Mengapa orang menjahati kita?

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Jika kita membaca berita di media, selalu ada saja hal-hal yang membuat kita menghela nafas. Dunia ini seakan dipenuhi dengan kekerasan dan ketidakadilan. Herankah kita melihat adanya ketidakadilan di dunia? Mungkin saja tidak, karena dunia ini memang sudah jatuh kedalam dosa. Kejadian yang tidak menyenangkan dan yang tidak adil tentu bisa terjadi pada orang-orang disekitar kita.

Herankah kita mengapa kejadian yang tidak menyenangkan sering terjadi pada diri kita sekalipun kita tidak bersalah dan bahkan berusaha berbuat baik kepada orang lain? Inilah pertanyaan yang lebih sulit dijawab karena diri kita tersangkut secara langsung. Hal itu mungkin adalah sesuatu yang sangat tidak adil bagi kita. Sangat menyakiti hati kita. Mengapa aku? Why me? Itu tidak adil! It’s not fair!

Dua ribu tahun yang lalu, seorang bayi dilahirkan di kandang domba di Betlehem. Putra Raja semesta alam, tetapi tidak dihormati manusia. Setelah dewasa, Ia berkeliling memberitakan kabar baik, bahwa mereka yang mau mengikutNya akan memperoleh hidup kekal. Kabar baik ini justru diterima dengan kebencian oleh manusia, yang kemudian menyalibkanNya. Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, dibunuh oleh manusia yang ingin diselamatkanNya. Sungguh tragis. Itukah keadilan?

Yesus datang ke dunia ini tidak dengan harapan bahwa sebagai manusia yang tidak berdosa, Ia akan menerima perlakuan baik dan keadilan dari orang-orang disekitarNya. Sebaliknya, Ia tahu dari mulanya bahwa orang akan membenci, menyiksa dan membunuhNya. Karena itu dalam ayat diatas Yesus menasihati murid-muridNya bahwa jika mereka mengalami hal yang serupa di dunia, mereka harus ingat bahwa Ia telah lebih dahulu mengalaminya.

Pagi ini, marilah kita sejenak memikirkan mengapa Yesus mau berkurban untuk manusia yang durhaka. Tentu semua itu adalah karena ketaatanNya kepada Bapa dan kasihNya kepada manusia. Inilah yang membuat Yesus berbeda dengan pemimpin-pemimpin dunia. Yesuslah yang mengisi dunia ini dengan keadilan dan kasih surgawi. Dan Ia mengharapkan bahwa setiap muridNya bisa meniru Dia.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29

Sebagai pengikut Kristus, kita harus memikul kuk dan belajar dari Dia. Dengan demikian, kita akan bisa tetap kuat dalam menghadapi hal-hal yang serupa dengan apa yang dialami Yesus. Jika kita bisa menjalankan tugas dalam hal keadilan dan kasih yang serupa dengan apa yang dilakukan Yesus, dunia tidak akan dipenuhi oleh ketidakadilan dan kekerasan, karena kitalah yang bisa membawa perbedaan.

Semoga kita mengerti mengapa ada orang-orang yang membenci kita, yang menyakiti kita, yang tidak adil dan menyusahkan kita dalam hidup ini. Semua itu termasuk dalam paket kehidupan kita sebagai pengikut Kristus selama kita masih di dunia agar nama Tuhan dipermuliakan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 44″

Melalui kehancuran datanglah keindahan

“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Roma 6: 5

Dapatkah seorang manusia mengenal Tuhan jika hidupnya tak pernah kekurangan apapun dan tak pernah mengalami masalah yang berarti? Pertanyaan ini tidaklah mudah dijawab.

Memang kerinduan sebagian manusia akan Tuhan itu ada hubungannya dengan perasaan atau keyakinan bahwa hidup mereka tidak dapat sepenuhnya mereka kontrol. Orang-orang yang yakin bahwa hidup sepenuhnya ada di tangan mereka, sudah tentu tidak mau menyerahkan kemudi kehidupan kepada Tuhan. Tetapi, ada juga mereka yang sekalipun berada dalam keadaan yang sulit, tetap tidak mau percaya kepada Tuhan yang bisa menolong mereka; malahan ada orang-orang yang menolak Tuhan karena penderitaan yang ada. Sebaliknya, ada juga orang-orang yang hidupnya nyaman, tetapi justru bisa bersyukur dan taat kepada Tuhan – seperti Ayub sebelum diganggu iblis. Mengapa bisa begitu?

