Hidup adalah sebuah perjalanan

“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Roma 6: 4

Jam 4 pagi di hari Jumat Agung ini saya bangun tidur, dan sejam kemudian saya sudah di jalan raya, bermobil menuju ke bandara Brisbane. Matahari belum keluar, tapi beberapa mobil sudah terlihat melaju dengan kecepatan tinggi bersama para penumpangnya. Saya tidak tahu mengapa dan kemana orang-orang itu pergi, tetapi jelas bahwa mereka ada dalam perjalanan menuju ke suatu tempat dan bukannya sekedar bermobil tanpa tujuan.

Hidup ini sering juga dibayangkan seperti sebuah perjalanan menuju ke suatu tujuan. Tiap orang yang ada di dunia ini tentunya mempunyai, atau setidaknya pernah mempunyai tujuan hidup. Untuk mereka yang percaya bahwa hidup di dunia ini adalah satu-satunya kehidupan yang ada, perjalanan hidup itu mudah diterka. Ada yang dari kecil ingin untuk melanglang buana, ada juga yang ingin untuk menjadi orang ternama, dan banyak juga yang ingin untuk menjadi kaya raya. Perjalanan hidup yang mereka lakukan adalah usaha untuk mencapai tujuan hidup itu. Dan setelah itu tercapai, hidup hanyalah untuk melewati hari-hari tanpa tujuan berarti. Sebaliknya, mereka yang gagal untuk mencapai tujuan hidup mereka, rasa kecewa dan putus asa mudah datang karena tidak adanya tujuan hidup yang lain.

Bagi umat Kristen, hidup di dunia ini bukanlah tujuan karena mereka mempunyai tujuan yang mulia yaitu hidup bersama Tuhan di surga. Hidup di dunia adalah sebuah perjalanan. Pada hari Jumat Agung dua ribu tahun yang lalu, sebagai manusia Yesus menunjukkan bahwa perjalanan hidup seorang manusia di dunia memang berakhir dengan kematian. Tetapi apa yang sudah dilakukanNya selama hidup bukanlah sia-sia. Dalam perjalanan hidupnya menuju Golgota untuk menebus dosa manusia, Ia memakai hidupNya untuk menolong mereka yang menderita dan mengajarkan jalan kebenaran. Kematian Yesus di kayu salib, kemudian membuka babak baru dalam kehidupan Yesus dengan kebangkitanNya pada hari yang ketiga dan kemuliaan yang diterimaNya di surga.

Pagi ini kita belajar dari Tuhan Yesus bahwa hidup kita di dunia adalah sebuah perjalanan yang harus kita alami dan bukanlah tujuan hidup. Seperti Yesus, kita harus memakai hidup kita untuk memuliakan Tuhan, melayani sesama, serta memberitakan injil kebenaran sampai akhir hayat kita. Hidup kita harus juga berangsur-angsur berubah selama dalam perjalanan, mematikan hidup lama yang penuh dosa untuk menjadi orang yang semakin dekat kepada Tuhan. Dan bila tiba saat kita untuk meninggalkan dunia ini, pada saat itulah kita mencapai tujuan perjalanan hidup kita!

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5

Yang terbaik masih akan datang

“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2: 9

Adanya cita-cita membedakan manusia dengan mahluk lainnya. Jika mahluk lain hidup menurut naluri mereka, tiap orang mempunyai hidup yang berbeda untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Adanya cita-cita bisa memberi semangat hidup untuk menantikan apa yang diinginkan, tetapi juga bisa memberi kekecewaan atas apa yang tidak kunjung datang.

Cita-cita bukan hanya keinginan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sanak keluarga. Mungkin kita sudah merasa cukup puas dengan hidup kita sendiri, tetapi masih terus memikirkan apa yang akan terjadi pada orang-orang yang kita cintai. Seringkali mudah bagi seseorang untuk merasakan adanya kekosongan dalam hati karena pertanyaan: Inikah semua yang bisa dicapai? Ataukah masih ada yang lebih baik?

Sangatlah mudah bagi kita untuk mengalami frustrasi dan kekecewaan bahwa apa yang ada belumlah sesuai dengan apa yang diinginkan. Sebagai orang Kristen, kita terjebak diantara keinginan untuk berusaha dan kesadaran untuk berserah. Dalam hal ini kunci pertanyaannya adalah apa yang Tuhan mau dalam hidup manusia. Apakah cita-cita Tuhan untuk kita?

