“Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Yohanes 17: 18 – 21
Di zaman ini, banyak orang menggembar-gemborkan pentingnya perbedaan atau diversity dalam masyarakat. Mereka berpendapat bahwa adalah baik jika manusia bisa saling menerima, menghargai dan mencintai sesamanya sekalipun mereka berbeda jenis dan status sosial, dan berlainan marga, suku, atau bangsa. Dalam hal ini, untuk umat Kristen hal mengasihi sesama bukanlah barang baru. Tuhan berfirman agar kita mengasihi siapapun di dunia, seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Tambahan pula, kita tahu bahwa keselamatan bukanlah untuk orang-orang tertentu saja, tetapi untuk semua orang yang percaya kepada Kristus.
Memang di zaman ini orang seakan berlomba untuk bisa menerima cara hidup, kepercayaan dan tingkah laku apapun jika semua itu tidak mengganggu orang lain. Tetapi, kebebasan untuk bisa berbeda sering kali membuat orang untuk bertindak semaunya. Lebih dari itu, adanya perbedaan juga bisa membuat orang untuk memaksa orang lain untuk menghormati apa yang diyakininya. Dengan demikian, adanya perbedaan tanpa adanya sesuatu yang mempersatukan bisa membawa kekacauan.
Ketika Yesus masih di dunia, Ia mempunyai 12 orang murid. Mereka yang dipilihnya tidaklah seluruhnya berasal dari tempat yang sama, mempunyai penampilan yang serupa, atau memiliki sifat yang mirip. Dalam kenyataannya, mereka itu adalah orang-orang yang tidak serupa dalam banyak hal, dan karena itu ada kalanya mereka berbeda pendapat. Jika demikian, apakah yang mempersatukan mereka?
Dari ayat diatas kita bisa membaca bahwa Yesus sudah memilih murid-muridNya dan mengutus mereka ke dalam dunia untuk memberitakan injil keselamatan kepada semua orang. Karena itu, adalah jelas bahwa salah satu hal yang mempersatukan mereka adalah Yesus yang sudah memilih mereka, dan adanya satu tugas yang sudah diberikan Yesus kepada mereka. Tetapi, yang paling penting dari itu adalah kenyataan bahwa mereka sudah dipersatukan dalam penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus. Mereka adalah orang-orang yang berbeda tetapi dipersatukan dalam darah Kristus.
Jika kita bisa melihat bahwa Yesus sudah mempersatukan murid-muridNya dalam satu pengalaman dan satu tujuan, bagaimana pula dengan kita yang tidak pernah melihat Yesus dengan mata atau mengikuti Dia mengembara? Kita hanya mendengar kabar keselamatan atau membacanya dalam Alkitab, dan mungkin mempunyai gambaran dan kesan yang berbeda tentang Yesus. Ayat diatas menunjukkan bahwa Yesus berdoa untuk murid-muridNya agar mereka dikuduskan dalam kebenaran. Tetapi Ia juga berdoa untuk kita yang percaya kepada Dia melalui pemberitaan murid-murid Yesus. Yesus berdoa supaya kita, umat Kristen, menjadi satu seperti dalam Dia; seperti Dia dan Allah Bapa yang adalah satu. Lebih dari itu, Yesus menghendaki bahwa sekalipun kita berbeda secara manusiawi, karena kesatuan kita dalam Tuhan, dunia bisa mengenal Tuhan melalui hidup kita.
Pagi ini, mungkin kita bisa melihat adanya berbagai umat Kristen yang melakukan ibadah masing-masing dengan cara yang berbeda-beda. Mungkin saja mereka berbeda dengan kita dalam hal latar belakang, pengalaman, budaya, pendidikan dan sebagainya. Bagi kita, mereka mungkin nampak sebagai orang-orang yang asing ataupun aneh. Adakah hal yang membuat kita lebih bisa menghargai mereka? Tentu saja! Ayat diatas menegaskan bahwa mereka yang benar-benar percaya kepada Yesus akan dipersatukan sebagai murid-murid Kristus. Dalam Kristus semua orang percaya seharusnya bersatu dalam memuliakan Tuhan.
“Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.” Yohanes 17: 23
Beberapa hari terakhir ini saya sering merasa lelah. Sebagai seorang dosen, tugas-tugas berat muncul pada saat-saat tertentu, seperti pada waktu saya harus mempersiapkan bahan kuliah baru atau membuat soal-soal ujian. Siapakah yang tidak pernah merasa lelah? Bagaimanapun kuatnya seseorang, tentu dalam keadaan tertentu ia akan merasa capai.Untunglah, jika kelelahan itu hanya dari segi jasmani, dengan beristirahat atau tidur kita mungkin akan dapat memulihkan kekuatan dan kesegaran kita kembali. Tetapi kelelahan rohani mungkin tidaklah mudah diatasi.
Dalam Yohanes 11: 1 – 44 diceritakan bahwa ada seorang yang bernama Lazarus yang sakit parah. Lazarus dan kedua saudaranya, Maria dan Marta, adalah orang-orang yang dikenal baik dan bahkan disayangi oleh Yesus. Yesus tahu bahwa Lazarus sakit, tetapi ia menunda kepergianNya ke Betania, kampung dimana mereka tinggal. Ketika Yesus datang, Lazarus sudah mati dan dikubur selama 4 hari. Walaupun demikian, Yesus memerintahkan agar batu penutup kubur dibuka. Atas permintaan itu, Marta menjawab dengan heran: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (ayat 39). Tetapi Yesus dalam ayat pembukaan diatas mengingatkan Marta bahwa jika ia percaya, ia akan melihat kemuliaan Tuhan. Memang, seperti kita bisa membacanya, Alkitab menulis bahwa Lazarus kemudian keluar dari kuburnya.
Dengan berkurangnya jumlah orang Kristen, banyak gedung gereja di Australia yang dijual dan kemudian dipakai untuk berbagai fungsi, seperti restoran, mesjid, hotel dan sebagainya. Memang, jika pengunjung tetap sebuah gereja berkurang, pada suatu saat gereja tidak akan dapat menggaji pendeta atau memelihara fasilitas yang ada. Karena itu, pada saat tertentu keputusan harus diambil untuk menjual gedung gereja sehingga uangnya dapat dipakai untuk maksud-maksud lain yang lebih berguna.
Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana kebanyakan umat Kristen pergi ke gereja untuk berbakti kepada Tuhan. Gereja di Australia per denominasi, pada umumnya terlihat lebih sepi jika dibandingkan dengan gereja di Indonesia. Gedung gereja ada banyak, tetapi jumlah pengunjung gereja tidaklah besar.
Apakah Roh Kudus ada dalam diri umat Kristen? Pertanyaan ini tentunya dijawab dengan kepastian “ya”. Murid-murid Yesus memang menantikan datangnya Roh Kudus setelah kenaikan Yesus ke surga, dan ketika Roh itu datang mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dalam semangat dan kemampuan mereka untuk memuliakan Tuhan. Memang, dalam diri setiap orang percaya, Roh Kudus tinggal untuk menasihati dan menguatkan mereka.
Bulan Maret adalah permulaan musim gugur di Australia. Di kota saya, suhu siang hari masih bisa mencapai 30 derajat Celsius, tetapi pada waktu malam bisa turun sampai dibawah 20 derajat. Karena udara yang makin dingin, perlengkapan musim dingin mulai keluar dari lemari, dan itu termasuk jaket dan selimut. Musim dingin baru akan datang di bulan Juni, tetapi hari sudah semakin singkat karena sinar matahari yang makin pendek. Kebanyakan orang kurang menyenangi musim dingin karena kesempatan untuk bekerja maupun menikmati udara terbuka menjadi berkurang. Tidaklah mengherankan bahwa di daerah tertentu orang biasanya terlihat kurang gembira pada musim dingin, jika dibandingkan dengan keadaan di musim semi atau musim panas.
Teringat saya akan masa lalu, sewaktu masih kecil dan tinggal di Surabaya. Pada waktu itu teknologi elektronik belumlah maju dan komputer pun belum ada. TV hitam putih dan radio transistor baru saja muncul di toko; dan dengan harga yang cukup mahal, benda-benda semacam itu hanya bisa dimiliki oleh orang berada. Tetapi saya melewati masa kecil saya dengan cukup bahagia, karena saya dapat menikmati kesempatan yang ada pada waktu itu, seperti bermain sepakbola tanpa memakai sepatu, membuat mobil-mobilan dari karton bekas bungkus barang dan sebagainya. Hidup saya memang sederhana untuk tidak dikatakan miskin, tetapi saya tidak merasa malu karena kebanyakan teman saya juga mengalami hal yang sama.
Alkisah, ketika Yesus memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”. Yesus memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi sembuh. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, dan kemudian tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”