Takutlah kepada Tuhan

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Matius 10: 28

Apa yang bisa kita baca dalam media setiap hari seringkali membuat kita merenung. Mengapa setiap hari ada saja orang berbuat jahat kepada sesamanya? Mengapa setiap hari selalu ada saja orang yang mengalami penderitaan dan bahkan kematian karena perbuatan jahat orang lain? Mengapa ada orang-orang yang harus mengalami kekejaman dari orang lain sekalipun tidak berbuat salah kepada orang itu? Mengapa orang harus mati pada saat dan tempat yang tidak terduga?

Memang jika kita melihat semua yang terjadi, hati kita bisa menjadi kecil. Hidup manusia dimana saja tidak dapat menghindari adanya kecelakaan, malapetaka atau kekejian. Bagi sebagian orang, hal ini bisa membuat mereka selalu hidup dalam ketakutan. Kekuatiran dan ketakutan yang sangat besar sudah tentu bisa membuat orang seakan lumpuh, tidak dapat lagi menikmati hidupnya dan tidak lagi sanggup untuk menghadapi esok hari. Dimanakah Tuhan ketika hal-hal jahat ini terjadi? Tidak dapatkah Tuhan berbuat sesuatu untuk menghentikan kejahatan di dunia ini?

Banyak orang yang berpikir bahwa sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, Ia seharusnya berbuat sesuatu jika ada hal-hal yang jahat yang akan mencelakai manusia. Lebih-lebih lagi, Tuhan seharusnya  bisa melindungi umatNya sehingga tidak ada hal-hal yang buruk yang bisa menimpa mereka. Tetapi, dalam kenyataannya semua orang, baik yang mengikut Kristus ataupun yang tidak mengenalNya, bisa mengalami malapetaka. Dengan demikian, tentunya itu menunjukkan bahwa hal-hal yang buruk tidak selalu merupakan hukuman Tuhan atau sesuatu yang dikehendakiNya.

Tuhan pada hakikatnya bukanlah oknum yang suka membawa bencana ke dunia. Tuhan menciptakan manusia tidak dengan tujuan untuk membuat mereka menderita. Sebaliknya, Ia menempatkan mereka di sebuah tempat yang indah yang dapat mereka nikmati. Adalah manusia sendiri yang kemudian memilih untuk memberontak  dari Tuhan, dan memilih cara hidupnya sendiri. Dengan demikian seluruh umat manusia sudah berdosa dan harus hidup di dunia yang penuh dengan kejahatan dan kekejian.

Bagi kita yang sudah bertobat dari dosa-dosa lama kita,  hidup di dunia ini tidaklah secara otomatis berubah menjadi hidup yang indah. Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang juga dihuni oleh orang-orang durhaka, yang  tidak mau menurut firman Tuhan. Mereka yang jahat seringkali berusaha menindas dan mencelakai sesamanya untuk kepentingan diri sendiri, dan sebagai orang Kristen kita malahan bisa mengalami hal-hal yang lebih buruk dari orang yang lain. Jika demikian, apa keuntungan menjadi umat Tuhan?

Memang dunia ini dihuni bersama oleh anak-anak iblis dan anak-anak Tuhan. Dengan demikian matahari bersinar untuk semua orang, dan kenikmatan duniawi bisa dinikmati oleh siapa saja. Karena itu jugalah apa yang buruk bisa terjadi kepada siapa saja, termasuk orang percaya. Tetapi, sekalipun hal yang sama bisa terjadi pada siapapun, apa yang diperoleh manusia setelah itu adalah berbeda. Bagi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, hal-hal yang jahat pada akhirnya  akan menuju kepada kehancuran jasmani maupun rohani. Lebih-lebih lagi, bagi mereka tidak ada Tuhan yang bisa menyelamatkan jiwa mereka. Mereka boleh luput dari kesulitan jasmani di dunia untuk sementara waktu, tetapi Tuhan yang yang berkuasa membinasakan baik tubuh maupun jiwa akan menuntut pertanggung-jawaban mereka pada saatnya.

Pagi ini, jika hati kita gundah karena adanya hal-hal yang jahat yang kita dengar atau saksikan, firman Tuhan berkata bahwa sebagai umatNya kita tidak perlu takut atau kuatir. Memang selama kita hidup di dunia hal-hal yang jahat bisa terjadi dan orang-orang yang kejam bisa mencelakai kita. Tetapi, karena kita mempunyai Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, kita boleh menyerahkan jiwa dan raga kita kedalam tanganNya. Tanpa seizin Tuhan, apapun yang jahat tidak bisa terjadi kepada kita. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa rencanaNya harus terjadi baik di bumi maupun di surga.  Sekalipun kita harus menderita di bumi, kita tahu bahwa Tuhanlah yang akan memberi kita hidup yang kekal di surga.

Jangan terombang-ambing dalam hidup

“Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.” 2 Petrus 2: 1

Di zaman ini iklan bermunculan dimana-mana; bukan saja di koran dan TV,  tetapi juga  di telepon genggam selagi anda mencari informasi atau menggunakan  media sosial melalui internet. Memang dengan kemajuan teknologi, orang bisa memasarkan produk-produk yang saat ini menjadi perhatian anda, karena adanya informasi yang pernah anda kirimkan atau cari melalui internet. Dengan memakai teknik artificial intelligence atau kecerdasan buatan, perusahaan-perusahaan di dunia memasarkan produk mereka melalui digital marketing atau pemasaran digital.

