Siapa yang butuh?

“Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.” Mazmur 50: 9 – 10

Dengan berkurangnya jumlah orang Kristen, banyak gedung gereja di Australia yang dijual dan kemudian dipakai untuk berbagai fungsi, seperti restoran, mesjid, hotel dan sebagainya. Memang, jika pengunjung tetap sebuah gereja berkurang, pada suatu saat gereja tidak akan dapat menggaji pendeta atau memelihara fasilitas yang ada. Karena itu, pada saat tertentu keputusan harus diambil untuk menjual gedung  gereja sehingga uangnya dapat dipakai untuk maksud-maksud lain yang lebih berguna.

Sebagian orang berpendapat bahwa karena gereja membutuhkan pengunjung  dan uang kolekte, pastilah Tuhan membutuhkan manusia untuk memasyhurkan namaNya. Tetapi pendapat ini jelas tidak benar. Ayat diatas menyatakan bahwa Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, adalah bukan Tuhan yang membutuhkan “sedekah” manusia. Tuhan tidak juga membutuhkan usaha manusia untuk menyumbangkan waktu guna pelebaran kerajaanNya di dunia. Tuhan yang mahakuasa dan mahakaya sudah tentu bisa untuk membuat segala sesuatu berjalan dengan baik tanpa bantuan ciptaanNya, manusia. Tuhan juga tidak membutuhkan orang Kristen dengan segala kepandaian mereka untuk bisa membuat Dia dikenal oleh dunia. Segala dogma, doktrin dan sistem teologi yang diciptakan manusia bukanlah sesuatu yang memungkinkan eksistensi Tuhan di dunia.

Mereka yang merasa bahwa eksistensi Tuhan di dunia bergantung pada usaha manusia mungkin adalah orang-orang yang kurang mengerti bahwa Tuhan adalah asal segala sesuatu yang baik di dunia. Mereka jugalah yang sering merasa bangga dan bahkan sombong bahwa segala kemampuan mereka terlihat penting di gereja, dan merasa senang karena orang lain menghormati serta menghargai pengabdian dan sumbangsih mereka. Mereka mungkin juga melakukan hal-hal yang terlihat baik itu karena adanya kekuatiran bahwa Tuhan kecewa jika mereka tidak memberikan amal-ibadah yang besar.

Tuhan pencipta langit dan bumi tidak membutuhkan kita dan apa yang kita punya. Dia tidak juga membutuhkan penyembahan kita dalam segala bentuknya. Tuhan tidak kehilangan kebahagiaan jika tidak ada manusia yang menyembah Dia. Walaupun demikian, dalam Alkitab ada banyak ayat yang menyatakan bahwa Tuhan merasa sedih dan bahkan marah ketika manusia mengabaikan Dia. Mengapa begitu?

Tuhan tidak membutuhkan kita, tetapi sebaliknya  Ia menghendaki kita untuk sadar akan kebutuhan kita kepadaNya. Itu karena Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa Dia. Bukan saja mengenai hidup kita di dunia, hidup kita yang sesudahnya pun bergantung kepada Dia. Karena itulah Tuhan menghendaki kita untuk mehormati dan mengasihi Dia. Karena itu jugalah Tuhan mengirimkan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dunia; agar barangsiapa yang percaya kepadaNya bisa memperoleh keselamatan yang kekal. Karena kasihNya, Tuhan menghendaki kita untuk selalu menyadari kebutuhan kita akan sumber kehidupan kita.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa adalah kekeliruan besar jika kita berpikir bahwa Tuhan membutuhkan kita untuk menggenapi rencanaNya. Adalah keliru jika kita merasa bahwa Tuhan memaksa manusia untuk berbuat sesuatu untuk Dia. RencanaNya akan terjadi sekalipun ada manusia yang tidak mau menurut perintahNya. Pada pihak yang lain, mereka yang mau menuruti firmanNya adalah orang-orang yang bijaksana, yang mengerti bahwa dalam Tuhan ada perlindungan dan kebahagiaan. Tuhan menghendaki kita untuk hidup dengan menyadari kebutuhan kita. Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada umatNya agar mereka  sadar bahwa hidup mereka bergantung kepada kasihNya.

Tuhan aku perlu, setiap waktu,

suara apa pun, tak menghibur.

