Kebebasan bukan untuk melakukan apa yang bodoh

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Mazmur 1: 1 – 2

Dengan kurva penularan COVID-19 yang mulai melandai di Australia, pemerintah pusat mulai mengurangi keketatan PSBB dan dengan itu pemerintah negara bagian bisa membuka kemungkinan untuk menghidupkan kegiatan masyarakat dan ekonomi setempat. Seiring dengan kelonggaran yang diberikan, masyarakat mulai bisa pergi ke pantai, restoran dan pusat perbelanjaan sekalipun tetap harus menerapkan prinsip-prinsip kesehatan yang perlu. Dalam hal ini, ada saja orang yang kurang mau menaati peraturan setempat dan melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Mengapa dalam hidup ini selalu ada orang-orang yang ceroboh seperti itu? Mungkin mereka ingin merdeka atau bebas untuk melakukan apa yang mereka ingini.

Memang pada hakikatnya, kemerdekaan atau kebebasan adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:

  • Kebebasan untuk menyatakan pendapat
  • Kebebasan untuk beragama
  • Kebebasan dari kebutuhan
  • Kebebasan dari ketakutan

Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalah-artikan atau disalah-gunakan. Bagaimana tidak?

  • Manusia menghendaki kebebasan untuk menghasut, menista dan membenci orang lain.
  • Manusia ingin bebas untuk memilih apa yang akan disembahnya.
  • Manusia ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya.
  • Manusia ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum.

Bertalian dengan hal di atas, ayat-ayat dalam Mazmur 1 membagi manusia dalam dua grup: mereka yang memilih untuk tinggal dalam Tuhan (godly people) dan mereka yang mau bebas dari Tuhan (ungodly people).

Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan. Jika firman Tuhan melarang, orang yang taat tidak berusaha mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas. Sebaliknya, jika firman Tuhan mengajarkan umat Kristen untuk taat kepada pemerintah, mereka yang ingin bebas selalu mencari jalan untuk bisa melanggar peraturan yang ada.

“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1

Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sebagai kenikmatan. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk mengambil keputusan menurut apa yang disenanginya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan karena bagi mereka orang-orang itu diperbudak oleh peraturan. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh.

Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa kebebasan manusia bukan berarti bebas untuk berbuat dosa. Mereka yang ingin merdeka dari Tuhan justru akan jatuh kedalam bahaya dosa yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain; dosa yang pada akhirnya akan membawa kepada kebinasaan. Kemerdekaan manakah yang kita pilih?

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13

Iman harus disertai dengan rasa syukur

“Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Kolose 2: 7

Teringat saya akan masa kecil saya di Surabaya. Ketika itu sekitar tahun 60an, dan saya masih berada di sekolah menengah. Keadaan ekonomi negara pada waktu itu sangat parah dan karena persediaan beras yang tidak cukup, rakyat dianjurkan untuk mengonsumsi nasi jagung dan bulgur. Bagi rakyat jelata, gaji bulanan memang tidak cukup untuk hidup sebulan, dan karena itu banyak orang yang harus hidup dengan cara “gali lubang tutup lubang”, yang artinya hidup dengan cara membayar hutang lama dan membuat hutang baru dari bulan ke bulan.

Satu hal yang masih membawa kesan indah tentang masa itu adalah apa yang diusahakan oleh orangtua saya setiap akhir tahun untuk menyenangkan anak-anak mereka, yaitu dengan berusaha memberikan hadiah Natal, seperti apa yang tentunya juga diusahakan oleh orangtua  dimana saja. Memang, mendekati Natal kekuatiran saja sering timbul: jangan-jangan hadiah Natal itu tidak bakal datang karena tidak adanya dana. Tetapi, apa yang dapat saya lakukan? Saya hanya bisa berharap agar orangtua saya bisa memberi suatu hadiah, sambil berusaha menikmati apa yang sudah saya punyai. Puji Tuhan, seingat saya sekalipun keadaan memang payah saat itu, saya selalu mendapat hadiah Natal bagaimana pun kecilnya.

Jika seorang anak mengharapkan datangnya hadiah Natal dari orangtuanya, mungkin kita mengharapkan berkat dari Bapa kita yang di surga untuk tahun ini. Tetapi, keadaan yang kurang baik saat ini barangkali sudah membuat kita kecil hati: jangan-jangan  kita dan keluarga kita justru akan mengalami berbagai masalah. Apa yang baik yang kita harapkan dari Tuhan mungkin tidak bakal terjadi, dan sebaliknya apa yang buruk dan menyedihkan mungkin tidak bisa kita hindari. Kita bisa tetap berharap akan datangnya pertolongan Tuhan, tetapi semua yang kita lihat sekarang ini seakan menguji iman kita. Akankah Tuhan menolong kita? Dapatkah Dia menolong kita?

Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Kolose. Paulus memperingatkan agar mereka tetap mempunyai hidup yang berakar di dalam Tuhan dan dibangun di atas Dia. Sekali pun keadaan bisa menjadi buruk, Paulus meminta mereka agar bertambah teguh dalam iman yang telah mereka terima, dan supaya hati mereka tetap penuh dengan dengan syukur.  Iman jelas tidak dapat dipisahkan dari rasa syukur. Mengapa demikian?

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11: 1). Tidaklah sulit bagi kita untuk mengerti bahwa jika kita bisa melihat dan menentukan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, kita tidak perlu lagi meminta bimbingan dan pertolongan Tuhan. Jika kita selalu sukses dalam hidup kita, kita mungkin tidak lagi memerlukan atau percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa. Kita mungkin  tidak perlu beriman kepadaNya. Pada pihak yang lain, sekalipun kita percaya adanya Tuhan, jika kita tidak dapat bersyukur atas kasihNya yang sudah dicurahkan dalam hidup kita, iman kita akan terasa pahit karena kita tidak dapat mengerti bahwa Tuhan juga mahakasih.

Firman Tuhan hari ini menyatakan bahwa kepada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih kita harus beriman. Kita harus percaya akan kemampuan dan kuasa Tuhan di dunia dan dalam alam semesta. Kita harus percaya bahwa Ia lebih besar dari segala masalah yang kita punyai, karena Ia bisa membuat apa saja terjadi sesuai dengan kehendakNya. Lebih dari itu, kita harus bersyukur bahwa Tuhan adalah mahakasih dan sudah mendatangkan AnakNya, Yesus Kristus, untuk menebus kita. Kita manusia berdosa yang seharusnya mati, sudah menerima hidup yang kekal karena kasihNya. Tidakkah hati kita harus dipenuhi dengan rasa syukur yang berlimpah setiap saat? Tuhan yang mahakasih adalah Tuhan yang mahakuasa yang mau dan bisa menolong kita dalam kesulitan apa pun. Tetaplah beriman, dan tetaplah bersyukur!

“Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.” Yesaya 25: 1

Berjalan dalam lembah kekelaman

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Mazmur 23: 4

See the source image

Pernahkah anda menonton film Ben-Hur?  Ben-Hur adalah sebuah film drama religi epik Amerika produksi tahun 1959, yang disutradarai oleh William Wyler, diproduseri oleh Sam Zimbalist untuk Metro-Goldwyn-Mayer, dan dibintangi oleh Charlton Heston selaku pemeran utama.

Dalam film ini dikisahkan bahwa seorang Yahudi yang bernama Judah Ben-Hur mengalahkan  seorang Romawi yang bernama Messala dalam lomba balap kereta berkuda. Messala mengalami kecelakaan parah akibat dilanggar kereta lain, sementara Judah menjuarai lomba. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Messala berkata kepada Judah bahwa “lomba belum usai”, dan sebagai tindakan paling akhir yang semata-mata dilandasi kebencian, ia memberi tahu Judah untuk mencari ibu dan adiknya di Lembah Orang Kusta.

Pada saat itu, orang yang berpenyakit kusta adalah serupa dengan orang yang dihukum mati secara perlahan-lahan. Karena tidak ada obatnya, penderita kusta diasingkan di tempat-tempat terpencil. Tentu saja Judah merasa sangat terpukul dengan kabar buruk yang disampaikan Messala. Tetapi, film ini berakhir dengan  “happy ending” ketika Judah menyaksikan penyaliban Yesus, sementara ibu dan adik Judah sembuh secara ajaib saat hujan keras sesudah Yesus wafat di kayu salib.

Pada zaman itu, Lembah Orang Kusta adalah  seperti lembah kekelaman atau lembah kegelapan. Ayat diatas adalah ayat yang menggambarkan pemazmur yang berjalan dalam lembah ini. Tetapi, ia tidak merasa takut akan bahaya karena Tuhan besertanya.

Ayat ini memang sangat terkenal dan bisa dipakai untuk menguatkan hati mereka yang mengalami kesulitan hidup. Malahan, ada orang-orang yang menghafalkannya agar mereka dapat langsung menyebutkannya ketika ada ancaman yang datang.

Dalam bahasa Ibrani, kata  sal-ma-wet  berarti “kegelapan” atau “bayang-bayang kekelaman”. Kata itu serupa dengan kata Ibrani yang dipakai untuk “kematian” atau ma-wet. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa ada terjemahan Alkitab berbahasa Inggris yang memakai kata-kata “the valley of the shadow of death”  yang berarti “lembah bayang-bayang maut” dan bukannya “lembah kekelaman”. Dengan demikian, orang sering membaca ayat ini dalam upacara penguburan orang Kristen. Ini tentunya kurang tepat. Bagi orang Kristen, kematian tidaklah menakutkan karena itu adalah perjumpaan dengan Kristus.

