Mengapa harus menaati hukum Tuhan?

“Barangsiapa menuruti segala perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” 1 Yohanes 3: 24

Pernahkah anda memikirkan apa gunanya orang menaati hukum? Ada banyak orang yang berpendapat bahwa itu perlu agar tidak dihukum. Dalam hal ini, polisi bertugas untuk menegakkan hukum, tetapi setiap orang seharusnya menaati hukum dan peraturan setiap saat dan bukannya hanya sewaktu ada hamba hukum. Jika orang hanya melaksanakan hukum karena takut dihukum, kekacauan akan terjadi jika tidak ada aparat hukum atau orang yang bisa melihat atau melaporkan adanya pelanggaran hukum.

Apa guna orang Kristen menaati hukum Tuhan? Ada sebagian orang Kristen yang berpendapat bahwa itu perlu agar mereka bisa diselamatkan. Tetapi, keselamatan bukanlah dari usaha manusia, melainkan karunia Tuhan. Oleh karena itu ada orang Kristen yang merasa bahwa adanya iman sudah cukup untuk menjamin keselamatan, karena menaati hukum Tuhan itu sulitnya bukan main untuk tidak dikatakan mustahil.

Semua manusia memang mempunyai kecenderungan untuk melanggar hukum jika keadaan memungkinkan. Dari kitab Kejadian kita tahu bahwa ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan mereka tidak sadar bahwa Tuhan tahu apa mereka lakukan. Sejak itu banyak orang melakukan berbagai dosa karena tidak sadar bahwa Tuhan selalu mengawasi mereka.

Bagaimana pula dengan orang Farisi yang mengharuskan masyarakat Yahudi untuk menjalankan hukum Taurat? Apakah mereka sendiri adalah orang yang taat? Mereka mengubah pelaksanaan hukum Taurat karena mereka sendiri tidak dapat menjalankan hukum itu dengan sepenuhnya. Seperti itu, kita pun sering berbuat dosa jika tidak ada peraturan manusia yang melarangnya. Sekalipun kita tahu apa yang baik, kita cenderung untuk melakukan apa yang tidak baik tetapi mudah dilakukan.

“Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” Roma 7: 19

Paulus mengingatkan kita bahwa orang yang mempunyai Tuhan dalam hidupnya selalu memiliki kesadaran akan apa yang dikendaki Tuhan dalam setiap keadaan, karena Roh Kudus telah dikaruniakan kepada mereka dan menyertai setiap langkah kehidupan mereka. Orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan tidak hanya berusaha menaati hukum dan etika ketika mereka melihat adanya penegak hukum atau karena takut menerima sanksinya, tetapi karena mereka tahu apa yang dikehendaki Tuhan yang mahasuci. Mereka sadar jika mereka melakukan apa yang jahat karena pekerjaan Roh Kudus.

Sebagai umat Kristen, kita tentunya ingin untuk hidup sesuai dengan perintah Yesus. Tetapi itu sulit sekali. Mengasihi Tuhan, Allah kita dengan segenap hati kita dan dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita, serta mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri bukanlah hal yang mudah dilakukan. Padahal, pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Matius 22: 37-40). Yesus menuntut suatu standar yang tidak akan tercapai oleh para pendengar-Nya. Jika demikian, mengapa Yesus perlu menyebutkannya?

Pengajaran Yesus yang kita bisa pelajari dari Alkitab, adalah bahwa tidak seorang pun yang dapat menjalani kehidupan dengan kemurnian moral yang layak untuk ke surga (Yohanes 14: 6). Ini dijelaskan lebih lanjut oleh rasul Paulus dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Namun, kita tahu bahwa orang yang beriman kepada Kristus “oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” ( Roma 3: 24). Yesus dengan demikian ingin mempersiapkan umat-Nya untuk memahami bahwa mereka membutuhkan kebenaran yang hanya dapat diperoleh-Nya bagi kita.

Hari ini, mungkin kita teringat akan perintah Yesus untuk hidup dalam kebenaran. Kebenaran yang ada di dunia ini dan yang diajarkan oleh manusia hanya membuat kita terbuai seakan kita sudah mencapai tingkat kesempurnaan seperti yang dikehendaki Yesus. Oleh karena itu, semakin kita berusaha mencapai tingkat kerohanian yang tinggi dengan tenaga sendiri, semakin jauh kita dari apa yang diperintahkan Yesus. Sebagai orang berdosa, kita tidak akan mencapai apa yang diminta-Nya untuk bisa dihitung sebagai anak-anak Tuhan. Kita bersyukur bahwa hanya oleh kemurahan-Nya, Yesus sudah menebus dosa kita dan membuka jalan ke surga bagi kita. Dengan pertolongan-Nya kita akan hidup dengan rasa syukur dan makin hari makin sempurna dalam menegakkan kebenaran-Nya selama hidup di dunia ini.

Apa yang Anda cari?

“Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.” Yosua 1:7-9

Hari ini saya berada di Tahlee, sebuah dusun di utara Sydney. Akhir pekan ini gereja saya mengadakan sebuah camp rohani yang dihadiri 165 orang. Tahlee adalan tempat yang strategis untuk menyaksikan matahari terbit dan terbenam di horison. Pemandangan indah yang bisa membuat kita merasa bahagia.

Kebahagiaan. Sukacita. Sesuatu yang dicari semua orang, tetapi yang sangat sulit ditemukan. Kebahagiaan dicari banyak orang dan dengan demikian, banyak guru, orang pandai, dan motivator yang mengajarkan bagaimana cara memperolehnya. Menurut mereka, kitalah yang bertanggung jawab untuk bisa membuat diri sendiri berbahagia. Kebahagiaan bergantung pada kemauan kita dan reaksi kita terhadap orang-orang dan suasana di sekitar kita.

Berbeda dengan pandangan umum, untuk orang Kristen, kebahagiaan diakui sebagai berkat Tuhan. Tetapi, itu sering kali dikaitkan dengan keberuntungan dan keberhasilan yang kita terima dari-Nya. Dengan demikian, rasa sedih kadang bisa muncul kalau keinginan kita tidak tercapai. Apakah Tuhan hanya memberikan berkat istimewa untuk orang-orang tertentu seperti Yosua?

Memang ada banyak orang Kristen yang hidup dalam kemakmuran. Hidup mereka nampaknya bahagia dan serba berkecukupan, untuk tidak dikatakan berlebihan. Mungkin dalam berdoa mereka tetap ingat untuk memohon kekuatan, kecukupan dan perlindungan dari Tuhan untuk orang lain yang berada dalam penderitaan. Tetapi untuk mereka sendiri tentunya mereka sering meminta agar Tuhan tetap membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepada mereka.

