulit untuk diinjili. Mereka yang dengan sengaja menentang Kristus atau mereka yang dengan kenaifan menolak Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Itu karena Yesus mencintai semua orang dan itu termasuk kita dan orang-orang lain yang sampai saat ini belum bisa kita kasihi. Ia ingin agar makin banyak orang datang kepadaNya untuk memperoleh keselamatan!

Memakai hidup sebaik-baiknya

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”  1 Korintus 15: 10

Hari ini saya menerima sebuah email yang membuat saya kaget. Seorang dosen universitas saya kemarin meninggal dunia secara tiba-tiba. Hari Kamis minggu yang lalu kami masih sempat berbincang-bincang di koridor gedung kantor. Karena usianya belum mencapai 50 tahun, keluarganya pasti mengalami shock berat. Hal ini membuat saya teringat bahwa setiap manusia tentu pernah dihadapkan kepada beberapa pertanyaan ini:

  • Berapa lama aku mau hidup?
  • Berapa lama aku akan hidup?
  • Untuk apa aku hidup?
  • Apakah aku puas dengan hidupku?
  • Bagaimana akhir hidupku?
  • Apa yang terjadi seusai hidupku di dunia ini?

Bagi sekelompok manusia, sebagian pertanyaan ini mungkin sudah terjawab. Sebagian tetap merupakan tanda tanya, dan sebagian lain mungkin belum/tidak mau dipikirkan.

Punya umur panjang memang adalah impian manusia. Menarik sekali bahwa menurut buku rekor dunia Guinness, manusia modern yang tertua di dunia adalah Jeanne Louise Calment yang umurnya 122 tahun dan 164 hari yang meninggal tanggal 4 Augustus 1997 di Arles, Prancis. Sekalipun umur yang lebih dari satu abad itu dipandang manusia sebagai umur yang panjang, itu sebenarnya termasuk pendek jika dibandingkan dengan umur beberapa makhluk lain:

  • Kura kura Galapagos 175 tahun
  • Ikan paus kepala tombak atau Bowhead Whale 210 tahun
  • Kerang Ocean quahog 500 tahun
  • Ubur ubur Turtitopsis Nutricula, Tricladida dan ganggang Hydra diatas 15 ribu tahun.

Dengan fakta terbatasnya umur, manusia cenderung untuk sebisa mungkin mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Hidup ini singkat, dan karena itu manusia ingin mencari kepuasan dan kebahagiaan sebesar mungkin di bumi ini selagi masih bisa. Untuk itu, mungkin orang akan memilih salah satu cara hidup dibawah ini:

  • Hidup sederhana agar pikiran tenang
  • Menikmati hidup selagi masih bisa
  • Menyibukkan diri agar penderitaan terlupakan
  • Bekerja keras untuk mencari kepuasan dan kesuksesan
  • Membaktikan hidup sepenuhnya untuk orang lain, dll.

Walaupun demikian, makna kehidupan ini masih belum terjawab. Apakah manusia hanya hidup untuk mencari kebahagiaan di bumi ini? Apakah hidup itu untuk diri sendiri atau untuk orang lain? Adakah kebahagiaan sejati di bumi? Apa yang terjadi setelah hidup ini?

Dalam ayat diatas, Paulus menjelaskan bahwa ia telah menerima kasih karunia Allah dan karena itu ia tidak mau menyia-nyiakan hidupnya. Sebaliknya, ia telah bekerja lebih keras dari orang lain karena kasih karunia Allah yang menyertainya. Paulus bekeja keras sampai kematiannya sekitar umur 60 tahun sebagai seorang martir di Roma. Hidupnya singkat tetapi padat. Hidupnya digunakan secara efektif untuk hal-hal yang baik bagi dunia maupun surga.

Memang hidup itu harus diisi rasa syukur atas karunia Tuhan, terutama karunia terbesar yaitu keselamatan. Mereka yang bisa merasakan betapa besar pengurbanan Kristus akan bisa mengerti kasih Allah kepada manusia. Karena itu, mereka akan lebih bisa menghargai hidupnya, dan bisa memakai hidupnya untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia. Mereka akan mau dan bisa memelihara kesehatannya agar bisa melayani orang di sekitarnya, dan memuliakan Tuhan selama mungkin selagi hidup di dunia.

Bagi semua orang Kristen, hidup yang singkat harus digunakan untuk meningkatkan kedewasaan iman, untuk belajar dan mengajar firman Tuhan. Seperti Paulus, kebahagiaan kita didapat dari Tuhan karena kita bisa mendengarkan suaraNya, dan bisa menyampaikan itu kepada orang lain. Kebahagiaan datang ketika kita melihat bahwa kerajaan Tuhan dilebarkan, baik di bumi maupun di surga.

“Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.” 1 Korintus 15: 11

Dalam melebarkan kerajaan Tuhan. Paulus tidak segan untuk berdiskusi dengan orang lain, untuk mengingatkan mereka agar hidup sesuai dengan perintah Tuhan. Bagi Paulus, hidup bukan mencari persoalan tapi menghadapi persoalan. Hidup bukannya lari dari kenyataan, tetapi merasa cukup dan bahagia dalam setiap keadaan. Kebahagiaan bukan didapat dengan hidup pasif yang menghindari tantangan, tapi dengan keberanian dan perjuangan menegakkan kebenaran Tuhan.

