“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kau maklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kau ketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tanganMu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. Ke mana aku dapat pergi menjauhi rohMu, ke mana aku dapat lari dari hadapanMu?” Mazmur 139: 1 – 7

Jika anda adalah penggemar musik lembut atau “easy listening” mungkin anda pernah mendengarkan lagu “From a Distance” yang salah satu versinya dinyanyikan oleh Bette Midler. Lagu ini memenangkan hadiah Grammy for Song of the Year pada tahun 1991. Salah satu baitnya berbunyi demikian:
And God is watching us, God is watching us,
God is watching us from a distance.
Oh, God is watching us, God is watching.
God is watching us from a distance.
Dan Tuhan melihat kita, Tuhan melihat kita,
Tuhan melihat kita dari jauh.
Oh, Tuhan melihat kita, Tuhan melihat.
Tuhan melihat kita dari jauh.
Lagu ini adalah salah satu lagu favorit saya, bukan saja karena penyanyinya yang bersuara merdu, tetapi juga karena syairnya yang menarik. Mengapa menarik? Lagu ini bukanlah lagu rohani, tetapi syairnya menyebut-nyebut Tuhan, dan bahkan menyebutkan Tuhan yang melihat dari jauh. Mungkin anda berpikir bahwa syairnya menunjuk kepada Tuhan yang di surga, Tuhan yang mahatahu. Mungkin anda berpikir bahwa lagu ini cocok dengan iman kita.
Kalau kita baca ayat-ayat Alkitab di atas, kelihatannya bunyinya memang mendukung syair lagu Bette Midler. Mazmur di atas memang menyatakan bahwa Tuhan orang Kristen adalah Tuhan yang mahatahu. Tuhan menyelidiki dan mengenal kita, Dia mengetahui, kalau kita duduk atau berdiri, Dia juga mengerti pikiran kita dari jauh. Tetapi Mazmur 139 lebih lanjut menunjuk kepada Tuhan yang mahakuasa dan peduli kepada umatnya. Sebab Tuhan menjaga kita dari belakang dan dari depan dan menaruh tangan perlindunganNya di atas kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang bukan melihat kita dari jauh, tetapi Tuhan yang dekat dengan kita dan peduli atas keadaan kita.
Bagi kita, Tuhan bukan lagi Tuhan yang jauh dari kita. Tuhan hidup dalam diri setiap umatNya. Tubuh kita adalah Bait Allah dan Roh Kudus sudah dianugerahkanNya kepada kita untuk tinggal dalam hati kita.
“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? ?” 1 Krorintus 3: 16
Karena Tuhan tinggal di dalam kita, Tuhan tidak melihat kita dari jauh, tetapi Ia menyertai kita kemana pun kita pergi dan di mana pun kita berada. Tuhan tahu segala persoalan dan tantangan hidup kita, Ia juga tahu jika kita mundur dari iman percaya kita. Dalam menghadapi masalah hidup, Ia tidak akan membiarkan kita lari dari hadapanNya. Sebaliknya, Roh Kudus yang bisa melihat apa yang terjadi dalam hidup kita akan menjadi Roh Penolong yang menyertai kita jika kita mengalami penderitaan baik jasmani maupun rohani. Roh juga yang berdoa untuk kita jika kita tidak bisa berdoa.
“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Roma 8: 26
Saat ini, adakah keraguan anda akan penyertaan Tuhan? Apakah Tuhan terasa sangat jauh dan kurang peduli akan penderitaan anda? Semoga ayat-ayat di atas bisa meyakinkan anda bahwa Tuhan ada beserta dengan anda pada setiap saat. Tuhan bukan melihat kita dari jauh, tetapi Ia menyertai dan menguatkan kita dalam hidup di dunia.




