Jangan biarkan perasaan menjadi tumpul

“Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.” Efesus 4: 19

Dalam kehidupan sehari-hari ada istilah “orang yang tidak berperasaan”, yang artinya orang yang tidak lagi sensitif atas suatu hal yang terjadi di sekelilingnya. Orang yang sedemikian adalah orang yang “kebal”, yang tidak lagi dapat merasakan hal-hal yang kurang baik yang dilakukan oleh dirinya sendiri atau orang lain.

Ada banyak faktor yang bisa membuat orang kehilangan perasaan. Biasanya, faktor-faktor seperti lingkungan, kebiasaan, budaya, pendidikan, hukum dan agama mempunyai andil dalam membentuk perasaan seseorang. Tetapi, pada akhirnya setiap orang tentunya bertanggung jawab atas kehidupannya.

Adalah kenyataan bahwa karena banyaknya hal yang dianggap biasa atau normal, lambat laun membuat orang tidak peka dan kemudian kehilangan perasaan. Dengan demikian, hal- hal yang bisa membuat orang lain mengerutkan dahi atau menghela nafas, untuk mereka adalah soal yang tidak lagi perlu dipikirkan.

Jika kita melihat keadaan di sekeliling kita, ada banyak contoh dimana orang tidak lagi merasa canggung untuk berbuat dosa. Di dunia ini, mereka yang melakukan korupsi, perbuatan asusila, perampasan, pencurian, penipuan dan semacamnya sering muncul di koran, dan para pelakunya mungkin tidak lagi menakuti sanksi atau hukuman yang ada. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari, hubungan antar manusia juga berubah sehingga apa yang dulu tidak baik, sekarang dianggap sebagai bagian hak azasi, kebebasan atau budaya manusia modern.

Mereka yang membaca hal-hal ini di media, mungkin juga sudah tidak lagi heran dan karena itu kurang sensitif atas penyebab dan akibat perbuatan jahat semacam itu. Masyarakat dalam hal-hal tertentu justru menganggap apa yang dulunya jahat atau dosa sebagai sesuatu yang lumrah, dan malahan memusuhi orang yang berusaha mengingatkan bahwa firman dan hukum Tuhan tidaklah berubah sepanjang zaman.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa dalam satu segi kita mungkin sudah mengalami perubahan, yaitu dari tidak mengenal Yesus, kita sekarang sudah mengakui Dia sebagai Juruselamat kita. Walaupun demikian, mengakui dengan mulut saja belumlah berarti bahwa kita sudah menerima Dia dengan sepenuhnya. Jika kita tidak membiarkan Tuhan bekerja dalam hidup kita, hidup kita tidaklah akan berubah menjadi semakin baik. Sebaliknya, jika Roh Kudus bekerja dengan sepenuhnya dalam hati kita, Ia akan membimbing kita hingga perasaan kita tidak akan menjadi tumpul.

“Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Efesus 4: 17

Bukan cinta buta

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8 – 9

Apa arti kata cinta buta? Cinta buta mungkin bisa diartikan sebagai rasa cinta yang tidak berdasarkan alasan yang bisa diterima akal sehat. Selain itu, kejadian dimana seseorang jatuh cinta kepada orang lain yang tidak benar-benar dikenal, dalam pandangan umum mungkin adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa cinta itu buta. Love is blind.

Banyak orang yang berpendapat bahwa cinta itu pada umumnya seharusnya tidak buta dan manusia yang jatuh cinta tidak seharusnya membabi-buta. Memang jika dua insan bisa jatuh cinta tanpa mengenal dan mengetahui sifat masing-masing, itu tentunya membawa resiko. Dan orang yang tahu bahwa orang yang disenanginya adalah buruk sifatnya tetapi tetap bertekad untuk hidup dengan orang itu, tentunya adalah orang yang buta pikirannya.

Bagi orang yang melihat umat Kristen yang mengaku Yesus sebagai Juruselamat mereka dan mengasihi Dia dengan sepenuh hati, mungkin ada juga perasaan bahwa cinta umat Kristen adalah buta. Bagaimana mungkin mereka mengasihi seseorang yang tidak pernah dijumpai? Bukankah Yesus hanya ada dalam Alkitab? Mungkin umat Kristen adalah orang-orang yang bodoh!

