Menghadapi kekacauan di sekeliling kita

“…sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Efesus 4: 14 – 15

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk menonton TV, mendengarkan radio atau membaca berita-berita dunia di internet. Kebanyakan berita yang “ngetop” saat ini adalah berita tentang COVID-19, kejahatan, kecelakaan dan kerusuhan. Lebih dari itu, banyak juga berita tentang keadaaan politik, ekonomi dan hukum di banyak negara yang hanya menambah kesedihan dan kekuatiran. Bagaimana sikap kita dalam membaca kabar buruk semacam itu yang ada di media? Mungkinkah kita hidup damai tanpa terganggu atau terpengaruh oleh kabar buruk dan kabar burung? Adakah tindakan yang bisa mengurangi kekuatiran, kebingungan dan tekanan yang disebabkan media?

Memang tidak mudah kita membebaskan diri dari belenggu media. Sebabnya antara lain adalah:

  • Media adalah seperti magnet yang membuat kita senang melihat orang lain dan dilihat orang lain dimanapun kita berada dan kapan saja (mungkin setara dengan kecanduan).
  • Orang-orang dan hal-hal tertentu mempunyai kharisma atau daya penarik besar yang menuntut perhatian kita (seolah lebih menarik dari Tuhan Yesus dan firmanNya).
  • Kekuatiran masa depan menimbulkan rasa ingin tahu yang berlebihan dan munculnya harapan-harapan yang semu (seperti adanya berbagai analisa pakar dan ramalan atau nubuat tentang masa depan).
  • Banyak orang yang menikmati usaha untuk menipu orang lain karena adanya orang yang mudah dipengaruhi berita spekulatip (sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran).
  • Dalam hidup yang kosong, adanya media seolah memberi kegiatan nyata (daripada menganggur).

Sebagai orang Kristen, bagaimana kita bisa melawan pengaruh jahat media?

Jumpailah Tuhan dan dapatkan kedamaian dariNya.

Tidak ada manusia atau hal yang benar-benar bisa kita percaya, yang bisa memberi jaminan hari depan – karena apa yang akan datang tidak ada orang yang tahu. Hanya Tuhan yang dapat memberi kedamaian dan kepuasan hidup.

Amsal 18:10 “Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”

Peganglah Firman Tuhan dalam tiap langkah.

Tidak ada orang atau hal yang benar di dunia. Setiap orang sudah berdosa dan kebijakan manusia adalah kebodohan untuk Tuhan. Karena itu kita harus lebih mau mendengar firman Tuhan.

Mazmur 119: 105 “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Sadarlah bahwa kita tidak dapat mengatasi masalah dan kekuatiran dengan kekuatan sendiri.

Hidup ini berat tetapi seharusnya terasa ringan dalam Yesus. Jika kita merasa bahwa hidup ini semakin berat dan dunia ini semakin kotor, itu tanda bahwa kita harus makin dekat kepadaNya.

Mazmur 55:22 “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!”

Terimalah dan sampaikan berita yang benar dan menguatkan iman saja.

Salah satu keahlian iblis adalah menipu. Mereka yang lemah akan jatuh kedalam jebakannya. Mereka yang hidup dalam jebakan iblis akan berusaha menjebak orang lain. Karena itu kita harus hidup dalam Tuhan dan berhati-hati dalam menggunakan media.

 1 Tesalonika 5: 22 “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

Binalah hubungan dengan saudara seiman yang bijaksana, bukan dengan orang-orang yang menyesatkan.

Dunia ini dihuni anak-anak terang dan anak-anak kegelapan. Untuk sementara kita harus bisa hidup bersama dengan siapapun. Tetapi, jika kita tidak waspada, kita akan menerima gaya hidup dan kegemaran mereka yang tidak mengenal Tuhan. Jika kita tidak awas, kita akan hanyut dalam kabar kegelapan.

Amsal 13: 30 “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”

Ayat pembukaan kita menyatakan bahwa jika kita dekat dengan Tuhan dan mengerti akan firmanNya, kita bukan lagi anak-anak yang mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan apa pun yang menyesatkan. Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bisa bertumbuh di dalam segala hal yang baik sehingga makin lama kita akan makin menyerupai Kristus. Semoga kita bisa merasakan kedamaian Tuhan di hari ini!

Berbeda pendapat tapi sama-sama percaya

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Bacaan: Kisah Para Rasul 15: 35 – 41

Alkisah, ketika itu rasul Paulus dan rasul Barnabas sedang berhenti di Antiokhia. Tetapi  kemudian  Paulus mengajak Barnabas untuk mengunjungi umat Kristen yang tinggal di kota-kota yang pernah dikunjungi guna melihat bagaimana keadaan mereka. Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus, tetapi Paulus dengan tegas menolak keinginan Barnabas. Persoalan yang agaknya sepele, tetapi kemudian menimbulkan perselisihan yang tajam sehingga mereka berpisah. Barnabas kemudian membawa Yohanes Markus berlayar ke Siprus, tetapi Paulus memilih Silas mengelilingi Siria dan Kilikia.

