Kapan kita boleh mencuri?

“Jangan mencuri” Keluaran 20: 15

Di Australia, terutama di perusahaan atau kantor yang besar, biasanya ada tersedia sebuah “common room“, yaitu ruang serba guna yang bisa digunakan semua pekerja untuk beristirahat atau makan siang. Tempat ini bukanlah sebuah cafeteria yang menjual makanan, tetapi sebuah ruang yang mempunyai fasilitas membuat kopi dan teh, microwave oven, dan lemari pendingin untuk menyimpan susu dan makanan.

Suatu hal yang aneh tapi nyata, yang selalu terjadi di common room, adalah hilangnya sendok teh. Setiap orang yang ingin membuat kopi atau teh harus membawa cangkir mereka sendiri, tetapi sendok-sendok teh biasanya disediakan untuk dipakai bersama. Sendok inilah yang selalu habis menghilang setelah kira-kira 2-3 bulan, mungkin dengan kecepatan 2-3 sendok seminggu. Ini adalah suatu fenomena yang sudah sering dibuat bahan lelucon dan bahkan topik riset. Analisa statistik tentang menghilangnya sendok teh ini sudah pernah diterbitkan dengan judul The case of disappearing teaspoons. Walaupun begitu, orang sudah tidak peduli akan fakta bahwa ini adalah kasus pencurian dan bukan sekedar geguyonan atau kebiasaan.

Apa arti mencuri?  Apakah mencuri selalu merupakan dosa?  Inilah beberapa hal yang sering dipertanyakan, sekalipun orang tentunya menyadari bahwa definisi umum kata “mencuri” adalah mengambil barang orang lain tanpa izin atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mencuri bisa berupa mengambil mangga dari pohon tetangga, meminjam pakaian atau HP teman tanpa ijin, mencontoh solusi ujian/riset orang lain, atau tidak membayar hutang, sampai hal yang bisa menjadi pokok berita heboh di media, seperti melarikan pasangan orang lain atau menggelapkan uang negara.

Jika kita melihat apa yang tertulis dalam ayat diatas, yang merupakan salah satu dari sepuluh hukum Tuhan, kita mungkin dengan mudah berkata bahwa mencuri dalam segala bentuknya adalah dosa. Baik mencuri barang yang kecil maupun besar adalah dosa. Tetapi, bagaimana jika kita mengambil barang seseorang karena kita merasa bahwa orang yang empunya tidak berkeberatan? Bagaimana pula jika kita mengambil barang orang lain yang sudah tidak dipakai? Atau jika seorang mencuri karena terpaksa, karena keadaan yang berat yang dialaminya?

Bagi sebagian orang, mencuri adalah sesuatu yang mempunyai kepuasan tersendiri. Orang yang bisa menggunakan fasilitas atau sarana tanpa membayar sering merasa senang dan puas. Mereka yang menemukan barang berharga yang tertinggal di tempat umum, bisa saja tergoda untuk mengambilnya. Bagi mereka, kalau orang lain berbuat hal yang sama, dan tidak ada hukum setempat yang melarangnya, itu bukan mencuri.  Tetapi, menggunakan atau mengambil sesuatu yang bukan hak atau milik kita adalah mencuri.

Memang ada situasi yang berat, yang memaksa sesesorang untuk mencuri. Misalnya, mereka yang kelaparan dan tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, mungkin terpaksa untuk mencuri. Ini pun dosa yang tidak seharusnya dilakukan. Hal ini juga bisa menyebabkan orang di sekitarnya berbuat dosa juga karena membiarkan hal ini sampai terjadi. Perintah Yesus untuk mengasihi sesama kita, membuat kita ikut bertanggung jawab jika seseorang terpaksa mencuri, sedangkan kita mampu untuk memberi pertolongan.

Mencuri tidak selalu berupa kegiatan “mengambil”, tetapi juga bersangkutan dengan kegiatan “memberi”. Mereka yang tidak memberikan apa yang seharusnya diberikan/dibaktikan kepada seseorang, masyarakat, negara, dan dunia adalah mencuri hak orang lain.  Sebagai contoh, setiap orang Kristen diwajibkan untuk membayar pajak kepada pemerintah. Tidak membayar pajak atau sengaja mengurangi jumlah pajak yang seharusnya dibayar kepada pemerintah adalah mencuri hak pemerintah.

“Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Roma 13: 6-7

Mencuri juga bisa berupa penyalahgunaan apa yang diberikan Tuhan kepada kita untuk maksud-maksud tertentu. Tidak menggunakan waktu kita untuk melakukan hal yang baik adalah mencuri waktu yang diberikan Tuhan, sebab Tuhan memberi kita kehidupan bukan untuk dipakai secara sembarangan, tetapi untuk memuliakanNya. Segala berkat yang dilimpahkanNya bukannya untuk kemuliaan kita, tetapi untuk kebesaranNya. Karena itu, dalam keadaan apapun kita tidak boleh lupa untuk menyatakan rasa syukur kita kepadaNya.

