Apa guna berbuat baik?

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2: 26

Paulus menulis dalam Roma 3:28, “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Sedangkan Yakobus menuliskan dalam Yakobus 2:24, “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Kedua ayat ini sering kali dipertanyakan, karena sepintas seolah-olah seperti bertentangan. Paulus menyatakan bahwa manusia dibenarkan karena iman sedangkan Yakobus berkata manusia dibenarkan karena perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Yang harus kita percaya dan mengerti adalah bahwa Firman Tuhan tidak ada yang bertentangan satu sama lainnya. Kanon Alkitab adalah sebuah keselarasan yang sempurna dan sudah teruji. Yang kita butuhkan adalah pemahaman yang baik dan utuh untuk bisa melihat bahwa sebetulnya Yakobus tidak menentang Paulus, tetapi sebaliknya justru mendukung Paulus.

Bagaimana manusia bisa mendapatkan keselamatan sesudah hidupnya berakhir di dunia adalah hal utama yang di bahas dalam semua aliran kepercayaan. Kalau ada orang yang hanya membahas bagaimana manusia bisa hidup berbahagia di dunia, orang itu bukan membahas kepercayaan tetapi falsafah hidup. Hidup di dunia memang dapat dilihat dan dirasakan, dan untuk itu kita tidak membutuhkan kepercayaan, tetapi perlu melakukan tindakan atau perbuatan.

Seorang mungkin percaya bahwa pada suatu saat manusia akan bisa pergi ke planet Mars, tetapi kepercayaan semacam itu bukanlah iman, melainkan keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Tambahan pula, keyakinan itu tidak perlu mengubah cara hidup manusia saat ini, karena hal pergi atau tidak pergi ke Mars adalah pilihan manusia. Karena itu, hal semacam itu tidak perlu membawa konsekuensi langsung pada cara hidup manusia di dunia.

Bagaimana pula dengan kemungkinan bahwa sesudah hidup di dunia ini berakhir, roh kita akan hidup di tempat lain? Ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan hal ini akan terjadi, dan karena itu kita membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar keyakinan berdasarkan pengetahuan manusia. Untuk memercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diduga manusia, kita memerlukan iman; dan ini pasti tidak dapat bersumber dari manusia. Iman harus datang dari sumber yang bisa dipercayai.

Yesus adalah satu-satunya manusia yang sudah datang dari surga dan membawa berita tentang adanya kehidupan sesudah hidup kita di dunia ini berakhir. Yesus jugalah yang sudah kembali ke surga setelah tugas-Nya di dunia berakhir. Yesus jugalah yang pernah berkata bahwa hanya mereka yang percaya kepada-Nya akan ke surga, sedangkan mereka yang menolak-Nya akan pergi ke neraka. Manusia yang diberi kemampuan untuk menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan, pasti yakin bahwa hal ini adalah sesuatu yang penting, dan bahkan lebih penting daripada hal-hal yang lain di dunia. Hidup di dunia ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan hidup yang ada.

Keyakinan akan adanya sesuatu yang akan datang, yang jauh lebih lama dan lebih signifikan daripada apa yang dialami di dunia, tidak mungkin untuk tidak mempengaruhi hidup kita yang sekarang. Hanya ada dua kemungkinan di masa depan: hidup bahagia atau hidup sengsara dan keduanya akan abadi. Karena itu, jika kita benar-benar beriman, tidaklah mungkin bagi kita untuk tidak merasakan adanya dorongan hati untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk masa depan dengan menyempurnakan iman kita. Memang kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang benar akan nampak dalam hidup kita di dunia sebagai hidup yang taat kepada perintah Tuhan.

Firman di atas mengingatkan kita bahwa iman harus disertai dengan perbuatan yang seirama. Karena kita percaya bahwa kita kan hidup bersama Tuhan di surga, kita harus bisa memakai hidup kita yang sekarang ini untuk kemuliaan Tuhan.

Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2: 22

Seperti yang dijelaskan dalam kitab Roma, manusia dibenarkan karena iman. Iman kepada Tuhan Yesus Kristus itulah yang membenarkan dan menyelamatkan seseorang. Ditegaskan juga dalam Yohanes 3:16: “… supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kejadian 15:6 menyatakan “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.“ Jelas bahwa karena Abraham percaya maka Abraham dibenarkan.

Yakobus pun mengutip Kejadian 15:6 di dalam suratnya di Yakobus 2:23. Yakobus sama sekali tidak menentang pernyataan Paulus mengenai keselamatan oleh karena iman. Yakobus justru menekankan dan menjelaskan iman seperti apa yang menyelamatkan itu. Iman sejati yang dibuktikan melalui perbuatan. Iman yang nyata, bukan sekadar ucapan mulut seseorang yang mengaku percaya tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bukti dari sebuah perkataan adalah tindakan, demikian juga bukti dari peryataan iman adalah tindakan iman. Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus akan terlihat imannya melalui perbuatan yang dia lakukan!

Kesalehan yang merupakan tanda keselamatan

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Satu perbedaan besar antara iman Kristen dan kepercayaan yang lain adalah dalam hal berbuat baik. Dalam kepercayaan lain,  berbuat baik, memberi sedekah dan sesajen mungkin dianggap bisa menyelamatkan manusia dari murka Tuhan di dunia. Agama lain juga ada yang menekankan bahwa berbuat kebaikan, terutama untuk sesama, adalah penting untuk menjamin tempat di surga. Selain itu diajarkan pula bahwa makin banyak amal sedekah kita, makin enak hidup kita di surga.

Agama Kristen memang berbeda karena iman kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahasuci tidak memungkinkan manusia berbuat baik untuk menghindari murka Allah atas dosa manusia. Hanya melalui pengurbanan Yesus kita bisa diselamatkan. Selain itu, karena Allah itu mahabesar dan mahakaya, persembahan yang kita berikan tidaklah berarti apa-apa untuk-Nya. Jika kita terpilih oleh panggilan kasih-Nya, kita akan bersama Tuhan di surga dan menikmati segala kemuliaan surgawi yang ada di sana. Dengan demikian, Tuhan menghendaki persembahan hidup kita dan bukan persembahan materi atau perbuatan baik. Persembahan materi dan perbuatan baik kita hanyalah untuk menyatakan rasa syukur dan melambangkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan.