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Hanya orang yang berdosa yang sadar bahwa ia tidak mempunyai jalan keluar untuk memperoleh keselamatan, dan orang yang hancur hatinya serta merasa hilang harapan, membutuhkan belas kasihan dan pertolongan Tuhan. Hanya orang yang sudah merasakan kasih dan anugerah Tuhan, bisa hidup bersyukur dalam setiap keadaan. Sebaliknya, mereka yang selalu merasa di atas angin karena usaha sendiri, sudah tentu tidak dapat memikirkan perlunya atau adanya Tuhan.

Memang Yesus pernah berkata bahwa hanya orang yang sakit memerlukan tabib. Dan tentunya orang yang bisa kembali sehat karena pertolongan tabib, tidak bisa melupakan pertolongan tabib itu.

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Matius 9: 12

Kalau orang yang berdosa dan menderita memerlukan Yesus, mereka yang “saleh” dan nyaman hidupnya mungkin tidak terlalu merasakan kebutuhan itu. Walaupun begitu, sebenarnya tidak ada seorang pun yang bisa yakin bahwa ia tidak membutuhkan Yesus; karena semua orang adalah “sakit” dan memerlukan tabib dalam hidupnya. Orang yang tidak merasa bahwa ia berdosa dan lemah, sebenarnya sudah menipu dirinya sendiri. Dan orang yang merasa hidupnya baik dan nyaman karena usaha sendiri, sebenarnya sudah menolak kenyataan bahwa Tuhanlah sumber segala berkat.

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” 1 Yohanes 1: 8

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa jika kita ingin memperoleh hidup baru dalam Kristus, hendaknya kita sadar akan segala kelemahan dan dosa kita. Kita harus mengakui kegagalan kita dalam usaha mencapai standar kebaikan Tuhan. Kita harus mengakui bahwa sekalipun hidup kita terlihat indah dan nyaman dalam pandangan manusia, Tuhan melihat hidup kita sebagai reruntuhan yang perlu disingkirkan guna memberi tempat untuk bangunan baru. Kita harus mau mengakui bahwa hidup kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan, dan mau menyalibkan apa yang ada dalam hidup lama kita, untuk bisa dibangkitkan dalam hidup baru yang sepenuhnya bisa memuliakan Tuhan.

Marilah kita mau meneliti hidup kita saat ini dan mengakui bahwa bagaimanapun kita berusaha untuk mencari kebahagiaan sejati dengan usaha kita sendiri, apa yang kita peroleh seringkali hanyalah kekecewaan dan kehampaan. Tetapi, jika kita mau mempersilahkan Kristus menjadi Raja dalam hidup kita, apa yang dulunya tidak berguna dan berantakan akan bisa diubah menjadi sesuatu yang berharga dan indah di mata Tuhan. Demikian juga, Tuhan bisa mengubah segala penderitaan yang kita alami untuk menjadi kekuatan iman yang memberi kedamaian dalam hidup yang baru. Semoga kita mau mempersilahkan Tuhan untuk mengatur hidup kita sepenuhnya!

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Kesempatan dalam kesempitan

Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Lukas 10: 2

Australia adalah salah satu negara yang menghasilkan banyak hasil perkebunan, seperti mangga, ceri, anggur, apel dan jeruk. Daerah perkebunan semacam ini biasanya terletak di pelosok desa yang jarang penduduknya. Karena itu, jika musim menuai datang, pemilik kebun harus mencari orang-orang yang mau bekerja sebagai penuai (fruit picker). Pekerjaan yang berat ini biasanya dilakukan oleh turis-turis dari luar negeri yang ingin menambah uang saku. Jika jumlah penuai kurang dari yang dibutuhkan, banyak hasil kebun terpaksa menjadi busuk karena tidak tertuai.

