Tuhan memegang kendali kehidupan

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” Pengkhotbah 7: 14

Ayat di atas sering dipakai untuk menekankan bahwa Tuhanlah yang menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia dari awalnya. Semua itu sudah ditentukan, dan manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun begitu, pengertian seperti itu sebenarnya kurang tepat. Ayat itu memang menyebutkan adanya hari yang baik, dan juga hari yang buruk, tetapi bukan dalam konteks “nasib”. Hari baik adalah hari di mana kita bisa mencapai hasil yang baik, hari buruk adalah hari di mana apa yang kita kerjakan tidak membawa hasil yang diharapkan. Keduanya dimungkinkan oleh Tuhan, agar manusia mau sadar akan kuasa Tuhan dan mencari kehendak-Nya selama hidup di dunia.

Memang setiap pagi orang bangun dari tidurnya dan mengharapkan bahwa hari itu adalah hari yang baik, terutama mereka yang mempunyai usaha wiraswasta seperti penyediaan jasa atau toko. Memang datangnya pelanggan atau pembeli tidak bisa diduga, dan bisnis bisa sepi atau ramai tergantung pada berbagai faktor, apalagi di saat pandemi Covid-19 ini sedang berlangsung.

Bagaimana pula dengan orang yang bekerja di kantor atau di rumah? Adakah hari baik dan hari buruk bagi mereka? Tentu! Mereka yang bekerja untuk sebuah perusahaan mungkin pada hari yang baik mendapat pujian dari boss, tetapi pada hari yang buruk mungkin membuat kesalahan yang tidak semestinya. Begitu juga mereka yang bekerja di rumah terkadang mendapat pujian dan ucapan terima kasih dari anggota keluarga, tetapi bisa juga menerima omelan sekalipun sudah bekerja keras seharian.

Pengkhotbah dalam ayat di atas menulis tentang dinamika kehidupan yang menyangkut semua orang di dunia, yang bekerja maupun yang tidak bekerja, tua atau muda, pria maupun wanita. Bahwa semua orang bisa mengalami saat-saat yang membawa suka maupun yang membuat duka, dan apa yang terjadi sering kali membuat kejutan karena ada di luar dugaan mereka.

Mereka yang selalu berhati-hati dalam hidup, biasanya selalu merencanakan segala tindakan dengan seksama. Pengalaman mereka di masa lalu mungkin memberi keyakinan bahwa sekalipun ada berbagai tantangan kehidupan, mereka mempunyai semangat dan kepercayaan diri untuk dapat mencapai tujuan. Masa depan ada di tangan kita sendiri, begitu mungkin pikiran sombong mereka.

Jika Tuhan bukanlah Tuhan yang mahakuasa, memang manusia bisa menentukan apa yang terjadi hari ini. Manusia juga akan bisa merencanakan apa saja yang dikehendakinya. Tetapi, karena Tuhan adalah mahakuasa, apa yang akan terjadi di masa depan sebenarnya tidak dapat ditentukan manusia. Pertanyaan yang sederhana pun, seperti apakah kita bisa bangun dari tidur esok pagi, tidak bisa kita jawab dengan kepastian. Masa depan manusia ada di tangan Tuhan. Tuhan mempunyai rencana tersendiri untuk setiap orang, dan manusia harus mencari kehendak-Nya dalam bekerja dan berusaha.

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Yakobus 4: 13 – 14.

Adanya Tuhan yang mahakuasa bukanlah alasan untuk kita menyerah kepada nasib, seolah Tuhan tidak menghargai jerih payah kita. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh padam semangat dalam bekerja dan dalam menjalani hidup. Tuhan membenci orang yang malas dan menyerah kepada keadaan. Tuhan juga tidak menyenangi orang yang tidak pernah menganalisa cara hidupnya dan menganggap kegagalannya sebagai tindakan, penentuan, atau hukuman dari Tuhan.

Pagi ini, kembali kita diingatkan bahwa jika kita mendapat hasil yang baik dalam hidup kita, kita boleh menikmatinya. Sebaliknya, jika kita mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, kita harus percaya bahwa itu juga dengan sepengetahuan Tuhan. Dalam segala hal kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah mahakuasa, dan karena itu adalah sepatutnya jika kita selalu bersyukur dan mau menyerahkan masa depan kita sepenuhnya ke dalam bimbingan kasihNya.

Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Yakobus 4: 15

Menyadari kebesaran Tuhan melalui penderitaan

“Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2: 19

Sejak adanya pandemi Covid-19 banyaklah orang yang mengalami berbagai masalah kejiwaan. Memang, gangguan kejiwaan adalah salah satu masalah kesehatan yang terbesar yang bisa dialami masyarakat di negara mana pun. Ini bukan saja berhubungan dengan gangguan medis, tetapi juga bisa bertalian dengan berbagai masalah sosial dan ekonomi. Apalagi, dalam masyarakat modern hubungan manusia yang sangat individual dan mundurnya kerohanian membuat orang yang mengalami masalah kehidupan merasa bahwa hidup mereka sangat berat untuk bisa diatasi seorang diri.

Banyak orang yang mengalami masalah kehidupan yang berat bertanya-tanya mengapa itu harus terjadi, dan itu adalah hal yang wajar. Mereka yang harus menderita bukan karena perbuatan mereka, tentu saja sulit untuk mengerti mengapa ketidak-adilan harus mereka alami. Dan mereka yang sudah bekerja keras tetapi tetap mengalami kesulitan sering merasa bahwa usaha mereka sia-sia. Mereka yang tidak tahan menghadapi penderitaan hidup seperti ini, kemudian bisa mengalami tekanan batin yang besar.

Ayub sebagai manusia yang mengalami penderitaan yang luar biasa karena berbagai malapetaka (Ayub 1: 13 – 20), tentunya tidak terluput dari perasaan sedih. Jika tidak, ia bukanlah manusia yang normal. Walaupun demikian, reaksi Ayub sungguh mengherankan. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1: 21).