Anda tentunya pernah mendengar kisah diatas. Kisah yang membuat banyak orang Kristen merasa sedih karena ternyata mereka yang tergolong rasul pun bisa bertengkar dan akhirnya berpisah untuk tidak pernah berjumpa lagi. Walaupun demikian, sebagian orang Kristen berpendapat bahwa setiap orang bisa mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain, sedemikian rupa sehingga lebih baik bagi mereka untuk berpisah. Pekerjaan Tuhan lebih penting untuk dilanjutkan daripada meneruskan perselisihan pribadi. Selain itu, Tuhan ternyata memakai keadaan yang nampaknya tidak sedap di mata itu menjadi sesuatu yang malah membuat namaNya dimasyhurkan di berbagai tempat.

Sebagai orang Kristen, mungkin kita sering mengalami persoalan yang serupa. Mungkin keadaan keluarga tidak atau kurang mendukung kita untuk lebih bisa melayani Tuhan. Mungkin adanya orang-orang di sekitar kita membuat kita menjadi ragu untuk lebih aktif di gereja. Mungkin juga orang tua, suami, istri atau anggota keluarga yang lain memiliki pendapat yang berbeda dalam hal berbakti kepada Tuhan. Barangkali, dalam suasana pandemi sekarang ini kita sering bertengkar dengan mereka mengenai soal prioritas kehidupan dan rencana masa depan. Keadaan yang sedemikian bisa membuat semangat kita kecil dan menimbulkan kemurungan dalam hubungan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

Ada beberapa yang bisa kita pelajari dari pertengkaran Paulus dan Barnabas. Yang pertama adalah pertengkaran itu bukanlah soal pengajaran. Baik Paulus maupun Barnabas adalah  orang-orang pernah bersama-sama mengabarkan injil. Mereka sepaham dalam hal iman yang benar. Kedua, sekalipun dua orang mempunyai iman yang sama, mereka tetap adalah dua individu yang berbeda. Roh Kudus tidak mengubah semua orang Kristen sehingga mereka mempunyai kepribadian, cara bekerja dan cara berpikir yang sama. Karena itu, ketidaksesuaian pendapat bisa terjadi dan perpecahan terkadang tidak dapat dihindarkan.  Oleh sebab itu juga sampai sekarang kita bisa melihat adanya perbedaan pendapat antara orang percaya, baik di rumah dan bahkan di gereja.

Perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan hal yang jelek. Apa yang jelek adalah perbedaan pendapat yang menyebabkan kemarahan yang berkelanjutan dan terganggunya pekerjaan Tuhan. Tuhan memberi umatNya kebijaksanaan untuk bisa menemukan cara penyelesaian yang terbaik. Melalui bimbingan Roh Kudus, umatNya bisa menghadapi semua persoalan yang ada tanpa kehilangan kasih kepada saudara seiman kita. Biarlah kita mau berdoa dengan giat agar dalam situasi yang sulit saat ini Tuhan tetap membimbing kita yang mengalami persoalan dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita harus percaya bahwa seperti Tuhan sudah membimbing Paulus dan Barnabas, Ia juga akan membimbing kita, dan bahkan bekerja dalam segala keadaan untuk mencapai hasil yang lebih baik di masa depan sesuai dengan rencanaNya.

Berserah kepada kehendak Tuhan

“Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” Lukas 22: 42

Siapa yang tidak pernah kecewa? Dari kecil, manusia selalu menjumpai kekecewaan. Entah itu gara-gara janji teman yang tidak terpenuhi atau acara piknik yang terpaksa dibatalkan karena cuaca buruk, semua orang pernah mengalaminya. Pada umumnya, kekecewaan kecil tidaklah sulit untuk diatasi karena itu gampang dilupakan. Mungkin juga masih ada hal-hal lain yang bisa dipakai untuk mengobati luka di hati. Namun luka hati yang kecil bisa juga menumpuk jika tidak dihilangkan atau diobati. Begitu banyak orang yang mengalami kekecewaan karena hal-hal yang nampaknya sepele, tetapi karena sering mendatangi lama-lama kekecewaan menumpuk seperti bukit.

Sering juga dalam rumah tangga ada ketidak sepahaman atau pertikaian dengan anak, istri, suami, dan orang tua yang membuat seseorang merasa kecewa. Kekecewaan atas diri sendiri ataupun atas diri orang lain sering terjadi sedemikian rupa sehingga orang mempunyai luka hati yang dalam. Sekalipun kejadian yang mengecewakan sudah berlalu lama, kita mungkin masih mengingatnya, seolah itu terjadi hari kemarin. Bahkan kekecewaan yang besar bisa berlanjut dengan kekecewaan kepada Tuhan, yang diharapkan untuk menolong tapi tidak kunjung muncul atau tidak pernah terasa kasihNya. Banyak orang Kristen yang mundur dalam imannya atau meninggalkan Tuhannya karena kekecewaan hidup.