Pagi ini, kita bisa melihat bahwa ayat diatas adalah singkat dan mudah dimengerti, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Tetapi, bagi kita yang sudah menerima anugrah keselamatan dari Yesus Kristus, kesadaran tentunya ada bahwa sebagai umat Kristen kita tidak seharusnya mencari keuntungan dalam segala kesempatan. Kita harus sadar bahwa kebiasaan memberi adalah lebih baik daripada menerima. Kebiasaan memberi akan menumbuhkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama, dan akan mengurangi godaan untuk menerima atau mengambil sesuatu dari orang lain.

“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Kisah Para Rasul 20: 35

Kesedihan membawa kepercayaan

“Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?” Mazmur 13: 2

Suatu perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan di luar negeri adalah adanya kuliah melalui internet. Dengan majunya teknologi, seorang murid tidak perlu menghadiri kuliah di universitas, tetapi cukup dengan memutar video rekaman kuliah melalui internet. Semua bahan-bahan kuliah juga tersedia secara elektronik, sehingga murid itu tidak perlu pergi ke perpustakaan atau ke toko buku.

Segala kemajuan teknologi memang bisa membawa kemudahan; walaupun demikian, tentu ada juga kemunduran atau akibat sampingan yang terjadi. Dalam hal pendidikan jarak jauh (distance education), kemunduran yang terjadi adalah dalam hubungan langsung antar murid dan antara murid dan dosen yang hilang, yang diganti dengan kontak melalui internet. Murid tidak bisa mengenal dosen, dan dosen tidak tahu akan sifat dan reaksi murid. Karena tidak adanya perjumpaan muka dengan muka, para murid seringkali lebih bebas untuk mengutarakan uneg-uneg mereka. Karena itu, tidak mengherankan jika ada kejadian dimana murid membuli atau menggosip dosen tertentu. Kejadian semacam ini tentu saja bisa menyebabkan kesedihan dan bahkan trauma psikologis bagi dosen yang bersangkutan.

Dalam hidup di dunia, memang tidak dapat dihindari adanya orang-orang yang kurang menyenangi kita, dan bahkan membenci kita. Apapun yang kita perbuat, tidak bisa membuat mereka senang. Lebih buruk lagi, ada orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan orang, yang mempunyai naluri untuk menghancurkan hidup atau karir orang lain. Dengan segala tindakan mereka, orang mungkin merasa bahwa ada musuh-musuh yang selalu menunggu saat yang baik untuk menyerang.

Pemazmur, dalam ayat diatas, juga mengalami hal yang serupa. Ia merasa hidupnya berat karena musuh-musuh yang menekan dia. Hidupnya penuh kekuatiran dan kesedihan, karena ia merasa tidak berdaya. Tuhan seolah sudah melupakan dan meninggalkan dia.

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” Mazmur 13: 1

Bagi orang percaya, tidak ada kesedihan yang lebih besar dari perasaan bahwa Tuhan sudah menelantarkan dia. Ini bukan hanya terjadi pada mereka yang lemah rohaninya, tetapi bisa dialami semua umat Kristen, baik muda atau tua, miskin atau kaya, di desa maupun di kota. Selama hidup di dunia, semua orang bisa mengalaminya.

Dalam Perjanjian Baru, Paulus yang pernah mengalami banyak hal yang serupa dengan apa yang dialami oleh pemazmur diatas, menuliskan keyakinannya sebagai satu nasihat kepada jemaat di Korintus.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10: 13

Pagi ini, jika kita bangun tidur dengan mata yang masih terasa berat dan tubuh yang lelah, pikiran kita mungkin menganjurkan kita untuk menyerah. Tuhan seakan sudah meninggalkan kita. Hati kita mungkin menjerit seperti pemazmur: “Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati.”

Seperti Tuhan mendengarkan jeritan pemazmur, Tuhan juga mau menguatkan kita. Ia belum tentu menghilangkan kesulitan dalam hidup kita, tetapi melalui kesulitan yang kita hadapi, Tuhan mengingatkan kita bahwa Ia yang sudah berbuat baik pada masa yang lalu, Ia jugalah yang menyertai kita dan akan menolong kita pada saat yang tepat. Pujilah Tuhan yang mahakasih!

“Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” Mazmur 13: 5 – 6

Mudahnya menjadi orang dursila

“Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN” 1 Samuel 2: 12

Bacaan: 1 Samuel 2: 11 – 36

Salah satu kata dalam Alkitab berbahasa Indonesia yang menarik perhatian saya adalah kata “dursila”. Dalam Alkitab berbahasa Inggris yang banyak versinya, kata dursila ini muncul sebagai kata “wicked“, “scoundrel“, “worthless“, “corrupt” dan sebagainya. Secara umum kata-kata itu menunjukkan karakter dan cara hidup manusia yang sangat buruk. Mungkin, jika ada Alkitab berbahasa Indonesia yang berversi lain, kata durhaka, durkasa dan durjana bisa juga dipakai sebagai kata alternatif.

Mengapa anak-anak lelaki nabi Eli, Hofni dan Pinehas, disebut sebagai orang dursila? Berbagai kata yang bisa dipakai untuk menggambarkan sifat dan kelakuan mereka menunjukkan bahwa tidaklah cukup jika kita memakai kata “jahat” atau “amoral”. Mereka adalah orang-orang jahat, kejam, amoral, dan culas, yang tidak peduli akan hukum dan orang lain. Lebih dari pada itu, mereka adalah orang-orang yang tidak takut kepada Tuhan.