Karena perbuatan baik manusia itu seolah tidak dipentingkan dalam iman Kristen, banyak orang Kristen yang kurang bersemangat untuk berbuat baik. Bagi mereka, asal tidak berbuat jahat sudah cukup. Pokok tidak ikut-ikutan berbuat dosa, cukuplah!  Biarkan orang lain berbuat dosa, kita tidak perlu ikut campur! Jangan ikut-ikutan berusaha menegakkan hukum dan keadilan karena resikonya besar.

Dalam sejarah dunia, memang ada orang yang heran dan kagum melihat adanya orang-orang Kristen yang berjuang keras untuk berbuat baik dalam melayani gereja dan masyarakat, menegakkan keadilan sosial dan hukum, memajukan kesehatan dan pendidikan dsb. Tetapi mungkin ada juga orang yang sinis dan mencemooh orang Kristen yang demikian dan menuduh mereka itu sekadar mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri.

Ayat bacaan kita diatas jelas mengatakan bahwa jika kita tahu bagaimana harus berbuat baik tetapi tidak melakukannya, kita berdosa. Ini pernyataan yang berat dan tajam. Sudah tentu, setelah Tuhan menggerakkan hati kita untuk menerima anugerah keselamatan, mata kita dicelikkan sehingga kita bisa membedakan apa yang baik dari apa yang jahat. Kita sadar bahwa perzinahan misalnya, adalah perbuatan jahat, dan bersedekah adalah perbuatan baik. Sebagai orang yang sudah bertobat, kita mungkin sudah berhenti berbuat jahat, tetapi belum sepenuhnya merasa terpanggil untuk berbuat baik. Apalagi jika kita merasa yakin bahwa mereka sudah diselamatkan karena anugerah Tuhan semata-mata.

Menjadi ciptaan baru dalam Tuhan bukanlah hal yang remeh. Adalah sebuah ironi jika kita mau mengaku dosa, bertobat dari hidup lama kita dan menerima hidup baru, tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk berbuat baik. Sangat menyedihkan kalau orang Kristen dapat tidur lelap setelah menyaksikan kejahatan dan penderitaan yang terjadi atas diri orang lain. Para tokoh reformasi pernah mengatakan bahwa “Faith alone saves, but faith that is alone does not save” yang artinya “manusia diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman saja bukanlah iman yang menyelamatkan“. Iman yang benar selalu membuahkan apa yang baik. Iman yang sejati selalu membuat perubahan dalam hidup seseorang. Hidup baik dengan aktif berbuat baik untuk Tuhan dan sesama adalah ciri manusia yang sudah dilahirkan kembali!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Tuhan yang mahakasih sudah memberikan berbagai karunia, termasuk karunia terbesar yaitu keselamatan melalui darah Kristus. Dalam hidup sehari-hari, Tuhan juga memberikan kesempatan kepada setiap umat-Nya untuk bersyukur kepada-Nya dengan berbuat baik kepada semua orang, karena Ia sudah lebih dulu berbuat baik bagi kita.

Setiap orang sudah diberikan Tuhan kesempatan untuk hidup baik. Memakai kesempatan untuk hidup tanpa mau memikirkan dari mana itu datang, sudah tentu merupakan hal yang tidak pantas. Menggunakan berkat Tuhan tanpa mau mengerti apa arti pemberian itu adalah pencerminan sikap mementingkan diri sendiri. Dan tindakan mengambil kesempatan dari Tuhan hanya untuk kemuliaan diri sendiri, tidaklah jauh berbeda dengan mencuri.

Ayat di atas mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat baik sudah disediakan Tuhan bagi kita selama kita hidup. Karena itu adalah pemberian Tuhan, kita tidak perlu ragu-ragu untuk memakainya. Sebaliknya, karena kesempatan itu diberikan kepada setiap umat-Nya, kita harus bersedia untuk mengambil kesempatan itu untuk bisa digunakan sesuai dengan kehendak-Nya, yaitu untuk membawa kemuliaan bagi Dia.

Pagi ini kita diingatkan bahwa Tuhan menciptakan seisi dunia ini dengan maksud agar semuanya indah dan baik. Manusia diciptakan-Nya untuk hal-hal yang baik, untuk memuliakan Tuhan; tetapi karena dosa, manusia tidak lagi dapat memenuhi tugas Ilahi itu. Hanya melalui darah Kristus, kita bisa menjadi ciptaan baru. Sebagai ciptaan baru, panggilan untuk berbuat baik itu diteguhkan kembali. Maukah kita mengambil kesempatan yang masih ada untuk berbuat baik kepada semua orang dari semua agama dan terutama kepada saudara-saudara seiman kita tanpa memandang latar belakang dan pandangan teologis mereka?

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Galatia 6: 10

Umat Tuhan pasti berbuah

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Manusia yang memilih Tuhannya, ataukah Tuhan yang memilih manusia? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering diperdebatkan manusia, terutama dikalangan umat Kristen. Pertanyaan yang serupa, tetapi lebih mudah dijawab adalah: manusia yang memilih agama, atau agama yang memilih pengikutnya? Sudah tentu manusia memilih agamanya, tetapi agama tidak sama dengan Tuhan. Hidup beragama belum tentu membawa pengenalan yang benar akan Tuhan.

Tuhan dengan sifat dan eksistensi-Nya sudah tentu tidak dapat dimengerti manusia. Tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini pernah ke surga dan melihat Tuhan. Segala tindakan Tuhan adalah berdasarkan kebijakan-Nya, yang sudah barang tentu tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Karena itu, sangat sulit diterima pendapat sebagian orang yang merasa bahwa mereka sudah “menemukan” Tuhannya.

