Kesatuan dalam Kristus

“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Yohanes 17: 18 – 21

Di zaman ini, banyak orang menggembar-gemborkan pentingnya perbedaan atau diversity dalam masyarakat.  Mereka berpendapat bahwa adalah baik jika manusia bisa saling menerima, menghargai dan mencintai sesamanya sekalipun mereka berbeda jenis dan status sosial, dan berlainan marga, suku, atau bangsa. Dalam hal ini, untuk umat Kristen hal mengasihi sesama bukanlah barang baru. Tuhan berfirman agar kita mengasihi siapapun di dunia, seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Tambahan pula, kita tahu bahwa keselamatan bukanlah untuk orang-orang tertentu saja, tetapi untuk semua orang yang percaya kepada Kristus.

Memang di zaman ini orang seakan berlomba untuk bisa menerima cara hidup, kepercayaan dan tingkah laku apapun jika semua itu tidak mengganggu orang lain. Tetapi, kebebasan untuk bisa berbeda sering kali membuat orang untuk bertindak semaunya. Lebih dari itu, adanya perbedaan juga bisa membuat orang untuk memaksa orang lain untuk menghormati apa yang diyakininya. Dengan demikian, adanya perbedaan tanpa adanya sesuatu yang mempersatukan bisa membawa kekacauan.

Ketika Yesus masih di dunia, Ia mempunyai 12 orang murid. Mereka yang dipilihnya tidaklah seluruhnya berasal dari tempat yang sama, mempunyai penampilan yang serupa, atau memiliki sifat yang mirip. Dalam kenyataannya, mereka itu adalah orang-orang yang tidak serupa dalam banyak hal, dan karena itu ada kalanya mereka berbeda pendapat. Jika demikian, apakah yang mempersatukan mereka?

Dari ayat diatas kita bisa membaca bahwa Yesus sudah memilih murid-muridNya dan mengutus mereka ke dalam dunia untuk memberitakan injil keselamatan kepada semua orang. Karena itu, adalah jelas bahwa salah satu hal yang mempersatukan mereka adalah Yesus yang sudah memilih mereka, dan adanya satu tugas yang sudah diberikan Yesus kepada mereka. Tetapi, yang paling penting dari itu adalah kenyataan bahwa mereka sudah dipersatukan dalam penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Mereka adalah orang-orang yang berbeda tetapi dipersatukan dalam darah Kristus.

Jika kita bisa melihat bahwa Yesus sudah mempersatukan murid-muridNya dalam satu pengalaman dan satu tujuan, bagaimana pula dengan kita yang tidak pernah melihat Yesus dengan mata atau mengikuti Dia mengembara? Kita hanya mendengar kabar keselamatan atau membacanya dalam Alkitab, dan mungkin mempunyai gambaran dan kesan yang berbeda tentang Yesus. Ayat diatas menunjukkan bahwa Yesus berdoa untuk murid-muridNya agar mereka dikuduskan dalam kebenaran. Tetapi Ia juga berdoa untuk kita yang percaya kepada Dia melalui pemberitaan murid-murid Yesus. Yesus berdoa supaya kita, umat Kristen, menjadi satu seperti dalam Dia; seperti Dia dan Allah Bapa  yang adalah satu. Lebih dari itu, Yesus menghendaki bahwa sekalipun kita berbeda secara manusiawi, karena kesatuan kita dalam Tuhan, dunia bisa mengenal Tuhan melalui hidup kita.

Pagi ini, mungkin kita bisa melihat adanya berbagai umat Kristen yang melakukan ibadah masing-masing dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin saja mereka berbeda dengan kita dalam hal latar belakang, pengalaman, budaya, pendidikan dan sebagainya. Bagi kita, mereka mungkin nampak sebagai orang-orang yang asing ataupun aneh. Adakah hal yang membuat kita lebih bisa menghargai mereka? Tentu saja! Ayat diatas menegaskan bahwa mereka yang benar-benar percaya kepada Yesus akan dipersatukan sebagai murid-murid Kristus. Dalam Kristus semua orang percaya seharusnya bersatu dalam memuliakan Tuhan.

“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Yohanes 17: 23

Dalam kelemahan ada kuasa Tuhan

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 2 Korintus 12: 9

Beberapa hari terakhir ini saya sering merasa lelah. Sebagai seorang dosen, tugas-tugas berat muncul pada saat-saat tertentu, seperti pada waktu saya harus mempersiapkan bahan kuliah baru atau membuat soal-soal ujian. Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Bagaimanapun kuatnya seseorang, tentu dalam keadaan tertentu ia akan merasa capai.Untunglah, jika kelelahan itu hanya dari segi jasmani, dengan beristirahat atau tidur kita mungkin akan dapat memulihkan kekuatan dan kesegaran kita kembali. Tetapi kelelahan rohani mungkin tidaklah mudah diatasi.

