Jangan membuat Tuhan cemburu

“Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 21 – 22

Dalam perkembangan gereja akhir-akhir ini, melalui pengamatan media saya mendengar datangnya praktik-praktik kehidupan yang nampaknya bermanfaat bagi umat Kristen. Jika pada waktu yang silam orang Kristen lebih memusatkan perhatian pada hal-hal yang rohani, praktik-praktik Kristen yang nampaknya modern menampilkan pendekatan “holistic” yang menggabungkan pendekatan rohani dan jasmani. Menurut pengertian holistik ini, sebagai orang percaya kita harus berusaha untuk menjalani hidup yang baik dalam hal jasmani maupun rohani. Orang Kristen dianjurkan untuk mencapai kesuksesan dalam keduanya.

Kalau ditinjau dari segi keutuhan hidup orang Kristen selama hidup di dunia, memang ideal jika kita bisa merasakan berkat Tuhan yang berkelimpahan baik dalam hal jasmani maupun rohani. Mengingat peristiwa dimana Yesus memberi makan lima ribu orang, kita bisa menyimpulkan bahwa Yesus peduli atas keadaan jasmani orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya. Manusia tidak dapat hidup tanpa makan, dan sudah tentu Tuhan yang mahapemurah memberikan seisi bumi untuk dikelola manusia, baik yang tergolong umatNya maupun yang belum mengenal Dia.

Yesus semasa di dunia juga peduli akan kesehatan manusia, sebagaimana Ia mengerti bahwa kebahagiaan manusia juga dapat dipengaruhi oleh keadaan tubuhnya. Karena itu Ia menyembuhkan banyak orang sakit, baik mereka yang percaya kepadaNya, maupun yang belum percaya kepadaNya. Lebih dari itu, Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk pergi memberitakan Injil sambil menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan (Matius 10: 7 – 8). Mereka yang melihat segala apa yang diperbuat murid-murid Yesus itu kemudian banyak yang percaya kepada Tuhan yang mahakuasa. Bagi mereka yang mengerti, segala keajaiban itu terjadi hanya karena kuasa Tuhan, dan karena itu segala kemuliaan adalah untuk Dia.

Manusia pada hakikatnya tidak pernah berubah dalam hal kebutuhan hidupnya. Manusia ingin bahagia lahir dan batin dan berusaha sebisanya untuk mencapai kesuksesan dalam keduanya. Gereja pun mengerti akan panggilan Kristus untuk melayani, dan karena itu selain mengabarkan Injil, berbagai pelayanan kasih juga dijalankan. Memang iman yang benar harus disertai dengan perbuatan yang berdasarkan kasih. Walaupun demikian, kebanyakan gereja lebih mementingkan pelayanan kerohanian karena itu adalah juga misi Kristus selama di dunia. Mereka menyadari bahwa adalah lebih penting bagi manusia untuk memperoleh hidup yang kekal, daripada memperoleh segala sesuatu tetapi jiwanya binasa (Lukas 9: 24).

Sepintas lalu, cara hidup orang Kristen pada zaman kini kelihatannya serupa dengan apa yang terjadi pada zaman dulu, tetapi itu tidaklah sepenuhnya benar. Adanya kemajuan teknologi dan ekonomi membuat manusia pada zaman modern ini cenderung untuk mengutamakan kebutuhan jasmani, dan karena itu sebagian gereja juga ikut terpancing untuk menekankan pentingnya kesuksesan dalam hal jasmani. Sebagian yang lain mungkin menekankan pentingnya keseimbangan jasmani dan rohani dengan memakai alasan bahwa Tuhan menciptakan manusia secara utuh , kesatuan antara tubuh dan jiwa. Karena itu, pada zaman ini konsep hidup holistik atau kesatuan hidup jasmani dan rohani seringkali didengung-dengungkan di gereja.

Dari segi keseimbangan hidup, memang kelihatannya konsep holistik itu baik. Tetapi sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa kepuasan jasmani selama hidup di dunia adalah tidak mungkin terjadi. Adalah kesia-siaan bagi manusia untuk mengejar kebahagiaan jasmani, karena apa saja yang bisa dilihat manusia di bumi tidaklah kekal. Sebaliknya, kebahagiaan surgawi adalah suatu tujuan yang suci yang harus diutamakan semua orang Kristen.

Keinginan untuk mencapai kebahagiaan jasmani, seringkali terwujud dalam usaha untuk mencari harta, kesuksesan, kesehatan dan sebagainya. Orang Kristen dengan demikian sering terpikat untuk mengikut mereka yang mengajarkan bahwa semua yang bisa dinikmati itu adalah baik dan bukti iman. Karena itu jugalah timbul berbagai ajaran yang menggabungkan ajaran Alkitab dengan praktik-praktik budaya, psikologi dan mistik. Manusia mungkin berpikir bahwa selama hasilnya terlihat baik, semua itu bisa diterima.

Pagi ini, ayat diatas mengingatkan kita bahwa sebagai umat percaya, kita harus berhati-hati dalam memilih apa yang kita ikuti, pakai atau pelajari. Apapun yang kelihatannya baik, tetapi secara langsung atau tidak langsung bisa mengurangi kesadaran manusia akan kemuliaan dan kedaulatan Tuhan adalah dosa. Tuhan yang mahakuasa tidak ingin kita mendua hati dengan memuliakan sesama manusia, kemampuan manusiawi, benda-benda ciptaan manusia dan roh-roh yang  tidak kudus selama kita ingin menjadi umatNya. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” Efesus 5: 8 – 11

Berdoalah untuk kesehatan

“Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Yakobus 5: 14 – 16

Semua manusia tentunya pernah jatuh sakit selama hidupnya. Memang, berdasarkan iman Kristen, adanya penyakit dan rasa sakit adalah salah satu konsekuensi kejatuhan manusia kedalam dosa. Walaupun demikian, kita harus bersyukur bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya baik dalam suka maupun duka, baik sewaktu sehat maupun sewaktu sakit. Kasih Tuhan tidak berubah dalam segala keadaan ataupun saat.