Tidak bolehkah kita kecewa dalam menghadapi suatu keadaan yang kurang baik? Tidak bolehkah kita kecewa kepada Tuhan karena kita tidak mengerti apa yang dilakukanNya dalam hidup kita? Apakah kita harus menerima apa pun yang terjadi sebagai nasib? Jika adanya pandemi membuat rencana hidup kita kocar-kacir, apakah itu tidak boleh membawa kekecewaan?

Yesus di taman Getsemane bergumul dalam penderitaan ketika menyadari bahwa waktunya sudah dekat untuk disalibkan. Ia menyuruh murid-muridNya untuk berdoa, tetapi Ia justru menjumpai mereka semuanya tidur karena kesusahan dan mungkin juga kekecewaan yang mereka alami. Yesus bukanlah Raja seperti yang mereka harapkan dan bayangkan.

“Lalu Ia bangkit dari doa-Nya dan kembali kepada murid-murid-Nya, tetapi Ia mendapati mereka sedang tidur karena dukacita.” Lukas 22: 45

Mungkinkah Yesus kecewa melihat murid-muridNya tertidur pulas? Yesus tahu muridNya lemah. Kalaupun Ia kecewa, Ia tidak menunjukkannya. Sebaliknya, apa yang keluar dari mulutNya adalah nasihat yang cocok untuk orang yang lelah, berduka dan kecewa dalam hidup mereka.

Kata-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” Lukas 22: 46

Memang, siapapun yang jauh dari Tuhan akan mudah jatuh dalam hal-hal yang jelek.  Apalagi kekecewaan biasanya menjauhkan manusia dari Tuhan dan sesama. Seperti Yunus yang kecewa karena hal-hal yang berada di luar kuasanya.

“Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: “Lebih baiklah aku mati dari pada hidup.” Yunus 4: 8

Seperti murid-murid Yesus dan Yunus, mungkin kita merasa kecewa dan lelah sehingga hidup kita terasa hambar saat ini. Pandemi mungkin sudah membuat kita tidak bisa merencanakan masa depan. Apa yang bisa kita perbuat dalam hal ini?

Kekecewaan dan kesedihan adalah lumrah untuk manusia. Tetapi jika kita yakin bahwa Tuhan tahu apa yang terjadi dalam hidup kita dan Dia adalah Tuhan yang Mahakasih, beban kita akan bisa menjadi jauh lebih ringan. Apa yang diucapkan dalam doa Yesus di taman Getsemane bisa menjadi sumber kesabaran dan kekuatan kita dalam menghadapi segala persoalan hidup. Doa ini jugalah yang bisa menghilangkan kekecewaan kita di masa sulit sekarang ini.

Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah tantangan kehidupan ini dari padaku tetapi bukanlah kehendakku,  melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. 

Tanpa mengasihi hidup kita hancur

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Kolose 3: 14

Mukundane – AMASEZERANO.COM

Siapakah yang tidak mengenal nama Tom Jones? Penyanyi terkenal dari Inggris ini sudah membawakan banyak lagu-lagu yang menjadi “top hits” dunia dan sampai sekarang pun masih aktif menyanyi sekalipun sudah berusia 80 tahun. Salah satu lagunya yang terkenal adalah “Without love there is nothing” yang dirilis pada tahun 1970. Lagu patah hati ini menyatakan kepedihan seseorang yang ditinggal kekasihnya. Tanpa cinta hidup seseorang menjadi kosong, itulah arti judulnya.

Memang dalam pandangan umum, setiap manusia membutuhkan orang lain. Karena itu, jika seseorang merasa tidak dikasihi oleh orang lain, hidupnya terasa merana. Memang banyak orang yang hancur hidupnya karena merasa bahwa tidak ada seorang pun yang mengasihinya. Apalagi, jika mereka merasa bahwa banyak orang yang membenci mereka, kesedihan dan kemarahan mungkin bisa membuat mereka tidak tahan untuk terus hidup.

Dalam Alkitab ada orang yang seharusnya hidup merana karena banyak orang yang membencinya. Orang itu adalah Yesus yang turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia. tetapi yang justru ditolak oleh kaumNya dan bahkan mati disalibkan. Walaupun demikian, Yesus tidak merana karena Ia dekat dengan Allah Bapa. Kasih dan penyertaan Allah Bapalah yang membuat Yesus tidak bergantung pada perhatian orang lain. Di taman Getsemane, Ia bergumul seorang diri sebelum disalibkan, tetapi Ia justru bisa mengatasi ketakutanNya dengan bertekad untuk memberikan kasihNya untuk menebus umat manusia yang berdosa.

Kesediaan untuk memberikan kasih adalah sesuatu yang membuat orang bisa bertahan untuk hidup. Ini adalah ajaran Alkitab. Sebaliknya, ajaran dunia adalah kita bisa hidup jika ada orang yang mengasihi kita. Bagi umat Kristen, kesadaran bahwa Tuhan mengasihi mereka adalah satu kunci kekuatan. Lebih dari itu orang Kristen percaya bahwa hidup manusia adalah untuk mengasihi. Mengasihi Tuhan yang sudah lebih dulu mengasihi kita, dan mengasihi sesama manusia karena Tuhan juga mengasihi semua ciptaanNya.

