Adakah kemarahan yang benar?

“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.” Kolose 3: 8

Mengapa orang bisa menjadi sangat marah sampai melakukan perbuatan tercela? Biasanya kemarahan yang luar biasa disebabkan oleh harga diri yang terasa diinjak-injak oleh orang lain. Orang mungkin marah karena perlakuan orang lain, tetapi selama mereka tidak merasa tersudut atau sangat terhina, kemarahan itu biasanya dapat diredakan. Sebaliknya, kemarahan yang didasari oleh kesombongan sering kali membuat orang geram dan mata gelap. Dengan demikian dosa terjadi karena munculnya pikiran dan tindakan jahat yang tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1: 20).

Tidak bolehkah orang Kristen marah? Tentu saja boleh jika itu pada tempatnya, misalnya ketika melihat adanya kejahatan atau ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Walaupun demikian, kemarahan orang Kristen sebenarnya tidak boleh berdasarkan pada kebencian kepada sesama manusia, tetapi kepada kejahatan yang mereka perbuat. Kemarahan yang pantas bukanlah untuk membenarkan diri sendiri, tetapi untuk menegakkan kebenaran.

Kemarahan juga sering terjadi pada umat Kristen yang merasa tidak setuju atas pengertian atau cara hidup orang Kristen yang lain. Sering kali ini disebabkan oleh adanya perbedaan teologi atau pengajaran. Hal ini bisa menimbulkan berbagai debat, polemik dan tindakan lainnya. Dalam hal ini, setiap golongan merasa yakin bahwa golongan lain adalah salah dan mereka sendiri yang benar. Setiap pihak merasa bahwa mereka harus membela kebenaran yang mereka kenal dan Tuhan yang dikenal mereka. Mereka tidak sadar bahwa Tuhan seluruh umat Kristen adalah satu adanya dan Ia mengasihi seluruh umat manusia.

Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakasih, tetapi Ia juga Tuhan yang bisa marah kepada umat manusia. Kemarahan yang muncul dalam bentuk yang mengerikan pernah terjadi ketika manusia secara sengaja tidak menghormati-Nya sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci. Karena itu, Alkitab menuliskan bagaimana orang-orang yang melawan atau menipu Tuhan mengalami nasib yang menyedihkan. Walaupun demikian, Tuhan tidaklah membenci semua orang yang jahat. Semua orang pada hakikatnya adalah orang yang jahat, yang seharusnya menerima kebinasaan; tetapi, kepada mereka yang mau bertobat, pengampunan dan keselamatan tersedia untuk mereka.

Sebagai manusia kita memang boleh marah jika itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi, kemarahan yang tidak pada tempatnya, yang berlama-lama, yang tidak membawa kebaikan, yang disebabkan oleh kesombongan pribadi, yang mengabaikan hukum kasih, yang tidak berdasarkan kebenaran firman Tuhan, dan yang tidak membawa kemuliaan bagi Tuhan adalah kemarahan yang harus kita hindari. Sebagai umat Tuhan kita percaya bahwa Ia mahaadil dan karena itu kita yakin bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya mengambil tindakan yang paling tepat.

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2

Ketika Yesus membersihkan bait suci dari para penukar uang dan penjual hewan, Dia menunjukkan emosi dan kemarahan yang besar (Matius 21:12-13; Markus 11:15-18; Yohanes 2:13-22). Emosi Yesus digambarkan sebagai “cinta” untuk rumah Tuhan (Yohanes 2:17). Kemarahannya murni dan sepenuhnya dibenarkan karena pada akarnya adalah kepedulian terhadap kekudusan dan penyembahan Tuhan. Karena ini dipertaruhkan, Yesus mengambil tindakan cepat dan tegas. Ini berbeda dengan saat Yesus menunjukkan kemarahan di sinagoga Kapernaum. Ketika orang-orang Farisi menolak untuk menjawab pertanyaan Yesus, Ia memandang ke sekeliling mereka dengan amarah, sangat tertekan oleh hati mereka yang keras kepala (Markus 3:5).

Sering kali, kita menganggap kemarahan sebagai emosi yang egois dan merusak, yang harus kita hilangkan dari kehidupan kita sama sekali. Namun, fakta bahwa Yesus terkadang menjadi marah menunjukkan bahwa kemarahan itu sendiri adalah normal. Ini dibuktikan di tempat lain dalam Perjanjian Baru. Efesus 4:26 menginstruksikan kita “janganlah berbuat dosa” dan “janganlah matahari terbenam” atas amarah kita. Perintah-Nya bukan untuk menghindari kemarahan (atau menekannya atau mengabaikannya) tetapi untuk menghadapinya dengan benar, pada dan untuk waktu yang tepat.

Marilah kita perhatikan beberapa fakta berikut tentang kemarahan Yesus:

1) Kemarahannya memiliki alasan yang tepat. Dengan kata lain, Dia marah karena alasan yang benar. Kemarahan Yesus tidak muncul dari argumen kecil atau penghinaan pribadi terhadap-Nya. Tidak ada keegoisan yang terlibat.

2) Kemarahannya memiliki fokus yang tepat. Dia tidak marah pada Allah atau pada “kelemahan” manusia. Kemarahannya menargetkan perilaku berdosa dan ketidakadilan sejati.

3) Kemarahannya memiliki pendukung yang tepat. Markus 3:5 mengatakan bahwa kemarahan-Nya disertai dengan kesedihan karena kurangnya iman orang-orang Farisi. Kemarahan Yesus berasal dari kasih kepada orang-orang Farisi dan kepedulian terhadap kondisi rohani mereka. Itu tidak ada hubungannya dengan kebencian atau niat buruk.

4) Kemarahannya memiliki kontrol yang tepat. Yesus tidak pernah lepas kendali, bahkan dalam murka-Nya. Para pemimpin bait suci tidak menyukai pembersihan bait-Nya (Lukas 19:47), tetapi Dia tidak melakukan dosa apa pun. Dia mengendalikan emosi-Nya; tetapi emosi-Nya tidaklah mengendalikan Dia.

5) Kemarahannya memiliki durasi yang tepat. Dia tidak membiarkan kemarahan-Nya berubah menjadi kepahitan; Dia tidak menyimpan dendam. Dia menangani setiap situasi dengan benar, dan Dia menangani kemarahan pada waktu yang tepat.

6) Kemarahannya memiliki hasil yang tepat. Kemarahan Yesus memiliki konsekuensi tak terelakkan dari tindakan saleh. Kemarahan Yesus, seperti juga semua emosi-Nya, dikendalikan oleh Firman Bapa; jadi, tanggapan Yesus adalah selalu untuk menggenapi kehendak Bapa.

