Menghadapi mereka yang berbeda keyakinan

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” 1 Petrus 3: 15 – 16

Pernahkah anda berjumpa dengan seseorang yang mempertanyakan iman anda? Mungkin perjumpaan itu diawali dengan basa-basi, tetapi kemudian muncul pertanyaan mengenai agama apa yang anda peluk; dan selanjutnya orang itu kemudian berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya anda ketahui atau mengerti tentang iman. Jika orang itu mengira bahwa anda kurang mempunyai pengertian tentang iman, ada kemungkinan ia kemudian mencoba untuk menjelaskan bahwa mendalami iman adalah perlu. Mungkin, jika orang itu pada dasarnya mempunyai agama yang sama, ia kemudian mencoba untuk memperkenalkan apa yang benar dan baik menurut apa yang dipercayainya. Tetapi, jika orang itu mempunyai kepercayaan lain, ada kemungkinan bahwa ia kemudian mencoba untuk memperkenalkan anda kepada agamanya.

Kejadian diatas barangkali  tidak terlalu sering terjadi di kota besar pada zaman ini, tetapi masih bisa dijumpai di daerah, dimana masyarakat setempat masih cukup terbuka dan bisa menerima tamu pengunjung yang beragama lain. Bagi mereka yang hidup di daerah yang sudah terjangkau teknologi, komunikasi antar manusia mengenai soal kepercayaan mungkin lebih sering terjadi melalui media sosial. Kita bisa mengikuti debat antar agama, antar aliran gereja dan antar individu mengenai soal semacam ini melalui Youtube, Whatsapp, Facebook dan sejenisnya. Terkadang diskusi semacam ini menjadi sangat hangat dan berkelanjutan dengan saling menyerang dan saling merendahkan yang lain. Bagaimana sebenarnya orang Kristen harus bersikap dalam hal ini?

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tidak mengenal Kristus, orang Kristen harus menyatakan kasihnya kepada sesama manusia. Mengasihi sesama manusia bukanlah berarti hanya mengasihi orang yang seiman dan segolongan saja, tetapi semua orang yang hidup di dunia. Mengasihi berarti menghargai orang lain dan mau menolong mereka yang dalam kesulitan. Sekalipun kita tidak menyetujui apa yang dilakukan atau dipercayai orang lain, kita tidak dengan sengaja mencari musuh dengan berusaha menghancurkan atau menghina mereka. Ayat diatas mengajarkan bahwa jika orang mempertanyakan hal iman kita, kita harus menjawabnya dengan lemah lembut dan hormat, tanpa maksud buruk, supaya mereka yang membenci kita menjadi malu karena hidup dan sikap kita yang tak bercela.

Action speaks louder than words. Apa yang kita perbuat adalah lebih efektif dari kata-kata, begitu kata peribahasa Inggris. Kita boleh berdebat dengan orang lain mengenai hal iman, tetapi pada akhirnya apa yang lebih mudah dimengerti adalah tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar sudah menerima penebusan Kristus, hidup kita pastilah diisi dengan kasih, sukacita  dan kelemahlembutan. Biarlah banyak orang yang mengambil keputusan untuk mau mengenal Kristus karena mereka melihat Dia hidup dalam diri kita.

Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya. 2 Timotius 2: 23 – 26

Jangan berhenti mempelajari firmanNya

“Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus” Efesus 4: 20 – 21

Di zaman ini kebanyakan orang memperoleh pendidikan yang lebih baik dari apa yang ada pada generasi sebelumnya. Kemajuan ilmu pengetahuan begitu pesat sehingga mereka yang tidak mau memperoleh Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (continuing professional development atau CPD) akan pelan-pelan tertinggal dalam hal pengetahuan dan aplikasinya, dan karena itu akan sulit untuk mempertahankan profesinya.

Jika hampir semua segi kehidupan memerlukan penyesuaian karena adanya perubahan dalam masyarakat, banyak gereja yang sering dikritik karena apa yang diajarkan hampir tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Mereka yang ke gereja itu mungkin lebih senang hidup dalam kebiasaan dan tradisi tetapi kurang mau berusaha mendalami arti dan aplikasi firman Tuhan dalam menghadapi hidup masa kini.

