Jangan gelisah dan gentar

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14: 2

Memiliki sebuah rumah adalah idaman setiap warga Australia. Tua-muda semua berusaha untuk menabung untuk bisa membayar uang muka guna mendapat pinjaman bank. Pada saat ini, mereka yang ingin mendapat pinjaman bank harus memiliki uang sekitar 20% dari harga rumah yang akan dibeli. Namun tidak lama lagi jumlah ini akan diturunkan sampai 5% untuk memudahkan mereka yang mencari kredit jangka panjang ini.

Walaupun penurunan jumlah deposit adalah sesuatu yang disambut dengan gembira oleh generasi zaman ini, harga rumah yang sangat tinggi di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne (mediannya sekitar  7-8 M rupiah), membuat banyak orang tidak lagi berharap untuk bisa memiliki rumah sendiri. Bagi mereka, menyewa rumah mungkin adalah satu-satunya cara untuk bertempat tinggal, seperti mereka yang hidup di beberapa negara maju yang lain.

Jika untuk memiliki rumah di dunia sudah begitu sulit, bagaimana pula untuk memiliki tempat tinggal di surga? Bagi mereka yang tidak percaya adanya Tuhan dan surga, hal sedemikian tentunya tidak perlu dipikirkan. Untuk apa memikirkan apa yang belum tentu ada, begitu banyak orang berpikir. Hidup di dunia hanya sekali saja, dan mereka tentunya ingin agar apa yang bisa dinikmati sekarang ini, bisa dicapai secepatnya.  Tidaklah mengherankan bahwa banyak orang yang bekerja keras untuk mengumpulkan harta, guna menjamin kenyamanan hidup di dunia.

Bagi mereka yang mengenal Kristus, hidup yang ada sesudah hidup di dunia tentunya terkadang muncul dalam pikiran. Bagaimana rasanya hidup di surga? Benarkah bahwa segala sesuatu sangat indah dan nyaman ketika kita berada di surga? Memang, karena tekanan hidup yang besar di dunia ini, sebagian orang Kristen merasa gelisah karena apa yang diharapkan ada di surga tentunya belum bisa dilihat mata pada saat ini. Selain itu, dengan adanya pergumulan manusia selama di dunia melawan segala godaan, mungkin ada keraguan apakah Tuhan hanya memilih orang-orang tertentu saja untuk bisa memasuki tempat kediaman di surga. Mungkinkah Tuhan membatasi jumlah orang yang akan ke surga? Mungkinkah surga hanya untuk mereka yang sering beramal?

Pada hari ini kita memperingati kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Dalam ayat di atas, Yesus menyatakan perlunya Ia untuk kembali ke surga. Ia mengatakan bahwa ada banyak tempat di surga, dan Ia pergi untuk mempersiapkan tempat kediaman bagi semua orang yang percaya kepadaNya.

Siapapun yang percaya kepada Yesus adalah percaya kepada Allah yang mengutus Yesus dan yang memiliki surga. Tidak perlu diragukan bahwa karena Yesus mengatakan bahwa ada banyak tempat kediaman di surga, surga tidak akan menjadi penuh jika semua orang menjadi pengikut Kristus. Karena itu jugalah Kristus memerintahkan semua muridNya untuk mengabarkan injil ke seluruh penjuru dunia, supaya siapapun yang percaya kepadanya akan bisa bersama Dia di surga.

“Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” Yohanes  14: 3

Hari ini, sebagai pengikut Kristus kita mendapat tantangan untuk bisa mempercayakan hidup kita, baik yang sekarang maupun yang akan datang, kepadaNya. Jika hidup kita saat ini terasa berat, Yesus yang sudah bangkit dan naik ke surga adalah Tuhan yang membimbing kita untuk bisa dengan iman, kuat menghadapi segala tantangan kehidupan sampai Tuhan menjemput kita dan membawa kita ketempat dimana Ia sekarang berada.