Bagi umat Kristen, terlepas dari hal bagaimana dan sejak kapan manusia mengenal Tuhannya, pada umumnya diterima pernyataan bahwa Tuhanlah yang memilih manusia untuk diperkenalkan kepada Dia. Mereka yang dipilih Tuhan, diberi kesempatan, jalan dan bimbingan untuk dapat merasakan kuasa, kasih dan eksistensi Tuhan, sekalipun mereka tidak lagi dapat melihat Tuhan dengan mata jasmani.

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yohanes 20: 29

Kepercayaan bahwa Tuhan sudah memilih kita adalah sebuah hal yang sangat signifikan, karena pikiran manusia tidak bisa membayangkan apa untungnya Tuhan memilih manusia yang penuh dosa, yang selalu ingin berontak dari Tuhan. Mengapa Tuhan begitu ingin untuk memilih umat-Nya? Karena adanya pengurbanan Kristus di kayu salib, barulah kita bisa sadar bahwa itu semua karena kasih-Nya.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8.

Dari ayat pembukaan di atas, kita bisa melihat bahwa Tuhan juga memilih umat-Nya untuk menghasilkan buah, yaitu berbagai bentuk kasih untuk sesama manusia. Jika buah dari pengurbanan Kristus di kayu salib adalah keselamatan kita, buah dari keselamatan kita, yang tumbuh karena Yesus sudah memilih kita, bisa membawa kabar keselamatan bagi orang lain.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” Galatia 5:22-23

Hari ini, kita harus sadar bahwa tidaklah mudah untuk kita bisa mengikut Yesus dan memikul salib-Nya setiap hari. Penderitaan akan datang karena dunia membenci pengikut Kristus, seperti mereka yang dulu membenci Kristus.

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Jika kita berusaha untuk berbuat baik dan mengasihi sesama kita, banyak orang yang tidak mau menerima kasih kita, persis seperti mereka yang dulu menyalibkan Yesus. Inilah yang sering kali membuat kita merasa sulit untuk berbuat baik kepada orang-orang tertentu. Dengan demikian, kita mungkin lebih senang untuk mengasihi mereka yang segolongan dan sepengertian dengan kita.

Bagaimana kalau demikian? Sanggupkah, dapatkah, manusia yang lemah seperti kita mengikut jejak Yesus dan hidup dan giat bekerja untuk memberitakan kabar baik ke ujung dunia? Tuhan yang sudah memilih kita adalah Tuhan yang mahakuasa, dan Ia mendengar doa-doa kita, supaya apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama Yesus akan diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kita harus yakin dalam iman bahwa jika Tuhan berserta kita, tidaklah ada yang perlu kita kuatirkan dalam hidup kita. Roh Kuduslah yang akan memberi kita buah-buah Roh jika kita hidup sesuai dengan firman-Nya dan tidak mendukakan Roh-Nya.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Efesus 4: 30-32

Kita percaya pada Tuhan, bukan pada manusia

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!” Mazmur 40: 4

Baru beberapa hari yang lalu acara pemilihan pemenang hadiah Oscar diadakan di kota Los Angeles, California, di Amerika. Hadia Oscar adalah hadiah idaman setiap aktor/aktris dan para pendukung pembuatan film di seluruh dunia. Bagi mereka, hadiah Oscar adalah hadiah yang paling signifikan dari berbagai hadiah lainnya yang ada di berbagai negara untuk mutu penampilan sebuah film. Karena itu, mereka yang berkecimpung dalam dunia film selalu berusaha untuk tampil sebaik mungkin dalam peran mereka masing-masing. Sekalipun mereka tidak berlomba secara langsung, setiap orang tentunya berharap untuk menang.

Dalam sebuah film, seorang aktor bisa tiba-tiba menampakkan diri, mengeluarkan suara, atau membuat gerakan yang menarik perhatian penonton sehingga perhatian yang sebelumnya diberikan penonton kepada aktor lain teralihkan. Aksi drama yang mengundang perhatian ini dalam bahasa Inggrisnya dinamakan “upstaging“. Jika istilah upstaging dalam dunia film/drama adalah disengaja untuk membuat penyajiannya makin menarik, di luar dunia film/drama istilah itu mungkin mempunyai konotasi yang kurang baik karena bisa diartikan sebagai “merebut pengaruh” , “mengungguli” atau “menutupi kebaikan orang lain”. Perebutan pengaruh antara para pemeran film tentunya tidak bisa terjadi dalam acara Oscar karena semua film dan para pendukungnya dinominasi dan dipilih oleh orang-orang yang independen.

Pada pihak yang lain, dalam kehidupan gerejani, dari mulanya soal saling berebut pengaruh dan nama sudah ada. Mereka yang mengaku dari golongan Apolos bertengkar dengan mereka yang mengikut Paulus (1 Korintus 3: 3 – 4). Tiap golongan mungkin merasa lebih baik dari yang lain, dan mungkin mempunyai rasa iri hati terhadap yang lain. Dalam hal ini, Paulus mengingatkan bahwa jika ia yang menanam firman Tuhan, dan Apolos yang menyiram, Allahlah yang memberi pertumbuhan iman. Sudah tentu Allahlah yang terpenting dan patut disembah, karena Paulus dan Apolos hanyalah pelayan-pelayan Allah.

Bagaimana pula dengan keadaan gereja Tuhan di zaman ini? Perebutan pengaruh jelas masih ada antar gereja, antar pimpinan dan antar pengurus gereja. Tetapi yang lebih mencolok adalah adanya gereja dan pemimpin gereja yang ingin sekali membuat kelompok atau diri sendiri agar menonjol dan dikenal masyarakat. Mereka itu sering berusaha untuk “upstaging”, menarik orang Kristen lain datang ke gereja mereka, bukan karena faktor Yesus, tetapi karena faktor manusia saja.

Ada banyak gereja yang seolah mengajak jemaat untuk merasa bangga atas segala kemegahan gedung dan kegiatan sosial yang ada. Juga ada banyak pendeta yang seolah membiarkan jemaat untuk memuja mereka karena penampilan, pengetahuan teologi dan kata-kata bijak yang menimbulkan kekaguman. Mereka yang sudah menjadi selebriti, biasanya adalah orang-orang yang terkenal karena penampilannya.