Berkat (blessing) memang satu hal yang dikejar manusia sejak dulu. Berkat sebenarnya adalah pernyataan yang berisi harapan untuk kebahagiaan, yang diucapkan seseorang kepada yang orang lain. Tradisi berkat memberkati antar manusia adalah sesuatu yang baik. Berkat  bermula dari orang yang punya hubungan erat dengan orang lain. Berkat adalah untuk kebaikan orang yang diberkati dan berguna untuk memperkuat hubungan kedua orang itu. Berkat juga ditanggapi dengan rasa terima kasih kepada orang yang memberkati. Lebih dari itu, berkat membuat orang yang diberkati mau memberkati orang lain.

Berkat Tuhan yang semula untuk umat manusia, adalah agar mereka mengalami kebahagiaan di dalam Dia. Berkat Tuhan tidak selalu berupa kenyamanan tetapi bisa berupa berbagai pengalaman hidup yang selalu berguna untuk kebaikan anak-anak-Nya. Karena dosa, berkat materi dari Tuhan sering disalah gunakan dan ditonjolkan manusia sehingga menimbulkan salah pengertian, padahal kita seharusnya bisa memfokuskan diri pada kebesaran,  kasih dan maksud baik-Nya dalam hidup kita.

Sesungguhnya, hidup dalam kelimpahan dan kenyamanan bukan berarti tanpa bahaya. Mereka yang terbuai dalam suasana damai, aman dan nikmat, sering lupa bahwa iblis selalu mengintai untuk mencari kesempatan menyerang. Iblis bagaikan singa, akan menyerang mereka yang tidak berjaga-jaga.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” 1 Petrus 5: 8

Banyak orang Kristen yang berdoa untuk kesuksesan dan kemakmuran, tetapi mungkin jarang yang berdoa untuk meminta sukacita. Herannya, mereka sering mengucapkan “semoga anda berbahagia” kepada orang lain. Mungkin ada keseganan dan rasa malu jika orang berdoa untuk kebahagiaan karena seyogyanya semua orang Kristen berbahagia. Kenyataannya adalah bahwa semua orang pernah mengalami saat-saat dimana kelihatannya hanya kesusahan yang ada.

Hidup yang terasa tenteram tidak boleh menyebabkan kita lengah. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan bisa jatuh ke dalam keputusasaan dan dosa, mereka yang hidup dalam kecukupan bisa jatuh ke dalam ketamakan, kesombongan dan dosa. Iblis ingin menghancurkan hidup setiap orang percaya dalam keadaan apa pun. Mereka yang tidak waspada, jarang membaca Firman, dan jauh dari Tuhan sudah pasti akan menjadi mangsa yang empuk. Iblis bukannya muncul dalam bentuk yang selalu terlihat jelas atau menjijikkan, karena jika demikian manusia akan mudah menghindarinya. Iblis justru muncul dengan berbagai bentuk kamulflase indah yang membuat kita tidak awas dan kemudian terkecoh.

Satu hal yang sangat penting yang mungkin tidak dikenal oleh orang yang belum beriman adalah bahwa kebahagiaan sejati bukanlah dari kita sendiri. Berlawanan dengan ajaran agama lain dan teori manusia, kebahagiaan sejati sebenarnya berasal dari Tuhan. Dalam bahasa Yunani, kata kebahagiaan atau sukacita diterjemahkan sebagai “chara” yang berhubungan dengan kata “charis” yang berarti karunia. Kita tidak dapat merasakan sukacita dengan usaha sendiri, tetapi jika Roh Kudus bekerja dalam hati kita, mata rohani kita bisa terbuka untuk melihat betapa besar kasih Tuhan kepada kita. Kebahagiaan atau sukacita adalah karunia Tuhan.

Kemampuan untuk melihat hidup dari perspektif yang benar tidaklah dimiliki semua orang. Orang yang bisa benar-benar merasa bersyukur atas hidup mereka tidaklah besar jumlahnya. Kebanyakan orang lebih mudah berfokus kepada apa yang mereka harapkan atau ingini, daripada bersyukur atas apa yang ada. Untuk orang Kristen, kebahagiaan akan datang ketika kita menyadari betapa besar karunia Tuhan dalam hidup kita sekalipun kita sekarang berada dalam kesulitan. Kebahagiaan akan muncul kalau kita bisa merasa cukup dan tidak menguatirkan hal-hal yang di luar kemampuan kita.

Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberikan karunia sukacita kepada kita yang percaya, agar kita bisa hidup dengan tenteram dan damai, dan juga bisa memancarkan sukacita ini kepada orang yang di sekitar kita.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Filipi 4: 6-7

Hidup penuh tantangan

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Matius 5: 4

Berita media hari ini agaknya membawa kekuatiran bagi penduduk dunia. Saat ini harga bensin di seluruh dunia akan naik tajam karena jumlah minyak mentah yang berkurang sebagai dampak dari perang di Ukraina. Situasi di pasar energi sangat serius, bahkan sebelum invasi Rusia ke Ukraina terjadi. Hal itu lantaran pasokan minyak di seluruh dunia gagal mengimbangi pemulihan permintaan yang kuat ketika pandemi Covid-19 mereda. Sementara konflik Rusia-Ukraina berpotensi mengganggu ekspor minyak dari Rusia.

Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia. Dengan adanya pembatasan pengadaan minyak asal Rusia, dunia harus menghadapi kenaikan harga bahan bakar yang akan membuat meningkatnya harga barang-barang lainnya. Mereka yang hidupnya pas-pasan akan merasakan himpitan ekonomi yang lebih besar pada bulan-bulan mendatang. Bagaimana orang bisa merasakan kebahagiaan di saat pandemi belum berakhir, ketika ekonomi dunia porak poranda?

Setiap orang ingin hidup berbahagia. Hanya saja, tiap orang mempunyai pengertian yang berbeda tentang apa yang disebut kebahagiaan. Untuk bisa hidup berbahagia sebagian orang berpikir bahwa dengan adanya harta, semua bisa dibeli. Kebahagiaan seolah bisa diperoleh melalui kemakmuran. Tetapi ini tentu saja tidak benar. Alkitab menyatakan bahwa orang yang gila harta mudah jatuh ke dalam berbagai pencobaan (1 Timotius 6: 10).

Kebahagiaan memang belum tentu ditentukan oleh adanya harta atau kenyamanan. Tetapi, orang pada umumnya merasa bahwa untuk bisa hidup bahagia bersama dengan keluarga dan kerabat, perlu adanya penghasilan yang cukup, setidaknya untuk bisa makan secukupnya. Kebahagiaan lebih sulit diperoleh dalam kekurangan, dan orang yang hidup dalam kekurangan mungkin juga sulit untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan.

“Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” Amsal 30: 9

Jika kebahagiaan adalah sulit untuk diperoleh, dukacita dan penderitaan sering datang tanpa diundang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Walaupun demikian, ayat pembukaan di atas mengatakan bahwa dalam kemalangan masih ada keuntungan, yaitu datangnya penghiburan dari Tuhan. Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Tuhan yang mahakasih ingin untuk selalu berkomunikasi dengan umat-Nya. Setiap saat Ia ingin untuk membimbing dan menguatkan mereka yang mau mendengarkan-Nya. Tetapi, seperti seorang anak kecil yang melupakan orang tuanya ketika sibuk bermain ayunan di halaman, kita pun sering melupakan Tuhan ketika hidup kita sedang berjalan lancar. Seorang anak baru ingat akan orang tuanya jika ia terjatuh dari ayunan. Ketika rasa sakit datang, ia menjerit memanggil orang tuanya.

Untuk seorang anak, adanya orang tua adalah suatu berkat. Mereka yang tidak mempunyai orang tua bisa merasakan saat-saat di mana rasa sepi dan takut mendatangi. Anak-anak yang mempunyai orang tua yang baik dan bijaksana adalah orang-orang yang berbahagia karena adanya penghiburan dan perlindungan ketika mereka mengalami hal yang tidak diinginkan.

Semoga hari ini kita disadarkan bahwa Bapa kita yang di surga tidak pernah meninggalkan kita. Berbahagialah umat Tuhan yang mau memanggil nama-Nya ketika badai kehidupan datang menerpa!

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3: 22 – 23

Kebebasan tanpa Tuhan akan membawa kehancuran

“Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.” Roma 7: 18

Ayat di atas ditulis oleh Paulus kepada jemaat di Roma. Paulus menyatakan bahwa ia tahu, bahwa didalam dirinya, sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam dirinya, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Kehendak yang ada pada diri manusia sering kali adalah kehendak yang diracuni dosa dan mungkin juga bisa dipengaruhi iblis. Dengan demikian, kehendak bebas yang dipakai dalam hubungan kita dengan Tuhan sering kali justru membuat kita cenderung untuk menjauhkan diri kita dari Tuhan.

Memang kebebasan tanpa batas sering kali mendatangkan kekacauan. Ini bukan saja terjadi pada anak muda, tetapi juga di kalangan orang dewasa. Jika manusia hanya mementingkan kenyamanan dan kepuasan pribadi, pada akhirnya mereka akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Hal yang serupa bisa juga terjadi di kalangan orang Kristen yang merasa bahwa dengan pengampunan yang mereka terima melalui Yesus Kristus, mereka dibebaskan dari pemikiran atau kekuatiran tentang dosa. Dengan kesadaran bahwa Tuhan adalah Oknum yang mahakasih, mereka mudah jatuh dalam perbuatan yang tercela. Bukankah Tuhan yang mahakasih akan selalu dapat mengampuni dosa mereka? Bukankah kasih Tuhan yang tidak dapat dibayangkan dalamnya bisa mengampuni dosa yang sekelam apa pun?

Jika kasih Tuhan yang tidak terbatas menghapus kekuatiran manusia untuk melanggar hukum Tuhan, itu adalah sesuatu yang aneh. Mengapa? Jika manusia sadar bahwa Tuhan mengasihi mereka, itu bukanlah surat izin untuk melakukan apa saja yang dikehendaki mereka. Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita, ingin agar kita juga mengasihi Dia dan sesama kita. Dalam kenyataannya, jika kita benar-benar pengikut-Nya tentunya kita akan berusaha untuk menempuh hidup yang baik dan menjalankan perintah-Nya. Kemerdekaan dari dosa yang sudah diberikan Tuhan, bukan berarti kesempatan untuk membuat dosa baru. Sebaliknya, pengampunan yang sudah kita terima dari Tuhan seharusnya membuat kita sadar bahwa hidup kita makin lama harus makin baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan Tuhan,

Tuhan memberikan kemerdekaan kepada umat manusia untuk memilih apa yang baik. Tetapi, sayang sekali bahwa Adam dan Hawa gagal untuk menggunakan kebebasannya. Sebaliknya, karena pelanggaran mereka, seluruh umat manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan karena itu makin sulit bagi mereka untuk memilih apa yang baik. Manusia sudah rusak sedemikian rupa sehingga sekalipun nampaknya merdeka, sudah jatuh dalam kungkungan dosa. Ini bukan berarti bahwa manusia sudah rusak sama sekali sehingga ia sama sekali tidak dapat membedakan yang baik dari apa yang jahat. Tetapi, tanpa bimbingan dan pengarahan Tuhan pastilah manusia akan mengalami kesulitan dan tidak akan mempunyai harapan untuk keselamatan.

Sebagai orang yang sudah diberi pencerahan oleh Roh Kudus, dan oleh karena karunia-Nya kita sudah menerima pengampunan, pengertian kita akan kebebasan seharusnya diperbarui hari demi hari. Sekalipun kita melihat bahwa ada banyak hal yang menarik yang dapat kita pilih, hidup yang sudah disucikan oleh darah Kristus akan memilih untuk meninggalkan dosa lama dan menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya. Karena kasih karunia Tuhan, kita akan makin sadar bahwa dalam hidup baru yang kita terima kita harus bisa memakai kebebasan kita untuk memilih Dia di atas segala yang terlihat memikat di depan mata.

Hari ini kita diingatkan bahwa sebagai manusia yang diciptakan sebagai peta dan teladan Allah, kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita ingini dalam hidup di dunia. Tetapi, jika kita tidak mau menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, kehendak bebas kita akan membawa kita kepada hal yang buruk. Penyerahan hidup kita kepada bimbingan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis akan terjadi pada setiap orang Kristen, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh bahwa kitalah yang pada akhirnya bertanggung jawab atas cara hidup kita.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Matius 16: 24

Apakah semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan?

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Daniel 3: 17 – 18

Pernahkah anda memikirkan mengapa hal yang buruk dan jahat bisa terjadi di dunia? Perang yang terjadi di Ukraina misalnya, apakah itu merupakan kehendak Tuhan? Bagi sebagian orang Kristen, Tuhan yang berdaulat adalah Tuhan yang menetapkan segala apa yang terjadi di dunia. Segala sesuatu, bagaimana pun kecilnya, terjadi karena Tuhan yang bekerja. Dengan demikian, manusia tidak mempunyai peran apa pun dalam rencana Tuhan yang mahakuasa. Walaupun demikian, manusia tetap bertanggung jawab atas segala yang diperbuatnya. Hal ini seakan menyatakan bahwa Tuhan jugalah yang membuat hal-hal yang buruk.

Pada pihak yang lain, sebagian orang Kristen percaya bahwa Tuhan selalu mencapai apa yang direncanakan-Nya, sekalipun manusia terkadang melakukan apa yang tidak dikehendaki Tuhan. Manusia memiliki kebebasan dalam hal-hal tertentu, dan bertanggung jawab atasnya, tetapi Tuhan yang mahakuasa bisa mengubah apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya sehingga rencana-Nya selalu terjadi. Dengan demikian, apa yang dikerjakan manusia, baik ataupun buruk, mempunyai fungsi dalam penggenapan rencana Tuhan.

Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, sering kali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.

Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Hitler dan pengikutnya yang menyebabkan ribuan orang Yahudi, baik tua atau muda, mati di kamar gas pada perang dunia kedua, tentu dipandang sebagai orang yang sangat jahat. Apakah Tuhan menghendaki Hitler untuk melakukan kekejaman itu? Apakah Tuhan menghendaki jutaan orang Ukraina menjadi pengungsi saat ini?

Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat Hitler melakukan kekejiannya. Tuhan mungkin dianggap yang membuat adanya perang di Ukraina. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya kejahatan. Kejahatan dilakukan manusia yang berdosa, tetapi dengan seijin Tuhan.

Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya kejahatan? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang diperbuat manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana orang dapat melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.

Selain dari dua jenis kehendak Tuhan yang tersebut di atas, kehedak Tuhan itu bisa juga dibagi menjadi tiga macam:

(a) Kehendak mulak: yaitu dekrit yang berdaulat, kehendak yang dengannya Allah mewujudkan apa pun yang Dia tetapkan. Ini tersembunyi bagi kita sampai itu terjadi.

(b) Kehendak preseptif: adalah hukum atau perintah Allah yang diwahyukan, untuk mana kita bisa mengabaikan, tetapi tidak membatalkan.

(c) Kehendak watak: kehendak yang menggambarkan sikap atau watak Tuhan. Ini mengungkapkan apa yang berkenan kepada-Nya.

Dengan demikian, apa yang kita lakukan sehubungan dengan kehendak Tuhan (b) dan (c) adalah tanggung jawab dalam kebebasan kita untuk menaati dan menghormati Tuhan. Jika kita tidak mau tunduk kepada (b) dan (c), kita telah berbuat dosa.

Ayat di atas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi risiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa ada kemungkinanTuhan menghendaki secara mutlak (a) agar mereka mati terbakar? Tentu saja tidak. Tetapi, dia tidak tahu apa yang akan terjadi.

Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umat-Nya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.

Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukan-Nya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.

Hari ini, jika hidup kita mengalami masalah yang besar dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapa pun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan akan bekerja pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.

“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16

Tuhan memberi manusia kebebasan untuk melaksanakan mandat budaya

“Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya.” Ulangan 10: 14

Tuhan adalah yang empunya segala sesuatu di jagad raya. Seperti bunyi ayat di atas, itu adalah pengakuan orang percaya. Sebuah kenyataan yang harus diterima, sekalipun dalam hidup sehari-hari orang sering melupakan atau mengabaikannya. Mengapa begitu? Itu karena manusia umumnya memandang bahwa segala sesuatu bisa diatur dan dikuasai dengan usaha manusia. Apa yang bisa dikelola manusia dan segala hasil budi daya manusia dianggap sebagai miliknya.

Hidup dan segala aspeknya adalah milik individu, begitu pandangan umum manusia. Baik itu harta, rumah tangga, keluarga, pekerjaan, maupun kesehatan adalah hak milik pribadi yang tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain. Setiap orang berhak mencari, memiliki, memelihara dan mengembangkan semuanya. Itulah apa yang diyakini setiap orang dan dikenal sebagai hak asasi manusia.

Iman Kristen mendukung pelaksanaan hak asasi manusia dalam konteks hidup bernegara. Walaupun demikian, ajaran Kristen jelas menunjukkan bahwa segala sesuatu ada karena Tuhan, dan karena itu manusia hanyalah wakil Tuhan, caretaker, untuk memelihara dunia dan segala isinya. Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan berbagai kewajiban.

Bagi mereka yang menerima kenyataan bahwa semua yang ada adalah milik Tuhan, menghargai dan memelihara kehidupan, keindahan, ketenteraman, dan keseimbangan di dunia adalah tugas, seperti apa yang sudah diperintahkan Tuhan kepada Adam dan Hawa dalam kitab Kejadian.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 1: 28

Segala yang ada di dunia dan bahkan di jagad raya adalah milik Tuhan dan manusia hanya peminjam dan pemakai sumber budi daya dari Tuhan. Dengan demikian, setiap manusia seharusnya menyadari bahwa tindakan apapun yang mengurangi dan merusak keindahan ciptaan Tuhan adalah dosa. Apa pun yang diperbuat manusia dalam kebebasannya yang bisa merendahkan kemuliaan Tuhan adalah bertentangan dengan rencana penciptaan-Nya.

Sebagai wakil Tuhan kita mendapat mandat untuk mengatur bumi dan segala isinya. Ini bukan sebagai robot-robot yang sanggup bekerja untuk Tuhan, tetapi sebagai manusia yang mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk memilih tujuan dan cara. Perintah Allah dalam Kejadian 1: 28 di atas bukanlah kehendak mutlak dari Allah yang tidak memerlukan sambutan manusia. Sebaliknya, itu adalah kehendak Allah yang merupakan perintah yang seharusmya disadari dan ditaati manusia.

Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen merasa bahwa semua respon manusia adalah sesuatu yang sudah ditentukan Allah. Sudah tentu ini tidak benar karena kita bukanlah “mesin-mesin otomatis” yang diciptakan Allah. Sebagai manusia kita bisa menaati atau menolak perintah Tuhan dan kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang kita lakukan. Apa pun yang kita lakukan tidak bisa mengubah rencana Allah, tetapi apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya adalah bagian dari dosa yang kita perbuat.

Pagi ini ayat di atas mengingatkan kita untuk sadar bahwa dalam hidup ini, kita bertanggung jawab kepada Tuhan atas apa pun yang kita perbuat atau lakukan terhadap diri kita, orang lain, flora dan fauna dan seisi dunia. Kita juga bertanggung jawab atas cara berpikir, pandangan hidup, ucapan dan tindakan apa pun yang kita tujukan kepada siapa dan apa saja yang sudah diciptakan Tuhan. Semua itu adalah bagian dari mandat budaya dari Tuhan yang diberikan kepada manusia yang bebas untuk mengatur cara hidupnya.

Sebagai orang Kristen kita harus menghargai semua ciptaan Tuhan dan merasa sepenanggungan atas hal-hal yang terjadi di dunia. Terlalu sering kita hanya memikirkan diri sendiri, keluarga, suku dan bangsa kita, dan melupakan kenyataan bahwa Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dan menghargai semua ciptaan-Nya. Kita harus sadar bahwa seluruh umat manusia diciptakan Tuhan untuk memuliakan Dia, dengan menghargai segala apa yang sedang dan sudah dilakukan-Nya, bagi makhluk hidup ataupun benda mati, dan juga bagi makhluk yang masih hidup maupun yang sudah mati. Tuhan adalah pencipta dan pemilik semua yang ada dan pernah ada, dan kita adalah sebagian darinya. Dalam segala keadaan, kita harus memuji Dia dengan menghargai segala yang sudah diciptakan-Nya.

“Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” Mazmur 103: 22

Tuhan tahu siapa yang akan menjawab panggilan-Nya

“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma 8: 29-30

Cuplikan ayat di atas adalah ayat-ayat yang sangat penting, yang menggaris-bawahi kedaulatan Allah dalam memilih siapa saja yang akan diselamatkan-Nya. Pertama, Alkitab mengajarkan bahwa Allah menentukan dan memilih orang-orang yang akan percaya kepada Injil. Dia memberikan karunia iman melalui kelahiran kembali Roh Kudus, menyebabkan seseorang dilahirkan kembali dan mengakui Kristus. Ini adalah ajaran kitab suci yang jelas, dan yang tidak bisa dibantah, yang menyatakan bahwa bukan manusia yang memilih Allah, tetapi Allah yang memilih manusia.

Namun, ada langkah penting lainnya dalam proses di mana Tuhan memberikan keselamatan kepada anak-anak-Nya: panggilan-Nya. Perhatikan bagaimana Paulus menjelaskan prosesnya. Ayat-ayat di atas saya bandingkan dengan apa yang ada dalam Alkitab berbahasa Inggris King James Version.

Roma 8: 29 Bagi siapa yang Dia ketahui sebelumnya, Dia juga menentukan untuk menjadi serupa dengan gambar Putra-Nya, agar Dia menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Roma 8: 30 Terlebih lagi siapa yang Dia tentukan, mereka juga yang Dia panggil: dan siapa yang Dia panggil, mereka juga Dia benarkan: dan siapa yang dia benarkan, mereka juga Dia muliakan.

Terlihat adanya perbedaan pada ayat 29 yang menyatakan bahwa Allah menentukan siapa akan diselamatkan-Nya berdasarkan apa yang telah diketahui-Nya sebelumnya (bahasa Yunani: . προέγνω, atau proegnō). Allah tidak sembarangan dalam memilih orang yang akan diselamatkan-Nya. Ia tahu dari mulanya siapa yang akan menjadi orang pilihan-Nya.

Tentunya kita ingat akan pengalaman Paulus yang secara pribadi menemui Yesus dalam perjalanan ke Damaskus (Kisah Para Rasul 9: 1-20). Pada waktu itu Yesus mengingatkan Paulus bahwa ia sudah menganiaya Yesus melalui kejahatan yang diperbuatnya kepada pengikut Yesus. Paulus menjadi buta selama tiga hari, dan hanya menjadi celik ketika Ananias mendapat perintah Tuhan untuk menumpangkan tangan atas Paulus.

Tetapi firman Tuhan kepadanya: ”Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Kisah 9: 15-16

Seperti Paulus, setiap orang percaya dulunya adalah orang yang sudah sesat dan selalu membuat Yesus sedih karena kehidupan dalam dosa. Sebelum kita berjumpa dengan Yesus dan bertobat, kita tidak mengenal-Nya dan dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita hanya hidup menurut apa yang kita sukai saja. Tetapi, seperti Paulus, Tuhan tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita di masa mendatang. Kita dipanggil-Nya untuk meninggalkan hidup lama kita dan ikut memberitakan kabar keselamatan. Hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah, karena selain harus berjalan dalam terang, kita juga harus menjadi terang dunia. Bahkan, sebagai orang percaya kita harus siap dan mau berkurban dan menderita untuk Yesus

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggil-Nya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbarui oleh Roh Kudus. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Masih banyak orang yang  bergumul untuk memutuskan, apakah mereka mau mengikuti panggilan Kristus atau mencapai ambisi duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja selama bertahun-tahun menolak panggilan Kristus untuk menerima keselamatan. Dan ada lagi orang yang sengaja meninggalkan imannya karena memilih kebebasan dunia. Selain itu ada orang yang ingin mengikut Kristus tetapi tidak mau meninggalkan kenyamanan hidup lamanya. Adakah harapan bagi mereka? Bagi manusia, tidaklah ada harapan. Tetapi, Tuhan yang mahatahu, mahakasih dan mahakuasa selalu bisa membuka jalan bagi mereka yang sudah diketahui-Nya dari awal akan menjadi pengikut-Nya.

Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Markus 10:27 TB

Saat ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apa pun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubah-Nya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan nama-Nya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Oleh sebab itu, kita tidak perlu meragukan janji keselamatan-Nya. Tetapi, bagi mereka yang belum menyadari peran manusia dalam menyambut karunia keselamatan, biarlah kita mau berdoa untuk mereka agar mau menerima panggilan Roh Kudus dalam hidup mereka.

Hari ini kita diingatkan Tuhan melalui pengalaman Paulus bahwa hidup kita setelah menerima Yesus tidak mungkin untuk tidak berubah, karena tiap orang secara pribadi sudah dipanggil Tuhan untuk hidup guna kemuliaan nama-Nya. Kita tidak bisa hanya hidup untuk diri kita sendiri. Marilah kita mau belajar dari contoh perjuangan Paulus untuk mau bekerja dan membaktikan diri untuk Tuhan!

“Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Efesus 4: 1

Tuhan bukan penyebab adanya dosa

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2: 16

Maling berteriak maling. Memang sering orang melakukan apa yang jahat, tetapi menyalahkan orang lain, lingkungan atau keadaan. Jarang orang mau mengaku jika berbuat salah, bahwa itu karena pilihan sendiri. Lebih parah lagi, ada orang yang seolah menyalahkan Tuhan jika mereka jatuh kedalam kesulitan. Tuhan yang berkuasa seharusnya bisa menghindarkan mereka dari kesulitan hidup, begitu pikir mereka. Jika Tuhan membiarkan adanya kesulitan hidup, godaan dan hal-hal yang jahat, tentunya manusia tidak dapat sepenuhnya dituntut untuk bertanggung-jawab, demikianlah pendapat sebagian orang. Pada pihak yang lain,  ada yang percaya bahwa apa yang jahat pun dibuat oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya, tetapi manusialah yang harus tetap bertanggung-jawab untuk kejahatan mereka.

Ayat di atas menjelaskan bahwa semua yang jahat dan ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Tuhan bukanlah Oknum Ilahi yang membuat manusia jatuh ke dalam dosa. Sekalipun Tuhan mempunyai rencana-rencana tertentu, Ia tidak perlu memaksa manusia untuk melakukan hal-hal yang tidak disukai-Nya.

Tuhan adalah Tuhan yang mahakasih dan mahasuci, dengan demikian Ia bukanlah sumber kekejian dan dosa. Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1: 5). Manusialah yang memilih jalan hidup mereka sendiri, dan karena itu harus bertanggung-jawab atas segala dosa yang diperbuatnya. Manusia cenderung melakukan apa yang jahat karena mereka hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa.