Banyak orang yang merasa hancur hidupnya ketika dilupakan atau diabaikan orang lain. Karena merasa tidak dikasihi orang lain, hidup terasa sia-sia. Ini banyak terjadi dalam hidup sehari-hari, dan bukan saja menyangkut hubungan antara dua kekasih. Orang bisa saja kehilangan motivasi hidup jika merasa bahwa teman-teman sekantor, sesekolah atau pun segereja sudah mengucilkan atau menganak-tirikan dirinya. Karena perasaan bahwa dirinya tidak diperhatikan atau disayangi orang lain, seseorang bisa patah hati.

Sebagai orang Kristen seharusnya kita berbeda dengan orang lain yang tidak mengenal Kristus. Orang yang beriman percaya bahwa ia sudah menerima kasih yang terbesar dari Kristus. Karena itu perlakuan orang lain kepadanya bukanlah sesuatu yang utama. Apa yang utama bagi orang Kristen adalah kesempatan untuk bisa mengasihi orang lain. Jika kita tidak mau atau bisa mengasihi orang lain, lambat laun hidup kita akan menjadi merana. Ayat di atas menyatakan bahwa mengasihi orang lain adalah suatu tindakan yang mempersatukan dan menyempurnakan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu adalah lebih baik bagi kita untuk mengasihi daripada mengharapkan kasih orang lain. Kasih Tuhan sudah cukup bagi kita, tetapi dengan mengasihi orang lain kita akan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Inilah yang membuat hidup kita menjadi berarti dan kuat dalam menghadapi keadaan apapun.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Kolose 3: 12 – 13

Menghadapi suasana tidak menentu

“Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2 Timotius 1: 6 – 7

Pagi ini saya bangun dan setelah mandi duduk di depan komputer untuk mempersiapkan renungan ini. Mata masih terasa berat, mungkin agak mengantuk. Walaupun demikian, saya bersyukur karena saya masih bisa menikmati udara pagi yang segar. Tuhan yang mahabaik tetap memberikan berkatNya.

Pernahkah anda mengalami rasa lelah yang sangat besar sehingga anda tidak ingin meninggalkan tempat tidur? Banyak orang mengalami hal yang serupa, terutama pada hari Senin, tatkala mereka harus pergi bekerja setelah berlibur akhir pekan. Mungkin saja rasa lelah itu sehubungan dengan kelelahan psikologi daripada kelelahan jasmani. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, melanjutkan tidur mungkin adalah satu-satunya cara yang dikenalnya untuk menghilangkan kelelahan, sekali pun itu seringkali justru membuatnya merasa lebih lelah!

Kelelahan kejiwaan seringkali sulit didiagnosa atau diatasi. Apalagi dalam masa pandemi ini keadaan di sekeliling kita memang mudah untuk membuat orang menjadi masygul. Keadaan ekonomi dan kesehatan dalam negara memang sedang mengalami tantangan besar, dan ini dirasakan oleh rakyat. Rasa kuatir akan keadaan jasmani dan masa depan bisa membuat orang merasa lelah. Tetapi, kelelahan ini tidaklah sama dengan kelelahan rohani yang sering dialami orang Kristen.

Sebagai orang percaya, kelelahan rohani bukan sehubungan dengan suasana kehidupan di dunia, tetapi dengan adanya kekosongan yang mungkin terasa dalam hati karena hubungan yang kurang baik dengan Tuhan. Jika hidup kita terasa berat dan kacau, dan kita tidak dapat merasakan penyertaan Tuhan, di saat itulah kita merasa kecewa, lemah, takut dan kuatir. Pada saat yang demikian, mungkin kita tidak dapat merasakan adanya kasih Tuhan dan sesama. Mungkin kita pada saat itu sedang mengalami krisis rohani atau spiritual crisis.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, mengingatkannya untuk tetap bersemangat dalam menempuh hidup sebagai umat Tuhan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, terutama untuk Timotius yang belum banyak berpengalaman. Karena itu, Paulus selalu mendoakan Timotius agar ia tetap teguh dalam iman. Paulus tahu bahwa ada keadaan tertentu yang bisa membuat Timotius merasa lelah, takut atau apatis. Seperti orang lain, memang Timotius bisa mengalami kelelahan rohani. Tetapi Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia sudah menerima karunia Tuhan yang disampaikan oleh Paulus. Karunia ini adalah berkat rohani yang harus dipelihara dan bahkan dikobarkan oleh Timotius, karena apapun yang diterima dari Tuhan haruslah dipupuk untuk menjadi makin kuat dan bukannya makin lemah dengan berjalannya waktu.

Hari ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kita harus mengobarkan semangat rohani kita dengan berpegang teguh pada apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Mungkin kita belum lama menjadi orang Kristen, seperti Timotius. Mungkin juga kita sudah banyak makan asam-garam kehidupan rohani seperti Paulus. Tetapi, apapun status rohani kita, jika kita tidak rajin memupuk pertumbuhan iman, hidup kita perlahan-lahan akan diracuni oleh ketakutan, kelelahan dan kerancuan. Biarlah kita selalu mau mengobarkan segala karunia Tuhan yang sudah kita terima agar bisa membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban dalam hidup kita!

