Tetap berbahagia sekalipun berdukacita

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Aku percaya akan kasihMu

Anda ingin merasa berbahagia dalam hidup? Menurut kata orang, ada beberapa resepnya. Diantaranya: 

  • Kebahagiaan timbul dari kesuksesan.
  • Kebahagiaan bisa timbul dari rasa puas dan cukup.
  • Rasa bahagia bisa dirasakan karena keadaan keluarga yang baik.
  • Kebahagiaan muncul jika kita merasa bisa menolong orang lain, dll.

Sekalipun kita pada suatu saat bisa memperoleh kebahagiaan melalui hal-hal di atas, adalah kenyataan bahwa kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dan jika pun bisa diperoleh itu seringkali tidak langgeng. Buktinya? Baru saja kita memasuki tahun 2020 dengan segala optimisme, keadaan dunia tiba-tiba berubah dan membuat banyak orang berdukacita.

Dalam kenyataannya, setiap orang dalam hidup ini sering mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan, perlakuan orang lain yang kurang baik, kegagalan, atau rasa kurang puas dengan apa yang dialami dalam hidup. Rasa pahit yang timbul karena hal-hal ini seringkali meracuni hidup seseorang sehingga membuatnya kurang bisa melihat hidup dari segi positif. Tetapi, jika keadaan di sekitar kita memang nampak buruk, bagaimana kita bisa berbahagia? Salahkah kita jika kita merasa sedih?

Dalam Galatia 5: 22-23 dikatakan bahwa buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Dalam menerima keputusan Tuhan atas hidup kita, kita harus bisa menghadapinya dengan sabar sekalipun itu merupakan hal yang sulit diterima. Ini lebih mudah dikatakan daripada dijalankan karena untuk menerima keputusan Tuhan, kita harus mengenal Tuhan dan sifatNya, agar kita bisa percaya akan maksud baikNya.

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan karena Tuhan sendiri yang membuka hati dan pikiran mereka. Karena itu, untuk bisa menerima keputusan Tuhan dalam hidup ini, kita memerlukan bimbingan Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang bisa memberi penghiburan, yang kita perlukan untuk bisa dengan rasa damai dan rendah hati mendengarkan suara Tuhan tentang apa arti hidup ini, mengapa sesuatu harus terjadi, dan apa yang masih dan harus bisa dilakukan untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Hari ini kita harus sadar bahwa Tuhan kita adalah Mahakasih. Tuhan mempunyai rencana khusus untuk setiap umatNya. Dalam keadaan dunia yang serba kacau saat ini, sebagai orang beriman kita harus percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dengan kerendahhatian, kita siap menerima bimbingan Tuhan untuk melangkah ke masa depan. Dengan keyakinan akan kasihNya kita akan dapat merasakan kebahagiaan karena tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kita dari Dia.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Tetaplah teguh dalam menghadapi masalah

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13 – 14

Hidup ini penuh tantangan

Situasi di Melbourne, Australia, pada saat ini kurang baik. Sesudah berhasil menekan jumlah pertambahan harian kasus positif COVID-19 sampai kurang dari 5 orang per hari pada akhir bulan Mei yang lalu, sekarang pertambahan harian bisa mencapai 200-300 orang per hari. Dengan itu lockdown dimulai lagi di beberapa tempat dan semua orang di sana diharuskan memakai masker. Jika orang mengabaikan peraturan ini, denda sebesar $200 sudah menanti. Mengapa keadaan bisa berubah menjadi buruk lagi? Agaknya itu disebabkan oleh beberapa kelompok masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembatasan jarak dan mungkin kurang berdisiplin dalam menerapkan anjuran pemerintah untuk membatasi kegiatan sosial. Sebagai akibatnya, sekarang ini ada sekitar 5 juta penduduk Melbourne harus merasakan ketegangan dan ketakutan karena mereka menghadapi masalah besar.

Hidup manusia adalah penuh tantangan dan setiap orang umumnya pernah mengalami masalah hidup yang serius. Dalam hal ini, sebagian orang merasa beruntung jika mereka pada akhirnya dapat mengatasi masalah mereka, mungkin setelah bergumul cukup lama. Tetapi sebagian lagi mungkin merasa bahwa mereka menghadapi persoalan yang tidak teratasi. Sebagai orang Kristen, tentunya kita yakin bahwa dengan berdoa kita bisa menyampaikan keluh-kesah kita kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Tetapi, kita tentunya sadar bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita derita sebelum kita berdoa. Doa memang bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Tuhan akan kesulitan kita, tetapi sebaliknya untuk mengingatkan kita yang dalam kesulitan untuk selalu dekat kepadaNya.

