Kewajiban utama kita adalah memuliakan Tuhan

“Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.” Titus 3: 8

Mengapa sebagai orang Kristen kita harus dengan aktif berbuat baik? Ini sering dipertanyakan orang, baik oleh orang Kristen maupun non-Kristen. Jika orang Kristen diselamatkan karena iman, apakah ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal baik dan berguna bagi sesama?

Orang Kristen melakukan hal yang baik karena Kristus sudah lebih dulu berkurban untuk mereka. Mereka tentu tidak berusaha untuk berbuat baik guna dapat diselamatkan, karena tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi standar kesucian Allah. Tetapi, karena kasih Tuhan yang begitu besar telah membawa keselamatan, umat Kristen seharusnya mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup baik dan berbuat kebaikan agar orang lain juga melihat kasih Tuhan dan kemudian mau menerima karunia keselamatan. Pekerjaan yang baik dan hidup baik orang Kristen di dunia ini adalah identik dengan mengajak dunia untuk memuliakan Tuhan.

Untuk bisa hidup sebagai orang Kristen yang setia di dunia ini tidaklah mudah. Godaan dan bahaya selalu ada di dunia yang sudah dipenuhi dosa ini; sehingga sering mereka yang ingin untuk hidup baik, bisa gagal untuk menjalaninya. Banyak orang Kristen hidup dalam dua dunia, diluar kehidupan gereja mereka tidak berbeda dengan orang lain. Ada juga orang Kristen yang terlihat baik dalam masyarakat, tetapi tidaklah demikian dalam keluarga sendiri. Banyak orang Kristen yang berbuat baik untuk sesama tetapi tidak mempersembahkan kemuliaan yang diterima kepada Tuhan. Selain itu, ada juga orang Kristen yang kurang bisa melakukan pekerjaan yang baik karena adanya kesibukan dan kesukaran hidup. Hal-hal semacam ini sudah tentu tidaklah berguna bagi sesama untuk bisa mengenal Tuhan yang maha kasih.

Pada pihak yang lain, ada orang Kristen yang berusaha untuk hidup baik dengan cara mengisolir hidup mereka dari dunia. Bagi mereka, hidup suci adalah hidup di kalangan orang seiman, saling menolong dan menguatkan dalam lingkungan kekeluargaan dan persaudaraan. Tetapi, sudah tentu itu bukan maksud Tuhan ketika Ia memerintahkan kita untuk pergi keseluruh dunia untuk mengabarkan Injil. Hidup sebagai orang percaya tidak berarti bahwa kebahagiaan dan keselamatan yang ada hanya untuk dinikmati dalam lingkungan sendiri.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Markus 16:15

Pagi ini, Tuhan berfirman bahwa orang Kristen harus menjadi terang dunia, terang yang menghilangkan kegelapan dunia. Karena itu, melakukan pekerjaan yang baik untuk sesama berarti memuliakan nama Tuhan, menunjukkan rasa syukur kita kepada Tuhan dan memberitakan kabar baik kemana saja, dimana saja dan kapan saja. Maukah kita berusaha untuk melakukan hal itu?

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5: 16

Salah satu karunia Tuhan yang terbesar adalah doa yang tidak terjawab

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Matius 7: 11

Lagu berjudul “Unanswered prayers” (Doa yang tidak terjawab) adalah lagu country yang dinyanyikan oleh Garth Brooks pada tahun 1990 dan menduduki tangga pertama di Amerika pada tahun 1991. Lagu itu bukanlah lagu rohani, tetapi mengungkapkan pengalaman pribadi penyanyinya. Dalam syairnya ada tertulis bahwa terkadang ia bersyukur atas doa yang tidak dijawab Tuhan yang di surga, karena doa yang tidak terjawab bukanlah menunjukkan ketidakpedulian Tuhan.

Sometimes I thank God for unanswered prayers

Remember when you’re talkin’ to the man upstairs

That just because he doesn’t answer doesn’t mean he don’t care

Some of God’s greatest gifts are unanswered prayers

Lagu ini menjadi sangat populer waktu itu karena banyak orang yang merasakan hal yang serupa. Setelah berdoa cukup lama, tidak ada tanda-tanda bahwa Tuhan mau menjawab doa mereka. Walaupun sebagian orang menjadi kecewa dan bahkan putus asa dan meninggalkan iman mereka, ada orang-orang yang bersyukur karena Tuhan tidak menjawab doa mereka. Apa yang mereka minta kelihatannya tidak dikabulkan Tuhan, dan itu justru membawa kebaikan untuk mereka.