Jangan menyia-nyiakan hidup kita

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung-jawabkannya pada hari penghakiman.” Matius 12: 36

Salah satu masalah yang timbul dalam masyarakat karena adanya pandemi ini adalah banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan. Seiring dengan itu, mereka yang baru lulus SMA sekarang agaknya bingung untuk menentukan arah pendidikan selanjutnya. Bagaimana tidak? Saat ini tidak ada seorang pun yang bisa menerka apa yang akan terjadi pada tahun-tahun mendatang. Pekerjaan atau karir apa yang terbaik, tidak ada yang tahu.

Menurut perkiraan, dalam keadaan sekarang ini akan ada banyak orang yang kehilangan tujuan hidup. Banyak orang yang merasa hidupnya kosong karena tidak ada yang bisa dikerjakan. Itu tidak hanya terjadi diantara kaum muda, tetapi juga dialami mereka yang sudah termasuk tua. Apalagi bagi mereka yang merasa tidak mempunyai harapan masa depan, hidup mereka mungkin tidak lagi mempunyai target yang nyata. Hari demi hari dilewati dan kebosanan tentunya datang karena hari yang terasa panjang.

Rasa bosan itu sendiri belum tentu dosa. Rasa bosan baru menjadi dosa jika itu menguasai hidup kita sehingga hidup kita tidak bisa menghasilkan apa yang baik. Rasa bosan adalah gejala hidup yang kurang sehat dimana kebahagiaan dan kepuasan tidak ada, atau makin berkurang. Rasa bosan bisa berakibat kesia-siaan dalam perkataan, perbuatan dan hidup sehari-hari. Rasa bosan yang tidak teratasi akan berkembang makin besar karena berkurangnya kegairahan hidup.

Apakah kebosanan itu ada sejak mulanya? Apakah kebosanan ditanamkan Tuhan dalam diri manusia ketika Ia menciptakan mereka? Rasa bosan sudah pasti tidak dipunyai Tuhan yang mahakasih dan mahasetia. Jika Tuhan bisa merasa bosan, tentu manusia tidak akan dapat melihat kesabaranNya yang ada sampai saat ini. Manusia yang diciptakanNya berbeda dengan Sang Pencipta, dan karena itu dalam keterbatasannya ia bisa merasa bosan dan kesepian. Rasa bosan juga sering timbul jika manusia hidup jauh dari Tuhan. Jika hubungan dengan Tuhan menjadi renggang, manusia akan kehilangan motivasi hidup karena ia tidak bisa mengerti apa yang dikehendaki Tuhan dan tidak dapat merasakan kasihNya.

Tuhan menghendaki kita untuk memuliakanNya melalui hidup kita. Memang banyak orang yang mencari makna kehidupan melalui pekerjaan, kemewahan dan kesuksesan; tetapi semua itu adalah sementara saja. Kenikmatan duniawi tidaklah dapat bertahan lama. Usia, penyakit, kegagalan, kerugian dan berbagai persoalan selalu ada dalam hidup manusia. Sebaliknya, jika orang dekat dengan Tuhan, selalu ada saja yang bisa dilakukannya untuk Tuhan dan sesamanya,

Saat ini tentu hanya anda yang tahu apakah anda merasa bosan; apakah anda merasa adanya kekosongan hidup. Mungkin anda jauh dari keluarga, atau merasa bahwa tidak ada hal apapun yang bisa menggairahkan hidup anda. Anda mungkin merasa bingung, bagaimana hari ini bisa dilalui tanpa kebosanan. Mungkin anda masih bisa merasa beruntung, jika ada orang-orang yang bisa diajak untuk berbincang-bincang tentang apa saja, sekedar omong kosong untuk mengisi waktu.

Ayat diatas dengan tegas berkata bahwa setiap orang yang memakai kata-kata yang kosong dan tidak berarti, haruslah mempertanggung-jawabkannya. Ini bukan berarti bahwa kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara santai, tetapi berarti bahwa dalam apapun yang kita ucapkan dan lakukan dalam hidup ini, haruslah membawa kemuliaan bagi Tuhan dan kebaikan kepada sesama. Tuhan mendengar apa yang kita ucapkan dan melihat apa yang kita lakukan, dan karena itu kita harus bisa mengisi hidup kita dengan apa yang berguna.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” Efesus 4: 17 – 18

Tetap waspada dalam segala keadaan

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. 1 Petrus 5: 7 – 8

Saat ini, Australia seperti banyak negara lainnya mengalami berbagai masalah yang cukup besar. Adanya pandemi sudah membuat ekonomi negara menjadi kocar-kacir, dan dalam hal pendidikan pun kekacauan sudah terjadi karena banyak murid sekolah lanjutan yang tidak dapat menerima pendidikan yang seharusnya. Untunglah, untuk tingkat universitas pendidikan tetap bisa berjalan secara online.