Sekalipun manusia sudah jatuh dalam dosa, Tuhan yang mahakasih tetap ingin memelihara seisi dunia dan bahkan seluruh jagad raya, sehingga semua ciptaanNya tetap berfungsi seperti apa yang dirancangNya. Karena itu, sesuai dengan rencana penyelamatanNya, Tuhan mengatur segala sesuatu supaya semuanya berjalan baik untuk kemuliaanNya. Tuhan tidak membiarkan dunia ini hancur berantakan, dan oleh sebab itu Ia juga mencukupi segala kebutuhan manusia, termasuk kesehatan mereka. Kesehatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang percaya kepadaNya, tetapi kepada semua mahluk di bumi. Oleh karena itu, Ia juga memberi manusia kesadaran dan kemampuan untuk menghargai kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, dan untuk menghargai semua ciptaan Tuhan yang lain.

Ayat diatas ditulis oleh rasul Yakobus mengenai kesehatan umat Tuhan. Pada saat itu, ilmu kedokteran dan kesehatan lingkungan belumlah semaju sekarang. Walaupun demikian, Yakobus tentunya sadar bahwa menjaga kesehatan adalah penting untuk bisa hidup dan bekerja secara optimal untuk kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu, ia jelas sadar bahwa Tuhanlah yang mempunyai kuasa untuk memberi kesembuhan kepada orang yang sakit. Tuhanlah yang berhak untuk menolong siapa saja yang mengalami masalah, baik itu hal jasmani atau rohani. Pertanyaannya, apakah ayat ini tetap sepenuhnya relevan untuk masa kini?

Ayat diatas tidak secara spesifik menulis tentang jenis penyakit yang bisa didoakan untuk kesembuhan. Jika pengolesan dengan minyak dianjurkan untuk kesembuhan (kemungkinan besar minyak zaitun), rasul Yakobus tentunya tahu bahwa itu bukanlah obat untuk segala penyakit. Jadi, pemakaian minyak itu mungkin bertalian dengan ritual atau kebiasaan waktu itu, dan merupakan lambang penyertaan Tuhan. Bukan pengurapan, bukan doa dan bukan iman manusia yang membawa kesembuhan, tetapi Tuhan sendiri. Tuhan yang mahakuasa bisa secara total menyembuhkan segala penyakit jika itu sesuai dengan kehendakNya; bukan penyakit tertentu saja dan bukan hanya kesembuhan sementara.

Ayat diatas tidak menyebutkan apakah kesembuhan jasmani atau rohani yang dibahas, tetapi semua penyakit memang bisa disembuhkan Tuhan, seperti yang dilakukan Yesus selama di dunia. Walaupun begitu, dengan mempertimbangkan kefanaan jasmani manusia, ayat itu mungkin lebih cenderung menyangkut masalah rohani yang bersangkutan dengan cara hidup manusia di dunia. Ini juga lebih sesuai dengan misi penyelamatan Yesus selama di dunia.

Perlukah kita berdoa untuk kesembuhan seseorang? Bukankah Tuhan akan melakukan apa yang dikehendakiNya saja? Bukankah Tuhan tahu kebutuhan kita sebelum kita memintanya? Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi kita harus menyadari bahwa kita hanya bisa hidup sebagai umat Tuhan dengan mempunyai hubungan yang intim dengan Dia.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta seharusnya memberi pengertian bahwa kita tidak dapat memisahkan kehidupan jasmani dari kehidupan rohani, karena tubuh kita adalah rumah Tuhan. Karena itu kita harus memelihara keduanya sesuai dengan firman Tuhan. Seringkali orang mementingkan salah satu saja, dan ini bisa menimbulkan persoalan. Manusia bisa sakit karena faktor keturunan, lingkungan, atau kebiasaan. Selain itu, iblis pun bisa membawa berbagai gangguan. Dengan hubungan yang baik dengan Tuhan kita akan makin mampu untuk menyadari apa yang salah dan memperoleh pengampunanNya.

Tuhan bisa memberi kesembuhan dari penyakit apapun apabila sesuai dengan kehendakNya. Tetapi ayat ini mungkin lebih mengena dalam hal yang berhubungan dengan cara hidup seseorang. Mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan seringkali merasa sakit, lemah, tertekan dan kesehatannya terganggu. Mereka yang terpaksa hidup dalam lingkungan yang kurang sehat, mungkin sering terkena penyakit. Selain itu, banyak orang di zaman ini yang harus dirawat di rumah sakit karena hidup kacau balau diluar Kristus. Kepada mereka ini, firman Tuhan berkata bahwa didalam Dia ada keselamatan dan kebangkitan. Tuhan bisa bekerja dalam hidup manusia, keluarga, masyarakat dan negara untuk kemuliaanNya.

Karena Tuhan mengasihi seisi dunia, mereka yang sakit boleh berharap dalam iman akan keringanan dan kesembuhan dariNya. Tetapi, lebih dari itu, mereka yang beriman akan yakin bahwa sekalipun tubuh jasmani mereka lemah, mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat pengampunan Tuhan.

