Kesabaran Tuhan

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” 2 Petrus 3: 9

Ayat ini adalah ayat yang tidak sepopuler Yohanes 3: 16, tetapi sering diperdebatkan diantara berbagai golongan Kristen maupun diantara orang yang bukan Kristen. Apakah Tuhan menghendaki semua orang selamat? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab. Kalau jawabnya “ya”, tentunya Ia tidak mau seorang pun ke neraka. Tuhan yang mahakasih tentunya akan berusaha agar semua orang untuk bisa menemukan jalan ke surga melalui kepercayaan apapun, begitu pendapat sebagian orang. Walaupun demikian, adanya neraka tentunya menegaskan kenyataan bahwa sebagian orang akan menuju kesana. Karena itu, sekalipun Tuhan ingin agar semua manusia bisa ke surga, tidak semua orang akan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang merupakan satu-satunya jalan keselamatan.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Mereka yang tidak mengenal nama Kristus, sudah tentu tidak dapat hidup menurut firmanNya. Mungkin hidup mereka terlihat cukup baik menurut ukuran manusia, tetapi sebenarnya mereka hidup dalam dosa karena bagi mereka Tuhan hanya ada dalam bayangan. Hari demi hari berlalu, dan bagi mereka tidak ada perubahan apapun yang terjadi. Kedatangan Kristus yang kedua kali tidak kunjung tiba dan dunia berjalan seperti biasa. Mereka mungkin merasa bahwa hidup di dunia ini bisa dinikmati seperti biasa. Mereka yang menganggap bahwa iman kepada Yesus itu hanyalah khayalan, kemudian mengejek iman Kristen dan hidup menurut hawa nafsunya.

Dalam ayat diatas rasul Petrus memperingatkan orang-orang yang merasa Kristen tetapi tetap hidup dalam dosa, bahwa seperti mereka yang meragukan Kristus dan mengejek iman Kristen, mereka yang mengaku kenal kepada Yesus dan merasa sudah terpilih untuk diselamatkan tetapi masih hidup dalam dosa dan kejahatan akan menuju kebinasaan. Tetapi Tuhan yang mahakasih mempunyai kesabaran untuk menunggu agar sebanyak mungkin manusia mau berbalik arah dan bertobat dengan sepenuhnya. Karena itu, selagi kesempatan masih ada, semua orang yang sudah mengenal nama Kristus hendaklah berubah dari hidup lama dan memilih untuk hidup dalam iman dan dalam kesucian dan kesalehan selagi kesempatan masih ada.

Tuhan yang mahakasih menghendaki semua orang untuk mau menerima uluran tangan penyelamatanNya. Tetapi Tuhan yang mahaadil hanya menerima mereka yang benar-benar mau berusaha hidup sesuai dengan firmanNya, bukan hanya mereka yang gemar mempelajarinya. Tanda hidup baru adalah perubahan hidup yang bisa dilihat dari buah-buahnya (Matius 7: 20). Jika ini tidak terlihat, Yesus berkata:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Tuhan sudah memberikan kabar baikNya dan mengaruniakan Roh Kudus yang membimbing manusia untuk mengerti bahwa jalan keselamatan adalah sempit adanya. Keselamatan datang melalui anugerah Tuhan, yang harus diterima dan dinyatakan dalam hidup dalam kebenaran dan kasih. Walaupun demikian, sampai saat ini masih banyak orang yang mengenal nama Kristus tetapi mengabaikan perintahNya. Mereka justru memilih jalan lebar yang nyaman dan bergemerlapan, dan tetap hidup dalam dosa. Tuhan memang sabar kepada kita, tetapi kesabaranNya ada batasnya!

“Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.” 2 Petrus 3: 14

Bagaimana kita harus mengambil keputusan

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3: 5 – 6

Mengambil keputusan adalah suatu tindakan yang seringkali tidak mudah dilakukan. Sekalipun hal yang kelihatannya sederhana, seperti memilih menu makan siang, kadang-kadang bisa membingungkan. Karena itu ada orang-orang yang lebih senang untuk menyerahkan keputusan, kecil ataupun besar, kepada orang lain daripada pusing. Lebih dari itu, ada orang yang memang sering tidak mau mengambil keputusan karena takut menghadapi resikonya.

Bagi orang percaya, mengambil keputusan adalah bagian kehidupan. Bagaimana kita menjawab “ya” setelah mendengar panggilan Tuhan, adalah satu keputusan yang pertama yang kita buat sebelum menjadi pengikutNya. Tuhan melalui Roh Kudus memberi kita kesadaran akan satu-satunya jalan keselamatan, sehingga kita bisa mengambil keputusan untuk mengikut Yesus.