Reaksi manusia dalam kesulitan memang ada berbagai rupa. Ada yang makin rajin berdoa dan percaya bahwa pertolongan Tuhan pasti datang jika mereka giat mengulangi permohonan mereka. Tetapi ada juga orang yang berdoa memohon pertolongan sambil berserah kepada kehendak Tuhan. Dalam hal ini, memang sebenarnya hal berserah kepada kehendak Tuhan itu diajarkan oleh Yesus dengan Doa Bapa Kami, dan karena itu kita tidak sepantasnya “memaksa-maksa” Tuhan untuk menolong kita. Di pihak lain, dalam kesulitan hidup ada orang yang merasa bahwa Tuhanlah yang mengizinkan datangnya semua masalah dan Tuhanlah yang bisa melenyapkannya. Selanjutnya, mereka yang sudah lama menderita mungkin saja mengira bahwa Tuhan yang mahakuasa menghendaki semua itu terjadi, dan karena itu mereka mungkin percaya bahwa doa adalah sesuatu yang sebenarnya sia-sia.

Secara garis besar, penderitaan di dunia ini adalah hal yang lazim. Manusia hidup di dunia yang sudah cacat dan karena itu hidup bisa menjadi sangat sulit dijalani. Walaupun demikian, kesulitan hidup bukanlah datang tanpa sebab. Ada orang yang mengalami kesulitan hidup sekalipun itu terjadi bukan karena kekeliruannya. Dalam hal ini, sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan terkadang membiarkan hal itu terjadi untuk membuat kita mau bergantung sepenuhnya kepada Dia. Ini adalah sebuah tes kehidupan yang justru bisa membuat kita makin kuat dalam iman. Pada pihak yang lain, ada juga kesulitan hidup yang terjadi karena kekeliruan kita sendiri, sekalipun tidak mau kita akui. Mungkin sebagai pelarian, orang yang merasa tidak berdaya merasa bahwa Tuhanlah yang sudah mendatangkan semua hal yang buruk dalam hidup mereka.

Ayat di atas ditulis oleh Yakobus ratusan tahun yang lalu, tetapi tetap aktuil pada zaman ini. Yakobus menasihati umat Kristen pada zamannya bahwa mereka yang jatuh kedalam dosa karena pencobaan haruslah mau mengakui kesalahan mereka. Pencobaan yang membawa kejahatan dan dosa bukanlah datang dari Tuhan, tetapi manusialah yang karena keinginan mereka sendiri kemudian jatuh dalam dosa. Pada zaman modern  ini mungkin lebih banyak lagi orang yang merasa bahwa mereka jatuh kedalam dosa dan pencobaan karena Tuhan sudah membiarkan pengaruh jahat merajalela di dunia.

Dalam ayat di atas kita diperingatkan bahwa Tuhan tidak pernah mencobai umatNya agar mereka jatuh dalam dosa. Mereka yang jatuh dalam dosa tidaklah dapat mempersalahkan pengaruh orang lain atau lingkungan mereka. Mereka tidak dapat membuat alasan bahwa semua itu terjadi karena Tuhan membiarkan mereka mengalami pencobaan. Tiap-tiap orang harus menghadapi persoalan hidup mereka sendiri dan berusaha menghindari jebakan-jebakan yang memikat dan yang terlihat sebagai solusi yang mudah. Sebagai manusia kita seharusnya bisa membedakan apa yang baik dari apa yang buruk. Memang seringkali dengan tenaga sendiri kita tidak sanggup untuk mengatasi keinginan hati kita, tetapi dengan membina hubungan baik kita dengan Tuhan, kita akan mendapat kekuatan untuk bisa selalu menang dalam menghadapi pencobaan.

Hidup ini berat, tetapi kita bukan orang yang malang

“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” Ayub 3: 25

Aku tetap percaya kepada Tuhanku

Berita media sore ini mengabarkan adanya dua anak yang berusia dibawah dua tahun yang ditemukan tenggelam di kolam renang di belakang sebuah rumah di sebelah barat-daya Sydney. Kedua anak itu segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi keadaan mereka sudah kritis. Bagi orangtua anak-anak itu, kejadian di atas tentunya adalah suatu malapetaka yang tidak tersangka. Bagi orang lain, kejadian ini tentunya sangat menyedihkan karena terjadi pada anak-anak yang belum mengerti adanya bahaya.

Di dunia ini banyak orang yang kehilangan semua yang dimilikinya dan apa yang dicintainya akibat perbuatan orang lain, kesalahan sendiri, bencana alam, penyakit atau kecelakaan. Kita juga tahu bahwa saat ini jutaan orang di dunia kehilangan pekerjaan karena adanya wabah Covid-19. Kita yang membaca pengalaman Ayub dan mendengar tentang penderitaan orang lain mungkin juga pernah mengalami hal yang serupa sekalipun tak sama. Tidaklah mengherankan jika kita bertanya-tanya. Mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa Tuhan membiarkan semuanya? Seiring dengan itu, hati kita menjadi sangat sedih.

Sebenarnya dalam hidup ini, orang tidak semestinya heran atau kaget melihat datangnya apa yang tidak nyaman dan bahkan malapetaka. Dunia sesudah kejatuhan manusia dalam dosa, adalah dunia yang sulit diterka dan karena itu harus siap dihadapi dengan peluh dan air mata. Walaupun demikian, mungkin dalam hidup ini kita jarang melihat orang yang kehilangan harta, keluarga dan kesehatan secara berurutan secara cepat seperti yang terjadi dalam hidup Ayub.

