Tuhan membenci kesombongan

“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” Yakobus 4: 10

Kemarin malam saya menonton TV sampai tengah malam, sesuatu yang jarang saya lakukan di usia ini. Biasanya saya pergi tidur sekitar jam 10 malam karena kelopak mata yang sudah terasa berat. Tetapi kemarin adalah hari yang istimewa karena semua warga Australia merayakan pesta demokrasi dalam bentuk pemilihan umum. Sesudah seharian pemilu berlangsung, penghitungan suara dimulai sekitar jam 6 sore. Dan hampir tengah malam, hasilnya diumumkan.

Kemenangan perdana menteri yang sekarang dalam pemilu ini memberi dia kekuasaan untuk memerintah selama 3 tahun lagi. Sebelum ia muncul di TV, lawan politiknya tampil untuk mengaku kalah dan bahkan meletakkan jabatannya sebagai pimpinan partai oposisi. Sebagaimana biasa, dalam pemilu rasa kecewa dan sedih bisa diterka dari wajah dan dari kata-kata orang yang tidak terpilih, tetapi rasa gembira dan bersyukur bisa dirasakan dalam pidato kemenangan orang yang terpilih. Walaupun demikian, orang yang menang biasanya mengucapkan kata-kata yang baik untuk menghibur lawan politiknya dan berusaha meredam rasa bangga yang ada.

Rasa bangga dan rasa syukur memang tidak ada salahnya jika muncul di saat yang tepat. Tetapi perbedaan antara rasa bangga dan rasa sombong tidaklah banyak. Seringkali mereka yang merasa beruntung menyatakan rasa gembiranya sedemikan rupa sehingga orang lain bisa merasakan adanya kesombongan. Jika umat Kristen merasa bersyukur karena keselamatan yang mereka peroleh, mereka juga bisa terjebak dalam hal menyombongkan diri sebagai orang-orang yang lebih baik dari orang lain.

Kesombongan manusia pada hakikatnya adalah dosa. Sebagian orang Kristen menganggap kesombongan (pride) sebagai salah satu dari tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins). Mengapa demikian? John Calvin, seorang tokoh besar reformasi, menulis dalam uraian kitab Mazmur:

“God cannot bear with seeing his glory appropriated by the creature in even the smallest degree, so intolerable to him is the sacrilegious arrogance of those who, by praising themselves, obscure his glory as far as they can.”

Tuhan tidak dapat menerima kemuliaanNya untuk diambil oleh ciptaanNya secuilpun. Ia tidak bisa mentolerir manusia yang dengan kesombongannya menghujat Tuhan dan membuat kabur kemuliaanNya.

Pagi hari ini, kita mungkin pergi ke gereja untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Kita harus merasa bersyukur karena Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa mau menerima kita manusia yang berdosa ini untuk menjadi anak-anakNya. Mengapa Ia demikian kasih sehingga menurunkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa kita? Kita tidaklah lebih baik dari orang yang lain! Tidak ada apapun yang bisa kita banggakan dalam hidup ini. Oleh karena itu biarlah kita mau hidup dengan rendah hati dan selalu menghargai sesama kita serta mau memuji Tuhan dengan kebesaran dan kasihNya. Tuhan mengasihi mereka yang sederhana dan lemah tetapi membenci mereka yang sombong.

“TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.” Mazmur 116: 6

Hidup yang diidamkan

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5: 22 – 23

Bulan ini adalah bulan terakhir sebelum musim dingin datang di Australia. Musim dingin dimulai pada bulan Juni dan berlangsung sampai akhir Agustus. Daun-daun sudah mulai berguguran dan apa yang masih ada di pohon terlihat sangat indah berwarna-warni.

Dari apa yang digambarkan dalam Alkitab dalam kitab Kejadian, semua yang ada di taman Eden sebelum manusia jatuh kedalam dosa terlihat nyaman dan indah dan itu membuat Tuhan menjadi senang (Kejadian 1: 31). Apa yang ada pada waktu itu adalah hubungan yang harmonis antara Tuhan sang Pencipta dan segala makhluk ciptaanNya. Dalam segala apa yang diciptakanNya, kebesaran Tuhan terlihat nyata dan dipermuliakan. Tetapi dengan terjadinya dosa segala keindahan itu menjadi rusak karena tipu daya iblis.