Pagi ini, kita disadarkan bahwa adalah fakta jika kita marah, terlalu sering kita memiliki kendali yang tidak tepat atau fokus yang tidak tepat. Sering kali kemarahan kita seakan menghancurkan orang lain dan bahkan sesama orang beriman. Dengan demikian, kita bisa gagal dalam satu atau lebih poin di atas. Inilah murka manusia, yang tentangnya kita diberitahu, “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah, sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yakobus 1:19-20). Kita harus ingat bahwa Yesus tidak pernah menunjukkan kemarahan manusia yang membawa kehancuran, tetapi kemarahan Allah yang adil yang bisa membawa manusia ke arah pertobatan.

Perdebatan antar umat Kristen

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” 1 Petrus 3: 15 – 16

Dalam kehidupan bergereja, pada umumnya jemaat menghormati para pemimpin gereja, penatua dan pendeta. Walaupun demikian, dengan perubahan sosial, hukum, teknologi dan pendidikan, para pemimpin gereja sekarang sering juga harus menghadapi berbagai komentar, kritik dan bahkan tantangan yang berasal dari jemaat atau orang Kristen yang lain. Perdebatan dan pertengkaran sering terjadi di antara umat Kristen baik secara langsung atau melalui media.

Bagi mereka yang hidup di daerah yang sudah terjangkau teknologi, komunikasi antar manusia mengenai soal kepercayaan mungkin lebih sering terjadi melalui media sosial. Kita bisa mengikuti debat antar agama, antar aliran gereja dan antar individu melalui Youtube, Whatsapp, Facebook dan sejenisnya. Terkadang diskusi semacam ini menjadi sangat hangat dan berkelanjutan dengan saling menyerang dan saling merendahkan yang lain. Sungguh menyedihkan.

Karena kemajuan teknologi, banyak yang menduga bahwa menjadi umat Tuhan tidaklah semudah abad-abad yang lalu. Itu ada benarnya. Tetapi pada zaman rasul-rasul keadaan gereja tidaklah serba tenang dan tenteram. Karena pada saat itu gereja baru mulai tumbuh, berbagai masalah internal dan eksternal sering menyebabkan ketegangan dan pertengkaran. Peraturan gerejani, sosial dan organisasi pada waktu itu masih sangat minim, dan masyarakat tentunya masih bergumul dalam hal etika dan hukum. Karena itu, sering terjadi berbagai persengketaan di antara umat Tuhan.

Bayangkan jika anda berjumpa dengan seseorang teman lama. Mungkin perjumpaan itu diawali dengan basa-basi, tetapi kemudian muncul pertanyaan apakah anda pergi ke gereja setiap minggu; dan selanjutnya perbincangan berlanjut dengan hal iman Kristen. Jika orang itu mengira bahwa anda kurang mempunyai pengertian tentang iman, ada kemungkinan ia kemudian mencoba untuk menjelaskan bahwa mendalami iman adalah perlu. Mungkin, orang itu kemudian mencoba untuk memperkenalkan apa yang benar dan baik menurut apa yang dipercayainya. Ini juga dapat menimbulkan salah mengerti dan percekcokan yang bisa membuat persahabatan menjadi hancur.

Ayat di atas mengajarkan bahwa jika orang mempertanyakan hal iman kita, kita harus menjawabnya dengan lemah lembut dan hormat, tanpa maksud buruk, supaya mereka yang membenci kita menjadi malu karena hidup dan sikap kita yang tak bercela. Baik dalam kehidupan sehari-hari atau dalam pertemuan di dunia maya, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang tidak mengenal Kristus, orang Kristen harus menyatakan kasihnya kepada sesama manusia. Mengasihi sesama manusia bukanlah berarti hanya mengasihi orang yang seiman dan segolongan saja, tetapi semua orang yang hidup di dunia. Mengasihi berarti menghargai orang lain dan mau menolong mereka yang dalam kesulitan. Sekalipun kita tidak menyetujui apa yang dilakukan atau dipercayai orang lain, kita tidak dengan sengaja mencari musuh dengan berusaha menghancurkan atau menghina mereka.

Action speaks louder than words. Apa yang kita perbuat adalah lebih efektif dari kata-kata, begitu kata peribahasa Inggris. Kita boleh berdebat dengan orang lain mengenai hal iman, tetapi pada akhirnya apa yang lebih mudah dimengerti adalah tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita benar-benar sudah menerima penebusan Kristus, hidup kita pastilah diisi dengan kasih, sukacita  dan kelemahlembutan. Dengan demikian, banyaklah orang yang mengambil keputusan untuk mau mengenal Kristus karena mereka melihat Dia hidup dalam diri kita.

Apa yang ditulis Paulus adalah cocok untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap umat Kristen, terutama para pemimpin jemaat. Paulus menasihati kita untuk menghindari perdebatan tentang soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Semua orang tentunya tahu bahwa soal-soal itu cenderung menimbulkan pertengkaran. Kita sebagai pengikut Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi sebaliknya harus ramah terhadap semua orang.

Bagaimana kita harus menghadapi mereka yang gemar mendebat firman Tuhan? Kita harus mampu mengajar dengan sabar dan dengan lemah lembut dan dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran. Biarlah firman Tuhan di hari Minggu ini memberikan kita insentif untuk bisa menjadi terang dunia!

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran” 2 Timotius 2: 23 – 25

Evangelism is not about bringing people to our church

“Go therefore, and make disciples of all nations, and baptize them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit.” Matthew 28:19

The Great Commission of Jesus above must have been read by all Christians. The term was introduced by an Austrian evangelist, Justinian von Welz (1621–88), and popularised by Hudson Taylor, almost 200 years later. Jesus gave the command that all nations should be made disciples of Him. What exactly did Jesus mean? Does He command us to Christianise all people in the world or does He command us to invite people to come to our church?

The term “Christianisation” is a sensitive term for non-Christians. History shows that various countries have experienced bad events when Christianity was introduced to the society. Various methods of evangelism are used, including some bad ones. Currently, this term still often creates tension among religions. What is our real motivation when it comes to preaching the gospel?

Indeed, the main task of Christians is to spread the gospel. Therefore, many Christians passionately desire that other too can be saved. Because of this, it is often seen in various media that there are various speeches, writings and recordings that are “loud” and attack people of other religions or with different theology. Is that okay? The Bible states that even if the cause is good, evangelism must be carried out in a good way because otherwise chaos and hatred will arise.

“The purpose of that advice is love that comes from a pure heart, from a pure conscience and from sincere faith. But there are those who do not reach that goal and who go astray in vain talk.” 1 Timothy 1:5-7

Paul in his letter to Timothy stated that to bring others to salvation, believers must be able to give true advice. He explains that if we are trying to bring others to safety, it must be done without giving rise to pointless debates that lead to chaos.

