Jangan mudah terkecoh

“Ketika aku memberi perhatianku untuk memahami hikmat dan melihat kegiatan yang dilakukan orang di dunia tanpa mengantuk siang malam, maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.” Pengkhotbah 8: 16 – 17

Kejadian terbakarnya katedral Notre Dame di Paris kemarin dulu adalah berita yang membuat banyak orang merasa masygul. Sebagian orang merasa sedih karena bangunan yang  sudah berumur ratusan tahun itu merupakan bentuk arsitektur yang luar biasa. Mereka yang merasa ikut memiliki gedung gereja itu merasa sedih karena kerusakan berat yang sudah terjadi.

Sebagaimana biasa, kejadian yang diluar kontrol manusia yang muncul di dunia ini selalu ditanggapi oleh sebagian orang menurut pandangan pribadi mereka. Ada yang berpikir bahwa sebuah musibah seperti diatas adalah tanda kemarahan Tuhan, tetapi ada yang berpendapat bahwa manusialah yang menyebabkannya. Selain itu, ada orang yang menghubungkannya dengan hal-hal lain yang menunjuk pada datangnya akhir zaman, dan ada juga yang mengartikan bahwa semua itu hanyalah kecelakaan.

Mengapa orang bisa mempunyai obsesi yang besar tentang apa yang dipikirkan Tuhan? Memang, jika kita lihat dari awalnya, Adam dan Hawa berbuat dosa di taman Firdaus karena hal yang sama. Mereka melanggar perintah Tuhan karena mereka ingin seperti Tuhan. Manusia merasa puas jika ia dapat melihat apa yang akan terjadi, dapat menilai baik dan buruknya situasi, dan dapat mengambil tindakan dini (pre-emptive action) untuk mengatasi segala persoalan.

Sebenarnya, dengan keinginan manusia untuk memperkirakan apa yang akan terjadi, untuk mengartikan apa yang sudah terjadi dan untuk mempersiapkan diri untuk masa depan itu tidak ada salahnya jika dilakukan dalam batas-batas yang wajar sebagai manusia. Setiap manusia diberi kebebasan atau freedom oleh Tuhan untuk mengatur hidupnya. Banyak ilmu pengetahuan yang sekarang ada mempunyai cara-cara tertentu untuk mengamati keadaan, mengukur apa yang terjadi, dan kemudian membuat prognosis atau perkiraan, dan juga plan atau rencana untuk masa depan. Ilmu kedokteran misalnya, bisa menilai kesehatan seseorang dan membuat perkiraan tentang keadaan dan rencana perawatan untuk tahun-tahun mendatang. Tetapi, dari ayat diatas  kita sadar bahwa manusia sebenarnya tidak tahu apa yang  direncanakan dan diperbuat Tuhan.

Mereka yang gemar mendengar “ramalan” orang-orang tertentu untuk masa depan, atau yang suka mengartikan “tanda-tanda ajaib”, mungkin tidak menyadari bahwa Tuhan dengan kebesaranNya tidak dapat diukur manusia. Apa yang dilakukan dan direncanakanNya, selain apa yang tertulis dalam Alkitab, tidaklah dapat kita ketahui detailnya. Selain itu, apa yang tertulis dalam Alkitab pun tidak mudah bagi kita untuk mengartikannya. Memang, jika semua yang direncanakan Tuhan di bumi dan di surga mudah diketahui dan dipelajari, tentu saja iblis akan mudah untuk menghindarinya atau mengacaukannya. Begitu juga, jika segala tindakan Tuhan mudah diterka manusia, Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana karena manusia akan selalu dapat menanggapinya.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sebagai umat Kristen kita tidak boleh mudah dipengaruhi oleh  berbagai pendapat dan pandangan manusia atas apa yang terjadi atau apa yang akan terjadi di dunia. Mereka yang ingin mencoba untuk meramalkan apa yang akan terjadi hanyalah bisa melakukannya sebatas kekuatan manusia. Mereka yang mengaku atau dikenal sebagai orang yang dapat melihat ke masa depan mungkin saja sudah dipengaruhi oleh kuasa gelap. Memang orang yang mudah dipengaruhi oleh berbagai pendapat yang tidak benar dan kebohongan, akan mudah teombang-ambing dalam hidup dan iman mereka. Sebaliknya, bagi mereka yang benar-benar beriman, Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang memegang kendali dan karena itu mereka tidak akan mudah terperosok kedalam tipu muslihat iblis.