Memang dalam kenyataannya, banyak orang ingin bebas untuk melakukan apa saja yang diingininya. Jika kemudian mereka diminta untuk mempertanggung-jawabkan tingkah laku dan cara hidup mereka, segala alasan akan mereka kemukakan agar apa yang sudah diperbuat bisa diterima sebagai sesuatu yang lumrah, yang bisa terjadi pada semua orang.

Sebagai manusia yang lemah, kita pun sering melakukan hal yang sama, melupakan apa yang buruk dan menganggap semua itu bisa diampuni Tuhan. Kita mungkin melatih diri  untuk menjadi kebal atas apa yang biasa dilakukan dalam masyarakat, dan tidak mudah merasa bersalah (guilty) akan apa yang jelas-jelas melanggar perintah Tuhan. Jika semua orang melakukannya, tentunya itu juga OK untuk kita.

Firman Tuhan berkata bahwa apa yang jahat bukanlah berasal dari Tuhan. Tuhan justru membenci apa yang jahat, apa yang kotor, dan apa yang culas. Karena itu, Ia bukanlah penyebab timbulnya masalah dalam hidup kita. Masalah yang kita hadapi sering kali adalah karena kita kehilangan kemampuan untuk membedakan apa yang baik dari apa yang buruk – karena kita hidup jauh dari Tuhan. Sebaliknya, jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, darah Yesus bisa memberi kita kesempatan untuk menjalani hidup baru.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1: 9

Pengampunan dosa dan hidup baru bukanlah berarti bahwa orang itu akan menjadi orang yang selamanya tidak bisa berbuat dosa. Manusia dalam kodratnya tetap adalah manusia yang selalu cenderung jatuh ke dalam dosa. Hal ini akan menjadi lebih serius jika orang itu tidak berusaha untuk mawas diri akan apa yang dilakukannya. Karena itu, ada orang Kristen yang tidak menyadari atau tidak peduli akan dosa yang diperbuatnya dalam hidup sehari-hari, dan karena itu tidak tahu pentingnya memohon ampun kepada Tuhan. Sebagian di antara mereka malahan lupa bahwa Tuhan memang mengampuni dosa mereka ketika mereka menyatakan iman pada saat pertobatan, tetapi itu bukan berarti mereka menjadi orang yang tidak bisa berbuat dosa.

Mereka yang sudah diampuni melalui pertobatan dan iman adalah orang orang yang secara hukum (judisial) menjadi umat Tuhan yang akan diselamatkan. Dengan demikian, mereka tidak perlu mengingat-ingat akan dosa-dosa di masa lalu. Tetapi ini bukan berarti bahwa mereka dapat melupakan dosa-dosa yang bisa mereka lakukan setelah itu. Ananias dan Safira adalah salah satu contoh di mana umat Tuhan menerima hukuman atas dosa kebohongan yang diperbuat secara sengaja.

Jika mereka yang mengingat-ingat dosa masa lalu sebenarnya kurang yakin akan penebusan darah Kristus, mereka yang menganggap bahwa menjadi Kristen adalah kebebasan untuk tetap berbuat dosa adalah orang-orang yang tidak erat hubungannya dengan Tuhan. Lebih lanjut, mereka yang tetap hidup dalam dosa dan tidak merasakan hal itu, mungkin saja adalah orang-orang yang belum benar-benar menjadi pengikut Kristus.

Ayat 1 Yohanes 1: 9 juga menyatakan bahwa mereka yang benar-benar mengikut Kristus sadar bahwa mereka diselamatkan bukan karena usaha sendiri, tetapi semua itu adalah karunia Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang setia dan adil karena Ia menjalankan kasih dan hukum-Nya. Karena itu, mereka selalu berusaha berjalan menurut firman-Nya. Ini tidak mudah karena mereka membutuhkan bimbingan dan pertolongan Tuhan. Oleh sebab itu, mereka selalu berusaha untuk mempunyai hubungan atau relasi yang baik dengan Tuhan.

Ayat-ayat di atas bertalian dengan cara bagaimana kita bisa mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Jika kita sadar akan dosa kita, kita harus meminta ampun kepada-Nya. Bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi dengan penuh kesadaran dan penyesalan. Mereka yang tidak benar-benar sadar akan dosa-dosa yang mereka perbuat akan sulit untuk memohon ampun dengan tulus hati, dan jika mereka melakukannya itu hanyalah omong-kosong saja. Apalagi jika ada keyakinan bahwa Tuhanlah yang sudah menetapkan bahwa mereka jatuh dalam dosa dan itu tidak dapat mereka hindari. Biarlah Roh Kudus senantiasa membimbing kita untuk mau taat kepada perintah Tuhan. Biarlah kita mau memilih jalan yang benar dan tidak mempersalahkan Tuhan akan apa yang terjadi dalam hidup kita.

Bagaimana orang Kristen harus bersikap dalam perang?

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” Matius 5: 38-42

Saat ini pusat perhatian media sudah berubah, dari pandemi menjadi peperangan di Eropa. Serangan Rusia terhadap negara tetangganya, Ukraina, memunculkan pertanyaan lama tentang pandangan Kristen terhadap perang. Pertanyaannya sangat kompleks karena sulit untuk melihat bagaimana perang bisa konsisten dengan konsep Alkitab tentang pengampunan, kesabaran, dan kasih. Penekanan ini mungkin paling menonjol dalam khotbah di bukit, di mana Yesus menyebutkan ayat-ayat di atas.

Mempraktikkan ayat-ayat di atas tidaklah mudah. Jika kita sulit melaksanakannya dalam kehidupan rumah tangga, lebih sulit lagi dalam kehidupan bernegara. Apakah ajaran Yesus bahwa kita harus memberikan pipi yang lain dan mengasihi musuh kita berarti bahwa tindakan berperang selalu salah? Haruskah dunia menyerah kepada Hitler dan mencoba mencintainya? Atau apakah Yesus mengizinkan kita untuk mengasihi musuh kita dan sekaligus, dalam situasi tertentu, menggunakan kekerasan untuk menghentikan kejahatan yang mengancam jiwa?

Teori Perang yang Adil (Just War Theory) menentukan keadaan apa yang boleh dipakai untuk alasan berperang, dan cara bagaimana perang harus dilakukan. Teori ini adalah bagian dari filsafat Kristen yang mencoba untuk menyatukan tiga hal:

  • Tindakan mengambil nyawa manusia adalah sangat salah.
  • Setiap negara memiliki kewajiban untuk membela warganya, dan membela keadilan.
  • Untuk melindungi kehidupan manusia yang tidak bersalah dan mempertahankan nilai-nilai moral yang penting, terkadang sebuah negara harus menggunakan kekuatan dan kekerasan.