Sebagai Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang baik, Tuhan tentu mau agar segala ciptaanNya bisa membawa kemuliaan bagiNya. Kejatuhan manusia membuat itu tidak mungkin terjadi jika Ia tidak merencanakan sesuatu yang bisa mengalahkan iblis dan mengembalikan keadaan manusia kepada keadaan semula. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, iblis sudah dikalahkan dan manusia bisa memperoleh status sebagai anak Tuhan. Sejak itu, mereka yang percaya kepada Yesus bisa kembali mempunyai hubungan yang baik dengan Allah Bapa.

Hubungan yang baik antara Sang Pencipta dan ciptaanNya memungkinkan segala apa yang baik kembali muncul dalam diri ciptaanNya. Mereka yang sudah menjadi ciptaan baru didalam Tuhan dengan demikian akan berubah hari demi hari, makin lama makin menjadi seperti Dia. Dengan demikian, mereka yang hidup dalam Tuhan akan mengeluarkan apa yang baik: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita sudah benar-benar bertobat dari hidup lama kita dan menerima Kristus sebagai Juruselamat kita. Jika memang begitu, tentunya hidup kita sudah terlihat seperti pohon yang menghasilkan banyak buah yang baik. Masalahnya, sebagai manusia kita tetap merupakan makhluk yang lemah. Jika suasana hidup terasa menekan, apa yang cenderung muncul adalah kebencian, kesedihan, kekuatiran, kemarahan, egoisme, kejahatan dan segala apa yang buruk.

Memang keadaan bisa membuat sebuah pohon terlihat kurang subur dan sedikit buahnya. Tetapi, pohon yang baik tidak mungkin membuatkan apa yang tidak baik. Jika kita tetap bersandar kepada Tuhan, Ia yang adalah sumber kehidupan akan bekerja dalam hidup kita melalui Roh Kudus dan memberi kesuburan kepada kita dalam membuahkan segala hal yang baik.

“Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” Matius 7: 18

Yesus cinta semuanya

“Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6: 35

Tuhan itu mahakasih dan kasihNya kepada umatNya tidaklah dapat diukur. Itu adalah apa yang diyakini setiap orang percaya, yang sudah merasakan betapa besar kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa mereka. Apakah Tuhan juga mengasihi mereka yang tidak percaya kepada Yesus? Pertanyaam ini mungkin mudah dijawab jika Yesus  datang ke dunia hanya untuk menyelamatkan orang tertentu. Adanya orang yang yang tidak percaya dan yang tidak akan menerima keselamatan mungkin bisa ditafsirkan sebagai kebencian Tuhan kepada mereka.

Jika Tuhan memang membenci orang-orang tertentu, umat Kristen mungkin dengan mudah bisa meniru Dia – mengasihi orang tertentu dan membenci yang lain. Lalu bagaimana dengan perintah Yesus agar kita mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri? Apakah sesama kita adalah orang yang seiman, orang yang segolongan dan orang yang baik kepada kita? Ayat diatas dan ayat-ayat sebelumnya menunjukkan bahwa orang Kristen bukan hanya harus mengasihi orang yang baik kepada kita, tetapi juga  musuh-musuh kita. Itu karena Tuhan baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Tuhan yang mahakasih ternyata adalah Tuhan yang mengasihi semua orang tanpa perkecualian. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang bukan hanya mengasihi mereka yang mengasihiNya. Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang memelihara semua orang dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menjadi pengikutNya.