Dalam ayat ini, dapat dirasakan bahwa pemazmur menempatkan dirinya sebagai seekor domba yang merasa aman karena sang gembala yang mempunyai gada dan tongkat yang bisa dipakai untuk mengusir binatang-binatang buas yang mengancamnya.  Memang, sebagai orang percaya, kita adalah domba-domba Kristus yang mengenal Dia dan mengikut Dia. Yesus adalah gembala yang baik, yang ingin untuk membaringkan kita di padang yang berumput hijau dan membimbing kita ke air yang tenang (Mazmur 23: 2). Tetapi, adalah kenyataan hidup bahwa setiap orang bisa mengalami berbagai masalah kehidupan. Kesulitan, kekurangan, penyakit, kelaparan dan berbagai musibah bisa terjadi pada setiap orang termasuk orang Kristen. Dan pada suasana COVID-19 yang kita alami saat ini, semua itu adalah seperti bayang-bayang kegelapan yang menakutkan.

Pemazmur menggambarkan bagaimana kita berjalan bersama gembala kita, Yesus. Perjalanan hidup memang tidak mudah dan bahkan penuh resiko, karena jika medan berubah menjadi berat dan gelap, hati kita mudah menjadi kecil dan kitapun menjadi takut. Hidup yang penuh ketakutan dan kekuatiran sudah tentu bukanlah hidup yang mudah dijalani. Jika kita bayangkan, domba yang mengalami ketakutan yang luar biasa bisa saja berusaha melarikan diri sekalipun ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Ia mungkin saja lari menjauh dan akhirnya justru menjadi mangsa binatang buas.

Saat ini, kesulitan dan bahaya apakah yang sedang anda hadapi? Dalam keadaan bahaya, sebenarnya lebih baik agar setiap domba untuk tetap dekat dengan domba-domba yang lain yang dilindungi sang gembala. Selain itu, untuk ketenteraman hidup kita, kita harus selalu ingat bahwa Yesus gembala yang baik selalu menyertai dan menguatkan domba-dombaNya. Begitulah, sebagai domba yang mempunyai keyakinan akan kasih dan kuasa Gembala kita, marilah kita menghadapi masa depan kita dengan keberanian dan rasa damai karena Ia selalu beserta kita.

Semua ujian tidaklah menyenangkan

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

See the source image

Sebulan lagi ujian semester 1 akan dilangsungkan di universitas saya. Karena adanya PSBB, semua kuliah sudah dilakukan secara online sejak bulan Maret yang lalu, dan ujian mata pelajaran saya akan diadakan dalam bentuk Tes Objektif Bentuk Pilihan Ganda (Multiple Choice) melalui internet. Setiap murid dapat mengikuti ujian dari tempat masing-masing, dan oleh sebab itu saya harus membuat bahan ujian sedemikian rupa sehingga setiap siswa mendapat pertanyaan yang berbeda. Itu tidak mudah dilakukan karena saya harus membuat banyak pertanyaan yang akan dipilih secara acak oleh komputer untuk setiap siswa.

Persiapan sebuah bahan ujian online biasanya memerlukan waktu lebih dari seminggu karena sulitnya membuat pertanyaan yang bermutu. Dalam hal ini, adalah menarik untuk membandingkan keadaan zaman dulu dan zaman sekarang. Kalau ujian pada masa-masa yang lalu merupakan hal yang harus diterima para siswa, pada zaman ini seringkali muncul berita tentang adanya stres berat diantara kaum siswa pada musim ujian. Karena itu, jika ujian sebuah mata kuliah pada zaman dulu bisa berlangsung selama 4-5 jam, sekarang saya harus meringkas bahan pelajaran satu semester untuk dijadikan bahan ujian untuk 2 jam saja. Jika bagi banyak dosen tugas seperti ini terasa seperti ujian, bagi  banyak siswa bahan ujian yang bermutu adalah seperti momok.

Tidak dapat disangkal bahwa adanya ujian itu perlu sebelum seseorang dinyatakan memenuhi syarat untuk naik kelas atau naik pangkat. Walaupun demikian, mengapa ujian itu seringkali terasa sebagai hukuman berat dan bukannya kesempatan untuk mencapai keberhasilan? Kebanyakan orang takut adanya ujian karena kuatir tidak lulus. Ujian sendiri bukan masalah jika tidak ada konsekuensinya. Ujian itu tidak akan terasa berat jika pesertanya dijamin untuk berhasil.

Dalam ayat diatas, kita membaca bahwa tiap orang percaya akan mengalami masalah dalam hidup ini. Seperti apa yang dialami para siswa, adanya masalah hidup tidak membawa sukacita kepada orang yang mengalaminya. Tidak hanya rasa kuatir, tetapi juga rasa sakit baik secara badani maupun batin, bisa muncul ketika kita menghadapi persoalan yang berat.