Dalam hidup kita, karena banyaknya keputusan yang harus kita buat, kadang-kadang kita menjadi masygul. Sebagian orang yang menghadapi persoalan berat memang bisa merasa bahwa apa yang ada tidaklah mudah dipilih. Karena itulah banyak orang yang “menyerahkan semuanya kepada Tuhan”. Mereka dengan kata lain sudah menyerah kepada tantangan yang ada.

Pada pihak yang lain, ada orang-orang yang begitu berani mengambil keputusan. Sekalipun keputusan itu mungkin dinilai aneh atau bodoh oleh orang lain, orang yang sedemikian mungkin berdalih bahwa Tuhan sudah memerintahkan dia untuk melakukannya.

Selain itu, ada juga orang-orang yang dengan bangga menyatakan bahwa ia sudah mengambil keputusan yang penting berdasarkan kebijaksanaannya. Mereka yang begitu percaya akan kemampuan manusiawinya, tidak merasa bahwa Tuhan itu ada dan semua rencanaNya harus terjadi. Mereka tidak mengerti bahwa keputusan manusia yang tidak sejalan dengan rencana Tuhan pada akhirnya tidak akan membawa hasil seperti yang diharapkan.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa apa yang paling penting dalam mengambil keputusan adalah untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita. Kita tidak boleh bersandar kepada pengertian kita sendiri, tetapi harus mau mencari apa yang dikehendaki Tuhan. Kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu kita harus mau mengambil keputusan yang membawa kemuliaan kepada Dia dan bukan untuk mencari kemuliaan diri sendiri.

Mengambil keputusan memang tidak mudah. Ada hal-hal yang bisa dan harus diubah, tetapi ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah. Kita dengan demikian harus bijaksana dan bisa membedakan antara perlunya berbuat sesuatu (do something) atau tinggal diam dan berserah kepadaNya (do nothing). Dengan mengambil keputusan untuk kemuliaanNya dan yang sesuai dengan kehendakNya, Tuhan akan meluruskan perjalanan masa depan kita.

Pilihan kita, risiko kita

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Lukas 10: 41 – 42

Minggu ini saya menerima banyak email dari murid-murid saya yang memohon perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugas (assignment) mereka. Seharusnya tanggal 23 April adalah batas waktunya dan jika mereka terlambat menyerahkan tugas, mereka akan mendapat pemotongan angka (penalty) sebesar 5% dari angka mereka setiap harinya.

Banyak alasan yang diajukan murid-murid itu. Ada yang mengaku sakit, ada yang mengemukakan sibuknya hidup mereka, ada juga yang mengalami kerusakan komputer secara tiba-tiba. Herannya, semua itu terjadi hanya satu atau dua hari sebelum tanggal pemasukan tugas (deadline). Saya sendiri berpikir bahwa karena permintaan perpanjangan itu seolah muncul pada saat terakhir, tentunya tidak semua alasan itu bisa diterima. Kebanyakan murid yang sering mengajukan permohonan perpanjangan waktu adalah mereka yang kurang pandai mengatur waktu. Mereka tidak mempunyai time management yang baik.

Ayat diatas berasal dari bagian Alkitab yang menceritakan bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya mampir ke desa Marta dan saudaranya, Maria. Barangkali ada sekitar 70 orang yang bersama Yesus saat itu, dan mungkin banyak juga yang bertamu di rumah kedua perempuan itu. Jika kunjungan itu hanyalah sekedar untuk bertamu, bisa dibayangkan betapa ramainya suasana disana, mungkin mirip sebuah pesta dan Yesus adalah tamu agungnya.

Apa yang terjadi ternyata bukanlah seperti yang kita bayangkan. Yesus menggunakan kesempatan itu untuk mengajar. Maria duduk didekat kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataan-Nya. Sebaliknya, Marta tidak menyempatkan diri untuk mendengarkan pengajaran Yesus. Ia sibuk sekali melayani tamu-tamu dan mungkin juga sibuk dengan mempersiapkan hidangan. Ia tidak senang melihat Maria yang tidak mau membantunya. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin pernah menghadapi hal yang serupa. Kesibukan sehari-hari seringkali mengharuskan kita untuk membagi waktu yang ada untuk bisa melaksanakan berbagai tugas. Mungkin karena terlalu sibuk, kita memilih untuk melakukan apa yang kita anggap lebih penting atau lebih menyenangkan, dan itu mungkin bukan untuk mempelajari firmanNya atau untuk berdoa kepada Tuhan dengan teratur. Kita menunda kewajiban kita untuk berbakti kepada Tuhan, persis seperti seorang murid yang akhirnya terpaksa meminta perpanjangan waktu untuk menyerahkan tugasnya.

