Tujuan hidup mempelai Kristus

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” 1 Petrus 1: 8 – 9

Acara pernikahan Prince Harry dengan aktris Meghan Markle akhir minggu kemarin diikuti oleh jutaan pemirsa TV di seluruh dunia. Mereka yang menonton acara itu banyak yang terbuai dengan kenyataan bahwa seorang wanita yang tergolong rakyat biasa di Amerika bisa menikah dengan seorang pangeran dari istana kerajaan Inggris. Kejadian ini seolah menjadi cerita Cinderella modern, atau setidaknya menjadi kisah cinta yang paling menarik di abad ini. Karena itu, ada orang-orang yang memakainya sebagai motivasi agar tidak mudah berputus asa dalam hidup, sebab tidak ada orang yang tahu tentang “nasib baik” dan “keberuntungan” yang sedang menunggu mereka di masa mendatang.

Berapapun umur kita saat ini, kita tidak tahu sampai dimanakah perjalanan hidup kita. Apakah masih ada yang bisa kita capai? Adakah sesuatu yang sangat penting yang masih harus diperoleh? Sebagian manusia hanya bisa menghitung segala kegagalan yang sudah dialami, tetapi mungkin masih menantikan datangnya “keberuntungan”. Sebagian yang lain mungkin merasa bahwa mereka sudah mencapai apa yang mereka idamkan dan karena itu mereka hidup dalam kepuasan diri sendiri. Selain dari itu, ada juga orang yang merasa bahwa hidup mereka sudah cukup panjang dan karena itu tidak mau pusing tentang masa depan.

Apapun keadaan dan tingkat kehidupan kita saat ini, sebagai manusia kita sebenarnya tetap memerlukan makna dan tujuan hidup. Dalam hal ini, Alkitab menyatakan bahwa satu-satunya manusia yang bisa kita jadikan sebagai contoh dan pegangan untuk menghadapi perjuangan hidup dan masa depan adalah Yesus.

Dalam wujud manusia, Yesus harus menderita dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, mati disalibkan sekalipun Ia tidak berdosa. Inilah kisah cinta yang terbesar di sepanjang masa, yaitu tentang Allah yang mengasihi manusia sedemikian rupa, hingga Ia mengirimkan AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa manusia.

Sekalipun kita belum pernah melihat Yesus, namun kita harus mengasihi Dia yang sudah mati ganti kita. Yesus adalah seperti mempelai pria yang sudah berkurban untuk mempelai wanitaNya, yaitu seluruh umat percaya (Wahyu 21: 9). Kita harus bersyukur karena sebagai pengantin Kristus, kita sudah menerima jaminan keselamatan jiwa melalui pengurbananNya. Dengan keyakinan itu, kita tidak perlu mengutamakan kebahagiaan duniawi karena itu tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi. Kita tidak perlu mendambakan datangnya “keberuntungan” dalam hidup, karena pemberian Tuhan yang terbesar, the greatest gift, sudah menjadi kenyataan didalam darah Yesus.

Karena Yesus, kita orang yang berdosa sudah diangkat menjadi mempelai Kristus yang diberi hak untuk masuk kedalam istana surgawi dan menerima kemuliaan di surga. Adakah tujuan hidup kita yang lebih penting dari pada mengasihi dan memuliakan Yesus?

“Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” Lukas 12: 31

Iman tidak akan bertambah jika tidak dipakai

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” Lukas 17: 5

Suatu ketika, murid-murid Yesus mendengar perintahNya untuk selalu mau untuk mengampuni kesalahan orang lain (Lukas 17: 4). Kelihatannya hal itu dirasakan mereka sebagai sesuatu yang terlalu sulit untuk dilakukan. Karena itu, mereka meminta agar Yesus memberikan tambahan iman. Permintaan yang sepertinya baik. Tetapi apa jawab Yesus?

Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” Lukas 17: 6

Yesus secara tidak langsung mengatakan bahwa untuk menuruti perintahNya itu, murid-murid tidak memerlukan tambahan iman. Mereka pasti sanggup melaksanakannya jika mereka taat akan perintahNya.

Ada orang yang menafsirkan bahwa jawaban Yesus diatas menunjukkan bahwa kita cukup untuk mempunyai iman yang kecil saja, sebab dengan iman yang kecil saja kita sudah dapat membuat hal-hal yang besar. Tetapi tafsiran ini jauh dari benar.

Setiap orang percaya sudah dikaruniai dengan iman. Roh Kudus yang bekerja dalam diri kitalah yang memberikan iman kepada kita.

“Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.” 1 Korintus 12: 9

Iman yang besar sudah tentu bisa membuat kita makin kuat dalam menghadapi berbagai masalah. Tetapi iman bukanlah sesuatu yang bisa kita peroleh dengan usaha sendiri. Kita harus memintanya dari Tuhan. Dalam hal ini, bagaimana kita bisa meminta iman yang besar jika kita ragu untuk memakai iman yang kita punyai untuk menghadapi tantangan kehidupan saat ini?

Pagi ini, jika kita bangun dari tidur kita dan merasa kuatir akan apa yang harus kita hadapi hari ini, kita tidak perlu membayangkan betapa enaknya jika kita dikaruniai iman yang besar. Iman yang sekecil apapun harus digunakan agar kita bisa mendapatkan iman yang lebih besar di masa mendatang, sekalipun kita cenderung untuk lebih mengandalkan akal budi kita. Jika kita tidak pernah berserah kepada bimbingan Tuhan dalam hal- hal yang terlihat kecil, bagaimana kita bisa mengharapkan Tuhan untuk menumbuhkan iman kita untuk bisa mengatasi hal yang jauh lebih sukar seperti yang pernah dihadapi oleh Ayub?

Biarlah kita boleh menghadapi hidup kita setiap hari dengan keyakinan bahwa Roh Kudus selalu memberikan kita iman yang cukup untuk menghadapi tantangan apapun jika kita selalu hidup dalam Kristus.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4: 13

Keluarga adalah gereja yang terkecil

“Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Matius 18: 20

Hari ini adalah hari dimana banyak orang Kristen pergi ke gereja. Ada banyak gereja di Australia, dan salah satu gereja yang bersejarah adalah gereja Saint Nicholas yang berada di Western Australia. Dibangun pada tahun 1840 oleh James Narroway sebagai gubuk dimana ia hidup dengan isterinya, Sarah, bangunan dari kayu jarrah yang berukuran 3,8 x 6,7 meter ini mulai dipakai sebagai gereja kaum pendatang sejak tahun 1848.

Jika anda heran dengan adanya gedung gereja yang hanya bisa memuat sekitar 15 orang itu, keadaan sudah berbeda sekarang dengan adanya berbagai gedung gereja besar yang bisa memuat banyak pengunjung, diantaranya:

  • Hillsong Church, Sydney 3500
  • Citipointe Church, Brisbane 2000
  • St Mary’s Cathedral, Sydney 2000
  • Wesley Uniting Church, Adelaide 1100
  • Rangeville Community Church, Toowoomba 1100
  • St Patrick’s Cathedral, Toowoomba 850

Adanya gedung-gedung gereja yang besar belum tentu menunjukkan kesehatan rohani penduduk setempat karena banyak gereja yang hanya mempunyai pengunjung yang jauh lebih sedikit dari kapasitasnya. Hal ini terjadi karena banyak keluarga yang sudah tidak bertahan didalam iman kepada Yesus Kristus.

Memang keluarga adalah dasar gereja yang merupakan persekutuan orang percaya. Keluarga Kristen adalah gereja yang terkecil dimana setidaknya dua orang bisa berkumpul dan bersama-sama berdoa dan berbakti kepada Tuhan dan memohon kehadiran Roh Kudus, seperti apa yang dilakukan oleh murid-murid Kristus (Kisah Para Rasul 2: 1 – 4).

Ayat diatas menyatakan bahwa jika ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, disitu Ia ada di tengah-tengah mereka. Ini bukan berarti bahwa jika kita seorang diri, Yesus tidak mau menyertai kita dan mendengar doa-doa kita; tetapi jika ada setidaknya dua orang, itu bisa membuka kesempatan bagi mereka untuk menjadi gereja dan untuk bersama-sama mengaku dosa, memuji Tuhan dan untuk mempelajari firmanNya. Didalam kebersamaan kita juga bisa lebih bisa menghayati makna pengurbanan Kristus untuk menebus dosa semua orang percaya, sehingga kita mempunyai keinginan yang makin besar untuk mengasihi Tuhan dan sesama.