Haruskah kita berdoa memohon kesembuhan? Sudah tentu! Setiap orang Kristen adalah orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus. Dengan demikian, adalah panggilan bagi kita untuk selalu berdoa untuk kesehatan orang lain dan juga untuk kesehatan diri kita sendiri. Bagi orang yang dibenarkan, hidup baru didalam Yesus selalu membawa perubahan, baik dalam jasmani maupun rohani. Memang dalam darah Yesus ada kuasa yang besar.

Belas kasihan datang dari Tuhan

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Matius 9: 36

Sejak umur berapa seseorang bisa merasakan penderitaan orang lain? Pertanyaan ini sulit dijawab, karena tiap orang mempunyai perkembangan pikiran, emosi dan spiritual yang berbeda. Selain itu, tiap orang juga mempunyai pengalaman yang berlainan. Kita mungkin melihat bahwa seorang anak bisa memiliki rasa sayang terhadap hewan peliharaan keluarga seperti anjing, kucing dan ayam sejak umur 3 tahun dan bahkan lebih awal dari itu. Walaupun demikian, seorang anak yang berumur 5 tahun belum tentu memiliki rasa belas kasihan atau compassion kepada orang lain.

Belas kasihan mengandung arti bahwa kita peduli akan orang lain, menanggapi keadaan orang lain dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka. Belas kasihan yang benar adalah perasaan empati yang bekerja. Ini berbeda dengan perasan simpati yang hanya merasa kasihan karena melihat orang lain menderita tetapi tidak bisa  ikut merasakan apa yang diderita mereka. Untuk seorang anak yang berumur lima tahun, rasa belas kasihan bisa dilihat ketika ia merangkul orang lain, membuat kartu simpati, atau mengatakan sesuatu yang manis untuk menghibur teman atau anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan atau penderitaan.

Rasa belas kasihan muncul karena adanya penderitaan orang lain. Bagaimana itu bisa muncul dalam hati manusia? Jika kita bayangkan, seandainya manusia tidak jatuh kedalam dosa, manusia akan hidup bahagia selamanya. Rasa belas kasihan mungkin tidak dibutuhkan. Tetapi, justru dengan jatuhnya manusia kedalam dosa, hidup menjadi berat dan rasa belas kasihan bisa muncul dalam hati manusia yang berdosa. Dari mana datangnya?

Ketika Allah menghukum Adam dan Hawa dan mengusir mereka dari taman Firdaus, Ia bisa melihat apa yang akan terjadi. Ia berkata bahwa bumi menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan manusia harus bergumul untuk bisa hidup di dunia, untuk kemudian kembali menjadi debu. Bagaimana Allah yang mahakasih bisa membiarkan ciptaanNya menderita seperti itu? Sudah tentu semua itu terjadi karena dosa manusia dan hukuman Allah sudahlah sepantasnya. Tetapi, bukankah Allah adalah Tuhan yang mahakasih?

Allah memang mahakasih. Karena kasihNya, dengan kejatuhan manusia Ia memulai sebuah proyek besar untuk menyelamatkan umat manusia. Sekalipun manusia akan mati secara fisik, Allah mengirimkan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa manusia sehingga mereka yang percaya kepada Yesus dapat bersatu kembali denganNya di surga. Ini adalah rasa belas kasihan Allah yang sangat besar, karena Ia mau mengurbankan diriNya sendiri demi manusia. Ia yang melihat bahwa manusia akan hidup menderita di dunia, mau memberikan kebahagiaan yang abadi kepada mereka yang tahan uji. Allah mempunyai compassion karena Ia peduli akan hidup manusia, menanggapi keadaan manusia dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka.

Yesus sudah pernah menjadi manusia dan merasakan hidup yang berat seperti manusia yang lain. Dalam ayat pembukaan diatas, jelas terlihat bahwa Yesus mempunyai belas kasihan kepada manusia disekelilingNya, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Sebagai manusia, Ia bisa mengerti penderitaan kita baik jasmani maupun rohani.  Yesus yang adalah Anak Allah, adalah hadiah dari Allah untuk meringankan hidup manusia di dunia. Manusia yang dulunya tidak mempunyai harapan, sekarang bisa berharap akan bersatu dengan Tuhan di surga. Sekalipun keadaan dunia seringkali tidak tertahankan, dengan iman mereka yang percaya kepada Yesus akan dapat merasakan penyertaanNya.

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15

Kita bisa melihat bahwa Yesus juga mempunyai rasa belas kasihan.  Rasa belas kasihan yang berdasarkan kasih, dengan demikian adalah salah satu sifat pribadi Tuhan sendiri. Manusia yang sudah jatuh kedalam dosa seringkali tidak lagi mempunyai rasa belas kasihan yang berdasarkan kasih. Tetapi, karena apa yang dilakukan Yesus di dunia, karena cara hidupNya, dan terutama karena pengurbananNya di kayu salib, orang Kristen memperoleh gambaran bagaimana seharusnya mereka memperlakukan orang lain. Sebagaimana kita sudah dikasihi Tuhan dan menerima belas kasihanNya, begitu juga kita harus mempunyai kepekaan atas penderitaan orang lain. Seperti Tuhan sudah bermurah hati kepada kita, kita pun harus bisa hidup sejalan dengan firmanNya.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Kolose 3: 12

Orang sakit perlu dokter

Siapakah dapat berkata: “Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?” Amsal 20: 9

Bagi orang yang ingin memelihara kesehatannya, kunjungan ke dokter untuk full check-up adalah perlu, setidaknya setahun sekali. Jika pemeriksaan dokter menunjukkan adanya gejala penyakit tertentu, dokter biasanya akan melanjutkan pemeriksaan rutin itu dengan pemeriksaan khusus dan pengobatan sampai penyakit yang ada bisa disembuhkan atau diatasi.