Memang banyak orang Kristen sering segan menggumuli firman Tuhan sekalipun mereka menghadapi berbagai tantangan hidup. Apa yang terlihat paling gampang dan menawan adalah apa yang mereka pilih. Oleh sebab itu, mereka mudah terjerumus dalam kekeliruan doktrin atau gampang disesatkan dengan berbagai ajaran karena perasaan mereka sudah tumpul.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika firman Tuhan tidak digumuli setiap hari, perlahan-lahan kita akan kehilangan kesadaran akan kegunaannya. Lebih dari itu kita tidak akan pernah tahu bahwa firman Tuhan itu adalah sangat dalam dan menunjukkan kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Tanpa kemauan untuk belajar, kita tidak akan bisa maju dalam pengenalan kita akan Dia.

Sudah tentu untuk mempelajari firman tidaklah mudah. Sekalipun kita rajin membaca berbagai buku tafsiran Alkitab atau mendengarkan khotbah, dengan kemampuan sendiri kita tidak dapat mengerti arti dan guna firman Tuhan. Untuk itu Yesus sudah meminta kepada Bapa untuk memberikan Roh Kudus sebagai Penolong kita.

Biarlah sebagai orang percaya kita mau memohon agar kita selalu dipenuhi Roh Kudus untuk bisa lebih giat mempelajari dan mengerti akan firmanNya, dan agar makin lama makin dapat menjalani hidup kita seperti apa yang dikehendakiNya.

Tuhan memang mahatahu

“Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya.” Amsal 5: 21

Kemarin malam saya bermalam di sebuah apartemen di tengah kota Auckland di New Zealand. Dari kamar, saya bisa melihat pemandangan kota dan orang-orang yang berlalu-lalang jauh dibawah. Tetapi saya heran bahwa pada waktu tengah malam dan sampai pagi, suara-suara manusia terdengar nyaring dari kamar saya, seakan saya berada di lantai bawah. Saat itu adalah malam minggu dan mungkin orang-orang itu adalah mereka yang mabuk di akhir pekan. Mungkinkah Tuhan juga melihat dan mendengar suara orang-orang itu?

God is watching us. Tuhan melihat kita. Begitulah sebagian dari lirik lagu “From a distance” yang pernah dinyanyikan oleh Bette Midler pada tahun 1990. Benarkah bahwa Tuhan tahu apapun yang kita lakukan dan alami? Benarkah Ia mengawasi tindak tanduk setiap manusia? Kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan dan tidak tahu pasti apa yang dilakukannya setiap saat. Walaupun demikian ayat diatas menunjukkan bahwa Ia tahu segala apa yang dilakukan setiap orang. Tuhan memang mahatahu (omniscience).

Tuhan memang harus mahatahu untuk bisa menjadi Tuhan yang mahakuasa. Tetapi bagi sebagian orang, ini adalah sesuatu yang aneh, suatu paradox. Jika Tuhan mahatahu, mengapa Ia sering melakukan sesuatu yang tidak sesuai kebutuhan manusia? Jika Tuhan mahakuasa, mengapa Ia tidak melakukan apa yang perlu untuk mengatasi kejahatan atau keburukan yang jelas terlihat?

Mereka yang tidak benar-benar percaya kepada Tuhan tidak menyadari bahwa Ia mahatahu dan mahakuasa. Karena itu, Ia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendakNya, pada saat yang dipilihNya. Ia tidak memakai cara berpikir manusia untuk bertindak, Ia tidak juga menentukan saat bertindak menurut perhitungan manusia, dan Ia tidak bergantung pada kekuatan manusia untuk bertindak.

Pagi ini, jika kita mengharapkan Tuhan untuk bertindak tetapi Tuhan terasa berdiam diri, apakah ada kekecewaan yang timbul? Apakah Ia mahakuasa? Sebaliknya, jika apa yang terjadi dalam hidup kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, apakah Ia mahatahu? Firman Tuhan mengatakan bahwa Ia mengawasi semua langkah kita.

Dari awalnya Tuhan memberikan kesempatan dan kemampuan bagi manusia untuk mengambil keputusan dalam hidup ini (Kajadian 1: 28). Tetapi, apapun yang kita lakukan, kemanapun kita pergi, Ia tahu dan mengawasi. Walaupun demikian, pengawasanNya bukanlah berarti bahwa Ia menentukan segala langkah kita; tetapi Ia memberkati semuanya jika kita berjalan menurut kehendakNya. Dengan menuruti kehendakNya, kita boleh percaya bahwa Tuhan pada saat yang tepat akan membuktikan bahwa Ia senantiasa menilik hidup kita dengan kasihNya.

“Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.” Ulangan 28: 6

Bagikanlah kasih Tuhan

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19 – 20

Bagi orang Kristen ayat diatas adalah ayat yang sangat terkenal. Dalam amanatNya, Yesus menyuruh murid-muridNya untuk mengabarkan Injil keselamatan kepada semua orang di dunia agar mereka juga menjadi pengikutNya.

