Pertumbuhan yang membawa kebaikan

“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Lukas 2: 52

Tuhan Yesus datang dari surga sebagai Anak Allah untuk menebus dosa manusia. Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia sepenuhnya, hanya saja Ia tidak berdosa. Sebagai manusia ia dilahirkan sebagai seorang bayi melalui anak dara Maria, dan tumbuh menjadi dewasa. Tidak banyak yang kita ketahui mengenai masa kecil Yesus, selain Ia tentunya ikut bekerja sebagai tukang kayu seperti ayahNya, Yusuf (Markus 6: 3). Yesus sebagai manusia adalah orang biasa yang sederhana, bukan orang kaya ataupun orang yang berkuasa.

Benarkah bahwa Yesus tidaklah berbeda dengan manusia biasa? Banyak orang yang sampai sekarangpun berpendapat bahwa Yesus adalah manusia yang baik dan barangkali guru filsafat yang pandai, tetapi tidak lebih dari itu. Mereka yang bukan umat Kristen tidak dapat menerima pernyataan Alkitab bahwa Yesus adalah Anak Allah. Walaupun demikian, sejarah mencatat bahwa Yesus adalah orang yang paling berpengaruh di dunia dari segala masa.

Selama di dunia, Yesus adalah Tuhan dan juga manusia, tetapi bukannya berganti-ganti diantara kedua eksistensi itu. Sebagai manusia Ia dilahirkan, tumbuh menjadi dewasa dan menjalankan tugas-tugasNya untuk sesama manusia, dan juga untuk kemuliaan Bapa di surga. Tidaklah mengherankan bahwa ayat diatas mencatat bahwa dalam proses pertumbuhanNya sebagai manusia, Yesus bertambah besar dan makin bijaksana, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Bagaimana kita sebagai umat Kristen bisa bertumbuh dan menjadi serupa dengan Yesus? Itulah pertanyaan yang sulit dijawab. Sebab orang bisa tumbuh dengan baik secara jasmani dan menjadi dewasa, tetapi secara rohani pertumbuhannya tidaklah seperti seharusnya.

Banyak orang yang sudah bertahun-tahun mengaku Kristen, tetapi tidak mempunyai kebijaksanaan dan cara hidup yang sesuai dengan firman Tuhan. Mereka lebih sering memperdebatkan hal-hal duniawi seperti hal makanan dan minuman, atau mempersoalkan apa yang baik atau buruk menurut ukuran manusia, dan itu seringkali justru membawa kekacauan dan kebingungan dalam masyarakat. Mungkin karena adanya batu sandungan seperti itulah, orang lain kemudian menjadi ragu untuk mengikut Kristus.

Pagi ini, mungkin kita sudah menjalani hidup kita di dunia ini cukup lama. Kita mungkin sudah tumbuh sepenuhnya secara jasmani tetapi apakah dalam hal rohani kita juga sudah makin dewasa dan makin bijaksana? Jika pertumbuhan itu ada, apakah itu sudah membawa kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dari Roh Kudus demi kebaikan untuk Tuhan dan sesama?

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.” Roma 14: 17 – 18

Hal mendoakan saudara seiman

“….Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.” Kolose 1: 9 – 12

Pernahkah anda mendengar permintaan seseorang agar kita mendoakan mereka? Seringkali permintaan itu hanya sekedar basa-basi, tetapi memang ada orang-orang yang dengan serius ingin agar kita mendoakan mereka yang sedang mengalami masalah.

Adalah suatu kehormatan bagi kita, jika orang memang meminta kita untuk mendoakan mereka. Siapakah kita, sehingga orang memohon agar kita mau berdoa untuk mereka? Mungkin itu karena mereka tahu bahwa Tuhan mendengarkan permohonan setiap umatNya dan mau memberikan apa yang baik, yang sesuai dengan kehendakNya. Atau barangkali mereka percaya bahwa Tuhan yang mahakasih akan mengabulkan setiap permohonan orang yang beriman. Bagi kita yang mendoakan, tentunya kita harus tahu doa bagaimana yang benar.

Mendoakan orang lain tidaklah mudah, karena kita tidak sepenuhnya tahu apa yang dibutuhkan, atau apa yang menjadi pokok masalah mereka. Mungkin saja kita bisa melihat adanya persoalan hidup, kekurangan, atau penyakit yang dialami seseorang, tetapi seringkali hal-hal itu adalah gejala-gejala yang timbul karena adanya masalah yang utama, yang lebih mendasar.

Doa permohonan yang kita sampaikan kepada Tuhan seharusnya tidak bertele-tele, tetapi disampaikan dengan penuh keyakinan bahwa apa yang dibutuhkan sudah didoakan. Dengan demikian, kita tidak boleh lupa bahwa doa kita harus mencakup poin-poin yang paling penting. Paulus dalam ayat-ayat diatas menyatakan doanya untuk jemaat Tuhan di Kolose. Apa saja yang didoakannya?

