“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal dan bisa dipakai untuk menguatkan hati mereka yang mengalami kesulitan hidup. Malahan, ada orang-orang yang menghafalkannya agar mereka dapat langsung menyebutkannya ketika ada ancaman yang datang.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia, memang ayat itu seolah menggambarkan bagaimana pemazmur merasa terhibur ketika ia “berjalan dalam lembah kekelaman” atau “berjalan dalam lembah kegelapan”. Sekalipun tidak sukar untuk mengartikan kata-kata itu sebagai “mengalami kesulitan besar”, dalam beberapa terjemahan berbahasa Inggris bunyi ayat ini agak berbeda:
“Even though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil, for you are with me; your rod and your staff, they comfort me.”
Memang kata Ibrani untuk “bayang-bayang maut” adalah sal-ma-wet, yang artinya “kegelapan” atau “bayang-bayang kekelaman”. Kata itu serupa dengan kata Ibrani yang dipakai untuk “kematian” atau ma-wet. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa ada terjemahan yang menghubungan kata kegelapan dengan kata kematian atau maut. Sayang sekali, karena pemakaian kata-kata “the valley of the shadow of death” yaitu “lembah bayang-bayang maut”, orang lebih sering memakai ayat ini dalam upacara penguburan orang Kristen. Ini tentunya kurang tepat. Bagi orang Kristen, kematian tidaklah menakutkan karena itu adalah perjumpaan dengan Kristus.
Dalam ayat ini, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya. Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kecelakaan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Semua itu seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.
Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.
Pagi ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan domba-domba yang lain yang dilindungi sang gembala. Demikian juga, dalam keadaan sulit, tidaklah bijaksana bagi kita untuk menghindari persekutuan kita dengan saudara-saudara seiman. Selain itu, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.
Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa sanak saya pergi ke sebuah cafe di daerah Southbank, Brisbane, untuk makan pagi. Hari Sabtu dan masih pagi, dan kami pun menjadi langganan pertama yang datang. Ketika kami baru mulai makan, dari seberang jalan terdengar suara berisik yang berasal dari mesin penghancur beton yang dijalankan beberapa pekerja kotamadya. Suara berisik itu terasa sangat mengganggu, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya kemudian hanya bisa makan tanpa bisa berbincang-bincang karena adanya kebisingan yang membuat saya tidak bisa mendengar suara orang lain.
Sistim pendidikan di berbagai negara adalah berlain-lainan, tetapi semua tentunya bertujuan untuk memberi murid pengetahuan yang cukup untuk nantinya bisa digunakan untuk mencari nafkah. Di Australia, pendidikan SD, SMP dan SMA negeri adalah serupa dengan apa yang di Indonesia dan secara umum bebas biaya.
Dalam hidup ini kita melihat pemerintah manapun berusaha menegakkan keadilan di negaranya. Tidak hanya dalam bidang hukum, tetapi juga dalam bidang sosial, ekonomi, dan lainnya. Prinsip bahwa semua orang harus diberikan hak dan kesempatan yang sama, pernah muncul di Prancis dengan semboyan liberté, égalité, fraternité (bahasa Prancis untuk “kebebasan, keadilan, persaudaraan”). Sekarang, slogan ini adalah moto resmi dari Republik Prancis dan Republik Haiti, dan bahkan sudah menjadi bagian dari artikel pertama dari Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia dari PBB pada tahun 1948:
Apakah anda mempunyai cita-cita? Pernahkah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu? Yakinkah anda bahwa anda bahwa cita-cita atau rencana anda akan tercapai? Mungkin ada yang menjawab bahwa keyakinan kita tentunya bergantung pada besar-kecilnya rencana; jika rencana itu kecil saja tentunya tidak akan sulit untuk dilakukan, tetapi jika rencana itu besar dan kompleks tentunya kita tidak bisa selalu yakin untuk bisa terlaksana. Segala sesuatu ada resikonya dan itu termasuk resiko gagal.
Dalam bidang teknologi komputer, baik perangkat keras maupun perangkat lunak adalah penting. Sehubungan dengan perangkat lunak, istilah WYSIWYG dikenal sebagai singkatan dari What You See Is What You Get (yang berarti Apa Yang Anda Lihat Adalah Apa Yang Anda Dapatkan). Istilah ini dipakai untuk suatu sistem di mana konten yang sedang disunting akan terlihat sama persis dengan output atau hasil akhir, yang mungkin berupa dokumen cetak, halaman web, slide presentasi, atau bahkan pencahayaan yang dipakai untuk acara teater.
Apakah arti kata hati dalam Alkitab? Kata ini pada umumnya dipakai untuk menyatakan pusat kehidupan manusia. Hati dipandang sebagai tempat kemauan, kebijaksanaan dan perasaan manusia. Karakter, sifat dan pikiran adalah kata-kata yang mungkin bisa dipakai sekarang sebagai ganti kata hati. Hati dengan demikian sudah ada dalam diri manusia sejak lahirnya tetapi bertumbuh sesuai dengan cara hidup dan lingkungan. Setiap orang sudah dilahirkan dengan hati yang cacat karena dosa, tetapi melalui pertobatan hati mereka bisa diperbaharui oleh Roh Kudus sehingga hidup mereka berubah secara bertahap bisa menjadi semakin dewasa, dan dengan demikian hati mereka pun menjadi semakin baik.
Siapakah Yesus itu? Pertanyaan yang serupa pernah diajukan Yesus kepada murid-muridNya. Jika orang lain ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis, dan ada yang mengatakan bahwa Ia adalah Elia, ada pula mereka yang menjawab Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Tetapi Simon Petrus menjawab bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Matius 16: 14 – 16). Petrus bukan saja mengakui dengan mulutnya, tetapi Alkitab dan sejarah menyebutkan bahwa ia setia kepada Yesus sampai akhir hayatnya.
Seringkali, jika saya bertemu teman-teman lama, pembicaraan “ngalor-ngidul” akhirnya menjurus kearah kenangan masa lalu. Dengan mengingat-ingat saat-saat dimana kami masih berkuliah, kemudian percakapan melantur ke soal si A dan si B yang sudah lama tidak pernah berjumpa. Biasanya, seusia ini kemudian muncul komentar bahwa si A adalah orang yang sukses hidupnya, atau si B yang menderita suatu penyakit. Dalam hal ini, pembicaraan biasanya jarang menyinggung hal kebahagiaan, karena tidak ada orang yang tahu apakah orang lain berbahagia atau tidak.
Di banyak negara, domba diternakkan secara besar-besaran. Menurut data dari tahun 1993 – 2013, jumlah domba rata-rata per tahun yang dihasilkan China berada di urutan pertama (146.5 juta), Australia (101.1 juta), India (62.1 juta), Iran (51.7 juta), and Sudan (46.2 juta). Di zaman ini, peternakan domba memang merupakan bisnis besar dan karena itu dijalankan secara intensif dengan memakai sarana dan teknik modern, sehingga jumlah domba yang dimiliki seorang peternak bisa berjumlah ratusan atau ribuan. Pada zaman Yesus masih di dunia, seorang gembala tidaklah mempunyai banyak domba, dan karena itu ia tentunya mengenal dombanya satu persatu.