Bagaimana Ayub bisa menanggapi tragedi dalam hidupnya dengan tetap berpikir positif dan tidak mengalami kehancuran? Apakah Ayub adalah orang yang luar biasa, orang stoik yang sanggup menghadapi segala penderitaan dengan keteguhan hati? Tidakkah ia merasa bahwa Tuhan adalah Oknum yang kejam dan semena-mena? Tuhan sudah mempermainkan hidupnya!

Ayat pembukaan dari 1 Petrus 2: 19 menyebutkan bahwa adalah kasih karunia, jika seseorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan duniawi yang tidak harus ia tanggung. Ayub dapat menanggung penderitaannya dengan tenang karena Tuhan memberi Ayub kesadaran bahwa Ia menyukai sikap hidup yang menerima penderitaan dengan kesabaran. Tuhan memang menyukai orang-orang yang menyerahkan hidup mereka kepada kehendak-Nya.

Mereka yang tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan, adalah orang-orang yang percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa tentu dapat juga mengubah penderitaan untuk menjadi sukacita. Bagi mereka, kasih dan kemuliaan Tuhan akan terlihat dengan nyata pada akhirnya. Ini jugalah yang terjadi dalam hidup Ayub dan dalam hidup setiap orang yang beriman. Tuhan bukanlah Tuhan yang membuat umat-Nya menderita tanpa suatu alasan yang baik.

Mungkin pelajaran terbesar yang kita pelajari dari pengalaman Ayub adalah bahwa Tuhan tidak harus menjawab siapa pun atas apa yang Dia lakukan atau tidak lakukan. Pengalaman Ayub mengajarkan kita bahwa kita mungkin tidak pernah tahu alasan spesifik dari penderitaan seseorang, tetapi kita harus percaya kepada Allah kita yang berdaulat, kudus, dan adil.

Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Mazmur 18: 31

Karena jalan Tuhan sempurna, kita dapat percaya bahwa apa pun yang Dia lakukan—dan apa pun yang Dia izinkan—juga sempurna. Kita tidak dapat berharap untuk memahami pikiran Tuhan dengan sempurna, karena Dia mengingatkan kita untuk memilih reaksi yang tepat terhadap firman-Nya:

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55:8-9.

Adalah tanggung jawab dan pilihan kita untuk menaati-Nya, memercayai-Nya, dan tunduk pada kehendak-Nya, baik kita memahaminya atau tidak. Ketika kita melakukannya, kita akan menemukan Tuhan di tengah-tengah pencobaan kita—bahkan mungkin karena pencobaan kita. Kita akan melihat dengan lebih jelas keagungan Allah kita, dan kita akan berkata, bersama Ayub, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5).

Dalam hidup baru kita, pilihan ada di tangan kita

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Roma 8: 28-29

Apakah kehendak bebas itu ada? Itu semua tergantung pada maknanya. Jika dengan kehendak bebas diartikan bahwa orang yang tidak percaya sama sekali adanya Tuhan memiliki kemampuan untuk memilih di antara tunduk dan murtad terhadap Tuhan, maka jawabannya adalah tidak ada. Orang yang tidak mengenal Tuhan selalu terikat dosa dan cenderung berbuat jahat. Tetapi, jika seseorang yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi masih sering berbuat dosa dengan sengaja, namun karena adanya kebutuhan (bukan paksaan) yang membuatnya sadar untuk sepenuhnya tunduk dan bergantung pada kasih karunia Allah untuk membebaskannya dari kuasa dosa, maka kehendak bebas itu ada.

Dalam semua kejadian Perjanjian Baru di mana kata tunduk muncul, kata tersebut diterjemahkan dari kata Yunani hupotasso. Hupo berarti “di bawah” dan tasso berarti “mengatur”. Arti penuh dari kata itu adalah “untuk mematuhi, menempatkan di bawah, tunduk pada, tunduk di bawah atau di bawah kepatuhan, atau patuh.” Kata itu digunakan sebagai istilah militer yang berarti “untuk mengatur divisi pasukan secara militer di bawah komando seorang pemimpin.” Kata ini adalah definisi yang indah tentang apa artinya “menyerahkan diri” kepada Tuhan. Ini berarti mengatur diri sendiri di bawah perintah Tuhan daripada hidup menurut cara hidup lama berdasarkan sudut pandang manusia. Ini adalah proses menyerahkan kehendak kita sendiri kepada kehendak Bapa kita.

Kitab Suci memiliki banyak hal untuk dikatakan tentang tunduk pada “kekuatan yang lebih tinggi”. Ini mengacu pada prinsip-prinsip pendirian yang telah Allah tetapkan di dunia kita -pemerintah dan para pemimpin, dalam kapasitas apa pun, yang telah Allah tempatkan dalam otoritas atas kita di bumi ini. Bagian-bagian yang mengajarkan asas ini adalah Roma 13:1-7. Prinsipnya adalah taat pada otoritas atas kita, apa pun otoritas itu. Ini akan membawa berkat secara nyata di dunia, dan bagi orang percaya, pahala di kemudian hari. Otoritas tertinggi adalah Tuhan, dan Dia mendelegasikan otoritas kepada orang lain; jadi, untuk tunduk kepada Tuhan, kita tunduk pada otoritas yang telah Dia tempatkan atas kita. Kita melihat bahwa tidak ada peringatan yang membedakan antara otoritas yang baik atau yang buruk atau bahkan otoritas yang adil atau tidak adil. Kita hanya harus merendahkan diri dan taat seperti “kepada Tuhan.”