1. Agar mereka menerima hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.

Bagi umat Kristen, Tuhan adalah mahakuasa, mahatahu dan mahakasih. Karena itu doa siapapun tidak akan bermanfaat jika tidak ada kesadaran bahwa Tuhanlah yang tahu apa yang paling baik untuk kita. Doa kita bukanlah suatu usaha untuk memaksakan kehendak kita diatas kehendak Tuhan. Sayang sekali banyak orang Kristen yang justru yakin bahwa dengan banyaknya doa dan kata, Tuhan mau merubah kehendakNya agar sesuai dengan apa yang mereka minta. Dengan demikian kita seharusnya memohon kepada Tuhan agar mereka bisa mendapat hikmat dan pengertian yang benar tentang kehendak Tuhan.

2. Agar mereka berbuah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.

Banyak ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi semua orang, tetapi Ia lebih mengasihi mereka yang taat kepadaNya dan hidup menurut firmanNya. Dengan demikian, doa yang efektif selalu berharap agar mereka yang didoakan adalah orang-orang yang bisa selalu berjalan di jalan yang benar. Oleh karena itu,  jika kita memohon agar Tuhan mau melimpahkan kasihNya kepada seseorang, kita tidak boleh lupa untuk berdoa agar orang itu benar-benar kenal dan percaya kepada Tuhan, serta menurut firmanNya dalam hidup mereka.

3. Agar mereka dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.

Kita berdoa, tetapi apa yang akan dilakukan Tuhan tidaklah ada yang tahu. Walaupun demikian, umat Kristen harus percaya bahwa dalam segala sesuatu Tuhan bekerja untuk kebaikan mereka yang percaya kepadaNya. Ini tidaklah mudah dilakukan. Seringkali, dalam menanggung penderitaan dan menghadapi persoalan, kita merasa bahwa semua itu adalah terlalu berat atau terlalu lama untuk kita. Karena itu dalam berdoa untuk orang lain, kita harus ingat bahwa mereka mungkin merasakan hal yang serupa. Biarlah kita berdoa agar mereka dikuatkan Tuhan dan  mempunyai ketekunan dan kesabaran.

4. Agar mereka bisa mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa.

Memang dalam dunia ini, semua orang tidak terluput dari berbagai persoalan, derita dan masalah. Tetapi, doa yang disertai rasa cukup akan memberi keuntungan besar bagi mereka yang mengenal Tuhan. Mereka yang berkelimpahan belum tentu bisa merasa kecukupan dan kebahagiaan, tetapi mereka yang merasakan kasih Tuhan akan dapat hidup dalam rasa syukur dan sukacita. Dengan demikian, kita boleh tetap berdoa untuk apa  yang mereka butuhkan, tetapi kita harus juga berdoa agar mereka sadar bahwa itu adalah kurang penting jika dibandingkan dengan adanya rasa cukup dalam Tuhan.

Pagi ini, jika kita berdoa untuk orang lain, biarlah kita bisa meresapi arti dan tujuan doa Paulus untuk jemaat di Kolose. Doa yang baik tidak selalu menghasilkan jawaban yang sesuai dengan pengharapan kita, tetapi selalu membuat kita makin mengenal Dia yang mahakuasa, mahatahu dan mahakasih, dan makin bisa berserah kepadaNya!

Adakah yang mengerti perasaanku?

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” Mazmur 62: 8

Manusia adalah makhluk sosial dan karena itu membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Mereka yang mempunyai keluarga dan yang masih aktif berkarya tentunya bisa mempunyai banyak kesempatan untuk menjumpai orang lain dan berkomunikasi muka dengan muka. Tetapi, banyak orang yang tidak mempunyai kesempatan yang serupa; mereka yang hidup jauh dari keluarga, mereka yang hidup sendirian, ataupun mereka yang terkucil dari masyarakat, sering merasakan sepinya hidup.

Memang di zaman ini, orang dapat menggunakan berbagai teknologi untuk berhubungan dengan sesama atau untuk melihat kehidupan masyarakat di sekelilingnya. Jika pada abad yang silam kita hanya bisa menulis surat dan mengirim telegram untuk menghubungi teman atau kerabat di tempat yang jauh, dan bisa memakai koran, radio dan kemudian TV untuk mengetahui keadaan dunia, sekarang kita bisa dengan sangat mudah melakukan hal yang serupa melalui internet, handphone atau komputer, jika ada fasilitas untuk itu.

Walaupun demikian, semua bentuk komunikasi dipengaruhi oleh iktikad dan sifat manusia yang melakukannya. Tidak dapat dipungkiri, dengan kemajuan teknologi kita sering merasakan hilangnya kehangatan, keakraban dan keramahan dalam hubungan antar manusia. Semakin jarangnya hubungan muka dengan muka, membuat berkurangnya hubungan dari hati ke hati; baik di rumah, di sekolah ataupun di kantor. Hubungan antara suami dan istri, orang tua dan anak, ataupun antar kolega seringkali hanya terjadi kalau terpaksa, atau jika ada keuntungan pribadi yang bisa diperoleh. Manusia menjadi makin individualis dan egois dalam hidup sehari-hari.