Dalam suasana pandemi sekarang ini, komunikasi saya dengan sesama dosen dan juga dengan murid saya seratus persen dilakukan lewat internet dan telepon. Karena adanya PSBB, saya tidak dapat dan tidak ingin berbincang-bincang dengan orang lain muka dengan muka, kecuali dengan mereka yang serumah dengan saya. Dalam kehidupan bergereja, saya menghadiri kebaktian online dan mengikuti acara pemahaman Alkitab yang juga melalui dunia maya. Semua itu tentu rasanya kurang “sreg”; tetapi apa boleh buat karena tidak ada jalan lain, itulah yang bisa saya lakukan, bahkan dengan sanak yang tidak serumah.
Satu hal yang saya kurang sukai dengan berkomunikasi secara elektronik ialah tidak bisanya saya melakukan kontak mata dengan orang yang saya ajak bicara. Dengan tidak adanya kontak mata, saya sering tidak bisa menduga perasaan orang itu. Memang dalam hal ini benarlah pepatah “Dari mata turun ke hati”. Akibatnya, banyak hal yang saya ingin ucapkan harus disampaikan dengan lebih berhati-hati; dan apa yang saya pandang sulit untuk dikatakan tanpa berjumpa muka, akan saya tunda sampai saat dimana saya bisa bertemu dengan orang itu. Saya tentu berharap bahwa pandemi ini bisa diatasi secepatnya karena ada banyak orang, terutama mereka yang sudah lanjut usia, yang menderita karena tidak bisa berjumpa muka dengan muka dengan keluarga mereka.
Seperti komunikasi antar manusia, doa adalah percakapan antara Tuhan dengan umatNya. Setiap orang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan tentu sering berdoa, bukan hanya dua atau tiga kali sehari, tetapi sesering mungkin, terutama jika ia rindu atau ingin untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan yang mengasihinya. Mereka yang tidak ingin berdoa mungkin saja terlalu nyaman hidupnya, terlalu sibuk, atau sedang terbenam dalam masalah hidup yang besar. Dalam suka memang banyak orang yang lupa untuk menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan. Bagi mereka yang hidupnya penuh dengan kesibukan, berdoa mudah untuk dikesampingkan. Dan bagi banyak orang berada dalam kesulitan, mengucapkan doa tidaklah mudah karena hati yang terluka atau penuh rasa duka.
Berdoa tidaklah mudah dilakukan karena kita tidak dapat melihat Tuhan. Berdoa hanya bisa dilakukan melalui iman. Apalagi, dalam keadaan sekarang ini pikiran kita mungkin terisi oleh berbagai macam kekuatiran. Dengan pikiran yang kusut, doa kita mungkin hanya berupa tangisan dan permohonan dan kurang berisi ucapan syukur kepada Tuhan. Dengan banyaknya tantangan, mungkin kita tidak ingin untuk berlama-lama berbincang dengan Tuhan. Dalam hal ini, iblis selalu mencari kesempatan untuk membuat kita makin malas untuk berdoa atau merasa kecewa kepada Tuhan. Untunglah, sebagai umat percaya kita sudah diberikan Roh Kudus untuk menegur kita jika jarang atau segan untuk berdoa.
Roh Kudus lah yang bisa meyakinkan kita bahwa Tuhan ada; bukan di sana, tetapi di sini bersama dengan kita. Roh Kudus juga membantu kita dalam berdoa jika kita tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, baik dalam suka maupun duka. Dalam menghadapi masalah yang besar, orang seringkali sulit untuk mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Hari ini firman Tuhan mengingatkan kita bahwa ketika kita tidak ingin berdoa, itulah saat dimana kita harus berdoa. Jika kita tidak mau memohon sesuatu dari Tuhan, itulah tandanya bahwa kita sangat membutuhkan Dia. Dalam hal ini, apa yang harus kita lakukan hanyalah membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita. Jika Roh mengingatkan perlunya kita untuk dengan rendah hati berkomunikasi dengan Tuhan, biarlah kita boleh menurut bimbinganNya. Tuhan yang mahakasih ingin agar kita selalu dekat denganNya dalam setiap keadaan! 