O, Tuhan, aku perlu, ‘ku perlu selalu;

‘ku mau datang pada-Mu, o, Tuhanku

 

 

Hidup ini adalah kesempatan

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” 1 Petrus 1: 3

Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana kebanyakan umat Kristen pergi ke gereja untuk berbakti kepada Tuhan. Gereja di Australia per denominasi, pada umumnya terlihat lebih sepi jika dibandingkan dengan gereja di Indonesia. Gedung gereja ada banyak, tetapi jumlah pengunjung gereja tidaklah besar.

Memang jumlah orang Kristen di Australia tidaklah sebesar Indonesia, dan tidak semua orang yang mengaku Kristen pergi ke gereja secara teratur. Sensus tahun 2016 menunjukkan bahwa 52.1% penduduk Australia yang sekarang 25 juta itu mengaku Kristen, diantaranya 22.6% adalah Katolik dan 13.3% Anglikan. Sejumlah 8.2% mengaku beragama tapi bukan Kristen.

Mengapa orang mengaku Kristen tetapi jarang ke gereja? Tentu itu banyak sebabnya. Walaupun demikian, mungkin bisa dikatakan bahwa orang tidak ke gereja karena lebih suka menggunakan kesempatan yang ada untuk melakukan hal yang lain. Ada yang lebih penting daripada memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya.

Gereja sebagai kelompok orang percaya sebenarnya juga ikut bertanggung jawab atas kemunduran yang dialami. Jika semangat penginjilan mulai mundur, relevansi dan aplikasi firman mulai kabur, dan dogma serta ritual sudah menggantikan firman Tuhan, memang umat Kristen mudah menjadi bosan untuk ke gereja. Walaupun demikian, kerinduan untuk berbakti adalah hal pribadi, dan setiap orang bisa mengambil keputusan untuk ke gereja atau tidak.

Salah satu tujuan umat Kristen dalam berbakti pada hari Minggu ialah untuk bersama-sama memuji Tuhan atas kasihNya; bukan saja di gereja kita, tetapi bersama dengan semua orang percaya di seluruh penjuru dunia. Ayat diatas yang ditulis oleh rasul Petrus, menyatakan bahwa kita memuji Tuhan karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali, oleh kebangkitan Yesus Kristus, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. Memang, tanpa kebangkitan Yesus iman kita adalah sia-sia; dan tanpa keyakinan bahwa Yesus sudah mati ganti dosa kita, hidup kita tidak mungkin terisi dengan rasa syukur. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah dasar iman yang seharusnya bisa mempersatukan seluruh umat Kristen sewaktu mereka berbakti kepada Tuhan.

Pagi ini mungkin kita merasa bahwa hidup manusia adalah hidup yang sibuk dan waktu yang ada adalah terlalu singkat. Ada banyak hal yang harus dihadapi, atau terlalu banyak hal yang bisa dinikmati. Walaupun demikian, masih adakah pengharapan kita untuk masa depan yang bahagia bersama Tuhan? Jika masih ada harapan itu, tentunya masih ada rasa sukacita dan damai jika kita berbakti kepadaNya bersama saudara-saudara seiman, dimanapun mereka berada. Biarlah Roh Kudus memberi kita kekuatan dalam pengharapan, sehingga kita sadar atas adanya kesempatan untuk memuliakan Tuhan, setiap waktu dan dalam segala keadaan.

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Kesempatan masih ada

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” Yohanes 16: 8 – 11

Apakah Roh Kudus ada dalam diri umat Kristen? Pertanyaan ini tentunya dijawab dengan kepastian “ya”. Murid-murid Yesus memang menantikan datangnya Roh Kudus setelah kenaikan Yesus ke surga, dan ketika Roh itu datang mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dalam semangat dan kemampuan mereka untuk memuliakan Tuhan. Memang, dalam diri setiap orang percaya, Roh Kudus tinggal untuk menasihati dan menguatkan mereka.

Banyak orang Kristen yang merasa bahwa Roh Kudus hanya diberikan kepada anak-anak Tuhan. Tetapi, ayat diatas menunjukkan bahwa Roh juga diberikan kepada seisi dunia, dan Ia akan membuat manusia bisa memikirkan hal dosa, kebenaran dan penghakiman. Mereka yang ditegur Roh harus mengambil keputusan; karena jika mereka tetap tidak mau percaya kepada Yesus, mereka akan menerima penghukuman.