Kelelahan memang bisa dirasakan secara jasmani ataupun rohani. Sekalipun dalam hal jasmani orang mungkin masih kuat,  rohaninya mungkin saja sudah mengalami tekanan yang berat. Kelelahan rohani yang tidak teratasi, bisa saja kemudian mempengaruhi keadaan jasmani.  Pada pihak yang lain, kelelahan atau persoalan jasmani yang terus-terusan bisa saja melemahkan kerohanian seseorang. Kita tahu bahwa keadaan rohani seseorang seringkali mempengaruhi hidupnya, sedemikian rupa sehingga hal-hal yang menyedihkan mungkin saja terjadi jika ia tidak dapat lagi menahannya.

Adalah suatu kenyataan bahwa jika seseorang mengalami suatu tantangan, reaksi tubuh bergantung pada apa yang terjadi. Jika apa yang terjadi adalah suatu hal yang memang yang sudah diduga sebelumnya, dan sesuatu yang memang dicari, orang mungkin tidak terlalu mudah untuk merasa lelah atau menyerah. Seorang pelari marathon misalnya, sudah mempersiapkan diri secara jasmani untuk bisa berlari sepanjang 42 km non stop. Ia juga sudah bisa membayangkan bahwa ada kemungkinan bahwa setelah 30 km ia mungkin mengalami apa yang dinamakan “hitting the wall” atau menabrak dinding, yaitu keadaan dimana kekuatan tubuh dan semangat tiba-tiba seakan lenyap. Walaupun demikian, mereka yang memang senang berlomba, tentunya sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan buruk semacam itu,  dan mereka tetap saja bisa menikmati olahraga itu.

Hidup orang Kristen tidaklah jauh berbeda dengan hidup seorang pelari yang berlari menuju ke garis finis. Paulus pernah mengatakan bahwa ia berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah dari Tuhan (Filipi 3: 14). Paulus melupakan apa yang sudah terjadi dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di masa depan, yaitu kemuliaan surgawi dari Tuhan. Ini bukannya mudah, karena Paulus juga mengalami berbagai penderitaan dan ancaman dalam hidupnya. Ia bahkan menulis bahwa ada utusan iblis yang mencoba untuk menghancurkan dia. Tiga kali Paulus meminta agar Tuhan membebaskannya dari penderitaan itu, tetapi Tuhan tidak menolong dia.

Dalam ayat diatas, Tuhan menjawab Paulus. Ia berkata bahwa Paulus  sudah cukup menerima kasih karunia Tuhan dalam hidupnya. Tuhan juga berkata bahwa apa yang dialami Paulus sebenarnya juga berkat Tuhan yang memungkinkan Paulus untuk bisa menyadari bahwa ia harus bersandar kepada Tuhan saja. Karena itu, dalam penderitaannya, Paulus bisa bersyukur. Ia tahu bahwa kalau ia bisa tetap bertahan, itu karena Tuhan  yang menguatkan dia. Seperti seorang pelari, Paulus bisa menerima segala penderitaannya karena ia tahu bahwa Tuhan ingin agar ia menang.

Mungkin saat ini kita mengalami berbagai hal yang membuat jasmani kita lelah. Atau mungkin juga ada persoalan berat yang membuat kita tertekan secara rohani. Kepada siapa kita bisa berseru meminta pertolongan? Jika tidak ada lagi orang yang bisa menolong kita, tentunya hanya Tuhan yang bisa kita harapkan. Seperti Paulus, kita bisa dan harus berdoa memohon pertolongan dari Tuhan. Tidak cukup sekali atau dua kali, kita boleh saja terus berdoa. Tetapi kita harus sadar bahwa dalam penantian kita, Tuhan sebenarnya sudah mendengarkan doa kita dan bahkan tahu apa yang kita paling perlukan. Apa yang paling penting bagi umat Tuhan yang berada dalam kesulitan ialah kesadaran bahwa Tuhan yang mahakasih tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Itulah sebabnya Paulus kuat menghadapi segala persoalan hidupnya. Memang dalam kelemahan kita bisa merasakan adanya kuasa Tuhan. Dialah yang membimbing kita sampai kita menyelesaikan semua tugas kita di dunia.

Kemuliaan Tuhan dapat kita lihat dalam iman

Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Yohanes 11: 40

Dalam Yohanes 11: 1 – 44 diceritakan bahwa ada seorang yang bernama Lazarus yang sakit parah. Lazarus dan kedua saudaranya, Maria dan Marta, adalah orang-orang yang dikenal baik dan bahkan disayangi oleh Yesus. Yesus tahu bahwa Lazarus sakit, tetapi ia menunda kepergianNya ke Betania, kampung  dimana mereka tinggal. Ketika  Yesus datang, Lazarus sudah mati dan dikubur selama 4 hari. Walaupun demikian, Yesus memerintahkan agar batu penutup kubur dibuka. Atas permintaan itu, Marta menjawab dengan heran: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (ayat 39). Tetapi Yesus dalam ayat pembukaan diatas mengingatkan Marta bahwa jika ia percaya, ia akan melihat kemuliaan Tuhan. Memang, seperti kita bisa membacanya, Alkitab menulis bahwa Lazarus kemudian keluar dari kuburnya.