Dalam kenyataannya, tidak semua orang mau pergi ke dokter secara rutin setiap tahun. Memang ada orang yang tidak atau kurang mampu untuk membayar biayanya; tetapi, sekalipun itu ditanggung asuransi, tetap saja ada orang-orang yang tidak mau ke dokter secara teratur. Mungkin mereka merasa sehat, atau mungkin merasa sudah betul-betul sembuh dari penyakit yang dialami sebelumnya. Mereka mungkin berpikir bahwa jika tidak ada tanda-tanda sakit, tubuh mereka sudah tentu sehat.

Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan orang yang percaya kepadaNya. Mereka yang tua ataupun muda, pria maupun wanita, kaya ataupun miskin, semuanya adalah orang-orang berdosa yang seperti orang sakit, membutuhkan tabib yang bisa menyembuhkan mereka.

Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Matius 9: 12

Sayang sekali, tidak semua orang merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar dalam hidup mereka. Banyak orang yang merasa bahwa mereka mempunyai hidup yang baik, tidak pernah berurusan dengan hukum atau jikapun ada hal-hal yang kurang baik yang mereka lakukan, tidak ada seorang pun yang tahu akan hal itu. Dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai, orang Farisi melambangkan orang yang sakit tetapi merasa sehat. Dalam banyak hal, jika kita tidak berhati-hati, hidup kita bisa menyerupai hidup orang Farisi itu.

“Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Lukas 18: 11 – 12

Barangkali sebagai orang Kristen kita rajin ke gereja. Tetapi jika hidup kita di luar gereja tidak sejalan dengan firman Tuhan, kita mungkin masih tergolong orang yang sakit berat. Memang ada banyak orang Kristen yang merasa yakin bahwa karena mereka mengaku Kristen, sudah tentu hidup mereka berkenan kepada Tuhan. Tetapi, ayat pembukaan kita mempertanyakan keyakinan kita: Siapakah dapat berkata bahwa ia telah membersihkan hatinya, dan yakin bahwa ia bersih dari dosanya?

Alkitab menyebutkan bahwa semua orang dalam pandangan Tuhan adalah orang berdosa, seperti orang-orang yang sakit yang memerlukan perawatan dokter.

“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Roma 3: 12

Setiap orang dengan demikian membutuhkan kesembuhan rohani melalui penebusan darah Kristus dan pemeliharaanNya setiap hari. Mereka yang sudah merasa pernah menerima Yesus dan kemudian dengan sengaja melupakanNya dalam hidup sehari-harinya, tidaklah berbeda dengan orang yang sudah merasa sehat untuk selamanya setelah menemui seorang dokter.

Pagi hari ini, jika kita mempersiapkan diri kita untuk ke gereja, biarlah kita mau meneliti hidup kita. Sudahkah kita hidup sebagai orang-orang yang pernah menerima kesembuhan dari penyakit dosa dalam hidup lama kita dan kini memiliki hidup baru bersama Kristus setiap hari?

Pernahkah Tuhan berubah pikiran?

“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1: 17

Istilah “plin-plan” sudah lama dipakai di Indonesia, terutama untuk menggambarkan sifat seorang pemimpin yang kurang tegas dan sering berubah-ubah menurut situasi dan kondisi. Pemimpin yang sedemikian tentunya bukan pemimpin yang tegas dan bijaksana, karena keputusan yang dibuatnya sering dipengaruhi orang-orang yang disekitarnya. Oleh karena itu, mereka yang bekerja dibawah pimpinannya sering bingung dalam melaksanakan tugas mereka karena standar pemimpin yang berubah-ubah sesuai dengan arus angin. Apalagi, jika pemimpin itu tidak benar-benar kuat kedudukannya, ia mungkin juga harus sering mengubah keputusannya untuk menghindari komentar negatif dari bawahannya.

Jika ada banyak pemimpin dunia yang plin-plan, yang wishy-washy, bagaimana pula dengan Tuhan, Raja diatas segala raja? Tuhan yang mahakuasa, mahabijaksana dan mahatahu sudah tentu tidak pernah takut, ragu-ragu atau kuatir untuk melakukan tindakan apa saja yang perlu. Ia yang mahasempurna tentu bisa melakukan apa saja secara sempurna. Tambahan lagi, Ia yang mahabijaksana tidak membutuhkan nasihat manusia; dan karena Ia mahatahu, sudah tentu tidak perlu bagi umatNya untuk memberitahu Dia akan apa yang mereka butuhkan. Juga, karena Ia mempunyai rancangan agung untuk segala sesuatu, apapun yang terjadi di alam semesta tidak akan dapat mengubah rencanaNya.

Memang ada banyak orang Kristen yang percaya bahwa dengan tindakan tertentu Tuhan akan tergerak untuk melakukan sesuatu untuk mereka, misalnya dengan berdoa, berpuasa dan ritual-ritual lainnya. Dengan demikian, mereka seolah menyatakan bahwa mereka kurang puas dengan apa yang dilakukan Tuhan saat ini. Secara tidak langsung mereka mungkin merasa lebih tahu tentang apa yang diperlukan, saat yang tepat dan tempat yang sesuai bagi Tuhan untuk bertindak. Sekalipun mereka mungkin sadar bahwa Tuhan mungkin mempunyai rencana yang berlainan dengan keinginan mereka, mereka mungkin berharap kalau-kalau Tuhan berubah pikiran.

