Mengasihi sesama manusia

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” Yudas 1: 20 – 23

Rasul Yudas adalah salah satu dari kedua belas rasul Yesus Kristus. Dalam Alkitab dicatat dengan nama “Yudas anak Yakobus” atau “Yudas bin Yakobus”. Ia dikenal dengan nama lainnya Tadeus, atau Yudas Tadeus. Dalam ayat diatas Rasul Yudas menulis kepada jemaat agar mereka mempunyai rasa belas kasihan, compassion, kepada orang lain. Ini bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Mungkin untuk berbelas kasihan kepada mereka yang terlihat cukup baik hidupnya, kita bisa melakukannya. Bukankah mereka cukup baik untuk menjadi umat Kristen? Tetapi, untuk bisa berbelas kasihan kepada orang yang terlihat hidup dalam dosa, kita mungkin merasa kurang sanggup. Mereka adalah orang yang kurang pantas untuk menjadi pengikut Kristus. Begitu mungkin kita berpikir.

Pentingkah kita belajar untuk bisa mempunyai rasa belas kasihan? Jawaban pertanyaan ini adalah sebuah kepastian: Ya. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang menderita, baik secara jasmani maupun rohani. Jika kita memang mau mengasihi sesama kita seperti apa yang tertulis dalam hukum kasih, kita mau tidak mau harus belajar untuk bisa menangis dengan orang yang menangis. Kita juga harus bisa menangisi orang yang hidup dalam dosa tetapi tidak menyadarinya atau tidak mampu untuk memperbaikinya. Kemampuan untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati bukanlah sesuatu yang gampang kita peroleh, jika itu memang didasari rasa kasih yang benar dan bukan hanya untuk berpura-pura.

Bagaimana kita bisa belajar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati? Kita harus belajar dari Tuhan Yesus yang sudah turun ke dunia sebagai manusia. Yesus bukan saja bisa menangis ketika Lazarus, yaitu orang yang dikasihiNya, meninggal. Yesus juga menangis ketika Ia melihat Yerusalem karena orang-orang di kota itu tidak menyadari dosa mereka ketika mereka menolak Sang Juruselamat, dan mereka juga tidak tahu malapetaka yang akan terjadi di masa depan (Lukas 19: 41 – 42).

Bagi orang Kristen di zaman ini mungkin tidak sukar untuk mempunyai rasa belas kasihan dan empati jika ada anggota keluarga atau teman segereja yang mengalami musibah. Tetapi, seringkali perwujudan rasa kasih ini menjadi terhambat jika mereka yang tertimpa bencana adalah bukan orang Kristen, bukan orang yang disukai, bukan sanak atau teman, atau mungkin jauh dimata. Dalam hal ini, seakan ada tembok yang membatasi kasih mereka.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak membatasi rasa belas kasihan dan empati kita kepada orang disekitar kita. Tuhan tidak memerintahkan kita untuk mengasihi, menolong dan berdoa bagi teman atau sanak kita saja. Semua manusia sudah berdosa dan membutuhkan pengampunan melalui darah Kristus. Dengan demikian, kasih kita tidak hanya untuk orang yang serumah, seagama, segereja, semarga atau senegara. Sebaliknya, kita harus bisa menyalurkan kasih Tuhan yang sudah kita terima kepada siapa saja, termasuk mereka yang membenci kita, agar mereka bisa diselamatkan juga. Apa yang kita benci adalah dosa mereka, bukan orangnya. Seperti kita yang dulu membutuhkan pertolongan orang lain untuk membawa kita kepada Kristus, mereka membutuhkan kita untuk membawa mereka ke jalan yang benar.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Matius 5: 44 – 45

Hidup kita untuk kemuliaan Tuhan

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2: 5 – 7

Siapakah Yesus itu? Bagi sebagian orang Yesus adalah seorang guru yang bijaksana, yang sudah mengajarkan berbagai cara hidup yang baik. Bagi orang lain, Yesus adalah salah satu dari banyak nabi utusan Allah yang berasal dari Israel. Walaupun demikian, semua itu tidak sebanding dengan apa yang diyakini umat Kristen: Yesus adalah Anak Allah yang sudah merendahkan diriNya untuk menebus manusia.

Lebih dari itu Yesus adalah Tuhan, yang bersama-sama dengan Allah Bapa dan Roh Kudus adalah merupakan satu Tuhan dengan tiga pribadi. Mengapa satu? Itu karena Bapa, Anak dan Roh adalah suatu kesatuan Ilahi: bahwa mereka dari mulanya selalu ada, dan bersatu dalam segala pertimbangan, rencana dan tindakan. Mempunyai 3 pribadi yang berbeda, mereka adalah satu derajat dan harus disembah dan dihormati oleh umatNya karena Tuhan adalah pencipta dan sumber kehidupan manusia.

