“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan” Yesaya 46: 9 – 10
Jika kita membaca berita dalam surat kabar atau dari media eletronik, pastilah kita bisa melihat bahwa setiap hari selalu ada saja kabar buruk yang terjadi di dunia. Tidak hanya berita tentang adanya kekacauan di bidang sosial, ekonomi dan politik di berbagai tempat, tetapi juga adanya penderitaan yang dialami manusia karena adanya kelaparan, penyakit, penganiayaan, kejahatan, perang atau kecelakaan. Apalagi, ada kejadian-kejadian dimana sejumlah besar manusia yang nampaknya tidak bersalah, menemui kematian pada waktu yang bersamaan akibat suatu bencana, seperti jatuhnya sebuah pesawat udara. Mereka yang mempunyai perasaan tentu merasa sedih bahwa hal-hal yang sedemikian bisa terjadi tanpa adanya peringatan atau tanda-tanda.
Memang sebagian manusia mungkin hanya memikirkan penderitaan orang lain secara sepintas lalu saja. Selama hal-hal itu tidak menyangkut hidup mereka atau hidup sanak saudara, mereka tidak merasa terbebani. Tetapi, kebanyakan manusia tentu bisa merasakan kesedihan yang dialami orang lain dan menerima kenyataan bahwa selama hidup di dunia memang penderitaan bisa datang silih berganti.
Apakah Tuhan itu benar ada dan tetap mengatur seisi jagad-raya? Jika Tuhan itu mahakuasa, mahatahu dan mahakasih, adakah yang Ia lakukan ketika Ia melihat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diri umat manusia? Inilah pertanyaan yang sulit dijawab manusia. Dalam kesulitan dan penderitaan yang besar, adalah normal jika manusia mempertanyakan hal-hal itu.
Dimanakah Tuhan ketika malapetaka terjadi di dunia? Sedihkah Tuhan jika umatNya terkena bencana? Bagi orang Kristen hal ini adalah pertanyaan yang masih sering timbul. Bahkan adanya bencana dan malapetaka seringkali membuat hati menjadi kecil karena nampaknya malapetaka bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja dan kapan saja.
Satu hal yang harus kita sadari ialah sifat Tuhan yang mahakasih tentulah bertentangan dengan pandangan sebagian agama atau pendapat beberapa pemuka agama, bahwa Dialah yang menyebabkan munculnya malapetaka. Dalam Yohanes 3:16 kita tahu bahwa karena Tuhan mencintai seisi dunia, Ia sudah memberikan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih yang sedemikian besarnya, tidaklah mungkin bahwa Tuhan bermaksud membiarkan orang-orang atau bangsa-bangsa tertentu untuk menderita jika tidak ada sebabnya.
Sebelum kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, kita harus menyadari bahwa karena bumi ini sudah jatuh kedalam dosa, hidup semua makhluk tidak lagi dapat memperoleh ketenteraman. Karena dunia ini adalah dunia yang tidak sempurna, manusia secara perorangan atau kolektif, bisa membuat kesalahan yang bisa mencelakakan orang lain atau dirinya sendiri. Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa iblis dengan segala usahanya juga berusaha menghancurkan kehidupan manusia.
Dalam keadaan yang demikian, bagi umat Kristen satu-satunya pegangan hidup adalah kasih Tuhan yang sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia. Karena sedemikian besar kasih Tuhan kepada manusia, Ia sebenarnya tidak menginginkan adanya bencana apapun pada diri manusia. Walaupun begitu, karena dosa yang diperbuat manusia, Tuhan bisa memungkinkan terjadinya hal-hal yang menyedihkan sebagai peringatan dan hukuman. Selain itu, dalam berbagai penderitaan, kuasa Tuhan bisa terasa dan membuat orang mau berserah kepadaNya.
Pagi ini, jika kita mendengar adanya sebuah malapetaka, hati kita mungkin bertanya-tanya mengapa Tuhan seakan berdiam diri. Apakah Tuhan benar-benar mahakasih, maha adil dan mahakuasa? Ayat diatas menunjukkan bahwa keputusanNya akan terjadi dan segala kehendakNya akan terlaksana. Apapun yang terjadi adalah dengan sepengetahuanNya.