Teknik kecerdasan buatan yang dipakai oleh berbagai perusahaan di masa kini mempunyai kemampuan menerka cara hidup kita dan apa yang kita sukai atau butuhkan. Tidaklah mengherankan, jika anda pernah mencari informasi tentang mobil, berbagai iklan mobil kemudian bisa muncul pada layar telepon genggam anda. Memang melalui internet, secara tersembunyi berbagai informasi pribadi bisa diperoleh oleh mereka yang ingin memanfaatkan keadaan dan kebutuhan kita.

Sebenarnya, apa yang terjadi dengan pengumpulan data pribadi di zaman ini bukanlah barang baru. Dari kitab Kejadian 3, kita tahu bahwa iblis berusaha untuk memperoleh informasi tentang apa yang ada dalam hati dan pikiran Adam dan Hawa. Iblis juga selalu ingin mencari informasi tentang apa yang akan dilakukan oleh Tuhan dan berusaha untuk menggagalkan rencanaNya. Iblis juga ingin untuk mengacaukan kehidupan  di dunia agar nama Tuhan tidak dipermuliakan manusia. Dalam kekacauan di dunia dan kebingungan manusia, iblis akan lebih mudah untuk menguasai manusia.

Apa yang kita lihat di dunia sekarang ini memang seringkali membuat hati kita gundah dan pikiran kita menjadi bingung. Bagaimana tidak? Dimanapun kita berada, selalu ada masalah-masalah yang membuat kita tidak bisa memusatkan hidup kita kepada apa yang dikehendaki Tuhan. Terkadang soal ekonomi yang membuat kita masygul, tetapi suasana politik dan keamanan masyarakat juga bisa membuat kita kuatir. Belum lagi masalah pendidikan, penggunaan obat terlarang, dan sulitnya mencari pekerjaan yang bisa membuat pusing banyak orang tua.

Jika ada yang merasa senang dengan kekacauan yang ada dalam hidup manusia, itu adalah iblis. Dalam kekacauan dunia, biasanya manusia  berusaha untuk mencari pertolongan dan kekuatan dari apa saja yang bisa diraihnya. Bagi sebagian orang Kristen, keadaan ini bisa membuat mereka insaf bahwa mereka harus lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi sebagian lagi mungkin berusaha untuk mencari sesuatu yang bisa memberi mereka ketenangan, keyakinan dan keberanian untuk menghadapi hidup. Banyak diantara mereka yang kemudian jatuh kedalam perangkap iblis.

Dalam kesulitan manusia, iblis sering menawarkan solusi yang nampaknya menarik tetapi bisa membawa kehancuran. Yesus setelah berpuasa 40 hari, juga mengalami hal yang serupa (Matius 4: 1 – 11). Dalam kehidupan sehari-hari kita, kita juga bisa menjumpai iblis yang sudah mengamati keadaan kita.  Iblis bisa memakai orang-orang yang terlihat sebagai tokoh, orang pandai, pemimpin agama dan orang yang bijak untuk mengubah cara hidup kita. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang kemudian memperoleh kesuksesan dalam hal mempengaruhi kehidupan manusia dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Bahkan dalam kehidupan gereja pun seringkali kita melihat adanya guru-guru palsu yang memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang menjauhkan kita dari Yesus Kristus, dan yang hanya membuat kemasyhuran bagi diri mereka sendiri.

Pagi ini, firman Tuhan menasihati kita bahwa dalam menghadapi tantangan kehidupan, hati dan pikiran kita tidak boleh terombang ambing. Sekalipun hidup ini begitu berat, hanya Tuhan yang bisa memberi kita jalan keluar. Bukan tokoh-tokoh masyarakat yang sering kita lihat dalam berbagai media. Bukan juga cara-cara mistik atau psikologis yang diajarkan oleh berbagai guru dan orang pandai lainnya. Sebagai orang percaya, kita mempunyai iman hanya kepada Tuhan melalui pengurbanan Kristus di kayu salib. Mereka yang menawarkan solusi-solusi yang tidak sesuai dengan firman Tuhan sudah barang tentu bukanlah utusan Tuhan. Biarlah kita boleh berpegang kepada iman yang benar dan tidak terperangkap dalam tipu daya iblis dan pengikutnya.

“….sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan..” Efesus 4: 14

Menjadi arif bijaksana

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Efesus 5: 15

Bacaan: Efesus 5: 1 – 21

Menurut kamus bahasa Indonesia kata arif berarti bijaksana, cerdik dan pandai, atau berilmu. Kata bijaksana sendiri berarti selalu menggunakan akal budi (pengalaman dan pengetahuan), arif atau tajam pikiran. Dengan demikian kata arif bijaksana agaknya menggabungkan pengetahuan (knowledge) dan kebijaksanaan (wisdom). Memang kedua hal ini adalah penting untuk dimiliki dalam hidup ini. Banyak orang yang berpengetahuan (knowledgeable) tetapi kurang bijak, dan banyak orang yang bijaksana (wise) tetapi tidak berilmu. Dengan demikian, arif bijaksana adalah sebuah kemampuan yang penting bagi manusia untuk hidup di dunia yang penuh dengan tantangan.