Benarkah Tuhan terkadang tidak menjawab permohonan anak-anakNya? Banyak orang Kristen yang mengajarkan bahwa Tuhan selalu menjawab doa mereka yang percaya. Doa yang tidak terjawab menunjukkan kelemahan iman, begitu kata mereka. Dan mereka memakai ayat Matius 7: 11 itu sebagai pedoman, bahwa Tuhan pasti menjawab doa-doa kita dan memberikan apa yang kita minta. Tetapi ajaran semacam itu tidaklah benar.

Doa terkadang tidak terjawab karena apa yang kita minta tidak sesuai dengan kehendakNya. Doa mungkin tidak terjawab karena hidup kita tidak sesuai dengan firmanNya. Doa mungkin tidak dijawab Tuhan agar kita bisa belajar bersabar dan bertekun dalam penderitaan kita serta bergantung kepadaNya. Dan mungkin juga Tuhan tidak menjawab doa kita agar dalam keadaan apapun, kita sadar bahwa Ia adalah Tuhan yang maha kuasa, maha adil dan maha bijaksana. Kehendak Tuhanlah yang terjadi, bukan kehendak kita.

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Roma 5: 3-5

Pagi ini, jika kita bangun dan merasa Tuhan itu jauh dan tidak mendengarkan doa-doa kita, kita tidak boleh merasa kecewa atau putus asa. Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita walaupun Ia belum tentu mengabulkan permohonan kita. Tuhan hanya memberikan apa yang terbaik kepada umatNya pada saat yang tepat.

Kita harus percaya bahwa Tuhan mengasihi kita dan dengan kebijaksanaanNya Ia belum tentu menjawab doa kita seperti apa yang kita harapkan. Kunci kebahagiaan bukanlah memperoleh apa yang kita minta, tetapi rasa cukup dengan apa yang sudah diberikanNya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Apa balasmu?

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Roma 12: 1

Sebagai mahluk sosial, manusia umumnya tahu bagaimana membuat orang lain senang. Salah satu diantara hal-hal yang bisa dilakukan untuk menggembirakan orang lain ialah memberi sebuah hadiah, entah itu berkenaan dengan ulang tahun, tahun baru atau perayaan lainnya. Dalam hal ini, adat saling memberi adalah umum. Seseorang tidak dapat mengharapkan untuk selalu diberi, tetapi ia harus juga siap memberi sebagai balasan dan rasa terima kasih.

Dalam soal saling memberi, adalah lazim jika seseorang yang pernah menerima sebuah pemberian yang berharga, berusaha untuk membalas pemberian itu, jika bisa dan pada waktu tepat, dengan sesuatu yang pantas. Ini tidak harus dengan pemberian yang seharga dengan apa yang diterimanya, tetapi setidaknya dengan sesuatu yang menunjukkan apresiasi atas pemberian itu.

Bagi umat Kristen, pemberian Allah yang terbesar adalah AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus, yang sudah mati untuk ganti dosa mereka. Karena itu, sikap yang benar dalam hidup orang Kristen sejati adalah rasa syukur dalam setiap keadaan. Mereka tidak lagi mengejar hal-hal duniawi seperti kesuksesan, kekayaan dan keternamaan lagi. Mereka tidak lagi sibuk meminta hadiah semacam itu dari Tuhan. Bagi mereka, Tuhan adalah baik dan bahkan sangat baik kepada mereka. Hanya mereka yang tidak mempunyai apresiasi yang cukup untuk karunia keselamatan itu, selalu sibuk memohon kepada Tuhan untuk mendapat berkat-berkat lain.

Bagaimana kita dapat membalas kasih Tuhan yang terbesar dalam diri Yesus Kristus, sebenarnya harus menjadi pemikiran kita sehari-hari. Karena dengan berhutang budi, hati kita seharusnya merasa bahwa kasih Tuhan yang sedemikian besar menuntut kasih yang serupa dari diri kita. Kasih yang dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita (Markus 12: 30).

