Bertahan dalam Kristus

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” 2 Korintus 4: 8 – 9

Dalam hidup ini, semua orang tentunya mendambakan kebahagiaan. Mungkin bagi sebagian orang, kebahagiaan berarti kecukupan dalam segala sesuatu, kesehatan yang baik sampai hari tua, ataupun kehidupan anak cucu yang bisa dibanggakan. Segala sesuatu yang baik tentunya diidamkan setiap orang, dan tentunya tidak ada orang yang menginginkan kesulitan atau penderitaan dalam hidup ini. Walaupun demikian, dinamika hidup adalah sedemikian sehingga orang sulit untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitu kata sebuah peribahasa.

Memang, sekalipun banyak orang yang mengajarkan bahwa nasib kita ada ditangan kita sendiri, dalam kenyataannya, hidup ini tidak sepenuhnya berada dalam tangan manusia. Semakin lama kita hidup di dunia, semakin kita bisa melihat bahwa seringkali manusia berusaha, tapi kelihatannya Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Memang, apapun yang terjadi di dunia ini tentunya terjadi dengan seijin Tuhan; dan jika manusia mencoba untuk melakukan apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, pada akhirnya apa yang didapat belum tentu seperti apa yang diharapkan.

Lalu bagaimana pula dengan adanya kesulitan dalam hidup? Sekalipun kita tidak menyukainya, seringkali berbagai masalah justru muncul pada saat yang tidak kita inginkan. Apakah itu kehendak Tuhan? Bagaimana dengan seseorang yang dengan sungguh-sungguh mencari pasangan hidupnya dan kemudian mengalami berbagai masalah dalam perkawinan? Atau seorang pengendara mobil yang berhenti karena melihat adanya bahaya, tetapi justru ditabrak orang lain dari belakang? Sekalipun manusia sudah berhati-hati dalam segala sesuatu, apa yang terjadi belum tentu baik adanya. Apakah hal-hal yang sedemikian juga dikehendaki Tuhan? Belum tentu!

Dalam ayat diatas, Paulus menulis bahwa dalam usaha untuk mengabarkan injil, ia dan rekan-rekannya sering mengalami kesulitan besar; tertindas, dianiaya dan dihempaskan. Mereka berusaha melebarkan kerajaan Tuhan, dan sudah tentu Tuhan tidak menghendaki mereka mengalami berbagai masalah. Tetapi, apa yang terjadi adalah konsekuensi hidup di dunia yang penuh dosa. Lebih-lebih lagi, iblis pun berusaha untuk menghalangi umat Tuhan yang ingin berbuat baik.

Tuhan memang seringkali terasa diam dalam hidup ini. Ia tidak terlihat bertindak untuk mengatasi masalah kita. Mengapa Ia mengijinkan semua masalah untuk muncul dalam hidup kita dan kemudian seakan diam membisu? Bukankah Ia sanggup untuk menghilangkan atau menyelesaikan semua masalah? Itu memang sulit untuk dimengerti, tetapi sebagai umat percaya kita harus yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana. Jika Ia mau bertindak tentu saja Ia bisa. Tetapi jika Ia tidak bertindak seperti yang kita harapkan, itu pun adalah sesuai dengan kehendakNya. Apa yang dilakukan (kehendak aktif) atau tidak dilakukan olehNya (kehendak pasif) selalu mempunyai arti dan maksud, yang sesuai dengan kehendak agungNya sekalipun kita sering tidak mengerti mengapa itu harus terjadi.

Apapun yang terjadi dalam hidup kita, satu hal yang harus kita yakini: bahwa Tuhan memegang kendali. Terkadang Ia serasa tidak peduli, tetapi apa pun yang kita alami seharusnya membuat kita lebih bisa bergantung kepada Dia, agar kita bisa menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang mahakuasa. Kita juga bisa belajar untuk bersabar dan percaya kepada kasihNya selama kita menunggu pertolonganNya.  Kita memang manusia yang lemah, tetapi Tuhan selalu mau memberikan kekuatan yang melimpah kepada mereka yang beriman kepadaNya.

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” 2 Korintus 4: 7

Harga keadilan sosial

” Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 6 – 7

Hal membayar pajak adalah sesuatu yang agak sensitif. Dimanapun kita berada, hampir tidak ada orang yang dengan senang hati membayar pajak. Tetapi membayar pajak adalah sebuah keharusan bagi setiap penduduk negara, karena pemerintah hanya bisa menjalankan mandatnya dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak (tax revenue). Sekalipun penduduk negara secara keseluruhan bisa memperoleh penghasilan besar dari usaha mereka, negara tetap tidak dapat maju jika uang pemasukan dari pajak tidak cukup besar untuk membangun berbagai infrastruktur dan untuk menjalankan berbagai fungsi pemerintahan.  Dalam keadaan demikian, sebagian penduduk mungkin hidup dalam kelebihan dan kenyamanan, tetapi mereka yang kurang mampu akan hidup menderita karena fasilitas sosial yang tidak berkembang.

