“Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.” Mazmur 50: 9 – 10
Dengan berkurangnya jumlah orang Kristen, banyak gedung gereja di Australia yang dijual dan kemudian dipakai untuk berbagai fungsi, seperti restoran, mesjid, hotel dan sebagainya. Memang, jika pengunjung tetap sebuah gereja berkurang, pada suatu saat gereja tidak akan dapat menggaji pendeta atau memelihara fasilitas yang ada. Karena itu, pada saat tertentu keputusan harus diambil untuk menjual gedung gereja sehingga uangnya dapat dipakai untuk maksud-maksud lain yang lebih berguna.
Sebagian orang berpendapat bahwa karena gereja membutuhkan pengunjung dan uang kolekte, pastilah Tuhan membutuhkan manusia untuk memasyhurkan namaNya. Tetapi pendapat ini jelas tidak benar. Ayat diatas menyatakan bahwa Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, adalah bukan Tuhan yang membutuhkan “sedekah” manusia. Tuhan tidak juga membutuhkan usaha manusia untuk menyumbangkan waktu guna pelebaran kerajaanNya di dunia. Tuhan yang mahakuasa dan mahakaya sudah tentu bisa untuk membuat segala sesuatu berjalan dengan baik tanpa bantuan ciptaanNya, manusia. Tuhan juga tidak membutuhkan orang Kristen dengan segala kepandaian mereka untuk bisa membuat Dia dikenal oleh dunia. Segala dogma, doktrin dan sistem teologi yang diciptakan manusia bukanlah sesuatu yang memungkinkan eksistensi Tuhan di dunia.
Mereka yang merasa bahwa eksistensi Tuhan di dunia bergantung pada usaha manusia mungkin adalah orang-orang yang kurang mengerti bahwa Tuhan adalah asal segala sesuatu yang baik di dunia. Mereka jugalah yang sering merasa bangga dan bahkan sombong bahwa segala kemampuan mereka terlihat penting di gereja, dan merasa senang karena orang lain menghormati serta menghargai pengabdian dan sumbangsih mereka. Mereka mungkin juga melakukan hal-hal yang terlihat baik itu karena adanya kekuatiran bahwa Tuhan kecewa jika mereka tidak memberikan amal-ibadah yang besar.
Tuhan pencipta langit dan bumi tidak membutuhkan kita dan apa yang kita punya. Dia tidak juga membutuhkan penyembahan kita dalam segala bentuknya. Tuhan tidak kehilangan kebahagiaan jika tidak ada manusia yang menyembah Dia. Walaupun demikian, dalam Alkitab ada banyak ayat yang menyatakan bahwa Tuhan merasa sedih dan bahkan marah ketika manusia mengabaikan Dia. Mengapa begitu?
Tuhan tidak membutuhkan kita, tetapi sebaliknya Ia menghendaki kita untuk sadar akan kebutuhan kita kepadaNya. Itu karena Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa Dia. Bukan saja mengenai hidup kita di dunia, hidup kita yang sesudahnya pun bergantung kepada Dia. Karena itulah Tuhan menghendaki kita untuk mehormati dan mengasihi Dia. Karena itu jugalah Tuhan mengirimkan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dunia; agar barangsiapa yang percaya kepadaNya bisa memperoleh keselamatan yang kekal. Karena kasihNya, Tuhan menghendaki kita untuk selalu menyadari kebutuhan kita akan sumber kehidupan kita.
Pagi ini kita harus menyadari bahwa adalah kekeliruan besar jika kita berpikir bahwa Tuhan membutuhkan kita untuk menggenapi rencanaNya. Adalah keliru jika kita merasa bahwa Tuhan memaksa manusia untuk berbuat sesuatu untuk Dia. RencanaNya akan terjadi sekalipun ada manusia yang tidak mau menurut perintahNya. Pada pihak yang lain, mereka yang mau menuruti firmanNya adalah orang-orang yang bijaksana, yang mengerti bahwa dalam Tuhan ada perlindungan dan kebahagiaan. Tuhan menghendaki kita untuk hidup dengan menyadari kebutuhan kita. Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada umatNya agar mereka sadar bahwa hidup mereka bergantung kepada kasihNya.
Tuhan aku perlu, setiap waktu,
suara apa pun, tak menghibur.
O, Tuhan, aku perlu, ‘ku perlu selalu;
‘ku mau datang pada-Mu, o, Tuhanku
Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana kebanyakan umat Kristen pergi ke gereja untuk berbakti kepada Tuhan. Gereja di Australia per denominasi, pada umumnya terlihat lebih sepi jika dibandingkan dengan gereja di Indonesia. Gedung gereja ada banyak, tetapi jumlah pengunjung gereja tidaklah besar.
Apakah Roh Kudus ada dalam diri umat Kristen? Pertanyaan ini tentunya dijawab dengan kepastian “ya”. Murid-murid Yesus memang menantikan datangnya Roh Kudus setelah kenaikan Yesus ke surga, dan ketika Roh itu datang mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dalam semangat dan kemampuan mereka untuk memuliakan Tuhan. Memang, dalam diri setiap orang percaya, Roh Kudus tinggal untuk menasihati dan menguatkan mereka.
Bulan Maret adalah permulaan musim gugur di Australia. Di kota saya, suhu siang hari masih bisa mencapai 30 derajat Celsius, tetapi pada waktu malam bisa turun sampai dibawah 20 derajat. Karena udara yang makin dingin, perlengkapan musim dingin mulai keluar dari lemari, dan itu termasuk jaket dan selimut. Musim dingin baru akan datang di bulan Juni, tetapi hari sudah semakin singkat karena sinar matahari yang makin pendek. Kebanyakan orang kurang menyenangi musim dingin karena kesempatan untuk bekerja maupun menikmati udara terbuka menjadi berkurang. Tidaklah mengherankan bahwa di daerah tertentu orang biasanya terlihat kurang gembira pada musim dingin, jika dibandingkan dengan keadaan di musim semi atau musim panas.
Teringat saya akan masa lalu, sewaktu masih kecil dan tinggal di Surabaya. Pada waktu itu teknologi elektronik belumlah maju dan komputer pun belum ada. TV hitam putih dan radio transistor baru saja muncul di toko; dan dengan harga yang cukup mahal, benda-benda semacam itu hanya bisa dimiliki oleh orang berada. Tetapi saya melewati masa kecil saya dengan cukup bahagia, karena saya dapat menikmati kesempatan yang ada pada waktu itu, seperti bermain sepakbola tanpa memakai sepatu, membuat mobil-mobilan dari karton bekas bungkus barang dan sebagainya. Hidup saya memang sederhana untuk tidak dikatakan miskin, tetapi saya tidak merasa malu karena kebanyakan teman saya juga mengalami hal yang sama.
Alkisah, ketika Yesus memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”. Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, dan kemudian tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Ada 21 ayat dalam Mazmur 25, dan semuanya bisa dinyanyikan sebagai bait-bait lagu himne “To Thee I lift my soul” atau “Kepada Tuhan kuangkat jiwaku” yang diciptakan pada abad ke 18. Mazmur 25 memang adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.
Kejadian menarik terjadi ketika Paus Francis melakukan tour Asia pada tahun 2015, dimana ia mengunjungi negara Filipina. Pada waktu itu ia menjumpai seorang anak yang bertanya mengapa hal-hal yang menyedihkan terjadi pada anak-anak. Bukannya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban teologis, Paus berkata kepada orang disekitarnya: “Kalau engkau tidak belajar menangis dengan orang yang menderita, kamu bukanlah orang Kristen yang baik”. Mengapa begitu?
Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat diatas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa: