Kekuatan kita datang dari Tuhan

“Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.” Yesaya 40: 28-29

Salah satu dampak Covid-19 adalah banyaknya orang yang menderita gangguan kesehatan. Itu bukan saja diakibatkan oleh kekuatiran yang timbul karena kabar buruk yang muncul setiap hari, tetapi juga karena banyak orang yang tidak dapat bebas pergi ke luar rumah. Manusia yang terkurung dalam kekuatiran, lambat laun akan mengalami masalah jasmani maupun rohani. Dengan keadaan yang sedemikian, seringkali orang merasakan bukan saja pikiran menjadi kacau dan lamban karena terbebani oleh berbagai kekuatiran, tetapi tubuh pun menjadi letih dan lemah tanpa alasan.

Di dunia ini, kelelahan memang bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi, karena situasi dunia yang makin semrawut semenjak datangnya pandemi, banyak orang yang merasa sangat lelah (fatigue) secara jasmani maupun rohani. Dengan demikian, manusia mudah kehilangan tujuan hidup dan harapan untuk memperoleh masa depan yang cerah. Bagi sebagian orang, jalan yang termudah untuk mengatasi segala penderitaan ini adalah mengonsumsi makanan atau minuman yang bisa untuk sementara menghilangkan rasa sakit atau untuk melupakan rasa duka dan kuatir. Bagi orang yang lain, mungkin masih ada iman bahwa Tuhan masih mau mendengarkan doa mereka. Tetapi, seringkali dalam keadaan seperti ini orang tidak lagi bisa berdoa dengan benar.

Dalam keadaan yang sangat menekan, adalah mudah bagi orang untuk berdoa agar Tuhan menyingkirkan semua hal yang buruk dari hadapannya. Walaupun demikian, doa semacam itu bukanlah doa yang benar karena penderitaan manusia sebenarnya adalah bagian dari bumi yang sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia manapun tidak bisa menghindari datangnya kesulitan, penyakit ataupun malapetaka, jika itu harus terjadi dalam hidupnya. Walaupun demikian, ayat diatas menjelaskan bahwa Tuhan yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung adalah Tuhan yang selalu ada dan tahu apa yang terjadi dalam hidup umatNya. Sekalipun begitu banyak persoalan yang terjadi di dunia, Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. Sebagai Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana, tidak terduga pengertianNya.

Hari ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu bahwa anda mengalami penderitaan yang besar dalam hidup. Mungkin itu penderitaan jasmani yang tidak disadari orang yang terdekat, atau penderitaan rohani yang sudah berlangsung cukup lama. Kemana anda harus lari? Adakah obat yang bisa membawa keringanan dan kesembuhan? Anda sudah mencoba berbagai cara, tetapi penderitaan yang ada tidak juga berkurang. Anda sudah berdoa memohon kelepasan, tetapi semua itu tetap anda derita. Ayat diatas mengandung satu-satunya harapan bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tuhan yang tidak pernah lelah akan memberi kekuatan kepada mereka yang lelah, dan menambah semangat kepada mereka yang tiada berdaya. Sekalipun beban kita sangat besar, Tuhan adalah mahakasih dan sanggup memberi kita ketabahan dan kesabaran. Maukah kita memercayakan hidup kita kepadaNya?

Pakailah Efodmu

Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: “Bawalah efod itu kepadaku.” Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud. Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?” Dan Ia berfirman kepadanya: “Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.” 1 Samuel 30: 7 – 8

Saat ini hampir semua orang merasakan adanya tekanan hidup yang besar. Bagi sebagian, suasana pandemi saat ini sudah membuat kehidupan sehari-hari seperti kegelapan malam yang panjang. Mereka menantikan terbitnya matahari, tetapi matahari tidak kunjung muncul.

Kisah perjalanan hidup Daud yang bisa kita baca dari 1 Samuel 30 mungkin adalah salah satu lembah yang tergelap dalam kehidupan Daud. Pada waktu itu, ia dikejar oleh Raja Saul. Bagi Daud, tempat teraman untuk menjauh dari Saul adalah tinggal di antara orang Filistin, musuh yang ditakuti Saul. Karena itu, Daud dan 600 orangnya pergi ke Akhis, raja Gat dan meminta izin untuk membiarkan mereka menetap di Ziklag, salah satu kota Filistin (1 Samuel 27).