Jika Tuhan adalah mahakasih, sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tidak mudah bagi kita untuk meniru Dia. Bagaimanapun kita berusaha mengasihi sesama kita, tidaklah mudah bagi kita untuk melupakan bahwa ada orang-orang tertentu yang kelihatannya tidak pantas untuk menerima kasih kita. Jika kita dengan mudah mau mendoakan orang yang seiman atau yang mereka yang sudah berbuat baik kepada kita, perasaan segan ada dalam hati kita untuk mengharapkan apa yang baik bagi mereka yang kita anggap jahat. Dalam hidup sehari-hari, mungkin sulit bagi kita untuk melupakan  mereka yang pernah berlaku semena-mena dan menjahati kita, tetapi tidaklah sukar untuk melupakan mereka dalam doa kita. Bukankah mereka bukan anak Tuhan?

Apa yang kita pikirkan  tidaklah sama dengan apa yang Tuhan pikirkan. Jika kita tidak bisa mengasihi orang-orang tertentu, kita akan heran membaca dalam Alkitab bahwa Yesus mengunjungi orang-orang yang dianggap parasit masyarakat dan bahkan makan bersama mereka.

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Markus 2: 16

Pagi ini Tuhan mungkin mendengar keluhan kita bahwa Ia seolah kurang mau membedakan mereka yang sudah menjadi pengikutNya dengan mereka yang belum mengenalNya atau mereka yang membenciNya. Mengapa Tuhan seolah  tidak peduli akan kejahatan yang mereka lakukan? Mereka bukan umat Tuhan! Tidak layakkah kita mengasihi mereka yang mengasihi Tuhan dan membenci mereka yang bukan umatNya? Tidak bolehkah kita membenci mereka yang berbuat jahat kepada kita?

Yesus tahu apa yang kita rasakan dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Semua orang, termasuk kita, adalah orang berdosa patut menerima kebinasaan. Tetapi Tuhan sudah menebus dosa kita dengan darah Yesus. Ia yang mengasihi semua manusia, ingin agar banyak orang mau mengikut Dia ketika mereka melihat betapa besar kasih Tuhan yang memancar dari dalam hidup kita.

Hidup ini memang berat

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat. Mungkin kebanyakan orang mengiyakan pernyataan ini. Bagaimana tidak? Selama hidup selalu ada saja tantangan dan persoalan yang harus kita hadapi. Jika bukan hal pekerjaan, mungkin soal keuangan, keluarga, kesehatan atau hubungan antar manusia. Sekalipun ada orang-orang yang nampaknya selalu berjaya, pastilah ada masalah-masalah yang harus tetap dihadapi.

Orang berkata: “Ada hidup, ada masalah”,  tetapi sebaliknya juga benar: “Ada masalah, ada hidup”. Selama manusia masih hidup pasti ada masalah, tetapi adanya masalah bisa juga membuat orang menjadi lebih kuat dan tetap hidup. Walaupun demikian, bagaimana orang bisa tetap hidup jika masalah yang ada sangat besar?

Bagi orang yang lelah jasmaninya, istirahat atau tidur mungkin bisa memulihkan tenaganya. Tetapi, banyak orang yang lelah bukan karena jasmaninya, tetapi karena rohaninya. Dalam hal ini, kelelahan rohani tidak bisa dihilangkan dengan istirahat; sebaliknya, kelelahan rohani seringkali menyebabkan kita justru tidak bisa beristirahat dengan baik. Jika kelelahan jasmani mungkin bisa diatasi dengan obat-obatan; kelelahan rohani seringkali sulit untuk diobati dan malahan bisa menimbulkan masalah jasmani.

Jika kelelahan jasmani mudah terlihat, kelelahan rohani seringkali sulit dibaca orang lain. Lebih payah lagi, mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali tidak sadar kalau apa yang mereka alami adalah bersumber dari rohani. Mereka yang mengalami kelelahan rohani seringkali merasa hidup ini begitu berat, begitu hampa, tanpa harapan, dan tidak ada orang lain yang bisa mengerti atau bisa menolong. Mereka yang berada dalam keadaan ini mungkin berusaha menyembunyikan persoalannya dari pandangan orang lain dengan berpura-pura, seakan hidup mereka berjalan seperti biasa. Tetapi, pada saat tertentu hati mereka menangis dan pikiran mereka menjadi sangat keruh.