Pada waktu itu anak-anak Eli adalah orang-orang dewasa yang suka menjarah kurban persembahan untuk Allah. Bukannya mereka menunggu sampai upacara persembahan selesai dan kemudian mengambil bagian daging bakaran yang sesuai dengan hukum yang ada, mereka sebaliknya mengambil apa saja yang mereka mau, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Lebih dari itu mereka juga berzinah dengan perempuan-perempuan Israel yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.

Jika kesalahan anak-anak Eli adalah sangat besar menurut standar kepercayaan umat Israel pada waktu itu, semuanya adalah suatu dosa besar yang membuat Allah sangat murka. Segala kesalahan itu dapat disimpulkan sebagai tidak adanya rasa takut kepada Tuhan. Mereka yang seharusnya mengenal Tuhan yang mahasuci, justru mengabaikan adanya Tuhan dengan berbuat semaunya dan dengan tidak menghiraukan teguran Eli, ayah mereka.

Bagi kita, adalah mudah untuk berkata bahwa sudah sepantasnya bahwa Tuhan menghukum anak-anak Eli untuk kedursilaan mereka, dan juga menghukum Eli yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menegur mereka. Dalam hal ini, sungguh menarik perhatian bahwa Eli seakan pasrah kepada Tuhan dan tidak lagi peduli akan kemarahan Tuhan yang merasa terhina atas segala apa yang terjadi (1 Samuel 3: 18). Keacuhan kita akan adanya dosa di sekitar kita, adalah termasuk dosa juga.

Mungkin kita berpikir bahwa kita tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang diperbuat anak-anak Eli. Kita barangkali yakin bahwa perbuatan seperti menjarah, merampok, mencuri, membuli dan berselingkuh tidak pernah kita lakukan dalam hidup ini. Tetapi, apa yang menjadi penyebab utama kemarahan Tuhan adalah sikap hidup manusia yang mengabaikanNya. Perbuatan-perbuatan jahat hanyalah manifestasi hati dan pikiran yang menaruh Tuhan di satu sudut hidup kita untuk bisa dilupakan. Out of sight, out of mind.

Mengabaikan Tuhan tidak selalu berupa tindakan dursila yang jelas terlihat. Eli yang tidak merasa terbeban untuk menghentikan kejahatan anak-anaknya, juga melakukan dosa besar dalam pandangan Tuhan yang mahasuci. Karena itu, kita harus sadar bahwa jika hidup kita berjalan cukup “normal” untuk ukuran manusia dan kita merasa senang karenanya, itu belum tentu merupakan keadaan yang disukai Tuhan.

Orang yang dursila adalah manusia yang tidak lagi menempatkan Tuhan yang mahasuci di tempat yang tertinggi dalam hidupnya. Ia sering mengabaikan firmanNya, tidak lagi sadar akan kebesaran Tuhan, dan tidak lagi menghormatiNya dalam setiap segi kehidupannya. Sungguh tidak sukar bagi kita untuk menjadi manusia dursila!

“Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” 1 Samuel 2: 30

Peranan filsafat bagi orang Kristen

“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Kolose 2: 8

Pernahkah anda mempelajari ilmu filsafat? Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis. Filsafat dalam arti aslinya tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, tetapi dengan mengutarakan masalah secara terperinci dan mencari solusi untuk itu; dengan memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk memperoleh solusi. Untuk mempelajari ilmu filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Sekalipun kita tidak pernah belajar ilmu filsafat di sekolah, pikiran yang mengandung unsur filsafat sering muncul dalam hidup manusia. Mencari arti hidup, mempelajari pandangan manusia, dan menghadapi penderitaan, adalah sebagian contoh peristiwa yang memerlukan kita untuk berpikir dalam-dalam guna mencari jawabannya.

Pikiran falsafi sering dipakai untuk membantu manusia guna menyelami apa yang sudah terjadi, sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi. Karena itu setiap aliran kepercayaan biasanya mempunyai tokoh-tokoh yang mampu membahas segi-segi kehidupan dari sudut filsafat keagamaan. Dalam agama Kristen, mungkin orang tidak menyadari bahwa Rasul Paulus sering memakai cara filsafat untuk mendalami arti hidup sebagai anak Allah. Sepanjang sejarah gereja, nama-nama seperti Augustine, Aquinas, Calvin, Kierkegaard, and lainnya, dikenal sebagai filsuf-filsuf Kristen. Di zaman modern ini, kita juga mempunyai pemikir-pemikir Kristen seperti C. S. Lewis, Alvin Plantinga, Francis Schaeffer, dan Ravi Zacharias.

Walaupun filsafat adalah sebuah ilmu yang bisa membantu kita untuk mencari arti hidup dan untuk menghadapi masalah kehidupan, ilmu filsafat saja tidak dapat menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan. Mereka yang digolongkan sebagai filsuf Kristen, selalu memakai Alkitab sebagai pedoman.