Sungguh memprihatinkan bahwa dengan kesibukan hidup manusia dan perubahan sosial di zaman ini, identitas dan fungsi keluarga mulai kabur. Kedudukan dan kewajiban orang tua, suami, istri dan anak-anak seringkali diabaikan sehingga kesatuan keluarga menjadi berkurang. Jika kasih mulai menghilang dari keluarga sebagai gereja yang terkecil, gereja yang ada dalam masyarakat setempat juga akan mengalami persoalan yang sama. Keluarga Kristen mulai jarang ke gereja, dan jika orang ke gereja pun, itu mungkin karena adanya alasan-alasan yang lain; bukan untuk mengaku dosa, memuliakan Tuhan dan menerima firmanNya.

Pagi ini firman Tuhan berkata bahwa Tuhan menghargai mereka yang mau bersatu dengan saudara-saudara seiman untuk menyembah Dia. Seperti gereja yang terbentuk setelah Tuhan Yesus naik ke surga, fungsi keluarga dalam kehidupan orang Kristen harus dikuatkan agar makin banyak orang yang bisa melihat kasih dan kuasa Tuhan melalui persekutuan iman kita.

Kapankah aku dewasa?

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1Korintus 13: 11

Masa kanak-kanak mungkin adalah masa dimana kita bebas bermain dengan teman, masa dimana kita tidak perlu memikirkan susahnya mencari rezeki. Walaupun demikian, masa kanak-kanak agaknya bisa merupakan masa dimana kita terikat pada perintah orang lain yang lebih tua. Teringat bahwa sewaktu kecil saya ingin cepat menjadi dewasa, tetapi setelah mencapai usia tua saya ingin kembali menikmati hidup seperti kanak-kanak yang gembira. Saya ingin menjadi dewasa karena membayangkan hak orang dewasa, tapi saya terkadang ingin kembali menjadi kanak-kanak karena ingin untuk sesekali bebas dari kewajiban orang dewasa.

Apa salahnya kalau kita menjadi seperti kanak-kanak? Bukankah Yesus berkata bahwa orang yang seperti kanak-kanaklah yang bisa masuk ke surga?

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 18: 3

Sudah tentu Yesus tidak bermaksud bahwa kita harus bertingkah laku seperti anak kecil. Apa yang dimaksudkan oleh Yesus adalah sifat anak kecil yang tulus dan mempercayai orang tuanya. Kita harus percaya kepada Tuhan untuk bisa digolongkan sebagai anak-anak Tuhan.

Sebagai anak-anak Tuhan, pertumbuhan hidup rohani terjadi pada tiga masa: masa lalu, masa sekarang, dan masa datang. Di masa lalu, sewaktu kita baru mengalami perjumpaan dengan Kristus dan mengakui bahwa Ia adalah Juruselamat kita, kita mengalami pertumbuhan yang ajaib. Dari manusia yang mati secara rohani, kita mengalami kebangkitan karena penebusan Yesus.

Dalam hidup orang Kristen, pertumbuhan iman sesudah menjadi pengikut Kristus dimungkinkan oleh kasih karunia Tuhan. Roh Kudus sudah diberikan kepada setiap orang percaya untuk bisa membimbing pertumbuhan kedewasaan rohani kita. Tetapi, tanpa adanya kesediaan dan kemauan untuk mempersilahkan Roh Kudus memimpin hidup kita, kita tidak dapat tumbuh dalam iman; dan dengan demikian kita tidak bisa menjadi dewasa secara rohani.

Mereka yang belum dewasa secara rohani akan berkata-kata seperti kanak-kanak, akan merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak. Mereka bukanlah contoh orang Kristen yang baik, karena dengan sifat dan pengertian yang “kekanak-kanakan” yang ada, mereka mudah terombang-ambing dalam hidup di dunia.

Tahun demi tahun berlalu, mereka yang sudah menjadi anak-anak Tuhan seharusnya sudah bertumbuh dalam iman. Hidup mereka yang dulunya masih berbau dunia, perlahan-lahan menjadi makin menyerupai Kristus.

“Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.” 2 Korintus 2: 15

Dalam kenyataannya, tidak semua anak Tuhan mempunyai kemauan untuk bertumbuh. Banyak orang Kristen yang pada saat ini cara hidup dan rohaninya tidak berubah banyak dari keadaan di masa lalu, sewaktu mereka baru mengaku percaya kepada Kristus. Mereka mungkin tidak sadar bahwa itu bukanlah yang dikehendaki Tuhan. Pengurbanan Kristus yang berbau harum di hadapan Allah adalah terlalu mahal untuk disia-siakan.