Ayat di atas adalah panggilan Yesus kepada semua orang yang merasa lelah rohaninya. Yesus mengerti bahwa jika manusia bisa mengatasi kelelahan jasmani,  mereka tidak mungkin menghilangkan kelelahan rohani dengan kekuatan diri sendiri. Kelelahan rohani hanya bisa dihilangkan oleh Tuhan yang bisa melihat apa yang ada dalam hidup, pikiran dan hati manusia.

Kelelahan rohani hanya bisa disembuhkan melalui iman kepada Tuhan yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana. Jika manusia tidak dapat menolong kita, tidak mau menolong kita atau tidak tahu bagaimana harus menolong kita; Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu menolong, mau menolong, dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Firman Tuhan diatas mengingatkan kita untuk percaya kepadanya dengan segenap hati kita, dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Maukah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Pendidikan dan pengalaman belum tentu berguna

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

img_9179Menyekolahkan anak di Australia adalah suatu kewajiban untuk setiap orang tua jika anak mereka sudah berumur 5-6 tahun, dan harus diteruskan sampai mereka berumur 15-17 tahun. Pada umumnya, seorang anak akan duduk di bangku sekolah dasar (Primary School) selama 6-7 tahun dan kemudian meneruskan studinya ke Sekolah Menengah  (High School) selama 5-6 tahun. Tidak semua anak akan menamatkan Sekolah Menengah, karena sebagian diantaranya mungkin memilih pendidikan kejuruan yang berbagai jenis. Selain itu, tidak semua yang tamat Sekolah Menengah berkeinginan untuk masuk universitas, karena mereka ingin cepat-cepat bekerja.

Satu hal yang diharapkan orang tua dengan mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah adalah agar mereka bisa memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk menghadapi masa depan. Dengan bertambahnya umur, juga diharapkan bahwa mereka akan bertambah dewasa dan makin bijaksana dalam mengambil keputusan. Walaupun demikian, sekolah adalah tempat dimana mereka bergaul dengan sesama anak muda. Seringkali, jika mereka tidak dapat memperoleh kelompok seusia (peer group) yang baik, apa yang buruk justru terjadi. Memang, sudah bukan rahasia bahwa di high school, banyak anak muda yang mulai ber-eksperimen dengan narkoba dan seks. Mereka yang terlibat dalam perbuatan-perbuatan tercela itu mungkin dari luarnya terlihat sebagai anak muda yang maju dalam hal pendidikan, tetapi dalam kenyataannya semakin mundur dalam hal akhlak.

Bagi orang dewasa, apa yang terjadi pada sebagian kaum muda mungkin dihubungkan dengan usia dan proses kedewasaan. Mereka yang sudah bukan remaja lagi, mungkin merasa bahwa apa yang mereka perbuat pada masa yang lalu adalah lumrah sebagai orang belum mengalami kematangan hidup. Melalui pendidikan dan pengalaman, orang bisa mengalami transformasi menjadi orang dewasa. Begitulah anggapan umum.

Memang jikalau ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi cara hidup seseorang, hidup manusia adalah perjuangan yang terus berlangsung untuk memperbaiki segala sesuatu yang ada. Secara perlahan-lahan manusia mengalami perubahan sesuai dengan apa yang dipelajarinya dalam hidup. Dalam hal ini, banyak manusia yang percaya bahwa pengalaman hidup adalah guru yang terbaik. Walaupun demikian, ada banyak orang dewasa dan bahkan orang yang sudah cukup berumur, yang masih belum mengalami proses pendewasaan rohani. Mereka belum mempunyai kebijaksanaan dalam memilih apa yang baik dalam hidup, dan bahkan sebagian dengan sengaja memilih hidup yang kurang baik. Mengapa demikian?