Selama enam belas bulan, Daud dan anak buahnya menghabiskan waktu mereka untuk menyerang orang Geshur, Girz, dan Amalek. Mereka menjarah domba, lembu, keledai, unta dan pakaian setelah membunuh setiap orang di desa yang mereka serang. Kepada Akhis Daud berbohong bahwa ia menyerang orang Israel. Akhish mempercayai penjelasan Daud dan berpikir bahwa orang Israel pasti sangat membenci Daud, dan yakin bahwa Daud akan tinggal di Gat dan mengabdi kepada dia untuk selamanya.

Pada suatu saat, orang Filistin mengumpulkan pasukan mereka untuk berperang lagi dengan Israel. Akhish meminta Daud dan anak buahnya untuk pergi dan membantu mereka guna melawan Israel. Sebelum pertempuran dimulai, para komandan Filistin menolak Daud dan anak buahnya. Mereka menjelaskan kepada Akhish bahwa Daud mungkin berbalik melawan mereka dan berperang untuk Israel. Atas saran itu, Daud diminta kembali ke Ziklag.

Daud dan anak buahnya tiba di Ziklag dua hari kemudian. Dengan rasa ngeri mereka melihat bahwa orang Amalek telah menyerang dan membakar kota mereka. Semua wanita dan anak-anak mereka ditawan orang Amalek. Daud dan anak buahnya mulai menangis dengan sedihnya. Anak buah Daud kemudian mengalihkan amarah mereka terhadap Daud dan berencana untuk melempari dia dengan batu. Tetapi Daud menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Daud meminta imam Abyatar untuk membawakannya efod (1 Samuel 29 – 30).

Efod adalah rompi yang dikenakan oleh imam besar ketika dia melayani di altar (Keluaran 28: 4-14; 39: 2-7). Dipakai di atas jubah biru (Keluaran 28: 31-35), efod terbuat dari linen halus yang dijalin dengan benang emas murni, biru, ungu dan merah tua. Efod diikat dengan ikat pinggang anyaman yang indah (Keluaran 28: 27-28), dan pada tali bahunya terpasang dua batu yang di atasnya terukir nama kedua belas suku. Di atas dada imam besar ada penutup dada, berisi dua belas batu yang diukir dengan nama suku Israel.

Memakai efod pada waktu itu berarti mengenakan pakaian puji-pujian untuk menyembah Tuhan. Ini adalah waktu untuk menghadap Tuhan secara langsung. Mendongak ke atas, dan tidak ke tempat lain. Melalui tindakan Daud ini, setiap orang dan segala sesuatu yang hilang dipulihkan (1 Samuel 30: 18). Lebih dari itu, Daud dijadikan raja Yehuda setelah kematian Raja Saul. Tujuh setengah tahun kemudian, dia menjadi raja di Yerusalem atas seluruh Israel dan Yehuda.

Di zaman sekarang, kita tidak memerlukan efod atau alat-alat tertentu untuk bisa menjumpai Tuhan. Yesus Kristus adalah Imam Besar kita yang agung dan efod adalah simbol dari Dia. Jika imam Israel memakai efod mereka untuk menemui Tuhan, melalui Kristus kita bisa berkomunikasi dengan Allah Bapa. Yesus memungkinkan adanya jalan kepada Bapa bagi semua orang. Karena itu kita dapat datang dengan berani ke tahta kasih karunia, untuk memperoleh belas kasihan dan menemukan kasih karunia pada saat dibutuhkan.

Ketika masa sekarang menjadi sulit dan berat, kita perlu memakai baju efod kita, menghadap Tuhan yang mahakudus dan menyembah Dia. Dengan berdiri diam kita akan melihat kuasa dan kasih Tuhan!

“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Ibrani 4: 16

Iman bukanlah sesuatu yang abstrak

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2: 17

Bagaimana pandangan manusia atas konsep keTuhanan? Banyak orang yang berpendapat bahwa Tuhan adalah sesuatu yang abstrak, yang tidak mudah dimengerti karena tidak berwujud atau tidak berbentuk. Bagi umat Kristen, Tuhan memang Roh dan tidak dapat terlihat dengan mata. Walaupun demikian, Tuhan bukanlah abstrak karena kasihNya yang mencari manusia untuk diselamatkan adalah nyata. Oleh sebab itu, kepercayaan orang Kristen kepada Tuhan atau iman bukanlah sesuatu yang abstrak. Iman bukan hanya pengakuan orang yang merasa bahwa Tuhan ada, tetapi adalah sesuatu yang bisa terlihat dalam hidup orang yang memiliki keyakinan bahwa Tuhan ada dalam hidupnya.