Memang apa yang terlihat megah dan indah bisa membawa kebaikan. Tetapi itu hanya bisa dibenarkan kalau membawa kemuliaan kepada Tuhan yang mahakuasa. Apa pun yang baik, tetapi yang tidak kita lakukan untuk memuliakan nama Yesus, bisa digolongkan pada tindakan yang mencoba untuk merebut pengaruh dan kemuliaan Tuhan. Setiap kali nama manusia ditonjolkan di atas nama Tuhan, setiap kali pula keangkuhan dan kebohongan manusia diperlihatkan.

Hari ini kita harus ingat bahwa Tuhan kita adalah Allah yang cemburu, yang tidak dapat menerima adanya ilah lain di hadapan-Nya. Adalah mudah bagi manusia untuk membuat kebodohan yang akan membawa murka Tuhan, seperti kesombongan atas kemampuan diri sendiri, kekaguman atas kehebatan orang-orang yang sombong, atau kepercayaan kepada orang-orang yang hidup dalam kebohongan. Oleh karena itu, marilah kita selalu berhati-hati untuk memusatkan iman kita kepada Yesus dan bukan kepada sesuatu yang bisa menutupi kebesaran-Nya!

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” Roma 15: 5 – 6

Ancaman yang nyata

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Rasul Paulus dalam ayat di atas menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis, yang dengan kelicikannya sudah membuat Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa di taman Eden.

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat itu. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa, dan mungkin malah sering, diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah. Umat Kristen jelas bisa jatuh ke dalam pencobaan jika tidak berhati-hati. Pencobaan bukan datang dari Tuhan, tetapi dari ulah manusia sendiri. Manusia yang mempunyai kebebasan memang cenderung jatuh ke dalam dosa jika tidak mau menuruti bimbingan Tuhan.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umat Tuhan di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktik toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini.

Di antara berbagai ajaran di luar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran manusia yang berkembang.

Memang di zaman ini banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian memilih untuk ikut ajaran yang menekankan humanisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melakukan hal-hal tertentu untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa keselamatan hanya dapat dicapai dengan cara-cara tertentu, dengan menjalankan aturan-aturan budaya historis, yang membuat orang bergantung pada tradisi dan bukannya kepada Tuhan.

Iblis juga sering muncul pada saat dan keadaan di mana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasih-Nya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Pada saat-saat di mana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh ke dalam dosa dan mengingkari imannya.

Hari ini, seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apa pun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firman-Nya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan kita. Kita harus sadar dan berjaga-jaga agar tidak memilih cara hidup yang keliru.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8

Bagaimana jawab anda?

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Matius 10: 38

Bayangkan anda berada di sebuah gereja, mengikuti kebaktian hari Minggu. Jemaat saat itu sedang menyanyikan sebuah lagu Kristen yang sangat terkenal yaitu “Mengikut Yesus keputusanku” yang merupakan terjemahan lagu berbahasa Inggris “I have decided to follow Jesus“. Anda pun ikut menyanyi:

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku,

Mengikut Yesus keputusanku.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

………………..

Dunia di b’lakang salib di depan,

Dunia di b’lakang salib di depan,

Dunia di b’lakang salib di depan.

‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

Menyanyikan lagu sederhana yang bersemangat ini tidaklah sukar. Semua orang bisa menyanyikannya setelah mencoba satu bait saja. Tetapi yang jauh lebih sukar adalah melaksanakan apa yang diucapkan. Mengapa begitu?

Himne ini terinspirasi dari kejadian nyata yang terjadi di India beberapa puluh tahun yang lalu. Pada waktu itu, di sebuah desa kecil, ada satu keluarga yang menjadi Kristen. Kejadian itu membuat seisi desa begitu marah (oleh karena desa itu memiliki kepercayaan dan dewa mereka sendiri).

Pada suatu hari, orang-orang desa berkumpul di depan rumah keluarga ini dan memaksa mereka untuk keluar. Para orang desa akhirnya menyeret seluruh anggota keluarga ini ke tengah desa. Sang kepala desa lalu mengatakan kepada bapa dari keluarga ini: “Jika kamu dan keluargamu tidak meninggalkan kepercayaan kalian ini, kalian semua akan mati!”. Bapa ini menolak. Dengan sekejap, kedua anak dari bapa ini langsung dibunuh.

Sang kepala desa lalu memberikannya sebuah kesempatan lagi; kali ini dengan nyawa istrinya yang dipertaruhkan. “Jika kamu masih menolak untuk meninggalkan kepercayaanmu ini, istrimu akan kami bunuh!” Bapa ini lagi-lagi menolak. Dengan sekejap, istrinya pun dibunuh.

Sang kepala desa lalu memberikan kesempatan terakhir kepada bapa ini; kali ini dengan nyawanya sendiri yang dipertaruhkan. “Jika kamu masih menolak untuk meninggalkan kepercayaanmu ini, kamu akan kami bunuh!” Tetapi bapa itu malah menyanyikan lagu pujian. Dengan sekejap, bapa itu pun dibunuh.

Meskipun pada hari itu satu-satunya keluarga yang memercayai Yesus Kristus dibunuh, sesuatu yang menakjubkan terjadi—sebuah benih tertanam pada hati sang kepala desa. Dia bertanya-tanya akan siapa Yesus Kristus yang membuat satu keluarga ini rela mati demi nama-Nya?

Akhirnya pada suatu hari, sang kepala desa memanggil seluruh orang-orang desa untuk berkumpul di tengah desa -tempat yang sama di mana keluarga itu dulu dibunuh. Lalu dia mendeklarasikan kepada orang-orang bahwa dia telah meninggalkan kepercayaannya yang lama, dan kini dirinya telah menjadi pengikut Yesus Kristus. Dan sejak itu, Kekristenan mulai tersebar, bukan hanya di desa itu, melainkan juga di daerah-daerah lain di sekitar desa itu.