Sebagai umat Kristen, jika kita hanya belajar dari pendidikan dan pengalaman saja, apa yang kita peroleh adalah apa yang baik untuk menyesuaikan diri dengan standar dunia, dan itu bukan ukuran Tuhan. Dengan demikian, banyak orang Kristen yang dari luar terlihat hidupnya berhasil, tetapi dari segi rohani hidup mereka adalah kosong.  Kedewasaan iman dan perubahan cara hidup yang diharapkan setelah perjumpaan dengan Yesus tidaklah terjadi. Tidaklah mengherankan jika kita bisa melihat adanya orang-orang yang mengaku Kristen, tetapi hidup mereka adalah serupa dengan hidup mereka yang belum mengenal Yesus. Mereka mungkin sudah mendapat pendidikan tinggi dan banyak pengalamannya, tetapi tingkat kerohanian mereka tetap setara dengan taraf pemula.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita untuk mengubah hidup kita supaya kita tidak lagi mengikuti pandangan dunia. Kita harus mengalami transformasi menjadi orang Kristen yang dewasa dan bijaksana, yang dapat membedakan manakah kehendak Allah dan mana yang bukan: memilih apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Dalam hal ini, bagi umat Kristen perjuangan hidup untuk mencapai kedewasaan iman (maturity) ini tidaklah dapat dilakukan melalui usaha sendiri. Apapun pendidikan dan pengalaman kita,  sebagai orang berdosa kita tidak mungkin mengalami transformasi  jika kita tidak menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada bimbingan Roh Kudus. Hanya Roh Kudus yang bisa bekerja dalam hati dan pikiran kita untuk menjauhkan diri kita dari pengaruh dunia dan makin mendekatkan diri kita kepada Tuhan yang sempurna dengan rajin berdoa serta mempelajari dan melaksanakan firmanNya.

 

Hal memilh karir

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” 1 Timotius 6: 10

Bagi orang seumur saya, hal memilih karir tidak lagi harus dipikirkan. Walaupun demikian, saya masih ingat bahwa sewaktu saya memasuki SMA, pemikiran tentang karir masa depan saya sudahlah ada. Secara praktis, pilihan karir bergantung kepada banyak hal, misalnya pekerjaan apa yang benar-benar disukai, universitas mana yang bisa  dimasuki, pekerjaan apa yang bisa menjamin masa depan, jabatan apa yang bisa dibanggakan, atau jurusan apa yang disetujui orang tua dan lain-lain. Tentunya, bagi sebagian orang, karir yang dipilih kalau bisa adalah yang bisa mencukupi dan bisa dinikmati. Walaupun demikian, banyak juga orang memilih karir yang membawa kekayaan sekalipun kurang bisa dinikmati.

Seiring dengan kemajuan sosial, memang ada kecenderungan bahwa kebahagiaan diukur dengan kesuksesan dan harta. Karena itu, karir-karir tertentu sekarang dikejar banyak orang, seperti karir dibidang kedokteran, banking, IT dan business. Apa yang menghasilkan banyak uang dipandang baik dan ini tidak ada salahnya jika cara dan tujuan yang dipakai adalah benar.

Memang sejak dulu orang selalu ingin memperoleh kenyamanan hidup, tetapi dengan kemajuan zaman orang lebih tertarik untuk mendapatkan kesuksesan  dengan cara yang semudah mungkin dan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Dengan demikian, orang mungkin memakai cara-cara yang tidak benar, termasuk dalam hal mendapatkan ijazah, dalam usaha untuk memperoleh pekerjaan tertentu, dan dalam mencari jalan untuk mendapatkan hasil yang sebanyak mungkin dalam karirnya.

Bagaimana pula dengan tujuan orang untuk mendapatkan kekayaan? Tentu tiap orang mempunyai jawaban yang bervariasi, dari jawaban yang kedengarannya sangat mementingkan diri sendiri, sampai kepada jawaban yang terdengar sangat baik dan bernada sosial. Memang dengan kekayaan orang bisa memperoleh jaminan masa depan untuk dirinya sendiri atau memperoleh kesempatan untuk lebih bisa menolong orang lain. Dalam kenyataannya, orang yang mengejar kekayaan lebih cenderung untuk menaruh dirinya sendiri diatas segalanya.