Alkitab mengisahkan saat dimana orang-orang Farisi berusaha mencobai Yesus dalam hal membayar pajak. Dalam kitab Matius 22: 15 – 22 diceritakan  bagaimana mereka bertanya kepada Yesus apakah mereka, orang Yahudi, diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar Romawi atau tidak. Yesus kemudian menjawab dengan tegas:

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Matius 22: 21

Jelaslah bahwa membayar pajak kepada pemerintah adalah suatu kewajiban, sekalipun orang mungkin tidak menyenangi pemerintah yang ada.

Ayat dari Roma 13: 6 – 7 diatas yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma lebih jauh menegaskan bahwa pemerintah yang ada adalah wakil Allah di dunia, dan karena itu orang Kristen harus mau membayar pajak kepada pemerintah yang sah, dan mempunyai rasa takut hormat kepada pemerintah yang berfungsi untuk menegakkan hukum dan melindungi masyarakat.

Membayar pajak juga merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan hukum Tuhan untuk mengasihi sesama kita. Didalam sebuah negara, keadilan sosial tidak mudah untuk dicapai jika pemerintah tidak mempunyai dana yang cukup yang berasal dari pajak. Dengan demikian, mereka yang mempunyai penghasilan yang cukup tetapi segan membayar pajak, pada hakikatnya tidak peduli dengan penderitaan dan kebutuhan orang lain. Sebagian orang mungkin segan membayar pajak karena kekuatiran bahwa uang pajak akan disalahgunakan. Tetapi pandangan semacam ini sudah tentu hanyalah alasan yang tidak didukung oleh prinsip kasih dan hormat yang diajarkan dalam Alkitab.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa setiap orang mempunyai kewajiban kepada negara dan masyarakat yang harus dijalankannya. Demikian pula setiap pemerintah sebenarnya adalah wakil Tuhan di dunia yang bertanggung-jawab untuk kesejahteraan rakyatnya dan untuk menegakkan hukum. Oleh sebab itu kita harus mau menunjang pelaksanaan hukum dan prinsip keadilan sosial baik secara langsung maupun melalui doa-doa kita. Biarlah sebagai orang Kristen kita bisa berfungsi sebagai lampu yang memancarkan sinar yang terang kepada masyarakat disekitar kita, sekalipun itu tidak mudah dilakukan.

Kehendak Tuhan selalu baik

“Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” 1 Timotius 2: 3 – 6

Tuhan yang mahakuasa adalah mahakasih. Itulah Tuhan yang dikenal oleh umat Kristen. Memang kasih Tuhan itu terlihat dalam pemeliharaanNya setiap hari, tetapi yang paling bisa disadari adalah kasihNya yang memungkinkan manusia menerima keselamatan melalui darah Kristus.

Siapakah manusia yang beruntung mendapatkan karunia Tuhan yang cuma-cuma itu? Pada zaman sebelum Yesus, orang Yahudi percaya bahwa merekalah satu-satunya bangsa yang diselamatkan. Tetapi, sesudah Yesus datang ke dunia, Alkitab menyatakan bahwa keselamatan tersedia untuk semua orang yang percaya (Yohanes 3: 16). Itu bukan untuk orang Yahudi saja, tetapi untuk segala bangsa dan seluruh umat manusia di dunia; dengan persyaratan bahwa mereka harus percaya kepada Yesus.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 17 – 18

Walaupun manusia sejak penciptaan makin berbudaya dan makin pandai, adalah kenyataan bahwa untuk percaya kepada Allah dan kepada AnakNya tidaklah mudah untuk dilakukan manusia. Tanpa pertolongan Tuhan, tidaklah mungkin manusia mengenal Allah. Manusia dengan usahanya sendiri tidak akan menemui keselamatan. Seluruh umat manusia pada hakikatnya adalah orang-orang yang terhilang, yang tidak dapat menemukan jalan yang benar. Tetapi untunglah, karena kasihNya Allah menghendaki mereka yang percaya kepada Yesus untuk diselamatkan sekalipun mereka pernah hilang.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 10

Mungkin banyak orang yang kurang mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus dengan pernyataanNya bahwa Ia datang untuk mereka yang hilang. Semua manusia yang pernah hidup di dunia adalah orang berdosa yang sudah menyimpang dari jalan kebenaran. Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka.

Pagi ini, sebuah pertanyaan untuk kita semua, apakah kita menyadari bahwa kita pernah terhilang, menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan. Di hadapan Tuhan, tidak ada orang yang lebih baik dan lebih pantas untuk diselamatkan. Bagi Tuhan, semua orang sudah berdosa. Tidakkah kita heran mengapa Tuhan menghendaki supaya semua orang diselamatkan, dan itu termasuk diri kita dan seluruh anggota keluarga kita? Bukankah Ia adalah Allah yang mahakasih? Pujilah Dia selalu!