Hal yang jelek bisa terjadi di dunia yang rusak karena kejatuhan manusia kedalam dosa. Malapetaka bisa juga terjadi karena pekerjaan iblis, seperti apa yang terjadi pada Ayub. Selain itu, seperti apa yang terjadi pada Ayub, terkadang Tuhan memperbolehkan penderitaan datang kepada umatNya. Tetapi Ayub yang mengalami berbagai malapetaka, tetap dilindungi Tuhan sampai akhir.

Sebagai orang Kristen kita harus sadar bahwa Tuhan tidak membuat malapetaka untuk umatNya. Tuhan justru ingin menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya. Dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, kita bisa menyadari betapa besar kasihNya. Karena itu, tidak boleh ada keraguan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang baik bagi kita, sekalipun hidup saat ini terasa berat.

Kesedihan atas apa yang menimpa kehidupan kita adalah normal tetapi tidak boleh mematikan hati. Kita terkadang boleh merasa sedih tetapi tidak terus hidup dalam kesedihan. Mengapa begitu? Karena kita tidak mau menghancurkan hidup kita sendiri. Kita tidak ingin untuk hidup dalam penderitaan karena merasa malang, karena merasa bahwa kita adalah orang yang termalang.

Jika ada perbedaan antara Ayub dan umat Tuhan lainnya, itu adalah dalam hal bagaimana Ayub tetap percaya dan setia kepada Tuhan sekalipun hidupnya dilanda malapetaka yang datang satu persatu. Ayub merasa sedih dan tertekan, tetapi tidak mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan. Ayub tidak memberontak dan menghujat Tuhan, karena ia tetap yakin bahwa Tuhan adalah mahabijaksana dan mahakasih. Ayub tahu bahwa Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang berhak untuk mengambil kembali (Ayub 1: 21). Ayub menyadari bahwa dengan memikirkan kemalangan hidupnya, penderitaannya tidak akan berhenti, tetapi justru membuatnya lelah dan gelisah.

“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Ayub 3: 26

Saat ini, jika kita mengeluh bahwa apa yang buruk sering terjadi dalam hidup kita tanpa sebab yang jelas, kita mungkin lupa bahwa kita sudah menerima hal yang sangat baik padahal kita tidak pantas untuk memperolehnya. Kita manusia yang berdosa, tanpa sebab yang jelas, sudah memperoleh kasih karunia penebusan Yesus Kristus. Siapakah kita, sehingga Tuhan memilih kita untuk memperoleh pengenalan akan jalan keselamatan? Kita bukanlah orang yang malang, karena di dalam Kristus kita justru adalah orang yang beruntung!

Jika bahaya mendatangi

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” Mazmur 46: 1-3

Tuhan penolongku

Barangkali setiap orang pernah menghadapi bahaya dalam hidupnya dan bahkan mungkin sedang mengalami bahaya di saat ini. Saya masih ingat akan sebuah film Australia yang pernah dibuat di Filipina, yang mengisahkan kehidupan rakyat Indonesia pada tahun 1965an. The Year of Living Dangerously adalah film drama Australia dari tahun 1982 yang dibintangi oleh Mel Gibson dan Sigourney Weaver dan diadaptasi dari sebuah novel dari tahun 1978 dengan judul yang sama. Memang pada saat itu negara Indonesia dan rakyatnya hidup dalam penderitaan dan bahaya. Ini tentunya adalah sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan dan tidak mudah dilupakan.

Bagi setiap orang, menghadapi ancaman yang besar bisa membuat hati miris. Saat ini semua negara di dunia sedang menghadapi bahaya pandemi yang sudah menewaskan lebih dari setengah juta orang. Dengan demikian, kebanyakan orang saat ini merasa takut akan kemungkinan dirinya tertular. Walaupun demikian, dalam keadaan ini ada saja orang yang tidak merasa takut. Beberapa minggu yang lalu seorang pemuda datang ke pesta Covid-19 yang diadakan oleh seorang yang teridentifikasi positif untuk membuktikan bahwa virus ini tidak ada. Pesta tanpa pembatasan jarak itu ternyata mengakibatkan beberapa orang tertular virus corona, termasuk pemuda itu yang kemudian meninggal.

Bahaya yang tidak disadari orang memang bisa menjadi bahaya yang membawa celaka. Pada pihak yang lain, banyak orang yang seakan lumpuh hanya karena melihat adanya kemungkinan datangnya bahaya. Selain itu, orang juga seringkali ketakutan karena adanya sebuah ancaman atau tantangan yang terasa lebih besar dari apa yang bisa ditanggungnya. Dengan demikian, apa yang dianggap sebagai bahaya seringkali bergantung pada persepsi seseorang. Sayang sekali, persepsi manusia seringkali tidak bisa dipercaya. Karena itu, apa yang dilihat mata manusia seringkali tidak dapat membawa ketenteraman hidup.