Mereka yang dipandang sebagai ahli pemikir dunia, seringkali memakai cara-cara manusiawi untuk menyelesaikan masalah. Mereka yang kelihatannya pandai berbicara dan mampu menarik perhatian masyarakat, tetapi tidak pernah memakai firman Tuhan sebagai pedoman, hanyalah “orang-orang pandai” yang merasa bahwa Tuhan tidak perlu dipikirkan. Mereka seringkali, seperti ayat diatas, menyampaikan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan pikiran dunia, tetapi tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Mereka berfilsafat untuk mencari keuntungan pribadi, dan bukan untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam menghadapi hidup ini. Pemikiran yang mendalam adalah perlu untuk mempelajari firman Tuhan. Logika berpikir dan logika bahasa adalah perlu untuk mendalami firmanNya, tetapi yang lebih perlu lagi adalah pencerahan Roh Kudus.

Adalah kenyataan bahwa pada umumnya orang Kristen sering malas untuk mendalami firman Tuhan. Asal percaya cukuplah, begitu mungkin anggapan mereka. Pergumulan pribadi untuk mengerti makna firman Tuhan seringkali dihindari, dan diganti dengan apa yang bisa diperoleh dari orang lain. Jalan yang mudah, tetapi tidak mendorong kearah kedewasaan iman. Sebaliknya, mereka sering dengan mudah mengagumi kata-kata bijak dan slogan-slogan singkat yang berbau filsafat dari orang-orang yang dianggap pandai atau suci.

Filsafat memang bisa membantu kita melangkah dalam hidup sehari-hari. Tetapi jika semua itu tidak berdasarkan pada firman Tuhan dan rasa takut kepada Tuhan, itu sama saja dengan usaha untuk mengganti filsafat Kristen dengan filsafat umum duniawi yang tidak mengenal Tuhan.

“Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” Pengkhotbah 12: 12 – 14

Menjadi sempurna seperti Bapa

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Pernahkah anda menonton film Superman? Bagi yang pernah, Superman adalah manusia yang “super”; ia adalah seorang pria yang sehari-harinya hidup sebagai orang yang sederhana dan sopan, tetapi tanpa diketahui orang lain, ia adalah seorang pembela keadilan dan pembasmi kejahatan. Ia tidak bisa mati, ia bisa terbang kemana saja dengan kecepatan supersonic. Sudah tentu tokoh Superman hanyalah ada dalam khayalan, karena tidak ada manusia yang seperti dia. Walaupun begitu, film Superman selalu mendapat perhatian para pecinta layar perak, baik yang tua maupun yang muda, mungkin karena mereka bisa bebas berkhayal selama menonton.

Sudah tentu dalam kenyataannya manusia super itu tidak ada. Alkitab malahan mengatakan bahwa semua manusia itu adalah makhluk berdosa yang seharusnya menerima murka Allah, jika tidak karena kemurahanNya yang dinyatakan dengan pengurbanan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Jika ada seorang Superman yang benar-benar super, itu adalah manusia Yesus yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia yang percaya kepadaNya. Yesus adalah sempurna seperti Allah Bapa, karena Ia dan Bapa adalah satu adanya.

Dalam ayat diatas, Yesus berkata bahwa seluruh orang percaya haruslah menjadi sempurna sama seperti Allah Bapa. Bagaimana mungkin manusia yang berdosa ini bisa menjadi sempurna, tidak bercacat cela, suci seperti Tuhan? Banyak orang yang berpendapat bahwa perintah Yesus ini tidak mungkin bisa tercapai. Tetapi, Yesus yang menyuruh kita untuk menjadi sempurna, sudah tentu tahu bahwa hal ini bisa dicapai umatNya. Bagaimana pula kita bisa menjalankan perintah Yesus ini?

Mengenai apa yang sempurna, haruslah dimengerti bahwa kesempurnaan yang dipandang Tuhan adalah hal yang mutlak, karena Ia adalah Tuhan yang mahasuci. Sebaliknya, istilah sempurna (perfect) yang sering dipakai manusia adalah sesuatu yang relatif, karena tiap manusia mempunyai standar sendiri. Seringkali, umat Kristen berusaha mencapai taraf kesempurnaan rohani tertentu dengan melakukan hal-hal atau kebiasaan tertentu yang dianggap sebagai kesempurnaan dalam Kristus, tetapi apapun yang kita lakukan tidaklah akan menaikkan kesempurnaan kita dihadapan Allah. Penebusan dosa kita oleh darah Kristus adalah pengurbanan yang sudah sempurna sehingga Allah mau menerima kita sebagai anak-anakNya, sekalipun kita mempunyai banyak cacat cela.

Jika pengurbanan Kristus sudah cukup untuk membuka pintu surga bagi orang percaya, adakah yang harus kita lakukan selama hidup di dunia? Pertama-tama, kita harus selalu bersyukur atas kemurahan Tuhan. Hidup bersyukur adalah hidup dengan memuliakan Dia melalui segala apa yang kita lakukan. Yang kedua, kita harus membina hubungan kita dengan Tuhan, sehingga makin lama kita akan makin mengenal Dia yang mahabesar dan mahakasih. Dengan semakin mengenal Dia, kita akan semakin tahu apa yang dikehendakiNya atas hidup kita, sehingga makin hari kita makin menyerupaiNya.