Bagaimana caranya untuk menjadi orang yang arif bijaksana? Alkitab menyatakan bahwa takut akan Tuhan adalah sumber kebijaksanaan (Mazmur 111: 10), karena mereka yang menghormati Tuhan akan mempunyai akal budi yang baik. Mereka akan dapat belajar dari pengalaman dan sadar bahwa hidup mereka adalah milik Tuhan dan harus dipelihara dengan baik. Dengan demikian, orang yang bijaksana akan mengerti bahwa dalam hidup ini mereka harus berusaha dan belajar untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dan menjauhi apa yang jahat.

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5: 16

Begitu banyak orang Kristen yang merasa bahwa apa yang diperlukan dalam hidup ini hanyalah iman. Dengan iman mereka mau menyerahkan hidup dan masa depan mereka kepada Tuhan. Itu adalah maksud yang baik, sekalipun mungkin sering disalahartikan. Karena kepercayaan bahwa Tuhan memelihara hidup umatNya dan menentukan segala apa yang terjadi di dunia, banyak orang Kristen yang kemudian menjadi orang yang tidak arif bijaksana. Mereka mungkin bermaksud untuk menjadi pengikut Kristus yang setia, tetapi mereka tidak sadar bahwa dalam hidup di dunia, mereka tetap harus aktif untuk mengisi hidup mereka dengan apa yang baik dan berguna.

Hidup di dunia ini selalu dipenuhi dengan berbagai tantangan, persoalan dan masalah. Bagi banyak orang, hidup ini mungkin terlalu melelahkan atau membosankan. Mereka yang mencoba melarikan diri dari kenyataan seringkali ingin menggunakan hidup mereka untuk hal-hal yang nampaknya lebih menyenangkan. Tidak heran bahwa ada banyak  orang yang kemudian membenamkan diri dalam aktivitas keluarga,  sosial, olahraga, sosial media, agama, politik dan lainnya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menggunakan waktu yang diberikan Tuhan. Mereka bahkan mengisi hidup mereka dengan hal-hal yang kotor, yang kosong, yang tidak pantas atau yang sembrono. Hidup dalam kegelapan, mereka tidak mau memikirkan apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan dalam hidup mereka.

Ayat-ayat diatas menulis bahwa sebagai orang percaya kita harus memperhatikan dengan saksama cara hidup kita. Kita harus berhati-hati agar kita tidak hidup seperti orang yang bodoh, tetapi seperti orang arif, yang bisa mempergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Iblis dan pengaruhnya di dunia selalu berusaha menarik kita untuk menjauhi Tuhan, dengan menawarkan segala sesuatu yang nampaknya gemerlapan, nyaman atau nikmat. Jika kita tidak awas, perlahan-lahan hidup kita akan menjauhi Tuhan karena apa yang jahat menguasai hidup kita; seperti kepentingan pribadi, hawa nafsu, dan kesombongan. Selain itu, ada juga kemungkinan bahwa jika kita selalu mengejar apa yang nampaknya nyaman dan nikmat, kita akan hidup dalam kekecewaan jika kita tidak mendapatkannya.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan bahwa hidup kita hendaknya disesuaikan dengan kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki agar kita mendapat kepenuhan Roh Kudus, jika kita membiarkan Ia bekerja pada setiap waktu, membimbing dan mendidik kita dalam menjalani hidup kita. Dengan demikian, kita akan bertumbuh menjadi orang Kristen yang arif bijaksana, yang mampu menghadapi segala tantangan dan masalah dalam hidup kita. Jika hidup kita dipenuhi Roh, kita akan bisa selalu hidup didalam terang Kristus dan bisa mengucap syukur kepada Tuhan dalam semua keadaan. Tuhan sudah memanggil kita untuk hidup sebagai anak-anak terang, tetapi keputusan ada ditangan kita untuk mau menuruti firmanNya.

 

Tuhan tidak menyukai malapetaka

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46: 9  – 10

Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah pesawat udara. Mereka yang mempunyai perasaan tentu merasa sedih bahwa hal-hal yang sedemikian bisa terjadi tanpa adanya peringatan atau tanda-tanda.

Memang sebagian manusia mungkin hanya memikirkan penderitaan orang lain secara sepintas lalu saja. Selama hal-hal itu tidak menyangkut hidup mereka atau hidup sanak saudara, mereka tidak merasa terbebani. Tetapi, kebanyakan manusia tentu bisa merasakan kesedihan yang dialami orang lain dan menerima kenyataan bahwa selama hidup di dunia memang penderitaan bisa datang silih berganti.

Apakah Tuhan itu benar ada dan tetap mengatur seisi jagad-raya? Jika Tuhan itu mahakuasa, mahatahu dan mahakasih, adakah yang Ia lakukan ketika Ia melihat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri umat manusia? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab manusia. Dalam kesulitan dan penderitaan yang besar, adalah normal jika manusia mempertanyakan hal-hal itu.

Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umatNya terkena bencana? Bagi orang Kristen hal ini adalah  pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Satu hal yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.

Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.

Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat orang mau berserah kepadaNya.