Pertumbuhan rohani kita tidak akan berhenti selama kita hidup di dunia. Mempelajari firman Tuhan dan melaksanakannya adalah salah satu kewajiban bagi anak-anak Tuhan untuk bisa tumbuh menjadi dewasa. Kedewasaan dan kesempurnaan yang penuh hanya bisa dicapai setelah kita ada di surga, tetapi selama kita hidup di dunia haruslah kita selalu bertumbuh dalam iman hingga kita makin sempurna sampai saatnya Tuhan memanggil kita.

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Yesus berdoa untuk kita

“Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” Yohanes 17:15

Sebagai orang Kristen, tentu kita percaya bahwa doa adalah suatu yang sangat penting dalam hidup kita, karena doa adalah sebuah komunikasi dengan Tuhan Sang Pencipta. Doa orang yang benar memang didengar Tuhan dan karena itu besar kuasanya. (Amsal 25: 29).

Dalam kitab Yohanes 17, ditulis bahwa Yesus berdoa untuk murid-muridNya sebelum Ia ditangkap untuk diadili. Membaca doa Tuhan Yesus itu, kita bisa membayangkan bahwa Ia sangat dekat dan mengasihi muridNya. Ia mengerti bahwa hidup di dunia itu berat bagi pengikutNya, apalagi sesudah Ia pergi.

Adanya berbagai tantangan, kesulitan, penderitaan, cobaan iblis dan hal-hal lain yang harus dihadapi pengikutNya, membuat Yesus berdoa secara khusus untuk mereka kepada Bapa di surga. Doa Yesus hanya untuk pengikutNya, bukan untuk orang lain.

“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu” Yohanes 17: 9

Walaupun begitu, doa Yesus bukan saja untuk murid dan pengikutNya yang ada pada saat itu, tetapi untuk semua orang yang sudah beriman kepadaNya. Dan itu berarti kita pun termasuk di dalamnya.

“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka.” Yohanes 17: 20

Mengapa Yesus berdoa untuk para pengikutNya? Yesus tahu bahwa hidup anak-anak Tuhan selalu bertentangan dengan hidup orang dunia. Adalah normal jika kita yang percaya kepada Yesus dimusuhi dan bahkan dianiaya selagi di dunia.

“Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Yohanes 17: 14

Yesus berdoa agar Allah Bapa memberi perlindungan dan kekuatan kepada kita yang percaya kepadaNya. Yesus tidak meminta supaya Allah Bapa mengambil kita dari dunia, karena masih banyak tugas surgawi yang harus kita jalankan. Yesus tidak pernah mengajarkan atau menganjurkan jalan pintas ke surga. Tetapi Yesus berdoa agar selama kita di dunia, Bapa melindungi kita dari yang jahat. Ia berdoa agar kita dikuatkan dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.

Apakah doa Yesus didengar Allah? Sudah tentu! Kalau doa orang yang benar didengar Allah, apalagi doa yang disampaikan oleh AnakNya yang tunggal. Tambahan lagi, Yesus sekarang ada di surga, dipermuliakan bersama Allah Bapa. Karena itulah kita harus yakin bahwa Tuhan menyertai kita dalam setiap keadaan, dan memberi perlindungan dan kekuatan dalam kita menghadapi segala bahaya dan tantangan. Biarlah kasih penyertaan Tuhan bisa dilihat banyak orang melalui hidup kita!

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” Yesaya 41: 10

Kesadaran pribadi itu penting

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” Filipi 1: 20

Pernahkah anda merasa malu? Tentunya setiap orang pernah mengalami peristiwa yang memalukan dalam hidupnya. Mungkin itu hanya soal kecil seperti memakai pakaian yang kurang sesuai ke pesta, atau hal yang lebih besar seperti lupa mengerjakan tugas penting yang diberikan atasan.

Untuk hal yang kecil, biasanya orang lebih mudah melupakan rasa malunya, tetapi ada hal-hal lain yang signifikan yang membuat rasa malu sulit hilang dari pikiran. Dalam hal ini, ada hal yang sekalipun terasa kecil untuk seseorang, merupakan hal yang besar untuk orang lain. Walaupun demikian, ada orang yang tidak pernah merasa malu sekalipun ia melakukan hal-hal yang membuat orang lain bisa merasa sangat malu. Tidak tahu malu, istilahnya. Tetapi rasa malu adalah soal pribadi, dan tiap orang agaknya mempunyai kesadaran yang berbeda.