Bagaimana mungkinTuhan adalah sumber kehidupan manusia? Tuhan Yesus dalam ayat di bawah menggambarkan orang Kristen sebagai ranting-ranting pohon anggur yang bergantung pada pokok anggur untuk bisa hidup.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15: 5

Kita yang sudah diangkat sebagai anak-anak Allah karena pengurbanan Yesus tidak boleh menganggap bahwa sesudah menjadi anak-anak Allah kita adalah orang-orang pilihan yang sudah diselamatkan, dan karena itu tidak perlu memikirkan apa yang perlu kita lakukan untuk memuliakan Tuhan.

Tanpa kesadaran bahwa kita bergantung kepada Tuhan dan harus hidup untuk Tuhan, hidup kita akan tidak berbuah apa yang baik. Seperti itulah, orang-orang Kristen yang hanya mau menerima berkat Tuhan tetapi tidak mau mengubah hidupnya untuk bisa memuliakan Tuhan dan menolong sesama. Seperti itulah orang-orang Kristen yang dalam hidupnya tidak mau memasyhurkan nama Tuhan. Mereka yang nampaknya sudah bekerja keras, mengambil segala kemuliaan untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan Yesus yang bekerja di dunia – mengurbankan diri untuk kemuliaan Bapa. Mereka yang hidup untuk diri sendiri adalah seperti ranting-ranting yang tidak berbuah, yang akan dipotong dari pokok anggur karena tidak berguna untuk kerajaan Tuhan.

Pagi ini firman Tuhan mengingatkan kita akan kedudukan kita sebagai ranting-ranting pohon anggur, sebagai bagian dari gereja Tuhan. Sebagai orang Kristen tidak saja kita harus berbuah dalam hal-hal yang baik, tetapi juga harus makin bisa memuliakan Tuhan dan makin bisa melayani sesama. Hari lepas hari, sebagai ranting yang baik, haruslah kita makin banyak berbuah dan makin membawa kemuliaan bagi Dia sumber hidup kita.

“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Yohanes 15: 6

Jangan sampai tertipu

“Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” 2 Korintus 11: 3

Membaca surat kabar mengenai hal vasin Covid-19, mau tidak mau saya menghela nafas. Di berbagai negara, dijumpai banyak orang yang tidak mau menerima suntikan vaksin Covid-19 jika vaksin itu sudah tersedia. Memang ada banyak berita-berita miring yang menyebabkan orang ragu untuk mempercayai guna dan keamanan vaksin. Ada berita yang menyebarkan berita bahwa virus corona itu sebenarnya tidak ada, dan ada pula hoax yang menyatakan bahwa orang justru bisa terkena Covid-19 kalau disuntik vaksin. Saya kuatir kalau-kalau banyak orang yang tertipu oleh berbagai ajaran yang keliru dari orang-orang yang mengaku berjabatan dokter atau pakar kesehatan.

Seperti keadaan di zaman ini, Rasul Paulus dalam ayat diatas menyatakan kekuatirannya atas kemungkinan bahwa jemaat Kristen di Korintus diperdayakan oleh beberapa pengajar yang menyesatkan mereka dari ajaran yang benar. Pengajar-pengajar yang sesat itu diumpamakan seperti ular, si iblis,  yang dengan kelicikannya  sudah membuat Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa di taman Eden.

Ada tiga hal yang penting yang bisa kita simak dari ayat itu. Yang pertama, tiap orang Kristen masih bisa dan mungkin malah sering diserang oleh iblis. Kedua, iblis sering muncul dalam bentuk yang penuh pesona sehingga orang yang tidak awas akan terjebak. Dan yang ketiga, iblis sering muncul pada tempat dan waktu yang tidak terduga, selagi umat Tuhan lengah atau lemah.

Bagaimana iblis berusaha memperdayai umatNya di Korintus? Korintus adalah kota niaga yang cukup besar dan karena itu banyak orang datang dari berbagai tempat. Dengan itu, Korintus dari mulanya mudah sekali menerima budaya atau agama lain, mungkin melalui praktek toleransi agama dan multikulturalisme yang sering didengung-dengungkan saat ini. Diantara berbagai ajaran diluar agama Kristen yang bisa melemahkan dan bahkan menyesatkan orang Kristen pada waktu itu dan juga sering ditemui sampai saat ini adalah ajaran bahwa keselamatan adalah berdasarkan apa yang kita perbuat dalam hidup, dan ajaran bahwa pedoman hidup baik adalah berdasarkan pikiran sehat manusia.

Di zaman ini banyak manusia yang tidak puas dengan ajaran Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan. Mereka kemudian mengikuti ajaran lain yang menekankan humanisme, yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia ada di tangan mereka sendiri, yang harus melakukan hal-hal tertentu untuk mencapai surga. Selain itu, ada berbagai pengajar yang mengajarkan bahwa hidup bahagia dapat dicapai dengan cara-cara tertentu, yang  membuat orang memperoleh kepercayaan diri untuk bergantung kepada kekuatan dan jalan pikirannya sendiri dan bukannya kepada Tuhan.