Tuhan adalah setia dan adil

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 8 – 9

Buah mangga adalah buah yang sangat populer, bukan saja di Indonesia tetapi juga di Australia. Banyak jenis mangga yang ada di Indonesia, tetapi barangkali mangga gadung dan manalagi adalah yang paling populer. Di Australia juga ada banyak jenis mangga, tetapi umumnya tidak seenak mangga Indonesia. Mangga di Australia termasuk barang lux, karena mahalnya. Karena itu jika orang mempunyai pohon mangga di rumah, itu adalah suatu berkat yang benar-benar bisa dinikmati.

Walaupun memilihara pohon mangga tidaklah sukar karena pohon itu termasuk tahan cuaca dan dapat hidup tanpa bantuan manusia, musuh pohon yang besar itu adalah binatang yang kecil: lalat. Lalat buah memang bisa memasukkan telurnya kedalam buah mangga selagi masih muda, dan setelah buah itu dipetik orang bisa menjadi kecewa karena buah itu sudah mengandung banyak ulat didalamnya. Buah yang sedemikian, sekalipun tidak semua dagingnya berulat, umumnya harus masuk ke tempat sampah. Tidak bisa dijual, tidak bisa dimakan.

Seperti mangga yang sudah diisi telur lalat, begitu juga manusia yang sudah dicemarkan oleh dosa. Kita dengan demikian selalu berbuat dosa karena kita adalah orang yang berdosa dari awalnya. We sin because we are sinners. Dosa kita bisa muncul dalam segala segi kehidupan kita, baik itu dosa yang terlihat signifikan atau dosa yang dianggap kecil. Itu bukan berarti bahwa hidup kita mirip buah mangga yang sudah 100% busuk, tetapi seperti buah mangga yang sudah tercemar dengan kebusukan sehingga tidak lagi bisa dimakan. Begitulah semua manusia sudah cemar di hadapan Tuhan yang mahasuci.

Sebagian orang berkata bahwa sekalipun manusia yang sejahat apapun, tentu ada sebagian dari hidupnya yang terlihat baik. Itu benar. Sebaliknya, orang tentunya tahu bahwa  dalam hidup seseorang yang terlihat baik, ada saja hal-hal yang kurang baik. Sebagian manusia mencoba memperbaiki hidupnya dengan berbuat baik; tetapi karena dosa sudah meracuni hidup manusia, apapun yang mereka perbuat tidak dapat membawa kepada kesucian atau keselamatan. Dosa sudah meracuni hidup dan pikiran kita sehingga apapun yang kita lakukan selalu tercemar oleh dosa yang kita sadari atau tidak kita sadari. Dosa yang berada dalam hidup kta adalah seperti kebusukan yang sangat dalam (radical corruption) sehingga apapun yang kita perbuat tidak dapat memperbaiki hidup kita. Memang benar bahwa melalui pendidikan dan belajar pengalaman, mungkin orang bisa terlihat baik dari luar, tetapi akar dosa tetap ada dalam hidup kita.

Pagi ini kita harus sadar bahwa untuk mengubah hidup kita  dari sesuatu yang ditolak Tuhan guna menjadi sesuatu yang bisa diterima Tuhan tidaklah mudah. Dengan tenaga kita sendiri tidaklah mungkin kita bisa menghilangkan kebusukan dosa yang sudah tertanam dalam hidup kita.  Untuk itu kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang penuh dosa dan meminta pengampunanNya. Hanya dengan pengampunanTuhan, hidup manusia yang sebenarnya sudah digolongkan sebagai sampah, bisa diselamatkan dari kebinasaan melalui penebusan darah Kristus. Lebih dari itu, kepada kita yang sudah menerima pengampunan, Tuhan memberikan bimbingan Roh Kudus untuk bisa memperbaiki hidup kita, dan untuk membimbing kita guna menghindari apa yang jahat, hari demi hari sampai kita berjumpa dengan Dia. 

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

 

 

 

 

Mengapa Tuhan membiarkan kita berbuat dosa?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. Yakobus 1: 13 – 15

Ada seorang anak muda yang sering mengendarai mobilnya diatas batas kecepatan jalan raya. Entah itu karena mobilnya yang tergolong mobil sport, atau karena ia memang berbakat untuk menjadi pembalap mobil, dalam kenyataannya ia sering ngebut. Tetapi, pada suatu hari, mobil polisi kebetulan ada dibelakang mobilnya ketika ia melampaui batas kecepatan jalan. Polisi yang melihat hal itu kemudian mengejarnya sampai ia terpaksa berhenti. Sewaktu polisi bertanya mengapa ia ngebut, dengan santai ia berkata bahwa ia terpaksa ngebut karena mobil polisi yang menguntit mobilnya dengan jarak yang terlalu dekat alias tail gating.