Manusia memerlukan kemampuan untuk melihat apa yang berbahaya, mengerti apakah bahaya memang mendatangi dan keyakinan bahwa ia sanggup untuk menghadapi bahaya. Sayang sekali, dalam keterbatasannya manusia tidak dapat memiliki ketiga hal itu. Hanya Tuhan yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi dan bisa mengatasi segalanya. Tuhan adalah mahatahu, mahabijaksana dan mahakuasa. Daud dalam ayat di atas jelas memahami hal ini karena ia bisa meyakini dengan iman bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan dan kekuatan baginya, dan ia sudah membuktikan sendiri bahwa Tuhan adalah penolongnya. Sebab itu ia tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung bergoncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung bergoyang oleh geloranya.

Hari ini, apakah perasaan anda gundah karena adanya sesuatu yang tidak anda mengerti, suatu bahaya yang mungkin datang dan sebuah masalah yang bisa lebih besar dari apa yang bisa anda tanggung? Seperti pemazmur kita harus bisa meyakini bahwa Tuhan tahu apa yang sedang terjadi, mengerti apa yang akan terjadi dan bisa mengatasi apapun yang terjadi, di dunia dan di alam semesta. Mengapa pula kita harus berharap kepada kemampuan diri kita sendiri? Tuhan adalah yang memegang kemudi di tengah gelombang kehidupan!

Tuhan adalah penuh kasih

“Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjianNya dan peringatan-peringatanNya.” Mazmur 25: 10

Bacaan: Mazmur 25

Tuhan mengasihi mereka yang takut akan Dia

Mazmur 25 adalah salah satu mazmur Daud yang terkenal. Mazmur ini adalah sebuah doa permintaan ampun dan perlindungan yang disampaikan Daud kepada Tuhan pada saat ia berusia lanjut, mungkin ketika ia mengalami pemberontakan putranya, Absalom. Dalam kesedihan dan kegundahannya, Daud teringat bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai cacat-cela dan dosa (ayat 7) dan sudah sepantasnya kalau Tuhan menghukum dia. Tetapi raja Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih, dan karena itu ia memohon agar Tuhan tetap mau menolong dia.

Apa yang dirasakan Daud pada waktu itu mungkin sering dialami manusia manapun ketika mereka mengalami penderitaan atau persoalan besar. Tetapi, jika orang sering merasa bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak adil, Daud tidaklah demikian. Daud merasa  bahwa ia adalah orang yang berdosa. Ia sadar bahwa ia pernah sesat dalam hidupnya dan sekarang mempunyai banyak musuh yang ingin menghancurkannya. Dengan kerendahan hati, Daud memohon pertolongan Tuhan.

Sebenarnya, apa yang dialami Daud tidaklah jauh berbeda dengan apa yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Kita mungkin mengalami berbagai kesulitan dan ingin agar Tuhan menolong kita. Tetapi, apa yang mungkin berbeda ialah bahwa kita seringkali menganggap bahwa pertolongan Tuhan itu sudah sepantasnya karena kita adalah umatNya. Orang pilihan Tuhan. Jika kita baca dengan teliti dalam mazmur ini, Daud, raja yang dipilih Tuhan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatanNya, tidak menggunakan statusnya untuk menuntut pertolongan Tuhan. Tetapi, ia dengan rendah hati mengakui kesesatannya dan meminta ampun kepada Tuhan.

Daud sadar bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan karena itu ia takut kepadaNya; tetapi Daud juga percaya bahwa Tuhan adalah mahakasih dan mau membimbing dia (ayat 9 – 12). Raja Daud percaya bahwa Tuhan sudah membuka kesempatan bagi dia yang sebenarnya tidak layak, untuk mengenal Dia yang mahakasih dan mahabenar. Karena itu, Daud ingin berpegang pada perjanjianNya dan peringatan-peringatanNya.

Daud lebih lanjut percaya bahwa ia akan menerima kebahagiaan dari Tuhan dalam setiap keadaan, karena Tuhan dekat kepada mereka yang takut akan Dia (ayat 13 – 14). Tuhan memang mengasihi semua orang, tetapi Ia akrab dengan orang-orang yang taat kepadaNya. Karena itu, Daud yang sudah terperangkap dalam kesulitan besar (ayat 15,  kakinya sudah terperosok dalam jaring), tetap bisa berharap kepada Tuhan. Mata Daud hanya tertuju kepada Tuhan, bukan kepada orang-orang ataupun hal-hal yang ada disekitarnya. Ia menjerit kepada Dia saja, yang bisa memberi pertolongan.

“Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas. Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!” Mazmur 26: 16 – 17

Hari ini, apakah anda mengalami kesulitan hidup yang besar? Apakah situasi lingkungan anda seolah tidak dapat memberi harapan masa depan? Apakah seperti Daud,  kaki anda terasa seperti sudah terperosok dalam jaring? Adakah pertanyaan mengapa semua ini harus terjadi pada hidup anda? Apa yang dialami Daud bisa memberi pelajaran kepada kita bahwa karena dunia ini penuh dosa, siapapun bisa mengalami saat-saat yang berat. Mungkin itu akibat kekeliruan kita sendiri, tetapi bisa juga karena kesalahan orang lain. Mungkin juga, itu adalah pelajaran yang kita terima dari Tuhan. Tetapi, bagaimana kita bisa tetap kuat bertahan?  Mazmur 25 menyatakan bahwa kunci kemenangan adalah takut kepada Tuhan. Bagi orang yang mau mengakui kesalahan mereka, Tuhan mau mengampuni mereka. Tuhan yang mahakasih juga mau memberi pertolongan kepada mereka yang bergantung sepenuhnya kepada kemurahan dan bimbinganNya. Lebih dari itu, jika kita memohon agar ketulusan dan kejujuran tetap ada selama kita menantikan pertolongan Tuhan (ayat 21), Ia pasti membebaskan kita dari kesesakan kita pada waktunya.

Apa yang kita prioritaskan?

“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Hidup ini berat

Jika ada orang yang berharap bahwa pandemi COVID-19 ini akan segera berakhir, itu tentunya menunjukkan bahwa pandangan orang tersebut tidak realistis. Tetapi, memang ada orang yang merasa bahwa pandemi ini terlalu dibesar-besarkan. Malahan, ada orang yang yakin bahwa pandemi ini hanyalah sekedar tipu daya sekelompok orang yang berusaha mengambil keuntungan. Karena itu, banyak orang yang tidak mau menerapkan pedoman untuk menjaga jarak dan untuk menghindari penularan. Sebagai akibatnya, banyak negara saat ini mengalami pandemi babak kedua.

Mengapa hidup di zaman modern ini masih juga terasa sulit dan makin berat? Kemajuan teknologi, ekonomi, pengobatan, transportasi dan lain-lain, tidak dapat menutupi kemunduran sifat manusia. Justru dengan kemajuan teknologi, makin banyak manusia yang merasa bahwa hidup mereka ada di tangan sendiri. Mereka hanya hidup untuk mencapai kemegahan dan kenyamanan diri sendiri. Alkitab memang menulis bahwa hari-hari ini memang adalah masa yang sukar.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” 2 Timotius 3: 2-4

Hidup manusia terasa makin berat karena semakin banyak orang yang tidak mau lagi tunduk kepada Tuhan, sehingga mereka tidak lagi memperoleh bimbingan dan kekuatan dari Tuhan. Selain itu, ada banyak orang yang tidak lagi mau tunduk kepada pemerintah dan para pemimpin mereka. Mereka merasa bahwa hidup ada ditangan mereka sendiri dan harus bisa dinikmati tanpa memikirkan orang lain. Dengan demikian, banyak orang yang tidak hanya harus menderita karena dunia yang semakin padat, tetapi juga karena adanya orang-orang yang hidup semaunya sendiri.

Beban hidup setiap manusia sudah berat, apalagi jika mereka harus menanggung hasil perbuatan orang lain. Karena itu, mereka yang ingin hidup tenteram tidak akan mudah untuk mencapai tujuan hidupnya. Di tengah hingar-bingar dalam masyarakat, orang mudah kehilangan tujuan hidup yang baik dan terperosok kedalam kebingungan dan keputusasaan. Pada pihak yang lain, ada juga orang-orang yang lelah hidupnya karena selalu ingin menikmati apa yang ada seakan tidak ada hari esok.

Hari ini, jika kita merasa lelah dan berbeban berat, marilah kita meneliti hidup kita dalam semua seginya. Apa yang menjadi prioritas hidup kita seharusnya bisa membuat kita makin dekat kepada Tuhan. Jika hati dan pikiran kita selalu terikat kepada hal-hal duniawi, maka perlahan-lahan iman kita akan tergerus arus dosa sehingga tidak akan terasa lagi bahwa kita sudah menjauhi Tuhan sumber kekuatan kita. Dan oleh sebab itu, kita akan sering merasa lelah dan berbeban berat karena kita tidak mendapatkan kelegaan dari Tuhan. Marilah kita memasuki hari depan dengan prioritas hidup yang benar yaitu dengan selalu berjalan bersama Tuhan. Dengan itu, ketenangan hidup pasti akan datang.

Yang paling penting adalah pemeliharaan Tuhan

“Maka Daud tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.” 1 Samuel 23: 14

Daud melarikan diri

Ketika itu Daud dalam pelarian. Raja Saul terus mengejar Daud dan bermaksud membunuhnya. Sekalipun Daud adalah seorang pemberani yang sudah berkali-kali mengalahkan orang Filistin, ia merasa kecil di hadapan Saul. Saul adalah raja Israel dan Daud tunduk kepadanya. Saul mempunyai tentara yang jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan pengikut Daud. Karena itu Daud seringkali ketakutan, sekalipun ia tahu Tuhan ada.