Sebagai pengikut Kristus mungkin kita merasa bersyukur bahwa kita sudah menerima anugerah keselamatan karena pengurbananNya di kayu salib. Kita sudah menjawab panggilan Tuhan dalam Yohanes 3: 16 untuk percaya kepadaNya. Tetapi kita mungkin sudah lupa bahwa itu terjadi karena Roh yang sudah bekerja, membuat kita sadar bahwa kita adalah orang-orang durhaka yang seharusnya binasa. Karena itu, kita sekarang mungkin kurang peka bahwa masih ada banyak orang yang belum mau mendengarkan panggilan Roh Kudus untuk mengikut Yesus.

Jika Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk mengabarkan Injil melalui Amanah AgungNya (the Great Commission), Ia tahu bahwa ada banyak orang yang menyadari bahwa hidup ini bukanlah sekedar untuk menikmati apa yang ada di dunia. Tetapi orang-orang itu tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk memperoleh keselamatan.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Matius 28: 19 – 20

Mereka yang masih mencari-cari kebenaran yang sejati dan mereka yang jatuh dalam tipu daya iblis adalah seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala dan tidak mengetahui mana jalan yang benar. Dengan demikian, Yesus memerintahkan orang Kristen untuk bekerja membawa mereka yang tersesat untuk memilih jalan sempit yang menuju ke keselamatan.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13 – 14

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa kesempatan masih ada bagi setiap orang yang masih hidup di dunia untuk bertobat dari dosa mereka dan menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka (1 Yohanes 1: 9). Dan kesempatan masih ada bagi umat Kristen selagi masih bisa, untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum percaya melalui perbuatan dan tingkah laku yang baik kepada semua orang yang bisa kita temui, agar nama Tuhan dipermuliakan. Biarlah melalui hidup kita makin banyak orang yang mau mengikut Dia!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Sudahkah anda percaya?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Kemanakah aku akan pergi sesudah kematian menjemputku? Pertanyaan ini tentu pernah muncul dalam pikiran setiap orang. Bagi mereka yang tidak percaya adanya hidup sesudah kematian, life after death, tentu saja kematian adalah akhir hidup. Tidak ada lagi yang perlu dipikirkan; manusia tidak berbeda dengan hewan atau tumbuhan.

Bagi mereka yang beragama Kristen, hidup manusia tidak berakhir di dunia. Mereka percaya bahwa ada hidup lain yang dimulai. Tubuh jasmani boleh lenyap, tetapi roh manusia tetap ada. Kemana roh itu akan pergi bergantung pada iman; bagi mereka yang beriman, roh mereka akan pergi menuju ke surga untuk bersekutu dalam kebahagiaan yang kekal bersama Tuhan.

Dengan janji Tuhan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan dan beroleh hidup yang kekal, setiap orang yang mengaku Kristen mungkin merasa lega bahwa ada jaminan keselamatan yang diberikan Tuhan sendiri. Jaminan itu bukan diberikan oleh nabi, rasul atau pendeta, tetapi keluar dari mulut Yesus, Anak Allah.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Jika kata “setiap orang yang percaya” secara tegas menyatakan bahwa keselamatan bukan hanya untuk bangsa atau suku tertentu, kata “percaya” mungkin lebih sulit untuk diartikan karena iblis pun percaya adanya Tuhan (Yakobus 2: 19). Kepercayaan yang membawa keselamatan (saving faith) bukannya sesuatu yang bisa dilakukan manusia sendiri, sekalipun mata dan pengalaman mungkin dapat membuat manusia percaya akan adanya sesuatu yang jauh lebih berkuasa dari penguasa-penguasa dunia.

Manusia memang diselamatkan hanya melalui iman kepada Tuhan, sola fide. Tetapi Tuhan yang mana dan yang bagaimana, manusia dengan usahanya sendiri tidak akan dapat mengerti jika Tuhan sendiri tidak menyatakan diriNya dalam hatinya. Roh Tuhanlah yang bekerja dalam diri manusia untuk menyadarkan bahwa semua manusia sudah berdosa dan tidak dapat diselamatkan jika Tuhan tidak mengampuni mereka. Roh jugalah yang mencelikkan manusia untuk bisa menyadari bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan, sola gratia. Roh dengan demikian membuka jiwa, hati dan pikiran manusia untuk dapat mengenal Tuhan yang mahakasih.