Pagi ini, jika kita mendengar adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, maha adil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa  keputusanNya akan terjadi dan segala kehendakNya akan terlaksana. Apapun yang terjadi adalah dengan sepengetahuanNya.

Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan segala bangsa dalam segala keadaan!

Untung rugi menjadi pengikut Kristus

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” Filipi 3: 8

Bagi penduduk Australia, memiliki sebuah rumah adalah sebuah cita-cita. Karena itu, kebanyakan orang meminjam uang dari bank untuk bisa membeli rumah. Pinjaman uang untuk membayar harga rumah biasanya bisa dilunasi setelah jangka waktu yang cukup lama, sekitar 30 tahun. Dengan demikian, peminjam yang tidak bisa melunasi hutang dalam jangka waktu yang lebih singkat akan membayar bunga yang sangat besar. Resiko bukan hanya itu saja; jika rumah itu akhirnya dijual, ada kemungkinan bahwa pemiliknya mengalami kerugian.

Di negara lain seperti Swiss, Hong Kong dan Jerman, penduduknya mungkin mempunyai pandangan yang berbeda. Mereka lebih suka menyewa rumah karena tidak mau memikirkan hutang selama 30 tahunan. Apalagi memikirkan biaya pemeliharaan rumah dan kemungkinan rugi. Dengan menyewa, mereka lebih bisa menikmati hidup karena mereka tidak harus hidup pas-pasan untuk membayar uang cicilan. Dalam hal ini, manakah filsafat hidup yang benar? Mana yang lebih menguntungkan?

Pertanyaan yang serupa bisa saja dikemukakan mengenai hal mengikut Tuhan. Ada orang yang berpendapat bahwa hidup sebagai orang percaya itu membutuhkan komitmen yang besar. Mereka lebih senang untuk hidup nyaman tanpa batasan selagi masih bisa. Untuk menjadi orang Kristen yang sepenuhnya barangkali bisa dilakukan jika usia sudah tua. Mereka mungkin merasa bahwa hidup yang sekarang adalah kesempatan untuk mencari kesuksesan dan kekayaan, selagi masih bisa. Bukankah hal kerajaan surga itu bisa dilupakan untuk sementara waktu?

Paulus dalam ayat diatas mengutarakan filsafat hidupnya. Ia menganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini membawa kerugian, karena pengenalan akan Kristus Yesus adalah lebih baik dari pada semuanya. Karena apa yang ada di dunia ini cenderung menjauhkan Paulus dari Tuhan, ia telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sebagai barang yang tidak berharga, supaya ia memusatkan hidupnya kepada Kristus. Hidup dalam Kristus, dalam kedamaian dengan Tuhan, bagi Paulus adalah hal yang bisa membawa kebahagiaan yang sejati.

Adalah mengherankan bahwa banyak orang Kristen yang justru hidup untuk mengejar kebahagiaan diluar Yesus. Memang sebagai manusia kita tidak dapat mengabaikan kepentingan pribadi, keluarga, pekerjaan, gereja dan negara. Tetapi, jika kita mengutamakan hal-hal itu diatas kebutuhan untuk lebih dekat dengan Yesus Kristus, hidup kita mungkin tidak akan mengalami perubahan. Hari demi hari kita akan mengalami kerugian, karena hidup kita akan makin jauh dari Dia.

Pagi ini, jika kita bersiap untuk pergi ke gereja, apakah yang ada dalam pikiran kita? Mungkinkah ke gereja hanyalah suatu kewajiban dua jam saja? Ataukah kita mempunyai kerinduan kepada Yesus setiap hari? Apakah kita mengerti bahwa hidup dekat kepadaNya adalah lebih berharga dari hal-hal lain yang sekarang selalu kita lakukan dan idamkan?

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Hidup itu singkat, jadikan itu manis

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Life is short, make it sweet. Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Itulah salah satu semboyan hidup yang terkenal. Hidup ini singkat, karena itu isilah dengan hal-hal yang menyenangkan. Semboyan ini pernah juga muncul dalam sebuah lagu country yang muncul baru-baru ini.

Hidup yang manis, yang penuh madu, tentunya adalah idaman semua orang. Dari kecil sampai tua, semua orang mendambakan kebahagiaan. Bagi sebagian orang yang pernah merasakan saat-saat dimana mereka mengalami kegembiraan, tentunya tidak mudah melupakan hal itu. Walaupun demikian, karena banyaknya pergumulan hidup, orang sering cenderung merasa bahwa hidup ini pahit. Semboyan diatas mengatakan bahwa adalah pilihan kita untuk mengisi hidup kita dengan pikiran dan harapan yang positif agar kita dapat merasakan manisnya hidup ini.

Memang ada benarnya bahwa manis-pahitnya hidup ini tergantung kepada diri kita sendiri. Mereka yang berkelimpahan, belum tentu bisa merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang berkekurangan belum tentu tidak mempunyai kebahagiaan dalam hidup. Rasul Paulus sendiri pernah menulis bahwa ia berusaha untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan (Filipi 4: 11).

Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Bagaimana orang bisa menjadikan apa yang pahit untuk menjadi manis? Hanya keajaiban yang bisa membuat itu terjadi! Kita tahu bahwa hanya keajaiban yang bisa membuat air tawar menjadi anggur yang terbaik, dan itu karena Yesus (Yohanes 2: 1 – 11). Karena itu, kita harus bergantung kepada Dia untuk mendapatkan kemampuan untuk membuat hidup yang hambar dan bahkan pahit, untuk menjadi hidup yang terasa manis.

Yesus tidak hanya membuat keajaiban selama Ia hidup di dunia. Ia yang sekarang di surga, tetap bisa menolong kita seperti Ia sudah menolong tuan rumah perjamuan kawin di Kana dengan mengubah air menjadi anggur. Dengan Roh Kudus yang telah dikaruniakanNya, banyak orang Kristen yang dianiaya tetap bisa bertahan dalam hidup mereka dengan keteguhan iman. Dengan bimbingan Roh juga, kita yang mengalami kepahitan hidup dapat melihat kepada kasih kemurahan Tuhan yang sudah memberikan keselamatan kekal kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya.

Roh Kudus memang ada dalam hidup kita dan membimbing kita untuk memilih cara hidup yang benar. Tetapi Roh Kudus tidak membuat kita menjadi robot-robot yang hanya bisa menurut perintah Tuhan. Setiap orang sudah diberi Tuhan kebijaksanaan dan kesadaran akan apa yang baik dan yang buruk. Karena itu, apa yang kita pilih bisa menentukan apakah kita akan bisa merasakan manisnya hidup ini. Ayat diatas ditulis oleh Paulus dan Timotius kepada jemaat di Filipi untuk menguatkan hidup mereka. Apa yang diajarkan? Jemaat di Filipi dianjurkan untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini bukan cara berpikir positif, positive thinking, tetapi adalah cara hidup positif, positive action.

“Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Filipi 4: 9

Hal mengaku dosa

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8

Siapakah manusia yang tidak berdosa? Agaknya semua orang, dari segala bangsa dan segala agama, akan mengaku sebagai orang yang berdosa jika ditanya.  Semua orang, bagaimanapun baiknya umumnya mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna. Walaupun demikian, jika ditanya apa yang sudah mereka lakukan untuk dosa-dosa mereka, mungkin tidak banyak yang bisa mereka katakan. Mungkin saja ada yang sudah bertobat dari dosa tertentu, tetapi tentunya banyak dosa-dosa lain yang tersisa.  Mungkin jika dosa-dosa itu tidak terasa sebagai dosa besar, mereka dengan mudah melupakannya atau mungkin saja tidak menyadarinya.

Sebagian yang dianggap dosa, mungkin bertalian dengan etika kehidupan. Memang etika bisa menjadi pedoman praktis tentang apa yang baik dan yang buruk dalam hidup sehari-hari. Tetapi, setiap manusia, keluarga, suku atau bangsa tentunya mempunyai etika yang berbeda-beda. Apa yang bisa diterima oleh orang yang satu, belum tentu bisa diterima oleh orang yang lain.Tidaklah mengherankan jika kita melihat bahwa ada orang -orang yang dengan enaknya melakukan sesuatu yang dianggap tabu oleh orang lain. Apalagi mereka yang berkuasa dan ternama biasanya tidak lagi mempunyai rasa segan atau malu untuk melakukan hal yang salah.

Bagi orang Kristen pun ada berbagai faktor yang  bisa menyebabkan perbedaan pendapat tentang apa yang baik dan apa yang buruk, antara lain pendidikan, kebiasaan, tekanan ekonomi, situasi politik dan sebagainya. Semua itu bisa membuat orang tidak peduli atau kurang peka dengan dosa-dosa yang ada pada dirinya, atau yang ada dalam masyarakat. Apa yang kelihatan sebagai dosa kemudian diterima sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan bahkan mungkin sebagai kehendak Tuhan. Mereka lupa bahwa jika firman Tuhan bisa ditafsirkan seenaknya atau ada yang bisa diabaikan, hidup manusia akan perlahan-lahan jatuh kedalam kehancuran.

Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita percaya bahwa Roh Kudus diam dalam hidup kita. Roh Kudus yang pada mulanya membuat kita sadar bahwa kita perlu menerima Yesus Kristus agar kita bisa diselamatkan, adalah Roh yang tinggal dalam hati kita dan membimbing kita agar hidup kita makin lama makin baik. Tetapi, jika kita kerapkali mengabaikan suara Roh Kudus dan lebih sering mengikuti kehendak kita sendiri, lambat laun kita akan makin sulit untuk mendengarkan suaraNya karena kita sudah mendukakan Roh itu (Efesus 4: 30). Secara perlahan-lahan kita menjadi orang yang tidak peduli akan dosa kita dan dosa orang-orang di sekitar kita. Kita tidak juga peduli dengan keadaan bangsa, negara dan dunia.

Ketidakpedulian akan keadaan diri kita dan diri orang lain yang melakukan berbagai dosa, adalah sama dengan tidak mengakui dosa kita. Kita mungkin tidak lagi merasa perlu untuk berdoa memohon pengampunan dan meminta kekuatan untuk menghilangkan dosa-dosa itu dari diri kita, dari keluarga dan dari bangsa kita, karena hal-hal itu sudah kita terima sebagai kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Mungkin saja kita berusaha melupakan hal-hal itu karena adanya keraguan bahwa Tuhan akan bertindak, dan mungkin juga karena adanya kekuatiran bahwa orang lain akan tersinggung atau marah. Dengan demikian kita berbuat dosa dengan mengabaikan kuasa Tuhan dan kebenaran hukum dan firmanNya.