Sudah tentu manusia tidak mungkin dapat membalas segala kebaikan Tuhan dengan sesuatu yang sama besarnya. Siapakah manusia itu, sehingga ia dapat menandingi Tuhan yang maha kasih? Tetapi, apakah itu alasan kita untuk tidak berusaha memberikan apa yang terbaik dari hidup kita kepadaNya?

Sebagai orang percaya kita tahu bahwa tidak hanya kita memperoleh anugerah keselamatan, kita juga menerima berkat-berkat yang tidak terhitung setiap hari. Jika demikian, adakah alasan bagi kita untuk hidup hanya untuk menikmati semua itu hari demi hari tanpa menyatakan rasa syukur kita kepadaNya secara nyata pada setiap saat dalam hidup kita?

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa karena kita sudah menerima kemurahan Allah, kita harus memikirkan bagaimana kita dapat menggunakan hidup kita, sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadah yang sejati, yang harus bisa kita laksanakan hari ini dengan kesungguhan hati dan pikiran, dan dengan sepenuh kekuatan kita. Karena apapun yang kurang dari itu, menunjukkan bahwa kita kurang menghargai kasihNya.

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” 1 Petrus 1: 3

Yesus mencintai semua orang

“Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Matius 9: 36

Ingatkah anda akan lagu sekolah minggu yang sangat terkenal ini?

Tuhan cinta semua anak

Semua anak di dunia

Kuning putih dan hitam

Semua dicinta Tuhan

Tuhan cinta semua anak di dunia

Lagu itu adalah terjemahan lagu himne “Jesus loves the little children” yang syairnya ditulis oleh C. Herbert Woolston (1856—1927) dan musiknya disusun oleh George F. Root. Lagu itu menunjukkan bahwa Yesus mencintai semua anak dari bangsa manapun.

Memang benar, karena Allah sangat kasih akan seisi dunia ini, Ia mengirim putraNya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dunia untuk menyelamatkan semua orang yang percaya kepadaNya.

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Yohanes 3: 17-18

Banyak orang yang berpikir bahwa jika Allah itu maha kasih, tentunya Ia akan menyelamatkan semua orang yang baik. Pandangan ini masuk akal, hanya saja tidak seorangpun di dunia ini yang cukup baik menurut ukuran Allah yang maha suci.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Roma 3: 23-24

Ayat pembukaan diatas menunjukkan perasaan Kristus ketika ia melihat begitu banyak orang yang seperti domba yang tersesat karena tidak mempunyai gembala. Ia merasa sedih karena begitu banyak orang yang sebenarnya bisa mengenal dan menerima Kristus, tetapi tidak dapat memperoleh kesempatan untuk itu. Karena itu, setiap orang Kristen diperintahkan untuk menjadi saksiNya di dunia ini, supaya makin banyak orang yang mau menerima Kristus.

Pada mulanya Injil Keselamatan diberitakan diantara umat Yahudi, namun kemudian Injil juga disebarkan untuk mereka yang bukan Yahudi. Karena kemurahan Allah, di zaman ini sangatlah jarang orang yang belum pernah mendengar kabar keselamatan Kristus. Lebih dari itu, melalui berbagai keajaiban, Allah bekerja agar semua orang di dunia mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus. Itu semua terjadi karena sejak mulanya, Allah mengasihi seisi dunia ini.

“Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Yohanes 10: 16

Pagi ini, jika kita berbakti di gereja, marilah kita ingat bahwa sebagaimana Allah sudah mengasihi semua orang, kita pun harus mengasihi sesama kita dengan tidak mempertimbangkan apakah orang itu cukup baik untuk ukuran kita. Dalam mengabarkan Injil kita pun harus mau mencapai orang-orang yang kita kenal sebagai orang yang sulit untuk diinjili. Mereka yang dengan sengaja menentang Kristus atau mereka yang dengan kenaifan menolak Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Sebab Yesus mencintai semua orang dan itu termasuk kita dan orang-orang yang kita kasihi. Ia ingin agar semua orang datang kepadaNya untuk memperoleh keselamatan!

Mengapa Tuhan memiih aku?