Himne “I Have Decided to Follow Jesus” adalah himne yang sangat luar biasa karena himne itu menceritakan tentang terjadinya sebuah keselamatan besar yang disebabkan oleh karena sebuah keluarga yang tetap setia mengikut Tuhan Yesus, bahkan jika harga yang harus dibayar adalah nyawa mereka sendiri.

Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari kisah di atas?

Yang pertama, agar seseorang bisa membuat keputusan untuk mengikut Yesus, haruslah ada alasan yang kuat. Tanpa alasan yang kuat, tidaklah mungkin seseorang mau menjadi orang Kristen. Baik di zaman dulu maupun di zaman ini, hidup orang Kristen tidaklah berarti hidup yang bergemerlapan dan hidup yang mendapat perlakuan istimewa dari siapa pun.

Yang kedua, adalah umum jika orang mau mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, tetapi berharap agar ia tetap mempunyai kesempatan untuk berubah pikiran. Dengan janji untuk tidak ingkar, orang akan berpikir dua kali untuk menjadi pengikut Yesus karena keputusan yang diambil haruslah pasti, bukan hanya coba-coba. Ini berarti siap untuk menjadi pengikut Yesus di saat suka maupun duka, seumur hidup.

Dan yang ketiga, untuk menjadi pengikut Kristus orang harus meninggalkan hidup lama yang mementingkan hal-hal duniawi, dan menggantinya dengan hidup baru berpusat kepada Yesus. Hidup baru ini sering kali sulit dijalani karena adanya berbagai masalah yang datang dari orang-orang di sekitar kita dan bahkan dari keluarga kita sendiri. Malahan, banyak orang Kristen yang mengalami pelecehan dan penganiayaan di berbagai tempat di dunia.

Malam ini, ada tiga pertanyaan untuk anda:

1. Apa tujuan anda untuk menjadi pengikut Kristus adalah untuk percaya kepada-Nya, memuliakan-Nya dan menjalankan firman-Nya?

2. Apakah anda benar-benar akan setia dalam suka maupun duka kepada Kristus sampai akhir hidup anda?

3. Apakah anda siap untuk memusatkan hidup anda kepada kemuliaan Tuhan dan siap menderita untuk-Nya, dan bukannya hanya ingin untuk memperoleh berkat-berkat-Nya?

Ada begitu banyak orang yang mau menjadi pengikut Kristus dengan tujuan yang keliru, yang hanya bertalian dengan keinginan untuk menerima berkat-Nya. Ada juga mereka yang sering mengingkari imannya karena adanya godaan dan masalah dalam hidup. Dan ada juga mereka mengira bahwa sebagai pengikut Kristus mereka akan terlepas dari segala penderitaan. Tetapi Yesus berkata bahwa barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Dia, ia tidak layak bagi Dia. Hanya dengan menjawab ketiga pertanyaan di atas dengan benar, barulah kita bisa sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus!

Menjawab panggilan Kristus

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9: 62

Minggu-minggu mendatang adalah saat yang menarik dalam dunia politik di Australia karena pemilihan umum akan dilaksanakan sebelum pertengahan tahun 2022. Di Australia, pemilihan umum adalah sebuah keharusan untuk setiap warga, dan kesempatan ini adalah sebuah cara untuk menyatakan kepercayaan mereka kepada orang tertentu dengan menyatakan diri sebagai pendukungnya.

Sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita adalah orang beriman yang percaya kepada Yesus dan juga pengikut Yesus. Sebagian orang berpendapat bahwa setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus, juga mengakui bahwa mereka juga pengikut-Nya. Apakah kepercayaan kepada Kristus adalah sama dengan menjadi pendukung Yesus? Apa bukti bahwa setelah kita mengaku percaya, kita kemudian menjadi pengikut-Nya?

Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menjadi pengikut Yesus adalah mathetes, yang bukan saja berarti “murid”, tetapi adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Jika orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Musa (Yohanes 9: 28), murid-murid Yesus dinamakan pengikut Yesus sebelum ada sebutan “orang Kristen”. Mereka menjadi pengikut Yesus ketika mereka mengambil keputusan untuk mengikuti-Nya (Matius 9:9). Setelah mau menjadi pengikut Kristus, mereka mau hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Jika kemampuan untuk menyadari adanya Tuhan yang mahakuasa adalah datang dari Tuhan, menjadi pengikut Kristus adalah keputusan kita. Jika kita pernah menyanyikan lagu terkenal “Mengikut Yesus keputusanku”, agaknya tidak sulit untuk sekadar mengakui bahwa kita adalah orang yang dikaruniai iman oleh Tuhan dan kemudian secara otomatis menjadi pengikut Yesus. Tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah semudah itu untuk menjalaninya.

Mengapa tidak mudah untuk menjadi pengikut Yesus? Apa syarat-syarat untuk menjadi pengikut-Nya? Memang sebagai pengikut Yesus kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, tetapi untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama (Markus 12:30-31) kita setidaknya memerlukan dua hal yang penting: kemauan dan kesetiaan. Ada orang yang tidak pernah memiliki keduanya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk menjadi pengikut Yesus, tetapi ada yang hanya memiliki salah satu saja, sehingga ia mungkin hanya tahan untuk menjadi pengikut Kristus dalam kurun waktu yang singkat saja.

Dalam kitab Lukas 9: 57-61 tertulis adanya seseorang yang berkata bahwa ia mau mengikut Yesus ke mana saja, tetapi Yesus menolaknya karena ia belum siap untuk menghadapi perjuangan berat sebagai pengikut Yesus. Dalam ayat 58, Yesus berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Menjadi pengikut Yesus bukan hanya berarti hidup dalam kepercayaan bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita, tetapi hidup dalam ketabahan dan berfokus pada kemuliaan Tuhan. Itu adalah respons dan pilihan kita kepada panggilan Tuhan.