Dalam ayat diatas, Yesus memerintahkan kita untuk menjadi sempurna dalam konteks kasih Allah yang tidak membeda-bedakan manusia. Bapa kita yang di sorga, menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5: 45). Tuhan jugalah yang karena kasihNya kepada seisi dunia, telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16).

Pagi ini, panggilan Yesus untuk kita adalah untuk menjadi sempurna dalam hal mengasihi sesama manusia. Seringkali, dalam usaha kita untuk menjalankan hukum kedua ini, kasih kita hanya terpusat kepada orang-orang pilihan. Selain itu, rasa kurang senang juga sering muncul untuk orang-orang tertentu. Padahal Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi semua orang tanpa pandang bulu. Jika kita tetap bertahan dengan pandangan manusiawi, yang hanya memberikan kasih kepada orang yang “pantas” kita kasihi, bagaimana pula dengan kita, apakah kita sebenarnya pantas untuk menerima kasih Allah? Jika kita dapat merasakan besarnya kasih Allah kepada kita, kita akan lebih mudah untuk mengasihi sesama kita sama seperti Dia yang di surga.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Berpikir positif secara benar

Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.” Mazmur 25: 12

Kemarin saya mendapat kiriman sebuah rekaman Vlog, atau video blog, dari seorang motivator yang cukup populer. Dalam rekaman itu, si pembicara mengatakan bahwa cara berpikir kita akan menentukan nasib kita. Masa depan manusia tergantung pada pandangan hidup mereka. Mereka yang selalu berpikir negatif tentang dirinya sendiri, akan menemui masa depan yang suram; tetapi mereka yang bisa berpikir positif akan menemukan keberhasilan dalam hidup.

Ajaran “positive thinking” ini sekarang populer di kalangan kaum motivator yang mencari penghasilan dari menjual nasihat yang nampaknya bijaksana kepada orang lain. Memang mereka yang berusaha untuk membangkitkan semangat orang lain, tentunya tidak memberikan nasihat yang bernada suram. Selain motivator, banyak juga pendeta dan penginjil populer yang menyuarakan hal yang sama: kita bisa menjadi orang yang berhasil, apa saja, jika kita percaya.

Positive thinking adalah baik, jika ditinjau dari segi psikologi. Tetapi itu belum tentu sesuai dengan iman Kristen. Iman Kristen memang menyangkut cara berpikir positif, tetapi yang bukan berasal diri kita sendiri; bukan dengan keyakinan bahwa kita adalah baik, cantik, mampu, bijak dan kuat. Tetapi, orang Kristen berpikir positif dengan percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa mengasihi semua anakNya, dengan tidak memandang siapa mereka dan bagaimana keadaan mereka. Orang Kristen juga percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa senantiasa membimbing mereka yang taat dan takut kepadaNya.

Orang Kristen adalah orang yang mempraktikkan positive thinking dengan pertama-tama menempatkan dirinya sebagai orang yang membutuhkan Tuhannya. Yesus Kristus sudah menebus dosa setiap orang yang percaya melalui darahNya. Dengan itu kita mempunyai masa depan yang baik karena seluruh dosa dan kelemahan kita tidak lagi membebani hidup kita. Kita tahu bahwa apapun keadaan kita, jika kita sudah mengaku dosa kita dan menerima Yesus sebagai Juruselamat kita, Tuhan itu setia dan adil dan Ia akan ada di pihak kita dan menyertai kita.

Positive thinking sebagai orang Kristen dengan demikian juga membawa keyakinan bahwa Tuhan yang sudah menerima kita sebagai anak-anakNya, tentu adalah Tuhan yang memelihara mereka selama hidup di dunia. Tuhan adalah mahabijaksana, dan Ia tahu segala kebutuhan kita sebelum kita mengucapkannya. Tuhan juga tahu apa yang terbaik untuk anak-anakNya, dan Ia selalu mau membimbing mereka yang mau dibimbingNya.

Pagi ini, ayat diatas menggaris bawahi the power of positive thinking, kekuatan yang ada dari cara berpikir positif. Ayat itu mengajarkan bahwa jika kita mau mempunyai masa depan yang baik, baiklah kita percaya dan berserah kepada Tuhan yang mahakuasa, agar Ia menunjukkan jalan yang terbaik untuk kita. Dengan berpikir positif, kita tidak lagi bergantung pada kesombongan, kekuatan, keinginan dan impian kita; tetapi kita akan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan kita. Dengan berpikir positif, kita yakin ada kuasa dalam darahNya yang bisa mengubah cara hidup kita.

Would you be free from your passion and pride

There’s power in the blood, power in the blood

Come for a cleansing to Calvary’s tide

There’s wonderful power in the blood

There is power, power, wonder-working power

In the blood of the Lamb

Pujilah Dia yang empunya segalanya

“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya.” Ulangan 10: 14

Tuhan adalah yang empunya segala sesuatu di jagad raya. Seperti bunyi ayat diatas, itu adalah pengakuan orang percaya. Sebuah kenyataan yang harus diterima, sekalipun dalam hidup sehari-hari orang sering melupakan atau mengabaikannya. Mengapa begitu? Itu karena manusia umumnya memandang bahwa segala sesuatu bisa diatur dan dikuasai dengan usaha manusia. Apa yang bisa dikelola manusia dan segala hasil budi daya manusia dianggap sebagai miliknya.