Ayat diatas mengingatkan bahwa akar segala kejahatan ialah cinta uang. Karena memburu uang, ada orang-orang Kristen telah menyimpang dari iman dan melakukan berbagai hal yang salah, yang membuat hidup mereka jauh dari Tuhan. Manusia yang seharusnya mengasihi Allah dan sesama, kemudian berubah menjadi manusia yang mengasihi harta, kesuksesan dan kenyamanan. Tujuan karir yang seharusnya bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan dan menolong sesama, dengan mudah diganti dengan usaha untuk mencari kepuasan diri sendiri.

Pagi ini, apakah anda masih memikirkan karir untuk masa depan? Ataukah anda mengharapkan karir yang baik untuk anak-anak atau kerabat anda? Alkitab tidak mengatakan bahwa uang adalah jahat tetapi jelas menunjukkan bahwa cinta akan uang (sebagai sikap hidup) akan membawa bencana. Ketamakan akan menghilangkan rasa cukup dan menjauhkan manusia dari kebahagiaan. Karena itu, orang harus sadar bahwa mencari uang sebanyak mungkin dengan cara semudah mungkin adalah gaya hidup yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.  Karir serta penghasilan adalah berkat dari Tuhan, tetapi dalam menerima berkat itu kita harus selalu mengaris-bawahi cara dan tujuan yang bisa memuliakan Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada sesama.

 

 

 

Jangan diam saja

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5: 11

Minggu yang lalu, seorang polisi yang menembak mati seorang wanita di Amerika dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Wanita warga Australia itu sebenarnya tidak melakukan kejahatan apapun, tetapi ia menjadi korban karena melaporkan adanya kejahatan di rumah tetangganya. Ketika ia muncul menyambut polisi yang datang, ia ditembak polisi yang salah mengidentifikasi.

Membela kebenaran memang bisa mengandung resiko besar. Karena itu tidak semua orang mau ikut campur. “Pokoknya saya tidak ikut-ikut!”, begitulah jawaban mereka yang melihat kejahatan, ketimpangan dan kejanggalan dalam masyarakat. Memang banyak orang yang memilih untuk berdiam diri, sekalipun apa yang terjadi adalah hal yang tidak baik.

Mencampuri urusan orang lain jelas membawa resiko bahwa mereka akan membenci kita. Karena itu, banyak orang Kristen yang abstain dalam usaha menegakkan kebenaran. Sebagai alasan, mungkin orang Kristen bisa saja menyebutkan bahwa mereka tidak mau mengadili orang lain, atau mereka lebih mencintai perdamaian.

Walaupun demikian, dalam hidup banyak orang yang menyesali mengapa mereka tidak bertindak apa-apa ketika ada hal-hal yang jahat terjadi. Pengecut! Egois! Begitulah hati kecil mereka berkata. Mengapa engkau hanya berdiam diri saja? Bukankah dengan berdiam diri engkau berpihak kepada mereka yang jahat? Itulah suara hati banyak orang Kristen yang melihat dan mendengar hal-hal yang tidak baik, tetapi memilih untuk tidak bertindak atau justru lari menjauh. Roh Kudus menegur karena mereka gagal untuk menegakkan kebenaran Tuhan.

Ayat diatas yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, adalah salah satu ayat yang mengandung nasihat praktis untuk hidup sebagai umat Tuhan. Sebagai orang Kristen kita bertanggung jawab tidak saja untuk apa yang kita lalukan, tetapi juga untuk reaksi kita atas apa yang diperbuat orang lain. Jika kita membiarkan adanya perbuatan-perbuatan kegelapan disekitar kita, itu sama saja dengan menyetujuinya. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita memperoleh mandat budaya (Kejadian 1: 28) untuk ikut mau untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.

“Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.” Efesus 5: 13

Perbuatlah apa yang baik untuk orang lain

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Filipi 4: 8

Hari ini saya menemukan sebuah amplop di kotak surat saya di kantor. Di amplop surat itu tertera nama universitas dimana saya bekerja dan dua stempel yang berbunyi “Private” dan “Confidential“. Hati saya sempat berdegup sejenak, karena stempel “”Pribadi” dan “Rahasia” pada sebuah amplop menunjukkan pentingnya isi surat itu. Mungkinkah itu surat teguran? Ataukah itu surat pemecatan?

Dengan segera saya membuka amplop surat itu. Didalam amplop ada sebuah kartu yang mirip kartu ucapan selamat. Kartu ucapan selamat ulang tahun? Tentu bukan, sebab hari ulang tahun saya masih belum tiba. Setelah saya buka kartu itu, ternyata isinya adalah ucapan selamat karena saya sudah lima tahun bekerja di universitas itu. Saya tersenyum senang; walaupun hanya kartu dan bukan barang berharga, ucapan selamat itu sungguh terasa sedap di mata. Orang lain menghargai jerih payah saya!

Untuk mengirimkan kartu ucapan selamat seperti yang saya terima, mungkin biayanya sekitar $5; itu tidak banyak. Tetapi mereka yang menerima seakan menerima barang berharga, mungkin seharga $500 atau $5000. Saya menaruh surat itu dalam laci saya, bersama dengan surat-surat penting lainnya. Tentu di tahun-tahun mendatang surat ini akan menjadi bahan nostalgia yang indah bagi saya dan keluarga saya. Surat ini berharga karena di dunia ini orang tidak mudah memberi pujian, penghargaan atau menunjukkan rasa terima kasih. Di berbagai media atau dalam hidup sehari-hari kita lebih sering mendengar cacian, kritik dan berbagai pernyataan rasa benci.

Jika orang dunia cenderung untuk membenci orang lain, iri atas keberhasilan orang lain atau mengabaikan perasaan sesamanya, Yesus dan murid-muridNya justru berbuat sebaliknya. Mereka menghibur orang yang menderita, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan kabar baik tentang keselamatan kepada semua orang yang mereka temui.

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa sebagai orang Kristen adalah patut bagi kita untuk memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Ini tentu akan membuat hidup kita terlihat berbeda dengan hidup orang lain. Tetapi memang mereka yang sudah menerima karunia keselamatan akan berusaha membagikan kebahagiaan ini kepada siapa saja.

Yesus bukan ciptaan Allah

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kolose 1: 15 – 16

Siapakah Yesus itu? Ada orang yang berpendapat bahwa Yesus adalah nabi yang terbesar. Ada pula yang percaya bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah dalam tubuh manusia. Tetapi, sebagian besar orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang turun ke dunia. Manakah yang benar?

Ayat diatas adalah ayat yang sering dipakai oleh golongan tertentu untuk menmbuktikan bahwa Allah menciptakan Yesus sebagai “yang sulung, yang lebih utama dari segala yang diciptakan”. Yesus diciptakan sebagai manusia yang istimewa, begitu kata mereka. Walaupun demikian, kalimat selanjutnya menyatakan bahwa “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia”. Ini seirama dengan Yohanes 1: 1- 7 yang menjelaskan bahwa Yesus bukan diciptakan, tetapi Ia adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu.

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yohanes 1: 3

Saat Yesus “muncul” di dunia mungkin dirayakan oleh umat Kristen pada hari Natal. Tetapi ada dua hal yang perlu kita ingat. Yang pertama, tanggal 25 Desember bukanlah hari ulang tahun Yesus sebagai manusia. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan tepatnya hari itu. Yang kedua, Yesus yang adalah Allah, sudah ada sebelum apapun yang ada di alam semesta ini diciptakan olehNya. Tanpa Yesus, tidak akan ada makhluk dan benda apapun di alam semesta ini. Tanpa Yesus, tidaklah ada persekutuan orang percaya atau gereja. Lebih dari itu, tanpa Yesus tidak akan ada keselamatan untuk orang percaya.