Apakah anda merasa beruntung atas hidup anda?

“Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” Matius 13: 16

Beberapa saat yang silam ada seseorang yang bertanya kepada saya apakah saya merasa beruntung dalam hidup saya. Pertanyaan yang singkat itu tidak mudah saya jawab tanpa menyebabkan jawaban saya seolah-olah terlalu bernada “rohani”. Tetapi saya tidak juga dapat menjawab bahwa saya merasa beruntung karena bisa hidup dibawah atap dan tidak perlu mengalami kelaparan. Jawaban seperti itu bagi saya agaknya terlalu bernada  “jasmani”. Apa sih yang bisa disebut sebagai keberuntungan hidup?

Memang, jika kita rajin membaca media, kita bisa mengenali  orang-orang yang tersohor karena keberhasilan, kepandaian dan kekayaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai profile yang hebat di internet, dan jika anda menggunakan Google tentu anda bisa membaca riwayat hidup mereka. Mereka nampaknya adalah orang-orang yang sukses dan mencapai prestasi yang terbaik. Orang-orang yang nampaknya beruntung.

Bagaimana dengan anda sendiri? Dapatkah anda membayangkan kalau riwayat hidup anda tertulis dalam wikipedia? Ataukah nama anda memang sudah cukup dikenal masyarakat? Bagaimana perasaan anda jika orang bisa membaca semua yang terjadi dalam hidup anda? Apakah anda merasa senang atau bangga atas apa yang sudah anda capai dalam hidup anda? Apakah anda merasa beruntung? Apakah yang paling membuat anda senang dan puas atas hidup anda?

Ayat diatas adalah perkataan Yesus kepada murid-muridNya tatkala mereka merasa heran mengapa Yesus menggunakan perumpamaan dalam mengajar orang banyak. Yesus menyatakan bahwa Ia menggenapi nubuat nabi Yesaya yang berbunyi: “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap” (Matius 13: 14). Yesus lebih lanjut mengatakan bahwa hati banyak manusia sudah menebal dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup akan firman Tuhan. Karena itu, walaupun mereka ingin menjadi orang yang baik hidupnya, mereka tidak dapat mengerti apa yang paling perlu untuk dilakukan.

Bagi orang percaya, pertanyaan bagaimana manusia bisa hidup di dunia jika mereka buta dan tuli akan bimbingan Tuhan, tentu tidak sulit untuk dijawab. Tanpa dapat mendengar dan mengerti firman Tuhan, manusia tidak dapat membuahkan apa yang baik untuk kemuliaan Tuhan. Sebaliknya, mereka bisa menjadi manusia yang durhaka dalam pandangan Tuhan. Mereka mungkin menjadi orang-orang yang terkenal, tetapi mungkin tidak sadar akan keadaan mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya jauh dari Tuhan dan tidak membuahkan apa yang baik bagi Tuhan yang sudah lebih dulu mengaruniakan kasihNya kepada mereka. Mereka tidak juga membuahkan apa yang baik untuk diri mereka dan sesama.

Pagi ini, jika kita bisa melihat dan  mengerti bahwa kita membutuhkan Yesus dalam hidup ini dan mau melaksanakan firmanNya setiap hari, kita adalah orang yang beruntung. Mereka yang beruntung adalah orang-orang yang berbahagia karena bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan dalam segala keadaan. Yesus berkata bahwa sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kita lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kita dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Kita sudah mengenal siapa Yesus itu dan mengerti bahwa Ia turun ke dunia untuk menebus dosa kita. Karena itu kita mempunyai iman kepadaNya dan mau melaksanakan segala apa yang difirmankanNya.  Kita adalah orang-orang yang beruntung, karena hidup kita yang selalu diterangi dengan firman Tuhan seharusnya bisa membawa kemuliaan kepada Tuhan dan kebaikan bagi diri kita dan sesama manusia. Masihkah itu kurang? Ataukah kita yang kurang menghargai kasih karuniaNya?

