Aku ingin tidur nyenyak

“Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Mazmur 4: 8

Berbicara soal tidur, dulu saya pernah mengalami masalah kurang bisa tidur lelap karena sering bangun di tengah malam, sebab otak saya bekerja memikirkan tugas-tugas esok hari. Saya tidak bisa tidur enak karena kekuatiran bahwa saya akan melupakan hal-hal penting itu. Berdoa memohon tidur yang nyenyak sudah saya lakukan, tetapi saya kemudian sadar bahwa sayalah yang harus mengubah cara saya menghadapi tugas pekerjaan. Tuhan memberikan saya kebijakan agar saya mencatat apa saja yang harus saya lakukan diatas kertas, dan setelah itu saya tidur tanpa memikirkan hal-hal itu lagi.

Banyak orang yang mengalami kesulitan kronis untuk bisa tidur, yang sering disebut insomnia. Penyebabnya ada bermacam-macam, karena faktor medis, faktor lingkungan dan juga faktor kejiwaan memang bisa mempengaruhi kualitas tidur kita. Alkitab tidak membahas insomnia secara langsung, tetapi menghubungkan kegundahan hati (yang jelas bisa membuat orang sulit untuk tidur) dengan ketakutan, kekuatiran dan dosa. Tuhan memberikan manusia firmanNya untuk menghadapi hal-hal itu, dan tergantung kepada manusia apakah mereka mau menjalankannya.

Sebagai manusia kita tentu pernah takut. Baik ancaman dari luar maupun ancaman dari dalam tubuh kita sendiri bisa membuat kita takut sampai kita sulit untuk tidur. Padahal, firman Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu takut kepada apapun yang tidak berkuasa membunuh jiwa.

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Matius 10: 28

Yesus juga sudah mengajarkan bahwa sekalipun kita melihat adanya kemungkinan untuk mengalami kesulitan di hari esok, kita tidak perlu kuatir bahwa Tuhan akan meninggalkan kita. Kesulitan hari ini kita hadapi bersama Dia, demikian juga kesulitan esok hari, itulah yang dinamakan berjalan dengan Yesus setiap hari.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Matius 6: 34

Tidak dapat diragukan bahwa adanya dosa bisa membuat kita sulit tidur. Berbuat dosa adalah sesuatu yang dianjurkan iblis kepada manusia di taman Firdaus dan bahkan kepada Yesus di padang gurun. Baik kemarahan yang belum hilang sebelum tidur, maupun adanya hal-hal yang jahat yang sudah atau akan dilakukan, membuat orang sulit untuk tidur nyenyak.

“Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya.” Mazmur 36: 4

Pagi ini kita harus sadar bahwa apapun penyebab kesulitan tidur, kita harus berusaha mencari penyebabnya. Faktor medis mungkin bisa diatasi dengan pengobatan yang tepat dan bukannya dengan memakai obat terlarang atau cara mistis tertentu. Faktor lingkungan mungkin bisa diatasi dengan memperbaiki suasana lingkungan di mana kita tidur. Sedangkan untuk penyebab kejiwaan yang berhubungan dengan ketakutan, kekuatiran dan dosa, kita harus mau mengevaluasi dan memperbaiki hidup kita dengan bimbingan Tuhan. Selain itu, dalam keadaan apapun kita boleh berdoa seperti ayat pembukaan diatas:

Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur. Biarlah Engkau ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.

Menjadi manusia yang sempurna

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5: 48

Inginkah anda menjadi manusia yang sempurna? Pertanyaan ini mungkin dijawab orang dengan senyum skeptis. Sempurna? Apa bisa? Apa kriteria untuk menjadi manusia sempurna? Apakah bentuk tubuh, rupa, kepandaian, kesadaran, kebaikan dan sejenisnya?

Memang dengan adanya teknik kedokteran kosmetik, orang bisa mengubah bentuk hidung, bibir dan anggota tubuh lainnya untuk menjadi “sempurna”, tetapi itu bukanlah membuat fisik orang yang bersangkutan benar-benar menjadi sempurna. Selain itu, di dunia ini ada orang-orang yang mengajarkan cara kerohanian untuk menuju ke “kesempurnaan”, yang bisa membawa kesadaran manusia ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga pada akhirnya mereka bisa mencapai surga. Semua hal-hal diatas hanyalah impian manusia saja.

Alkitab jelas menuliskan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna. Semua orang mempunyai kelemahan fisik dan akhirnya akan mati secara jasmani. Semua orang adalah orang berdosa dan pada akhirnya juga akan mati secara rohani jika tidak diselamatkan.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3: 23

Jika tidak ada manusia yang sempurna, mengapa Yesus mengatakan bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Allah Bapa di surga? Bukankah ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dicapai oleh siapapun, sekalipun oleh orang-orang saleh pemimpin agama?