Jika hidup ini sebelumnya sudah terasa berat, sekarang kita tidak tahu kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. Ini agaknya adalah ujian berat yang bakal berkepanjangan. Tidaklah mengherankan banyak orang mengeluh dan bertanya-tanya. Apa artinya semua ini? Haruskah aku mengalaminya? Apa yang akan terjadi? Sanggupkah aku menjalaninya? Bagaimana pula kalau aku gagal?

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa setiap masalah yang kita hadapi adalah sebuah ujian kehidupan yang pada akhirnya bisa menghasilkan rasa damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Dengan demikian, setiap kali kita menghadapi masalah kehidupan, kita harus bersyukur bahwa selama kita menghadapinya bersama Tuhan, kita akan berhasil untuk  tumbuh makin kuat dalam iman. Mereka yang berdisiplin dalam menghadapi masalah, akan bisa hidup dalam keyakinan, yang makin lama makin kuat, atas kemenangan yang sudah dijamin oleh darah Yesus. Dengan demikian, apakah yang kita kuatirkan dalam menghadapi hidup yang berat ini?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Berdoalah ketika kita tidak ingin memohon sesuatu

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26
See the source image Dalam suasana pandemi sekarang ini, komunikasi saya dengan sesama dosen dan juga dengan murid saya seratus persen dilakukan lewat internet dan telepon. Karena adanya PSBB, saya tidak dapat dan tidak ingin berbincang-bincang dengan orang lain muka dengan muka, kecuali dengan mereka yang serumah dengan saya. Dalam kehidupan bergereja, saya menghadiri kebaktian online dan mengikuti acara pemahaman Alkitab yang juga melalui dunia maya. Semua itu tentu rasanya kurang “sreg”; tetapi apa boleh buat karena tidak ada jalan lain, itulah yang bisa saya lakukan, bahkan dengan sanak yang tidak serumah. Satu hal yang saya kurang sukai dengan berkomunikasi secara elektronik ialah tidak bisanya saya melakukan kontak mata dengan orang yang saya ajak bicara. Dengan tidak adanya kontak mata, saya sering tidak bisa menduga perasaan orang itu. Memang dalam hal ini benarlah pepatah “Dari mata turun ke hati”. Akibatnya, banyak hal yang saya ingin ucapkan harus disampaikan dengan lebih berhati-hati; dan apa yang saya pandang sulit untuk dikatakan tanpa berjumpa muka, akan saya tunda sampai saat dimana saya bisa bertemu dengan orang itu. Saya tentu berharap bahwa pandemi ini bisa diatasi secepatnya karena ada banyak orang, terutama mereka yang sudah lanjut usia, yang menderita karena tidak bisa berjumpa muka dengan muka dengan keluarga mereka. Seperti komunikasi antar manusia, doa adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak ingin berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar. Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Bagi mereka yang hidupnya penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Dan bagi banyak orang berada dalam kesulitan, mengucapkan doa tidaklah mudah karena hati yang terluka atau penuh rasa duka. Berdoa tidaklah mudah dilakukan karena kita tidak dapat melihat Tuhan. Berdoa hanya bisa dilakukan melalui iman. Apalagi, dalam keadaan sekarang ini pikiran kita mungkin terisi oleh berbagai macam kekuatiran. Dengan pikiran yang kusut, doa kita mungkin hanya berupa tangisan dan permohonan dan kurang berisi ucapan syukur kepada Tuhan. Dengan banyaknya tantangan, mungkin kita tidak ingin untuk berlama-lama berbincang dengan Tuhan. Dalam hal ini, iblis selalu mencari kesempatan untuk membuat kita makin malas untuk berdoa atau merasa kecewa kepada Tuhan. Untunglah, sebagai umat percaya kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang atau segan untuk berdoa. Roh Kudus lah yang bisa meyakinkan kita bahwa Tuhan ada; bukan di sana, tetapi di sini bersama dengan kita. Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa ketika kita tidak ingin berdoa, itulah saat dimana kita harus berdoa. Jika kita tidak mau memohon sesuatu dari Tuhan, itulah tandanya bahwa kita sangat membutuhkan Dia.  Dalam hal ini, apa yang harus kita lakukan hanyalah membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan!

Kebimbangan bisa membuat kita tenggelam

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Matius 14: 30

See the source image

Saat ini, banyak orang yang hidup dalam kegundahan. Adanya pandemi memang sudah membuat orang hidup dalam kekuatiran, tetapi hancurnya ekonomi  negara yang membuat banyak orang kehilangan pekerjaan rupanya dirasakan sebagai hal yang lebih berbahaya. Di beberapa negara yang mengalami lockdown mulai muncul banyak orang yang berdemonstrasi dan yang menyatakan bahwa bagi mereka mati karena virus corona adalah lebih baik daripada mati kelaparan. Tetapi tentu saja pandangan ini tidak dapat dibenarkan; kematian akibat bencana apa pun tentunya bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi itu justru hal yang seharusnya dihindari.