Hal mungkin tidaknya Tuhan berubah pikiran sudah sering diperdebatkan secara teologi. Banyak contoh dalam Alkitab yang dipakai sebagai dasar argumen bahwa jika kita bersungguh-sungguh meminta Tuhan untuk bertindak, Ia akan melakukannya. Tetapi, anggapan sedemikian adalah merendahkan Tuhan dan membuat Dia seolah sederajat dengan pimpinan dunia, manusia yang sering kuatir tentang popularitas mereka. Tuhan menurut ayat diatas adalah Tuhan yang baik, yang tidak pernah berubah-ubah keputusanNya atau plin-plan seperti manusia.

Pagi ini, jika kita berada dalam keadaan yang berat dan menanti-nantikan jawaban Tuhan, adalah mudah bagi kita untuk merasa bahwa kita perlu untuk berbuat sesuatu agar Tuhan sadar akan keadaan kita. Mungkin kita akan memanjatkan doa yang panjang kepada Tuhan. Atau mungkin kita pergi menemui seseorang untuk minta bantuan agar Tuhan mau mendengarkan permintaan kita. Mungkin saja orang itu dikenal sebagai hamba Tuhan yang doanya manjur, atau mempunyai karunia untuk melakukan mujizat. Tetapi kalau memang demikian, ada pertanyaan untuk kita apakah kita percaya bahwa Tuhan kita yang mahakuasa, mahakasih, mahatahu dan mahabijaksana bisa dipengaruhi oleh manusia yang penuh cacat-cela. Dalam hal ini, jika kita yakin bahwa Tuhan mempunyai rancangan yang baik, dan bahwa Ia adalah Pemimpin yang mahakuasa, doa kita tidak lain adalah penyerahan kita kepada bimbinganNya yang disertai dengan rasa syukur.

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6: 7 – 8

Jangan selalu mengharapkan mujizat

“Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Matius 7: 22 – 23

Pernahkah anda menonton pertunjukan sulap yang benar-benar hebat? Memang ada banyak orang yang mampu memukau penonton dengan berbagai trik sulap yang luar biasa. Mereka adalah pesulap professional yang mencari uang dengan melakukan show di gedung pertunjukan, TV dan media. Semua orang yang menonton tahu bahwa mereka hanya melakukan tipuan mata, tetapi mengagumi bagaimana mereka bisa membuat apa yang tidak mungkin atau sulit terjadi, menjadi suatu yang nampaknya mudah dilakukan.

Serupa tapi tak sama, pada sekitar 3500 tahun yang lalu, Musa dan Harun pergi menghadap Firaun; lalu Harun melemparkan tongkatnya di depan Firaun dan para pegawainya, maka tongkat itu menjadi ular (Keluaran 7: 10). Musa dan Harun melakukan semua itu sesuai dengan perintah Tuhan.

Firaun yang melihat tongkat Harun menjadi seekor ular, kemudian memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir dari Mesir; dan mereka pun, melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular-ular. Apa yang menakjubkan ialah tongkat Harun kemudian menelan tongkat-tongkat mereka.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari mujizat yang terjadi di depan Firaun ialah bukan hanya Tuhan, setan pun bisa membuat hal yang tidak sesuai dengan hukum alam. Memang diantara mujizat yang ada di bumi, ada yang membawa pengenalan akan kuasa dan kasih Tuhan, tetapi ada juga yang hanya membawa kemasyhuran dan kekayaan bagi orang-orang yang melakukannya. Selain itu ada hal-hal luar biasa yang justru bisa mencelakakan manusia. Tetapi yang benar-benar merupakan mujizat Tuhan adalah apa yang membawa kebaikan kepada umatNya dan kemuliaan bagiNya.

Dengan perintah Tuhan, semua umatNya sebenarnya bisa mendapat kemampuan untuk melakukan sesuatu yang ajaib untuk tujuan Tuhan yang spesifik. Tuhan Yesus dari awalnya menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan kabar keselamatan sambil melakukan berbagai mujizat. Tetapi mereka harus melakukan pelayanan itu tanpa pamrih- bukan untuk mencari uang.

“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Matius 10: 7 – 8

Mujizat dengan demikian bukan monopoli orang-orang “istimewa” saja. Mujizat tidak juga harus terjadi pada orang beriman saja. Mujizat adalah salah satu cara Tuhan untuk membawa orang-orang yang dipilihNya, kearah pertobatan dan penyerahan hidup kepadaNya.

Mujizat adalah sesuatu yang luar biasa, tetapi mujizat yang sungguh besar ialah ketika seorang bisa bertobat dari dosanya dan menerima keselamatan melalui darah Kristus. Mujizat tidak dilakukan Tuhan pada setiap saat untuk mereka yang sudah benar-benar mengenalNya dan mempunyai kekuatan iman; tetapi pada saat yang tertentu, Tuhan bisa mendatangkan mujizat untuk menolong orang yang masih terasing dan menderita, agar mereka dapat melihat kebesaran Tuhan dan mau menjadi pengikutNya.

“Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.” Markus 6: 12 – 13

Perlu kita sadari bahwa mujizat tidak selalu membawa orang kepada Tuhan karena bagi mereka yang mengeraskan hati seperti Firaun, apa yang jelas-jelas merupakan mujizat Tuhan tetap tidak dapat membawa perubahan hati. Pada pihak yang lain, mereka yang selalu mementingkan mujizat dan keajaiban seringkali terjebak kedalam kegembiraan dan pemujaan atas apa yang bisa dilihat mata saja.

Pada waktu Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, hanya satu diantara mereka, yaitu orang Samaria, yang kembali menjumpai Yesus untuk memuliakan Allah. Hanya satu diantara sepuluh yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata. Sembilan orang bergembira karena bisa melihat keajaiban, tetapi hanya satu yang bisa melihat Tuhan dibalik keajaiban. Karena itu Yesus berkata bahwa iman orang itu telah menyelamatkannya (Lukas 17: 15 – 19).