Apa yang dikatakan oleh Yesus adalah benar, bahwa kita harus menjadi sempurna secara rohani seperti Allah yang roh. Ini hanya bisa terjadi jika kita benar-benar menerima Yesus sebagai juruselamat kita, dan memasuki hidup baru. Kesempurnaan hanya bisa dicapai melalui darah Yesus.

“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Ibrani 10: 14

Sebagai ciptaan baru, sinar kemuliaan Kristus terpancar dari hidup kita, makin hari makin menerangi sekitar kita.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5: 17

Menjadi sempurna didalam Kristus tidaklah terjadi dalam sekejap mata, itu adalah proses penyucian seumur hidup. Dalam hal ini ada orang yang menafsirkan bahwa Yesus sebenarnya tidak mengharapkan kesempurnaan tetapi kedewasaan. Apapun penafsiran kata aslinya (bahasa Yunani: teleios), jelas bahwa tiap orang Kristen harus mengalami perubahan.

Pagi ini, marilah kita merenungkan apa yang sudah berubah dalam hidup kita sejak kita diselamatkan. Sudahkah kita berubah dari cara hidup kita yang lama? Apakah kita mau mendengarkan suara Roh Kudus yang selalu membisikkan pesan-pesan agar kita mengubah hidup kita? Memang dengan kekuatan sendiri kita tidak akan bisa berubah, tetapi bersama Yesus kita akan makin lama makin menyerupai Dia!

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Filipi 3: 12

Apa yang akanTuhan lakukan ketika aku menghadapi masalah?

“Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” Mazmur 91: 15

Pernahkah anda mengalami kejadian yang sangat menekan perasaan dan pikiran anda? Mungkin itu disebabkan oleh keadaan di sekitar anda, atau karena sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, atau karena kekeliruan yang anda perbuat, dan mungkin juga karena adanya perbuatan buruk orang lain. Dalam hidup ini, masalah besar ada dimana-mana. Semakin hari seakan semakin banyak masalah yang harus kita hadapi, karena sulitnya mencari penyelesaian atas masalah yang sudah ada. Hidup kita menjadi sesak rasanya.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa Tuhan kita maha kuasa dan maha kasih; karena itu kita boleh membawa segala persoalan kita kepadaNya. Walaupun demikian, sebagai manusia kita cenderung mengandalkan akal budi kita yang terbatas, daripada menggunakan iman yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian kita seringkali tidak dapat memahami metode kerja atau modus operandi Tuhan dalam proses menolong kita. Dan oleh karena itu jugalah kita sering mengalami kesulitan bukan saja untuk berdoa, tetapi juga untuk meyakini dan merasakan penyertaan Tuhan.

Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan mendengar doa kita dan menjawabnya? Ayat diatas memberikan sebuah gambaran singkat bagaimana Tuhan bekerja menolong umatnya yang berada dalam kesulitan. Ada tiga bagian yang perlu kita teliti: (1) Bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab, (2) Tuhan akan menyertai kita yang dalam kesesakan, dan (3) Tuhan akan meluputkan kita dari bencana dan meninggikan kita. Jika kita mengerti akan hal-hal ini, kita akan mempunyai wawasan yang baru dalam menghadapi masalah kehidupan.

Yang pertama, bila kita berseru kepada Tuhan, Ia akan menjawab. Tuhan tahu jika kita mengalami masalah dan Ia pasti bertindak pada waktu yang sesuai dengan kehendakNya. Tidak ada apapun yang terjadi dalam hidup kita tanpa seijin Tuhan. Tuhan yang maha kasih selalu ingin memberikan yang terbaik untuk umatNya, sekalipun dunia ini selalu penuh dengan semak duri.

Jika kita berdoa, itu bukanlah dengan maksud untuk mengubah kehendak Tuhan, karena kehendak Tuhan harus terjadi. Tetapi, doa kita adalah penyerahan diri kita kepada bimbinganNya, dan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendakNya. Jika kita berseru meminta tolong kepada Tuhan, Ia sebenarnya sudah siap menolong kita. Tetapi dengan berseru kepada Tuhan, kita akan mendengar suaraNya dan kita akan mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup kita.

“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” 1 Yohanes 5: 14

Tuhan juga akan menyertai kita yang dalam kesesakan. Itu adalah yang dijanjikan Tuhan jika kita mau menghampiri Dia dan mengutarakan segala persoalan dan perasaan kita. Tuhan tidak akan meninggalkan kita seorang diri dalam penderitaan kita. Memang dalam kesesakan kita mungkin merasakan dorongan untuk lari menjauhkan diri dari segala sesuatu, karena kita tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi, Tuhan jelas mengharapkan kita untuk lari kepadaNya, agar Ia bisa memberi kekuatan dan kesabaran kepada kita.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Matius 11: 28

Bagi umatNya yang mengalami masalah, Tuhan juga berkata bahwa Ia akan meluputkan mereka dari bencana dan memuliakan mereka. Ini adalah sesuatu yang harus selalu kita sadari selama kita hidup di dunia. Bahwa sebagai Bapa yang maha kasih, Tuhan tidak membiarkan kita mengalami masalah yang lebih berat dari kekuatan kita. Lebih dari itu, kita seharusnya tahu bahwa sebagai Bapa yang maha kuasa, Tuhan sanggup melindungi kita dari bencana. Tuhan akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masalah apapun, sehingga kita pada akhirnya akan memperoleh kemenangan didalam Dia.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3 – 5

Jika anda mengalami masalah besar saat ini, semoga anda mau berseru kepada Tuhan dan memohon pertolonganNya. Ia mau mendengar, Ia akan menjawab, dan Ia akan memberikan kelepasan dan kemuliaan pada waktunya.