Yesus adalah Allah yang turun ke dunia sebagai manusia. Ia persis sama seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai Juruselamat manusia, Ia sudah menjadi Imam Besar yang menghubungkan kita manusia yang berdosa dengan Allah yang mahasuci. Sebagai manusia, Ia bisa merasakan segala penderitaan dan kelemahan kita. Karena itu, sebagai Allah, Ia mengerti apa yang kita butuhkan dalam hidup ini dan mau serta sanggup menolong kita dalam segala persoalan kita.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Pagi ini, firman Tuhan menegaskan bahwa Yesus adalah Allah Sang Pencipta, dan segala sesuatu diciptakanNya untuk Dia, untuk kemuliaanNya. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh menurunkan derajatNya. Yesus bukanlah sekedar orang baik atau manusia istimewa. Yesus juga bukan manusia ciptaan Allah yang dihuni oleh Allah selama Ia hidup di dunia. Sebaliknya, Yesus adalah Allah sendiri dan sudah ada dari awalnya. Ia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaanNya. Bukankah sudah sepatutnya setiap orang menyembah Dia, bergantung kepadaNya dan menjalani hidup ini untuk memuliakan Dia?

Bertumbuh dalam iman

“…sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan…” Efesus 4: 13 – 14

Kapan anda mengambil keputusan untuk mengikut Yesus? Masih ingatkah? Sebagian orang bisa menyebutkan saat tertentu dimana mereka, oleh pertolongan Roh Kudus, mengakui Yesus sebagai Juruselamat mereka dan bertekad untuk bertobat dari hidup lama mereka. Walaupun demikian, apa yang dikenal sebagai ciri-ciri hidup baru (born again) belum tentu dapat jelas terlihat sesudah itu. Mereka yang mengaku Kristen itu mungkin belum bisa bertumbuh kerohaniannya sehingga hidup baru mereka tidaklah jauh berbeda dari hidup sebelumnya.

Pada waktu seseorang memasuki hidup baru, ia dapat dibayangkan sebagai seorang bayi yang baru dilahirkan. Dengan berlalunya waktu, sang bayi tentunya diharapkan untuk tumbuh secara spiritual, tumbuh dalam iman. Dalam kenyataannya, pertumbuhan setiap bayi tidaklah sama. Ada orang-orang yang cepat bertumbuh secara rohani, tetapi ada juga yang lambat sehingga mereka hanya bisa mencerna makanan bayi. Mereka tidak bertumbuh dalam iman dan pengertian kekristenannya.

“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.” Ibrani 5: 12

Mengapa orang tetap bayi secara rohani walaupun sudah lama menjadi Kristen? Sebab yang utama adalah karena hubungannya dengan Tuhan yang kurang erat. Mereka tidak mengenal Tuhan secara pribadi walaupun sudah lama ke gereja. Karena itu, keinginan mereka untuk mengenal Tuhan tidaklah besar. Mereka tidak memberi kesempatan kepada Roh Kudus untuk memimpin hidup mereka karena mereka terlalu sibuk mengurus kepentingan lain.

Selain itu, ada juga orang-orang yang gampang merasa puas dengan janji keselamatan yang mereka peroleh. Mereka percaya bahwa jika mereka mengaku percaya kepada Yesus, itu sudahlah cukup. Mereka tidak mengerti bahwa iblispun percaya adanya Tuhan, tetapi ia tidak mau tunduk kepadaNya. Mereka yang hidup dengan mengunakan akal budinya cenderung tidak mau menerima bimbingan Tuhan. Mereka hidup diluar firman Tuhan. Sebagai akibatnya, orang-orang sedemikian tidak bertumbuh dan berbuah.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus terus bertumbuh secara rohani. Selama hidup kita tidak boleh berhenti mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, yaitu tingkat kedewasaan penuh. Dengan spritual maturity seperti yang diharapkan Kristus, kita akan berubah dari kanak-anak, yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran, menjadi orang dewasa yang teguh dalam iman dan penuh kebijaksanaan.

“Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ibrani 5: 13 – 14