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhanlah yang melakukan mujizat, bukan manusia. Karena itu, jika kita membutuhkan pertolongan dalam hidup, kita harus bergantung kepada Tuhan dan bukannya kepada orang-orang yang merasa sudah dipilih Tuhan untuk melakukan mujizatNya pada setiap saat yang mereka maui.

Sekalipun Tuhan tidak selalu membuat mujizat untuk umatNya, Ia mau memberi mereka ketabahan dan kekuatan. Tuhan tidak juga selalu membuat mujizat yang spektakuler untuk orang yang mencari Dia, tetapi tetap bisa membuka hati mereka sehingga bisa melihat keselamatan yang datang dari Kristus. Dengan demikian, pengharapan kita dalam hidup di dunia adalah kepada kasih Tuhan dan bukannya kepada mujizatNya saja. Kita harus juga sadar bahwa seringkali Tuhan bekerja dengan cara yang berbeda dengan apa yang kita harapkan. Karena itu biarlah kita mau selalu berdoa agar kehendak Tuhanlah yang terjadi.

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Lukas 22: 42

Menyelami pikiran Tuhan

Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Mazmur 139: 17 – 18

Matematika adalah salah satu ilmu pengetahuan yang penting, tetapi seringkali membuat sebagian murid kurang menyukainya. Itu mungkin disebabkan oleh ciri ilmu itu yang memang membutuhkan banyak pemikiran dan latihan untuk dapat menggunakannya dengan baik. Teringat saya pada waktu taman kanak-kanak, guru saya mulai mengajarkan teknik hitung-menghitung, dimulai dengan apa yang sangat sederhana, seperti 1+ 1 = 2. Dengan bertambahnya umur, saya menjadi semakin mampu mengerjakan soal matematika yang jauh lebih rumit, sehingga saya bisa memahami bahwa 1 ditambah 1 belum tentu menjadi 2 karena semua itu tergantung konteks aplikasinya.

Banyak orang yang dalam hidup juga berpikir bahwa mereka dapat, dan bahkan harus menghitung-hitung segala tindakan dan keadaan untuk dapat menentukan hari depan. Masa depan kita ada di tangan kita, begitu ungkapan yang sering kita temui. Dalam hal ini kita mungkin pernah mendengar berbagai nasihat serupa dari berbagai motivator, orang ternama dan orang yang sukses bisnisnya. Bagi mereka, segala segi kehidupan dapat dan harus diperhitungkan seperti layaknya menghitung satu ditambah satu.

Ada pula orang-orang yang berpendapat bahwa hidup ini tidaklah semudah apa yang bisa dihitung atau diperhitungkan. Ada banyak faktor yang tidak diketahui, unknown factors, yang bisa mempengaruhi hasil usaha manusia. Mereka menyebutnya sebagai unsur keberuntungan atau luck yang tidak bisa diduga. Karena itu ada pendapat bahwa orang-orang yang tidak lucky hidupnya kurang berhasil sekalipun mereka sudah bekerja keras. Sebaliknya, ada juga orang yang sukses sekalipun nampaknya santai-santai saja. Itu semua hanya tergantung pada prinsip berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat, atau being at the right place at the right time.

Walaupun demikian, ayat diatas menyatakan bahwa apa yang dikenal sebagai luck tidaklah ada. Mereka yang percaya faktor “untung” secara tidak langsung menolak kenyataan bahwa Tuhan mahakuasa dan mahabijaksana. Sebaliknya, untuk orang percaya, segala sesuatu ada dalam rancangan Tuhan. Dalam hal ini, jalan pemikiran Tuhan adalah sulit ditebak manusia karena Tuhan mempunyai banyak cara untuk mencapai tujuanNya. Jika manusia berusaha menerka apa yang akan dilakukan Tuhan dalam hidup mereka, itu adalah sesuatu yang sia-sia atau futile, jika Tuhan sendiri tidak mau menjelaskannya kepada mereka. Tuhan yang mahakuasa akan mewujudkan semua rancanganNya tanpa terpengaruh oleh tindakan manusia.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 56: 8 – 9

Pagi ini kita seharusnya menyadari bahwa sepandai-pandainya manusia, tidaklah mungkin baginya untuk menentukan masa depannya dengan keyakinan sendiri. Hidup ini tidak semudah prinsip menghitung satu tambah satu. Jika bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan hal ini bisa membawa kekuatiran, mereka yang mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang mahakasih akan hidup dan bekerja dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menolong mereka untuk memilih jalan yang benar dan untuk tetap tabah dalam menghadapi masa-masa sulit.

“‘Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Filipi 4: 6

Bertahan dalam iman

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” 1 Petrus 1: 3 – 4

Pagi ini saya membaca di media bahwa sebuah negara di Afrika mengalami kesulitan ekonomi yang besar sehingga rakyatnya resah. Selain sulitnya hidup karena 90 persen penduduknya tidak mempunyai pekerjaan, harga bensin sekarang mencapai Rp. 45 ribu seliter – harga bensin termahal sedunia. Memang rakyat negara ini sudah lama menderita, dan sekalipun orang-orang yang dulunya memerintah dengan tangan besi dan menghancurkan ekonomi sudah lenyap, mereka yang menggantikan belum bisa memperbaiki negara.