Peneguhan sidi (confirmation) adalah bagian dari pengakuan iman dalam banyak gereja. Kata “sidi” berasal dari bahasa Sansekerta, artinya penuh atau sempurna. Pada kebanyakan gereja, setelah melakukan katekisasi (kursus Alkitab), seseorang bisa diteguhkan sebagai anggota gereja melalui peneguhan sidi dalam upacara khusus di hadapan sidang jemaat. Apabila seseorang telah menerima peneguhan sidi, secara gerejawi keanggotaannya sudah penuh.

Untuk sebagian gereja, peneguhan sidi bukan sakramen tapi berkaitan erat dengan sakramen. Baptisan usia dewasa memang bisa dilakukan bersama peneguhan sidi. Jika baptisan usia anak kemudian dilanjutkan dengan sidi sesudah menginjak usia dewasa, maka dalam hal ini peneguhan sidi adalah kesempatan untuk mengakui iman di hadapan jemaat. Selain itu, pengakuan sidi juga merupakan pernyataan bahwa janji orangtua untuk membesarkan anaknya sesuai dengan firman Tuhan telah ditepati, sampai sang anak percaya kepada Yesus Kristus. Melalui peneguhan sidi, seseorang diterima sebagai jemaat yang bertanggung jawab untuk mengambil bagian dalam pelayanan jemaat, dan diijinkan ikut dalam Perjamuan Kudus.

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang mengikuti upacara sidi, antara lain:

  • Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa : Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.
  • Apakah dia mengaku, bahwa firman Allah (Alkitab) yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan keselamatan.
  • Apakah dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman Tuhan.
  • Apakah dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja.

Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya.

Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari daripada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga?

Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin ada kalau tidak disertai dengan perbuatan. Pengakuan iman tanpa disertai dengan perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan. Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firmanNya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintahNya?

Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Kita sendiri pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Apalagi, dengan berbuat apa yang sesuai dengan firman Tuhan ada kemungkinan bahwa masyarakat di sekitar kita akan membenci kita. Karena itu, kita juga sering memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab seringkali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman. Dengan demikian kita membiarkan hidup kita tinggal dalam dosa pengabaian firman Tuhan. Bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan? Bagaimana seseorang dapat menjadi pengikut Kristus jika ia tidak mau melakukan hal yang baik?

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Agar doa kita terkabul

“Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.” 1 Yohanes 5: 14

Doa adalah bagian kehidupan umat beragama. Bagi banyak orang, berdoa memohon penyertaan dan berkat Tuhan selama hidup di dunia adalah suatu hal yang penting demi kenyamanan hidup. Lebih dari itu, sebagian orang juga berdoa agar Tuhan sudi mengampuni dosa mereka karena amal ibadah yang sudah dilakukan. Ini adalah hal yang dianggap keharusan agar mereka bisa masuk ke surga setelah hidup di dunia berakhir.

Bagi orang Kristen, doa bukanlah untuk memohon agar Tuhan memperbolehkan mereka ke surga setelah selesainya hidup di dunia. Karena penebusan darah Kristus, orang Kristen yakin bahwa mereka akan ke surga. Doa bagi mereka adalah sebuah komunikasi dengan Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih, yang tahu apa yang mereka butuhkan. Dengan demikian, doa bagi umat Kristen boleh berisi permohonan, tetapi selalu disertai dengan kesadaran bahwa kehendak Tuhanlah yang terjadi.

Memang ada banyak orang Kristen yang masih percaya bahwa dengan makin seringnya doa dan makin banyaknya orang yang berdoa, Tuhan akan lebih bermurah hati dan mau mengabulkan permohonan mereka. Tetapi, ini bukanlah pengertian yang benar karena Tuhan yang mahatahu dan mahabijaksana tentunya tidak dapat dipengaruhi kehendak manusia. Dengan demikian, mereka yang merasa yakin bahwa Tuhan akan menuruti kehendak umatNya yang giat berdoa, secara tidak langsung sudah merendahkan sifat hakiki Tuhan.

