“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17
Di dunia ini ada banyak agama dan ada banyak orang yang beragama. Jika kita mungkin mengenal adanya sekitar 10 agama di suatu negara, itu tidaklah banyak. Diperkirakan ada sekitar 4200 agama di dunia. Sekitar 84% penduduk dunia mengaku beragama, dan sepertiga diantaranya menganut agama Kristen. Walaupun demikian, tidak ada data yang menjelaskan berapa banyak orang beragama yang mengenal Tuhan mereka.
Bagi mereka yang beragama, adanya Tuhan tentunya adalah suatu kenyataan tidak dapat dibantah. Mereka bisa melihat bahwa seluruh jagad raya tidak bisa muncul dengan sendirinya tanpa ada yang mencipta dan yang mengatur. Apalagi, dalam hidupnya manusia bisa mengalami hal- hal yang ada di luar kuasa mereka. Karena itu, dari zaman purba manusia selalu berusaha mengenal siapa yang dibalik semua hal yang terjadi dalam alam semesta. Oknum yang mahakuasa yang ada dari awalnya itulah yang mereka percayai sebagai Tuhan,
Walaupun demikian, jika kepada orang yang beragama diajukan sebuah pertanyaan apakah mereka mengenal Tuhan mereka, seringkali jawabnya kurang meyakinkan. Tidak seorang pun yang pernah melihat sang tuhan, dan apa yang bisa dilihat biasanya adalah gambar, patung atau wakil/penjelmaan tuhan mereka. Sifat apa yang seharusnya nyata ada dalam Tuhan, seperti mahatahu, mahakuasa, kekekalan dan lain-lainnya, tidaklah bisa ditemukan di dunia. Semua “tuhan” yang ada di dunia adalah benda mati atau manusia yang pernah hidup atau yang bakal mati.
Bagaimana dengan Tuhan orang Kristen? Dapatkah orang Kristen mengenal Tuhan mereka? Manusia tidak akan dapat mengenal Tuhan yang mahabesar dan mahasuci jika Tuhan sendiri tidak membuat diriNya dikenal oleh umatNya. Pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan diriNya dalam berbagai bentuk yang ajaib seperti api atau suara, tetapi manusia yang berdosa tidak dapat melihat Dia secara pribadi. Tuhan memang mengirimkan nabi-nabi untuk mewakiliNya, tetapi mereka semua adalah manusia fana yang berdosa dan tidak sempurna.
Manusia hanya dapat mengenal Tuhan jika Ia turun ke dunia sebagai manusia seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa dan tidak dapat mengalami kematian. Tuhan yang benar adalah sumber kehidupan dan karena itu tidak dapat dikalahkan maut. Tuhan yang mahahadir, sudah tentu ada dimana-mana di antara umatNya di segala zaman. Hanya satu Oknum yang bisa memenuhi persyaratan di atas: Yesus Kristus.
Pada ayat di atas ditulis bahwa pada saat sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Roh Allah turun seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Ayat di atas menegaskan bahwa bagi umat Kristen hanyalah ada satu Tuhan, dan Yesus Anak Allah adalah Allah sendiri yang turun ke dunia sebagai manusia yang dipenuhi Roh Allah. Yesus sudah lahir, mati, bangkit dan naik ke surga, dan itu dapat dilihat mata manusia dan tercatat dalam sejarah. Karena itu, bagi kita tidaklah sulit membayangkan bahwa Allah adalah seperti Yesus: mahakasih, mahaadil dan mahakuasa. Lebih dari itu, karena Yesus yang sekarang di surga sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap umatNya, tidaklah sulit bagi kita untuk merasakan bahwa Tuhan beserta kita setiap saat dan untuk selamanya. Pujilah Tuhan yang dalam Yesus Kristus sudah menebus dosa kita dan memberikan pengenalan akan kasih dan kebesaranNya!