Dalam ayat diatas, Yesus menggambarkan bahwa ada banyak tuaian, yaitu orang-orang yang seharusnya bisa menjadi pengikutNya. Tetapi, orang-orang yang mau menuai, yaitu orang yang mau membimbing mereka ke arah yang benar, tidaklah cukup jumlahnya. Karena itu, kita harus berdoa meminta agar ada lebih banyak orang Kristen yang mau bekerja menuai di ladang Tuhan.

Ilustrasi yang menyangkut kegiatan pertanian dalam Alkitab memang cukup banyak. Kita bisa membaca bahwa Tuhan menabur benih di hati manusia yang berbagai ragam. Seperti tanah yang subur, hati mereka yang mau mendengar, mengerti dan melaksanakan Firman Tuhan akan mengeluarkan hasil yang berlipat ganda (Matius 13: 8).

Tuhan sebenarnya menghendaki setiap umatNya untuk bekerja di ladangNya, untuk membawa sebanyak mungkin orang menuju ke arah keselamatan yang sudah diberikan melalui penebusan Kristus. Tetapi tidaklah banyak orang Kristen yang benar-benar menyadari bahwa apa yang sudah diterimanya bukanlah hanya untuk dirinya sendiri. Tidak banyak orang yang mengerti bahwa sebagai orang yang sudah diselamatkan, mereka terpanggil untuk mengeluarkan hasil baik yang berlipat ganda.

Melalui Amanat AgungNya, Yesus menyuruh umatNya untuk membawa orang yang ada dimana saja untuk menjadi murid-muridNya.

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28: 19-20

Karena itu, sebagai orang percaya kita seharusnya terpanggil untuk menjadi penuai di ladang Tuhan. Kita harus sadar bahwa waktu yang ada untuk menuai adalah terbatas. Tuhan yang sudah menumbuhkan benih-benih iman dalam diri setiap orang, adalah Tuhan yang ingin agar apa yang sudah ditumbuhkanNya bisa dituai pada waktu yang tepat, sebelum terlambat.

Kesempatan masih ada saat ini bagi kita untuk menjadi penuai sebelum Tuhan datang. Karena jika waktunya datang, akan terlambatlah orang-orang yang belum menerima Yesus untuk diselamatkan. Waktu untuk menuai juga terbatas karena kita tidak tahu berapa panjang kesempatan bagi orang-orang disekitar kita untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Lebih dari itu, kita tidak tahu berapa lama kita dapat memakai hidup kita dan segala kemampuan yang ada untuk bekerja di ladangNya.

Pagi ini kita diingatkan bahwa kesempatan yang ada untuk membawa banyak orang kepada iman yang benar tidaklah banyak. Walaupun demikian, dalam kesempitan yang kita alami saat ini -dimana iblis lebih giat bekerja mengacau kehidupan manusia dan berusaha membuat umat Kristen lalai akan perintah Tuhan – kita masih mempunyai kesempatan untuk bekerja keras untuk membawa banyak orang ke arah yang benar demi kemuliaan Tuhan. Pakailah kesempatan anda selagi masih ada!

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” Yohanes 14: 12

Bagaimana bisa menjadi pengikut Yesus

Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9: 62

Sebagai orang Kristen kita mengaku bahwa kita adalah orang beriman dan pengikut Yesus. Agaknya, setiap orang yang mengaku percaya kepada Kristus, juga mengakui bahwa mereka juga pengikutNya. Apakah iman (faith) kepada Kristus adalah sama dengan menjadi pengikut (disciple) Yesus?

Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai untuk menjadi pengikut Yesus adalah mathetes, yang bukan saja berarti “murid”, tetapi adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan dalam segala segi kehidupan mereka. Jika orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Musa (Yohanes 9: 28), murid-murid Yesus dinamakan pengikut Yesus sebelum ada sebutan “orang Kristen”. Mereka menjadi pengikut Yesus ketika mereka mengambil keputusan untuk mengikutiNya (Matius 9:9). Menjadi pengikut Kristus adalah hidup dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan.

Menjadi pengikut Kristus adalah keputusan kita. Jika kita pernah menyanyikan lagu terkenal “Mengikut Yesus keputusanku”, agaknya tidak sulit untuk sekedar mengakui bahwa kita adalah orang beriman yang menjadi pengikut Yesus. Tetapi, dalam kenyataannya, tidaklah semudah itu untuk menjalaninya.

