Apa arti hidup ini?

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Roma 14: 8

Akhir minggu yang lalu saya pergi ke luar kota. Hari Senin, ketika saya sudah kembali di rumah, saya heran melihat begitu banyaknya bangkai lalat yang bertebaran di depan jendela dapur. Memang musim panas di Australia adalah musim lalat yang bisa membuat orang menjadi sebal karena begitu banyaknya lalat yang beterbangan. Walaupun demikian, saya heran mengapa banyak lalat bisa masuk ke dapur sekalipun tidak ada makanan di meja dan pintu serta jendela dalam keadaan tertutup rapat. Setelah meneliti berbagai kemungkinan, saya menyimpulkan bahwa lalat-lalat itu masuk ke dapur melalui lubang air ditempat pencucian piring. Karena keran air tidak terpakai untuk beberapa hari, ada kemungkinan  lalat bisa masuk ke rumah melalui saluran air kotor dari luar rumah, hanya untuk mati kelaparan.

Melihat banyaknya bangkai lalat yang bertebaran di lantai, mau tidak mau saya berpikir betapa malangnya nasib mereka. Mereka yang hanya hidup untuk mencari makan, berkembang biak dan kemudian mati tanpa mencapai hasil apapun. Mereka tentunya tidak mengerti mengapa mereka harus hidup di dunia, dan tidak juga bisa mengerti bahwa mereka diciptakan Tuhan untuk maksud tertentu.  Pikiran saya tidak hanya sampai disitu, tetapi melambung terus sehingga saya merasa bahwa barangkali Tuhan melihat sebagian manusia juga hidup dan bernasib seperti lalat-lalat itu.

Memang dari beberapa orang yang pernah saya jumpai, ada yang berpendapat bahwa manusia tidaklah jauh berbeda dari seekor lalat. Manusia dilahirkan, bekerja, berkembang biak dan kemudian mati, hilang tak berbekas; itu adalah suatu takdir. Mereka yang tergolong Kristen mungkin mempunyai pendapat yang berlainan: bahwa hidup mati manusia ada ditangan Tuhan, tetapi ada kehidupan di surga sesudah kematian di dunia. Walaupun demikian, selama hidup di dunia, banyak orang Kristen yang hanya hidup untuk mencari makan, berkembang biak dan kemudian mati tanpa mencapai hasil apapun bagi Sang Pencipta. Mereka tentunya tidak mengerti mengapa mereka harus hidup di dunia, dan tidak juga bisa mengerti bahwa mereka diciptakan Tuhan untuk maksud tertentu.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma dan merupakan ayat yang cukup terkenal. Dalam ayat ini ditulis bahwa baik dalam hidup maupun mati, kita harus berguna untuk Tuhan karena kita adalah milikNya. Sudah tentu ini tidak berlaku untuk ciptaan Tuhan yang lain karena selain manusia, tidak ada makhluk lain yang menyadari bahwa mereka adalah milik Tuhan. Makhluk lain bekerja sesuai dengan naluri yang diberikan Tuhan kepada mereka, sedangkan manusia bekerja dengan roh dan kebijaksanaan yang berasal dari Tuhan. Karena itu, manusia seharusnya dapat melihat kebesaran Tuhan dalam hidup mereka dan dalam alam semesta, dan dengan bimbingan Roh Kudus kemudian dapat mengerti apa arti hidup ini.

Apa arti hidup ini? Tidak semua manusia dapat mengetahuinya. Sebagian orang berpikir bahwa hidup adalah untuk mencari kebahagiaan melalui keberhasilan. Tetapi, kebahagiaan yang mereka harapkan seringkali hilang tidak berbekas ketika goncangan kehidupan terjadi. Mereka mungkin berusaha muntuk melepaskan diri dari kurungan penderitaan, tetapi pada akhirnya tidak menjumpai jawaban atas kesulitannya. Lalu hidup itu untuk apa dan kematian itu apa artinya?

Ayat diatas menjelaskan bahwa kita adalah makhluk yang istimewa di mata Tuhan. Kita diciptakanNya menurut gambarNya. Tuhan sangat mencintai manusia, sehingga Ia berusaha menyelamatkan manusia dari ketidaktahuan mereka akan arti hidup ini. Tuhan sudah mengirimkan Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia, sehingga manusia bisa disadarkan bahwa siklus kehidupan manusia bukan hanya untuk dilahirkan, bekerja, berkembang biak dan kemudian mati, dan kemudian hilang tak berbekas. Sebaliknya, manusia dilahirkan sesuai dengan rencana Tuhan dan karena itu harus hidup sesuai dengan kehendakNya; agar jika tiba waktu kita untuk meninggalkan dunia ini, kehidupan di surga bersama Kristus akan bisa dimulai. Hidup manusia di dunia dengan demikian seharusnya diisi dengan kepercayaan kepada Tuhan, penyerahan kepada kehendakNya dan ketaatan kepada perintahNya. Hidup kita dari Tuhan, karena Tuhan dan untuk Tuhan!