Walaupun tujuan pelaksanaan adalah untuk kebaikan segala bangsa, Amanat Agung (the Great Commission) tidak diberikan Yesus untuk semua orang. Hanya mereka yang sudah menjadi murid Yesus dan menjalankan firmanNya dapat mengajar orang lain tentang Yesus dan firmanNya. Hanya orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus dapat mengajak orang lain untuk memilih jalan keselamatan yang sama. Mereka yang tidak mengenal Yesus dan menjalankan firmanNya tentu saja tidak dapat membawa orang lain kepada Yesus.

Dalam amanatNya, Yesus tidak memberi kesan bahwa tugas itu mudah dilakukan. Banyak orang yang akan menentang dan menganiaya mereka dan banyak juga tidak mau percaya. Tetapi, Yesus berkata bahwa mereka tidak perlu kuatir, kecewa atau takut karena Ia akan menyertai mereka untuk selamanya.

Bagi murid Yesus, hal menjadikan semua bangsa untuk menjadi muridNya adalah suatu perintah yang jelas penerapannya. Bagi pengikut Yesus tidak ada alasan untuk bisa menolaknya.

Amanat itu juga menunjukkan bahwa bukan orang tertentu saja yang perlu diselamatkan. Yesus ingin agar sebanyak mungkin orang yang ada di dunia untuk dijadikan muridNya (to make disciples of all nations). Dengan demikian, semua pengikut Yesus yang sudah menerima karunia keselamatanNya, wajib membagikan karunia itu kepada siapa saja tanpa pandang bulu.

Tugas murid Tuhan adalah tugas yang mulia karena penyelamatan umat manusia adalah rencana kasih Tuhan. Tuhan sudah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, agar siapa saja yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Dengan demikian, setiap pengikut Yesus harus mau menjadi sarana Tuhan untuk menyampaikan kabar baik ini bagi semua orang.

Jika amanat itu dijalankan untuk kebaikan siapa saja yang mau menerima Yesus, bagaimana pula dengan mereka yang menolak Yesus? Dari mulanya, semua murid Yesus sudah diajarkan bahwa orang yang menolak mereka akan menanggung konsekuensinya. Karena itu, pengabaran Injil bukanlah dengan paksaan, tetapi dengan kesadaran bahwa semua itu harus dilakukan agar orang bisa memperoleh keselamatan (Matius 10: 14 – 15).

Pagi ini, marilah kita memikirkan betapa banyak orang yang belum menerima Kristus sebagai juruselamat mereka. Kasih Tuhan ada tersedia bagi mereka, tetapi karena berbagai sebab, mereka masih belum mau menerimanya. Adakah rasa belas kasihan kita kepada mereka itu? Tuhan yang sudah memberi karuniaNya yang terbesar kepada kita, menghendaki kita untuk menolong mereka!

Yesus yang sebenarnya

“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Matius 23: 37

Ayat diatas adalah ayat yang mungkin jarang kita baca, tetapi adalah ayat yang sering diperbincangkan oleh mereka yang ingin mendalami sifat Yesus. Pada umumnya, gambaran manusia tentang sifat Yesus yang banyak dilukiskan adalah seperti seorang gembala yang membimbing dombanya ke padang rumput. Yesus agaknya adalah seorang manusia yang lemah lembut, penuh kasih sayang kepada umatNya. Lebih dari itu, Yesus juga menunjukkan kasihNya kepada mereka yang dianggap orang buangan (outcast) oleh masyarakat, seperti pemungut cukai, pelacur dan penderita kusta. Memang agaknya Yesus datang ke dunia untuk semua orang, bukan saja untuk misi penyelamatanNya, tetapi juga untuk mengajarkan bagaimana umatNya harus bisa hidup dalam masyarakat dan berbuat baik bagi sesamanya untuk kemuliaan nama Tuhan.