Sungguh menyedihkan jika kita membaca atau mendengar adanya penderitaan manusia di dunia. Apalagi jika kita melihat atau mengalaminya sendiri. Mengapa manusia harus menderita di dunia? Banyak diantara mereka yang sebenarnya hanya ingin hidup sederhana dalam suasana yang aman, sehat dan tenteram. Tidak membutuhkan kekayaan dan kemewahan. Tetapi hidup layak sebagai manusia tidaklah mudah dicapai.

Sebagai orang Kristen tentunya kita sadar bahwa sejak kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, umat manusia harus berjuang untuk bisa bertahan hidup di dunia. Dunia yang sudah terkontaminasi dengan dosa menjadi dunia yang penuh kekejaman, ketidakadilan dan penderitaan. Dengan demikian ada orang yang menderita berbagai penyakit, dan ada juga yang dianiaya orang lain, yang diperlakukan secara tidak adil dalam masyarakat, yang jujur tapi tidak berhasil, dan juga orang jahat yang kelihatan sukses dan nyaman hidupnya. Tuhan seolah menutup mata.

Memang dalam melihat semua penderitaan manusia, adalah mudah bagi kita untuk berkata bahwa semua itu sudah “nasib”. Kehendak Tuhan tidak dapat dibantah. Karena itu wajarlah kalau sebagian orang Kristen bertanya-tanya apakah Tuhan menghendaki semua ini terjadi pada umatNya. Tetapi dalam Alkitab jelas tertulis bahwa Tuhan itu mahakasih, bukan Tuhan yang kejam dan semena-mena (Yohanes 3: 16).

Tuhan yang mahakasih tentu tidak menghendaki kita menderita. Tetapi Tuhan yang mahaadil tidak memisahkan umatNya dari orang lain selama mereka hidup di dunia. Ia memberikan sinar matahari kepada siapapun juga, dan udara pun tersedia untuk seluruh umat manusia. Setiap umat manusia mempunyai cara hidup tersendiri, dan mereka akan memperoleh hasil yang berbeda-beda, sesuai dengan hukum dunia yaitu ketidakpastian. Apa yang terjadi di dunia sulit ditebak manusia.

Jika manusia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, sebagian orang akan menggunakan segala kesempatan untuk mencari kesuksesan dan kebahagiaan selagi masih bisa. Dunia yang kacau dan Tuhan yang seolah tidak mau ikut campur, memberi mereka dorongan untuk memikirkan diri sendiri saja selama hidup di dunia.

Tuhan dalam Alkitab bukanlah Tuhan yang lepas tangan atau yang tidak berdaya. Bumi dengan kekacauannya dan manusia dalam dosa mereka tidak bisa lepas dari pandangan mata dan kuasa Tuhan. Apa yang dirancang Tuhan pasti terjadi sekalipun manusia berusaha melupakan kuasaNya di dunia. Tuhan bisa bekerja dengan bebas ditengah kekacauan dunia dan tetap memberi berkat dan kasihNya kepada semua umatNya.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5: 3 – 4

Pagi hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan kita lebih mementingkan hidup umatNya dalam jangka panjang. Hidup di dunia ini sangat singkat jika dibandingkan dengan hidup sesudahnya. Karena itu Tuhan bekerja untuk memberi kita iman yang makin kuat dalam keadaan apapun, bahwa Ia telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, dan membawa kita kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yaitu hidup di surga.

“Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” 1 Petrus 1: 6

Mengapa keselamatan merupakan karunia

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23 – 24

Kemarin, seorang sanak saya membeli sebuah cindera mata dari sebuah toko di Sydney. Penjual barang kemudian memberinya sebuah kupon seharga $14 yang bisa digunakan untuk membeli barang di toko lain. Apa yang mengecewakan adalah kenyataan bahwa kupon itu hanyalah tipuan saja, karena barang apapun yang ada di toko itu tidak ada yang lebih murah dari $34. Kelihatannya apa yang diberikan secara cuma-cuma bukanlah barang yang berharga.

Jika ayat diatas mengatakan bahwa keselamatan diberikan kepada manusia secara cuma-cuma, sebagian orang berpendapat itu adalah sesuatu yang sulit dipercaya. Kelihatannya begitu mudah untuk menjadi Kristen jika orang hanya harus percaya kepada Yesus. Bagaimana mungkin Tuhan memberi keselamatan secara cuma-cuma jika itu adalah sesuatu yang berharga? Bukankah tidak ada yang gratis di muka bumi?

Bagi banyak orang, seringkali juga ada pertanyaan mengapa orang Kristen tidak diharuskan melakukan berbagai ritual seperti pengikut agama lain. Lebih dari itu, orang Kristen sering nampak seperti orang sombong atau orang bodoh karena mereka percaya bahwa mereka sudah terpilih untuk diselamatkan tanpa harus menyumbangkan amal ibadah kepada Tuhan dan sesama. Mengapa orang Kristen tidak perlu membayar harga keselamatan mereka dengan berbuat sesuatu untuk Tuhan?

Dalam kenyataannya, hanya sebagian orang Kristen yang percaya bahwa keselamatan mereka bukan hasil jerih payah mereka sendiri, tetapi semata-mata adalah pemberian Tuhan. Mereka yang mau menerima penebusan darah Kristus dan percaya bahwa Ia adalah Juruselamat, mendapat jaminan bahwa mereka akan ke surga setelah tugas di bumi selesai. Semua hal diatas bisa terjadi karena Tuhan yang mereka percayai adalah Tuhan yang mahaadil, mahasuci dan mahakasih.

Karena Tuhan adalah mahaadil, Ia tidak membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Baik mereka yang kaya maupun miskin, baik mereka yang hidup di dunia barat ataupun timur, baik mereka yang kurang berpendidikan atau yang mempunyai berbagai gelar, baik mereka yang tergolong rakyat jelata ataupun yang tergolong ningrat, semua orang pada akhirnya harus menemui kebinasaan karena dosa mereka.