Pagi ini kita harus sadar bahwa waktu adalah sebuah sarana yang terbatas. Umur kita bukan di tangan kita dan karena itu kita harus mengatur hidup kita sebaik-baiknya dengan mengutamakan apa yang terbaik. Kita tidak sepatutnya berpikir bahwa Tuhan sudah memilih kita sebagai anak-anakNya dan Ia menerima hidup kita sebagaimana adanya, tanpa mau berubah dari hidup lama kita. Memang ada hal-hal dalam hidup ini yang diluar kendali manusia, tetapi mengatur cara hidup adalah di tangan setiap individu. Tuhan memberikan kehendak bebas atau free will bagi kita untuk bisa memilih untuk menjadi seperti Maria yang menggunakan waktu yang ada untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, atau menjadi seperti Marta yang selalu sibuk dengan hal-hal duniawi. Pilihan kita, resiko kita.

Biarlah nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Kolose 3: 12

Kemarin malam saya menonton sebuah film dokumentasi di TV, mengenai kehidupan berbagai hewan di sebuah lembah di Afrika. Lembah yang kelihatannya cukup subur itu dihuni oleh berbagai jenis hewan, baik pemakan rumput/daun maupun pemakan daging. Berbagai hewan kecil dan besar hidup bersama di tempat itu sekalipun hidup mereka tidaklah seperti apa yang kita bayangkan di taman Firdaus. Adanya hewan-hewan tertentu yang hidup dengan memangsa hewan lain bisa membuat keadaan yang semula tenang menjadi kacau, dengan hewan-hewan seperti singa dan macan tutul yang memangsa rusa dan hewan kecil lainnya. Melihat seekor rusa yang tertangkap dan menjadi mangsa singa tentunya mengundang rasa sedih, tetapi semua itu adalah bagian kehidupan dunia ini.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah jika sekelompok rusa yang sedang makan rumput di padang diserang seekor singa, rusa-rusa itu berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke berbagai jurusan. Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menghindari atau bekerja sama guna mengelabui si singa. Lebih buruk lagi, jika seekor rusa sudah dimangsa oleh seekor singa, rusa-rusa yang lain melanjutkan acara makan mereka tanpa terganggu oleh adanya pemandangan yang menyedihkan di dekat mereka.  Sebagai hewan mereka tidak mempunyai rasa sedih, terharu atau terpukul dengan kematian salah satu dari anggota kelompok mereka. Kematian secara tragis seperti itu sudah biasa dilihat rusa-rusa itu dan menjadi bagian hidup mereka yang harus mereka terima.

Lain rusa lain manusia. Sebagai manusia kita mempunyai akal budi dan hati yang bisa merasakan apa yang diderita orang lain. Manusia diciptakan Tuhan seperti gambarNya, dengan demikian manusia bisa menggunakan akal budinya untuk mencari jawaban akan penderitaan yang dihadapi oleh sesama manusia dan juga makhluk hidup lainnya, dan mempunyai hati yang mempunyai rasa belas kasihan atas penderitaan-penderitaan itu. Manusia, berbeda dengan hewan, bisa menyadari bahwa penderitaan yang ada di dunia adalah hal yang menyedihkan dan sedapat mungkin dihindari atau dicegah. Manusia, sekalipun tahu bahwa penderitaan adalah bagian dari hidup di dunia yang sudah jatuh kedalam dosa, pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang dikehendaki Tuhan yang mahakasih. Karena itu, mereka yang beriman kepada Tuhan setiap hari berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan melindungi mereka dari berbagai pencobaan.

Bagaimanapun manusia berusaha untuk menghindari terjadinya malapetaka di dunia, kejatuhan manusia kedalam dosa tidak memungkinkan bahwa mereka bisa kembali hidup seperti di taman Firdaus. Kejadian seperti apa yang terjadi di berbagai tempat dimana banyak orang yang mengalami kematian dan cedera bukan karena kesalahan mereka, menunjukkan bahwa manusia tidak bisa hidup dalam ketenteraman dan kedamaian sekalipun mereka sudah berusaha. Semua itu adalah bagian hidup di dunia. Sebagian manusia memang menganggap bahwa manusia tidak dapat menghindari apa yang sudah dikehendaki Tuhan. Tetapi, apakah Tuhan yang mahakasih memang menghendaki semua yang kelihatan jahat dan keji  itu terjadi? Jika tidak, mengapa Ia membiarkan semua itu terjadi? Itulah yang menjadi tanda tanya, dan tidak mudah dijawab, terutama oleh orang-orang yang langsung terlibat.