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Hidup ini bukan fantasi

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Yohanes 14: 27

Pagi ini saya membaca di surat kabar bahwa ada banyak anak muda yang sekarang mempunyai kecanduan baru. Bukan narkoba, tetapi video game. Mereka yang kecanduan video game banyak yang kemudian menjadi “manusia aneh” yang lupa segalanya. WHO (World Health Organization) yaitu Organisasi Kesehatan Dunia dari PBB secara resmi sudah mengkategorikan kecanduan ini sebagai kelainan jiwa yang mungkin membutuhkan perawatan psikologi intensif. Dunia ini nampaknya makin gila saja, dengan majunya teknologi manusia sekarang mempunyai berbagai sarana untuk merusak diri sendiri, merusak hidup orang lain, dan juga menghancurkan generasi mendatang.

Mereka yang sudah menjadi orangtua, seringkali merasa masygul melihat keadaan zaman ini. Untuk membesarkan anak ongkosnya tidak kecil. Belum lagi segala tenaga dan perhatian yang harus dicurahkan untuk bisa mendidik anak-anak mereka supaya menjadi orang yang baik dan berguna. Tetapi, seringkali pengaruh dunia adalah sangat besar dan mereka yang kurang beruntung kemudian bisa terseret arus. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa dan bahkan orangtua sendiri bisa jatuh kedalam perangkap iblis. Dalam hal ini, mereka yang tidak mengenal Kristus mudah untuk berjalan di jalan yang gelap, dimana kenikmatan dan kenyamanan duniawi membuat mereka seolah hidup dalam dunia fantasi.

Hidup di dunia ini sebenarnya penuh tantangan dan setiap orang mempunyai tanggung-jawab pribadi untuk menggunakan hidupnya dengan sebaik-baiknya. Apalagi, untuk orang Kristen hidup adalah untuk memuliakan Tuhan yang mahakuasa, dan bukan untuk mencari kepuasan pribadi. Dengan demikian, hidup yang bukan fantasi adalah hidup yang seringkali mengandung resiko, ancaman, rintangan, kegagalan, dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan. Itu tidak mengherankan karena dunia ini adalah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3: 17 – 19).  Yang justru aneh ialah jika orang ingin melarikan diri dari kenyataan dan tidak mau lagi untuk berjuang dalam hidup. Tidak hanya diri sendiri yang dirugikan, tetapi juga keluarga, gereja, masyarakat dan negara.

Memang, dalam menghadapi segala kesulitan hidup ini kita mudah menjadi takut. Kita sering gelisah dan gentar karena masa depan yang tidak menentu. Keadaan sosial, ekonomi, lingkungan dan hukum yang kita alami dalam hidup ini juga sering membuat kita menjadi kecil hati. Apa lagi yang bisa kita lakukan? Murid-murid Yesus mungkin merasakan hal yang serupa ketika mereka ditinggalkan Yesus. Tetapi Yesus yang pernah menjadi manusia tahu bahwa jika manusia harus berjuang sendirian, mereka akan merasa lemah karena sumber kekuatan mereka bukanlah diri mereka sendiri. Manusia memang sering tidak tahu bahwa sumber kehidupan mereka adalah Tuhan, dan kesadaran akan adanya Tuhan yang mahakasih akan memberi mereka kekuatan dan kedamaian.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa Yesus sudah berjanji kepada murid-muridNya – dan itu termasuk kita – bahwa Ia akan memberikan damai sejahtera yang tidak serupa dengan apa yang ditawarkan dunia. Damai sejahtera yang ditawarkan oleh dunia adalah bersifat sementara, sedang apa yang diberikan Yesus adalah kekal. Apa yang nampak gampang, indah dan nikmat di dunia justru seringkali adalah fantasi yang membawa malapetaka, tetapi damai sejahtera dari Kristus adalah karuniaNya yang membuat kita sadar bahwa kepada Tuhan kita boleh menyerahkan hidup kita sepenuhnya. Tuhan yang tahu apa yang kita butuhkan, Ia jugalah yang akan memberi kita keberanian untuk menghadapi hidup ini dan menjadi umatNya yang berguna untuk kemuliaanNya.

Bergembira atau bersukacita?