Dari awalnya, Tuhan menghendaki agar manusia bisa tinggal dekat denganNya dan memuliakan Dia. Dengan begitu, hidup manusia akan bahagia karena kemuliaan dan kasih Tuhan juga terpancar untuk mereka. Kejatuhan manusia membuat situasi berubah, kehidupan manusia menjadi berat. Tetapi cita-cita Tuhan tidak berubah, yaitu untuk memberikan apa yang terbaik kepada manusia yang dikasihiNya, di bumi dan di surga.

Sebagai orang percaya, kita percaya bahwa hidup di dunia ini adalah sementara saja. Hidup yang lama kita sudah diperbaharui oleh darah Kristus. Karena itu, pusat perhatian kita adalah untuk hidup baru yang semakin lama semakin baik dalam hal menyerupai Kristus.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Pagi ini, jika kita bangun dan sempat memikirkan apa arti hidup kita saat ini, biarlah kita sadar bahwa selama kita hidup di dunia, kita tetap harus melanjutkan perjuangan hidup kita; bukan untuk mencari kemuliaan dan kepuasan diri sendiri, tetapi untuk menjadi anak-anak Tuhan yang makin lama makin menyerupai Dia. Kita harus bersyukur atas apa yang baik yang sudah ada, dan percaya bahwa apa yang terbaik masih akan datang. The best is yet to come!

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” 1 Tesalonika 5: 24

Dongeng dan bahayanya

“Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” 1 Timotius 4: 7

Masih ingat saya akan saat-saat menjelang tidur di masa kecil, dimana ibu saya sering membacakan dongeng-dongeng tradisional. Walau dongeng-dongeng itu sering dibaca ulang, tak jemu-jemunya saya mendengarkannya.

Memang dalam sejarah manusia dari mana saja, dongeng adalah bagian dari kebudayaan setempat yang diteruskan dari generasi ke generasi. Dongeng juga sering dipakai untuk menceritakan kebesaran kuasa-kuasa di balik alam semesta. Dongeng yang sedemikian sering berisi cerita-cerita takhayul dan mistis.

Dalam Alkitab memang ada tertulis hal-hal yang serupa dongeng, yaitu perumpamaan yang disampaikan oleh beberapa orang termasuk Tuhan Yesus. Tetapi, berbeda dengan dongeng, perumpamaan jelas dipakai untuk mengemukakan masalah kehidupan dan pengajaran Tuhan secara tidak langsung.

Jika perumpamaan dalam Alkitab adalah “dongeng” yang berguna untuk orang Kristen, ada hal-hal lain di luar Alkitab yang bisa membuat kekacauan. Dari awal sejarah umat Kristen, ada orang-orang yang mengajarkan firman Tuhan dengan memakai pengertian mereka sendiri. Karena itu, dalam ayat diatas Paulus mengingatkan Timotius untuk berjaga-jaga, agar tidak disesatkan. Segala pengajaran yang tidak benar tidaklah perlu didengar, sekalipun bunyi dan isinya sedap di telinga atau memukau perasaan seperti sebuah dongeng yang membuat orang kagum dan terpesona.

Di gereja zaman modern, ada juga pendeta yang senang mengungkapkan cerita-cerita dan pengalaman pribadi untuk mendukung penyampaian firman Tuhan. Tetapi, seringkali hal-hal itu hanyalah dongeng belaka karena kebenaran firman Tuhan tidak dinyatakan. Bagi umat Kristen, Alkitab seharusnya menjadi tolok ukur untuk segala segi kehidupan.

Pagi ini kita diingatkan, bahwa jika kita terbiasa dengan mendengarkan berbagai dongeng, lambat laun kita kehilangan kepekaan. Pengalaman pribadi dan cerita pendek yang kelihatannya bagus bisa menjauhkan kita dari kebenaran, jika kita tidak berhati-hati. Pengajaran moral dan etika adalah semata-mata dongeng ciptaan manusia jika tidak berdasarkan pengertian Alkitab. Jika kita sempat membaca, mempelajari dan mengagumi hal-hal semacam itu, mengapa kita tidak punya waktu untuk mempelajari firman Tuhan?