Doa adalah sebuah komunikasi antara manusia dengan Sang Pencipta. Dalam doa, manusia menyerahkan segala persoalannya kepada Tuhan yang mahakasih. Melalui Yesus, orang Kristen percaya bahwa Tuhan mendengarkan segala keluh kesah kita. Tuhan jugalah yang bisa memberi penghiburan dan kekuatan untuk menghadapi masa depan. Umat Kristen percaya bahwa Tuhan bisa melihat apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan sudah mempunyai rancangan tertentu bagi setiap orang. Karena itu, kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang tahu apa yang kita butuhkan.

Ayat di atas menyebutkan bahwa Tuhan akan mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya. Masalahnya, apakah kita dapat mengetahui apa yang dihendaki Tuhan? Kita dapat mengetahuinya jika kita dekat dengan Tuhan. Jika kita mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan dan rajin berkomunikasi denganNya, kita akan mengerti apa yang dikehendakiNya dalam hidup kita. Dengan demikian, doa adalah sarana untuk mendekatkan kita kepada Tuhan dan bukan sarana untuk mengingatkan Tuhan akan apa yang kita ingini.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6: 33

Apakah Allah di pihak anda?

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Saya masih ingat bahwa pada masa kanak-kanak, saya sering mengikuti jalannya pertandingan olahraga baik tingkat nasional maupun internasional. Tentu saja, pada saat itu saya mempunyai tim atau pemain-pemain favorit yang saya harapkan untuk selalu menang. Untuk tim atau orang-orang tertentu itulah saya berdoa agar Tuhan memberi mereka kemenangan dalam pertandingan. Pada waktu itu saya merasa bahwa Tuhan perlu diminta untuk berada di pihak mereka, agar mereka bisa selalu menang. Jika Tuhan ada di pihak mereka, siapakah yang sanggup melawan? Begitu pikir saya.

Setelah saya menjadi dewasa, saya menyadari bahwa banyak orang yang juga berdoa seperti saya, tetapi bukan mendoakan tim atau pemain yang saya dukung. Saya mulai berpikir betapa bingungnya Tuhan yang mendengar permohonan umatNya. Siapakah yang Tuhan pilih untuk menang? Apakah Tuhan memilih mereka yang banyak pendukungnya? Apakah Tuhan berpihak kepada tim atau orang yang lebih sering didoakan?

Kedewasaan iman lambat laun membuka pikiran saya tentang etika berdoa. Tidak semua doa adalah baik isinya. Tidak semua doa benar tujuannya. Dan tidak semua doa benar caranya. Doa yang baik adalah doa yang memuliakan Tuhan dan menunjukkan kasih kita kepada orang lain, bukan doa yang terpusat kepada kepentingan dan keinginan pribadi. Doa yang baik adalah doa yang mengakui bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi di bumi seperti di surga.

Doa yang benar juga bukan doa yang meninggikan diri, tetapi justru doa yang merendahkan diri kita di hadapan Tuhan. Doa yang baik tidak menempatkan diri kita sebagai orang yang istimewa, yang doanya pasti didengar Tuhan. Sebaliknya, doa yang baik adalah doa yang menempatkan Tuhan sebagai Oknum yang mahakuasa, mahakasih dan mahabijaksana, yang tidak membutuhkan nasihat kita untuk bisa melakukan tindakan atau menentukan sikap yang terbaik bagi seisi dunia.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dikutip oleh orang Kristen yang merasa Tuhan berada di pihak mereka. Dengan iman, mereka merasa yakin bahwa Tuhan tentu akan membela mereka dan memberi kemenangan atas semua lawan dan rintangan. Sudah tentu ini hanya benar jika Tuhan ada di pihak mereka. Dalam hal ini, satu hal yang bisa dipastikan ialah bahwa Tuhan berpihak kepada mereka yang sudah dipilihNya untuk diselamatkan, karena darah Yesus sudah dicurahkan untuk menebus dosa-dosa mereka. Karena itu, tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Tuhan (Roma 8: 38-39).

Ayat dalam kitab Roma 8 di atas menunjukkan bahwa keadaan yang buruk, kekalahan dan berbagai penderitaan bisa dialami oleh setiap orang Kristen. Jika pada saat ini kita menderita, Tuhan dengan kasihNya selalu berpihak kepada kita, menguatkan kita dengan Roh KudusNya agar kita tetap kuat dalam menjalani hidup ini. Hidup ini memang sering terasa berat, tetapi kita tetap harus yakin dalam hal keselamatan, Ia selalu berpihak pada umatNya.