Meskipun dikembangkan secara ekstensif oleh para teolog Kristen, teori ini dapat digunakan oleh orang-orang yang beragama lain. Sayang sekali, dalam kehidupan gerejani hal ini jarang dibahas.

Tujuan dari Just War Theory adalah untuk memberikan panduan yang tepat bagi negara untuk bertindak dalam konflik yang muncul di dunia. Pemahaman etika ini hanya berlaku untuk negara, dan tidak untuk individu (walaupun individu dapat menggunakan teori ini untuk membantunya guna memutuskan apakah secara moral ia dibenarkan untuk mengambil bagian dalam perang tertentu). Just War Theory menyediakan kerangka kerja yang berguna bagi individu dan kelompok manusia untuk digunakan dalam diskusi mereka tentang adanya perang dan kemungkinan terjadinya perang.

Doktrin Perang yang Adil sebenarnya dapat menyesatkan seseorang untuk berpikir bahwa karena perang itu adil, sebenarnya itu adalah hal yang baik. Namun di balik teori perang apa pun terletak gagasan bahwa perang selalu buruk. Perang yang adil diperbolehkan karena itu adalah kejahatan yang dianggap lebih ringan, tetapi tetap saja kejahatan. Teori ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan perang atau memilihnya, tetapi untuk mencegahnya. Dengan menunjukkan bahwa berperang kecuali dalam keadaan terbatas tertentu adalah salah, sebuah negara dapat dimotivasi untuk menemukan cara lain untuk menyelesaikan konflik.

Prinsip-prinsip Perang yang Adil berasal dari filsuf Yunani dan Romawi klasik seperti Plato dan Cicero dan ditambahkan oleh para teolog Kristen seperti Agustinus dan Thomas Aquinas. Ada dua bagian dari teori ini, keduanya dengan nama Latin:

  • Jus ad bellum: kondisi di mana penggunaan kekuatan militer dibenarkan.
  • Jus in bello: bagaimana melakukan perang secara etis.

Perang hanyalah Perang yang Adil jika keduanya benar, jadi baik tujuan dan cara harus dilakukan dengan benar. Beberapa perang yang diperjuangkan untuk tujuan mulia dianggap tidak adil karena cara mereka berperang.

Membiarkan seseorang membunuh ketika kita memiliki kemampuan untuk menghentikan tindakan itu, sepenuhnya bertentangan dengan kesadaran moral kita. Jika seorang yang berwujud seperti Hitler sedang bergerak dan berusaha untuk menundukkan dunia dan menghancurkan seluruh kelompok etnis tertentu, adalah salah jika kita tidak menentangnya dengan kekerasan (yang terkadang merupakan satu-satunya metode yang efektif). Memang benar bahwa perang itu sendiri berbahaya dan tragis; tetapi pasifisme (anti perang) akan menghasilkan lebih banyak kerusakan pada dunia karena hal itu akan membuat orang-orang jahat bebas berkuasa. Karena itu, sebuah negara yang segan untuk berpihak pada negara yang benar, sebenarnya sudah melakukan hal yang salah.

Paulus pernah menulis bahwa Tuhan memberikan pemerintah hak untuk menggunakan kekuatan untuk menahan dan menghukum kejahatan:

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13: 4

Di sini Paulus menegaskan hak pemerintah untuk menggunakan kekerasan dalam dua cara. Pertama, dia mengatakan bahwa itu “tidak percuma pemerintah menyandang pedang.” Kedua, ia menyatakan bahwa pemerintah adalah “hamba Allah” ketika melakukan pembalasan terhadap pelaku kejahatan.

Satu hal yang perlu diingat adalah perbedaan antara gereja dan negara. Orang Kristen berperang bukan sebagai duta gereja atau atas nama gereja, tetapi sebagai wakil negaranya. Gereja tidak boleh menggunakan kekerasan (Yohanes 18:36), tetapi pemerintah kadang-kadang boleh (Yohanes 18:36; Roma 13:3-4; dll.). Jadi orang Kristen tidak boleh ikut berperang sebagai wakil agama, tetapi sebagai utusan pemerintah negaranya. Keduanya pada akhirnya berada di bawah otoritas Tuhan, tetapi masing-masing memiliki peran yang berbeda.

Sekarang, apa yang harus kita ambil dari perintah radikal Yesus dalam Matius 5: 39-41? Jangan melawan orang yang jahat; tetapi siapa pun yang menampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu juga padanya. Dan jika ada yang ingin menuntutmu, dan ambil bajumu, biarkan dia mengambil mantelmu juga. Dan siapa pun yang memaksamu untuk pergi satu mil, pergi dengan dia dua mil. Bagaimana ini cocok dengan apa yang telah kita lihat di atas?

Pertama, kita perlu mengklarifikasi apa masalahnya. Masalahnya bukanlah bahwa Yesus tampaknya menyuruh kita untuk berbaring dan membiarkan kejahatan menguasai kita. Jelas bukan itu yang Dia katakan. Sebaliknya, Yesus mengajar kita agar “jangan kalah terhadap kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21). Tentunya kita semua telah melihat kebijaksanaan kata-kata Yesus ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sering kali, cara paling efektif untuk mengatasi kejahatan adalah dengan tidak melawan. Jika seseorang mengatakan kata-kata kasar, jauh lebih efektif untuk menanggapinya dengan kebaikan daripada dengan kata-kata kasar lainnya sebagai balasannya. Jika seseorang mencoba memotong anda di jalan tol, biasanya yang terbaik adalah membiarkan mereka melakukannya. Jika kita mau mempelajari prinsip-prinsip ini, hidup kita akan jauh lebih damai.

Dalam melakukan kewajiban militer, seorang prajurit Kristen harus berusaha untuk mencintai lawannya dalam perannya sebagai manusia, mengingat bahwa ia berperang sebagai wakil dari pemerintah, bukan sebagai individu pribadi. Saat berperang, kita perlu melihat orang-orang dalam kelompok tentara/teroris berada di dua tingkat, pribadi dan pemerintah. Dalam tingkat pribadi, seorang prajurit harus mendoakan dan mencintai prajurit lawan. Dalam tingkat pemerintah, seorang prajurit berperang melawan musuh – bukan sebagai individu pribadi, tetapi sebagai perwakilan pemerintah. Ini mirip sebuah tim sepakbola yang bertanding melawan tim negara lain. Dalam pertandingan mereka saling bermusuhan tetapi sebagai individu mereka tidak boleh membenci lawannya. Ini tentunya tidak mudah dilakukan dalam sebuah peperangan, tetapi harus dipegang sebagai prinsip kekristenan kita dalam peperangan.

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43-44

Jangan membuang waktu

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran” 2 Timotius 2: 23

Istilah “membuang waktu” bagi saya agak bernada lucu. Kita tidak dapat melihat waktu, tidak dapat membelinya, atau menyimpannya; dan setiap orang tentunya membunyai 24 jam dalam sehari. Dengan demikian, bagaimana waktu itu bisa dibuang? Tentunya membuang waktu seharusnya diartikan menyia-nyiakan waktu atau “wasting time“. Waktu itu berharga dan karena itu tidak boleh disia-siakan.