Bergumul dalam menantikan anugerah Tuhan

Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” Kejadian 32: 28

Pernahkah anda menonton pertandingan gulat? Pertandingan gulat (wrestling) yang ada di TV seringkali hanyalah untuk konsumsi mereka yang senang menonton pertunjukan atau entertainment.  Pertandingan gulat yang asli menghadapkan dua orang yang benar-benar bertanding dan bukan hanya berpura-pura bertanding. Karena itu, dalam pertandingan gulat seperti itu cedera sering terjadi.

Dalam ayat diatas tertulis bahwa Yakub sudah bergumul dengan seseorang dan Yakub menang. Pergumulan Yakub mungkin bisa dibayangkan seperti pertandingan gulat, dimana Yakub pada akhirnya mengalami cedera pada sendi di pangkal pahanya. Yakub sejak itu timpang, dan pengalaman itu membuatnya menjadi manusia yang berbeda sikap hidupnya.

Dengan siapakah Yakub bergumul pada waktu itu? Yakub bergumul dengan orang yang tidak dikenalnya, tetapi ia sadar bahwa orang itu utusan Tuhan. Pergumulan Yakub bukan sekedar perkelahian, tetapi lebih menyerupai permohonan yang sungguh-sungguh agar ia diberkati. Yakub orang yang nampaknya kurang jujur dan egois itu, mengalami pergumulan hidup yang tidak dapat diatasinya dengan kekuatan sendiri. Karena itu, ketika ia mendapatkan kesempatan, ia benar-benar mau bergumul untuk mendapat pertolongan Tuhan.

Banyak penafsir Alkitab yang menulis bahwa orang yang bergumul dengan Yakub adalah malaikat utusan Tuhan. Tetapi banyak juga yang menafsirkan bahwa Yakub bergumul dengan Tuhan Yesus yang belum turun ke dunia sebagai manusia. Apapun yang sebenarnya terjadi, Yakub bergumul dalam menghadapi Tuhan ketika ia berada dalam situasi yang benar-benar kritis atau desperate. Jika Yakub tidak mendapat berkat Tuhan, ia tidak akan bisa melihat hari depan dengan keyakinan.

Ayat diatas menggambarkan Yakub yang “menang” dalam pergumulannya dengan Tuhan. Secara fisik, Yakub kalah dengan cedera berat. Tetapi secara rohani, Yakub mendapat kemenangan hanya karena Tuhan dengan belas kasihan dan karuniaNya melihat bahwa Yakub benar-benar membutuhkan berkat penyertaanNya. Pergumulan Yakub menunjukkan imannya yang percaya bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber keselamatan dan kekuatannya.

Pagi ini, adakah masalah kehidupan yang berat yang harus anda hadapi? Apakah anda sudah menggumulkan semua itu dengan Tuhan? Apakah anda mempunyai iman bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan yang mahakasih? Tahukah anda bahwa Tuhan ingin melihat kesungguhan dalam hati kita untuk menjadi umatNya yang bergantung kepadaNya dalam setiap keadaan? Seperti Yakub yang sudah diberi kemenangan dan kedamaian oleh Tuhan, Tuhan bisa memberikan kemenangan atas kekuatiran dan kedamaian hidup kepada mereka yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang memegang kemudi kehidupan manusia.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6 – 7

Hal mencari kehendak Tuhan

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Tanggal 17 April yang akan datang bangsa Indonesia akan menghadapi pemilihan umum. Sebulan kemudian, tepatnya pada tanggal 18 Mei, Australia akan mengalami hal yang serupa. Pemilihan umum adalah pelaksanaan demokrasi yang paling nyata dalam sebuah negara, untuk mana manusia harus bersyukur karena adanya kemerdekaan setiap warga untuk menyatakan pendapatnya. Kemerdekaan atau freedom yang dipunyai sebuah bangsa, seringkali hanya bisa dicapai dengan pengorbanan besar. Karena itu, pemilihan umum adalah suatu pesta demokrasi yang harus kita nikmati bersama.

Bagi banyak orang Kristen, hal memilih sesuatu adalah identik dengan mencari kehendak Tuhan. Dan sebab itu banyak orang berpikir bahwa apa yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dalam hal ini, masalahnya adalah bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk terbatas. Dapatkah kita mengerti apa yang dikehendakiNya? Apakah yang sekarang ada sudah merupakan kehendakNya?