Pagi ini, ayat pembukaan diatas menyatakan bahwa “percaya” bukanlah sesuatu yang hanya diucapkan, bukan hanya sesuatu yang bisa dilihat, dipikirkan dan dilakukan. Iman harus bisa dinyatakan melalui hati, dan melalui seluruh segi kehidupan manusia. Ini memerlukan manusia untuk mau menyerahkan seluruh hidup mereka kepada Tuhan untuk menerima pengampunan, dan agar Roh Kudus sepenuhnya mengisi hidup mereka dan mengubah mereka menjadi ciptaan yang baru didalam Tuhan yang selalu memuliakan namaNya.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Haruskah kita peduli?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Bulan Maret adalah permulaan musim gugur di Australia. Di kota saya, suhu siang hari masih bisa mencapai 30 derajat Celsius, tetapi pada waktu malam bisa turun sampai dibawah 20 derajat. Karena udara yang makin dingin, perlengkapan musim dingin mulai keluar dari lemari, dan itu termasuk jaket dan selimut. Musim dingin baru akan datang di bulan Juni, tetapi hari sudah semakin singkat karena sinar matahari yang makin pendek. Kebanyakan orang kurang menyenangi musim dingin karena kesempatan untuk bekerja maupun menikmati udara terbuka menjadi berkurang. Tidaklah mengherankan bahwa di daerah tertentu  orang biasanya terlihat kurang gembira pada musim dingin, jika dibandingkan dengan keadaan di musim semi atau musim panas.

Ayat diatas merupakan apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya mengenai keadaan yang akan datang. Sebagian orang menafsirkan bahwa apa yang dikatakan Yesus adalah mengenai keadaan pada zaman itu saja, tetapi banyak juga yang menghubungkan itu dengan keadaan dunia menjelang akhir zaman. Apapun tafsirannya, intisari pesan Yesus itu jelas terlihat: bahwa karena manusia bertambah jahat, kasih akan menjadi padam.

Mungkin sebagian orang tidak setuju dengan pernyataan bahwa manusia di zaman ini lebih jahat dari manusia di zaman Yesus. Bukankah etika, hukum dan cara hidup manusia di zaman ini adalah jauh lebih beradab dari zaman dulu? Bukankah hak azasi dan keadilan sosial lebih terjamin jika dibandingkan dengan zaman dulu? Tidakkah manusia sekarang lebih bisa menghargai sesamanya, dan lebih bisa menerima mereka yang berasal dari tempat lain dan berbahasa asing?

Memang tidak dapat disangkal bahwa hidup manusia sudah mengalami perubahan besar jika dibandingkan dengan hidup di zaman sebelum Renaissance (abad 14-17). Manusia dengan kemajuan filsafat, sastra dan seni, berubah perlahan-lahan menjadi manusia yang nampaknya hebat dan pandai, sophisticated. Walaupun demikian, satu hal yang bisa terlihat ialah bahwa manusia pada umumnya makin yakin akan kemampuan dirinya sendiri. Manusia pada umumnya tidak lagi takut akan Tuhan yang tidak terlihat dan yang tidak bisa dibayangkan. Hidup manusia menjadi hidup yang individualistik yang tidak lagi bisa menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama. Bagaimana pula dengan hidup orang Kristen?

Pada zaman rasul-rasul, hidup orang Kristen jelas berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang. Pada zaman itu mereka selalu berkumpul untuk makan dan berdoa bersama. Mereka menghadapi tantangan hidup secara bersama dan bisa merasakan kebutuhan dan penderitaan orang lain.

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 44 – 47

Sebaliknya, di zaman ini banyak orang Kristen yang menginginkan kesuksesan hidup demi kepentingan pribadi dan dengan itu, gereja seolah menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan spritual pribadi. Manusia menjadi dingin hati dan tidak peka dengan segi kemanusiaan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan bahkan seluruh umat manusia di dunia.

Kemajuan teknologi memungkinkan umat Kristen untuk melihat dan mendengar keadaan orang lain. Kemajuan teknologi juga memungkinkan orang Kristen untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dan berusaha untuk menolong dan menguatkan mereka yang tertimpa kemalangan. Walaupun demikian, jika kasih sudah mendingin, kepekaan kita akan penderitaan orang lain menjadi berkurang. Perintah Tuhan agar kita  mengasihi sesama manusia dengan tidak memandang asal-usul dan latar belakang mereka, mungkin juga mudah kita abaikan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa karena bertambahnya kedurhakaan, kasih kebanyakan manusia menjadi dingin. Kebanyakan, bukan semua. Diantara manusia, tetap ada mereka yang taat kepada perintahNya. Apakah kita masih tergolong kedalam kelompok yang masih memancarkan kehangatan kasih kepada sesama kita? Semoga.