Iman dalam suka maupun duka

“Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini..” Ulangan 8: 11

Pagi ini saya membaca kisah pertemuan Yesus dengan sepuluh penderita kusta (Lukas 17: 11 – 19).  Dalam perjalanan ke Yerusalem, ketika Yesus memasuki suatu desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh  dan berteriak memanggil Yesus meminta belas kasihanNya. Yesus hanya memandang mereka dan menyuruh mereka untuk menemui para imam. Sungguh ajaib bahwa dalam perjalanan untuk menemui imam-imam, di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria, orang yang tidak disenangi orang Yahudi. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi sembuh? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Yesus berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Suatu kisah nyata yang membuat saya berpikir: siapakah orang yang beruntung dan telah diselamatkan ini?

Tidak dapat diragukan bahwa sepuluh orang kusta itu bisa mewakili semua manusia yang sudah lama hidup menderita. Umat manusia yang hidup dalam dosa, dan sepuluh orang yang menerima tawaran karunia penyelamatan Tuhan. Sepuluh orang disembuhkan sakitnya, tetapi hanya satu orang yang mempunyai iman yang menyelamatkan. Sembilan orang yang lain mungkin sebanding dengan orang Kristen yang lupa kepada Tuhan jika sudah berada dalam keadaan nyaman dan bahagia. Sembilan orang itu mungkin seperti bani Israel yang sering menjadi sombong ketika mereka mengalami kejayaan dan lupa kepada Tuhan yang sudah membawa mereka keluar dari tanah Mesir (Ulangan 8: 12 – 14).

“….dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan …..”

Dalam hidup ini memang ada banyak orang yang dulunya mempunyai pengharapan kepada Kristus dan sudah menerima berbagai berkatNya. Mereka yang menyebut diri mereka Kristen tetapi sudah meninggalkan Kristus untuk menikmati kegembiraan dan kenyamanan hidup mereka. Mereka yang sesudah berjumpa dengan Dia dan menerima kasihNya, kemudian pergi dan tidak pernah kembali menemui Kristus untuk menyembah Dia dan memuliakanNya. Hidup mereka kemudian kembali diisi dengan hal-hal yang membuat diri mereka seperti tuhan yang perlu dimuliakan. Mereka sibuk dalam kenyamanan hidup mereka dan lupa bahwa Tuhanlah yang sudah memberi mereka berbagai karunia. Mereka tidak mau lagi berpegang pada perintah, peraturan dan firmanNya; mereka sudah menghujat Tuhan.

Memang adalah ciri manusia bahwa mereka lebih mudah berseru kepada Tuhan jika mereka dalam penderitaan atau kesulitan. Mereka tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat memberikan pertolongan. Tetapi, ketika Tuhan memberi mereka pertolongan, mereka dengan mudah merasa bahwa itu adalah sudah seharusnya. Take it for granted.  Mereka lupa bahwa karena Tuhan sudah mengasihi mereka, adalah kewajiban bagi mereka untuk memuliakanNya.

Ada tiga unsur iman yang membawa keselamatan, yaitu percaya, berserah dan taat. Sepuluh orang sudah percaya dan berserah, tetapi hanya seorang dari sepuluh itu yang taat. Sayang sekali! Iman dari Tuhan  tidak boleh berhenti bekerja ketika ombak laut sudah terasa tenang, tetapi harus tetap dipakai dalam segala keadaan. Dengan demikian, ketaatan kepada perintah, peraturan dan ketetapan Tuhan harus selalu dipertahankan. Apakah kita mempunyai iman yang membawa keselamatan? Hanya kita yang bisa menjawabnya.

Doa yang sulit dilaksanakan

“…jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Matius 6: 10

Pernahkah anda berdoa Bapa Kami seorang diri? Doa Bapa Kami yang dikenal sebagai the Lord’s Prayer adalah doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, Tuhan kita atau our Lord, sebagai pedoman doa. Doa ini disebut sebagai Doa Bapa Kami karena dalam bahasa Latin, doa itu dikenal sebagai doa Pater Noster karena diawali dengan ucapan “Bapa kami yang di surga” atau “Pater noster, qui es in caelis”.

Doa Bapa Kami lebih sering diucapkan secara bersama oleh sekelompok orang karena secara tradisi dan historis, doa ini adalah doa yang dikenal oleh semua orang Kristen walaupun mempunyai beberapa versi. Bahkan, setiap kali parlemen di Australia memulai acaranya, semua anggota parlemen mendengar doa ini disebutkan dalam versi Protestan, sekalipun tidak semua orang ikut berdoa. Harus dimaklumi bahwa Australia tidak dapat digolongkan sebagai negara Kristen.