Mengapa tidak mudah untuk menjadi pengikut Yesus? Apa syarat-syarat untuk menjadi pengikutNya? Memang sebagai pengikut Yesus kita harus mengasihi Tuhan dan sesama kita, tetapi untuk melaksanakan kedua hukum yang paling utama itu kita setidaknya memerlukan dua hal yang penting: kesiapan dan kesetiaan. Ada orang yang tidak pernah memiliki keduanya, sehingga ia tidak pernah bisa untuk menjadi pengikut Yesus, tetapi ada yang hanya memiliki salah satu saja, sehingga ia mungkin hanya tahan untuk menjadi pengikut Kristus dalam kurun waktu yang singkat saja.

Dalam kitab Lukas 9: 57-61 tertulis adanya seseorang yang berkata bahwa ia mau mengikut Yesus kemana saja, tetapi Yesus menolaknya karena ia belum siap untuk menghadapi perjuangan berat sebagai pengikut Yesus. Dalam ayat 58, Yesus berkata kepadanya “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Menjadi pengikut Yesus bukannya berarti hidup dalam kenyamanan dan berfokus pada kesuksesan pribadi, tetapi hidup dalam ketabahan dan berfokus pada kemuliaan Tuhan.

Ada orang-orang lain yang diajak Yesus untuk menjadi pengikutnya karena mereka tampak sudah siap berjuang, tetapi mereka menjawab bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting yang harus mereka lakukan (Lukas 9: 59, 61). Kepada orang-orang itu Yesus berkata bahwa setiap orang yang siap untuk membajak , yaitu mengikut Dia, tetapi masih mempunyai prioritas-prioritas lain, tidaklah layak untuk mengikut Dia karena dedikasi yang salah (ayat 62).

Pagi ini, pertanyaan untuk kita yang mengaku beriman kepada Yesus adalah: Apakah kita sudah siap dan memang mau untuk menjadi pengikut Yesus? Siapkah kita untuk menjalani perjuangan hidup dengan ketaatan kepada perintahNya dan bekerja untuk kemuliaanNya? Menjadi orang beriman tidak bisa dipisahkan dari menjadi pengikut Kristus (Yakobus 2: 24) karena untuk menjadi orang Kristen tidaklah cukup dengan berdiam diri dan mengabaikan panggilanNya untuk menjadi seperti Dia, dan bekerja untuk memuliakan namaNya dengan setia, hari demi hari baik dalam suka maupun duka.

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Galatia 2: 20

Memuji Tuhan dalam semua keadaan

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 18

Kemarin pagi, dalam kebaktian gereja, lagu “As long as you are glorified” dinyanyikan. Dalam bahasa Indonesia, judul lagu ini bisa diterjemahkan sebagai “Asal Engkau (Tuhan) dipermuliakan”. Sebagian syairnya berbunyi;

Shall I take from Your hand Your blessings, yet not welcome any pain?

Bolehkah aku mengambil dari tanganMu berkat-berkat, tetapi menolak hak-hal yang menyakitkan?

Shall I thank You for days of sunshine, yet grumble in days of rain?

Bolehkah aku bersyukur kepadaMu untuk hari-hari yang cerah, tetapi bersungut-sungut untuk hari-hari hujan?

Memang dalam hidup ini selalu ada saja hal-hal yang kurang menyenangkan, yang muncul pada saat yang kurang tepat, yang membuat kita berpikir “hidup akan lebih enak seandainya itu tidak ada”. Tetapi lagu diatas menyatakan bahwa kita harus menerima semuanya dan tetap bisa memuliakan Tuhan. Sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan.

Mengapa Tuhan menciptakan hal-hal yang indah dan juga membiarkan munculnya hal-hal yang kurang bisa dinikmati? Banyak orang yang menghubungkan ini dengan kejatuhan manusia kedalam dosa. Dosa seolah membuat segala sesuatu yang tidak baik muncul di dunia, baik itu berupa keadaan, benda mati maupun mahluk hidup. Benarkah begitu?