The purpose of the exhortation is to express love that comes from a pure heart, from a pure conscience and from sincere faith. Not based on hatred, dislike, or self-interest. Thus, the purpose of preaching the Gospel is to express our love to those who do not know God, so that they will realize how great His love is, who gave His only begotten Son to atone for the sins of those who believe. Therefore, everyone who then believes in God will have His love. Those who sow God’s love will reap love and not hate.

Indeed, there are those who say that the ends justify the means. Those who have good intentions should not hesitate to act. For Christians, of course, the goal does not justify the means. If the goal must be good, so must the means to achieve it. This is not easy to do because often people are ambitious to achieve good results in the shortest possible time and in the easiest possible way. Indeed, there is a sense of satisfaction and perhaps a sense of pride if success can be felt without having to wait for long. If the church is full of visitors, they think that it is a testament to their evangelistic success.

In Acts 8:26-40, an Ethiopian eunuch who was on a horse-drawn carriage trip to Jerusalem complained to Philip that he could not understand what he was reading unless someone helped. Philip, who with God’s instructions, was able to meet the eunuch, then had the opportunity to sit side by side in a horse-drawn carriage and explain the meaning of God’s words so that the eunuch finally understood and asked to be baptised.

Philip had indeed carried out the commandment of Jesus in Matthew 28:19 above. However, without the Holy Spirit everything will be in vain. Philip needed the Holy Spirit to choose a certain path that would allow him to meet the eunuch. It was also the Holy Spirit that enabled Philip to communicate with the eunuch. And it was the Spirit who guided the eunuch and opened his heart and mind so that he believed and wanted to be baptised.

If growing the number of churchgoers can be done by anyone, the reason is that there are people, like Philip and the Ethiopian eunuch, willing to listen to God’s voice in their lives and open their lives so that the Holy Spirit can work freely. In other words, humans can become disciples of God not because of their own efforts. Even if we work as hard as we can, we ourselves cannot make other people become disciples of God. The all-knowing God calls those whom He wills. All we can do is spread the gospel and live according to God’s command so that everyone around us can see God’s love.

“So let your light shine before people, that they may see your good works and glorify your Father who is in heaven.” Matthew 5:16

The true task of Christians in fulfilling the Great Commission is not to force people to become Christians nor to persuade them to come to our church, but to share the good news and God’s blessings with those who live in physical and spiritual drought, so that with the guidance of the Holy Spirit they will answer “yes”. This task, although it will not bring everyone to salvation, can make many people understand the principles of life and ethics based on the love of Christians. They will also be able to see that as Christians we are also active in enforcing the law, defending the weak and establishing social justice in society.

“But you will receive power when the Holy Spirit has come upon you, and you will be my witnesses in Jerusalem and in all Judea and Samaria and to the ends of the earth.” Acts 1: 8

Menginjil bukan untuk membawa orang ke gereja kita

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Matius 28: 19

Amanat Agung Yesus di atas pasti pernah dibaca semua orang Kristen. Istilah “the Great Commission” ini diperkenalkan oleh seorang penginjil asal Austria, Justinian von Welz (1621–88), dan dipopulerkan oleh Hudson Taylor, hampir 200 tahun sesudahnya. Yesus memberi perintah agar semua bangsa dijadikan murid-Nya. Apa sebenarnya maksud Yesus? Apakah Ia memerintahkan kita untuk mengkristenkan semua manusia di dunia? Ataukah Ia memerintahkan kita untuk mengundang orang banyak untuk datang ke gereja kita?

Istilah “kristenisasi” adalah istilah yang sensitif bagi orang-orang yang bukan Kristen. Sejarah menunjukkan bahwa berbagai negara pernah mengalami peristiwa buruk ketika agama Kristen mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Berbagai cara penginjilan dipakai, termasuk cara-cara yang tidak baik. Di zaman ini, istilah ini masih sering menimbulkan ketegangan antar agama. Bagaimana sebenarnya posisi kita dalam hal mengabarkan injil?

Memang tugas utama umat Kristen adalah mengabarkan injil. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen dengan semangat yang menggebu-gebu ingin agar orang lain juga bisa diselamatkan. Karena itu, sering terlihat di berbagai media adanya berbagai pidato, tulisan dan rekaman yang bernada keras dan menyerang orang yang beragama lain atau yang berbeda teologinya. Baikkah itu? Alkitab menyatakan bahwa sekalipun tujuannya baik, penginjilan harus dilaksanakan dengan cara yang baik karena jika tidak, kekacauan dan kebencian justru akan muncul.

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” 1 Timotius 1: 5 – 7

Paulus dalam suratnya kepada Timotius menyatakan bahwa untuk membawa orang lain kepada keselamatan, orang percaya harus bisa memberi nasihat yang benar. Ia menjelaskan jika kita berusaha membawa orang lain kepada keselamatan, itu harus dilakukan tanpa menimbulkan perdebatan sia-sia yang menimbulkan kekacauan.

Tujuan nasihat itu ialah untuk menyatakan kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Bukan didasarkan pada kebencian, rasa tidak suka atau kepentingan pribadi. Dengan demikian, tujuan mengabarkan Injil adalah untuk menyatakan kasih kita kepada mereka yang belum mengenal Tuhan, agar mereka menyadari betapa besar kasih-Nya yang sudah menurunkan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa mereka yang percaya. Karena itu, setiap orang yang kemudian percaya kepada Tuhan akan memiliki kasih-Nya. Orang yang menabur kasih Tuhan akan menuai kasih dan bukan kebencian.

Memang ada orang yang berkata bahwa tujuan menghalalkan cara. Siapa yang mempunyai maksud baik, tidak perlu ragu-ragu untuk bertindak. Bagi orang Kristen, sudah tentu tujuan tidak menghalalkan cara. Jika tujuan harus baik, begitu juga cara untuk mencapainya. Ini bukanlah mudah untuk dilakukan karena sering kali orang berambisi untuk mencapai hasil baik dalam waktu yang sesingkat mungkin dan dengan cara yang semudah mungkin. Memang, ada rasa puas dan mungkin rasa bangga jika keberhasilan dapat dirasakan tanpa harus menunggu lama. Jika gereja penuh dengan pengunjung, mereka berpikir bahwa itu adalah bukti kesuksesan penginjilan mereka.

Dalam Kisah 8: 26-40, seorang sida-sida Etiopia yang sedang dalam perjalanan berkereta kuda ke Yerusalem, mengeluh kepada Filipus bahwa dia tidak mungkin mengerti apa yang dibacanya jika tidak ada orang yang menolong. Filipus yang dengan petunjuk Tuhan dapat bertemu dengan sida-sida itu, kemudian memperoleh kesempatan untuk duduk berdampingan dalam kereta kuda dan menjelaskan arti firman Tuhan sehingga sida-sida itu akhirnya bisa mengerti dan minta untuk di baptiskan. 