Tidak perlu iri kepada mereka yang tidak jujur

“Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Mazmur 37: 1 – 2

Minggu lalu saya bertemu dengan seorang warga senior yang pernah melanglang buana dan bekerja di berbagai negara, termasuk di Uganda, Afrika. Dengan penuh perhatian, saya mendengarkan kisah perjalanan hidupnya termasuk perjumpaannya dengan Idi Amin. Idi Amin? Siapa pula itu?

Idi Amin Dada adalah Presiden Uganda ketiga yang berkuasa pada tahun 1971 – 1979. Saya yang waktu itu gemar mengikuti perkembangan politik dunia, membaca bagaimana Idi Amin bisa menjadi presiden melalui cara-cara yang kejam. Menjalankan roda pemerintahan dengan tangan besi, Idi Amin membuat Uganda mengalami berbagai perang saudara. Belakangan, saya membaca bahwa setelah dipaksa turun dari jabatannya, Idi Amin meninggal pada tahun 2003 di tempat pengasingan, Arab Saudi.

Dalam hidup di dunia ini, selalu ada saja ketidakadilan yang kita jumpai, sekalipun mungkin tidak seperti apa yang terjadi di Uganda pada waktu yang telah silam. Hal-hal semacam itu bisa membuat kita berpikir mengapa Tuhan seolah membiarkan mereka yang tidak jujur untuk menduduki posisi tinggi, dan mereka yang jahat untuk berkuasa dan bertindak dengan sewenang-wenang. Mungkin seperti itu jugalah perasaan penulis Mazmur ketika ia melihat orang-orang jahat yang hidupnya terlihat nyaman:

“Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.” Mazmur 73: 2 – 5.

Kejadian dimana orang yang jahat, curang dan tidak jujur seolah hidup jaya dan membuat Tuhan seolah tidak ada, memang seringkali muncul dalam hidup kita sehari-hari dengan berbagai bentuk dan ukuran. Mungkin jika hal-hal itu tidak terlalu mencolok mata, kita bisa mengabaikannya. Lain halnya jika kita melihat mereka yang jelas-jelas melakukan hal-hal yang jahat, justru bangga atas “keberhasilan” mereka. Tetapi ayat pembukaan kita berkata bahwa bagaimanapun juga, kita tidak boleh sakit hati karena adanya orang yang berbuat jahat, atau iri hati kepada orang yang berbuat curang. Kejayaan mereka, yang kita lihat dari luar, belum tentu seperti apa yang kita bayangkan; dan apa yang mereka nikmati sekarang ini, tidaklah akan abadi.

Pagi ini, jika kita mempunyai rasa iri hati atas keberhasilan orang-orang yang tidak jujur di sekeliling kita, marilah kita menenangkan diri dan mencari kedamaian dalam Tuhan. Tuhan memang sering membiarkan mereka yang jahat dan curang hidup bersama-sama dengan pengikutNya, seperti lalang yang hidup diantara gandum. Tuhan bisa memakai apapun yang ada di dunia untuk memenuhi rancanganNya, dan karena itu kita tidak perlu hidup dalam keresahan dengan adanya orang-orang yang kelihatannya jaya dalam kecurangan mereka. Tetapi sebagai orang beriman, kita tidak perlu meragukan bahwa Tuhan yang maha adil pada akhirnya pasti bertindak tegas. Biarlah kita berdoa agar kehendak Tuhan terjadi pada saat yang dipilihNya.

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Matius 13: 30.

Manakah yang kita pilih?

“Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3: 6

Minggu yang baru lalu saya membeli sebuah alat GPS navigation baru karena yang lama sudah berumur lebih dari lima tahun dan mulai sering macet. Tanpa alat pemandu jalan itu, saya akan sulit menentukan posisi saya dan akan mudah tersesat jika pergi bermobil ketempat yang belum pernah saya kunjungi. Dengan menggunakan alat itu bukannya saya tidak mungkin tersesat, tetapi saya akan jarang tersesat dan bahkan boleh yakin bahwa pada akhirnya saya akan mencapai tempat tujuan saya.