Seseorang tidak dapat tunduk kepada Tuhan tanpa kerendahan hati. Ketaatan menuntut kita untuk merendahkan diri kita sendiri untuk menyerah pada otoritas orang lain, dan kita diberitahu bahwa Tuhan menolak kesombongan karena dari satu kesombongan bisa tumbuh banyak kesombongan yang lain. Oleh karena itu, memiliki hati yang rendah hati dan tunduk kepada Tuhan adalah pilihan yang seharusnya kita ambil. Itu berarti sebagai orang percaya yang dilahirkan kembali, kita setiap hari membuat pilihan untuk menyerahkan diri kita kepada Allah untuk pekerjaan yang dilakukan Roh Kudus di dalam kita yang akan membuat kita “serupa dengan gambar Kristus.” Dalam ayat pembukaan di atas, kita membaca bahwaTuhan menggunakan situasi hidup kita untuk memberi kita kesempatan untuk tunduk kepada-Nya. Dengan demikian, kita kemudian menerima kasih karunia Tuhan untuk bisa berjalan dalam Roh dan tidak mengikuti cara hidup lama.

Menjadi anak Tuhan itu bukan hanya percaya bahwa Ia sudah memilih kita, tetapi dicapai dengan memilih untuk menerapkan Firman Allah dan belajar tentang ketentuan-ketentuan yang telah Allah buat bagi kita di dalam Kristus Yesus. Sejak kita dilahirkan kembali, kita memiliki kemampuan di dalam Kristus, untuk menjadi orang percaya yang dewasa; tetapi, kita harus membuat pilihan untuk melakukan apa yang baik. Orang yang sudah diselamatkan bukannya menjadi orang yang pasif, tetapi sebaliknya aktif untuk mempraktikkan imannya selama hidup di dunia (Yakobus 2:26).

Kita harus memilih untuk berserah diri kepada Tuhan untuk proses belajar agar dapat bertumbuh secara rohani. Ini adalah proses yang dimulai pada kelahiran baru dan terus berlanjut dengan setiap pilihan yang kita buat, untuk menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Proses ini akan terus berlangsung sampai Tuhan datang kembali atau sampai saat Dia memanggil kita pulang. Hal yang menakjubkan tentang ini adalah bahwa, seperti yang dikatakan dengan tepat oleh Rasul Paulus, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18).

Tuhan tidak memaksa kita untuk tunduk karena Dia adalah seorang tiran, tetapi karena Dia adalah Bapa yang pengasih dan Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Tuhan tidak memilih kita agar kita menerima keselamatan sebagai hadiah untuk dipandang saja. Memang, berkat dan damai sejahtera yang kita peroleh dari penyerahan diri kepada-Nya dengan rendah hati setiap hari adalah anugerah-anugerah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini. Tetapi, patutkah kita berdiam diri dan tidak mau untuk memilih cara hidup yang baik sesuai dengan kehendak-Nya? Pilihan ada di tangan kita untuk menggunakan karunia-Nya untuk hidup dengan memuliakan Dia.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12: 2

Apa pandangan anda tentang nasib?

“Aku katakan ”di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.” Efesus 1:11-12

“Segala hal terjadi untuk suatu alasan.” Mungkin anda pernah mendengarnya sebelumnya. Mungkin anda pernah mengatakannya. Kalimat ini terdengarnya seperti bijak sekali. Walaupun demikian, ada perbedaan besar antara “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan”, dan “Tuhan memberi alasan untuk semua yang terjadi.” Yang pertama adalah fatalisme Kristen; yang kedua menyatakan kemuliaan Tuhan.

Gagasan bahwa Tuhan entah bagaimana menarik tuas di balik layar kehidupan adalah apa yang disebut fatalisme Kristen: “Tuhan itu mahakuasa. Kehendak-Nya tidak dapat disangkal”. Karena itu, segala sesuatu yang terjadi pasti sudah menjadi bagian dari rencana-Nya sejak awal. Dia berada di belakang segala apa yang terjadi di dunia selama ini. Bukankah Tuhan itu hebat?

Memang benar Tuhan bisa membuat sesuatu yang luar biasa indahnya muncul dari kebodohan manusia. Juga benar bahwa kemuliaan kuasa dan hikmat Tuhan sering diperlihatkan dalam berbagai urusan manusia, dan itu terlepas dari pilihan manusia, bukan karena kehendak manusia. Bagian dari kemuliaan Tuhan adalah kemampuan-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di tengah rumitnya sejuta pilihan manusia.

Walaupun demikian, Tuhan tidak mengatur hidup manusia, yang diciptakan menurut gambar-Nya, secara berlebihan. Dia bekerja di dalam diri mereka. Apa yang sesuai dengan rencana-Nya akan mendapat berkat-Nya. Pada pihak yang lain, Tuhan adalah pengampun, sabar, dan baik hati. Dia tahu kelemahan kita dan tetap mau untuk membimbing mereka yang tersesat dan kemudian bertobat. Beberapa orang melakukan apa yang dimaksudkan untuk kejahatan, tetapi Dia mengubahnya untuk maksud yang baik. Lebih dari itu, Tuhan sendiri tidak pernah menjadi pembuat kejahatan itu.

Salah satu tragedi terbesar dalam gereja Kristen selama berabad-abad adalah gagasan bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Menurut pandangan ini, pernyataan bahwa Tuhan mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berarti bahwa Tuhan sebenarnya telah memakai sebuah naskah yang hanya dapat mengikuti jalan yang telah ditetapkan-Nya sampai ke detil yang sekecil-kecilnya. Bukankah Tuhan adalah Alfa dan Omega?

Adalah menyedihkan bahwa dalam menghadapi tragedi mengerikan dan menyedihkan seperti adanya pandemi saat ini, orang-orang yang percaya pada “fatalisme Kristen” akan menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa ini entah bagaimana adalah kehendak Tuhan dan bahkan didatangkan Tuhan. Mereka percaya atas semboyan “que sera sera” – apa pun yang akan terjadi, akan terjadi. Benarkah demikian?