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Yohanes 15: 16

Mengapa Tuhan memilih aku sebagai anakNya? Begitu mungkin kita bertanya dalam hati kita. Tetapi, tunggu dulu! Siapa yang bilang bahwa kita orang-orang pilihan Tuhan? Apa tandanya? Apa buktinya? Karena hidup kita lebih baik dari hidup orang lain? Karena kita lebih sukses dari orang lain? Ataukah semua itu adalah perasan kita saja, bahwa Tuhan sudah memilih kita dari awalnya?

Memang bagi sebagian orang, soal dipilih Tuhan atau tidak adalah hal yang sulit dijawab. Jika Tuhan membiarkan kita merasa yakin akan keselamatan kita, tetapi pada akhirnya menolak kita, itu jelas bisa membuat kita hancur. Jika kita merasa yakin bahwa Tuhan memilih kita dan pada akhirnya kita membuat suatu kekeliruan yang besar, bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan tetap memilih kita?

Alkitab dalam ayat diatas menyatakan bahwa Tuhanlah yang memilih kita dan bukan kita yang memilih Dia. Lebih-lebih lagi, Tuhan memilih kita sewaktu kita masih hidup dalam dosa, bukan ketika kita sudah cukup baik untukNya. Berbeda dengan ajaran-ajaran lain di dunia, apapun yang kita perbuat tidak akan membuat kita cukup baik untuk Dia yang maha suci.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Roma 5: 8

Dengan demikian kita tidak perlu kuatir bahwa kasihNya menjadi padam ketika kita gagal untuk melakukan firmanNya.

Tuhan juga sudah memilih kita dari awalnya, bahkan sebelum kita dilahirkan, karena sebagai Tuhan yang maha tahu, Dia bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Ia bisa melihat bahwa pada suatu saat kita akan menjawab panggilan keselamatanNya dan mau memuliakan Dia.

“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Efesus 1: 4-5

Walaupun demikian, dalam hidup ini selalu ada goncangan yang mungkin membuat kita ragu akan kasihNya. Bagaimana kita bisa yakin bahwa Tuhan tidak mempertimbangkan apa yang diperbuat manusia sebelum menyelamatkan mereka? Bukankah ada orang-orang mengaku Kristen, tetapi sampai sekarang hidupnya amburadul? Kembali firman Tuhan secara tegas menyatakan bahwa manusia diselamatkan bukan karena perbuatan mereka, tetapi karena kasihNya dalam Yesus Kristus.

“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.” 2 Timotius 1: 9

Pagi ini, ayat-ayat diatas menyatakan bahwa Tuhanlah yang berhak untuk memilih siapa saja yang dikehendakiNya untuk menerima penyelamatan Yesus Kristus. Ini adalah misteri yang tidak dapat kita mengerti sepenuhnya selama kita hidup di dunia. Mereka yang dipilih Tuhan bukannya cukup baik untuk standarNya, tetapi justru orang berdosa yang mau menerima panggilan kasihNya. Mereka yang terpilih akan dapat merasakan kasih Tuhan dalam setiap saat dan setiap keadaan. Dimanapun mereka berada, dalam segala kelemahan, cacat-cela, dan perjuangan yang ada, mereka selalu mempunyai kerinduan untuk memuliakan Tuhan dan bisa bersyukur atas segala berkat Tuhan dalam hidup mereka. Keselamatan mungkin sulit terlihat dengan mata manusia, tetapi jelas bisa dirasakan oleh mereka yang menerimanya.

Hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus dalamku

Yesus hidup, Yesus hidup dalamku

Apa yang sebenarnya kita percayai?

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Yohanes 8: 23-24

Disepanjang sejarah, selalu ada saja orang-orang yang mengajarkan cara hidup untuk mencapai kebahagiaan. Mereka menunjukkan hal-hal yang penting untuk dilakukan agar manusia bisa hidup tenteram, tidak hanya selama hidup di dunia, tetapi juga setelah itu. Kebahagiaan di surga sepertinya bisa dicapai dengan berbagai cara seperti yang diajarkan oleh berbagai agama.

Perbedaan ajaran berbagai agama seringkali membuat manusia bingung, terutama mengenai bagaimana manusia harus melakukan berbagai kebajikan agar mereka bisa masuk ke surga. Dalam hal ini, Kekristenan atau Kristianitas sebenarnya bukanlah agama; karena dalam Kekristenan, hanya iman kepada Yesus yang membawa keselamatan. Manusia tidak bisa mendapat keselamatan karena perbuatan baik apapun.

