Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Lukas 10: 2
Australia adalah salah satu negara yang menghasilkan banyak hasil perkebunan, seperti mangga, ceri, anggur, apel dan jeruk. Daerah perkebunan semacam ini biasanya terletak di pelosok desa yang jarang penduduknya. Karena itu, jika musim menuai datang, pemilik kebun harus mencari orang-orang yang mau bekerja sebagai penuai (fruit picker). Pekerjaan yang berat ini biasanya dilakukan oleh turis-turis dari luar negeri yang ingin menambah uang saku. Jika jumlah penuai kurang dari yang dibutuhkan, banyak hasil kebun terpaksa menjadi busuk karena tidak tertuai.
Dalam ayat diatas, Yesus menggambarkan bahwa ada banyak tuaian, yaitu orang-orang yang seharusnya bisa menjadi pengikutNya. Tetapi, orang-orang yang mau menuai, yaitu orang yang mau membimbing mereka ke arah yang benar, tidaklah cukup jumlahnya. Karena itu, kita harus berdoa meminta agar ada lebih banyak orang Kristen yang mau bekerja menuai di ladang Tuhan.
Ilustrasi yang menyangkut kegiatan pertanian dalam Alkitab memang cukup banyak. Kita bisa membaca bahwa Tuhan menabur benih di hati manusia yang berbagai ragam. Seperti tanah yang subur, hati mereka yang mau mendengar, mengerti dan melaksanakan Firman Tuhan akan mengeluarkan hasil yang berlipat ganda (Matius 13: 8).
Tuhan sebenarnya menghendaki setiap umatNya untuk bekerja di ladangNya, untuk membawa sebanyak mungkin orang menuju ke arah keselamatan yang sudah diberikan melalui penebusan Kristus. Tetapi tidaklah banyak orang Kristen yang benar-benar menyadari bahwa apa yang sudah diterimanya bukanlah hanya untuk dirinya sendiri. Tidak banyak orang yang mengerti bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan, mereka terpanggil untuk mengeluarkan hasil baik yang berlipat ganda.
Melalui Amanat AgungNya, Yesus menyuruh umatNya untuk membawa orang yang ada dimana saja untuk menjadi murid-muridNya.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20
Karena itu, sebagai orang percaya kita seharusnya terpanggil untuk menjadi penuai di ladang Tuhan. Kita harus sadar bahwa waktu yang ada untuk menuai adalah terbatas. Tuhan yang sudah menumbuhkan benih-benih iman dalam diri setiap orang, adalah Tuhan yang ingin agar apa yang sudah ditumbuhkanNya bisa dituai pada waktu yang tepat, sebelum terlambat.
Kesempatan masih ada saat ini bagi kita untuk menjadi penuai sebelum Tuhan datang. Karena jika waktunya datang, akan terlambatlah orang-orang yang belum menerima Yesus untuk diselamatkan. Waktu untuk menuai juga terbatas karena kita tidak tahu berapa panjang kesempatan bagi orang-orang disekitar kita untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Lebih dari itu, kita tidak tahu berapa lama kita dapat memakai hidup kita dan segala kemampuan yang ada untuk bekerja di ladangNya.
Pagi ini kita diingatkan bahwa kesempatan yang ada untuk membawa banyak orang kepada iman yang benar tidaklah banyak. Walaupun demikian, dalam kesempitan yang kita alami saat ini -dimana iblis lebih giat bekerja mengacau kehidupan manusia dan berusaha membuat umat Kristen lalai akan perintah Tuhan – kita masih mempunyai kesempatan untuk bekerja keras untuk membawa banyak orang ke arah yang benar demi kemuliaan Tuhan. Pakailah kesempatan anda selagi masih ada!
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” Yohanes 14: 12


Kemarin pagi, dalam kebaktian gereja, lagu “As long as you are glorified” dinyanyikan. Dalam bahasa Indonesia, judul lagu ini bisa diterjemahkan sebagai “Asal Engkau (Tuhan) dipermuliakan”. Sebagian syairnya berbunyi;
Dalam kitab Markus 4: 35-41 dikisahkan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Apa yang kemudian terjadi sudah sering dibahas dalam berbagai renungan dan khotbah, yaitu tentang kelemahan manusia dan kemahakuasaan Tuhan. Walaupun demikian, thema ini selalu populer karena sangat aktuil dalam kehidupan manusia.
Sudah berpuluh tahun masyarakat Australia mengetahui adanya kasus kawin paksa diantara beberapa komunitas etnik tertentu. Dalam perkawinan semacam itu, biasanya gadis-gadis remaja (kadangkala anak lelaki) dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak dikenal mereka. Biasanya perkawinan semacam ini disebabkan oleh orang tua gadis yang bersangkutan, yang memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang jauh lebih tua dengan alasan keuangan, kehormatan, agama dan semacamnya. Banyak pernikahan semacam itu berakhir dengan masalah, karena tidak adanya cinta diantara suami dan istri. Selang berapa tahun, mereka bisa kenal satu dengan yang lain, tetapi tetap tidak bisa saling mencintai sebagaimana seharusnya. Perkawinan paksa bertentangan dengan hak asazi manusia dan prinsip kemerdekaan individu. Karena itu, pada tahun 2013, kawin paksa di Australia dimasukkan kedalam golongan kejahatan kriminal.
Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.
Teringat saya akan seseorang yang dari mudanya ingin mencapai prestasi yang tinggi. Dilahirkan dari sebuah keluarga yang serba sederhana, ia adalah seorang yang senang merencanakan segala sesuatu dengan sangat berhati-hati. Karena hidupnya yang serba teratur, pemuda ini berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam sekolahnya dan juga selama di universitas. Ia seringkali mendapatkan angka ulangan dan ujian yang terbaik diantara murid yang ada. Sampai pada suatu saat, pada ujian akhir universitas, ia gagal untuk lulus hanya karena satu mata pelajaran. Mereka yang tidak berprestasi sebaik dia justru lulus. Hati pemuda ini hancur, semua kebanggaannya lenyap, dan kepercayaan kepada diri sendiri pun pudar.
Mengapa sebagai orang Kristen kita harus dengan aktif berbuat baik? Ini sering dipertanyakan orang, baik oleh orang Kristen maupun non-Kristen. Jika orang Kristen diselamatkan karena iman, apakah ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal baik dan berguna bagi sesama?