Sehati sepikir dalam kesederhanaan

“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” Roma 12: 16

Teringat saya akan masa lalu, sewaktu masih kecil dan tinggal di Surabaya. Pada waktu itu teknologi elektronik belumlah maju dan komputer pun belum ada. TV hitam putih dan radio transistor baru saja muncul di toko; dan dengan harga yang cukup mahal, benda-benda semacam itu hanya bisa dimiliki oleh orang berada. Tetapi saya melewati masa kecil saya dengan cukup bahagia, karena saya dapat menikmati kesempatan yang ada pada waktu itu, seperti bermain sepakbola tanpa memakai sepatu, membuat mobil-mobilan dari karton bekas bungkus barang dan sebagainya. Hidup saya memang sederhana untuk tidak dikatakan miskin, tetapi saya tidak merasa malu karena kebanyakan teman saya juga mengalami hal yang sama.

Di zaman ini teknologi begitu maju, sehingga hidup manusia menjadi sangat bergantung pada apa yang canggih dan yang mahal. Setiap manusia seakan berlomba untuk bisa membeli barang yang paling modern dan yang paling bagus. Seiring dengan kemajuan teknologi, konsumerisme bertambah tinggi; dan orang menjadi makin ingin untuk memperoleh apa saja yang mempunyai “wow factor“, yaitu apa yang terlihat hebat. Itu mencakup segala segi kehidupan, bukan saja segi jasmani, tetapi juga segi rohani. Banyak orang Kristen sekarang ini merasa bahwa orang tidak cukup untuk mempunyai iman yang kuat, tetapi harus juga memiliki pengetahuan teologis yang mendalam. Bagi mereka yang sederhana dan  kurang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan ini, perasaan kurang mampu mungkin muncul.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma agar mereka menjadi orang-orang yang saling mengasihi dan dapat hidup dalam kesederhanaan dan kerendahan hati. Dalam terjemahan bahasa asing, ayat itu berbunyi: “Hendaklah kamu hidup harmonis dengan orang lain, jangan sombong, tetapi mau bergaul dengan orang yang sederhana, yang kurang mampu. Janganlah menganggap dirimu lebih unggul”. Ini agaknya mengherankan karena Paulus sendiri adalah orang yang berpendidikan tinggi untuk zamannya. Mengapa hidup sebagai orang yang sederhana itu dianjurkannya? Apakah itu sesuai dengan keadaan masa kini?

Tidak dapat disangkal bahwa dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern, umat Kristen tidak dapat berdiam diri. Orang Kristen harus bisa menghadapi serangan iblis yang menggunakan berbagai tipu muslihat untuk mempengaruhi orang Kristen. Karena itulah kita harus selalu mau belajar mendalami firman Tuhan dan aplikasinya agar kita bisa mempertahankan iman kita. Walaupun begitu, ada banyak orang Kristen yang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tetapi selalu hidup dalam iman yang besar, yang sudah diberikan Tuhan.

Paulus menulis bahwa sekalipun setiap umat Tuhan mempunyai karunia yang berbeda, kita bisa hidup bersama dan saling menguatkan jika kita mau hidup dalam kerendahan hati dan mau sehati sepikir dengan mereka yang lebih lemah. Kita harus bisa menolong mereka yang lemah dan memberikan keyakinan bahwa setiap manusia adalah sama dihadapan Tuhan. Kita tahu bahwa memperdalam pengetahuan tentang Tuhan haruslah dengan pertolongan Roh Kudus, yang mengerti keadaan dan kemampuan setiap orang dengan sepenuhnya. Jika manusia merasa tidak sanggup, Rohlah yang bisa yang memberi kekuatan; jika manusia tidak mengerti, Rohlah yang menjelaskan. Itulah yang bisa kita doakan untuk mereka yang lebih lemah.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa kemajuan yang kita lihat di dunia  bisa membuat manusia mempunyai keinginan untuk mencari pengetahuan yang lebih dalam dalam segala bidang. Keadaan ini juga membuat kita seakan ingin mengenal Tuhan yang mahabesar melalui pikiran kita.  Kita mungkin ingin agar setiap orang percaya bisa dan mau mempelajari firman Tuhan dengan akal budi mereka. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa kasih kepada sesama adalah yang paling penting dalam hidup orang Kristen. Kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi mau memikirkan hal-hal dan orang-orang yang sederhana. Tuhan justru lebih bisa kita rasakan kehadiranNya jika kita hidup dalam kesederhanaan di hadapan hadiratNya.