Tuhan bukanlah yang menimbulkan merasa malu, tetapi manusia bisa merasa malu karena apa yang kurang baik yang diperbuatnya. Pada waktu Adam dan Hawa melanggar larangan Tuhan di taman Firdaus, mereka tiba-tiba sadar akan ketelanjangan mereka (Kejadian 3: 7). Mereka merasa malu bukan karena Tuhan membuatnya muncul, dan bukan juga karena adanya bentuk tubuh yang berlainan, tetapi karena adanya kesadaran bahwa mereka sudah mengkhianati kasih Tuhan.

Dalam kehidupan umat Kristen, penebusan oleh darah Kristus sudah mencuci bersih dosa kita (Yesaya 1: 18). Apa yang dulunya gelap, sekarang menjadi terang; apa yang dulunya kotor sekarang menjadi putih bersih. Dengan itu semua rasa bersalah, rasa malu dan rasa pahit dari masa lalu kita seharusnya bisa dihilangkan dari pikiran kita. Karena pengampunan Tuhan, kita juga wajib mengampuni diri kita dan juga orang lain, melupakan hal-hal memalukan dari masa lalu.

Walaupun demikian, ayat diatas menyatakan jika kita tidak memuliakan Kristus sepenuhnya, patutlah kita merasa malu. Hidup baru orang yang sudah diselamatkan seharusnya bisa terlihat dari apa yang diperbuatnya dan apa yang dihasilkannya. Karena kita sudah diselamatkan bukan karena usaha kita, kita harus selalu memuliakan Kristus Juruselamat kita, baik oleh hidup kita maupun oleh mati kita. Selama hidup ini kita harus memuliakan Kristus dalam segala apa yang kita kerjakan, sehingga jika tiba waktunya untuk kita meninggalkan dunia ini, Tuhan akan menerima kita dengan ucapan selamat atas segala jerih payah kita (Matius 25: 21).

Pagi ini, marilah kita menganalisa hidup pribadi kita. Marilah kita memikirkan apa yang sudah kita lakukan dalam hidup kita sampai sekarang. Apakah kita sudah memakai segala apa yang kita punyai untuk memuliakan Tuhan dalam segala kesempatan yang diberikanNya? Apakah kita merasa puas dengan pujian orang lain atas hidup kita yang terlihat indah di depan umum? Ataukah kita secara pribadi mengakui bahwa kita masih sering mementingkan apa yang kita senangi saja dan melupakan rasa malu kepada Tuhan yang sudah mencurahkan kasihNya yang sungguh besar kepada kita? Semua itu hanya bisa dijawab oleh setiap orang percaya secara pribadi sesuai dengan panggilan Tuhan dan bukannya dengan mendengarkan pendapat dunia. Semoga pencerahan Roh Kudus bisa kita rasakan dan sadari dalam hidup kita.

“Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” 1 Korintus 2: 14 – 15

Mengatasi rasa takut dengan keyakinan

“Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi.” Lukas 12: 4

Dunia ini selalu penuh dengan hal-hal yang membuat orang kuatir, was-was atau ketakutan. Memang ada orang yang senang pergi ke tempat yang berbahaya, melakukan hal-hal yang membuat hati berdebar-debar, atau melakukan sesuatu tindakan yang mempunyai resiko besar. Mereka yang tergolong “thrill-seeker“, memang sengaja mencari kesempatan untuk menantang bahaya untuk memuaskan diri sendiri. Tetapi, tidak ada seorangpun yang menyukai sesuatu yang bisa membawa kecelakaan atau bencana yang diluar kontrol. Hanya orang yang bodoh atau gila yang sengaja mencari bencana untuk diri sendiri atau orang lain.

Apa yang terjadi di Surabaya pada hari Minggu kemarin, membuat orang kaget karena kekejaman yang dilakukan oleh beberapa orang terjadi secara tak terduga oleh siapapun. Hal ini membuat banyak orang merasa kuatir, was-was dan bahkan takut karena seakan manusia tidak berdaya menghadapi kejahatan. Bagi banyak orang Kristen, hal semacam itu memaksa mereka untuk mengevaluasi iman mereka. Patutkah mereka merasa kuatir atau takut dengan adanya kejahatan semacam itu? Apa yang harus atau bisa mereka lakukan untuk mengatasi rasa takut?

Rasa takut sebenarnya adalah sesuatu yang diberikan Tuhan sebagai berkat. Rasa takut bisa membuat orang menghindari bahaya. Selain itu, rasa takut kepada Tuhan, yaitu ketaatan kepada firmanNya, adalah satu hal yang dikehendaki Tuhan agar umatNya bisa menikmati hidup yang aman dan berbahagia. Ayub, sebagai contoh, adalah orang yang takut akan Tuhan sehingga Tuhan mengasihinya dan melindunginya dari serangan iblis (Ayub 1: 8 – 10). Selain itu, banyak ayat Alkitab lain yang mengatakan bahwa takut akanTuhan akan membawa hikmat kebijaksanaan dan berbagai berkat. Tuhan memang menyayangi semua orang yang takut akan Dia.