Kisah Lazarus ini adalah kisah yang sangat terkenal yang sering disampaikan dalam bentuk renungan pada upacara kematian orang Kristen. Seperti Lazarus yang dibangkitkan Yesus, orang Kristen yang sudah mati akan dibangkitkan kembali pada saatnya. Inilah yang memberi harapan bagi setiap orang yang percaya, bahwa karena Yesus sendiri sudah bangkit, mereka juga akan memperoleh kebangkitan yang serupa. Kebangkitan Lazarus adalah kebangkitan badani, tetapi orang Kristen yang mati akan mengalami kebangkitan dalam tubuh yang rohani.

“Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.” 1 Korintus 15: 44

Apa yang juga bisa kita simpulkan dari kisah kebangkitan Lazarus adalah kuasa Tuhan yang lebih besar dari kuasa maut. Dalam pikiran manusia, apa yang diperbuat Yesus adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Secara kedokteran, tubuh manusia mengalami proses pembusukan segera setelah datangnya kematian. Lazarus bukan saja sudah mati, ia sudah busuk tubuhnya. Bagaimana Yesus bisa mengembalikan kehidupan pada tubuh yang sudah busuk menunjukkan bahwa Ia adalah Anak Allah yang diutus untuk turun ke dunia (ayat 42). Dengan kelambatan Yesus untuk pergi ke Betania yang disengajaNya, Yesus membuka kesempatan bagi orang-orang yang belum pernah melihat kemuliaan Tuhan untuk kemudian bisa memuji Tuhan karena bisa melihat bagaimana besarnya kuasaNya.

Kisah Lazarus sebenarnya bukan sekedar kisah orang mati yang dibangkitkan. Kisah Lazarus adalah kisah tentang kemuliaan Tuhan yang dinyatakan kepada manusia yang lemah dan mengalami penderitaan. Bahwa mereka yang menderita tetapi percaya kepada Tuhan akan menerima pertolongan Tuhan pada waktunya. Mungkin kita bisa membayangkan bahwa hidup kita seringkali adalah seperti tubuh Lazarus. Karena berbagai masalah dan penderitaan yang kita alami, seringkali kita merasa bahwa tidak ada apapun yang bisa dilakukan Tuhan untuk memperbaiki keadaan. Seandainya Tuhan muncul lebih awal, mungkin Ia bisa menolong, begitu mungkin kita berpikir. Tetapi karena sekarang nasi sudah menjadi bubur, apakah yang dapat dilakukanNya?

Kebangkitan Lazarus dari kematian adalah kebangkitan jasmani. Itu terjadi di dunia dan tubuh Lazarus yang bangkit bisa dilihat oleh mata dan diraba oleh tangan-tangan manusia disekelilingnya. Dengan demikian, Tuhan jelas berkuasa atas hukum alam, hukum jasmani yang seringkali membuat hidup sehari-hari kita menjadi berat. Betapa sering kita merasa bahwa Tuhan yang Roh hanyalah mau menguatkan rohani kita dan membimbing kita dalam iman bahwa pada suatu saat kita akan melihat kemuliaanNya di surga. Tetapi, dengan kebangkitan Lazarus, kita bisa melihat bahwa sebagaimana Yesus mengasihi Lazarus, Ia juga mengasihi kita selama kita hidup di dunia.  Sebagaimana Lazarus dibangkitkan agar mereka yang percaya bisa melihat kemuliaan Tuhan dan memuji Dia, Tuhan juga mau menolong kita dalam masalah apapun jika kita percaya dengan iman bahwa Tuhan sanggup melakukan apa saja yang sesuai dengan kehendakNya.

Pagi ini, apakah kita merasa bahwa hidup kita seperti Lazarus yang sudah dikubur selama empat hari? Apakah kita mengalami masalah yang besar, yang menurut pandangan manusia sudah merupakan masalah yang tidak bisa diatasi? Yesus berkata bahwa jika kita percaya kepadaNya, kita akan bisa melihat kuasa dan kemurahan Tuhan. Mungkin apa yang akan dikerjakan Tuhan adalah sesuatu yang tidak kita akan bisa mengerti, tetapi apapun yang terjadi pastilah akan membuat kita pada akhirnya mengakui bahwa Ialah Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih  yang patut dimuliakan.

 

 

Siapa yang butuh?

“Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.” Mazmur 50: 9 – 10

Dengan berkurangnya jumlah orang Kristen, banyak gedung gereja di Australia yang dijual dan kemudian dipakai untuk berbagai fungsi, seperti restoran, mesjid, hotel dan sebagainya. Memang, jika pengunjung tetap sebuah gereja berkurang, pada suatu saat gereja tidak akan dapat menggaji pendeta atau memelihara fasilitas yang ada. Karena itu, pada saat tertentu keputusan harus diambil untuk menjual gedung  gereja sehingga uangnya dapat dipakai untuk maksud-maksud lain yang lebih berguna.