Memang menurut Alkitab, sebagian hal-hal yang terlihat kurang baik terjadi karena manusia jatuh dalam dosa dan kemudian diusir dari taman Eden. Tetapi segala sesuatu yang diciptakan Tuhan, baik benda mati maupun mahluk hidup, selalu mempunyai fungsi dan keindahan yang tersendiri. Demikian juga, sekalipun rasa sakit dan penderitaan adalah salah satu akibat kejatuhan dalam dosa, hal-hal semacam itu bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam hidup dan lebih percaya akan pemeliharaan Tuhan.

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” Yakobus 1: 2-3

Sebagai manusia, menikmati apa yang sesuai dengan kebutuhan dan selera kita adalah sesuatu yang kita dambakan. Hidup ini serasa nikmat jika kita bisa mengatur segalanya dan mendapat hasil yang baik sesuai dengan harapan kita. Tetapi, kenyataan hidup menunjukkan bahwa apa yang sudah kita rencanakan dan harapkan belum tentu terjadi. Dan itu seharusnya membuat kita sadar bahwa kehendak Tuhanlah yang harus terjadi dan bukan kehendak kita.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55: 8

Pagi ini Tuhan berfirman bahwa sekalipun hidup kita tidak berjalan sesuai dengan harapan kita, Tuhan tetap menyertai kita. Bagi setiap orang percaya, segala sesuatu terjadi dengan sepengetahuan dan ijin Tuhan. Lebih-lebih lagi, Yesus sudah turun ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa kita dan membawa kita keluar dari kematian yang disebabkan oleh dosa kita. Dengan demikian kita percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita jatuh lagi kedalam dosa dan keputusasaan, karena Ia mengasihi semua anak-anakNya. Didalam kasihNya selalu ada pengharapan akan berkat dan penyertaanNya. Karena itulah kita harus dapat memuji dan memuliakan Dia dalam segala keadaan.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” Mazmur 103: 2

Dalam kesulitan, iman kita diuji

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Markus 4: 40

Dalam kitab Markus 4: 35-41 dikisahkan bahwa para murid bersama Yesus ada dalam sebuah perahu di danau Galilea. Apa yang kemudian terjadi sudah sering dibahas dalam berbagai renungan dan khotbah, yaitu tentang kelemahan manusia dan kemahakuasaan Tuhan. Walaupun demikian, thema ini selalu populer karena sangat aktuil dalam kehidupan manusia.

Saat itu Yesus sedang tidur di buritan ketika angin ribut datang. Karena sangat ketakutan dan dalam ketidakberdayaan, murid-murid-Nya terpaksa membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Apa yang kemudian terjadi adalah diluar dugaan para murid. Yesus bangun dan menghardik angin itu, dan seketika itu angin pun reda dan danau menjadi teduh sekali. Para murid tidak menyangka bahwa Yesus mempunyai kuasa sebesar itu. Masalah manusia yang besar, bisa diatasi hanya dengan sebuah kata dari Tuhan.

Mengapa murid-murid merasa takut ketika perahu mereka diombang-ambingkan topan? Murud-murid Yesus adalah orang-orang yang sederhana, tetapi menyadari kekuatan alam. Apalagi beberapa diantara mereka adalah nelayan. Mereka tahu bahwa manusia harus menyegani kekuatan alam. Dan pada saat itu, mereka merasa bahwa apa yang mereka hadapi adalah lebih besar dari kekuatan dan kemampuan mereka.

Kisah murid-murid Yesus diatas menggambarkan keadaan hidup kita saat terombang-ambing dalam lautan masalah. Apa yang kita lakukan biasanya adalah berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi gejolak ombak kehidupan dengan tenaga sendiri. Seperti murid-murid Yesus, kita berusaha mengemudikan perahu kehidupan kita dengan kemampuan yang ada.

Dalam kesulitan hidup yang besar, setidaknya ada tiga pertanyaan yang bisa muncul dalam hati kita.

  • Mengapa ini terjadi?
  • Dimanakah Tuhan?
  • Apakah Tuhan bisa dan mau menolong?