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14: 6

Walaupun demikian, di zaman ini makin banyak orang yang mengajarkan bahwa Yesus bukanlah satu-satunya jalan, the way, untuk menuju ke surga. Paham-paham semacam itu bisa berupa universalisme yang mengajarkan bahwa tiap orang bisa mencari jalan ke surga dengan caranya sendiri. Akibatnya, orang Kristen sekarang sering malu dan segan untuk menyatakan keyakinan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan.

Banyak orang Kristen yang dipengaruhi oleh paham universalisme di era pluralisme yang ada sekarang, sehingga mereka percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tentunya menghargai iktikad baik setiap manusia yang berusaha sungguh-sungguh mencari Tuhannya. Seringkali orang mempunyai kepercayaan semacam ini karena adanya sanak saudara yang bukan orang Kristen. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa sanak saudara mereka tidak akan diselamatkan.

Ayat pembukaan diatas menunjukkan bahwa usaha manusia untuk mengenal Tuhan akan sia-sia karena Tuhan itu maha tinggi. Yesus datang dari surga sedang manusia berada di dunia. Pengertian manusia tidak akan dapat meraih kebesaran Yesus. Apa yang bisa dilakukan manusia hanyalah menerima Yesus sebagai Mesias dengan iman, percaya bahwa Yesus datang dari surga sebagai satu-satunya jalan keselamatan, sesuai dengan pernyataanNya.

Sebagai orang Kristen, kita harus sadar bahwa betapapun baiknya hidup seseorang, ia tetap adalah orang yang berdosa di hadapan Tuhan yang maha suci. Jika ada orang yang percaya bahwa mereka yang berbuat banyak kebajikan akan masuk ke surga, pada hakekatnya mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Mereka dengan demikian menolak bahwa Yesus adalah Tuhan yang datang dari surga untuk menyelamatkan manusia.

Apa yang dikatakan Yesus dalam ayat pembukaan diatas seharusnya bisa menyadarkan mereka yang menolak bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat dan Tuhan sendiri. Bahwa dengan penolakan itu, mereka akan mati dalam dosa sekalipun mereka mengaku sebagai orang Kristen.

Pagi ini ada satu pertanyaan untuk kita. Apa yang sebenarnya kita percayai? Apakah kita percaya bahwa Kekristenan adalah salah satu cara mencapai surga? Mungkin kita percaya bahwa Yesus hanyalah salah satu guru agama yang masyhur di dunia? Ataukah kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang datang dari surga untuk menebus dosa kita?

Pada waktu Yesus disalib, seorang penjahat yang disalib disampingNya berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Jawaban Yesus kepada penjahat itu seharusnya tidak mengherankan mereka yang percaya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23: 42-43). Yesus adalah Tuhan dan didalam Dia ada keselamatan. Tidak ada jalan lain diluar Dia!

“Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus.” Lukas 9: 26

Tidak semudah yang dibayangkan

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5: 20

Menjadi orang Kristen tidak perlu fanatik. Begitu komentar yang sering kita dengar dari orang yang mengaku beragama Kristen kepada orang Kristen yang lain. Mereka yang ingin mengikuti dan menjalankan firman Tuhan dengan sepenuhnya sering ditertawakan karena dianggap ektrimis, fundamentalis dan “sok”. Bagi mereka yang “terlalu Kristen” itu, julukan yang biasanya diberikan adalah “orang Farisi”.

Bagi banyak orang Kristen, istilah orang Farisi dipakai untuk menunjuk kepada satu golongan orang Jahudi yang tahu dan hafal seluruh bagian kitab Taurat, tetapi tidak menjalankannya dengan benar. Orang munafik. Tetapi ini bukanlah pengertian sepenuhnya.

Di dalam Talmud (catatan tentang diskusi para rabi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah) tertulis adanya beberapa tipe orang Farisi. Ada jenis orang Farisi yang menyombongkan kebaikan-kebaikannya. Ada juga orang Farisi yang memalingkan wajahnya untuk menghindari melihat perempuan. Ada orang Farisi yang sering mengangguk-anggukan kepalanya seolah-olah bijaksana. Ada orang Farisi yang selalu menghitung kebaikannya, Tetapi ada juga orang Farisi yang mematuhi Allah karena takut. Dan ada orang Farisi yang mematuhi Allah karena mengasihi Allah.