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12: 12

Beberapa kata dipakai dalam Alkitab untuk menyatakan rasa senang. Kata-kata seperti girang, gembira, senang dan sukacita dapat ditemukan dalam kitab Perjanjian Lama maupun kitab Perjanjian Baru. Diantara kata-kata itu, kata sukacita (joy) adalah yang paling sering dipakai, sebanyak 87 dalam kedua kitab.  Sekalipun semua kata-kata ini menyatakan keadaan emosi seseorang, kata sukacita berbeda artinya dengan kata gembira (happy) atau kata-kata yang lain.

Biasanya kata sukacita dihubungkan dengan keadaan damai dan bahagia yang muncul dari dalam hati, sedangkan kata-kata yang lain dihubungkan dengan reaksi manusia atas apa yang terlihat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Walaupun demikian, dalam Alkitab kata-kata diatas sering dipakai secara silih berganti untuk menunjukkan hal yang serupa.

Sudah tentu orang bisa saja merasa girang, gembira, senang atau bersukacita karena berhasil memperoleh sesuatu yang berharga seperti mobil baru, rumah ataupun ijazah, sekalipun rasa senang itu mungkin tidak berlangsung lama. Orang juga bisa merasakan adanya rasa senang yang dicapai dengan melakukan perbuatan tercela seperti mencuri, pesta-pora ataupun menggunakan narkoba, sekalipun rasa senang itu hanya untuk sementara, sebelum akibat buruknya terasa. Selain itu, orang juga bisa bersukaria karena adanya keberhasilan dalam mencapai suatu target, sekalipun itu akan disusul dengan munculnya berbagai keluhan karena tugas kewajiban yang semakin berat. Jika semua itu bukanlah sesuatu yang abadi, adakah rasa gembira atau sukacita yang langgeng dan tidak bisa hilang?

Bagi umat Kristen, rasa sukacita yang pasti bisa dirasakan adalah karena kita yang berdosa dan seharusnya menemui kebinasaan, telah ditebus dengan darah Kristus dan menjadi anak-anak Allah. Ini bukan sekedar rasa gembira karena kita yang berhasil memperoleh sesuatu, tetapi rasa sukacita yang luar biasa karena kasih Tuhan yang luar biasa yang sudah dilimpahkan kepada kita. Bahwa dengan kemurahan Tuhan kita menerima keselamatan. Ini adalah hadiah yang sebenarnya tidak pantas kita terima tetapi kita peroleh secara cuma-cuma melalui karuniaNya semata-mata. Apa saja yang kita punyai dan alami di dunia tidak akan kekal, tetapi keselamatan yang kita terima adalah kekal dan tidak dapat dicuri oleh siapapun dan apapun.

Jika sukacita kita adalah karena kita menjadi anak-anak Allah, adalah suatu kenyataan bahwa selama hidup di dunia kita sering mengalami penderitaan dan masalah. Bagaimana kita bisa tetap bersukacita jika apa yang kita alami terasa begitu berat? Sebagai orang percaya kita yakin bahwa jika kita harus menderita, penderitaan kita hanyalah untuk sementara. Lebih dari itu, dalam kesusahan kita justru bisa merasakan adanya penyertaan Tuhan.

Kita juga bersukacita karena kasih Tuhan kepada kita selalu ada dalam situasi bagaimanapun, dari dulu, sampai sekarang dan untuk selamanya. Karena itu, kita tentunya dapat memahami ayat diatas yang mengatakan bahwa dalam semua keadaan, kita harus bisa bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa.

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4: 16 – 18

Tetaplah yakin akan kasih Tuhan

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Apakah ada yang anda kuatirkan dalam hidup ini? Pertanyaan ini bagi semua orang tentunya akan dijawab dengan kata “ya”. Sekalipun sebagian orang mungkin tidak terlalu kuatir akan kehidupan sendiri, mereka bisa saja kuatir akan apa yang terjadi pada diri orang lain atau akan apa yang terjadi di lingkungan, dalam negara, atau di dunia.