Hidup adalah sebuah pertandingan

“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.” 1 Timotius 6: 12

Olimpiade tahun ini yang seharusnya diadakan di Jepang telah dibatalkan karena adanya pandemi. Pesta olahraga sedunia ini rencananya akan dilangsungkan tahun depan, tentu saja jika pandemi ini sudah teratasi. Bagi para atlit yang sudah mempersiapkan diri untuk bertanding tahun ini, penundaan Olimpiade telah membuat mereka kecewa. Mereka yang sudah berikrar untuk menang dan berkurban demi mewujudkan harapan bangsa, sekarang menghadapi kesangsian.

Jika sekarang para atlit harus tetap berlatih dan mempersiapkan diri untuk apa yang belum pasti terjadi pada tahun depan, ini adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Perasaan tidak menentu tentunya menghantui pikiran mereka. Walaupun demikian, mereka harus tetap bertahan dalam pengharapan bahwa pada akhirnya mereka akan dapat pergi ke Jepang. Pertandingan mereka sudah ada di saat ini yaitu untuk mengatasi rasa kebosanan dan putus harapan.

Bagi kita umat Kristen yang harus hidup di dunia, keadaan yang kurang baik saat ini tentunya menguji iman kita. Kita yang sudah berikrar untuk setia dan berharap kepada Tuhan dalam setiap keadaan, sekarang mungkin merasa bahwa hidup dalam penantian akan pertolongan Tuhan tidaklah mudah dijalani. Lebih dari itu, tidaklah mudah bagi kita untuk hidup dengan iman bahwa semua ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan di masa depan karena memperoleh mahkota kehidupan di surga.

Mengapa kita harus hidup menghadapi segala bentuk penderitaan di dunia? Sampai kapankah kita harus bertahan dalam pengharapan untuk menerima pertolongan Tuhan? Kapankah kita bisa merasakan kebahagiaan dan kemenangan yang datang dari Tuhan? Jika kemenangan di surga itu masih jauh di sana, harapan atas kemenangan atas perjuangan hidup di dunia seringkali kandas dalam rasa putus asa. Hidup sekarang ini terlalu berat.

Paulus dalam ayat di atas mengingatkan Timotius bahwa selama hidup di dunia kita berjuang untuk menang. Dengan iman kita harus berani menghadapi semua tantangan dan persoalan hidup agar pada akhirnya kita akan memperoleh mahkota kehidupan. Ini tidak mudah, tetapi kita sudah berjanji kepada Tuhan di hadapan banyak saudara seiman. Kita tidak boleh mundur dari iman kita.

Paulus dalam kitab Roma 8: 22 – 25 juga pernah menulis bahwa kita tahu sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasakan penderitaan. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima keselamatan juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan dari penderitaan dunia. Tetapi kita saat ini hanya bisa berharap kepada sesuatu yang tidak terlihat.

Pada pihak yang lain, kita harus sadar bahwa pengharapan atas apa yang bisa dilihat bukanlah pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Dengan demikian, jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita harus tetap menantikannya dengan tekun. Tetaplah beriman, tetaplah setia dan tetaplah berdoa dalam setiap keadaan!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Kaya atau miskin, yang penting tidak tamak

KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Lukas 12: 15

Siapakah yang mau dikatakan tamak? Saya kira tidak ada seorang pun. Tamak mempunyai konotasi yang jelek sebab kata itu dihubungkan dengan keserakahan dan kerakusan akan uang. Memang, seringkali orang menghubungkan ketamakan dengan tingkah laku yang tercela untuk memperoleh keuntungan materi, seperti korupsi, penggelapan uang atau perampasan harta orang lain. Banyak orang yang berpikir bahwa orang kaya adalah identik dengan orang yang tamak. Karena tamak, orang bisa menjadi kaya, dan orang yang kaya tentunya tamak. Oleh karena itu ada orang Kristen yang berpendapat bahwa kekayaan adalah bertentangan dengan iman. Tentu saja, pendapat seperti itu adalah tidak benar.