Walaupun Doa Bapa Kami sering diucapkan secara bersama di sebagian gereja, doa ini mungkin jarang diucapkan secara individual. Kurang dapat dimengerti apa sebabnya, doa yang berdasarkan Alkitab ini seakan dihindari oleh sebagian orang Kristen. Tetapi, jika kita meneliti beberapa bagian dari doa ini, memang ada kata-kata yang serasa sulit untuk diucapkan, yaitu mengenai kehendak Tuhan yang harus terjadi (Matius 6: 20) dan hal mengampuni orang lain (Matius 6: 12).

Hal yang kedua lebih mudah kita mengerti. Kita memang sering meminta ampun kepada Tuhan, tetapi sulit untuk mengampuni orang lain. Oleh karena itu, kita mungkin agak ragu untuk mengucapkan kata-kata itu, sekalipun kita tahu bahwa dalam Matius 6. 14 – 15 ada tertulis bahwa jika kita mengampuni kesalahan orang, Bapa kita yang di sorga akan mengampuni kita juga, tetapi jika kita tidak mengampuni orang, Bapa kita juga tidak akan mengampuni kesalahan kita.

Bagaimana dengan hal yang pertama, mengenai kehendak Tuhan yang harus terjadi dalam hidup kita? Inilah hal yang paling sulit dilakukan, karena adalah naluri manusia untuk berusaha menentukan apa yang harus terjadi dalam hidupnya. Tidak hanya dalam karir dan keluarga, tetapi juga dalam berbagai segi kehidupan yang lain, manusia berusaha untuk mencari keberhasilan dengan usaha sendiri. Tuhan hanya ditempatkan di latar bekakang saja, dengan tugas merestui apa yang mereka kerjakan. Bagi mereka, mengucapkan doa penyerahan kepada Tuhan tidaklah mudah.

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, itulah suatu bentuk ibadah kepada Tuhan yang mahakuasa. Ibadah yang benar merupakan pengakuan bahwa Ialah Tuhan yang patut dipuja, dan karena itu kehendakNyalah yang harus terjadi dalam hidup kita. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita bisa berserah kepada Bapa yang mahakasih. Sekalipun kita tidak mengucapkan Doa Bapa Kami dengan mulut kita, hati kita harus mengakui kebesaranNya,

Hubungan orangtua dan anak

“Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6: 2 – 4

Dalam dua bulan terakhir ini saya membaca tiga berita menyedihkan tentang adanya seorang anak yang membunuh ibunya di tiga tempat yang berbeda di Australia. Tiga orang yang berlainan yang membenci ibu mereka sedemikian rupa, sampai-sampai tega untuk menghabisi nyawa mereka. Memang, selain masalah kejiwaan ada berbagai sebab bisa membuat seorang anak yang sudah dewasa merasa bahwa ia diperlakukan secara tidak adil oleh orangtua sekalipun sebenarnya tidak demikian. Orang-orang itu mungkin mempersalahkan orangtua mereka karena melahirkan mereka. Ini adalah sebuah dosa bagi umat Kristen.

Walaupun demikian, ada pemikiran filosofi bahwa seorang anak tidak seharusnya dilahirkan menurut kemauan orangtua. Filsuf Théophile de Giraud tercatat sebagai orang pertama di abad 20 yang memperkenalkan faham yang disebut anti-natalisme yang menentang kebebasan orangtua untuk mempunyai anak. Melahirkan anak dianggap sebagai usaha yang menimbulkan siksaan kepada bayi yang harus menjadi dewasa dan menghadapi semua tantangan kehidupan.

Beberapa agama sebenarnya juga mengajarkan anti-natalisme, karena menganggap bahwa kelahiran bayi di dunia adalah awal penderitaan. Tetapi, menurut kepercayaan Kristen kelahiran seorang bayi adalah berkat Tuhan kepada keluarga yang menjalankan perintah-Nya untuk berkembang biak. Kelahiran seorang bayi, seperti penciptaan manusia di taman Eden, dimaksudkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Oleh sebab itu, manusia tidak berhak untuk menghentikan proses kelahiran bayi, sekalipun boleh mengambil keputusan untuk memperoleh keturunan atau tidak, yang disesuaikan dengan kehendak Tuhan.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Dengan kelahiran seorang bayi, hubungan antara suami istri berubah; perhatian yang dulunya hanya berkisar antara dua orang, sekarang menjadi lebih luas karena mencakup anak-anak mereka. Dalam kenyataannya, menjadi orangtua berarti mau berkurban untuk anak-anak mereka, seperti Tuhan Yesus yang berkurban untuk umat manusia. Sebaliknya, anak-anak harus menghormati orangtua sebagai wakil Tuhan yang mengasuh mereka sampai mencapai kedewasaan.