Pernahkah anda mengalami pengalaman menakutkan yang serupa sebelum ini? Mungkin itu krisis moneter Asia di tahun 1997? Kebanyakan orang tentu merasa takut jika ada hal  seperti itu terjadi karena efeknya yang besar dan tidak mudah dikontrol. Ketakutan memang bisa muncul ketika ada bahaya yang mendatangi, apalagi jika kita merasa bahwa itu ada diluar kemampuan kita untuk mengatasinya. Dalam hal ini, sekalipun orang percaya akan adanya Tuhan yang mahakuasa, rasa takut sering muncul karena apa yang dilakukan Tuhan adalah suatu yang tidak dapat dimengertinya.

Bagaimana pula perasaan kita jika kita yakin bahwa Tuhan adalah mahakuasa? Apakah kita kemudian bisa hidup dalam ketenangan karena semua yang kita alami tentunya adalah sesuai dengan kehendak Tuhan? Akankah Tuhan membuat hidup kita berjalan mulus jika kita menurut perintahNya? Dalam kenyataannya, sekalipun hidup kita sudah berjalan sesuai dengan kehendakNya, itu tidak berarti bahwa tidak ada saat-saat dimana kita merasa bimbang. Sebelum datangnya pandemi, tanggung jawab rumah-tangga, pekerjaan, dan pelayanan gereja mungkin sudah kita jalankan sesuai dengan perintahNya; tetapi sekarang kita mungkin ragu apakah kita bisa melakukannya dengan baik pada saat-saat mendatang. Rasa takut dan kuatir pun muncul, karena kita tidak mengerti apa yang akan terjadi. Apakah tiupan angin topan akan bertambah keras?

Pada saat itu, Petrus yang melihat Yesus berjalan diatas air ingin meyakinkan diri bahwa itu benar-benar Yesus. Petrus meminta agar Yesus menyuruh dia untuk berjalan diatas air dan menjumpaiNya. Dengan ajakan Yesus, Petrus segera melangkahkan kakinya diatas air. Keberaniannya tumbuh karena adanya ajakan Yesus. Tetapi ketika dirasakannya ada tiupan angin yang keras, lupalah Petrus akan adanya Yesus. Ia menjadi takut dan merasa akan tenggelam. Melihat Petrus yang ketakutan, Yesus segera menolongnya. Tetapi, Yesus juga menegur Petrus atas kebimbangannya. Itu karena Petrus yang sudah diajak Yesus untuk berjalan diatas air, sebenarnya harus sepenuhnya percaya kepada Yesus.

Hari ini, jika kita percaya bahwa kita hidup menurut perintahNya, itu seharusnya menyatakan kepercayaan kita atas bimbinganNya. Apa yang Tuhan janjikan adalah penyertaanNya kepada kita sekalipun ada angin topan mendatangi dan gelombang laut yang menggoncang kaki kita. Mengapa pula kita harus bimbang?

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Matius 14: 33

Kita adalah orang pilihan Allah

“Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan” Yesaya 41: 10

Tidak terasa saya sudah menjalankan WFH (work from home) selama hampir dua bulan. Gara-gara adanya pandemi, universitas saya ditutup pada bulan Maret yang lalu dan semua kuliah harus saya berikan secara online dari rumah. Satu dua minggu bekerja dari rumah memang  terasa nikmat, terutama karena tidak perlu untuk bangun terlalu pagi untuk mempersiapkan diri dan bermobil ke kantor. Tetapi, setelah dua minggu rasa bosan mulai muncul karena saya tidak bisa pergi kemana-mana, kecuali sesekali ke supermarket guna membeli bahan makanan.

Adanya keharusan bagi penduduk untuk melakukan PSBB memang membuat kota dimana saya tinggal menjadi mati. Kebanyakan toko yang menjual barang-barang yang bukan bahan pokok sudah ditutup dan begitu juga rumah makan dan gedung pertunjukan. Dalam keadaan sedemikian, mereka yang sudah lanjut usia dan kurang sehat tentunya adalah orang-orang yang paling menderita karena mereka bisanya bergantung pada pertolongan dan jasa yang diberikan orang lain. Tetapi, menurut survey, mereka yang masih tergolong muda pun banyak yang mengalami masalah kejiwaan berkenaan dengan timbulnya rasa kuatir, rasa kesepian dan rasa takut. Malahan, beberapa pakar meramalkan bahwa perawatan kejiwaan akan menjadi salah satu kebutuhan penting dari masyarakat setelah pandemi ini berakhir.