Sebagian orang berpendapat bahwa karena gereja membutuhkan pengunjung  dan uang kolekte, pastilah Tuhan membutuhkan manusia untuk memasyhurkan namaNya. Tetapi pendapat ini jelas tidak benar. Ayat diatas menyatakan bahwa Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, adalah bukan Tuhan yang membutuhkan “sedekah” manusia. Tuhan tidak juga membutuhkan usaha manusia untuk menyumbangkan waktu guna pelebaran kerajaanNya di dunia. Tuhan yang mahakuasa dan mahakaya sudah tentu bisa untuk membuat segala sesuatu berjalan dengan baik tanpa bantuan ciptaanNya, manusia. Tuhan juga tidak membutuhkan orang Kristen dengan segala kepandaian mereka untuk bisa membuat Dia dikenal oleh dunia. Segala dogma, doktrin dan sistem teologi yang diciptakan manusia bukanlah sesuatu yang memungkinkan eksistensi Tuhan di dunia.

Mereka yang merasa bahwa eksistensi Tuhan di dunia bergantung pada usaha manusia mungkin adalah orang-orang yang kurang mengerti bahwa Tuhan adalah asal segala sesuatu yang baik di dunia. Mereka jugalah yang sering merasa bangga dan bahkan sombong bahwa segala kemampuan mereka terlihat penting di gereja, dan merasa senang karena orang lain menghormati serta menghargai pengabdian dan sumbangsih mereka. Mereka mungkin juga melakukan hal-hal yang terlihat baik itu karena adanya kekuatiran bahwa Tuhan kecewa jika mereka tidak memberikan amal-ibadah yang besar.

Tuhan pencipta langit dan bumi tidak membutuhkan kita dan apa yang kita punya. Dia tidak juga membutuhkan penyembahan kita dalam segala bentuknya. Tuhan tidak kehilangan kebahagiaan jika tidak ada manusia yang menyembah Dia. Walaupun demikian, dalam Alkitab ada banyak ayat yang menyatakan bahwa Tuhan merasa sedih dan bahkan marah ketika manusia mengabaikan Dia. Mengapa begitu?

Tuhan tidak membutuhkan kita, tetapi sebaliknya  Ia menghendaki kita untuk sadar akan kebutuhan kita kepadaNya. Itu karena Tuhan tahu bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa Dia. Bukan saja mengenai hidup kita di dunia, hidup kita yang sesudahnya pun bergantung kepada Dia. Karena itulah Tuhan menghendaki kita untuk mehormati dan mengasihi Dia. Karena itu jugalah Tuhan mengirimkan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dunia; agar barangsiapa yang percaya kepadaNya bisa memperoleh keselamatan yang kekal. Karena kasihNya, Tuhan menghendaki kita untuk selalu menyadari kebutuhan kita akan sumber kehidupan kita.

Pagi ini kita harus menyadari bahwa adalah kekeliruan besar jika kita berpikir bahwa Tuhan membutuhkan kita untuk menggenapi rencanaNya. Adalah keliru jika kita merasa bahwa Tuhan memaksa manusia untuk berbuat sesuatu untuk Dia. RencanaNya akan terjadi sekalipun ada manusia yang tidak mau menurut perintahNya. Pada pihak yang lain, mereka yang mau menuruti firmanNya adalah orang-orang yang bijaksana, yang mengerti bahwa dalam Tuhan ada perlindungan dan kebahagiaan. Tuhan menghendaki kita untuk hidup dengan menyadari kebutuhan kita. Ia sudah memberikan Roh Kudus kepada umatNya agar mereka  sadar bahwa hidup mereka bergantung kepada kasihNya.

Tuhan aku perlu, setiap waktu,

suara apa pun, tak menghibur.

O, Tuhan, aku perlu, ‘ku perlu selalu;

‘ku mau datang pada-Mu, o, Tuhanku

 

 

Hidup ini adalah kesempatan

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” 1 Petrus 1: 3

Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana kebanyakan umat Kristen pergi ke gereja untuk berbakti kepada Tuhan. Gereja di Australia per denominasi, pada umumnya terlihat lebih sepi jika dibandingkan dengan gereja di Indonesia. Gedung gereja ada banyak, tetapi jumlah pengunjung gereja tidaklah besar.

Memang jumlah orang Kristen di Australia tidaklah sebesar Indonesia, dan tidak semua orang yang mengaku Kristen pergi ke gereja secara teratur. Sensus tahun 2016 menunjukkan bahwa 52.1% penduduk Australia yang sekarang 25 juta itu mengaku Kristen, diantaranya 22.6% adalah Katolik dan 13.3% Anglikan. Sejumlah 8.2% mengaku beragama tapi bukan Kristen.

Mengapa orang mengaku Kristen tetapi jarang ke gereja? Tentu itu banyak sebabnya. Walaupun demikian, mungkin bisa dikatakan bahwa orang tidak ke gereja karena lebih suka menggunakan kesempatan yang ada untuk melakukan hal yang lain. Ada yang lebih penting daripada memuji Tuhan dan mendengarkan firmanNya.