Dari ayat diatas kita bisa mengetahui bahwa kasih kita kepada Yesus adalah karena Ia sudah memungkinkan kita untuk menerima keselamatan. Yesus sudah lebih dulu mengasihi kita, dengan mau mati berkurban untuk menebus dosa manusia. Tidak ada orang yang bisa menjamin keselamatan kita selain Yesus, Anak Tunggal Allah. Karena itu sekalipun kita belum pernah melihat Dia, kita sudah bisa merasakan kehadiranNya dalam hidup kita.

Pagi ini, kita bisa merenungkan keadaan disekitar kita. Adakah orang atau oknum yang bisa menjanjikan keselamatan untuk manusia? Adakah orang yang pernah memastikan bahwa di surga ada banyak tempat kediaman untuk orang percaya? Semua tokoh agama di dunia mengharuskan manusia untuk mencapai surga dengan usaha sendiri. Apa itu mungkin dilakukan?

Dengan usaha sendiri, manusia tidak akan dapat memenuhi standar kesucian Tuhan. Menurut Tuhan semua manusia sudah berdosa dan hidup mereka seharusnya berakhir di neraka. Hanya Yesus yang sanggup memberi kita keselamatan, dan hidup kekal karena Ia adalah Tuhan sendiri. Karena itu, tidaklah mengherankan bahwa orang Kristen bisa merasakan sukacita yang luar biasa dalam hidup mereka. Roh Kudus yang ada dalam hati kita sudah membuka mata rohani kita sehingga kita yang dulunya buta, sekarang bisa melihat kasihNya.

Amazing Grace, How sweet the sound

That saved a wretch like me

I once was lost, but now am found

T’was blind but now I see

Arti liburan untuk orang Kristen

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Kolose 3: 17

Akhir minggu ini adalah permulaan liburan bagi banyak sekolah dan universitas di Australia. Pada umumnya liburan ini berlangsung selama dua minggu, kecuali untuk sekolah swasta yang mempunyai lebih banyak hari libur. Biasanya, pada musim liburan seperti ini tempat kamping (camping ground) di berbagai tempat pesiar dipenuhi banyak caravan.

Liburan adalah sesuatu yang umumnya disambut orang dengan gembira, kalau itu diartikan sebagai kesempatan untuk beristirahat dan menikmati hidup. Walaupun demikian, bagi mereka yang tetap harus bekerja atau tidak mempunyai kesempatan untuk berlibur, adanya hari libur mungkin bisa mendatangkan rasa sebal.

Alkitab tidak secara jelas membahas soal liburan selain adanya satu hari yang dikhususkan untuk beristirahat dan memuliakan Tuhan. Memang diluar libur sehari dalam seminggu, hari libur lainnya ditentukan oleh kebijaksanaan pemerintah atau organisasi setempat. Dalam hal ini banyak negara yang menentukan adanya liburan selama beberapa minggu dalam setahun kepada mereka yang bekerja, agar mereka dapat beristirahat untuk memulihkan keadaan tubuh dan pikiran.

Walaupun tidak jelas dikemukakan, sebenarnya Alkitab juga memberi gambaran adanya liburan untuk prajurit Israel pada kitab 1 Tawarich 27: 1.

“Adapun orang Israel, inilah daftar para kepala puak, para panglima pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pengatur yang melayani raja dalam segala hal mengenai rombongan orang-orang yang bertugas dan libur, bulan demi bulan, sepanjang tahun. Setiap rombongan berjumlah dua puluh empat ribu orang.”

Ternyata, pada zaman dulu orang sudah mengerti perlunya untuk bekerja dan berlibur. Memang, jika orang harus bekerja terus tanpa adanya liburan panjang, mereka akan mudah menjadi lelah (fatigue).

Jika liburan panjang itu perlu, apa yang bisa dikerjakan pada waktu itu? Pertanyaan ini agaknya aneh bagi mereka yang ingin untuk 100% beristirahat tanpa mau memikirkan pekerjaan atau tugas. Tetapi, bagi mereka yang senang bekerja, pertanyaan ini adalah lumrah. Jika liburan tidak diisi dengan kegiatan, memang itu bisa juga membosankan dan juga melelahkan. Lalu kegiatan apa yang sebaiknya dilakukan?