Dalam menghadapi persoalan besar, manusia bisa saja menyerah pada keadaan. Karena usaha yang tidak kunjung membuahkan hasil yang baik, orang kemudian kehilangan harapan dan kemudian tenggelam dalam rasa putus asa. Pada pihak yang lain, ada orang yang mencoba melupakan apa yang terjadi dengan melarikan diri dari kenyataan, dan mencari apa saja yang bisa dipakai untuk menghibur diri. Pada hakikatnya, kedua reaksi manusia di atas adalah pernyataan menyerah karena tidak adanya hal yang baik yang dilakukan.

Ayat di atas mengatakan bahwa kita harus mau menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kita. Ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. Karena itulah, banyak orang Kristen memilih untuk menyerah pada keadaan daripada berserah kepada Tuhan. Mungkin anda bertanya apakah kedua tindakan ini berbeda. Tentu saja! Tuhan tidak menghendaki umatNya untuk menyerah. Tuhan menghendaki umatNya untuk menyerahkan rasa takut dan kuatir kita, selagi kita berjuang. Tuhan tidak juga menghendaki kita melarikan diri dari kenyataan dan tidak mau mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan masa depan.

Menyerah adalah suatu kata yang seharusnya tidak ada dalam perbendaharaan kata orang Kristen. Itu karena mereka percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan Bapa yang mengasihi anak-anakNya. Dengan demikian, sekalipun hidup di dunia bisa menjadi sangat berat karena satu dan lain hal, orang yang beriman bisa tetap teguh karena mereka bisa menyerahkan diri kepada Tuhan dan bukan menyerah kepada keadaan. Kita tentunya ingat bahwa sewaktu umat Israel berperang melawan orang Filistin, semua tentara Israel merasa takut karena adanya Goliat yang tinggi besar. Hanya Daud yang berani menghadapi Goliat dan dengan perlindungan Tuhan kemudian dapat mengalahkannya.

Hidup ini memang penuh tantangan dan bahaya. Terutama karena iblis yang berjalan berkeliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Jika kita menyerah dan tidak berbuat apa-apa, sudah tentu kita akan menjadi korbannya. Jika kita melarikan diri, sang singa akan menerkam kita dari belakang. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan?

Ayat di atas menulis bahwa kita harus sadar dan berjaga-jaga. Ini berarti kita harus bertindak dan bukannya pasif. Untuk bisa selalu sadar dan berjaga-jaga, kita membutuhkan kekuatan dan kebijaksanaan dari Tuhan. Kita harus sadar akan apa yang terjadi dalam hidup kita, dan berhati-hati melangkahkan kaki kita. Tidak lengah, apalagi tidur rohani. Sebaliknya, kita harus makin dekat dengan Tuhan dan taat kepada firmanNya. Berserah bukan berarti menyerah. Dengan demikian, kita bisa menghadapi hidup ini dengan keberanian dan keyakinan bahwa Tuhan adalah yang membimbing kita ke arah kemenangan.

Mengapa harus mengalami banyak sengsara?

Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.” Kisah Para Rasul 14: 22

Masihkah ayat di atas berlaku di zaman ini? Sebagian orang Kristen mungkin setuju bahwa dalam hidup, mereka sering mengalami tantangan dan bahkan kesengsaraan. Tetapi, sebagian lagi percaya bahwa ayat itu hanya berlaku untuk murid-murid Kristus pada waktu itu, ketika mereka mulai dikenal masyarakat. Malahan, ada orang Kristen yang percaya bahwa sebagai anak-anak Tuhan yang mahakuasa, kita tidak sepantasnya untuk mengalami kesengsaraan. Orang Kristen seharusnya adalah orang-orang yang diberkati, sukses, bahagia dan nyaman hidupnya.

Mereka yang hidup di negara yang maju, mungkin merasa hidupnya lebih baik daripada mereka yang hidup di negara lain. Mereka yang sukses usahanya, tentunya merasa bahwa hidup mereka tidaklah seberat hidup orang lain. Bagi mereka, bunyi ayat di atas mungkin terasa asing karena hidup mereka terasa cukup aman dan nyaman. Walaupun demikian, dengan adanya pandemi sekarang ini mungkin banyak orang Kristen yang sadar bahwa hidup ini banyak masalahnya. Manusia adalah kecil jika dibandingkan dengan tantangan kehidupan, dan orang Kristen tentu bisa mengalami berbagai kesengsaraan.

Mengapa ada orang-orang Kristen yang tidak menyadari bahwa dalam hidup ini ada banyak kesengsaraan yang harus dialami? Mungkin hidup mereka hanya terpusat pada diri sendiri. Jika perhatian mereka hanya terpusat pada kebutuhan sendiri, memang mungkin mereka tidak peka akan keadaan di sekeliling atau keadaan orang lain. Mereka tidak sadar bahwa apa yang bisa membuat Yesus sengsara jika Ia hidup di dunia saat ini, seharusnya juga bisa dirasakan sebagai kesengsaraan oleh mereka. Itu jika mereka benar-benar beriman kepadaNya.