Hidup dan segala aspeknya adalah milik individu, begitu pandangan umum manusia. Baik itu harta, rumah tangga, keluarga, pekerjaan, maupun kesehatan adalah hak milik pribadi yang tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain. Setiap orang berhak mencari, memiliki, memelihara dan mengembangkan semuanya. Itulah apa yang diyakini setiap orang dan dikenal sebagai hak asasi manusia.

Iman Kristen mendukung pelaksanaan hak asasi manusia dalam konteks hidup bernegara. Walaupun demikian, ajaran Kristen jelas menunjukkan bahwa segala sesuatu ada karena Tuhan, dan karena itu manusia hanyalah wakil Tuhan, caretaker, untuk memelihara dunia dan segala isinya. Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan berbagai kewajiban.

Bagi mereka yang menerima kenyataan bahwa semua yang ada adalah milik Tuhan, menghargai dan memelihara kehidupan, keindahan, ketenteraman, dan keseimbangan di dunia adalah tugas, seperti apa yang sudah diperintahkan Tuhan kepada Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Segala yang ada di dunia dan bahkan di jagad raya adalah milik Tuhan dan manusia hanya peminjam dan pemakai sumber budi daya dari Tuhan. Dengan demikian, setiap manusia seharusnya menyadari bahwa tindakan apapun yang mengurangi dan merusak keindahan ciptaan Tuhan adalah dosa. Apapun yang diperbuat manusia, yang bisa merendahkan kemuliaan Tuhan adalah bertentangan dengan rencana penciptaanNya.

Pagi ini ayat diatas mengingatkan kita untuk sadar bahwa dalam hidup ini, kita bertanggung jawab kepada Tuhan atas apapun yang kita perbuat atau lakukan terhadap diri kita, orang lain, flora dan fauna dan seisi dunia. Kita juga bertanggung jawab atas cara berpikir, pandangan hidup, ucapan dan tindakan apapun yang kita tujukan kepada siapa dan apa saja yang sudah diciptakan Tuhan.

Sebagai orang Kristen kita harus menghargai semua ciptaan Tuhan dan merasa sepenanggungan atas hal-hal yang terjadi di dunia. Terlalu sering kita hanya memikirkan diri sendiri, keluarga, suku dan bangsa kita, dan melupakan kenyataan bahwa Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dan menghargai semua ciptaanNya. Kita harus sadar bahwa seluruh umat manusia diciptakan Tuhan untuk memuliakan Dia, dengan menghargai segala apa yang sedang dan sudah dilakukanNya – bagi makhluk hidup ataupun benda mati, dan juga bagi makhluk yang masih hidup maupun yang sudah mati. Tuhan adalah pencipta dan pemilik semua yang ada dan pernah ada, dan kita adalah sebagian darinya. Dalam segala keadaan, kita harus memuji Dia dengan menghargai segala yang sudah diciptakanNya.

“Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Mazmur 103: 22

Ujian itu pasti tak nyaman

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12: 11

Bulan November adalah bulan sibuk bagi para mahasiswa dan dosen di Australia, karena adanya ujian semester 2. Pada bulan itu biasanya pohon Jacaranda berbunga lebat; bunganya yang berwarna ungu hanya bertahan satu atau dua minggu sebelum rontok. Sekalipun bunganya indah, ada takhayul bahwa pohon Jacaranda membawa sial kepada mahasiswa yang kejatuhan bunganya, karena mereka akan mengalami masalah dalam ujian.

Adanya ujian bagi sebagian siswa adalah seperti momok. Jika ujian pada saat yang lalu merupakan keharusan yang harus diterima, pada zaman ini seringkali muncul berita tentang adanya depresi diantara kaum siswa yang harus menghadapi ujian. Karena itu ada orang-orang yang mengusulkan ditiadakannya ujian-ujian tertentu yang dirasakan berat. Ujian sebuah mata kuliah yang dulu bisa berlangsung selama 4-5 jam, sekarang pada umumnya dibatasi untuk 2 jam saja.

Tidak dapat disangkal bahwa adanya ujian itu tetap perlu sebelum seseorang dinyatakan memenuhi syarat untuk naik kelas atau naik pangkat. Walaupun demikian, mengapa ujian itu seringkali terasa sebagai hukuman berat dan bukannya kesempatan untuk mencapai keberhasilan? Kebanyakan orang takut adanya ujian karena kuatir tidak lulus. Ujian sendiri bukan masalah jika tidak ada konsekuensinya. Tetapi, adakah ujian yang menjamin semua peserta untuk lulus? Kalau ada, itu bukanlah ujian atau exam namanya. Mungkin itu bisa dinamakan latihan atau exercise. Dalam konteks pendidikan, baik ujian maupun latihan adalah perlu. Mereka yang tidak cukup berlatih, biasanya akan menemui kesulitan dalam ujian. Mereka yang kurang berdisiplin dalam berlatih, akan mengalami masalah dalam menghadapi ujian. Disiplin dalam berlatih adalah kunci kekuatan dan keyakinan akan keberhasilan di masa depan.