Ayat diatas menggaris-bawahi hubungan antara anak dan orangtua dalam keluarga Kristen yang sering disalah-tafsirkan. Pada masa yang silam, menghormati orangtua sering membuat anak sangat terbebani sehingga keluarga mereka bisa terlantar. Dalam Perjanjian Lama, kata “hormat” dipakai sebagai terjemahan kata Ibrani kabad yang memberi kesan seperti beban berat bagi anak-anak mereka yang harus memberi prioritas utama kepada orangtua. Tetapi dalam Perjanjian Baru, kata Yunani timao dipakai untuk menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Memang orangtua adalah orang yang harus dihargai oleh anak-anak mereka, sekalipun mereka mungkin mempunyai banyak kekurangan.

Ayat diatas juga menunjukkan bahwa hubungan orangtua dan anak-anak mereka adalah kewajiban dua arah. Jika anak harus menghargai orangtua, kita yang berstatus orangtua tidak boleh memakai status itu untuk menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anak kita, agar jangan sampai merasa terlukai, baik secara lahir maupun batin. Sebaliknya, kita harus mendidik anak-anak kita dengan kasih supaya mereka mau menerima ajaran dan nasihat Tuhan dan bisa menjadi orangtua yang baik di masa depan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita akan pentingnya hubungan dalam keluarga. Sebagai manusia, kita bukanlah orang yang sempurna, dan karena itu kita sering membuat kekeliruan dalam membina hubungan dengan orangtua ataupun anak kita. Walaupun demikian, jika kita ingat akan kewajiban kita masing-masing, kasih agape akan bersinar dalam keluarga kita.

Takut akan Tuhan dalam hidup bermasyarakat

“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Amsal 8: 13

Apakah anda takut akan Tuhan? Pertanyaan ini mungkin dijawab oleh orang Kristen dengan kata “ya” dengan penuh keyakinan. Bagaimana tidak? Tuhan kita adalah mahakuasa dan tentunya kita tidak mau membuat dia marah. Sekalipun Tuhan itu mahakasih, kita mengerti bahwa Ia yang mahasuci tidak suka untuk diabaikan oleh manusia. Sekalipun Tuhan itu tidak terlihat mata, kita mengerti bahwa Ia adalah mahatahu.

Dengan memikirkan keyakinan diatas, kita mungkin bisa merasa heran bahwa ada orang-orang Kristen yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena. Berita dalam media memang sering menyebutkan adanya hal-hal yang jahat yang dilakukan mereka yang percaya adanya Tuhan. Bagaimana orang bisa pada satu pihak percaya dan takut akan Tuhan, tetapi pada pihak yang lain mempunyai sikap yang kurang baik terhadap sesamanya?

Kita sebenarnya tidak perlu berpikir jauh-jauh sebab semua orang cenderung mempunyai kelakuan yang sama. Kita pun sering melakukan hal yang serupa! Takut kepada Tuhan seringkali hanya dalam konteks hubungan pribadi secara vertikal dengan Tuhan, tetapi melupakan hubungan horisontal dengan sesama manusia.

Sejarah mencatat bahwa bagaimana misionaris yang pergi mengabarkan injil ke negara lain, menjalankan tugas itu dengan menempatkan diri mereka sebagai penguasa dan memperlakukan penduduk setempat secara kejam dan semena-mena. Mungkin kita berpikir bahwa itu terjadi pada zaman dulu, sewaktu hukum dan etika belum berkembang; tetapi sesungguhnya kita pun bisa melakukan hal yang serupa di zaman modern ini dengan mengabaikan perasaan , penderitaan, kebutuhan dan hak azasi sesama manusia. Keadaan yang lebih buruk malah bisa terjadi jika faktor kedudukan, politik dan uang ikut berbicara.

Ayat diatas memperingatkan apa yang perlu kita sadari dalam hidup kita sebagai orang yang takut akan Tuhan. Bahwa takut kepada Tuhan bukan hanya sekedar konsep untuk mengasihi dan menghormati oknum Tuhan itu saja, tetapi juga mengasihi dan menghormati sesama kita, baik itu orang Kristen maupun bukan Kristen. Kita harus mengasihi semua orang tanpa memandang bulu, dan menghargai orang lain tanpa memandang muka, dan berlaku jujur kepada orang lain. Itu karena takut akan Tuhan berarti membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan dan kebohongan.

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” 1 Yohanes 4: 20

Hal memerangi kesia-siaan

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” Matius 12: 36

Siapa yang tidak suka beromong kosong? Di zaman ini, agaknya semua orang melakukannya. Bukan hanya rakyat jelata yang duduk di warung kopi, atau mereka yang “gaul” dan yang sering pergi ke mal, tetapi juga mereka yang sibuk bekerja. Mereka yang bisa menggunakan berbagai gadget sekarang bahkan bisa beromong kosong melalui media. Agaknya berbincang-bincang tanpa tujuan yang pasti itu memang ciri manusia modern yang mengaku sibuk tetapi masih mempunyai banyak waktu untuk membicarakan hal apa saja.