Yesus merasakan berbagai kesengsaraan dan ketidakadilan selama Ia hidup di dunia. Tidak hanya merasa lapar dan haus, Ia juga pernah diancam, diserang, disiksa dan bahkan dibunuh. Lebih dari itu, Ia ikut merasakan kesengsaraan orang lain yang haus, lapar, sakit dan yang tidak mengerti arti kehidupan. Ia merasa sedih melihat adanya begitu banyak manusia yang seperti domba tanpa gembala. Kesengsaraan manusia adalah kesengsaraanNya. Karena itu Ia mau mengurbankan diriNya untuk menebus manusia.

Dalam hidup, barangkali kita sering kurang bisa merasakan kesengsaraan yang ada di sekitar kita. Kita jarang memikirkan apa yang dialami orang Kristen di tempat lain. Berbeda dengan Kristus, banyak orang Kristen tidak mau merasakan kesengsaraan orang lain atau menolong mereka. Pada pihak yang lain, sebagai orang Kristen kita seharusnya mengerti sepenuhnya bahwa dalam dunia ada banyak kesengsaraan baik yang bersifat jasmani maupun rohani.

Sebagai orang Kristen seharusnya kita merasa sengsara karena ada banyak orang yang tidak mengenal kasih Kristus. Sebagai umatNya, kita merasa sengsara karena nama Tuhan tidak dipermuliakan di tempat kita hidup. Kita juga merasa sengsara karena orang Kristen tidak bebas mengabarkan kabar baik tentang keselamatan kepada mereka yang haus akan kebenaran. Adanya orang-orang yang memusuhi umat Tuhan terlihat makin hari makin banyak jumlahnya. Hidup di dunia ini tidak nyaman dan orang yang benar-benar beriman tentunya rindu untuk ke surga. Walaupun demikian, bagi orang beriman adanya kesengsaraan di dunia itu perlu karena itu membuatnya bergantung pada kasih Allah. Semoga kita tetap bisa bertahan dalam iman pengharapan kita!

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Roma 5: 3-5

Merdeka dalam Kristus

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5: 1

Hari ini saya membaca berita di berbagai media tentang perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus 2020 di Indonesia. Sekalipun dengan adanya pandemi orang harus menjaga jarak dan lebih berhati-hati, perayaan -perayaan itu kelihatannya cukup meriah. Memang, kemerdekaan adalah sebuah hal yang didambakan setiap manusia di dunia, dimanapun mereka berada. Untuk menjadi merdeka orang mungkin mau membayar harga apapun, dan bahkan bersedia berjuang sampai mati. Karena itu, kemerdekaan yang sudah ada haruslah dipelihara dan dihargai.

Dari mulanya Tuhan sudah memberikan kemerdekaan kepada manusia ciptaanNya di taman Firdaus, dan dengan itu setiap manusia mengerti perlunya hal itu.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas..” Kejadian 2: 16

Tuhan memberikan taman Firdaus kepada Adam dan Hawa untuk tempat hidup mereka, agar mereka bisa menjadi “pengurus taman” yang mengusahakan dan memelihara taman itu. Mereka bebas untuk menjalani hidup mereka dan boleh memakan buah apa saja, kecuali buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

“..tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kejadian 2: 17

Jelas bahwa sekalipun kemerdekaan itu adalah hak azasi manusia, dengan kemerdekaan ada kewajiban dan batasan. Sayang sekali, karena Adam dan Hawa melanggar batasan itu, mereka kehilangan kemerdekaan mereka dan jatuh kedalam belenggu dosa. Oleh karena itu juga, semua manusia adalah mahluk yang berdosa sejak dilahirkan. Dengan demikian, tak ada satu manusia pun yang bisa bebas dari hukuman dosa, yaitu kematian abadi, jika Yesus Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.

Sebagai umat Kristen, kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, dan menjadi manusia merdeka, seperti keadaan Adam dan Hawa pada mulanya. Harga kemerdekaan kita tidak mungkin terbayar oleh usaha kita sendiri. Harga yang termahal itu sudah dibayar oleh Tuhan, dengan mengurbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus.

Sekali merdeka, tetap merdeka! Itu adalah harapan kita. Kita harus bersyukur bahwa dengan adanya satu pengurbanan yang sempurna, semua dosa kita sudah diampuni Tuhan. Dengan kemerdekaan itu, kita harus ingat bahwa tidak ada kemerdekaan yang tidak berkaitan dengan tanggung jawab dan kewajiban untuk mempertahankannya. Karena setiap orang yang sudah merdeka, bisa jatuh lagi kedalam perhambaan dan kehilangan kemerdekaannya, jika tidak berhati-hati dalam hidup dan tingkah lakunya.