Apa yang terjadi di dunia sudah tentu merupakan bagian dari rencana Tuhan yang tidak kita ketahui. Manusia dalam keterbatasannya ingin menemukan kehendak Tuhan, tetapi kerapkali heran jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Memang manusia tidak mungkin tahu keseluruhan kehendakNya (overall will).

“TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Amsal 16: 4

Seorang yang mencari pasangan hidup mungkin berdoa untuk bisa memilih jodoh yang baik, tetapi jika kemudian rumahtangga mereka mulai berantakan, pertanyaan muncul apakah semua itu kehendak Tuhan? Tidak ada orang yang bisa menjawabnya karena tidak ada orang yang tahu apa yang akan terjadi. Dalam keadaan demikian, mereka yang bersangkutan harus berusaha melakukan apa yang baik menurut kehendak Tuhan. Manusia bertanggungjawab untuk pilihannya dan melakukan apa yang terbaik yang sesuai dengan firmanNya setiap hari.

Tuhan memang mempunyai kehendak mutlak (sovereign will) untuk seluruh ciptaanNya. Kita tidak mungkin mengetahui semuanya, tetap dalam hidup kita sehari-hari Ia sudah menunjukkan apa yang baik untuk dilakukan. Itu yang dinamakan kehendak Tuhan yang sudah dinyatakan atau revealed will. Dalam Alkitab tertulis banyak hal yang dikehendaki Tuhan, seperti untuk mengasihi Tuhan dan sesama, untuk membayar pajak kepada pemerintah, untuk memegang kejujuran dan keadilan, untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan lain-lain.

Jika kita sering bingung untuk mencari kehendak Tuhan, itu adalah karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan. Kita ingin tahu seluruh kehendakNya untuk hidup kita, untuk keluarga kita dan untuk bangsa kita. Tetapi itu jelas tidak mungkin. Apa yang belum terjadi kita tidak tahu, dan apa yang sudah terjadi belum tentu merupakan hasil akhir.

Pagi ini, ayat pembukaan dari Roma 12: 2 diatas mengatakan bahwa kita harus berubah untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, sehingga dengan pikiran dan sikap yang benar kita dapat membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan tetapi kita bertanggungjawab atas keputusan dan tindakan yang kita ambil. Dalam semua ini kita percaya bahwa Tuhan ikut bekerja untuk membawa kebaikan kepada umatNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apakah kita tahu apa yang kita perbuat?

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23: 34

Tiap hari di media selalu ada berita tentang orang-orang yang ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam suatu kejahatan atau pelanggaran hukum. Mereka itu pada saatnya akan menghadapi hakim di pengadilan, dimana tim penuntut dan tim pembela beradu pendapat mengenai kesalahan si terdakwa. Apakah terdakwa memang melakukan pelanggaran hukum? Apakah ia sadar akan adanya hukum? Apakah ia dengan sengaja melanggar hukum? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah sebagian dari apa yang diperdebatkan di depan hakim.

Ayat diatas adalah sebuah ayat yang sangat terkenal yang sering dibahas dan disampaikan dalam berbagai khotbah dan renungan. Memang apa yang dikatakan Yesus sewaktu Ia disalibkan adalah suatu doa yang luar biasa, yang menunjukkan kasihNya kepada manusia. Pada waktu itu prajurit-prajurit Romawi membuang undi atas jubah Yesus, sedangkan banyak  orang Yahudi melihat Yesus disalibkan dengan melontarkan berbagai ejekan, dan bahkan seorang penjahat yang disalibkan disamping Yesus ikut juga menghujat Dia. Menghadapi semua itu Yesus tetap bisa berdoa kepada Allah Bapa agar mereka diberi kesempatan untuk memperoleh pengampunan.

Yesus berdoa agar Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ini bukanlah sekedar memenuhi nubuat Yesaya (Yesaya 53: 12) yang mengatakan bahwa “Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberotak”. Yesus tentu tahu bahwa bagi mereka yang didoakan masih ada kesempatan untuk meminta ampun atas dosa-dosa mereka. Pengampunan Tuhan bisa diberikan jika manusia mau mengakui dosa-dosa mereka. Tetapi, jika mereka merasa tidak berdosa pengampunan tentunya tidak akan diberikan Tuhan.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. 1 Yohanes 1: 9 – 10