Kita seringkali tidak mengerti mengapa Ia mengambil keputusan tertentu atau membiarkan hal-hal yang buruk terjadi di dunia. Tetapi, satu hal yang kita mengerti adalah hidup di dunia ini hanyalah sebagian kecil dari hidup manusia. Orang mungkin hidup di dunia untuk 70-80 tahun dan dalam jangka waktu yang relatif singkat itu berbagai kesukaran dan penderitaan bisa muncul (Mazmur 90: 10). Tetapi apa yang datang sesudah hidup di dunia adalah yang lebih penting; masa yang abadi dimana kita sudah menerima garansi untuk bisa menikmati kebahagiaan yang penuh dengan Tuhan. Hidup yang singkat di dunia, dengan demikian bisa kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita, agar mereka bisa mengenal Tuhan yang mahakasih seperti kita. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan segala bangsa dalam segala keadaan!
Bagi penduduk Australia, memiliki sebuah rumah adalah sebuah cita-cita. Karena itu, kebanyakan orang meminjam uang dari bank untuk bisa membeli rumah. Pinjaman uang untuk membayar harga rumah biasanya bisa dilunasi setelah jangka waktu yang cukup lama, sekitar 30 tahun. Dengan demikian, peminjam yang tidak bisa melunasi hutang dalam jangka waktu yang lebih singkat akan membayar bunga yang sangat besar. Resiko bukan hanya itu saja; jika rumah itu akhirnya dijual, ada kemungkinan bahwa pemiliknya mengalami kerugian.
Life is short, make it sweet. Hidup itu singkat, jadikan itu manis. Itulah salah satu semboyan hidup yang terkenal. Hidup ini singkat, karena itu isilah dengan hal-hal yang menyenangkan. Semboyan ini pernah juga muncul dalam sebuah lagu country yang muncul baru-baru ini.
Siapakah manusia yang tidak berdosa? Agaknya semua orang, dari segala bangsa dan segala agama, akan mengaku sebagai orang yang berdosa jika ditanya. Semua orang, bagaimanapun baiknya umumnya mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak sempurna. Walaupun demikian, jika ditanya apa yang sudah mereka lakukan untuk dosa-dosa mereka, mungkin tidak banyak yang bisa mereka katakan. Mungkin saja ada yang sudah bertobat dari dosa tertentu, tetapi tentunya banyak dosa-dosa lain yang tersisa. Mungkin jika dosa-dosa itu tidak terasa sebagai dosa besar, mereka dengan mudah melupakannya atau mungkin saja tidak menyadarinya.
Jika anda rajin membaca berita media, tentu anda menyadari bahwa media apapun di zaman ini selalu berusaha menampilkan berita-berita yang membuat banyak orang menjadi tertarik untuk membacanya. Bagi pengusaha media, jumlah pembaca umumnya dapat dihubungkan dengan penghasilan uang. Makin banyak pembaca atau pemirsa, makin banyak pemasukan uang dari langganan dan iklan.
Tetangga saya yang cukup berada mempunyai dua orang anak remaja, putra dan putri, yang baru lulus SMA. Kedua anak itu terlihat cukup baik karakternya dan sekarang membantu orang tuanya dalam menjalankan bisnis konstruksi mereka. Memang di Australia, tidak semua lulusan SMA akan melanjutkan ke universitas. Mereka yang lebih menyukai pertukangan misalnya, akan memilih untuk magang dan mencari pengalaman, untuk kemudian bisa mempunyai bisnis sendiri. Orang tua anak-anak itu tentunya berharap agar kedua anak itu akan sukses di hari depan, tetapi masa depan mereka tentunya tidak ada yang bisa memastikan.
Di Australia, lampu bertenaga surya sekarang sangat populer. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, lampu ini bisa menyala tanpa memerlukan tenaga listrik PLN. Dengan memakai lampu jenis LED yang bertenaga rendah, pemakaian solar power ini menjadi atraktif di beberapa negara bagian karena membutuhkan biaya yang lebih rendah dari lampu-lampu tradisional lainnya.
Beberapa bulan yang lalu, saya dan beberapa sanak saya pergi ke sebuah cafe di daerah Southbank, Brisbane, untuk makan pagi. Hari Sabtu dan masih pagi, dan kami pun menjadi langganan pertama yang datang. Ketika kami baru mulai makan, dari seberang jalan terdengar suara berisik yang berasal dari mesin penghancur beton yang dijalankan beberapa pekerja kotamadya. Suara berisik itu terasa sangat mengganggu, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya kemudian hanya bisa makan tanpa bisa berbincang-bincang karena adanya kebisingan yang membuat saya tidak bisa mendengar suara orang lain.
Sistim pendidikan di berbagai negara adalah berlain-lainan, tetapi semua tentunya bertujuan untuk memberi murid pengetahuan yang cukup untuk nantinya bisa digunakan untuk mencari nafkah. Di Australia, pendidikan SD, SMP dan SMA negeri adalah serupa dengan apa yang di Indonesia dan secara umum bebas biaya.