Hidup ini penuh dengan kejutan. Life is full of surprises. Orang yang terlihat sehat kemudian jatuh sakit parah, murid yang pandai justru tidak lulus ujian, mereka yang kaya-raya sejak lama kemudian jatuh bangkrut, mereka yang terlihat bahagia ternyata mengalami tekanan jiwa yang besar. Apakah yang bisa diharapkan manusia jika semua adalah tidak pasti adanya?

Dengan adanya berbagai persoalan hidup, mungkin tidak ada orang yang yakin bahwa hidup mereka akan berakhir dengan kebahagiaan atau “happy ending“. Mungkin hanya di layar perak saja kita bisa melihat adanya orang- orang yang sesudah mengalami perjuangan hidup, kemudian menemui kebahagiaan yang abadi. Sebaliknya, apa yang terjadi dalam kehidupan kelihatannya tidak dapat menjamin manusia manapun untuk bisa sepenuhnya optimis untuk masa depan.

Kemungkinan adanya penindasan, kesesakan hidup, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, kekejaman, terorisme ataupun peperangan memang bisa membuat orang sulit untuk mendapat ketenangan hidup. Lebih dari itu, bagi kita umat Kristen, selalu ada bahaya yang mengancam karena adanya orang-orang yang ingin menghancurkan iman kepercayaan kita.

Bagi yang percaya adanya Tuhan sekalipun, tidaklah ada harapan masa depan jika mereka hanya mengenal Tuhan sebagai Oknum yang mahakuasa. Tuhan mungkin sudah menetapkan hidup mereka untuk mengalami kehancuran. Bukankah manusia tidak dapat menolak kehendak Tuhan?

Untunglah bagi umat Kristen Tuhan bukanlah hanya Tuhan yang mahakuasa. Tuhan adalah Tuhan yang juga mahakasih. Karena kasihNya, Tuhan sudah mengaruniakan AnakNya yang tunggal Yesus Kristus untuk menebus dosa mereka yang percaya kepadaNya. Dalam hal ini, karena pengurbanan Yesus cukup hanya sekali bagi semua umatNya, Tuhan tidak membiarkan mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat untuk kehilangan kasihNya.

Pada hari Minggu ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan adalah lebih besar dari kesulitan hidup apapun. Karena itu, sekalipun hidup ini terkadang terasa sangat berat, kita yang sudah menjadi orang percaya tidak akan kehilangan keyakinan bahwa Tuhan senantiasa beserta kita!

Harapan masa depan dan tugas masa kini

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Wahyu 21: 4

Australia baru saja mengadakan pemilihan umum minggu lalu. Dari hasil penghitungan suara selama kurang lebih 6 jam setelah pemilu selesai, sudah dapat dipastikan bahwa perdana menteri yang sekarang mendapat mandat untuk 3 tahun lagi. Rakyat secara demokrasi sudah memilih seorang pemimpin negara untuk mewujudkan apa yang dijanjikannya selama berkampanye.

Adalah sudah menjadi rahasia umum bahwa selama berkampanye, mereka yang ingin terjun ke dunia politik selalu berusaha keras untuk mengajak rakyat untuk memilih mereka. Untuk itu, mereka seakan berlomba-lomba untuk menjanjikan hal-hal yang besar dan hebat untuk rakyat. Dalam kenyataannya, tidak semua yang dijanjikan itu bisa dicapai dalam kurun waktu yang ada. Itu bisa karena adanya salah perhitungan, kekurangan dana, perubahan situasi dan sebab-sebab lain.

Secara umum, sebenarnya semua pemimpin negara ingin untuk memajukan negaranya dan mau mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Memang, adanya pemerintah tentunya ditujukan untuk membawa kemajuan dan kemakmuran bangsa sehingga semua orang bisa menikmati hidup yang baik dalam hal sosial, ekonomi, bisnis, pendidikan, teknologi dan lain-lain. Walaupun begitu, di negara manapun selalu tetap ada rakyat yang menderita. Air mata, dukacita, kekurangan, penyakit, kematian, perkabungan selalu ada, dan merupakan bagian hidup manusia di dunia.