Walaupun demikian, dalam Alkitab, sifat Yesus yang “kurang manis” bisa juga ditemui.  Yesus berkali-kali bentrok dengan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi sehingga banyak orang menduga bahwa Yesus sangat membenci mereka itu. Yesus bahkan memakai kata-kata yang jika kita pakai dalam kehidupan zaman sekarang, mungkin bisa menyeret kita ke pengadilan. Dalam kenyataannya, kemarahan orang Farisi kepada Yesus memang mempunyai pengaruh atas tindakan mereka untuk membawa Yesus ke kayu salib.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.” Matius 23: 25

“Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?” Matius 23: 33

Mengapa Yesus sering bersikap memusuhi orang Farisi? Apakah Yesus sebagai Tuhan mempunyai kebencian yang begitu mendalam kepada orang-orang tertentu sehingga Ia memastikan bahwa bagi mereka tidak ada harapan untuk masa depan? Tentu tidak. Alkitab menceritakan adanya seorang pemimpin orang Farisi yang bernama Nikodemus. yang menemui Yesus di suatu malam. Sikap Yesus kepada Nikodemus tidaklah garang, malahan seolah membimbing dia untuk mencari kebenaran. Nikodemus jugalah yang membantu Yusuf dari Arimatea untuk penguburan Yesus. Selain Nikodemus, kita juga tahu bahwa rasul Paulus dulunya juga orang Farisi yang tersangkut kasus penyiksaan pengikut Yesus.

Jelas bahwa Yesus tidak membenci orang Farisi secara perseorangan, tetapi Yesus membenci apa yang dilakukan golongan Farisi kepada masyarakat yang membuat orang sulit untuk memilih jalan yang benar, karena apa yang mereka ajarkan adalah kekeliruan dan kemunafikan yang menyesatkan. Selain itu, orang-orang Farisi itu tidak sadar bahwa mereka membantu iblis untuk mengacaukan misi pengajaran Yesus. Walaupun demikian, Yesus tidak menutup kemungkinan bagi orang Farisi karena Ia datang untuk menyelamatkan semua orang berdosa yang mau bertobat dan percaya kepadaNya. Yesus jugalah yang menyelamatkan Paulus dan bahkan memakainya sebagai rasulNya.

Apakah Yesus tidak mempunyai belas kasihan kepada mereka yang tidak mau bertobat? Yesus sebagai Tuhan yang mahakasih sebenarnya ingin agar mereka yang tidak percaya kepadaNya untuk berubah pikiran. Ia nenyesali mengapa mereka tidak mau menerima tawaran keselamatanNya dengan berkata: “…Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau”. HatiNya hancur melihat kebodohan mereka yang memusuhi orang-orang yang diutus Tuhan. Tetapi mereka dengan sengaja tidak mau menerima uluran tangan kasih Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan membuktikan bahwa Tuhan tidak membenci manusia manapun. Apa yang Tuhan benci adalah dosa mereka dan hidup mereka yang sesat. Dari awalnya, jika Tuhan membenci Adam dan Hawa, rencana penyelamatanNya tentu tidak diperlukan. Begitu juga jika Tuhan sekarang membenci kita atau orang lain, karunia keselamatan Yesus tidak perlu ditawarkan kepada umat manusia sebagai kabar baik. Marilah kita menyadari bahwa Tuhan itu mahakasih dan mahasabar,  Yesus menantikan mereka yang mau menerimaNya sebagai Juruselamat untuk benar-benar bertobat dan beriman kepadaNya. Keselamatan masih ada pada setiap orang yang mau menerimaNya.

Kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Markus 1: 15

Tuhan itu mahabaik

“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Yohanes 10: 14

Tuhan adalah mahatahu, dan karena itu Ia tahu segala sesuatu. Waktu dan tempat bukanlah sesuatu yang dapat membatasi Tuhan, karena Ia ada dimanapun dan kapanpun. Karena itu, Ia tahu apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi di bumi maupun di surga. Bahkan Ia tahu segala sesuatu sebelum apapun terjadi, karena Dia ada sebelum apapun diciptakanNya. Dengan demikian, tidaklah dapat diragukan bahwa Ia tahu akan segala sesuatu yang ada dalam hidup kita, bahkan sebelum kita dilahirkan.

Memang sifat/atribut Tuhan diatas menurut teologi Kristen adalah satu dari tiga sifat utama dari Tuhan, yaitu mahatahu, mahakuasa dan mahahadir (omniscient, omnipotent dan omnipresent). Tuhan adalah oknum yang luar biasa yang tidak ada tandingannya. Walaupun demikian, Tuhan bukanlah Tuhan yang membuat manusia ingin mendekatiNya jika Tuhan hanya memiliki tiga sifat itu. Ketiga sifat itu mungkin justru membuat manusia sebisa mungkin menjauhi Tuhan karena rasa takut yang timbul dalam menghadapi kemungkinan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang semena-mena.