Mungkin dalam hal ini ada orang-orang yang merasa bahwa mereka sudah hidup menurut perintah Tuhan dan merasa yakin bahwa hidup mereka adalah lebih baik dari hidup orang lain. Perumpamaan Yesus tentang orang Farisi dan pemungut cukai yang ada dalam Lukas 18: 9 – 14 menceritakan adanya seorang Farisi yang berdoa  disebelah seorang pemungut cukai dan merasa bahwa ia “tidak sama seperti orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini”. Orang Farisi ini jelas tidak sadar akan dosa apa yang diperbuatnya: kesombongan. Karena tidak tahu akan dosa yang diperbuatnya, ia tidak bisa meminta ampun; dan karena ia tidak meminta ampun, ia tidak akan dibenarkan Tuhan. Sebaliknya, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Bagi pemungut cukai ini pengampunan Tuhan tersedia.

Tahukah kita akan dosa yang kita perbuat? Mungkin kita tahu bahwa sebagai manusia kita dilahirkan dalam dosa. Semua orang sudah berdosa karena dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. Walaupun demikian, sadarkah kita akan segala dosa yang kita perbuat setiap hari, setiap jam dan setiap saat? Sudah tentu jika kita menghitung dosa-dosa yang kita lakukan, pikirkan, atau katakan setiap hari, jumlahnya adalah terlalu banyak untuk bisa disebutkan. Untuk sebagian orang, karena kebiasaan, dosa yang banyak itu mudah dilupakan. Begitu juga, apa yang bisa diterima oleh masyarakat umum mudahlah diacuhkan. Karena banyak orang melakukan hal yang sama, kita mungkin merasa bahwa kita tidak berbuat salah.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa pengampunan Tuhan ada tersedia bagi semua orang yang sadar akan dosanya. Roh Kudus bekerja setiap saat untuk mengingatkan kita agar kita selalu mengamati apa yang baik dan yang buruk dalam hidup manusia di dunia.  Jika apa yang baik menurut firman Tuhan tidak kita lakukan dan apa yang buruk justru kita senangi, itulah kelemahan kita. Tetapi Roh Kudus jugalah yang memberi peringatan dengan tidak henti-hentinya agar kita tahu apa yang kita lakukan, agar kita peka akan apa yang baik dan apa yang buruk. Roh Kudus juga yang membimbing kita agar kita tidak jatuh kedalam kesombongan bahwa kita adalah orang-orang baik yang sudah terpilih. Biarlah dengan kerendahan hati kita mau meneliti hidup kita hari demi hari untuk bisa memohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita dan memperoleh kekuatan dari Tuhan agar kita mampu untuk memperbaiki cara hidup kita.

Keinginan yang bisa membawa kehancuran

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Ingatkah anda akan lagu Gang Kelinci? Lagu lama yang pernah dinyanyikan Lilis Suryani dan Titik Puspa ini menceritakan kehidupan di satu gang di Jakarta. Gang Kelinci yang berada di samping Pasar Baru, Jakarta, adalah daerah yang padat penduduknya dan sempit jalannya. Walaupun demikian, dalam nyanyian itu diutarakan adanya rasa bahagia karena penduduknya rukun dan damai.

Gang Kelinci itu nampak manis dari sudut nostalgia, tetapi mungkin bukanlah tempat tinggal yang disukai orang zaman sekarang. Dengan kemajuan ekonomi dan bertambahnya daya beli, mereka yang mampu tentunya ingin tinggal di daerah yang mewah di jalan yang bisa dilewati mobil besar. Bukan saja di Jakarta, di kota besar di seluruh dunia, termasuk Sydney dan Melbourne di Australia, orang ingin tinggal di gedongan.

Bagi kebanyakan manusia memang apa yang kurang baik atau kurang nyaman umumnya selalu ingin dihindari atau diperbaiki. Itu lumrah saja. Walaupun demikian, untuk mencapai tujuan hidup itu orang sering mencari jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Karena itu, banyak orang Kristen yang gaya hidupnya tidak berbeda dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Mereka yang hanya ingin mencari keuntungan, mungkin tidak takut kepada hukum negara, tidak mempunyai etika yang baik, dan tidak merasa bersalah jika orang lain dikorbankan. Tuhan bagi mereka bukanlah Tuhan yang harus dihormati, dan orang lain bukanlah sesama insan yang harus dikasihi.