Kita tidak perlu percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa harus menetapkan semua hal untuk bisa mewujudkan rencana-Nya. Tuhan tetap bisa mewujudkan rencana-Nya sekalipun manusia berbuat hal-hal yang tidak dikehendaki-Nya. Tuhan bekerja di tengah-tengah segala sesuatu dan Dia memutuskan hasil berdasarkan semua faktor yang penting bagi-Nya, termasuk pilihan yang dibuat orang, dan terutama doa, iman, dan tanggapan umat-Nya sendiri.

Bukanlah kehendak Allah bagi gereja-Nya untuk meninggikan rasa tunduk kepada Tuhan dengan membayangkan bahwa Tuhan yang mahasuci akan memakai segala cara untuk menyatakan kedaulatan-Nya. Bukanlah kehendak Tuhan bagi kita untuk berhenti percaya bahwa Dia akan menjawab doa-doa kita pada saat yang tepat. Bukan kehendak Tuhan bahwa orang Kristen bersikap apatis atas diri sendiri dan orang lain. Bukan kehendak Tuhan bahwa api Roh Kudus padam di dalam hati kita.

Hal-hal yang jahat telah terjadi selama berabad-abad dan sedang terjadi hari ini, tetapi tidak satu pun adalah kehendak Tuhan, sekalipun itu terjadi atas izin-Nya. Keyakinan anda tentang masalah ini akan sangat memengaruhi kehidupan kita. Sulit bagi kita untuk bisa menyampaikan doa yang berbau harum bagi Tuhan jika kita tidak percaya bahwa doa kita atau cara kita berdoa akan membuat perbedaan pada hidup kita. Tuhan tidak harus memenuhi permintaan kita, tetapi jika kita percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang tetap membimbing hidup kita dalam keadaan apa pun untuk mencapai suatu tujuan yang baik, kita akan selalu merasa tenteram dan cukup dalam kasih-Nya.

Malam ini, biarlah kita menentang setiap bentuk “fatalisme Kristen”. Jangan pasif. Jangan malas. Jangan apatis. Jangan tidur. Bangun dan percayalah akan kasih Tuhan. Tolaklah setiap bentuk fatalisme, bahkan jika itu muncul dalam pakaian “teologi yang sehat”. Kabarkanlah kasih Tuhan kepada semua bangsa yang sudah membawa penebusan, dan bukannya kutuk Tuhan kepada setiap manusia yang terjadi sesudah mereka jatuh dalam dosa. Yang pertama adalah pesan yang memuliakan Tuhan, yang kedua adalah pesan yang merendahkan kasih Tuhan.

Hidup berdamai dengan semua orang

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Roma 12: 18

Bacaan: Roma 12: 17 – 21

Jika kita mengikuti media di saat ini, setiap hari kita mendengar adanya berita tentang berbagai percekcokan di dunia. Bahkan beberapa orang menilai bahwa keadaan dunia sudah mendekati terjadinya “perang dingin” di antara beberapa negara besar dan kelompoknya. Suasana pandemi yang membuat kacau keadaan sosial dan ekonomi di banyak negara, ternyata tidak bisa meredam rasa permusuhan antar manusia. Dengan demikian, perdamaian dunia yang dirindukan sejak berakhirnya perang dunia kedua sampai saat ini belumlah bisa tercapai.

Siapakah yang tidak ingin hidup dalam kedamaian? Tentunya kebanyakan orang merindukan adanya suasana damai. Walaupun demikian, kita bisa melihat dalam hidup sehari-hari bahwa kedamaian bisa sewaktu-waktu hilang ketika ada orang-orang yang melakukan hal-hal tertentu  yang menimbulkan kekacauan. Di zaman ini, kekacauan bisa terjadi dalam bidang relasi, komunikasi, pendidikan, hukum, politik, ekonomi dan lain-lainnya. Itu tidak saja bisa terjadi dalam rumah tangga, sekolah, dan kantor, tetapi bisa juga terjadi di satu negara ataupun di dunia. Semua kekacauan biasanya terjadi karena akibat ulah manusia, terutama pertikaian antar manusia.

Bagaimana orang Kristen harus bertindak jika kekacauan terjadi karena dengan adanya orang-orang yang melakukan hal-hal yang tidak baik? Prinsip mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri memang satu hukum Tuhan yang harus tetap kita pegang, tetapi bagaimana pula kita harus melaksanakannya? Ayat-ayat pada kitab Roma di atas menunjukkan bahwa kita harus sebisa mungkin hidup damai dengan semua orang. Apa pun yang orang lakukan kepada kita, pada prinsipnya kita tidak boleh membalas (avenge) karena hanya Tuhan yang berhak untuk itu. Sebaliknya, sebagai orang Kristen kita harus mau bersabar dan berbuat baik kepada mereka yang membenci kita agar mereka malu atas apa yang mereka perbuat.

Sedapat-dapatnya memang kita harus mempertahankan perdamaian dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kata “sedapat-dapatnya” bukan berarti “selalu”. Tetapi, selama apa yang terjadi masih bisa kita tanggung, kita harus bisa menghindari konfrontasi dan mau menunjukkan kebaikan kepada mereka yang menjahati kita. Jika banyak orang mengajarkan bahwa kita harus berbuat baik kepada sesama kita tetapi boleh membenci musuh kita, Yesus berkata bahwa itu tidak cukup untuk pengikut-Nya. Sebaliknya, kita harus bisa juga mengasihi musuh kita dan berdoa untuk mereka supaya mereka bisa kembali ke jalan yang benar.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5: 43 – 44

Mengasihi musuh kita adalah sesuatu yang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Tetapi Yesus sudah memberi contoh dengan mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23: 34). Pada pihak yang lain Yesus pernah marah juga, misalnya kepada orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (Matius 21: 12 – 13) dan kepada orang Farisi yang mempersalahkan Dia ketika menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat (Markus 3: 5).