Gereja sebagai kelompok orang percaya sebenarnya juga ikut bertanggung jawab atas kemunduran yang dialami. Jika semangat penginjilan mulai mundur, relevansi dan aplikasi firman mulai kabur, dan dogma serta ritual sudah menggantikan firman Tuhan, memang umat Kristen mudah menjadi bosan untuk ke gereja. Walaupun demikian, kerinduan untuk berbakti adalah hal pribadi, dan setiap orang bisa mengambil keputusan untuk ke gereja atau tidak.

Salah satu tujuan umat Kristen dalam berbakti pada hari Minggu ialah untuk bersama-sama memuji Tuhan atas kasihNya; bukan saja di gereja kita, tetapi bersama dengan semua orang percaya di seluruh penjuru dunia. Ayat diatas yang ditulis oleh rasul Petrus, menyatakan bahwa kita memuji Tuhan karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali, oleh kebangkitan Yesus Kristus, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. Memang, tanpa kebangkitan Yesus iman kita adalah sia-sia; dan tanpa keyakinan bahwa Yesus sudah mati ganti dosa kita, hidup kita tidak mungkin terisi dengan rasa syukur. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah dasar iman yang seharusnya bisa mempersatukan seluruh umat Kristen sewaktu mereka berbakti kepada Tuhan.

Pagi ini mungkin kita merasa bahwa hidup manusia adalah hidup yang sibuk dan waktu yang ada adalah terlalu singkat. Ada banyak hal yang harus dihadapi, atau terlalu banyak hal yang bisa dinikmati. Walaupun demikian, masih adakah pengharapan kita untuk masa depan yang bahagia bersama Tuhan? Jika masih ada harapan itu, tentunya masih ada rasa sukacita dan damai jika kita berbakti kepadaNya bersama saudara-saudara seiman, dimanapun mereka berada. Biarlah Roh Kudus memberi kita kekuatan dalam pengharapan, sehingga kita sadar atas adanya kesempatan untuk memuliakan Tuhan, setiap waktu dan dalam segala keadaan.

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Roma 15: 13

Kesempatan masih ada

“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” Yohanes 16: 8 – 11

Apakah Roh Kudus ada dalam diri umat Kristen? Pertanyaan ini tentunya dijawab dengan kepastian “ya”. Murid-murid Yesus memang menantikan datangnya Roh Kudus setelah kenaikan Yesus ke surga, dan ketika Roh itu datang mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dalam semangat dan kemampuan mereka untuk memuliakan Tuhan. Memang, dalam diri setiap orang percaya, Roh Kudus tinggal untuk menasihati dan menguatkan mereka.

Banyak orang Kristen yang merasa bahwa Roh Kudus hanya diberikan kepada anak-anak Tuhan. Tetapi, ayat diatas menunjukkan bahwa Roh juga diberikan kepada seisi dunia, dan Ia akan membuat manusia bisa memikirkan hal dosa, kebenaran dan penghakiman. Mereka yang ditegur Roh harus mengambil keputusan; karena jika mereka tetap tidak mau percaya kepada Yesus, mereka akan menerima penghukuman.

Sebagai pengikut Kristus mungkin kita merasa bersyukur bahwa kita sudah menerima anugerah keselamatan karena pengurbananNya di kayu salib. Kita sudah menjawab panggilan Tuhan dalam Yohanes 3: 16 untuk percaya kepadaNya. Tetapi kita mungkin sudah lupa bahwa itu terjadi karena Roh yang sudah bekerja, membuat kita sadar bahwa kita adalah orang-orang durhaka yang seharusnya binasa. Karena itu, kita sekarang mungkin kurang peka bahwa masih ada banyak orang yang belum mau mendengarkan panggilan Roh Kudus untuk mengikut Yesus.

Jika Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk mengabarkan Injil melalui Amanah AgungNya (the Great Commission), Ia tahu bahwa ada banyak orang yang menyadari bahwa hidup ini bukanlah sekedar untuk menikmati apa yang ada di dunia. Tetapi orang-orang itu tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk memperoleh keselamatan.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Matius 28: 19 – 20

Mereka yang masih mencari-cari kebenaran yang sejati dan mereka yang jatuh dalam tipu daya iblis adalah seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala dan tidak mengetahui mana jalan yang benar. Dengan demikian, Yesus memerintahkan orang Kristen untuk bekerja membawa mereka yang tersesat untuk memilih jalan sempit yang menuju ke keselamatan.

