“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Mazmur 1: 1 – 2

Dengan kurva penularan COVID-19 yang mulai melandai di Australia, pemerintah pusat mulai mengurangi keketatan PSBB dan dengan itu pemerintah negara bagian bisa membuka kemungkinan untuk menghidupkan kegiatan masyarakat dan ekonomi setempat. Seiring dengan kelonggaran yang diberikan, masyarakat mulai bisa pergi ke pantai, restoran dan pusat perbelanjaan sekalipun tetap harus menerapkan prinsip-prinsip kesehatan yang perlu. Dalam hal ini, ada saja orang yang kurang mau menaati peraturan setempat dan melakukan hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Mengapa dalam hidup ini selalu ada orang-orang yang ceroboh seperti itu? Mungkin mereka ingin merdeka atau bebas untuk melakukan apa yang mereka ingini.
Memang pada hakikatnya, kemerdekaan atau kebebasan adalah sesuatu yang didambakan setiap manusia. Menurut presiden Amerika yang bernama Franklin D. Roosevelt ada empat macam kebebasan yang seharusnya bisa dinikmati oleh orang di seluruh dunia:
- Kebebasan untuk menyatakan pendapat
- Kebebasan untuk beragama
- Kebebasan dari kebutuhan
- Kebebasan dari ketakutan
Apa yang diusulkan oleh presiden Roosevelt pada tahun 1941 itu adalah baik jika dipandang dari hak azasi manusia, dan karena itu disetujui oleh berbagai negara. Walaupun demikian, di zaman sekarang kebebasan sedemikian sering disalah-artikan atau disalah-gunakan. Bagaimana tidak?
- Manusia menghendaki kebebasan untuk menghasut, menista dan membenci orang lain.
- Manusia ingin bebas untuk memilih apa yang akan disembahnya.
- Manusia ingin merdeka untuk berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya.
- Manusia ingin merdeka dari rasa takut kepada yang berwenang atau hukum.
Bertalian dengan hal di atas, ayat-ayat dalam Mazmur 1 membagi manusia dalam dua grup: mereka yang memilih untuk tinggal dalam Tuhan (godly people) dan mereka yang mau bebas dari Tuhan (ungodly people).
Dunia mungkin memandang orang yang beriman sebagai orang yang malang, yang tidak merdeka dalam hidupnya. Mereka terlihat membosankan karena dalam hidup mereka selalu mempertimbangkan firman Tuhan. Jika firman Tuhan melarang, orang yang taat tidak berusaha mencari kesempatan untuk mencari jalan pintas. Sebaliknya, jika firman Tuhan mengajarkan umat Kristen untuk taat kepada pemerintah, mereka yang ingin bebas selalu mencari jalan untuk bisa melanggar peraturan yang ada.
“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Roma 13: 1
Bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, kebebasan untuk melakukan segala sesuatu menurut kata hati mereka adalah sesuatu yang dipandang sebagai kenikmatan. Mereka yakin bahwa setiap manusia mempunyai hak untuk mengambil keputusan menurut apa yang disenanginya. Mereka mencemooh orang-orang yang taat kepada firman Tuhan karena bagi mereka orang-orang itu diperbudak oleh peraturan. Bagi mereka, orang-orang beriman adalah orang-orang bodoh.
Apa yang tidak disadari manusia yang ingin bebas dari Tuhan adalah kenyataan bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa kebebasan manusia bukan berarti bebas untuk berbuat dosa. Mereka yang ingin merdeka dari Tuhan justru akan jatuh kedalam bahaya dosa yang bisa merugikan diri sendiri dan orang lain; dosa yang pada akhirnya akan membawa kepada kebinasaan. Kemerdekaan manakah yang kita pilih?
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Galatia 5: 13



Dalam suasana pandemi sekarang ini, komunikasi saya dengan sesama dosen dan juga dengan murid saya seratus persen dilakukan lewat internet dan telepon. Karena adanya PSBB, saya tidak dapat dan tidak ingin berbincang-bincang dengan orang lain muka dengan muka, kecuali dengan mereka yang serumah dengan saya. Dalam kehidupan bergereja, saya menghadiri kebaktian online dan mengikuti acara pemahaman Alkitab yang juga melalui dunia maya. Semua itu tentu rasanya kurang “sreg”; tetapi apa boleh buat karena tidak ada jalan lain, itulah yang bisa saya lakukan, bahkan dengan sanak yang tidak serumah.
Satu hal yang saya kurang sukai dengan berkomunikasi secara elektronik ialah tidak bisanya saya melakukan kontak mata dengan orang yang saya ajak bicara. Dengan tidak adanya kontak mata, saya sering tidak bisa menduga perasaan orang itu. Memang dalam hal ini benarlah pepatah “Dari mata turun ke hati”. Akibatnya, banyak hal yang saya ingin ucapkan harus disampaikan dengan lebih berhati-hati; dan apa yang saya pandang sulit untuk dikatakan tanpa berjumpa muka, akan saya tunda sampai saat dimana saya bisa bertemu dengan orang itu. Saya tentu berharap bahwa pandemi ini bisa diatasi secepatnya karena ada banyak orang, terutama mereka yang sudah lanjut usia, yang menderita karena tidak bisa berjumpa muka dengan muka dengan keluarga mereka.
Seperti komunikasi antar manusia, doa adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak ingin berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar. Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Bagi mereka yang hidupnya penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Dan bagi banyak orang berada dalam kesulitan, mengucapkan doa tidaklah mudah karena hati yang terluka atau penuh rasa duka.
Berdoa tidaklah mudah dilakukan karena kita tidak dapat melihat Tuhan. Berdoa hanya bisa dilakukan melalui iman. Apalagi, dalam keadaan sekarang ini pikiran kita mungkin terisi oleh berbagai macam kekuatiran. Dengan pikiran yang kusut, doa kita mungkin hanya berupa tangisan dan permohonan dan kurang berisi ucapan syukur kepada Tuhan. Dengan banyaknya tantangan, mungkin kita tidak ingin untuk berlama-lama berbincang dengan Tuhan. Dalam hal ini, iblis selalu mencari kesempatan untuk membuat kita makin malas untuk berdoa atau merasa kecewa kepada Tuhan. Untunglah, sebagai umat percaya kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang atau segan untuk berdoa.
Roh Kudus lah yang bisa meyakinkan kita bahwa Tuhan ada; bukan di sana, tetapi di sini bersama dengan kita. Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa ketika kita tidak ingin berdoa, itulah saat dimana kita harus berdoa. Jika kita tidak mau memohon sesuatu dari Tuhan, itulah tandanya bahwa kita sangat membutuhkan Dia. Dalam hal ini, apa yang harus kita lakukan hanyalah membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan! 