Filipus memang sudah menjalankan perintah Yesus dalam Matius 28:19 diatas. Tetapi, tanpa Roh Kudus segala sesuatunya akan sia-sia. Filipus membutuhkan Roh Kudus untuk memilih jalan tertentu yang memungkinkan ia bertemu dengan sida-sida itu. Roh Kudus jugalah yang membuat Filipus dapat berkomunikasi dengan sida-sida itu. Dan Roh jugalah yang membimbing sida-sida itu dan membuka hati dan pikirannya sehingga ia percaya dan mau dibaptiskan.

Jika menumbuhkan jumlah pengunjung gereja dapat dilakukan setiap orang dengan segala cara, apa yang menumbuhkan jumlah orang percaya adalah adanya orang yang seperti Filipus dan sida-sida Etiopia, mau mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya dan membuka hidupnya agar Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas. Dengan kata lain, manusia dapat menjadi murid Tuhan sebenarnya bukan karena usaha manusia.

Sekalipun kita bekerja sekuat tenaga, kita sendiri tidak dapat membuat orang lain menjadi murid Tuhan. Tuhan yang mahatahu memanggil orang-orang yang mau dipanggil-Nya. Yang dapat kita lakukan adalah mengabarkan Injil dan hidup menurut perintah Tuhan agar semua orang disekitar kita bisa melihat kasih Tuhan.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Tugas umat Kristen dalam memenuhi Amanat Agung bukanlah memaksa orang untuk menjadi Kristen dan bukan juga untuk mengajak mereka untuk datang ke gereja kita, tetapi untuk membagikan kabar baik dan berkat Tuhan kepada mereka yang hidup dalam kekeringan jasmani dan rohani, sehingga dengan bimbingan Roh Kudus mereka mau untuk menjawab “ya”. Tugas ini, sekalipun tidak akan membawa semua orang ke dalam keselamatan, bisa membuat banyak orang untuk mengerti prinsip hidup dan etika yang berdasarkan kasih dari orang Kristen. Mereka akan juga dapat melihat bahwa selaku orang Kristen kita juga aktif dalam menegakkan hukum, membela yang lemah dan membentuk keadilan sosial dalam mayrarakat.

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah 1: 8

Jesus came for those who admit their sins

Jesus said to him, “Today salvation has come to this house, because this man too is the son of Abraham. For the Son of Man came to seek and to save that which was lost.” Luke 19: 9-10

The story of Zacchaeus the tax collector is a record of Jesus’ encounter with a convert. This story is very well known, especially among Sunday school children who have a special song about Zacchaeus being short.

The Lord Jesus used the “tax collector” as a model for repentant people. Through the parable of the Pharisee and the tax collector, we see that He rebuked the proud Pharisee for his own righteousness and accepted the publican’s humility and repentance. He also did not hesitate to choose a tax collector to enter the class of the twelve Apostles, namely Matthew.

Christ considered the door of repentance open to all. He came to offer salvation to anyone who believes in Him. When the disciples asked why their teacher ate with tax collectors and sinners, Jesus replied that it is not the healthy who need a healer, but the sick. He came not to call the righteous, but sinners, to repentance (Luke 5:31-32).

Zacchaeus appears to have heard of Jesus, His teachings and miracles, and that Jesus accepted tax collectors and “eat and drink with sinners” (Luke 5:30). Perhaps this is where his longing to see Jesus grew, to know who He is. But two obstacles stood in the way of his initial encounter with Jesus.

The first is that many people do not welcome the existence of “sinners” among them, and the second is that Zacchaeus was short, not only physically, but spiritually as well. However, these obstacles did not prevent him from committing acts that were considered childish and shameful that were inconsistent with the behaviour befitting his status as “chief tax collector”.

Zacchaeus didn’t care about what people would say about him, about their criticism and ridicule. He just wanted to see Jesus, who forced him to climb a fig tree. But we read that before he saw Jesus, Christ had seen him. In the same way, God is always willing to meet us, if only He sees that we want and keen to meet Him.

When Jesus came to that place, He saw Zacchaeus sitting on a fig tree and said: “Zacchaeus, come down quickly, for today I must stay at your house.” We may wonder: why did Jesus want to visit the house of a stranger? But of course, Jesus knew who Zacchaeus was and what was in his life. Jesus could see that Zacchaeus really wanted to live a good life, but never succeeded on his own.

At this point, having been invited by Christ to come down from the tree, Zacchaeus rushed down and was eager to welcome Jesus into his home. Regarding this, the church father Augustine once said: “The Lord, who has welcomed Zacchaeus into His heart, is now ready to be welcomed by Zacchaeus into his home.” Jesus had acted before Zacchaeus could express his heart and desires. And Zacchaeus welcomed Jesus’ actions with open arms.

None of Zacchaeus’s actions and efforts were in vain because Jesus chose him from the great crowd that surrounded Him, to enter his house and receive blessings and salvation. Zacchaeus became the chosen one. We should notice that Jesus expressed His will but did not force Zacchaeus. It shows us how God values every human effort, no matter how small or seemingly insignificant, and He complements it with Divine initiative, which in Christian theology is referred to as synergy or cooperation between human and Divine efforts.

Throughout the Bible, we see that every example of the Lord Jesus accepting one sinner is met with criticism from the crowd. This incident was no exception. The evangelist Luke records that everyone who saw this groaned and said that Jesus had come to the house of a sinner. But the crowd’s hostile attitude did not stop Zacchaeus from pursuing his path to full repentance. No one who has truly felt Jesus with his heart can live in his crimes much longer. Zacchaeus stood up and said to Christ, “Lord, half of what I have I will give to the poor, and if I have extorted anything from anyone I will give back four times as much.” Before Jesus confessed his guilt, Zacchaeus wanted to humble himself and confess his sin.

Zacchaeus showed genuine repentance through his actions, not only through his words but through his actions. Not only did he confess, but he also showed a willingness to return what he had done the wrong way, and he not only promised this, but did it. His sincerity is expressed by his willingness to return four times what he earned the wrong way. Indeed, a living faith is faith with works (James 2:13-26.

This confession and attitude of repentance was enough for Jesus, who said: “Today salvation has come to this house, because this man too is a son of Abraham”. Zacchaeus was not one of Abraham’s descendants according to the body, but as a son of Abraham according to faith. The Lord Jesus came again and reminded the crowds and His disciples about the essence of ministry in His message: “For the Son of Man came to seek and save the lost.” It was a call to repentance, which became the starting point in Christ’s ministry in the world.

For Jesus, Zacchaeus was not only a sinful tax collector, but also a project of repentance. Christ saw Zacchaeus differently than the crowd did. He looked at him with a look of compassion, love and acceptance, and it was this look that prompted Zacchaeus to open his heart to repentance and then open his home to accept Jesus as Saviour.