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7:13 – 14

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa kesempatan masih ada bagi setiap orang yang masih hidup di dunia untuk bertobat dari dosa mereka dan menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka (1 Yohanes 1: 9). Dan kesempatan masih ada bagi umat Kristen selagi masih bisa, untuk menyatakan kasih Tuhan kepada mereka yang belum percaya melalui perbuatan dan tingkah laku yang baik kepada semua orang yang bisa kita temui, agar nama Tuhan dipermuliakan. Biarlah melalui hidup kita makin banyak orang yang mau mengikut Dia!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Sudahkah anda percaya?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Kemanakah aku akan pergi sesudah kematian menjemputku? Pertanyaan ini tentu pernah muncul dalam pikiran setiap orang. Bagi mereka yang tidak percaya adanya hidup sesudah kematian, life after death, tentu saja kematian adalah akhir hidup. Tidak ada lagi yang perlu dipikirkan; manusia tidak berbeda dengan hewan atau tumbuhan.

Bagi mereka yang beragama Kristen, hidup manusia tidak berakhir di dunia. Mereka percaya bahwa ada hidup lain yang dimulai. Tubuh jasmani boleh lenyap, tetapi roh manusia tetap ada. Kemana roh itu akan pergi bergantung pada iman; bagi mereka yang beriman, roh mereka akan pergi menuju ke surga untuk bersekutu dalam kebahagiaan yang kekal bersama Tuhan.

Dengan janji Tuhan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan dan beroleh hidup yang kekal, setiap orang yang mengaku Kristen mungkin merasa lega bahwa ada jaminan keselamatan yang diberikan Tuhan sendiri. Jaminan itu bukan diberikan oleh nabi, rasul atau pendeta, tetapi keluar dari mulut Yesus, Anak Allah.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 16

Jika kata “setiap orang yang percaya” secara tegas menyatakan bahwa keselamatan bukan hanya untuk bangsa atau suku tertentu, kata “percaya” mungkin lebih sulit untuk diartikan karena iblis pun percaya adanya Tuhan (Yakobus 2: 19). Kepercayaan yang membawa keselamatan (saving faith) bukannya sesuatu yang bisa dilakukan manusia sendiri, sekalipun mata dan pengalaman mungkin dapat membuat manusia percaya akan adanya sesuatu yang jauh lebih berkuasa dari penguasa-penguasa dunia.

Manusia memang diselamatkan hanya melalui iman kepada Tuhan, sola fide. Tetapi Tuhan yang mana dan yang bagaimana, manusia dengan usahanya sendiri tidak akan dapat mengerti jika Tuhan sendiri tidak menyatakan diriNya dalam hatinya. Roh Tuhanlah yang bekerja dalam diri manusia untuk menyadarkan bahwa semua manusia sudah berdosa dan tidak dapat diselamatkan jika Tuhan tidak mengampuni mereka. Roh jugalah yang mencelikkan manusia untuk bisa menyadari bahwa keselamatan adalah semata-mata adalah karunia Tuhan, sola gratia. Roh dengan demikian membuka jiwa, hati dan pikiran manusia untuk dapat mengenal Tuhan yang mahakasih.

Pagi ini, ayat pembukaan diatas menyatakan bahwa “percaya” bukanlah sesuatu yang hanya diucapkan, bukan hanya sesuatu yang bisa dilihat, dipikirkan dan dilakukan. Iman harus bisa dinyatakan melalui hati, dan melalui seluruh segi kehidupan manusia. Ini memerlukan manusia untuk mau menyerahkan seluruh hidup mereka kepada Tuhan untuk menerima pengampunan, dan agar Roh Kudus sepenuhnya mengisi hidup mereka dan mengubah mereka menjadi ciptaan yang baru didalam Tuhan yang selalu memuliakan namaNya.

“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10: 10

Haruskah kita peduli?

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Matius 24: 12

Bulan Maret adalah permulaan musim gugur di Australia. Di kota saya, suhu siang hari masih bisa mencapai 30 derajat Celsius, tetapi pada waktu malam bisa turun sampai dibawah 20 derajat. Karena udara yang makin dingin, perlengkapan musim dingin mulai keluar dari lemari, dan itu termasuk jaket dan selimut. Musim dingin baru akan datang di bulan Juni, tetapi hari sudah semakin singkat karena sinar matahari yang makin pendek. Kebanyakan orang kurang menyenangi musim dingin karena kesempatan untuk bekerja maupun menikmati udara terbuka menjadi berkurang. Tidaklah mengherankan bahwa di daerah tertentu  orang biasanya terlihat kurang gembira pada musim dingin, jika dibandingkan dengan keadaan di musim semi atau musim panas.

Ayat diatas merupakan apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya mengenai keadaan yang akan datang. Sebagian orang menafsirkan bahwa apa yang dikatakan Yesus adalah mengenai keadaan pada zaman itu saja, tetapi banyak juga yang menghubungkan itu dengan keadaan dunia menjelang akhir zaman. Apapun tafsirannya, intisari pesan Yesus itu jelas terlihat: bahwa karena manusia bertambah jahat, kasih akan menjadi padam.

Mungkin sebagian orang tidak setuju dengan pernyataan bahwa manusia di zaman ini lebih jahat dari manusia di zaman Yesus. Bukankah etika, hukum dan cara hidup manusia di zaman ini adalah jauh lebih beradab dari zaman dulu? Bukankah hak azasi dan keadilan sosial lebih terjamin jika dibandingkan dengan zaman dulu? Tidakkah manusia sekarang lebih bisa menghargai sesamanya, dan lebih bisa menerima mereka yang berasal dari tempat lain dan berbahasa asing?