Yesus marah ketika kemuliaan Allah direndahkan oleh manusia, Ia juga marah ketika misi penyelamatan-Nya dihalangi oleh orang Farisi. Walaupun demikian, Yesus tidak berdosa dalam kemarahan-Nya, karena dalam kemarahan-Nya yang tidak berlarut-larut selalu ada motivasi untuk memuliakan Bapa-Nya dan mengembalikan manusia ke jalan yang benar. Yesus selalu bertindak tegas dalam hal-hal yang penting, tetapi semua itu bukan karena ego, tetapi karena kasih-Nya.

Pagi ini, mungkin kita masih ingat bahwa orang-orang tertentu sering mengganggu hidup kita. Mungkin mereka ada di antara keluarga kita, dalam gereja ataupun dalam masyarakat di sekitar kita. Firman Tuhan berkata bahwa sedapat mungkin kita harus bersabar dan memilih jalan damai. Kita harus mengasihi semua orang dan itu termasuk orang-orang yang tidak kita senangi. Semua itu tidaklah mudah untuk dilaksanakan jika kita tidak dapat membedakan apa yang menyangkut kemuliaan Tuhan dan apa yang hanya mengenai kepentingan kita sendiri. Semoga Tuhan bekerja di antara umat-Nya untuk membawa kedamaian di dunia.

Apakah Tuhan penyebab dosa?

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Yakobus 1:13-14

Secara umum, semua orang Kristen percaya bahwa Tuhan adalah Oknum Ilahi yang mahakuasa dan pada-Nya ada kedaulatan untuk menetapkan apa yang akan terjadi, sesuai dengan rencana-Nya. Karena adanya keyakinan ini, ada pertanyaan yang sering timbul di antara orang beriman, dan yang sering diperdebatkan oleh berbagai golongan. Jika tindakan jahat ada dalam rencana Tuhan, dan jika itu sudah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan, lalu apakah manusia bertanggung jawab atas dosa mereka? Jika ya, bukankah Tuhan adalah pencipta dosa? Untuk setiap pertanyaan ini, Alkitab memberikan jawaban yang sangat tegas. Ya, manusia bertanggung jawab atas perbuatan jahatnya; dan tidak, Allah bukanlah pencipta dosa.

Bahwa orang yang bertanggung jawab atas tindakan jahatnya sudah dijelaskan dalam Alkitab dari awal sampai akhir sehingga tidak ada gunanya mengutip berbagai ayat-ayat sebagai bukti. Ayat di atas jelas menyatakan bahwa Allah bukanlah pencipta dosa. Itu jelas dari sifat dasar dosa, sebagai pemberontakan melawan hukum Allah yang kudus. Tuhan berdaulat adalah pencipta segala sesuatu, tetapi bukan pencipta dosa. Manusia harus bertanggung jawab sepenuhnya atas dosa mereka. Ini adalah hal yang sulit dimengerti.

Lalu, bagaimana kita bisa menanggapi kesulitan ini? Alkitab menyatakan bahwa Tuhan telah menetapkan sebelumnya apa pun yang akan terjadi. Tindakan berdosa dari manusia adalah sesuatu yang ada di setiap saat. Jika Allah bukan pencipta dosa tetapi menuntut tanggung jawab dari manusia, bagaimana itu bisa terjadi? Apakah hal ini bukannya suatu kontradiksi yang tidak mempunyai penyelesaian?

Jawabannya ditemukan dalam kenyataan bahwa meskipun Allah telah menetapkan sebelumnya apa pun yang akan terjadi, Dia menyebabkan terjadinya hal-hal yang ada dengan cara yang sangat berbeda. Dia tidak menyebabkan terjadinya tindakan makhluk pribadi dengan cara yang sama seperti cara dia menyebabkan terjadinya peristiwa di dunia fisik. Itu berlaku untuk semua orang, termasuk atas perbuatan anak-anak-Nya. Bahkan ketika Tuhan menyebabkan umat-Nya melakukan hal-hal tertentu dengan pengaruh rahmat Roh Kudus-Nya, Ia tidak memaksakan kehendak-Nya.

Tuhan tidak memperlakukan manusia seperti robot, tetapi Dia memperlakukan mereka seperti gambar-Nya. Dia tidak menyebabkan mereka melakukan hal-hal itu secara bertentangan dengan keinginan mereka, tetapi pada saat yang tepat Dia bisa mempengaruhi keinginan mereka, sehingga kebebasan mereka sebagai pribadi terpelihara sepenuhnya ketika mereka melakukan suatu tindakan. Apa yang dilakukan tetaplah pilihan mereka, karena mereka sudah diberi pengertian akan apa yang baik dan buruk oleh Roh Kudus.

Kejahatan dan dosa terjadi dengan seizin Tuhan, tetapi Dia tidak menggoda manusia untuk berbuat dosa; dan Dia tidak mempengaruhi mereka untuk berbuat dosa. Tetapi Dia menyebabkan terlaksananya perbuatan-perbuatan itu melalui pilihan-pilihan yang bebas dan yang bertanggung jawab dari umat manusia. Dia telah menciptakan manusia dengan karunia kebebasan memilih (faculty of choice) yang tidak dapat dijumpai pada makhluk lainnya. Hal-hal yang mereka lakukan selama memakai karunia itu adalah tindakan mereka, bukan sekadar naluri. Manusia tidak bisa mengejutkan Tuhan dengan perbuatan mereka; tindakan mereka terhadap-Nya adalah bagian dari rencana kekal-Nya. Dengan demikian, dalam melakukannya merekalah yang bertanggung jawab dan bukan Allah yang mahasuci.

Kesulitan yang sering ada sebenarnya adalah kesulitan untuk melihat bagaimana Tuhan yang baik dan mahakuasa sudah mengizinkan dosa memasuki dunia yang telah Ia ciptakan. Bagaimana mungkin Tuhan yang mahasuci, jika Dia mahakuasa, mengizinkan keberadaan dosa? Bukankah masalah dosa ini tidak akan ada jika Tuhan tidak mengizinkannya? Dalam hal ini kita mungkin tidak dapat memperoleh jawaban yang benar-benar memuaskan, selain bahwa semua itu ada dalam rencana-Nya sehingga pada akhirnya semua umat-Nya bisa hidup berbahagia bersama dengan Dia di surga.