Seiring dengan kegemaran beromong kosong, orang sekarang agaknya juga ingin untuk hidup rileks, kurang mau bekerja keras, tetapi tetap ingin mencapai hasil yang besar. Mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tentu menyadari bahwa pada zaman ini banyak murid yang pergi ke sekolah atau ke universitas dengan pikiran yang kosong, yang tidak terfokus pada mata pelajaran, sekalipun mempunyai cita-cita besar.

Omong kosong dan pikiran kosong adalah ciri hidup yang kosong. Itu tidak hanya terjadi diantara kaum muda, tetapi juga dialami mereka yang sudah termasuk tua. Apalagi bagi mereka yang sudah tidak mempunyai beban kehidupan, hidup mereka mungkin tidak lagi mempunyai target yang nyata. Hari demi hari dilewati dengan santai, sekalipun terkadang kebosanan datang juga karena hari yang terasa panjang.

Rasa bosan itu sendiri belum tentu dosa. Rasa bosan baru menjadi dosa jika itu menguasai hidup kita sehingga hidup kita tidak bisa menghasilkan apa yang baik. Rasa bosan adalah gejala hidup yang kurang sehat dimana kebahagiaan dan kepuasan tidak ada, atau makin berkurang. Rasa bosan bisa berakibat kesia-siaan dalam perkataan, perbuatan dan hidup sehari-hari. Rasa bosan yang tidak teratasi akan berkembang makin besar karena berkurangnya kebahagiaan seiring dengan bertambahnya kebosanan.

Apakah kebosanan itu ada sejak mulanya? Apakah kebosanan ditanamkan Tuhan dalam diri manusia ketika Ia menciptakan mereka? Rasa bosan sudah pasti tidak dipunyai Tuhan yang mahakasih dan mahasetia. Jika Tuhan bisa merasa bosan, tentu manusia tidak akan dapat melihat kesabaranNya yang ada sampai saat ini. Manusia yang diciptakanNya berbeda dengan Sang Pencipta, dan karena itu dalam keterbatasannya ia bisa merasa bosan dan kesepian. Rasa bosan sering timbul jika manusia hidup jauh dari Tuhan. Jika hubungan dengan Tuhan menjadi renggang, manusia akan kehilangan motivasi hidup karena ia tidak bisa mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dan tidak dapat merasakan kasihNya.

Tuhan menghendaki kita untuk memuliakanNya dan mengasihi sesama kita. Adanya kasih kepada Tuhan dan kepada sesama adalah sesuatu yang membuat hidup manusia mempunyai makna. Memang banyak orang yang mencari makna kehidupan melalui pekerjaan, kemewahan dan kesuksesan; tetapi semua itu adalah sementara saja. Kenikmatan duniawi tidaklah dapat bertahan lama. Usia, penyakit, kegagalan, kerugian dan berbagai persoalan selalu ada dalam hidup manusia. Dan itu bisa membuat hidup manusia menjadi kosong.

Pagi ini tentu hanya anda yang tahu apakah anda merasa bosan; apakah anda merasa adanya kekosongan hidup. Mungkin anda jauh dari keluarga, atau merasa bahwa tidak ada hal apapun yang bisa menggairahkan hidup anda. Anda mungkin merasa bingung, bagaimana hari ini bisa dilalui tanpa kebosanan. Mungkin anda masih bisa merasa beruntung, jika ada orang-orang yang bisa diajak untuk berbincang-bincang tentang apa saja, sekedar omong kosong untuk mengisi waktu. Tetapi ayat diatas dengan tegas berkata bahwa setiap orang yang memakai kata-kata yang kosong dan tidak berarti, haruslah mempertanggung-jawabkannya. Ini bukan berarti bahwa kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara santai, tetapi berarti bahwa dalam apapun yang kita ucapkan dan lakukan dalam hidup ini, haruslah membawa kemuliaan bagi Tuhan dan kebaikan kepada sesama. Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan dan melihat apa yang kita lakukan, dan karena itu kita harus bisa mengisi hidup kita dengan apa yang berguna.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Efesus 4: 17 – 18

Setialah sampai mati

“Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita” 2 Timotius 2: 11 – 12

Sehidup semati. Semboyan yang lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Mereka yang menikah, biasanya berjanji untuk hidup bersama sampai mati, untuk melewati hari baik dan hari buruk, selagi kaya atau miskin, pada saat sehat atau sakit. Tetapi, dalam kenyataan hidup ini banyak orang yang begitu mudah untuk bercerai ketika keadaan rumah tangga mulai berantakan. Apalagi di kalangan orang ternama dan mereka yang mampu, untuk mendapatkan yang terbaik seringkali diartikan membuang yang lama dan membeli yang baru, karena adanya banyak pilihan yang bisa dicoba.

Alkitab menggambarkan hubungan orang Kristen dengan Tuhan adalah seperti hubungan antara suami dan istri. Karena orang Kristen adalah seperti mempelai yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Yesus yang sudah berjanji untuk menyertai kita untuk selamanya, mengharapkan agar kita juga setia kepadaNya dalam setiap keadaan. Sehidup semati.