Dalam kehidupan ini, manusia mungkin jarang memikirkan faktor Tuhan jika hidup berjalan lancar. Dalam menghadapi masalah, tantangan dan penderitaan, biasanya manusia yang merasa tidak dapat mengatasinya kemudian mulai memikirkan adanya faktor tertentu yang tidak dapat dimengertinya. Mengapa semua itu harus terjadi? Mengapa itu terjadi pada diriku? Mengapa itu terjadi dalam keluargaku? Mengapa Tuhan yang mahatahu, mahakuasa dan mahaada tidak berbuat sesuatu ketika malapetaka terjadi? Apakah Dia adalah Tuhan yang tidak peduli akan keadaan manusia?

Jika Tuhan hanya memiliki tiga sifat utama diatas, Tuhan belum tentu adalah Tuhan yang baik. Tuhan yang demikian bukanlah Tuhan yang benar-benar mau mengenal kita sebagai domba-dombanya. Sebaliknya, Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih dan mahabaik (omnibenevolent), sehingga  karena kasih dan kebaikanNya semua orang yang berdosa diberiNya kesempatan untuk memperoleh karunia keselamatan. Tuhan mempunyai maksud baik kepada semua orang sehingga Ia mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus manusia yang berdosa. Karena itu, bagi sebagian orang Kristen, sifat omnibenevolent ini dipandang sebagai sifat Tuhan yang paling utama.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Pengurbanan Yesus di kayu salib adalah bukti bahwa Tuhan mempunyai iktikad baik kepada umat manusia. Lebih dari itu, selama hidup di dunia Yesus menyatakan sifat itu dengan lebih jelas: Ia melakukan berbagai kebaikan untuk mereka yang menderita dan akhirnya menebus dosa manusia di kayu salib.  

Apa yang harus kita sadari dalam hidup ini adalah perlunya bagi kita untuk mengenal Tuhan secara penuh, bahwa bukan saja Ia mahakuasa, Ia juga Tuhan mahakasih dan mahabaik. Sebagai gembala bagi umatNya, Ia bukan saja tahu keadaan kita, tetapi Ia mengenal kita dan segala segi kehidupan kita. Karena Ia mengenal semua dombaNya, Ia bisa dan mau menolong mereka yang mengalami penderitaan dan kesulitan hidup. Kepada Dia kita boleh berharap akan pertolongan, bimbingan dan perlindunganNya.

Pagi ini, adakah yang anda derita? Apakah ada masalah besar yang anda alami? Tuhan mengenal anda dan mampu memberikan apa yang baik pada waktunya. Pada pihak yang lain, kenalkah anda akan Dia? Sadarkah anda bahwa Ia adalah Tuhan yang bukan saja mahakuasa, mahatahu dan mahaada, tetapi juga mahakasih dan mahabaik yang memberikan matahari kepada semua orang? Bukankah Tuhan yang sedemikian besar akan mengasihi umatNya dalam keadaan apapun?

 

Jangan biarkan persoalan hidup menjauhkan kita dari Tuhan

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bacaan: Kisah Para Rasul 15: 35 – 41

Alkisah, ketika itu rasul Paulus dan rasul Barnabas sedang berhenti di Antiokhia. Tetapi  kemudian  Paulus mengajak Barnabas untuk mengunjungi umat Kristen yang tinggal di kota-kota yang pernah dikunjungi guna melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus, tetapi Paulus dengan tegas menolak keinginan Barnabas. Persoalan yang agaknya sepele, tetapi kemudian menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah. Barnabas kemudian membawa Yohanes Markus berlayar ke Siprus, tetapi Paulus memilih Silas mengelilingi Siria dan Kilikia.

Anda tentunya pernah mendengar kisah diatas. Kisah yang membuat banyak orang Kristen merasa sedih karena ternyata mereka yang tergolong rasul pun bisa bertengkar dan akhirnya berpisah untuk tidak pernah berjumpa lagi. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen berpendapat bahwa setiap orang bisa mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain, sedemikian rupa sehingga lebih baik bagi mereka untuk berpisah. Pekerjaan Tuhan lebih penting untuk dilanjutkan daripada meneruskan perselisihan pribadi. Selain itu, Tuhan ternyata memakai keadaan yang nampaknya tidak sedap di mata itu menjadi sesuatu yang malah membuat namaNya dimasyhurkan di berbagai tempat.