Di tengah-tengah kemelut pandemi ini, orang Kristen tentunya terpanggil untuk sebisa mungkin menjadi terang dunia. Sekalipun diri mereka sendiri merasa menderita, banyak orang percaya yang merasa bahwa mereka bisa membantu mereka yang menderita untuk tetap bisa bertahan. Dengan bantuan doa dan membagikan ayat-ayat Alkitab yang sesuai, mereka berusaha meyakinkan mereka yang tertekan jiwanya untuk mau menyerahkan persoalan mereka kepada Tuhan yang mahakuasa. Ada kalanya ayat yang dipakai memang mengena, tetapi sering juga ada tafsiran yang kurang  tepat.

Ayat di atas adalah ayat yang sering dipakai orang Kristen untuk menguatkah mereka yang mengalami perjuangan hidup. Banyak orang yang menafsirkan ayat diatas sebagai janji Tuhan kepada semua umat Kristen untuk memberi mereka kemenangan dan keberhasilan. Tuhan telah memilih  kita dan tidak menolak kita; karena itu kita tidak perlu takut, sebab Ia menyertai kita. Kita tidak perlu bimbang, sebab Tuhan adalah Allah kita. Tuhan akan meneguhkan, bahkan akan menolong kita;  Tuhan akan memegang kita dengan tangan kananNya yang membawa kemenangan. Dalam Tuhan kita akan bisa menyelesaikan segala persoalan, termasuk masalah kesehatan, pekerjaan dan bahkan hutang.

Sebenarnya ayat itu adalah firman Tuhan yang khusus diberikan kepada umat pilihan Allah, umat Israel yang menderita dalam pengasingan di Babilonia. Tuhan mengingatkan bani Israel bahwa mereka adalah umat pilihan Allah dan karena itu Allah akan menolong mereka. Apa yang dijanjikan Allah itu sudah terjadi, dan bagi kita itu menunjukkan bahwa dalam hal pembebasan umat Israel dari Babilonia, Tuhan tidak mengecewakan umat Israel yang sudah dipilihNya. Walaupun demikian, janji Tuhan dalam ayat ini bukanlah janjiNya untuk kita yang tidak termasuk dalam umat Israel yang hidup pada zaman itu.

Kembali mengenai ayat di atas, tidak adakah yang dapat kita terapkan dalam hidup kita pada saat ini? Tentu ada! Karena kita adalah orang-orang pilihan Alllah melalui penebusan Kristus Yesus, Ia tidak akan menolak kita. Dalam mengalami penderitaan dan ancaman di saat ini, kita tidak perlu takut karena Allah menyertai kita. Kita tidak perlu bimbang akan kasihNya. Tuhan kita adalah Allah yang mahakuasa yang dapat menguatkan kita dan bahkan akan menolong kita pada saat yang tepat, dengan cara yang sesuai dengan rencanaNya.  Sekalipun dalam hidup ini kita bisa mengalami masalah yang besar yang tidak kunjung berhenti, tetapi Ia akan memegang tangan kita dan menguatkan kita sehingga kita mendapatkan rasa damai dan kecukupan dalam keadaan apa pun. Inilah kunci kebahagiaan dalam iman!

 

 

Penampilan bukanlah pedoman hidup

Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16.7

See the source image

Pandemi COVID-19 sudah berlangsung beberapa bulan di dunia, tetapi belum ada tanda-tanda bahwa itu sudah mulai mereda. Tentu saja, adanya pandemi sudah membawa kesusahan yang besar bagi umat manusia dimana pun mereka berada.  Adanya pandemi kelihatannya hanya membawa kesengsaraan dan derita  bagi umat manusia. Betulkah demikian?

Sekalipun pandemi adalah suatu tragedi kemanusiaan, adanya pandemi bisa membawa beberapa segi positif. Tidak hanya membuat semua orang  menyadari bahwa sebagai manusia mereka tidak bisa merasa sombong dan terlalu yakin akan kekuatan mereka sendiri; pandemi juga membuat banyak orang sadar bahwa berbagai sarana hebat yang ada sebelum adanya pandemi, sekarang menjadi sesuatu yang tidak berguna.

Adanya masalah dalam hidup memang bisa membuka mata manusia akan apa yang benar-benar penting dalam hidup. Banyak manusia yang mengukur keberhasilan dengan apa yang sudah dicapai, dan begitu pula banyak negara yang merasa unggul karena kekayaan dan kemakmuran yang bisa dikagumi negara lain. Tetapi, semua itu bisa hilang dalam sekejap mata, dan apa yang tertinggal adalah duka.

Memang dalam hidup di dunia, manusia cenderung untuk mudah terpikat oleh sesuatu penampilan yang terlihat indah dan hebat. Mereka mudah mengagumi orang yang mempunyai kesuksesan, kekayaan dan kemampuan yang luar biasa. Karena banyak manusia yang bergantung kepada hal-hal itu, mereka yang sukses kemudian dijadikan contoh keberhasilan dalam hidup. Bahkan, untuk berbakti kepada Tuhan, banyak orang Kristen yang memilih untuk pergi ke gereja yang mempunyai gedung yang mewah dan pendeta yang terkenal. Tetapi, sejarah membuktikan bahwa apa yang dipandang hebat oleh manusia seringkali merupakan sesuatu yang tidak berharga di mata Tuhan.