Pagi ini, adakah kesadaran yang muncul dalam hati kita bahwa ada banyak dosa yang terjadi dalam hidup kita, dalam keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat dan negara kita? Apakah kita masih bisa merasakan teguran Roh Kudus yang menyatakan kepada kita bahwa ada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh umatNya? Apakah kita masih bisa mendengar bahwa kita juga terpanggil untuk memerangi dosa yang ada dalam masyarakat di sekitar kita? Adakah rasa sesal dalam hati kita bahwa selama ini kita tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan firman Tuhan dalam masyarakat? Biarlah  pengakuan dosa atas ketidakpedulian kita selama ini boleh membawa perubahan sikap hidup kita pada hari-hari mendatang.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Antara dusta dan berhala

“Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.” Roma 1: 25

Jika anda rajin membaca berita media, tentu anda menyadari bahwa media apapun di zaman ini selalu berusaha menampilkan berita-berita yang membuat banyak orang menjadi tertarik untuk membacanya. Bagi pengusaha media, jumlah pembaca umumnya dapat dihubungkan dengan penghasilan uang. Makin banyak pembaca atau pemirsa, makin banyak pemasukan uang dari langganan dan iklan.

Media resmi di Australia adalah ABC (Australian Broadcasting Corporation) yang dibiayai pemerintah Australia. ABC memiliki siaran TV, radio dan koran internet yang sama sekali tidak menampilkan iklan. Jika dibandingkan dengan media-media lain di Australia, ABC adalah media yang paling bisa dipercaya karena tidak berpihak kepada partai politik tertentu dan tidak bisa dipengaruhi pemerintah. Sekalipun demikian, kadang-kadang berita yang disampaikan ABC juga bernada “miring”, mungkin karena adanya usaha untuk menarik perhatian pembaca atau pemirsa.

Mengapa manusia sering membuat berita-berita yang tidak benar, tentunya banyak sebabnya. Mungkin sekadar untuk ingin menarik perhatian, atau mungkin juga untuk mencari uang. Tetapi kebohongan juga bisa dipakai untuk menjelekkan orang lain atau menutupi kesalahan sendiri. Selain itu, tentu ada orang yang mengarang berita untuk menimbulkan kekuatiran orang lain dan maksud-maksud jahat tertentu.Karena itu, mereka yang senang mengikuti berita-berita setiap hari harus sadar bahwa berita apapun seharusnya tidak langsung bisa dianggap benar.

Ada banyak kebohongan di dunia ini. Bohong kecil, bohong besar. Ada juga bohong kecil untuk sopan santun, white lies. Mereka yang menganggap bohong kecil sebagai suatu yang bisa diterima karena tidak berdampak negatif, mungkin tidak sadar bahwa bagi Tuhan yang mahasuci, semua kebohongan adalah dosa. Allah tidak menyenangi kebohongan apapun – sekalipun  itu tidak berbahaya, dianggap lumrah, bisa dimengerti,  lucu, ataupun bertujuan baik. Memang semua kebohongan haruslah dihindari karena kebohongan besar bisa  tumbuh dari kebiasaan, kebudayaan atau sistem yang menerima kebohongan kecil.

Kebohongan dalam kenyataannya, bisa menjadi kebiasaan yang tidak lagi menjadi masalah dalam hidup manusia. Ada bohong yang dilakukan individu, ada juga bohong yang dilakukan banyak orang secara kolektif. Ada yang muncul dalam rumah tangga, di kantor, dalam pemerintahan dan dimana saja. Malahan, khotbah-khotbah di gereja pun sering diselingi dengan hal-hal yang tidak nyata kebenarannya. Orang memang senang mendengarkan ilustrasi-ilustrasi yang lucu, yang bisa menghilangkan rasa bosan atau kantuk. Selain itu, kesaksian-kesaksian yang tidak jelas kebenarannya sering juga dipakai untuk menarik perhatian masyarakat.

Sekalipun mungkin tidak disadari, semua kebohongan pada akhirnya berakhir dengan penistaan. Mungkin ada orang lain yang ternista, ataupun kelompok lain. Tetapi yang jelas ternista adalah Tuhan yang membenci apa yang tidak benar. Tuhan dengan kesucianNya melarang semua manusia untuk berdusta. Dusta apapun adalah pelanggaran akan hukumNya dan karena itu adalah tindakan yang mengabaikan Dia. Lebih-lebih lagi, dengan dusta banyak orang berusaha untuk mencapai kesuksesan dan kemasyhuran. Dengan dusta, banyak orang ingin dipandang sebagai orang baik yang patut dihargai dan dihormati dalam lingkungan hidupnya. Dengan membuat dan mempercayai dusta, orang bisa terjebak dalam pemujaan sesama manusia. Pemujaan berhala memang sering terjadi jika kebenaran Tuhan diganti dengan kebohongan manusia. Idolatry begins when truth about God is exchanged for a lie.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk hidup dalam kebenaran Tuhan dengan menghindari dusta, dan dengan mengingat bahwa hidup kita adalah untuk kebesaranNya. Kita harus awas bahwa dusta-dusta kecil  dan besar bisa saja muncul dari mulut kita atau orang lain. Kita harus sadar bahwa semua manusia sering tergoda dan jatuh kedalam dosa ini. Berbagai dusta bisa saja muncul dari orang-orang yang kita hormati dan segani; dan jika kita tidak berhati-hati dengan memegang kebenaran Tuhan, kita bisa tertipu dan terjebak dalam dosa pemujaan berhala. Marilah kita selalu berdoa agar Roh Kudus selalu membimbing kita dalam hidup ini, sehingga kita bisa menghindari dusta dan bisa selalu hidup dalam kebenaran Tuhan demi kebesaranNya.