Ketika beberapa jam yang lalu saya mengutik-utik alat GPS baru itu, timbul dalam pikiran saya sebuah khayalan: betapa enaknya jika ada alat serupa yang bisa dipakai untuk pemandu kehidupan. Bukankah setiap manusia sering membuat kekeliruan dalam hidup ini, tidak menyadari posisi, salah jalan, salah pilih, dan bahkan tersesat? Betapa enaknya jika ada sesuatu yang bisa menjamin manusia untuk berjalan di jalan yang benar, untuk menghindari dosa.

Ayat diatas mengungkapkan bahwa setiap orang yang tetap berada di dalam Yesus, tidak berbuat dosa lagi. Ini bukanlah berarti bahwa jika kita sudah lahir baru, kita tidak akan bisa tersesat lagi dan kita akan selalu berjalan di jalan yang benar. Tetapi, hidup baru didalam Kristus akan membawa kita akan pengenalan akan Firman Tuhan yang bisa menjadi pelita bagi jalan kehidupan kita.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119: 105

Mereka yang benar-benar sadar akan pentingnya bimbingan Tuhan dalam firmanNya, akan berusaha sekuat tenaga dengan pertolongan Roh Kudus untuk berjalan di jalan yang benar sesuai dengan petunjuk firman Tuhan. Dengan bimbingan Roh, mereka selalu awas akan posisi yang ada dan bisa menghindari jalan yang menyimpang. Mereka itu juga tidak mau melakukan kesalahan yang sama yang pernah mereka lakukan pada masa lalu. Mereka yang bertekad untuk menempuh hidup baru itu, akan mempunyai keyakinan bahwa sekalipun ada jalan yang berliku-liku, tempat tujuan akhir akan tercapai dengan selamat.

Sayang sekali bahwa dalam kehidupan ini, adanya Tuhan dan firmanNya belum tentu disambut semua orang dengan tangan terbuka. Ada banyak orang Kristen yang jatuh kedalam berbagai pencobaan karena tidak mau mendengarkan suara Roh Kudus dalam hati mereka. Dengan cara hidup mereka, suara Roh Kudus makin lama makin sulit didengar dan hidup mereka makin jauh dari Tuhan. Mereka yang sering mengabaikan Tuhan dan dengan sengaja secara terus menerus mengabaikan firmanNya dan bahkan selalu mengulangi dosa yang sama akan jatuh kedalam belenggu iblis.

“….barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.” 1 Yohanes 3: 8

Pagi ini, dimanapun kita berada dan apapun yang kita kerjakan, kita dihadapkan kepada dua pilihan. Mengikuti jalan yang benar sesuai dengan firman Tuhan, atau mengikuti kehendak kita sendiri. Jalan yang satu membawa kita kepada hidup yang kekal, sedangkan jalan yang lain membawa kita kepada kehancuran. Mana yang anda pilih?

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4: 30

Jangan remehkan Roh Kudus

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” 2 Korintus 13: 14

Bagi kita yang biasa ke gereja di Indonesia, ayat diatas mungkin tidaklah asing untuk kita. Setiap akhir kebaktian, pendeta yang bertugas akan mengangkat kedua tangannya sambil mengucapkan salam berkat yang juga diucapkan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Seingat saya, pada saat itu semua jemaat menundukkan kepala sambil mengamini apa yang diucapkan pendeta sebelum mereka menyanyikan lagu terakhir.

Suasana khusyuk di akhir kebaktian di banyak gereja di berbagai tempat di dunia mungkin sekarang sudah agak jarang dijumpai. Jemaat seringkali justru terlihat kurang sabar menjelang akhir kebaktian, mungkin karena mereka mempunyai acara lain sesudah kebaktian. Salam berkat diatas juga seringkali diganti ucapan lain yang tidak mempunyai makna dan bobot yang sama, atau menghilang sama sekali.

Apa yang diucapkan Paulus dalam ayat diatas menyatakan adanya kesatuan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus; satu Tuhan yang kita kenal sebagai Allah Tritunggal. Jika kita mengenal Allah Bapa yang menciptakan seisi bumi dan alam semesta, dan mengingat pengurbanan AnakNya di kayu salib ganti dosa kita, Roh Kudus seringkali dirasakan sebagai bagian Allah yang kurang bisa dimengerti sepenuhnya. Roh Kudus ada beserta kita, tetapi agaknya kita kurang menyadari bahwa hidup rohani kita bergantung kepadaNya.

“Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” 1 Korintus 3: 16

Dalam kehidupan yang serba sibuk ini, sebagian umat Kristen juga mengalami berbagai persoalan yang membuat mereka hidup dan bertingkah laku seperti orang yang belum percaya. Ada yang mungkin terjebak dalam kebingungan dan keputusasaan. Sebaliknya, ada pula yang tenggelam dalam kesukaan dan kebebasan duniawi. Dengan demikian, mereka mudah lupa bahwa mereka yang sudah dibimbing Roh Kudus kearah keselamatan, sebenarnya adalah tempat kediaman Roh Kudus.