Ayat di atas adalah apa yang dikatakan Samuel ketika ia mengunjungi Isai untuk memilih salah satu dari anaknya guna menggantikan Raja Saul yang sudah ditolak Tuhan. Ketika Samuel melihat Eliab anak Isai yang pertama, Samuel merasa bahwa ialah yang akan dipilih oleh Tuhan. Tetapi Tuhan menegur Samuel agar jangan memandang orang dari penampilannya, karena Tuhan melihat hati dan bukan apa yang terlihat mata manusia. Tuhan melihat  apakah  seseorang benar-benar bergantung kepada Dia dan hidup untuk kemuliaanNya.

Banyak orang yang bertanya-tanya, apakah yang bisa dipelajari sebagai hikmah ketika masalah besar sedang terjadi. Satu hal yang penting yang bisa kita lakukan adalah meneliti pedoman hidup kita. Tuhan menilik hati manusia, dan Ia bisa melihat apa yang tersembunyi dalam kehidupan semua orang. Jika manusia memilih penampilan apa pun dan siapa pun menurut pandangan matanya, Tuhan menyelidiki apakah semua itu berguna untuk kemuliaanNya. Dengan demikian, bukan penampilan yang penting, tetapi kegunaannya bagi Tuhan. Kita yang mengaku sebagai pengikut Tuhan seharusnya dapat mengerti apa yang disukai Tuhan dan mengubah pedoman hidup kita.

 

Jangan berhenti berharap

“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Roma 8: 24-25

See the source image

Kegiatan apakah yang paling anda benci? Tiap orang tentunya mempunyai jawaban yang berbeda. Ada orang yang tidak suka bepergian, ada yang membenci memasak, dan ada juga yang tidak mau menonton show dan sebagainya. Bagaimana dengan saya sendiri? Saya membenci antrian. Buat saya, mengantri adalah hal yang menjemukan; dan sekalipun saya suka menonton film di bioskop dan juga pertunjukan lain, saya akan batal menonton kalau saya tahu bahwa antriannya bakal panjang. Sudah mundur sebelum berjuang, begitu orang mengkritik saya. Mengapa begitu? Mungkin itu karena pengalaman pahit sewaktu mengantri karcis bioskop di tahun 60an. Saya masih ingat bahwa ketika itu antriannya panjang dan sesudah mengantri selama satu jam karcisnya ternyata habis! Harapan saya tidak menjadi kenyataan….

Berharap akan sesuatu yang indah dan menyenangkan memang sering dilakukan oleh banyak orang. Setiap orang yang mempunyai suatu harapan mungkin sering diingatkan teman agar tidak putus asa. Tetaplah berusaha, dan jangan putus harapan, begitu mungkin nasihat mereka. Dengan itu, impian tetap dipertahankan dan semangat tetap dipupuk untuk terus berusaha mewujudkan apa yang diharap-harapkan. Walaupun demikian, jika orang sudah menanti-nantikan sesuatu untuk waktu yang lama, harapan akan datangnya keberhasilan akan mulai turun; apa lagi jika apa yang diharapkan belum juga dapat terlihat mata.

Jika harapan untuk mendapatkan sebuah karcis bioskop saja sudah sulit untuk dipertahankan jika ada banyak orang yang mengantri, anda mungkin bertanya-tanya bagaimana saya bisa berharap akan datangnya satu hal yang besar dalam hidup saya. Itu adalah sebuah pertanyaan yang bisa diterima. A fair question. Orang yang tidak sabar dan mudah putus asa dalam menantikan datangnya sesuatu yang biasa-biasa saja dan bisa dilihat mata, tentu akan sulit untuk bisa tetap bersemangat dalam mengharapkan kedatangan sesuatu yang sangat berharga yang belum bisa dilihat saat ini. Orang yang tidak bisa berharap akan satu hal yang kecil, tentunya sukar untuk berharap akan satu hal yang besar.

Ayat di atas menjelaskan bahwa sesuatu yang sangat besar dan tidak bisa kita lihat sudah kita terima. Sebagai orang percaya, pengurbanan Kristus di kayu salib sudah memungkinkan kita mendapat pengampunan Allah atas dosa-dosa kita. Kita sudah menerima keselamatan dari Tuhan. Walaupun demikian, selama hidup di dunia, keselamatan itu belumlah kita lihat. Kita sudah mendapatkan keselamatan, tetapi kita masih mengharapkan saat yang indah dimana kita bisa bersama Yesus di surga. Kita masih mengharapkannya, tetapi kita tidak akan dikecewakan karena Yesus sudah menggenapi tugas penyelamatanNya. Dengan demikian kita yakin bahwa apa yang terbesar yang menjadi harapan iman kita, akan terjadi pada waktunya. Kita tidak perlu merasa kuatir kalau-kalau itu tidak terjadi, atau kalau itu ternyata bukanlah sesuatu yang istimewa. Jika Yesus sudah mati untuk memberi kita harapan, harapan itu tentu sangat berharga dan pasti terjadi. Dengan itu, selama hidup di dunia kita akan menantikan hal itu dengan tekun dan sabar.