Selain mahaadil, Tuhan adalah mahasuci. Karena itu, manusia tidak dapat berbuat baik bagaimanapun untuk menjadi suci dan memenuhi standar kesucian Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada dosa kecil dan dosa besar, semuanya adalah dosa di mata Tuhan. Apapun amal ibadah yang kita lakukan tidak akan menebus hidup kita yang penuh dosa jika kita tidak percaya kepada penebusan melalui kematian Yesus di kayu salib.

Jika Tuhan hanya mahaadil dan mahasuci, manusia tidak dapat memperoleh jalan keluar dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi. Tetapi, Tuhan adalah mahakasih dan karena itu tidak mau membiarkan ciptaanNya binasa. Hukuman untuk semua orang harus terjadi, kecuali ada yang bisa membayar harga tebusan yang sempurna. Manusia yang sebaik apapun tidak dapat menebus dosanya. Hanya satu oknum yang suci yang bisa melakukannya, yaitu Tuhan sendiri yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dengan kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya, ada jaminan bahwa setiap orang yang percaya kepadaNya akan memperoleh hidup yang kekal di surga.

Pagi ini, kita harus sadar mengapa keselamatan hanya bisa terjadi sebagai karunia cuma-cuma dari Tuhan. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Karunia kasih itu diberikan cuma-cuma karena kita sendiri tidak mampu menebus dosa kita. Oleh sebab itu, kita tidak dapat menyombongkan kebaikan dan amal ibadah kita karena semua itu tidak ada harganya dalam konteks keselamatan. Hanya Yesus, Anak Allah, yang mampu melakukannya dengan membayarnya dengan harga tertinggi. Karena itu kita harus menunjukkan rasa syukur kita kepadaNya setiap hari melalui perbuatan dan kelakuan kita.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” 1 Petrus 1: 3 – 4

Aku datang, aku melihat dan aku percaya

“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.“ Yohanes 6: 37

Yakinkah anda akan masuk ke surga? Pertanyaan itu sering muncul di lubuk hati banyak orang, termasuk orang Kristen.

Bagi mereka yang bukan Kristen, mau tidak mau pertanyaan ini membuat mereka berpikir dalam-dalam, merenungkan apakah hidup mereka sudah cukup baik untuk bisa diterima Tuhan. Orang mungkin terpaksa menghitung-hitung apakah amal ibadah mereka sudah bisa dibilang cukup besar. Dan jika saatnya tiba bagi seseorang untuk meninggalkan dunia ini, orang-orang yang ditinggalkan biasanya mengenang kebaikan apa saja yang sudah diperbuat almarhum dan berharap agar beliau diberi tempat yang baik di surga. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa orang yang “baik” menurut standar manusia akan masuk ke surga. Surga tentunya adalah tempat yang sempurna dimana Tuhan yang mahasuci berada, dan bagaimana manusia bisa memenuhi syarat kesucian Tuhan adalah pertanyaan yang sulit dijawab.

Mereka yang mengaku Kristen, seharusnya mengerti bahwa keselamatan hanya dimungkinkan oleh darah Kristus yang telah menebus dosa apapun yang ada dalam diri seseorang. Walaupun demikian, Alkitab menulis bahwa tidak semua orang yang percaya adanya Tuhan akan diselamatkan, karena iblis pun percaya Tuhan itu ada (Yakobus 2: 19). Karena itu, keraguan orang mungkin muncul apakah Tuhan benar-benar mau menerima semua yang mengaku Kristen. Dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang berhak menerima atau menolak manusia, ada orang-orang yang mungkin kuatir bahwa mereka tidak cukup baik di mata Tuhan.

Mungkinkah Yesus menolak orang yang benar-benar ingin menjadi umatNya? Ayat pembukaan diatas mengatakan bahwa mereka yang datang kepada Yesus adalah orang-orang yang diberikan Bapa kepadaNya. Allah membuka mata hati mereka untuk bisa mengerti akan kebesaranNya, dan karena itu Yesus tidak mungkin menolak mereka. Diantara mereka yang datang kepada Yesus dan kemudian melihat Yesus sebagai Anak Allah, ada yang percaya dan menyerahkan hidup mereka kepadaNya. Merekalah yang akan diselamatkan. Tetapi, apa arti percaya?

“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” Yohanes 6: 40

Pagi ini, mungkin kita pernah mendengar bahwa Yesus itu adalah guru yang baik, tokoh yang patut dihormati. Dengan demikian, kita mungkin sudah datang dan melihat Dia. Tetapi, pertanyaannya apakah kita sudah benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang sudah mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Dengan penebusan itu, kita yang tidak layak di mata Tuhan, mendapat pengampunan dari semua dosa kita. Dengan demikian, tidaklah perlu bagi kita untuk memikirkan apakah kita cukup baik bagi Tuhan.

Walaupun demikian, jika kita benar-benar percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat kita , tentunya kita akan dengan sukacita melakukan apa yang difirmankanNya. Seperti Yesus menaati Bapa, kita seharusnya mempunyai kerinduan untuk taat kepada perintah Bapa dan hidup untuk memuliakanNya. Mereka yang sudah datang dan melihat Yesus dalam hidupnya, tetapi tidak merasakan adanya dorongan untuk hidup dalam kebenaran Kristus adalah orang yang belum benar-benar percaya kepadaNya. Sudahkah kita dalam hidup ini datang kepada Yesus, melihat Dia dan beriman kepadaNya?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21