What if we were Zacchaeus this morning? Can we express our repentance like him? We Christians must be like Zacchaeus to overcome the crowds and busyness of the world that prevent us from seeing Christ. We must be willing to humbly overcome our little faith and use the opportunities available to meet our Saviour in person. God wants and can change our lives if we open the doors of our hearts.

Yesus datang untuk mereka yang sadar akan dosanya

Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Lukas 19: 9-10

Kisah tentang Zakheus si pemungut cukai adalah sebuah catatan perjumpaan Yesus dengan seorang yang ingin untuk bertobat. Kisah ini sangat terkenal, terutama di kalangan anak sekolah minggu yang mempunyai lagu khusus tentang Zakheus yang pendek tubuhnya.

Tuhan Yesus menggunakan “pemungut cukai” sebagai model bagi orang yang bertobat. Melalui perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai, kita melihat bahwa Dia menegur orang Farisi yang sombong atas kebenaran dirinya sendiri dan menerima kerendahan hati dan pertobatan pemungut cukai. Ia juga tidak segan-segan memilih pemungut cukai untuk masuk golongan kedua belas Rasul, yaitu Matius.

Kristus menganggap pintu pertobatan terbuka bagi semua orang. Ia datang untuk menawarkan keselamatan bagi siapa pun yang percaya kepada-Nya. Ketika pertanyaan diajukan kepada para murid mengapa guru mereka makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa, Yesus menjawab bahwa bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang yang sakit. Dia datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat (Lukas 5: 31-32).

Zakheus tampaknya telah mendengar tentang Yesus, ajaran dan mujizat-Nya, dan bahwa Yesus menerima pemungut cukai dan “makan dan minum bersama orang berdosa” (Lukas 5:30). Mungkin dari sinilah tumbuh kerinduannya untuk melihat Yesus, untuk mengetahui siapa Dia. Namun ada dua rintangan yang menghalangi pertemuan awalnya dengan Yesus.

Yang pertama adalah bahwa banyak orang tidak menyambut keberadaan orang yang “berdosa” di antara mereka, dan yang kedua adalah bahwa Zakheus bertubuh pendek, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara rohani. Namun, kendala tersebut tidak menghalanginya untuk melakukan tindakan yang dianggap kekanak-kanakan dan memalukan yang tidak sesuai dengan perilaku yang sesuai dengan statusnya sebagai “kepala pemungut cukai”.

Zakheus tidak peduli tentang apa yang akan dikatakan orang tentang dia, tentang kritik dan ejekan mereka. Dia hanya ingin melihat Yesus, yang memaksanya untuk memanjat pohon ara. Tetapi kita membaca bahwa sebelum dia melihat Yesus, Kristus telah melihat dia. Dengan cara yang sama, Tuhan selalu mau bertemu dengan kita, jika saja Dia melihat bahwa kita mau dan ingin bertemu dengan-Nya.

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat Zakheus duduk di atas pohon ara dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”. Kita mungkin heran: mengapa Yesus mau berkunjung ke rumah orang yang tidak dikenal-Nya? Tetapi tentu saja Yesus tahu siapakah Zakheus itu dan apa yang ada dalam hidupnya. Yesus bisa melihat bahwa Zakheus sungguh-sungguh ingin untuk menjalani kehidupan yang baik, tetapi tidak pernah berhasil dengan usahanya sendiri.

Pada titik ini, setelah diundang oleh Kristus untuk turun dari pohon, Zakheus bergegas turun dan sangat ingin menyambut Yesus ke rumahnya. Mengenai hal ini, bapa gereja Agustinus pernah berkata: “Tuhan, yang telah menyambut Zakheus di dalam hati-Nya, sekarang siap untuk disambut oleh Zakheus di rumahnya.” Yesus telah bertindak sebelum Zakheus dapat menyatakan isi hati dan keinginannya. Dan Zakheus menyambut tindakan Yesus dengan tangan terbuka.

Tidak ada tindakan dan usaha Zakheus yang sia-sia, karena Yesus memilih dia dari kerumunan besar yang mengelilingi-Nya, untuk memasuki rumahnya dan menerima berkat dan keselamatan. Zakheus menjadi orang pilihan. Kita harus memperhatikan bahwa Yesus menyatakan keinginan-Nya, tetapi tidak memaksa Zakheus. Ini menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan menghargai setiap usaha manusia, tidak peduli seberapa kecil atau tampaknya tidak signifikan, dan Dia melengkapinya dengan inisiatif Ilahi, yang dalam teologi Kristen disebut sebagai sinergi atau kerja sama antara upaya manusia dan Ilahi.

Di seluruh Alkitab, kita melihat bahwa setiap contoh Tuhan Yesus menerima salah satu orang berdosa disambut dengan kritik dari orang banyak. Kejadian ini tidak terkecuali. Penginjil Lukas mencatat bahwa semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut dan mengatakan bahwa Yesus telah datang ke rumah orang berdosa. Tetapi sikap orang banyak yang bermusuhan ini tidak menghentikan Zakheus untuk menempuh jalannya menuju pertobatan penuh. Tidak seorang pun yang sudah benar-benar merasakan Yesus dengan hatinya dapat hidup dalam kejahatannya lebih lama lagi. Zakheus berdiri dan berkata kepada Kristus, “”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Sebelum Yesus menyatakan kesalahannya, Zakheus mau merendahkan dirinya dan mengaku akan dosanya.

Zakheus menunjukkan pertobatan yang tulus melalui tindakannya, bukan hanya melalui kata-katanya tetapi melalui perbuatannya. Tidak hanya dia mengaku, tetapi dia juga menunjukkan kesediaan untuk mengembalikan apa yang telah dia lakukan dengan cara yang salah, dan dia tidak hanya menjanjikan ini, tetapi juga melakukannya. Kesungguhan hatinya dinyatakan dengan kemauannya untuk mengembalikan empat kali lipat dari apa yang diperolehnya dengan cara yang salah. Memang iman yang hidup adalah iman yang disertai perbuatan (Yakobus 2: 13-26).

Pengakuan dan sikap pertobatan ini sudah cukup untuk diterima Yesus, yang mengatakan: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham”. Zakheus bukan salah satu keturunan Abraham menurut tubuh, tetapi sebagai anak Abraham menurut iman. Tuhan Yesus datang kembali dan mengingatkan orang banyak dan murid-murid-Nya tentang inti dari pelayanan dalam pesan-Nya: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang hilang”. Itu adalah panggilan untuk pertobatan, yang menjadi titik awal dalam pelayanan Kristus di dunia.