Seperti anak muda itu, banyak orang yang berpendapat bahwa Tuhanlah yang membuat mereka jatuh dalam dosa. Kalau saja Tuhan tidak membatasi Adam dan Hawa, tentu tidak perlu bagi manusia untuk menjalani hidup yang berat di dunia sebagai hukuman dosa. Mereka berpikir, jika tidak ada pohon pengetahuan baik dan buruk, tentu tidaklah perlu manusia harus binasa.

Seperti itu jugalah ada orang Kristen yang merasa bahwa Tuhan memang terlalu campur tangan dalam kehidupan manusia dan apapun yang terjadi didunia, baik itu hal yang indah maupun malapetaka, adalah kehendakNya. Bagi mereka, Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang dengan seenaknya membuat segala sesuatu yang terjadi, sekalipun manusia tetap harus bertanggung jawab atas hidupnya.

Bagaimana orang harus percaya bahwa Tuhan yang nampaknya semena-mena, yang membuat segala sesuatu terjadi tetapi kemudian meminta pertanggung-jawaban yang penuh dari manusia? Inilah pertanyaan yang sudah ada sejak dulu.

Jika kita mengalami hidup yang kacau, memang sangat mudah bagi kita untuk menyalahkan orang lain, menyalahkan lingkungan ataupun Tuhan, sekalipun itu adalah kesalahan kita sendiri. Tetapi Tuhan tidak membuat kita bernasib malang dengan memberikan situasi yang buruk tanpa sebab, dan tidak juga menghilangkan keinginan kita untuk mengatasi hal itu.

Segala sesuatu memang terjadi dengan sepengetahuan dan seijin Tuhan, tetapi belum tentu Ia menghendakinya. Sebaliknya, apa yang dihendaki oleh Tuhan dari umatNya ialah agar dalam segala sesuatu yang terjadi, kita akan bisa insaf akan kelemahan kita agar mau untuk makin dekat kepadaNya.

Pada hari Minggu ini firman Tuhan mengingatkan bahwa kita harus bertanggung jawab atas hidup kita. Kita tidak boleh menghindari tanggung jawab itu dengan berdalih bahwa semua itu sudah takdir, dan semuanya adalah kehendak Tuhan. Tuhan memang bisa membiarkan apa yang buruk terjadi untuk mendewasakan iman kita, tetapi apa yang terjadi mungkin adalah konsekuensi cara hidup kita. Tuhan sudah tentu ingin agar hidup kita sesuai dengan firmanNya, tetapi jika kita memilih untuk tidak menuruti firman Tuhan, apa yang terjadi seharusnya membuat kita sadar untuk kembali ke jalan yang benar.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Kasih adalah ciri orang percaya

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” 1 Petrus 4: 8

Pernahkah anda mengalami kejadian dimana secara tidak terduga anda diminta untuk menjumpai orang penting sedangkan anda saat itu hanya memakai sebuah kaos t-shirt? Apa yang kemudian anda lakukan? Mungkin jika anda mempunyai sebuah mantel atau jaket, itu bisa anda pakai untuk menutupi kaos anda. Mantel atau jaket tidak menghilangkan kenyataan bahwa anda memakai kaos, tetapi itu bisa membuat anda tampil dengan baik dan tidak membuat kesan buruk kepada orang lain. Pengalaman sedemikian mungkin juga bisa mengajar anda untuk lebih berhati-hati di masa depan, agar lebih berjaga-jaga.

Dalam ayat diatas, rasul Petrus menulis bahwa sebagai orang percaya hendaknya kita mengutamakan kasih dan dengan sungguh-sungguh saling mengasihi. Kata “sungguh-sungguh” disini berarti berusaha keras, seperti seorang atlit yang bertanding untuk menang. Dalam bahasa Yunani, kata ektenē dipakai untuk menunjuk kepada usaha yang harus mendapat prioritas nomer satu dalam hidup orang Kristen. Bukan usaha untuk mendalami dogma dan doktrin, atau keinginan untuk menjadi pemimpin; tetapi keinginan untuk melayani. Mengapa demikian? Petrus menulis bahwa kasih menutupi banyak sekali dosa.

Apa yang dimaksudkan Petrus dengan “menutupi dosa” bukannya berarti bahwa dengan mengasihi sesama kita, dosa yang kita perbuat setiap hari akan hilang. Itu juga bukan berarti sebuah usaha untuk menebus dosa dan kejahatan dengan banyak berbuat amal. Dosa manusia hanya bisa dihilangkan melalui penebusan darah Kristus, tidak ada jalan lain. Berbuat kasih dengan demikian tidaklah bisa mengubah kenyataan bahwa kita harus percaya kepada Yesus untuk dapat diampuni dan menerima keselamatan.