Dalam hati, sebenarnya banyak orang yang menjerit minta tolong karena kesepian hidup mereka. Karena walaupun ada hingar-bingar disekitar mereka, tidak ada seorang pun yang bisa diajak untuk mendengarkan curahan hati. Hari demi hari mungkin harus dilewati seorang diri tanpa ada orang yang bisa mendengarkan keluh kesah mereka, apalagi untuk menolong. Karena itulah, banyak peristiwa dalam rumah tangga dan kehidupan seseorang kemudian berakhir dengan hal yang memalukan atau menyedihkan. Nasi mungkin sudah menjadi bubur.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, barangkali ada harapan bahwa dalam kesepian dan kesulitan, Tuhan masih bisa menyelami perasaan mereka dan memberi pertolongan pada waktunya. Tetapi, Tuhan yang diharapkan seringkali terasa jauh dan tidak peka akan kesulitan hidup manusia. Memang, jika Allah hanya duduk di singgasanaNya dan menonton kehidupan manusia, siapakah yang bisa yakin bahwa Ia sepenuhnya mengerti penderitaan kita? Untunglah bahwa Allah pernah datang ke dunia sebagai manusia dan bahkan mengalami penderitaan yang luar biasa. Yesus yang akhirnya mati di kayu salib, tidak hanya menunjukkan kasih Allah; Ia juga memberi keyakinan kepada kita bahwa Ia dapat merasakan penderitaan dan kesepian kita.

Pagi ini, jika kita merasakan adanya penderitaan dan kesepian dalam hidup, jika kita merasa tidak ada seorangpun yang mengerti dan bisa menolong kita, biarlah kita ingat bahwa Allah adalah tempat perlindungan kita. Melalui pengurbanan Yesus kita boleh menyebut Bapa kepada Allah. Dan sebagai Bapa yang baik, Ia tidak pernah meninggalkan anak-anakNya yang berada dalam kesulitan. Karena itu, kita boleh percaya bahwa Allah ikut bekerja dalam segala apa yang kita alami untuk memberi apa yang terbaik untuk kita.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Hanya Tuhan yang tahu

“Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.” Ulangan 18: 14

Suatu kelebihan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi derajatnya di bumi ini adalah rasa ingin tahu akan segala sesuatu: ingin tahu akan asal usul, pelaku, alasan, akibat, tujuan dan guna dari segala yang ada di bumi. Makhluk lain mungkin ada yang memiliki rasa ingin tahu, tetapi itu hanya sangat terbatas dan tidak muncul pada setiap saat. Manusia memang menggunakan sifat ingin tahu, curiosity, itu sehingga ilmu pengetahuan, budaya dan juga agama bisa berkembang.

Dari satu segi, rasa ingin tahu itu memang baik. Walaupun begitu, rasa ingin tahu yang berlebihan bisa saja membawa masalah. Mereka yang “kepo” misalnya, mungkin dianggap orang yang sok tahu, usil dan ingin mencampuri urusan orang lain. Orang yang demikian seringkali mengundang kesulitan kepada dirinya sendiri. Tidak hanya kemarahan orang bisa timbul bagi mereka yang usil, hal-hal yang lebih buruk bisa terjadi pada mereka yang secara sengaja atau tidak, menemukan rahasia orang lain. Curiosity killed the cat, tulis Shakespeare.

Rasa ingin tahu tidak terbatas pada hal-hal yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Manusia dari awalnya ingin tahu bagaimana segala sesuatu di bumi ini bisa muncul. Siapa yang bisa menciptakan segala sesuatu yang bernafas dan yang mati? Dalam hal ini umat Kristen percaya bahwa hanya karena kemurahan Tuhan, manusia bisa mempunyai kesadaran tentang adanya Tuhan semesta alam, pertama-tama melalui segala ciptaanNya, kemudian melalui firmanNya, dan yang paling nyata adalah dalam diri Yesus, Firman yang hidup.

Pengenalan akan adanya Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu tidaklah menghentikan usaha manusia untuk mencari jawaban akan apa yang akan terjadi di masa depan. Sejarah membuktikan dimana saja ada orang-orang yang dikenal sebagai manusia istimewa, yang bisa melihat ke masa depan. Sebagian dari ramalan mereka, seperti apa yang ditulis Jayabaya dan Nostradamus, masih sering menjadi topik diskusi masyarakat tertentu.

Sampai sekarang tentu kita bisa menemukan orang-orang yang mengaku bisa melihat jalan kehidupan manusia, meramalkan masa depan seseorang, atau meramalkan apa yang bakal terjadi di dunia. Mereka bisa melakukan hal itu dengan memakai kartu, membaca garis tangan, melalui ritual tertentu, atau menafsirkan mimpi dan semacamnya.