Dalam ayat diatas, kita membaca bahwa tiap orang percaya akan mengalami masalah dalam hidup ini. Seperti apa yang dialami para siswa, adanya masalah hidup tidak membawa sukacita kepada orang yang mengalaminya. Tidak hanya rasa kuatir, tetapi juga rasa sakit baik secara badani maupun batin, bisa muncul ketika kita menghadapi persoalan yang berat. Apa artinya semua ini? Haruskah aku mengalaminya? Apa yang akan terjadi? Sanggupkah aku menjalaninya? Bagaimana pula kalau aku gagal?

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa setiap masalah yang kita hadapi adalah sebuah exercise kehidupan yang pada akhirnya bisa menghasilkan rasa damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Dengan demikian, setiap kali kita menghadapi masalah kehidupan, kita harus bersyukur bahwa selama ada latihan yang kita hadapi bersama Tuhan, kesempatan ada bagi kita untuk tumbuh makin kuat dalam iman. Mereka yang berdisiplin dalam menghadapi masalah, akan bisa hidup dalam keyakinan, yang makin lama makin kuat, atas kemenangan yang sudah dijamin oleh darah Yesus.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7

Hal bertarak sebagai orang Kristen

“Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.” 1 Korintus 7: 35

Tahukah anda bahwa dengan kemajuan teknologi, orang sering merasa lebih sulit untuk mengatur waktu? Dulu sebelum ada mobil, orang harus berhari-hari naik kereta kuda untuk pergi ke kota lain. Sekarang dengan mobil atau pesawat terbang, orang hanya membutuhkan beberapa jam untuk pergi ke tempat yang jauh. Dulu sebelum ada internet, surat dari Australia ke Indonesia memakan waktu hampir seminggu. Sekarang dengan email atau WhatsApp, dua orang dapat saling berkirim kabar secara instan seolah mereka saling berhadapan muka. Walaupun demikian, orang di zaman ini sering kehabisan waktu karena banyaknya kegiatan hidup dan tingginya frekwensi komunikasi antar manusia. Dengan majunya teknologi, orang mempunyai banyak acara dan tugas yang membuat waktu yang 24 jam sehari itu seakan menguap dengan cepat.

Banyak orang yang sekarang ini mengalami persoalan dengan mengatur kegiatan hidup, sehingga mereka tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memberi perhatian kepada keluarga. Tekanan hidup dan kegiatan sehari-hari membuat suami istri menjadi jarang untuk bisa berkomunikasi secara intim. Kurang adanya waktu juga menyebabkan orang Kristen kurang bisa untuk membina hubungan dengan Tuhan, dan tidak mampu untuk memuliakan namaNya. Kesibukan hidup adalah penyebab manusia merasa bahwa ia tidak punya waktu, sekalipun setiap orang mempunyai jumlah waktu yang sama setiap hari.

Apakah kehidupan umat Kristen pada zaman rasul Paulus berbeda dengan kehidupan kita? Mungkinkah mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk melayani Tuhan karena pada waktu itu belum ada mall, Facebook dan WhatsApp? Bukankah pada zaman itu belum ada kegiatan merumpi dan chat? Bukankah pada waktu itu tidak ada orang yang mempunyai ribuan teman yang tiap hari memerlukan sapaan kita? Tentu mereka banyak waktu untuk Tuhan!

Dalam ayat diatas, rasul Paulus mengungkap adanya kemungkinan bahwa seseorang kehabisan waktu karena faktor keluarga. Mereka yang sudah menikah tentunya harus berusaha menyenangkan hati pasangan mereka. Itu tidak mudah, sekalipun dalam situasi yang ideal. Apalagi, hidup sebagai suami istri tentunya selalu mengalami berbagai tantangan. Karena itu, sekalipun pernikahan adalah sesuatu yang baik dan merupakan hak setiap orang, Paulus menganjurkan agar mereka yang tidak merasa perlu untuk mencari pasangan hidup, untuk tetap single atau tidak menikah, supaya bisa mempunyai perhatian dan waktu yang lebih banyak untuk Tuhan.

Banyak orang yang menafsirkan bahwa Paulus kurang menyukai pernikahan atau kaum wanita.  Sebenarnya Alkitab tidak jelas menyatakan apakah Paulus pernah menikah atau tidak; tetapi jika ia pernah menikah (lihat 1 Korintus 9: 5), kemungkinan istrinya sudah meninggal dunia pada waktu ia menulis pesan-pesannya. Paulus sendiri menulis bahwa sebagai seorang pria ia mempunyai karunia untuk bisa hidup bertarak (1 Korintus 7: 7). Karunia bertarak inilah yang dikatakannya membuat dia bisa memusatkan hidupnya untuk Tuhan. Ia tidak lagi terikat pada kebutuhan dan kewajiban badani seperti mereka yang mempunyai pasangan hidup.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah kita mempunyai cukup waktu untuk Tuhan. Mungkin kita tidak punya waktu untuk memikirkan pertanyaan ini. Terlalu sibuk dengan kegiatan hidup sehari-hari, terlalu terikat dengan kegembiraan yang ditawarkan dunia modern ini. Mungkin pula kita sudah pernah berusaha untuk mengurangi kegiatan-kegiatan yang menyita waktu dan perhatian kita, yang kelihatannya baik dan merupakan hak kebebasan setiap manusia.Tetapi, mungkin seperti orang lain, kita sering gagal untuk menentukan prioritas kehidupan.