Rasul Paulus adalah salah satu contoh orang Farisi yang patuh kepada hukum Taurat tetapi melakukan penganiayaan terhadap orang Kristen pada waktu ia belum mengenal Kristus. Walaupun demikian, Paulus pada waktu itu merasa bahwa ia adalah penegak kebenaran hukum Taurat (Filipi 3: 4-6). Pandangannya berubah ketika ia berjumpa dengan Yesus sendiri dalam perjalanannya ke Damsyik (Kisah Para Rasul 9: 4-5).

Berdasarkan pengalaman orang Farisi yang bernama Paulus itu, apakah hukum Taurat itu sesuatu yang sebaiknya dilupakan? Tentu tidak! Yesus dalam mengajarkan hukum kasih pernah berkata Ia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, sebaliknya Ia datang untuk menggenapinya (Matius 5: 17-18).

Kita memang tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat, tetapi dalam hukum kasih. Kewajiban kita adalah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22: 37-40). Pelaksanaan hukum ini adalah sebagai pencerminan hidup baru kita dalam Kristus.

Pagi ini, pertanyaan untuk kita adalah satu pertanyaan yang sulit dijawab. Apakah kita benar-benar orang Kristen? Jika kita mengaku bahwa kita adalah pengikut Yesus, kita harus melaksanakan perintah Tuhan lebih baik dari apa yang sudah dilakukan oleh kebanyakan orang Farisi. Ada banyak hal yang salah yang dilakukan mereka, dan seperti rasul Paulus kita harus mau memperbaikinya. Perjumpaan kita dengan Yesus tidak akan mengubah hidup kita jika kita tidak bisa mengikuti jejak Paulus dan menjadi seperti orang Farisi dalam mengenal adanya hukum-hukum Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, dan bahkan lebih dari orang Farisi dalam melaksanakan hukum-hukum itu secara benar dan konsisten setiap hari.

Jangan pensiun dulu!

“Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib; juga sampai masa tuaku dan putih rambutku, ya Allah, janganlah meninggalkan aku, supaya aku memberitakan kuasa-Mu kepada angkatan ini, keperkasaan-Mu kepada semua orang yang akan datang.” Mazmur 71: 17-18

Untuk sebagian orang, pensiun adalah saat yang dinantikan setelah bertahun-tahun bekerja keras. Bagi mereka ini, adanya uang pensiun yang cukup dan waktu luang membuka kesempatan untuk bisa menikmati apa yang sebelumnya hanya impian, seperti bepergian ke luar negeri, memakai aksesori dan pakaian yang mahal, ataupun pesta pora dan makan minum sepuasnya. Bagi orang lain, saat dipensiun adalah saat yang menyedihkan karena hilangnya pekerjaan dan teman bekerja membuat mereka bingung menghadapi hari-hari tanpa kegiatan rutin yang biasanya ada. Lebih menyusahkan lagi jika uang pensiun tidaklah cukup untuk menopang gaya hidup yang diinginkan.

Konsep pensiun tidak pernah secara jelas diutarakan dalam Alkitab, walaupun Tuhan berfirman kepada Musa bahwa setiap orang Lewi yang berumur dua puluh lima tahun ke atas harus memulai kewajiban untuk bekerja pada Kemah Pertemuan, tetapi jika ia berumur lima puluh tahun haruslah ia dibebaskan dari pekerjaan itu. Walaupun demikian, ia boleh membantu saudara-saudaranya di Kemah Pertemuan dalam menjalankan tugas mereka (Bilangan 8: 24-26). Ada kemungkinan bahwa dengan peraturan ini, semua orang Lewi bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk melayani Tuhan.

Memang pensiun sering ditentukan oleh pemerintah agar mereka yang muda bisa mendapat kesempatan untuk meniti karir dan juga untuk membuka kesempatan untuk memajukan negara dengan adanya hasil karya baru oleh mereka yang lebih muda. Walaupun begitu, di negara seperti Australia, usia pensiun tidak ditetapkan dan orang bisa bekerja selama mungkin asal masih bisa bekerja dengan baik.