Pagi ini, jika kita merasa bahwa hidup di dunia ini sangat berat, ayat dari kitab Wahyu diatas menjelaskan bahwa keadaan di surga adalah sangat berbeda dari keadaan di dunia. Di surga, Tuhan akan menghapus segala air mata dari mata setiap orang yang diselamatkan, dan kematian tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi dukacita, sebab segala sesuatu yang fana sudah lenyap diganti dengan sukacita yang kekal.

Hidup di surga adalah tujuan setiap orang percaya. Berbeda dengan janji manusia, apa yang sudah dijanjikan Tuhan kepada umatNya pasti akan dipenuhiNya karena Tuhan adalah Allah yang setia dengan janjiNya dan sanggup mewujudkan semua rencanaNya. Dalam hal ini, apakah segala apa yang kita alami di dunia ini sia-sia? Untuk apa kita berjuang dalam hidup di dunia ini?

Selama hidup di dunia, sebagai orang Kristen kita memang mengarahkan pandangan kita menuju apa yang indah, yang sudah dijanjikan Tuhan. Walaupun demikian, selagi kita masih hidup di dunia kita wajib untuk bekerja untuk membangun negara dan bangsa kita dengan memakai keadaan di surga sebagai contoh dan model bagi perjuangan kita. Biarlah melalui hidup kita makin banyak orang yang bisa merasakan penyertaan Tuhan atas perjuangan hidup mereka dan mau berharap kepada kebahagiaan yang sempurna di surga sebagai anak-anak Allah!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Hormatilah pemimpinmu

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 7

Di Australia, olahraga adalah salah satu mata pelajaran yang dianggap penting di sekolah. Dari sekolah dasar sampai sekolah lanjutan, para murid tidak saja harus mengikuti pelajaran olahraga di lapangan, tetapi harus juga berpartisipasi dalam berbagai pertandingan olahraga tahunan yang disebut sports carnival, yang mungkin  berbentuk pertandingan renang (swimming carnival) atau pertandingan atletik (athletic carnival). Selain itu, murid-murid yang berbakat olahraga biasanya mempunyai kegiatan akhir pekan  di klub olahraga lokal, seperti klub sepakbola, rugby, bola keranjang dan sebagainya.

Akhir-akhir ini di tempat pertandingan olahraga lokal terjadi beberapa hal yang kurang menyenangkan. Media melaporkan adanya insiden dimana  orang tua murid bertengkar atau berkelahi dengan wasit pertandingan karena kurang puas dengan keputusan wasit yang menyangkut anak-anak mereka. Beberapa wasit malahan dimaki atau dipukul oleh orang tua murid gara-gara wasit yang dianggap berat sebelah. Yang sangat menyedihkan adalah bahwa orang tua seperti itu melakukan tindakan kekerasan di depan anak-anaknya, dan dengan demikian tentunya memberi contoh yang tidak baik kepada mereka.

Rasa hormat kepada yang orang yang berkuasa atau para pemimpin memang biasanya diharapkan dari setiap anggota masyarakat. Tetapi, biasanya penghormatan itu tidak selalu harus berdasarkan hukum. Anak-anak belajar menghormati orang lain dari pendidikan orang tua mereka. Di sekolah, mereka diharuskan menghormati guru-guru berdasarkan peraturan sekolah yang tidak selalu tertulis. Dalam masyarakat, mereka belajar menghormati para pemimpin setempat, polisi, atau tokoh pemerintah lainnya sesuai dengan etika dan kebiasaan. Walaupun demikian, ada kecenderungan akhir-akhir ini bahwa rakyat, terutama kaum muda, yang kurang puas dengan apa yang diperbuat para pemimpin, kemudian melakukan ha-hal yang tercela seperti melempari pejabat dengan telur mentah dan sebagainya.