Bagi umat Kristen, liburan panjang bukan berarti libur dari memuliakan Tuhan. Banyak orang yang berpikir bahwa selama liburan kegiatan memuji Tuhan dan bersyukur kepadaNya boleh dikurangi. Namun ayat pembukaan kita berkata bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan, kita wajib melakukannya dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah, Bapa kita. Dengan demikian, adanya liburan dari pekerjaan dan aktivitas rutin justru seharusnya memberi kita kesempatan yang lebih besar untuk bersyukur atas kasihNya. Dengan demikian, liburan panjang adalah sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

Berpihak kepada siapa?

“Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Yakobus 4: 4

Bulan ini pertandingan tenis Wimbledon dimulai. Mereka yang menggemari tenis tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menonton TV channel yang menyiarkan pertandingan ini. Wimbledon adalah turnamen tenis yang paling tua sedunia dan dipandang paling elit diantara pertandingan tenis grand slam lainnya.

Bagi mereka yang mengikuti Wimbledon, sistim pertandingannya tidaklah jauh berbeda dengan pertandingan sepakbola sedunia. Setiap pemain yang terpilih untuk ikut bertanding harus menghadapi lawannya, dan jika menang ia bisa maju ke babak berikutnya. Dalam hal ini, pecinta tenis sejati tentu mempunyai seorang pemain favorit yang diharapkan untuk memenangkan semua pertandingannya dan kemudian menjadi juara. Bagi mereka, tidak ada pemain lain yang patut dikagumi selain favorit mereka.

Bagi orang-orang Kristen sejati, Tuhan adalah satu-satunya Oknum yang patut dihormati. Mereka percaya bahwa tidak ada hal, benda atau makhluk apapun yang bisa dimuliakan selain Tuhan. Semua yang di luar Tuhan adalah kesia-siaan dan pada akhirnya akan lenyap atau mati. Karena itu, Tuhan yang mengasihi umatNya, ingin agar mereka selalu menyadari bahwa jika ada yang terlihat sebagai sesuatu yang berharga di mata manusia, semua itu bukanlah tandingan Tuhan.

Adalah suatu yang mengherankan jika ada orang Kristen yang masih mengagumi sesuatu yang terlihat berharga di dunia ini. Mungkin itu adalah cara hidup, gaya hidup, harta-benda, karir ataupun orang-orang tertentu yang dikagumi. Bagi Tuhan, semua itu adalah tindakan penyelewengan. Bagaimana bisa orang yang mengaku bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang mahakuasa, Sang Juara di atas segala juara, tetapi tetap mau mendukung apa yang fana?

Tuhan adalah Tuhan yang cemburu jika Ia melihat bahwa sebagian umatNya mempunyai banyak favorit, yang membuat mereka sering melupakan bahwa Tuhan saja yang patut disembah dan dimuliakan. Melihat umatNya yang bersahabat dengan dunia, Tuhan dengan tegas berkata bahwa mereka menjadikan diri mereka musuhNya. Umat Tuhan tidak bisa mendukung Tuhan dan juga pengikut dunia. Umat Tuhan tidak dapat menjadi pendukung Tuhan dan juga pendukung iblis.

Dalam pertandingan antara Tuhan dengan iblis, iblis sudah dikalahkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Mengapa pula ada orang-orang yang masih mengagumi iblis dan segala tipu-dayanya yang membawa kebinasaan?

Siapakah Tuhanmu?

“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Matius 3: 16 – 17

Di dunia ini ada banyak agama dan ada banyak orang yang beragama. Jika kita mungkin mengenal adanya sekitar 10 agama di suatu negara, itu tidaklah banyak. Diperkirakan ada sekitar 4200 agama di dunia. Sekitar 84% penduduk dunia mengaku beragama, dan sepertiga diantaranya menganut agama Kristen. Walaupun demikian, tidak ada data yang menjelaskan berapa banyak orang beragama yang mengenal Tuhan mereka.