Uang memang bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga penderitaan. Banyak orang berpendapat bahwa jika ada uang, kebahagiaan akan mudah diperoleh. Bagi sebagian orang, uang mungkin identik dengan berkat dan kasih Tuhan. Sebaliknya, banyak orang yang merasa bahwa penderitaan hidup disebabkan oleh tidak adanya uang atau karena adanya uang yang harus dikeluarkan. Bagi mereka, kehilangan uang mungkin berarti kehilangan berkat dan kasih Tuhan. Bukankah Tuhan yang mahakaya dan mahakasih mengerti bahwa manusia memerlukan uang untuk hidup di dunia dan senang jika mempunyai banyak uang?

Menurut dunia, uang memang kunci kehidupan. Menurut dunia kebahagiaan dan penderitaan bisa diukur dengan uang yang masuk atau uang yang keluar.  Tetapi firman Tuhan di atas berkata bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya; sebab sekalipun seorang berlimpah-limpah hartanya, kebahagiaan belum tentu datang. Hal yang sebaliknya justru sering terjadi: karena harta yang berlimpah-limpah seorang bisa kehilangan Tuhannya dan mengalami kehampaan hidup. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang hidup dalam kekurangan bisa merasakan bahwa hidup ini sangat berat dan Tuhan itu tampak jauh.

Dengan demikian, manakah yang lebih baik: menjadi orang kaya atau orang miskin? Jika kemakmuran bisa membuat orang jauh dari Tuhan, kemiskinan juga bisa mempunyai akibat yang serupa. Menurut ayat di atas, apa yang penting bagi kita adalah untuk menghindari ketamakan. Ketamakan bukanlah monopoli orang yang kaya saja: mereka yang kaya bisa menjadi tamak karena kecintaan kepada harta, tetapi mereka yang berkekurangan bisa menjadi tamak karena kerinduan untuk memperoleh harta. Dengan demikian, baik kaya atau miskin, orang bisa saja menjadi tamak. Orang yang tamak selalu ingin memperoleh harta yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa ketamakan membuat orang lupa bahwa hidupnya hanya bergantung kepada Tuhan. Ini adalah bencana. Dengan mengejar kekayaan orang bisa jatuh kedalam berbagai pencobaan dan karena cinta akan uang orang bisa melakukan berbagai kejahatan (1 Timotius 6: 9 – 10). Mereka yang siang malam memikirkan harta, pada akhirnya bisa mendewakan harta dan kehilangan Tuhan. Karena itu, seperti Paulus kita harus mau melatih diri agar bisa merasa cukup dalam setiap keadaan, baik itu kelimpahan ataupun kekurangan.

“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 11 – 13

Tetaplah bertahan dalam iman

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” Ibrani 6: 11 -12

Hari ini berita media di Australia mengabarkan terjadinya resesi di negara ini. Memang hal ini sudah bisa diterka sejak beberapa bulan yang lalu, tetapi data ekonomi hari ini benar-benar menunjukkan bahwa ekonomi sudah mundur sebanyak 7% sejak bulan Juni. Ini adalah rekor kemunduran ekonomi yang terburuk sejak tahun 1974 dan merupakan resesi pertama sejak tahun 1991. Apa yang terjadi membuktikan bahwa COVID-19 membuat rakyat mengurangi pengeluaran uang dan pembelian barang dan karena itu banyak perusahaan yang gulung tikar atau merugi. Bagaimana negara ini bisa bertahan di masa depan adalah suatu tanda tanya besar.

Siapakah yang tidak kuatir dengan keadaan dunia saat ini? Bukan saja adanya pandemi membuat orang menjadi sangat tertekan, keadaan ekonomi dunia yang makin memburuk bisa menyebabkan banyak orang yang akan jatuh dibawah garis kemiskinan. Hidup manusia di dunia ini memang tidak mudah. Kesukaran hidup, halangan, penyakit, kekurangan dan berbagai penderitaan lainnya bisa terjadi pada diri siapa pun. Bagi banyak orang Kristen, adanya beban hidup yang besar bisa membuat mereka menjadi lamban dan kurang bersemangat untuk hidup dalam iman.