Menjalani hidup sebagai orang Kristen memang tidak mudah. Kita tahu bahwa dunia mempunyai prinsip “siapa cepat dia dapat“. Tetapi jika orang yang ingin untuk mendapatkan keberhasilan kemudian mengambil jalan yang terlihat paling mudah, disitulah kehancuran hidup bisa muncul. Ada banyak orang yang ingin memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan, tetapi apa yang kemudian diperoleh adalah hidup yang jauh dari Tuhan. Hidup yang rukun dan damai a la Gang Kelinci diganti dengan hidup yang terisi kekejaman, ketidak-jujuran dan keserakahan.

Setiap manusia pada akhirnya bertanggung jawab atas hidup dan tingkah laku mereka kepada Tuhan. Melalui ayat diatas firman Tuhan pagi ini memperingatkan bahwa jika prinsip kehidupan kita adalah mencari kesuksesan materi, besar kemungkinan bahwa kita akan terjebak dalam dosa-dosa yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Mengikut Tuhan bukanlah hal yang mudah dilakukan karena itu berarti menentang arus dunia. Manusia ingin hidup nyaman dan karena itu sebagian orang Kristen mengejar kesuksesan yang dianggap sebagai bukti kasih Tuhan. Tetapi ini bukanlah apa yang diajarkan Alkitab. Sebab itu, sekalipun banyak orang melakukannya kita tidak boleh terpikat olehnya. Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita harus bisa memilih apa yang terbaik untuk masa depan.

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Apa pesan kita kepada mereka yang sakit?

Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 1: 2

Jatuh sakit adalah hal yang umum. Semua orang pernah jatuh sakit, dan sebagian malahan pernah masuk ke rumah sakit. Sudah tentu semua orang tidak menyukai penyakit, dan karena itu jika ada orang yang sakit berat, tentu ada pertanyaan mengapa itu terjadi. Apakah adanya penyakit adalah suatu pernyataan kedaulatan Tuhan? Ataukah adanya penyakit merupakan bukti adanya dosa si penderita? Mungkinkah Tuhan memakai penyakit sebagai suatu sarana untuk mencapai kehendakNya? Apakah Tuhan menghendaki adanya penyakit, ataukah Ia tidak peduli? Bagaimana sikap Tuhan terhadap mereka yang jatuh sakit?

Penyakit sudah tentu adalah sesuatu yang buruk, suatu konsekuensi yang harus dihadapi seluruh umat manusia yang jatuh kedalam dosa. Penyakit dapat terjadi pada siapa saja, umat Kristen atau bukan. Penyakit tidak memandang bulu, kaya atau miskin, tua atau muda.

Pada pihak yang lain, Tuhan mungkin mendatangkan penyakit untuk memperingatkan atau menghukum orang yang dengan sengaja menentang apa yang dikehendakiNya atau menghajar mereka yang hidup menurut jalan dunia. Tuhan juga bisa memakai penyakit untuk mengajar umatNya untuk lebih taat dan lebih bersandar kepadaNya. Memang, adanya penyakit juga bisa digunakan untuk mendemonstrasikan kedaulatan Tuhan. Ini bisa kita baca dalam Perjanjian Lama, dan juga dalam Perjanjian Baru.

Pada tahun 1980an, ketika virus HIV mulai menyebar, banyak orang Kristen yang percaya bahwa virus itu didatangkan Tuhan sebagai hukuman untuk kelompok tertentu. Beberapa tahun kemudian, banyak orang terkena virus itu melalui transfusi darah, kontaminasi alat operasi dan lain-lain. Hal ini kemudian memicu riset untuk mencari obat-obat yang bisa mencegah atau menyembuhkan. Mereka yang percaya bisa melihat bahwa sekalipun ada malapetaka, Tuhan tetap memegang kontrol.

Di zaman modern ini kita tahu adanya berbagai jenis penyakit lain seperti kanker yang merajarela. Semua itu adalah bagian hidup manusia di dunia. Jika Yesus masih hidup di dunia dan sempat mengunjungi rumah sakit anak-anak, Ia mungkin ikut menangis bersama anak-anak kecil yang menderita leukemia atau penyakit lainnya. Penyakit adalah sesuatu yang tidak disenangi Yesus dan karena itu selama di dunia, Ia menyembuhkan banyak orang sakit. Dengan itu Yesus juga menunjukkan bahwa Tuhan berdaulat atas penyakit dan bahkan kematian.

Pagi ini kita mungkin memikirkan teman atau saudara yang sedang sakit. Kita mungkin tidak tahu mengapa itu harus terjadi. Tetapi jatuh sakit adalah bagian kehidupan di dunia dan umat percaya pun tidak luput darinya. Apa yang kita tahu ialah Tuhan ingin agar seluruh umat manusia untuk hidup sehat secara jasmani dan rohani.

Yesus turun ke dunia untuk membawa keselamatan jiwa kepada mereka yang percaya kepadaNya. Tetapi Ia juga menyembuhkan banyak orang sakit tanpa pilih kasih. Dengan demikian Ia membuktikan bahwa Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, adalah Tuhan yang mahakasih yang ingin menyelamatkan siapa saja yang datang kepadaNya.

Sikap kita kepada yang sakit haruslah sama dengan sikap Yesus Kristus kepada mereka yang sakit pada waktu Ia masih di dunia. Ia tidak memakai penderitaan manusia untuk menggaris-bawahi aspek hukuman atau kedaulatan Tuhan. Sebaliknya, Ia mengabarkan kabar baik (good news) bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih dan mau membebaskan manusia dari kurungan dosa. Dialah yang memegang kontrol dan yang bisa memberi kekuatan dan kesembuhan jasmani dan rohani sesuai dengan kehendakNya. Semoga kita dapat membagikan kasih Kristus kepada mereka yang sedang sakit dengan ikut mendukung mereka baik dalam doa maupun bantuan.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12: 16

Apakah kita mempunyai kebebasan?

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Setiap pagi saya mempunyai kebiasaan untuk makan pagi sebelum mandi. Pagi ini, saya mengambil keputusan untuk mandi dulu sebelum makan pagi di sebuah cafe. Ada pertanyaan dalam pikiran saya: apakah ini keputusan saya ataukah Tuhan yang mengambil keputusan untuk saya? Pertanyaan yang mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, tetapi memang ada juga orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan yang mengatur segala tindakan manusia, baik kecil maupun besar, melalui penentuan Ilahi atau “devine determinism“.

Walaupun sebagian orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan atau freedom untuk mengambil keputusan sehari-hari, mereka belum tentu bisa menerima bahwa semua itu adalah kehendak bebas atau free will. Apalagi, jika kehendak bebas dikaitkan dengan soal keselamatan, banyak orang yang menyangka bahwa manusia hanya bisa menerima apa yang “sudah ditentukan” Tuhan.

Adalah hal yang menarik untuk diamati bahwa penginjil Billy Graham selama hidupnya selalu berusaha untuk mengabarkan injil agar siapa saja yang percaya kepada Yesus mau mengambil keputusan untuk mengikut Dia. Mengikut Yesus keputusanku, begitu bunyi lagu yang sering dinyanyikan sewaktu ada kebaktian kebangunan rohani Billy Graham. Tetapi sudah barang tentu, siapapun yang mengambil keputusan untuk percaya tentunya hanya bisa benar-benar percaya karena bimbingan Roh Kudus.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia seringkali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan seringkali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Pagi ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kehendak bebas kita akan bisa membawa kita kepada hal yang buruk. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24

Apakah segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan?

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, seringkali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Hitler dan pengikutnya yang menyebabkan ribuan orang Yahudi, baik tua atau muda, mati di kamar gas pada perang dunia kedua, tentu dipandang sebagai orang yang sangat jahat. Apakah Tuhan menghendaki Hitler untuk melakukan kekejaman itu?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendakNya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat Hitler melakukan kekejiannya. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seijin Tuhan.

Dengan seijin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengijinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengijinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengijinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendakiNya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Ayat diatas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi resiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa ada kemungkinanTuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.

Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan kedalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umatNya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencanaNya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “ijin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukanNya pada saat yang dikehendakiNya, tanpa dipengaruhi oleh apapun dan siapapun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Pagi ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh kedalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapapun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umatNya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umatNya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendakNya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Hal kesembuhan di zaman sekarang

“Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang.” Lukas 9: 1 – 2

Adalah suatu kenyataan bahwa setiap orang di dunia ini tentunya pernah jatuh sakit. Memang, dunia sesudah kejatuhan manusia kedalam dosa adalah dunia yang penuh masalah dan penderitaan. Alkitab menceritakan berbagai masalah kesehatan yang mengganggu hidup manusia, terutama dalam kitab perjanjian baru, dimana berbagai penyakit sudah disembuhkan oleh Yesus dan murid-muridNya.