Hidup dalam pengharapan

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?” Roma 8: 24

Tetangga saya yang cukup berada mempunyai dua orang anak remaja, putra dan putri, yang baru lulus SMA. Kedua anak itu terlihat cukup baik karakternya dan sekarang membantu orang tuanya dalam menjalankan bisnis konstruksi mereka. Memang di Australia, tidak semua lulusan SMA akan melanjutkan ke universitas. Mereka yang lebih menyukai pertukangan misalnya, akan memilih untuk magang dan mencari pengalaman, untuk kemudian bisa mempunyai bisnis sendiri. Orang tua anak-anak itu tentunya berharap agar kedua anak itu akan sukses di hari depan, tetapi masa depan mereka tentunya tidak ada yang bisa memastikan.

Beberapa minggu yang lalu, saya melihat munculnya seorang pemuda lain dalam keluarga itu. Mulanya saya menyangka bahwa pemuda itu adalah salah satu pekerja mereka, yang ikut membantu membangun gudang dibelakang rumah. Namun ternyata pemuda itu adalah teman dari putra tetangga yang tidak mempunyai rumah. Ia pernah hidup dalam mobilnya dan berpindah-pindah dari tempat ke tempat untuk mencari pekerjaan. Ia tidak mempunyai ayah, dan ibunya adalah seorang pemabuk. Bagi anak muda itu  masa depan adalah suram, sampai saat dimana  ia diajak untuk tinggal di rumah tetangga saya. Jika dulu pemuda itu tidak mempunyai orang tua yang bisa memberi harapan apapun, sekarang pemuda itu setidaknya mempunyai sedikit harapan untuk masa depan.

Apa harapan anda untuk masa depan? Apa juga harapan anda untuk sanak saudara anda? Semua orang tentu mengharapkan apa yang baik, untuk dirinya sendiri dan untuk semua orang yang dikasihinya. Apa yang diharapkan selagi hidup di dunia, tentunya berkisar pada kebahagiaan, kesehatan, kesuksesan dan sejenisnya. Itu adalah wajar. Tidak ada orang yang mengharapkan sesuatu yang buruk bagi dirinya atau kerabatnya. Walaupun demikian, hal-hal yang buruk bisa saja terjadi pada diri siapa saja sekalipun itu bukan karena kesalahan orang yang bersangkutan. Harapan yang bagaimanapun baiknya, belum tentu terjadi dalam hidup kita.

Apa yang diharapkan manusia pada umumnya adalah hal yang bisa dilihat, karena apa yang bisa dilihat adalah mudah untuk dimengerti dan dinikmati. Tetapi apa yang bisa dilihat juga merupakan sesuatu yang mudah untuk membawa kekecewaan. Apa saja yang kita inginkan dan miliki di dunia ini, mungkin terlihat baik pada hari ini, tetapi bisa berubah rupa esok hari dan bahkan lenyap tidak berbekas. Apa yang bisa dilihat manusia adalah hal yang fana, yang tidak kekal adanya.

Ayat diatas menyebutkan pengharapan yang berbeda, karena pengharapan ini adalah untuk sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan dalam hati selama kita ada di dunia. Tidak semua orang bisa mempunyai pengharapan akan apa yang tidak terlihat, tetapi itu adalah pengharapan yang benar. Apa yang tidak terlihat saat ini adalah keselamatan yang sudah dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya kepadaNya. Allah adalah Bapa kita yang bukan seperti orang tua yang hanya bisa mengharapkan agar sesuatu yang baik terjadi pada diri anak-anaknya, tetapi Ia adalah Allah yang sanggup memberikan masa depan yang terbaik untuk mereka.

“Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Roma 8: 17

Pagi ini, jika kita bangun tidur dan memikirkan masa depan kita dan juga masa depan sanak keluarga kita, adakah harapan bahwa kita bisa mencapai apa yang kita idamkan? Ataukah kita merasa bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan tanpa tujuan dan harapan? Mungkin pikiran kita hanya terpaku pada hal-hal yang dapat terlihat oleh mata kita, segala penderitaan, kekecewaan dan kegagalan. Kita mungkin lupa bahwa apa yang tidak terlihat sekarang ini sebetulnya adalah pengharapan yang benar dan terbesar. Kita mungkin tidak sadar bahwa apa yang tidak terlihat itu sebenarnya adalah rencana Bapa kita yang di surga. Ialah yang membimbing kita selama hidup di dunia dan memberi ketekunan dan kekuatan agar kita tetap bisa berharap dan berdoa untuk masa depan yang cemerlang bersama Dia. Sekalipun hidup di dunia ini penuh tantangan dan penderitaan, kita harus yakin bahwa Tuhan bisa dan mau menguatkan kita yang menantikan saat itu dengan tekun.

“Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 25 – 26

Terang Kristus menghilangkan kegelapan dosa manusia

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8: 12

Di Australia, lampu bertenaga surya sekarang sangat populer. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, lampu ini bisa menyala tanpa memerlukan tenaga listrik PLN. Dengan memakai lampu jenis LED yang bertenaga rendah, pemakaian solar power ini menjadi atraktif di beberapa negara bagian karena membutuhkan biaya yang lebih rendah dari lampu-lampu tradisional lainnya.

Dengan kemajuan teknologi, tenaga sinar matahari pada siang hari bisa disimpan dalam baterai untuk digunakan pada malam hari. Memang sinar matahari di Australia cukup konsisten. Lama sinar matahari dalam sehari berfluktuasi dengan musim, berkisar sekitar 7- 8 jam sehari di Brisbane (sebelah utara Australia), sedang di Melbourne yang berada di selatan berkisar antara 3-8 jam.

Sinar matahari adalah berkat Tuhan yang memungkinkan semua makhluk di dunia untuk hidup. Tanpa matahari yang diciptakan Tuhan, sebagian besar dari dunia akan mengalami musim dingin dan kegelapan sepanjang masa. Tuhan memang menciptakan matahari untuk mengusir kegelapan sehingga semua ciptaanNya bisa hidup menurut ritme kehidupan yang teratur. Dengan adanya terang, kegelapan bisa dihilangkan.

Bahwa terang adalah baik dan Tuhan adalah sumber terang, itu sudah dimengerti sejak zaman dulu. Pemazmur dalam Mazmur 27:1 memuji Tuhan sebagai terang dan keselamatannya. Dengan demikian orang Israel tentunya faham dengan konsep Tuhan sebagai terang dalam hidup mereka.

“…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”

Dengan demikian, ketika Yesus berkata dihadapan orang Farisi bahwa Ia adalah terang dunia, orang Farisi tentu mengerti bahwa Yesus mengklaim bahwa Ia adalah sumber kehidupan manusia. Tetapi mereka tidak dapat menerima pernyataan Yesus itu, karena bagi mereka Yesus adalah orang biasa, anak tukang kayu. Mereka tidak mengerti bahwa Yesus datang ke dunia sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Ia datang sebagai terang untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan dosa. Jika Allah menciptakan terang untuk mengusir kegelapan, Ia mengaruniakan AnakNya untuk mengusir dosa manusia agar manusia bisa memperoleh kehidupan yang kekal.

Sayang sekali, dalam hidup ini seringkali manusia tidak sadar bahwa mereka hidup dalam kegelapan. Sebagian manusia malahan lebih menyukai kegelapan karena perbuatan-perbuatan mereka jahat (Yohanes 3: 19). Sekalipun mereka mungkin tahu bahwa ada banyak hal-hal yang tidak baik yang mereka lakukan, mereka akan tetap hidup dalam dosa jika mereka dengan sengaja mengabaikan suara Roh Kudus yang mengingatkan mereka akan dosa-dosa yang mereka perbuat.

Dengan dorongan Roh Kudus, manusia bisa menyadari bahwa mereka akan binasa karena tidak ada apapun yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan diri mereka dari hukuman Tuhan. Hanya karena Yesus sudah datang sebagai terang dunia, kegelapan dosa bisa dihilangkan melalui pengampunan total dari Allah yang terjadi karena darah Kristus sudah tercurah bagi mereka yang mau percaya kepadaNya. Mereka yang sudah diselamatkan akan memakai terang Kristus untuk menjalani hidup baru yang senantiasa mengalami pembaharuan, hari demi hari dengan pertolongan Roh Kudus yang sudah diberikan kepada umatNya. Mereka melakukan apa yang benar, supaya menjadi nyata bahwa hidup mereka ada dalam Allah (Yohanes 3: 21).

Pagi ini, ayat diatas adalah panggilan untuk kita menyadari bahwa tanpa Yesus hidup kita akan tetap dalam kegelapan. Mungkin saja kita tidak merasa bahwa sudah lama kita mengabaikan terang Kristus yang dulu pernah datang ke dalam hidup kita ketika kita pertama kali menyatakan iman percaya kita. Mungkin sejak itu, terang api Roh Kudus mulai perlahan-lahan menjadi padam karena kita sering mengabaikanNya. Pagi ini kita diingatkan bahwa jika terang hidup itu tidak bertambah besat dalam hidup kita, besar kemungkinan bahwa terang itu akan mengecil dan kegelapan dalam hidup kita akan bertambah besar.  Saat ini adalah saat yang penting untuk kita sadari bahwa kita perlu untuk makin bisa mengikut Yesus dalam terangNya. Dengan memakai terang Kristus, kita akan bisa menghindari kegelapan dosa; dan dengan memancarkan terang Kristus, orang lain akan dapat ikut memuiliakan Dia yang sudah mengubah hidup kita.

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Yohanes 12: 46