Roh Kudus adalah Allah yang membimbing kita dalam kehidupan sehari-hari dengan kelembutanNya. Ia tidak memaksa kita untuk melakukan sesuatu, tapi memberi kesadaran akan apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan apa yang yang merupakan dosa. Tanpa Roh Kudus kita tidak mungkin bisa:

  • Lahir baru
  • Mengakui bahwa Yesus itu Tuhan
  • Menang atas dosa
  • Maju dalam hidup Kristen
  • Memperoleh kebijaksanaan yang benar
  • Mempunyai karunia Roh
  • Menghasilkan buah-buah Roh
  • Bangkit dari kematian

Begitu banyak apa yang bisa dilakukan oleh Roh Kudus, tetapi kita mungkin sering kurang mau untuk mendengarkan bisikan Roh Kudus dalam hidup kita. Mungkin kita cenderung memberi perhatian jika Roh Kudus memberikan sesuatu yang kita harapkan atau sukai saja. Kita sering membatasi cara kerja Roh Kudus, seakan Roh Kudus bukanlah Allah.

Pagi ini, biarlah kita sadar bahwa Allah sudah memberikan Roh Kudus kepada kita melalui pengurbanan Yesus. Roh Kudus sekarang tinggal didalam diri tiap-tiap orang percaya. Karena itu kita harus berusaha untuk hidup sesuai dengan apa yang dibisikkanNya kepada kita, agar Ia bisa bekerja makin hebat dalam mengubah hidup kita, sehingga makin hari kita makin menyerupai Kristus.

“Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4: 30

Bagaimana dengan persiapan anda untuk ke surga?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Teringat saya akan masa kecil, sewaktu orang tua mengajak saya dan adik saya untuk pergi ke luar kota. Pada waktu itu, bertamasya adalah sesuatu yang mewah dan jarang-jarang dialami, dan karena itu kami sekeluarga menantikan kedatangan harinya dengan penuh harapan. Persiapan untuk pergi bukan saja dengan memikirkan pakaian yang akan dipakai dan kegiatan apa yang akan dilakukan, tetapi bagi ibu saya adalah untuk mempersiapkan bekal makanan agar tidak perlu membeli makanan di jalan.

Persiapan adalah hal yang jamak dan umumnya dilakukan manusia untuk menghadapi hal-hal yang besar, penting, sulit atau memakan biaya. Tanpa persiapan, apa yang diharapkan untuk berjalan mulus bisa menjadi kacau balau. Persiapan juga bergantung kepada sifat dan sikap manusia yang bersangkutan, sebab ada orang yang selalu mempersiapkan diri dengan sangat berhati-hati sekalipun hanya menghadapi soal kecil; tetapi ada orang yang mengabaikan perlunya persiapan sekalipun ada hal-hal yang signifikan.

Bagaimana dengan soal pergi ke surga? Semua orang ingin ke surga, jika mereka percaya akan adanya surga. Tetapi, berapa banyak orang Kristen yang memikirkan surga dengan segala keindahan dan kemegahannya? Jika mereka pernah memikirkannya, seberapa sering mereka memikirkannya? Mungkin jarang-jarang saja, karena kelihatannya tidak ada gunanya. Hanya orang yang belum pasti tentang masa depannya akan memikirkan soal surga dan berusaha masuk surga dengan segala cara, begitu mungkin mereka berpikir. Bukankah orang Kristen sudah pasti ke surga tanpa perlu berbuat sesuatu?

Memang hal ke surga sepertinya mudah untuk orang Kristen, karena mereka diselamatkan semata-mata karena pemberian Allah.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Efesus 2: 8 – 9

Walaupun demikian, adalah keliru jika kita tidak mempersiapkan diri kita untuk menghadapi Tuhan, Allah kita di surga. Karena Tuhan adalah lebih agung dari pemimpin dunia manapun, dan kemuliaanNya melebihi segala ciptaanNya. Surga juga jauh lebih megah dan lebih indah dari bangunan apapun yang dibuat manusia.

Manusia hanya dapat membayangkan bentuk dan suasana di surga, tetapi semua itu hanyalah bayangan yang samar-samar saja. Persiapan kita untuk ke surga dengan demikian bukanlah berarti berusaha untuk mendapatkan pahala tertentu yang kita senangi di surga, seperti yang sering diajarkan oleh kepercayaan lain. Hanya Tuhan yang berhak menentukan apa saja yang akan kita terima di surga, dan tidak ada manusia yang tahu akan hal-hal itu selama mereka masih di dunia.

Memang dunia ini penuh dengan godaan, dan godaan yang paling sering kita hadapi adalah dorongan untuk memakai hidup kita sesuai dengan kemauan kita dan untuk kepentingan diri sendiri. Seringkali, sewaktu masih muda, orang terlalu sibuk dengan mengejar hari depan. Tetapi, dengan bertambahnya umur orang tetap saja cenderung menyibukkan diri dengan berbagai urusan dan kenikmatan duniawi. Surga, hal yang terbesar di masa depan, mungkin jarang dipikirkan.

