“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25
Teringat saya akan masa dimana saya bekerja sebagai konsultan teknik di Melbourne. Saya mempunyai seorang rekan kerja yang mengeluh bahwa mesin fotokopi di kantor “membenci dia” karena sering macet pada saat ia sangat harus menyerahkan laporan penting kepada kliennya. Ia bertanya: “Mengapa apa yang buruk justru terjadi pada saat yang tidak diharapkan?” Pernahkah anda mengalami kejadian serupa? Mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan selagi anda berada dalam kesulitan? Itu adalah kesulitan berganda alias double trouble.
Macetnya mesin fotokopi ketika kita perlu memakainya tidak dapat dibandingkan dengan apa yang dialami Ayub. Mungkin dalam hidup ini, kita jarang melihat orang yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan secara cepat seperti yang terjadi dalam hidup Ayub, yang diakibatkan oleh pekerjaan iblis. Walaupun begitu, di dunia ini banyak juga orang yang kehilangan semua yang dimilikinya akibat perbuatan orang lain, bencana alam atau kecelakaan. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya? Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.
Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.
Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.
Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih tetapi tidak terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang. Itu adalah sikap mengasihani diri sendiri atau self pity.
Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah. Penderitaan memang bisa bertambah besar karena pikiran negatif manusia.
“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26
Pagi ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Pikiran negatif memang bisa menghancurkan, tetapi pikiran yang positif akan membawa semangat baru.
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17: 22
Dalam bahasa Indonesia, rasa khawatir mungkin bisa diganti dengan kata cemas atau takut. Tetapi sebenarnya arti ketiga kata itu berbeda. Orang memang sering menyebutkan rasa khawatir atau kuatir akan sesuatu hal, tetapi belum tentu merasa cemas atau takut. Dalam bahasa Inggris pun ada istilah “worry” yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari – yang menunjuk kepada adanya kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan – tetapi ini belum sampai menjurus kearah rasa cemas. Orang juga sering mengatakan bahwa keadaan bisa membuat kita was-was tetapi tidak perlu membuat kita cemas. Concerned but not alarmed.
Sebagian orang di dunia membayangkan bahwa hidup ini berjalan seperti sebuah titik pada sebuah roda yang berputar, spinning wheel, yang bisa naik dan kemudian turun. Oleh sebab itu, bagi mereka, hidup adalah kesempatan untuk mencari keuntungan dan kenyamanan selagi bisa. Selagi roda kehidupan mereka berputar keatas, mereka memanfaatkannya dengan apa saja yang bisa dilakukan supaya hidupnya makin enak.
Sangatlah menarik bahwa di dunia ini sekarang ada banyak orang yang menjadi motivator. Agaknya karena banyaknya orang yang mengalami kesulitan hidup, apa yang dikumandangkan oleh orang-orang yang pandai berpidato ini menjadi barang komoditi yang laris. Pada umumnya mereka yang berkecimpung dalam bidang psikologi pemikiran positif ini, selalu menganjurkan agar orang selalu optimis dan positif dalam segala hal, dan tidak mudah berputus asa. Sebagian pendeta pun tidak segan-segan memakai pendekatan positive thinking dalam khotbah-khotbah mereka, dan berusaha meyakinkan jemaat bahwa jika Tuhan beserta mereka, mereka akan selalu sukses. Mereka mencoba menghapus kata ” gagal” dalam pikiran orang, karena pengaruh negatif yang bisa membuat orang kehilangan semangat. Tidaklah mengherankan bahwa ada banyak orang yang terbuai akan pesan-pesan seperti itu, dan semua itu membuat banyak motivator menjadi pembicara yang terkenal dan berpenghasilan tinggi.
Kata haleluya atau pujilah Tuhan (praise the Lord) adalah kata yang dikenal semua orang Kristen walaupun hanya beberapa denominasi yang sering menggunakan atau mengucapkannya. Pada pihak yang lain, banyak orang yang mengucapkan kata ini hanya sebagai gurauan saja, tanpa kekhusyukan sama sekali.
Di dunia ini ada banyak orang yang hidupnya terlihat sangat sibuk. Malahan, ada negara-negara tertentu yang seluruh penduduknya selalu sibuk. Jepang, misalnya, adalah negara dimana penduduknya selalu bergesa menuju tempat tujuan mereka, terutama pada jam kerja. Kota raksasa seperti Tokyo dengan subway station Shinjuku yang tersibuk sedunia, bisa membuat pendatang baru menjadi pusing dan bingung dengan banyaknya orang yang lewat dari pagi sampai malam. Saya yang pernah tinggal disana, bisa merasakan beratnya hidup, terutama untuk pendatang baru.
Di Australia, hari Jumat adalah hari kerja terakhir dalam seminggu. Biasanya orang menyambut hari Jumat dengan perasaan lega karena akhir minggu sudah diambang pintu. Hari Jumat sore setelah selesai bekerja, banyak orang yang pergi ke restoran dan tempat minum bersama kolega dan teman. Karena itu, tempat-tempat terkenal di kota besar seperti Sydney, Melbourne dan Brisbane biasanya penuh sesak dengan orang-orang yang ingin mengobrol sambil makan-minum. Jika kita mengunjungi tempat-tempat itu, bunyi hiruk-pikuk orang dan musik riang-gembira selalu mengisi suasana.
Iman adalah satu kunci kata dalam banyak agama, tetapi mempunyai banyak definisi. Dengan demikian, istilah orang beriman juga mempunyai berbagai pengertian. Orang beriman bisa diartikan orang saleh yang hidupnya sesuai dengan hukum agama. Ada juga yang mengartikannya sebagai orang yang rajin berdoa dan berbuat baik. Selain itu, ada juga yang mengartikan bahwa orang beriman berarti orang yang giat berusaha untuk mengenal Tuhannya. Apapun artinya, banyak orang percaya bahwa makin besar iman seseorang, makin besar harapan bahwa orang itu akan masuk ke surga setelah hidup di dunia berakhir.
Semalam, di TV ditayangkan kisah persepakbolaan di satu negara. Di negara itu sepakbola adalah olahraga yang sangat populer di kalangan rakyat jelata, terutama diantara kaum muda. Saking populernya, tiap tim mempunyai tim suporter yang boleh dikatakan fanatik, yang selalu hadir pada tiap pertandingan yang melibatkan tim mereka. Karena itu, pada tiap pertandingan selalu ada resiko bentrokan fisik antar tim suporter yang bisa berakibat fatal.