Dalam Alkitab memang Tuhan pernah menyatakan apa yang akan terjadi kepada orang-orang tertentu, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi Alkitab juga menulis adanya orang-orang yang disesatkan oleh iblis yang bekerja melalui berbagai cara. Apa yang pasti adalah Tuhan menyatakan kehendakNya sesuai dengan cara dan pada saat yang ditentukanNya, bukan untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia pada saat dan melalui cara yang mereka sukai. Pada pihak yang lain, manusia dari awalnya selalu ingin tahu apa yang akan terjadi dan karena itu iblis seringkali menggunakan kesempatan untuk menyesatkan melalui cara-cara yang dipilih manusia.

Ayat diatas adalah peringatan Musa kepada bani Israel untuk tidak mencari nasihat dari para peramal dan petenung, karena perbuatan itu tidak hanya merendahkan Tuhan yang mahakuasa dan mahatahu, tetapi juga membuka kesempatan bagi iblis untuk menyesatkan umatNya. Pada masa sekarang peramal dan petenung masih bisa ditemui. Bagi mereka yang merasa berpikiran “maju”, mungkin sudah ada rasa segan atau malu untuk mempercayai ramalan mereka. Tetapi, apa yang dianggap tetap aktuil dalam masyarakat saat ini adalah ramalan masa depan berdasarkan kartu tarrot, garis tangan, zodiak, shio, impian dan pengelihatan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi, karena segala sesuatu yang terjadi harus sesuai dengan kehendak atau izin Tuhan. Usaha manusia untuk meramalkan masa depan tidak lain adalah perbuatan sia-sia yang merendahkan Tuhan. Usaha merampas kemahakuasaan Tuhan. Bagi umat Tuhan yang sejati, masa depan mereka berada dalam tangan kasihNya; karena itu, mereka seharusnya tidak memusatkan perhatian kepada apa yang fana, tetapi kepada apa yang kekal yaitu firmanNya.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Yakobus 4: 13 – 14

Iman yang memindahkan gunung

“Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” Matius 17: 20

Sebuah survei acak yang dilakukan oleh by Win-Gallup International pada tahun 2012 menemukan 48% penduduk Australia mengaku tidak mempunyai agama; 37% beragama; dan 10% yakin bahwa mereka ateis. Sebelum itu, dari penyelidikan Pippa Norris and Ronald Inglehart (2004) diperkirakan 25% penduduk Australia tidak mengenal adanya konsep tuhan. Pada pihak yang lain, sensus nasional tahun 2016 menemukan bahwa kira-kira 30% penduduk Australia (atau sekitar 7 juta orang) mengaku tidak beragama, dan 52% dari penduduknya mengikuti berbagai ragam ajaran kekristenan.

Bagaimanapun juga, Australia pada saat ini tidak dapat digolongkan sebagai negara Kristen ataupun negara yang beragama. Memang di dunia, Australia menempati kedudukan nomer 14 dari bawah untuk keagamaan dan urutan 11 dari atas untuk ateisme. Australia adalah negara sekuler. Seiring dengan keadaan itu, Australia mengalami banyak masalah sosial dengan tingginya angka perceraian, angka bunuh diri kaum muda, pemakaian narkoba dan kebebasan seks.

Jika kita membaca ayat diatas, mungkin dapat kita bayangkan bahwa Yesus akan mengatakan hal yang serupa kepada penduduk Australia yang nampaknya kurang berhasil mengatasi berbagai masalah sosial itu. Sudah tentu Yesus menggunakan kata “gunung” sebagai metafor untuk menyatakan masalah hidup yang besar. Yesus menyatakan kepada kita bahwa banyak persoalan hidup kita disebabkan oleh iman yang sangat lemah. Jika kita mempunyai iman yang sekecil biji sesawi (sebagai metafor), tentu kita akan dapat mengatasi masalah. Pesan inilah yang sering disampaikan di gereja.

Iman yang lemah, iman yang terlalu kecil, adalah iman yang tidak bekerja. Itu adalah apa yang sering dikatakan orang jika apa yang diharapkan orang lain tidak kunjung terjadi. Bagi mereka yang mengharapkan pertolongan Tuhan, “vonis” ini bukannya memperbaiki suasana, tetapi malahan bisa menambah duka. Karena mungkin beribu doa dalam nama Yesus sudah disampaikan, tetapi apa yang diminta tidak terjadi. Mungkin dalam hal ini, orang lupa bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih bisa mempunyai rencana yang berbeda dengan harapan manusia. Selain itu, orang lupa bahwa iman bukanlah hasil usaha sendiri, tetapi adalah pemberian Tuhan. Karena itu iman harus dipakai sejalan dengan kehendakNya.

Tuhan sudah memberikan iman sebagai karunia bagi umatNya, sehingga mereka mau meninggalkan hidup lama dan menyerahkan hidup kepada Tuhan. Tuhan jugalah yang menambahkan iman dan membimbing hidup orang Kristen untuk bisa hidup sesuai dengan perintahNya. Dalam hal ini, bukanlah ukuran iman yang penting, tetapi bagaimana kita mau untuk memakai iman yang ada guna menjalani hidup kita hari demi hari. Dengan itu, keyakinan kita akan bertambah hari lepas hari, bahwa Tuhan adalah mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana.