Ada orang-orang lain yang diajak Yesus untuk menjadi pengikut-Nya karena mereka tampak sudah siap berjuang, tetapi mereka menjawab bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan (Lukas 9: 59, 61). Kepada orang-orang itu Yesus berkata bahwa setiap orang yang siap untuk membajak , yaitu mengikut Dia, tetapi masih mempunyai prioritas-prioritas lain, tidaklah layak untuk mengikut Dia karena dedikasi yang salah (ayat 62).

Hari ini, pertanyaan untuk kita yang mengaku beriman kepada Yesus adalah: Apakah kita sudah siap dan memang mau untuk menjadi pengikut Yesus? Siapkah kita untuk menjalani perjuangan hidup dengan ketaatan kepada perintah-Nya dan bekerja untuk kemuliaan-Nya? Menjadi orang beriman tidak bisa dipisahkan dari menjadi pengikut Kristus (Yakobus 2: 24), karena untuk menjadi orang Kristen tidaklah cukup dengan berdiam diri dan mengabaikan panggilan-Nya untuk menjadi seperti Dia, dan bekerja untuk memuliakan nama-Nya dengan setia, hari demi hari baik dalam suka maupun duka.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.” Galatia 2: 20

Ada banyak ilah di bumi

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34: 14

Jika kita membaca berita di berbagai media, sering kali kita temui berita yang menyedihkan tentang akibat kecemburuan. Rasa cemburu seseorang berasal dari rasa iri karena merasa kurang atau tidak mendapat apa yang seharusnya. Orang mungkin cemburu kepada pasangannya karena soal cinta, tetapi orang juga bisa iri karena harta ataupun nama. Iri hati, secara umum sering kali bertalian dengan adanya rasa takut, kekuatiran, kekecewaan, kepentingan diri sendiri, kesombongan atau kebencian. Dengan demikian iri hati sering kali adalah dosa, dan karena itu cemburu juga begitu. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa akibat kecemburuan sering kali menyedihkan. Dosa memang selalu membawa bencana.

Jika rasa cemburu manusia sering kali adalah dosa, bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci adalah Tuhan yang cemburuan? Kecemburuan Tuhan justru timbul karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci dan mahakuasa. Sebagai Tuhan satu-satunya yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya, Tuhan menuntut ketaatan dari manusia. Ia tidak mengizinkan manusia menyembah diri sendiri, sesamanya, makhluk lain atau apa pun yang juga diciptakan-Nya. Penyembahan yang dilakukan manusia yang tidak untuk Tuhan adalah penyembahan berhala.

Jika Tuhan berhak untuk merasa cemburu karena Ia adalah pemilik alam semesta, tidakkah kecemburuan-Nya bersifat mementingkan diri sendiri? Sama sekali tidak! Tuhan yang mahakasih justru dengan kecemburuan-Nya ingin agar manusia hidup bahagia dengan ketaatan kepada sumber kehidupan mereka. Tuhan ingin agar manusia tidak terjebak ke dalam penderitaan karena memilih ilah-ilah yang tidak dapat membawa manusia ke arah kebahagiaan dan keselamatan.

Sayang sekali bahwa dalam hidup sehari-hari, manusia mudah terperosok ke dalam dosa penyembahan berhala. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang sering mendewakan para pemimpin, selebriti dan “hero” yang nampaknya karismatik dan berwibawa; mengagumi penampilan dan pesona mereka, memuja apa yang sudah dicapai oleh mereka, terobsesi dengan pengalaman dan kisah hidup mereka yang hebat, dan menganggap prestasi yang mereka capai sebagai sesuatu yang terbaik dan di atas segalanya. Dalam hal ini, Alkitab menyebutkan bagaimana cemburu Tuhan menyebabkan datangnya berbagai hukuman kepada bani Israel. Sejarah juga membuktikan bahwa Tuhan menghancurkan mereka yang ditinggikan oleh manusia.

Bukan hanya terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, pemujaan berhala juga terjadi dalam kehidupan gerejani. Pemujaan para pemimpin gereja terjadi jika jemaat menempatkan mereka sebagai pusat perhatian. Mereka yang ke gereja karena liturgi, musik atau acara, tidak lagi menyembah Tuhan. Selain itu, banyak jemaat gereja yang secara langsung maupun tidak langsung meninggikan status kesuksesan hidup sebagai bukti iman. Banyak juga pendeta yang memakai pengalaman pribadi sebagai bumbu firman Tuhan, dan yang percaya bahwa pengalaman manusia adalah setara dengan firman Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari, penyembahan berhala sering tidak disadari. Apabila kita selalu menaruh kepentingan pribadi, suami, istri, dan anak di atas kepentingan Tuhan, itu bisa menjadi penyembahan ilah. Apabila kita selalu membanggakan apa yang kita capai dan miliki dalam keluarga, kita bisa lupa dari mana asalnya. Dan jika kita tunduk menyerah kepada keadaan dan keputusan dalam keluarga yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, itu pun merendahkan Tuhan.

Satu hal yang kurang kita sadari ialah adanya orang-orang Kristen yang merasa bahwa ritual, bahasa dan bangsa tertentu adalah pilihan Tuhan, dan karena itu ingin untuk meninggikannya. Obsesi dengan hal-hal semacam itu juga membuat mereka menaruh perhatian yang lebih besar pada pelaksanaan hukum daripada hubungan yang baik dengan Tuhan. Bagi mereka, pengenalan akan hukum Tuhan seolah lebih penting dari pengenalan akan Tuhan. Mereka lupa bahwa hukum-hukum itu diberikan Tuhan kepada bangsa Israel agar mereka mengenal dan tunduk kepada Allah yang mempersiapkan bangsa itu sebagai latar belakang kelahiran Yesus. Setelah Yesus disalibkan, darah-Nya menebus semua orang percaya dan itu membuat orang yang bukan Yahudi bisa menjadi umat-Nya. Kita sekarang dapat mengenal Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih dari Alkitab melalui bimbingan Roh Kudus. Kita mengabdi kepada Tuhan bukan melalui hukum Taurat tapi melalui hukum kasih.