Sebagai orang Kristen, mungkin kita sering mengalami persoalan yang serupa. Mungkin keadaan keluarga tidak atau kurang mendukung kita untuk lebih bisa melayani Tuhan. Mungkin adanya orang-orang di sekitar kita membuat kita menjadi ragu untuk lebih aktif di gereja. Mungkin juga orang tua, suami, istri atau anggota keluarga yang lain memiliki pendapat yang berbeda dalam hal berbakti kepada Tuhan. Barangkali kita sering bertengkar dengan mereka mengenai soal prioritas kehidupan. Keadaan yang sedemikian bisa membuat semangat kita kecil dan menimbulkan kemurungan dalam hubungan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

Ada beberapa yang bisa kita pelajari dari pertengkaran Paulus dan Barnabas. Yang pertama adalah pertengkaran itu bukanlah soal pengajaran. Baik Paulus maupun Barnabas adalah  orang-orang pernah bersama-sama mengabarkan injil. Mereka sepaham dalam hal iman yang benar. Kedua, sekalipun dua orang mempunyai iman yang sama, mereka tetap adalah dua individu yang berbeda. Roh Kudus tidak mengubah semua orang Kristen sehingga mereka mempunyai kepribadian, cara bekerja dan cara berpikir yang sama. Karena itu, ketidaksesuaian pendapat bisa terjadi dan perpecahan terkadang tidak dapat dihindarkan.  Oleh sebab itu juga sampai sekarang kita bisa melihat adanya perbedaan pendapat antara orang percaya, baik di rumah dan bahkan di gereja.

Perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan hal yang jelek. Apa yang jelek adalah perbedaan pendapat yang menyebabkan kemarahan yang berkelanjutan dan terganggunya pekerjaan Tuhan. Tuhan memberi umatNya kebijaksanaan untuk bisa menemukan cara penyelesaian yang terbaik. Melalui bimbingan Roh Kudus, umatNya bisa menghadapi semua persoalan yang ada tanpa kehilangan kasih kepada saudara seiman kita. Biarlah kita mau berdoa dengan giat agar Tuhan tetap membimbing kita yang mengalami persoalan dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita harus percaya bahwa seperti Tuhan sudah membimbing Paulus dan Barnabas, Ia juga akan membimbing kita, dan bahkan bekerja dalam segala keadaan untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan sesuai dengan rencanaNya.

Apakah anda sendirian?

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” 2 Korintus 13: 5

Dimanakah Tuhan itu? Kebanyakan orang percaya bahwa Ia di surga. Tetapi, dimanakah gerangan surga itu? Jika kita berdoa kepada Tuhan, apakah Ia mendengar? Bagaimana Ia bisa mendengarkan suara kita, dan bagaimana kita bisa mendengar suaraNya? Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan jika kita terpisah dari Dia?

Yesus pernah berkata bahwa jika ada dua atau tiga orang berdoa kepadaNya, Ia ada diantara mereka. Karena itu banyak orang percaya bahwa doa yang disampaikan oleh beberapa orang lebih didengar Tuhan, karena Tuhan akan datang ke tempat dimana mereka berdoa.

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Matius 18: 20

Tetapi pengertian seperti itu sebenarnya kurang benar karena adanya dua atau tiga orang berdoa bukanlah syarat hadirnya Tuhan. Yang dimaksudkan Yesus adalah dalam berdoa kita harus bisa lebih dulu menyelesaikan konflik kita dengan saudara-saudara seiman kita yang bisa menjadi penghalang hubungan baik kita dengan Tuhan (Matius 18: 15 – 16).

Yesus mendengarkan doa kita sekalipun kita berdoa seorang diri. Dalam segala persoalan, bahaya atau kebutuhan yang kita hadapi, Yesus selalu siap untuk mendengar doa kita. Seberapa besarnya masalah kita, kita harus mempunyai iman bahwa Yesus ada dalam diri kita, bersama-sama dengan kita dalam menghadapinya. Didalam kesepian kita, kita tidak perlu merasa sendirian karena Yesus melalui Roh Kudus  menghibur kita dan bahkan menyampaikan kepada Tuhan segala doa-doa yang tidak bisa kita ucapkan.

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” Roma 8: 26

Pagi ini, mungkin hanya anda yang tahu tentang masalah yang anda hadapi. Atau mungkin hanya sedikit orang yang tahu apa yang anda derita. Anda mungkin merasa masygul bahwa pada saat ini anda sendirian dalam menghadapi tantangan hidup. Anda berdoa, tetapi tidak yakin apakah Tuhan mendengarkan doa anda. Teman jauh, Tuhan pun terasa jauh. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa Ia tinggal dalam diri umatNya. Kita tidak perlu kuatir kalau-kalau Ia tidak mengerti apa yang kita pikirkan dan rasakan. Sekalipun kita tidak dapat melihat Dia dengan mata, dengan iman kita dapat merasakan kehadiranNya dalam hidup kita. Berdoalah kepadaNya pada setiap saat, karena Ia yang mahakasih selalu siap mendengar apa yang kita ucapkan.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Tuhan lebih besar dari apa yang kita bayangkan

“Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Lukas 12: 6 – 7

Kekuatiran adalah musuh besar manusia yang bisa menghancurkan hidup orang yang terlihat tabah sekalipun. Setiap orang mempunyai rasa kuatir terhadap hal-hal tertentu; dan sekalipun seseorang mempunyai segala sesuatu, kekuatiran tetap ada. Mengapa begitu? Manusia sebenarnya sadar akan keterbatasannya, dan ia tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dikontrolnya. Orang yang mempunyai banyak harta mungkin kuatir kalau-kalau hartanya lenyap dicuri orang lain. Atau mungkin ia kuatir kalau-kalau ia mendapat penyakit tertentu. Begitu juga mereka yang tidak kaya mungkin kuatir tentang biaya besar yang dibutuhkan di hari tua, atau tentang kebutuhan anak cucu di masa depan. Kekuatiran tidak hanya melanda kaum tua; menurut survey, generasi sekarang justru lebih kuatir menghadapi masa depan, terutama mengenai hal lingkungan hidup (environment).

Kekuatiran sebenarnya tidak harus berupa hal yang jelek. Kekuatiran hanya menjadi hal yang merusak atau destruktif jika itu membuat kita lumpuh tidak berdaya. Jika kekuatiran bisa menginsafkan manusia atas kelemahannya sehingga ia mau berusaha untuk mencari penyelesaian atau pertolongan, kekuatiran justru mungkin bisa menjadi bagian pertahanan hidup yang baik. Dalam hal ini masalahnya adalah keterbatasan manusia yang membuat mereka tidak bisa melihat adanya jalan keluar, atau yang membuat mereka tidak mengerti bahwa ada jalan keluar yang tidak bisa dilihatnya. Itulah yang mendatangkan rasa takut. Bagaimana bisa begitu?

Orang Kristen yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakasih tidak akan bisa mengerti bahwa Tuhan tidak membiarkan umatNya untuk berjuang sedirian di dunia ini. Karena itu, dalam menghadapi kesulitan hidup yang besar, ia akan merasa seorang diri dan mudah putus asa karena ia tidak bisa melihat adanya Tuhan yang  mau menolong. Dalam hal ini, apa yang paling mudah untuk dilakukan untuk bisa bertahan hidup ialah menerima segala kesulitan hidup sebagai takdir. Sebaliknya, mereka yang kurang mengenal Tuhan sebagai oknum yang mahakuasa, cenderung percaya bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan dalam bentuk seperti apa yang diinginkannya. Doa-doa permohonan kemudian disampaikan tanpa menyadari bahwa jalan Tuhan bisa berbeda dengan jalan manusia. Kekeliruan mudah terjadi ketika mereka tergesa-gesa memilih apa yang terlihat oleh mata, sekalipun itu mungkin bukan apa yang disenangi Tuhan.

Ayat diatas mengatakan bahwa Tuhan tahu jumlah rambut kita. Itu menunjukkan bahwa Tuhan yang mahatahu adalah Tuhan yang dekat dengan umatNya, yang peduli akan apapun yang terjadi dalam hidup mereka. Ia yang tahu jumlah rambut kita, juga tahu semua kebutuhan dan masalah kita dan tidak membiarkan kita mengalami kehancuran karenanya. Bagi Tuhan yang mahakasih, umatNya adalah jauh lebih berharga dari apapun juga. Karena itu jugalah, Tuhan sudah mengirimkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Jika kita sadar akan besarnya kasihNya, tidaklah  perlu ada keraguan bahwa Tuhan selalu memelihara umatNya.

Pagi ini mungkin kita percaya bahwa Tuhan benar-benar mengasihi kita. Tetapi keraguan mungkin masih ada, apakah Tuhan akan memberikan apa yang kita minta. Tuhan yang mahakuasa sudah tentu bisa memberi apa saja. Tetapi Tuhan yang mahabijaksana tidaklah selalu memberi apa yang sesuai dengan permohonan kita. Tuhan mempunyai rencana yang khusus bagi setiap umatNya. Ia yang tahu bahwa rambut setiap orang tidaklah sama jumlahnya, Ia jugalah yang memberikan apa yang baik bagi setiap umatNya sesuai dengan pertimbanganNya. Terkadang kita seolah kehilangan kesabaran dalam menunggu saat yang dipilihNya, tetapi selama dalam penantian kita harus tetap teguh dalam iman. Tuhan adalah mahatahu, mahakasih, mahakuasa dan mahabijaksana, karena itu kita tidak perlu takut dalam menghadapi masa depan.