Janji sehidup semati kepada Tuhan tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Banyak orang yang merasa bahwa adalah tugas pasangannya untuk menjamin kebahagiaannya dalam rumah tangga, dan karena itu siap untuk meninggalkannya jika keadaan tidaklah seperti yang diharapkan. Begitu juga banyak orang Kristen yang mengharapkan hidup yang penuh kemakmuran dan kesuksesan jika mereka mengikut Yesus, kemudian goncang imannya ketika hidup berubah menjadi buruk. Apa gunanya mengikut Tuhan? Bukankah Tuhan sudah berjanji memberi umatNya kebahagiaan dan kelimpahan?

Rasul Paulus yang menulis surat kepada Timotius diatas, adalah orang yang merasakan banyaknya asam-garam kehidupan. Ia pernah menjadi tokoh agama, orang kaya, pandai dan ternama, orang yang kejam terhadap pengikut Kristus. Tetapi, sesudah ia bertobat, Paulus berubah menjadi rasul yang bijaksana, penuh kasih, dan benar-benar taat kepada Kristus dalam setiap keadaan, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kelimpahan atau kekurangan; dan bahkan ketika hidupnya dalam bahaya, ia tetap berharap kepada Tuhan. Ia setia sampai mati.

Paulus dalam 2 Timotius 2: 3 – 6 juga menggambarkan kesetiaan orang Kristen kepada Tuhan sebagai seorang prajurit yang tidak memusingkan persoalan hidupnya, sebagai seorang olahragawan yang mau mengikuti peraturan-peraturan olahraganya, dan sebagai seorang petani yang harus bekerja keras untuk menikmati hasil usahanya. Memikirkan kepentingan Tuhan, menjalani hidup sesuai dengan firmanNya, dan bekerja untuk kemuliaanNya adalah tugas kita.

Hidup sebagai mempelai Kristus memang tidak mudah. Tetapi, kenyataan bahwa Ia sudah mati berkurban untuk kita seharusnya membawa kesadaran bahwa kita yang sudah dipilihnya, adalah makhluk yang sangat berharga. Kesadaran inilah yang membuat Paulus setia dalam imannya, apalagi ia tahu bahwa dalam penderitaan ia bisa menjadi contoh dalam hal kesetiaan yang sejati bagi orang lain. Begitu pula, kesetiaan kita kepada Tuhan dan orang-orang yang kita kasihi bisa membuat orang lain untuk menpunyai kesetiaan seperti kita.

“Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” 2 Timotius 2: 10

Pagi ini, pertanyaannya apakah kita mempunyai kesetiaan seperti rasul Paulus. Sebab kita yang sudah dipilih Tuhan, tentunya sudah berjanji untuk sehidup semati denganNya. Yesus sudah lebih dulu menderita dan bahkan mati untuk kita, karena itu apa arti semua tantangan kehidupan kita jika dibandingkan dengan pengurbananNya?

Api yang memurnikan

“Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.” Maleakhi 3: 3

Emas dan perak adalah dua jenis logam berharga yang dipakai untuk membuat berbagai perhiasan. Logam ini biasanya diperoleh dengan cara menambang dari perut bumi. Data dari tahun 2016 menunjukkan bahwa Australia menghasilkan sekitar 300 ton emas yang menempatkannya dalam posisi kedua sedunia. Sebaliknya, pertambangan di Australia tidak menghasilkan perak dalam jumlah yang besar.

Ketika emas dan perak baru saja diperoleh dari dalam tanah, logam-logam itu tidaklah murni karena adanya kontaminasi zat-zat lain. Batu mengandung logam yang baru ditambang biasanya harus diproses melalui proses pembersihan dan pemurnian yang cukup rumit sehingga logam-logam berharga itu bisa dipisahkan dari yang lain. Dalam hal ini, sejak ratusan tahun sebelum Masehi orang sudah bisa menggunakan api untuk membakar hasil tambang sampai apa yang tidak diingini bisa dihilangkan, dan apa yang tertinggal hanyalah logam yang murni.

Apa yang ditulis oleh nabi Maleakhi diatas adalah suatu nubuat yang menggambarkan bagaimana Tuhan akan mengembalikan orang Lewi kepada keadaan yang seharusnya. Orang suku ini adalah orang pilihan yang bertugas untuk memimpin upacara agama, dan juga mempunyai pengaruh penting dalam bidang politik dan pendidikan. Sayang sekali banyak diantara mereka yang menyalahgunakan kedudukan mereka. Maleakhi menyatakan bahwa Tuhan akan menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan.

Apa yang ditulis dalam kitab Maleakhi diatas bukan hanya berlaku untuk zaman itu. Sebagai orang pilihan Tuhan, seharusnya kita hidup sesuai dengan firmanNya. Tetapi sebaliknya kita tahu bagaimanapun kita berusaha untuk menaati perintah Tuhan, kita justru lebih sering berbuat hal-hal yang tidak baik.