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu dalam kesucian-Nya. Ia tidak ingin manusia melupakan bahwa Ia adalah Tuhan semesta alam dan segala bangsa. Tuhan tidak menginginkan manusia mencoba-coba untuk mencari sesuatu yang bisa menggantikan-Nya, karena Tuhan tahu bahwa semua itu sia-sia dan justru akan membawa kehancuran.

“Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” 1 Korintus 10: 22

Kesadaran mendorong pilihan

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Lukas 15: 18 – 19

Agaknya banyak orang Kristen yang ingat bahwa mereka dulunya adalah orang-orang yang sesat, yang kemudian mengambil keputusan untuk bertobat dan mengikut Yesus. Bagaimana mereka bisa mengambil keputusan untuk kembali ke jalan yang benar? Bagaimana mereka bisa memperoleh kesadaran atas adanya pengampunan dosa melalui darah Yesus?

Semua orang Kristen tentunya pernah membaca atau mendengar perumpamaan anak yang hilang atau the prodigal son. Perumpamaan ini diceritakan oleh Yesus untuk melambangkan hubungan antara Allah Bapa dan manusia ciptaan-Nya. Manusia yang memberontak dari kasih Allah digambarkan sebagai anak bungsu yang meninggalkan bapanya untuk berfoya-foya dengan menggunakan warisannya. Selang berapa tahun, sesudah uang warisannya habis, anak itu bermaksud untuk pulang kembali ke rumah bapanya. Anak itu menyesali apa yang sudah diperbuatnya dan hanya ingin untuk bisa menjadi hamba bapanya.

Ayat-ayat di atas adalah apa yang dipikirkan oleh anak yang hilang dalam perumpamaan itu. Kita bisa membaca kelanjutan kisah itu yang menyatakan besarnya kasih bapa yang kemudian menerima kembalinya si anak yang hilang dengan tangan terbuka. Si bapa yang sudah berharap sejak lama agar anaknya bertobat dan kembali ke jalan yang benar, bisa terlihat dengan jelas sebagai bapa yang penuh kasih, tidak hanya kepada anaknya yang hilang, tetapi juga kepada anaknya yang lain, yang tidak pernah meninggalkan dia. Kasih bapa itu adil dan abadi, dan itu tidak terpengaruh oleh apa yang dilakukan anak-anaknya; ia hanya ingin agar semua anaknya berbahagia.

Satu bahan pemikiran yang juga bisa diperoleh dari ayat di atas adalah bagaimana anak yang hilang itu menempatkan dirinya di hadapan bapanya. Ia menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh dan meminta kemurahan sang bapa untuk menerimanya kembali, bukan sebagai anak, tapi sebagai hamba. Dalam konteks iman Kristen, ayat-ayat itu menunjuk kepada kenyataan bahwa kita orang yang berdosa, adalah orang-orang yang tidak layak di hadapan Allah dan sudah kehilangan kemuliaan kita sebagai ciptaan-Nya. Kita sudah kehilangan hak untuk dipanggil umat Allah.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…” Roma 3: 23

Apa pun yang akan dan sudah kita lakukan, tidaklah dapat membuat kita kembali menjadi orang yang layak untuk menemui Bapa kita. Hanya karena kesadaran yang diberikan Tuhan kepada kita melalui Roh Kudus-Nya, kita bisa ingat bahwa Tuhan menantikan kita untuk kembali ke jalan yang benar. Kita disadarkan bahwa kita tidak bisa menuntut pengampunan-Nya. Hanya karena kasih karunia Allah (grace), pengampunan itu diberikan kepada mereka yang dikasihi-Nya dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Pengakuan sola gratia ini tidak memberi kesempatan bagi kita untuk menyombongkan apa yang bisa kita perbuat dalam hidup kita.

“…dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 24

Hari ini, jika ada orang yang hidup dalam dosa, itu memang adalah keputusan mereka. Kehendak bebas manusia dalam hal rohani selalu menghasilkan perbuatan yang melawan kehendak Tuhan. Dalam kita hidup dan bekerja, banyak dosa-dosa yang kita perbuat, secara sengaja atau tidak sengaja. Jika dibandingkan dengan standar kesucian Tuhan, hidup kita bisa serupa dengan hidup anak yang hilang, yang sudah menyia-nyiakan hidupnya dan mempermalukan bapanya. Itu bukan karena Tuhan yang sudah membuat kita berbuat demikian; tetapi sebagai Bapa yang mahakasih, Tuhan membiarkan kita untuk menentukan pilihan kita sekalipun hati-Nya sangat sedih melihat pelanggaran kita.

Sebagai manusia mungkin kita berusaha untuk melupakan hal-hal yang jahat yang telah kita perbuat. Mungkin kita ingin menebusnya dengan banyak berbuat amal. Mungkin kita berusaha menutupinya dengan usaha untuk mencari hal-hal yang berbau kerohanian. Mungkin kita sudah berusaha untuk mengubah cara hidup kita, supaya bisa dikagumi oleh orang lain. Tetapi, semua itu tidak bisa mengubah status kita: kita adalah anak yang hilang, yang sudah tersesat dan kehilangan hak untuk menjadi anak-Nya. Hanya karena Roh Kudus yang sudah bekerja dan membawa kesadaran bagi kita, kita dapat mengambil keputusan untuk berputar balik. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa menghampiri Tuhan dan meminta pengampunan-Nya hari demi hari, dan berjanji untuk menjalani hidup kita sesuai dengan firman-Nya sebagai pernyataan rasa syukur kita atas kasih-Nya.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Mengambil keputusan untuk menggunakan talenta

“Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” Matius 25: 29

Perumpamaan tentang talenta adalah perumpamaan Yesus yang bisa ditemukan dalam Matius 25: 14 – 30 dan Lukas 19: 11 – 27. Perumpamaan ini sering dibahas dalam berbagai khotbah dan renungan, dan biasanya disampaikan sehubungan dengan hal menggunakan talenta atau kemampuan yang dimiliki setiap orang. Sering kali, moral yang diungkapkan adalah untuk tidak menyia-nyiakan berkat Tuhan. Walaupun demikian, perumpamaan ini mungkin lebih tepat untuk ditafsirkan sebagai hal menggunakan hidup dengan baik sebelum kedatangan Yesus yang kedua kalinya.