Dalam perjalanan hidup yang panjang, memang orang sering sulit untuk membayangkan kapan semua masalah yang ada bisa diakhiri dengan kemenangan. Begitu juga ada banyak orang Kristen yang kemudian menjadi mundur dalam iman karena adanya kekuatiran dan kesulitan yang tidak teratasi. Mereka mudah terbenam dalam keraguan, kesusahan dan ketakutan. Tetapi, ayat di atas mengingatkan kita bahwa dalam kesulitan saat ini kita harus bisa melihat mereka yang sudah bertahan dalam iman dan menang dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Dalam 1 Korintus 9: 24 Paulus menulis bahwa perjalanan hidup orang Kristen adalah mirip dengan apa yang dihadapi seorang atlit. Dalam sebuah pertandingan ada banyak peserta yang berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah. Dengan demikian, setiap orang Kristen juga harus tetap bersemangat dalam hidup yang memuliakan Tuhan, sehingga ia pada akhirnya dapat memperoleh hadiah kemuliaan di surga.

Bagaikan seorang pelari maraton, kita mungkin sering menghitung-hitung jumlah kilometer yang masih ada di depan kita dan merasa kuatir apakah kita sanggup untuk mencapai garis finis. Tetapi, kita bisa melihat begitu banyak umat Tuhan yang berlari terus dan bertahan hingga akhir. Itu bukan karena daya tahan mereka sendiri, tetapi karena adanya Tuhan yang memberi iman dan kesabaran. Bagaimana dengan diri kita? Biarlah kita bisa mencontoh mereka yang sudah menang dengan selalu memohon penyertaan Tuhan!

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3: 13 – 14

Menjadi murid yang dewasa

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12: 5 – 6

Sebagai seorang dosen, saya kadang-kadang merasa bahwa sikap mahasiswa kepada para dosen adalah sangat berbeda dengan sikap murid sekolah kepada guru-guru mereka. Mahasiswa seringkali kurang mempunyai rasa hormat atau segan kepada dosen, dan kadangkala justru menentang atau membantah instruksi dosen. Dalam hal ini, ada orang yang berpendapat bahwa itu disebabkan karena dosen mengajar mahasiswanya, sedangkan guru mendidik muridnya. Walaupun demikian, sebagai dosen saya tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik para mahasiswa saya untuk menjadi warga negara dan tenaga profesional yang baik etikanya. Bagi saya, mahasiswa adalah murid yang sudah dewasa dan mengerti akan kewajiban dan tanggung jawabnya.

Sebagai murid atau mahasiswa, adanya tugas dan ujian merupakan hal yang tidak menyenangkan. Tidak hanya mereka harus mempelajari semua teori yang sudah diajarkan, mereka juga harus memakainya untuk menyelesaikan tugas dan ujian mereka. Semua itu adalah tantangan untuk bisa mencapai hidup yang baik di masa depan. Tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, begitu kata orang yang bijaksana.

Dengan contoh diatas, kehidupan orang Kristen juga bisa dibayangkan seperti kehidupan murid sekolah atau mahasiswa. Seperti tidak ada murid yang tidak menghadapi ujian untuk bisa lulus, begitu juga dalam hidup ini, kita harus menghadapi berbagai ujian agar kita bisa menjadi orang Kristen yang dewasa dan teguh beriman.

Memang ada banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa hidup anak-anak Tuhan seharusnya penuh kebahagiaan dan berkat, tetapi pandangan semacam itu adalah serupa dengan seorang murid yang mendapat sebuah ijazah walaupun tidak belajar. Sesuatu yang tidak masuk di akal, dan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan.

Walaupun demikian, di dunia ini memang ada orang-orang yang mengaku sebagai sarjana ini dan itu, tetapi hanya bermodalkan ijazah palsu. Demikian juga ada orang yang mengaku orang Kristen, tetapi dari hidupnya terlihat bahwa ia belum pernah mendapat didikan Tuhan dan bahkan mungkin belum mengenal Tuhan.

Dari kemampuan seorang pekerja perusahaan dalam menghadapi persoalan kita bisa melihat pengetahuan dan pengalamannya. Begitu juga dengan melihat bagaimana orang Kristen menghadapi tantangan kehidupan, kita bisa melihat pengetahuan dan pengalamannya dalam hal menjadi pekerja Tuhan.

