“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Roma 10: 17
Dari mana datangnya cinta? Menurut pantun lama, cinta datang dari mata, yang kemudian turun ke hati. Mata yang melihat adanya suatu sosok yang menarik, kemudian menimbulkan rasa suka yang diteruskan ke hati. Dengan demikian, cinta yang sedemikian tidaklah jauh berbeda dengan rasa suka ketika orang melihat sebuah mobil baru yang mengkilat dan kemudian bertekad untuk membelinya. Cinta yang hanya berhenti di hati seseorang mungkin hanya membawa rasa suka kepada orang itu saja. Sebaliknya, cinta yang benar bukan saja cinta yang sudah turun ke hati tetapi cinta yang kemudian mengalir keluar sebagai tekad untuk membahagiakan orang yang dicintai untuk selamanya.
Jika pantun cinta di atas adalah menyangkut hubungan antar manusia, bagaimana pula manusia bisa “jatuh cinta”, mempunyai iman kepada Tuhan yang tidak kelihatan? Bagi kita yang tidak pernah menjumpai Kristus, sudah tentu bukan mata jasmani kita yang bisa menimbulkan rasa cinta. Dengan demikian, kita tidak mengasihi Dia karena penampilanNya, tetapi karena apa yang sudah dilakukanNya kepada kita: karena Ia sudah lebih dulu mengasihi kita, dengan mengurbankan diriNya di kayu salib, ganti kita.
Ayat di atas menulis bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Tuhan. Dengan demikian, iman datang dari Tuhan yang melalui Firman Tuhan (Rhema) melalui Yesus Kristus, yaitu Logos atau Tuhan sendiri yang turun ke dunia. Dengan bimbingan Logos, manusia bisa mendengar apa yang difirmankan Tuhan dan kemudian mengerti bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya untuk menuju surga.
Cukupkah bagi manusia untuk mendengar apa yang dikehendaki Tuhan? Cukupkah mereka untuk percaya dalam hati mereka? Bagi banyak orang Kristen, menjadi orang beriman agaknya adalah suatu kebiasaan saja. Apa yang didengar belum tentu dijalankan dalam hidup mereka. Mereka belum tentu mau menyatakan iman mereka dengan tegas melalui hidup mereka. Apa yang ada dalam hati tidak nampak dalam tindak tanduk, perkataan dan perbuatan mereka.
Pagi ini, jika kita ke gereja biarlah kita sadar bahwa jika ada kemauan dalam hati kita untuk mendengarkan firmanNya itu adalah baik. Tetapi, iman yang benar haruslah dinyatakan keluar dalam hidup kita setiap hari.
“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10





Ayat di atas adalah ayat yang sangat terkenal, karena merupakan Amanat Agung (the Great Commission) yang diberikan Yesus kepada murid-muridNya. Perintah ini diberikan setelah kebangkitan Yesus dan kesebelas murid Yesus berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Perintah untuk memberitakan Injil adalah perintah Yesus yang terakhir sebelum Ia naik ke surga.
Sudah lama saya sering mengalami rasa masygul setelah membaca berita di media. Adanya orang-orang yang melakukan kejahatan kepada sesama manusia di berbagai tempat membuat saya bertanya-tanya apakah masih ada tempat yang aman di dunia ini. Selandia Baru, misalnya, pernah dianggap sebagai salah satu negara yang paling aman di dunia. Tapi itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Memang sejak dua puluh tahun terakhir ini keadaan dunia berubah luar biasa dengan adanya kekejaman dan kekacauan di berbagai tempat. Mereka yang merasa berada di tempat terlindung justru bisa mengalami kejadian yang mengerikan. Apa yang diharapkan untuk bisa melindungi, ternyata tidak bisa memberi bantuan.
Dua hari terakhir ini di beberapa tempat di Australia terjadi kebakaran hutan yang menghanguskan banyak rumah penduduk. Memang udara yang panas dan daun-daunan yang kering membuat kebakaran mudah terjadi. Terkadang kebakaran besar seperti ini terjadi karena kilat yang menyambar rumput kering, tetapi sekarang ini lebih sering terjadi karena tangan-tangan usil anak remaja yang membakar rumput sekedar untuk mendapat sensasi yang menggetarkan hati. Mereka yang melakukan itu seolah merasa puas jika kebakaran yang terjadi bisa membuat bingung banyak orang termasuk aparat kepolisian. Mereka mungkin merasa puas jika polisi tidak dapat menemukan siapa yang bersalah.