Iblis juga sering muncul pada saat dan keadaan dimana umat Kristen mengalami kelengahan atau kesulitan. Bagi sebagian orang, kelengahan terjadi ketika segala sesuatu berjalan lancar dan hidup terasa nikmat. Pada saat itu kesadaran akan Tuhan dan kasihNya mungkin menjadi samar karena orang lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya untuk menikmati hidupnya. Selain itu, mudah bagi mereka untuk merasa bahwa Tuhan pastilah menyukai cara hidup mereka. Kelengahan juga bisa terjadi dalam keadaan yang sulit dan penuh perjuangan. Ketika keadaan yang menekan lagi menguasai hidup, orang menjadi terlalu sibuk berusaha melewati hari-harinya dengan rasa tegang, kuatir atau kecewa. Pada saat-saat dimana manusia lagi lemah seperti itu, iblis bekerja lebih giat untuk menggoda manusia agar mereka jatuh kedalam dosa dan menolak Tuhan.

Pagi ini, seperti jemaat Korintus kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa iblis selalu mengintai umat Tuhan dan siap untuk menyesatkan kita. Karena itu, dalam keadaan apapun yang kita alami saat ini, baik susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, kita harus tetap rajin berdoa dan membaca firmanNya agar kita tidak tertipu oleh iblis yang berusaha menghancurkan kita.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 1 Petrus 5: 8

Yakinlah bahwa Yesus adalah Tuhan

Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” Markus 4: 41

Tidak terasa, sebulan lagi hari Natal akan datang. Bagi sebagian besar orang Kristen, hari Natal adalah hari yang dipakai untuk memperingati kelahiran Yesus sekalipun hari itu bukan hari kelahiran yang sebenarnya. Kelahiran Tuhan Yesus di dunia adalah sesuatu yang sudah direncanakan Allah jauh bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan berbagai ayat yang menyebutkan tentang kedatangan si Juruselamat itu. Walaupun demikian, ketika Yesus dilahirkan, tidak ada orang yang menduga bahwa bayi yang lemah, yang lahir dalam palungan, adalah Anak Allah, Mesias, yang sudah dinantikan umat Israel.

Hanya melalui petunjuk Allah, sejumlah manusia langsung tahu bahwa Mesias sudah datang. Jusuf dan Maria, para gembala, orang Majus, dan Simeon adalah sebagian orang yang tahu akan hal itu. Namun orang lain, termasuk murid-murid Yesus, membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum mengenali bahwa Yesus adalah Mesias. Mereka tahu bahwa Yesus adalah orang yang baik dan suka menolong orang lain, mempunyai kharisma dan pengetahuan yang luar biasa, tetapi mereka tidak tahu atau yakin bahwa Ia adalah Tuhan.

Kita yang merayakan hari Natal setiap tahun, sudah tentu tidak pernah bertemu dengan Yesus secara jasmani. Yesus sekarang di surga, sedang kita masih di dunia. Semua orang yang merayakan hari Natal dengan alasan apapun, hanya mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang lain atau membaca kisahnya dari buku atau sumber-sumber lain. Sebagian kecil manusia mungkin pernah memperoleh penglihatan atau pengilhaman tentang Yesus, tetapi semua itu tidaklah sempurna.

Adalah mudah bagi semua orang untuk menyadari bahwa Yesus adalah tokoh yang besar pada zamanNya, guru yang baik, orang yang mempunyai rasa sosial yang besar dan memiliki etika yang tinggi. Bukan hanya orang Kristen saja yang mengakui hal-hal itu, orang yang beragama lain pun percaya bahwa Yesus adalah orang baik. Tetapi, tidak semua orang tahu atau mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan yang turun ke dunia, jalan keselamatan satu-satunya.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Yohanes 14: 6

Adalah sesuatu yang menyedihkan kalau mereka yang sudah mendengar bahwa Yesus yang lahir sebagai manusia biasa, tidak dapat mengerti bahwa Ia bukan manusia biasa, tetapi Tuhan yang mahakuasa. Malahan, ada orang yang mengaku Kristen tetapi tidak mengakui bahwa sebagai Tuhan, Yesus bukan ciptaan Allah tetapi sudah ada sejak awalnya. Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan karena hanya Tuhan sendiri yang bisa menghindarkan umat manusia dari kebinasaan.

Kitab Markus 4 menceritakan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Murid-muridNya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Yesus kemudian bangun, menghardik angin itu. Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Mereka menjadi sangat takut akan kuasa Tuhan yang dinyatakan di hadapan mereka.

Hari ini kita diingatkan bahwa bagaimanapun besarnya persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus yakin bahwa Yesus yang pernah lahir sebagai manusia, bukanlah manusia biasa. Bukti-bukti tertulis menyebutkan dengan jelas bahwa Ia adalah Tuhan. Karena itu kita tidak perlu mengeluh mengapa Ia membiarkan kita bergumul dengan penderitaan dan persoalan kita saat ini. Yesus adalah Tuhan yang tahu keadaan kita, dan dengan kasihNya pasti mengulurkan tanganNya pada saat yang tepat.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”Markus 4: 40

Yesus adalah Tuhan, jalan kebenaran dan hidup

“Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Soal salah pilih adalah soal biasa. Misalnya, jika kita membeli baju dari toko dan setelah dicoba di rumah ternyata kekecilan. Itulah gara-gara malas mencoba. Kalau baju mungkin bisa ditukar, soal pasangan hidup lain lagi karena sekali pilih diharapkan cocok untuk seumur hidup sekalipun tanpa coba-coba!