Usaha yang sungguh-sungguh untuk menutupi dosa yang dimaksudkan Petrus adalah berkenaan dengan keadaan kita tidak sempurna. Sebagai manusia kita memang selalu cenderung untuk berbuat dosa, dan dosa yang tidak terkontrol akan bisa mengacaukan hidup kita dan hidup orang lain. Kasih yang kita laksanakan dalam hidup kita, perlahan-lahan akan mengubah cara hidup kita sehingga kita dapat hidup bermasyarakat dengan lebih baik dan lebih berhati-hati dalam segala tingkah laku kita, agar kita bisa membawa kemuliaan bagi Tuhan dan membimbing banyak orang kepada jalan keselamatan.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” 1 Petrus 4: 10

Bermegah dalam Tuhan

“Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Yeremia 9: 23 – 24

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita bahwa sebuah mobil 16 silinder Bugatti La Voiture Noire terjual dengan harga 26 juta dollar Australia. Mobil ini hanya satu-satunya yang diproduksi khusus untuk merayakan ulang tahun ke 110 dari pabrik mobil Bugatti di Prancis.  Siapakah orang kaya yang membelinya? Tidak ada yang tahu. Tetapi jelas bahwa si pembeli adalah orang super kaya yang suka mengendarai mobil mahal. Memang bukan saja di Indonesia, ada banyak orang yang kaya raya di dunia yang mempunyai hobi untuk mengumpulkan mobil mewah, karena mobil melambangkan prestise pemiliknya.

Kalau mobil mewah dapat memberi kebanggaan kepada pemiliknya, rumah mewah atau kapal pesiar yang dimiliki sesorang juga bisa membuat orang kagum. Begitu juga, orang yang nampaknya pandai, bijaksana atau saleh bisa merasa bangga atas perhatian dan rasa hormat yang diberikan orang lain. Bagaimana pula dengan orang yang kuat, seperti atlit atau olahragawan? Atau mereka yang dikenal sebagai aktris atau penyanyi jempolan? Internet penuh dengan foto-foto dan berita-berita tentang mereka. Orang-orang yang sedemikian tentu bisa bangga atas apa yang sudah dicapainya.

Sebenarnya, rasa bangga yang sepantasnya mungkin tidaklah salah. Rasa bangga belum tentu sama dengan rasa sombong, walaupun dalam bahasa Inggris kata proud dipakai untuk keduanya. Rasa bangga atas apa yang baik dan yang diutarakan dengan maksud yang baik tentunya bukanlah tindakan yang keliru. Masalahnya orang sering tidak tahu apa yang baik untuk dibanggakan dan bagaimana mengutarakan rasa bangga kita dengan cara yang baik. Apa yang kita lihat sebagai hal/barang yang baik seringkali adalah barang yang hanya terlihat baik untuk sementara waktu. Apa yang baik untuk seseorang belum tentu baik untuk orang lain atau Tuhan.  Selain itu, kebanggaan yang sering kita lihat seringkali justru membawa masalah bagi pemiliknya.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Lukas 9: 25

Untuk kita orang Kristen, adakah yang bisa kita banggakan? Banyak orang Kristen yang bangga atas gereja mereka, atau pendeta mereka yang bisa menarik banyak jemaat. Mungkin juga ada orang Kristen yang bangga atas sistimatik teologi atau segala tata cara kerohanian yang mereka punyai. Selain itu, gedung gereja yang megah dan mewah mungkin juga memberi kebanggaan tersendiri kepada jemaat. Walaupun demikian, ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa Tuhan tidak menyukai kebanggaan yang sedemikian. Tuhan berkata bahwa umatnya lebih baik bermegah karena mereka memahami dan mengenal Dia sebagai Tuhan yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran untuk semua orang di bumi.

Pagi ini, hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hati kita. Hanya Tuhan yang bisa melihat apa yang sebenarnya kita banggakan dalam hidup ini. Mungkin saja Tuhan melihat bahwa kita sudah mengenal Dia sebagai Tuhan, dan kita mempunyai rasa hormat dan takut kepadaNya. Kita sudah percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci, dan kebenaranNya adalah kekal. Karena itu kita berusaha untuk hidup menurut apa yang sesuai dengan firmanNya. Kita tahu bahwa Tuhan adalah mahaadil dan mahabijaksana, dan karena itu kita mau mencari kehendakNya. Selain itu kita juga percaya bahwa sekalipun Tuhan itu mahakuasa, Ia adalah Tuhan yang mahakasih yang sudah mengirimkan AnakNya ke dunia agar barangsiapa yang percaya kepadaNya dapat memperoleh hidup yang kekal. Bukankah Tuhan kita adalah Tuhan yang baik dan yang patut kita puji? Bukankah kita dengan sepatutnya harus mengasihi Dia yang sudah lebih dulu mengasihi kita? Biarlah kita hanya bermegah untuk kemuliaanNya!