Memang menjadi pengikut Tuhan tidak hanya harus mengenal Dia dan firmanNya, tetapi harus juga bisa melaksanakannya. Karena iblis pun mengenal siapa Tuhan itu dan tahu setiap ayat dalam Alkitab, tetapi ia tidak pernah mau melaksanakan firman Tuhan. Dengan demikian, mereka yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak mau atau tidak bersedia menghadapi kesukaran dalam hidup, belumlah sadar bahwa Tuhan sebagai Bapa adalah Tuhan yang mendidik semua anak-anakNya untuk bisa kuat menghadapi semua ujian kehidupan.

Pagi ini, jika kita merasa bahwa hidup kita sangat berat dan seakan Tuhan jauh dari kita, biarlah kita boleh sadar bahwa Tuhan tidak pernah melupakan atau mengalihkan pandangan mataNya dari semua anak-anakNya. Karena adanya Bapa yang mau mendidik kita untuk menjadi dewasa dalam iman, kita harus menghadapi berbagai ganjaran dalam hidup, agar makin hari kita makin dekat kepadaNya.

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Hari Minggu adalah untuk kita

“Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” Markus 2: 27-28

Antri masuk ke gereja

Sudah beberapa bulan, kebaktian gereja di Indonesia dan Australia harus dilakukan secara online karena adanya pandemi. Sebagian gereja sekarang sudah dapat mengadakan kebaktian secara nyata, tetapi tentunya harus menerapkan cara ibadah yang berbeda. Dengan demikian, sebagian jemaat mungkin belum bisa melakukan ibadah sebagaimana mestinya dan harus puas dengan kebaktian secara maya. Untuk jangka panjang, adanya pandemi tentunya bisa membuat orang akhirnya malas untuk ke gereja.

Hari Minggu, atau Sabtu untuk sebagian orang Kristen, adalah hari yang kudus, yang harus kita perhatikan dalam konteks yang benar – sekalipun bagi orang lain itu mungkin merupakan hari untuk jalan-jalan atau rileks saja. Hari Minggu bukan hari yang “kosong”, tetapi adalah hari yang “penuh”. Hari yang bukan berarti kosong dari segala kegiatan, tetapi hari yang diisi dengan kemauan untuk benar-benar bisa memperoleh ketenangan dan istirahat.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” Keluaran 20: 8

Mengapa kita harus mempunyai kemauan untuk memperoleh ketenangan dan istirahat? Karena jika tidak dengan kesadaran dan usaha yang benar, manusia tidak akan dapat beristirahat pada hari Minggu. Dunia ini penuh dengan atraksi yang bisa membuat manusia lupa bahwa hari Minggu diciptakan Tuhan untuk manusia agar mereka dapat beristirahat dari kegiatan sehari-hari dan memperoleh kesegaran rohani dengan mendekati Tuhan yang adalah sumber kekuatan manusia.

Setelah seminggu orang bekerja, malam Minggu di berbagai kota adalah kesempatan untuk berpesta pora dan bermalam panjang. Karena itu, bagi sebagian orang, hari Minggu adalah kesempatan untuk memperoleh ekstra tidur sesudah begadang. Begitu pula, sebagian manusia yang lain berpikir bahwa hari Minggu adalah hari yang bisa dipakai untuk tidak memikirkan apa-apa, selain rekreasi, makan dan tidur. Mereka tidak suka kalau satu hari yang tersisa dalam seminggu harus dipakai untuk memikirkan kebutuhan rohani.

Hari Minggu bukan diciptakan sebagai “hukuman” untuk manusia. Hari Minggu bukan diciptakan untuk memaksa manusia untuk berhenti bekerja dan untuk berbakti kepada Tuhan. Tuhan memberikan hari Minggu kepada manusia karena mereka tidak dapat bekerja terus menerus tanpa memperoleh kesempatan untuk mendapat penyegaran dan kekuatan baru dari Sang Pencipta. Tanpa itu, hidup manusia akan pelan-pelan menuju kearah kehancuran karena baik jasmani maupun rohani mereka akan mengalami kelelahan.

Pada hari Minggu, umat Tuhan diingatkan untuk kembali memusatkan diri kepada Tuhan seperti seekor rusa yang haus, yang ingin meminum air sungai yang menyegarkan. Hari Minggu bukan berarti duduk di gereja untuk satu atau dua jam saja. Hari Minggu juga bukan untuk mengikuti kebaktian online saja. Hari Minggu adalah hari dimana kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama manusia untuk memperkokoh iman dan menyegarkan hidup kita guna menghadapi minggu yang baru.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42: 1