Persiapan ke surga harus dihubungkan dengan hati, pikiran dan hidup kita selama masih di dunia. Dalam segala kelemahan, kita tetap harus berusaha untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi Dia, muka dengan muka, Tuhan yang sudah mengasihi kita di surga. Kita harus berusaha untuk mempersembahkan hidup kita di dunia sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Pagi ini, berapapun umur kita dan apapun kedudukan kita, seharusnya kita sadar bahwa sekalipun kita sudah diselamatkan, itu bukannya berarti kita tidak perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi Sang Pencipta. Semoga kita bisa memakai waktu yang masih ada untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Kolose 3: 1- 2

Benarkah kita pengikutNya?

Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” 1 Korintus 9: 26 – 27

Commonwealth Games 2018 adalah pertandingan olahraga antar negara-negara anggota Commonwealth yang diadakan di Gold Coast, Australia , bulan April yang baru lalu. Acara besar multi-sport seperti Olympic Games ini dihadiri sekitar 4500 atlit dari 71 tim internasional. Sungguh menarik bahwa untuk mempersiapkan diri guna menghadapi acara ini, seorang atlit mempersiapkan diri paling tidak selama dua tahun dan harus menghadapi berbagai proses seleksi sebelum bisa mewakili negaranya. Banyak atlit yang sudah terpilih untuk masuk kedalam pemusatan latihan nasional, kemudian ternyata tidak bisa bergabung dalam tim negaranya karena gagal memenuhi persyaratan.

Paulus dalam ayat diatas menggambarkan bahwa sebagai pengikut Kristus ia juga harus mempersiapkan diri seperti seorang atlit, pelari atau petinju. Sebagai seorang atlit pilihan ia harus tahu menguasai tubuh dan pikirannya agar ia bisa menggunakan seluruhnya untuk bisa memenangkan pertandingan. Paulus lebih lanjut mengatakan bahwa sebagai orang yang sudah dipilih untuk menjadi pengikut Kristus, ia tidak ingin untuk mengalami kegagalan. Apa maksud Paulus?

Memang banyak orang yang sudah dipanggil, diberikan kesempatan untuk mengikut Yesus, untuk menjadi atlit-atlitNya. Tetapi, tidak semua orang akan menjawab panggilan itu; mereka lebih senang menuruti cara hidup mereka sendiri dari pada berlatih untuk menjadi pengikut Kristus. Dengan demikian, mereka sendiri yang harus bertanggung jawab jika mereka tidak dipilih.

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Matius 22: 14

Diantara mereka yang menjawab panggilan Tuhan karena bimbingan Roh Kudus dan kemudian menjadi atlit pilihan, ada banyak yang memang mau hidup sebagai pengikutNya. Mereka merasa bersyukur bahwa mereka dipilih bukan karena jerih payah dan usaha mereka sendiri, tetapi semata-mata kasih karunia Tuhan. Karena itu mereka merasakan panggilan untuk berusaha sepenuh hati untuk menjalani hidup mereka sebagai atlit pilihan Tuhan. Memang hidup sebagai orang Kristen tidak mudah, tetapi mereka mau taat kepada firman Tuhan.

Diantara mereka yang menjawab panggilan Tuhan, ada juga orang-orang yang nampaknya bersedia untuk menjalani hidup sebagai atlit pilihan Tuhan. Mereka kelihatannya rajin berbuat baik, memuji Tuhan, mengabarkan injil dan sebagainya. Walaupun demikian, mereka tidak mempunyai alasan dan tujuan yang benar. Mereka mungkin ingin mencari kemuliaan diri sendiri dan bukannya kemuliaan Tuhan. Sebagian lagi mungkin hanya menikmati status “orang Kristen” saja, tanpa menyadari tugas dan panggilan mereka.

Pagi ini, Tuhan berfirman melalui Paulus bahwa orang yang sudah dipilih Tuhan seharusnya tidak lagi mempunyai hidup yang sama dengan mereka yang tidak terpilih. Mereka yang merasa atau terlihat sebagai atlit pilihan, tetapi tidak bisa hidup berdisplin sebagai seorang atlit, mungkin bukan benar-benar atlit yang terpilih yang sudah benar-benar menjawab panggilanNya. Mereka yang giat mengabarkan Injil, tetapi tetap hidup untuk kepentingan diri sendiri, mungkin adalah bukan pengikut Tuhan. Mereka yang sering berseru memanggil-manggil Tuhan dalam hidupnya, tetapi tidak melaksanakan perintahNya mungkin adalah penonton saja dan bukannya atlit. Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda benar-benar menjawab panggilan Tuhan dan hidup sebagai orang yang terpilih?