Bagi Yesus, Zakheus bukan hanya pemungut cukai yang berdosa, tetapi juga proyek pertobatan. Kristus melihat Zakheus secara berbeda dari yang dilihat orang banyak. Dia melihatnya dengan tatapan belas kasih, cinta dan penerimaan, dan tatapan inilah yang mendorong Zakheus untuk membuka hatinya untuk pertobatan dan kemudian membuka rumahnya untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamat.

Bagaimana jika pagi ini kita menjadi Zakheus? Sanggupkah kita untuk menyatakan pertobatan kita seperti dia? Kita orang Kristen harus menyerupai Zakheus untuk mengatasi kerumunan dan kesibukan duniawi yang menghalangi kita untuk bisa melihat Kristus. Kita harus mau dengan rendah hati mengatasi iman kita yang kecil dan menggunakan kesempatan yang ada untuk menemui Juruselamat kita secara pribadi. Tuhan mau dan bisa mengubah hidup kita jika kita membuka pintu hati kita.

Kita tidak selalu mendapat apa yang diinginkan

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan keagamaan yang menganjurkan orang untuk berdoa pada waktu tertentu agar bisa memperbesar kemungkinan untuk dikabulkan Tuhan. Menurut tulisan itu, jika kita berdoa pada saat tertentu, makin besar kemungkinan untuk mendapat berkat Tuhan yang terbaik. Tidak jelas mengapa hal itu dianjurkan sedangkan Tuhan yang mahakuasa dan mahahadir tentunya selalu tahu kapan saja kita berdoa dan apa yang kita doakan. Tuhan yang selalu ada dan tidak pernah tidur tentunya selalu mau mendengarkan doa umat-Nya.

Di antara umat Kristen, memang ada yang percaya bahwa berdoa di  tempat-tempat tertentu memberi kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat jawaban Tuhan. Karena itu, tempat-tempat sedemikian biasanya penuh sesak dengan orang yang datang untuk berdoa. Selain itu, ada pula orang yang mengajarkan cara berdoa tertentu, melalui perantaraan orang tertentu, atau berpuasa, agar bisa lebih menjamin datangnya berkat dan pertolongan Tuhan.

Jika orang Kristen bebas untuk berdoa kapan saja dan di mana saja, biasanya orang memang lebih sering berdoa di tempat tertentu dan pada saat tertentu. Itu sekadar kebiasaan, dan bukan keharusan.  Orang Kristen  dianjurkan untuk berdoa atau berkomunikasi dengan Tuhan sesering mungkin, tetapi mungkin kita lebih merasakan dorongan untuk berdoa di tempat tertentu atau pada saat di mana kita membutuhkan Tuhan. Itu tidak ada salahnya. Walaupun demikian, apakah doa manusia menentukan apa yang akan terjadi? Adakah manfaat doa manusia dalam memengaruhi keputusan Tuhan? Inilah hal yang sering menjadi polemik di antara umat Kristen. Bagaimana kata Alkitab?

Ayat di atas menyatakan bahwa orang Kristen yakin dan percaya bahwa Tuhan akan mengabulkan permintaan mereka jika apa yang dipinta adalah sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, kita tidak dapat mengharapkan bahwa doa kita akan terkabul jika apa yang kita pinta tidak sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan. Dalam hal ini, kita harus bersyukur kalau doa kita tidak terkabul, karena apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya pasti akan diubah-Nya agar sesuai dengan rencana-Nya. Dan kalau itu terjadi, kita mungkin akan mengalami kekecewaan yang lebih besar.

Dalam kenyataannya, Tuhan Yesus pernah mengajarkan dalam Doa Bapa Kami: “… datanglah Kerajkaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga“. Selain itu Tuhan Yesus berdoa di taman Getsemani: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa kita boleh berdoa dan memohon sesuatu, tetapi kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa Tuhan yang selalu mendengarkan permohonan kita akan mengabulkan permintaan kita jika permintaan kita bertentangan dengan kehendak-Nya.

Adakah cara yang terbaik untuk memperoleh jawaban positif dari Tuhan? Ada! Jika kita memohon apa yang memang dikehendaki Tuhan, sudah pasti itu akan terjadi. Tetapi, jika Tuhan menghendaki sesuatu dan kita tidak dapat membatalkan atau mengubahnya, apakah perlunya kita berdoa? Inilah misteri hubungan antara umat dan Tuhan yang tidak dapat dimengerti orang yang bukan Kristen. Malahan sebagian orang Kristen juga masih percaya bahwa jika memang kita bersungguh-sungguh dan “ngotot” dengan doa kita, Tuhan pada akhirnya mungkin mengalah dan menyesuaikan rencana-Nya dengan kehendak kita.

Rahasia suksesnya doa memang sulit dimengerti, sekalipun  seharusnya dipahami oleh setiap orang Kristen. Satu-satunya jalan untuk memperoleh apa yang kita mohonkan adalah menyesuaikan permohonan kita dengan kehendak-Nya. Tetapi untuk mengerti apa yang dikehendaki Tuhan, kita harus dekat kepada-Nya. Dan untuk dekat dengan Dia, kita harus rajin berdoa, berkomunikasi dengan Dia. Doa adalah nafas kehidupan rohani kita, dan Roh Kudus menolong kita dalam berdoa.

Tanpa doa, hubungan kita dengan Tuhan akan pelan-pelan menjadi mati. Dengan demikian, kita tidak lagi bisa memahami apa yang dikehendaki-Nya. Kita harus sadar bahwa doa kita yang tidak terkabul mungkin adalah doa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Lebih dari itu, jika kita  mengalami atau memperoleh sesuatu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, kita tetap harus berusaha mencari kehendak Tuhan di masa depan melalui doa yang tidak berkeputusan.

Tuhan tidak akan memilih mereka yang tidak mau dipilih

“Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.” Matius 5: 29

Sebagai orang percaya, kita tentunya yakin bahwa keselamatan kita datang dari Tuhan. Karena semua orang sudah berdosa, tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dirinya dari murka Tuhan. Hanya karena kasih Tuhan yang mau mengurbankan Yesus Kristus, mereka yang percaya akan diselamatkan. Itu bukan karena perbuatan kita, tetapi semata-mata karunia-Nya yang memilih siapa pun yang dikendaki-Nya. Lalu, apakah setiap orang mengaku percaya kepada Tuhan akan diselamatkan? Jawabnya sudah pasti: Tidak. Tuhan tidak memilih mereka yang mau tetap hidup dalam dosa, yaitu mereka yang tidak mau dipilih.