Apa yang kita harus sadari ialah kenyataan bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan mahakasih. Tuhan yang mahakuasa bukanlah Tuhan yang dengan sewenang-wenang dan tanpa sebab memuntahkan kemarahanNya kepada manusia yang tidak berdaya. Ia bukanlah Tuhan yang mempunyai rencana jahat untuk manusia ciptaanNya. Sebaliknya, Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih yang mencintai dan memelihara semua orang. Ia yang mahatahu, juga bisa melihat apa yang sudah lewat dan apa yang akan datang.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa memberi kemampuan agar manusia bisa menguasai dunia ini unuk kemuliaan namaNya. Sebagian manusia mungkin ingin menguasai dunia ini untuk diri mereka sendiri, tetapi Tuhan yang mahakuasa terus bekerja sama dengan umatNya yang setia untuk membawa kebaikan dan kebenaran ke dunia.

Berbagai kesusahan dan malapetaka bisa terjadi di dunia ini, tetapi Tuhan tidak mungkin kehilangan kontrol. Karena itu, melalui apa yang terjadi di dunia, Ia memberikan kemampuan bagi manusia untuk bisa belajar dari masa lalu dan memakai keberanian dan kekuatan yang berasal dari Tuhan untuk menghadapi masa depan dengan tanggung jawab sepenuhnya. Tuhan juga memberi kemampuan bagi umatNya untuk mempunyai rasa belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran dalam menghadapi semua peristiwa yang terjadi di dunia. Tuhan memberikan umatnya kebijaksanaan untuk tidak mempersalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup manusia.  Dengan itu kita bisa yakin bahwa sekalipun dunia ini penuh dengan kejahatan, banyak orang akan mau percaya kepada Dia yang bukan saja mahakuasa, tetapi juga mahakasih.

 

 

 

 

 

Kekacauan bukan dari Tuhan

“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” 1 Korintus 14: 33

Pernahkah anda membandingkan lalu-lintas di kota anda dengan keadaan di kota lain? Pada umumnya, makin besar kotanya, makin ruwet lalu lintasnya. Itu bukan di Indonesia saja, tetapi juga di negara-negara lain. Memang kota-kota yang banyak penduduknya tentu banyak kendaraannya, dan karena itu kemacetan jalan raya sulit dihindari. Di Indonesia, saat ini kemacetan mungkin sering terjadi karena banyaknya sepeda motor. Tetapi di kota besar Jakarta, seperti juga Bangkok ataupun Sydney, selalu mempunyai jam-jam tertentu (rush hours) dimana kemacetan lalu lintas terjadi karena banyaknya mobil yang ada di jalan. Dengan adanya kemacetan di jalan, keadaan menjadi kacau dan orang mudah melakukan hal-hal yang bodoh.

Kalau kita pikirkan dalam-dalam, sebenarnya kekacauan apapun terjadi bukan hanya terjadi karena kebetulan. Berbagai sebab bisa mendatangkan kekacauan, tetapi sebab yang utama sebenarnya cara hidup atau tindakan manusia. Manusia yang seringkali lebih mementingkan kebutuhan pribadi biasanya melakukan tindakan tanpa pikir panjang, dan jika tindakan itu secara signifikan mempengaruhi banyak orang, kekacauan akan terjadi. Selain itu, kekacauan bisa terjadi karena hal yang sepele, tetapi karena banyaknya orang yang melakukan hal yang serupa, kekacauan kemudian timbul.

Pada ayat diatas tertulis bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak menghendaki kekacauan. Ayat itu ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pada waktu itu baru saja terbentuk dan berkembang. Kota Korintus pada waktu itu adalah kota yang cukup besar dengan berbagai kebudayaan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran kekristenan. Paulus bisa merasakan bahwa dalam kemudaannya, jemaat Korintus seringkali terombang-ambing diantara berbagai golongan masyarakat yang berbeda pendapat. Dalam kehidupan gereja pun, perbedaan pendapat itu sering terjadi. Tiap orang cenderung untuk menggunakan karunia yang dipunyainya  untuk dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan bersama. Tidaklah heran, kekacauan kemudian terjadi.