Untuk orang Kristen, hidup ini adalah milik Kristus, oleh Kristus dan bagi Kristus. Oleh karena itu, apa yang didefinisikan manusia sebagai saat untuk pensiun tidaklah merubah kenyataan bahwa kita hidup sebagai anak-anak Tuhan yang harus terus memakai hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan. Apabila saat bekerja adalah kesempatan orang tua untuk mengumpulkan harta bagi anak-anaknya (2 Korintus 12: 14), saat pensiun bukanlah awal kemerdekaan orang tua untuk menikmati harta yang tersisa hanya untuk kenikmatan diri sendiri. Sebaliknya, hidup kita dari awal hingga akhir harus digunakan untuk memuliakan Tuhan.

Pagi ini, firman Tuhan berkata bahwa selama kebesaran Tuhan bisa kita rasakan dalam hidup kita, kita tidak akan pernah pensiun untuk memuliakan dan memasyhurkan namaNya. Karena itu, berapapun umur kita dan apapun yang terjadi dengan pekerjaan duniawi kita, pekerjaan surgawi harus tetap berjalan. Apakah kita sadar bahwa sebagai milik Tuhan, kita hidup di dunia hanya karena Dia dan untuk Dia?

“Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.” Mazmur 113: 2

Usaha mengatasi kebosanan

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” 1 Korintus 10: 23

Pernahkah anda merasa bosan? Kebosanan mungkin disebabkan oleh adanya hal-hal yang sama yang terus menerus terjadi, atau karena tidak adanya sesuatu yang menarik perhatian kita. Karena kebosanan orang mungkin melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan, yang mungkin merupakan hal yang bodoh, aneh, atau kurang berguna. Mungkin saja karena hidup yang monoton, seseorang melakukan sesuatu tindakan tanpa berpikir panjang, sekedar untuk menghilangkan kebosanan.

Apakah kebosanan adalah dosa? Belum tentu. Rasa bosan sebenarnya adalah reaksi normal dari tubuh atau pikiran atas keadaan yang kurang menarik atau memberi semangat. Tetapi apa yang diperbuat manusia untuk mengatasi kebosanan memang bisa membawa dosa. Karena dengan kebosanan bisa muncul rasa benci, iri, malas, marah dan sebagainya. Dari rasa bosan mungkin juga timbul keinginan untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.

Jika saja manusia cukup berhati-hati dalam usaha untuk mengatasi kebosanan, mungkin hal-hal yang tidak baik bisa dihindari. Suatu perubahan mungkin tetap harus dilakukan untuk mengalihkan pikiran dan memberi semangat baru kepada tubuh yang bosan. Dalam hal ini, ayat diatas mengingatkan bahwa jika kita bermaksud untuk melakukan sesuatu, kita harus memikirkan gunanya dan akibatnya. Memang, jika di satu sisi kita boleh saja melakukan suatu tindakan atau mengambil suatu keputusan, di sisi lain apa yang akan kita lakukan haruslah membawa manfaat yang baik bagi Tuhan dan sesama.

Pagi ini, pertanyaan kepada kita adalah apakah saat ini ada rasa bosan dalam hidup kita. Mungkin hidup kita serba cukup tetapi hati kita kosong. Mungkin juga kita masih mendambakan sesuatu yang tidak kunjung datang. Atau mungkin kita bosan dengan segala persoalan yang kita hadapi. Dalam hal ini kita boleh yakin bahwa kita tidaklah seorang diri. Hampir setiap orang pernah merasakan hal yang sama dalam hidupnya.

Tuhan tahu bahwa manusia bisa merasa bosan. Karena itu Tuhan memberi manusia kebijaksanaan dan kemampuan untuk mengambil keputusan. Kebosanan harus diatasi dengan tindakan yang benar dengan mengubah cara hidup atau lingkungan hidup kita. Marilah kita pagi ini, dalam mengambil tindakan untuk menyegarkan hidup kita, kita mulai dengan bersyukur atas segala yang ada dalam hidup kita, dan kemudian dengan tekun berdoa agar apa yang akan kita lakukan di masa depan adalah hal yang baik dan berguna demi kasih kita kepada Tuhan dan sesama kita!