Kesatuan dalam Kristus

“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Yohanes 17: 18 – 21

Di zaman ini, banyak orang menggembar-gemborkan pentingnya perbedaan atau diversity dalam masyarakat.  Mereka berpendapat bahwa adalah baik jika manusia bisa saling menerima, menghargai dan mencintai sesamanya sekalipun mereka berbeda jenis dan status sosial, dan berlainan marga, suku, atau bangsa. Dalam hal ini, untuk umat Kristen hal mengasihi sesama bukanlah barang baru. Tuhan berfirman agar kita mengasihi siapapun di dunia, seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Tambahan pula, kita tahu bahwa keselamatan bukanlah untuk orang-orang tertentu saja, tetapi untuk semua orang yang percaya kepada Kristus.

Memang di zaman ini orang seakan berlomba untuk bisa menerima cara hidup, kepercayaan dan tingkah laku apapun jika semua itu tidak mengganggu orang lain. Tetapi, kebebasan untuk bisa berbeda sering kali membuat orang untuk bertindak semaunya. Lebih dari itu, adanya perbedaan juga bisa membuat orang untuk memaksa orang lain untuk menghormati apa yang diyakininya. Dengan demikian, adanya perbedaan tanpa adanya sesuatu yang mempersatukan bisa membawa kekacauan.

Ketika Yesus masih di dunia, Ia mempunyai 12 orang murid. Mereka yang dipilihnya tidaklah seluruhnya berasal dari tempat yang sama, mempunyai penampilan yang serupa, atau memiliki sifat yang mirip. Dalam kenyataannya, mereka itu adalah orang-orang yang tidak serupa dalam banyak hal, dan karena itu ada kalanya mereka berbeda pendapat. Jika demikian, apakah yang mempersatukan mereka?

Dari ayat diatas kita bisa membaca bahwa Yesus sudah memilih murid-muridNya dan mengutus mereka ke dalam dunia untuk memberitakan injil keselamatan kepada semua orang. Karena itu, adalah jelas bahwa salah satu hal yang mempersatukan mereka adalah Yesus yang sudah memilih mereka, dan adanya satu tugas yang sudah diberikan Yesus kepada mereka. Tetapi, yang paling penting dari itu adalah kenyataan bahwa mereka sudah dipersatukan dalam penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Mereka adalah orang-orang yang berbeda tetapi dipersatukan dalam darah Kristus.

Jika kita bisa melihat bahwa Yesus sudah mempersatukan murid-muridNya dalam satu pengalaman dan satu tujuan, bagaimana pula dengan kita yang tidak pernah melihat Yesus dengan mata atau mengikuti Dia mengembara? Kita hanya mendengar kabar keselamatan atau membacanya dalam Alkitab, dan mungkin mempunyai gambaran dan kesan yang berbeda tentang Yesus. Ayat diatas menunjukkan bahwa Yesus berdoa untuk murid-muridNya agar mereka dikuduskan dalam kebenaran. Tetapi Ia juga berdoa untuk kita yang percaya kepada Dia melalui pemberitaan murid-murid Yesus. Yesus berdoa supaya kita, umat Kristen, menjadi satu seperti dalam Dia; seperti Dia dan Allah Bapa  yang adalah satu. Lebih dari itu, Yesus menghendaki bahwa sekalipun kita berbeda secara manusiawi, karena kesatuan kita dalam Tuhan, dunia bisa mengenal Tuhan melalui hidup kita.

Pagi ini, mungkin kita bisa melihat adanya berbagai umat Kristen yang melakukan ibadah masing-masing dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin saja mereka berbeda dengan kita dalam hal latar belakang, pengalaman, budaya, pendidikan dan sebagainya. Bagi kita, mereka mungkin nampak sebagai orang-orang yang asing ataupun aneh. Adakah hal yang membuat kita lebih bisa menghargai mereka? Tentu saja! Ayat diatas menegaskan bahwa mereka yang benar-benar percaya kepada Yesus akan dipersatukan sebagai murid-murid Kristus. Dalam Kristus semua orang percaya seharusnya bersatu dalam memuliakan Tuhan.

“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Yohanes 17: 23

Dalam kelemahan ada kuasa Tuhan

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Beberapa hari terakhir ini saya sering merasa lelah. Sebagai seorang dosen, tugas-tugas berat muncul pada saat-saat tertentu, seperti pada waktu saya harus mempersiapkan bahan kuliah baru atau membuat soal-soal ujian. Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Bagaimanapun kuatnya seseorang, tentu dalam keadaan tertentu ia akan merasa capai.Untunglah, jika kelelahan itu hanya dari segi jasmani, dengan beristirahat atau tidur kita mungkin akan dapat memulihkan kekuatan dan kesegaran kita kembali. Tetapi kelelahan rohani mungkin tidaklah mudah diatasi.