Paulus melalui surat kepada jemaat Korintus mengajarkan bahwa setiap orang Kristen harus bisa mengontrol dirinya sendiri. Setiap orang harus memikirkan kepentingan bersama untuk membangun, dan bukannya untuk mencari kepuasan diri sendiri. Setiap orang harus bisa mawas diri dan menghargai orang lain. Mengapa demikian? Karena Allah adalah Tuhan yang menghendaki ketertiban. Dalam kitab Kejadian kita seharusnya sudah tahu bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh jagad raya sehingga dari apa yang tidak berbentuk, semua kemudian menjadi sesuatu yang teratur dan indah.

Pagi ini, jika kita bangun dan membaca koran atau media apapun, apa yang bisa kita baca kebanyakan adalah kekacauan yang terjadi dimana-mana. Mungkin itu berita tentang kejahatan, kecelakaan, kebohongan, kemiskinan dan lain-lainnya. Sebagian orang memang senang mendengar atau membaca hal-hal semacam itu, bahkan mereka senang membagikannya ke orang lain. Selain itu, ada orang yang suka membuat kekacauan dengan melalukan tindakan-tindakan yang membuat orang lain kuatir, bingung ataupun marah. Keadaan dunia saat ini memang tidak jauh berbeda dengan hingar-bingar kota Korintus pada abad pertama.

Apakah panggilan Tuhan untuk kita dalam keadaan sekarang? Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan menghendaki ketertiban di dunia. Jika iblis adalah sumber kekacauan, Tuhan adalah mahasuci dan Ia menghendaki kita untuk menjadi orang-orang yang tidak mempermalukan Dia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang-orang yang memberi contoh kepada dunia bahwa kita adalah orang-orang yang sopan dan menghargai keteraturan. Kita adalah orang-orang yang mencintai kedamaian dan kesejahteraan dan ingin untuk membangun masyarakat di sekitar kita agar mereka mengenal dan memuliakan Tuhan kita.

“Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” 1 Korintus 14: 40

Bergembira sekalipun menderita

“Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” Kisah Para Rasul 5: 40 – 41

Pada saat ini, sekitar 2400 juta orang yang menganut agama Kristen atau sekitar 33% dari penduduk dunia. Jika orang membaca kisah kematian dan kebangkitan Kristus, mungkin mereka heran bagaimana apa yang terjadi di Israel pada waktu itu kemudian bisa membuat banyak orang menjadi pengikut Kristus.

Bagaimana kabar baik, bahwa melalui Yesus umat manusia bisa memperoleh keselamatan, bisa menyebar ke seluruh bangsa di dunia dalam waktu 2000 tahun? Bagaimana kepercayaan Kristen bisa berkembang dari apa yang dianut bangsa Yahudi saja, menjadi satu agama yang paling besar penganutnya di dunia? Hal ini bukan saja sesuatu yang menarik untuk dipelajari oleh ahli sejarah, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Ini bukanlah hal yang biasa, tetapi tentu terjadi hanya karena kehendakNya.

Kematian Kristus di kayu salib adalah kulminasi kejahatan manusia kepada Tuhan. Dengan menyalibkan Yesus, manusia membunuh Tuhan yang sudah turun ke dunia untuk menyelamatkan mereka yang percaya. Jika penderitaan murid-murid Yesus sudah berlangsung sebelum penyaliban Yesus, sejak kebangkitanNya penderitaan mereka makin bertambah karena banyak orang yang kuatir bahwa Yesus dan kemenanganNya atas maut akan mempengaruhi opini masyarakat. Penderitaan itu tidaklah mengherankan pengikutNya karena itu sudah pernah dinyatakan Yesus sebelum kematianNya.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Dalam kenyataannya, penderitaan umat Kristen itulah yang membuat banyak orang menjadi heran bagaimana mereka tetap setia kepada Yesus sekalipun harus menderita. Bahkan ayat pembukaan diatas menyatakan bahwa murid-murid Yesus bersukacita dengan adanya penganiayaan, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Yesus tentunya adalah Tuhan yang memberi kekuatan dan ketabahan kepada murid-muridNya!