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” Kolose 4: 2

Menjadi satu daging

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Kejadian 2: 24

Menjadi satu daging. Apa pula itu? Banyak orang mengira bahwa ini berkaitan dengan hubungan seks ketika seorang pria menikah dengan seorang wanita, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh keturunan. Ini tidak salah, tetapi belum semuanya. Tuhan menciptakan dua jenis manusia yang berlainan bukan saja untuk bersatu dalam satu keluarga secara fisik, tetapi juga secara emosional, spiritual, intelektual, finansial dan apapun juga. Walaupun begitu, mereka tetap berada dalam keadaan sebagai dua individu yang berlainan.

Pernikahan tidak dapat menjadikan dua individu menjadi satu individu dengan segala sesuatunya melebur menjadi satu, tetapi sebagai dua individu yang bisa saling melengkapi dan menguatkan. Karena tiap individu tidaklah mempunyai kemampuan yang sama dalam segala hal, mereka yang hidup sebagai suami dan istri dapat menggabungkan kemampuan mereka sehingga dengan kebersamaan yang ada, mereka dapat menghadapi tantangan hidup dengan saling menopang dan menguatkan.

Adalah akibat dosa bahwa hubungan antara suami dan istri itu menjadi rusak. Kejadian 3: 16 mengungkapkan bahwa sejak jatuhnya manusia, kaum wanita menjadi obyek kepuasan pria dan jatuh dibawah penguasaan pria. Memang sampai sekarang kita bisa melihat bahwa kaum wanita sering dieksploitir oleh kaum pria. Dengan kemajuan kebudayaan dan etika, terutama dengan pengaruh agama Kristen, hal ini menjadi berkurang, tetapi sungguh menyedihkan bahwa ketimpangan ini belum juga hilang.

Mungkin kisah penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam bisa memberi kita suatu pengertian bahwa status Hawa tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari Adam. Mereka adalah mahluk yang berbeda tetapi sederajat. Selanjutnya iman Kristen, berbeda dengan kepercayaan lain, juga mengajarkan bahwa dalam Yesus tidak ada perbedaan status antara pria dan wanita. Dan karena itu kita wajib mengasihi dan menghormati semua orang yang sudah dipersatukan dalam Kristus.

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3: 28

Adalah manusia yang di sepanjang sejarah seringkali membuat perbedaan antara status pria dan wanita. Pada umumnya, sebagian suami memakai ayat dalam Efesus 5: 22 untuk menuntut agar istri mereka tunduk kepada mereka. Mereka tidak sadar bahwa “tunduk” disini adalah dalam fungsi rumah tangga, yaitu memberikan kesempatan kepada suami untuk memimpin rumah tangga. Sudah tentu ada kemungkinan bahwa seorang suami merasa bahwa dalam hal-hal tertentu, istrinya dapat berprestasi lebih baik darinya, dan untuk itu suami yang baik akan memberikan kesempatan kepada sang istri untuk memimpin. Menjadi pemimpin yang baik memerlukan kebijaksanaan untuk bisa mendelegasikan tugas untuk kepentingan dan kesatuan rumah tangga.

Adalah kenyataan hidup bahwa banyak kekacauan dalam rumah tangga Kristen timbul karena soal kepemimpinan itu. Mungkin karena suami ingin untuk istri tunduk dalam segala hal, mungkin juga karena istri merasa bahwa suami sudah bertindak dengan semena-mena. Memang hingga sekarang, kasus pelecehan dan penganiayaan dalam rumah tangga Kristen masih sering terjadi, mungkin tidak selalu melalui cara fisik, tetapi bisa juga secara emosi, spiritual dan finansial.

Pagi ini ayat dari kitab Kejadian diatas menegaskan bahwa suami dan istri adalah satu daging, satu tubuh secara jasmani. Lebih lanjut, ayat dari kitab Galatia menjelaskan bahwa dalam Kristus kita adalah satu secara rohani. Hubungan antara suami dan istri dengan demikian adalah hubungan antara anggota dari satu tubuh, jasmani dan rohani. Dengan demikian, hubungan antara keduanya harus dilandasi kesadaran bahwa mereka adalah sama derajatnya dan saling membutuhkan, saling menghormati dan saling mengasihi. Mereka harus sadar bahwa Tuhan memberi manusia bentuk, kemampuan dan fungsi yang berbeda-beda, tetapi dengan satu panggilan yaitu untuk memuliakanNya.