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Matius 7: 21

Hal merebut kebesaran Tuhan

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!” Mazmur 40: 4

Mereka yang senang menonton drama atau pernah ikut main drama tentu tahu bagaimana seorang aktor bisa tiba-tiba menampakkan diri, mengeluarkan suara, atau membuat gerakan yang menarik perhatian penonton sehingga perhatian yang sebelumnya diberikan penonton kepada aktor lain teralihkan. Aksi drama yang mengundang perhatian ini dalam bahasa Inggrisnya dinamakan “upstaging“. Jika istilah upstaging dalam drama adalah disengaja untuk membuat drama itu makin menarik, diluar dunia drama istilah itu mungkin mempunyai konotasi yang kurang baik karena bisa diartikan sebagai “merebut pengaruh” , “mengungguli” atau “menutupi kebaikan orang lain”.

Dalam kehidupan gerejani, dari mulanya soal saling berebut pengaruh dan nama sudah ada. Mereka yang mengaku dari golongan Apolos bertengkar dengan mereka yang mengikut Paulus (1 Korintus 3: 3 – 4). Tiap golongan mungkin merasa lebih baik dari yang lain, dan mungkin mempunyai rasa iri hati terhadap yang lain. Dalam hal ini, Paulus mengingatkan bahwa jika ia yang menanam firman Tuhan, dan Apolos yang menyiram, Allahlah yang memberi pertumbuhan iman. Sudah tentu Allahlah yang terpenting dan patut disembah, karena Paulus dan Apolos hanyalah pelayan-pelayan Allah.

Bagaimana pula dengan keadaan gereja Tuhan di zaman ini? Perebutan pengaruh jelas masih ada antar gereja, antar pimpinan dan antar pengurus gereja. Tetapi yang lebih mencolok adalah adanya gereja dan pemimpin gereja yang ingin sekali membuat kelompok atau diri sendiri agar menonjol dan dikenal masyarakat. Mereka itu sering berusaha untuk menarik orang datang ke gereja mereka, bukan karena faktor Yesus, tetapi karena faktor manusia saja.

Ada banyak gereja yang seolah mengajak jemaat untuk merasa bangga atas segala kemegahan gedung dan kegiatan sosial yang ada. Juga ada banyak pendeta yang seolah membiarkan jemaat untuk memuja mereka karena penampilan, pengetahuan dan kata-kata bijak yang menimbulkan kekaguman. Mereka sudah menjadi selebriti, orang-orang yang terkenal karena penampilannya.

Memang apa yang terlihat megah dan indah bisa membawa kebaikan. Tetapi itu hanya bisa dibenarkan kalau membawa kemuliaan kepada Tuhan yang maha kuasa. Apapun yang baik, tetapi yang tidak kita lakukan untuk memuliakan nama Yesus, bisa digolongkan pada tindakan yang mencoba untuk merebut pengaruh dan kemuliaan Tuhan. Setiap kali nama manusia ditonjolkan diatas nama Tuhan, setiap kali pula keangkuhan dan kebohongan manusia diperlihatkan.

Pagi ini kita harus ingat bahwa Tuhan kita adalah Allah yang cemburu, yang tidak dapat menerima adanya ilah lain dihadapanNya. Adalah mudah bagi manusia untuk membuat kebodohan yang akan membawa murka Tuhan, seperti kesombongan atas kemampuan diri sendiri, kekaguman atas kehebatan orang-orang yang sombong, atau kepercayaan kepada orang-orang yang hidup dalam kebohongan. Oleh karena itu, marilah kita selalu berhati-hati untuk memusatkan iman kita kepada Yesus dan bukan kepada sesuatu yang bisa menutupi kebesaranNya!

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” Roma 15: 5 – 6

Hanya Tuhan yang tahu

“Sesungguhnya, ia tak mengetahui apa yang akan terjadi, karena siapakah yang akan mengatakan kepadanya bagaimana itu akan terjadi.” Pengkhotbah 8: 7

Jika anda sempat mengujungi tempat-tempat di pinggiran kota di Australia, anda mungkin bisa menjumpai adanya beberapa stand Tarot reader. Toko kecil yang menyediakan pembacaan kartu Tarot semacam ini biasanya juga menyediakan pelayanan penyembuhan penyakit secara mistis. Mirip praktek dukun di Indonesia.

Tarot adalah suatu sistem kartu bergambar yang terdiri dari 78 lembar kartu. Kartu Tarot biasanya digunakan untuk membaca keadaan, situasi, dan jalur hidup seseorang. Dokumen sejarah menunjukkan bahwa Tarot berasal dari Italia. Sampai saat ini, permainan kartu Tarocchi masih populer di Eropa.

Ahli pembaca kartu Tarot juga ada di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya. Mungkin sekarang ada sekitar 40 pembaca tarot di Indonesia (sebagian bertitel “Mama”), tetapi jumlahnya makin bertambah karena banyaknya orang yang ingin mengatahui apa yang terjadi di masa depan akibat situasi yang ada. Mereka yang menghindari dukun, mengira bahwa konsultasi “modern” yang biayanya mencapai sekitar Rp. 2-4 juta per jam itu tidaklah berbau mistis dan karena itu bisa diterima. Benarkah begitu?