Pagi ini, bagaimanakah perasaan anda atas hidup ini? Adakah perasaan bahwa sebagai orang Kristen anda mengalami perlakuan yang tidak baik atau tidak adil oleh orang-orang di sekitar anda? Apakah orang lain menganggap anda sebagai orang yang “aneh” jika anda tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan? Apakah anda diberi julukan “fanatik” ketika anda ingin menjalankan ibadah anda dengan sebaik-baiknya? Semua itu memang terasa berat, tetapi banyak orang Kristen yang mengalami apa yang jauh lebih berat, seperti kematian dan berbagai siksaan di tangan orang-orang yang membenci Kristus. Kita yang percaya kepada Kristus harus percaya bahwa semua itu bisa membawa kemuliaan bagi Dia dan iman yang teguh bagi seluruh umatNya jika kita tetap setia kepadaNya.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3 – 4

Kebangkitan Kristus adalah jaminan masa depan

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” 1 Korintus 15:14

Teringat saya sewaktu berada di Jepang, dengan teman-teman seuniversitas saya sering berbincang-bincang tentang berbagai hal jika lagi senggang. Salah satu bahan pembicaraan adalah mengenai agama dan hidup sesudah mati (life after death). Walaupun kebanyakan teman saya bukan orang religius, seperti orang Jepang lainnya secara tradisi mereka mengaku beragama Shinto dan Budha. Agama Shinto karena itu bermanfaat untuk bisa hidup bahagia di dunia, agama Budha karena itu berguna untuk bisa hidup di surga sesudah mati. Dengan berbekal dua agama ini, mereka merasa siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan.

Bagi kita yang mengikut Kristus, hidup di dunia ataupun di surga adalah berada dalam tangan Tuhan yang mahakuasa. Sebagai ciptaan Tuhan, kita bisa mengharapkan penyertaanNya selagi kita masih hidup di dunia, tetapi kita juga berharap kepada Tuhan yang sama untuk masa depan yang cerah di surga sesudah hidup di dunia ini selesai. Walaupun demikian, iman Kristen tidaklah mengajarkan bahwa hidup kita di dunia ini akan selalu berkelimpahan. Sebaliknya, kita tahu bahwa didalam Tuhan kita akan dikuatkan dalam segala tantangan dan penderitaan selama kita hidup di dunia.

Jika hidup di dunia ini adalah sebuah perjuangan, orang Kristen menyadari bahwa itu bukanlah yang utama. Karena segala sesuatu yang ada di bumi hanyalah sementara, Yesus mengajarkan agar kita mencari apa yang tidak bisa lenyap, yaitu kebahagiaan di surga. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa manusia mempunyai hidup dalam bentuk lain sesudah kematian jasmani. Adakah bentuk kehidupan yang sesuai dengan keadaan di surga?

Bagaimana orang bisa yakin bahwa ada hidup sesudah kematian? Dan bagaimana orang bisa yakin bahwa ia bisa hidup lagi dan bisa ke surga sesudah mati? Tidak ada seorangpun di dunia yang pernah hidup, mati, untuk kemudian bangkit dan naik ke surga. Kecuali Yesus Kristus. Yesus yang turun ke dunia sebagai manusia yang sepenuhnya, Ia jugalah yang kemudian mati disalib dan dikuburkan sebagaimana layaknya manusia. Walaupun begitu, Yesus yang mati kemudian bangkit pada hari yang ketiga, dan itu membuktikan bahwa ada kehidupan yang lain sesudah kematian.

Kebangkitan Yesus juga merupakan pemenuhan janjiNya bahwa seperti Ia bangkit, mereka yang percaya kepadaNya juga akan dibangkitkan dan hidup bersama dengan Dia di surga. Itu adalah janji Tuhan yang benar-benar akan terjadi, karena itu sudah ada terbukti dengan adanya saksi mata, yaitu murid-murid Yesus yang menjumpai kubur yang kosong dan kemudian bertemu dengan Dia yang mempunyai tubuh yang tidak lagi berupa tubuh jasmani.

Pagi hari ini kita merayakan hari kemenangan Yesus atas maut. Dengan kebangkitanNya, iman kita bukanlah hal yang sia-sia. Dosa kita sudah ditebus oleh kematianNya, dan karena kebangkitanNya kita mempunyai harapan masa depan untuk bisa bersama dengan Dia di surga sesudah tugas kita di dunia berakhir. Haleluya!

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5

Karena Yesus, Tuhan terasa dekat

“Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.” Lukas 23: 44 – 45

Jika anda adalah penggemar opera, pertunjukan musik dan balet, mungkin anda ingat bahwa panggung pertunjukan tradisional umumnya mempunyai tabir (curtain). Tetapi banyak gedung pertunjukan modern di dunia yang sekarang tidak lagi mempunyai tabir seperti itu.

Pada zaman sebelum kematian Yesus, bait suci di Yerusalem juga mempunyai tabir yang menutupi ruang mahakudus. Ruang yang didedikasikan kepada Allah ini hanya bisa dimasuki imam besar saja, hanya sekali dalam setahun, guna membawa persembahan untuk pendamaian dengan Allah (Keluaran 30: 10). Jabatan imam besar berakhir ketika bait suci dihancurkan tentara Romawi yang dipimpin Titus pada tahun 70 M.