Paulus dalam ayat diatas mengatakan bahwa jika kita benar-benar mau melayani Tuhan, sebaiknya kita melakukan apa yang benar-benar perlu, agar bisa melayani Tuhan tanpa gangguan. Bertarak dari kenikmatan dan standar duniawi adalah kunci kesuksesan dalam memuliakan Tuhan. Walaupun demikian, dengan kekuatan kita sendiri  tidaklah mudah bagi kita untuk  menghindari hal-hal yang yang menghabiskan waktu kita. Karena itu, kita harus mau untuk selalu memohon kekuatan dari Tuhan agar bisa mengatur prioritas hidup kita.

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5: 15 – 16

Cinta datang karena terbiasa

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” 1 Korintus 15: 33

Pada saat saya baru menikah, istri saya yang gemar memasak mengalami sedikit kesulitan. Ia senang makanan pedas, sedang saya tidak dapat mencerna makanan yang agak pedas. Karena itu, ia merasa perlu untuk mengurangi kepedasan makanan apapun yang dipersiapkannya. Tentu saja, baginya makanan-makanan itu menjadi kurang sedap. Tetapi bagi saya, makanan yang dikatakannya tidak pedas, seringkali tetap terasa pedas! Ajaib ajaib, setelah hampir 40 tahun hidup bersama, saya menyadari bahwa selera saya sudah berubah. Saya sekarang senang makanan yang pedas. Saya suka karena terbiasa. Tresno mergo kulino, kata pepatah Jawa.

Dalam hidup ini memang manusia tidak dilahirkan dengan kebiasaan apapun, Kebiasaan terbentuk kebanyakan karena faktor lingkungan dan juga melalui pengalaman pribadi. Apa yang tidak terbiasa, lama- lama menjadi biasa karena orang disekitar kita melakukannya dan menganggap itu sebagai suatu norma. Juga, apa yang dulunya tidak terbiasa, lambat laun menjadi kebiasaan setelah lama mencoba-coba. Bahkan apa yang dipandang sebagai tabu, bisa menjadi sesuatu yang memberi kenikmatan dan kepuasan tersendiri, apalagi jika masyarakat umum bisa menerima hal itu.

Banyak hal dalam hidup yang jika kita pikirkan dalam-dalam, adalah sesuatu yang tidak baik. Melanggar peraturan lalu lintas, mengabaikan etika, menyebarkan kebohongan melalui sosial media dan “dosa-dosa kecil” lainnya memang mudah menjadi kebiasaan. Bagi orang lain, malahan hal-hal yang jauh lebih serius seperti perselingkuhan, menyuap pejabat dan korupsi sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak mengherankan. Manusia bisa menjadi kurang sensitif karena terbiasa melihat, mendengar dan melakukan hal-hal itu dalam hidup. Karena itu, apa yang sebenarnya dosa atau perbuatan yang tidak etis, sekarang sering dipandang biasa dan bahkan diartikan sebagai “budaya” atau sesuatu yang perlu dilakukan.

Besarkah pengaruh masyarakat terhadap pandangan hidup seseorang? Tentu! Ayat diatas mengatakan bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Kita bisa melihat seorang ABG (anak remaja) misalnya, belajar merokok karena pengaruh teman-temannya (peer pressure). Begitu juga mereka yang sudah dewasa akan terpengaruh oleh teman- teman sebaya dan selingkungan. Bahkan orang yang sudah lanjut usia pun bisa terpengaruh oleh pandangan hidup dan kebiasaan yang dimiliki teman sepergaulan. Apa yang dulu tidak kita sukai bisa menjadi sesuatu yang kita gemari melalui proses interaksi antar manusia.

Pergaulan adalah penting bagi manusia karena manusia adalah makhluk sosial. Mereka yang tidak mau hidup bermasyarakat, lambat laun bisa terseret dalam kesepian dan depresi. Walaupun demikian, ayat diatas menekankan pentingnya kita untuk mawas diri, agar tidak jatuh kedalam dosa karena terbiasa. Kita harus berhati-hati agar tidak berkurang rasa sensitif kita terhadap hal- hal yang kurang baik atau tidak etis.

Pergaulan yang baik adalah hubungan yang dilandasi firman Tuhan. Itu bukan pergaulan yang diterima masyarakat, karena setiap masyarakat mempunyai norma-norma tersendiri, yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Apa yang tidak melanggar hukum atau etika di satu tempat, belum tentu benar jika dipandang menurut Alkitab. Jika kita tidak berhati-hati, apa yang dianggap biasa oleh masyarakat yang tidak mengenal Kristus, mungkin saja lambat laun menjadi pedoman dan cara hidup kita.

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” 1 Korintus 6: 12