 

Imanmu telah menyelamatkan engkau

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 2 Korintus 5: 15

Alkisah, ketika Yesus memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”. Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh.  Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, dan kemudian tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Kisah nyata yang sangat menarik dan dalam artinya.  Yesus datang ke desa itu untuk menyembuhkan sepuluh orang kusta, bukan hanya satu. Sepuluh orang mendapat kesembuhan, tetapi hanya satu yang diselamatkan. Mengapa Yesus peduli terhadap kesepuluh orang kusta, jika Ia tahu bahwa hanya satu yang nantinya kembali menemui Yesus dan memuji Allah? Kita tidak dapat menerka apa yang ada dalam pikiran Yesus, tetapi sudah tentu Ia menyembuhkan kesepuluh orang kusta itu karena kasihNya. Kesepuluh orang kusta itu mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh kasih Kristus, tetapi hanya satu yang menyambutnya dengan rasa syukur dan hormat.

Jika kisah diatas adalah mengenai kesembuhan jasmani, Yesus sebenarnya datang ke dunia dengan prioritas untuk menyembuhkan orang yang sakit rohaninya. Orang yang sehat tak perlu dokter, kataNya. Karena itu Ia datang ke dunia untuk orang berdosa. Siapakah orang yang berdosa? Tentu saja semua orang yang hidup di dunia. Seperti Kristus datang ke desa itu untuk menyembuhkan semua orang yang sakit kusta, Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, sekalipun tidak semua pada akhirnya akan mau memuliakan Dia. Yesus tidak peduli bahwa Ia harus mati di kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia, sekalipun sebagian manusia akan menolak Dia.

“Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Matius 9: 12 – 13

Kita harus menyadari bahwa kesempatan sudah diberikan kepada semua orang untuk menerima kematian Kristus sebagai pengurbanan Anak Allah untuk menebus dosa-dosa manusia. Kristus ingin agar pengurbananNya diterima oleh manusia sebagai berkat yang harus disyukuri. Karena pengubanan Kristus, kita yang seharusnya mati karena penyakit dosa, memperoleh kesempatan untuk hidup baru didalam Dia. Walaupun kasih Kristus itu sangat besar, tidak semua orang bisa atau mau menghargainya. Mereka yang melihat keajaiban besar yang diperbuat Yesus untuk setiap orang, belum tentu mau untuk kembali ke jalan yang benar, untuk menghormati Dia sebagai Tuhan dengan pengucapan syukur.

Sore ini, kepada mereka yang menerima kasihNya dan kemudian mengikut Dia dan hidup untuk Dia, Yesus berkata: “Imanmu telah menyelamatkan engkau”.  Dengan demikian, kita yang sadar bahwa Kristus telah menyembuhkan dan menyelamatkan kita, tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi hidup dalam kebenaran untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita.

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” 1Petrus 2: 24

Kepada Tuhan kuangkat jiwaku

“Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” Mazmur 25: 10

Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Ada 21 ayat dalam Mazmur 25, dan semuanya bisa dinyanyikan sebagai bait-bait lagu himne “To Thee I lift my soul” atau “Kepada Tuhan kuangkat jiwaku” yang diciptakan pada abad ke 18. Mazmur 25 memang adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.

Apa yang dirasakan Daud pada waktu itu, mungkin sering dialami manusia manapun ketika mereka mengalami penderitaan atau persoalan besar. Mengapa ini harus terjadi pada diriku? Itulah pertanyaan yang sering muncul. Tetapi, jika orang sering merasa bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak adil, Daud tidaklah demikian. Daud merasa  bahwa ia adalah orang yang berdosa, bahkan ia sudah merebut Batsyeba dan menyebabkan kematian suaminya, Uria. Ia sadar bahwa ia pernah sesat dalam hidupnya dan sekarang mempunyai banyak musuh yang ingin menghancurkannya. Dengan kerendahan hati, Daud memohon pertolongan Tuhan.

Sebenarnya, apa yang dialami Daud tidaklah jauh berbeda dengan apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin mengalami berbagai kesulitan dan ingin agar Tuhan menolong kita. Tetapi, apa yang mungkin berbeda ialah bahwa kita seringkali menganggap bahwa pertolongan Tuhan itu sudah sepantasnya karena kita adalah umatNya. Jika kita baca dengan teliti dalam mazmur ini, Daud, raja yang dipilih Tuhan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatanNya, tidak menggunakan statusnya untuk menuntut pertolongan Tuhan. Tetapi, ia dengan rendah hati mengakui kesesatannya dan meminta ampun kepada Tuhan. Daud sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu ia takut kepadaNya; tetapi Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih dan mau membimbing dia (ayat 9 – 12).