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 25-16

Tuhanlah yang memungkinkan

“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” 2 Korintus 9: 8

Sewaktu saya belajar di sekolah menengah di Surabaya, mata pelajaran yang paling saya sukai adalah fisika. Ilmu fisika bagi saya saat itu sangatlah menarik karena ilmu itu sangat berguna dalam hidup sehari-hari. Segala yang bisa kita lihat selalu berfungsi menurut hukum fisika. Lebih tepatnya, hukum fisika ada karena segala sesuatu yang kita lihat berfungsi secara sistimatik, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Salah satu hukum fisika yang saya ingat sampai sekarang adalah hukum konservasi energi yang berbunyi:

“Tenaga atau energi tak dapat diciptakan dan tak pula dapat dimusnahkan, sehingga senantiasa dalam kuantitas tetap atau konstan, tapi dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi atau energi-energi lain, yang dalam kuantitas total selalu setara.”

Dalam kenyataan hidup paska SMA, saya merasakan sendiri bahwa hukum konservasi energi ini ternyata juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari saya. Uang yang saya peroleh hanya cukup untuk pengeluaran yang setara; dan jika pengeluaran saya melebihi pemasukan, saya harus mencari uang tambahan atau hutangan! Apa yang saya keluarkan tidak dapat melebihi apa yang saya terima.

Dalam hidup bermasyarakat, hukum konservasi energi ini secara naluriah sudah tertanam dalam pikiran setiap orang. Dengan pikiran sehat, manusia selalu berusaha bertindak secara konservatif, untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Mereka yang hidupnya sederhana, mungkin tidak berharap untuk bisa hidup seperti mereka yang berlebihan.

Mereka yang masih berjuang dalam hidup, mungkin tidak bisa membayangkan untuk bisa menolong orang lain. Dan bagi orang Kristen, mungkin kita berpikir bahwa kita tidak dapat membantu orang lain karena Tuhan tidak memberi kesempatan atau talenta yang cukup kepada kita. Jika kita tidak merasakan adanya berkat Tuhan yang besar, sulit untuk bisa membagikan kebahagiaan kepada sesama. Benarkah?

Pagi ini kita dihadapkan dengan firman Tuhan yang seolah menolak adanya keseimbangan energi dalam hidup manusia. Paulus menulis bahwa Tuhan memberi kecukupan kepada umatNya, agar mereka dapat berkelebihan dalam segala apa yang baik. Bagaimana ini mungkin? Pikiran manusia selalu cenderung berkata: apa yang ada, membatasi apa yang bisa dihasilkan. Jika Tuhan tidak memberi kita berkat yang berkelimpahan, kita tidak dapat memberi dengan kemurahan. Itu jugalah alasan hamba yang diberi oleh tuannya satu talenta dan merasa bahwa itu tidak cukup untuk menghasilkan sesuatu yang berguna (Matius 25: 24-35).

Ayat diatas menyatakan bahwa segala sesuatu dimungkinkan karena adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan kita. Tuhanlah yang bisa memberi kemampuan untuk merasa cukup dalam hidup kita, untuk merasa puas dan bahagia dengan berkatNya; dan dengan itu kita bisa dengan bersemangat menghadapi masa depan kita, untuk bisa berkelimpahan dengan hal-hal yang baik, yang memuliakan Tuhan dan yang membawa kasih dan damai kepada sesama kita.

“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” 1 Timotius 6: 6

Tubuh boleh melemah tetapi iman harus menguat

“Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” Mazmur 71: 9

Usia tua. Siapa yang senang membicarakannya? Mereka yang masih tergolong muda tidak mau memikirkan apa yang masih jauh dimata. Mereka yang sudah tua, barangkali merasa bahwa sudahlah terlambat untuk membicarakannya, apalagi untuk berbuat sesuatu.

Pemazmur dalam Mazmur 71 barangkali dengan rasa tidak menentu menulis tentang penderitaannya, sebagai orang yang tidak berdaya dalam usia tua. Perasaan ini sulit untuk digambarkan, apalagi untuk dimengerti mereka yang belum atau tidak pernah mengalaminya.

Usia tua pada umumnya datang dengan perasaan bahwa tubuh mulai melemah dan kurangnya keinginan untuk menikmati hidup yang ada. Masalah keuangan adalah salah satu diantara yang paling umum dijumpai, tetapi masalah kesehatan yang menurun dan masalah keluarga yang kurang harmonis juga bisa membuat orang yang berumur tidak bisa merasakan ketenteraman. Apalagi jika ada perasaan bahwa orang disekitarnya sudah tidak membutuhkannya lagi.