Ayat diatas menuliskan kejadian yang terjadi pada saat Yesus disalibkan. Mulai tengah hari, kegelapan meliputi seluruh daerah itu selama tiga jam. Allah memperlihatkan murkaNya kepada manusia, dan menunjukkan bahwa manusia tidak mempunyai harapan kecuali jika mereka mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Suatu keajaiban lain kemudian terjadi, tabir Bait Suci terbelah sehingga ruang mahakudus ini tidak lagi tersembunyi dari mata pengunjung bait Allah. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya (Lukas 23: 46).

Di Golgota, suara-suara orang yang mempercakapkan hal penyaliban Yesus menjadi terhenti, dan mereka menjadi takut. Yesus ternyata bukanlah orang biasa, Ia adalah orang yang benar. Yesus adalah Tuhan, seperti apa yang sudah dinyatakanNya selama Ia hidup di dunia.

Bagi kita orang yang mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat kita, Allah sudah mengampuni dosa kita. Kita yang berdosa sudah mati dan dikubur bersama Yesus, untuk menerima keselamatan dalam kebangkitanNya. Lebih dari itu, kita boleh menyebut Allah sebagai Bapa kita karena dalam darah Kristus kita sudah diangkat menjadi anak-anakNya. Dengan terbelahnya tabir bait suci, kita sudah diberi anugerahNya untuk bisa berkomunikasi dengan Dia secara langsung.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah memberi kita hak untuk menghadap tahtaNya dengan keyakinan bahwa Ia akan mau menerima kita. Sekalipun kita adalah orang yang berdosa, darah Yesus sudah mencuci bersih hidup lama kita. Dengan hidup baru, kita tidak lagi dengan ketakutan menghadapi tabir yang menutupi Tuhan, tetapi bisa dengan rasa hormat, syukur dan penuh kasih berdoa kepadaNya pada setiap saat. Kasih Tuhan sekarang bisa memancar langsung kepada kita anak-anakNya dari semua bangsa di dunia yang sudah diselamatkan!

Yesus menderita untuk kita

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Matius 27: 46

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari dimana umat Kristen di seluruh dunia dengan khusyuk memperingati kematian Yesus di kayu salib. Kematian Kristus adalah suatu hal yang tidak mudah dimengerti oleh orang yang bukan Kristen, karena agaknya sulit diterima bahwa Anak Allah yang mahakuasa harus mati secara tragis karena ulah manusia.

Pada ayat diatas diungkapkan apa yang terjadi pada diri Anak Allah yang datang ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus. Manusia yang berdosa bukannya menyambut kedatanganNya dengan rasa hormat, tetapi sebaliknya justru membenci Dia. Karena itu, Ia yang tidak berdosa akhirnya mengalami kematian di kayu salib sebagai ganti umat manusia.

Penderitaan Yesus dimulai dengan segala hinaan dan cacian yang dilontarkan kepadaNya dan berbagai siksaan jasmani. Seperti layaknya seorang hukuman, Yesus dipaksa untuk memikul kayu salib menuju ke Golgota, bukit tengkorak. Dan di situ Ia disalibkan bersama-sama dengan dua orang penjahat, sebelah-menyebelah, dan Yesus ada di tengah-tengah. Pilatus, wakil pemerintahan Romawi pada waktu itu, menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib Yesus, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”.

Penderitaan fisik dan mental yang dialami Yesus yang tidak berdosa tidaklah bisa dibandingkan dengan penderitaan yang dialami kedua penjahat disampingNya. Yesus adalah Tuhan tetapi harus mengalami penderitaan ditangan manusia ciptaanNya. Lebih dari itu, karena Yesus harus merasakan semua penderitaanNya seorang diri di kayu salib dan menanggung murka Allah, secara spiritual Ia juga sangat menderita. Ia mengungkapkan penderitaan rohaniNya dengan ucapan Eli, Eli, lama sabakhtani. Yesus setia kepada tugas penyelamatanNya sampai titik kulminasi dimana Ia merasa bahwa semua yang Ia punyai sudah dikurbankanNya untuk menebus dosa manusia.

Pagi ini kita membaca dan mengenang apa yang sudah terjadi pada diri Yesus di Golgota dengan rasa kagum atas kasihNya kepada umat manusia. Karena begitu besar kasihNya, Ia mau untuk mengalami semua itu. Karena begitu besar kasihNya, apapun yang terjadi pada diriNya tidak dapat menutupi atau menghilangkan pancaran kasihNya kepada kita.