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 18 – 19

Tuhan mempunyai tujuan agar kita, seperti orang Lewi, menjadi orang pilihanNya untuk melakukan tugas-tugas kehidupan untuk melayani Tuhan dan sesama kita. Tetapi, sadar atau tidak, seperti orang Lewi kita juga sering melakukan hal-hal yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan. Selain itu, seringkali kita melakukan hal-hal yang tidak baik, hal-hal yang jahat kepada sesama kita.

Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci jika Ia tidak peduli akan cara hidup orang-orang pilihanNya. Jika Ia memilih kita untuk tugas memuliakan Dia, itulah yang harus terjadi. Karena itulah, Tuhan mempunyai rencana-rencana yang unik untuk setiap umatNya. Seperti yang dikatakan Maleakhi, Tuhan menggunakan api penyucian untuk memurnikan mereka yang dipilihnya, agar mereka perlahan-lahan berubah menjadi logam berharga.

Tuhan menggunakan berbagai hal sebagai api penyucian umatNya. Ada kalanya Ia membuat kegagalan untuk memberi pelajaran bagi manusia. Ia mungkin juga menggunakan rasa sakit, kecewa, takut, dan susah untuk membawa kesadaran bagi kita bahwa ada sesuatu yang tidak baik dalam hidup kita. Itu wajar, karena seperti api yang memurnikan emas dan perak, semua penderitaan itu diizinkan oleh Tuhan untuk membuat kita lebih dekat kepadanya.

Api apapun tentunya terasa panas dan bisa menimbulkan rasa sakit pada tubuh kita. Tuhan yang mahabijaksana tentu tahu akan hal itu. Tetapi kita harus sadar bahwa Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12: 10 – 11).

Tuhan yang bermaksud memurnikan kita dengan api penyucianNya, tidak akan membiarkan kita untuk terbakar musnah. Api penyucian memang menimbulkan rasa sakit, tetapi bukanlah api yang menghanguskan. Segala tantangan hidup yang kita alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan adalah Tuhan yang setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Kita harus percaya bahwa pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan ke luar, sehingga kita dapat menanggungnya (1 Korintus 10: 13).

Dengan api penyucian, Tuhan bermaksud membuat hidup kita di dunia ini untuk menjadi makin baik dan makin berkenan kepadaNya. Itupun juga untuk kebaikan kita, karena semakin serupa kita dengan Dia, semakin mudah bagi kita untuk berbahagia sekalipun situasi dan kondisi disekitar kita terlihat buruk. Tetapi api penyucian tidak membuat kita secara otomatis menjadi umat Tuhan yang menyinarkan cahaya yang gemerlap. Tuhan tidak menciptakan kita sebagai robot yang tidak mempunyai reaksi atau sambutan atas kasihNya. Tuhan memberikan api penyucianNya, tetapi respons kitalah yang membuat kita bersikap acuh tak acuh, berduka atau bergembira dalam hidup kita. Manakah yang kita pilih?

“Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” 1 Petrus 4: 12 – 13

Bila kita berzina secara rohani

“Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.” Keluaran 34: 15

Berzina. Perbuatan yang dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang dimana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanianpun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka.

Perzinaan mungkin sering diartikan sebagai hubungan seksuil antara dua orang yang bukan suami istri, yang dilakukan dengan sengaja atas kehendak orang-orang yang bersangkutan. Perzinaan juga mencakup perselingkuhan yaitu penyelewengan seksuil antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain. Tetapi, dalam Alkitab, Yesus menyatakan bahwa perzinaan tidak hanya menyangkut hubungan badani. Perzinaan bisa terjadi melalui pengelihatan, pendengaran, pikiran, perasaan dan lamunan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Matius 5: 28

Jika dosa perzinaan sering diperbuat manusia karena perbuatannya terhadap orang lain, ayat pembukaan dari Keluaran 34: 15 diatas menyebutkan jenis perzinaan lain, yaitu perbuatan selingkuh rohani yang diperbuat umat Tuhan melalui pemujaan ilah-ilah yang membuat Tuhan cemburu dan marah. Perzinaan rohani, spiritual adultery, semacam itu adalah dosa besar yang menghancurkan hubungan Tuhan dan umatNya. Itulah yang disebut idolatry atau pemujaan ilah, yang bisa berupa pemujaan dewa, arwah, benda mati, hewan atau manusia lain, dan yang dilarang keras oleh Tuhan.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Jika perzinaan yang bisa dilihat orang adalah adalah hal yang mudah dimengerti, perzinaan rohani adalah sumber atau asal dari perzinaan jasamani; dan itu sering diabaikan orang. Pada waktu raja Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan kemudian tergiur, pada waktu itu juga ia sudah melakukan perzinaan rohani. Sayang , raja Daud tidak menyadarinya. Dosa perzinaan rohani sudah dilakukannya sebelum ia melakukan perzinaan jasmani.