Masalah kehidupan yang kita hadapi seringkali adalah bagian kehidupan manusia di dunia. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada tetapi merasa bahwa Ia tidak bertindak, Tuhan seakan jauh dari kita. Mungkin seperti Yesus yang tidur di buritan kapal dan yang sepertinya tidak dapat merasakan adanya bahaya yang dihadapi murid-muridNya.

Masalahnya, sekalipun kita sadar bahwa Tuhan ada dan tahu akan persoalan yang kita hadapi, sering tetap ada keraguan atas apa yang bisa dan tidak bisa dilakukanNya. Bukankah ada banyak kejadian yang terjadi di sekeliling kita tanpa menunjukkan adanya intervensi Tuhan? Mungkinkah Tuhan sudah menentukan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukanNya untuk kita? Dan jika Ia tidak dapat atau tidak mau menolong kita, kita pun harus siap menerima itu sebagai nasib kita?

Membaca kisah murid-murid Yesus dalam perahu yang menghadapi topan, kita harus sadar bahwa Tuhan ada beserta kita. Ia bisa dan mau bertindak pada saat yang tepat, sesuai dengan rencanaNya. Dan jika Ia tidak terlihat segera bertindak, itu karena masalah apapun yang kita hadapi, tidaklah sebanding dengan kebesaran kuasa dan kasihNya. Dalam hidup ini, seringkali kita membuat kekeliruan dengan tidak menyadari bahwa hidup kita yang mengalami topan, adalah seperti perahu dimana Tuhan ada bersama kita. Kita seharusnya percaya bahwa selama Dia ada beserta kita, hidup kita akan tetap aman. God is in control.

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 38-39

Kenal tapi tak cinta?

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Roma 1: 21

Sudah berpuluh tahun masyarakat Australia mengetahui adanya kasus kawin paksa diantara beberapa komunitas etnik tertentu. Dalam perkawinan semacam itu, biasanya gadis-gadis remaja (kadangkala anak lelaki) dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak dikenal mereka. Biasanya perkawinan semacam ini disebabkan oleh orang tua gadis yang bersangkutan, yang memaksa anaknya untuk menikah dengan orang yang jauh lebih tua dengan alasan keuangan, kehormatan, agama dan semacamnya. Banyak pernikahan semacam itu berakhir dengan masalah, karena tidak adanya cinta diantara suami dan istri. Selang berapa tahun, mereka bisa kenal satu dengan yang lain, tetapi tetap tidak bisa saling mencintai sebagaimana seharusnya. Perkawinan paksa bertentangan dengan hak asazi manusia dan prinsip kemerdekaan individu. Karena itu, pada tahun 2013, kawin paksa di Australia dimasukkan kedalam golongan kejahatan kriminal.

Seperti hal kawin paksa, memaksa seseorang untuk mengikuti kepercayaan tertentu adalah bertentangan dengan hukum. Setiap orang bebas untuk memilih kepercayaannya sendiri. Dalam hal ini, kita tahu bahwa Tuhan kita sendiri tidak pernah memaksa atau membuat manusia untuk percaya kepadaNya. Tuhan mengharapkan kesadaran manusia, dan keputusan untuk percaya kepada Tuhan adalah di tangan manusia. Tuhan memberikan berbagai kesempatan, masukan, bimbingan dan peringatan kepada manusia untuk percaya kepadaNya, tetapi tidak menjadikan manusia seperti robot yang hanya bisa mengiyakanNya.

Tuhan sudah cukup sering memperingatkan manusia agar mereka sadar akan kemuliaan dan kebesaranNya. Dimanapun manusia berada, mereka dapat menyadari bahwa Tuhan yang maha kuasa pasti ada, dan karena itu Ia harus dimuliakan. Apalagi, Alkitab sudah menjelaskan bahwa Tuhan sendiri sudah datang ke dunia untuk menebus dosa manusia. Karena itu orang tidak dapat berdalih bahwa ia tidak mengenal Tuhan.