Dalam hidup ini memang kita harus menghadapi berbagai gunung rintangan dan masalah. Tuhan bisa memindahkan gunung rintangan itu ketempat lain, tetapi Ia seringkali memberi kita iman untuk kuat mendakinya. Memang jika kita berhasil mencapai puncak gunung, gunung yang sebelumnya kita hadapi menjadi lenyap.

Pagi ini, apa yang harus kita lakukan adalah mempercayakan semua tantangan hidup kita kedalam tangan pemeliharaan Tuhan dan memohon agar Ia tetap menambahkan iman kita sehingga makin lama kita makin mampu menghadapi hidup ini dengan penyerahan total kepada kuasa dan kasihNya. Total surrender.

Berserah kepada Yesus,

tubuh, roh, dan jiwaku.

Aku ingin s’lalu hidup,

bagi Yesus Tuhanku.

Aku berserah,

aku berserah,

pada Yesus, Jurus’lamat,

aku berserah.

Kebahagiaan adalah karunia dan kewajiban

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Filipi 4: 4

Be happy! Bergembiralah! Begitulah anjuran banyak motivator kepada mereka yang merasa susah atau tertekan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah hak semua orang, dan karena itu setiap orang seharusnya mencari dan bahkan berusaha keras untuk memperolehnya. Mereka yang tidak mau mencarinya akan mengalami kerugian karena setiap orang berhak untuk bahagia. Betulkah begitu?

Menurut banyak ahli sosial, kebahagiaan manusia bukanlah hak ataupun berkat. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat kita tuntut ataupun sesuatu yang harus kita syukuri. Tetapi, kebahagiaan adalah pilihan setiap orang atau choice. Kebahagiaan ada tersedia bagi seluruh umat manusia, tetapi orang harus memilihnya untuk bisa berbahagia.

Konsep kebahagiaan menurut Alkitab lain dengan konsep duniawi diatas. Kebahagiaan duniawi, happiness, adalah menyangkut soal happy, yaitu kebahagiaan karena kebutuhan manusiawi kita sudah terpenuhi. Sebaliknya, kebahagiaan surgawi adalah kebahagiaan kekal yang tidak tergantung situasi dan kondisi. Dalam bahasa Inggris mungkin kata joy, lebih cocok dari pada kata happy. Sehubungan dengan kata joy atau sukacita itu, ada kata joyful untuk menyatakan rasa sukacita besar yang datangnya dari hati.

Dari mana datangnya rasa sukacita? Menurut Alkitab, sukacita yang sejati datang dari Tuhan. Manusia dengan keterbatasannya hanya bisa mendapat kebahagiaan yang datang dari apa yang bisa dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Tetapi rasa sukacita datang melalui iman kepada Tuhan, karena dengan iman manusia percaya bahwa Tuhan yang mahakasih selalu menyertainya. Lebih dari itu, sebagai orang Kristen kita sudah menerima keselamatan melalui pengurbanan Yesus di kayu salib.

Rasa sukacita adalah karunia Tuhan, karena tanpa Dia, apa yang kita rasakan sebagai kebahagiaan hari ini, mungkin tidak dapat membuat kita bahagia esok hari. Tidak ada yang kekal di muka bumi! Tetapi, Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang menghendaki kita mempunyai rasa sukacita, karena itu Ia memberi kita keyakinan akan penyertaanNya pada setiap saat. Rasa sukacita sejati yang hanya diberikanNya kepada orang yang percaya.

Tuhan juga memerintahkan umatNya untuk bersukacita dalam setiap keadaan. Ini tidak mudah karena iman kita selalu diuji pada saat penderitaan terjadi dalam hidup kita. Paulus dalam hal ini adalah seorang Rasul yang sudah belajar untuk mencukupkan diri dalam setiap keadaan dan untuk tetap bisa bersukacita, rejoicing, setiap saat. Ia tahu bahwa jika ia bisa tetap bersukacita dalam segala keadaan itu karena adanya kekuatan dari Tuhan. Dengan demikian, nama Tuhanlah yang akan dipermuliakan dalam sukacitanya.

Pagi ini, apakah anda mengalami masalah yang besar? Apakah anda merasakan sulitnya untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup? Firman Tuhan berkata bahwa kita seharusnya bersukacita karena keselamatan yang sudah kita terima. Kita juga bersukacita karena iman yang membawa keyakinan bahwa Tuhan menyertai kita sampai akhir zaman. Lebih dari itu kita bisa bersyukur karena apa yang tersedia di surga untuk kita, tidaklah dapat dibandingkan dengan apa yang ada saat ini.

Bagaimana reaksi anda atas perintah Tuhan untuk bersukacita senantiasa? Itu adalah pilihan anda, menurut atau tidak adalah keputusan masing-masing. Biarlah Roh Kudus yang membuka hati kita dan mengingatkan kita kepada kemurahan Tuhan dalam hidup kita.