Bagaimana pula dengan iman kepercayaan kita? Mungkinkah kita memilih kepercayaan tertentu dan kemudian ternyata salah pilih? Mungkin juga! Kebanyakan mereka yang mau mencari Tuhan akhirnya menganut ajaran agama tertentu. Namun setelah menganut ajaran itu, adakalanya mereka kemudian meninggalkan agamanya dan menjadi tidak beragama lagi atau masuk agama lain.

Selanjutnya ada orang Kristen yang sudah lama ke gereja tertentu, tetapi karena adanya daya tarik dari gereja lain kemudian meninggalkan gereja yang lama. Jika itu karena merasa bahwa bahwa gereja yang baru memiliki pengajaran kerohanian yang lebih baik, tentu itu tidak ada salahnya. Tetapi, sering terjadi bahwa orang pindah gereja karena adanya hal yang secara tiba-tiba menjadi sesuatu yang memikat hati dan pikiran.

Mengapa ada orang Kristen yang kemudian meninggalkan hidup kekristenan? Mengapa ada orang Kristen yang meninggalkan gerejanya untuk kemudian, tanpa berpikir panjang, mengikuti sebuah aliran yang aneh? Ada berbagai sebabnya, seperti perumpamaan benih yang ditabur (Matius 13: 19-23).

  • Kurang pengertian: Kepada setiap orang yang mendengar firman, tetapi belum tentu ia bisa atau mau mengertinya. Kemudian datanglah iblis dalam bentuk yang memikat hati, yang merampas apa yang ditaburkan dalam hati orang itu. Jika ada pendeta yang mengajarkan “wahyu baru”, orang yang kemudian merasa bahwa itu adalah lebih baik dari apa yang lama.
  • Kurang kuat: Ada orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penderitaan atau goncangan hidup, orang itupun segera berubah imannya.
  • Godaan duniawi: Ada orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kenikmatan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah dan akibatnya hidup orang itu menjadi jauh dari Tuhan.

Selain itu, banyak orang yang kecewa melihat hidup orang Kristen seolah tidak ada bedanya dengan orang yang tidak beriman. Apalagi, agama lain mengajarkan bahwa keselamatan manusia harus diraih melalui hidup yang baik, dengan amal dan sedekah, dengan ritual dan doa tertentu yang lain daripada yang lain. Mereka yang dulunya tidak yakin akan keselamatan mereka, kemudian memilih agama atau aliran gereja yang mengharuskan mereka untuk berbuat sesuatu. Mereka kemudian merasa puas karena merasa bahwa mereka mendapatkan kesadaran baru.

Ada pula orang yang dulunya memilih agama karena ikut-ikutan suami, istri, teman atau orang tua. Barangkali mereka melihat bahwa semua agama baik adanya. Menurut mereka, tidak ada agama yang mengajarkan hal-hal yang buruk. Malahan agama-agama lain lebih terlihat lebih toleran dari agama Kristen, dan pemimpinnya lebih bijak dan berpengetahuan. Karena itu konsep beragama bagi mereka tidaklah jauh berbeda dengan pergi berbelanja.

Hari ini kita ditantang dengan sebuah pertanyaan: apakah kita yakin tidak salah pilih. Apakah kita yakin bahwa kita sudah diselamatkan dan apa buktinya? Kita harus yakin bahwa Allah kita adalah Allah yang benar yang mahasuci, yang tidak dapat dicapai dengan usaha manusia. Mereka yang mengajarkan bahwa kita bisa mencapai pilihan yang benar dengan usaha kita sendiri adalah keliru. Allah orang Kristen bukan allah-allahan yang kecil.  Manusia hanya bisa diselamatkan karena menjawab panggilan Tuhan. Manusia tidak dapat meraih Tuhan dengan berbuat baik. Tuhan sendirilah yang harus datang ke dunia dengan merendahkan diriNya untuk menebus dosa manusia.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8-9

Iman seharusnya membuat kita hidup untuk Kristus

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9: 62

Minggu-minggu ini adalah saat yang menarik dalam dunia politik di Australia maupun Amerika. Di Australia, pemilihan umum untuk negara bagian Queensland akan berlangsung pada tanggal 31 Oktober, sedangkan di Amerika pemilihan presiden akan dilaksanakan pada tanggal 3 November 2020. Di Australia, pemilihan umum adalah sebuah keharusan untuk setiap warga, sedangkan di Ameria pemilihan umum tidaklah merupakan keharusan. Bagi mereka yang ikut berpartsipasi dalam pemilu, kesempatan ini adalah sebuah cara untuk menyatakan kepercayaan mereka kepada orang tertentu dengan menyatakan diri sebagai pendukungnya melalui cara demokrasi.

Sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita adalah orang beriman yang percaya kepada Yesus dan juga pengikut Yesus. Sebagian orang berpendapat bahwa setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus, juga mengakui bahwa mereka juga pengikutNya. Apakah kepercayaan kepada Kristus adalah sama dengan menjadi pendukung Yesus? Apa bukti bahwa setelah kita mengaku percaya, kita kemudian menjadi pengikutNya?

Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menjadi pengikut Yesus adalah mathetes, yang bukan saja berarti “murid”, tetapi adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Jika orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Musa (Yohanes 9: 28), murid-murid Yesus dinamakan pengikut Yesus sebelum ada sebutan “orang Kristen”. Mereka menjadi pengikut Yesus ketika mereka mengambil keputusan untuk mengikutiNya (Matius 9:9). Menjadi pengikut Kristus adalah hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Menjadi pengikut Kristus adalah keputusan kita. Jika kita pernah menyanyikan lagu terkenal “Mengikut Yesus keputusanku”, agaknya tidak sulit untuk sekedar mengakui bahwa kita adalah orang yang dikaruniai iman oleh Tuhan dan kemudian secara otomatis menjadi pengikut Yesus. Tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah semudah itu untuk menjalaninya.

Mengapa tidak mudah untuk menjadi pengikut Yesus? Apa syarat-syarat untuk menjadi pengikutNya? Memang sebagai pengikut Yesus kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, tetapi untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama itu kita setidaknya memerlukan dua hal yang penting: kesiapan dan kesetiaan. Ada orang yang tidak pernah memiliki keduanya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk menjadi pengikut Yesus, tetapi ada yang hanya memiliki salah satu saja, sehingga ia mungkin hanya tahan untuk menjadi pengikut Kristus dalam kurun waktu yang singkat saja.

Dalam kitab Lukas 9: 57-61 tertulis adanya seseorang yang berkata bahwa ia mau mengikut Yesus kemana saja, tetapi Yesus menolaknya karena ia belum siap untuk menghadapi perjuangan berat sebagai pengikut Yesus. Dalam ayat 58, Yesus berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” Menjadi pengikut Yesus bukannya berarti hidup dalam kenyamanan dan berfokus pada kesuksesan pribadi, tetapi hidup dalam ketabahan dan berfokus pada kemuliaan Tuhan.

Ada orang-orang lain yang diajak Yesus untuk menjadi pengikutnya karena mereka tampak sudah siap berjuang, tetapi mereka menjawab bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan (Lukas 9: 59, 61). Kepada orang-orang itu Yesus berkata bahwa setiap orang yang siap untuk membajak , yaitu mengikut Dia, tetapi masih mempunyai prioritas-prioritas lain, tidaklah layak untuk mengikut Dia karena dedikasi yang salah (ayat 62).

Pagi ini, pertanyaan untuk kita yang mengaku beriman kepada Yesus adalah: Apakah kita sudah siap dan memang mau untuk menjadi pengikut Yesus? Siapkah kita untuk menjalani perjuangan hidup dengan ketaatan kepada perintahNya dan bekerja untuk kemuliaanNya? Menjadi orang beriman tidak bisa dipisahkan dari menjadi pengikut Kristus (Yakobus 2: 24) karena untuk menjadi orang Kristen tidaklah cukup dengan berdiam diri dan mengabaikan panggilanNya untuk menjadi seperti Dia, dan bekerja untuk memuliakan namaNya dengan setia, hari demi hari baik dalam suka maupun duka.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.” Galatia 2: 20

Allah adalah Bapa kita

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roma 8: 14 – 15

Baru-baru ini saya mengikuti sebuah diskusi mengenai nama panggilan untuk Tuhan kita. Topiknya adalah nama apa yang harus kita pakai untuk tidak mengabaikan keinginan Tuhan. Nama apa yang diinginkanNya? Apakah Tuhan mengharuskan kita memanggil Dia dengan nama tertentu? Diskusi yang menarik ini sebenarnya bukan baru, karena banyak orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan menghendaki kita memanggil Dia dengan nama YHVH (Yahweh).

Yahweh adalah pengucapan dari nama perjanjian Tuhan, YHVH (Yehovah adalah pengucapan lainnya). Tuhan pertama kali menggunakan nama ini ketika Dia berbicara dengan Abram (Abraham) dalam Kejadian 15: 7. Nama YHVH juga diturunkan kepada Musa di Gunung Sinai ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa di semak yang terbakar. Musa menanyakan namaNya dan Tuhan menjawab “Aku adalah Aku”(Keluaran 3:14). Dalam Keluaran 3:15 Tuhan berfirman lebih lanjut kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Tihan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun.”

Haruskah kita memanggil Tuhan dengan nama Yahweh? Kita harus ingat bahwa Alkitab adalah buku wahyu progresif. Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan berbicara melalui para nabiNya dan bernubuat tentang Mesias yang akan datang. Selama pelayananNya di bumi, Yesus memberikan penjelasan lebih lanjut tentang tujuan dan rencana Allah dalam menebus manusia dan memulihkan segala sesuatu. Kemudian, setelah kenaikan Yesus ke Surga, Tuhan mengirimkan Roh Kudus untuk menginspirasi penulisan firman Tuhan yang kita miliki dalam Perjanjian Baru, dengan demikian memberikan wahyu lebih lanjut dan melengkapi Alkitab.