Bagi mereka yang beragama, adanya Tuhan tentunya adalah suatu kenyataan tidak dapat dibantah. Mereka bisa melihat bahwa seluruh jagad raya tidak bisa muncul dengan sendirinya tanpa ada yang mencipta dan yang mengatur. Apalagi, dalam hidupnya manusia bisa mengalami hal- hal yang ada di luar kuasa mereka. Karena itu, dari zaman purba manusia selalu berusaha mengenal siapa yang dibalik semua hal yang terjadi dalam alam semesta. Oknum yang mahakuasa yang ada dari awalnya itulah yang mereka percayai sebagai Tuhan,

Walaupun demikian, jika kepada orang yang beragama diajukan sebuah pertanyaan apakah mereka mengenal Tuhan mereka, seringkali jawabnya kurang meyakinkan. Tidak seorang pun yang pernah melihat sang tuhan, dan apa yang bisa dilihat biasanya adalah gambar, patung atau wakil/penjelmaan tuhan mereka. Sifat apa yang seharusnya nyata ada dalam Tuhan, seperti mahatahu, mahakuasa, kekekalan dan lain-lainnya, tidaklah bisa ditemukan di dunia. Semua “tuhan” yang ada di dunia adalah benda mati atau manusia yang pernah hidup atau yang bakal mati.

Bagaimana dengan Tuhan orang Kristen? Dapatkah orang Kristen mengenal Tuhan mereka? Manusia tidak akan dapat mengenal Tuhan yang mahabesar dan mahasuci jika Tuhan sendiri tidak membuat diriNya dikenal oleh umatNya. Pada zaman Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan diriNya dalam berbagai bentuk yang ajaib seperti api atau suara, tetapi manusia yang berdosa tidak dapat melihat Dia secara pribadi. Tuhan memang mengirimkan nabi-nabi untuk mewakiliNya, tetapi mereka semua adalah manusia fana yang berdosa dan tidak sempurna.

Manusia hanya dapat mengenal Tuhan jika Ia turun ke dunia sebagai manusia seperti kita, hanya saja Ia tidak berdosa dan tidak dapat mengalami kematian. Tuhan yang benar adalah sumber kehidupan dan karena itu tidak dapat dikalahkan maut. Tuhan yang mahahadir, sudah tentu ada dimana-mana di antara umatNya di segala zaman. Hanya satu Oknum yang bisa memenuhi persyaratan di atas: Yesus Kristus.

Pada ayat di atas ditulis bahwa pada saat sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Roh Allah turun seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Ayat di atas menegaskan bahwa bagi umat Kristen hanyalah ada satu Tuhan, dan Yesus Anak Allah adalah Allah sendiri yang turun ke dunia sebagai manusia yang dipenuhi Roh Allah. Yesus sudah lahir, mati, bangkit dan naik ke surga, dan itu dapat dilihat mata manusia dan tercatat dalam sejarah. Karena itu, bagi kita tidaklah sulit membayangkan bahwa Allah adalah seperti Yesus: mahakasih, mahaadil dan mahakuasa. Lebih dari itu, karena Yesus yang sekarang di surga sudah memberikan Roh Kudus kepada setiap umatNya, tidaklah sulit bagi kita untuk merasakan bahwa Tuhan beserta kita setiap saat dan untuk selamanya. Pujilah Tuhan yang dalam Yesus Kristus sudah menebus dosa kita dan memberikan pengenalan akan kasih dan kebesaranNya!

Gelombang kehidupan selalu ada

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2 – 3

Sekitar 25 tahun yang lalu saya tinggal di kota Sydney, kota terbesar di Australia yang berpenduduk sekitar 4 juta. Pada waktu itu saya senang sekali memancing dan salah satu tempat yang paling sering saya kunjungi adalah pantai Manly yang berada di daerah Sydney Harbour. Di dermaga feri Manly, setiap akhir minggu biasanya banyak orang yang seperti saya berdiri memegang pancing dan berharap untuk menangkap ikan besar jika lagi mujur. Memang sekalipun daerah itu terkenal banyak ikannya, tidak selalu orang bisa mendapat ikan. Dari pengalaman, saya belajar bahwa jika ombak terlalu besar biasanya ikan-ikan bersembunyi di karang-karang dan tidak bisa dipancing. Seperti feri Manly yang dihempas ombak, ikan yang hidup di laut pun  tidak sanggup menghadapi arus atau gelombang yang terlalu besar!