Daud seharusnya sadar bahwa ia dapat mengalahkan orang Filistin berkali-kali karena Tuhan menyertainya. Tetapi, dalam hal menghadapi Saul, ia kelihatannya kehilangan percaya diri. Bukannya berusaha melawan Saul, Daud memilih untuk melarikan diri dan bersembunyi di padang gurun. Agaknya ia percaya bahwa dalam menghadapi musuh yang jauh lebih kuat, melarikan diri adalah cara yang terbaik. Ini adalah taktik militer yang sering dihindari karena kebanyakan pimpinan perang percaya bahwa “pertahanan yang terbaik adalah menyerang”.

Seperti Daud, kita pun sering merasa takut dalam menghadapi berbagai ancaman atau tantangan. Kebanyakan orang memberi nasihat agar kita berani mengambil keputusan dan melakukan tindakan tegas. Mungkin tidak ada orang yang menasihati kita untuk melarikan diri dari kesulitan hidup kita itu. Biasanya nasihat yang kita terima adalah untuk tetap berani menghadapi dan bahkan menghantam dan mengalahkan “musuh-musuh” kita. Ketakutan mungkin dianggap sebagai hal yang patut dicela. Tetapi, ketakutan adalah hal yang justru bisa dan biasa muncul dalam diri setiap orang.

Jika orang mulai takut atau kuatir, biasanya ketakutan atau kekuatiran itu tidak tetap dalam bentuk dan besarnya. Sebaliknya, hal-hal itu biasanya berubah menjadi besar dan makin menakutkan setiap hari. Apalagi jika masalah atau bahaya itu belum pernah teratasi sebelumnya, orang mudah untuk merasa tidak berdaya. Daud pun merasa tidak berdaya dalam menghadapi Saul yang berkali-kali ingin mencelakai dan membunuh dia. Karena itu, dalam ayat di atas Daud memilih untuk tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan di pegunungan, di padang gurun Zif.

Dalam keadaan yang menekan, Daud mungkin merasa bahwa ia harus berusaha untuk dapat menyembunyikan dirinya sebaik mungkin. Jika tidak, ia tentu akan tertangkap oleh Saul. Apalagi, Saul mempunyai banyak prajurit dan mata-mata. Tetap, dalam ayat di atas Daud tidak tertangkap oleh Saul bukan karena ia pandai untuk menyembunyikan diri. Daud tidak tertangkap oleh Saul karena Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangan Saul.

Seperti Daud, kita sering merasa bahwa dalam menghadapi bahaya kita harus bertindak. Kita mungkin berpikir bahwa masa depan kita ada di tangan kita sendiri. Ini menyebabkan kita sering takut dan kuatir kalau-kalau usaha dan tindakan kita tidak cukup untuk bisa membawa masa depan yang baik bagi kita dan keluarga kita. Kita pergi ke tempat dimana kita bisa merasa aman dan mendapat perlindungan. Kita melakukan hal-hal yang dipandang perlu untuk menyelamatkan kita dari bahaya. Tetapi kita lupa bahwa apa pun yang kita lakukan, hanyalah Tuhan yang bisa menghindarkan kita dari kehancuran.

Hari ini, firman Tuhan berkata bahwa manusia boleh berusaha, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Dan bagi umat Tuhan, apa pun yang kita lakukan tidaklah akan membawa kebaikan jika kita tidak mempercayakan diri kepada Tuhan, yang berkuasa atas hidup kita dan hidup seluruh umat manusia dan alam semesta. Tuhan adalah Tuhan yang mahakuasa dan memegang kontrol atas segala sesuatu. Percayalah bahwa apa yang paling penting dalam hidup kita adalah pemeliharan Tuhan!

Kekuatan kita dari Tuhan

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” 2 Korintus 4: 7

Di zaman modern ini kebanyakan orang di negara barat menyimpan uangnya di bank. Karena itu, jarang sekali ada orang yang pergi berbelanja dengan membawa uang atau cash. Dengan adanya akun bank yang bisa diakses melalui internet, orang tidak perlu membawa uang kertas kemana-mana. Selain mudah hilang atau rusak, orang sekarang juga kuatir kalau-kalau uang yang sering berpindah tangan itu membawa kuman penyakit. Karena itu, kebanyakan orang membayar belanjanya secara elektronik dengan menggunakan kartu kredit atau kartu debit.

Kebanyakan orang sekarang menyimpan uang tabungannya di bank. Di rumah, biasanya hanya sejumlah kecil uang yang disimpan untuk keperluan sehari-hari. Berbeda dengan jaman sekarang, sesudah perang dunia kedua masih banyak orang yang menyimpan uang dan hartanya dalam lemari besi. Lemari besi ini diharapkan untuk bisa menyelamatkan harta pemiliknya dari pencurian atau kebakaran. Tetapi, pada zaman rasul-rasul lemari besi belum ada, dan pada zaman itu orang justru menyimpan barang-barang berharga miliknya dalam bejana yang dibuat dari tanah liat. Aneh bukan? Barang berharga disimpan dalam bejana yang lemah, yang mudah pecah.