Memang tidak dapat disangkal bahwa hidup manusia sudah mengalami perubahan besar jika dibandingkan dengan hidup di zaman sebelum Renaissance (abad 14-17). Manusia dengan kemajuan filsafat, sastra dan seni, berubah perlahan-lahan menjadi manusia yang nampaknya hebat dan pandai, sophisticated. Walaupun demikian, satu hal yang bisa terlihat ialah bahwa manusia pada umumnya makin yakin akan kemampuan dirinya sendiri. Manusia pada umumnya tidak lagi takut akan Tuhan yang tidak terlihat dan yang tidak bisa dibayangkan. Hidup manusia menjadi hidup yang individualistik yang tidak lagi bisa menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama. Bagaimana pula dengan hidup orang Kristen?

Pada zaman rasul-rasul, hidup orang Kristen jelas berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang. Pada zaman itu mereka selalu berkumpul untuk makan dan berdoa bersama. Mereka menghadapi tantangan hidup secara bersama dan bisa merasakan kebutuhan dan penderitaan orang lain.

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah Para Rasul 2: 44 – 47

Sebaliknya, di zaman ini banyak orang Kristen yang menginginkan kesuksesan hidup demi kepentingan pribadi dan dengan itu, gereja seolah menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan spritual pribadi. Manusia menjadi dingin hati dan tidak peka dengan segi kemanusiaan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan bahkan seluruh umat manusia di dunia.

Kemajuan teknologi memungkinkan umat Kristen untuk melihat dan mendengar keadaan orang lain. Kemajuan teknologi juga memungkinkan orang Kristen untuk ikut merasakan penderitaan orang lain dan berusaha untuk menolong dan menguatkan mereka yang tertimpa kemalangan. Walaupun demikian, jika kasih sudah mendingin, kepekaan kita akan penderitaan orang lain menjadi berkurang. Perintah Tuhan agar kita  mengasihi sesama manusia dengan tidak memandang asal-usul dan latar belakang mereka, mungkin juga mudah kita abaikan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa karena bertambahnya kedurhakaan, kasih kebanyakan manusia menjadi dingin. Kebanyakan, bukan semua. Diantara manusia, tetap ada mereka yang taat kepada perintahNya. Apakah kita masih tergolong kedalam kelompok yang masih memancarkan kehangatan kasih kepada sesama kita? Semoga.

Sehati sepikir dalam kesederhanaan

“Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!” Roma 12: 16

Teringat saya akan masa lalu, sewaktu masih kecil dan tinggal di Surabaya. Pada waktu itu teknologi elektronik belumlah maju dan komputer pun belum ada. TV hitam putih dan radio transistor baru saja muncul di toko; dan dengan harga yang cukup mahal, benda-benda semacam itu hanya bisa dimiliki oleh orang berada. Tetapi saya melewati masa kecil saya dengan cukup bahagia, karena saya dapat menikmati kesempatan yang ada pada waktu itu, seperti bermain sepakbola tanpa memakai sepatu, membuat mobil-mobilan dari karton bekas bungkus barang dan sebagainya. Hidup saya memang sederhana untuk tidak dikatakan miskin, tetapi saya tidak merasa malu karena kebanyakan teman saya juga mengalami hal yang sama.

Di zaman ini teknologi begitu maju, sehingga hidup manusia menjadi sangat bergantung pada apa yang canggih dan yang mahal. Setiap manusia seakan berlomba untuk bisa membeli barang yang paling modern dan yang paling bagus. Seiring dengan kemajuan teknologi, konsumerisme bertambah tinggi; dan orang menjadi makin ingin untuk memperoleh apa saja yang mempunyai “wow factor“, yaitu apa yang terlihat hebat. Itu mencakup segala segi kehidupan, bukan saja segi jasmani, tetapi juga segi rohani. Banyak orang Kristen sekarang ini merasa bahwa orang tidak cukup untuk mempunyai iman yang kuat, tetapi harus juga memiliki pengetahuan teologis yang mendalam. Bagi mereka yang sederhana dan  kurang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan ini, perasaan kurang mampu mungkin muncul.

Ayat diatas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma agar mereka menjadi orang-orang yang saling mengasihi dan dapat hidup dalam kesederhanaan dan kerendahan hati. Dalam terjemahan bahasa asing, ayat itu berbunyi: “Hendaklah kamu hidup harmonis dengan orang lain, jangan sombong, tetapi mau bergaul dengan orang yang sederhana, yang kurang mampu. Janganlah menganggap dirimu lebih unggul”. Ini agaknya mengherankan karena Paulus sendiri adalah orang yang berpendidikan tinggi untuk zamannya. Mengapa hidup sebagai orang yang sederhana itu dianjurkannya? Apakah itu sesuai dengan keadaan masa kini?