Apakah kita masih gundah bahwa ada beberapa hal yang tetap tidak kita ketahui dengan pasti? Tuhan telah memberi tahu kita banyak hal. Dia telah memberi tahu kita tentang arti dosa. Dia telah membuka mata hati dan pikiran kita tentang apa yang baik dan yang buruk melalui kuasa Roh Kusus. Dia telah memberi tahu kita bagaimana dengan harga tebusan yang tak terbatas, dengan karunia Putra-Nya, Dia telah menyediakan jalan keluar untuk kita dari hukuman dosa. Dengan itu kita akan bisa mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan kita setelah kita berjumpa dengan Dia di surga!

Menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” Amsal 19: 21

Apakah anda mempunyai cita-cita? Pernahkah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu? Yakinkah anda bahwa cita-cita atau rencana anda akan tercapai? Mungkin ada yang menjawab bahwa keyakinan kita tentunya bergantung pada besar-kecilnya rencana; jika rencana itu kecil saja tentunya tidak akan sulit untuk dilakukan, tetapi jika rencana itu besar dan kompleks tentunya kita tidak bisa selalu yakin untuk bisa terlaksana. Segala sesuatu ada risikonya dan itu termasuk risiko gagal.

Mengapa rencana kita bisa gagal? Bagi orang Kristen, jawabnya bisa bermacam-macam. Kegagalan bisa karena keterbatasan kita, kekeliruan kita, atau berbagai faktor eksternal. Memang sekalipun kita berusaha keras, dunia tidak selalu menjanjikan hasil yang sepadan. Mereka yang percaya bahwa Tuhan menentukan segala apa yang terjadi di dunia mungkin menganggap kegagalan adalah lumrah – karena Tuhan tidak menghendaki hal itu terjadi. Jika apa yang diperbuat manusia adalah sesuai dengan kehendak Tuhan, tentu itu akan terjadi. Selain itu, ada juga orang yang beranggapan bahwa apa saja yang terjadi di dunia, baik itu berupa kebaikan atau kejahatan, sudah ditentukan oleh Tuhan. Karena itu jugalah ada orang yang percaya bahwa segala masalah yang dialaminya adalah takdir dari Tuhan dan tidak dapat dihindari.

Benarkah bahwa semua masalah, kejahatan dan kegagalan sudah ditentukan Tuhan? Benarkah bahwa Tuhan sudah menentukan nasib kita sepenuhnya? Pertanyaan semacam ini sudah menjadi bahan diskusi dan bahkan perdebatan antar berbagai golongan. Ada orang Kristen yang karena menjunjung tinggi kedaulatan Tuhan, mempunyai keyakinan bahwa Tuhan yang menentukan segala apa yang terjadi, tetapi manusia tetap bertanggung-jawab atas apa yang dilakukan atau dialaminya. Ada juga orang yang percaya bahwa Tuhan sudah menentukan apa yang akan terjadi, tetapi Ia memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih apa yang baik dan yang buruk dalam hidupnya. Juga ada orang yang percaya bahwa manusia bisa memilih apa pun menurut kehendaknya, sekalipun bimbingan Roh Kudus selalu berusaha untuk membawanya kearah yang benar. Dan tentu saja ada orang percaya bahwa di dunia ini Tuhan tidak ikut campur tangan, Ia hanya melihat apa yang akan terjadi dan membuat rancangan-Nya  yang disesuaikan dengan apa yang ada. Bagaimana kata Alkitab?

Jika Tuhan mahakuasa dan mahakasih, sudah tentu Ia tidak hanya merencanakan hasil akhir rancangan-Nya. Tuhan tentunya ikut bekerja di antara manusia setiap hari untuk mewujudkan rencana-Nya. Ayat di atas berkata bahwa jika manusia bisa membuat banyak rencana, keputusan Tuhanlah yang terlaksana. Itu berarti bahwa Tuhan bekerja pada setiap saat. Masalahnya, bagaimana Tuhan bekerja dalam dinamika kehidupan manusia? Apakah Ia memaksa setiap manusia untuk berbuat ini dan itu agar rencana-Nya terjadi? Jika demikian bukankah manusia menjadi seperti robot yang hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan pemiliknya? Bukankah dengan demikian si robot tidak dapat dipersalahkan jika ia membuat kekeliruan?

Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, bukan atas apa yang ditentukan Tuhan. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa bukan karena rencana Tuhan, tetapi Tuhan mempunyai rencana keselamatan karena sebelum manusia ada, Ia sudah tahu bahwa manusia akan jatuh ke dalam dosa. Saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf bukan karena mereka melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, tapi atas kebencian mereka atas Yusuf. Tetapi melalui apa yang dialami Yusuf, Tuhan mewujudkan rencana-Nya untuk membawa umat Israel keluar dari tanah Mesir.

Sekalipun Tuhan selalu memegang kemudi kehidupan di dunia, itu tidak berarti Ia selalu membatasi gerakan dan tingkah laku manusia. Jika manusia jatuh ke dalam dosa, mereka tidak dapat mempersalahkan Tuhan yang membiarkan hal itu terjadi. Dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini memang sangat besar pengaruhnya kepada orang yang jauh dari Tuhan.