Ada banyak dosa, dan setiap dosa akan membawa kematian jika manusia tidak mau bertobat. Berzina, misalnya. Perbuatan ini dulu dianggap sebagai aib, tetapi sekarang mungkin dianggap umum, dan bahkan dianggap sebagai bagian kehidupan orang di mana saja, terutama di kalangan orang ternama. Bahkan orang yang dianggap tokoh kerohanian pun banyak yang melakukannya dengan berbagai alasan. Perzinaan bukan sesuatu yang langka. Orang Kristen yang melakukannya tahu bahwa itu dosa, tetapi sebagian berpikir bahwa jika mereka sudah dipilih oleh Tuhan mahakuasa, tentu akan selamat bagaimana pun besarnya dosa mereka. Bagaimana mereka tahu bahwa Tuhan sudah memilih mereka, tentunya adalah satu tanda tanya.

Perzinaan mungkin sering diartikan sebagai hubungan seksuil antara dua orang yang bukan suami istri, yang dilakukan dengan sengaja atas kehendak orang-orang yang bersangkutan. Perzinaan juga mencakup perselingkuhan yaitu penyelewengan seksuil antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain. Tetapi, dalam Alkitab, Yesus menyatakan bahwa perzinaan tidak hanya menyangkut hubungan badani. Perzinaan bisa terjadi melalui penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan dan lamunan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Matius 5: 28

Jika dosa perzinaan sering diperbuat manusia karena perbuatannya terhadap orang lain, ayat dalam Keluaran 34: 14-15 menyebutkan jenis perzinaan lain, yaitu perbuatan selingkuh rohani yang diperbuat umat Tuhan melalui pemujaan ilah-ilah yang membuat Tuhan cemburu dan marah. Perzinaan rohani, spiritual adultery, semacam itu adalah dosa besar yang menghancurkan hubungan Tuhan dan umat-Nya. Itulah yang disebut idolatry atau pemujaan ilah, yang bisa berupa pemujaan dewa, arwah, benda mati, hewan atau manusia lain, yang dilarang keras oleh Tuhan.

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu. Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.” Keluaran 34: 14-15

Jika perzinaan yang bisa dilihat orang adalah hal yang mudah dimengerti, perzinaan rohani adalah sumber atau asal dari perzinaan jasmani; dan itu sering diabaikan orang. Pada waktu raja Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan kemudian tergiur, pada waktu itu juga ia sudah melakukan perzinaan rohani. Sayang, raja Daud tidak menyadarinya. Dosa perzinaan rohani sudah dilakukannya sebelum ia melakukan perzinaan jasmani.

Bagi orang Kristen yang berusaha untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan, perzinaan rohani adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Bukan saja keinginan daging yang ada dalam pikiran, tetapi apa pun yang membuat kita mengagumi orang lain, bisa menjadi perzinaan. Perzinaan rohani bukan saja menyangkut kekaguman dan kegairahan hati kepada orang lain, dan bukan hanya apa yang bisa melukai perasaan pasangan hidup kita. Perzinaan rohani bisa berupa rasa ketergantungan kita atas harta, kesuksesan, kesehatan, dan kekaguman atas pengajaran orang yang secara langsung atau tidak, sudah mengecewakan Tuhan dan merendahkan firman-Nya.

Hari ini, kita menyadari bahwa perzinaan adalah dosa yang sering terjadi, sekalipun orang tidak menyadarinya. Karena apa yang dilihat mata bukanlah dosa satu-satunya, tetapi apa yang timbul dalam hati adalah penyebab utama. Perzinaan spiritual adalah satu dosa yang harus selalu kita perangi dan harus juga kita akui dalam permohonan ampun kepada Tuhan yang sering kita lukai perasaan-Nya. Tuhan yang mahakasih selalu mau mengampuni orang yang sadar akan dosanya dan benar-benar mau bertobat – mencungkil dan membuang apa yang dulunya menjadi bagian dari hidupnya. Tetapi mereka yang tidak mau berubah dari kebiasaan lamanya, tidak akan mendapatkan pengampunan Tuhan dan tidak mungkin untuk memperoleh keselamatan, karena Tuhan tidak mau memilih orang yang tidak mau dipilih-Nya. Mereka secara otomatis akan mendapat upah dosanya yaitu maut.

Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan. Kisah Para Rasul 3:19

Dengan kebebasannya, manusia cenderung menolak karunia Tuhan

“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Roma 8: 7

Judul di atas untuk banyak orang bisa menimbulkan rasa masygul, karena adanya kemungkinan bahwa teman atau sanak-saudara yang tidak akan bisa diselamatkan. Jika manusia dikatakan tidak dapat menolak karunia Tuhan, dan tetap ada banyak orang yang jelas-jelas memilih cara hidup yang keliru, mungkinkah itu karena Tuhan sengaja membuat mereka menolak karunia-Nya? Mungkinkah Tuhan sudah dari awalnya menetapkan mereka untuk ke neraka? Dalam hal ini, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, selama hidup di dunia kita tidak dapat mengetahui jalan pikiran Tuhan (Yesaya 55: 8 – 9) dan Tuhan tidak pernah mengatakan secara pribadi bahwa hidup kita adalah cukup baik bagi-Nya. Sebaliknya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Semua orang jelas dengan kebebasannya pasti memenuhi syarat untuk masuk ke neraka.

Ketika Paulus berkata dalam ayat di atas bahwa “keinginan daging adalah permusuhan dengan Allah”, dia memberi arti yang paling penting untuk dosa. Dosa adalah kontradiksi dengan Tuhan, kontradiksi dengan kemuliaan Tuhan yang mahabesar. Tidak ada yang lebih dekat dengan kemuliaan Tuhan selain kebenaran-Nya; karena Dia adalah kebenaran. Iblis, si penggoda, tentu sangat menyadari hal ini, dan karena itu strateginya sampai sekarang adalah memutar-balikkan kebenaran Tuhan. Kepada Hawa dia berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kejadian 3: 4). Ini adalah penolakan terang-terangan atas kebenaran Tuhan. Ketika Hawa dengan kehendaknya sendiri menerima kontradiksi ini, hubungannya dengan Tuhan menjadi berantakan dan karena dosanya ia terbelenggu oleh iblis. Kemarahan Tuhan terhadap iblis adalah karena apa yang diperbuat iblis, yang membawa kejatuhannya, adalah sama dengan apa yang digunakannya untuk merayu Hawa.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”` Yohanes 8: 44.

Jelas bahwa dosa adalah penyalahgunaan kebebasan manusia yang menyebabkan penolakan manusia terhadap kehendak Tuhan. Kejatuhan manusia ke dalam dosa bukanlah kehendak Tuhan, karena Ia memberi Adam dan Hawa sebuah larangan yang mudah dimengerti. Jika kehendak Tuhan tidak bisa ditolak manusia, tentu tidak akan ada dosa. Firman Tuhan sudah diungkapkan dalam Injil dan karena itu semua kontradiksi atas Injil adalah penolakan manusia yang sudah diketahui Allah sejak mulanya.