Apapun yang digaris-bawahi dalam mengartikan perumpamaan ini, tidak dapat diragukan bahwa perumpamaan ini dengan tegas menyatakan bahwa apa saja yang Tuhan berikan kepada kita, adalah barang pinjaman yang tidak boleh dipakai hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Dalam hal ini, Tuhan meminjami kita berbagai berkat, kecil maupun besar, yang sesuai dengan kehendakNya. Kita harus menggunakan semua itu untuk kemuliaan Tuhan dengan percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang mahaadil.

Matius, dalam pasal 24-25, mencatat belas kasih dan kasih Tuhan yang bercampur dengan kekudusan yang tak tergoyahkan. Bagian Alkitab ini, termasuk perumpamaan tentang talenta, merupakan peringatan terakhir, nubuat, dan dorongan kepada umat-Nya sebelum keberangkatan-Nya. Dia, yang adalah Tuhan mereka, pergi untuk jangka waktu yang tidak disebutkan. Dia mendelegasikan kepada mereka tanggung jawab untuk mengurus kerajaan-Nya. Perumpamaan tentang talenta, Matius 25:14-30, menekankan pada mereka beban tanggung jawab itu dan konsekuensi serius dari kelalaian untuk memahami dan menerapkan petunjuk-Nya. Ini juga pesan untuk seluruh umat manusia.

Jika talenta adalah emas, nilai dari apa yang dipercayakan sang tuan kepada para pelayan adalah sangat tinggi, mungkin dalam jutaan dolar. Karena Tuhan hanya menggunakan istilah talenta, kita harus berasumsi bahwa pemilik talenta, orang yang bepergian ke negeri yang jauh, adalah orang kaya. Dia mempercayakan kekayaannya kepada tiga orang pelayannya. Seseorang menerima lima talenta. Yang lain menerima dua talenta. Pelayan ketiga menerima satu talenta. Masing-masing diberi sejumlah besar uang, sekalipun tidak sama jumlahnya. Besaran yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing dan seturut kehendak Tuhan. Ini adalah pelayan-pelayan yang dipercayakan untuk mengurus uang.

Sebagai pelayan Tuhan kita harus mengetahui kepribadian dan karakter Tuhan kita. Dia mengharapkan kita untuk mengenal Dia cukup baik untuk bisa mendengarkan suara Roh-Nya serta mengerti firman-Nya. Mereka yang melakukan firman-Nya akan mendapat imbalan yang kekal dan berlimpah. Yang lain menerima penghakiman yang berat.

Dua pelayan yang pertama memahami instruksi dan karakter Tuhan mereka. Mereka berdua menggunakan sumber daya dengan “berdagang” untuk mendapatkan keuntungan. Masing-masing dari mereka menghasilkan keuntungan 100 persen. Ketakutan dan ketidakpercayaan akan Tuhannya menghantui pelayan ketiga. Dia mengubur uang itu di dalam tanah dan mengembalikan jumlah aslinya. Pelayan yang menguntungkan dipuji, diberi tanggung jawab yang lebih besar dan diundang untuk masuk ke dalam sukacita Tuhan mereka. Pelayan yang tidak percaya dimarahi, ditolak, dan dihukum.

Penerapan perumpamaan ini harus dipahami dalam konteks pesan Matius 24-25. Ini adalah pesan pertama kepada orang Israel yang akan hidup di hari-hari terakhir sebelum Tuhan datang kembali. Pernyataan dalam Matius 24:13, “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” adalah pernyataan kunci. Inilah orang-orang yang akan menerima janji kerajaan. Mereka ini akan hidup ketika Dia kembali dan akan memahami dan percaya kepada Tuhan mereka.

Aplikasi untuk orang-orang Israel adalah grafis dan relevan. Mereka yang percaya kepada-Nya dan mengambil keputusan untuk memuliakan- Tuhan dalam hidup mereka akan diberi upah dalam kerajaan-Nya. Dasar dari upah itu adalah kemauan untuk mengelola sumber daya-Nya yang dipercayakan kepada mereka. Mereka yang menganggap Tuhan kejam dan tidak percaya kepada karunia Tuhan akan dihakimi karena mengambil keputusan yang salah.

Ada juga aplikasi universal untuk semua umat manusia. Sejak penciptaan umat manusia, setiap individu telah dipercayakan dengan sumber daya waktu dan kekayaan materi. Segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan dan milik-Nya. Semua orang bertanggung jawab untuk menggunakan sumber daya tersebut sehingga nilainya meningkat.

Sebagai orang Kristen, kita juga memiliki sumber daya yang paling berharga – Firman Tuhan. Jika kita percaya dan memahami Dia, dan menerapkan Firman-Nya sebagai pembimbing yang baik, kita adalah berkat bagi orang lain dan nilai dari apa yang kita lakukan akan berlipat ganda. Kita dengan demikian bertanggung jawab kepada Tuhan atas penggunaan sumber daya-Nya.

Talenta juga diberikan kepada kita dalam bentuk iman untuk bisa mengasihi Tuhan dan sesama kita. Dengan demikian, keberhasilan dan kebahagiaan kita bukanlah hanya diukur dengan apa yang bisa dilihat mata manusia, sebab apa yang bisa kita ukur adalah apa yang sementara dan akhirnya akan musnah. Apa yang tidak bisa musnah adalah kasih, yang tidak akan berkesudahan (1Korintus 13: 8). Hari ini, maukah kita memakai hidup kita untuk memuliakan Tuhan dan menyampaikan kasih-Nya yang sudah kita terima kepada orang lain? Keputusan ada di tangan kita untuk mengambil tindakan yang baik dalam hidup kita sesuai dengan talenta kita.