“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” 1 Yohanes 2: 16

Jika manusia mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang baik dan yang buruk,  apa pun yang terjadi tidaklah mempengaruhi rencana Tuhan. Setiap gerakan manusia yang bagaimanapun tidak akan membuat-Nya bingung, karena Ia tahu ke mana manusia akan pergi. Tuhan secara aktif bisa mengambil keputusan untuk membiarkan manusia untuk terus maju, tetapi Ia pada saat itu juga bisa membuat hal-hal lain yang tidak diketahui manusia – dan itu memungkinkan rencana-Nya untuk tetap terjadi. Di lain pihak, Tuhan sering mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang mengejutkan manusia, juga untuk mewujudkan rencana-Nya pada saat yang tepat. Kita harus sadar bahwa waktu Tuhan tidaklah sama dengan waktu manusia, dan rencana-Nya tidak dapat dihentikan oleh tindakan manusia. Rencana-Nya tidak bergantung pada apa yang diperbuat manusia. Semua rencana Tuhan akan membawa kemuliaan bagi-Nya.

Pagi ini, jika kita merenungi hidup kita, mungkin kita teringat akan kesulitan, kegagalan, dosa dan penderitaan yang pernah atau sedang kita alami. Mungkin kita menyesali bahwa Tuhan nampaknya tidak peduli atas hidup kita. Tetapi, sebagai manusia kita tetap harus bertanggung-jawab atas kehidupan dan tingkah laku kita. Apa yang kita alami mungkin saja adalah bagian kehidupan di dunia yang sudah cacat. Walaupun demikian, sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa sekalipun Tuhan tidak menyukai semua hal yang buruk itu, Ia bisa memakai semuanya dengan cara-Nya sendiri untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang beriman kepada-Nya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8: 28

Memilih apa yang terbaik untuk masa datang

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Matius 7: 13-14

Apa yang akan anda kerjakan hari ini? Apakah anda mempunyai rencana untuk melakukan sesuatu yang signifikan dalam hari-hari mendatang? Kebanyakan orang selalu membuat rencana untuk hari depan selama masih bisa. Mereka yang sudah sangat lanjut usia mungkin kurang bisa untuk itu; karena itu rencana dan keputusan mungkin diserahkan kepada orang lain. Memang selama pikiran masih sehat, keputusan dan tanggung jawab ada di tangan kita. Cara yang mudah untuk menghindari tanggung jawab adalah mengingkari adanya kesempatan atau kemampuan untuk mengambil keputusan.

Keputusan yang kita ambil mungkin bisa membawa hasil yang baik, tetapi mungkin juga menghasilkan sesuatu yang kurang kita sukai. Dalam hal ini kita sering tidak bisa menduga apa hasilnya. “Life is like a box of chocolates”, begitu kata Forest Gump dalam filmnya. Hidup adalah seperti sekotak coklat, itulah bunyi ungkapan itu. Kita tidak tahu coklat rasa apa yang akan kita dapat. Tetapi coklat apa pun yang kita peroleh, kita sendiri yang telah memilihnya dan terserah kepada kita untuk merasakannya. Hidup manusia adalah penuh dengan pilihan dan tanggung jawab. Ini adalah masalah yang sering diperdebatkan manusia, termasuk umat Kristen.

Ada orang yang percaya bahwa Tuhan memberi kita sekotak coklat dengan berbagai rasa untuk bisa kita pilih. Dalam hal ini, masalahnya adalah coklat mana yang kita pilih. Tetapi, sebagian orang mungkin berpendapat bahwa dalam  kotak yang kita terima ada beberapa coklat dengan berbagai ragam bungkus yang harus kita pilih, tetapi semuanya sama rasanya dan itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Walaupun manusia nampaknya bebas memilih, mereka sebenarnya tidak dapat menentukan pilihannya. Karena itu, ada banyak orang yang merasa kecewa dengan masa lalu mereka, kemudian merasa marah kepada Tuhan. Itu karena merasa bahwa Tuhan sudah berlaku tidak adil.

“Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu gusarlah hatinya terhadap TUHAN.” Amsal 19:3

Karena masa lalunya, ada juga orang yang merasa apatis dengan hidupnya, dan selalu merasa bahwa segala sesuatu sudah ditentukan dan akan terjadi: que sera sera. Hidup yang sedemikian mungkin kelihatannya baik, tetapi mungkin serupa dengan pandangan fatalisme.

Hari ini kita dihadapkan dengan kenyataan hidup: bahwa hidup kita adalah suatu proses di mana kita selalu dihadapkan dengan pilihan dan tanggung jawab pribadi. Jika kita sekarang mengalami suatu keadaan, kita sendiri yang bisa menentukan reaksi kita dan kita sendiri yang bisa memutuskan apa yang akan kita akan perbuat. Sering kali dalam hidup ini kita menjumpai tantangan besar dan untuk mengatasinya mungkin ada jalan pintas yang tampaknya sangat mudah dan memikat. Alkitab menyatakan bahwa adalah keputusan kita sendiri jika kita memilih jalan itu sekalipun bertentangan dengan firman Tuhan. Adalah keputusan kita juga jika memilih jalan yang lain yang nampaknya lebih sempit tetapi tidak melanggar perintah-Nya.

Kita tidak akan mudah merasa ragu untuk mengambil keputusan jika kita hidup dekat dengan firman-Nya. Tuhan sudah memberi kita Roh Kudus untuk menerangi hati dan pikiran kita dalam mengambil keputusan. Karena itu, jika kita mendapatkan hasil yang baik, janganlah lupa untuk bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita mengalami kegagalan, itu mungkin karena kesalahan kita. Dalam hal ini, kita tetap percaya bahwa Tuhan yang mahakuasa bisa mengubah apa yang nampaknya buruk untuk menjadi apa yang baik untuk anak-anak-Nya.