 

 

Siapakah kita di hadapanNya?

“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Lukas 17: 10

Memperoleh upah dan penghargaan (reward) adalah salah satu tujuan orang dalam bekerja. Mereka yang ingin bekerja, tentunya ingin mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan pendapatan yang cukup dan kepuasan. Begitu juga orang Kristen agaknya sudah terbiasa mendengar ungkapan “upahmu besar di surga”, yang mungkin bisa memberi semangat untuk bekerja makin giat bagi kemuliaan Tuhan.

Tetapi, sekalipun Alkitab memberi harapan bahwa mereka yang bekerja dengan giat untuk Tuhan akan menerima ganjaran yang sesuai di surga, apakah sepatutnya kita menuntut upah dari Tuhan setelah menjalankan tugas-tugas kehidupan kita selaku orang Kristen?

Dalam Alkitab, kata “upah” bukan menunjuk kepada hak orang yang setia kepada Tuhan, tetapi kepada kemurahan Tuhan kepada orang yang berkenan kepadaNya. Dalam hal ini, ada orang Kristen yang ingin berbuat baik agar memperoleh apa yang lebih besar bagi diri mereka. Perbuatan baik yang berdasarkan pamrih seperti itu bukanlah merupakan pernyataan syukur kepada Tuhan atau pelaksanaan perintahNya.

Lebih lanjut, orang Kristen yang menerima kebaikan orang lain sering berkata “semoga Tuhan membalas kebaikanmu berlipat ganda”. Memang, mereka yang merasa berhutang budi kepada seseorang, berharap agar Tuhan yang membalas budi si pemberi. Walaupun demikian, Tuhan bukanlah yang berhutang budi.

Banyak orang Kristen yang kemudian kecewa jika dalam hidup Tuhan terasa kurang memberkati mereka. Mengapa Tuhan seakan tidak menghargai jerih-payah mereka? Mereka lupa bahwa segala apa yang baik datang dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan.

“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Kisah Para Rasul 17: 24 – 25

Ayat yang ditulis Lukas diatas memberi gambaran hubungan kita dengan Tuhan yang mahabesar, yang dalam hal ini serupa dengan hubungan antara tuan dan hambanya. Hubungan sedemikian tidaklah umum pada zaman sekarang, sehingga kita mungkin sulit untuk membayangkannya. Si tuan yang menyuruh hambanya untuk melakukan suatu tugas adalah orang kaya yang memelihara dan mencukupi hidup hambanya. Karena itu jika tuan itu memberikan tugas untuk hambanya, ia tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena tugas itu memang seharusnya dijalankan si hamba.

Tuhan adalah mahakuasa dan mahakaya, dan karena itu Ia sebenarnya tidak membutuhkan pertolongan atau bantuan manusia dalam bentuk apapun. Jika Ia mau menerima apa yang kita persembahkan, baik itu berupa materi ataupun tenaga dan usaha, itu karena Ia ingin memberikan kesempatan bagi manusia untuk mempunyai hubungan yang erat denganNya. Tuhan menghargai mereka yang menghormati Dia sebagai Tuhan yang mahabesar. Tuhan menyenangi mereka yang memuliakanNya dan karena itu Ia mau memberkati mereka yang dengan rendah hati dan tulus menjalankan kewajiban mereka.

Pagi ini, mungkin kita berpikir bahwa Tuhan seharusnya memberi kita lebih banyak berkat karena kita sudah berusaha keras untuk hidup sesuai dengan perintahNya. Kita mungkin rajin ke gereja dan seringkali menolong orang lain. Kita mungkin kecewa jika Tuhan nampaknya lupa untuk menunjukkan rasa terima kasihNya kepada kita. Tetapi, semua perbuatan baik adalah sesuatu yang sudah sepantasnya kita lakukan sebagai hambaNya. Kita berbuat baik bukan untuk mencari pahala, tetapi untuk menyatakan rasa syukur kita kepada Tuhan yang sudah memilih kita. Dengan kerendahan hati kita harus menghampiri tahtaNya sambil bersyukur bahwa kita manusia yang penuh cacat cela ini masih bisa menerima keselamatan melalui penebusan Kristus. Untuk kita, adalah suatu kehormatan jika kita bisa berbuat sesuatu yang baik bagi Tuhan dan sesama kita.