Bagi orang Kristen yang berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, perzinaan rohani adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Bukan saja keinginan daging yang ada dalam pikiran, tetapi apapun yang membuat kita mengagumi orang yang bukan pasangan kita, bisa menjadi perzinaan. Curahan hati kepada seorang teman, baik itu pria atau wanita, baik teman nyata maupun teman maya, bisa merendahkan pasangan hidup kita secara rohani.

Perzinaan rohani bukan saja menyangkut kekaguman dan kegairahan hati kepada orang lain, dan bukan hanya apa yang melukai perasaan pasangan hidup kita. Perzinaan rohani bisa berupa rasa ketergantungan kita atas harta, kesuksesan, kesehatan, dan kekaguman atas pengajaran orang yang secara langsung atau tidak, sudah mengecewakan Tuhan dan merendahkan firmanNya.

Pagi ini, kita menyadari bahwa perzinaan adalah dosa yang sering terjadi, sekalipun orang tidak menyadarinya. Karena apa yang dilihat mata bukanlah dosa satu-satunya, tetapi apa yang timbul dalam hati adalah penyebab utama. Perzinaan spiritual adalah satu dosa yang harus selalu kita perangi dan harus juga kita akui dalam permohonan ampun kepada Tuhan yang sering kita lukai perasaanNya. Tuhan yang mahakasih selalu mau mengampuni orang yang sadar akan dosa-dosanya.

Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Mazmur 32: 5

Aku ini manusia berdosa

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15: 18 – 19

Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaanNya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.

Ayat diatas adalah apa yang dipikirkan oleh anak yang hilang dalam perumpamaan itu. Kita bisa membaca kelanjutan kisah itu yang menyatakan besarnya kasih bapa yang kemudian menerima kembalinya si anak yang hilang dengan tangan terbuka. Si bapa yang sudah berharap sejak lama agar anaknya bertobat dan kembali ke jalan yang benar, bisa terlihat dengan jelas sebagai bapa yang penuh kasih, tidak hanya kepada anaknya yang hilang, tetapi juga kepada anaknya yang lain, yang tidak pernah meninggalkan dia. Kasih bapa itu adil dan abadi, dan itu tidak terpengaruh oleh apa yang dilakukan anak-anaknya; ia hanya ingin agar semua anaknya berbahagia.

Satu bahan pemikiran yang juga bisa diperoleh dari ayat diatas adalah bagaimana anak yang hilang itu menempatkan dirinya di hadapan bapanya. Ia menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh dan meminta kemurahan sang bapa untuk menerimanya kembali, bukan sebagai anak, tapi sebagai hamba. Dalam konteks iman Kristen, ini menunjuk kepada kenyataan bahwa kita orang yang berdosa, adalah orang-orang yang tidak layak di hadapan Allah dan sudah kehilangan kemuliaan kita sebagai ciptaanNya. Kita sudah kehilangan hak untuk dipanggil umat Allah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…” Roma 3: 23

Apapun yang akan dan sudah kita lakukan, tidaklah dapat membuat kita kembali menjadi orang yang layak untuk menemui Bapa kita. Karena dosa kita, kita tidak bisa menuntut hak apapun di hadapan Tuhan. Hanya karena kasih karunia Allah (grace), kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Pengakuan sola gratia ini tidak memberi kesempatan bagi kita untuk menyombongkan apa yang bisa kita perbuat dalam hidup kita.

“…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 24

Pagi ini, jika kita pergi ke gereja, itu memang adalah keputusan kita. Tetapi itu karena Tuhan yang sudah memanggil kita. Dengan itu, kita merasa ingin kembali menjumpai Tuhan Bapa kita dan berbakti kepadaNya. Seminggu kita bekerja, dan dalam waktu itu banyak dosa-dosa yang kita perbuat, secara sengaja atau tidak sengaja. Jika dibandingkan dengan standar kesucian Tuhan, hidup kita bisa dipadankan dengan hidup anak yang hilang, yang sudah menyia-nyiakan hidupnya dan mempermalukan bapanya.

Sebagai manusia mungkin kita berusaha untuk melupakan hal-hal yang jahat yang telah kita perbuat. Mungkin kita ingin menebusnya dengan banyak berbuat amal. Mungkin kita berusaha menutupinya dengan usaha untuk mencari hal-hal yang berbau kerohanian. Mungkin kita sudah berusaha untuk mengubah cara hidup kita, supaya bisa dikagumi oleh orang lain. Atau mungkin saja Tuhan sudah memberi kita berbagai karunia rohani yang hebat. Tetapi, semua itu tidak bisa mengubah status kita: kita adalah anak yang hilang, yang sudah tersesat dan kehilangan hak untuk menjadi anakNya. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa menghampiri Tuhan dan meminta pengampunanNya hari demi hari, dan berjanji untuk menjalani hidup kita sesuai dengan firmanNya sebagai pernyataan rasa syukur kita atas kasihNya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9