Hidup iman kita mungkin juga sudah mencapai saat di mana kita merasakan bahwa tidak ada yang perlu kita pikirkan lagi karena kita mungkin sudah merasa bahwa Tuhan sudah memutuskan apa yang terjadi dalam hidup kita, baik itu kesuksesan maupun kegagalan. Sikap yang semacam itu memang seolah membuat hidup kita nampaknya lebih enteng, karena kita memilih apa yang lebih mudah dilewati: jalan yang lebar, yang bisa dilewati tanpa memerlukan pergumulan terus-terusan. Jalan yang sempit, yang menuntut perjuangan untuk mempertahankan kesetiaan yang penuh kepada Tuhan yang mahakuasa, yang benar-benar penuh dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan dalam setiap saat dan keadaan, tidaklah mudah dijalani. Tetapi itulah yang jalan yang benar yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Untuk sebagian umat Kristen, keyakinan akan keselamatan itu datang melalui tradisi, kebiasaan dan pengalaman mereka. Jalan yang lebar dan mudah dilalui, tetapi sering kali hanya ilusi. Untuk yang lain, iman datang dari Tuhan melewati pergumulan hidup, pilihan pribadi, pelajaran hidup, kesadaran akan ketergantungan kepada Yesus Kristus hari demi hari. Ini jalan yang sempit dan sulit dilalui. Tanpa keberanian untuk memilih dan kemauan untuk bertanggung jawab, manusia tidak akan bisa berkata:

Tuhan, aku sudah mengambil berbagai keputusan di masa lalu,

Aku sadar bahwa aku sering melakukan hal yang bodoh.

Saat ini aku mengaku bahwa aku bertanggung jawab atas hidupku.

Aku sekarang mau memilih jalan yang sempit untuk mengenal Engkau.

Bimbinglah aku agar sampai ke tempat tujuan.

Apakah yang harus kita lakukan untuk menerima keselamatan?

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10: 9

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan untuk banyak orang bisa menimbulkan rasa masygul, karena adanya keraguan apakah mereka akan diselamatkan pada akhir hidup mereka. Tambahan lagi, berbagai aliran teologi dan gereja mempunyai jawaban yang berlainan. Persoalannya, Tuhan sudah berkata bahwa semua orang sudah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3: 23). Tanpa kasih Allah yang disalurkan melalui pengurbanan Kristus di kayu salib, semua manusia akan binasa. Keselamatan manusia hanya dimungkinkan oleh karunia Tuhan kepada orang-orang yang dibuat-Nya sadar akan hal itu. Adakah yang harus kita lakukan untuk menerima karunia itu?

Ayat pembukaan di atas mengatakan jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Dengan kata lain, jika kita percaya kepada Yesus dengan sepenuhnya, yaitu baik luar dan dalam, maka kita tidak perlu meragukan keselamatan kita. Luar dan dalam? Ya, memang dari luar orang mungkin terlihat seperti orang beriman, tetapi apa yang ada dalam hatinya dan apa yang dilakukan dalam hidupnya tidak ada seorang pun yang tahu. Banyak orang yang merasa bahwa Yesus ada dalam hatinya, tetapi segala perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan hal itu. Mengapa demikian? Manusia dengan kemampuannya sendiri tidak dapat mengenal Tuhan dan mengerti hikmat-Nya.

Kembali kepada pertanyaan di atas, dapatkah orang yang sudah mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, untuk kehilangan keselamatan yang sudah diberikan Allah? Jawaban untuk pertanyaan ini adalah singkat dan pasti: tidak mungkin. Mereka yang benar-benar sudah menerima Kristus dan menerima Dia sebagai penguasa seluruh hidup mereka, luar dan dalam, sudah pasti akan masuk ke surga. Kata “benar-benar” disini harus digaris bawahi karena ini berarti tidak ada maksud untuk mengecoh atau membohongi Tuhan. Mereka yang dengan sengaja mengabaikan panggilan Roh Kudus dan secara terus menerus mengabaikan Dia dan tidak mau menaati perintah Tuhan, adalah orang-orang yang belum benar-benar menerima pengampunan Tuhan.

“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” Matius 12: 31

Alkitab berkata bahwa untuk diselamatkan, kita cukup dengan modal percaya.  Iman kepada Kristus ini adalah pemberian Tuhan kepada semua orang yang dipanggil-Nya. Mereka yang mau menyambut dengan baik pemberian iman yang menyelamatkan itu akan terlihat dari hidup mereka yang diperbaharui oleh Roh Kudus. Iman yang benar akan terlihat dari perbuatan mereka dalam hidup  sehari-hari, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 26). Sebaliknya, mereka yang masih belum berubah dari hidup lama yang bergelimang dosa, mungkin saja belum mempunyai iman yang menyelamatkan.

Masih banyak orang yang  bergumul untuk memutuskan, apakah mereka mau mengikuti panggilan Kristus atau mencapai ambisi duniawi. Mungkin juga kita mengenal orang-orang yang dengan sengaja selama bertahun-tahun menolak panggilan Kristus untuk menerima keselamatan. Dan ada lagi orang yang sengaja meninggalkan imannya karena memilih kebebasan dunia. Selain itu ada orang yang ingin mengikut Kristus tetapi tidak mau meninggalkan kenyamanan hidup lamanya. Adakah harapan bagi mereka? Bagi manusia, tidaklah ada harapan. Tetapi, Tuhan yang mahakasih dan mahakuasa selalu bisa membuka jalan.

Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Markus 10:27 TB

Pagi ini, kita mungkin merasa yakin bahwa Tuhan sudah menyelamatkan kita. Itu baik adanya. Karena Tuhan sudah memberi kesadaran kepada kita bahwa apa pun tidak akan menyelamatkan kita dari dosa, kecuali melalui darah Yesus Kristus. Hidup kita sudah diubah-Nya setelah kita percaya; kita tahu apa yang baik dan apa yang jahat di mata Tuhan. Lebih dari itu, kita sudah berusaha untuk memuliakan nama-Nya melalui mulut dan di hati kita, luar dan dalam. Oleh sebab itu, kita tidak perlu meragukan janji keselamatan-Nya. Tetapi, bagi mereka yang belum menyadari peran manusia dalam menyambut karunia keselamatan, biarlah kita mau berdoa untuk mereka agar mau menerima panggilan Roh Kudus dalam hidup mereka. Sebelum terlambat.