Biarlah nama Tuhan yang dipuji

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3: 30

Di zaman modern ini orang bisa berkomunikasi dengan berbagai cara. Kebanyakan apa yang sekarang dipakai adalah media elektronik dan aplikasi internet, seperti handphone, Whatsapp, Twitter, email, Instagram dsb. Lebih dari itu, mereka yang ingin lebih menjangkau masyarakat bisa menggunakan kamera untuk membuat Vlog (video blog) dan menerbitkannya di Youtube.

Fenomena pemakaian internet untuk mencapai audiens di seluruh penjuru dunia memang luar biasa. Melalui berbagai aplikasi internet, orang bisa menyampaikan pesan-pesan baik melalui gambar, suara atau tulisan. Melalui sosial media, orang juga bisa menyebarkan berita aktuil, berita bohong, gosip dan kabar pribadi. Karena popularitas sosial media, orang juga bisa memperoleh kemasyhuran melalui kisah hidup dan foto pribadinya dalam bentuk foto narsisis, selfie atau swafoto yaitu jenis foto potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital. Istilah narsis yang sebenarnya jelek artinya, sekarang dianggap lumrah dan bahkan “cool” untuk mereka yang mau dikagumi orang. Tetapi, jika kita tidak berhati-hati, kita akan jatuh kedalam dosa penyembahan manusia sebagai ilah.

Ayat diatas diambil dari Injil Yohanes yang menceritakan kisah Yohanes Pembaptis. Pada waktu itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Yohanes pun membaptis juga di daerah itu sebab di situ banyak air, dan orang-orang juga datang kesitu untuk dibaptis. Pengikut Yohanes yang pada mulanya banyak, kemudian berkurang jumlahnya karena sebagian kemudian pindah untuk mengikut Yesus. Atas kejadian itu, Yohanes berkata bahwa itu tidaklah menjadi soal karena Yesus adalah Anak Allah. Yohanes berkata bahwa Yesus , Anak Allah, sudah sepatutnya mendapat perhatian dan penghormatan dari manusia.

Jika Yohanes menyadari siapa Yesus itu dan tidak berusaha menjadi lebih besar atau lebih masyhur dariNya, banyak orang yang dengan sadar atau tidak, menikmati kemasyhuran mereka. Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang justru berusaha menarik perhatian publik dan bangga atas banyaknya pengikut (follower) dari blog mereka, atau mendambakan kemasyhuran dari apa yang mereka kerjakan, karena kemasyhuran sering identik dengan pemasukan uang.

Di kalangan gereja pun, ada banyak pendeta dan penginjil yang karena saking masyhurnya, seolah mereka lebih ternama dari Yesus. Memang ada orang-orang yang karena apa yang pernah diperbuat mereka, menjadi selebriti yang setiap kali muncul akan mendapat jutaan tanda suka atau “like“. Mereka itu secara tidak sadar sudah bersaing dengan Yesus, karena segala kemuliaan yang mereka peroleh hanyalah untuk kepentingan diri sendiri.

Hari ini hari Minggu dan mungkin anda sudah atau akan pergi ke gereja. Gereja manapun yang anda tuju, tidaklah menjadi masalah. Tetapi anda harus yakin bahwa apa yang dipraktikkan di gereja anda adalah seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis, yaitu untuk memuliakan Tuhan sepenuhnya. Gereja yang nampaknya hebat dan meriah, belum tentu adalah pendukung Kristus karena mereka justru ingin lebih dikenal daripada Yesus dan firmanNya. Pendeta atau pimpinan gereja yang menyampaikan khotbah, mungkin saja tidak sadar bahwa kekaguman jemaat atas diri mereka adalah lebih dipentingkan dari kekaguman kepada Kristus.

Sebagai umat percaya, biarlah kita sadar bahwa Tuhan yang mahabesar tidak bisa disaingi. Marilah kita menjalani hidup kita ini dengan kerendahhatian, agar nama Tuhan semakin dipermuliakan. Lebih dari itu, biarlah kita menyandarkan iman kita kepada Kristus dan bukannya kepada orang-orang ternama.

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” Yohanes 3: 36

Perlunya proses untuk mencapai kesempurnaan

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Adakah orang yang sempurna di dunia ini? Kebanyakan orang berpendapat bahwa tidak ada orang pun yang sempurna, sekalipun mereka belum tentu percaya bahwa semua orang berdosa. Walaupun begitu, ada orang-orang yang mengajarkan bahwa kesempurnaan dapat dicapai manusia dengan melakukan hal-hal tertentu. Selain itu, ada yang percaya bahwa orang-orang tertentu adalah penjelmaan dewa-dewa, dan karena itu mereka adalah manusia yang sempurna.

Bagi umat Kristen, semua orang sudah berbuat dosa dan karena itu tidak ada yang sempurna. Hanya Tuhan yang sempurna, dan Ia pernah turun ke dunia dalam bentuk Yesus, manusia yang tidak berdosa.

Jika ayat diatas menuliskan firman Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Allah Bapa, tentu saja ini bisa menimbulkan tanda tanya. Siapakah yang bisa menjadi manusia yang sempurna?