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Mazmur 103: 13

Dalam kenyataan zaman ini, orang yang benar-benar takut akan Tuhan mungkin tidaklah banyak. Di kalangan Kristen pun, orang cenderung untuk mengesampingkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin pada hari Minggu dan selama satu atau dua jam saja kita mengakui kedaulatan Tuhan dan berusaha meyakinkan Dia bahwa kita mempunyai rasa takut kepadaNya. Tetapi diluar itu, kita sering hidup seperti manusia bebas merdeka yang mempunyai hak dan kuasa atas diri kita dan juga orang lain.

Kejadian buruk yang tidak terduga dalam hidup manusia mungkin membuat banyak orang menjadi kuatir dan bahkan takut menghadapi masa depan karena kepercayaan kepada diri sendiri menjadi goyah. Kita jelas tidak berkuasa atas hidup kita, apalagi atas hidup dan perbuatan orang lain. Hal-hal yang sedemikian seharusnya membuat kita mencari pertolongan, tetapi jika kita tidak mempunyai iman kepada Tuhan, kepada siapa lagi kita bisa bergantung?

Pagi ini Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup kita bukanlah hanya di dunia yang fana ini. Jika hidup di dunia adalah sementara, bagi kita hidup sesudah ini adalah hidup yang kekal di surga bersama Tuhan, Raja semesta alam yang kita sembah. Karena itu, jika kita benar-benar takut kepada Tuhan, kita tidak perlu takut kepada sesama manusia. Sama seperti kita, mereka hanyalah mahluk yang kecil dan tidak berdaya di hadapan Tuhan.

Walaupun demikian, dalam menghadapi bahaya, sebagai manusia kita tidak bisa bergantung pada kekuatan diri sendiri. Sebaliknya, kita tahu bahwa sebagai orang yang takut kepada Tuhan, kita mempunyai keyakinan bahwa kita bisa mendekatiNya dan memohon penyertaanNya. Biarlah kita mau memohon agar Tuhan memberi kita rasa damai dan sejahtera di saat yang sulit ini dan agar Ia menunjukkan kuasaNya untuk membawa mereka yang tersesat kepada jalan yang benar.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Mempersembahkan apa yang terbaik kepada Tuhan

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” Ibrani 13: 15

Alkisah Adam dan Hawa mempunyai dua orang anak, Kain dan Habel. Sebagai petani, Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanahnya kepada Allah sebagai korban persembahan. Tetapi Habel yang penggembala kambing dan domba, mempersembahkan korban terbaik dari anak sulung kambing dombanya. Karena ketulusan Habel, Allah mengindahkan korban persembahannya, tetapi Kain dan korban persembahannya diabaikanNya. Karena iri hati, Kain kemudian menjadi sangat marah, dan ia akhirnya membunuh Habel.

Mengapa dua bersaudara sampai mengalami peristiwa yang menyedihkan seperti itu? Hal memberi persembahan kepada Allah pasti adalah bagian kehidupan mereka. Untuk Habel hal memilih dan mempersiapkan persembahan yang terbaik untuk kemuliaanTuhan adalah yang paling penting, sedang untuk Kain memberi persembahan kepada Tuhan mungkin hanyalah sekedar kebiasaan saja. Jika Kain kemudian marah kepada Habel, itu karena ia tahu bahwa Tuhan menolak persembahannya. Kain kemudian membunuh Habel karena ia memusatkan pikirannya pada diri sendiri: ia tersinggung dan merasa harga dirinya direndahkan. Itulah pikiran yang menghantui Kain.

Memang hal mempersembahkan sesuatu untuk Tuhan itu bukanlah soal remeh, karena Tuhan adalah Raja diatas segala raja. Walaupun demikian, di zaman ini banyak orang yang seperti Kain, kurang memperhatikan pentingnya persembahan kepada Tuhan yang maha kasih. Banyak orang yang merasa acuh tak acuh, dalam menyatakan syukur kepada Tuhan. Mereka hanya menjalankan ritual saja, tanpa usaha untuk memuliakanNya. Sebaliknya, banyak juga orang yang memberi persembahan dengan memusatkan pikiran kepada diri sendiri: mengharapkan balasan dari Tuhan dan membuat impresi untuk sekitarnya. Dan jika kemudian mereka tidak mendapat penghargaan untuk itu, mereka menjadi iri hati, tersinggung atau marah.