Seperti ikan, kita yang hidup di dunia ini sering merasa capai dan takut dengan keadaan di sekeliling kita. Karena itu, kita mungkin merasa sangat menderita jika gelombang kehidupan yang besar datang melanda. Hal ini agaknya tidak mengherankan, karena tentu tidak ada manusia yang menyenangi adanya masalah kehidupan. Siapa yang tidak ingin hidup yang tenteram dan damai? Seperti ikan yang senang berenang di air tenang, sudah tentu semua manusia mendambakan adanya hidup yang berkecukupan dan yang bisa terus dinikmati. Tetapi itu bukanlah kenyataan hidup.

Adalah fakta bahwa semua makhluk hidup pernah mengalami saat-saat yang tidak menyenangkan atau berbahaya. Sebagian makhluk malahan sudah punah (extinct) karena tidak sanggup memenangkan perjuangan hidup mereka, baik karena keadaan lingkungan maupun serangan makhluk lain. Tetapi manusia sebagai makhluk yang paling besar ukuran otaknya, secara umum tidak pernah mengalami ancaman yang menjurus kearah kepunahan. Manusia sebagai peta dan teladan Allah diberi kemampuan untuk menghadapi segala tantangan hidup dan justru makin kuat dan makin mampu menghadapi masalah kehidupan, terutama dengan majunya teknologi. Karena itu juga, jumlah manusia di dunia ini makin membengkak dan sekarang lebih dari 7,5 miliar jiwa.

Bertambahnya penduduk dunia tidaklah berarti bahwa semua manusia hidup dalam kecukupan dan kebahagiaan. Justru sebaliknya, ada banyak penduduk di dunia yang masih hidup dalam penderitaan. Begitu juga dengan bertambahnya jumlah orang yang menemukan keselamatan dalam Kristus, ada banyak yang masih harus berjuang mati-matian dalam hidup sehari-hari. Bagi banyak orang Kristen, gelombang kehidupan yang tidak kunjung reda membuat mereka sangat lelah dan putus asa. Mereka yang ingin untuk mencari ketenangan sekalipun hanya sejenak, seringkali sulit untuk mendapatkannya.

Ayat di atas menyebutkan bahwa sekalipun adanya gelombang kehidupan tidaklah membawa rasa nyaman, kita bisa menganggap itu sebagai kebahagiaan, sebagai suatu berkat. Bagaimana mungkin? Itu karena kita tahu bahwa ujian terhadap iman akan membuat kita ingat bahwa kita harus mencari tempat berlindung dalam Tuhan. Tiap-tiap kali kita menghadapi gelombang kehidupan, tiap kali juga kita diingatkan bahwa Tuhan senantiasa melindungi umatNya. Oleh karena itu, dengan adanya tantangan kehidupan, kita bisa menjadi makin tekun dalam berdoa, dalam bersekutu dengan saudara seiman dan dalam mengikuti perintahNya. Gelombang kehidupan selalu ada, tetapi itu tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38 – 39

Menginjil harus dengan kasih

“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam omongan yang sia-sia.” 1 Timotius 1: 5 – 7

Ada orang yang berkata bahwa tujuan menghalalkan cara. Siapa yang mempunyai maksud baik, tidak perlu ragu-ragu untuk bertindak. Barangkali ini seperti kisah Robin Hood dalam buku cerita anak-anak yang tidak segan-segan mencuri atau merampok harta orang kaya untuk bisa dipakai menolong orang miskin.

Bagi orang Kristen, sudah tentu tujuan tidak menghalalkan cara. Jika tujuan harus baik, begitu juga cara untuk mencapainya. Ini bukanlah mudah untuk dilakukan karena seringkali orang berambisi untuk mencapai hasil baik dalam waktu yang sesingkat mungkin dan dengan cara yang semudah mungkin. Memang, ada rasa puas dan mungkin rasa bangga jika keberhasilan dapat dirasakan tanpa harus menunggu lama.

Salah satu tugas umat Kristen adalah untuk mengabarkan injil. Ini adalah tugas yang paling utama yang dinyatakan Yesus sebagai Amanat Agung (the Great Commission) dalam Matius 28: 18 – 20. Oleh sebab itu, banyak orang Kristen dengan semangat yang menggebu-gebu ingin agar orang lain juga bisa diselamatkan. Karena itu, sering terlihat di berbagai media adanya berbagai pidato, tulisan dan rekaman yang bernada keras dan menyerang orang lain. Baikkah semua itu? Alkitab menyatakan bahwa sekalipun tujuannya baik, penginjilan harus dilaksanakan dengan cara yang baik karena jika tidak, kekacauan dan kebencian justru akan muncul.