Sudah tentu ajakan Yesus untuk umatNya bukanlah ajakan agar kita berusaha untuk menjadi manusia yang suci. Kesempurnaan hanya terjadi jika Tuhan menyambut umatNya di surga. Selama di bumi, kita berusaha untuk menjadi umat Tuhan yang baik; dan pengampunan dosa ada melalui darah Kristus, tetapi itu tidak akan membuat kita menjadi orang yang sempurna. Lalu bagaimana kita bisa melaksanakan perintah Yesus itu?

Banyak orang Kristen yang yakin bahwa menjadi umat Tuhan cukup dengan iman. Mereka dengan mulut mengaku percaya, tetapi dalam hidup tetap menjalankan kebiasaan lama. Dengan demikian perlu dipertanyakan apakah tujuan mereka untuk menjadi umat Tuhan, jika tidak untuk hidup dalam kasih sesuai dengan perintah Tuhan dan untuk memuliakanNya?

Dalam hidup ini, seharusnya setiap orang mempunyai tujuan dan mau bekerja untuk mencapainya. Lebih dari itu, orang juga mengharapkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan cara hidupnya. Memang ada tiga hal yang penting dalam hidup: tujuan, cara dan hasil. Jika kita mau menjadi umat Tuhan, kita harus mempunyai tujuan hidup yang benar, cara hidup yang benar dan dengan demikian berharap untuk mendapatkan hasil yang baik.

Dalam perspektif Alkitab, tujuan hidup yang utama berdasarkan ayat diatas adalah untuk menjadi seperti Yesus. Dengan tujuan ini, kita bisa memilih apa yang perlu dilakukan dan cara hidup yang harus dijalani. Ayat ini tidak menyatakan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan agar dapat mencapai keselamatan. Kita tahu bahwa keselamatan adalah karunia Tuhan. Tetapi Yesus dengan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya dalam Matius 5 menetapkan tujuan hidup yang seharusnya dilaksanakan setiap orang Kristen, agar mereka menjadi manusia dewasa yang hidup dalam kasih seperti Tuhan mengasihi kita. Ada tujuan, ada pelaksanaan, ada hasil. Aim, process and product.

Tuhan Yesus menyuruh kita untuk menjadi sama seperti Tuhan yang mengasihi manusia. Bagaimana pula kita bisa melaksanakan perintah ini dalam keterbatasan kita? Tidakkah tujuan adalah terlalu sulit untuk dilaksanakan guna mencapai hasil yang diharapkan?

Tuhan Yesus dengan ayat ini bermaksud menetapkan tujuan hidup umat Tuhan. Tujuan ini memang terlalu berat dan tidak mungkin dicapai dengan kekuatan manusia sendiri. Kita harus berusaha tetapi Tuhan yang pada akhirnya akan menyempurnakan hasil perjuangan hidup kita.

Pagi ini marilah kita memikirkan hidup kita saat ini. Apakah yang menjadi tujuan hidup kita? Sudahkah kita hidup sesuai dengan tujuan kita? Maukah kita meminta pertolongan Tuhan agar kita bisa hidup sesuai dengan perintahNya? Sadarkah kita akan perlunya proses kedewasaan dalam iman kita sehingga makin hari kita makin serupa denganNya? Adakah kemauan kita untuk hidup dalam kasih agar nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Jangan menyembah allah lain

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Jika kita membaca berita di berbagai media, seringkali kita temui berita yang menyedihkan tentang akibat kecemburuan. Rasa cemburu seseorang berasal dari rasa iri karena merasa kurang atau tidak mendapat apa yang seharusnya. Orang mungkin cemburu kepada pasangannya karena soal cinta, tetapi orang juga bisa iri karena harta ataupun nama. Iri hati, secara umum seringkali bertalian dengan adanya rasa takut, kekuatiran, kekecewaan, kepentingan diri sendiri, kesombongan atau kebencian. Iri hati dengan demikian seringkali adalah dosa, dan karena itu cemburu juga begitu. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa akibat kecemburuan seringkali menyedihkan. Dosa memang selalu membawa bencana.

Jika rasa cemburu manusia seringkali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dari manusia. Ia tidak mengijinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau apapun yang juga diciptakanNya. Penyembahan yang dilakukan manusia yang tidak untuk Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuanNya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuanNya ingin agar manusia hidup bahagia dengan ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak kedalam penderitaan karena memilih ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia kearah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam hidup sehari-hari, manusia mudah terperosok kedalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “hero” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan pengalaman dan kisah hidup mereka yang hebat, dan menganggap prestasi yang mereka capai sebagai sesuatu yang terbaik dan diatas yang segalanya. Dalam hal ini, Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan mereka yang ditinggikan oleh manusia.

Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gereja. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat perhatian. Mereka yang ke gereja karena liturgi, musik atau acara, tidak lagi menyembah Tuhan. Selain itu, banyak jemaat gereja yang secara langsung maupun tidak langsung meninggikan status kesuksesan hidup sebagai bukti iman. Banyak juga pendeta yang memakai pengalaman pribadi sebagai bumbu firman Tuhan, dan yang percaya bahwa pengalaman manusia adalah setara dengan Alkitab. Tambahan pula, ada orang-orang Kristen yang merasa bahwa ritual, bahasa dan etnis tertentu adalah apa yang dipilih Tuhan, dan karena itu ingin untuk meninggikannya.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak diatas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki dalam keluarga, kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan jika kita tunduk menyerah kepada keadaan dan keputusan dalam keluarga yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itupun merendahkan Tuhan.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucianNya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikanNya, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran. Hukum yang pertama adalah hukum yang terpenting untuk dilaksanakan manusia karena itu merupakan tali kehidupan yang menjamin kesejahteraan umatNya di bumi dan di surga.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Bersukacitalah senantiasa!

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” Habakuk 3: 17 – 19

Kebahagiaan adalah sesuatu yang sebenarnya diingini semua orang. Tetapi, kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit didapat. Seorang anak kecil jika ditanya tentang apa yang dicita-citakannya mungkin menjawab dengan salah satu pilihan diantara profesi yang membawa kekayaan, kepandaian dan kemasyhuran. Dengan kesuksesan dalam hidup, banyak orang mengharapkan adanya kepuasan dan kebahagiaan. Dengan mengukur kesuksesan hidup, orang sering menilai kebahagiaan orang lain. Tetapi semua itu adalah semu.

Sekalipun sulit untuk memperolehnya, adalah kekeliruan besar jika manusia tidak mau berbuat sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya, tetapi memerlukan keputusan pribadi. Kebahagiaan tidak datang dari luar, tetapi dari dalam diri sendiri. Dari hati, bukan dari mata. Karena mata sering melihat segala apa yang berkilau dan mengira bahwa semuanya adalah emas permata, tetapi pada akhirnya hanya kehampaan yang ditemui. Karena mata juga sering melihat adanya penderitaan, kekurangan, kesepian, kekecewaan, kegagalan dan ketakutan; dan semuanya membuat hidup ini terasa sangat berat. Tetapi hati bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia: Tuhan.

Hati yang berduka adalah penyebab hilangnya kebahagiaan dalam hidup. Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, hati yang kosong membuat usaha mencari kebahagiaan menjadi sia-sia. Jika Tuhan tidak ada dan manusia tidak dapat dipercaya, siapa lagi yang bisa diharapkan? Bagi mereka yang tahu adanya Tuhan tetapi tidak mengenalNya, bagaimana mereka bisa mengutarakan keluh kesah yang ada? Apakah Tuhan benar-benar mengasihi mereka? Akankah Dia akan berbuat sesuatu untuk mereka?

Nabi Habakuk dalam ayat diatas melukiskan pergumulan dalam hidup orang Israel. Mata Habakuk melihat bagaimana orang Israel harus berjuang dalam hidup untuk mencukupi kehidupan dan untuk tetap survive dalam suasana yang berbahaya. Bangsa Israel pada waktu itu (sekitar abad VII sebelum Masehi) berada dalam ancaman bangsa-bangsa lain dan hidup dalam kekurangan. Tetapi Habakuk mempunyai keyakinan bahwa kebahagiaan masih bisa diperoleh melalui iman kepada Tuhan. Happiness is the Lord. Tuhan adalah sumber kebahagiaan (baca Mazmur 37).

Dimanakah engkau, Tuhan? Aku mencari dan tidak melihatNya, aku menjerit tetapi Ia tidak menjawab! Itulah apa yang sering dikeluhkan manusia yang tahu bahwa Tuhan ada, tetapi tidak menemukanNya. Habakuk bukannya tidak pernah mempunyai perasaan yang serupa. Ia juga bergumul untuk dapat mengerti jalan pikiran Tuhan ketika ia dengan mata, melihat penderitaan disekelilingnya. Tetapi dengan hati Habakuk mendapat keyakinan bahwa ia bisa mendapat ketenteraman melalui iman kepada Tuhan. Tuhan ada, dan apa yang harus dilakukannya hanyalah percaya kepada kasih dan kuasaNya. Kebahagiaan datang dari Tuhan, yang tidak membiarkan Habakuk jatuh terpeleset dari bukit penderitaan hidupnya.

Pagi ini, mungkin dengan mata kita bisa melihat bahwa keadaan disekeliling kita tidaklah bisa memberi harapan. Kesedihan, kekecewaan dan ketakutan mungkin membuat hidup kita sangat tertekan. Tetapi, karena Tuhan sudah memberi kita iman dalam hati kita, kita bisa menghadapi semua tantangan itu dengan memusatkan perhatian kita tidak dengan mata, tetapi dengan hati. Tuhan sudah menyertai kita dalam keadaan apapun, dari dulu dan sampai sekarang. Ia juga yang tahu segala kebutuhan kita, baik dalam segi jasmani maupun rohani. Karena itu, seperti yang ditulis oleh rasul Paulus dalam Roma 8: 35, siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus di masa mendatang? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Jangan melihat ke hari depan dengan mata saja, karena dengan hati yang beriman kita bisa mendapatkan rasa sukacita yang sejati.

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Filipi 4: 4