Jika Habel mempersembahkan bagian daging yang terbaik untuk Tuhan, kita yang sudah menerima karunia keselamatan dari Yesus Kristus sudah seharusnya mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang terbaik. Hanya yang terbaiklah yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan, karena tidak ada benda apapun yang bisa menyamai hidup kita sebagai persembahan kepada Tuhan Sang Pencipta.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Banyak orang yang mempersembahkan hidup mereka dengan melakukan berbagai kegiatan sosial. Dari luar semua itu nampaknya baik. Tetapi jika nama Tuhan tidak dipermuliakan, semua itu akhirnya hanya bisa untuk memuliakan diri sendiri saja.

Pagi ini biarlah kita sadar bahwa dalam hidup ini kita harus bisa menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama; tetapi apa yang kita lakukan, pikirkan dan ucapkan dalam keluarga, tempat bekerja, gereja dan negara haruslah merupakan pernyataan kasih yang benar melalui persembahan hidup kita sebagai sesuatu yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Jangan bawa kami kedalam pencobaan

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Yakobus 1: 13-14

Kitab Kejadian 3 menceritakan bagaimana Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa melalui tipu muslihat iblis. Iblis dengan kecerdikannya berhasil membuat Hawa melanggar perintah Tuhan untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Hawa melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada Adam yang bersama-sama dengan dia (Kejadian 3: 6).

Adam dan Hawa jatuh kedalam pencobaan, tetapi siapakah yang sebenarnya bersalah? Allah yang menciptakan pohon itu, iblis yang menjerumuskan manusia, atau manusia yang jatuh kedalam perangkap iblis? Ada orang yang berpendapat bahwa Allahlah yang paling bersalah karena Ia yang menciptakan pohon itu dan Ia seharusnya bisa mencegah iblis dari menipu manusia atau mencegah manusia dari melanggar perintahNya.

Jika pada akhirnya Allah menjatuhkan hukumanNya kepada Adam, Hawa, dan juga iblis, menunjukkan bahwa mereka semuanya sudah bersalah di hadapan Allah. Sebagai keturunan Adam dan Hawa kita terkena getahnya dan harus mengalami berbagai penderitaan selama hidup di dunia. Jika Allah memang maha adil, hukuman itu adalah sudah sewajarnya, tetapi ada juga orang yang berpendapat bahwa manusia sudah jatuh kedalam pencobaan dari Allah.

Mengapa Allah menciptakan pohon pengetahuan tentang apa yang baik dan yang jahat? Apakah Ia ingin mencobai manusia, ingin menjebak mereka? Alkitab dalam ayat diatas mengatakan bahwa Allah tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dari mulanya Allah menetapkan hukum dan perintahNya agar manusia taat kepadaNya, tetapi bukan untuk menjebak mereka kedalam dosa. Dosa adalah keadaan dimana manusia gagal untuk menaati hukum dan perintah Tuhan.

Allah tidak pernah mencobai kita walaupun Ia mungkin menguji kita. Pencobaan dari iblis berbeda dengan ujian dari Allah. Mengapa Yesus mengajar kita untuk memohon agar Allah tidak membawa kita kedalam pencobaan?

“…dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Matius 6: 13

Doa diatas sebenarnya dimaksudkan agar Allah sudi membimbing dan menguatkan kita agar kita tidak terseret kedalam pencobaan. Bisa terhindar dari godaan iblis sehingga tidak sampai dipengaruhi oleh keinginan dan hawa nafsu kita.

Yesus sebagai manusia yang lelah tubuhnya setelah berpuasa 40 hari di padang gurun, juga mengalami pencobaan (Matius 4: 1-11). Ia menghadapi pencobaan yang datang bukan dari Allah Bapa, tetapi dari iblis. Yesus sebagai manusia yang tidak berdosa, tidak dapat dicobai. Ia menghadapi tiga macam bujukan iblis, dan Ia menangkis semua itu dengan cara yang tepat. Pada akhirnya, kemenangan Yesus membawa kemuliaan kepada Allah. Dengan demikian, sekalipun pencobaan bukan dari Tuhan, adanya pencobaan membawa kemuliaan kepada Tuhan ketika umatNya bisa menghadapinya dan tidak jatuh kedalam dosa.