Kelelahan memang bisa dirasakan secara jasmani ataupun rohani. Sekalipun dalam hal jasmani orang mungkin masih kuat,  rohaninya mungkin saja sudah mengalami tekanan yang berat. Kelelahan rohani yang tidak teratasi, bisa saja kemudian mempengaruhi keadaan jasmani.  Pada pihak yang lain, kelelahan atau persoalan jasmani yang terus-terusan bisa saja melemahkan kerohanian seseorang. Kita tahu bahwa keadaan rohani seseorang seringkali mempengaruhi hidupnya, sedemikian rupa sehingga hal-hal yang menyedihkan mungkin saja terjadi jika ia tidak dapat lagi menahannya.

Adalah suatu kenyataan bahwa jika seseorang mengalami suatu tantangan, reaksi tubuh bergantung pada apa yang terjadi. Jika apa yang terjadi adalah suatu hal yang memang yang sudah diduga sebelumnya, dan sesuatu yang memang dicari, orang mungkin tidak terlalu mudah untuk merasa lelah atau menyerah. Seorang pelari marathon misalnya, sudah mempersiapkan diri secara jasmani untuk bisa berlari sepanjang 42 km non stop. Ia juga sudah bisa membayangkan bahwa ada kemungkinan bahwa setelah 30 km ia mungkin mengalami apa yang dinamakan “hitting the wall” atau menabrak dinding, yaitu keadaan dimana kekuatan tubuh dan semangat tiba-tiba seakan lenyap. Walaupun demikian, mereka yang memang senang berlomba, tentunya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan buruk semacam itu,  dan mereka tetap saja bisa menikmati olahraga itu.

Hidup orang Kristen tidaklah jauh berbeda dengan hidup seorang pelari yang berlari menuju ke garis finis. Paulus pernah mengatakan bahwa ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah dari Tuhan (Filipi 3: 14). Paulus melupakan apa yang sudah terjadi dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di masa depan, yaitu kemuliaan surgawi dari Tuhan. Ini bukannya mudah, karena Paulus juga mengalami berbagai penderitaan dan ancaman dalam hidupnya. Ia bahkan menulis bahwa ada utusan iblis yang mencoba untuk menghancurkan dia. Tiga kali Paulus meminta agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan itu, tetapi Tuhan tidak menolong dia.

Dalam ayat diatas, Tuhan menjawab Paulus. Ia berkata bahwa Paulus  sudah cukup menerima kasih karunia Tuhan dalam hidupnya. Tuhan juga berkata bahwa apa yang dialami Paulus sebenarnya juga berkat Tuhan yang memungkinkan Paulus untuk bisa menyadari bahwa ia harus bersandar kepada Tuhan saja. Karena itu, dalam penderitaannya, Paulus bisa bersyukur. Ia tahu bahwa kalau ia bisa tetap bertahan, itu karena Tuhan  yang menguatkan dia. Seperti seorang pelari, Paulus bisa menerima segala penderitaannya karena ia tahu bahwa Tuhan ingin agar ia menang.

Mungkin saat ini kita mengalami berbagai hal yang membuat jasmani kita lelah. Atau mungkin juga ada persoalan berat yang membuat kita tertekan secara rohani. Kepada siapa kita bisa berseru meminta pertolongan? Jika tidak ada lagi orang yang bisa menolong kita, tentunya hanya Tuhan yang bisa kita harapkan. Seperti Paulus, kita bisa dan harus berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Tidak cukup sekali atau dua kali, kita boleh saja terus berdoa. Tetapi kita harus sadar bahwa dalam penantian kita, Tuhan sebenarnya sudah mendengarkan doa kita dan bahkan tahu apa yang kita paling perlukan. Apa yang paling penting bagi umat Tuhan yang berada dalam kesulitan ialah kesadaran bahwa Tuhan yang mahakasih tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Itulah sebabnya Paulus kuat menghadapi segala persoalan hidupnya. Memang dalam kelemahan kita bisa merasakan adanya kuasa Tuhan. Dialah yang membimbing kita sampai kita menyelesaikan semua tugas kita di dunia.