Mazmur 71: 9 adalah permohonan pemazmur agar Tuhan tidak meninggalkannya jika ia sudah tidak bertenaga. Ia teringat bahwa ketika ia masih muda, banyak kegiatan yang bisa dilakukannya dan serasa tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidupnya. Tetapi, dengan menanjaknya usia, satu persatu temannya pergi meninggalkannya. Lebih-lebih lagi, dalam kelemahannya selalu ada orang-orang yang ingin mengganggu dan mencelakakannya.

Tidak dapat diingkari bahwa masa tua adalah masa yang penting untuk seseorang bisa menikmati hidup dalam kedamaian. Tetapi kedamaian tidak akan diperoleh tanpa hubungan yang baik dengan Tuhan, yang dipupuk sejak muda. Hubungan dengan Tuhan yang tidak diperkuat sejak muda bisa mengakibatkan kerenggangan dengan meningkatnya usia. Hal ini mirip dengan hubungan antara suami dan istri yang harus dipererat sejak mereka kenal satu dengan yang lain.

“Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” Pengkhotbah 12: 1

Dengan mempunyai kebiasaan untuk mau mengenali sifat Tuhan, kita bisa mempunyai iman yang makin hari makin kuat karena adanya kesadaran akan penyertaan Tuhan yang maha kuasa, maha kasih dan maha bijaksana selama hidup kita sampai saat ini. Dengan itu kita bisa menumbuhkan kepercayaan dan pengharapan kepada Dia untuk hari depan kita. Hidup yang sedemikian tidak bisa dicapai jika kita tidak merasa benar-benar bersyukur atas kasihNya selama ini.

Kekeliruan yang terbesar yang mungkin terjadi dalam hidup adalah menunggu sampai saat dimana kita sudah tidak berdaya untuk mulai mendekati Tuhan dan berusaha membina hubungan yang baik dengan Dia. Ini bisa diibaratkan seperti mereka yang menunggu hari tua untuk bisa benar-benar mengenal pasangan hidupnya. Hidup orang yang percaya adalah hidup yang melibatkan Tuhan dari awalnya, baik dalam suka maupun duka, dan dengan itu kita akan memperoleh ketenteraman hidup di hari tua. Jangan menunda-nunda kesempatan, pakailah itu selagi masih bisa!

“Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak kesusahan dan malapetaka, Engkau akan menghidupkan aku kembali, dan dari samudera raya bumi Engkau akan menaikkan aku kembali.” Mazmur 71: 20

Masih adakah rasa takut anda?

Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Kejadian 3: 10

Jatuhnya manusia kedalam dosa adalah kejadian yang dikenal oleh semua orang Kristen. Dosa manusia yang pertama yang membawa kejatuhan seluruh umat manusia adalah ketidak taatan manusia akan perintah Allah. Sejak itulah, umat manusia tidak henti-hentinya berbuat dosa di dunia ini.

Pada waktu itu Adam baru saja melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan baik dan buruk di taman Eden. Mereka menyembunyikan diri diantara pohon dan tanaman ketika mereka mendengar bunyi langkah Allah. Allah bertanya kepada Adam: “Dimanakah engkau?”. Dan Adam menjawab bahwa ia bersembunyi karena merasa malu bahwa ia telanjang. Tetapi jawaban itu bukanlah sebab utama mengapa Adam dan Hawa bersembunyi. Mereka sebenarnya sangat takut karena mereka sudah berbuat dosa.

Suatu hal yang menarik dari percakapan antara Tuhan dan Adam dan Hawa sesudah itu adalah pengakuan mereka akan segala apa yang sudah terjadi. Adam dan Hawa sadar bahwa Tuhan maha tahu dan Ia tidak menyukai apa yang mereka perbuat. Mereka tidak dapat terus menerus berbohong atau menyembunyikan dosa mereka, karena mereka betul-betul takut kepada Tuhan.

Apa yang kita lihat sebagai reaksi manusia zaman ini terhadap dosa, kelihatan sangat berbeda dengan reaksi Adam dan Hawa yang diungkapkan diatas. Dalam hal ini, sekalipun tingkat kehidupan manusia makin meninggi, Alkitab menulis bahwa manusia makin menjauhi Tuhan. Takut akan Tuhan itu lebih sulit untuk ditemukan di zaman ini.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. 2 Timotius 3: 2-4

Mengapa manusia bisa berubah sedemikian? Setidaknya ada beberapa alasan.