Ayat diatas menyatakan bahwa Tuhan yang menghendaki adanya ketertiban menyuruh  seluruh umatNya untuk menghormati etika, peraturan, dan hukum dalam hal membayar pajak dan menghormati mereka yang berkuasa. Bukan saja umat Kristen harus menghormati para pemimpin gereja karena mereka adalah pemimpin kerohanian, umat Kristen juga harus menghormati orang lain diluar gereja karena semua pemimpin negara yang sah ditetapkan Tuhan untuk mengatur masyarakat.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Pagi ini kita mungkin bisa melihat adanya kecenderungan manusia dimana saja untuk mengabaikan Tuhan. Mereka mungkin menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada atau tidak berkuasa atas hidup mereka. Mereka mulai kehilangan rasa hormat kepada orang tua, guru, pendeta ataupun pemimpin yang lain. Kecenderungan untuk memberontak mulai muncul sejak saat mereka masih kecil dan bertambah besar ketika mereka menjadi orang dewasa.

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi terang dunia. Kita harus bisa memberi contoh yang nyata bagaimana kita menghormati mereka yang berwenang (authority). Kita yang takut akan Tuhan mempunyai kewajiban untuk mengajarkan tata tertib dan sopan santun kepada anak-cucu kita. Kita juga dipanggil untuk menjalani hidup baru kita sesuai dengan firman Tuhan, dan menghargai adanya etika dan hukum yang sesuai dengan ajaran Alkitab.  Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita juga harus memegang prinsip-prinsip kebenaran yang ada dalam hati kita dalam menghadapi mereka yang suka melawan sopan santun, etika dan hukum. Biarlah Tuhan memberi kita bimbingan dan perlindunganNya dalam hidup bermasyarakat.

“Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” Roma 13: 5

Kasih mengalahkan segalanya

“Kebencian menimbulkan pertengkaran,  tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” Amsal 10: 12

Dalam lagu Imagine yang sangat terkenal pada tahun 1970an,  John Lennon mengumandangkan syair ini:

Patutkah kita marah kepada Tuhan?

Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Siapakah yang berani marah kepada Tuhan semesta alam? Tentunya jika orang benar-benar percaya kepada Tuhan yang mahabesar dan mahakuasa, mereka tidak akan berani menentang atau marah kepadaNya. Walaupun begitu, ada beberapa hal yang mungkin bisa menarik perhatian kita jika ada orang yang marah kepada Tuhan.

Yang pertama, mereka yang marah kepada Tuhan tentunya percaya bahwa Tuhan itu ada. Yang kedua, seringkali orang marah kepada Tuhan karena mereka menganggap bahwa Tuhanlah yang menyebabkan atau membiarkan adanya masalah dalam hidup mereka. Yang ketiga, mereka yang marah mungkin merasa bahwa Tuhan mau saja untuk mendengarkan segala protes kemarahan mereka dengan kasih dan kesabaranNya. Yang keempat, mereka yang marah mungkin sudah tidak peduli lagi akan reaksi Tuhan atas kemarahan mereka. Keempat hal inilah yang mungkin ada dalam pikiran nabi Yunus.

Apa yang terjadi pada nabi Yunus? Yunus baru saja mengalami hal yang mengecewakan. Ia mengharapkan Tuhan menghukum orang Niniwe dengan menghancurkan mereka. Tetapi apa yang terjadi adalah kebalikannya: orang Niniwe bertobat dan Tuhan mengampuni mereka. Yunus menjadi sangat marah karena ia tidak mengerti bahwa Tuhan mengasihi segala bangsa (Yunus 4: 1).

Walaupun kemarahan Yunus tidak pada tempatnya, sungguh mengherankan bahwa Tuhan tidak marah kepada Yunus. Ia hanya menegur Yunus dengan sebuah pertanyaan (Yunus 4: 4): “Layakkah engkau marah?”. Tuhan memberikan kesempatan bagi Yunus untuk mengerti bahwa Tuhan yang mahakasih menghendaki semua bangsa untuk memperoleh kesempatan untuk mengenal Dia.