Dalam ayat di atas, Paulus menulis bahwa orang Kristen mempunyai barang berharga yang disimpan dalam bejana tanah liat. Ada dua hal yang menarik dalam pernyataan itu. Yang pertama, orang Kristen seperti kita ini seharusnya tahu bahwa kita mempunyai barang berharga yaitu pengetahuan akan kebesaran Allah: Allah yang mahabesar sudah mengirimkan AnakNya Yesus Kristus sebagai penebus kita. Pengetahuan ini adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak dipunyai oleh orang yang belum diselamatkan. Sekalipun orang dunia pernah mendengar akan keselamatan yang dijanjikan Allah kepada setiap orang yang percaya, tidak setiap orang bisa atau mau untuk menerima apa yang sangat berharga ini.

Yang kedua, setiap orang percaya yang mempunyai harta berharga ini menyimpannya dalam sebuah bejana yang mudah pecah dan karena itu tidak bisa melindunginya. Bejana yaitu hidup jasmani kita adalah sebuah benda yang ringkih dan tidak akan bertahan lama. Berbagai penderitaan hidup yang ada didunia ini selalu mengancam keutuhan bejana itu. Hidup kita yang diisi dengan anugerah Tuhan yang sangat berharga itu mudah hancur karena adanya berbagai tekanan hidup.

Ayat di atas menyatakan bahwa kasih Allah yang mahabesar tidak hanya terbatas pada anugerah keselamatan yang akan rasakan di surga. Kasih Allah ternyata juga dinyatakan dalam kekuatanNya yang sudah diberikan kepada setiap umatNya. Sekalipun umatNya masih hidup sebagai manusia yang lemah secara badani di dunia ini, Tuhan melindungi dan menguatkan mereka sehingga bejana tanah liat itu tidak hancur sekalipun keadaan disekitarnya selalu mengancam.

Hari ini, mungkin anda merasakan bahwa hidup anda terasa berat. Berbagai masalah dan tantangan seolah-olah bisa menghancurkan hidup anda. Banyaknya persoalan hidup kelihatannya siap untuk membuat bejana tanah liat itu hancur berantakan. Tetapi untunglah bahwa setiap umat Tuhan sudah dapat menerima anugerah kekuatan yang besar dari Tuhan yang memberikannya dengan berlimpah-limpah. Hanya dengan kekuatan itu hidup kita bisa menjadi tempat penyimpanan anugerah keselamatan yang sudah kita terima selagi kita masih hidup di dunia. Dengan anugerah kekuatan yang berlimpah itu kita akan bisa menjalani hidup kita hari lepas hari dengan ketabahan dan keberanian sampai kita menjumpai Sang Pencipta di surga.

Tuhan tidak akan melupakan umatNya

Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mataMu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepadaMu minta tolong. Mazmur 31: 22

Menghadapi badai kehidupan

Bagaimana tanggapan anda atas keadaan dunia pada saat ini? Banyak orang yang berpandangan bahwa dunia saat ini sedang mengalami keadaan gawat yang menyangkut mati hidup banyak orang. Bukan hanya masalah pandemi saja yang membawa bencana di banyak negara, tetapi juga masalah kehancuran ekonomi yang terjadi karena pandemi sudah membuat banyak orang kehilangan mata pencaharian mereka. Dalam keadaan sedemikian, mereka yang tidak mempunyai uang simpanan tentu saja tidak akan bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang lain atau negara.

Bagi mereka yang baru saja menamatkan studinya dan membayangkan betapa senangnya memperoleh pekerjaan yang diingininya, keadaan sekarang ini membuat impian mereka menjadi kandas. Jangankan mempekerjakan tenaga baru, banyak perusahaan harus memberhentikan pegawai mereka yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan setia. Tidaklah mengherankan bahwa para dokter saat ini melaporkan banyaknya pasien yang mengalami gangguan kejiwaan yang berat.

Bagi banyak orang, tidak ada tekanan batin yang lebih berat daripada perasaan bahwa hidup ini sudah tidak ada artinya. Hidup yang ada terasa sia-sia karena apa yang kita miliki selama ini: kesehatan, pendidikan, penampilan, keuangan dan kemampuan sudah menjadi barang tidak dapat diandalkan. Dengan demikian, banyak orang yang merasa terbuang dari hadapan orang lain dan bahkan dari hadapan Tuhan. Kita merasa sebagai orang yang terlupakan dan Tuhan seakan sudah melupakan umatNya.

Kebingungan saat ini terjadi dalam masyarakat tentang bagaimana mereka harus mengadapi hari depan jika keadaan sekarang ini menjadi berlarut-larut. Siapakah yang bisa mengharapkan sesuatu yang baik akan terjadi bulan depan atau tahun depan, jika esok hari saja sulit diduga? Jika rakyat merasa bingung, para pemimpin pun tidak dapat memberi keyakinan bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan menjadi baik. Memang tidak terbayangkan tahun yang lalu bahwa keadaan yang sekarang ini bisa datang secara tiba-tiba sehingga tidak ada seorang pun yang sempat bersiap-siap.