  1. Manusia merasa Tuhan tidak berkuasa atas hidup mereka.
  2. Manusia merasa Tuhan itu jauh dan tidak tahu, atau tidak peduli atas apa yang mereka perbuat.
  3. Manusia merasa pandai dan lebih suka menuruti hukum dan etika mereka sendiri.
  4. Manusia kehilangan rasa malu dan tanggung jawab atas dosa dan kekeliruan mereka.
  5. Manusia tidak lagi percaya adanya hukuman Tuhan, tidak takut akan kemarahan Tuhan.
  6. Manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai kesuksesan, kenyamanan dan kenikmatan.
  7. Manusia melihat kenyataan bahwa orang yang mengaku pengikut Tuhan, hidupnya tidak banyak berbeda dengan orang lain.

Pagi ini kita diperingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita adalah manusia keturunan Adam dan Hawa. Karena itu, kita pun sebenarnya adalah manusia berdosa yang patut dihukum. Tetapi Tuhan yang maha kasih sudah berjanji bahwa anugerah keselamatan tersedia untuk mereka yang takut akan Tuhan, melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

“Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut. Amsal 14: 27

Baik atau buruk adalah pilihan kita

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.” Yakobus 1: 13

Peribahasa “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” adalah peribahasa yang sangat terkenal. Peribahasa itu dimaksudkan untuk menunjuk kepada ketidakberdayaan manusia dalam menentukan apa yang terjadi dalam hidupnya.

Dikatakan bahwa manusia mau tidak mau harus berserah kepada “nasib”. Pengertian yang bersifat fatalisme ini sering dijumpai dalam ajaran agama-agama diluar agama Kristen. Baik dan buruk dianggap tergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Betulkah?

Ayat dari Yakobus 1: 13 diatas jelas menunjukkan bahwa jika seorang mengalami cobaan, itu bukanlah karena “nasib” atau perbuatan Tuhan. Mereka yang menderita karena perbuatan jahat orang lain juga tidak dapat berkata bahwa Tuhan yang menyebabkan hal itu.

Tuhan memang menentukan jalan kehidupan manusia, tetapi tidak seperti yang digambarkan sebagai nasib mujur dan nasib malang. Tuhan mempunyai rencana-rencana yang harus terjadi di bumi seperti di surga, tetapi rencana itu bukannya membuat manusia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Tuhan bisa melaksanakan rencananya tanpa harus membuat manusia sebagai robot. Tuhan yang maha tahu dapat menyelami pikiran manusia. Tuhan yang maha kuasa dapat mencapai tujuanNya dengan melewati apa saja yang diperbuat manusia.

Setiap manusia bebas untuk melakuan apa saja yang dimauinya, tetapi tidak semua yang dilakukannya berguna atau membawa kebaikan. Malahan dalam kebebasannya, manusia bisa berbuat jahat dan melanggar firman Tuhan. Tetapi, sebagai orang Kristen kita sadar bahwa kita harus melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan perintah Tuhan. Dengan hidup menurut firmanNya kita boleh yakin bahwa Dia yang mahakasih akan memberkati kita dengan hal-hal yang baik.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Kalau memang sakit kita perlu dokter

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Markus 2: 17

Jika anda aktif di sosial media, pastilah sering anda mendapat kiriman artikel tentang bagaimana memelihara kesehatan, menghindari penyakit, mengenali tanda-tanda penyakit, menyembuhkan penyakit dan sejenisnya. Banyak tulisan semacam itu seolah disajikan oleh orang yang memang ahli. Namun, bagi mereka yang mengerti soal medis, 90% dari tulisan itu hanya omong kosong saja; apalagi jika ditutup dengan kalimat “harap disampaikan kepada orang lain untuk menolong mereka”. Tetapi, memang dengan cara itulah hoax dan scam menyebar ke seluruh dunia.

Sekalipun tulisan yang demikian seringkali aneh isinya, tidaklah mudah mencari jawab pertanyaan mengapa ada banyak orang yang percaya akan tulisan semacam itu. Mungkin karena tulisan semacam itu mudah dicerna dan penampilannya cukup meyakinkan. Apalagi, semuanya tidak memakan biaya; berbeda dengan pergi ke dokter. Tambahan lagi, seringkali apa yang dikatakan dokter kurang bisa dipahami atau tidak mudah dijalani.