Tidak dapat disangkal bahwa dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern, umat Kristen tidak dapat berdiam diri. Orang Kristen harus bisa menghadapi serangan iblis yang menggunakan berbagai tipu muslihat untuk mempengaruhi orang Kristen. Karena itulah kita harus selalu mau belajar mendalami firman Tuhan dan aplikasinya agar kita bisa mempertahankan iman kita. Walaupun begitu, ada banyak orang Kristen yang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tetapi selalu hidup dalam iman yang besar, yang sudah diberikan Tuhan.

Paulus menulis bahwa sekalipun setiap umat Tuhan mempunyai karunia yang berbeda, kita bisa hidup bersama dan saling menguatkan jika kita mau hidup dalam kerendahan hati dan mau sehati sepikir dengan mereka yang lebih lemah. Kita harus bisa menolong mereka yang lemah dan memberikan keyakinan bahwa setiap manusia adalah sama dihadapan Tuhan. Kita tahu bahwa memperdalam pengetahuan tentang Tuhan haruslah dengan pertolongan Roh Kudus, yang mengerti keadaan dan kemampuan setiap orang dengan sepenuhnya. Jika manusia merasa tidak sanggup, Rohlah yang bisa yang memberi kekuatan; jika manusia tidak mengerti, Rohlah yang menjelaskan. Itulah yang bisa kita doakan untuk mereka yang lebih lemah.

Pagi ini, kita harus sadar bahwa kemajuan yang kita lihat di dunia  bisa membuat manusia mempunyai keinginan untuk mencari pengetahuan yang lebih dalam dalam segala bidang. Keadaan ini juga membuat kita seakan ingin mengenal Tuhan yang mahabesar melalui pikiran kita.  Kita mungkin ingin agar setiap orang percaya bisa dan mau mempelajari firman Tuhan dengan akal budi mereka. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa kasih kepada sesama adalah yang paling penting dalam hidup orang Kristen. Kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi mau memikirkan hal-hal dan orang-orang yang sederhana. Tuhan justru lebih bisa kita rasakan kehadiranNya jika kita hidup dalam kesederhanaan di hadapan hadiratNya.

 

Imanmu telah menyelamatkan engkau

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” 2 Korintus 5: 15

Alkisah, ketika Yesus memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”. Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh.  Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, dan kemudian tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Kisah nyata yang sangat menarik dan dalam artinya.  Yesus datang ke desa itu untuk menyembuhkan sepuluh orang kusta, bukan hanya satu. Sepuluh orang mendapat kesembuhan, tetapi hanya satu yang diselamatkan. Mengapa Yesus peduli terhadap kesepuluh orang kusta, jika Ia tahu bahwa hanya satu yang nantinya kembali menemui Yesus dan memuji Allah? Kita tidak dapat menerka apa yang ada dalam pikiran Yesus, tetapi sudah tentu Ia menyembuhkan kesepuluh orang kusta itu karena kasihNya. Kesepuluh orang kusta itu mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh kasih Kristus, tetapi hanya satu yang menyambutnya dengan rasa syukur dan hormat.

Jika kisah diatas adalah mengenai kesembuhan jasmani, Yesus sebenarnya datang ke dunia dengan prioritas untuk menyembuhkan orang yang sakit rohaninya. Orang yang sehat tak perlu dokter, kataNya. Karena itu Ia datang ke dunia untuk orang berdosa. Siapakah orang yang berdosa? Tentu saja semua orang yang hidup di dunia. Seperti Kristus datang ke desa itu untuk menyembuhkan semua orang yang sakit kusta, Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, sekalipun tidak semua pada akhirnya akan mau memuliakan Dia. Yesus tidak peduli bahwa Ia harus mati di kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia, sekalipun sebagian manusia akan menolak Dia.

“Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Matius 9: 12 – 13

Kita harus menyadari bahwa kesempatan sudah diberikan kepada semua orang untuk menerima kematian Kristus sebagai pengurbanan Anak Allah untuk menebus dosa-dosa manusia. Kristus ingin agar pengurbananNya diterima oleh manusia sebagai berkat yang harus disyukuri. Karena pengubanan Kristus, kita yang seharusnya mati karena penyakit dosa, memperoleh kesempatan untuk hidup baru didalam Dia. Walaupun kasih Kristus itu sangat besar, tidak semua orang bisa atau mau menghargainya. Mereka yang melihat keajaiban besar yang diperbuat Yesus untuk setiap orang, belum tentu mau untuk kembali ke jalan yang benar, untuk menghormati Dia sebagai Tuhan dengan pengucapan syukur.

Sore ini, kepada mereka yang menerima kasihNya dan kemudian mengikut Dia dan hidup untuk Dia, Yesus berkata: “Imanmu telah menyelamatkan engkau”.  Dengan demikian, kita yang sadar bahwa Kristus telah menyembuhkan dan menyelamatkan kita, tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi hidup dalam kebenaran untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk kita.

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” 1Petrus 2: 24