Pagi ini kita harus sadar bahwa seperti apa yang ditawarkan kepada Yesus, iblis sering menggoda manusia dengan tiga hal yaitu kenikmatan, kekuasaan dan kekayaan. Diantara ketiga hal ini, kekayaan adalah yang paling berbahaya karena bisa membuat manusia jatuh kedalam jerat dosa-dosa lain.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” 1 Timotius 6: 9

Hidup di dunia ini tidak mudah karena adanya berbagai pencobaan dan tantangan. Mungkin pagi ini kita merasa lelah dan takut menghadapi keadaan hidup yang bisa membawa kejatuhan kita. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa semua pencobaan itu sebenarnya tidak melebihi kekuatan kita. Biarlah kita selalu berdoa agar kita bisa menghindari pencobaan; tetapi jika kita harus menghadapinya, biarlah kekuatan dari Tuhan memberi kita kemenangan. Karena apakah suatu keadaan yang sulit akhirnya menjadi godaan yang menghancurkan kita atau ujian yang menguatkan kita, itu sering bergantung pada reaksi kita!

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1Korintus 10: 13

Mengapa orang menjahati kita?

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.” Yohanes 15: 18

Jika kita membaca berita di media, selalu ada saja hal-hal yang membuat kita menghela nafas. Dunia ini seakan dipenuhi dengan kekerasan dan ketidakadilan. Herankah kita melihat adanya ketidakadilan di dunia? Mungkin saja tidak, karena dunia ini memang sudah jatuh kedalam dosa. Kejadian yang tidak menyenangkan dan yang tidak adil tentu bisa terjadi pada orang-orang disekitar kita.

Herankah kita mengapa kejadian yang tidak menyenangkan sering terjadi pada diri kita sekalipun kita tidak bersalah dan bahkan berusaha berbuat baik kepada orang lain? Inilah pertanyaan yang lebih sulit dijawab karena diri kita tersangkut secara langsung. Hal itu mungkin adalah sesuatu yang sangat tidak adil bagi kita. Sangat menyakiti hati kita. Mengapa aku? Why me? Itu tidak adil! It’s not fair!

Dua ribu tahun yang lalu, seorang bayi dilahirkan di kandang domba di Betlehem. Putra Raja semesta alam, tetapi tidak dihormati manusia. Setelah dewasa, Ia berkeliling memberitakan kabar baik, bahwa mereka yang mau mengikutNya akan memperoleh hidup kekal. Kabar baik ini justru diterima dengan kebencian oleh manusia, yang kemudian menyalibkanNya. Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, dibunuh oleh manusia yang ingin diselamatkanNya. Sungguh tragis. Itukah keadilan?

Yesus datang ke dunia ini tidak dengan harapan bahwa sebagai manusia yang tidak berdosa, Ia akan menerima perlakuan baik dan keadilan dari orang-orang disekitarNya. Sebaliknya, Ia tahu dari mulanya bahwa orang akan membenci, menyiksa dan membunuhNya. Karena itu dalam ayat diatas Yesus menasihati murid-muridNya bahwa jika mereka mengalami hal yang serupa di dunia, mereka harus ingat bahwa Ia telah lebih dahulu mengalaminya.

Pagi ini, marilah kita sejenak memikirkan mengapa Yesus mau berkurban untuk manusia yang durhaka. Tentu semua itu adalah karena ketaatanNya kepada Bapa dan kasihNya kepada manusia. Inilah yang membuat Yesus berbeda dengan pemimpin-pemimpin dunia. Yesuslah yang mengisi dunia ini dengan keadilan dan kasih surgawi. Dan Ia mengharapkan bahwa setiap muridNya bisa meniru Dia.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11: 29

Sebagai pengikut Kristus, kita harus memikul kuk dan belajar dari Dia. Dengan demikian, kita akan bisa tetap kuat dalam menghadapi hal-hal yang serupa dengan apa yang dialami Yesus. Jika kita bisa menjalankan tugas dalam hal keadilan dan kasih yang serupa dengan apa yang dilakukan Yesus, dunia tidak akan dipenuhi oleh ketidakadilan dan kekerasan, karena kitalah yang bisa membawa perbedaan.

Semoga kita mengerti mengapa ada orang-orang yang membenci kita, yang menyakiti kita, yang tidak adil dan menyusahkan kita dalam hidup ini. Semua itu termasuk dalam paket kehidupan kita sebagai pengikut Kristus selama kita masih di dunia agar nama Tuhan dipermuliakan.

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 44″