Jika fenomena diatas adalah menyangkut kesehatan jasmani, hal yang serupa juga terjadi dalam segi kesehatan rohani. Persis seperti apa yang terjadi dalam hal jasmani, manusia di dunia ini sering mencari pengobatan alternatif dan menerima apa saja yang ditawarkan dunia untuk memperbaiki dirinya dalam hal rohani.

Yesus dalam ayat diatas berkata bahwa Ia datang ke dunia sebagai tabib untuk menyembuhkan mereka yang sering berbuat dosa, seperti si Lewi pemungut cukai – seperti kita semua. Sebagai tabib, Yesus memungkinkan manusia yang sakit atau mati rohaninya untuk bisa disembuhkan. Bahkan Ia mengurbankan diriNya sendiri di kayu salib untuk menjadi juru selamat mereka yang percaya.

“Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53: 5

Sungguh aneh tapi nyata, bahwa di zaman ini umat Kristen justru kurang menghargai Yesus sebagai tabib satu-satunya. Mungkin banyak orang yang merasa bahwa Yesus dan firmanNya hanya merupakan kunci ke surga, sedangkan untuk hidup di dunia mereka membutuhkan sesuatu yang lain, yang lebih bermanfaat dari firmanNya.

Dalam kesepiannya manusia mencari hiburan duniawi, seperti makan minum, shopping, kegiatan sosial, olahraga dan pesta. Untuk mengatasi kekuatirannya manusia belajar dari para motivator dan spiritual guru. Dan untuk masa depan manusia menaruh harapan kepada kesuksesan diri sendiri. Mereka yang sebenarnya memerlukan kesembuhan rohani itu sering membagikan pengalaman mereka dan mengajak orang lain untuk meniru mereka. Dengan cara itulah berbagai pengajaran yang keliru menyebar ke seluruh dunia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa di dunia ini, jika orang yang sakit jasmani memerlukan dokter, mereka yang menderita atau lemah rohaninya memerlukan Yesus. Yesus adalah Juruselamat kita yang sudah mati untuk menebus dosa kita. Jika dunia menawarkan berbagai cara untuk memperbaiki hidup kita, kita harus yakin bahwa hanya Yesus yang dapat membimbing dan menyegarkan kita melalui firmanNya. Dia adalah satu-satunya tabib kita!

“Orang-orang yang takut kepada-Mu melihat aku dan bersukacita, sebab aku berharap kepada firman-Mu.” Mazmur 119: 74

Andaikan aku orang kaya

“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” 1 Timotius 6: 17

Kalau saja aku kaya, aku akan membeli mobil sport warna merah, rumah besar yang mewah dan mungkin juga sebuah kapal pesiar yang indah. Begitu mungkin impian seseorang yang percaya bahwa dengan kekayaan ia bisa membeli apa saja.

Memang adanya uang itu perlu untuk hidup di dunia, dan semakin banyak uang kita, daya beli kita pun meningkat sehingga kita bisa membeli barang- barang yang kita inginkan tanpa perlu berpikir panjang. Walaupun demikian, mereka yang kaya sebenarnya belum tentu bebas dari kekuatiran. Malahan banyak orang kaya yang merasa takut kalau-kalau suatu saat uangnya habis karena bisnis yang mundur atau karena hal-hal lain.

Semakin besar kekayaan seseorang, biasanya semakin besar ketergantungannya kepada hartanya. Karena itu Yesus pernah berkata bahwa tidak mudah bagi seorang yang kaya untuk masuk ke surga.

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Markus 10: 25

Yesus bukannya anti orang kaya. Tetapi Dia anti orang yang terikat kepada kekayaannya, karena orang yang sedemikian biasanya mendewakan harta. Harta bisa dianggap lebih penting dari Tuhan. Mereka yang hanya hidup untuk mencari kekayaan, sudah tentu tidak punya waktu untuk Tuhan. Orang sedemikian akhirnya bisa kehilangan kesempatan untuk ke surga (Matius 16: 26).

Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius menulis apa yang senada dengan nasihat Yesus agar mereka yang kaya di dunia ini jangan tinggi hati dan jangan menggantungkan harapan pada kekayaan, melainkan bergantung pada Tuhan yang sudah memberikan segala sesuatu. Tuhan adalah Allah satu-satunya.