Paulus dalam ayat diatas menyatakan bahwa untuk membawa orang lain kepada keselamatan, orang percaya harus bisa memberi nasihat yang benar. Ia menjelaskan jika kita berusaha membawa orang lain kepada keselamatan, itu harus dilakukan tanpa menimbulkan perdebatan sia-sia yang menimbulkan kekacauan.

Tujuan nasihat itu ialah untuk menyatakan kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas. Bukan didasarkan pada kebencian, rasa tidak suka atau kepentingan pribadi. Dengan demikian, tujuan mengabarkan Injil adalah untuk menyatakan kasih kita kepada mereka yang belum mengenal Tuhan, agar mereka menyadari betapa besar kasihNya yang sudah menurunkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa mereka yang percaya. Karena itu, setiap orang yang kemudian percaya kepada Tuhan akan memiliki kasihNya. Orang yang menabur kasih Tuhan akan menuai kasih dan bukan kebencian.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Pentingnya fondasi hidup

“Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Matius 7: 26 – 27

Sudah seminggu ini media di Australia ramai memberitakan kasus bangunan apartemen di Sydney yang mengalami kerusakan berat sehingga semua penghuninya harus mengungsi. Kejadian ini bukan yang pertama karena beberapa bulan yang lalu ada kejadian yang serupa. Pada kejadian yang terakhir, bangunan apartemen mengalami retak-retak yang membahayakan sehingga atap beton dari tempat parkir bawah tanah harus ditopang dengan tiang-tiang besi.

Pada umumnya setiap bangunan baru di Australia hanya mempunyai garansi selama 6 tahun dari pemborongnya, dan karena itu pemilik apartemen yang sudah berumur 10 tahun ini tidak dapat menuntut ganti rugi. Untunglah pemerintah setempat mau menolong setiap penghuni apartemen ini untuk sementara waktu, dengan memberikan biaya penginapan hotel sekitar $200-400 semalam sampai keputusan bisa diambil tentang nasib bangunan yang fondasinya ambles ini. Menurut perkiraan, untuk memperbaiki kerusakan yang cukup berat ini diperlukan biaya lebih dari satu juta dolar. Dalam hal ini mungkin tidak ada asuransi yang mau membayarnya karena semua itu adalah hal yang tidak pernah dipikirkan.

Ayat diatas disampaikan oleh Yesus Kristus untuk menggambarkan bagaimana orang yang bodoh mendirikan rumahnya di atas tanah pasir yang tidak stabil. Karena fondasi rumah yang tidak kuat, kerusakan besar kemudian terjadi ketika hujan dan banjir datang. Lain dari kerusakan benda-benda lain, kerusakan rumah atau bangunan bisa berakibat serius karena tidak saja ukuran dan beratnya yang lebih besar, tetapi juga karena bahan yang dipakai untuk membuat rumah tidaklah mudah diperbaiki atau disambung. Dengan demikian, rumah yang sudah rusak, retak atau miring kemudian akan mudah untuk runtuh. Mereka yang bodoh, yang tidak mempunyai fondasi hidup yang kuat, akhirnya bisa mengalami kehancuran hidup ketika badai kehidupan datang.

Apa yang dilakukan oleh seseorang yang ingin membangun rumah pada zaman dulu? Jika pada zaman sekarang orang bisa membangun rumah dia atas segala macam jenis tanah dengan memakai fondasi yang cocok, pada zaman dulu orang memilih tanah yang kuat yang bisa bertahan menghadapi erosi angin, dorongan air banjir atau berat bangunan. Tanah yang baik untuk bangunan adalah tanah yang padat dan kuat, seperti halnya tanah batu (rock). Seperti itulah jika kita mau membangun hidup yang kuat, yang tahan menghadapi topan kehidupan, kita harus memilih fondasi kehidupan yang benar-benar mampu untuk menyokong hidup kita.