“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Roma 1: 19-20

Mengenal Tuhan bukanlah selalu berarti mengasihiNya. Sebab sekalipun manusia mengenal Tuhan, mereka belum tentu selalu memuliakan Dia sebagai Tuhan atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka seringkali menjadi sia-sia dan hati mereka menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka bijaksana, tetapi mereka sebenarnya telah menjadi bodoh. Mereka yang ada di zaman ini menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan hal-hal duniawi, baik dalam kepercayaan kepada diri sendiri, kepada hal-hal mistik, kepada keserakahan ataupun kepada ilah-ilah lain (Roma 1: 21-23).

Bukan hanya mereka yang bukan Kristen yang membuat kesalahan semacam ini. Orang Kristen pun sering jatuh kedalam perangkap iblis. Akibatnya, banyak yang lebih mementingkan hidup pribadi, berusaha menikmati apa yang dapat mereka capai, dan membaktikan diri kepada hal-hal yang membawa kegembiraan sesaat. Sebaliknya, ada juga orang Kristen yang jatuh dalam depresi karena merasa bahwa Tuhan tidak peduli akan hidup mereka. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka penuh dengan keinginan untuk mencari kepuasaan duniawi saja.

Pagi ini kita harus sadar bahwa Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menjadi anak-anakNya. Tetapi karena kasihNya, Ia ingin agar setiap orang yang percaya kepadaNya bisa diselamatkan. Kepercayaan yang benar bukan hanya sekedar pengenalan, tetapi harus mencakup rasa hormat dan kasih. Apakah anda kenal kepada Tuhan dan selalu memuliakan Dia dan bersyukur kepadaNya? Ataukah anda kenal kepadaNya tetapi tidak mencintaiNya?

Menghadapi orang yang sulit

“Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.” Amsal 20: 3

Banyak orang pernah mengalami masalah ketika menghadapi “orang yang sulit” yaitu orang yang tidak bisa diajak berunding, atau orang yang keras kepala, sombong, kasar, tidak tahu aturan, pemarah, pengomel atau cerewet. Pusing! Apalagi jika “orang yang sulit” bertemu dengan orang-orang yang serupa, suasana pasti menjadi bertambah keruh.

Dalam keluarga pun ada suami atau istri yang “sulit diatur” oleh yang lain. Jika keduanya sering bersitegang dan tidak mau saling mengalah, suasana rumah tangga pun akhirnya menjadi kacau dan orang-orang disekitarnya pun bisa ikut menderita.

Kebanyakan orang yang “sulit diatur”, tidak merasa atau tidak mau mengakui bahwa ia adalah orang yang bertemperamen sulit, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut difficult people. Dalam hal ini, banyak juga orang mengaku Kristen, tetapi dalam hidupnya suka bertengkar dengan orang lain, sehingga pada hakikatnya gaya hidup dan sikapnya tidaklah berbeda dengan mereka yang belum mengenal Kristus.

Apakah pengenalan akan Kristus itu bisa secara nyata mengubah hubungan antara manusia sehingga mereka bisa saling menghormati, saling bersabar dan merendahkan diri dalam usaha untuk menyelesaikan masalah? Seharusnya begitu!

Karena Kristus dalam hidupNya di dunia juga sering menghadapi orang yang sulit diatur, sikap kita kepada orang-orang semacam itu seharusnya mencontoh Dia. Dalam Yesus berinteraksi dengan orang yang sulit, Ia tidak pernah menunjukkan sikap menang sendiri, kasar atau angkuh; tetapi Ia selalu menunjukkan kekuasaanNya secara terkontrol dan tidak dengan semena-mena. Kadang Ia menunjukkan kemarahanNya, tetapi Ia juga bisa berdiam diri atau memberi pertanyaan atau pengarahan berdasarkan firman Allah. Semua itu dilakukanNya karena kasihNya yang ingin menolong dan menyelamatkan manusia.

Pagi ini, kita mungkin sedang memikirkan bahwa hari ini kita harus menghadapi orang-orang sulit yang berada dalam keluarga, sekolah, kantor atau masyarakat. Cukup dengan membayangkan hal itu, kita bisa menjadi pusing karena memikirkan adanya kemungkinan untuk munculnya pertikaian atau percekcokan.