Adakah yang baik yang bisa kita harapkan di masa mendatang? Jika kita menantikan sesuatu yang baik dari manusia, tidak akan ada orang yang bisa memberi jaminan. Manusia dalam keadaan ini terlihat jelas kelemahannya: manusia tidak dapat menentukan apa yang akan terjadi. Pikiran sedemikian mungkin tidak pernah muncul dalam benak kita selama laut tenang, tetapi dengan adanya ombak yang mengombang-ambingkan perahu kehidupan kita, kita mungkin bisa diingatkan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Oknum yang tidak tergoncangkan dalam keadaan apa pun. Malahan, segala sesuatu terjadi dengan sepengetahuan dan seizinNya.

Pemazmur yang pada mulanya bingung dalam ayat di atas kemudian ingat bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan pandangan mataNya dari umatNya. Lebih dari itu, bumi dan alam-semesta pun selalu berada dalam penguasaanNya. Karena itu, pemazmur kemudian berteriak minta tolong kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkan permohonannya. Bagaimana pula dengan kita yang saat ini juga mengalami rasa bingung? Yakinkah kita bahwa Tuhan adalah mahakuasa dan sanggup menolong setiap umatNya yang berada dalam keadaan bahaya?

Bila kesedihan datang

“Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-Raja 19: 4

Di sepanjang sejarah, kita bisa membaca kisah orang-orang yang mengalami goncangan hidup. Bahkan di zaman modern ini, kita bisa membaca bahwa ada banyak orang yang merasa gagal, sekalipun mereka adalah orang-orang yang berhasil dalam dunia musik, film, olahraga atau pun bisnis. Kita juga tahu bahwa mereka yang sangat tertekan dengan perasaan gagal itu, cepat atau lambat akan kehilangan pikiran sehatnya, dan mungkin saja melakukan hal-hal yang menyedihkan.

Alkisah pada saat itu seorang nabi Tuhan yang bernama Elia yang mengajak nabi-nabi dewa Baal untuk bertanding dalam hal kurban bakaran. Elia menantang mereka untuk memanggil Baal guna mendatangkan api keatas kurban mereka, supaya orang bisa melihat apakah dewa Baal memang ada. Mereka gagal total. Baal tidak menjawab! Sebaliknya, ketika Elia mempersembahkan kurban bakarannya, api dari Tuhan datang menyambar dan membakar kurban itu. Elia menang telak.

Kemenangan biasanya terasa manis. Dan mungkin Elia juga merasakannya saat itu. Tetapi kegembiraan yang ada berubah menjadi kekecewaan. Bani Israel tidak bertobat sekalipun Baal sudah terbukti dewa palsu. Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel, tetap berjaya. Elia mungkin merasakan kekosongan dalam kemenangannya. Ia mulai meragukan apakah semua usahanya ada gunanya. Ia merasa bahwa semua jerih-payahnya untuk membuat bani Israel bertobat adalah sia-sia.

Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjianMu, meruntuhkan mezbah-mezbahMu dan membunuh nabi-nabiMu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.” 1 Raja-Raja 19: 10

Ketika Izebel mengancam untuk menghabisi nyawa Elia sebagai pembalasan, Elia yang berada dalam keadaan lemah rohaninya, merasa sangat takut. Ia melarikan diri. Elia yang sebelumnya berani bertanding melawan nabi-nabi dewa Baal karena yakin akan penyertaan Tuhan, sekarang menjadi Elia yang merasa lemah dalam kesendiriannya. Elia mungkin saja mengalami depresi berat. Elia menjadi orang yang kehilangan akal, mungkin seperti banyak orang ketika merasa gagal dalam hidup mereka. Ia ingin mati karena ia merasa bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi. Ia lupa bahwa Tuhanlah yang memegang kendali kehidupannya.

Ketika Tuhan menjumpai Elia ditempat persembunyiannya, Tuhan mengerti mengapa Elia lari dari kenyataan. Apa yang Elia butuhkan adalah keyakinan bahwa Tuhan tetap mengasihinya dalam setiap keadaan. Tuhan tahu bahwa Elia tidak akan sanggup menghadapi tantangan kehidupan seorang diri. Tuhan kemudian memberikan Elia penghiburan dan kekuatan dengan mengirim malaikatNya (1 Raja-Raja 19: 5 – 8).

Hari ini, jika kita merasa sedih, tertekan, atau juga depresi, mungkin kita merasa bahwa hidup kita tidak berguna lagi. Dengan adanya berbagai masalah yang ada di dunia saat ini, mungkin kita merasa semua usaha kita sia-sia. Tidak ada orang yang bisa membantu kita. Tetapi, seperti Elia, kita mungkin lupa bahwa Tuhan yang menyertai kita pada saat yang lalu, adalah Tuhan yang sekarang ada beserta kita. Tuhan jugalah yang bisa dan mau memakai sisa hidup kita untuk kemuliaanNya di masa depan. Tetaplah percaya!