Pagi ini, kita diingatkan bahwa hidup sebagai manusia yang merdeka bukanlah berarti bahwa kita bisa dan boleh berbuat apa saja yang kita sukai. Kemerdekaan yang benar adalah kemerdekaan dalam batas-batas hukum yang ada. Kemerdekaan yang tanpa batas adalah sebuah anarki. Bagi kita umat Kristen, segala hukum yang ada bisa disimpulkan dalam dua hukum yang terutama, yaitu untuk menghormati Tuhan dan mengasihi sesama kita.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Diberkati karena iman

“Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Galatia 3: 8 – 9

Dalam keadaan dunia saat ini, banyak negara mengalami masalah serius. Tidak hanya masalah kesehatan yang disebabkan oleh pandemi, tetapi juga berbagai dampaknya yang sekarang sudah menyangkut berbagai hal seperti ekonomi, keamanan dan pendidikan. Baik negara besar maupun kecil, sekarang harus berusaha keras untuk mengatasi berbagai masalah yang bisa mempengaruhi kehidupan rakyatnya dalam tahun-tahun mendatang.

Di antara banyak negara di dunia, kita bisa melihat bahwa tiap negara mengalami persoalan yang berbeda. Sebagian mengalami persoalan yang sangat besar, yang terlihat jauh lebih parah daripada yang lain. Sebaliknya, sebagian yang lain kelihatannya tidak mengalami masalah yang terlalu besar. Bagi orang yang melihat adanya perbedaan yang terjadi di antara berbagai negara, mungkin ada pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Bagi orang yang beragama, pertanyaan yang sudah ada sejak dulu, sekarang muncul lagi: mengapa Tuhan kelihatannya lebih memberkati negara yang satu daripada yang lain? Apakah Tuhan lebih menyayangi negara-negara tertentu?

Dalam kitab Perjanjian Lama dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Bangsa Israel adalah bangsa yang dibebaskan Tuhan dari perbudakan di tanah Mesir. Banyak bangsa lain yang mengalami hukuman Tuhan karena mereka berusaha mengganggu dan bahkan menghancurkan bangsa Israel pada waktu itu. Dengan demikian, dapatlah dimengerti banyak orang yang sampai sekarang menganggap bangsa Israel adalah tetap merupakan pilihan Tuhan: bangsa ini dikasihi Tuhan lebih dari bangsa lain. Tuhan sudah pilih kasih, dan itu nampaknya tidak adil, tetapi itu semata-mata hakNya. Begitu mungkin orang berpikir.

Alkitab memang menyatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan. Tetapi bangsa ini dipilih untuk memenuhi rancangan penyelamatan Tuhan, bukan untuk diselamatkan. Ayat di atas menyatakan bahwa Allah menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman. Kita yang bukan termasuk bangsa Yahudi menjadi orang yang diselamatkan melalui darah Kristus. Siapa pun orangnya, ia akan diselamatkan jika mempunyai iman kepada Yesus Penebus.

Di dunia, kita mungkin bisa melihat bahwa ada bangsa-bangsa dan negara-negara yang mempunyai tingkat ekonomi, teknologi dan sosial yang lebih baik dari bangsa atau negara lain. Hal ini tentunya terjadi sesuai dengan rancangan Tuhan. Tetapi, ini tidak berarti bahwa Tuhan memilih negara-negara tertentu menjadi favoritNya. Tuhan mempunyai rencana tertentu di dunia dan adalah hakNya jika Ia memilih bangsa atau negara tertentu untuk berperan dalam rencanaNya di dunia.

Bangsa-bangsa (orang-orang) yang dipilih Tuhan adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus. Mereka adalah orang-orang yang sudah dselamatkan melalui penebusan darah Yesus di kayu salib. Mereka adalah orang-orang berdosa yang sudah diampuni oleh Tuhan dan bebas dari kematian abadi. Umat Tuhan mungkin saja tidak mempunyai hidup senyaman mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Umat Tuhan mungkin saja harus menderita karena iman mereka. Tetapi semua itu terjadi selama hidup di dunia, dalam hidup jasmani.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sebagai orang percaya kita sudah terbilang keturunan Abraham dalam hal rohani, yaitu dalam menerima janji keselamatan yang datang melalui Yesus Kristus (Galatia 3: 29). Bani Israel sudah dipilih untuk melaksanakan rencana Tuhan, termasuk kelahiran Yesus di dunia. Tetapi setelah itu, bangsa Israel sendiri yang menyebabkan Yesus disalb dan bahkan menolak Yesus sebagai Juruselamat atau Mesias. Dengan demikian, secara rohani bangsa Israel bukanlah orang-orang pilihan Tuhan. Orang Kristenlah yang menjadi orang pilihan Tuhan karena itulah yang dikehendakiNya.

Hari ini, jika kita menyadari bahwa kita sudah diangkat menjadi keturunan Abraham dalam hal menerima warisan keselamatan, haruslah kita hidup dalam sukacita. Sekalipun keadaan di sekeliling kita nampaknya tidak nyaman secara jasmani, itu bukanlah menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengasihi kita. Sebaliknya, apa yang terlihat secara jasmani tidak dapat dibandingkan dengan kasih Allah yang sudah sudah memilih kita untuk diselamatkan secara rohani. Karena itu, keadaan jasmani apa pun yang saat ini kita alami tidak akan menutupi kebahagiaan kekal yang kita miliki.