Dengan kemarahannya, Yunus pergi ke luar kota Niniwe dan menantikan apa yang kemudian akan diperbuat Tuhan. Mungkinkah Tuhan tetap akan memberi hukuman, sekalipun tidak sebesar semula, kepada orang Niniwe?  Yunus  yang ingin menyaksikan sebuah pertunjukan yang menarik, membuat sebuah pondok untuk bernaung dari sinar panas matahari. Tuhan yang mahakasih kemudian menumbuhkan sebuah pohon jarak untuk menambah keteduhan. Tetapi, Tuhan kemudian mendatangkan ulat yang membuat pohon jarak itu layu dan mendatangkan angin panas sehingga Yunus menjadi lesu. Yunus seperti seorang anak kecil, kemudian menjadi marah dan berkata bahwa ia ingin mati saja.

Pagi ini, keadaan yang dialami Yunus mungkin terjadi dalam hidup kita. Kita mungkin kecewa mengapa Tuhan membiarkan persoalan atau keadaan yang kita alami. Mungkin juga kita merasa Tuhan itu tidak adil atau kurang bijaksana. Kita mungkin merasakan adanya kemarahan dalam hati kita. Pagi ini juga Tuhan mungkin bertanya kepada kita, seperti Ia bertanya kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena adanya persoalan dalam hidupmu?”

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Ialah yang berhak menentukan dan mengatur apapun yang terjadi di dunia. Dengan demikian, kemarahan kita kepada Tuhan adalah tidak pada tempatnya. Kita harus mau mengakui bahwa sekalipun kita tidak dapat menyelami pikiran Tuhan, Ia adalah Tuhan yang mahabijaksana dan mahakasih kepada semua ciptaanNya. Karena itu biarlah kita boleh menyerahkan apapun yang terjadi dalam hidup kita kepada pemeliharaanNya.

Bagaimana bisa hidup damai?

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Roma 12: 18

Bacaan: Roma 12: 17 – 21

Hidup damai. Siapakah yang tidak ingin hidup dalam kedamaian? Tentunya kebanyakan orang merindukan adanya suasana damai. Walaupun demikian, kita bisa melihat dalam hidup sehari-hari bahwa kedamaian bisa sewaktu-waktu hilang ketika ada orang-orang yang melakukan hal-hal tertentu  yang menimbulkan kekacauan. Di zaman ini, kekacauan bisa terjadi dalam bidang relasi, komunikasi, pendidikan, hukum, politik, ekonomi dan lain-lainnya. Itu tidak saja bisa terjadi dalam rumah tangga, sekolah, dan kantor, tetapi bisa juga terjadi di satu negara ataupun di dunia. Semua kekacauan biasanya terjadi karena akibat ulah manusia, terutama pertikaian antar manusia.

Bagaimana orang Kristen harus bertindak jika kekacauan terjadi karena dengan adanya orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak baik? Prinsip mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri memang satu hukum Tuhan yang harus tetap kita pegang, tetapi bagaimana pula kita harus melaksanakannya? Ayat-ayat pada kitab Roma diatas menunjukkan bahwa kita harus sebisa mungkin hidup damai dengan semua orang. Apapun yang orang lakukan kepada kita, pada prinsipnya kita tidak boleh membalas (avenge) karena hanya Tuhan yang berhak untuk itu. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita harus mau bersabar dan berbuat baik kepada mereka yang membenci kita agar mereka malu atas apa yang mereka perbuat.

Sedapat-dapatnya memang kita harus mempertahankan perdamaian dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kata “sedapat-dapatnya” bukan berarti “selalu”. Tetapi, selama apa yang terjadi masih bisa kita tanggung, kita harus bisa menghindari konfrontasi dan mau menunjukkan kebaikan kepada mereka yang menjahati kita. Jika banyak orang mengajarkan bahwa kita harus berbuat baik kepada sesama kita tetapi boleh membenci musuh kita, Yesus berkata bahwa itu tidak cukup untuk pengikutNya. Sebaliknya, kita harus bisa juga mengasihi musuh kita dan berdoa untuk mereka supaya mereka bisa kembali ke jalan yang benar.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 – 44

Mengasihi musuh kita adalah sesuatu yang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Tetapi Yesus sudah memberi contoh dengan mendoakan mereka yang menyalibkanNya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23: 34). Pada pihak yang lain Yesus pernah marah juga, misalnya kepada orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (Matius 21: 12 – 13) dan kepada orang Farisi yang mempersalahkan Dia ketika menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat (Markus 3: 5).