Daud lebih lanjut percaya bahwa ia akan menerima kebahagiaan dari Tuhan dalam setiap keadaan, karena Tuhan dekat kepada mereka yang takut akan Dia (ayat 13 – 14). Tuhan memang mengasihi semua orang, tetapi Ia akrab dengan orang-orang yang taat kepadaNya. Karena itu, Daud yang sudah terperangkap dalam kesulitan besar (ayat 15,  kakinya sudah terperosok dalam jaring) tetap bisa berharap kepada Tuhan. Mata Daud hanya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada orang-orang ataupun hal-hal yang ada disekitarnya. Ia menjerit kepada Dia saja, yang bisa memberi pertolongan.

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” Mazmur 26: 16 – 17

Pagi ini, apakah anda mengalami kesulitan hidup yang besar? Apakah seperti Daud,  kaki anda terasa seperti sudah terperosok dalam jaring? Adakah pertanyaan mengapa semua ini harus terjadi pada hidup anda?

Apa yang dialami Daud bisa memberi pelajaran kepada kita bahwa karena dunia ini penuh dosa, siapapun bisa mengalami saat-saat yang berat. Mungkin itu akibat kekeliruan kita sendiri, tetapi bisa juga karena kesalahan orang lain. Mungkin juga, itu adalah pelajaran yang kita terima dari Tuhan. Bagaimana kita bisa tetap kuat bertahan?  Mazmur 25 menyatakan bahwa kunci kemenangan adalah takut kepada Tuhan. Bagi orang yang mau mengakui kesalahan mereka, Tuhan mau mengampuni mereka. Tuhan yang mahakasih juga mau memberi pertolongan kepada mereka yang bergantung sepenuhnya kepada kemurahan dan bimbinganNya. Lebih dari itu, jika kita memohon agar ketulusan dan kejujuran tetap ada selama kita menantikan pertolongan Tuhan (ayat 21), Ia pasti membebaskan kita dari kesesakan kita pada waktunya.

Jangan memagari rasa empati kita

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 15

Kejadian menarik terjadi ketika Paus Francis melakukan tour Asia pada tahun 2015, dimana ia mengunjungi negara Filipina. Pada waktu itu ia menjumpai seorang anak yang bertanya mengapa hal-hal yang menyedihkan terjadi pada anak-anak. Bukannya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban teologis, Paus berkata kepada orang disekitarnya: “Kalau engkau tidak belajar menangis dengan orang yang menderita, kamu bukanlah orang Kristen yang baik”. Mengapa begitu?

Dalam ayat diatas Paulus menulis kepada jemaat di Roma agar mereka mempunyai rasa belas kasihan, compassion, kepada orang lain. Lebih dari itu, orang Kristen seharusnya mempunyai rasa empati untuk bisa menempatkan diri pada keadaan orang lain, sehingga mereka bisa ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain, baik itu suka maupun duka. Mungkin untuk ikut bersukacita bersama orang lain tidaklah terlalu sulit, walaupun orang sering tidak peduli atas apa yang terjadi pada orang lain. Tetapi, untuk bisa menangis dengan orang yang berdukacita tidaklah mudah. Apalagi untuk menolong.

Pentingkah kita belajar untuk bisa mempunyai rasa belas kasihan dan empati? Jawaban pertanyaan ini adalah sebuah kepastian: Ya. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang menderita, baik secara jasmani maupun rohani. Jika kita memang mau mengasihi sesama kita seperti apa yang tertulis dalam hukum kasih, kita mau tidak mau harus belajar untuk bisa menangis dengan orang yang menangis. Kemampuan ini bukanlah sesuatu yang mudah diperoleh, jika itu memang didasari rasa kasih yang benar dan bukan hanya untuk berpura-pura.

Bagaimana kita bisa belajar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati? Kita harus belajar dari Tuhan Yesus yang sudah turun ke dunia sebagai manusia. Yesus bukan saja bisa menangis ketika Lazarus, yaitu orang yang dikasihiNya, meninggal. Yesus juga menangis ketika Ia melihat Yerusalem. karena orang-orang di kota itu tidak menyadari dosa mereka ketika mereka menolak Sang Juruselamat, dan mereka juga tidak tahu malapetaka yang akan terjadi di masa depan (Lukas 19: 41 – 42).