Dalam hidup ini, saat ini kita mungkin sedang mengalami berbagai tantangan hidup dan penderitaan. Tetapi kematian Yesus di kayu salib membuktikan bahwa Ia bukanlah Tuhan yang jauh disana. Semoga kita bisa selalu menyadari bahwa Yesus yang sudah pernah mengalami hal yang serupa tidak akan meninggalkan kita!

Mengapa Ia diam saja?

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Yesaya 53: 7

Australia adalah negara peternak domba nomer dua sedunia. Banyak domba yang  diekspor ke luar negeri melalui jalur laut, kemudian di proses oleh abatoar setempat guna dijadikan daging konsumsi manusia. Sekalipun tujuan akhir dari ekspor itu adalah pengadaan daging, pemerintah Australia cukup dibuat rikuh dengan adanya berita yang muncul akhir-akhir yang menunjukkan adanya malpraktek terhadap domba-domba Australia di beberapa negara yang mengimpor domba itu. Domba-domba yang seharusnya dipelihara dengan baik sebelum saat penyembelihan sering diperlakukan dengan tidak semestinya, dan cara penyembelihannya juga dianggap tidak manusiawi. Domba-domba yang malang itu seringkali terlihat seperti makhluk yang tidak berdaya dalam cengkeraman manusia yang kejam.

Ayat diatas menggambarkan bagaimana seekor domba mengalami penderitaan di tangan manusia. Domba itu dianiaya, tetapi dia tidak membuka mulutnya. Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang tidak dapat bersuara di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia hanya berdiam diri. Apa yang mengherankan ialah domba yang tidak berdaya itu sebenarnya adalah oknum yang mahakuasa.

Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Anak Allah yang berwujud manusia. Sebagai manusia ia adalah sepenuhnya seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Anak Allah, Ia adalah Tuhan yang mahakuasa, tetapi ia tidak menggunakan kemahakuasaanNya sebagai sesuatu yang menguntungkan diriNya sendiri, tetapi Ia justru merendahkan diri sehingga dapat merasakan segala penderitaan kita. Sebagai Tuhan, Ia sudah membuat berbagai macam mujizat yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa.

Adalah satu hal yang paling menakjubkan yang dapat kita lihat dari Anak Domba Allah ini. Pada hari menjelang penyalibanNya, kita mengenang betapa hebatNya pergumulan Yesus di taman Getsemane. Sang Domba yang tidak bersalah akan menghadapi kematian yang mengerikan, yang seharusnya dialami oleh seluruh umat manusia. KeringatNya mengucur deras seperti darah, dan hatiNya hancur karena Ia menyadari bahwa sebentar lagi murka Allah kepada umat manusia harus ditanggungNya di kayu salib.

Mengapa Yesus mau berkurban untuk umat manusia? Mengapa Ia yang mahakuasa tidak membuka mulutNya atau melawan mereka yang ingin menyalibkanNya? Mengapa Ia menghadapi kematian di kayu salib dengan kerelaan dan bahkan menyerahkan diriNya sepenuhnya kepada mereka yang ingin membunuhNya?

Sebagai manusia kita tidak dapat membayangkan bahwa semua ini terjadi karena kasih Tuhan yang sangat besar kepada seluruh umat manusia. Tuhan melihat kejatuhan manusia kedalam dosa dan tahu bahwa tidak ada jalan lain untuk menghindarkan manusia dari hukuman yang sepadan dengan dosanya. Pemberontakan kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci harus diberi hukuman yang setimpal: kematian dalam bentuk yang paling mengerikan.

Tuhan tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa tahan menghadapi hukuman Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa terlepas dari hukuman kecuali ada orang yang tidak berdosa, yang menggantikan seluruh umat manusia. Tebusan yang sangat besar karena seluruh umat manusia tersangkut didalam dosa kepada Tuhan yang mahasuci hanya bisa dibayar dengan harga tertinggi: Anak TunggalNya.

Hari ini, jika kita merenungkan penderitaan yang sudah dialami Yesus, kita mungkin takjub akan besarnya kasih Tuhan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana Tuhan dengan kasihNya ingin menyelamatkan seluruh umat manusia, tetapi kita sadar bahwa dengan keadilanNya Ia harus menghukum mereka yang tetap tidak percaya kepada AnakNya. Biarlah kita boleh hidup dalam rasa syukur atas besarnya kemurahan Tuhan kepada kita dan mau membagikan kabar baik ini agar makin banyak orang yang diselamatkan!

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16