Hari ini, biarlah kita bisa melihat dan mengerti makna kehidupan kita. Hidup manusia memang singkat, tetapi kita bisa menggunakannya untuk memuliakan Tuhan!

Pengharapan kita tidak akan mengecewakan

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Dalam suasana pandemi saat ini, seisi dunia merasakan adanya berbagai penderitaan. Lebih dari itu, keadaan ekonomi yang berantakan sudah menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Adakah sesuatu yang masih anda harapkan dalam hidup ini? Saya yakin pertanyaan ini akan dijawab dengan “ya” oleh kebanyakan orang. Sekalipun apa yang kita harapkan belum tentu bisa terjadi, harapan setidaknya adalah pernyataan isi hati. Selagi masih hidup, umumnya orang masih berharap akan sesuatu yang baik di masa depan, untuk diri sendiri atau untuk orang lain.

Jika ditanya lagi, sebagian orang yang mempunyai harapan dapat menyebutkan apa yang diharapkannya dengan tegas dan langsung karena memang ada sesuatu yang signifikan yang masih dinantikannya. Tetapi, sebagian lagi harus berpikir dulu untuk menemukan jawabnya. Mereka mungkin sudah merasa terbiasa dengan hidupnya, sehingga mereka butuh waktu untuk memikirkan apa yang penting dan yang belum terjadi atau tercapai.

Pertanyaan selanjutnya mungkin agak sulit untuk dijawab: Apa yang dapat kita harapkan kalau keadaan begitu buruk sehingga kita tidak bisa mengharapkan apa pun untuk diri sendiri, orang lain, keluarga atau negara? Dalam hal ini, mungkin orang sulit untuk mengutarakan harapannya karena merasa bahwa kemungkinan untuk terjadi adalah nol. Karena itu, dalam keadaan sedemikian orang kemudian memutuskan untuk acuh tak acuh atau pun “pasrah”.

Bagi orang Kristen, harapan akan apa yang baik seharusnya selalu dinyatakan. Jika mereka benar-benar mengenal Tuhan yang mahakuasa, mereka tahu bahwa Tuhan sanggup untuk melakukan apa saja. Lebih dari itu, umat Kristen percaya bahwa dari dulu Tuhan yang mahakasih selalu menghendaki apa yang baik, bukan yang jahat untuk umatNya. Karena itu, umat Kristen seharusnya selalu tetap mengharapkan apa yang baik untuk dirinya, orang lain, bangsa, negara dan dunia, sekalipun itu terlihat sulit untuk dicapai. Lebih dari itu, mereka harus sadar bahwa Tuhan tahu apa yang mereka perlukan.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29: 11

Pada saat dunia dan banyak negara berada dalam keadaan kacau, kita harus bisa mengharapkan apa yang benar-benar baik bisa terjadi di masa depan. Jika kita melihat orang lain menderita, kita harus mau mendoakan sesuatu yang baik untuk mereka. Dan jika kita mau menyadari kelemahan kita, kita bisa mengharapkan sesuatu perubahan yang baik akan terjadi pada diri kita.

Masalahnya disini adalah apa yang “benar-benar baik”? Kita sendiri mungkin kurang tahu tentang itu, terutama jika kita melihat keadaan dunia pada saat ini. Kita mungkin mengharapkan agar para pemimpin di dunia bisa memberikan sedikit harapan untuk masa depan rakyatnya. Dan jika kita saat ini mengalami masalah yang sangat besar, kita harus percaya bahwa pada saatnya kita akan bisa mengatasi persoalan itu. Tetapi, apakah harapan bisa menjadi kenyataan? Kita mungkin ragu. Karena itu, pada saat inilah kita harus kembali kepada Tuhan, karena Dialah yang tahu apa yang terbaik untuk kita.

Ayat pembukaan di atas adalah ayat yang sering diucapkan di gereja sebagai salam berkat di akhir kebaktian. Mungkin kita sudah terlalu sering mendengarnya. Tetapi pada suasana yang mencekam seluruh dunia pada saat ini, tidak ada yang lebih kita inginkan daripada apa yang diucapkan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang berlaku juga untuk kita. Dalam ayat itu Paulus berdoa semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kita dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kita, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kita berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Hari ini kita diingatkan bahwa hanya Allah yang bisa memberi kita harapan, yang dapat memenuhi kita dengan rasa sukacita dan damai sekalipun keadaan di sekeliling kita terasa menakutkan. Allah jugalah yang memberi kita iman kepercayaan sehingga kita tidak ragu atau goncang dalam pengharapan kita. Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita sudah menyatakan bahwa sebagai umatNya, tidak ada hal yang lebih besar dari pengharapan bahwa walaupun ombak menghempas hidup kita saat ini, kita akan mampu menghadapi semuanya dengan keberanian dan keyakinan. Kita berharap bahwa jika pada akhirnya semua ini berlalu, nama Tuhan akan lebih dimuliakan. Lebih dari itu, apa pun yang terjadi, kita tetap berharap bahwa pada saatnya kita akan dipersatukan denganNya dalam kemuliaan dan kedamaian di Surga karena Yesus sudah menebus diri kita dengan harga yang termahal.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5