Fondasi kehidupan yang bagaimana yang bisa menyokong hidup kita di masa depan? Banyak orang berpikir bahwa semua yang ada di dunia ini bisa dibeli. Asal ada uang, masa depan tentu terjamin. Ada pula orang yang yakin bahwa fondasi kehidupan adalah kepandaian, karena itu mereka percaya bahwa anak-cucu mereka akan hidup baik jika mereka mendapat kesempatan untuk mengejar ilmu. Selain itu ada juga orang yang percaya bahwa fondasi kehidupan adalah amal-sedekah, karena orang yang murah hati kepada orang lain akan mendapat balasan yang setimpal di hari depan. Oleh sebab itu juga, banyak orang tua yang mengharapkan balasan kebaikan dari anak-anaknya ketika mereka sudah tua. Walaupun demikian, firman Tuhan berkata bahwa orang-orang yang mengharapkan asuransi hari depan dari siapa atau apa pun yang ada di dunia adalah orang-orang bodoh. Dunia dan segala yang ada tidak dapat menjamin kebutuhan hidup jasmani dan rohani manusia.

Yesus mengatakan bahwa hanya orang yang bodoh yang tidak mengerti apa yang bisa menyokong kehidupan manusia. Alkitab secara jelas menyatakan bahwa hanya Tuhan yang bisa memberi kita kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Hanya dalam Tuhan kita mempunyai keyakinan bahwa dalam keadaan apapun kita akan tetap dapat bertahan. Itu karena Tuhan adalah gunung karang yang teguh (rock of ages) yang melalui Yesus Kristus sydah membawa keselamatan bagi setiap orang yang percaya.

Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.” Mazmur 71: 3

Hal berdiri di atas kaki sendiri

“Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu.” 2 Tesalonika 3: 7 – 8

Ayat di atas ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Ayat ini jarang di khotbahkan di gereja, mungkin karena adanya rasa rikuh di pihak orang yang menyampaikan pesan. Membaca ayat ini, memang sepertinya Paulus menyatakan tekadnya untuk “berdikari”, agar ia tidak membebani jemaat. Seolah ada rasa angkuh bahwa ia yang sanggup bekerja tidak membutuhkan bantuan jemaat.

Istilah berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri diperkenalkan oleh Bung Karno dalam pidato 17 Agustus 1965, dimana ia menyatakan tahun itu sebagai “Tahun Berdikari”. Di sini ia menjelaskan tiga prinsip berdikari, yaitu berdaulat dalam bidang politik, ekonomi dan dalam kebudayaan. Bangsa Indonesia, kata Bung Karno, tidak boleh bergantung pada bangsa lain, atau dipengaruhi bangsa lain.

Sekalipun prinsip berdikari itu ada baiknya, sudah tentu dalam era modern dan globalisasi ini, tidak ada satu bangsa atau negara pun yang bisa menutup diri dari bangsa dan negara lain. Demikian juga dalam pergaulan manusia, setiap orang tentunya membutuhkan bantuan orang lain dan wajib menolong mereka yang dalam kesulitan.

Apa yang ditulis oleh Paulus dengan demikian bukan keangkuhan atau rasa tidak butuh akan orang lain. Tetapi, Paulus bermaksud memberi contoh kepada jemaat bahwa sedapat mungkin mereka harus mau bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka sendiri.

Bekerja mencari nafkah adalah perlu bagi semua orang yang masih bisa, agar mereka tidak membebani keluarga, orang lain, gereja atau negara. Ini juga perlu agar orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan akan dapat memperolehnya. Orang Kristen bekerja tidak hanya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, tetapi juga agar bisa memberi contoh kepada orang lain untuk bisa mencukupi kebutuhan mereka sendiri, dan agar bisa menolong orang lain yang benar-benar membutuhkan.

Dalam kehidupan bermasyarakat memang ada orang-orang yang kurang mau untuk bekerja keras. Memang orang-orang yang hanya mau bekerja dengan kondisi tertentu. Selain itu, ada pula orang-orang yang senang menghambur-hamburkan penghasilannya. Mereka yang gaya hidupnya demikian, tentunya sulit untuk berdikari.

Pada pihak yang lain, banyak orang yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi belum juga bisa mendapatkannya. Banyak juga orang yang mau bekerja keras, tetapi hasil yang mereka peroleh belumlah cukup untuk hidup, apalagi untuk ditabung.