Sekitar 25 tahun yang lalu saya tinggal di kota Sydney, kota terbesar di Australia yang berpenduduk sekitar 4 juta. Pada waktu itu saya senang sekali memancing dan salah satu tempat yang paling sering saya kunjungi adalah pantai Manly yang berada di daerah Sydney Harbour. Di dermaga feri Manly, setiap akhir minggu biasanya banyak orang yang seperti saya berdiri memegang pancing dan berharap untuk menangkap ikan besar jika lagi mujur. Memang sekalipun daerah itu terkenal banyak ikannya, tidak selalu orang bisa mendapat ikan. Dari pengalaman, saya belajar bahwa jika ombak terlalu besar biasanya ikan-ikan bersembunyi di karang-karang dan tidak bisa dipancing. Seperti feri Manly yang dihempas ombak, ikan yang hidup di laut pun tidak sanggup menghadapi arus atau gelombang yang terlalu besar!
Ada orang yang berkata bahwa tujuan menghalalkan cara. Siapa yang mempunyai maksud baik, tidak perlu ragu-ragu untuk bertindak. Barangkali ini seperti kisah Robin Hood dalam buku cerita anak-anak yang tidak segan-segan mencuri atau merampok harta orang kaya untuk bisa dipakai menolong orang miskin.
Sudah seminggu ini media di Australia ramai memberitakan kasus bangunan apartemen di Sydney yang mengalami kerusakan berat sehingga semua penghuninya harus mengungsi. Kejadian ini bukan yang pertama karena beberapa bulan yang lalu ada kejadian yang serupa. Pada kejadian yang terakhir, bangunan apartemen mengalami retak-retak yang membahayakan sehingga atap beton dari tempat parkir bawah tanah harus ditopang dengan tiang-tiang besi.
Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Ayat ini jarang di khotbahkan di gereja, mungkin karena adanya rasa rikuh di pihak orang yang menyampaikan pesan. Membaca ayat ini, memang sepertinya Paulus menyatakan tekadnya untuk “berdikari”, agar ia tidak membebani jemaat. Seolah ada rasa angkuh bahwa ia yang sanggup bekerja tidak membutuhkan bantuan jemaat.

Sebuah berita di media hari ini agak membuat saya merenungkan kenyataan bahwa orang mudah untuk berganti nasib. Seorang atlit pedayung Australia yang pernah mendapat dua medali perak Olimpiade ditangkap polisi bersama dua sanaknya karena terlibat dalam kasus impor narkoba dalam jumlah besar. Saya tidak habis mengerti mengapa orang yang sudah mencapai posisi tinggi dalam masyarakat bisa jatuh kedalam kejahatan yang tentunya akan membuahkan hukuman penjara yang cukup lama. Padahal, di Australia orang yang pernah menjadi juara olahraga seringkali bisa hidup enak dengan bekerja sebagai motivator, atau tampil di berbagai iklan komersial. Agaknya benar kata orang tua, bahwa nasib manusia ada ditangan sendiri.
Sekitar 30 tahun yang lalu, beberapa orang yang mewakili sebuah rumah lelang internasional (international auction house) datang ke Melbourne untuk mencari barang-barang kuno yang ingin dilelang pemiliknya. Saya yang pada waktu itu tinggal di Melbourne, tahu adanya beberapa rumah lelang terkenal seperti Christie’s dan Sotheby’s, yang sering berhasil melelang barang-barang artistik atau antik dengan harga yang tinggi. Saya dengan penuh harapan membawa sebuah gambar hitam putih yang dilukis oleh seorang artis Belanda pada abad 19 yang kebetulan saya punyai untuk diberi pertimbangan harga.
Pagi ini media memberitakan kabar suksesnya sebuah transplantasi hati yang di lakukan di Melbourne. Seorang anak yang berusia baru setahun tiba-tiba sakit dan mengalami gagal hati. Dokter tidak tahu penyebabnya, tetapi diduga anak kecil itu mendapat serangan virus dan hanya mempunyai beberapa hari saja untuk hidup. Dalam keadaan sedemikian, tentu saja kedua orang tua anak itu menjadi panik. Persediaan hati dari donor yang sudah meninggal tidaklah banyak dan yang antri panjang sekali. Selain itu, hati yang ada belum tentu cocok (compatible) dengan orang yang membutuhkan.