Dengan wahyu yang penuh, kita memahami bahwa AKU YANG ESA yang berbicara kepada Musa adalah Allah Tritunggal – satu Allah dalam tiga Pribadi yang berbeda: Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Ketiga Pribadi itu kekal, sederajat, dan hidup berdampingan dalam satu Ketuhanan. Oleh karena itu, ketika Tuhan mengungkapkan namaNya sebagai Yahweh kepada Musa, itu adalah wahyu dari nama Tuhan Tritunggal kita. Kita memahami sifat tritunggal Tuhan; tetapi sebelum inkarnasi Yesus, orang Israel tidak mungkin memahami ini.

Yahweh adalah nama yang Tuhan nyatakan kepada Musa, dan persis apa yang Dia ingin agar dipahami oleh umatNya, Israel, pada saat itu. Tuhan sedang mempersiapkan umatNya untuk mengenali Mesias yang akan datang, “benih” yang dijanjikan di taman Firdaus. Dia yang akan datang dan menyelamatkan manusia yang jatuh (Kejadian 3:15). Dari awal di taman, dan berlanjut sepanjang Perjanjian Lama, kita membaca tentang Tuhan yang mengungkapkan lebih dan lebih banyak lagi dari tujuan dan rencana penebusanNya dan lebih banyak lagi tentang siapa Dia, termasuk namaNya.

Setelah Yesus datang ke dunia dan mati di kayu salib, mereka yang percaya kepadaNya akan menerima keselamatan. Mereka diangkat menjadi anak-anak Allah. Ayat pembukaan kita berkata bahwa semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab itu, kita tidak memiliki roh yang membuat kita takut lagi; tetapi karena Yesus sudah memperdamaikan kita dengan Tuhan, kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah. Oleh Roh itu kita memanggil: “ya Abba, ya Bapa!”

Saya tahu nama ayah saya. Tapi entah saya tahu namanya atau tidak, itu bukanlah nama yang saya gunakan. Saya memanggilnya sebagai ayah atau bapa. Saya bahkan tidak menggunakannya saat berbicara dengan orang lain yang mengenalnya. Saya berkata, “ayah saya,” atau “bapa saya.” Dan orang lain juga menyebutnya sebagai “ayahmu.” Dengan demikian, untuk saya lebih akrab jika saya memanggil ayah dengan nama relasional daripada dengan nama resminya. Itu adalah hal yang sama dengan Bapa kita di surga. Sekarang, kita tdak perlu memanggil Dia dengan namaNya, bahkan jika kita tahu persis bagaimana mengatakannya karena semua itu bisa membuat kita lupa bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu dari awalnya, dan sudah merencanakan penyelamatan umat manusia sejak mulanya. Pujilah Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Kasih!

Manusia berusaha, Tuhan menentukan

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 13 – 15

Pada saat pandemi ini, semua negara di dunia berusaha keras untuk mengatasi dampaknya, yang bisa menyangkut bidang kesehatan, sosial, ekonomi, dan bahkan politik. Dampak kesehatan sudah jelas sangat besar; tetapi dengan banyaknya orang yang menjadi korban, kehidupan sosial pun menjadi berantakan. Sebagai akibatnya, ekonomi banyak negara mengalami kemunduran yang sangat besar dan bahkan resesi. Dalam kekacauan yang ada, keadaan politik pun bisa terpengaruh.

Terlalu banyaknya persoalan yang timbul sudah menyebabkan pemerintah mana pun menghadapi tantangan besar. Apa yang bisa diperbuat negara untuk menyelamatkan rakyatnya dari berbagai dampak di atas? Berbagai rancangan tentunya dibuat oleh para pemimpin untuk bulan-bulan mendatang, dan banyak yang berpendapat bahwa kunci keberhasilan adalah adanya vaksin. Jika vaksin sudah ada, masalah-masalah yang ada akan bisa diatasi. Walaupun demikian, banyak orang yang berpendapat bahwa adanya vaksin belum tentu dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.

Dalam kekacauan dunia saat ini, sudahlah wajar bahwa banyak orang Kristen yang berserah kepada kehendak Tuhan. Tetapi, dalam kenyataannya manusia lebih mudah untuk mengatakan kata “kehendakMu jadilah”, tetapi tetap merencanakan segala sesuatu yang dianggapnya baik. Manusia seringkali merencanakan segala sesuatu dengan tanpa benar-benar memikirkan kehendak Tuhan. Manusia sering melakukan sesuatu dan ingin agar Tuhan kemudian memberi “stempel” persetujuanNya. Manusia kebanyakan berusaha untuk mencapai apa yang diingininya dan hanya merasa perlu berdoa jika menemui halangan. Manusia sering tidak sadar bahwa kunci kehidupan adalah Tuhan.

Ayat di atas menyatakan bahwa kesombongan manusia membuat ia merencanakan segala sesuatu tanpa mencari kehendak dan pertolongan Tuhan. Begitulah banyak guru dan orangtua yang mengajarkan bahwa hidup ini ada di tangan setiap manusia pemiliknya. Menurut banyak orang, mereka yang tidak berani mengambil keputusan tidak akan mencapai apa yang diidamkannya.

Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang kurang berhasil hidupnya karena mereka kurang mau bekerja keras atau kurang mau untuk membuat rencana masa depan. Sebaliknya, banyak juga orang yang sangat yakin akan kemampuannya dan berani melangkahkan kaki untuk mengejar cita-citanya, hanya untuk menemui berbagai kesulitan dan kegagalan.

Ayat di atas memperingatkan mereka yang yakin dan bahkan sombong akan hari depan yang cerah, bahwa hidup mereka bukan di tangan mereka sendiri. Apa yang akan terjadi belum tentu sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena Tuhanlah yang memegang kunci kehidupan. Mereka seharusnya menyadari bahwa hanya dengan mencari kehendak dan pertolongan Tuhan mereka akan bisa melaksanakan apa yang mereka rencanakan.

Sebagai umat Kristen, kita tidak dapat mengharapkan bahwa hidup di dunia bisa menjadi mudah dan selalu lancar. Kita tidak juga bisa berharap bahwa tanpa kita berbuat apa-apa Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang kita ingini. Selama hidup ini kita justru perlu untuk membuat berbagai rencana dan keputusan. Ini harus dilakukan dengan penyerahan kita kepada kehendakNya. Dengan takut akan Tuhan, datanglah kebijaksanaan (Mazmur 111: 10). Ini seringkali tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi kita bisa mengharapkan datangnya pertolongan Tuhan agar kita bisa melangkah dengan iman dan sanggup menghadapi berbagai jurang dan bukit untuk menuju ke arah yang Tuhan sudah tetapkan bagi kita.

“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.” Amsal 16: 9

Pilihlah apa yang berguna untuk kemuliaan Tuhan

“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Kolose 3:  5 – 6.

Pada zaman pandemi ini, orang lebih diharapkan untuk memakai cara hidup yang baik. Menjaga jarak, rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menutup mulut ketika bersin adalah sebagian tata cara kehidupan yang baik, yang bukan saja penting untuk kesehatan kita, tetapi juga untuk kesehatan orang lain.

Memang sudah sewajarnya jika orang mempunyai etika hidup yang baik, yang bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Dalam melakukan sesuatu, kita harus memperhatikan apakah semua itu tidak merugikan atau membuat marah orang lain. Walaupun demikian, dalam kenyataannya banyak juga orang yang semaunya sendiri dan tidak mau menjalankan etika yang baik. Mungkin mereka merasa adanya kebebasan untuk menentukan cara hidup diri sendiri.

Untuk kesejahteraan umat manusia, setiap orang harus mempunyai etika. Etika bisa muncul dalam satu masyarakat, dan karena etika berhubungan dengan budaya, etika masyarakat yang satu mungkin bisa menjadi bahan pergunjingan dan geguyonan dalam masyarakat lain. Pada pihak yang lain, etika Kristen (dari bahasa Yunani ethos yang berarti  kebiasaan/ adat) adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik untuk dilakukan dari sudut pandang Kekristenan; jadi seharusnya berlaku untuk siapa saja, kapan saja dan  dimana saja.

Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang terbaik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral adalah baik dan memuliakan Dia saja. Saat ini, permasalahan utama yang dihadapi etika Kristen ialah perbedaan yang mungkin ada antara kehendak Allah terhadap manusia dan reaksi manusia (yang mungkin dipengaruhi budaya dan tradisi) terhadap kehendak Allah.

Etika dimaksudkan agar manusia tidak memilih apa yang buruk dan yang tidak berguna. Tetapi karena tidak semua apa yang dilakukan manusia dari jaman ke jaman dibahas secara langsung dalam Alkitab, permasalahan kedua dalam etika Kristen adalah bagaimana mengajarkan dan menerapkan etika menurut prinsip kekristenan jika itu tidak tertulis secara jelas dalam Alkitab. Dalam hal ini, mereka yang tidak mau atau kurang mampu berpikir akan kurang bisa melihat hubungan antara etika dan Firman. Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa mereka yang pintar berdalih akan memakai etika atau kebiasaan yang bisa memuaskan diri sendiri.

Dalam ayat Kolose 3: 5 – 6 diatas disebutkan bahwa kita tidak boleh melakukan segala sesuatu yang sering dianggap lazim di dunia, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, karena semuanya itu sama dengan penyembahan berhala. Itu tidak sesuai dengan etika Kristen. Memang jika cara hidup, kebiasaan, tradisi kita bisa diterima orang lain, kita bisa lupa bahwa Tuhanlah yang berhak menentukan apa yang benar, yang harus kita lakukan.

Yesus pernah menjumpai orang-orang yang sepertinya sudah melakukan apa yang diharuskan oleh agama tetapi mengabaikan etika-etika hidup yang benar:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Matius 23: 23

Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mungkin merasa bahwa mereka sudah membayar kewajiban hidup mereka, tetapi melupakan bahwa ada hal-hal lain yang menyangkut keadilan, belas kasihan dan kesetiaan yang perlu dilaksanakan.