Untuk mereka yang bergulat dalam hidup ini dan berusaha untuk berdikari, apa yang ditulis rasul Paulus di atas bisa membawa rasa syukur karena mereka bisa memberi teladan bagi orang lain bahwa sebagai anak-anak Tuhan mereka tidak merasa malu atau takut. Seperti Paulus, mereka tetap berusaha dan berjerih payah siang malam untuk bisa berdikari. Penderitaan mereka bukanlah tanda bahwa Tuhan melupakan mereka atau bukti adanya iman yang lemah.

Sebaliknya, bagi kita yang sudah bisa berdikari dan merasakan kecukupan dalam hidup, biarlah kita tidak lupa bahwa semua yang kita punya datangnya dari Tuhan. Biarlah kita dengan rela dan tanpa rasa terbeban mau membantu mereka yang masih berusaha untuk bisa berdikari, baik dalam bantuan moril maupun materi agar mereka bisa dikuatkan dan ikut bersyukur kepada Tuhan yang mahakasih.

Bukan pasif tetapi aktif

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4: 17

Semua orang yang beragama apapun tentunya tahu bahwa dosa adalah sesuatu yang harus dihindari. Secara umum mereka mengerti bahwa berbuat dosa adalah melakukan apa yang tidak baik dalam pandangan atau ajaran agama masing-masing. Jika mereka melakukan hal yang jahat, itu adalah dosa; sebaliknya jika mereka melakukan hal yang baik, itu membawa pahala.

Dalam banyak hal, apa yang baik dan yang buruk bagi manusia manapun adalah sama. Hal membunuh, mencuri, berbohong dan semacamnya biasanya juga diatur oleh hukum negara, dan karena itu orang berusaha untuk tidak melakukannya. Walaupun demikian, hukum negara biasanya tidak mengatur atau mengharuskan orang untuk berbuat baik. Karena itu, selama tidak ada hukum yang mengharuskan hal atau tindakan tertentu, orang bisa memilih apa yang akan dikerjakannya. Dalam hal ini, jika tidak ada insentif untuk berbuat baik, orang biasanya tidak mau repot untuk melakukannya.

Hal berbuat baik biasanya diatur oleh etika. Etika mengajarkan apa yang baik dan yang buruk dalam hidup bermasyarakat. Adanya etika adalah baik, tetapi tiap bangsa atau masyarakat mempunyai etika tersendiri sehingga apa yang dianggap baik di satu tempat, mungkin adalah sesuatu yang tidak baik di tempat lain. Etika biasanya tidak diatur hukum, sehingga perbuatan yang dianggap buruk tidaklah mengundang hukuman negara, sekalipun mungkin ada sanksi sosialnya.

Bagi orang Kristen, etika Kristen adalah prinsip baik-buruk yang dilandaskan pada Alkitab. Karena itu, etika Kristen seharusnya tidaklah bergantung pada tempat atau masa. Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang mempunyai perbedaan etika karena mereka mempunyai pergumulan yang berbeda dalam hal penerapan firman Tuhan. Mereka mungkin sependapat dalam hal-hal yang buruk atau dosa, tetapi mungkin berbeda dalam usaha untuk melakukan apa yang baik bagi Tuhan dan sesama.

Salahkah jika orang tidak melakukan hal yang baik? Banyak orang berpendapat bahwa mereka boleh memilih untuk “abstain” alias tidak ikut campur dalam berbuat baik. Dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10: 40 – 37), baik imam maupun orang Lewi tidak mau menolong orang Samaria yang menjadi korban perampokan. Bagi mereka, menolong orang lain dan berbuat baik adalah sebuah pilihan dan bukan keharusan. Mereka tidak merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada orang Samaria itu. Dan pada zaman sekarang, banyak orang Kristen yang melakukan hal yang serupa: mereka tidak merasa bertanggung jawab atas adanya hal- hal yang buruk disekitar mereka.

Ayat diatas adalah apa yang seharusnya membuat kita sadar bahwa sebagai orang Kristen, kita harus memegang etika yang sejalan dengan Alkitab. Alkitab bukan hanya menyatakan bahwa perbuatan buruk adalah dosa, tetapi juga jelas menerangkan bahwa jika tidak melakukan apa yang baik untuk Tuhan dan sesama, kita juga berbuat dosa. Menjadi orang Kristen bukan saja pasif dalam arti tidak berbuat dosa, tetapi juga aktif dalam berbuat baik tanpa mengharapkan pahala!