Ayat pembukaan diatas mengajak kita untuk menjadi orang terhormat dengan menjauhi perbantahan, dan tidak menjadi orang bodoh yang membiarkan amarah kita meledak tanpa alasan. Sanggupkah kita? Itu tergantung pada kita: apakah kita bisa selalu ingat dan bersyukur kepada Tuhan yang mengasihi kita. Dulu kita adalah orang-orang yang sulit untuk diselamatkan, tetapi karena kesabaran Tuhan kita menerima pengampunan dalam Yesus Kristus.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Kolose 3: 12-13

Menghindari kesia-siaan

“TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.” Mazmur 94: 11

Teringat saya akan seseorang yang dari mudanya ingin mencapai prestasi yang tinggi. Dilahirkan dari sebuah keluarga yang serba sederhana, ia adalah seorang yang senang merencanakan segala sesuatu dengan sangat berhati-hati. Karena hidupnya yang serba teratur, pemuda ini berhasil mencapai prestasi yang sangat baik dalam sekolahnya dan juga selama di universitas. Ia seringkali mendapatkan angka ulangan dan ujian yang terbaik diantara murid yang ada. Sampai pada suatu saat, pada ujian akhir universitas, ia gagal untuk lulus hanya karena satu mata pelajaran. Mereka yang tidak berprestasi sebaik dia justru lulus. Hati pemuda ini hancur, semua kebanggaannya lenyap, dan kepercayaan kepada diri sendiri pun pudar.

Mengapa kesulitan terjadi disaat yang tidak disangka? Hal ini sulit dijawab. Ada orang yang percaya adanya “Murphy’s Law” alias hukum Murphy, yang biasanya diartikan “Apa yang bisa gagal akan gagal pada suatu saat”. Manusia tidak bisa menghindari kesulitan, persoalan dan kegagalan, karena semua itu akan terjadi, jika ada kemungkinan untuk terjadi.

Apa yang bisa gagal akan gagal pada suatu saat. Bukankah apa yang ada dalam hidup manusia selalu mempunyai kemungkinan untuk gagal? Bukankah manusia tidak mempunyai kontrol yang penuh atas segala sesuatu? Bukankah apa yang megah, apa yang kuat, sehat, kaya ataupun bijak selalu mempunyai kelemahan yang bisa membawa kegagalan dan kehancuran? Karena tidak adanya kesempurnaan dan keabadian dalam hidup ini, agaknya apa yang dikerjakan manusia hanyalah sekedar usaha untuk memperkecil kemungkinan atau menunda terjadinya kegagalan.

Pagi ini jika kita bangun, mungkin kita siap melakukan apa yang sudah kita rencanakan, atau sibuk merencanakan apa yang akan kita lakukan. Tetapi pernahkah kita memikirkan bahwa sebagai manusia, kita hanya bisa merencanakan dan melakukan, tetapi Tuhanlah yang menentukan hasilnya? Ayat diatas bahkan berkata bahwa TUHAN mengetahui rancangan-rancangan kita; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka. Karena apapun yang kita rencanakan, jika itu tidak sesuai dengan kehendakNya, tidaklah akan terjadi.

Adakah cara untuk menghindari kegagalan dalam hidup? Itu adalah pertanyaan semua orang di dunia. Dunia ini bukanlah surga, tetapi justru sebuah tempat yang sudah dikontaminasi dosa. Karena dosa manusia, bumi dan isinya sudah dikutuki; dan hanya dengan bersusah payah kita akan mencari rezeki dari tanah seumur hidup kita (Kejadian 3: 17). Hidup manusia menjadi sangat berat dan kegagalan demi kegagalan bisa terjadi. Tetapi itupun dengan seijin Tuhan yang maha kuasa.

Walaupun kegagalan bisa terjadi, sebagai orang percaya kita mempunyai satu harapan bahwa jika kita meminta Tuhan yang maha kasih untuk menyertai hidup kita, kita akan bisa melihat kemana dan bagaimana kita harus mengarahkan tujuan hidup kita. Kegagalan belum tentu menjadi kesia-siaan tetapi bisa menjadi kesempatan untuk mencari kehendak Tuhan. Hanya dalam iman kita mempunyai harapan untuk masa depan sekalipun mengalami kegagalan, dan harapan kita dalam iman itu tidaklah akan menjadi sia-sia.

“Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.” Amsal 10: 28