Kemuliaan Tuhan dapat kita lihat dalam iman

Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Yohanes 11: 40

Dalam Yohanes 11: 1 – 44 diceritakan bahwa ada seorang yang bernama Lazarus yang sakit parah. Lazarus dan kedua saudaranya, Maria dan Marta, adalah orang-orang yang dikenal baik dan bahkan disayangi oleh Yesus. Yesus tahu bahwa Lazarus sakit, tetapi ia menunda kepergianNya ke Betania, kampung  dimana mereka tinggal. Ketika  Yesus datang, Lazarus sudah mati dan dikubur selama 4 hari. Walaupun demikian, Yesus memerintahkan agar batu penutup kubur dibuka. Atas permintaan itu, Marta menjawab dengan heran: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (ayat 39). Tetapi Yesus dalam ayat pembukaan diatas mengingatkan Marta bahwa jika ia percaya, ia akan melihat kemuliaan Tuhan. Memang, seperti kita bisa membacanya, Alkitab menulis bahwa Lazarus kemudian keluar dari kuburnya.

Kisah Lazarus ini adalah kisah yang sangat terkenal yang sering disampaikan dalam bentuk renungan pada upacara kematian orang Kristen. Seperti Lazarus yang dibangkitkan Yesus, orang Kristen yang sudah mati akan dibangkitkan kembali pada saatnya. Inilah yang memberi harapan bagi setiap orang yang percaya, bahwa karena Yesus sendiri sudah bangkit, mereka juga akan memperoleh kebangkitan yang serupa. Kebangkitan Lazarus adalah kebangkitan badani, tetapi orang Kristen yang mati akan mengalami kebangkitan dalam tubuh yang rohani.

“Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.” 1 Korintus 15: 44

Apa yang juga bisa kita simpulkan dari kisah kebangkitan Lazarus adalah kuasa Tuhan yang lebih besar dari kuasa maut. Dalam pikiran manusia, apa yang diperbuat Yesus adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Secara kedokteran, tubuh manusia mengalami proses pembusukan segera setelah datangnya kematian. Lazarus bukan saja sudah mati, ia sudah busuk tubuhnya. Bagaimana Yesus bisa mengembalikan kehidupan pada tubuh yang sudah busuk menunjukkan bahwa Ia adalah Anak Allah yang diutus untuk turun ke dunia (ayat 42). Dengan kelambatan Yesus untuk pergi ke Betania yang disengajaNya, Yesus membuka kesempatan bagi orang-orang yang belum pernah melihat kemuliaan Tuhan untuk kemudian bisa memuji Tuhan karena bisa melihat bagaimana besarnya kuasaNya.

Kisah Lazarus sebenarnya bukan sekedar kisah orang mati yang dibangkitkan. Kisah Lazarus adalah kisah tentang kemuliaan Tuhan yang dinyatakan kepada manusia yang lemah dan mengalami penderitaan. Bahwa mereka yang menderita tetapi percaya kepada Tuhan akan menerima pertolongan Tuhan pada waktunya. Mungkin kita bisa membayangkan bahwa hidup kita seringkali adalah seperti tubuh Lazarus. Karena berbagai masalah dan penderitaan yang kita alami, seringkali kita merasa bahwa tidak ada apapun yang bisa dilakukan Tuhan untuk memperbaiki keadaan. Seandainya Tuhan muncul lebih awal, mungkin Ia bisa menolong, begitu mungkin kita berpikir. Tetapi karena sekarang nasi sudah menjadi bubur, apakah yang dapat dilakukanNya?

Kebangkitan Lazarus dari kematian adalah kebangkitan jasmani. Itu terjadi di dunia dan tubuh Lazarus yang bangkit bisa dilihat oleh mata dan diraba oleh tangan-tangan manusia disekelilingnya. Dengan demikian, Tuhan jelas berkuasa atas hukum alam, hukum jasmani yang seringkali membuat hidup sehari-hari kita menjadi berat. Betapa sering kita merasa bahwa Tuhan yang Roh hanyalah mau menguatkan rohani kita dan membimbing kita dalam iman bahwa pada suatu saat kita akan melihat kemuliaanNya di surga. Tetapi, dengan kebangkitan Lazarus, kita bisa melihat bahwa sebagaimana Yesus mengasihi Lazarus, Ia juga mengasihi kita selama kita hidup di dunia.  Sebagaimana Lazarus dibangkitkan agar mereka yang percaya bisa melihat kemuliaan Tuhan dan memuji Dia, Tuhan juga mau menolong kita dalam masalah apapun jika kita percaya dengan iman bahwa Tuhan sanggup melakukan apa saja yang sesuai dengan kehendakNya.

Pagi ini, apakah kita merasa bahwa hidup kita seperti Lazarus yang sudah dikubur selama empat hari? Apakah kita mengalami masalah yang besar, yang menurut pandangan manusia sudah merupakan masalah yang tidak bisa diatasi? Yesus berkata bahwa jika kita percaya kepadaNya, kita akan bisa melihat kuasa dan kemurahan Tuhan. Mungkin apa yang akan dikerjakan Tuhan adalah sesuatu yang tidak kita akan bisa mengerti, tetapi apapun yang terjadi pastilah akan membuat kita pada akhirnya mengakui bahwa Ialah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih  yang patut dimuliakan.