Bagaimana perasaan kita jika pengharapan kita akan satu hal yang terbesar dalam hidup kita ternyata tidak sia-sia? Tentunya dengan jaminan keselamatan kita, apa pun yang terjadi di sekeliling kita saat ini tidak akan mempengaruhi sukacita kita. Jika kita bisa berharap dalam hal yang besar, seharusnya kita lebih mudah untuk bisa berharap akan hal-hal yang lebih kecil. Dalam hidup kita memang kita melihat adanya berbagai masalah dan kita berharap untuk bisa mengatasinya. Tetapi, semua itu tidaklah sebanding dengan apa yang belum dapat kita lihat, tetapi sudah kita terima yaitu keselamatan Ilahi. Dengan demikian, mengapa kita harus putus asa dalam menghadapi persoalan-persoalan dan harapan-harapan yang ada dalam hidup kita sekarang ini? Tuhan yang sudah memberikan apa yang terbesar, tentunya sanggup untuk memberi kita apa yang baik untuk kita, sesuai dengan kebijaksanaanNya. Dalam penantian, apa yang perlu kita lakukan hanyalah bertekun dalam iman.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Yakinkah Tuhan beserta anda?

“Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” 1 Yohanes 3: 24

See the source image

Di antara banyak bentuk ucapan selamat tinggal, doa restu dan harapan untuk sukses yang disampaikan antara dua teman atau kolega, ucapan “semoga Tuhan menyertai anda” dan “semoga Tuhan memberkati anda” adalah dua ucapan yang sering ditemui. Ucapan ini, jika benar-benar diyakini, tentunya bersumber dari maksud baik orang yang menyampaikan. Bagi mereka yang menerima doa restu seperti ini, tentunya ucapan ini bukan saja enak didengar tetapi juga merupakan harapan mereka sendiri. Itu jika mereka percaya adanya Tuhan.

Bagi mereka yang percaya adanya Tuhan, mendapat penyertaan dan berkat dariNya sudah tentu adalah baik. Tetapi, apakah mereka yang mendengar doa restu ini benar-benar percaya dan merasa bahwa Tuhan menyertai dan memberkati mereka? Sebagian orang mungkin berharap demikian, tetapi sebagian lagi mungkin tidak yakin. Jika demikian, adakah orang yang benar-benar yakin bahwa Tuhan menyertai dia?

Ayat pembukaan diatas menunjukkan satu “syarat” agar orang bisa yakin bahwa Tuhan menyertai dia. Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Jika seseorang hidup menurut firman Tuhan, ia akan bisa yakin bahwa Tuhan menyertainya, karena orang itu dan Tuhan ada dalam satu persekutuan yang kuat. Karena itu, jika kita selalu hidup menurut perintahNya, kita boleh yakin bahwa Tuhan berserta kita. Kita yakin bahwa Ia akan melindungi dan membimbing kita dalam perjuangan hidup kita.

“…Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Roma 8: 31

Hal penyertaan Tuhan di atas lebih mudah untuk dibaca daripada untuk diyakini. Dalam hidup yang saat ini penuh dengan masalah, siapakah yang bisa menyakinkan kita bahwa Tuhan beserta kita? Tidak ada seorang pun yang bisa, baik orangtua, guru, pemimpin atau pendeta. Hanya Roh Kuduslah yang bisa.

Ayat pembukaan kita  menyatakan bahwa kita  dapat mengetahui bahwa Tuhan beserta kita dan ada di dalam kita, jika Roh Kudus yang telah Ia karuniakan kepada kita secara aktif bekerja dalam hidup kita. Roh Kudus adalah Roh Penghibur dan Tuhan sendiri yang sudah datang kedalam diri setiap orang percaya, yang membawa keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai umatNya dimana pun mereka berada. Roh Kudus akan bekerja dengan giat jika  umat Tuhan hidup sesuai dengan firmanNya. Sebaliknya, umat Tuhan bisa mendukakan Roh Kudus jika mereka sering memikirkan, mengatakan dan melakukan apa yang kotor, yang sia-sa, dan yang jahat, serta membiarkan hidup mereka dikuasai oleh kemarahan dan kepahitan (Efesus 4: 30 -31). Dengan demikian, manusia yang sering mendukakan Roh Kudus akan mudah untuk meragukan penyertaan Tuhan. Hidup yang sedemikian tidak akan mempunyai keyakinan bahwa Tuhan ada dan mau menyertainya. Bagaimana dengan hidup dan keyakinan anda?