Sudah tentu bahwa ilmu pengetahuan manusia pada zaman dulu tidaklah seperti zaman ini. Ilmu kedokteran saat itu belumlah berkembang dan dengan demikian orang mungkin lebih bergantung pada doa dan keajaiban untuk memperoleh kesembuhan dari penyakit yang tidak dapat diobati oleh para tabib yang ada.

Kedatangan Yesus ke dunia membawa dimensi baru dalam hal kesembuhan. Alkitab mencatat bahwa Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya (Markus 3: 10). Jika sebelum kedatanganNya, orang tidak mempunyai banyak harapan untuk mendapat kesembuhan, Yesus memberi kepastian bahwa sebagai Anak Allah Ia bisa mengalahkan segala penyakit dan bahkan kematian.

Kepada murid-Nya Yesus juga memberikan tenaga dan kuasa untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Memang, dalam paket keselamatan Yesus, Ia mengutus murid-muridNya untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Semua itu dimaksudkan agar orang pada zaman itu bisa mengenal Yesus Sang Juruselamat dan memuliakan Allah Bapa yang mengutusNya.

Bagaimana pula dengan keadaan di zaman sekarang? Hal kesembuhan yang ajaib masih kita dengar atau alami, tetapi agaknya tidak sesering dulu. Sebaliknya, kita melihat bahwa banyak orang sakit menjalani pengobatan dan mengalami kesembuhan melalui pengobatan modern. Semua itu tentunya merupakan berkat dari Tuhan, yang memungkinkan apa yang baik untuk bisa dipakai manusia. Yesus yang sudah menyelesaikan tugas penyelamatanNya, tidak lagi perlu untuk mengelilingi dunia dan melakukan penyembuhan ilahi seperti dulu.

Sebagian umat Kristen masih percaya bahwa keadaan sekarang masih tetap seperti dulu. Akibatnya, mereka yang sakit mungkin kurang mempercayai ilmu kedokteran, tetapi lebih mengharapkan adanya keajaiban. Selain itu, ada juga orang-orang yang menganggap bahwa ilmu kedokteran adalah ilmu manusiawi, dan kesembuhan yang paling baik bukanlah melalui ilmu itu.

Salahkah jika kita masih mengharapkan pemeliharaan dan kesembuhan ilahi di zaman ini? Tentu tidak! Alkitab menulis bahwa Tuhan tidak berubah. KasihNya tetap sama, begitu juga kuasaNya. Jika Ia menghendaki keajaiban terjadi di zaman ini, itu pasti akan terjadi. Kuasa Tuhan ada dan bekerja dalam segala hal, baik itu dalam hal yang kita mengerti maupun dalam hal yang kita kurang mengerti.

Ilmu kedokteran di zaman ini sudah jauh lebih maju daripada apa yang diketahui oleh Lukas, yang pada waktu itu bekerja sebagai tabib (Kolose 4: 14). Lukas yang pada waktu itu mengabarkan injil bersama Paulus, tentunya sadar bahwa dibalik semuanya Tuhanlah yang bekerja. Begitu juga kita yang hidup di zaman modern ini harus percaya bahwa Tuhan tetap memelihara kesehatan kita melalui segala apa yang baik. Ilmu kesehatan dan kedokteran adalah berkat Tuhan yang harus kita syukuri.

Pagi ini, adakah masalah kesehatan yang anda hadapi? Percayakah anda bahwa Tuhan tetap peduli akan penderitaan manusia di bumi? Tahukah anda bahwa Ia ingin supaya manusia bisa mengenalNya melalui apa yang baik yang sudah diberikanNya?

Tuhan sudah memberikan berkatNya melalui kemajuan ilmu pengetahuan manusia, dan karena itu kita tetap bisa melihat berbagai keajaiban yang dilakukanNya termasuk apa yang terjadi melalui ilmu kedokteran. Bersyukurlah bahwa Tuhan itu baik, dan jangan sia-siakan kasihNya!