Memang setiap orang dalam hidup ini pernah menghabiskan waktu tanpa hasil. Sesudah berusaha seharian, ternyata hasilnya tidak ada. Itu mungkin sesuatu yang terasa menyebalkan, terutama jika waktu kita habis untuk menghadapi orang yang sukar. Orang yang sukar? Sukar apanya?  Orang yang sukar atau difficult person adalah orang yang sulit untuk diajak berkomunikasi atau diajak untuk bekerja sama. Orang yang  sedemikian biasanya cenderung semaunya sendiri, defensif, mudah tersinggung, mudah marah, ingin mengontrol orang lain, ingin menang sendiri dan mungkin merasa paling pandai dalam segala hal. Dalam suatu organisasi, orang yang sukar bisa membuat orang lain menjadi segan untuk mendekati. Ini bisa menimbulkan masalah, dan karena itu biasanya ada cara-cara tertentu yang harus dipakai untuk bisa mengatasinya.

Orang yang sukar biasanya juga orang yang sukar untuk berubah. Mereka yang kurang tahan menghadapi  orang yang sukar misalnya, bisa mendapat kursus untuk mengatasi persoalan ini, misalnya dengan mengikuti kursus “How to handle difficult people“. Walaupun demikian, sering tidak kita sadari bahwa dalam situasi tertentu kita sendiri adalah orang-orang yang sukar untuk mengubah pendekatan kita terhadap orang lain. Adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang semestinya sudah mengalami perubahan cara dan ciri hidup, masih bisa digolongkan ke dalam kelompok orang yang sukar, baik dalam rumah tangga, sekolah, tempat kerja, dan bahkan di gereja. Dalam pertemuan antar umat Kristen misalnya, selalu ada orang yang tidak mau atau tidak bisa berkompromi. Orang yang sedemikian tidak mudah dikritik karena mereka akan berusaha menyerang balik dengan kata-kata yang tajam.

Di antara murid-murid Yesus, mungkin Yudas bisa digolongkan orang yang sukar karena cara berpikirnya mengenai soal uang. Petrus dengan sifat kepala batunya, mungkin juga termasuk orang yang sukar. Bagaimana murid-murid yang lain bisa bergaul dengan Yudas dan Petrus selama tiga tahun dan mengembara bersama Yesus tentunya sulit untuk kita bayangkan. Bagaimana Yesus bisa mengendalikan kedua murid ini dan bisa menghadapi orang-orang yang sukar yang dijumpai-Nya pada waktu itu?

Dalam menghadapi orang yang sukar, prinsip pertama yang harus kita punyai adalah kasih. Tanpa kasih, kita tidak akan mempunyai minat untuk berkomunikasi dengan orang yang sedemikian. Yesus tidak pernah menutup diri-Nya dari orang lain. Ia tidak pernah memutuskan hubungan dengan orang-orang yang sukar, yang selalu mempersukar misi-Nya. Sekalipun ada orang-orang yang sukar seperti para ahli taurat dan orang Farisi, Yesus tidak menutup kabar keselamatan bagi mereka. Ia mengasihi semua orang sekalipun Ia tidak menyukai semua orang. Misi keselamatan-Nya ditujukan kepada semua orang, agar barang siapa yang percaya kepada-Nya bisa beroleh hidup yang kekal. Seperti itu jugalah, kita harus menghadapi semua orang, termasuk orang-orang yang tidak kita sukai, dengan kasih yang asalnya dari Yesus. Jika mereka melakukan suatu tindakan yang menyakiti, merugikan atau mempermalukan kita, sebagai umat Tuhan kita harus siap untuk mengampuni, karena kita juga sudah  diampuni Tuhan.

Prinsip kedua juga bisa kita pelajari dari Yesus, yaitu berdiam diri. Yesus tidak pernah mengabaikan apa pun yang diucapkan atau diperlihatkan oleh orang lain. Walaupun demikian, Ia tidak selalu bereaksi. Ada saat-saat tertentu di mana Yesus tidak menunjukkan reaksi-Nya karena Ia tahu bahwa pada saat itu orang-orang yang sukar tidak akan bisa menerima apa pun yang diucapkan-Nya. Dengan kebijaksanaan Nya, Yesus bisa memutuskan kapan dan untuk berapa lama Ia harus berdiam diri. Memang dalam kediaman, sering masalah yang rumit bisa diatasi sekalipun untuk itu kita harus bisa bersabar. Silence is golden, tetapi berdiam diri bukan untuk selamanya; pada saat yang tepat kita harus mau memberi penjelasan atau bimbingan lebih lanjut. Kebijaksanaan dan kesabaran seperti inilah yang harus kita minta dari Tuhan.

Hal yang ketiga yang penting dalam menghadapi orang yang sukar adalah berdoa. Seperti Yesus yang mendoakan murid-murid-Nya agar mereka dapat tahan menghadapi semua tantangan hidup, kita pun harus mau mendoakan mereka yang mempersulit hidup kita. Sekalipun ada orang-orang yang memperlakukan kita sebagai musuh mereka, kita tetap harus mau mendoakan mereka. Kita harus sadar bahwa manusia tidak akan dapat mengubah cara hidup orang lain jika Tuhan tidak menghendakinya. Hanya dengan kuasa-Nya hidup kita bisa diubah, dan dengan kuasa yang sama Ia bisa mengubah orang yang bagaimanapun sukarnya untuk menjadi hamba-Nya yang setia – seperti Paulus.

Prinsip keempat yang harus kita pegang adalah  menghindari hal-hal yang sia-sia. Paulus adalah orang yang dulunya termasuk orang yang sangat sukar, tetapi yang sudah berubah karena pekerjaan Tuhan. Dalam ayat di atas, ia menasihati Timotius yang masih muda pada saat itu agar mau menghindari soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Timotius juga diingatkan bahwa soal-soal semacam itu hanya menimbulkan pertengkaran. Prinsip yang sama haruslah kita pegang dalam menghadapi orang yang sukar di masa ini. Perang mulut, tuduh-menuduh, perang tulisan, saling mengejek melalui media dan sejenisnya, bisa membuat satu orang sukar  menjadi dua orang sukar, dan bahkan kemudian tumbuh menjadi banyak orang sukar. Semua ini bisa memperkeruh suasana dan menghilangkan rasa damai.

Inginkah anda untuk mendapat kedamaian hidup? Inginkah anda untuk bisa menghadapi orang-orang yang sukar  dengan tetap mempunyai rasa damai dalam hati dan pikiran anda? Itu tidak mudah, tetapi bisa dicapai jika kita mau belajar dari firman Tuhan.