Yesus marah ketika kemuliaan Allah direndahkan oleh manusia, Ia juga marah ketika misi penyelamatanNya dihalangi oleh orang Farisi. Walaupun demikian, Yesus tidak berdosa dalam kemarahanNya, karena dalam kemarahanNya yang tidak berlarut-larut selalu ada motivasi untuk memuliakan BapaNya dan mengembalikan manusia ke jalan yang benar. Yesus selalu bertindak tegas dalam hal-hal yang penting, tetapi semua itu bukan karena ego, tetapi karena kasihNya.

Pagi ini, mungkin kita masih ingat bahwa orang-orang tertentu sering mengganggu hidup kita. Mungkin mereka ada diantara keluarga kita, dalam gereja ataupun dalam masyarakat di sekitar kita. Firman Tuhan berkata bahwa sedapat mungkin kita harus bersabar dan memilih jalan damai. Kita harus mengasihi semua orang dan itu termasuk orang-orang yang tidak kita senangi. Semua itu tidaklah mudah untuk dilaksanakan jika kita tidak dapat membedakan apa yang menyangkut kemuliaan Tuhan dan apa yang hanya mengenai kepentingan kita sendiri. Semoga Tuhan bekerja diantara umatNya untuk membawa kedamaian di dunia.

Tuhan segala bangsa

“Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” Roma 3: 29

Ada berapa bangsa di dunia ini? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Jika di dunia ini ada 195 negara (country), tiap negara mungkin terdiri dari beberapa bangsa (nation) dan suku (tribe). Memang kata “negara” belum tentu sama artinya dengan kata “bangsa”. Sebuah bangsa adalah sekelompok orang yang mempunyai latar belakang yang sama, tetapi belum tentu membentuk sebuah negara. Sebaliknya, beberapa bangsa bisa membentuk sebuah negara. Karena itu, jumlah bangsa di dunia ini tentunya lebih banyak dari jumlah negara.

Secara ideal, sebuah negara akan mempunyai kestabilan yang lebih besar jika terdiri dari satu bangsa. Sejarah membuktikan bahwa negara yang dibentuk oleh bangsa-bangsa yang berlainan lebih mudah untuk pecah karena perbedaan paham atau cara hidup. Memang banyak bangsa yang merasa berbeda dengan bangsa lain, sedemikian rupa sehingga ada perasaan bahwa bangsa lain adalah lebih rendah derajatnya. Inilah yang sering menimbulkan pertikaian antar bangsa.

Perasaan bahwa bangsa atau orang lain adalah berbeda derajatnya dan karena itu tidak sama kedudukannya sering muncul dalam pikiran manusia. Manusia dengan adanya dosa, sering tidak dapat mengasihi atau menghormati derajat orang lain. Malahan, sewaktu perbudakan masih ada di dunia, banyak orang Kristen yang memperlakukan budak sebagai barang saja, Dengan kemajuan pendidikan dan budaya, manusia kemudian menyadari bahwa semua orang adalah sama derajatnya. Racism atau racialism kemudian menjadi sesuatu yang dianggap buruk dalam hidup bermasyarakat.

Untuk orang Kristen, perasaan bahwa mereka adalah orang-orang terpilih juga bisa menimbulkan perasaan bahwa orang lain tidaklah sebaik mereka. Tetapi Yesus yang adalah orang Yahudi, datang ke dunia bukan untuk menyelamatkan orang Yahudi saja. Karena semua orang di dunia diciptakan Allah, Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan siapa saja yang mau percaya.

Hari ini, jika kita melihat ke seliling kita, kita bisa melihat begitu banyak bangsa dan suku yang hidup di dunia. Kita harus sadar bahwa semua orang adalah milik Allah, dan karena itu berhak memperoleh perlakuan yang sama. Sebagai ciptaan Tuhan kita harus menghargai orang lain yang sekalipun berbeda dengan kita dalam satu atau banyak hal. Mereka adalah ciptaan Tuhan, dan Ia mengasihi mereka juga. Karena itu jugalah kita mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19