Banyak ayat Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang terjadi di masa depan. Hanya Tuhan yang maha tahu, yang dapat mengetahui apapun yang akan terjadi di jagad raya dan di muka bumi ini. Tuhan yang maha kuasa juga selalu bekerja untuk mewujudkan rancanganNya, dan karena itu melakukan berbagai tindakan yang mengherankan manusia, tidak hanya dalam hal bentuknya, tetapi juga mengenai ukuran dan saatnya. Apa yang kita tahu hanyalah Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya untuk mereka yang percaya, sekalipun itu sulit dimengerti oleh manusia.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Pengkhotbah 3: 11

Ketidaktahuan manusia akan hari depannya sebenarnya adalah berkat Tuhan, karena dengan itu manusia bisa menggantungkan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan yang maha kuasa dan maha kasih. Persis seperti keadaan di taman Firdaus, sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Tetapi karena manusia ingin menjadi seperti Tuhan yang maha tahu, mereka selalu berusaha dengan segala cara untuk mengetahui apa yang akan terjadi dalam hidup mereka agar bisa melakukan sesuatu sebelumnya.

Dalam lingkungan gereja pun, ada orang-orang yang senang mencari “informasi” tentang masa depan, dan ada yang sering menyampaikan “nubuat” tentang berbagai hal. Nubuat semacam itu harus dianalisa isi, tujuan dan akurasinya. Memang, jika Tuhan mau menyatakan sesuatu kepada manusia, itu bisa dilakukan melalui orang-orang tertentu yang dikaruniai Tuhan. Tetapi, itu jarang terjadi dan biasanya muncul secara spesifik untuk hal yang sangat urgen yang akan terjadi. Nubuat bukan untuk membawa kemuliaan kepada si pembawa atau manusia lain, tetapi untuk membawa orang kepada pengenalan akan kebesaran Tuhan. Untuk memberitakan nubuat, seseorang harus dipilih Tuhan dan karena itu cara bernubuat tidak bisa dipelajari manusia. Nubuat Tuhan pasti terjadi dan jika ada yang tidak terjadi, itu menunjukkan adanya kepalsuan.

Sadar atau tidak, mereka yang selalu ingin melihat apa yang terjadi di masa depan, sebenarnya ingin untuk mengungguli (to upstage) kehendak Tuhan. Mereka yang merasa bisa meramalkan masa depan, seringkali mengalihkan perhatian orang lain dari Tuhan kepada diri mereka sendiri.

Jika kita membaca Alkitab dari ujung ke ujung, kita tahu bahwa ada satu oknum yang selalu ingin untuk meng “upstage” Tuhan. Iblis dulunya adalah Lucifer, malaikat ciptaan Tuhan yang berpenampilan luar biasa yang merasa lebih hebat dari Tuhan (Yesaya 14: 12 – 14). Iblislah yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa dengan mengalihkan perhatian Adam dan Hawa ke arah buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, dan iblis jugalah yang sampai sekarang berusaha mengalihkan pandangan kita, dari kebesaran Tuhan kepada dirinya sendiri, dengan melakukan berbagai trik dan tipu muslihat yang mempesona agar kita terlena.

Sudah tentu mereka yang benar-benar beriman kepada Tuhan akan berusaha mengabaikan tipu daya iblis. Tetapi, keadaan di sekeliling manusia bisa menimbulkan keinginan untuk bisa melihat dan mengatur masa depan mereka. Dengan demikian, manusia berbuat dosa karena tidak mempercayai Tuhan yang maha kuasa dan maha bijaksana. Manusia kemudian mudah jatuh kedalam tipu daya ramalan iblis.

Raja Saul, sebagai contoh, menemui seorang dukun untuk bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya dan bani Israel (1 Samuel 28: 3 -25). Iblis memanfaatkan kesempatan itu dengan menampilkan sosok Samuel yang sebenarnya sudah bersama Tuhan dan tidak mungkin datang menjumpai Saul. Sebagian ramalan iblis memang terjadi, tetapi kematian Saul dengan bunuh diri adalah tragis dan merupakan kelanjutan dosa Saul sendiri, karena ketakutan yang timbul setelah mendengar ramalan iblis membuat ia makin jauh dari Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan mengingatkan kita untuk hanya mempercayai Dia dalam menghadapi masa depan. Dalam keadaan apapun, kita harus bisa mengatasi dorongan iblis untuk melupakan Tuhan dan kuasa serta kasihNya. Jika hidup kita saat ini mengalami berbagai kesulitan dan bahaya, itu adalah kesempatan bagi kita untuk makin dekat kepada Tuhan dan bukannya melarikan diri kepada orang-orang yang dari luar nampaknya bisa memberi bimbingan dan pertolongan melalui ramalan masa depan. Semoga kita selalu taat kepada Tuhan dan menghindari bujukan iblis!

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” 1 Petrus 5: 7