Pagi ini, marilah kita merenungkan kembali apa yang ditulis Rasul Paulus sambil membayangkan apa yang kita lakukan seandainya kita kaya. Tidak hanya kaya harta, tetapi mungkin juga pengetahuan, kesehatan, kecantikan, kuasa, kenyamanan atau kemasyhuran. Mungkinkah hati kita tidak terpengaruh akan hal-hal itu? Bisakah kita tetap rendah hati dan menempatkan Allah sebagai Tuhan yang patut kita utamakan dan sembah?

Tidaklah patut jika kita dalam hidup ini melupakan sumber kehidupan kita. Karena Dialah Allah yang maha kasih yang sudah memberikan segala apa yang baik kepada umatNya. Malahan, karunia terbesar yaitu Yesus juga datang dari Allah untuk menebus dosa kita di kayu salib. Bagi Dialah segala kemuliaan dan hormat untuk selama-lamanya!

Siapakah Yudas itu?

Maka kata Yesus kepadanya: “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” Lukas 22: 48

Keempat kitab Injil menulis bahwa Yudas adalah seorang pengkhianat. Karena itu tidak ada orang yang mau memakai nama Yudas. Nama Yudas sebenarnya adalah nama Yahudi yang umum dan berarti “Tuhan dimuliakan”. Jadi, nama Yudas itu adalah baik artinya. Dari nama keluarga Iskariot, dapat diduga bahwa Yudas adalah satu-satunya murid Yesus yang bukan dari Galilea.

Berbeda dengan arti namanya, Yudas adalah orang yang tidak jujur. Yudas adalah seorang bendahara diantara murid Yesus yang sering mencuri uang kas (Yohanes 12: 6). Bagaimana Yesus mau memilih orang yang tidak jujur untuk menjadi salah satu muridNya adalah sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya kita mengerti, tetapi sudah tentu itu adalah apa yang dikehendaki Allah untuk menggenapi maksud tujuanNya.

Memang mudah bagi kita untuk melihat kejelekan Yudas. Tetapi kita mungkin lupa bahwa kita pun dipilih Tuhan juga sebagai orang yang tidak pantas untuk menjadi muridNya. Mengapa Tuhan memilih orang seperti kita sebagai orang yang diselamatkan tentu juga sulit dimengerti, tetapi sudah pasti untuk menggenapi maksud tujuanNya, yaitu untuk memuliakan Dia, Tuhan yang maha kuasa.

Sebagai murid Yesus yang tidak baik, Yudas bukan saja tidak jujur, tetapi ia juga mementingkan diri sendiri dan mengikut Yesus dengan harapan agar Yesus pada suatu saat akan menjadi raja Israel yang berkuasa, kaya dan jaya. Dengan itu ia berharap untuk bisa hidup dalam kenyamanan. Yudas adalah seperti orang Kristen yang mengikut Yesus tetapi sering mendahulukan kepentingan pribadi dan selalu mengharapkan kenyamanan hidup di dunia.

Apakah kita tidak pernah merasakan bahwa hidup kita di dunia ini adalah sesuatu yang sering kita prioritaskan? Apakah kita tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mencapai kesuksesan? Apakah sering kita mengabaikan panggilan Tuhan untuk menjadi muridNya yang taat? Bukankah orang disekitar kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati dan pikiran kita?

Pagi ini kita diingatkan firman Tuhan bahwa seringkali kita berpura-pura untuk menjadi pengikut Tuhan, hanya untuk kemudian mengikuti pikiran dan kemauan kita sendiri. Seperti Yudas, kita dihadapkan kepada pilihan untuk mengikut Yesus atau “menjual” Yesus demi kebahagiaan duniawi. Yudas membuat kekeliruan hidup dan mengakhiri hidupnya dengan kekeliruan yang lebih besar. Kita mungkin sudah membuat banyak kekeliruan seperti Yudas, tetapi masih punya kesempatan untuk memperbaikinya selama kita hidup di dunia.

Mungkin kita saat ini masih hidup seperti Yudas: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci (Titus 3: 3). Tetapi karena kemurahan Allah, Yesus mau mati untuk menebus dosa kita. Dia sudah menyelamatkan kita, dan karena itu kita harus mau berubah dari hidup kita yang lama!