Di dalam Injil kita melihat bentuk kasih karunia Allah yang sudah dirancang sebelum kejatuhan, dan Kristus adalah perwujudan dari kasih karunia itu. Oleh karena itu, ketidakpercayaan kepada Kristus adalah penolakan atas kasih karunia Tuhan, dan ini akan membawa maut (Roma 6: 23). Jadi, untuk mengatakan bahwa semua kasih karunia Tuhan tidak dapat ditolak berarti menyangkal fakta-fakta kehidupan manusia berdosa seperti apa yang dicantumkan dalam Alkitab.

Walaupun demikian, Roma 10: 9 mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya tidak ada seorang pun  yang tahu. Sebaliknya, ada orang yang merasa bahwaYesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu.

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggil-Nya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbaharui. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Mengapa orang menolak karunia keselamatan Allah? Sekali lagi, itu karena adanya kebebasan yang dimiliki manusia. Sejarah umat manusia adalah penuh dengan perlawanan yang tiada hentinya terhadap anugrah Tuhan. Memang kita mampu menolak kasih karunia Tuhan, dan dalam hidup lama kita, kita benar-benar sudah pernah menolak kasih karunia Tuhan. Tetapi, meskipun kita secara alami bisa menolak anugerah Tuhan, kasih dan kuasa Tuhan begitu kuat sehingga dapat mengatasi penolakan alami kita terhadap-Nya, jika Ia menghendakinya.

Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja secara terus menerus membohongi Tuhan dengan mengabaikan Dia dan menolak untuk menaati perintah-Nya, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima Kristus.

Pada pihak yang lain, mungkin diantara kita masih ada yang bergumul untuk memutuskan, apakah mau memilih panggilan Kristus atau mengiku ti kenikmatan duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja menolak panggilan Kristus untuk menerima karunia keselamatan. Di sini peranan pemuridan dan doa orang Kristen adalah sangat penting (Matius 28: 19-20). Tuhan bekerja menurut rencana-Nya, dan kita tidak mengerti atau tahu apa yang akan dilakukan-Nya kepada orang-orang yang belum benar-benar percaya kepada-Nya. Doa dan usaha mengabarkan Injil kita adalah pernyataan iman bahwa Tuhan pada hakikatnya mengasihi seisi dunia dan ingin agar manusia bisa diselamatkan pada saat yang ditetapkan-Nya.

Hari ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apa pun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubah-Nya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan nama-Nya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Jika demikian, kita tidak perlu meragukan janji keselamatan-Nya.

Belas kasihan kepada kawan seiman

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Pernahkah anda memikirkan pertanyaan di bawah ini yang berhubungan dengan isi Alkitab?

  • Siapakah yang harus kita kasihi?
  • Mengapa kita harus mengasihi sesama manusia?
  • Apakah Tuhan mengasihi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan?

Semua pertanyaan di atas mungkin mudah untuk dijawab oleh orang yang rajin mempelajari isi Alkitab. Sudah tentu kita tahu bahwa kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita karena Tuhan lebih dulu mengasihi kita. Tuhan yang mahakasih mengasihi seisi dunia dan oleh sebab itu Ia mendatangkan Yesus Kristus ke dunia (Yohanes 3: 16). Tetapi Tuhan lebih mengasihi orang yang percaya dan taat kepada Yesus, yang diberi-Nya anugerah keselamatan.

Bagaimana pula dengan pertanyaan ini: Apakah orang Kristen patut untuk “pilih kasih” dengan lebih mengasihi sesama orang beriman daripada orang lain? Pertanyaan ini mungkin bisa membuat kita berpikir dalam-dalam. Sebagian orang Kristen yakin bahwa mereka harus mengasihi sesama manusia tanpa pandang bulu. Bukankah Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi mereka yang tidak kita kenal dan juga musuh kita? Lukas 10: 30 – 37 menyatakan bahwa kita harus bisa menjadi seperti orang Samaria yang bisa bermurah hati kepada siapa pun.

Memang benar bahwa kita harus bisa mengasihi semua orang dari mana pun asalnya, bagaimanapun penampilan, sikap serta sifatnya. Walaupun demikian, Alkitab dalam ayat di atas menyatakan bahwa kita harus mau berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Jelas bahwa kasih kita kepada sesama orang beriman haruslah lebih besar jika dibandingkan dengan kasih kita kepada orang lain. Mengapa demikian? Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menulis bahwa sebagai anggota tubuh Kristus kita adalah sepenanggungan.

“Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” 1 Korintus 12: 26 – 27

Mengasihi saudara seiman adalah kewajiban, tetapi dalam kenyataannya orang Kristen mungkin lebih sering menyatakan rasa kurang suka dan bahkan rasa benci kepada mereka yang sebenarnya seiman. Banyak orang Kristen yang hanya peduli atas saudara seiman yang segereja, segolongan, sedoktrin, sesuku dan senegara. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah kita seharusnya dapat ikut merasakan penderitaan, kesulitan dan perjuangan yang dialami oleh semua saudara seiman?

“Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?” 2 Korintus 11: 29

Ada kemungkinan bahwa sebagian orang Kristen menganggap orang Kristen yang lain bukanlah orang yang seiman jika mereka mempunyai aliran atau pandangan yang berbeda. Sejarah membuktikan bahwa pertikaian antar umat Kristen sudah ada sejak Yesus berangkat ke surga. Karena itu, sebagian orang Kristen sampai zaman ini pun tidak menyukai dan bahkan membenci mereka yang tidak sepaham. Mereka seolah-olah berharap bahwa aliran yang berbeda itu pada saatnya akan dilenyapkan oleh Tuhan, dan mungkin mereka juga ingin melenyapkan aliran itu jika Tuhan tidak bertindak. Hal ini mungkin mirip dengan nabi Yunus yang mengharapkan penghukuman Tuhan atas penduduk kota Niniwe (Yunus 4).

Siapakah orang yang harus kita kasihi? Sudah tentu semua orang yang ada di muka bumi. Bagaimana pula dengan mereka yang menganggap diri mereka orang percaya tetapi memiliki kepercayaan atau pengajaran yang sesat? Tentu saja mereka adalah sesama manusia kita. Seburuk-buruknya anggapan kita tentang mereka, mereka tidak berbeda dengan orang yang bukan Kristen. Tetapi, jika mereka juga percaya kepada Tuhan yang sama dengan Tuhan kita, kita tidak dapat menganggap mereka orang yang tidak diselamatkan karena kita tidak tahu apa kehendak Tuhan atas diri mereka. Selama hidup setiap orang masih mempunyai kesempatan untuk bertobat dan menjadi orang yang diselamatkan oleh karunia Tuhan. Kita membenci apa yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, tetapi tetap mengasihi sesama kita dan ingin agar mereka kembali ke jalan yang benar.

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 20 – 23