Mempunyai berhala bukan hanya keterikatan kepada apa yang jelas terlihat jahat. Dalam kenyataannya, ada banyak hal yang nampaknya baik tetapi bisa menjadi seperti berhala karena kita lebih sering atau lebih senang melakukannya daripada melakukan hal yang disenangi Tuhan. Kita sering dengan senang hati melakukan hal-hal yang terlihat indah di mata kita, tetapi mengabaikan perintah Tuhan untuk hidup bagi kemuliaanNya.

Hari ini kita diingatkan bahwa jika kita mau mengikut Yesus, kita sewajarnya memegang dan melaksanakan etika dan cara hidup Kristen yang berdasarkan Firman Tuhan. Etika Kristen adalah pelaksanaan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang walaupun tidak disebutkan secara terperinci dalam Alkitab, adalah suatu tanda Roh Kudus bekerja dalam hidup kita sehingga kita mengerti dan taat kepada firmanNya.

Dengan etika yang berdasarkan Alkitab kita akan bisa memilih apa yang benar-benar berguna. Etika Kristen yang dilaksanakan akan membuat hidup kita memancarkan terang Kristus kepada masyarakat di sekeliling kita, sehingga makin banyak orang yang dibawa menuju Dia dan menerima keselamatan.

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” 1 Korintus 6: 13

Alkitab adalah pedoman kita

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” 2 Timotius 3: 16

Semakin tua, manusia akan makin berpengalaman karena makin banyak yang pernah dialaminya. Umumnya, pengalaman yang buruk bisa mencegah seseorang untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Sebaliknya, pengalaman yang baik dan menyenangkan membuat orang tertarik untuk mencobanya lagi jika ada kesempatan. Pengalaman adalah guru yang terbaik, begitulah kata orang. Benarkah?

Untuk hal-hal tertentu, dalam keadaan tertentu, memang apa yang pernah dilihat, dirasakan dan dialami, dan apa yang sudah menjadi tradisi, bisa memberi pelajaran dan pengertian. Dengan demikian, pengalaman yang kita peroleh dari pandemi COVID-19 ini juga bisa berguna untuk masa depan. Dalam ilmu pengetahuan, hal semacam ini dikenal dengan pendekatan empiris, yang sering bertentangan dengan pendekatan rasionalis. Bukti empiris adalah informasi yang didapat melalui pengalaman, sedangkan bukti rasionalis berasal dari pemikiran akal budi.

Para pendukung metode empiris berpendapat bahwa informasi yang diperoleh secara empiris yaitu observasi, pengalaman dan percobaan, berguna sebagai pemisah antara pendapat-pendapat yang ada. Dengan pengalaman dan kebiasaan yang pernah dialami, orang bisa menolak pendapat orang lain, nasihat guru atau orang tua dan bahkan firman Tuhan. Apa yang pernah dialami dan lazim dilakukan akan cenderung dipercayai, sedangkan apa yang tidak pernah terjadi atau terlihat dalam hidup, sering diabaikan,

Dalam kehidupan iman, kita dihadapkan dengan berbagai ajaran dan praktik kekristenan yang beraneka ragam. Pada umumnya, keragaman adalah lumrah karena tiap manusia adalah individu yang berbeda, yang mempunyai pengalaman dan pengertian yang berlainan. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, harus dipegang sebagai pedoman untuk memperoleh kebenaran.

Karena pengalaman seseorang belum tentu bisa dialami orang lain, dan juga karena pengalaman tergantung situasi dan kondisi, metode empiris mempunyai kelemahan bahwa apa yang dirasakan sebagai kebenaran di masa lalu, belum tentu benar di masa depan. Apa yang mungkin dianggap baik hari ini, belum tentu bisa diterima oleh generasi yang akan datang. Sebaliknya, apa yang dianggap buruk di zaman dulu, sekarang mungkin sudah dianggap biasa. Karena itu, pengalaman dan kebiasaan seseorang belum tentu membawa kebenaran dan belum tentu bisa menjadi guru yang terbaik.

Pagi ini kita harus sadar bahwa apa yang kita dengar dan saksikan di gereja mungkin bersumber pada pengalaman pribadi atau pendapat manusia, yang sehebat atau seajaib bagaimanapun, tidak dapat dianggap setara dengan firman Tuhan. Apalagi kalau pengalaman itu hanya mendatangkan kemuliaan bagi manusia dan bukannya Tuhan.

Perlu kita sadari bahwa metode empiris yang berdasarkan pengalaman manusia, jika dipakai untuk mempelajari Firman, bisa menghasilkan sesuatu yang kurang cocok dengan Firman itu sendiri. Begitu juga dengan metode rasional yang hanya berdasarkan akal budi, tidak akan dapat menjajaki kedalaman Firman Tuhan. Karena itu, setiap orang percaya harus mau mempelajari firman Tuhan dengan iman, menggumuli dan menerapkanNya dalam hidup dengan bimbingan Roh Kudus. Pengalaman hanya bisa menjadi guru yang terbaik sesudah dibandingkan dengan apa yang ada dalam Alkitab.

“FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105