Bagi orang Kristen di zaman ini mungkin tidak sukar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati jika ada anggota keluarga atau teman segereja yang mengalami musibah. Tetapi, seringkali perwujudan rasa kasih ini menjadi terhambat jika mereka yang tertimpa bencana adalah bukan orang Kristen, bukan orang yang disukai, bukan sanak atau teman, atau mungkin jauh dimata. Dalam hal ini, seakan ada tembok yang membatasi kasih mereka.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak membatasi rasa belas kasihan dan empati kita kepada orang disekitar kita. Tuhan tidak memerintahkan kita untuk mengasihi, menolong dan berdoa bagi teman atau sanak kita saja. Kasih kita tidak hanya untuk orang yang serumah, seagama, segereja, semarga atau senegara. Sebaliknya, kita harus bisa menyalurkan kasih Tuhan yang sudah kita terima kepada siapa saja, termasuk mereka yang membenci kita.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 44 – 45

Semua manusia dikasihi Tuhan

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal, yang dipakai oleh banyak orang Kristen sebagai landasan iman mereka. Melalui ayat diatas, kepercayaan mereka diperkuat karena adanya keyakinan bahwa:

  • Allah adalah mahakasih.
  • Allah mengasihi seluruh umat manusia.
  • Semua manusia sudah berdosa.
  • Allah mengurbankan Yesus untuk menyelamatkan umat manusia.
  • Siapa saja yang percaya kepada Yesus akan selamat.

Walaupun begitu, dalam hati kita mungkin ada pertanyaan apakah kasih Allah adalah sama kepada semua orang. Bukankah dalam Perjanjian Lama (Maleakhi 1: 2 – 3) kita membaca bahwa Tuhan mengasihi keturunan Yakub lebih dari keturunan Esau? Apakah Tuhan pilih kasih?

Pertanyaan ini sering muncul dan tidak mudah dijawab, terutama jika kita melihat ada orang, suku atau bangsa yang nampaknya lebih kaya, lebih jaya atau lebih berbahagia daripada yang lain. Apakah penderitaan, bencana dan malapetaka yang terjadi pada orang-orang tertentu adalah tanda kebencian Tuhan?

Ayat Yohanes 3: 16 diatas menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi seisi dunia tanpa syarat (unconditional), tanpa membeda-bedakan manusia, baik suku bangsa, status sosial ekonomi ataupun apa saja. Tuhan Yesus datang ke dunia agar siapa saja yang percaya kepadaNya akan diselamatkan. Dengan demikian, dalam hal keselamatan, semua manusia sudah menerima kasih yang sama.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Yohanes 3: 17

Selain itu, Tuhan dengan kasihNya juga memelihara seisi dunia ini sehingga segala sesuatu berjalan menurut rencanaNya. Walaupun demikian, Tuhan tidak membiarkan seluruh umat manusia untuk mengalami hal-hal yang sama selama hidup. Alkitab jelas menunjukkan adanya bangsa Israel dan orang-orang pilihan Tuhan yang menerima perlakuan yang berbeda dari Tuhan. Mereka yang dipakai Tuhan untuk maksud dan rencanaNya bisa mengalami hal-hal yang baik maupun yang buruk, sesuai dengan rencanaNya. Perlakuan khusus yang dialami orang-orang tertentu terjadi karena Ia mempunyai rencana tertentu, bukan karena karena keistimewaan orang-orang itu.

Alkitab juga dengan jelas menyatakan bahwa kasih Tuhan kepada umat manusia dalam menghadapi perjuangan hidup adalah lebih besar kepada domba-dombaNya daripada kepada orang-orang yang menolak Dia. Mereka yang mau menerima uluran tanganNya, diberiNya hak untuk memanggil “Bapa” dan kepada mereka diberiNya Roh Kudus yang menyertai mereka dalam setiap keadaan.

Pagi ini, jika kita bangun tidur dan bisa menghirup udara segar, biarlah kita bisa bersyukur bahwa Tuhan mencintai segala bangsa dan seluruh umat manusia tanpa perkecualian. Dengan itu, kita yang sudah menjadi umatNya juga terpanggil untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum menerima Kristus. Kita yang sudah menerima perlakuan istimewa karena kasih Tuhan yang memberi kita keselamatan, mempunyai kewajiban untuk memancarkan kasih Tuhan itu kepada semua orang, agar mereka juga mau menjadi pengikut Tuhan seperti kita.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16